SOLIDARITAS MEKANIK KE SOLIDARITAS ORGANIK

advertisement
SOLIDARITAS MEKANIK KE SOLIDARITAS ORGANIK
(Suatu Ulasan Singkat Pemikiran Emile Durkheim)
Oleh
Ramadhani Setiawan
Dosen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Maritim Raja Ali Haji
Abstract
Various theories about the show that the ability of people to change that is the important
factor in understanding the community. That is, society can not be understood from a variable, statement, and the assumption of only a theory, but must be viewed in real terms or
contextual. One of the industrious experts who understand it is Emile Durkheim. Society is
more important than the individual, then that individual must learn the moral values that
exist in that society. one of his famous works are the Mechanical Solidarity and Organic
Solidarity.
Keyword: Mechanical Solidarity. Organic Solidarity
A. Pendahuluan
Teori-teori mengenai masyarakat, berkembang
sesuai dengan perkembangan masyarakatnya. Dari
masa ke masa, teori-teori tersebut mengalami
perkembangan dan perubahan bahkan ada yang turut
tenggelam bersama dengan bertumbuhnya teori baru
(kadang kala para akademisi sering menyebutkan teori
lama sudah datang ajalnya). Dalam konteks tersebut,
kita tidak boleh menyanggah bahwa perubahanperubahan teori mengenai masyarakat itu terjadi di
dalam suatu masyarakat yang dinamis dengan daya
pergerakan yang tinggi. Beragam teori mengenai
masyarakat itu memperlihatkan bahwa kemampuan
masyarakat untuk berubah itulah yang menjadi faktor
penting dalam memahami masyarakat. Artinya,
masyarakat tidak dapat dimengerti dari suatu variabel,
pernyataan, dan asumsi dari sebuah teori saja,
melainkan mesti dilihat secara riil dan kontekstual.
Salah satu ahli yang paling dalam memahaminya
adalah Emile Durkheim. Ia adalah seorang intelektual
yang tidak dapat dilepaskan dari kontek sosial kultural
yang melingkupinya. Penekanannya dilakukan pada
sains dan reformasi sosial, maka ia dipandang
menempati posisi penting dalam perkembangan
sosiologi, namun setiap perubahan yang terjadi di
masyarakat bukan hanya menjadi kajian sosiologi saja,
tetapi menjadi perbendaharaan ilmu lainnya.
Kerangka teorinya, lebih mengutamakan arti penting
masyarakat-struktur, interaksi dan institusi sosial-dalam
memahami pemikiran dan perilaku manusia. Ia ingin
melihat hampir seluruh perubahan utama manusia yaitu
persoalan hukum, moralitas, profesi, keluarga, ilmu
pengetahuan, seni dan juga agama, dengan menggunakan sudut pandang sosial (Hujair sanaky. 2005).
Durkheim, mengklaim tanpa adanya masyarakat yang
melahirkan dan membentuk semua itu, tak ada satupun
yang akan muncul dalam kehidupan .
Dalam pemikiran Durkheim mengenai solidaritas
sosial dalam karyanya The Division Of Labour yaitu
secara mekanis dan organis. Kedua terminologi tersebut
perlu dipahami dalam kerangka teori-teori Durkheim
mengenai masyarakat. Bagi Durkheim, solidaritas
banyak di pengaruhi oleh fakta sosial itu memperlihatkan
adanya berbagai cara dan usaha manusia untuk
membangun suatu komunitas, atau apa yang disebutnya
masyarakat. Lewis Coser (1971) menjelaskan bahwa
yang dimaksud Durkheim mengenai fakta sosial adalah
suatu ciri atau sifat sosial yang kuat yang tidak harus
dijelaskan pada level biologi dan psikologi, tetapi sebagai
sesuatu yang berada secara khusus di dalam diri
manusia. Ritzer (2004) juga menjelaskan bahwa fakta
sosial, dalam teori Durkheim itu bersifat memaksa
karena mengandung struktur-struktur yang berskala luas
misalnya undang-undang yang melembaga. Sesuai
dengan pernyataan beliau bahwa :
Suatu fakta sosial harus dikenal oleh kekuatan
260
Solidaritas Mekanik ke Solidaritas Organik
(Suatu Ulasan Singkat Pemikiran Emile Durkheim)
memaksanya yang bersifat eksternal yang
memaksa atau mampu memaksa individu, dan
hadirnya kekuatan ini dapat dikenal kalau tidak
diikuti, baik dengan adanya suatu sanksi tertentu
maupun sesuatu perlawanan yang diberikan
kepada setiap usaha individu yang condong
untuk melanggarnya. Namun orang dapat juga
mengenalnya dengan tersebarnya fakta sosial
itu dalam kumpulan itu, asalkan dia dapat
memperhatikan bahwa eksistensi fakta sosial itu
sendiri terlepas dari bentuk-bentuk individu yang
diasumsikan dalam penyebaran tersebut (Emile
Durkheim 1964).
Dari semua fakta sosial yang ditunjuk dan dibincangkan oleh Durkheim, tak satupun yang sedemikian
sentralnya seperti konsep solidaritas sosial. Dalam satu
produknya, solidaritas sosial membawahi semua karya
utamanya. Istilah-istilah yang berhubungan erat dengan
persoalan solidaritas ialah integritas sosial dan
kekompakan sosial. Singkatnya, solidaritas menunjuk
pada suatu keadaan hubungan antara individu dan
kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan
kepercayaan yang di anut bersama dan diperkuat oleh
pengalaman emosional bersama. Ikatan ini lebih
mendasar jika dibandingkan hubungan kontraktual yang
dibuat atas kesepakatan rasional, karena hubunganhubungan serupa itu mengandaikan sekurang-kurangya
satu tangga konsensus terhadap prinsip-prinsip moral
yang menjadi dasar kontrak itu. Dengan demikian jelas
bahwa yang dimaksud dengan fakta sosial adalah bukan
sesuatu yang tampak seperti itu saja, melainkan motifmotif atau dorongan sosial yang menimbulkan sesuatu
itu berlaku di dalam realitas sosial. Maka setiap fakta
sosial yang baru membentuk satu nilai sedangkan dilain
hal nilai lama akan terkikis bahkan menjadi hilang karena
sudah adanya kesepakatan bersama dalam masyarakat
tersebut. Untuk itu, dalam tulisan ini diistilahkan dengan
deintegrasi nilai.
Dalam tulisan ini berfokus pada pemikiran Durkheim
mengenai solidaritas mekanis dan solidaritas organis
yang sub bahasannya adalah pertama sekilas tentang
Emile Durkheim, kedua, memudarnya solidaritas
mekanis, ketiga, menguatnya solidaritas organis,
keempat, pertumbuhan solidaritas organis dan kelima,
hasil degradasi nilai terhadap solidaritas tersebut.
B. Sekilas Tentang Emile Durkheim
Durkheim, dilahirkan pada tahun 1858 di kota Epinal
dekat Strasbourg, daerah Timur Laut Perancis. Ayahnya
seorang pendeta Yahudi. Durkheim, perkembangan
pemikirannya sangat dipengaruhi oleh lingkungan di luar
keluarganya, meskipun ayahnya seorang pendeta
Yahudi. Mungkin pengaruh inilah yang menambah
keterikatannya terhadap masalah agama, walaupun
para seniornya menginginkan ia menjadi seorang
penganut katolik yang taat. Mengapa, sebab sejak muda
Durkheim telah menyatakan dirinya sebagai seorang
agnostik. Tentu, Sikap ini bersimpangan dan kontras
dengan ayahnya dan apa yang telah dipelajari dari guruguru Katoliknya sejak muda. Pada akhirnya, Durkheim,
di dikenal sebagai “seorang atheis” yang kuat dan selalu
bersifat agnostik, iaitu “tidak pernah mempersoalkan
kebenaran keyakinan masyarakat yang sedang
ditelitinya” (Hujair sanaky. 2005). Ketajaman pemikirannya kadang-kadang dianggap aneh oleh lingkungan
kampus, ia dianggap gila oleh mahasiswanya karna
berkontemplasi atau dianggap “nyeleneh” dalam proses
pengajaran.
Pada usia 21 tahun, jalur pendidikan Durkheim di
sekolah Ecole Normale Superieure di Paris dan
mengambil studi sejarah dan falsafah. Pada awalnya,
Durkheim tidak suka dengan suasana pendidikan yang
kaku. Keadaan seperti ini selalu membuat suasana tidak
menyenangkan. Durkheim, setelah menyelesaikan
studinya, mengajar falsafah di beberapa sekolah yang
ada di Paris. Pada tahun 1885-1886, Durkheim, migrasi
ke Jerman untuk mempelajari psikologi kepada Wilhelm
Wundt. Pada tahun 1887, Durkheim diangkat sebagai
Profesor Sosiologi di Universitas Bordeaux yang tentu
memberinya posisi baru bagi ilmuan sosial terutama
dalam penelitian sosialnya. Kemudian, Durkheim
menetap di Jeman sampai tahun 1902 dan selama lima
belas tahun di Bordeaux, Durkheim telah menghasilkan
tiga karya besar yang diterbitkan dalam bentuk buku,
iaitu: The Division of Labor in Society (1893), The Rules
of Sociological Method (1895) dan Suicide: a Study in
Sosiology (1897). Pada saat yang sama pula, Durkheim
dan beberapa sarjana lainnya bergabung untuk
menerbitkan L’Annee Sociologique, iaitu sebuah jurnal
yang memuat artikel-artikel sosial yang kemudian
terkenal di seluruh dunia (Peter, 2003).
Ia diangkat Profesor Sosiologi dan Pendidikan di
Universitas Sorbonne, Paris pada tahun 1902. Perhatian
dan minat Durkheim terhadap agama terhadap
kehidupan sosial dalam membentuk moralitas,
diwujudkan dalam sebuah karyanya yang bertajuk Les
Formes elementaires de lavie relegieuse : Le systeme
totemique en Australie (1912). Buku ini diterjemahkan
dalam bahasa Inggris oleh Joseph Ward Swain menjadi
The Elementary Forms of the Religious Life (1915).
Dalam buku ini, mencoba menemukan elemen-elemen
Solidaritas Mekanik ke Solidaritas Organik
(Suatu Ulasan Singkat Pemikiran Emile Durkheim)
dasar yang membentuk semua agama. Kemudian
kesehatannya mulai menurun pada tahun 1916, karna
anak satu-satunya terbunuh dalam kampanye militer di
Siberia, sehingga membuatnya terserang penyakit
stroke dan dalam usia 59 tahun tepatnya pada tahun
1917, Durkheim meninggal dunia.
Pengaruh-pengaruh penting terhadap intelektual
Durkheim datang dari tradisi-tradisi intelektual yang jelas
mengandung unsur-unsur Perancis. Tafsiran-tafsiran
yang saling mengisi dari Sanit Simon dan Comte
mengenai kemunduran feodalisme dan munculnya
bentuk masyarakat modern merupakan landasan utama
semua karya Durkheim, sehingga memang sesuai, bila
dikatakan bahwa tema utama karya Durkheim semasa
hidup berkaitan dengan usaha mendamaikan konsep
Comte mengenai tahapan ‘positif’ dari masyarakat
dengan peragaan Saint Simon yang sebagian beraneka
ragam tentang ciri-ciri khas dari ‘individualisme’ (Anthony
Giddens. 1986).
Sejal awal karir mengajar, Durkheim bertekad untuk
menekankan pengajaran praktis ilmiah serta moral
daripada pendekatan falsafah tradisional yang menurut
dia tidak relevan dengan masalah sosial dan moral yang
terjadi di dunia ini. Walaupun yakin akan nilai sosiolog
dalam membahas masalah-masalah moral dan sosial,
sebagai seorang sarjana, Durkheim sangat kuat
komitmennya untuk mengambil sikap obyektif dalam
analisanya yang sangat teguh atas bersandarkan fakta.
Durkheim seringkali dianggap sebagai seorang ahli
politik yang konservatif dan pengaruh beliau dalam
Sosiologi juga dianggap konservatif. Ianya karena beliau
jarang melibatkan diri dalam politik secara langsung.
Pada masa hidup beliau, dianggap sebagai seorang liberal dan terlibat secara aktif terutama dalam usaha untuk
membantu Alfred Dreyfus yang merupakan seorang
kapten tentara yang telah dihukum karena dituduh
membelot. Menurut Farrel (1997) dalam Ritzer dan
Goodman (2003) pada masa itu, ramai yang menganggap kasus tersebut sebagai anti-Semitic. Durkheim
merasa sangat kecewa dengan kasus Dreyfus
terutamanya anti-Semitism tetapi beliau tidak menanggapnya sebagai satu isu rasisme tetapi beliau melihat
peristiwa tersebut sebagai satu simptom penyakit
(patalogi) moral masyarakat Perancis secara umumnya.
C. Pembahasan
C.1. Memudarnya Solidaritas Mekanis
Durkheim menggunakan istilah solidaritas mekanis
untuk menganalisa masyarakat keseluruhannya.
Solidaritas mekanis lebih menekankan pada sesuatu
kesadaran kolektif bersama (collective consciousness),
261
yang menyandarkan pada totalitas kepercayaan dan
sentimen bersama yang rata-rata ada pada warga
masyarakat yang sama. Solidaritas mekanis merupakan
sesuatu yang bergantung pada individu-individu yang
memiliki sifat-sifat yang sama dan menganut kepercayaan dan pola norma yang sama pula. Oleh karena itu
sifat individualitas tidak berkembang, individual ini terusmenerus akan dilumpuhkan oleh tekanan yang besar
sekali untuk konformitas. Individu tersebut tidak harus
mengalami atau menjalani satu tekanan yang melumpuhkan, karena kesadaran akan persoalan hal yang lain
mungkin juga tidak berkembang. Inilah yang menjadi
akar memudarnya atau deintegrasi nilai pada solidaritas
mekanis. Pertama, perlu diketahui bahwa nilai barang
bersifat ekonomis semakin lama nilainya akan
menyusut. Kedua, kesadaran kolektif sebenarnya tidak
stagnan atau tetap, melainkan bergerak liar dalam setiap
tindakan masyarakat.
Kemudian indikator yang paling jelas untuk
solidaritas mekanis adalah ruang lingkup dan kerasnya
nilai-nilai yang bersifat menekan (Durkheim. 1964)
(represif). Nilai-nilai ini men-justifikasi setiap prilaku
sebagai sesuatu yang jahat, mengancam atau
melanggar kesadaran kolektif yang kuat tersebut.
Hukuman pada pelaku kejahatan memperlihatkan
pelanggaran moral dari kelompok tersebut melawan
ancaman atau penyimpangan yang demikian tersebut,
karena mereka dipandang sudah merusakkan keteraturan sosial. Hukuman tidak harus mencerminkan
pertimbangan rasional yang mendalam mengenai jumlah
kerugian secara objektif yang memojokkan masyarakat
itu, juga tidak merupakan pertimbangan yang diberikan
untuk menyesuaikan hukuman itu dengan kejahatannya,
sebaliknya ganjaran itu menggambarkan dan menyatakan kemarahan kolektif yang muncul. Sebenarnya tidak
terlalu banyak sifat orang yang menyimpang atau
tindakan kejahatannya seperti oleh penolakan terhadap
kesadaran kolektif yang diperlihatkannya, tetapi perlu
diketahui suatu sifat kejahatan muncul dari umpan balik
nilai-nilai masyarakat. Yang penting dari solidaritas
mekanis adalah bahwa solidaritas itu didasarkan pada
suatu tingkat homogenitas yang tinggi dalam kepercayaan, sentimen dan sebagainya. Homogenitas ini hanya
mungkin kalau pembagian kerja bersifat minim (Doyle
Paul Johnson.1986),
C.2 Solidaritas Organis
Berlawanan dengan solidaritas mekanis, solidaritas
organis muncul karena pembagian kerja yang bertambah besar. Solidaritas ini didasarkan pada tingkat saling
ketergantungan yang tinggi. Saling ketergantungan itu
262
bertambah sebagai hasil dari bertambahnya spesialisasi
dalam pembagian pekerjaan, yang memungkinkan dan
juga menggalakkan bertambahnya perbedaan pada
kalangan individu. Munculnya perbedaan-perbedaan
pada kalangan individu ini merombak kesadaran kolektif
itu, yang pada gilirannya menjadi kurang penting lagi
sebagai dasar untuk keteraturan sosial dibandingkan
dengan saling ketergantungan fungsional yang
bertambah antara individu-individu yang memiliki
spesialisasi dan secara relatif lebih otonom sifatnya.
Seperti yang dinyatakan Durkheim bahwa “itulah
pembagian kerja yang terus saja mengambil peran yang
tadinya diisi oleh kesadaran kolektif”.
Durkheim mempertahankan bahwa kuatnya solidaritas organis itu ditandai oleh pentingnya undang-undang
yang bersifat memperbaiki, menyehatkan maupun yang
bersifat memulihkan (restitutif) daripada yang bersifat
represif. Tujuan dari kedua bentuk undang-undang
tersebut sangat berbeda. Undang-undang represif lebih
mengungkapkan kemarahan kolektif yang dirasakan
kuat sedangkan undang-undang restitutif berfungsi
mempertahankan atau melindungi pola saling ketergantungan yang kompleks antara berbagai individu yang
berspesialisasi atau kelompok-kelompok dalam
masyarakat. Oleh karena itu, sifat ganjaran-ganjaran
yang diberikan kepada seseorang pelaku kejahatan
berbeda dalam kedua undang-undang itu. Mengenai tipe
sanksi yang bersifat restitutif Durkheim mengatakan
“bukan bersifat balas dendam, melainkan hanya sekedar
menyehatkan keadaan”. Terlaksananya undang-undang
represif sebenarnya bukan memperkuat keadaan karena
sudah adanya investasi nilai tetapi represif sedikit demi
sedikit akan menuju kepada undang-undang restitutif.
Dalam sistem organis, kemarahan kolektif yang
timbul karena prilaku menyimpang menjadi kecil
kemungkinannya, karena kesadaran kolektif itu tidak
begitu kuat. Sebagai hasilnya, hukuman lebih bersifat
rasional, disesuaikan dengan rusaknya pelanggaran dan
bermaksud untuk memulihkan atau melindungi hak-hak
dari pihak yang dirugikan atau menjamin bertahannya
kaedah ketergantungan yang kompleks tersebut dari
solidaritas sosial. Pola restitutif ini jelas terlihat dalam
undang-undang kepemilikan, undang-undang sewa,
undang-undang perdagangan, peraturan dan prosedural
administrasinya.
C.3 Pertumbuhan Solidaritas Organis
Masyarakat menampilkan suatu aspek, dalam setiap
kasus. Dalam kasus pertama (solidaritas mekanis), dan
yang disebut dengan nama itu ialah keseluruhan
kepercayaan dan sentimen yang sedikit banyak
Solidaritas Mekanik ke Solidaritas Organik
(Suatu Ulasan Singkat Pemikiran Emile Durkheim)
terorganisasi dan yang sudah biasa dimiliki oleh semua
anggota kelompok yaitu : jenis kolektif. Di lain persoalan,
masyarakat dimana kita terikat (don’t nous sommes
solidaires) dalam kasus yang kedua, adalah suatu
sistem fungsi-fungsi khusus beraneka ragam yang
disatukan dalam antar-antar hubungan tertentu
(Emile,1964).
Jenis kohesi sosial solidaritas organis ini, bukan
hanya berasal dari penerimaan suatu perangkat
bersama dari kepercayaan dan sentimen, akan tetapi
dari saling ketergantungan fungsional di dalam
pembagian kerja. Bila solidaritas mekanis merupakan
landasan utama bagi kohesi sosial, maka conscience
collective merangkum sepenuhnya kesadaran individual,
dan oleh karenanya mempra-asumsi-kan indentitas
diantara individu-individu. Solidaritas organis sebaliknya,
mempraduga perbedaan diantara pribadi-pribadi orang
dalam hal kepercayaan dan tindakannya, dan bukannya
mempraduga indentitas. Pertumbuhan solidaritas
organis dan perluasan pembagian kerja, kemudian
dikaitkan dengan individualisme yang makin meningkat.
Gerak maju solidaritas organis mau tak mau
bergantung pada arti pentingnya conscience collective
yang sedang menurun. Disini Durkheim melihat melalui
kritiknya Gesselschaft dari Tonnies, bahwa suatu
masyarakat, dimana tiap individu hanya mengejar-ngejar
kepentingannnya sendiri, akan hancur dalam masa yang
singkat. Tidak ada suatu yang labil daripada suatu
kepentingan. Kepentingan akan memainkan peran
seseorang dalam menerjemahkan pelaku sebagai
musuh ataupun teman. Durkheim mengakui kebenaran,
bahwa hubungan kontraktual pada umumnya berlipat
ganda dengan meningkatnya pembagian kerja, akan
tetapi perluasan hubungan-hubungan kontraktual
mempraduga perkembangan norma-norma yang
mengatur kontrak, dan semua kontrak diatur oleh semua
rumusan-rumusan tertentu. Bagaimanapun rumitnya
pembagian kerja, masyarakat tidak menjadi kacau akibat
persekutuan-persekutuan kontraktual jangka pendek.
Disni Durkheim mengulangi pernyataan pokok yang dia
buat dalam kaitannya dengan Tonnies bahwa “dengan
demikian kelirulah untuk mempertentangkan suatu
masyarakat yang berasal dari suatu komunitas
kepercayaan-kepercayaan dengan suatu masyarakat
yang berlandas atas kerjasama, hanya memberikan
suatu sifat moral kepada masyarakat yang disebut
pertama diatas, dan hanya melihat suatu putaran
ekonomi didalam masyarakat yang disebut kedua di
atas. Dalam keadaan sebenarnya, kerja sama itu
mempunyai morality sendiri yang hakiki (Emile, 1964).
Teori utilitarianisme tidak mampu menerangkan
Solidaritas Mekanik ke Solidaritas Organik
(Suatu Ulasan Singkat Pemikiran Emile Durkheim)
dasar solidaritas moral dalam masyarakat-masyarakat
kontemporer, dan teori ini juga tidak benar sebagai suatu
teori sebab musabab peningkatan pembagian kerja.
Dalam bentuk teori tersebut mengaitkan pertambahan
dalam spesialisasi dengan meningkatnya kekayaan
materi, yang dimungkinkan oleh keanekaragaman dan
pertukaran. Menurut konsep ini, dengan meningkatnya
produksi, semakin terpenuhilah keperluan-keperluan
manusia, dan makin besarlah kebahagian orang.
Durkheim mengemukakan bermacam pernyataan
disertai berbagai alasan, terhadap posisi ini. Akan tetapi
yang terpenting dari pernyataan tersebut ialah dalil itu
keliru pada tingkat empiris. Walaupun memang benar,
bahwa ada terbuka berbagai kesenangan bagi manusia
modern yang dulunya tidak diketahuinya, kasusenangan
itu akan diimbangi oleh sumber-sumber penderitaan,
yang tidak ada dalam bentuk-bentuk masyarakat yang
mendahuluinya (Emile, 1952).
Banyak terjadinya bunuh diri dalam masyarakat
kontemporer, merupakan pertanda dari hal tersebut
diatas. Bunuh diri karena kemurungan jiwa, hampir tidak
ada di masyarakat-masyarakat yang kurang berkembang, arti penting bunuh diri karena kemurungan jiwa
dalam masyarakat kontemporer ialah membuat sesuatu
kasus yang jelas bahwa keanekaragaman masyarakat
tidak harus memproduksi suatu kenaikan tingkat umum
dari kebahagiaan.
Perkembangan pembagian kerja akan berjalan
bergandengan dengan kehancuran sturktur sosial yang
bersegmen-segmen. Untuk terjadinya hal ini, tentunya
hubungan-hubungan telah terbentuk dimana sebelumnya tidak ada hubungan tersebut, sehingga demikian
kelompok-kelompok yang tadinya terpisah, menjadi
saling berhubungan. Cara kehidupan dan kepercayaan
masyarakat demikian yang berlainan, begitu setelah
saling berhubungan, membongkar homogenitas tiap
kelompok yang terpisah dan merangsang pertukaran
budaya dan ekonomi. Dengan demikian pembagian
kerja itu meningkat oleh karena lebih banyak pribadipribadi orang cukup berkontak, sehingga membolehkan
saling beraksi dan bereaksi. Durkheim menyebut
frekuensi kontak demikian, kepadatan moral atau
kepadatan dinamis.
Pertumbuhan aneka ragam kontrak pribadi-pribadi
orang, tampaknya harus berasal dari suatu jenis antarantar hubungan fisikal yang kontiniu. Dengan kata lain,
pertumbuhan kepadatan dinamis itu akan bergantung
kepada suatu pertambahan kepadatan fisik penduduk.
Atas realitas tersebut Durkheim merumuskan proposisi
bahwa “pembagian kerja itu berubah-ubah dalam
perbandingan langsung dengan isi dan kepadatan
263
masyarakat, dan bila mana perubahan-perubahan itu
melaju secara kontiniu selama perkembangan sosial,
maka hal itu disebabkan oleh karena masyarakatmasyarakat secara teratur menjadi lebih padat dan pada
umumnya menjadi lebih besar isinya. (Emile, 1964).
C.4 Ancaman Solidaritas
Peralihan dari solidaritas mekanik ke yang organis
tidak selalu merupakan proses yang lancar dan penuh
keseimbangan tanpa ketegangan. Karena ikatan sosial
primordial yang lama dalam bidang agama, kekerabatan,
dan komunitas dirusak oleh meningkatnya pembagian
kerja, mungkin ada ikatan-ikatan sosial lainnya yang
tidak berhasil menggantikannya. Akibatnya masyarakat
menjadi terpecah yang ditandai individu-individu terputus
dengan ikatan sosialnya, dan kelompok yang menjadi
perantara individu menjadi tidak berkembang dengan
baik.
C.4.1 Ketegangan dalam Masyarakat Organik yang
Kompleks
Berlakunya pembagian kerja yang sangat berkembang serta kaedah-kaedah yang saling ketergantungan
yang kompleks, integrasi mungkin dirusakkan oleh
koordinasi yang tidak mencukupi antara orang-orang
yang memiliki spesialisasi tinggi kegiatannya-kegiatannya tidak dapat dihubungkan menjadi satu. Dalam
situasi ini berbagai institusi yang bersifat khusus menjadi
kurang lebih otonom untuk masa yang singkat, dan
berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat
secara keseluruhannya (Karl Mannheim. 1940).
Misalnya sekarang ini ada kecondongan pendidikan
sekolah untuk terus mendidik guru-guru baru pada
sekolah rendah dan sekolah menengah, dan pada
akhirnya kekurangan tenaga guru dan menuju ke arah
kelebihan tenaga guru.
Satu ancaman yang lebih penting lagi terhadap
solidaritas organis, berkembang dari heterogen dan individual yang semakin besar berhubungan dengan
pembagian kerja yang tinggi. Dengan heterogen yang
tinggi, ikatan bersama yang menyatukan masyarakat
berbagai anggota masyarakat menjadi lemah. Individu
mulai memisahkan dirinya dengan kelompok yang
terbatas dalam masyarakat itu, seperti pada kelompok
bagian pekerjaan. Solidaritas dalam kelompok-kelompok
kecil itu tentu saja yang bersifat mekanis. Melemahnya
ikatan sosial dari solidaritas mekanis akan merusakkan
kepercayaan bersama, melemahkan nilai moral, dan
melemahkan struktur normalitas. Hasil daripada hal
tersebut adalah anomie, atau keadaan tanpa arti, dan
tanpa norma dimana individu tidak mempunyai arah dan
264
tujuan, terpisah dari ikatan sosial karena peraturan
normalitas sudah dilaksanakan. Munculnya anomie
merupakan salah satu tekanan budaya yang kuat pada
individualisme.
C.4.2 Integrasi Sosial Dan Angka Bunuh Diri
Perubahan-perubahan yang terjadi dalam bunuh diri
menggambarkan suatu keadaan solidaritas dalam
masyarakat, persoalan ini merupakan pokok permasalah
Durkehim dalam penelitiannya dalam klasik monograf,
iaitu suicide (Emile. 1966). Karya ini memperlihatkan
metodologi Durkheim bahwa fakta sosial harus
dijelaskan dengan fakta sosial lainnya. Angka bunuh diri
dalam pandangan Durkheim dilihat sebagai fakta sosial
dan bukan fakta individu bahwa bunuh diri disebabkan
oleh fakta sosial lainnya misalnya pada tingkat dan
bentuk integritas sosial.
Gambar : Hubungan Antara Integritas dan Bunuh Diri
Perubahan dalam angka bunuh diri tidak hanya
merupakan keadaan nyata dari suatu perubahan pada
tingkat integritas sosial. Perubahan-perubahan angka
kejahatan, penyakit dampak daripada alkohol, perceraian, dan sakit mental adalah merupakan sesuatu
gambaran dari tipe atau tingkat integritas sosial.
Fenomena bunuh diri dalam keadaan masyarakat
adalah merupakan suatu sifat patologi yang ditandai oleh
adanya perubahan-perubahan secara tiba-tiba dalam
angka atau gejala tersebut. Perubahan-perubahan ini
akan memberi tanda bagi sesuatu perubahan dalam
kekuatan integritas atau bentuk integritas dan
kemungkinan akan berlakunya krisis sosial. Tetapi jika
angka bunuh diri atau penyimpangan itu tetap dalam
bentuk yang lama, hal ini akan menunjukkan sesuatu
keadaan normal bagi masyarakat tertentu.
Pada tahun 2005, tingkat bunuh diri di Indonesia
dinilai masih cukup tinggi. Berdasarkan data Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) pada 2005, sedikitnya 50.000
Solidaritas Mekanik ke Solidaritas Organik
(Suatu Ulasan Singkat Pemikiran Emile Durkheim)
orang Indonesia melakukan tindak bunuh diri tiap
tahunnya. Dengan demikian, diperkirakan 1.500 orang
Indonesia melakukan bunuh diri per harinya. Sementara
untuk tahun 2007, terdapat 12 korban bunuh diri karena
terimpit persoalan ekonomi, delapan kasus lainnya
akibat penyakit yang tak kunjung sembuh lantaran tidak
punya uang untuk berobat, dan dua kasus akibat
persoalan moral yakni satu orang lantaran putus cinta,
dan seorang akibat depresi. Lalu pada 2008, berdasarkan data sejak awal 2008 hingga bulan April sudah
ada 11 kasus bunuh diri yang terjadi di Kabupaten
Banyumas atau rata-rata tiap bulannya hampir tiga
kasus. Adapun faktor psikologi yang mendorong orang
bunuh diri adalah dukungan sosial kurang atau yang
didalam tulisan ini disebut dengan degradasi nilai. Posisi
Indonesia sendiri hampir mendekati negara-negara
bunuh diri, seperti Jepang, dengan tingkat bunuh diri
mencapai lebih dari 30.000 orang per tahun dan China
yang mencapai 250.000 per tahun (Vivanews.com)
Penyimpangan-penyimpangan tersebut dalam
masyarakat tersebut sungguh tak dapat dielakkan,
secara alamiah terdapat dalam prilaku manusia serta
sifat-sifat individu dalam bentuk yang bermacammacam. Perbedaan-perbedaan yang alamiah dalam
prilaku manusia memberi peluang pada perbedaan
moral sama dengan sistem normaliti tertentu dalam
masyarakat. Tapi yang jelas penyimpangan tersebut
memberi kasus suatu fungsi sosial positif untuk
masyarakat dengan adanya kesempatan dengan
menegaskan kembali nilai-nilai moral dimana solidaritas
itu berada. Sifat ini akan bermacam-macam bergantung
apakah masyarakat itu dalam peralihan solidaritas
mekanis ke organis atau pertumbuhan dari solidaritas
organis.
C.4.3 Kemunculan dan Dukungan Terhadap
Solidaritas
Sebenarnya keadaan atau fungsi agama mesti dilihat
dengan pengakuan akan adanya saling kebergantungan
antara agama dan masyarakat. Dalam masyarakat
primitif kebergantungan itu akan menjadi lebih nyata
dibandingkan dalam masyarakat-masyarakat yang
sudah maju. Pada keadaan pada masyarakat yang
sudah maju, institusi-institusi agama mengembangkan
suatu tingkat otonomi tertentu yang mungkin juga dapat
mengaburkan hubungan yang pokok antara agama dan
masyarakat.
Agama adalah hal yang berhubungan suatu agama
yang suci (sacred realm). Dengan demikian agama
merupakan suatu sistem yang terpadu mengenai
kepercayaan-kepercayaan praktek-praktek yang
Solidaritas Mekanik ke Solidaritas Organik
(Suatu Ulasan Singkat Pemikiran Emile Durkheim)
berhubungan dengan benda-benda suci. Makna tekanan
pada suci memang dapat diterima dan juga dapat
dimengerti sebagai sesuatu yang luas. Konsep yang suci
ini akan berhubungan dengan kehidupan hari-hari di dunia
dipercayai dengan terpisah dan berbeda dari yang biasa,
hal ini merupakan dunia kehidupan profan hari-hari.
Ide yang suci ini muncul dari kehidupan dan
sebenarnya mewakili kenyataan kelompok itu dalam
bentuk simbol. Hal inilah yang menyebabkan bahwa
sakral dan profan menyatu dan membentuk apa yang
disebut dengan totem. Apapun totem tersebut adalah
merupakan suatu lambang dari klan itu, dan mereka
percaya bahwa benda totem itu mewujudkan prinsip
totem yang suci begitu juga dengan klan tersebut bahwa
mereka sendiri mempunyai hubungan dengan totem itu
dengan suatu kaedah tertentu, selain itu mereka juga
ikut memiliki kekuasaan yang suci itu. Jadi hubungan
kekerabatan dekat antara klan dan totemnya.
C.4.4 Hubungan antara Orientasi Agama dan
Struktur Sosial
Pengalaman agama dan ide tentang yang suci
adalah produk kehidupan kolektif, kepercayaan dan ritus
agama juga memperkuat ikatan-ikatan sosial dalam
kehidupan kolektif itu bersandar, sehingga atas hal
demikian hubungan antara agama dan masyarakat
memperlihatkan saling ketergantungan yang erat.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan agama dalam
masyarakat dapat mempersatukan individu dalam
kegiatan bersama, satu tujuan bersama, dan memperkuat kepercayaan yang merupakan dasar struktur
sosial. Jadi ide tentang yang suci diperkuat karena
anggota-anggota kelompok tersebut berulang kali
mengalami realitas dari kelompok tersebut. Kenyataan
ini disatukan dalam perasaan-perasaan bersama serta
kegiatan-kegiatan bersama yang berkaitan dengan
pelaksanaan ritus agama yang berulang-ulang atau
penegasan kembali mengenai kepercayaan mereka
yang sama tentang yang suci itu.
Dalam perspektif Durkheim menganai agama adalah
benar-benar untuk menunjukkan hal yang paling benar
bagaimana kepercayaan agama tertentu atau ritusritusnya mencerminkan atau memperkuat struktur sosial
dan prinsip-prinsip moral yang menjadi sandarannya.
Swanson (1960) berusaha untuk mengerjakan hal ini
dalam suatu analisa perbandingan antara sejumlah
masyarakat primitif. Sebagai satu misal umum untuk
menggambarkan analisa misalnya : karena masyarakatmasyarakat meluas dalam jumlah dan daerah yang
dikuasai, konsep mereka mengenai kekuasaan di dunia
meluas sejalan dengan hal tersebut. Jadi dewa-dewa
265
yang terbatas pada kaum bangsa tertentu harus hidup
bersama dengan dewa-dewa kaum bangsa lainnya,
secara bertahap akan menjadi menguasai, karena kaum
bangsa itu berkembang mungkin akhirnya menjadi
dewa-dewa dalam skala yang lebih besar lagi. Proses
akhir adalah perkembangan konsep mengenai kedewaan universal. Hal ini boleh berlaku dalam berbagai
agama di dunia, walaupun keteraturan sosial yang kuat
dan luas belum sepenuhnya nampak. Namun demikian,
perkembangan serupa itu mencerminkan pertumbuhan
suatu perspektif yang menjangkau luas ke seluruh dunia.
C.4.5 Agama dalam Masyarakat Modern
Analisa Durkheim melihat bahwa perasaan gembira
emosional (collective effervescence) (Thomas F.O’Dea.
1961) erat kaitannya dengan upacara-upacara
keagamaan yang kolektif, tetapi pada keadaan pada
masyarakat kini sangat berbeda keadaannya. Keadaan
ini berlaku karena perubahan-perubahan pesat dari
bentuk-bentuk yang lama ada dalam proses mundur,
dan bentuk-bentuk baru akan muncul dan akan
menggantikan hal yang lama tersebut. Durkheim melihat
bahwa kurangnya gairah hidup dalam bentuk-bentuk
agama merupakan suatu tanda gejala-gejala rendahnya
tingkat solidarity dalam masyarakat, walaupun berlaku
demikian gejala-gejala tersebut akan berubah pada
suatu masa, karena jenis-jenis pengalaman kolektif yang
baru melahirkan bentuk-bentuk solidaritas yang baru,
seperti dengan pendapatnya :
Kalau sekarang kalau kita merasa agak sulit
membayangkan perayaan-perayaan atau
upacara apa saja yang ada pada masa mendatang, ini disebabkan karena kita sedang
melewati suatu tahap transisi dan keadaan moral
yang kurang kuat lagi. Hal-hal besar pada masa
lalu yang membuat kakek kita penuh emosional
yang gembira tidak lagi membuat semangat di
dalam diri kita. Tetapi pada masa yang akan
datang apabila masyarakat-masyarakat kita mau
mengetahui lagi masa berlakunya effervescence
yang kreatif, dimana ide-ide baru muncul dan
rumusan-rumusan baru diperolehi dan menjadi
sandaran bagi kita menuju integritas atau humanity, dan apabila masa ini telah kita lewati, orang
dengan sendirinya akan merasakan keperluan
dan menghidupkan kembali secara berterusan
di dalam hati, iaitu menghidupkannya dalam
ingatan dengan perayaan-perayaan yang secara
teratur menghasilkan buah (Emile. 1947)
Dari pernyataan Durkheim terlihat bahwa ia terlalu
266
Solidaritas Mekanik ke Solidaritas Organik
(Suatu Ulasan Singkat Pemikiran Emile Durkheim)
menekankan solidaritas, tetapi ia bertujuan bahwa
tekanan ini akan bermakna mempersatukan orang
dalam komunitas moral, jadi tidak heran bahwa
Durkheim melihat agama bersifat meningkatkan
kekompakan dan solidaritas sosial. Pernyataan
Durkheim ini akan berbanding terbalik jika kita melihat
kejadian di Indonesia iaitu konflik antara kelompok FPI
(Front Pembela Islam) dan AKB (aliansi kebebasan
beragama). Sebenarnya, konflik-konflik tersebut berlaku
karena perbedaan-perbedaan politik yang mendasar,
ekonomi atau sosial, namun elemen agama yang
menjadi sasaran dalam mempertajam ideologis. Nilai
agama semakin digantikan dengan norma-norma dalam
masyarakat terutama dalam proses evolusi masyarakat
pra-industri ke masyarakat moden yang menyebabkan
terjadinya anomie.
DAFTAR PUSTAKA
Beliharz, Peter, 2003, Soscial Theory: A Guide to Central Thinkers, terj. Sigit Jatmiko, Teori-teori Sosial
: Observasi Kristis Terhadap Para Filosof
Terkemuka, Yogyakarta, Pustaka Pelajar,.
Durkheim, Emile, 1964, The Division of Labour in Society, Translated by George Simpson, New York,
Free Pres.
Durkheim, Emile, 1947, The Elementary Forms af
Relegious Life, Translated by Joseph Ward
Swain, Newyork, Free Pres.
Durkheim, Emile, 1952, Suicide a Study in Sosiology,
Paris
Durkheim, Emile, 1964, The Division Of Labour in Society, London
Durkheim, Emile, 1966, Suicide. Translated by Jhon A,
Spaulding and George Simpson. Edited by
Geroge Simpson, Newyork, Free Press.
Giddens, Anthony, 1986, Kapitalisme dan Teori Sosial
Modern: Suatu Analisis terhadap Karya Tulis
Marx, Durkheim, Weber, Penerjemah Soeheba
Kramadibrata, Jakarta, UI Press.
Manheim, Karl, 1940, Man and Society in an Age of
Reconstruction, London, Routledge and kegan
paul.
Paul Johnson, Doyle, 1986, Teori Sosiologi Klasik dan
Modern, di Indonesiakan oleh Robert M.Z.
Lawang, Jakarta, PT.Gramedia.
O’Deal, Thomas F, 1961, Five Dilemmas in the Institutionalization of Religion, Dalam Journal for the
Scientific Study of Relegion. Hlm 32-39
Ritzer dan Goodman, 2003, The Sociological Theory,
Edisi ke-6, McGraw Hill
Sanaky, Hujair, 2005, Sakral Sacred Dan Profan [Studi
Pemikiran Emile Durkheim Tentang Sosiologi
Agama, UIN Sunan Kalijaga, Yogjakarta.
Swanson E.Guy, 1960, The Birth of the Gods. Ann Arbour
: Universiti of Michigan Press. Michigan
Download