Energi Nuklir sebagai Energi Alternatif pada Pembangkit Tenaga

advertisement
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 SUMBER DATA
a. KANADA (Bruce Doern, 2009)
Kanada merupakan salah satu negara pengguna energi nuklir sebagai salah satu
pasokan listrik di negara ini selain energi fosil. Kanada menggunakan energi
nuklir untuk menanggulangi kurangnya pasokan listrik bagi negaranya, karena
negara ini merasa adanya pertambahan penduduk di masa yang akan datang,
sehingga Kanada berinisiatif untuk menggunakan energi lain selain fosil sebagai
pembangkit listrik. Negara ini memilih nuklir sebagai energi alternatif karena
nuklir merupakan energi yang ramah lingkungan. Selain energi nuklir
merupakan konsumsi listrik paling murah yang siap pakai, nuklir juga tidak
menghasilkan gas rumah kaca selain itu bisa juga dipakai untuk mencukupi
kebutuhan listrik dari beban menengah hingga beban puncak. Kanada masih
menggunakan energi nuklir sebagai energi alternatif karena Kanada masih
dirisaukan mengenai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah yang masih belum
bisa menjaga keselamatan masyarakat. Jika memang masih belum ada kebijakan
tentang hal ini, Kanada akan tetap menggunakan energi fosil sebagai energi
utama dan energi nuklir sebagai energi alternatif guna mencukupi kebutuhan
listrik di negara Kanada.
b. CHINA (Andrew C)
Kawasan benua Asia, China merupakan salah satu negara pengguna energi
nuklir untuk mencukupi kebutuhan listrik negara. China menggunakan energi
nuklir sebagai penyedia kebutuhan listrik karena nuklir dapat digunakan oleh
semua kalangan. Selain itu, masyarakat dengan pendapatan menengah ke bawah
dapat mengkonsumsi listrik dengan harga yang relatif murah. Meski negara ini
tahu resiko yang nantinya akan dihadapi ketika memakai energi nuklir sebagai
pasokan listriknya, namun karena adanya jumlah penduduk negara China yang
besar dan negara ini sedang mengalami pertumbuhan ekonomi, nuklir menjadi
jawaban akan pertanyaan mengenai kebutuhan listrik yang cukup untuk
memenuhi konsumsi rumah tangga dan industri. Berhubungan dengan masalah
10
sosial mengenai resiko yang dihadapi nantinya, pemerintah China sudah
berusaha dengan menerapkan peraturan menyangkut keamanan dan keselamatan
baik pengembangan maupun penggunaan nuklir sebagai pembangkit listrik.
c. INDIA (Dr. S. K. Jain, 2007)
India juga menggunakan nuklir sebagai pasokan listriknya sama seperti China
dan Kanada. Nuklir digunakan negara ini sebagai pasokan listriknya untuk
mencukupi kebutuhan listrik masyarakat negara ini. Seperti yang diketahui
bahwa negara ini merupakan salah satu negara dengan penduduk terbesar di
dunia, kebutuhan akan listrik pun juga harus dapat disebarkan secara merata.
Meski India mengalami pembengkakan biaya pengembangan reaktor nuklir
hingga tiga kali lipat, namun biaya yang murah ketika konsumsi pemakaian
listrik itu digunakan, merupakan salah satu alasan bagi negara ini menggunakan
energi nuklir sebagai pasokan listriknya. Hal ini merupakan salah satu
keuntungan pula bagi India, karena selain murah, pemerataan penggunaan listrik
dapat dijangkau oleh semua kalangan masyarakat. Mengenai resiko umum yang
harus dihadapi, masyarakat India masih khawatir mengenai resiko limbah yang
akan terjadi. Namun, India mencoba mengurangi kekhawatiran masyarakat
dengan pemanfaatan limbah secara tertutup. Negara ini berhasil mengurangi
ketegangan resiko yang terjadi di kalangan masyarakat dengan pemanfaatan
limbah ini. Pemanfaatan limbah secara tertutup ini digunakan dengan cara
penanganan dari setiap limbah yang dikeluarkan dari setiap proses reaktor
nuklir, di daur ulang hingga bisa digunakan sebagai bahan dasar pembuat nuklir.
Meski tidak sebagus kualitas uranium sebagai bahan dasar, namun hasil dari
daur ulang ini dapat diguanakan kembali sebagai bahan dasar pembuat nuklir
dengan bantuan energi lain.
d. JERMAN (Wettmann, 2011)
Nuklir merupakan salah satu energi yang dipakai di Jerman selain energi
terbarukan, energi matahari dan energi angin, meski kapasitas yang digunakan
memang jauh lebih banyak berasal dari energi nuklir. Namun, untuk ilmu
pengetahuan dan kesadaran pemerintah Jerman akan terjadinya kelangkaan
sumber bahan baku nuklir, Jerman sudah mulai mengembangkan beberapa
energi di atas untuk energi alternatif bila terjadi kelangkaan tersebut. Alasan
kenapa nuklir masih menjadi salah satu energi terbesar negara ini karena
memang biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi listrik masyarakat jauh lebih
11
murah bila dibanding energi lain. Jerman merupakan salah satu negara yang
berhasil menggunakan energi nuklir sebagai pasokan listriknya, meski tetap
menghadapi resiko-resiko yang secara umum juga di alami oleh semua negara
pengguna nuklir. Namun, hal itu bisa ditanggulangi dengan adanya kesiapan
teknologi dan adanya teknologi yang modern untuk mengatasi hal-hal yang
tidak diinginkan.
e. PERANCIS (Anonim, 2007)
Alasan negara Perancis menggunakan energi nuklir adalah karena Perancis
hanya memiliki energi yang berasal dari bumi namun dengan kualitas yang
rendah. Setelah Perancis menggunakan energi nuklir sebagai pembangkit listrik,
Perancis mengalami beberapa keuntungan dalam perekonomiannya. Selain
energi murah yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat, hutang pemerintah pun
juga berkurang seiring dengan pemakaian energi ini. hal ini disebabkan karena
Perancis menjadi salah satu negara pembuat reaktor nuklir. Beberapa negara
seperti Belgia, Afrika Selatan, Korea Selatan dan China mengimpor reaktor
yang mereka gunakan dari Perancis. Oleh karena itulah negara Perancis mulai
mengalami pertumbuhan ekonomi setelah pemakaian energi nuklir dan mencoba
membuat reaktor nuklir yang siap untuk di ekspor. Meskipun di tahun 2008
terjadi kenaikan harga bahan baku pembuatan energi nuklir karena krisis ,
namun Perancis merupakan salah satu negara yang berhasil dalam penggunaan
energi ini, karena selain sebagai pengguna, Perancis juga menjadi pengekspor
reaktor.
f.
RUSIA (Leonid Andreev, 2011)
Negara Rusia dapat dikatakan berhasil dalam penggunaan energi nuklir sebagai
pasokan listrik karena biaya listrik menjadi lebih murah dan rendah emisi.
Namun, di sisi lain banyak hal yang timbul karena pengembangan reaktor ini.
Rusia, dalam pengembangan reaktor nuklir memerlukan investasi yang besar.
Dukungan
dari
beberapa
negara
pun
diperlukan
untuk
pelaksanaan
pengambangan ini. Dari pengadaan proyek pembuatan energi nuklir ini, banyak
korupsi yang terjadi. Hal ini menyebabkan kualitas bahan kontruksi jadi lebih
rendah. Investasi yang diberikan pun harus dengan timbal balik pasokan listrik.
Sedangkan regulasi hanya dibuat untuk melindungi badan yang menangani
penggunaan energi nuklir. Oleh karena itu, dimungkinkan negara ini akan
12
mengalami pengalihan energi. Karena biaya dari segi bahan baku hingga
investor tidak ada yang menguntungkan jika korupsi masih saja terjadi.
g. SPANYOL (WEC, 2007)
Spanyol merupakan salah satu negara di benua Eropa yang memakai energi
nuklir sebagai pasokan listrik di negaranya. Spanyol menggunakan energi nuklir
karena menurut negara ini energi terbarukan tidak mampu mencukupi pasokan
listrik di Eropa. Selain itu, energi terbarukan tidak dapat memberikan beban
dasar yang diperlukan untuk mengganti bahan bakar fosil. Dibandingkan dengan
bahan bakar fosil, energi nuklir tidak menyebabkan bertambahnya emisi
karbondioksida di udara. Energi nuklir justru terbukti mengurangi prosentase
karbondioksida yang terkandung di dalam udara. Alasan Spanyol tetap
menggunakan energi nuklir ini, karena adanya ketidakpastian harga minyak dan
gas justru akan menjadikan nuklir sebagai prospek yang menarik.
h. SWEDIA ( Tomas Kaberger, 2007)
Listrik merupakan kebutuhan dasar suatu negara untuk melaksanakan kegiatan
ekonomi. Berbagai kebutuhan akan listrik terus meningkat tiap tahunnya seiring
dengan peningkatan jumlah penduduk. Hal ini terjadi pula di negara Swedia.
Bahkan, seiring kebutuhan akan listrik yang terus meningkat, berbagai jenis
barang pun juga diperdagangkan. Tak terkecuali dengan listrik itu sendiri.
Listrik di negara Swedia merupakan barang yang bisa diperjualbelikan.
Mulanya perusahaan-perusahaan di negara Swedia mulai memperjualbelikan
listrik dengan sumber daya yang ada. Mulai dengan sumber daya air kemudian
panas dan akhirnya nuklir. Pemilihan mereka akan nuklir selain sumber daya air
yang menghasilkan listrik tidak lagi relevan, nuklir menjadi barang yang
memiliki investasi yang tinggi sebagai penyedia pasokan listrik.
i. SWISS (Rolf Ribi, 2009)
Swiss merupakan salah satu negara pengguna energi nuklir yang akan beralih ke
energi lain. Negara ini merasa bahwa keuntungan yang diperoleh dalam
pemakaian listrik dengan energi nuklir ini tidak sebanding dengan biaya dan
resiko yang harus ditanggung kenudian oleh rakyat Swiss. Meski murahnya
harga listrik dan sumbangan nuklir dalam mengurangi karbondioksida di udara,
namun hal itu masih dirasa timpang ketika dibandingkan dengan biaya yang
dikeluarkan dari dampak kesehatan manusia jika adanya kebocoran yang terjadi
dalam reaktor yang akan menjalar ke lingkungan. Hingga saat ini meski Swiss
13
masih menggunakan energi nuklir sebagai penyedia pasokan listrik, namun
pemerintah Swiss sudah mempromosikan adanya energi baru yang ramah
lingkungan yang mereka sebut dengan eco energy. Eco Energy merupakan
energi yang berasal dari surya, angin dan panas bumi. Dimungkinkan pada
tahun 2030 Swiss akan melakukan pengalihan energi menuju energi yang ramah
lingkungan ini.
j. BRAZIL (Daniel Flemes, 2006)
Brazil adalah negara yang berhasil menggunakan energi nuklir sebagai penyedia
pasokan listrik bagi negaranya. Dalam menggunakan energi nuklir ini, Brazil
tidak melihat resiko yang nantinya akan dihadapi atau besarnya biaya yang
dikeluarkan dalam pengembangan energi ini, meski negara ini mengalami
pembengkakan anggaran hingga dua sampai empat kali lipat. Justru Brazil
menggunakan energi ini dengan tujuan persahabatan antar negara. Brazil
berusaha membuat hubungan yang baik dengan negara-negara pengguna nuklir
untuk keberhasilan energi nuklir di negaranya. Hal ini dimaksudkan oleh Brazil
agar tidak adanya permusuhan antar negara pengguna nuklir.
k. AFRIKA SELATAN (Anonim, 2010)
Afrika Selatan adalah salah satu negara di benua Afrika yang berhasil
mengembangkan energi nuklir dalam menyediakan pasokan listrik di negaranya.
Perbandingan biaya pengembangan reaktor yang mahal dengan murahnya listrik
dan berbagai peraturan yang menyokong keselamatan pengguna tidak lagi
menjadi persoalan bagi negara ini. Peraturan dan keselamatan penggunaan
energi nuklir dalam menyediakan pasokan listrik sudah ditanggung oleh Dewan
Energi Atom dan Departemen Mineral dan Energi. Selain itu, alasan negara ini
menggunakan energi nuklir sebagai pasokan listriknya karena banyaknya
investor yang akan menginvestasikan dana dalam bidang ini. Sehingga negara
ini juga mulai menggunakan energi nuklir untuk pengembangan dunia
pendidikan di negaranya.
l. FINLANDIA (Greenpeace, 2009)
Banyak negara yang setelah mereka menggunakan energi nuklir sebagai
penyedia pasokan listrik bagi negara mereka melakukan pengalihan energi lain,
seperti hal nya Finlandia. Negara ini mengalami kerugian yang cukup besar
dengan penerapan energi nuklir sebagai penyedia listrik di Finlandia. Meski
resiko kecelakaan yang besar dan belum adanya solusi untuk limbah, ada
14
beberapa kerugian lagi yang harus dialami oleh negara ini seperti; biaya
konstruksi yang mahal karena Finlandia mengalami pembengkakan anggaran
sebesar 50% dari anggaran dasar, ketergantungan akan pajak dan biaya listrik
yang mahal. Masyarakat menilai bahwa dengan adanya energi nuklir ini biaya
listrik menjadi mahal karena sebagian besar dana yang digunakan dalam
pengembangan reaktor berasal dari pemerintah, sehingga beban pajak yang
harus ditanggung oleh masyarakat Finlandia semakin besar. Selain itu listrik
yang digunakan dalam pembuatan konstruksi nuklir sangat besar yang
menyebabkan pembiayaan konstruksi ini semakin mahal. Untuk kegagalan
penanggulangan iklim, pemerintah negara Finlandia lebih mempercayai pada
pengurangan konsumsi bagi para pengguna kendaraan bermotor akan lebih bisa
menanggulangi perubahan iklim.
m. JEPANG (EIA, 2012)
Jepang merupakan salah satu negara di benua Asia yang berhasil menggunakan
energi Nuklir sebagai penyedia pasokan listrik bagi negaranya. Jepang dengan
kedisiplinannya yang tinggi mampu membuat reaktor nuklir berjalan dengan
baik sebagai pasokan listrik. Setelah memakai energi ini, konsumsi listrik di
Jepang semakin murah. Semua kalangan dapat menikmati pelayanan listrik yang
baik. Namun, setelah adanya tsunami dan gempa bumi yang terjadi di Jepang
tahun 2011 yang lalu membuat kebocoran di salah satu reaktor nuklir yang
menyebabkan diungsikannya masyarakat dalam radius kilometer. Dengan
adanya kejadian ini, Jepang masih berupaya untuk tetap menggunakan nuklir
dan belum memutuskan untuk beralih ke energi lain karena biaya listrik yang
murah, meski produksi listriknya menjadi menurun. Untuk tetap menjaga
kestabilan konsumsi listrik, pemerintah Jepang mendorong masyarakat untuk
menggunakan energi terbarukan untuk membantu menambah kekurangan
pasokan listrik yang terjadi karena bencana ini. Beberapa energi terbarukan
yang diupayakan oleh pemerintah Jepang antara lain; matahari, angin, air, panas
bumi dan biogas.
n. AMERIKA SERIKAT (Anonim, 2010)
Salah satu negara yang berhasil pula dalam penggunaan energi nuklir sebagai
penyedia pasokan listrik negara yaitu Amerika Serikat. Dalam penggunaan
energi nuklir ini, Amerika Serikat hanya mengkhawatirkan tentang aksi
terorisme yang tidak dengan bijaksana menggunakan nuklir sebagai senjata.
15
Namun, di sisi lain banyak keuntungan yang diperoleh negara ini dengan
menggunakan energi nuklir meski pembiayaannya meningkat dua hingga empat
kali lipat dari rencana anggaran. Dengan menggunakan energi ini, Amerika
serikat dapat dengan baik meningkatkan teknologi untuk perkembangan ilmu
pengetahuan. Selain itu, nuklir juga menjaga keamanan perubahan iklim dengan
tidak menghasilkan karbondioksida. Untuk berbagai resiko umum yang akan
dihadapi, negara ini memiliki beberapa regulasi. Regulasi yang bertujuan untuk
kebaikan iklim di masa yang akan datang sehingga dapat meminimalisir resiko
kesehatan. Karena regulasi yang dibuat digunakan untuk mendukung
kesejahteraan dan keselamatan pengguna energi nuklir.
o. KOREA SELATAN (Sudarno, 2009)
Korea Selatan juga merupakan salah satu negara di benua Asia yang mulai
menggunakan energi nuklir. Pengembangan energi nuklir di negara ini cukup
baik, karena negar ini sudah membagi tanggung jawab dalam bidang masingmasing. Baik itu dalam bidang pengawasan, pengembangan, manajemen,
pengoperasian dan bahan bakar. Meski tentunya negara ini mengalami
pembengkakan biaya dasar, namun pengembangan energi nuklir tetap
dijalankan untuk mencapai kemandirian jangka panjang dalam bidang
pengembangan teknologi. Sehingga dengan penerapan energi ini, bidang ilmu
pengetahuan juga akan mengalami peningkatan, tidak hanya berfikir akan
mendapatkan biaya listrik yang murah.
p. PAKISTAN (Anonim, 2012)
Negara Pakistan sudah mulai mengantisipasi resiko dari panggunaan energi
nuklir, karena keselamatan telah menjadi ciri khas untuk negara dengan
penggunaan energi ini. Alasan negara Pakistan masih menggunakan energi
nuklir karena nuklir menyediakan keberlanjutan energi listrik negara. Selain itu,
nuklir memiliki biaya bahan bakar yang rendah. Namun disisi lain, alasan
dimungkinkannya negara ini beralih pada energi lain karena besarnya dampak
kecelakaan nuklir yang nantinya akan terjadi dan proses produksi energi nuklir
menjadi listrik yang siap konsumsi membutuhkan waktu yang lama.
q. SLOVENIA (Ljubljana, 2011)
Slovenia merupakan salah satu negara yang menggunakan nuklir karena biaya
listrik yang siap pakai atau siap konsumsi jauh lebih murah dibandingkan
dengan energi lain. Resiko yang nantinya harus dihadapi merupakan salah satu
16
alasan Slovenia menggunakan energi nuklir hanya sebagai energi alternatif.
Negara ini mulai mengurangi konsumsi energi nuklir dan energi terbarukan
karena tujuan penggunaan energi di Slovenia adalah untuk keberlanjutan dan
keselamatan masyarakat. Selain tujuan tersebut, Slovenia juga meningkatkan
daya saing melalui energi lain yang lebih aman, sehingga negara ini juga
berfikir dengan adanya eksploitasi sumber daya terbarukan perlu ditanggulangi
untuk pengalihan ke energi lain yang lebih aman.
Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu dari negara-negara di atas, meskipun mereka
tahu besarnya resiko secara umum yang harus mereka tanggulangi ketika pemakaian
energi nuklir ini digunakan sebagai pembangkit listrik, beberapa negara seperti China
dan India tetap ingin membuat reaktor baru dengan berbagai kebutuhan yang cukup
besar. Karena besarnya penduduk yang berada di kedua negara ini, membuat konsumsi
akan listrik juga semakin berlipat. Di sisi lain kedua negara ini sedang mengalami
pertumbuhan ekonomi, sehingga membutuhkan kapasitas listrik negara yang cukup
besar. Menganai resiko yang harus mereka hadapi. Kedua negara ini masih dapat
membuat pencegahan-pencegahan baik saat pembuatan reaktor maupun penanganan
akan limbah yang bisa di aur ulang atau pun pembuatan dinding permanen agar limbah
tetap berada pada stu kawasan.
Di lain pihak, beberapa negara juga mulai mengurangi penggunaan energi nuklir seperti
di negara Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa. Hal ini dikarenakan takutnya
ada tindakan proliferasi di beberapa negara. Dan mereka sudah mulai beralih pada
energi lain untuk memasok kurangnya energi listrik di negara mereka. Selain itu
beberapa negara dalam proses penggunaan energi nuklir ini dalam pengembangan
penyelesaiian reaktor mengalami kevakuman karena pembengkakan biaya 3 sampai 5
kali lipat dari anggaran yang sudah direncanakan. Beberapa resiko juga menjadi salah
satu alasan negara-negara ini mengurangi penggunaan energi nuklir seperti ; adanya
kesalahan pada bagian kelistrikan yang menyebabkan kebakaran, adanya kebocoran
pada sebagian inti nuklir dan kerusakan sistem pendingin, adanya sistem instrumen
yang mengalami malfungsi sehingga menyebabkan pengoperasian dihentikan selama
beberapa tahun hingga adanya masalah pada peralatan yang menyebabkan kematian
darurat (http://id.wikipedia.org/wiki/Daya_nuklir).
Hampir sebagian besar pengguna energi nuklir merupakan negara maju. Hanya
beberapa negara berkembang yang menggunakan energi nuklir sebagai pasokan energi
17
listrik negara. Kesiapan teknologi yang negara maju miliki jauh lebih baik bila
dibandingkan dengan negara berkembang. Negara maju yang sudah menjadi negara
industri memiliki banyak variasi tenaga ahli yang lebih berkualitas dengan berbagai alat
yang mendukung proses penelitian terhadap teknologi yang semakin berkembang.
Sedang negara berkembang, jikalau mereka mampu membeli teknologi pembuat
reaktor dan segala peralatan yang diperlukan untuk mengoperasikan pembangkit listrik
tenaga nuklir ini, mereka hanya mampu untuk membeli teknologi kualitas menengah.
Serta untuk variasi yang lain seperti tenaga ahli, peneliti-peneliti yang handal untuk
menjamin keberlangsungan pengoperasian pembangkit listrik tenag nuklir ini mereka
masih mengalami kesulitan. Membutuhkan biaya yang ekstra untuk sebuah negara
berkembang menggunakan energi nuklir menjadi pembangkit listrik.
Kesiapan teknologi di Indonesia, menurut International Atomic Energy Agency
(IAEA), Indonesia termasuk dalam 13 negara terbaik dalam pemanfaatan teknologi dan
pengoperasian reaktor nuklir untuk tujuan damai. Hal ini dipaparkan oleh Adiwardojo,
Deputi Kepala BATAN Bidang Pengembangan Teknologi dan Energi Nuklir dalam
konferensi pers Terapan Riset Nuklir Untuk Menjawab Kebutuhan Bangsa, 26 Oktober
2011 di Hotel Menara Peninsula. Selain itu, dalam hal kesiapan internal, saat ini
Indonesia sudah memiliki tiga reaktor nuklir meskipun masih dalam skala riset. Bahkan
salah satunya, yakni Reaktor Kartini di Yogyakarta didesain dan dibangun oleh tenagatenaga ahli Indonesia. Dengan memanfaatkan reaktor tersebut, maka didirikanlah
sekolah tinggi teknologi nuklir (STTN) sebagai institusi yang akan mempersiapkan
SDM nuklir di Indonesia (ebtke.esdm.go.id).
Berikut merupakan tabel pengklasifikasian negara-negara maju dan berkembang dalam
17 negara pengguna energi nuklir.
Tabel 1.
Daftar negara maju dan negara berkembang pengguna energi nuklir
No
1
Nama Negara
Negara
Negara Sedang
Maju
Berkembang
√
Kanada
18
2
China
√
3
India
√
4
Jerman
√
5
Perancis
√
6
Rusia
7
Spanyol
√
8
Swedia
√
9
Swiss
√
10
Brazil
√
11
Afrika Selatan
√
12
Belanda
√
13
Jepang
√
14
Amerika Serikat
√
15
Korea Selatan
√
16
Pakistan
√
17
Slovenia
√
√
Sumber : Bank Dunia
Klasifikasi didasarkan pada klasifikasi Bank Dunia yaitu negara maju merupakan
negara dengan high incomeI. Sedangkan negara sedang berkembang adalah negara dengan
low income, upper midle, dan lower midle.
3.2 TEKNIK ANALISIS DATA
Menurut Lofland dalam Moleong (2005) sumber data utama dalam penelitian kualitatif
adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan
lainnya. Peneliti harus dapat menangkap makna yang tersurat dan tersirat dari apa yang
dilihat, didengar dan dirasakan, untuk itu dibutuhkan kepandaian dalam memahami masalah.
Peneliti harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang akan diteliti. Penelitian
kualitatif ini menggunakan analisis SWOT dan analisis Manfaat biaya.
Teori Analisis SWOT adalah sebuah teori yang digunakan untuk merencanakan sesuatu hal
yang dilakukan dengan SWOT. SWOT adalah sebuah singkatan dari, S adalah Strenght atau
Kekuatan, W adalah Weakness atau Kelemahan, O adalah Oppurtunity atau Kesempatan, dan
19
adalah Threat atau Ancaman. SWOT ini biasa digunakan untuk menganalisis suatu kondisi
dimana akan dibuat sebuah rencana untuk melakukan sesuatu, sebagai contoh, program kerja
(wordpress.com, 2010). Menurut Freddy Rangkuti (2005), SWOT adalah identitas berbagai
faktor secara sistematis untuk merumusakan strategi pelayanan. Analisis ini berdasarkan
logika yang dapat memaksimalkan peluang namun secara bersamaan dapat meminimalkan
kekurangan dan ancaman.
Analisis biaya manfaat adalah sebuah pendekatan dengan prosedur yang sistematis untuk
membandingkan serangkaian biaya dan manfaat yang relevan, dengan sebuah aktivitas atau
proyek. Tujuan akhir yang ingin dicapai adalah secara akurat membandingkan kedua nilai,
manakah yang lebih besar. Selanjutnya dari hasil pembandingan ini, pengambil keputusan
dapat mempertimbangkan untuk melanjutkan suatu rencana atau tidak dari sebuah aktivitas,
produk atau proyek, atau dalam konteks evaluasi atas sesuatu yang telah berjalan, adalah
menentukan keberlanjutannya (Anonim, 2008)
20
Download