1 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Definisi dan Pengertian

advertisement
9
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1. Definisi dan Pengertian Manajemen Audit
Ada beberapa definisi dari manajemen audit yang diberikan oleh beberapa
ahli (pakar), yaitu:
1. Menurut Soekrisno Agoes dalam Auditing (pemeriksaan akuntan) oleh
KAP (2012:175), “Audit manajemen, disebut juga operasional audit, audit
fungsional, audit sistem, adalah suatu pemeriksaan terhadap kegiatan
operasi suatu perusahaan, termasuk kebijakan akuntansi dan kebijakan
operasional yang telah ditentukan manajemen, untuk mengetahui apakah
kegiatan operasi tersebut sudah dilakukan secara efektif, efisien, dan
ekonomis.”
2. Menurut IBK. Bayangkara, S.E., M.M. dalam Audit Manajemen:
Prosedur Dan Implementasi (2008:2), “Audit manajemen adalah
pengevaluasian terhadap efisiensi dan efektifitas operasi perusahaan.
Dalam konteks audit manajemen, manajemen meliputi seluruh operasi
internal perusahaan yang harus dipertanggungjawabkan kepada berbagai
pihak yang memiliki wewenang yang lebih tinggi.”
3. Menurut Alexander Hamilton dalam Management Audit: Maximizing
Your Company’s Efficiency And Effectiveness (1994:1), “Manajemen
audit meliputi berbagai bidang yang luas tentang prosedur, metode
penilaian, kebijakan dan pendekatan. Manajemen audit dirancang untuk
menganalisa, menilai, meninjau ulang dan menimbang hasil kerja
perusahaan dibandingkan dengan berbagai standar yang telah ditentukan
atau pedoman yang ditentukan oleh perusahaan.”
4. Menurut Amin Widjaya Tunggal dalam Audit Manajemen Kontemporer
(2012:2), “Audit manajemen adalah suatu teknik yang secara teratur dan
9
10
sistematis digunakan untuk menilai efektifitas unit atau pekerjaan
dibandingkan
dengan
standar
perusahaan
dan
industri,
dengan
menggunakan petugas yang ahli dengan lingkup objek yang di analisis,
untuk menyakinkan manajemen bahwa tujuannya dilaksanakan, dan
keadaan yang membutuhkan perbaikan di temukan.”
2.1.1 Tujuan Manajemen Audit
Tujuan dari manajemen audit sangat bervariasi di antara organisasi yang satu
dengan organisasi lain dan tujuan audit sering berubah seiring dengan perkembangan
dan pengenalan auditor terhadap operasi serta kemampuan auditor itu sendiri.
Tujuan manajemen audit menurut Lawrence B. Sawyer (Statement Of
Auditing Standard (SAS) no 1 tahun 2012) yaitu :
1. Penilaian pengendalian.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan apakah terdapat kontrol yang
memadai atau efektif untuk mencapai tujuan atau rencana operasi
manajemen. Penilaian pengendalian adalah merupakan suatu tujuan yang
berurusan dengan pengendalian administrasi yang di tetapkan atas seluruh
tahap dari bisnisnya.
2. Penilaian performansi.
Tujuan pemeriksaan ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi sebanyak
– banyaknya (tidak di batasi fungsi akuntansi dan administrasi) mengenai
keefektifan, efisiensi dan penghematan atas pekerjaan yang sedang dilakukan
dengan cara menentukan apakah manajemen telah mencapai standar yang
telah ditetapkan atau standar – standar performansi.
3. Penilaian struktur organisasi.
Tujuan penilaian ini dimaksudkan untuk menentukan apakah struktur
organisasi yang telah ditetapkan perusahaan sesuai dengan tujuan,
mencerminkan tanggung jawab dan wewenang secara jelas.
11
4. Dukungan atau bantuan kepada manajemen.
Tujuan utama dari audit yang berorientasi kepada manajemen adalah untuk
membantu seluruh manajer di seluruh tingkat jabatan perusahaan agar dapat
selalu mengembangkan fungsi nya selain menilai dan memberikan kritik pada
pihak manajemen.
2.1.2 Tipe – Tipe Manajemen Audit
Terdapat 3 tipe manajemen audit menurut Drs. Amin Widjaja, Ak, MBA
dalam Pengantar Audit Operasional (2012:33), yaitu :
1. Audit fungsional (Functional Audit)
Merupakan pemeriksaan manajemen yang berhubungan dengan satu atau
lebih fungsi dalam suatu organisasi.
2. Audit organisasi (Organizational Audit)
Merupakan pemeriksaan manajemen yang berhubungan dengan seluruh unit
– unit dalam organisasi seperti departemen, cabang atau anak perusahaan
dengan penekanan pada seberapa efisien dan efektif fungsi – fungsi yang
berinteraksi sehingga mencapai tujuan atau keinginan yang ditargetkan oleh
perusahaan.
3. Penugasan khusus (Special Assignment)
Merupakan penugasan untuk mengadakan pemeriksaan operasional secara
khusus atas pemeriksaan manajemen.
2.1.3 Tahapan manajemen audit
Auditor perlu memiliki suatu kerangka tugas yang dapat dijadikan pedoman
dalam bekerja. Suatu kerangka yang diiringi dengan suatu program audit yang
terperinci dapat memberikan dasar kerja bagi auditor.
Dalam buku “Auditing (Pemeriksaan Akuntan) oleh Kantor Akuntan Publik”,
(2012:178), Soekrisno Agoes menyatakan, pada umum nya tahapan dalam
Manajemen Audit terdiri dari empat tahap, yaitu :
1. Penelitian pendahuluan (preliminary survey)
Tujuan dari penelitian pendahuluan adalah untuk mendapatkan informasi
umum dan latar belakang dalam waktu yang relatif singkat, mengenai semua
12
aspek dari organisasi, kegiatan, program atau sistem yang dipertimbangkan
untuk diperiksa.
2. Penelaahan dan pengujian atas sistem pengendalian manajemen.
Tujuan dari penelaahan dan pengujian atas sistem pengendalian manajemen
adalah:
a. Memperoleh bukti mengenai semua unsur tujuan pemeriksaan dengan
pengujian sesungguhnya terhadap transaksi pengendalian manajemen.
b. Memahami bagaimana kegiatan atau program yang dikendalikan, apa
tujuan nya dan bagaimana penetapan wewenang serta mengidentifikasi
kelemahan yang ada.
c. Menentukan bahan bukti yang diperoleh cukup kompeten untuk
diteruskan pemeriksaannya secara terperinci.
Evaluasi atas pengendalian manajemen ini pada dasarnya ditujukan untuk
mengidentifikasi adanya kelemahan pada pengawasan yang disebabkan
karena tidak ditaatinya prosedur pengendalian yang telah diterapkan. Alat
bantu dalam melaksanakan evaluasi tersebut adalah dengan menggunakan
kuesioner.
3. Pengujian terperinci (detailed examination)
Tujuan dari pemeriksaan yang terperinci ini mencakup pengumpulan dan
menganalisis informasi yang perlu untuk mempertimbangkan, mendukung
dan menyajikan secara tepat temuan dalam audit, termasuk kesimpulan dan
rekomendasi yang akan diberikan. Auditor harus dapat memastikan bahwa
informasi tersebut valid, dapat dipercaya, memadai dan relevan data yang kita
miliki.
4. Pengembangan laporan (report development)
Dari hasil pengujian pemeriksaan yang dilaksanakan, kemudian dibuat
laporan hasil audit secara menyeluruh sebagai kesimpulan atas pemeriksaan
yang dilakukan. Jadi laporan audit memiliki dua fungsi:
a. Mengkomunikasikan hasil pemeriksaan
b. Meyakinkan bila perlu meminta agar diambil tindakan
13
Agar komunikasi berlangsung efektif maka sarana yang digunakan harus
mudah untuk dimengerti, materi yang diuraikan cukup baik. Menggunakan
teknik – teknik yang mudah dipahami dan dapat menunjukkan perlunya
diambil perbaikan.
2.1.4 Perbedaan Antara Manajemen Audit Dengan Audit Keuangan
Terdapat tiga perbedaan utama antara audit operasional dengan audit
keuangan menurut Tunggal A.W (2012:56) yaitu:
a. Tujuan audit
Audit keuangan menekankan pada ketepatan pencataan
informasi historis sedangkan manajemen audit menekankan pada
efektifitas dan efisiensi. Audit keuangan berorientasi pada masa
lampau sementara audit manajemen berorientasi pada peningkatan
kinerja masa depan.
b. Distribusi laporan
Laporan audit keuangan biasanya didistribusikan kepada
pengguna laporan keuangan eksternal sedangkan laporan audit
manajemen ditujukan kepada manajemen.
c.
Memasukan area non – keuangan
Audit keuangan terbatas hanya pada hal- hal yang langsung
mempengaruhi kewajaran laporan keuangan, sedangankan audit
manajemen mencakup aspek efektivitas dan efisiensi dalam
organisasi.
2.1.5 Teknik Pelaksanaan
Disini akan diuraikan serangkaian teknik pelaksanaan dalam manajemen
audit, yaitu:
1. Pemahaman obyek
Sebelum auditor memulai suatu pemeriksaan dan memilih teknik yang akan
digunakan, maka penting baginya untuk memahami obyek dan sasaran yang
akan diperiksa terlebih dahulu.
14
2. Pengamatan
Merupakan peninjauan atas suatu obyek secara ilmiah.
Hasil dari
pengamatan merupakan titik tolak bagi pemeriksaan berikutnya. Pengamatan
disini meliputi baik pengamatan terhadap obyek bergerak maupun tidak.
3. Wawancara
Wawancara merupakan suatu kegiatan untuk mendapatkan informasi yang
lebih jelas secara lisan, namun dalam pelaksanaan nya dapat juga dilakukan
secara tertulis, yaitu dengan memberikan suatu kuesioner kepada pihak yang
diwawancarai.
4. Analisis
Auditor mencoba untuk menguraikan informasi yang diperolehnya ke dalam
unsur – unsur yang lebih terperinci, untuk mengetahui unsur mana yang
penting dan bagaimana hubungan antar unsur tersebut. Dalam menganalisis
informasi yang diperoleh perlu memperhatikan efisiensi, efektivitas dan
fleksibilitas setiap sistem dan fungsi.
5. Penyelidikan
Penyelidikan dilakukan bila terdapat tanda – tanda adanya suatu
penyimpangan dalam pelaksanaan sistem dan prosedur perusahaan.
6. Evaluasi
Merupakan langkah – langkah terakhir dari proses pemeriksaan. Sebelum
mengambil suatu kesimpulan, diperlukan pertimbangan keahlian yang akan
tercermin dari hasil evaluasi berupa saran dan rekomendasi.
2.2. Pengendalian Intern
Pengendalian intern menurut William F. Messier Junior dalam “Auditing And
Assurance Services: A Sytematic Approach, fourth edition”,(2006:250), menyatakan
bahwa pengendalian intern meliputi organisasi dan semua metode serta ketentuan –
ketentuan yang terkoordinasi untuk meningkatkan efisiensi usaha dan mendorong
dipatuhi nya kebijakan pimpinan yang telah ditetapkan.
Pengendalian yang
berhubungan dengan manajemen audit adalah pengendalian administrasi, yaitu
pengendalian yang tidak langsung berhubungan dengan catatan akuntansi, misalnya
program pelatihan karyawan dan pengendalian mutu.
15
2.2.1 Tujuan Pengendalian Intern
Tujuan pengendalian intern yang efektif dalam sebuah perusahaan antara lain
sebagai berikut:
1. Untuk meningkatkan efisiensi usaha
Pengendalian intern dapat digunakan untuk menghindari pekerjaan –
pekerjaan berganda yang tidak perlu, mencegah pemborosan terhadap
semua aspek usaha termasuk pencegahan terhadap penggunaan sumber –
sumber dana yang tidak efisien sehingga membantu perusahaan dalam
penghematan anggaran.
2. Untuk mendorong ditaatinya kebijakan pimpinan yang telah digariskan
Manajemen menyusun prosedur dan peraturan untuk mencapai tujuan
perusahaan. Pengendalian intern memberikan jaminan akan ditaatinya
prosedur dan peraturan tersebut oleh perusahaan.
2.2.2
Hubungan Pengendalian Intern dengan Manajemen Audit
Manajemen
audit
yang
merupakan
alat
bantu
pengendalian
manajemen dan melakukan kegiatan penilaian bebas terhadap semua
kegiatan. Perusahaan harus selalu dalam keadaan dinamis dan aktif. Dalam
rangka itu pemeriksa intern harus sadar dan terbuka atas temuan (hasil)
pemeriksaan dan saran – saran perbaikan yag diberikannya dan melakukan
tindakan segera apa yang harus diperbaiki nya.
Biasanya manajemen mempunyai pertimbangan dalam merancang
pengendalian intern yang efektif, yaitu:
1. Kepatuhan dengan undang – undang dan peraturan yang berlaku.
Terdapat berbagai undang – undang dan peraturan yang harus
diikuti oleh suatu organisasi.
2. Efisiensi dan efektivitas operasi
Pengendalian dalam organisasi dimaksudkan untuk meningkatkan
penggunaan sumber daya termasuk manusia yang efisien dan
efektif dan untuk mencapai tujuan perusahaan.
16
2.3. Manajemen Audit atas Fungsi Personalia
Manajemen personalia merupakan sub bidang dari manajemen umum
yang memfokuskan perhatiannya pada unsur kegiatan manusia yang berhubungan
dengan input atau sumber daya manusia yang dimiliki oleh suatu organisasi.
Beberapa definisi manajemen personalia.
1. Menurut Flippo Edwin dalam Manajemen Personalia (2002:5),
“Manajemen personalia adalah perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan dan pengawasan dari pengadaan, pengembangan, pemberian
balas jasa, pengintegrasian, pemeliharaan dan pemutusan hubungan kerja
karyawan
dengan
maksud
mencapai
tujuan
individu
karyawan
perusahaan, organisasi dan masyarakat.”
2. Menurut M. Manullang dalam Dasar – Dasar Manajemen (2006:6),
“Manajemen personalia adalah seni dan ilmu memperoleh dan
memanfaatkan tenaga kerja sehingga tujuan organisasi dapat
direalisasikan secara daya guna sekaligus adanya kegairahan bekerja
dari pekerja.”
3. Menurut Drs. Malayu S. P. Hasibuan dalam Manajemen Sumber
Daya Manusia (2008:10),
“Manajemen Personalia adalah ilmu dan seni yang mengatur
hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu
terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.”
Dari definisi – definisi di atas, dapat dilihat fungsi – fungsi dari
manajemen personalia, yaitu:
a. Fungsi manajerial dari manajemen personalia
Yaitu fungsi yang mempunyai wewenang kepemimpinan
terhadap bagian lain.
Dalam hal ini, direktur dan kepala bagian
adalah orang – orang yang mempunyai posisi manajerial dan
menjalankan fungsi manajerial.
17
b. Fungsi operasional dari manajemen personalia
Yaitu fungsi yang tidak mempunyai wewenang memerintah,
melainkan hanya menerima tugas dan menjalankan nya di bawah
pengawasan fungsi manajerial.
Dalam buku Manajemen Sumber Daya manusia (2008:15), fungsi operasional
terdiri dari:
1. Perekrutan karyawan
Fungsi ini terutama menyangkut tentang penentuan kebutuhan tenaga
kerja dan penarikannya, seleksi dan penempatannya.
2. Pelatihan dan pengembangan karyawan
Sesudah
karyawan
diperoleh
maka
sudah
selayaknya
mereka
dikembangkan melalui training untuk meningkatkan keterampilan dan
pengetahuan yang diperlukan.
3. Kompensasi
Fungsi ini dapat didefinisikan sebagai pemberian penghargaan yang adil
dan layak kepada para karyawan.
4. Pengintegrasian karyawan
Integrasi ini menyangkut penyesuaian keinginan para individu dengan
keinginan organisasi dan masyarakat.
5. Pemeliharaan karyawan
Fungsi pemeliharaan ini berarti mempertahankan dan meningkatkan
kondisi yang telah ada dengan menitik beratkan pada pemeliharaan
kondisi fisik dari para karyawan (kesehatan dan keamanan).
6. Pemutusan hubungan kerja
Fungsi pemutusan hubungan kerja mungkin dapat menjadi kompleks dan
penuh tantangan.
Karena pemutusan hubungan kerja sebagian besar
dilakukan pada saat karyawan belum meninggal dunia. Oleh karena itu
perusahaan bertanggung jawab memenuhi kebutuhan – kebutuhan tertentu
yang timbul akibat pemutusan hubungan kerja tersebut. Peranan
18
manajemen personalia dalam mencapai tujuan organisasi perusahaan
secara terpadu yang mengintegrasikan tujuan individu karyawan,
perusahaan atau organisasi dan masyarakat.
Dengan demikian,
manajemen personalia merupaka proses implementasi dan pendayagunaan
sumber daya manusia oleh suatu organisasi.
Personalia secara
keseluruhan berhubungan dengan orang atau tenaga kerja yang
membentuk suatu organisasi.
2.3.1 Bidang Tercakup Dalam Fungsi Personalia
Dalam usaha membina sumber daya manusia dalam suatu organisasi
agar dapat bekerja dengan baik, maka departemen personalia secara langsung
maupun tidak langsung bertanggung jawab atas berbagai bidang yang
berlainan. Berikut ini adalah bidang – bidang yang memerlukan keterlibatan
departemen personalia adalah sebagai berikut :
1. Proses penerimaan karyawan termasuk rekrutmen, penempatan, promosi
dan pemberhentian.
2. Secara teratur mengevaluasi kondisi kerja.
3. Pengelolaan sistem kompensasi yang kompetitif.
4. Melatih dan mendidik karyawan.
5. Program kesehatan.
6. Prosedur keselamatan kerja dalam perusahaan.
7. Kesejahteraan dan pelayanan karyawan.
8. Hubungan dengan karyawan.
9. Program keamanan perusahaan.
Pengertiannya adalah sebagai berikut:
1. Proses penerimaan karyawan, termasuk:
a. Pencarian calon tenaga kerja (rekrutmen)
Departemen personalia mencari dan menyaring tenaga kerja dari
berbagai disiplin ilmu untuk ditempatkan sesuai dengan kebutuhan
perusahaan.
19
b. Wawancara
Perusahaan mengadakan wawancara kepada calon karyawan agar
kemampuan dan kualitas calon karyawan tersebut dapat dilihat dan
juga dapat diketahui beberapa informasi yang tidak dicantumkan oleh
calon karyawan dalam surat lamaran pekerjaannya.
c. Test (pengujian)
Perusahaan mengadakan test atau pengujian baik lisan maupun tulisan
untuk menguji kemampuan calon karyawan tersebut. Test tersebut
harus disesuaikan dengan jabatan yang ditawarkan pihak perusahaan.
d. Pemeriksaan referensi
Setiap karyawan yang pernah bekerja tentunya mempunyai referensi.
Perusahaan yang dituju saat ini oleh calon karyawan berhak untuk
memeriksa referensi tersebut. Tujuan dari referensi tersebut adalah
untuk mengetahui bagaimana calon karyawan tersebut bekerja pada
perusahaan sebelumnya.
e. Pekerjaan yang ditawarkan
Personalia
menawarkan
suatu
pekerjaan
disesuaikan
dengan
kebutuhan perusahaan. Dan pihak personalia yang mengatur kriteria
untuk suatu pekerjaan tertentu yang ditawarkan pihak perusahaan
kepada pelamar pekerjaan atau calon karyawan.
f. Penempatan
Departemen personalia bertanggungjawab mengenai penempatan
karyawan setelah calon karyawan lulus seleksi dan wawancara yang
dilakukan pihak penyelia dengan calon karyawan maka departemen
personalia kemudian menempatkan karyawan tersebut sesuai dengan
jabatan yang ditawarkan.
g. Promosi
Kebijaksanaan promosi yang diakukan departemen personalia
biasanya dari dalam perusahaan dahulu. Maksud dari kebijaksanaan
promosi ini adalah untuk memberi kesempatan pertama kepada
karyawan untuk mengisi lowongan pekerjaan yang ditawarkan pihak
perusahaan.
20
h. Memberi konseling
Keterlibatan departemen personalia juga menyangkut hal – hal seperti
menampung aspirasi para karyawan. Disamping itu, personalia juga
berhak untuk memberi konseling jika ada karyawan yang mempunyai
keluhan mengenai pekerjaan dan sebagainya, seperti masalah pribadi
atau masalah keluarga.
i. Pemberhentian
Jika ada karyawan yang karena kelalaian nya telah merugikan
perusahaan maka personalia dengan persetujuan pimpinan harus
memberhentikan karyawan tersebut.
2. Selalu memperhatikan dan menilai kondisi kerja
Setiap situasi kerja maupun keadaaan para karyawan haruslah diketahui
oleh personalia. Jika ada karyawan yang bermasalah dan mengganggu
kinerja perusahaan makan harus segera ditangani.
3. Pengelolaan sistem kompensasi yang bersaing
Pihak personalia mengatur masalah gaji para karyawan dan juga harus
bisa mengelola membuat karyawan untuk bersaing secara sehat untuk
mencapai hasil yang maksimal bagi perusahaan.
4. Melatih dan mendidik karyawan
Keberhasilan suatu perusahaan tergantung pada potesi daripada karyawan
– karyawan nya.
Untuk itu personalia diberi tanggung jawab untuk
melatih dan mendidik karyawan dan memasukkannya ke dalam program
karyawan.
5. Program kesehatan
Personalia juga membuat program kesehatan.
Biasanya perusahaan
mengadakan program kesehatan untuk karyawan – karyawan nya secara
berkala.
6. Prosedur keselamatan kerja dalam perusahaan
Prosedur ini juga menjadi tanggung jawab personalia apalagi jika
perusahaan
industri
ataupun
perusahaan
yang
memiliki
pabrik.
Keselamatan kerja misalnya jika produk yang dihasilkan menggunakan
mesin dengan sinar yang bisa membuat mata menjadi sakit, maka
hendaknya perusahaan menyediakan kacamata.
21
7. Kesejahteraan dan pelayanan karyawan
Setiap karyawan berhak mendapat kesejahteraan karena mereka akan
bekerja secara maksimal bagi perusahaan tempat mereka bekerja, oleh
karena itu personalia harus memperhatikan hal ini.
8. Hubungan dengan karyawan
Personalia menjadi jembatan antara perusahaan dengan karyawan.
Sehingga personalia harus bisa menjaga hubungan baik dengan karyawan
karena baik personalia maupun karyawan sama – sama bertujuan untuk
mengembangkan perusahaan.
9. Program keamanan perusahaan
Pihak personalia membawahi bagian keamanan perusahaan. Oleh karena
itu keamanan perusahaan bukan saja mengenai keamanan lingkungan
perusahaan saja tetapi juga harta dan nama baik perusahaan bisa terjaga
dengan baik.
2.3.2 Pengertian Manajemen Audit atas Fungsi Personalia
1.
Menurut Willy Susilo dalam Advance Quality Audit (2006:63),
“Audit SDM adalah pemeriksaan dan penilaian secara sistematis, objektif
dan terdokumentasi terhadap fungsi – fungsi organisasi yang terpengaruh
oleh manajemen SDM dengan tujuan memastikan dipenuhinya asas
kesesuaian, keefektifan dan efisiensi dalam pengelolaan sumber daya
manusia untuk mendukung tercapainya sasaran – sasaran fungsional
maupun tujuan organisasi secara keseluruhan baik untuk jangka pendek,
jangka menengah maupun jangka panjang.”
2.
Menurut George F. Biles, dengan alih bahasa oleh Drs. Amin Widjaja
Tunggal, Ak, MBA dalam Manajemen Audit: Suatu Pengantar (2006:20),
“Audit SDM merupakan pengecekan kualitas secara keseluruhan terhadap
aktivitas sumber daya manusia dalam suatu divisi atau perusahaan dan
dalam keadaan bagaimana aktivitas tersebut mendukung strategi
organisasi.
2.3.3 Tujuan Utama dan Ruang Lingkup Audit Personalia
a.
Tujuan utama audit personalia
Manfaat atau tujuan manajemen audit atas fungsi personalia (sumber daya
manusia) adalah :
22
1. Mengidentifikasi kontribusi bagian sumber daya manusia terhadap
organisasi.
2. Memperbaiki citra profesional dari bagian sumber daya manusia.
3. Mendorong tanggung jawab dan profesionalisme yang lebih besar
antara anggota bagian sumber daya manusia.
4. Mengklarifikasi kewajiban dan tanggung jawab bagian sumber daya
manusia.
5. Menyamakan keseragaman kebijakan dan praktek personal.
6. Menemukan masalah personal yang kritikal.
7. Meyakinkan bahwa terdapat ketetapan waktu mentaati kebutuhan
legal.
8. Mengurangi biaya sumber daya manusia melalui prosedur personel
yang lebih efektif.
9. Menciptakan peningkatan akseptasi
terhadap
perubahan
yang
dibutuhkan dalam bagian personal.
10. Memerlukan suatu peninjauan yang menyeluruh terhadap sistem
informasi bagian.
b.
Ruang lingkup audit personalia
Ruang lingkup audit personalia meliputi:
1. Audit strategi perusahaan
Profesional sumber daya manusia tidak menentukan strategi
perusahaan,
akan
tetapi
mereka
secara
kuat
menentukan
keberhasilannya.
2. Audit fungsi personalia
Audit secara logis menelaah pekerjaan departemen personalia
(departemen sumber daya manusia) untuk membantu perusahaan
mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
Area yang tercakup
dalam audit fungsi personalia antara lain misi departemen, hubungan
industrial, hubungan karyawan, imbalan, kompensasi, rencana
sumber daya manusia dan keselamatan serta keamanan.
23
3. Audit ketaatan manajerial
Suatu audit juga menelaah bagaimana baiknya manajer mentaati
kebijakan dan prosedur sumber daya manusia, jika manajer
mengabaikan atau melanggar peraturan hubungan industrial, audit
harus mengungkapkan kesalahan ini agar tindakan koreksi dapat
dimulai.
4. Audit kepuasan karyawan
Departemen yang efektif memenuhi tujuan dan kebutuhan karyawan.
Apabila
kebutuhan
karyawan
tidak
dapat
dipenuhi,
akan
mengakibatkan perputaran, absensi dan kegiatan serikat kerja
meningkat.
2.3.4 Program Manajemen Audit atas Fungsi Personalia
Audit program atas fungsi personalia menurut Alexander Hamilton (1994:25)
meliputi:
1.
Tujuan strategis
Efektivitas
keseluruhan
bidang
personalia
dalam
organisasi
tergantung pada kemampuan nya untuk menjalankan proses perencanaan
strategis karena luasnya tanggung jawab yang dibebankan pada
personalia, maka penting sekali bahwa setiap tujuan strategis didukung
sepenuhnya dalam proses perencanaan induk manajemen audit harus
menilai keberhasilan fungsi personalia dalam mengelola sumber daya
manusia yang ada dalam perusahaan.
2.
Perencanaan
Keberhasilan seluruh proses perencanaan dalam fungsi personalia
berkaitan langsung dengan pencapaian tujuan strategis departemen
tersebut.
Proses perencanaan keseluruhan bahkan lebih penting pada
bidang personalia karena luasnya tanggung jawab dan hubungan nya
dengan organisasi secara keseluruhan.
24
3.
Organisasi
Pemeriksaan manajemen audit harus mencakup penentuan efektivitas
keseluruhan fungsi personalia. Ini akan meliputi penilaian berikut ini :
a. Bahwa divisi personalia dibenarkan berfungsi sebagai suatu unit
yang bebas.
b. Bahwa divisi personalia diakui sebagai fungsi tingkat tinggi dalam
perusahaan.
c. Bahwa divisi personalia mempunyai staff yang cakap dan ditata
untuk mencapai tujuannya.
4.
Pengawasan
Pertimbangan pengawasan pada divisi personalia dimaksudkan untuk
memastikan bahwa fungsi tersebut menjalankan kebijaksanaan yang
penting bagi pengembangan sumber daya manusia yang ada dalam
organisasi.
2.3.5 Teknik Melaksanakan Manajemen Audit atas Fungsi Personalia
1.
Riset terapan
Riset ini digunakan untuk mengevaluasi aktivitas – aktivitas
personalia.
Kadang kala risetnya mungkin canggih, tergantung pada
disain dan statistik yang digunakan. Melalui riset ini berupaya untuk
memperbaiki kinerja departemen.
2.
Pendekatan komparatif
Pendeketan ini menggunakan perusahaan lain sebagai model, setelah
itu membandingkan hasil atau prosedur mereka dengan yang ada pada
perusahaan tersebut.
Pendekatan komparatif kerap digunakan untuk
membandingkan masalah ketidakhadiran, perputaran karyawan, data dan
gaji.
25
3.
Pendekatan otoritas pihak luar
Auditor dapat menggunakan pendekatan keahlian yang standar nya
ditentukan oleh konsultan atau dari temuan penelitian yang telah di
publikasikan.
4.
Pendekatan statistik
Mengembangkan ukuran statistikal kinerja berdasarkan sistem
informasi perusahaan yang ada.
Pendekatan ini biasanya dilengkapi
dengan
informasi
perbandingan
terhadap
eksternal
yang
dapat
dikumpulkan dari perusahaan lain.
5.
Pendekatan kepatuhan
Metode ini meninjau praktik – praktik di masa lalu untuk menentukan
apakah tindakan – tindakan tersebut telah sesuai atau tidak mengikuti
kebijakan dan prosedur perusahaan, atau bahkan terjadi penyimpangan
hukum.
6.
Pendekatan manajemen berdasarkan sasaran
Metode ini meminta staf SDM dan manajer menetapkan tujuan sesuai
tanggung jawab mereka. Pendekatan manajemen berdasarkan sasaran ini
menciptakan tujuan khusus terhadap kinerja sehingga dapat diukur.
26
Download