MODUL II
DINUL ISLAM
DAN KERANGKA DASAR AJARANNYA
Artinya : ….. “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (AL-Qur’an)
untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta
rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah
diri”. Q.S. An-Nahl (16): 89.1
A. PENGERTIAN DINUL ISLAM
Kata “Islam” berasal dari kata ‘aslama-yuslimu-islaman’ yang berarti
menciptakan kedamaian, keselamatan, kesejahteraan hidup dan kepasrahan
kepada Allah.
Senada dengan pendapat diatas, sumber lain mengatakan bahwa Islam
berasal dari bahasa arab, terambil dari kata ‘salima’ yang berarti selamat
sentausa. Dari asal kata itu dibentuk kata ‘aslama’ yang artinya memelihara
dalam keadaan selamat sentausa, dan berarti pula menyerahkan diri, tunduk,
patuh dan taat. Kata ‘aslama’ itulah yang menjadi kata ‘Islam’ karena di
dalamnya memiliki kandungan segala arti yang pokok yang seakar dari kata
Islam. Oleh karena itu orang yang berserah diri, patuh dan taat disebut sebagai
orang muslim. Orang yang demikian berarti telah menyatakan dirinya taat,
menyerahkan diri dan patuh kepada Allah SWT. Orang tersebut selanjutnya akan
dijamin keselamatannya didunia dan akhirat.2
Islam merupakan ajaran Allah yang diturunkan untuk mengatur tata
kehidupan manusia melalui para rasul, dari nabi Adam AS. hingga nabi
Muhammad SAW. Adapun “Islam” yang dimaksudkan dalam pembahasan ini
ialah ‘Din’ yang diturunkan kepada nabi terakhir, Muhammad SAW dengan
melalui risalah Al-Qur’an sebagai penyempurna millah-millah (Din) sebelumnya.
2
Penamaan Islam mempunyai perbedaan yang mendasar dengan
agama-agama lainnya, yang menempatkan Islam pada tempat istimewa yaitu
penamaannya tidak dihubungkan dengan pembawanya dan tempat agama itu
lahir. Jadi Islam bukanlah “pikiran” Nabi Muhammad SAW, sekalipun Islam
dengan nabi Muhammad SAW tidak bisa dipisahkan. Islam adalah nama yang
diberikan oleh Allah melalui FirmanNya dalam Al-Qur an, diantaranya:
Q.S. Ali-Imran (3): 85
Artinya: “Barang siapa yang memeluk agama selain Islam, maka mereka
sekali-kali tidak akan diterima dari padanya, dan dia diakhirat
termasuk orang-orang yang merugi”. 3
Q.S. Al- Maidah (5): 3
Artinya: “Dan Aku rela Islam sebagai agamamu”.4
Ditinjau dari ajarannya, Islam mengatur berbagai aspek kehidupan
pada manusia yang meliputi:
1. Hubungan manusia dengan Allah (Hablum Minallah)
Hubungan manusia dengan Allah. Pengabdian manusia bukanlah
untuk kepentingan Allah, karena Allah tidak berhajat (butuh) kepada siapa
pun, pengabdian itu bertujuan untuk mengembalikan manusia kepada
fitrahnya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an :
Q.S. Ar-Ruum (30): 30 yang artinya:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama
(Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah
Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia
tidak mengetahui”.5
Q.S. Adz-Dzariat (51): 56 yang artinya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka menyembahku”.6
3
Q.S. Al-Bayyinah (98): 5 yang artinya :
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali agar menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan)
agama dengan lurus dan mereka menjalankan shalat dan
menunaikan zakat dan yang demikian itulah orang-orang yang
lurus”.7
a. Hubungan Manusia dengan Manusia (Hablum minan-Naas)
Agama
Islam
mempunyai
konsep-konsep
dasar
mengenai
kekeluargaan, kemasyarakatan, kenegaraan, perekonomian dan lain-lain.
Konsep dasar tersebut memberikan gambaran tentang ajaran-ajaran
yang berkenaan dengan hubungan manusia dengan sesama dalam
berbagai aspek kehidupannya. Seluruh konsep yang ada bertumpu pada
satu nilai, yaitu saling menolong antara sesama manusia. Firman Allah
SWT dalam Al-Qur’an:
Q.S. Al-Maidah (5): 2 yang artinya:
“Dan
tolong-menolonglah
kamu
dalam
(mengerjakan)
kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong menolong dalam
berbuat dosa dan permusuhan”. 8
Manusia diciptakan oleh Allah terdiri dari laki-laki dan perempuan.
Mereka hidup berkelompok, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa.
Mereka saling membutuhkan dan saling mengisi sehingga manusia juga
disebut makhluk sosial, manusia selalu berhubungan satu sama lain,
firman Allah dalam Al-Qur’an :
Q.S. Al-Hujurat (49): 13 yang artinya:
“Hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakanmu dari
seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi
Allah
diantara
kamu
adalah
yang
paling
bertaqwa.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”. 9
b. Hubungan Manusia dengan Makhluk lainnya / Lingkungannnya
Seluruh benda-benda yang diciptakan oleh Allah yang ada
dialam ini mengandung manfaat bagi manusia. Alam raya ini wujudnya
4
tidak terjadi begitu saja, akan tetapi diciptakan oleh Allah dengan sengaja
dan dengan hak. Allah berfirman dalam Al-Qur’an :
Q.S. Ibrahim (14): 19 yang artinya :
“Tidakkah kamu perhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah
menciptakan langit dan bumi dengan hak (tidak percuma / penuh
hikmah) ?”.10
Q.S. Ali-Imran (3): 191 yang artinya:
“…Wahai Tuhan kami, tidaklah engkau menciptakan ini dengan
sia-sia….”.11
Q.S. Luqman (31): 20 yang artinya:
“Tidakkah
kamu
perhatikan
sesungguhnya
Allah
telah
menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang dilangit dan
yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmatNya lahir
dan batin”.12
Q.S. Hud (11): 61 yang artinya :
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan
kamu pemakmuran”.13
Firman Allah di atas menjelaskan bahwa alam ini untuk manusia dan
manusia diperintahkan untuk memakmurkan dan memanfaatkan dengan
sebaik-baiknya. Hanya saja dalam memanfaatkan alam ini manusia harus
mengerti batas-batasnya, tunduk dan patuh pada aturan-aturan yang
telah digariskan oleh Sang Pencipta alam ini.
B. KERANGKA DASAR DINUL ISLAM
Islam bukan hanya suatu sistem kepercayaan dan ritual, tapi
merupakan suatu system kehidupan yang lengkap, integral dan universal.
Tanpa diawali dari visi yang tepat dan benar maka sebuah system tidak akan
bisa diwujudkan dengan sempurna atau bahkan salah sama sekali.
Demikian pula untuk menjadikan Islam sebagai sistem hidup harus
berangkat dari visi yang tepat dan benar.
Salah satu yang menyebabkan orang salah memahami ajaran Islam,
karena mereka berawal dari visi yang salah dalam memandang ruang
lingkup ajaran Islam serta menggambarkan bagian-bagian dalam kerangka
keseluruhan ajaran agama Islam tersebut.
5
“Vera Micheles Dean dalam bukunya “ The Nature of The Non
Western World”, sebagaimana dikutip Humaidi Tata Pangarsa; bahwa Islam
meliputi empat unsur:
1. Islam is religion
2. Islam is political system
3. Islam is way of live
4. Islam is interpretation of history” 14
Dengan mengikuti tanya jawab antara Malaikat Jibril dengan Nabi
Muhammad SAW tentang “Iman, Islam dan Ihsan” serta memperhatikan isi
Al-Qur’an secara keseluruhan maka dapat dikembangkan bahwa pada
dasarnya sistematika dan pengelompokkan ajaran Islam secara garis besar
adalah akidah syariah dan akhlak.
1. Aqidah
Dalam ajaran Islam aqidah merupakan landasan yang mendasari
seluruh aktivitas kehidupan Islami, sedangkan pelakunya disebut
mukmin. Suatu perilaku yang tidak berangkat dari landasan itu, maka
perilaku itu diluar system Islam atau kufur dan pelakunya disebut kafir.
Sistem keyakinan dalam ajaran Islam dibangun dalam enam landasan
atau asas yang lazim disebut rukun iman.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
Q.S. An-Nisa (4): 136 yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepadaAllah
dan rasulNya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada
rasulNya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang
siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitabkitabNya,
rasul-rasulNya
dan
hari
kemudian,
maka
sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya”.15
2. Syariah
Syariah adalah peraturan dan perundang-undangan yang diberikan
oleh Allah SWT untuk mengatur berbagai aspek kehidupan manusia.
Syariah atau sistem nilai Islam ini ditetapkan oleh Allah dan rasulNya
sebagaimana yang tertuang dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
6
Dalam literature Islam, pembahasan syariah dikelompokkan kepada
bidang ibadah dan muamalah.
3. Akhlak
Akhlak merupakan komponen dasar Islam yang ketiga, berisi ajaran
tentang tata perilaku dan sopan santun. Akhlak dalam Islam
merupakan manivestasi dari akidah dan syariah. Karena keimanan
harus ditampilkan dalam perilaku sehari-hari. Inilah yang menjadi misi
utama diutusnya Rasulullah SAW, sebagaimana beliau bersabda
dalam Hadist riwayat Ahmad:
“Sesungguhnya Aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan
akhlak terpuji”.
Akhlak Islam bersifat sacral, absolut, imperatif, akurat, universal dan
memiliki makna ukhrawi.
Dikatakan sacral, karena norma-normanya berhubungan dan terkait
dengan Allah serta merupakan ibadah kepadaNya.
Dikatakan absolut, dalam pengertian memiliki kemutlakan sebagai
standar baik dan buruk, benar atau salah secara baku dan tidak
berubah-ubah baik karena perbedaan budaya masyarakat maupun
perkembangan waktu.
Dikatakan
imperatif,
karena
norma-normanya
mengikat
dan
memaksa.
Dikatakan akurat, karena norma-normanya itu sangat tepat sebagai
alat untuk mengendalikan manusia dan selaras dengan kepentingan
penataan kehidupan yang damai dan harmonis.
Dikatakan universal, karena berlaku dimanapun dan kapanpun. Dan
bersifat
ukhrawi,
dalam
pengertian
bahwa
keuntungan
dari
pelaksanaannya tidak hanya dirasakan sekarang di dunian ini saja
tetapi nanti juga di akhirat.
7
SKEMA KERANGKA DASAR DINUL ISLAM
AQIDAH:
Rukun Iman:
1. Iman kepada Allah
2. Iman kepada Kitab-kitabNya
3. Iman kepada Malaikat-malaikatNya
4. Iman kepada Para RasulNya
5. Iman kepada Hari Akhir
6. Iman kepada Qadha dan Qadhar
SYARIAH
Ibadah:
1. Yang terkait dengan syarat, rukun dan waktu (muqaddar)
2. Yang tidak terkait dengan syarat, rukun dan waktu (ghaer
muqaddar) (Pen.)
DINUL ISLAM
Mu’amallah:
1. Ahwal syakhsiyah (system hubungan keluarga)
2. Madaniyah (system peradaban kemasyarakatan)
3. Murafa’at (system peradilan)
4. Dusturiyah (system konstitusi/UUD/perundangan lainnya)
5. Jinayah (system hukum pidana)
6. Iqtisadiyah & maliyah (system kenangan dan APBN)
7. Dauliyah (system kedaulatan negara)
AKHLAK
1. Akhlakul mahmudah kepada khalik
2. Akhlakul mahmudah kepada makhluk:
a. Manusia
b. Alam sekitarnya
Catatan:
(Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh. h. 32-33).
8
C. HUBUNGAN AQIDAH, SYARIAH DAN AKHLAK
Syariah dan akhlak adalah komponen Dinul Islam yang tidak bisa
dipisahkan antara satu dengan yang lainnya hubungan ketiga komponen itu
merupakan kausalitas. Aqidah harus mampu menggerakkan seseorang
untuk melakukan dan mematuhi dinul Islam. Ajaran yang dilakukan itu
diharapkan dapat mendidik seseorang untuk berkepribadian sehari-hari. Bila
kita
perhatikan
ayat-ayat
dalam
pada
Al-Qur’an
umumnya
selalu
mencerminkan adanya hubungan antara ketiga aspek tersebut. Sebagai
contoh diantaranya :
Q.S. Al-Baqarah (2): 183 yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar
kamu bertaqwa”.16
Q.S. Al-Maidah (5): 8 yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman hendaknya kamu jadi orangorang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah,
menjadi
saksi
dengan
adil.
Dan
janganlah
sekali-kali
kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kanu untuk
berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat
kepada Taqwa sesungguhnya Allah maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan …”. 17
Q.A. Al-Ankabut (29): 45 yang artinya :
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu yaitu al Kitab
(Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu
mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar, dan
sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar
(keutamaannya
dari
ibadat-ibadat
yang
lain)
dan
Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan”.18
Seseorang yang melakukan perbuatan baik, tetapi tidak dilandasi
dengan akidah dan syariah, perbuatannya hanya dikatakan sebagai
9
perbuatan baik yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, tetapi belum
tentu dipandang baik oleh Allah.
Kerangka dasar ajaran Islam seperti dijelaskan diatas mengantarkan
kita pada pemahaman bahwa Islam adalah agama yang mengatur
kehidupan manusia baik secara pribadi, berkeluarga, bermasyarakat,
bernegara dan hubungan antar bangsa tanpa membedakan satu sama lain.
Setiap aktifitas muslim dalam segala lapangan kehidupan adalah
merupakan ibadah atau pengabdian kepada Allah dan tidak ada satu segi
kehidupanpun yang lepas dari kerangka ibadah kepada Allah, firman Allah
dalam Al-Qur’an :
Q.S. Adz-Dzariat (51): 56 yang artinya:
“Dan tidaklah Aku (Allah) menciptakan jin dan manusia
melainkan agar mereka menyembahKu (beribadah/mengabdi
kepadaKu)”. 19
Oleh sebab itu Dinul Islam tidak mengenal pemisahan antara satu
segi kehidupan dengan kehidupan yang lain, dalam arti lain Islam
menolak sekulerisme, karena sekulerisme memusatkan perhatiannya
kepada masalah dunia semata, secara sadar atau tidak ia telah
mengenyampingkan agama dan wahyu dalam peri kehidupan sehari-hari.
Hal ini mengantarkan manusia kepada kehidupan yang bebas tanpa
ikatan agama.
D. ESENSI DAN KEUNIVERSALAN ISLAM
1. Esensi Ajaran Islam
Al-Qur’an telah memberikan pesan yang jelas kepada kita, bahwa
Islam merupakan “Ad-Din” bagi seluruh Nabi/Rasul sejak Nabi Adam
hingga Nabi Muhammad SAW. Salah satu ayat menunjukkan bahwa
Islam dianut oleh nabi-nabi terdahulu sebelum rasul akhir zaman’Nabi
Muhammad SAW’, sebagaimana pesan Nabi Ya’kub AS kepada anak
cucunya, yang Allah ceritakan melalui “wahyu” (Al-Qur’an) kepada
rasul akhir zaman ‘Nabi Muhammad SAW’, sebagai berikut:
Q.S. Al-Baqarah (2): 132 yang artinya :
10
“… Nabi Ya’kub berpesan kepada anak-anaknya: ‘Hai anakanakku sesungguhnya Allah telah memilih agama (Islam) untuk
kamu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama
Islam”.20
Q.S. Asy-Syura (42): 13 yang artinya :
“Dia telah mewasiatkan Agama kepadamu, sebagaimana yang
diwasiatkan kepada Nuh, dan telah diwahyukan kepadamu, dan
Kami
wasiatkan
kepada
Ibrahim,
Musa,
dan
Isa,
yaitu:
“Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah
tentangnya … “.21
Dalam Sabda Rasulullah SAW riwayat Bukhari dan Muslim,
menjelaskan sebagai berikut:
Antara satu rasul dengan rasul lainnya sebelum Nabi Muhammad SAW.
Merupakan
satu
kesatuan
yang
tak
terpisahkan.
Sehingga
bila
diumpamakan suatu bangunan bagaikan gedung yang megah dan
mewah, tapi ada kekurangan sedikit dari bagian gedung tersebut, maka
Rasulullah SAW. Sebagai penutup dan penyempurna bangunan tersebut.
Islam pada hakikatnya mempunyai arti “berserah diri kepada hukum
Allah dengan tanpa kritik” atau “Sami’naa wa Atha’naa” (kami dengar dan
kami taat). Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an :
Q.S. Al-An’am (6): 162-163 yang artinya :
“Katakanlah, Sesumgguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan
matiku hanya untuk Allah, Rabb alam semesta, tidak ada sekutu
bagiNya, dan dengan itu aku diperintah dan aku adalah orang
yang pertama berserah diri. (Islam)”.22
2. Keuniversalan Dinul Islam
Keuniversalan Dinul Islam adalah menunjuk kepada pengertian
bahwa Islam dilihat dari sudut pandang yang utuh, maka dapat berlaku
untuk semua orang diseluruh dunia sepanjang zaman. Hal ini
sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Anbiya (21): 107 yang
artinya :
“Tidak Kami utus Engkau melainkan agar menjadi rahmat bagi
seluruh alam.” 23
11
Agama Islam yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah SAW, lahir pada
tingkat terakhir dari perkembangan sejarah manusia. Oleh karena itu ia
bercorak modern dan up to date disamping wataknya yang universal.
Dilihat secara parsial maka Dinul Islam dapat dibedakan kepada:
1. Iqlimiyah Al-Islam, dalam arti adanya ajaran-ajaran Islam yang
berbeda dalam satu iklim (wilayah) dengan wilayah lainnya
sebagai akibat perbedaan situasi dan kondisi.
2. Alqawa’id Al-Hakimah, maksudnya ajaran Islam yang memiliki
kontek keberlakuan akidah secara mendunia sepanjang masa.
Prinsip ini dapat didasarkan kepada firman Allah dalam Al-Qur’an :
1.
Q.S. Al-Baqarah (2): 185 yang artinya :
“Allah
menghendaki
untuk
kamu
kemudahan
dan
tidak
menghendaki kesukaran …”. 24
Pada hakikatnya, dalam hidup bermasyarakat dimana perbedaan
sangat dimungkinkan, Islam lebih mementingkan isi dan makna
dibandingkan dengan bentuk-bentuk lahiriahnya, walaupun hal tersebut
bersumber dari petunjuk nabi, tetapi hal itu harus dipahami dalam konteks
kemasyarakatan yang beliau alami dan tentunya berbeda dengan
masyarakat yang lain akibat perbedaan waktu atau tempat.
Disinilah, keuniversalan Islam yang tergambar pada prinsip dan
nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan modern. Seperti contoh,
bentuk-bentuk pemerintah dapat berubah-ubah tetapi prinsip-prinsip atau
nilai-nilainya
bersifat
tetap
dan
universal.
Contoh
lain,
nabi
memerintahkan untuk berlatih naik kuda dan main panah dalam rangka
mempertahankan diri dari musuh. Prinsip mempertahankan dirinya
bersifat universal, tetapi bentuk-bentuk pertahanan dirinya dapat berbeda
atau particular sesuai dengan tuntutan perkembangan jaman.
Dalam prinsip-prinsip Islam mengantar kita untuk berkesimpulan
bahwa perbedaan merupakan sesuatu yang dibenarkan
perbedaan tersebut masih dalam kerangka ijtihadi.
selama
12
DAFTAR KUTIPAN
Departemen Haji dan Wakaf Saudi Arabia, Al-Qur’an wa Tarjamatu
1
ma’aniyatu ila Lughati al-Indunisiya, ( Medinah Munawwarah: khadim alHaramain asy-Syarifain, Tahun 1411 H ), h. 415.
2
Abuddin Nata, Metodologi Study Islam, (Jakarta, PT. Raja Grafindo
Persada, 1999), cet. Ke-3, h. 62.
3
Departemen Haji dan Wakaf Saudi Arabia, op.cit, h. 90
4
Ibid., h. 157.
5
Ibid., h. 645.
6
Ibid., h. 862
7
Ibid., h. 1084.
8
Ibid, h. 156-157.
9
Ibid., h. 847.
10
Ibid., h. 382
11
Ibid., h. 110.
12
Ibid, h. 655.
13
Ibid, h. 336.
14
Humaedi Tata Pangarsa, Kuliah Akidah Lengkap, (Surabaya: PT. Bina
Ilmu, 1981), cet. ke-5, h. 36.Ibid., h. 44.
15
Departemen Haji dan Wakaf Saudi Arabia, op.cit, .., h. 145.
16
Ibid. h. 44
17
Ibid. h.159.
18
bid., h. 635..
19
Ibid., h. 862
20
Ibid., h. 34
21
Ibid., h. 785
22
Ibid., h. 216
23
Ibid., h. 508
24
Ibid., h. 45
13
14
Download

b. kerangka dasar dinul islam