Modul Psikologi Sosial II [TM2].

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
Psikologi Sosial 2
Pendahuluan
Kontrak perkuliahan, Teori dalam Psikologi Sosial; Sumbangan teori yang
berorientasi behavioristik,
Fakultas
Program Studi
Psikologi
Psikologi
Tatap Muka
Kode MK
02
61017
Abstract
Teori-teori Psikologi Sosial Role theories; Learning theories;
Social exchange theory; Cognitive dissonance theory;
Balance theory.
2
Psikologi Sosial II
Firman Alamsyah AB, MA
Firman Alamsyah AB, MA
Kompetensi
Mata kuliah kelanjutan dari Psikologi Sosial I yang memuat
materi tentang pengertian psikologi sosial secara
komprehensif dengan berbagai topik psikologi sosial
beserta teori yang mendasarinya;
2014
Disusun Oleh
Mahasiswa mampu memahami
proses interaksi dalam kelompok dan
antar kelompok dalam berbagai
tatanan sosial serta mengenal
penerapan beberapa teori dan
metode Psikologi Sosial untuk
memecahkan masalah sosial dan
mengembangkan masyarakat
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Teori-teori Psikologi
Psikologi sosial saat ini membawa manfaat yang luar biasa dari sebelumnya.
Psikologi sosial membantu masyarakat memahami kisah-kisah peristiwa dalam masyarakat
akhir-akhir ini seperti terorisme, prasangka etnis, pelecehan seksual, dampak teknologi dan
berbagai fenomena sosial disekitar kita. Psikologi sosial telah mendapat tempat yang
penting dalam psikologi modern. Psikologi sosial telah memberikan pencerahan terhadap
fungsi pemikiran masyarakat dan memperkaya jiwa masyarakat (Taylor, Peplau, dan Sears,
2009).
Melalui berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh ilmuwan psikologi sosial, para
ilmuwan menandaskan bahwa untuk dapat memahami perilaku manusia, maka perlu
mengetahui peranan dari situasi permasalahan dan budaya. Pengaruh dari variable-variabel
situasional dalam mentransformasikan perilaku melalui cara yang tidak bias diprediksi bila
hanya memahami apa yang ada dalam diri manusia, seperti disposisi bawaan ataupun yang
dipelajari.
Situasi-situasi sosial tersebut bukanlah merupakan variable eksternal seperti yang
dipercaya oleh penganut behaviorisme radikal, melainkan merupakan konstruk realitas yang
dialami bersama atau sebuah konstruk subjektif yang kita bentuk dan kita berikan kepada
orang lain (Zimbardo dalam baron dan Byrne, 2005).
A. Role theories / Teori Peran
Perspektif dasar teori ini adalah bahwa tingkah laku dibentuk oleh peranan-peranan
yang diberikan oleh masyarakat bagi individu-individu untuk melaksanakannya. Teori ini
mengakui pengaruh faktor-faktor sosial pada tingkah laku individu dalam situasi yang
berbeda. Peranan pada umumnya didefinisikan sebagai sekumpulan tingkah laku yang
dihubungkan dengan suatu posisi tertentu (Sarbin & Allen, 1968).
•
Penekanan pada konteks status, fungsi dan posisi sosial yang terdapat dalam
masyarakat.
•
Peran adalah sekumpulan norma yang mengatur individu-individu berada dalam
suatu posisi atau fungsi sosial tertentu memiliki keharusan untuk berperilaku tertentu.
•
Perilaku sosial seseorang dalam sebuah kelompok merupakan hasil aktualisasi dari
peran tertentu.
•
Peran terdiri atas harapan-harapan yang melekat pada ciri-ciri perilaku tertentu yang
seharusnya dilaksanakan oleh sesorang yang menduduki posisi atau status sosial
tertentu dalam masyarakat.
2014
2
Psikologi Sosial II
Firman Alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
•
Setiap peran memiliki tugas-tugas tertentu yang harus dilaksanakan oleh
pengemban pesan.
•
Salah seorang tokoh teori peran yang terkenal adalah B.J Biddle.
Teori peran memberi penelaahan terhadap perilaku sosial dengan penekanan pada
konteks status, fungsi dan posisi sosial yang terdapat dalam masyarakat. Peran adalah
sekumpulan norma yang mengatur individu-individu berada dalam suatu posisi atau fungsi
sosial tertentu memiliki keharusan untuk berperilaku tertentu. Perilaku sosial seseorang
dalam sebuah kelompok merupakan hasil aktualisasi dari peran tertentu.
Peran terdiri atas harapan-harapan yang melekat pada ciri-ciri perilaku tertentu yang
seharusnya dilaksanakan oleh sesorang yang menduduki posisi atau status sosial tertentu
dalam masyarakat. Setiap peran memiliki tugas-tugas tertentu yang harus dilaksanakan oleh
pengemban pesan. Salah seorang tokoh teori peran yang terkenal adalah B.J Biddle.
Menurut teori ini, peranan yang berbeda membuat jenis tingkah laku yang berbeda
pula. Tetapi apa yang membuat tingkah laku itu sesuai dalam suatu situasi dan tidak sesuai
dalam situasi lain relatif independent pada seseorg yang menjalankan peranan tersebut,
karena itu masing-masing peran diasosiasikan dengan sejumlah harapan mengenai tingkah
laku apa yang sesuai dan dapat diterima dalam peranan tersebut (role expectation).
Teori peran berkaitan dengan status sosial dan peran sosial. Status sosial adalah posisi
dalam masyarakat, seperti mahasiswa, pengantar surat pos, ibu, atau karyawan.
Peran adalah harapan untuk bagaimana orang-orang dalam status sosial tertentu
harus bersikap. Peran terikat dengan status, sehingga mahasiswa diharapkan untuk belajar
dan operator surat diharapkan untuk mengirim email. Teori Peran menegaskan bahwa
orang-orang memenuhi harapan pada peran yang diemban dan banyak perilaku sosial
adalah orang-orang yang melaksanakan peran mereka. Mengetahui bahwa seseorang ibu
memberitahu banyak tentang bagaimana kita mengharapkan seorang ibu untuk berperilaku.
Sebagai contoh, kita akan mengharapkan dia untuk memelihara anak-anaknya, untuk
melindungi mereka dari bahaya, untuk membantu mengajar mereka, dan sebagainya.
Peran seseorang tidak hanya menentukan perilaku, tetapi jg beliefs (keyakinan) dan
sikap individu. Individu memilih sikap yang selaras dengan harapan-harapan yang
menentukan peran mereka. Sehingga perubahan peran akan membawa pada perubahan
sikap. Peran juga dapat mempengaruhi values yang dipegang orang dan mempengaruhi
arah dari pertumbuhan dan perkembangan kepribadian mereka. Impression management.
Suatu bidang yang mempelajari cara bagaimana orang-orang mencoba membentuk kesan
spesifik dan positif tentang dirinya (Schlenker, 1970).
2014
2
Psikologi Sosial II
Firman Alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
B. Learning theories / teori belajar
Teori belajar menekankan pada peranan situasi dan lingkungan sebagai sumber
penyebab tingkah laku. Teori ini menganalisa tingkah laku sosial dalam istilah “asosiasi yg
dipelajari” antara stimulus dan respon.
Tingkah laku terjadi akibat proses belajar yg juga disertai dgn adanya reinforcement.
Sehingga manusia cenderung berinteraksi dengan orang-orang yang memberikan ganjaran
dan akan menghindari orang-orang yang menimbulkan kerugian.
Menurut Bandura (1977), seorang anak belajar tingkah laku baru dengan melihat
orang lain (model) yang melakukannya dan mengamati konsekuensi dari sejumlah tingkah
laku. Jika modelnya mendapat reward maka tingkah laku model tersebut akan dilakukannya
dimasa yang akan datang, namun jika model tersebut mendapat hukuman, maka anak akan
menjauhi tingkah laku tersebut, proses belajar ini disebut “imitasi”.
Ciri-ciri khiusus teori belajar:
1. Sebab-sebab perilaku terletak pada pnegalaman belajar individu di masa lampau
2. Cenderung menempatkan penyebab perilaku pada lingkungan eksternal
3. Pendekatan belajar diarahkan untuk menjelaskan prilaku yang nyata dan bukan
keadaan subyektif atau psikologis (faktor internal seperti emosi/perasaan, motif,
persepsi dll).
C. Social exchange theory / teori pertukaran
sosial
Teori ini keluar pada tahun 1958 oleh seorang sosiolog bernama George Homans
Teori yang menganalisis interaksi antar – orang dari segi hasil (imbalan minus biaya) dari
pertukaran antar - individu tersebut. Dalam psikologi sosial dan sosiologi, gagasan bahwa
perubahan sosial dan stabilitas merupakan proses analisis biaya - manfaat antara pihakpihak. Teori pertukaran sosial adalah jenis hubungan matematis dan logis dari sebuah
hubungan.
Contoh: Menurut teori pertukaran sosial, seseorang yang merasa bahwa biaya
hubungan romantisnya melapaui manfaat atau merasa rugi kemungkinan besar akan
meninggalkan hubungan. Teori ini menganalisis interaksi interpersonal sebagai rangkaian
keputusan rasional yang dibuat orang. Interaksi ini mempertimbangkan untung rugi.
2014
2
Psikologi Sosial II
Firman Alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Layak = Imbalan – Biaya
Menurut teori pertukaran sosial, individu memasuki dan mempertahankan suatu
hubungan sosial dengan orang lain karena ia merasa mendapat banyak keuntungankeuntungan berupa ganjaran dari hubungan itu. Teori pertukaran sosial menggambarkan
kehidupan manusia sebagai suatu perjuangan sosial yang membutuhkan kerja sama
dengan orang-orang lain. Kerja sama dengan orang lain dibutuhkan untuk dapat
memuaskan kebutuhan masing-masing individu. Pemuasan kebutuhan secara adil hanya
dapat timbul apabila terjadi proses ketertimbalikan (recipocity) antar individu dan
menghasilkan saling ketergantungan antar mereka. Semakin menguntungkan suatu
hubungan bagi kedua belah pihak maka semakin terpeliharalah hubungan itu dalam waktu
relatif panjang.
D. Cognitive dissonance theory
Teori yang dikembangkan oleh Leon Festinger, yang menyatakan inkonsistensi
(disonansi) antara dua elemen kognitif akan menimbulkan tekanan untuk membuat elemen
itu selaras kembali. Teori ini telah diaplikasikan pada banyak fenomena, seperti pembuatan
keputusan, perilaku yang berbeda dengan sikap, dan daya tarik personal.
Disonansi kognitif merupakan dikrepansi atau terjadinya kesenjangan antara dua
elemen kognitif yang tidak konsisten yang berakibat ketidaknyamanan secara psikologis.
Festinger menjelaskan, terdapat dua elemen penting dalam disonansi kognitf, yaitu:
1. Hubungan tidak relevan
Tidak terdapat kaitan antara dua elemen kognitif, misalnya: elemen pertama,
pengetahuan tentang kebersihan, tidak mencuci tangan ketika hendak makan
akan membawa penyakit kedalam tubuh dengan elemen kedua, bahwa di pulau
jawa terdapat sekali singa.
2. Hubungan yang sesuai atau relevan
Terdapat kaitan atau hubungan antara dua elemen kognisi, sehingga elemen
pertama akan membawa akibat pada elemen kedua. Terdapat dua macam
hubungan dalam hubungan yang relevan :
2014
2
Psikologi Sosial II
Firman Alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1. Disonan
Terjadi manakala dua elemen atau pikiran bersifat berlawanan, antara
elemen pikiran 1 dengan elemen pikiran 2, atau terjadinya ketidakselarasan
antara elemen pikiran 1 dengan elemen pikiran 2.
Contoh: seseorang akan bangun kesiangan jika tidur tengah malam, dan
ternyata ia mampu bangun pagi karena tuntutan masuk kantor.
2. Konsonan
Terjadi manakala dua elemen atau pikiran bersifat sesuai atau relevan, dan
tidak saling tumpang tindih antara elemen 1 dengan elemen 2, atau terjadinya
keselarasan antara elemen pikiran 1 dengan elemen pikiran 2.
Contoh: semua orang tahu bahwa tidak memakai helm akan ditangkap polisi,
dan memang akan ditangkap polisi ketika berkendara motor di jalan tidak
memakai helm.
E. Balance theory
Teori keseimbangan (balance theory) berpendapat bahwa formulasi yang secara
spesifik menyatakan hubungan antara:
(1) rasa suka individu terhadap orang lain,
(2) Sikapnya mengenai suatu topik, dan
(3) sikap orang lain yang dipersepsikan mengenai topik yang sama. Keseimbangan
berakibat pada keadaan emosional yang positif, ketidakseimbangan berakibat pada
keadaan emosional yang negatif, dan keadaan tidak seimbang mengakibatkan
ketidak pedulian.
2014
2
Psikologi Sosial II
Firman Alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Formulasin ini menyatakan bahwa orang-orang secara alamiah mengorganisasikan
rasa suka dan rasa tidak suka mereka secara simetris. Ketika dua orang menyukai satu
sama lain, dan mengetahui bahwa mereka sama pada suatu hal yang khusus, hal ini
mencerminkan
keseimbangan
(balance),
dan
keseimbangan
secara
emosional
menyenangkan. Ketika dua orang menyukai satu sama lain dan mengetahui bahwa mereka
tidak sama pada suatu hal yang spesifik, hasilnya adalah ketidakseimbangan (imbalance),
yang secara emosional tidak menyenangkan. Pada kasus yang terakhir, mereka berjuang
untuk mengembalikan keseimbangan dengan mengubah sikap dan tingkah laku satu orang
atau orang yang lain agar lebih sama, dengan mempersepsikan derajat ketidaksamaan
secara keliru, atau cukup dengan memutuskan untuk tidak menyukai satu sama lain. Rasa
tidak suka membuat keadaan bukan seimbang (nonbalance) yang bukannya sangat
menyenangkan, namun bukan juga sangat tidak menyenangkan, karena masing-masing
individu merasa tidak peduli terhadap kesamaan ataupun ketidaksamaan satu dengan yang
lain.
Fritz Heider mengatakan bahwa kita berusaha menjaga keseimbangan antar
perasaan-perasaan dan relasi kita. Kita termotivasi untuk menyukai orang lain yang dekat
dengan kita, menyukai orang yang sepaham dengan kita, dan tidak menyukai orang yang
berseberangan dengan kita.
2014
2
Psikologi Sosial II
Firman Alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Daftar Pustaka
Baron, A. R. & Byrne, D. 2003. Psikologi Sosial. Penerbit Erlangga. Jakarta. Edisi
kesepuluh.
Taylor, E. S., Peplau, A. L., & Sears, O. D. 2009. Psikologi Sosial. Prenada Media Group.
Jakarta.
Wirawan, S.W,. 2005.Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta. Raja Grafindo Persada.
2014
2
Psikologi Sosial II
Firman Alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download