bab i pendahuluan

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Sepanjang tahun 2013, media-media internasional gencar memberitakan
dinamika yang terjadi berkaitan dengan situasi politik dan keamanan di Semenanjung
Korea. Salah satu tajuk berita yang cukup banyak mendapatkan perhatian adalah
dibukanya kembali Kawasan Industri Kaesong menyusul tercapainya kesepakatan
antara pemerintah Korea Selatan dan Korea Utara pada 15 Agustus 2013 (Radio
Australia AFP, 2013). Berita ini dimuat di berbagai media internasional dan
menandai penurunan tensi keamanan di Semenanjung Korea yang sempat memanas
sepanjang Januari hingga Agustus 2013. Memanasnya situasi politik dan keamanan
yang melibatkan Korea Selatan, Korea Utara, Amerika Serikat (AS), serta Jepang ini
dikenal dengan Krisis Korea 2013 (The Guardian, 2013).
Kawasan Industri Kaesong atau Kaesong Industrial Complex (KIC)
merupakan sebuah kawasan industri yang mulai dioperasikan sejak Desember 2004
sebagai bagian dari reformasi kebijakan ekonomi Korea Utara oleh Kim Jong-il dan
kebijakan “Sunshine Policy” oleh mantan Presiden Korea Selatan Kim Dae-jung yang
diteruskan oleh Roh Moo-hyun. 1 Kawasan industri ini mencakup wilayah seluas
enam puluh enam kilometer persegi dan berada sekitar sepuluh kilometer di utara dari
1
Reformasi kebijakan ekonomi Korea Utara merupakan serangkaian perubahan paket kebijakan di
bidang ekonomi yang digagas oleh pemimpin Korea Utara pada saat itu, Kim Jong-il, pasca negara
tersebut mengalami masa krisis pada pertengahan dekade 90-an. Perubahan tersebut meliputi
keterbukaan terhadap bantuan dan perdagangan dengan negara luar dalam jumlah yang terbatas,
yang mana pada masa sebelumnya bantuan dan hubungan dagang dengan negara luar sama sekali
tidak diperbolehkan. “Sunshine Policy” adalah sikap politik yang diperkenalkan oleh mantan Presiden
Korea Selatan, Kim Dae-jung, yang bertujuan untuk menunjukkan rasa persahabatan dengan Korea
Utara dengan mengagendakan berbagai upaya rekonsiliasi dan juga kerjasama antar kedua Korea
(Bleiker, 2005).
1
perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan. Dari Seoul, hanya dibutuhkan satu jam
perjalanan dengan menggunakan kendaraan untuk mencapai kawasan ini karena
terdapat akses jalan langsung dan rel kereta api yang menghubungkannya (BBC,
2007).
Lebih dari sepuluh tahun beroperasi, KIC mampu memberikan dampak positif
terhadap perekonomian Korea Utara. Menurut laporan Wall Street Journal, sekitar
lima puluh tiga ribu penduduk Korea Utara mendapatkan pekerjaan di kawasan
industri ini dan keseluruhan total gaji mereka langsung disetorkan kepada Pemerintah
Korea Utara (WSJ, 2008). Belum lagi ditambah dengan keuntungan dari berbagai
jenis pajak yang dibebankan oleh Pemerintah Korea Utara terhadap perusahaanperusahaan Korea Selatan yang melakukan kegiatan produksi di sana. Tentu saja
keuntungan finansial ini sedikit banyak akan membantu meningkatkan kesejahteraan
rakyat Korea Utara. Dengan melihat potensi ekonomi yang dimiliki KIC, wajar saja
jika Korea Utara memiliki kepentingan untuk mempertahankan iklim industri di sana.
Fenomena pembukaan KIC pada tahun 2004 merupakan fenomena HI yang
cukup unik karena merepresentasikan harmonisasi kepentingan dari dua negara yang
secara de facto berada pada situasi konflik. Masing-masing negara, Korea Utara dan
Korea Selatan, tentunya memiliki alasan tersendiri sehingga pada akhirnya bersedia
melakukan kerjasama di tengah kondisi konflik. Korea Selatan jelas mengarahkan
kerjasama ini demi menjalankan janji presiden terpilih Kim Dae-jung yang pada saat
kampanyenya menjanjikan hubungan yang lebih baik dengan Korea Utara. Lalu,
Bagaimana dengan Korea Utara sendiri? Bagaimanapun, proses pengambilan
keputusan atas kebijakan pembukaan KIC oleh Korea Utara merupakan suatu proses
intelektual sehingga kajian atas kebijakan ini perlu dipusatkan pada penelaahan atas
kepentingan nasional serta rasionalisasi keputusannya.
2
B. Pertanyaan Penelitian
Tema besar dari penulisan skripsi ini adalah mengenai situasi keamanan di
Semenanjung Korea. Dalam pembahasan awal, skripsi ini akan mendeskripsikan
alasan pemerintah Korea Utara dalam membuka kawasan industri bersama dengan
Korea Selatan di Kaesong. Kemudian, fokus penelitian akan diarahkan pada
signifikansi kebijakan tersebut dengan upaya reunifikasi Korea serta dampak yang
menyertainya. Untuk memudahkan proses analisis, pertanyaan yang akan diangkat
adalah :
Mengapa pemerintah Korea Utara bersedia bekerja sama dengan pemerintah
Korea Selatan dalam membuka kawasan industri bersama di Kaesong dan apa saja
dampak kebijakan tersebut terhadap upaya reunifikasi Korea?
C. Kerangka Konseptual
Untuk menjawab pertanyaan mengenai alasan pemerintah Korea Utara
melakukan kerjasama dengan Korea Selatan dalam bentuk pembukaan kawasan
industri bersama di Kaesong, penulis akan menggunakan pendekatan pola perilaku
aktor dalam pengambilan keputusan kebijakan luar negeri.
Menurut Kegley dan Wittkopf (2006), terdapat banyak faktor yang
mempengaruhi keputusan aktor-aktor yang terlibat dalam proses pembuatan
kebijakan luar negeri atau dengan kata lain pola perilakunya. Tentu saja dari banyak
faktor tersebut, akan sangat sulit untuk menentukan apakah hanya terdapat satu faktor
yang menentukan pilihan kebijakan atau kombinasi dari beberapa faktor karena setiap
negara berada pada kondisi yang beragam. Untuk menentukan dampak relatif dari
masing-masing faktor di dalam kondisi yang berbeda, diperlukan adanya pemisahan
antara pengaruh yang sifatnya global atau eksternal dan pengaruh yang sifatnya
internal. Pengaruh eksternal yang dapat mempengaruhi pilihan-pilihan para pembuat
3
kebijakan di suatu negara diantaranya adalah faktor kondisi geopolitik, hukum
internasional, dan jumlah sekutu militer.
1. Kondisi Geopolitik
Bagaimana sebuah negara berinteraksi dengan negara disekitarnya dapat
dilihat dengan kacamata geopolitik. Istilah geopolitik sendiri dalam studi
HI dikenal sebagai sebuah strategi untuk mencapai tujuan politis oleh
sebuah negara dalam politik internasional (Osterud, 1988: 192). Fokus
dalam geopolitik adalah hubungan antara political power dengan kondisi
geografis yang meliputi lokasi atau wilayah spasial, topografi teritorial,
serta demografi negara yang bersangkutan. Sebagai contoh, Swiss dengan
topografi negara yang dikelilingi pegunungan terkenal dengan pilihan
kebijakan
politik luar negeri yang netral. Selain Swiss, fakta sejarah
lainnya mengungkapkan bahwa Kerajaan Inggris melakukan continental
politics selama berabad-abad demi menjaga otoritasnya di wilayah
persemakmuran. Hal ini mengindikasikan bahwa persepsi pengambil
keputusan dalam pembuatan kebijakan akan dipengaruhi oleh geopolitik
(Kegley and Wittkopf, 2006: 60-62).
2. Hukum Internasional
Hukum internasional adalah produk dari rezim internasional berupa
seperangkat aturan main yang mengatur perilaku aktor-aktor negara
sehingga tercipta harmoni dalam struktur politik internasional. Bagi
negara-negara yang termasuk dalam struktur politik ini, hukum
internasional dapat menjadi incentive maupun disincentive. Dalam konteks
pengaruh terhadap bagaimana sebuah kebijakan luar negeri diputuskan,
menurut Keohane dan Nye (1977), rezim internasional merupakan
4
intermediate factor (variabel antara) antara struktur kekuasaan dan
perilaku aktor-aktor mengenai suatu isu internasional. Untuk itu, hukum
internasional membutuhkan kepatuhan atau compliance dari aktor
pembuat kebijakan sehingga dapat dikatakan hukum internasional akan
membatasi perilaku politik sebuah negara dalam kerangka rezim tersebut.
Malcolm Shaw (2008) percaya bahwa ketika perilaku politik sebuah
negara dibatasi oleh kekuatan dari eksternal seperti hukum internasional,
maka yang akan terjadi adalah melemahnya konsep kedaulatan sebuah
negara. Hal ini dapat mengakibatkan pilihan kebijakan politik luar negeri
yang dapat diambil oleh aktor pengambil keputusan juga akan mengalami
keterbatasan (Shaw, 2008: 44).
3. Jumlah Sekutu Militer
Secara umum, terdapat keterkaitan antara pola kebijakan luar negeri
dengan jumlah sekutu militer yang dimiliki sebuah negara. Semakin
banyak sekutu militer yang dimiliki, maka akan semakin agresif pola
kebijakan luar negerinya. Demikian pula sebaliknya, semakin sedikit
jumlah sekutu militer yang dimiliki, maka negara tersebut akan lebih
berhati-hati dalam memutuskan kebijakan luar negeri yang akan diambil
(Kegley and Wittkopf, 2006: 60).
Sedangkan pengaruh internal lebih difokuskan pada state attributes yang
dimiliki negara. State attributes adalah karakteristik-karakteristik yang dimiliki oleh
negara semisal kemampuan militer, kondisi ekonomi, serta tipe pemerintahan dan
dapat digunakan sebagai perbandingan dengan negara lain. Contoh state attributes
yang dapat mempengaruhi pola pengambilan keputusan sebuah negara diantaranya:
5
1. Kemampuan Militer
Asumsi bahwa kemampuan militer sebuah negara dapat mempengaruhi
pilihan kebijakan luar negeri awalnya merupakan gagasan utama konsep
power dalam pendekatan realis. Para pendukung asumsi ini percaya pada
fakta bahwa setiap negara selalu bersiap untuk menghadapi perang dan
berbagai persiapan tersebut akan mempengaruhi penggunaan power
negara tersebut dalam mencapai kepentingan nasional. Pada akhirnya,
kemampuan negara untuk merealisasikan tujuan tersebut akan dipengaruhi
oleh kemampuan militer mereka (Kegley and Wittkopf, 2006: 62-63).
2. Kondisi Ekonomi
Selain kemampuan militer yang dimiliki sebuah negara, tingkat kemajuan
ekonomi dan industri juga akan mempengaruhi seberapa besar tujuan
politik luar negeri yang mampu dicapai oleh negara tersebut. Secara
umum, semakin maju sebuah negara secara ekonomi, semakin besar pula
peluang negara tersebut untuk terlibat aktif dalam politik ekonomi global.
Sebaliknya, semakin buruk kondisi ekonomi sebuah negara, kemungkinan
negara tersebut untuk lebih “tunduk” pada negara yang kuat secara
ekonomi-pun cenderung lebih besar (Kegley and Wittkopf, 2006: 63-64).
3. Tipe Pemerintahan
Tipe pemerintahan akan menentukan bagaimana partisipasi masyarakat
luas dalam menentukan arah kebijakan luar negeri. Dalam sistem yang
terbuka seperti pemerintahan yang representatif, masyarakat luas lebih
besar peluangnya untuk turut serta dalam menentukan kebijakan melalui
kelompok kepentingan, media, dan opini publik. Sedangkan dalam sistem
yang lebih tertutup atau otoritarian, masyarakat luas cenderung tidak
6
punya kesempatan untuk menentukan kebijakan. (Kegley and Wittkopf,
2006: 65-68).
Faktor-faktor di atas kemudian akan menunjukkan bargaining position sebuah
negara, apakah berada pada domain of losses atau domain of gains.
Tujuan penulisan selanjutnya diarahkan untuk menjelaskan dampak kebijakan
pemerintah Korea Utara membuka KIC terhadap upaya reunifikasi Korea. Pada
umumnya, sebuah kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah sebuah negara akan
memberikan dampak positif atau dampak negatif terhadap sebuah fenomena politik
internasional. Kebijakan pembukaan KIC oleh pemerintah Korea Utara ini dapat
dikatakan mencerminkan posisi tawar menawar atau bargaining position mereka
dalam proses reunifikasi Korea. Posisi tawar menawar inilah yang nantinya akan
menentukan dampak atau outcome seperti apa yang terjadi setelah sebuah kebijakan
dikeluarkan. Penulis akan menggunakan alat bantu game theory untuk melihat pola
tingkah laku pemerintah Korea Utara terkait kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan.
Game theory pada awalnya merupakan konsep untuk mempelajari strategi
serta pola tingkah laku atau behavior dalam pengambilan keputusan pada ranah
ekonomi dengan menggunakan model matematika (Myerson, 1991: 1). Game theory
sebagai sebuah studi mengalami perkembangan yang cukup signifikan sehingga saat
ini banyak diaplikasikan ke dalam ranah keilmuan lainnya seperti ilmu politik,
psikologi, teknologi informasi, biologi, dsb. Adapun skenario game theory yang akan
digunakan haruslah yang dapat mencerminkan hubungan posisi tawar menawar
dengan outcome yang dihasilkan dan bargaining game penulis rasa cocok dalam
menjelaskan hubungan permasalahan ini.
Bargaining Game merupakan sebuah skenario permainan dimana dua pemain
atau lebih di dalamnya dihadapkan pada alternatif-alternatif pilihan tertentu, akan
tetapi setiap pihak menyadari hanya akan memperoleh mutual gain apabila semua
pemain memilih untuk bekerjasama dan secara konsisten menjalankannya. Skenario
7
ini biasanya digunakan untuk menganalisis outcome dari bargaining problem, dimana
pemain-pemain di dalamnya memiliki kesempatan untuk berinteraksi dan
mengadakan tawar-menawar dalam mencapai kepentingan masing-masing. Kondisi
di dalam skenario ini memungkinkan masing-masing pemain memiliki proyeksi
tersendiri mengenai bagaimana cara agar kerjasama tersebut menghasilkan
keuntungan setidaknya bagi diri sendiri sehingga negosiasi dan tawar menawar
menjadi tidak terhindarkan. Secara umum, asumsi yang menjadi prasyarat dalam
skenario ini yaitu masing-masing pemain adalah rasional, memiliki kemampuan dan
posisi tawar menawar yang sederajat, dan memiliki pengetahuan yang baik mengenai
aktor lainnya (Nash, 1950a: 155).
Dalam Bargaining Problem, terdapat tiga kemungkinan outcome yang dapat
dihasilkan. Pertama, negosiasi akan menghasilkan persetujuan untuk bekerjasama
ketika masing-masing pemain merasa akan mendapatkan keuntungan dari apa yang
ditawarkan dari aktor lainnya. Kondisi inilah yang disebut sebagai feasibility set.
Setelah itu, negosiasi akan dapat dilanjutkan ke isu yang lebih luas karena masingmasing pemain akan menjadi lebih kooperatif dan dapat melaksanakan cooperative
games pada tahap negosiasi selanjutnya. Dengan kata lain, kondisi ini dapat dicapai
dengan menggunakan pendekatan aksiomatis yang bertujuan menguntungkan semua
pihak (Neumann and Morgenstern, 2004: 19).
Untuk itu, apa yang dibutuhkan untuk mencapai outcome ini adalah win-win
solution yang menjadi syarat terjadinya kondisi Nash Equilibrium. Kedua, akan
terjadi kondisi disagreement point dimana proses negosiasi tidak menemui kata
sepakat yang diakibatkan oleh salah satu pemain merasa tidak puas terhadap apa yang
ditawarkan oleh pemain lainnya. Meskipun pada titik ini dapat dikatakan bahwa
negosiasi menemui kegagalan, masing-masing pemain dapat kembali memikirkan
posisi tawar menawar dan strategi selanjutnya yang akan digunakan.
8
Hal yang perlu diingat adalah dalam kondisi ini, pihak yang merasa tidak puas
cenderung akan mengajukan threat atau ancaman untuk menaikkan posisi tawar
menawar mereka. Ketika ancaman ini dilihat sebagai bentuk action, maka pemain
yang melancarkan ancaman tersebut dapat mengkonstruksikan area permainan yang
terpisah dari isu utama dan kemudian mendapat keuntungan dari proses tawar
menawar ini. Kemungkinan dampak yang ketiga yaitu status quo dimana masingmasing pemain tidak memperoleh apapun yang diakibatkan kedua pemain tidak
menghendaki adanya kerjasama (Nash, 1950b: 48-49). Ketiga kondisi inilah yang
kemungkinan akan terjadi ketika pemerintah Korea Utara mengeluarkan sebuah
kebijakan yang berkaitan dengan KIC. Lebih jelasnya, hubungan antara
proses
negosiasi dengan dampak yang dihasilkan dalam Bargaining Problem dapat dilihat
pada Tabel 1.
Tabel 1. Hubungan Proses Negosiasi dengan Dampak yang Dihasilkan dalam
Bargaining Problem
Jalannya proses
Possible Outcome
negosiasi
Tercapainya
Nash Feasibility set
Equilibrium, adanya winwin solution
Salah satu pihak merasa Disagreement
tidak puas dengan apa point
yang ditawarkan pihak
lainnya
Kedua pihak sama-sama Status quo
tidak menghendaki adanya
kerjasama
9
Dampak
-
Negosiasi
dapat
dilanjutkan ke isu yang
lebih luas
- Masing-masing
pemain
menjadi lebih kooperatif
Pihak yang merasa tidak puas akan
cenderung untuk mengajukan
threat atau ancaman
-
Masing-masing
pemain
tidak mendapatkan apa-apa
Kembali
pada
noncooperative game
Dengan mempertimbangkan pemahaman di atas, penulis berharap tulisan ini
akan dapat menjelaskan apa saja dampak kebijakan-kebijakan pemerintah Korea
Utara terkait KIC terhadap upaya menuju reunifikasi Korea.
D. Argumen Utama
Mengacu pada faktor-faktor yang dikemukakan oleh Kegley dan Wittkopf di
atas, penulis berargumen bahwa alasan pemerintah Korea Utara bersedia bekerjasama
dengan pemerintah Korea Selatan dalam membuka kawasan industri bersama di
Kaesong yaitu karena kondisi ekonomi Korea Utara pada saat kerjasama tersebut
dimulai sedang berada dalam keadaan terpuruk. Kondisi ekonomi yang terpuruk ini
merupakan contoh ketika state attributes dapat mempengaruhi keputusan aktor
pembuat kebijakan. Dengan menjalin kerjasama yang dalam bayangan pemerintah
Korea Utara dapat menguntungkan dari sisi ekonomi, pemerintah Korea Utara juga
memperoleh keuntungan berupa daerah strategis yang sewaktu-waktu dapat
digunakan sebagai bargaining power.
Lalu dalam menjawab pertanyaan penelitian yang kedua, penulis meyakini
bahwa dengan bersedianya pemerintah Korea Utara untuk membuka kawasan industri
bersama dengan Korea Selatan akan menciptakan tahapan cooperative games
selanjutnya menyangkut situasi keamanan di Semenanjung Korea. Penulis melihat
fenomena ini sebagai contoh kondisi feasibility set yang lahir dari adanya win-win
solution dimana bagi Korea Utara pembukaan KIC dapat memperbaiki kondisi
ekonomi domestik yang tengah terpuruk dan bagi Korea Selatan untuk sebagai
pemenuhan janji Kim Dae-jung untuk mengaplikasikan Sunshine Policy.
Meskipun demikian, tahapan negosiasi yang lebih luas menyangkut masalah
keamanan di Semenanjung Korea secara umum perlu terus dilaksanakan dalam
situasi yang kondusif karena bagaimanapun juga, Korea Utara dapat menggunakan
10
kawasan industri bersama ini sebagai bargaining power ketika pemerintahnya merasa
tidak puas terhadap situasi keamanan di Semenanjung Korea ataupun ketika
mendapatkan tekanan dari dunia internasional. Contohnya saja, ketika terjadi Krisis
Korea 2013, pemerintah Korea Utara mengeluarkan kebijakan untuk menutup KIC
yang berlangsung hingga lebih dari empat bulan lamanya. Penulis berpendapat bahwa
kejadian ini merupakan bentuk reaksi Korea Utara terhadap tekanan dari dunia
internasional sehingga menyebabkan kondisi disagreement point.
E. Metode Penelitian
Untuk menyempurnakan tulisan ini, penulis akan menggunakan data-data
kualitatif yang kemudian akan dianalisis dengan metode deskriptif. Data-data yang
diperoleh berasal dari sumber-sumber primer dan sekunder. Sumber data yang primer
yaitu seperti laporan pemerintah atau factsheet dari lembaga-lembaga formal dan
pemerintah, yang tersedia secara online di internet maupun studi pustaka. Sedangkan
sumber data yang sekunder yaitu berasal dari jurnal dan karya ilmiah, sumber pustaka
seperti buku, majalah, dan koran serta artikel dan berita di internet yang terpercaya.
F. Sistematika Penulisan
Sebuah karya ilmiah perlu mengikuti kaidah penulisan yang sistematis agar
dapat dipahami dengan baik. Dikarenakan tujuan penulisan skripsi ini adalah sebagai
sebuah karya ilmiah, maka penulis akan memaparkan sistematika penulisan berupa
susunan bab-bab yang terdapat dalam skripsi ini. Adapun bab pertama dalam skripsi
ini merupakan bagian pendahuluan yang berisi latar belakang mengapa penulis
mengambil tema ini, rumusan masalah yang akan diteliti, landasan teori yang akan
digunakan untuk menganalisis permasalahan, kerangka berpikir berupa hipotesis atau
11
argumen utama sebagai jawaban sementara atas pertanyaan penelitian, metode
penelitian, dan sistematika penulisan.
Kemudian, dalam rangka membantu pembaca dalam memahami konteks
historis dari tema yang diangkat yaitu kerjasama pembukaan KIC, penulis akan
mendeskripsikan proses pembuatan kebijakan ini pada bab kedua. Dimulai dari
tahapan inisiasi, masalah-masalah legislasi yang menyertai, serta eksekusi
pembukaan KIC itu sendiri. Selain itu, di dalam bab ini juga akan dijabarkan
perkembangan situasi di KIC setelah dibuka serta bagaimana operasional industri di
sana berjalan.
Proses pengambilan keputusan pada kebijakan luar negeri oleh aktor negara
cenderung akan melewati dinamika-dinamika politik tertentu, termasuk kebijakan
pembukaan KIC ini. Bab ketiga akan berisi analisis mengenai faktor-faktor apa saja
yang mempengaruhi pemerintah Korea Utara sebagai aktor pembuat kebijakan
sehingga mau bekerjasama dengan Korea Selatan dalam membuka kawasan industri
bersama di Kaesong sesuai dengan faktor-faktor yang dijelaskan dalam kerangka
teori.
Pada dasarnya, dalam bab ketiga ini penulis berargumen bahwa pada saat
kebijakan kerjasama tersebut dibuat, rezim Kim Jong-il sedang dihadapkan pada
persoalan tertentu, baik secara internal maupun eksternal. Secara eksternal, kondisi
geopolitik yang tidak menentu di Semenanjung Korea serta jumlah sekutu militer
yang minim membuat rezim Kim Jong-il perlu memikirkan strategi selain
memperkuat militernya. Secara internal, rezim Kim Jong-il sedang menghadapi krisis
legitimasi yang diakibatkan oleh proses transisi yang tidak berjalan mulus. Selain itu,
Korea Utara sedang berada dalam kondisi krisis ekonomi berkepanjangan sebagai
akibat dari kesalahan manajemen lahan yang diterapkan oleh negara sejak tahun
1990-an. Sebagai negara yang menganut filosofi juche atau bergantung pada diri
sendiri, pada awalnya Korea Utara menutup diri terhadap bantuan-bantuan maupun
12
tawaran kerjasama dari negara lain. Namun setelah kondisi ekonomi terasa semakin
parah, Korea Utara mau tidak mau harus menelan “obat manjur” berupa keterbukaan
ekonomi, meskipun dalam dosis-dosis tertentu dan salah satu bentuknya adalah
kebijakan kerjasama ini.
Penulis berargumen bahwa pembukaan KIC memiliki signifikansi terhadap
masalah keamanan di Semenanjung Korea. Signifikansinya terletak pada cara
pandang Korea Utara dalam melihat kawasan ini. Korea Utara memandang KIC
sebagai sebuah alat tawar-menawar yang dapat digunakan sewaktu-waktu dalam
menghadapi konflik, baik konflik dengan Korea Selatan maupun dengan sekutusekutunya serta dunia internasional. Dengan asumsi bahwa Korea Utara
menggunakan KIC sebagai bargaining power, maka dampaknya Korea Utara dapat
meningkatkan posisi tawarnya ketika dihadapkan pada negosiasi isu reunifikasi
Korea. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut pada bab keempat.
Kesimpulan sementara yang dapat ditarik dari studi kasus ini adalah Korea
Utara memperoleh keuntungan ekonomi serta politik dengan dibukanya KIC.
Kemudian, kebijakan pembukaan KIC yang dikeluarkan pemerintah Korea Utara ini
akan memberikan dampak yang signifikan terhadap proses reunifikasi Korea.
Dampaknya yaitu terjaganya kelangsungan rezim pemerintah Korea Utara sehingga
proses reunifikasi Korea dapat terus berjalan. Dari sini, akan terlihat juga seberapa
kooperatif pemerintah Korea Utara dalam mewujudkan perdamaian dan keamanan di
Semenanjung Korea.
13
Download