Lukas, seorang dokter berkebangsaan Siria

advertisement
Lukas, seorang dokter berkebangsaan Siria, dipertobatkan menjadi Kristen ketika
misionaris-misionaris pertama meninggalkan jemaat-jemaat Yerusalem dan Kaisarea untuk
membawa Injil melewati batas-batas negara Yahudi. Lukas kemudian meninggalkan tanah
airnya untuk menemani Rasul Paulus.
Ia tiba di Roma, ibu kota dunia yang dikenal pada waktu itu, di mana ia tinggal selama
sekurang-kurangnya dua tahun. Di sana ia bertemu dengan Petrus dan Markus yang sedang
giat-giatnya berkhotbah di kalangan orang-orang Kristen di Roma.
Ketika ia menulis Injilnya, ada banyak sekali naskah yang memuat perbuatan-perbuatan
dan mukjizat-mukjizat Yesus yang dengan mudah diperoleh, naskah-naskah mana juga dipergunakan oleh Markus dan Matius. Dalam perjalanannya, ia juga mengambil cerita-cerita lain
yang berasal dari murid-murid Yesus yang pertama. Cerita-cerita ini dilestarikan dalam
Gereja-Gereja yang paling tua di Yerusalem dan Kaisarea.
Tentang ini kita mempunyai kesaksian dalam alinea pertama bab pertama (1:1-4): ia
selalu berpikir tentang bagaimana menemukan kesaksian dari pelayan-pelayan Sabda yang
pertama, yaitu para rasul.
Maka kelirulah kalau kita berpikir bahwa Lukas menulis lama sesudah kejadian-kejadian,
seperti yang dikatakan sementara orang, dan hanya memperluas hal-hal yang tidak
diketahuinya. Meskipun perbaikan-perbaikan terakhir atas injilnya baru dilakukan sekitar
tahun 70, bagian terbesar naskah aslinya sudah dikerjakan jauh sebelumnya. Ini khususnya
menyangkut dua bab pertama dari Injil Lukas yang memberi kita cerita tentang masa kanakkanak Yesus. Kedua bab pertama ini merupakan terjemahan yang hampir harfiah dari tulisan
Ibrani atau Aram yang berasal dari generasi Kristen pertama. Cerita tentang masa kanakkanak Yesus ini didasarkan atas informasi yang kemungkinan besar diberikan oleh Maria, ibu
Yesus.
Latar belakang budaya Lukas adalah Yunani dan ia menulis untuk orang-orang Yunani.
Ia menghilangkan beberapa detail dari Markus, yang membahas hukum dan adat istiadat
Yahudi yang kiranya akan sulit dimengerti oleh para pembacanya.
Lukas melihat di dalam Injil kekuatan yang mempersatukan umat dengan Allah dan di
antara umat sendiri. Karena itu, ia mencurahkan perhatiannya memberikan perumpamaan
tentang belas kasihan dan kata-kata yang mengutuk uang – suatu faktor yang memecahbelah
umat. Demikian pula, Lukas menunjukkan bagaimana Yesus memperlakukan kaum
perempuan dengan cara yang sangat manusiawi – kelompok yang sama sekali terpinggirkan.
Injil Lukas mempunyai tiga bagian (lihat Pengantar Perjanjian Baru):
– pelayanan Yesus di Galilea, 3:1-9:56;
– perjalanan ke Yerusalem, 9:57-18:17;
– kedatangan di Yerusalem dan penderitaan, 18:18-23.
Bab terakhir tentang penampakan Yesus yang bangkit berfungsi sebagai undangan untuk
membaca Kisah Para Rasul, yang merupakan kelanjutan Injil Lukas.
• 1.1 Lukas mempersembahkan karyanya kepada Teofilus, kemungkinan
seorang Kristen yang berada. Menurut kebiasaan pada waktu itu (percetakan belum ada), Lukas memberikan kepadanya manuskrip dengan harapan
agar dapat dibuat beberapa salinan yang dibiayai oleh orang kaya ini.
Salinan-salinan itu akan dipergunakan dalam jemaat-jemaat Kristiani.
Lukas juga akan mempersembahkan Kisah Para Rasul kepada Teofilus.
• 5. Di masa Herodes. Herodes ini adalah ayah dari raja Herodes yang
dicatat dalam 3:1 dan yang dikenal Yesus. Dia adalah raja terakhir
bangsa Yahudi. Ketika dia meninggal, Yudea kehilangan otonominya. Injil
ini berawal dari dalam Kenisah dan berakhir di dalam Kenisah. Buku
pertama dari Lukas ini mengambil latar yang semata-mata hanya budaya
Yahudi. Baru dalam buku keduanya, Kisah Para Rasul, kita menemukan
perluasan Injil kepada semua bangsa. Karya Allah dimulai dengan kaum
beriman yang sederhana, dan ada banyak di Israel yang di dalam Mazmur
disebut “kaum miskin Yahweh”.
Di antara orang-orang Yahudi, ada beberapa keluarga imam yang disebut
keturunan Harun. Semua laki-laki dari keluarga ini adalah imam dari
generasi ke generasi. Di waktu-waktu tertentu mereka mempunyai
privilese dan kewajiban untuk memenuhi tugas-tugas keimaman dalam
kenisah Yerusalem, tetapi di waktu yang lain mereka bekerja di kota dan
desa sebagai warga negara biasa.
Elisabet tidak dapat mempunyai anak (ay. 7). Sebagaimana yang terjadi
pada Sara, Ribka dan Rakhel (leluhur yang terkenal dari bangsa Yahudi),
dan Hana (ibu dari nabi Samuel), hal ini terjadi supaya kebaikan dan
kuasa Allah yang diperlihatkan kepada orang kecil dan terpinggirkan
menjadi semakin kentara (1Sam 1).
Doamu telah didengarkan (ay. 13). Zakharia ingin memiliki seorang
putra, tetapi sudah kehilangan harapannya. Namun demikian, di dalam
kenisah ia berdoa memohon agar Allah menganugerahkan keselamatan kepada
umatnya, dan ia dijanjikan baik keselamatan maupun seorang putra.
Ia tak akan pernah minum anggur (ay. 15). Di Israel banyak orang
mempersembahkan diri mereka kepada Allah dengan cara ini: mereka tidak
memotong rambut atau meminum minuman keras, dan menarik diri dari dunia
untuk sementara waktu (Bil 6). Mereka disebut orang-orang Nazir.
Putra Zakharia harus menjadi seorang Nazir sejak dari kandungan ibunya
sampai kematiannya, sebagaimana halnya Simson (Hak 13: 5). Orang yang
akan dikenal sebagai Yohanes Pembaptis menerima tugas untuk mewartakan
pertobatan,
dan
hidupnya
sendiri
harus
menjadi
suatu
teladan
kesederhanaan (Mrk 1:6). Dengan cara ini ia bertolak belakang dengan
Yesus yang, meskipun berpuasa di padang gurun untuk jangka waktu yang
sangat lama, hidup seperti kebanyakan orang dan tidak menuntut puasa
khusus dari para murid-Nya (Luk 7:33-34).
Kemudian malaikat menyatakan akan menjadi siapakah Yohanes, putra
Zakharia ini: Ia akan berjalan dalam roh dan kuasa Elia (ay. 17). Di
dalam Kitab Suci kita melihat bahwa sesudah Elia menghilang, karena
telah diangkat ke surga dalam kereta yang bernyala (2Raj 2:11), jemaat
kaum beriman terus bertanya-tanya tentang makna dari kejadian yang luar
biasa itu. Mereka bahkan berpikir, sebagaimana Elia telah berkarya
selama masa krisis keagamaan untuk mengembalikan umatnya kepada iman,
demikianlah ia akan kembali dari surga sebelum kedatangan Mesias untuk
memulihkan kesetiaan umatnya.
Teks di sini mengacu kepada harapan Israel: orang tidak boleh berpikir
bahwa Elia akan kembali dari surga secara jasmaniah seperti yang
diisyaratkan oleh Maleakhi (3:23). Teks justru mengatakan bahwa Yohanes
Pembaptis harus berkarya dengan roh Elia untuk memperoleh pendamaian
bagi semua orang, lewat keadilan dan kesetiaan kepada hukum Allah.
Demikianlah, di suatu sudut dunia yang terpencil, Kabar Baik dimulai
dengan pasangan yang renta dan mandul, karena tak suatu pun yang
mustahil bagi Allah.
PERAWAN MARIA
• 26. Dua bab pertama dari Injil ini, seperti permulaan Injil Matius,
memuat kisah kelahiran Yesus. Akan tetapi semangat dalam kedua Injil
ini sama sekali berbeda. Matius tanpa ragu-ragu mempergunakan ceritacerita saleh yang belum terbukti keasliannya, tetapi merupakan tradisi
“cerita kelahiran para kudus” yang beredar di kalangan Yahudi dan ia
mempergunakannya untuk memperlihatkan misi yang akan diemban Yesus.
Lukas juga menyajikan kisah yang pada tempat pertama bersifat teologis
tetapi didasarkan atas fakta. Dalam menulis kisah ini ia mempergunakan
dokumen yang sangat tua yang dikenal di kalangan jemaat-jemaat Kristen
Palestina. Kita menemukan tujuh adegan dalam dua bab pertama:
– Pemberitaan tentang Yohanes, pemberitaan tentang Yesus;
– Kunjungan Maria kepada Elisabet
– Kelahiran Yohanes
– Kelahiran Yesus
– Yesus Dipersembahkan dalam Kenisah
– Yesus Ditemukan dalam Kenisah
Kisah pemberitaan tentang dikandungnya Yesus oleh Maria menandai
perbedaannya dengan Yohanes dalam hal pribadi dan misi.
Betapa Allah menghormati manusia! Ia tidak menyelamatkan mereka tanpa
persetujuan mereka. Sang Juruselamat dinantikan dan disambut oleh
seorang ibu: seorang gadis muda menerima menjadi hamba Tuhan dan bunda
Allah.
Nama perawan itu Maria (ay. 27). Lukas mempergunakan kata perawan.
Mengapa ia tidak mempergunakan seorang gadis muda atau seorang
perempuan? Hanya karena ia mengacu kepada kata-kata para nabi yang
menyatakan bahwa Allah akan diterima oleh perawan Israel. Selama
berabad-abad Allah telah bersabar terhadap ribuan ketidaksetiaan umatNya, dan telah mengampuni dosa-dosa mereka. Di saat kedatangan-Nya,
Sang Juruselamat harus disambut oleh suatu umat yang “perawan”, yaitu
suatu umat yang sepenuhnya dipersembahkan kepada-Nya. Di masa Yesus
banyak orang menyimpulkan bahwa Mesias akan dilahirkan dari seorang ibu
perawan ketika mereka membaca nubuat Yesaya 7:14. Maka sekarang Injil
berkata, Maria adalah Sang Perawan.
Dia yang dari semula dipilih oleh Allah untuk menyambut putra tunggalNya melalui laku iman yang sempurna, haruslah seorang perawan. Dia,
yang harus memberi Yesus darahnya, sifat-sifat bawaan, watak dan
pendidikan awalnya, haruslah bertumbuh di bawah naungan Yang Mahakuasa
bagaikan sekuntum bunga rahasia yang tidak menjadi milik siapa pun,
yang telah menjadikan seluruh hidupnya suatu persembahan bagi Allah.
Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? (ay. 34). Malaikat itu berkata
bahwa bayi itu akan dilahirkan dari Maria tanpa intervensi Yusuf.
Seorang yang harus dilahirkan Maria dalam kurun waktu sama dengan Dia
yang berada di dalam Allah sebelum adanya waktu, yang dilahirkan dari
Allah, Putra Bapa (lih. Yoh 1:1).
Kuasa Yang Mahatinggi akan menaungimu. Kitab-kitab Suci berbicara
tentang awan atau bayang-bayang yang memenuhi kenisah (1Raj 8:10)
sebagai tanda kehadiran ilahi atas kota suci, demi melindunginya (Sir
24:4).
Dengan mempergunakan gambaran ini Injil menyampaikan bahwa Maria
menjadi tempat tinggal Allah; melaluinya Allah mengerjakan misterimisteri-Nya. Roh Kudus datang, bukan pertama-tama ke atas Putra, tetapi
ke atas Maria sehingga dia boleh mengandung lewat kuasa Roh, karena
intervensi manusia sudah ditiadakan. Dikandungnya Yesus di dalam Maria
adalah akibat dan ekspresi biologis dari penyerahan dirinya yang total
kepada Sabda Bapa yang unik dan abadi.
Dengan demikian, maka persekutuan antara Allah dan manusia pada
akhirnya terwujud. Persekutuan ini bukanlah “karya” Yesus semata-mata,
melainkan Ia sendiri merupakan Persekutuan Abadi itu. Seorang anak yang
dilahirkan ke dalam suatu keluarga menjadi milik sepenuhnya dari
keluarga bapanya dan keluarga ibunya, dialah persekutuan antara dua
keluarga yang sampai saat itu merupakan orang asing satu sama lain.
Maka Yesus yang dilahirkan dari Bapa dan Maria, merupakan persekutuan
antara Allah dan keluarga manusia, dan di sinilah iman akan Gereja
berakar: Yesus sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia.
Sebelum
malaikat
datang,
apakah
Maria
telah
berpikir
untuk
mempersembahkan keperawanannya kepada Allah? Injil tidak memberikan
petunjuk menyangkut hal ini selain kata-kata Maria: Aku tidak mengenal
seorang laki-laki. Hendaklah kita ingat bahwa Maria mau dinikahkan dan
telah
dipertunangkan
dengan
Yusuf,
dan
menurut
hukum
Yahudi,
pertunangan memberikan hak-hak perkawinan (Mat 1:20). Dapat saja
terjadi bahwa pertanyaan ini hanyalah dimaksudkan untuk mengundang
tanggapan dari malaikat mengenai campur tangan Roh. Seluruh teks
menjadi transparan jika diandaikan Maria telah mempersembahkan seluruh
dirinya melulu bagi Allah.
“Mariatetapperawan”
mengukuhkan
tradisi
Kristiani
yang
selalu
mengembangkan pernyataan-pernyataan alkitabiahnya. Akan halnya Maria
yang telah berpikir tentang hidup sebagai perawan sebelum kunjungan
malaikat, ini merupakan persoalan lain. Keputusan seperti ini merupakan
sesuatu yang tidak lazim dalam mentalitas Yahudi, tetapi adalah juga
kenyataan yang pasti bahwa Injil menjadi hidup dengan keputusankeputusan yang baru dan mengejutkan. Keputusan yang tidak lazim ini,
yang lahir dari hubungan yang tidak lazim dengan Allah tidak
mengejutkan bagi mereka yang mempunyai pengalaman batiniah dengan Roh.
KABAR MALAIKAT KEPADA MARIA
Hanya Maria yang dapat menyingkapkan misteri dikandungnya Yesus kepada
Gereja purba. Bagaimana ia dapat mengungkapkan pengalaman batiniah
semacam itu dan bagaimana itu disampaikan?
Karena itu, di dalam menulis, Lukas harus mempergunakan kata-kata dan
ungkapan alkitabiah yang memungkinkan kita mengerti perjumpaan penuh
misteri antara Maria dengan Allah.
Malaikat Gabriel (ay. 26). Bagi orang Yahudi Gabriel adalah nama
malaikat dari jenjang tertinggi yang muncul dalam Kitab Daniel untuk
memaklumkan saat keselamatan (Dan 8:16) dan (9:21). Demikianlah, dalam
berbicara tentang Gabriel, Injil menyiratkan suatu pemahaman bahwa bagi
Maria segala sesuatu mulai dengan kepastian bahwa inilah saat di mana
nasib seluruh dunia ditentukan.
Bersukacitalah. Inilah cara yang menyenangkan yang dipakai para nabi
untuk menyampaikan amanat kepada putri Sion, yaitu jemaat orang yang
rendah hati, yang menantikan kedatangan Juruselamat (Zef 3:14; Zak
9:9).
Penuh rahmat (ay. 28). Kata yang dipergunakan dalam Injil ini
mempunyai makna khusus: yang terkasih dan yang paling disukai. Orang
lain telah dikasihi, dipilih dan menjadi orang yang paling disukai,
tetapi dalam hal ini semua atribut ini menjadi nama Maria.
Ia menjadi bingung oleh kata-kata ini. Teks tidak berbicara tentang
ketakutan seperti yang terjadi pada Zakharia (1:12). Sejak saat pertama
semangat Maria bangkit, ia sadar akan kehadiran Allah yang mengilhami
setiap keputusannya, dan dengan demikian wahyu ilahi tidak menimbulkan
ketakutan dalam dirinya. Kata-kata ilahi yang menyatakan kepadanya
panggilan unik, merisaukan dia.
Engkau akan mengandung (ay. 13). Di sini Injil mempergunakan beberapa
teks Kitab Suci, yang beberapa dari antaranya menubuatkan tentang masa
depan seorang bayi, dan sebagiannya lagi merupakan ayat-ayat di mana
Allah mempercayakan suatu misi. Lihat Kej 16:1; Kel 3:11; Hak 6:11.
Kita telah menyebutkan nubuat Yesaya (7:14) yang memaklumkan dia yang
akan menjadi Imanuel yang berarti Allah-berserta-kita. Maria akan
memberinya nama Yesus yang berarti Juruselamat.
Ia akan memerintah atas bangsa Yakub selama-lamanya (yaitu bangsa
Israel). Ini merupakan suatu ungkapan yang mau mengatakan bahwa Yesus
adalah Juruselamat, putra Daud, yang dimaklumkan oleh para nabi: 2Sam
7:16; Yes 9:6.
Ia akan menjadi besar (ay. 32), tetapi tidak seperti Yohanes Pembaptis
menjadi besar di hadapan Allah, karena Yohanes hanyalah manusia biasa
(1:15). Yesus harus menjadi putra Yang Mahatinggi, dan putra Daud:
kedua gelar ini menunjuk pada Mesias atau Juruselamat yang dinantinantikan (2Sam 7:14; Mzm 2:7). Lihat juga Rom 1:3-4. Inilah sebabnya
mengapa dinyatakan dengan jelas bahwa Yusuf berasal dari keluarga Daud;
lihat komentar tentang Matius 1:20.
HAMBA TUHAN
Aku ini hamba Tuhan (ay. 38). Ketika mengatakan hal ini, Maria tidak
merendahkan dirinya dengan kerendahan hati yang palsu; sebaliknya ia
menyatakan imannya dan penyerahan dirinya. Darinya akan lahir seorang
yang akan menjadi hamba yang dimaklumkan oleh para nabi (Yes
42:1;50:4;52:13) dan Putra Tunggal (Ibr 1).
Banyak orang keliru dengan kata “hamba” dalam arti bahwa mereka
memandang Allah yang mahakuasa sebagai ‘seorang’ yang mempergunakan
hamba-hamba untuk kepentingan pribadi-Nya tanpa menyisihkan waktu untuk
memperhatikan dan mencintai mereka. Bagi mereka, Allah akan kehilangan
kebesaran-Nya jika ia memberikan Maria tanggung jawab yang otentik
dalam inkarnasi Putra-Nya.
Ini persis bertentangan dengan semangat Alkitab. Allah mengasihi umat
yang dikehendaki-Nya, agar Dia yang adalah Allah dapat mengalami persahabatan yang manusiawi (Ul 4:7; Ams 8:31). Allah tidak membutuhkan
seorang perempuan untuk mengambil rupa seorang manusia, tetapi ia ingin
Putra-Nya mempunyai seorang ibu; dan bagi Maria untuk benar-benar
menjadi sang ibu, perlu kiranya bagi Allah untuk memperhatikan dia
dengan kasih yang lebih besar daripada kasih-Nya terhadap ciptaan yang
lain. Dengan demikian Maria disebut penuh rahmat.
Rahmat adalah sebutan kita untuk kuasa yang dimiliki Allah untuk
menyembuhkan roh kita, untuk menanamkan dalam diri kita sikap untuk
percaya, dan untuk membuat kita menggemakan kembali kebenaran ini
sehingga ungkapan kasih sejati datang dari kita secara spontan. Apa
yang kita sebut rahmat adalah ‘benih’ yang datang dari Allah yang hidup
agar bertumbuh dan mekar di bumi ini: Yes 45:8; Mzm 85:11.
Maria sungguh-sungguh penuh rahmat karena Yesus dilahirkan dari
padanya sama seperti Ia sendiri dilahirkan dari Bapa. Itulah sebabnya
mengapa Gereja percaya bahwa Maria mempunyai peranan yang unik dalam
karya keselamatan. Dialah keajaiban yang dicapai Allah pada permulaan
transformasi umat manusia menjadi citra-Nya.
UMAT YANG RENDAH HATI
• 39. Pesan malaikat tidak meninggalkan Maria sendirian dengan
masalahnya. Malaikat berbicara tentang sepupunya yang sudah tua,
Elisabet. Bersama dia Maria membagi kegembiraan dan rahasianya. Maria,
cukup muda pada waktu itu (sekitar lima belas tahun), akan belajar dari
sepupunya tentang banyak hal yang tidak dapat disampaikan Yusuf
kepadanya. Apa yang telah dinubuatkan kepada Zakharia sekarang akan
terpenuhi: “Putramu akan dipenuhi dengan Roh Kudus semenjak dalam
kandungan ibunya.”
Yang paling penting dalam sejarah bukanlah sesuatu yang luar biasa.
Injil lebih suka menarik perhatian kita kepada kejadian-kejadian kecil
tetapi penuh hidup.
Beberapa tahun kemudian, kelompok-kelompok orang Yahudi datang kepada
Yohanes Pembaptis sambil mencari Sabda Allah. Tak seorang pun yang
bertanya-tanya tentang bagaimana ia menerima Roh Allah, dan tak seorang
pun yang tahu bahwa seorang gadis yang rendah hati, Maria, mulai melaksanakan rencana Allah pada hari perkunjungan itu.
Terberkatilah engkau yang percaya! (ay. 45). Yang penting bukanlah
bahwa Maria menjadi ibu Yesus dalam daging, dan ini akan diulang
kembali oleh Yesus (11:27).
Maria, yang telah menjadi Kenisah Allah mengkomunikasikan Roh – Roh
Yesus.
Tentang kidung Maria. Maria, yang sama sekali tidak menonjol dalam
Injil, karena tidak mempunyai bagian dalam pelayanan Yesus, adalah
orang yang memaklumkan revolusi sejarah yang dimulai dengan kedatangan
Juruselamat.
Ia memaklumkan:
– belas kasih Allah yang selalu memenuhi janjinya,
– perubahan yang harus terjadi dalam diri manusia.
Inilah yang dikatakan oleh Martin Luther King, pembebas orang-orang
kulit hitam: “Meskipun banyak orang sering melihat Gereja sebagai
kekuasaan yang menentang setiap perubahan, namun sesungguhnya Gereja
menyimpan suatu cita-cita yang sangat kuat untuk mendorong umatnya ke
puncak-puncak gunung dan membuka mata mereka terhadap nasib mereka
sendiri. Dari tempat-tempat panas di Afrika hingga pemukiman orang
kulit hitam di Alabama, saya telah melihat laki-laki dan perempuan
bangkit dan melepaskan belenggu mereka. Mereka baru saja menemukan
bahwa mereka adalah anak-anak Allah, dan sebagai anak-anak Allah mereka
tak mungkin diperbudak.”
Nyanyian Maria juga mengungkapkan perasaan terdalam dari jiwa
Kristiani. Ada waktu kita mencari kebenaran, untuk menemukan apa yang
menjadi tugas utama kita dan menjadi benar-benar manusiawi. Ada pula
waktu untuk meminta dari Tuhan dan melayani Tuhan. Lama-kelamaan kita
akhirnya mengerti bahwa kasih ilahi mencari yang lebih miskin dan lebih
lemah untuk diisi dan menjadikannya besar. Kemudian satu-satunya doa
kita adalah ucapan syukur kepada Allah atas pengertian-Nya dan rencanarencana-Nya yang penuh kasih sayang.
• 57. Apa itu sunat? (lihat Kej 17).
Anak itu tinggal di padang gurun (ay. 80), yaitu padang gurun Yudea
dekat Laut Mati, di mana hidup jemaat-jemaat yang besar, satu di
antaranya yang terkenal adalah jemaat Qumran. Jemaat-jemaat ini yang
disebut orang-orang Eseni, membaktikan hidupnya dalam doa dan renungan
Kitab Suci. Dan mengambil bagian dalam pendidikan anak-anak.
• 2.1 Kaisar menerbitkan dekrit. Orang-orang Yahudi membentuk suatu
bangsa kecil di bawah pemerintahan kekaisaran Roma, yang meliputi
bermacam-macam suku bangsa. Kecermatan data yang diberikan oleh Lukas
menimbulkan suatu kesulitan karena Quirinus dilantik menjadi gubernur
Siria dalam tahun 6 Masehi dan Yesus berusia 12 tahun pada waktu itu.
Beberapa penjelasan telah dikemukakan, tetapi sangat mungkin Lukas mempergunakan catatan peristiwa yang keliru, seperti juga kentara dalam
Kis 5:36. Lukas khilaf sebagai sejarawan tetapi bukan sebagai saksi
keselamatan.
Karena sensus ini Yusuf dan Maria harus meninggalkan kampung Nazaret
ketika bayi mereka mau dilahirkan. Yusuf, seorang keturunan Daud, pasti
mempunyai sanak keluarga di Betlehem, kota Daud dan kota keluarganya.
Yesus mungkin saja telah dilahirkan di rumah salah seorang sanak
keluarganya.
Bukit kapur di atas mana kota Betlehem dibangun mempunyai banyak
sekali gua-gua alam yang dipergunakan sebagai tempat tinggal oleh
orang-orang yang kurang mampu. Gua di mana Yesus dilahirkan terdiri
atas dua ruang yang dipisahkan oleh formasi karang. Ruangan yang paling
dalam mungkin dipergunakan sebagai kandang. Karena tidak ada cukup
kamar dan privasi dalam ruang keluarga, Yusuf dan Maria tinggal di
ruang yang diperuntukkan bagi binatang.
Dengan demikian, sebagaimana diramalkan oleh Bapa, Yesus akan dididik
dalam suatu rumah sejati, di mana pekerjaan dan roti tidak akan pernah
habis. Di saat kelahiran-Nya, sebagaimana juga di saat wafat-Nya, Yesus
mewakili kelompok yang paling ditinggalkan.
Ia melahirkan anak sulungnya (ay. 7). Istilah ini dipakai untuk
menunjuk anak tunggal, untuk menekankan bahwa anak sulung ini
dipersembahkan kepada Allah (Kel 13:1). Lihat juga Rm 8:29; Kol.1:15.
Dalam Liturgi Natal terdengar nyanyian: “Berbahagialah Bunda Allah!
Hari ini engkau melahirkan Juruselamat sepanjang zaman, dan sekalipun
melahirkan, engkau tetap perawan.” Sesungguhnya Allah tidak terlalu
besar bagi Maria: “Dari tempat tinggi Ia melihat orang yang sombong,
tetapi Ia menjadi lemah bersama orang yang rendah hati.”
• 8. Setelah manusia melewati semua tahapan pembentukan religius yang
penting, Allah mengutus putra-Nya ke atas dunia untuk memperkenalkan
agama yang benar. Sekarang malaikat memaklumkan damai dan kemurahan
bagi umat manusia. Lihat betapa Allah mengasihi kita! Biarkanlah dirimu
ditangkap dalam kasih-Nya! Mengapa terus merasa takut? Apakah kamu
telah mengerti bahwa Allah menjadi seorang anak dan bahwa mulai
sekarang dan seterusnya Ia akan tinggal di antara kita sebagai seorang
anak yang tanpa suara dan tak berdaya?
Hendaklah ini menjadi tanda bagimu (ay. 12.) Mereka akan mengenal
Allah yang menjadi miskin bagi kita agar Ia dapat mengkomunikasikan kekayaan-Nya kepada kita.
Mereka kembali sambil memuliakan Allah (ay. 20). Ketika dunia berada
dalam kegelapan, beberapa orang gembala melihat Allah. Mengapa mereka
dipanggil ke palungan? Allah suka menyatakan diri-Nya kepada orang
miskin, dan Maria dan Yusuf merasa senang dapat membagikan bersama mereka, kecuali rahasia yang mereka pegang.
Dengan kelahiran Yesus mulailah zaman baru (zaman terakhir seperti
yang dikatakan oleh para rasul). Dalam zaman ini, di satu pihak, umat
manusia berharap akan keselamatan dunia, tetapi di lain pihak mereka
telah menikmati keselamatan itu. Para gembala adalah model bagi mereka
yang mengkhususkan dirinya bagi kontemplasi. Dengan mengikuti mereka,
Gereja tak akan pernah terlibat secara total dalam karya-karya
karitatif atau pembangunan masyarakat, tetapi sebaliknya, dengan
semangatnya yang paling murni, akan terus memandang Kristus yang
tinggal di tengah umat-Nya, sambil mengucap syukur dan bersukacita di
dalam Allah.
• 19. Maria menyimpan semua pesan ini (ay. 19), karena setiap kejadian
dalam hidupnya baginya merupakan cara Allah menyatakan rencana-Nya
kepadanya, dan terlebih lagi sekarang ketika ia hidup bersama Yesus. Ia
penuh dengan pertanyaan dan keheranan tetapi tidak pernah bingung,
karena imannya tak pernah goyah. Namun demikian, ia pun harus menemukan
cara-cara keselamatan secara perlahan-lahan dan penuh penderitaan. Ia
mere-nungi hal-hal ini sampai saat kebangkitan dan Pentakosta ketika
semua kata-kata dan perbuatan Yesus menjadi jelas.
• 22. Maria dan Yusuf pergi ke Kenisah untuk memenuhi tata cara
keagamaan menurut agama Yahudi (Im.12:8). Yesus sebagai anak laki-laki
sulung, harus dipersembahkan kepada Allah (Kel 13:1).
Simeon dan Hana seperti Maria dan Yusuf termasuk “sisa kecil Israel”.
Minoritas umat Allah ini menghayati iman mereka dalam kerendahan hati
dan kesetiaan kepada ajaran para nabi: Allah tahu bagaimana harus
memperkenalkan diri-Nya kepada mereka.
Apa arti pedang yang akan menembus jiwa Maria? Pedang menunjuk pada
penderitaan Maria ketika melihat Putranya mati di salib. Pedang juga
berarti bahwa Maria akan menderita karena ia tidak selamanya mengerti
apa yang dilakukan Putranya. Kasih mendalam satu terhadap yang lain
tidak dapat menghilangkan kemungkinan kedua belah pihak untuk tetap
merupakan misteri satu sama lain, dan ini tentu saja lebih berlaku
untuk Allah daripada untuk manusia. Allah tidak memperhatikan kesetiaan
kita dari surga, tetapi mencari kita (ia menguji kita dalam arti
meminta kita menyatakan diri kita). Kasih Bapa akan menjadi salib Maria
maupun bagi Yesus.
Kristus adalah terang Allah yang menerangi umat, tetapi yang kadangkadang juga membutakan dan membingungkan mereka. Dialah tanda yang
ditentang, tetapi ini merupakan misteri, mereka yang menentang Dia
tidak selamanya yang paling jelek. Ada juga orang-orang yang percaya
kepada Kristus, tetapi tidak mengikuti Dia. Karena tidak sanggup
melihat terang-Nya mereka tidak tahu bahwa cahaya itu menghukum mereka.
Ada juga orang-orang baik yang tidak percaya karena Allah menghendaki
agar mereka mencari terang sepanjang hidup mereka.
NAZARET – MENCAPAI KEBEBASAN
• 41. Selama masa hidup-Nya di Nazaret Yesus menghayati hidup
sebagaimana kebanyakan anak-anak dan remaja pada masa-Nya. Ia tidak
menerima pendidikan khusus. Ia juga tidak memperlihatkan bakat-bakat
istimewa, selain kemampuan mengambil keputusan yang tepat untuk meniki
dan mengevaluasi segala sesuatu menurut kriteria Allah.
Yusuf menurunkan kepada-Nya iman Israel; komunitas Nazaret, betapapun
tak berartinya, telah menjadikan Dia seorang Yahudi yang menghayati
iman-Nya, yang tunduk kepada Hukum. Apa kiranya yang menjadi pengalaman
yang mendalam dari Yesus, bagaimana Putra Allah menempatkan diri-Nya di
tengah dunia manusia, langkah demi langkah, sebagaimana yang dialamiNya? Lukas telah memberi kita hanya satu contoh yang begitu berarti baginya dan bagi Maria sendiri.
Pada umur dua belas tahun seorang remaja harus menjalankan kewajibankewajiban agama, di antaranya ziarah ke Yerusalem untuk merayakan harihari besar. Di sana para guru hukum yang duduk di pelataran Kenisah
biasa mengajar kelompok-kelompok peziarah dan berdialog dengan mereka.
Pada kesempatan inilah untuk pertama kalinya Yesus membuat cemas
rombongan-Nya. Mengapa kaulakukan hal ini? Injil menggarisbawahi
ketidakmengertian ini: Maria mengecam Yesus dan Yesus mengecam
orangtua-Nya. Lalu Injil menegaskan bahwa Yesus memiliki kesadaran
tentang hubungan-Nya yang istimewa dengan Bapa dan kesiapan-Nya yang
total bagi misi-Nya. Jika penemuan di Kenisah, jantung seluruh bangsa,
pusat agama Israel, membangkitkan perasaan baru di dalam diri-Nya, maka
Ia dapat meminta izin atau memberi tahu orangtua-Nya lebih dulu.
Bagaimana Ia bisa tinggal selama dua hari tanpa berpikir bahwa
orangtua-Nya akan cemas mencari Dia. Ia pasti sudah berpikir bahwa penderitaan ini perlu dialami lalu menaklukkan kebebasan-Nya secara
radikal sebelum Ia kembali ke rumah bersama orangtua-Nya. Yesus harus
mengalami seluruh kehidupan manusia, kecuali dosa; dengan cara-Nya
sendiri Ia melewati seluruh tahapan perkembangan psikologis. Dari pada
berbicara tentang anak yang hilang, lebih tepat mengatakan bahwa Yesus
yang masih remaja menemukan diri-Nya.
Mungkin agak aneh bahwa Maria tidak ingat untuk suatu saat memberi
tahu Yesus tentang asal usul-Nya dan siapakah Yusuf bagi diri-Nya.
Kalau kita pertahankan kisah ini, maka Yesus yang mengambil inisiatif
mengajari Yusuf dan Maria dan menyampaikan kepada mereka siapa diri-Nya
sebenarnya, Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku.
Mereka tidak mengerti jawaban itu (ay. 50). Maria telah mendengar
pesan pemberitaan oleh malaikat Gabriel dan tahu bahwa Yesus adalah
Putra Allah. Ia pasti tidak pernah berpikir bahwa menjadi Putra Allah
berarti berperilaku seperti yang baru dilakukan Yesus. Atas cara yang
sama Allah sering kali membingungkan kita meskipun kita tahu dengan
pasti apa yang dikehendaki-Nya.
• 52. Lukas tidak menyebut apa-apa lagi tentang kehidupan Yesus di
Nazaret sampai Ia mencapai usia tiga puluh tahun, ketika ia mulai
berkhotbah. Yesus menjalani magang tukang kayu pada Yusuf, dan sesudah
kematian Yusuf menjadi tukang kayu di Nazaret. Yusuf pasti telah
meninggal sebelum Yesus tampil di depan umum, sebab kalau tidak maka
ketika Yesus meninggalkan rumah, Maria mestinya tinggal bersama Yusuf
(lih. Mrk 3:31). Putra Maria adalah seorang manusia di tengah
masyarakat sebab kemudian jemaat Kristiani di Nazaret menyimpan mebel
yang dibuat oleh tukang kayu yang adalah Putra Allah itu.
Terlalu sering kita membaca Injil sebagai “riwayat hidup Yesus” dan
kaget ketika menemukan bahwa hampir tidak ada data sama sekali tentang
tiga puluh tahun hidupnya di Nazaret. Kita lupa bahwa Injil yang
tertulis pertama-tama dimaksudkan untuk menyusun katekese dengan
tindakan dan kata-kata Yesus, dan bukan rekonstruksi atas seluruh
hidup-Nya.
• 3.1 Lukas menyajikan bagi kita fakta yang menyanggupkan kita
menempatkan Yesus di dalam sejarah. Tanggalnya adalah tahun 27 sesudah
Kristus dan Yesus kurang lebih berusia tiga puluh atau tiga puluh lima
tahun. Bangsa Yahudi telah kehilangan otonominya, dan negeri mereka
terbagi menjadi empat propinsi kecil. Herodes dan Filipus, yaitu anakanak Herodes yang disebut pada waktu kelahiran Yesus (lihat Mat 2:1)
memerintah atas dua dari keempat propinsi ini.
Pembaca yang tertarik dengan komentar kronologis dapat juga membaca
Yohanes 2:20.
Dalam dua bab pertama Lukas telah memperlihatkan kepada kita betapa
Putra Allah memasukkan diri-Nya ke dalam kemanusiaan kita. Sebagaimana
dikatakan Paulus dalam suratnya kepada umat di Galatia, Ia “dilahirkan
dari seorang perempuan dan tunduk kepada Hukum” (Gal 4:4) yang berarti
Ia harus dibentuk oleh suatu kebudayaan, ditandai dengan ciri-ciri khas
zaman-Nya, dan dibatasi oleh konteks sejarah hidup-Nya. Sekarang kita
akan melihat bahwa Ia tidak memulai misi-Nya secara gegap gempita
dengan mukjizat-mukjizat yang hebat melainkan dengan cara yang sangat
sederhana memasuki suatu gerakan yang diprakarsai oleh seorang lain,
yaitu Yohanes Pembaptis.
Alinea pertama menunjukkan betapa Tanah Suci terbagi-bagi, suatu
tantangan bagi janji-janji Allah. Dalam kaitan dengan beberapa imam
agung, telah dilakukan penghinaan terhadap hukum Allah, karena imamimam agung seharusnya saling menggantikan satu sama lain, bapa kepada
anak, dan tetap bertugas sepanjang hidup mereka. Dalam situasi yang
merosot ini suatu unsur baru tampil mengguncang masyarakat: khotbah
Yohanes Pembaptis.
• 3. Dengarkanlah suara ini yang berseru-seru di padang gurun (ay. 4).
Teks yang menyusul berasal dari Yesaya (40:3). Yohanes membarui tradisi
para nabi sesudah empat abad terputus dan seperti kebanyakan dari nabi,
ia berbicara tentang pengadilan yang akan segera datang. Menghadapi
pengadilan Allah selalu saja menakutkan dan Yohanes berbicara tentang
membangun kembali rasa keadilan. Yohanes berbicara tentang hukuman yang
akan datang. Dalam ayat 7 teks berbicara secara lebih tepat-sasar:
“melarikan diri dari murka yang akan datang”. Kata-kata ini dalam
bahasa Ibrani mengacu kepada hukuman yang sudah dimaklumkan Allah yang
akan segera menghadirkan suatu penghakiman yang dahsyat dalam skala
nasional bahkan global (Luk 21:23; 1Tes 2:16) yang diakui oleh orang
beriman sebagai penghakiman Allah. Pada waktu itulah orang jahat akan
menerima hukumannya, sementara orang benar yang mengandalkan Allah akan
diselamatkan (Yes 1:24-27; Yl 3:1-5, Za 14).
Yohanes membangkitkan harapan akan seorang Juruselamat. Mudah bagi
kita untuk mengatakan bahwa Juruselamat adalah Yesus dan bahwa pengadilan Allah akan datang beberapa tahun kemudian dengan perang yang
menghancurkan bangsa Yahudi, tetapi bagi mereka yang tengah mendengarkan Yohanes sulit membayangkan siapa sebenarnya Juruselamat ini.
Kami adalah putra-putra Abraham! (ay. 8). Sama seperti para nabi,
Yohanes memberi peringatan kepada kita tentang fanatisme, entah itu
menyangkut kebangsaan entah itu menyangkut agama. Tidak cukup kiranya
berjalan di bawah bendera Allah Israel (atau Gereja) karena banyak dari
mereka yang berpura-pura membela iman atau Gereja adalah keturunan
ular. Allah menuntut keadilan dan perbaikan karena kejahatan yang telah
dilakukan.
Demikianlah kita melihat Yohanes yang berkhotbah tanpa meminta apa-apa
lebih dulu dari para pejabat agama. Orang datang dari segala penjuru
sambil mencari pengampunan. Ayat 12-14 menceritakan kepada kita bahwa
Yohanes tidak menolak seorang pun: entah pelacur entah pegawai pajak
negara Roma. Semuanya diminta membangun solidaritas. Begitu korupsi
merajalela dan visi atas Persekutuan Allah memudar, maka mereka yang
tahu tentang keterlibatan mereka di dalam kejahatan yang berdampak
terhadap
seluruh
masyarakat
mesti
menunjukkan
perilaku
positif
menyangkut uang dan penggunaannya, yang bagi semua orang akan menjadi
tanda dan panggilan kepada pertobatan. Tanda-tanda semacam itu harus
meningkat dalam komunitas-komunitas Kristiani dewasa ini dan di dalam
kelompok-kelompok yang berikhtiar memurnikan masyarakat kita.
Itulah yang memberi makna kepada pengingkaran diri yang total dari
Yohanes dan kesederhanaan hidupnya yang radikal: kita sama sekali tidak
diminta untuk meniru dia, tetapi pengorbanannya memberi bobot kepada
kata-katanya. Pemimpin agama dan kaum Farisi yang melihat diri mereka
sebagai model terus menjauh bahkan mungkin sambil menyindir (7:30 dan
33) tetapi orang-orang yang datang kepada Yohanes meminta pembaptisan.
• 15. Pembaptisan berarti ditenggelamkan ke dalam air lalu bangkit
kembali. Orang-orang Eseni di padang gurun dibaptis pada pesta-pesta
tertentu untuk memperlihatkan keinginan mereka mencapai hidup yang
lebih murni ketika Juruselamat itu datang. Yohanes, pada gilirannya,
membaptis mereka yang ingin meluruskan hidup mereka, dengan menandai
komitmen mereka dengan suatu ritus yang kelihatan.
Di sini Injil membandingkan Yohanes dengan Yesus dan pembaptisan
Yohanes dengan pembaptisan Kristiani. Kita semua telah mendengar kata-
kata seperti: karena Yesus tidak dibaptis hingga berusia tiga puluh
tahun, maka setiap orang harus dibaptis sebagai orang dewasa. Ini
merupakan argumen yang tidak berguna karena kita tidak mempersoalkan
dua pembaptisan yang sama dan tuntutan-tuntutan pun berbeda.
Pembaptisan di dalam air... pembaptisan di dalam api (ay. 16): ini
mengacu kepada pengalaman sehari-hari. Kita membersihkan noda pakaian
di dalam air, tetapi pakaian yang telah dicuci tidak sama dengan
pakaian yang baru. Di samping itu noda-noda pun tetap ada. Lain halnya
dengan api. Api memurnikan logam-logam yang karat, sehingga muncullah
logam yang berkilauan seperti baru dari tempat peleburan. Lagi pula,
api dapat membakar habis karat sekaligus dengan barangnya.
Yohanes membaptis mereka yang ingin meluruskan hidup mereka dengan
air. Bagi mereka, pembaptisan merupakan cara menyatakan di depan publik
keputusan dan janji mereka. Pernyataan seperti itu sama rapuhnya
seperti komitmen apa pun yang dilakukan manusia dan tidak cukup untuk
mencabut akar kejahatan dari hati kita.
Yesus, sebaliknya, meminta agar para rasul membaptis mereka yang
memasuki Gereja. Baru pada waktu itulah Allah memberikan Roh-Nya yang
mengubah manusia dari dalam.
Yohanes tidak membaptis anak-anak (atau perempuan). Karena pembaptisan
Kristiani menimba kekuatannya, bukan dari komitmen penerima baptisan,
tetapi dari anugerah Allah yang menjadikan kita anak-anak-Nya, maka
kita dapat membaptis anak-anak seperti yang dilakukan orang-orang
Kristen awal. Mereka dapat saja menerima anugerah Allah, asalkan
keluarga mereka dan komunitas kristiani menerima tanggung jawab atas
pertumbuhan mereka di dalam iman.
• 21. Yesus tidak membutuhkan pertobatan atau permandian Yohanes.
Karena Ia adalah Penebus, Ia ingin bergabung dengan para pendosa yang
mencari jalan memperoleh pengampunan. Dengan menerima permandian
Yohanes, Yesus mengukuhkan permandian sebagai cara yang benar untuk
mencari keadilan dan memperbarui hidup
Sudah berabad-abad tidak ada nabi lagi. Allah rupanya diam dan orangorang Yahudi sering berkata bahwa “surga sudah tertutup”. Sekarang
Allah kembali berbicara dan Yesus mengambil tempat para nabi. Surga
terbuka berarti Yesus menerima suatu wahyu ilahi (lihat Yeh 1:1 dan Why
4:1).
Engkaulah Putra-Ku (ay. 22). Siapa yang melihat dan mendengar suara
itu tidak jelas dalam Injil (Mat 3:16; Mrk 1:10; Yoh 1:32). Dengan mempelajari teks-teks ini kita bisa sampai kepada kesimpulan berikut:
Yesus memperoleh suatu wahyu dari Allah yang juga dialami Yohanes.
Mengapa ada penyataan semacam ini? Apakah Yesus perlu mengetahui bahwa
Ia Putra Allah?
Hendaklah kita jangan lupa bahwa frase putra Allah dapat dimengerti
dengan berbagai cara. Di masa sebelum Yesus, raja Israel disebut Putra
Allah. Putra Allah juga dipergunakan untuk menyebut Mesias yang
dinanti-nantikan, yang dipilih oleh Allah untuk menyelamatkan Israel.
Yesus adalah Putra Allah dalam arti Satu-satunya Putra Allah, yang
diperanakkan oleh Allah sejak perkandungan-Nya. Sejak saat itu Ia sadar
akan status-Nya sebagai Putra Allah.
Di lain pihak, hanya pada saat pembaptisan-Nya oleh Yohanes itulah
Yesus menerima panggilan dari Allah yang mengundang Dia untuk memulai
pelayanan keselamatan-Nya, dan bahwa Allah menjadikan Dia Putra-Nya
(dalam arti biblis), yaitu nabi dan raja bagi umat-Nya.
Itulah sebabnya mengapa dalam 3:22 kita membaca kata-kata Mzm 2:
“Engkaulah Putra-Ku, pada hari ini Aku telah memperanakkan engkau,”
sabda Allah yang menghadirkan Mesias kepada dunia (Dalam sejumlah
naskah kuno Luk 3:22 bunyinya sama dengan Mrk 1:11).
Karena Sabda Allah (jika benar-benar dari Allah) selalu efektif dan
menggenapi apa yang dikatakan-Nya, Yesus sekaligus menerima kepenuhan
Roh yang menguduskan para nabi dan mengerjakan mukjizat-mukjizat. Sejak
saat dikandung Yesus menikmati kepenuhan Roh yang mengikat Dia dalam
suatu hubungan unik dengan Bapa-Nya. Kini Ia menerima Roh yang
menyanggupkan Dia menjadi sang nabi dan sang hamba Bapa.
Dengan demikian, Yesus diurapi untuk memaklumkan pemerintahan Allah
dan untuk lebih dulu memanggil orang miskin (4:8). Berbeda dari begitu
banyak pembebas yang, menurut Kitab Suci, menerima Roh untuk suatu
tugas khusus, Yesus adalah benar-benar Juruselamat. Berbeda dari kita
yang selalu berpikir untuk mencari jalan keluar dari komitmen kita,
Yesus tidak akan beristirahat sampai kata-kata dan kesaksian-Nya
tentang kebenaran membawa Dia kepada kematian-Nya.
Dalam banyak halaman Injil kita melihat Yesus berurusan dengan
individu-individu. Pada bagian lain dan lebih penting Yesus dilukiskan
sebagai
juru
selamat
seluruh
umat
manusia
sama
seperti
dalam
pembaptisan ini. Alkitab menyampaikan kepada kita tentang seorang Allah
yang mencipta, mengasuh, mengajar dan membawa kepada kematangan satusatunya “Adam”, yaitu bangsa manusia sebagai suatu keseluruhan – Yesus
bukanlah Juruselamat “bangsa”, yaitu kumpulan individu, untuk memberi
mereka tiket gratis ke surga – Yesus mengangkat dengan tangan-Nya
bangsa manusia (Ibr 2:16) dan menjadikannya suatu tubuh yang kudus yang
di dalamnya Allah Bapa akan mengenal Putra tunggal-Nya.
• 23. Lukas kemudian menyajikan suatu daftar nenek moyang Yesus, yang
agak berbeda dari yang disajikan Matius (Mat 1:1). Lukas bukan saja
kembali kepada Abraham, tetapi ia juga menyajikan suatu daftar rekaan
tentang nenek moyang Abraham, terus ke belakang sampai kepada manusia
pertama, seolah-olah mau menekankan bahwa Yesus telah datang untuk
menyelamatkan seluruh umat manusia. Ia bukan hanya juru selamat orangorang Kristen: kedatangan-Nya relevan bagi seluruh sejarah dan membantu
kita mengapresiasi kontribusi para kudus dan orang-orang bijak yang
telah dipilih Allah di seluruh dunia. Di pihak lain, dari Abraham
sampai Yesus daftar nama sangat berbeda dari daftar Matius. Daftar
nenek moyang bervariasi tergantung kepada apakah seorang pengarang
memperhitungkan
orangtua
kandung
atau
orangtua
angkat,
karena
pengangkatan anak adalah hal biasa di kalangan masyarakat Yahudi.
PENCOBAAN
• 4.1 Dalam sejarah sekular, orang hanya berpartisipasi bersama dan
bertahan bersama orang lain. Sejarah suci memaparkan hal-hal dari perspektif yang lain: rencana Allah yang dinyatakan kepada manusia
terhalang oleh siasat-siasat roh jahat yang mengganggu, dan orang-orang
dipanggil untuk mengambil bagian dalam pergulatan ini yang melebihi
rencana mereka. Inilah sebabnya Yesus harus menghadapi si jahat.
Kita berbicara tentang pencobaan ketika kita merasakan adanya tekanan
dari naluri-naluri yang jahat atau ketika kita merasa ditarik untuk
melakukan kejahatan karena situasi tertentu. Yesus tidak memiliki
naluri jahat seperti kita tetapi Roh Kudus membimbing-Nya untuk dicobai
di padang gurun – ingat bahwa mencoba atau menguji mempunyai makna yang
sama – dan di sana Ia merasakan bujukan yang paling kuat dari si jahat
yang berusaha membelokkan Dia dari misi-Nya (lihat juga Mat 4:1).
Yesus, yang dipenuhi Roh Kudus, memulai pelayanan-Nya dengan mengalami
suatu ujian yang sangat berat: empat puluh hari kesendirian total dan
puasa. Dalam situasi seperti ini Yesus mengalami kerapuhan-Nya karena
Ia menghadapi suatu lompatan ke dalam yang tak diketahui: Ia baru saja
melepaskan kehidupan-Nya di Nazaret dalam penyerahan kepada kehendak
Bapa, dan memulai suatu misi yang akan membawa-Nya kepada maut beberapa
tahun kemudian.
Sang Iblis atau penuduh, berbicara kepada-Nya, demikianlah ia disebut
dalam Kitab Suci karena ia selalu mengkritik. Ia membawa kita untuk
menuduh Allah, dan setelah ia membuat kita jatuh, ia kemudian menuduh
kita dan berusaha meyakinkan kita bahwa kejatuhan kita tidak akan
diampuni Allah.
Jika engkau Putra Allah. Yesus tahu siapa diri-Nya, tetapi Ia belum
menguji
kekuasaan-Nya.
Bukankah
Dia
untuk
sesaat
saja
dapat
mengeluarkan tenaga ilahi-Nya ketika badan-Nya lemah karena lapar?
Bukankah Dia suatu waktu dapat turun dari salib untuk menyelamatkan
diri-Nya?
Yesus tidak mau melayani diri sendiri. Ia mempunyai cita-cita yang
lebih tinggi: dan karena itu Iblis membawa Dia ke tempat yang lebih
tinggi. Dengan mengenal orang-orang sebagaimana adanya, Yesus dicobai
untuk memperlihatkan diri-Nya kepada orang banyak dan memanipulasi
mereka. Ia dicobai untuk berkompromi dan mempergunakan senjata iblis
yang tidak menghormati kebenaran maupun kemerdekaan suara hati. Lebih
mudah kiranya memerintah bangsa-bangsa ‘atas nama Allah” karena iblis
memberikan mereka kepada orang yang disukainya (ay. 6).
Yesus telah memilih untuk melayani Allah saja. Iblis bertanya,
“Mengapa Engkau tidak memulai khotbah-Mu dengan sesuatu yang seru dan
heboh, seperti menjatuhkan Diri dari tempat yang tinggi ke tengahtengah orang banyak yang sedang berdoa di kenisah? – Tidakkah Engkau
percaya bahwa Allah akan mengerjakan keajaiban bagi-Mu? Saat ini Iblis
mempergunakan kata-kata Kitab Suci: di dalam membacanya, seorang dapat
berpikir bahwa dengan iman yang kuat, seorang akan selalu sehat dan
berhasil. Yesus mengingatkan kita tentang kekeliruan suatu “iman” yang
mencoba menyingkirkan salib. Yesus tidak akan menuntut mukjizat dari
Bapa-Nya untuk menghindari penderitaan karena penghinaan dan penolakan
yang merupakan nasib para utusan Allah: ini berarti menentang Allah
dengan dalih percaya kepada-Nya.
Iblis meninggalkan Dia, untuk kembali lagi pada kesempatan lain (ay.
13). Di dalam Kisah Sengsara Yesus, iblis mengalihkan kejahatan umat
kepada sang Pembebas, yang tidak dapat disesatkan. Lihat Yoh 12:31 dan
14:30.
• 14. Yesus kembali sambil ditemani beberapa pengikut Yohanes yang
lalu menjadi murid-Nya sendiri (Yoh 1:35) dan Ia mengerjakan tanda
heran-Nya yang pertama di Kana (Yoh 2:1). Mukjizat ini menandai
permulaan karya pelayanan-Nya. Dari Kapernaum, di mana Yesus tinggal
dalam rumah Simon dan Andreas, dekat danau, Yesus mulai berkhotbah
dalam sinagoga-sinagoga di Galilea (Mrk 1:35) dan kata-kata-Nya
mengesankan orang banyak karena Ia berkarya dengan kuasa Roh, dalam
arti bahwa Ia berbicara dengan penuh kewibawaan dan mukjizat-mukjizatNya memperkuat kata-kata-Nya.
Ia mulai mengajar dalam sinagoga-sinagoga (ay. 15). Yesus tidak mulai
berkhotbah kepada kerumunan yang tidak tahu apa-apa tentang Dia, melainkan selama berbulan-bulan Ia lebih dulu memperkenalkan diri-Nya
dalam sinagoga-sinagoga.
• 16. Di Israel hanya ada satu Kenisah yaitu yang di Yerusalem, di
mana imam-imam biasa mempersembahkan kurban. Namun di setiap tempat, di
mana sekurang-kurangnya sepuluh orang dapat berkumpul, ada sebuah
sinagoga. Di dalamnya pada setiap Sabat dirayakan liturgi yang dipimpin
oleh anggota jemaat. Jadi, cukup mudah untuk mengambil bagian dalam
pembacaan Kitab Suci dan komentar atas pembacaan itu. Begitulah Yesus
memperkenalkan diri-Nya dengan mengambil bagian dalam kebaktian Sabat
di dalam sinagoga-sinagoga di wilayah tempat tinggal-Nya, Galilea.
Sesudah beberapa waktu Yesus, yang sudah terkenal, melanjutkan
perjalanan ke Nazaret di mana Ia tidak diterima. Pada bagian ini Lukas
menunjukkan mengapa Yesus menarik orang banyak dan mengapa Ia ditolak,
khususnya di Nazaret.
Ia menemukan bagian di mana ada tertulis: perikop ini berasal dari Yes
61:1-2. Nabi Yesaya mengacu kepada misinya sendiri: Allah mengutus dia
kepada orang Yahudi di pembuangan untuk memaklumkan bahwa Allah akan
segera mengunjungi mereka. Namun demikian kata-kata ini kiranya lebih
cocok untuk diterapkan dalam kasus Yesus yang diutus untuk membawa
kemerdekaan sejati kepada suatu bangsa yang sedang menantikan-Nya.
Frase untuk memerdekakan yang tertindas tidak ditemukan dalam teks
Yesaya, tetapi Lukas mengambilnya dari teks yang lain dari nabi yang
sama (Yes 58:6) dan ia menyelipkannya di sini karena ungkapan
‘memerdekakan’ meringkaskan secara lebih tepat daripada kata-kata lain
intisari karya Yesus dalam seluruh misi-Nya.
Hari ini terpenuhilah kata-kata nabi ini, bahkan ketika kamu sedang
mendengarnya (ay. 22). Yesus telah datang untuk meresmikan suatu abad
baru ketika Allah hadir dan memperdamaikan umat-Nya. Setiap lima puluh
tahun Israel merayakan tahun yubileum dan pada waktu itu utang-utang
dihapuskan dan budak-budak dimerdekakan (Im 25:10). Atas cara yang sama
tahun belas kasihan dari Tuhan telah mulai. Dengan demikian masa janjijanji dan nubuat sudah berakhir. Allah mulai menunjukkan diri-Nya
kepada manusia sebagaimana adanya, Yesus menyatakan (mewahyukan) Bapa
dan Bapa menyatakan Putra-Nya melalui tanda-tanda dan mukjizat yang
dilakukan-Nya.
Ia mengutus Aku untuk memerdekakan yang tertindas (ay. 18). Yesus
membawa pemerdekaan sejati kepada setiap orang karena tindakan-tindakan-Nya mendesak setiap kita untuk hidup dalam kebenaran: “Putra
memerdekakan kamu… kebenaran akan memerdekakan kamu…” (Yoh 8:32). Tentu
saja orang-orang Yahudi pertama-tama dan terutama mencari kemerdekaan
politik, yang merupakan bagian dari pemerdekaan kemanusiaan secara
total. Mengapa Yesus tidak membawanya? Apa Ia hanya tertarik pada
“jiwa-jiwa”?
Sesungguhnya, Perjanjian Lama tidak pernah menjanjikan “penyelamatan
jiwa-jiwa” yang kini kadang-kadang mendapat perhatian dari berbagai
kelompok. Orang-orang itu berpikir bahwa mereka tengah menyelamatkan
jiwa mereka, namun tetap tenang-tenang saja bahkan buta terhadap
perbuatan dosa yang sudah merembet ke dalam kehidupan ekonomi dan
sosial.
Perjanjian Lama meramalkan bahwa Yesus akan menjadi Juruselamat bagi
umat-Nya dan bangsa-Nya. Kata-kata dan perbuatan-Nya menggugah orang
yang sudah tidak berdaya dan merintis jalan bagi pemerdekaan manusia
pada segala tingkatan, tetapi semuanya itu seperti benih yang tidak
serta merta menghasilkan buah. Yesus tidak mempunyai keinginan untuk
bergabung dengan kelompok fanatik dan menggunakan kekerasan di tengah
bangsa-Nya (seperti yang dilakukan orang-orang Roma terhadap mereka)
untuk memperoleh kedaulatan nasional. Ia sedang memberi kesaksian pada
kebenaran dan meletakkan dasar bagi semua gerakan pemerdekaan di masa
yang akan datang.
Atas cara yang sama, dewasa ini jika ada penginjilan yang benar, maka
terlihatlah tindakan-tindakan yang memerdekakan dan muncullah orangorang yang merdeka, yang sanggup memerdekakan orang lain.
Ia telah mengurapi Aku untuk membawa Kabar Baik kepada kaum miskin
(ay. 18). Lihat komentar atas Luk 6:20.
Kemudian Lukas menjelaskan mengapa orang Nazaret menolak Yesus,
Pertama, karena kesombongan mereka, kita dengan mudah terpukau oleh
seorang asing, tetapi dengan sengit kita menolak apabila salah seorang
dari kita bisa tampil sebagai seorang guru: bukankah Dia ini putra
Yusuf? Lihat komentar atas Mrk 6:1.
Kedua, karena sifat ingat diri mereka, mereka tidak setuju kalau
berkat Allah dibagi-bagi dengan orang lain. Maka Yesus mengingatkan
mereka bahwa nabi-nabi zaman dulu tidak membatasi perhatian mereka pada
orang-orang sebangsa saja (lih. 1Raj 17:7 dan 2Raj 5).
• 31. Lihat komentar atas Mrk 1:21.
• 42. Yesus adalah seorang misionaris teladan. Tidak lama sesudah Ia
mengumpulkan beberapa pengikut, mereka mau mempertahankan Dia untuk
kelompok mereka sendiri, entah karena mereka melihat di dalam diri-Nya
seorang nabi sejati, entah karena mau membentuk suatu jemaat yang benar
di bawah kepemimpinan-Nya.
Yesus, sebaliknya, menyerahkan tugas penggembalaan (dalam arti
memimpin jemaat tertentu) kepada orang lain, karena Ia masih berpikir
tentang banyak orang lain yang sedang menantikan pemberitaan Injil.
• 5.1 PARA RASUL
Yesus ingin naik ke dalam perahu Petrus, dan Petrus rela mempersilakan
Yesus naik. Yesus bahkan meminta lagi: meskipun banyak orang bersedia
membantu Dia, Ia mencari mereka yang bersedia membaktikan diri secara
total kepada pekerjaan-Nya. Para pendengar ada banyak tetapi Ia membutuhkan para rasul.
Mukjizat-mukjizat adalah cara lain Yesus mengajar. Mukjizat yang
diberitakan di sini adalah sabda Allah untuk rasul-rasul masa depan.
Turunkanlah pukatmu; pukat hampir terobek; engkau akan menangkap
manusia...
Tinggalkan aku, Tuhan, karena aku seorang berdosa (ay. 8). Itulah
ketakutan seorang yang menemukan bahwa Allah telah memasuki kehidupan
batiniahnya, inilah tindakan iman yang pertama akan keilahian Yesus.
Namun demikian Yesus memanggil para pendosa untuk menyelamatkan pendosa
lain.
Setelah meninggalkan segala sesuatu (ay. 11), mereka mengikuti Dia.
Memang tidak banyak barang yang mereka miliki, tetapi itulah seluruh
hidup mereka, pekerjaan, keluarga dan seluruh masa lampau mereka
sebagai nelayan.
Rasul berarti diutus. Kristus adalah Dia yang memilih rasul-rasul-Nya
dan mengutus mereka atas nama-Nya. Di manakah Ia akan menemukan seseorang yang harus diutus kalau bukan dari antara mereka yang mau
bekerja sama dengan Dia? Seorang mulai menjadi rasul, atau sekurangkurangnya bekerja sama dengan Kristus, apabila Dia mencari sesuatu
lebih dari hanya melakukan perbuatan baik bagi kelompok atau parokinya
saja. Seseorang dapat menjadi rasul apabila dia merasa bertanggung
jawab atas umat manusia: penjala manusia.
Di sini Lukas mungkin telah menggabungkan dua peristiwa yang berbeda:
panggilan para rasul yang secara singkat disajikan dalam Mrk 1:16 dan
penangkapan ikan yang ajaib. Yohanes juga menceritakan penangkapan ikan
yang ajaib (Yoh 21) tetapi ia menempatkannya sesudah kebangkitan. Kita
mempunyai alasan untuk berpikir bahwa kita tengah berhadapan dengan
mukjizat yang sama, tetapi bagi Yohanes rasanya lebih cocok kalau ia
menggabungkannya dengan penampakan Yesus yang bangkit kepada para rasul
yang terjadi di kemudian hari di tempat yang sama.
• 12. Lihat Komentar atas Mrk 1:40.
Bawalah persembahan bagi kesembuhanmu (ay. 14). Hukum yang sama
menuntut agar orang kusta diisolasikan (Im 13:45). Baru kalau orang
kusta itu sudah disembuhkan dan mendapat pengesahan dari para imam, ia
dapat berkumpul kembali dengan jemaatnya. Karena penyakit kusta dilihat
sebagai hukuman Allah, maka penyembuhan berarti Allah telah mengampuni
si pendosa yang harus menyatakan rasa syukurnya dengan sebuah kurban.
• 15. Ia sering menarik diri ke tempat-tempat sepi dan berdoa. Lukas
menyebut doa Yesus beberapa kali (3:21; 6:12; 9:28...) Yesus tidak menarik diri hanya untuk mendapat ketenangan, tetapi karena pada setiap
kesempatan, doa merupakan suatu kebutuhan bagi Dia.
• 17. Lihat komentar atas Mrk 2:1.
Ada banyak orang Farisi dan guru-guru Hukum. Orang-orang Farisi dan
guru-guru Hukum tidak menentang Yesus, tetapi karena mereka adalah
orang-orang yang telah menerima banyak pendidikan religius, mereka
merupakan orang-orang pertama yang mempertanyakan klaim religius Yesus,
apakah Ia hanya seorang beriman yang setia yang menghormati hukum Allah
dan sedang mempromosikan suatu sekte baru? Yesus mengambil keuntungan
dari kehadiran mereka untuk menunjukkan bahwa Ia bukan hanya seorang
murid Musa dan para nabi, tetapi Guru mereka semua.
Kita mudah mengerti mengapa guru-guru Hukum itu terperangah. Bagaimana
mungkin orang ini yang tanpa studi dan gelar, tampil menantang mereka
seolah-olah Dia seorang guru. Mereka sedang menantikan kedatangan
seorang Allah yang dapat mengukuhkan pengajaran mereka dan mengakui
jasa-jasa mereka. Yesus, sebaliknya, ada di tengah masyarakat biasa dan
tidak memberi perhatian kepada kewenangan para sarjana hukum yang menganggap remeh orang-orang kecil. Karena para guru Hukum tidak bisa
percaya, maka upaya mereka satu-satunya adalah menentang Yesus.
• 27. Lihat komentar atas Mrk 2:13.
Kejadian-kejadian yang diceritakan dalam bab ini menunjukkan betapa
Yesus menyatu dengan masyarakat dan dengan orang-orang macam apa Ia
berhubungan: dengan kelompok kecil nelayan yang akan bertanggung jawab
atas gerakan baru-Nya, dengan orang-orang kusta dan orang sakit yang
mencari Dia. Ia mengunjungi orang seperti Lewi yang termasuk dalam
kelompok yang dihina.
• 6.1 Di sini kita mempunyai dua konflik antara Yesus dan kaum
agamawan di masa-Nya menyangkut hari Sabat.
Lihat komentar atas Mrk 3:1.
Hendaklah kita ingat bahwa kata sabat berarti istirahat. Allah meminta
agar satu hari dijadikan hari suci setiap minggu, bukan pertama-tama
untuk kebaktian bersama, tetapi agar masing-masing orang dapat
beristirahat (Kel 20:10). Allah dimuliakan kalau orang-orang tidak
diperbudak demi memperoleh rezeki mereka sehari-hari lewat kerja.
Dalam episode yang pertama, Yesus tidak bersoal-jawab dengan orang
Farisi yang menganggap memetik beberapa bulir gandum dan mengucaknya di
tangan sebagai pekerjaan berat. Pertama Ia mengingatkan bahwa tokoh
iman yang besar seperti Daud, kadang-kadang mengabaikan hukum. Ia lalu
menambahkan: Putra Manusia berkuasa atas hari Sabat. Di antara orang
Yahudi, tak seorang pun, bahkan Imam Agung sekalipun dapat diberi dis-
pensasi dari kewajiban menjalankan Sabat. Maka Yesus membiarkan mereka
bingung dan bertanya-tanya, Mau jadi siapa Dia sebenarnya?
Dalam kasus yang kedua, Yesus sebenarnya dapat berkata kepada orang
itu, “Mengapa engkau meminta Aku melakukan sesuatu yang dilarang pada
hari
sabat?
Kembalilah
esok
dan
jadilah
sembuh.”
Yesus
tidak
menghindari konfrontasi karena Injil berarti pembebasan dan kita
menjadi bebas ketika kita mengakui bahwa tak ada sesuatu pun yang suci
di dalam masyarakat yang mencoba memberlakukan standarnya sendiri.
Hukum istirahat (Sabat) merupakan salah satu hukum dasar dalam Kitab
Suci tetapi tidak tertutup kemungkinan hukum ini menyebabkan penindasan
dan karena alasan inilah pada waktu-waktu tertentu hukum ini harus
didispensasikan.
Ini sama juga dengan kebanyakan hukum suci dari Gereja: pada saat
tertentu hukum-hukum itu dapat menjadi halangan bagi Injil, dan jika
itu masalahnya, maka kesadaran Kristiani yang diterangi oleh Roh Kudus,
harus mencari jalan keluar untuk sementara waktu. Sejauh seseorang
harus tunduk kepada peraturan, hukum dan pihak-pihak yang berkuasa yang
dianggap suci dan tidak boleh dikritik, maka orang-orang itu tidak
bebas dan tidak juga merupakan putra-putri Allah. (Lihat 1Kor 3:21-23;
8:4-5; Kol 2:20-23).
Penghormatan kepada Allah yang menghancurkan sikap kritis kita tidak
selaras dengan penghayatan Injil; suatu agama yang menghalangi kita
untuk mencari kebenaran dan untuk mempertanyakan setiap hal yang
menggelisahkan manusia bukanlah agama yang benar. Mempelajari Kitab
Suci tanpa berani mengetahui dan memperhitungkan sumbangan ilmu
pengetahuan modern karena ketakutan bahwa kepercayaan kita terhadap
suatu sejarah yang suci akan ambruk merupakan suatu pandangan yang
naif, sekaligus merupakan dosa melawan Roh Kudus.
• 12. Yesus selalu mengenang mereka yang amat dikasihi-Nya dalam doadoa-Nya. Keberhasilan misi-Nya bergantung kepada mereka, iman orang
lain tergantung pada mereka. Yesus tidak mau bahwa panggilan mereka
merupakan kehendak-Nya sendiri: sebelum memanggil mereka, Ia lebih dulu
memastikan bahwa Ia melakukan kehendak Bapa (Ibr 5:8). Karena Kristus
telah memilih mereka dan mempercayakan kepada mereka Gereja-Nya, mereka
akan dicobai dengan seribu satu macam cara (Luk 22:31). Karena itu
Yesus mau menjaga mereka melalui kekuatan doa-Nya (Yoh 17:9). Sehari
sebelum kematian-Nya Ia mendapat hiburan bahwa tak seorang pun dari
antara mereka yang diserahkan Bapa kepada-Nya akan hilang (Yoh 17:12).
• 17. Lihat komentar tentang delapan sabda bahagia dalam Mat 5:1.
Matius mengadaptasikan delapan sabda bahagia ini untuk anggota Gereja
di masanya. Lukas, di lain pihak, menulis sabda bahagia di sini persis
seperti yang disampaikan Yesus kepada masyarakat di Galilea. Dalam
kata-kata Yesus sabda bahagia ini merupakan panggilan dan harapan yang
dialamatkan kepada kaum yang terlupakan di dunia ini, dimulai dengan
orang miskin yang ada di tengah masyarakat-Nya yang merupakan pewaris
janji Allah kepada para nabi.
Injil, sebagaimana dalam Kidung Maria (1:51-53), menjungkirbalikkan
situasi sekarang. Sejak itu, Allah memperlihatkan belas kasihan-Nya
secara khusus kepada kaum miskin dan terhina. Ia juga mempercayakan
Injil-Nya kepada mereka dan membuat mereka orang-orang pertama yang
mengambil bagian dalam karya-Nya di dunia. Kaum miskin adalah mereka
yang memberikan sumbangan terpenting bagi pembangunan Kerajaan Allah;
apabila Gereja melupakan ini, maka ia sudah kembali kepada apa yang
dikritik Yesus tentang umat Allah pada zaman-Nya.
Ada seribu satu jalan untuk menghadirkan Yesus dan karya-Nya. Akan
tetapi supaya pengajaran seperti itu patut mendapat nama penginjilan
(atau penyampaian Kabar Baik) maka ia harus diterima sebagai Kabar Baik
pertama-tama oleh orang miskin. Jika kelompok sosial yang lain merasa
lebih teridentifikasi dengan ajaran itu, atau mereka diundang lebih
dulu, maka pasti ada sesuatu yang kurang, entah dalam isi entah dalam
cara penyampaian pesan. Sangat mungkin bahwa warta ini tidak disampaikan sedemikian rupa sehingga kita berlaku adil terhadap kelompok
yang tidak menerima warisan.
Sebagai kontras terhadap ucapan bahagia ini, Lukas menyajikan ratapan
yang mengingatkan kita akan ratapan Yesaya (65:13-14). Ini merupakan
lagu ratap untuk orang yang sudah meninggal, bukan kutukan. Karena
orang kaya melupakan Allah dan menjadi tak teresapi oleh rahmat (12,13,
16,19). Lagu ratap ini merupakan tanda kasih Allah kepada orang kaya,
sebagaimana ucapan bahagia bagi orang miskin, karena Ia mengasihi
mereka semua tetapi dengan cara yang berbeda. Kepada yang pertama Ia
menandaskan bahwa Ia akan menghancurkan struktur ketidakadilan, dan
kepada yang lain Ia memberi peringatan: kekayaan membawa maut.
Ucapan bahagia tidak berbicara tentang pertobatan orang kaya, atau
mengatakan bahwa orang miskin lebih baik, tetapi ia menjanjikan suatu
pembalikan. Kerajaan Allah berarti suatu masyarakat baru: Allah
memberkati kaum miskin tetapi bukan kemiskinan.
Ketika semua orang berbicara baik tentang kamu (ay. 28) (lihat 1Kor
4:8). Kontras antara kelompok orang yang dikejar-kejar dengan kelompok
orang baik-baik dalam pandangan masyarakat bisa terdapat dalam Gereja
sendiri. Banyak persoalan tetap tidak terpecahkan, bahkan karya misi
sendiri dapat dihalangi karena kelompok orang berpengaruh dan orangorang yang tidak menuntut apa-apa dan tahu bagaimana memperoleh berkat
resmi. Yesus mengingatkan kembali teladan para nabi.
Di masa Yesus para pemimpin agama masyarakat Yahudi tidak begitu
memberi perhatian kepada tulisan para nabi. Mereka lebih mementingkan
kitab-kitab Hukum yang berpusat pada kultus Kenisah. Yesus mengajar
para murid-Nya bahwa merekalah pewaris para nabi (Mat 13:17; Kis 3:25;
Yak 5:10), dan menekankan pentingnya para utusan yang sederhana itu
yang di tengah umat Allah (yang sering kali bertentangan dengan
pemikiran dominan) mewartakan Sabda Allah. Seorang Kristiani tidak
pernah boleh terkejut oleh kelemahan atau kekurangan apa pun yang
ditemuinya di dalam Gereja; biarlah ia merasa bahagia menjadi seorang
yang setia bahkan ketika mengalami pengejaran.
• 27. Di sini Lukas hanya menyajikan beberapa ucapan Yesus, yang oleh
Matius digabungkan dalam bab 5 dan 7 dalam Injilnya. Ini pun sudah
dijelaskan.
Beberapa orang merasa tertipu ketika mereka melihat bahwa Yesus lebih
berbicara tentang mengubah hidup kita daripada tentang reformasi
masyarakat. Hendaknya kita tidak mengecam Yesus karena tidak menyebut
reformasi sosial pada waktu tidak banyak orang mengerti tentang hal
ini. Alasannya dapat ditemukan dalam banyak bagian Injil: Yesus ingin
menyampaikan hal-hal yang hakiki. Akar kejahatan ada di dalam
masyarakat. Bahwasanya struktur-struktur yang jahat menghalangi orang
untuk hidup dan bertumbuh. Ternyata pula bahwa tak satu revolusi pun,
betapapun besarnya keuntungan yang dibawanya, yang dapat membangun
suatu masyarakat yang kurang menindas sejauh manusianya sendiri tidak
ditransformasikan menurut Injil. Yesus mengajarkan kita jalan menuju
kepada pertumbuhan dan kebebasan.
Semua orang perlu bertobat (berbalik) kepada sabda Yesus. Keberpihakan
Yesus yang nyata kepada orang miskin dan tertindas tidak berarti bahwa
mereka lebih baik. Itu berarti Allah berbelaskasihan, membagikan kasih
sayang-Nya yang lebih besar kepada orang yang lebih menderita, dan memberikan harapan dan pembebasan total kepada mereka yang putus asa.
Orang yang tertindas bukannya tidak bersalah; jika ia tidak dilumpuhkan
oleh ketakutan, perpecahan dan nafsu akan keuntungan yang ditawarkan si
penindas kepadanya, ia akan memperoleh kekuatan moral yang sanggup
membarui dunia. Dengan demikian, kaum tertindas tidak akan dibebaskan
kecuali kalau mereka bertumbuh dalam kepercayaan kepada Allah, yang
menyanggupkan mereka untuk mengerti satu sama lain dan mengambil risiko
mengikuti jalan rekonsiliasi.
Ucapan-ucapan Yesus yang berikut ini menegaskan perubahan hati dan
cara pendekatan yang tak bisa ditawar-tawar.
Berilah kepada dia yang meminta (ay. 30). Yesus tidak memberikan suatu
peraturan pun yang secara otomatis dapat diterapkan dalam segala
situasi: kita tahu ada kalanya kita tidak boleh memberi, karena
tindakan ini akan memupuk kebiasaan buruk. Yesus mau menantang hati
nurani kita: Mengapa kamu menolak untuk memberi? Apakah kamu takut
tidak akan dibayarkan kembali? Bagaimana kalau ini merupakan kesempatan
untuk mempercayai Bapamu dengan melepaskan sebagian dari “hartamu”
(12:34)? Kalau ingin menjadi sempurna, mengapa kamu melalaikan begitu
banyak kesempatan untuk melepaskan kebijaksanaanmu sendiri agar membiarkan Allah memelihara kamu?
• 31. Di sini, sebagaimana dalam Matius 5:43, Yesus tidak mengacu
terutama kepada kebencian atau persahabatan, tetapi kepada pertentangan
dalam tatanan sosial, politik atau religius: yang memperlakukan secara
berbeda orang-orang dari kelompok sendiri atau partai sendiri dengan
mereka yang berasal dari kelompok atau partai lain. Kita menghasihi dan
menghormati orang-orang dari kelompok kita sendiri dan hanya memberi
perhatian seperlunya saja kepada hak-hak orang lain: mereka mungkin
saja pendosa yang sedang menikmati keuntungan yang kecil saja….
Yesus mengundang kita untuk mengatasi perbedaan-perbedaan seperti ini:
yang penting sekarang adalah individu dan ketika sesamaku membutuhkan
aku, aku harus melupakan suku atau agamanya ataupun label yang telah
diberikan kepadanya.
Jika engkau meminjamkan dengan mengharapkan balasan. Sekali lagi, kita
berbicara tentang suatu sikap sosial: orang yang mencari sahabat di
antara mereka yang dapat menaikkan status sosialnya dan menghindari
orang lain yang mungkin menjadi beban karena mereka merupakan orangorang tanpa pengaruh: Luk 14:12.
• 35. Lihat komentar atas Mat 7:1. Kesempurnaan dalam diri kita
terbentuk karena meniru Bapa. Ia menjadi Allah karena merasakan sukaduka kita; rasa sepenanggungan inilah yang membuat Dia tersentuh oleh
kemiskinan dan kemelaratan makhluk-Nya, lalu melimpahi mereka dengan
apa yang dapat diberikan-Nya. Sikap orang yang menghakimi saudarasaudarinya bertentangan sama sekali dengan sikap belas kasihan.
Yesus berbicara tentang jalan di mana Allah sudah menuntun kita dalam
kehidupan yang sekarang. Kebudayaan rasionalis sudah sering meyakinkan
kita bahwa Allah membiarkan hukum alam dan kemanusiaan berlangsung
menurut caranya sendiri sementara Ia tetap seorang penonton pasif,
tetapi Kerajaan Allah adalah kehadiran Allah sendiri yang hari ini pun
mempunyai kebebasan mengubah segala situasi, meskipun untuk maksud ini
Ia mempunyai waktu-Nya sendiri.
• 43. Tak
ada
pohon
yang
sehat...
(ay.
43).
Ucapan
ini
sudah
disebutkan dalam Matius 7:15. Di sini Lukas memberi makna yang lain
kepada ucapan ini dengan mengacu kepada hati nurani yang murni. Kita
harus memurnikan pikiran dan roh kita menjadi pohon yang menghasilkan
buah-buah yang baik.
• 7.1 KUASA ALLAH
Panglima pasukan asing mendapat penghormatan dari kaum Yahudi. Hal
yang mengagumkan bukanlah kenyataan bahwa ia menyumbang bagi pembangunan sinagoga, tetapi bahwa orang Yahudi menerima sumbangan itu dari
dia. Ia pasti orang baik. Ia mengetahui prasangka-prasangka orang
Yahudi dengan sangat baik sehingga ia berani menghampiri Yesus yang
sedang diperbincangkan. Tetapi sampai ke titik manakah Yesus turut
merasakan kebanggaan orang-orang sebangsa-Nya. Apakah Ia harus menanggapi permohonan seorang perwira Roma? Itulah sebabnya mengapa perwira
itu mengutus teman-teman Yahudinya kepada Yesus.
Orang ini benar-benar resah: akankah Yesus setuju untuk datang ke
rumah seorang kafir dan “menjadi najis”? (Yoh 18: 28). Panglima pasukan
ini maju selangkah lebih jauh: Yesus tidak perlu datang ke rumahnya.
Sementara orang sakit yang lain berusaha agar bisa disentuh oleh Guru
sambil berpikir bahwa Yesus mempunyai kekuatan yang me-nyembuhkan,
orang ini sebaliknya mengerti bahwa Yesus mempunyai kuasa Allah dan
tidak perlu pergi kepada hamba yang sakit: rasanya tidak lebih sulit
memberi perintah dari jarak jauh kepada seseorang yang hampir mati.
• 11. Tak seorang pun pernah memperlihatkan kekuasaannya atas maut
atau pribadi tertentu. Hanya Yesus yang mengalahkan maut dan Ia melakukannya dengan begitu gampang.
Yesus hanya mengenal orang muda ini dari ibunya, dan karena ibunya
inilah Ia memulihkan kehidupan dalam diri pemuda ini. Menjadi janda
tanpa anak merupakan puncak penderitaan (lihat Rut), dan itulah nanti
nasib Maria.
Perempuan ini mewakili manusia yang menderita. “Engkau akan menderita
karena anak-anakmu”: ini diucapkan sesudah dosa pertama. Manusia tidak
dapat menghindar dari kewajiban mendampingi orang mati setelah melucuti
semua sarana kehidupan dari mereka. Kemanusiaan mengubur anak-anak
mereka dengan air mata, sementara itu terus membunuh mereka.
MEREKA YANG BIMBANG
• 18. Yesus dan Yohanes Pembaptis. Keadaannya sudah terbalik. Yohanes
tampil sebagai nabi besar, sementara Yesus mulai berkhotbah pada alur
yang telah diretas Yohanes tetapi dengan hasil yang tidak sama (3:1820). Kini Yohanes ada dalam penjara dan Yesus dikenal sebagai seorang
pe-nyembuh. Apakah Yohanes mempunyai kebimbangan di dalam penjara?
Mungkin saja demikian, meskipun ia telah berbicara dengan beberapa
pengikutnya bahwa Yesus akan menggantikan tempatnya. Kiranya lebih
tepat menafsirkan pertanyaannya sebagai undangan yang mendesak: “Jika
Engkau ini Dia yang akan datang kemudian, mengapa begitu berlambat?”
Murid-murid
Yohanes
menyaksikan
penyembuhan,
tetapi
penyembuhan
bukanlah
segala-galanya
dan
Yesus
menambahkan:
orang
miskin
mendengarkan kabar baik karena penginjilan yang sejati memulihkan
harapan dan membiarkan orang-orang diperbarui.
Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan… (ay. 22). Nabi-nabi
menubuatkan tanda-tanda ini (Yes 35:5) yang benar-benar merupakan
sesuatu yang baru, karena di masa lampau Allah selalu menampilkan diriNya sebagai Juruselamat yang berkuasa. Penyembuhan-penyembuhan ini
menunjuk pada pembebasan yang dibawa Yesus, bukan hukuman bagi para
pendosa (yang merupakan bagian terbesar dari khotbah Yohanes Pembaptis)
tetapi pertama-tama suatu rekonsiliasi yang cocok untuk menyembuhkan
dunia kaum pendosa, yaitu dunia yang keras dan penuh kebencian.
Berbahagialah mereka yang menjumpai Aku, tetapi bukan untuk kejatuhan
mereka (ay. 23). Dan berbahagialah mereka yang tidak meragukan
penyelamatan
Kristus
setelah
melihat
buah-buah
penginjilan.
Berbahagialah mereka yang tidak berkata, jalan ini terlalu lambat.
Injil menunjukkan kekayaannya dengan memberikan hidup kepada orang
banyak, dalam mengembalikan harapan kepada mereka yang telah mengalami
kelemahan dan dosa. Kiranya perlu dilihat dan dimengerti bahwa hal ini
sangat penting.
Tidak menjadi masalah jika dunia kelihatannya terus menyerah kepada
kekuatan-kekuatan si jahat. Kehadiran orang orang yang dibebaskan
mendesak yang lain untuk mendefinisikan dirinya sebagai baik atau buruk
dan ini membuat dunia bertumbuh.
Dengan ini Yesus menjawabi murid-murid Yohanes, orang-orang yang
mengurbankan diri dan prihatin terhadap perwujudan rencana Allah.
Barangkali mereka begitu terobsesi dengan usaha mencari keadilan
sehingga mereka gagal mengenal karya- karya besar Allah dalam tindakantindakan Yesus, yang tampak begitu lemah lembut.
• 24. Setelah utusan-utusan Yohanes pergi. Kebanyakan murid Yohanes
terus mengikutinya dan tidak mengenal Yesus. Yesus tidak mempersalahkan
mereka, tetapi sebaliknya memuji Yohanes dan menempatkan diri-Nya dalam
perbandingan dengan Yohanes.
Seorang nabi dan lebih dari seorang nabi (ay. 26):Yesus jelas
mengambil sikap yang menguntungkan Yohanes; namun Yohanes tidak
diterima sepenuhnya dalam kelompok-kelompok terhormat. Tak seorang pun
(Injil mempergunakan istilah Yahudi: dari antara mereka yang lahir dari
perempuan, yang berarti tak seorang pun) yang ditemukan lebih besar
daripada Yohanes. Bagi masyarakat biasa Yohanes merupakan tokoh
terbesar pada masa itu. Yesus sependapat dengan mereka dengan alasan:
Yohanes memperkenalkan Juruselamat dan Kerajaan Allah.
Yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar daripada dia (ay. 28):
dalam arti bahwa murid-murid Yesus memasuki kerajaan yang hanya dimaklumkan Yohanes. Namun demikian betapapun sucinya Yohanes, kepadanya
tidak diberikan pengetahuan tentang Allah yang memenuhi Yesus.
Sesungguhnya
Yesus
menekankan
bukan
superioritas
murid-murid-Nya
dibandingkan dengan murid-murid Yohanes, tetapi misi-Nya dibandingkan
dengan misi Yohanes.
Yohanes mengatakan bahwa tiap-tiap orang harus meluruskan hidupnya.
Yesus sebaliknya menekankan bahwa semua usaha tidak berguna jika ia
tidak percaya kepada kasih Bapa. Murid-murid Yohanes biasa berpuasa;
murid-murid Yesus tahu bagaimana harus mengampuni. Yohanes menarik ke
padang gurun orang-orang yang mau melepaskan kenikmatan hidupnya; Yesus
hidup di tengah masyarakat dan menyembuhkan luka-luka me- reka.
Pembaptisan Yohanes bermakna kerelaan pribadi untuk melepaskan cacat
cela, pembaptisan Yesus menurunkan Roh Allah.
Mereka seperti anak-anak yang duduk… (ay. 32). Mereka melakukan segala
sesuatu pada waktu yang salah; mereka mengecam Yohanes karena
matiraganya, dan mengecam Yesus karena tidak adanya sikap bermatiraga.
Bukan hanya ada “satu” jalan untuk melayani Allah, “satu” model
kekudusan, atau “satu” gaya hidup Kristiani. Allah berkarya lewat
seribu satu cara sepanjang sejarah, sambil menegaskan pada waktu-waktu
tertentu apa yang akan dilarang-Nya pada kesempatan lain. Askese yang
menakutkan dari para pertapa di padang gurun, atau kehidupan para rahib
dalam biara-biara tua di Irlandia telah menjadi kekayaan bagi hidup
Kristiani; suatu kekristenan yang tampak lebih manusiawi tidak
merintangi kaum beriman yang lain untuk mengikuti Yesus yang tersalib.
Yesus maju lebih jauh lagi dari Yohanes tetapi Ia membutuhkan Yohanes;
Injil didengar dengan sukacita tetapi tidak dihayati dengan serius
sejauh pertobatan dan pengorbanan dikesampingkan. Barangkali pembaruan
iman kita dewasa ini tengah menantikan para nabi dan gerakan yang
berani mempertanyakan suatu kebudayaan dan masyarakat yang telah
mandul.
• 36. Simon, orang Farisi itu, mempunyai beberapa kaidah keagamaan
yang jelas dan sederhana: dunia terbagi atas orang baik dan orang
berdosa. Mereka yang taat adalah orang baik; sedangkan pendosa adalah
mereka yang melakukan dosa berat. Allah mengasihi orang baik dan tidak
mengasihi kaum pendosa: Allah tinggal jauh dari para pendosa. Karena
orang baik, Simon tinggal jauh dari para pendosa. Karena Yesus tidak
menyingkirkan perempuan pendosa itu, maka Yesus pasti tidak dibimbing
oleh Roh Allah.
Simon adalah seorang Farisi, dan Farisi berarti dipisahkan. Hendaknya
kita tidak menghukum dia: tema yang selalu berulang dalam seluruh Kitab
Suci mengundang orang benar untuk memisahkan diri mereka dari kaum
pendosa; orang berpikir bahwa “kenajisan” kaum pendosa niscaya
mencemarkan orang lain. Yesus menunjukkan bahwa kebutuhan untuk
memisahkan diri sama seperti menunggu hukuman bagi kaum pendosa,
mengabaikan kebijaksanaan Allah dan kenyataan hati manusia. Allah tahu
bahwa kita perlu waktu untuk menguji baik dan buruk dan juga untuk tiba
pada suatu orientasi yang matang dan stabil. Ia membiarkan kita
berdosa, karena pada akhirnya kita akan tahu lebih jelas bahwa kita
adalah orang jahat dan kita hanya membutuhkan Dia. Dengan demikian
Allah dengan mudah melupakan dosa-dosa kita, meskipun lewat dosa inilah
kita sampai kepada kasih sejati.
Simon tidak menyambut Yesus dengan bentuk-bentuk keramah-tamahan yang
lazim pada waktu itu. Di masa itu orang berbaring di atas sofa di sekeliling meja menurut kebiasaan orang-orang kaya dan Yesus juga berbuat
demikian. Bagaimana Ia bisa berdialog dengan orang terpandang seperti
ini yang yakin bahwa ia mengetahui perkara-perkara Allah tetapi tidak
sanggup merasakannya? Yesus sedang menunggu kedatangan perempuan yang
berdosa itu.
Dia yang diampuni sedikit (ay. 47). Ini lebih merupakan semacam
peribahasa daripada afirmasi yang valid atas setiap kejadian. Banyak
orang yang bukan pendosa berat telah mengasihi Yesus dengan segenap
hati. Di sini Yesus berbicara secara ironis kepada seorang yang sangat
“saleh”: Simon, engkau pikir engkau berhutang sedikit (dan engkau salah
dalam hal ini), dan karena alasan ini engkau belum benar-benar
mengasihi.
Karena itu dosanya diampuni (ay. 47). Ada yang melihat adanya
kontradiksi antara ayat ini dan ayat 42, di mana kasih yang besar
merupakan buah dari pengampunan yang lebih besar. Di dalam ayat 47
kasih yang besar mendatangkan pengampunan ini. Yesus tidak berusaha
mengatakan mana dari kedua hal ini kasih atau pengampunan yang datang
lebih dulu: sesungguhnya keduanya berjalan bersama-sama. Di sini Yesus
mengkontraskan dua bentuk agama. Agama kaum Farisi adalah sesuatu yang
mengikuti pembukuan: Allah mencatat semua pekerjaan baik dan buruk lalu
memberi ganjaran secara lebih melimpah kepada orang yang tercatat
berbuat baik lebih banyak. Sebaliknya agama sejati memfokuskan
perhatiannya hanya kepada kualitas kasih dan kepercayaan, dan biasanya
kita mengasihi sampai ke tingkat di mana kita menjadi sadar betapa
banyak Allah telah begitu mengampuni kita.
Dosamu telah diampuni (ay. 48). Berusahalah mengerti skandal yang
telah ditimbulkan oleh kata-kata seperti itu. Bukankah tidak ada orang
lain lagi yang dicintai perempuan itu selain Yesus? Siapakah yang dapat
mengampuni dosa kecuali Allah?
Rasanya mudah bagi kita yang berada jauh untuk memihak Yesus melawan
Simon dan teman-temannya, tetapi sesungguhnya Yesus menentang semua
alasan yang biasa dipergunakan kaum agamawan dalam mengambil keputusan.
Sejak Gereja awal pertanyaan ini selalu diajukan: Apa hubungan antara
perempuan pendosa dalam paragraf ini, Maria Magdalena dalam bab
berikutnya, dan Maria dari Betania yang dalam salah satu perjamuan,
menuangkan minyak wangi ke atas kaki Yesus (suatu perilaku yang sangat
aneh) dalam rumah Simon yang lain, yang kemudian mengundang kecaman?
Apakah mereka semua Maria yang sama atau ada dua atau tiga Maria? Injil
tidak bercerita kepada kita dengan jelas, apalagi bila kita mengingat
bahwa para penginjil tidak pernah ragu-ragu memindahkan kata-kata atau
percakapan Yesus ke dalam konteks yang baru yang terasa lebih cocok
dengan pesan yang disampaikan.
Apa pun jawabannya, ada hubungan antara berbagai episode ini. Skandal
bagi kaum agamawan bukanlah bahwa pada suatu kesempatan Yesus mengizinkan seorang perempuan pendosa mengham- piri diri-Nya, melainkan
bahwa kaum perempuan yang termasuk dalam kelompok murid dengan leluasa
mendekati Yesus. Salah seorang dari mereka, Maria Magdalena, mungkin
bukan seorang yang patut diteladani ketika dikisahkan tentang setansetan yang merasuki dirinya (8:2).
YESUS DAN KEBUDAYAAN ZAMAN-NYA
• 8.1 Lihat komentar atas Matius 1:18 tentang status perempuan yang
lebih rendah di zaman Yesus, secara khusus dalam masyarakat Yahudi. Tak
seorang pun guru spiritual yang berbicara kepada perempuan di depan
umum: perempuan tidak diizinkan masuk ke dalam sinagoga. Namun demikian, Yesus tidak memberi perhatian sedikit pun kepada prasangka yang
begitu umum diterima. Banyak perempuan mengambil kata-kata dan sikap
Yesus ini sebagai panggilan kepada kebebasan. Mereka bahkan bergabung
dalam lingkaran teman-teman akrab Yesus untuk menghindari gosip. Di
sini kita mempunyai kesaksian mendasar tentang kebebasan Injili.
Yesus adalah sungguh-sungguh manusia, dan dengan demikian termasuk ke
dalam ras dan kebudayaan tertentu: Ia merupakan seorang Yahudi zamanNya dan injil-Nya disenadakan dengan kebudayaan yang dihayati-Nya.
Namun demikian Yesus tidak mengikuti ciri-ciri yang tidak manusiawi
dari kebudayaan-Nya; Ia juga tidak menerima prasangka-prasangka orang
Yahudi pada zaman-Nya dalam hubungan dengan perempuan, orang-orang yang
dianggap sebagai kelompok pendosa, orang kafir dan seterusnya, pun
tidak menerima pandangan mereka dalam hubungan dengan pelaksanaan
Sabat. Injilnya merupakan ragi yang mengubah kebudayaan menjadi lebih
baik; dalam banyak hal pandangan-pandangan-Nya bertentangan dengan arus
utama dari kebudayaan-kebu-dayaan.
Maria dari Magdala (Magdala adalah desa di pantai danau Tiberias) akan
berada di kaki salib bersama Maria, istri Kleofas, ibu Yakobus dan
Yosef. Kedua perempuan ini bersama dengan Yohana, akan menerima berita
pertama tentang Kebangkitan (Luk 24:10).
• 9. Lihat komentar atas Mat 13:1-23. Inilah inti perumpamaan (ay.
11). Perbandingan (atau perumpamaan) tentang penabur membantu kita
untuk memahami kejadian di seputar Yesus. Banyak orang menjadi sangat
antusias pada permulaan tetapi tidak lama kemudian pergi. Hanya
beberapa saja yang bertahan sehingga para rasul bertanya-tanya,
Bagaimana Kerajaan Allah bisa berkembang kalau tak seorang pun yang
tertarik?
Injil merekam penjelasan Yesus tentang ladang tempat benih itu jatuh.
Masih banyak hal yang perlu dijelaskan. Pertama, para pendengar
mestinya kaget dengan perbandingan Kerajaan Allah dengan sesuatu yang
ditaburkan. Dalam seluruh Sejarah Suci telah dilakukan begitu banyak
penaburan dan orang-orang sezaman Yesus mengharapkan panen (lihat Why
14:15).
Kita, sebagaimana orang-orang sezaman Yesus, mau menuai, yaitu
menikmati buah-buah Kerajaan Allah, yakni perdamaian, keadilan, dan
kebahagiaan. Banyak orang bertanya-tanya bagaimana mungkin orang tetap
begitu jahat dua ribu tahun sesudah Kristus? Jika Kerajaan Allah sudah
datang dan sudah ada di tengah-tengah kita, itu tidak berarti bahwa
kita langsung menikmati buah-buahnya. Kerajaan Allah ada di mana Allah
memerintah, dan Allah memerintah di mana orang menerima Dia sebagaimana
adanya, di mana Ia dapat menjadi Bapa dan di mana putra-putri-Nya dapat
menerima rencana-Nya atas mereka.
Mulai dari saat itu, orang-orang bertumbuh dalam seribu satu cara, dan
kesadaran sosial juga bertumbuh. Orang-orang menjadi sadar akan
martabat dan nasib bersama mereka, meskipun tiap hari kelihatannya
semakin tidak mungkin mencapai sasaran.
KERAJAAN ATAU PEMERINTAHAN ALLAH
Yesus berbicara dalam bahasa Aram, bahasa di mana satu kata bisa
berarti banyak: kerajaan, atau tempat di mana Allah bertindak sebagai
raja; pemerintahan, atau kenyataan di mana Allah bertindak sebagai
raja; kemuliaan rajawi, atau martabat Allah sebagai raja.
Yesus sering berbicara tentang kerajaan dalam arti sempit; “engkau
tidak akan memasuki Kerajaan Allah”; tetapi di tempat lain ini selalu
menimbulkan perdebatan seperti dalam doa Bapa Kami. Apakah kita harus
mengatakan: “Datanglah kerajaan-Mu” atau “Datanglah pemerintahan-Mu”?
Dalam perumpamaan-perumpamaan ini, yang secara tradisional disebut
perumpamaan-perumpamaan tentang Kerajaan Allah, dua makna tampil
bersama-sama. Berita besar yang diwartakan Yesus adalah datangnya suatu
masa yang sama sekali berbeda dari masa sejarah suci yang telah dialami
orang Yahudi. Nyatalah Allah hadir sepanjang sejarah manusia, khususnya
sejarah Israel, namun sekarang Ia datang dengan cara yang lain. Baru
sekarang, dan hanya sekaranglah, orang-orang mengenal Dia sebagaimana
adanya.
Pemerintahan Allah mulai dengan Yesus yang mewahyukan wajah Allah
yang sejati; kemudian pada waktu kebangkitan-Nya sebagai Tuhan atas
yang hidup dan yang mati, Ia akan mulai memerintah dan secara pribadi
mengorientasikan kembali sejarah manusia.
• 19. Lihat komentar atas Markus 3:31.
• 22. Lihat komentar atas Markus 5:1.
• 40. Lihat komentar atas Markus 5:21.
• 9.12 Lihat komentar atas Markus 6:35.
Peristiwa perbanyakan roti yang ada dalam keempat Injil merupakan
salah satu dari sedikit peristiwa dalam Injil yang benar-benar terjadi.
Di samping kisah ini, ada pula cerita perbanyakan roti yang dikisahkan
dalam Mat 15:32 dan Mrk 8:1. Agaknya karena inilah maka pemakluman
ekaristi menjadi menonjol seperti yang dapat kita lihat dalam Injil
Yohanes (bab 6).
Banyaknya kisah ini barangkali disebabkan oleh kenyataan bahwa
perbanyakan roti merupakan salah satu mukjizat Yesus yang paling jelas
memperlihatkan kekuasaan-Nya yang mutlak atas hukum alam (lihat
komentar atas Markus 8:1).
Ingatlah bahwa bangsa Yahudi di masa Yesus adalah orang-orang miskin,
mereka itu terlalu banyak untuk wilayah yang subur namun terbatas. Tentara pendudukan Romawi mengklaim sebagian besar dari sumber daya alam,
dan para penguasa seperti Herodes memberlakukan pajak yang berat, yang
sebagian besar dibenarkan oleh kebutuhan untuk membayar begitu
banyaknya tenaga kerja di proyek-proyek besar.
Banyak orang tidak mempunyai jamsostek dalam pekerjaannya, seperti
yang dapat kita lihat di banyak negara dewasa ini, dan Yesus bersama
dengan para pengikut-Nya mengalami situasi itu. Di wilayah yang sepi
itu, Yesus merasa bertanggung jawab atas saudara-saudari-Nya yang
menjadi tamunya (seperti yang juga terjadi dalam Lukas 11:5), dan Ia
bertindak menurut iman. Setiap hari, di masa itu hingga sekarang,
banyak orang harus membagi persediaan-Nya yang terakhir dengan
seseorang yang lebih miskin, dengan keyakinan bahwa Allah akan mengganjari mereka kembali. Yesus, pada gilirannya, juga berbuat yang sama.
Mukjizat yang dikerjakan-Nya di saat itu meneguhkan iman banyak kaum
beriman sederhana, yang barangkali kurang mengabdikan dirinya kepada
Gereja, tetapi yang sering tahu bagaimana mempertaruhkan semua yang
mereka miliki.
Yesus tidak risau kalau mukjizat ini membangkitkan dalam diri mereka
antusiasme yang keliru yang berakhir dengan perpecahan antara pengikutpengikut-Nya (lihat Mrk 6: 45). Yesus tidak memberi makan kepada mereka
untuk menarik mereka kepada gereja-Nya, tetapi untuk menggenapi janji
Allah kepada kaum miskin.
• 18. Ini terjadi dekat Kaisarea Filipi, sebuah spa yang terkenal,
terletak di ujung utara Palestina pada kaki Gunung Hermon. Yesus telah
pergi dari Galilea karena dia tidak aman di situ. Sebagaimana kebiasaan-Nya, Ia mengutus kedua belas murid mendahului Dia ke desa-desa
yang akan dikunjungi-Nya, untuk mempersiapkan kedatangan-Nya.
Apa kata orang banyak tentang Aku? Dan engkau, apa yang kaukatakan
kepada mereka tentang Aku ketika engkau berada di tengah-tengah mereka?
Siapakah Aku ini seperti yang kausampaikan kepada mereka? Petrus yang
pertama menjawab, dengan suatu keyakinan bahwa mereka tidak keliru
dalam menggambarkan guru mereka sebagai Mesias, Dia yang diutus Allah.
Yesus tidak mengingkari siapa diri-Nya, tetapi Ia melarang mereka
untuk memperkenalkan siapa diri-Nya mulai saat itu dan seterusnya,
karena menurut orang banyak, sang Pembebas harus menghancurkan musuhmusuh-Nya. Dapatkah para rasul menyebut Pembebas, seorang yang akan
mati di salib?
Dengan membandingkan teks ini dengan Mrk 8:27 dan Mat16: 13, kita
sampai kepada kesimpulan berikut ini: Matius menggabungkan dalam satu
cerita dua kejadian yang berbeda, di mana Petrus merupakan orang
pertama yang memaklumkan imannya. Episode pertama merupakan cerita yang
Lukas kisahkan pada tempat ini.
Dalam episode kedua, Petrus mengenal Yesus sebagai Putra Allah dan
menerima janji yang disampaikan Matius. Barangkali ini terjadi sesudah
perbanyakan
roti:
bdk.
Yoh
6:66-69,
atau
barangkali
sesudah
Kebangkitan: bdk. Yoh 21:15-17, yang tidak menekankan iman, melainkan
kasih yang dapat dilihat Yesus dalam diri Petrus. Lihat juga Gal 2:7-8.
• 22. Mengapa Yesus bertanya kepada para rasul tentang siapa diri-Nya?
Injil menjawab dengan jelas: karena telah tiba saatnya bagi Yesus untuk
memberitahukan kesengsaraan-Nya kepada mereka. Yesus tidak hanya datang
untuk mengajar orang banyak tetapi membukakan bagi mereka pintu menuju
Kebangkitan. Karena para rasul-Nya sekarang mengenal-Nya sebagai
Juruselamat yang dijanjikan kepada Israel, maka mereka harus belajar
bahwa tidak ada keselamatan jika kematian tidak dikalahkan (1Kor
15:25). Yesus akan memperoleh kemenangan ini jika Ia dengan bebas
memilih jalan salib: Putra Manusia harus menderita banyak dan ditolak
oleh para penguasa.
Segera sesudah itu, Yesus menambahkan bahwa kita harus mengambil
bagian dalam kemenangan-Nya atas kematian: Kamu harus menyangkal
dirimu: inilah orientasi hidup kita yang fundamental. Kita harus
memilih antara melayani atau dilayani, mengorbankan diri untuk orang
lain atau mengambil keuntungan dari mereka. Atau sebagaimana dikatakan
oleh Santo Fransiskus: Biarlah aku tidak berusaha untuk dihibur
melainkan menghibur, tidak untuk dimengerti melainkan mengerti, tidak
untuk dikasihi melainkan mengasihi.
Dalam tahun-tahun pertamanya seorang anak perlu dibantu melakukan
pilihan ini. Dalam keluarga sejati, ia bukanlah pusat atau raja, dengan
orangtuanya sebagai budak, melainkan bagaimana ia belajar melayani dan
memberikan dirinya. Ia harus menerima saudara dan saudarinya, berbagi
rasa dengan mereka dan kadang-kadang membatasi kepentingan masa
depannya demi kebaikan mereka.
Pikullah salibmu setiap hari (ay. 33). Di sinilah penerimaan terhadap
salib yang Tuhan berikan kepada masing-masing kita dan yang tidak perlu
kita pilih karena kita tahu bahwa itulah nasib kita. Kita tidak boleh
memikulnya karena terpaksa, melainkan kita harus mencintainya karena
Tuhan menghendakinya bagi kita.
Dalam suatu dunia di mana kita sudah terbiasa dengan kehidupan
sendiri-sendiri dan dengan demikian memboroskannya, banyak anak sulit,
bahkan cacat, akan membuat orang tua mereka menjadi pengikut Yesus yang
sejati dengan memikul salib mereka.
Jika kamu memilih menyelamatkan hidupmu (ay. 24). Yesus mengacu kepada
orientasi hidup kita pada umumnya. Ia sedikit pun tidak mempunyai
kesamaan dengan mereka yang selalu berpikir untuk menghindari “dosa”
sambil mengejar ambisi-ambisi mereka; keinginan mereka adalah mereguk
kenikmatan hidup ini sehabis-habisnya. Mencari kenikmat-an hidup tanpa
mau mengambil risiko memisahkan kita dari jalan Allah.
Jika seseorang merasa malu terhadap Aku (ay. 26). Di samping salib
yang diserahkan kepada kita setiap hari, Allah akan meminta kita
mempersaksikan iman kita dan dalam penyaksian ini kita harus mengambil
risiko, biarpun sirikonya tidak lebih daripada ditertawakan oleh temanteman dan pimpinan kita. Selama masa kekerasan, dapatkah orangorang Kristen tetap tenang, membatasi diri mereka hanya pada kegiatan
(pertemuan) rohani, dan tidak menunjukkan tanda-tanda tentang apa yang
mereka pikirkan dan hayati?
• 28. Ingatlah akan wahyu ilahi yang diterima Yesus di awal pelayananNya (Luk 3:21). Penyataan ilahi yang lain yang diterima Yesus pada
peristiwa Transfigurasi (Yesus berubah rupa di atas gunung) merupakan
awal dari suatu adegan baru: Kisah sengsara Yesus.
Yesus sudah berkhotbah selama dua tahun, tetapi tidak ada harapan
bahwa
Israel
akan
mengatasi
kekerasan
yang
membawa
kepada
keruntuhannya. Sekalipun mukjizat Yesus tidak meyakinkan orang-orang
sebangsa-Nya, Yesus harus menghadapi kekuatan-kekuatan jahat: korban-
Nya akan lebih efektif daripada kata-kata-Nya dalam membangkitkan kasih
dan semangat pengorbanan dalam diri semua orang yang akan melanjutkan
karya penyelamatan-Nya di masa yang akan datang.
Ia membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes bersama dengan Dia: ketiga
orang ini mempunyai tempat istimewa dalam kelompok dua belas (Mrk 1:29;
3:16: 5:37; 10:35; 13:3). Sangat mungkin bahwa para “rasul” yang lain
terlalu pelan dalam bereaksi. Seluruh kesabaran dan pendidikan Yesus
tidak membuat mereka bertumbuh lebih cepat dan mereka tidak siap
memasuki awan bersama Dia.
Ia naik ke gunung untuk berdoa. Sangat mungkin bahwa dalam doa-Nya
sepanjang malam itulah Yesus mengharapkan terjadinya peristiwa ini. Perubahan rupa Yesus pertama-tama mengandung makna bagi diri-Nya sendiri.
Yesus tidak mengetahui segala sesuatu lebih dulu; Ia tidak dibebaskan
dari kebimbangan dan kecemasan. Rupanya Bapa tidak menyatakan diri-Nya
dengan kasih yang melimpah kepada Yesus; Yesus melayani tanpa
mengharapkan ganjaran surgawi. Namun pada kesempatan ini Ia mendapatkan
kepastian yang berhubungan dengan tujuan misi-Nya.
Bagi para rasul ini merupakan kesaksian yang menentukan yang akan
membantu mereka untuk percaya akan Kebangkitan (Surat Kedua Petrus sama
sekali tidak keliru ketika menekankan pentingnya kesaksian Allah ini,
meskipun dilakukan secara agak kikuk (2Ptr 1:17), karena surat ini
diklaim sebagai ditulis oleh Petrus sendiri). Adalah suatu kenyataan
bahwa banyak orang sepanjang sejarah telah dianggap sebagai nabi bahkan
“sang” nabi, tetapi tak seorang pun dari mereka yang berpretensi membawa suatu kesaksian dari Allah bahwa Allah berkenan kepada mereka,
selain keberhasilannya sendiri. Yesus mengandalkan kesaksian, yang
dimulai dengan Yohanes Pembaptis. Dalam seluruh wahyu alkitabiah, iman
disokong oleh kesaksian-kesaksian ini. Di sini Musa, bapa pendiri
Israel, dan Elia bapa para nabi, memberi kesaksian tentang Yesus.
Lukas mengisahkan bahwa Musa dan Elia berbicara kepada Yesus tentang
keberangkatan-Nya (ay. 31) (dalam bahasa Yunani exodus). Yesus kemudian
menjadi Musa yang baru yang membawa umat Allah dari dunia perbudakan
ini kepada Tanah Terjanji.
Dialah Putra-Ku. Lihat komentar atas kata-kata yang sama dalam 3:22.
Di sini, Yesus tampil sebagai Dia yang dinanti-nantikan oleh Musa dan
Elia, Dia yang telah mereka persiapkan, meskipun untuk saat ini mereka
dapat menghibur-Nya karena Dia masih membawa kelemahan dari kemanusiaan
kita. Dalam hubungan dengan peristiwa trasfigurasi ini, lihat juga
komentar atas Mrk 9:1.
• 46. Lihat komentar atas Markus 9:33.
Markus mengisahkan bahwa Yesus memeluk seorang anak kecil: sesuatu
yang tidak biasa untuk orang-orang di masa itu, karena anak-anak tidak
masuk hitungan, dan guru-guru agama hanya menekankan bahwa anak-anak
harus tertib. Tokoh panutan agama rupanya seorang yang serius yang
tidak suka tertawa, tidak berlari, tidak memandang orang-orang dari
status sosial yang lebih rendah, khususnya perempuan dan anak-anak.
Sering kali mentalitas semacam itu terlihat dalam diri mereka yang
mengkritik pembaptisan anak-anak dan komuni pertama.
Yesus tidak menjawab pertanyaan para rasul: siapa yang terbesar?
Karena yang penting bukannya menjadi besar, tetapi dekat dengan
Kristus. Supaya kita bisa menerima Kristus, kita harus menyambut Dia
dalam diri orang-orang kecil.
• 51. Sesudah mengisahkan tindakan-tindakan Yesus di Galilea, Lukas
memulai bagian kedua dari Injilnya di mana ia menyatukan kata-kata
Yesus yang diucapkan dalam berbagai macam kesempatan. Untuk menjaga
kesinambungan dalam kisahnya, ia membayangkan Yesus yang sedang
memberikan tanggapan ini dalam perjalanan dari Galilea ke Yerusalem, di
mana bagian ketiga Injil akan terjadi.
Paragraf yang pertama mengingatkan kita bahwa antara propinsi Galilea
dan Yudea, ada Samaria. Orang-orang Samaria tidak termasuk bangsa Yahudi, dan kedua suku bangsa ini adalah musuh bebuyutan satu sama lain.
Ketika orang-orang Yahudi dari Galilea hendak berziarah ke Yerusalem,
maka di seluruh Samaria tidak ada pintu yang dibukakan bagi mereka.
Tampaknya, setiap kali Yesus bertemu dengan orang Samaria, kita
diajarkan suatu cara baru memandang mereka yang tidak seiman dengan
kita. Agama-agama telah menjadi terlalu agresif, dan kadang-kadang
menggunakan kekerasan, khususnya agama-agama yang melihat dirinya
sebagai wahyu Allah Yang Mahaesa. Ini telah menjadi ciri khas
Perjanjian Lama. Yesus bukanlah bagian dari fanatisme semacam itu, yang
mengajar kita untuk tidak mengacaukan perkara Allah dengan perkara
kita, atau dengan kepentingan-kepentingan dari kelompok agama kita. Ada
penghormatan mutlak terhadap mereka yang dipimpin Allah pada jalan yang
lain. Betapa kontrasnya dengan legenda-legenda kuno seperti yang
tersirat dalam ayat 54 (lihat 2Raj 1:10).
Di sini Yesus mengajar para rasul-Nya untuk jangan terlalu keburu
nafsu: orang-orang Samaria yang menolak menyambut Yesus pada kesempatan
ini bukanlah lebih bersalah daripada mereka yang menutup pintunya bagi
seorang asing. Mengapa harus menghancurkan desa kecil ini, kalau dengan
berbuat demikian mereka harus mencari tempat baru dalam desa yang lain?
Lebih baik terus bergerak maju tanpa menunda-nunda.
TEROBOSAN BARU – MENJADI BEBAS
• 57. Kontras dengan sikap Yesus yang selalu penuh pengertian terhadap
kodrat manusia, di sini kita melihat Yesus yang sangat menuntut murid
yang mau mengikuti Dia: Yesus tidak dapat memboroskan waktunya dengan
membina mereka yang belum siap mengorbankan segala sesuatu demi Injil.
Sepertiga
dari
calon-calon
murid
barangkali
secara
diam-diam
mengharapkan agar pada waktu mengucapkan selamat tinggal, keluarganya
meminta dia untuk tidak melakukan hal yang tolol seperti itu, dan
dengan demikian dia tetap dapat bertahan dengan niat baik saja: ya,
sebenarnya saya mau, tetapi….
Kasus yang kedua agak lain: Biarlah orang mati menguburkan orang mati.
Berhadapan dengan kata-kata yang serba tegas seperti ini yang kadangkadang kita jumpai di dalam Injil, maka ada dua sikap yang perlu
dihindari. Pertama, ambillah kata-kata ini sebagai pedoman umum, suatu
kaidah yang dialamatkan kepada setiap orang tanpa nuansa. Kedua, dan
ini yang harus lebih sering diikuti, “Jangan memahami kata-kata ini
secara harfiah, itu cara berkata-kata orang Timur.” Bagi Yesus tidak
ada pintu masuk ke dalam Kerajaan Allah tanpa pengalaman kebebasan.
Lebih dahulu aku ingin menguburkan bapaku (ay. 59). Barangkali ini
berarti ia harus menguburkan ayahnya yang baru meninggal. Sangat mungkin ini berarti ia mau merawat ayahnya yang sudah tua hingga saat
kematiannya (Tob 6:15). Sulit kiranya memikirkan bahwa seorang benarbenar bebas jika ia belum mempunyai kesempatan untuk membuktikannya
dengan berbuat lain dari apa yang dimengerti dan diterima dalam
masyarakatnya. Ingatlah akan Fransiskus Asisi yang mengemis roti di
kotanya sendiri sesudah hidup sebagai putra sebuah keluarga kaya.
Tinggalkanlah mereka dan maklumkanlah Kerajaan Allah. Apabila ada
panggilan Yesus yang tertuju kepadamu, maka itu seratus persen merupakan kehendak Allah bagimu di saat ini.
Tinggalkanlah alasan-alasanmu dan tugas-tugasmu: barangkali hal-hal
ini hanya menjadi kewajiban dalam dunia orang mati. Allah telah
mempersiapkan yang lain, barangkali malaikat-malaikat-Nya, yang akan
memperhatikan mereka.
• 10.1 Lihat komentar atas Matius 10:5 dan Markus 6:7.
Lukas melaporkan suatu perutusan yang diberikan kepada tujuh puluh
(atau tujuh puluh dua) orang sesudah perutusan kedua belas murid (9:1).
Ada dua belas rasul, menurut jumlah suku Israel: ini berarti bahwa
pada mulanya Injil dimaklumkan kepada bangsa Israel. Kemudian datanglah
misi tujuh puluh dua (atau tujuh puluh); jumlah ini melambangkan
banyaknya bangsa kafir. Misi ini kemudian merupakan gambaran tentang
tugas yang menjadi tanggung jawab Gereja sampai akhir dunia: mewartakan
Injil kepada segala bangsa (Mat 28:19).
Ketika Gereja telah hadir cukup lama di sebuah tempat, kita cenderung
percaya bahwa setiap orang mempunyai kesempatan untuk menerima Injil:
ini merupakan ilusi. Bahkan dalam situasi yang paling menguntungkan
pun, banyak keluarga, khusus yang paling miskin, telah menunggu
bertahun-tahun kunjungan seorang misionaris.
Jangan singgah pada rumah orang-orang yang kamu kenal (ay. 4). Injil
berkata, “Janganlah menyalami seorang pun”. Para misionaris akan segera
kehilangan sayapnya jika mereka tinggal untuk bercakap-cakap atau
mencari keramah-tamahan dari teman-teman yang belum menyambut Kerajaan
Allah. Lebih baik mereka mengandalkan Penyelenggaraan Bapa yang akan
membukakan bagi mereka hati dan rumah salah seorang dari mereka yang
telah mendengarkan Kabar Gembira.
Dalam mengunjungi rumah-rumah itu, hal pertama yang dilakukan adalah
memberi salam (damai), dalam arti datang sebagai seorang sahabat atas
nama Kristus dan Gereja-Nya, menyediakan waktu untuk mendengarkan
orang-orang yang dikunjungi dan mencari tahu keprihatinan mereka. Baru
kemudian, kita sanggup memberikan jawaban yang baik dan berkata kepada
mereka: Kerajaan Allah telah datang kepadamu; meskipun kamu mempunyai
seribu satu macam masalah, percayalah bahwa sekarang Allah telah
mendekati kamu untuk berdamai dengan kamu. Inilah saatnya untuk
berdamai kembali dengan anggota keluarga dan tetangga dan membuang
jauh-jauh kebencian. Mulailah melakukan apa yang dapat kamu lakukan,
dan percayalah bahwa dengan caranya sendiri, Allah akan menyelesaikan
apa yang berada di luar kesanggupanmu.
Banyak orang yang menyambut para misionaris dengan riang gembira
rupanya tidak berkanjang: mereka tidak akan masuk ke dalam jemaat
Kristiani. Itu tidak dengan sendirinya berarti bahwa usaha para
misionaris telah sia-sia. Orang-orang ini akan mengenang pengalamannya
sebagai saat rahmat Tuhan, dan itu akan membantu mereka menghayati iman
yang lebih kukuh. Namun demikian pasti ada juga orang yang hatinya
tersentuh oleh Tuhan pada saat itu dan mereka akan menjadi anggota
Gereja yang aktif.
Tugas
perutusan
membantu
membentuk
para
misionaris
dan
juga
membangkitkan orang-orang yang mereka kunjungi. Yesus membentuk para
murid-Nya, bukan hanya melalui pengajaran-Nya, tetapi juga dengan
mengutus mereka ke daerah misi. Begitulah!
Ia membentuk kelompok tujuh puluh beberapa bulan kemudian sesudah
mereka bertemu dengan Dia. Demikian pula sekarang, umumnya misionaris
yang paling ulet adalah mereka yang belum lama dipertobatkan.
PENYEMBUHAN ORANG SAKIT
• 8. “Sembuhkanlah
orang-orang
sakit,”
kata
Yesus.
Kita
telah
menyebutkan bahwa Yesus tidak pertama-tama datang untuk membawa
kesehatan bagi semua orang sakit, melainkan membawa keselamatan bagi
kita. Karena kita adalah pendosa, maka keselamatan kita dikerjakan
melalui penderitaan dan salib.
Utusan-utusan Yesus bukan berusaha menggantikan posisi para dokter.
Mereka tidak memaklumkan iman sebagai sarana kesembuhan: itu hanya akan
membuat
iman
menjadi
barang
murahan.
Memang
mereka
menawarkan
“kesembuhan” kepada orang-orang yang belum menyadari bahwa Kerajaan
Allah dan belas kasih-Nya telah datang ke atas mereka.
Di mana ada umat Kristen, mereka harus memperhatikan orang sakit dan
mengunjungi mereka sebagai tanda keprihatinan dan tanda bahwa mereka
adalah anggota keluarga besar. Cinta yang diperlihatkan oleh seorang
pengunjung meneguhkan si sakit, memberikan dia kegembiraan dan membangkitkan rasa syukur dalam dirinya, dan dengan demikian mengkondisikan
dia untuk suatu pembaruan yang mendalam serta pengampunan atas dosadosanya. Lihat juga Yak 5:13.
Dalam suratnya yang pertama kepada umat di Korintus 12:9, Paulus
berbicara tentang bermacam-macam karunia yang diberikan Roh kepada umat
Kristen dan membuat pembedaan antara karunia untuk mengerjakan mukjizat
dan karunia menyembuhkan orang sakit. Karunia yang terakhir ini berhubungan dengan bakat bawaan yang telah dimiliki sebelumnya.
Nyatalah bahwa kita harus meneguhkan mereka yang berdoa dan
menumpangkan tangannya ke atas orang sakit. Dokter dan petugas
kesehatan perlu melihat pengobatan mereka kepada pasien sebagai
pelayanan kepada orang sakit demi Allah.
• 17. Pada mulanya, orang yang mewartakan Kristus dan bekerja demi Dia
akan merasa takut. Lalu menyusul rasa gembira karena telah melampaui
diri sendiri; dan lebih lagi karena telah percaya dan bekerja dengan
kuasa Yesus. Yesus bersyukur atas tujuh puluh (atau tujuh puluh dua)
dan atas semua yang akan mengikuti mereka.
Apakah yang dimaksudkan dengan hal-hal ini (ay. 21) yang telah
dinyatakan Allah kepada orang-orang kecil? Itu tidak lain daripada
kekuatan Injil yang penuh rahasia untuk mentransformasikan manusia dan
menunjukkan kebenaran kepada mereka. Para rasul diliputi keheranan
terhadap kekuatan yang datang dari nama Yesus (Mrk 16:17). Yesus menggarisbawahi kekalahan musuh, yaitu Setan.
Kaum terpelajar dan cerdik pandai berpikir bahwa mereka tahu, tetapi
tidak mengetahui apa yang hakiki. Mereka berbicara tentang seorang
Allah yang tidak lebih dari bayang-bayang Allah yang sejati selama
mereka tidak mengenal Dia dalam Diri Yesus. Mereka tidak tahu ke mana
dunia ini sedang menuju karena mereka tidak melihat betapa kekuatan
Allah bekerja di mana pun Yesus dimaklumkan.
Orang-orang kecil, di lain pihak, telah mengerti. Sebelumnya mereka
melihat diri mereka sebagai generasi yang dikurbankan. Karena orangorang kecil biasa mengorbankan diri mereka untuk anak-anak mereka dari
generasi ke generasi, atau mereka dikurbankan oleh kekuasaan, dengan
dalih mendatangkan kebahagiaan bagi anak cucu mereka. Mereka tidak
hidup untuk diri mereka sendiri, tetapi mempersiapkan suatu tempat bagi
orang lain. Sekarang orang-orang kecil, yaitu kaum beriman yang rendah
hati, memiliki semuanya jika mereka memiliki Yesus, karena segala
sesuatu telah diserahkan Bapa kepada-Nya.
Orang-orang kecil menghayati iman mereka dengan cara-cara yang
sederhana tetapi mereka tahu bahwa tak satu pun kurban mereka akan percuma. Adalah Yesus yang menyatakan Bapa kepada kita dan karena mengenal
Dia di dalam kebenaran, kita juga mengambil bagian dalam kuasa-Nya mengendalikan kejadian-kejadian. Keinginan dan doa-doa kita mempunyai
kekuatan yang besar, karena kita telah sampai kepada pusat dari mana
Allah memancarkan kekuatan-Nya yang menyelamatkan umat manusia: karena
kita bekerja bagi hidup abadi, nama kita sudah ditulis di surga (ay.
20).
Mewartakan injil tidak berarti berusaha menjual Injil melainkan
membuktikan kekuatannya yang menyembuhkan orang- orang dari kuasa
iblis. Kita tidak perlu menjadi aktivis untuk hal ini. Kita harus
mengakui bahwa kita tidak mempunyai kekuatan dalam hal-hal ini dan kita
harus mengucap syukur kepada Allah yang menyanggupkan kita untuk melihat, mendengar dan mengkomunikasikan keselamatan-Nya.
Berbahagialah kamu yang melihat… (ay. 24). Berhentilah iri hati
terhadap orang-orang terkenal, raja-raja dan nabi-nabi di masa lampau.
Kamu yang hidup sekarang, yang bukan raja atau nabi, mendapat bagian
yang lebih baik.
• 25. Siapakah sesamaku? (ay. 29). Guru hukum mengharapkan agar diberi
batas-batas yang tegas tentang kewajibannya. Siapakah yang harus
diperhatikan? Anggota keluarga? Orang-orang sesuku? Ataukah semua
orang?
Sangat bermakna bahwa Yesus menutup cerita-Nya dengan suatu pertanyaan
lain: Siapakah dari ketiga orang itu yang menjadi sesamanya? (ay. 36).
Seolah-olah Dia mau berkata, tidak usah bersusah-payah mencari tahu
siapakah sesamamu, cukup mendengar panggilan di dalam dirimu dan jadilah seorang sesama, menjadi dekat dengan saudara-saudarimu yang
berkebutuhan. Selama kita melihat perintah cinta kasih sebagai suatu
kewajiban, kita tidak mengasihi seperti yang dikehendaki Allah.
Cinta kasih tidak hanya berarti digerakkan oleh penderitaan orang
lain. Perhatikan bagaimana orang Samaria itu berhenti biarpun itu
tempat berbahaya, bagaimana ia membayar ongkos perawatan dan berjanji
untuk memperhatikan segala sesuatu yang perlu. Daripada hanya bersikap
karitatif, orang Samaria ini mengambil risiko tanpa syarat dan tanpa
perhitungan terhadap seorang asing.
Pada suatu kesempatan, Martin Luther King menandaskan bahwa cinta
kasih tidak hanya dipuaskan dengan menghibur mereka yang menderita:
“Pertama-tama, kita harus menjadi seorang Samaria yang baik kepada
mereka yang telah jatuh sepanjang jalan. Tetapi ini baru permulaan.
Kemudian, pada suatu waktu nanti, kita harus menyadari bahwa jalan ke
Yerikho harus dibuat sedemikian rupa sehingga laki-laki dan perempuan
jangan terus-menerus dipukul dan dirampoki ketika mereka sedang
melakukan perjalanan melintasi lorong-lorong hidupnya.”
Dengan contoh ini, Yesus juga membuat kita melihat bahwa banyak kali
para pejabat agama, atau orang yang yakin bahwa mereka menjalankan hukum, tidak sanggup mencintai. Adalah orang Samaria yang dipandang
sebagai bidaah oleh orang Yahudi, yang memberi perhatian kepada orang
yang terluka.
Bagi orang Yahudi, sesama adalah warga bangsa Israel, orang-orang
mereka sendiri, bermartabat karena menghayati agama yang sama; hubungan
keluarga hanya datang dari “daging dan darah”. Bagi Yesus, kasih sejati
membawa kita untuk melepaskan diskriminasi mana pun.
• 38. Banyak
hal
kelihatannya
perlu
dalam
sebuah
keluarga:
membersihkan rumah, menyiapkan makanan, mengasuh anak-anak. Jika tidak
ada waktu untuk mendengarkan orang lain, apa artinya hidup ini?
Barangkali kita melakukan ba- nyak hal untuk melayani Allah dan sesama
kita; namun sesungguhnya hanya satu hal yang perlu bagi kita semua:
selalu siap bagi Yesus bilamana Dia hadir.
Marta bekerja dan cemas lalu tidak mempunyai waktu untuk ada bersama
Yesus. Yesus adalah damai dan barang siapa tidak memperhatikan Dia
dengan hati yang damai tidak menerima Dia. Kita terbiasa melayani dan
bekerja dengan penuh semangat yang membuat diri kita kosong apakah itu
di rumah atau di dalam masyarakat; Yesus sebaliknya menghendaki kita
menemukan Dia di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Doa kita juga kadang-kadang penuh dengan kegelisahan seperti Marta:
ketika kita berdoa dengan tergesa-gesa, ketika kita lebih dari seratus
kali menggunakan begitu banyak kata untuk membeberkan kecemasan kita
kepada Tuhan; ketika orang yang bertanggung jawab untuk suatu perayaan
menjadi cemas dan risau akan tetek bengek nyanyian dan tata cara
ibadat.
Berdoa berarti menyisihkan waktu untuk mendengar, merenungkan karya
Allah dalam kehe- ningan, dan memperlambat keinginan-keinginan kita,
sehingga kita memberi perhatian hanya kepada Allah, dan secara rahasia
hadir dan masuk ke dalam kehendak-Nya.
Sungguh aneh bahwa dalam beberapa agama bukan Kristen, orang belajar
membawa pikiran mereka ke dalam kedamaian dan keheningan lalu mencapai
keteduhan sejati. Sementara kita memasuki doa dengan persoalanpersoalan kita dan tidak menyingkirkannya sampai doa selesai.
Maria duduk dekat kaki Tuhan. Ini merupakan sikap tradisional seorang
murid pada kaki gurunya. Nyatalah bahwa Yesus tidak terus-terusan
mengajar, tetapi karena Ia sendiri adalah Sabda Allah, Ia membawa Allah
kepada semua orang yang dijumpai-Nya. Maria merasa baik kalau berada di
sana dan sadar bahwa kehadirannya bukannya tidak menyenangkan Yesus.
Maria telah memilih bagian yang terbaik (ay. 42). Ia mengikuti hanya
dengan menggunakan naluri, tetapi Yesus melihat sesuatu yang lebih: Ia
(Yesus) tidak akan berada lama di sana, dan dalam banyak hal kehadiranNya di tengah kita selalu untuk waktu singkat. Maria telah sanggup
mempergunakan waktu yang singkat ini ketika Yesus menjadi miliknya, dan
ia menjadi milik Yesus pada waktu mendengarkan Dia.
Jika Maria dalam adegan ini sama dengan Maria Magdalena yang menemani
Yesus (Luk 8:2) kita dapat membayangkan yang berikut ini:
Maria berada di antara murid-murid yang, sama seperti Yesus, diterima
oleh Marta, saudaranya atau kerabatnya. Maria paling tidak peduli
dengan me-nyiapkan makanan dan Marta mengeluh. Yesus lalu memuji Maria,
bukan hanya karena ia mendengarkan diri-Nya, melainkan karena ia telah
memutuskan untuk mengikuti Dia. Sebagaimana para rasul, Maria telah
memilih bagian yang terbaik.
• 11.1 Para rasul sudah tahu bagaimana harus berdoa dan seperti orang
Yahudi yang lain mereka berdoa dalam sinagoga-sinagoga pada waktu-waktu
tertentu sepanjang hari. Namun demikian, ketika hidup bersama Yesus
mereka menemukan cara hidup baru dalam persekutuan yang mesra dan
mereka merasakan kebutuhan untuk berbicara kepada Bapa dengan cara yang
berbeda. Yesus menantikan orang-orang yang meminta Dia mengajarkan
mereka bagaimana harus berdoa. Lihat Mat 6:9.
• 5. Yesus mendesak kita untuk memohon dengan tekun tanpa menjadi
lelah, tetapi sebaliknya, memohon sampai “melelahkan” Allah. Allah
tidak akan selamanya mengabulkan apa yang kita minta, karena kita tidak
tahu apa yang baik bagi kita. Ia akan memberi kita Roh Kudus atau suatu
pandangan yang lebih jelas tentang kehendak-Nya, dan sekaligus keberanian untuk mengikuti-Nya.
Ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu (ay. 9). Penggalan dari
renungan Pater Molinie dapat dijadikan komentar atas ayat ini. “Jika
Allah tidak mengabulkan semua permohonan kita dengan segera, itu bukan
berarti Ia senang membuat kita menunggu. Jika kita mesti berkanjang
dalam doa, itu bukan karena kita butuh sejumlah doa, tetapi karena
dituntut suatu kualitas, suatu cara berdoa. Jika kita sanggup memiliki
semuanya sejak awal, maka itu berarti doa kita langsung didengarkan.”
“Doa berarti bisikan Roh Kudus di dalam hati kita seperti kata Santo
Paulus. Namun, kita membutuhkan bisikan ini berulang-ulang agar dapat
dibuka jalan di hati kita yang sekeras batu, sama seperti tetesan air
melubangi batu yang paling keras. Setelah kita mengulangi doa Bapa Kami
dan Salam Maria dengan tekun, pada suatu hari nanti kita dapat
mendoakannya dengan cara yang benar-benar selaras dengan kehendak
Allah. Ia sendiri menantikan bisikan ini, satu-satunya kekuatan yang
dapat menggerakkan Dia dari dalam, karena sesungguhnya berasal dari
dalam hati-Nya sendiri.
“Sejauh kita tidak memainkan nada ini, atau menariknya dari dalam,
Allah tidak dapat ditaklukkan. Bukan berarti bahwa Allah mempertahankan
diri-Nya sendiri karena Ia merupakan kelemahlembutan dan aliran yang
murni, melainkan sejauh tidak ada nada yang selaras dalam diri kita,
maka arus tidak dapat mengalir antara Dia dan kita. Manusia menjadi
bosan berdoa, tetapi jika ia berkanjang dan tidak patah semangat, ia
akan
perlahan-lahan
membuang
kesombongannya.
Sesudah
letih
dan
dikalahkan,
ia
memperoleh
jauh
lebih
banyak
daripada
yang
diinginkannya.”
PERMOHONAN – PARA KUDUS
Yesus mengundang kita untuk meminta dengan tekun: permohonan yang
tekun tidak lagi menjadi sikap mementingkan diri sendiri melainkan
menjadi doa; dengan kata lain, permohonan itu mengangkat kita dan
mendekatkan kita kepada Allah.
Bagaimana dengan memohon perantaraan para kudus? Kita harus mengakui
bahwa sangat sering orang yang memohon perantaraan para kudus mengambil jalan yang bertentangan dengan doa yang sejati. Orang semacam itu
tidak tertarik untuk menemukan belas kasih Allah, melainkan hanya berusaha mendapat bantuan. Ia tidak peduli kepada siapa ia mengalamatkan
doanya, sepanjang dia menemukan suatu wadah yang secara efisien dan
otomatis mencurahkan keberuntungan untuk dirinya. Inilah awal pencarian
orang kudus ini dan itu, tempat-tempat suci ini dan itu, devosi ini dan
itu.
Gereja adalah satu keluarga. Sama seperti kita meminta teman-teman
kita untuk berdoa bagi kita, begitulah seharusnya kita meminta kepada
saudara-saudari kita, yaitu para kudus, untuk berdoa bagi kita. Tak
seorang pun akan mengkritik kita, bila di waktu-waktu tertentu, kita
menunjukkan keyakinan kita akan pengantaraan orang kudus, khususnya pengantaraan mereka yang lebih kita kagumi karena kita mengetahui hidup
dan karya mereka. “Permohonan” kepada para kudus ini tidak boleh dikelirukan dengan perkanjangan dalam doa yang membawa kita ke dalam
misteri Allah. Hanya Maria, bunda Allah dapat menemani kita di dalam
doa karena Allah menjadikan dia bunda kita; karena Tuhan menaruh dalam
diri Maria segala kasih sayang-Nya untuk kita; Tuhan mempersatukan
Maria dengan diri-Nya sedemikian rupa sehingga ketika kita memandang
kepadanya, kita selalu menemukan kehadiran Allah yang menghidupkan.
• 14. Lihat komentar atas Markus 3:22 dan Matius 12:23.
Oleh jari Allah (ay. 20). Dalam Keluaran 8:15 ungkapan yang sama
digunakan untuk menunjukkan kuasa Allah yang mengerjakan keajaiban.
• 23. Barang siapa tidak bersama Aku… Penggalan kalimat ini tampaknya
bertentangan dengan Luk 9:50: Barang siapa tidak menentang kamu bersekutu dengan kamu. Sesungguhnya dalam Lukas 9:50 Yesus mengakui bahwa
keluarga rohaninya jauh lebih luas daripada kelompok murid-murid yang
kelihatan: mereka yang tidak termasuk anggota Gereja tetapi bekerja
dengan sasaran yang sama, harus dipandang sebagai sahabat.
Di lain pihak, di dalam Lukas 11:23, Yesus berbicara tentang orangorang yang menolak menerima Dia dan pesan-Nya dan yang tetap tidak mau
bergabung: mereka tidak bergabung dengan kelompok-Nya, dan kemudian
mereka mengkritik Dia.
• 24. Orang Yahudi percaya bahwa roh jahat lebih suka hidup di padang
gurun, karena Allah telah mencampakkan mereka di sana (Tob 8:3). Di
sini Yesus berbicara tentang suatu bangsa yang hanya percaya sebentar
saja karena mereka belum cukup bertobat dari dosa-dosa mereka di masa
lampau. Mereka menikmati mendengarkan sabda, tetapi mereka tidak mau
memenuhi persyaratannya yang berat yang menyanggupkan mereka me- nyembuhkan akar kejahatan. Lihat komentar atas Mat 12:43.
• 27. Terberkatilah dia yang melahirkan Engkau! Perempuan ini iri
terhadap ibu Yesus dan benar-benar terkesima oleh cara Yesus berbicara.
Dia keliru kalau berpikir bahwa keluarga Yesus dapat berbangga karena
Yesus; dia hanya membuang-buang waktu jika dia hanya mengagumi katakata Yesus daripada menghayatinya. Maka Yesus mengarahkan pandangan
perempuan itu kepada Bapa, yang kata-kata-Nya sedang diwartakan, dan
kepada dirinya sendiri yang diundang Allah kepada keluarga putra-putriNya.
Akan halnya Maria, ibu Yesus, orang yang percaya (1:45), ia menyimpan
semua sabda dan perbuatan Tuhan di dalam hatinya. (Luk 2:15).
• 29. Orang-orang Niniwe, karena merupakan orang-orang berdosa, tidak
menerima tanda lain kecuali kedatangan Yunus, yang mengajak mereka
bertobat. Orang-orang sezaman Yesus percaya bahwa mereka “baik” karena
mereka termasuk umat Allah, dan mereka tidak menyadari bahwa saatnya
telah tiba bagi mereka untuk bertobat.
Orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang ini dan menuduh
mereka (ay. 32). Sekali lagi Yesus mempergunakan gambaran tradisional
tentang pengadilan kolektif di mana tiap-tiap orang memaafkan dirinya,
dengan menunjuk pada orang lain yang berdosa lebih besar. Gambaran ini
menyiratkan satu kebenaran yang mendalam: Semua yang telah Allah
berikan kepada masing-masing kita harus menghasilkan buah-buah bagi
kemanusiaan.
• 37. Lihat komentar atas Matius 23.
Alkitab tidak menuntut pemurnian ritual ini yang juga disebutkan
Markus dalam 7:3 tetapi guru-guru di masa Yesus menekankan bahwa ritus
pemurnian itu perlu. Yesus menentang kewajiban agama yang baru ini.
Mengapa mereka tidak memberi perhatian yang lebih besar kepada
pemurnian batiniah?
Kemudian kita membaca tentang kecaman Yesus yang dialamatkan kepada
kaum Farisi pada berbagai kesempatan. Jika Lukas dan Matius telah
merekam kata-kata Yesus yang sangat keras ini, maka ini barangkali
merupakan suatu peringatan bahwa apa yang disampaikan oleh Injil jauh
melebihi pandangan kaum Farisi yang mengklaim bahwa mereka begitu
memperhatikan pelayanan kepada Allah. Beberapa dari antara mereka
merupakan anggota jemaat Kristen yang pertama, dan sangat berpengaruh
(Kis 15:5). Tak ayal lagi, sikap permusuhan yang diperlihatkan partai
kaum Farisi dalam tahun-tahun berikutnya menjelaskan mengapa kecaman
ini diabadikan. Tentu ada alasan lain dan lebih mendalam yang
menimbulkan kecaman terhadap orang-orang Farisi yang dapat kita baca
dalam Kitab Suci.
Adalah kenyataan bahwa setiap komunitas religius mengkhianati prinsipprinsipnya, persekutuan baru terukir dalam hati. Ini merupakan masalah
orang perorangan dan tetap merupakan anugerah cuma-cuma bagi dia yang
menerimanya.
Secara teoretis ini merupakan karunia mengetahui dengan baik ajaranajaran Gereja, memberi pelayanan, atau menjadi bagian dari kelompok
yang menghayati nilai-nilai kristiani secara lebih serius. Namun dalam
praktek, semuanya membuat kita lebih sulit untuk menjadi benar-benar
rendah hati, dan sering kali menghalangi kita untuk mengambil tempat
terakhir yang menjadi bagian kita.
• 49. Mereka yang, sebelum Lukas menuliskan ucapan Yesus ini: Aku akan
mengutus para nabi… (yang dapat juga dibaca dalam Mat 23:34), memperkenalkannya dengan rumusan: “Kebijaksanaan berkata”, yang merupakan
salah satu nama untuk Yesus. Ketika Lukas menempatkan kata-kata ini
dalam wejangan Yesus, ia lupa menghilangkan kata-kata ini. Seandainya
dihilangkan maka teksnya akan menjadi jauh lebih jelas.
Lihat komentar atas Matius 23:34. Yesus me-nyatakan bahwa kaum Farisi
dan guru-guru Hukum akan menjadi kelompok yang paling bertanggung jawab
atas pengejaran terhadap orang-orang Kristen pertama (menentang para
rasul dan nabi yang akan diutus-Nya). Yesus juga memaklumkan bahwa
hukuman terhadap pengejaran ini akan menimpa generasi yang sekarang,
dan dengan demikian meramalkan kehancuran bangsa Yahudi pada tahun 70
Masehi.
Peringatan
Yesus
ini
sama
relevannya
bagi
institusi-institusi
kristiani dan semua mereka yang dengan cara tertentu memimpin umat.
Kita juga barangkali membangun Gereja bagi kelompok “elit” yang secara
tidak sadar meremehkan kaum miskin dan sederhana. Maka dengan cepat
para nabi dilumpuhkan dan disingkirkan.
Kamu sendiri belum masuk, dan kamu menghalangi yang lain untuk masuk
(ay. 52). Bukankah ini merupakan salah satu dari sekian banyak alasan
yang membuat orang-orang kecil pindah ke gereja yang lain?
• 12.1 Tak suatu pun hal tersembunyi yang tidak akan dinyatakan: ini
dapat ditafsirkan dengan berbagai cara. Dalam paragraf-paragraf ini,
Yesus mengacu kepada kesaksian iman yang berani. Kita harus berbicara
tentang kebenaran tanpa menghiraukan apa yang dipikirkan dan dikatakan
orang tentang kita. Di sini kemunafikan dikaitkan dengan mereka yang
selalu berusaha bersikap diplomatis, yang keprihatinan utamanya adalah
tidak mau kehilangan teman-teman.
Jangan takut (ay. 4): lihat komentar atas Matius 10:28.
Setiap orang yang mengkritik Putra Manusia (ay. 10): lihat komentar
atas Markus 3:29.
KETAMAKAN – PRODUKTIVITAS
• 13. Siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atas kamu?
Yesus tidak memecahkan persoalan hukum seperti yang dilakukan guru-guru
Hukum, karena Hukumlah yang menentukan soal-soal sipil dan agama. Yesus
menggunakan kuasa-Nya hanya untuk hal-hal yang hakiki: menekan
ketamakan yang telah berkecambah dalam hati kita lebih penting daripada
melihat hak setiap orang dengan kaca pembesar.
Hindarilah segala macam ketamakan (ay. 15). Yesus tidak mengatakan
bahwa hidup kita harus serba pas-pasan atau bahkan melarat, tanpa perumahan yang memadai atau kesempatan untuk meraih pendidikan. Kita tahu
bahwa semuanya ini merintangi peningkatan kesadaran umat akan martabat
dan panggilan ilahi mereka. Yesus tidak mengkritik usaha kita untuk
mencapai suatu ma-syarakat yang lebih adil, karena seluruh Kitab Suci
menuntut hal itu.
Adalah satu hal mencari keadilan sambil mengetahui bahwa tanpa
keadilan tidak ada perdamaian atau persatuan; lain hal lagi memandang
apa yang dimiliki orang lain dengan nafsu untuk mengambil bagian dalam
ketamakan orang lain. Hari ini kita meneriakkan keadilan tetapi esok
kita mencari “kebutuhan” yang sesungguhnya tidak perlu. Ketamakan
seperti itu tidak akan membuat kita tenang, dan yang lebih penting,
akan menutup pintu Kerajaan Allah di muka kita (Mrk 10:23; 1Tim.6:8).
Harta kekayaan tidak akan memberi hidup (ay. 15). Pastikan agar
kekhawatiranmu untuk memiliki barang-barang yang belum kaumiliki tidak
membuat engkau melalaikan apa yang dapat memberi engkau hidup sekarang
ini.
Dalam hubungan ini, kita harus membiarkan orang miskin berbicara,
semua saudara-saudari kita yang, meskipun tenggelam dalam kemiskinan,
tetap merupakan pribadi yang hidup dalam dunia ini dalam arti yang
sebenar-benarnya. Apakah kita harus berbelas kasihan terhadap mereka,
atau apakah kita harus menghitung mereka di antara sedikit orang yang
sudah menikmati Kerajaan Allah? Salah satu rintangan terbesar dalam
pembebasan umat Allah adalah ketamakan mereka sendiri. Pada hari mereka
menyetujui untuk mengambil bagian dalam pemogokan atau boikot dan tidak
mencari jalan sendiri untuk mengejar keuntungan bagi kelompok ini atau
kelompok itu, maka mereka akan mulai hidup sebagai manusia sejati.
Apa
yang
harus
kulakukan?
Orang
kaya
dalam
perumpamaan
ini
merencanakan lumbung yang lebih besar demi keuntungannya sendiri dan
Yesus mengecam dia. Kita juga harus mempertimbangkan apa yang harus
kita lakukan untuk mewujudkan pemerataan kekayaan dunia.
Orang yang menimbun harta bagi Allah (ay. 21) tahu bagaimana menemukan
kebahagiaan pada saat sekarang. Di mana pun dia berada dia berusaha
menciptakan jaringan kerja sosial, lewat mana setiap orang memberikan
kepada orang lain dan juga menerima dari mereka, dan tidak lagi
menginginkan dan mengumpulkan harta dengan cara yang serakah.
SEBUAH GEREJA YANG MISKIN SEPERTI YESUS
• 32. Jangan takut hai kawanan yang kecil. Tak pernah dijumpai di
dalam Injil bahwa Yesus membawa kita untuk percaya bahwa semakin lama
semakin banyak orang yang dipertobatkan.
Kita tahu bahwa dunia bukan-Kristen dari segi jumlah lebih penting
daripada dunia “Kristen” dan ia bertumbuh dengan cepat. Ketika begitu
banyak orang dalam dunia “Kristen” tidak lagi menjalankan agamanya,
kita mengerti bahwa Gereja sekaligus merupakan suatu tanda dan suatu
kawanan yang kecil.
Yesus meminta setiap kita untuk melepaskan diri dari perkara-perkara
duniawi dan Ia juga meminta hal yang sama dari kawanan. Yang penting
bagi Gereja bukanlah mendirikan institusi-institusi yang kuat atau
memegang posisi kunci di dalam masyarakat “demi kemuliaan yang semakin
besar bagi Allah”. Gereja yang menantikan kembalinya sang Guru perlu
waspada untuk selalu siap mengemas barang-barangnya karena sewaktuwaktu Tuhan akan mengutus mereka keluar dan meminta mereka menjadi
misionaris lagi.
Juallah apa yang kaumiliki dan berilah sedekah (ay. 33). Apakah orang-
orang biasa yakin bahwa Gereja telah melakukan ini? Orang-orang Kristen
bergirang apabila uskup dan imam mereka mengutuk ketidakadilan dan
mengingatkan mereka akan hak-hak kaum buruh dan kelompok yang terpinggirkan. Tidak cukup kalau kita hanya berkhotbah kepada orang lain.
Allah menuntut keadilan dalam dunia dan kemiskinan dari Gereja-Nya.
Seruan kita akan keadilan tidak akan didengarkan sepanjang Gereja tidak
menerima bagi dirinya seluruh Injil.
Adalah kesukaan hati Bapamu memberikan kepadamu kerajaan: bdk. Luk
10:23 dan Mat 16:16. Gereja berada dalam dunia; inilah kawanan kecil
yang mencari apa yang hakiki.
• 35. Yesus mengembangkan perumpamaan tentang hamba yang menantikan
kembalinya tuannya. Hamba ini dikontraskan dengan orang kaya dalam
paragraf sebelumnya (12:13) yang hanya berpikir tentang usia yang
panjang dan penuh kenikmatan. Hamba ini bekerja bagi Allah.
Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga (ay. 37).
Berjaga-jaga berarti berpikir tentang dunia masa depan. Berjaga-jaga
juga berarti sadar akan kebenaran; kita tidak mengatakan ‘baik’ untuk
yang jahat dan ‘jahat’ untuk yang baik; kita tidak memaafkan diri kita
karena membiarkan kejahatan dan kita tidak terintimidasi di hadapan
ketidakadilan.
Putra Manusia akan datang seperti seorang pencuri (ay. 40). Kita tidak
boleh berpikir bahwa ini mengacu hanya kepada hari kematian, dan kita
tidak perlu takut akan pengadilan Allah jika kita hidup dalam rahmatNya. Yesus berkata kepada kita tentang tuan yang kembali dari pesta
nikah, yang begitu berbahagia sehingga Ia menjungkirbalikkan kebiasaan
yang lazim dan mulai melayani hamba-hambanya. Jika kita telah melayani
Allah selama bertahun-tahun, mengapa kita tidak bisa sampai kepada
tahap kehidupan rohani yang lebih tinggi yang di dalamnya Allah
tampaknya hanya berpikir tentang melayani kita dan berpesta bersama
kita?
Petrus berkata kepada-Nya, (ay. 41). Paragraf ini ditujukan kepada
mereka yang memegang jabatan penting di dalam Gereja.
Tuanku terlambat datang (ay. 45). Mereka yang memegang jabatan penting
bisa saja mengkhianati misinya. Lebih sering lagi, mereka melakukan
kekeliruan dengan hanya melihat berfungsinya lembaga secara efisien dan
efektif lalu lupa akan kedatangan Kristus.
Allah datang sepanjang waktu melalui peristiwa yang secara tak
tersangka-sangka meruntuhkan rencana-rencana kita. Karena itu gereja
tidak boleh terlalu bersandar pada perencanaan kegiatan-kegiatannya,
siapakah yang mengetahui apa yang sudah disiapkan Allah untuk kita
besok? Gereja seharusnya memperhatikan doa dan kesiapannya sehingga
Tuhan akan membiarkan dia berada dalam situasi aman, ketika Ia
menggguncang alam semesta.
Waspadalah untuk mengagumi, bersukacita dalam dan menemukan kehadiran
Allah dan berkat-berkat-Nya yang menerangi hidup kita.
• 49. Aku telah datang untuk membawa api. Haruskah kita berpikir
tentang api sebagai cinta, Injil atau karunia Roh Kudus? Lebih baik
kita tetap dengan gambaran api yang memurnikan, membakar semua yang
lapuk, memberikan kehangatan dan menunjang kehidupan; api pengadilan
Allah menghancurkan semua yang tidak menyerahkan diri kepada daya
pembarunya.
Yesus datang untuk menjadikan kembali dunia dan mengeluarkan permata
dari bebatuan yang akan bertahan sampai keabadian. Mereka yang
mengikuti Yesus harus mengambil bagian dalam karya pe-nyelamatan ini
yang diarahkan pada suatu situasi yang menggabungkan kerja, kekerasan,
penderitaan, serta berbagai khayalan baik yang masuk akal maupun yang
mengawang-awang.
Aku harus menjalani pembaptisan… (ay. 50). Yesus adalah pemimpin dan
akan menjadi orang pertama yang menghadapi kematian sebagai sarana
memperoleh kebangkitan. Langkah ini, yang penuh penderitaan baik bagi
Yesus maupun bagi kita adalah pembaptisan dengan api (lihat Lukas 3:16)
yang mengantar kita ke dalam hidup yang mulia dan abadi. Ini merupakan
pembaptisan yang benar, sementara dua pembaptisan yang lain, yakni pembaptisan dengan air dan Roh Kudus, hanyalah persiapan (Rom. 6:3-5).
Aku datang membawa perpecahan. Ini diikuti oleh kata-kata Yesus yang
juga membingungkan mereka yang mengharapkan dari pada-Nya hidup yang
damai. Yesus adalah sumber perpecahan di antara bangsa-bangsa (lihat
komentar atas Yohanes 10:1-4) dan kelompok-kelompok sosial. Sering
orang berusaha mempergunakan agama sebagai perekat bagi kesatuan
nasional atau perdamaian keluarga. Benarlah bahwa iman-kepercayaan
merupakan salah satu faktor dalam perdamaian dan pengertian. Tetapi
iman-kepercayaan juga memisahkan mereka yang benar-benar menghayati
agamanya dari mereka yang entah kerabat atau sahabat, tidak bisa
memiliki sekarang apa yang bernilai paling penting bagi orang beriman
sejati ini. Sering kali luka dan skandal yang diakibatkan oleh
perpisahan ini begitu menyakitkan sehingga mereka menjadi penganiaya
kita.
Injil tidak menempatkan dunia ini pada jalan menuju taman firdaus
duniawi, tetapi ia menantangnya untuk bertumbuh. Kematian Yesus membawa
apa yang tersembunyi dalam hati manusia kepada terang yang sepenuhpenuhnya (Luk 2:35); demikian pula ia menyatakan tipu-daya dan
kekerasan yang mendasari masyarakat kita, sama seperti ia menyingkap
hal-hal ini yang mendasari masyarakat Yahudi pada masanya.
• 54. Ketika engkau melihat awan. Tanda-tanda yang terlihat di seputar
Yesus cukup bagi setiap orang untuk mengerti bahwa sekaranglah saat
yang
dimaklumkan
oleh
para
nabi,
ketika
umat
manusia
harus
dipertobatkan dan Israel harus mengakui Juruselamatnya, esok sudah
terlambat (ay. 57-59).
Ketika engkau pergi bersama pendakwamu ke depan pengadilan (ay. 58).
Dalam Injil Matius, ini mengacu kepada rekonsiliasi antara saudara dan
saudari. Lukas, sebaliknya, menggunakan frase ini untuk menunjuk pada
pertobatan kita. Kita ada di jalan menuju pengadilan Allah dan itu sama
seperti datang ke hadapan penguasa; karena itu kita harus mempergunakan
waktu yang diberikan ini dengan sebaik-baiknya untuk meluruskan situasi
kita. Kita tidak boleh membuang-buang kesempatan ini ketika kita dapat
diselamatkan dari Pengadilan dengan percaya kepada warta Kristus.
• 13.1 Mereka menyampaikan kepada Yesus… tentang pemberontakan orangorang Galilea di halaman kenisah dan intervensi yang mendadak dari
pasukan
Romawi
yang
ditempatkan
pada
benteng
terdekat.
Mereka
mencemarkan pelataran suci yang hanya boleh dimasuki orang Yahudi dan
menumpahkan darah di Tempat Kudus.
Mereka yang menyampaikan cerita ini mengharapkan agar Yesus akan
memperlihatkan rasa nasionalisme dan keagamaan-Nya dengan mengutuk
pembunuhan terhadap sesama warga negara dan penghinaan terhadap Allah.
Yesus tidak memilih memfokuskan perhatian-Nya pada soal-soal ini, melainkan sebagaimana kebiasaan-Nya, Ia menunjukkan bahwa orang-orang
lebih terobsesi dengan perkara-perkara manusia daripada perkara-perkara
Allah dan Ia mengarahkan perhatian mereka pada apa yang hakiki: orang-
orang Galilea itu adalah orang-orang yang keras, sama seperti tentara
Roma yang membunuh mereka. Itulah saatnya Allah memanggil setiap orang
kepada pertobatan yang padanya bergantung kelangsungan hidup mereka.
Dalam atmosfir yang keras seperti itu tidak ada cara lain bagi bangsa
Yahudi yang terjajah kecuali iman, karena iman bekerja melalui semangat
pengampunan.
HUKUMAN ALLAH
Dalam perikop ini Yesus mempertanyakan gagasan yang kita miliki
tentang hukuman Allah. Kita tidak bisa percaya kepada Allah tanpa
percaya kepada keadilan. Bagi orang Yunani yang dewa-dewanya sewenangwenang, dan tidak begitu jujur, keadilan merupakan kuasa ilahi yang
mengatasi dewa-dewa. Kita selalu cenderung menjadikan diri kita pusat
dunia dan yakin bahwa kita lebih baik dari orang lain. Jika malapetaka
menimpa seseorang, kita berpikir bahwa itu adil, tetapi ketika bencana
menimpa kita, kita bertanya, “Apa yang telah kulakukan terhadap Allah
sehingga bencana ini menimpa diriku?”
Injil membahas beberapa aspek dari masalah ini. Pertama, hendaknya
kita berusaha membebaskan diri dari mentalitas kelompok (lihat 6:32):
kejahatan yang dilakukan oleh musuh kita tidak lebih jelek daripada
kejahatan yang kita lakukan.
Keadilan Allah jauh melampaui keadilan kita, dan baru benar-benar
terwujud dalam kehidupan yang berikutnya (kasus Lazarus, 16:19).
Kemalangan yang bagi kita di dunia ini tampak sebagai “hukuman Allah”
tidak lebih daripada suatu tanda yang bernilai pedagogis yang
dipergunakan Allah untuk membuat kita sadar akan dosa kita. Dan Allah
sering mempertobatkan seorang pendosa dengan menganugerahkan kepadanya
karunia yang tidak diharapkan (lihat kasus Zakeus, 19:1).
Kalau begitu mengapa ada begitu banyak hukuman Allah dalam Perjanjian
Lama? Umat Allah belum mengenal kehidupan abadi, sehingga perlulah
berbicara tentang hukuman Allah dalam kehidupan di dunia ini, agar
orang-orang ini percaya kepada keadilan-Nya. Sesungguhnya Allah terus
memberikan tanda semacam itu baik untuk perorangan maupun untuk
kelompok. Baiklah kalau kita belajar mengenal tanda-tanda itu, sambil
mengingat bahwa itu bukanlah kata akhir dari keadilan Allah.
• 10. Kata melepaskan (ay. 15) dipergunakan oleh orang Yahudi untuk
menyatakan bahwa dosa atau hukuman bagi seseorang dibatalkan. Itu juga
berarti membebaskan seekor hewan dari kuknya. Yesus membebaskan pribadi
manusia dan mengundang kita untuk mengikuti teladan-Nya.
Kita tidak boleh terkejut atas kebencian kepala sinagoga. Karena ia
belum pernah sanggup membantu saudara perempuannya yang sakit, ia pasti
merasa martabatnya telah dilecehkan oleh gerakan Yesus. Bukankah itu
pengalaman kita juga? Tidak pernah terjadi bahwa Yesus meminta izin
dari penguasa untuk menyelamatkan orang lain.
• 18. Lihat komentar atas Matius 13:31. Di akhir pelayanan-Nya di
Galilea, Yesus mengajak kita untuk bersikap optimis: meskipun hasilnya
tidak seberapa, benih telah ditaburkan dan Kerajaan Allah terus
bertumbuh.
• 22. Lihat komentar tentang Matius 7:13.
Benarkah bahwa hanya sedikit orang yang akan diselamatkan? Yesus
memandang hal ini sebagai pertanyaan yang tidak ada gunanya. Yang seharusnya ditanyakan adalah apakah Israel mendengarkan panggilan Allah,
dan apakah dia tengah mengambil jalan sempit yang akan menyelamatkan
dia.
Orang-orang dari timur dan barat (ay. 29). Orang-orang dari segala
bangsa akan dipertobatkan dan masuk ke dalam Gereja sementara bangsa
Yahudi – untuk sebagian besarnya – akan tetap tinggal di luar.
• 34. Lihat komentar tentang Matius 23:37.
Perhatikan bahwa ada perbedaan kecil: sampai tiba saatnya engkau akan
berkata (ay. 35). Bagi Lukas, murid Paulus, ini merupakan suatu
kepastian: hari itu akan datang ketika Israel mengakui Kristus (lihat
Rom 11:25-32). Karena Yesus telah datang untuk menyelamatkan Israel,
yang berarti memberi makna kepada sejarahnya. Tak ayal lagi, itu akan
menjadi akhir dari seluruh sejarah lainnya.
• 14.7 Di sini Yesus mengembangkan amsal kitab suci yang mengundang
kita untuk bersikap merendah dalam pertemuan-pertemuan atau kegiatan
sosial (Ams 25:6-7). Perilaku seperti itu cocok dengan anak-anak Allah.
Apa pun wilayah kegiatan manusia, hendaknya kita membiarkan orang lain
mencari tempat pertama. Kita tahu bahwa yang penting bukan hal yang
dilihat: Allah tahu bagaimana meninggikan orang yang rendah hati dan
menempatkan mereka pada tempat yang paling sesuai untuk mereka.
Tambahan pula, ketika kita meninggalkan gereja duniawi menuju kerajaan
surga, di sana akan ada perubahan mengenai siapa yang harus duduk di
tempat utama. Seorang paus, uskup, atau tokoh Katolik yang menonjol
bisa saja mendapat tempat lebih rendah daripada seorang ibu rumah
tangga yang sederhana.
• 12. Setiap kita berusaha untuk dekat dengan mereka yang ada di atas
kita, karena kita berpikir kita akan memperoleh keuntungan yang lebih
besar jika berhubungan dengan orang yang lebih tinggi daripada jika
berhubungan dengan orang yang lebih rendah.
Peringatan Yesus menunjuk pada salah satu sebab utama ketidakadilan.
Kita semua mengambil bagian dalam kesalahan ketika kita memutuskan
dengan siapa kita berhubungan karena lebih mendatangkan keuntungan;
karena itu, setiap orang yang berusaha naik ke anak tangga yang lebih
tinggi, selalu meninggalkan yang paling lemah dalam keadaan terisolir
dan tak berdaya.
Akan merupakan pemandangan aneh jika tokoh-tokoh masyarakat dan
pejabat pemerintahan lebih memberi perhatian kepada orang-orang yang
berpakaian compang-camping, atau kawasan kumuh diberi fasilitas listrik
dan air lebih dulu dari pemukiman mewah, atau melihat dokter berpraktek
di pedalaman.
DALIH-DALIH
• 15. Pada banyak bagian Perjanjian Lama ada percakapan tentang suatu
“perjamuan” yang disediakan Allah bagi orang baik, bagi hamba-hambaNya, ketika Ia datang untuk mendirikan Kerajaan-Nya. Yesus juga
mengembangkan tema ini banyak kali karena perjamuan melambangkan
persekutuan para kudus. Perumpamaan di sini sangat mirip dengan
perumpamaan yang diceritakan Matius dalam 22:1.
Berbahagialah mereka yang makan pada perjamuan dalam Kerajaan Allah,
kata orang itu kepada Yesus. Barangkali ia tidak curiga bahwa untuk
dapat mengambil bagian dalam pesta abadi, kita perlu menanggapi
panggilan dari Allah yang mengundang setiap orang untuk berkumpul dalam
jemaat-Nya, yaitu Gereja dan membangun suatu dunia yang lebih saling
mengasihi. Dia yang berpaling dari saudara atau saudarinya hari ini
tidak akan berjamu bersama orang lain dalam perjamuan itu.
Kita diberi alasan mengapa mereka yang diundang tidak menanggapi
panggilan Tuhan, ketika Ia memanggil mereka untuk membangun suatu dunia
yang lebih baik bersama Dia. Aku telah membeli sebidang ladang… Aku
baru saja kawin… Semuanya ini merupakan alasan yang baik. Namun kekhawatiran terhadap ekonomi rumah tangga tidak boleh menghentikan
keterlibatan kita dalam kegiat-an umat, ataupun menghalangi kita untuk
terlibat dalam persekutuan kristiani. Banyak kali mereka yang lebih
terpelajar terlalu risau dengan kebutuhan akan suatu “rumah tangga yang
bahagia” dengan anak-anak yang terdidik. Jika kita tidak keras dengan
diri sendiri maka kita akan segera berada di antara benih yang
terhimpit onak dan duri.
Bawalah orang miskin… paksalah mereka untuk datang ke Gerejaku;
doronglah mereka untuk memainkan peran yang cocok dalam masyarakat.
Allah mengandalkan orang miskin dan tersingkirkan untuk mempertahankan
aspirasi menuju perdamaian dan keadilan di dalam dunia, untuk membangkitkan hati nurani orang-orang “baik” yang hidupnya terlalu mewah.
• 25. Yesus memikirkan orang-orang yang setelah begitu antusias
menerima Dia dan melepaskan ambisi-ambisi pribadinya demi membaktikan
dirinya bagi pewartaan Injil, berbalik mencari apa yang oleh orangorang biasa dilihat sebagai hidup yang lebih ‘normal’ dan terjamin.
Yesus membutuhkan murid-murid yang memberikan komitmen yang sekali
untuk selama-lamanya terhadap tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya.
Mengapa
dilakukan
perbandingan
dengan
raja
yang
hendak
pergi
berperang? Karena orang yang membebaskan dirinya demi pelayanan Injil,
sesungguhnya adalah seorang raja yang akan memperoleh ganjaran Allah
yang lebih besar daripada ganjaran yang diberikan oleh siapa pun juga
(lihat Mrk 10:30). Ia juga harus mengetahui bahwa pertempuran yang dia
lakukan adalah melawan “pemilik” dunia ini, yaitu iblis, yang berusaha
menghentikan dia dengan seribu satu macam ujian dan perangkap yang tak
tersangka-sangka. Andaikan dia tidak menyerah secara total, maka murid
itu akan gagal dan lebih jelek keadaannya daripada kalau dia tidak
pernah mulai.
Sepanjang engkau tidak menyerah... (ay. 33). Yesus meminta kepada
beberapa orang untuk meninggalkan orang-orang yang dikasihinya dan
masalah-masalah keluarganya. Kepada semua orang Ia menunjukkan bahwa
kita tidak akan pernah bebas menjawabi panggilan Allah, jika kita tidak
bersedia meninjau kembali kekhawatiran tentang hubungan keluarga,
penggunaan waktu kita dan semua yang kita kurbankan demi suatu
kehidupan yang layak menurut pemikiran banyak orang.
Tanpa melepaskan cintamu terhadap ayahmu dan anak-anakmu… (ay. 26).
Ayat ini dijumpai dalam Matius 10:37. Lukas menambahkan: istrimu.
KAMBING HITAM
• 15.4 Mengapa orang-orang Farisi menggerutu? Karena mereka selalu
risau dengan kemurnian ritual. Dalam perspektif ini – yang ada dalam
Perjanjian Lama – maka dalam hubungan antara dua orang, pihak yang
najis akan mencemarkan pihak yang tahir. Karena para “pendosa” pada
hakekatnya tidak pernah berpikir untuk memurnikan dirinya dari berbagai
macam kecemaran dalam kehidupan sehari-hari, maka Yesus dapat dipandang
sebagai seorang guru yang siap menjadi tercemar setiap saat. Dengan
demikian Yesus harus berbicara tentang belas kasih Allah yang tidak
menyapu bersih pendosa dari hadapan-Nya.
Kemudian, bukankah ada sesuatu yang lebih manusiawi dalam kebencian
orang-orang “baik”: biarlah setiap orang melihat perbedaan antara kita
dan orang lain! Sekali lagi Yesus bertempur melawan gagasan kuno, bahwa
jasa yang telah diberikan pantas mendapat ganjaran Allah.
Berbahagialah seekor domba yang dicari Yesus daripada sembilan puluh
sembilan yang ditinggalkan! Kasihan, orang-orang benar yang tidak membutuhkan pengampunan Allah!
Di kota-kota besar dewasa ini, gereja rupanya dibiarkan hanya seekor
domba
saja.
Mengapa
ia
tidak
keluar,
dalam
arti
melepaskan
penghasilannya, hak-hak istimewanya serta devosi-devosi yang bersifat
komersial supaya bisa keluar mencari sembilan puluh sembilan yang
tersesat? Meninggalkan lingkungan nyaman orang-orang yang tidak bermasalah, melihat di luar batas-batas ritual-ritual yang telah dibarui dan
siap dikritik sebagaimana Yesus dikritik, itulah tantangan dewasa ini.
Siapakah yang menyalakan lampu, menyapu rumah dan tidak mencari kalau
bukan Allah sendiri? Demi penghormatan terhadap Allah, orang-orang
Yahudi di masa Yesus lebih suka untuk tidak me-nyebut nama Allah, dan
mereka menggunakan ungkapan-ungkapan seperti malaikat-malaikat atau
surga.
DOSA ASAL DAN BAPA YANG MURAH HATI
• 11. Ada tiga tokoh dalam perumpamaan ini: bapa, yang mewakili Allah;
anak sulung, yang mewakili orang Farisi, dan anak bungsu. Siapakah anak
bungsu ini? Barangkali pendosa atau Manusia.
Manusia menginginkan kebebasan dan sering kali berpikir bahwa Allah
mengambil kebebasan itu dari dirinya. Ia mulai dengan meninggalkan sang
ayah, yang cintanya tidak dia pahami dan yang kehadirannya telah
menjadi beban baginya. Sesudah memboroskan warisan tanpa mempedulikan
berapa nilainya, ia kehilangan kehormatannya dan menjadi budak orang
lain dan perbuatan-perbuatan yang memalukan (babi adalah binatang najis
bagi orang Yahudi).
Anak itu kembali. Setelah sadar akan perbudakannya, ia meyakinkan
dirinya bahwa Allah mempunyai rencana yang lebih baik bagi dirinya, dan
ia pun mulai menempuh jalan pulang. Begitu ia tiba, ia menemukan bahwa
sang Bapa sangat berbeda dengan apa yang dia pikirkan sebelumnya,
bapanya tengah menantikan dia dan berlari menemui dia; ia memulihkan
martabat anaknya, dengan menghapus ingatan akan warisan yang hilang.
Ada perayaan pesta yang banyak kali disebut oleh Yesus.
Pada akhirnya kita mengerti bahwa Allah adalah Bapa. Ia tidak menaruh
kita di bumi untuk mengumpulkan bintang jasa dan tanda penghargaan
tetapi untuk menemukan bahwa kita adalah anak-anak-Nya. Kita dilahirkan
sebagai pendosa: sejak permulaan hidup kita, kita dibimbing oleh
perasaan-perasaan kita dan contoh-contoh yang buruk dari masyarakat
tempat kita dibesarkan. Dan yang lebih penting: sepanjang Allah tidak
mengambil prakarsa dan menyatakan diri-Nya kepada kita, kita tidak
dapat berpikir tentang kebebasan selain dalam pengertian bebas dari
Dia.
Allah tidak terkejut oleh kejahatan kita karena dengan menciptakan
kita sebagai makhluk yang bebas, Ia menerima risiko bahwa kita akan
jatuh. Allah bersama kita dalam seluruh pengalaman kita akan baik dan
buruk, sampai Ia dapat memanggil kita putra-putri-Nya berkat jasa Putra
Tunggal-Nya, Yesus. Perhatikan kalimat yang dahsyat ini: Aku telah
berdosa melawan Allah dan melawan Engkau. Dosa berarti menentang Surga
yang berarti menentang Allah yang adalah kebenaran dan kekudusan.
Tetapi Allah adalah juga bapa yang prihatin terhadap putranya; putra
telah berdosa di hadapan Dia yang menarik kebaikan dari dalam
kejahatan.
Demikianlah Allah dan Bapa kita – Dia yang menciptakan kita hari demi
hari, tanpa kita menyadarinya, sementara kita terus berjalan pada jalan
kita; Dia yang mencari pendosa yang dapat dilimpahi-Nya dengan
kekayaan.
Anak sulung, yaitu anak yang taat, karena mempunyai hati yang
tertutup, tidak mengerti semuanya ini. Ia telah melayani dengan harapan
mendapat ganjaran, atau sekurang-kurangnya, harapan untuk dilihat
sebagai lebih tinggi dari yang lain; dan ia tidak sanggup menyambut
para pendosa atau mengambil bagian dalam pesta Kristus, karena sesungguhnya ia tidak tahu bagaimana mengasihi.
• 16.1 Yesus tidak berpikir untuk menghukum tindakan curang dari sang
administrator, tetapi menunjuk pada kecerdikannya mempersiapkan masa
depannya, orang ini sanggup menemukan pada waktunya bahwa sahabat lebih
bertahan daripada uang. Atas cara yang sama, dalam mencari mata
pencaharian baru, manusia terang harus melepaskan uang dari bayangbayangnya sebagai Kebaikan Tertinggi. Rupanya menyimpan uang di tempat
yang aman merupakan cara terbaik untuk menjamin keberadaan dan masa
depan kita. Yesus, sebaliknya, mengajar kita untuk mempergunakannya dan
menukarkannya, tanpa ragu-ragu, dengan sesuatu yang lebih berharga
seperti persahabatan atau sikap saling menghargai.
Kita bukanlah pemilik melainkan pengelola atas kekayaan kita dan kita
harus mengelolanya demi kebaikan banyak orang. Uang bukanlah hal yang
jelek sepanjang kita mempergunakannya sebagai sarana untuk mempermudah
penukaran. Yesus bahkan menyebutnya “tidak adil” (kita mempergunakan
kata kotor) karena uang bukanlah barang yang sejati (bukan uang yang
membenarkan kita di hadapan Allah); dan karena tidak mungkin mengumpulkan uang tanpa kehilangan iman kepada Bapa dan tanpa menyakiti
sesama kita.
Uang adalah sesuatu yang diperoleh dan dibelanjakan orang, ia tidak
membuat seseorang semakin besar. Karena itu uang bukanlah bagian dari
harta milik kita (ay. 12).
ORANG KAYA
• 13. Orang Farisi, mendengar semuanya ini dan mengejek Yesus (ay.
14). Lebih dari penginjil yang lain, Lukas melihat bahwa tak dapat
dipadukan agama yang benar dan cinta akan uang. Orang Farisi dapat
membenarkan cinta mereka terhadap uang dengan mengutip kata-kata Kitab
Suci. Sesungguhnya, pada mulanya orang Yahudi melihat kekayaan sebagai
berkat dari Allah. Maka bagi mereka, adillah kalau Allah mengganjari
mereka yang setia kepada-Nya dengan uang sepanjang mereka tahu
mengelola kekayaan dunia. Kemudian, dengan berlalunya waktu, mereka
akhirnya melihat bahwa uang lebih besar bahayanya dan sering kali
menjadi privilese dari orang-orang yang tidak beriman (Mzm 49, Ayub).
Namun demikian, begitu seseorang memiliki uang, ia yakin bahwa ia
memiliki kebenaran. Begitulah kaum Farisi merasa berwewenang untuk
menghakimi dan memutuskan perkara-perkara Allah. Seperti mereka, banyak
orang Kristen yang termasuk dalam kalangan yang berpengaruh, ingin
mempergunakan uang dan kekuasaan demi pelayanan Kerajaan Allah dan
dengan cepat mengukuhkan diri mereka sebagai manajer. Uang pada
gilirannya menguasai mereka yang memilikinya. Cepat atau lambat
seseorang bersedia menyetujui suatu tatanan moral yang membenarkan hakhak istimewanya dan melupakan nilai-nilai Injil seperti keadilan,
kerendahan hati, dan kemiskinan. Pada akhirnya, Gereja sendirilah yang
diremehkan oleh mereka yang mencari Allah.
Mengapa orang-orang miskin merasa rendah diri di hadapan orang-orang
kaya di dalam Gereja? Mereka terbiasa melihat orang-orang kaya memimpin
organisasi gerejawi dan terbiasa pula menerima sabda Allah dari mereka,
meskipun Yesus memberi peringatan tentang bahaya kekayaan.
HUKUM
• 16. Kita akan segera membaca tiga ucapan Yesus yang berkaitan dengan
Hukum. Hukum berarti hukum yang telah diberikan Allah kepada orang
Yahudi. Di samping itu, Hukum dan Kitab para Nabi adalah salah satu
cara yang dipakai orang Yahudi untuk mengacu kepada Tulisan-tulisan
Suci yang kita sebut Perjanjian Lama. Yesus mempergunakan ungkapan ini
di sini untuk menunjuk pada masa Perjanjian Lama, kepada semua yang
bersiap-siap menantikan kedatangan-Nya.
Dari pada satu huruf pun dari Kitab Suci yang tidak terpenuhi (ay.
17): itu berarti segala sesuatu yang termuat di dalamnya mempunyai
makna meskipun Yesus menyatakan bahwa saat yang menentukan telah datang
bersama Dia. Hukum diperlukan untuk mempersiapkan kedatangan-Nya,
tetapi hukum itu tidak lagi dijalankan dan dihayati seperti dulu (lih.
Mat 5: 17-20).
Bagi orang Yahudi yang menjalankan Hukum dan secara khusus bagi mereka
yang
mengikuti
Yohanes
Pembaptis,
ada
satu
lagi
langkah
yang
diperlukan: iman kepada Yesus, dan oleh iman ini menaklukkan Kerajaan
Allah (Luk 7:24). Berbeda dengan apa yang tampak, jauh lebih mudah
menjalankan kewajiban agama, menaati hukum dan berpuasa, daripada
percaya dan mengambil risiko terhadap sesuatu yang belum diketahui
dengan mengikuti Yesus yang tersalib.
• 19. Perumpamaan ini berbicara tentang jurang antara orang kaya dan
miskin yang tidak manusiawi yang kini menjadi persoalan global. Ada
satu hukum uang yang mematikan yang membuat orang kaya hidup terpisah
dalam hal: perumahan, transportasi, rekreasi, layanan kesehatan. Tembok
yang dengan sengaja didirikan oleh orang kaya di dunia ini, sesudah
kematiannya, menjadi jurang dalam yang tak dapat diseberangi oleh
seorang pun. Dia yang menerima pemisahan ini akan menemukan dirinya di
sisi sebelah untuk selama-lamanya.
Seorang miskin bernama Lazarus: Yesus me-nyebut orang miskin ini
dengan nama, tetapi orang kaya tidak. Begitulah Yesus membalikkan
tatanan masyarakat sekarang ini yang memperlakukan orang-orang kaya
sebagai pribadi, tetapi tidak demikian dengan orang miskin. Kita juga
melihat bahwa, pada saat meninggalnya, Lazarus mendapat banyak sahabat:
malaikat-malaikat dan Abraham, bapa kaum beriman. Orang kaya tidak
mendapat sahabat maupun pengacara yang akan membebaskan dia dari
keadaannya, neraka berarti isolasi.
Sementara orang ingin mengetahui apa gerangan dosa si orang kaya ini
yang membuat dia dicampakkan ke neraka. Apakah karena ia menolak
memberikan remah-remah dari meja makannya kepada Lazarus? Injil tidak
mengatakan hal ini. Sebaliknya Injil menunjukkan bahwa orang kaya ini
bahkan tidak melihat Lazarus yang berbaring di pintunya. Ingatlah bahwa
dalam hidupmu engkau sudah sejahtera.
Lazarus zaman sekarang ada jutaan dan sudah ada di depan pintu kita;
mereka dikenal sebagai dunia ketiga atau keempat. Pada skala dunia
negara-negara maju dan minoritas yang mempunyai hak istimewa yang telah
menguasai meja perjamuan yang diperuntukkan bagi semua orang: kekuasaan
yang besar dan kebudayaan yang dipaksakan oleh media massa. Industri
nasional dan sumber-sumber mata pencaharian telah dihancurkan oleh
perdagangan bebas yang tak terhalang oleh larangan moral dan sosial.
Ratusan juta Lazarus dipinggirkan dan ditolak sampai mereka mati dalam
kemelaratan, atau melalui kekerasan yang timbul dari kehidupan yang
tidak manusiawi.
Lazarus zaman modern dijauhkan dari rumah gedongan oleh satpam, anjing
dan kawat berduri. Mereka ingin mengisi perutnya dengan sisa makanan
dari pesta pora, tetapi hanya sedikit yang tertinggal, karena sebagian
besar sudah diboroskan untuk membeli produk-produk impor atau disimpan
di bank-bank luar negeri. Lazarus hidup di antara anjing dan sampah: ia
menjadi pelacur, pencopet, sampai kematian prematur membuat dia bisa
menemukan seseorang yang mencintai dia: di sisi Abraham dan para
malaikat.
Dalam pada itu orang kaya bekerja keras, bukan terutama untuk
menikmati hidup tetapi untuk meyakinkan dirinya bahwa ia benar: bahkan
Gereja harus membenarkan dia dan pemisahan yang diciptakannya. Cara
berpikir yang salah inilah yang membawa dia ke neraka; padahal cara
pikir inilah yang sudah mengilhami dia dengan kebencian dan penghinaan
terhadap mereka yang mewartakan tuntutan keadilan yang diajarkan oleh
Musa dan para nabi, dengan kata lain, yang diajarkan Kitab Suci.
Injil, dalam kerinduannya untuk menyelamatkan orang kaya dan orang
miskin, meminta kita bekerja dengan suatu pandangan untuk menyingkirkan
neraka yang memisahkan kedua kelompok sosial ini. Sudah saatnya
menjembatani jurang pemisah dalam kehidupan ini.
• 17.11 Sepuluh orang kusta yang disembuhkan tetapi hanya seorang yang
diberitahu Imanmu telah menyelamatkan engkau. Dialah yang langsung
menanggapi dari lubuk hatinya. Sementara yang lain hanya merisaukan
pemenuhan kewajiban hukum, ia hanya berpikir tentang mengucap syukur
kepada Allah persis di tempat rahmat Allah menemukan dia: demikianlah
iman yang menyelamatkan dan mengubah kita.
Di antara banyak orang yang meminta kepada Allah karunia kesembuhan
atau karunia yang lain, berapa orangkah yang pada akhirnya benar-benar
mengasihi Allah?
• 20. Bilamanakah Kerajaan Allah itu datang? Kerajaan itu tidak datang
sebagai revolusi atau perubahan musim setiap tahun: ia tengah berkarya
di antara manusia yang menerima Kabar Baik. Mereka yang percaya sudah
menikmati Kerajaan Allah.
Kemudian datanglah sabda Yesus tentang pemusnahan Yerusalem dan
kedatangan-Nya yang kedua (Mrk 13:14). Kita tidak boleh berbicara tentang akhir dunia setiap kali kita gelisah. Yesus memberikan kita dua
perbandingan: kilat (ay. 24) yang dapat dilihat di mana-mana dan burung
nasar (ay. 37) yang pasti akan berkumpul di mana ada mayat. Atas cara
yang sama setiap orang secara tak terelakkan akan insyaf akan
kembalinya Kristus.
Namun kembalinya Kristus ini akan mendapati para penjaga dalam keadaan
lengah (seperti di zaman Nuh). Penghakiman akan memisahkan kaum
terpilih dari kaum terkutuk – tak suatu pun yang memisahkan mereka
dalam kehidupan sehari-hari –dari dua orang yang sedang bekerja
bersama-sama, yang satu akan diambil dan yang lain ditinggalkan.
Dalam Matius 24:17 acuan kepada seorang di luar rumahnya dihubungkan
dengan pemusnahan Yerusalem, dan itu berarti kita harus segera
meluputkan diri. Dalam teks ini, ada makna yang lain: ketika akhir
dunia datang, sudah terlambat untuk berpikir tentang menyelamatkan diri
atau harta kekayaan.
Di mana ini akan terjadi (ay. 37): pertanyaan tolol seperti dalam
Lukas 17:20, karena Tuhan tidak akan datang membawa umatnya ke dalam
suatu lokasi geografis. Pada hari itu, orang baik akan dibawa ke
hadirat Allah, dan itu pasti sama seperti burung nasar berkumpul di
sekeliling mayat.
• 18.1 Jika ada Allah yang adil, mengapa Ia tidak melaksanakan
keadilan? (Mzm 44:23; Ibr 1; Zak 1:12; Why 6:9). Yesus menjawab,
“Apakah kamu merindukan dan meminta keadilan dari Allah dengan iman
yang cukup? Ia pasti akan melaksana- kan keadilan tetapi kamu harus
menunggu.”
Seorang hakim yang tidak takut kepada Allah dan manusia: banyak orang
begitu melihat apa yang tidak adil dan tidak masuk akal dalam hidup,
memandang Allah dengan cara ini. Jika kita berdoa dengan tekun, kita
perlahan-lahan akan menemukan bahwa kenyataan hidup tidaklah se-absurd
seperti yang kita lihat, dan kita akan mengenal wajah Allah yang
mengasihi kita lewat kejadian-kejadian itu.
Siapa yang berseru kepada-Nya siang dan malam (ay. 7). Yesus yang
begitu menekankan tanggung jawab kita kepada dunia, adalah juga Dia
yang mendesak kita untuk berseru kepada Allah siang dan malam. Mengapa
orang-orang lebih suka terbagi (atau mengapa kita membagi mereka)
menjadi pendoa dan pekerja?
Akankah Ia menemukan iman di bumi ini? (ay. 8). Yesus mengukuhkan
suatu pendapat yang biasa ditemukan di kalangan Yahudi di masa itu.
Pada hari terakhir sebelum Penghakiman, kuasa iblis akan begitu besar
sehingga dalam diri banyak orang kasih akan menjadi dingin (Mat 24:12).
Sesungguhnya, dengan kedatangan Kristus yang pertama, Perjanjian Lama
seolah-olah berakhir dengan kegagalan; tidak banyak orang yang percaya
kepada-Nya dan kemudian, kebanyakan orang dipengaruhi oleh kebingungan,
juru selamat palsu dan kekerasan yang memicu kejatuhan bangsa selama
empat puluh tahun sesudah Yesus wafat.
• 9. Orang-orang Farisi bertekad melaksanakan hukum Allah; mereka
sering berpuasa dan melakukan banyak karya amal. Sayangnya, banyak dari
antara mereka yang merasa berjasa karena model hidup seperti itu:
mereka berpikir mereka tidak lagi membutuhkan belas kasih Allah karena
perbuatan-perbuatan baik akan memaksa Allah untuk mengganjari mereka.
Di lain pihak orang kebanyakan itu mengenal dirinya sebagai pendosa di
hadapan Allah dan sesama: apa yang dapat dilakukannya hanyalah meminta
ampun. Dia berada dalam kebenaran dan rahmat Allah ketika kembali ke
rumah.
Yesus berbicara tentang mereka yang benar-benar yakin akan kebenaran
mereka sendiri (ay. 9). Persisnya, teks mengatakan “keadilan mereka”
yang dikontraskan dengan “ia dibenarkan” dalam ay. 14. Kitab Suci
menyebut adil mereka yang hidupnya tertib di hadapan Allah karena
mereka menjalankan hukum-Nya; maka dalam Mat 1:19 dan Luk 1:6 Yusuf dan
Zakharias
disebut
adil.
Tetapi
di
banyak
tempat,
jauh
lebih
dipentingkan tindakan-tindakan lahiriah dari manusia yang adil, dan
bagi orang Farisi serta kelompok religius yang adalah sekaligus suatu
partai atau kelompok sosial, para anggota kelompok memandang diri
mereka sebagai orang baik.
Yesus mengundang kita untuk bersikap rendah hati jika kita ingin
memperoleh satu-satunya kebenaran yang diperhitungkan di mata Allah.
Karena ini bukan soal memperolehnya lewat jasa dan praktek-praktek
keagamaan, tetapi menerimanya sebagai anugerah dari Allah yang
ditujukan kepada mereka yang merindukan pengampunan dan kekudusan.
Bukan kebetulan bahwa perumpamaan ini ada dalam Injil Lukas, murid
Paulus; karena Paulus, orang Farisi yang bertobat itu, terus- menerus
menekankan apa itu keadilan sejati orang Kristen. Apa yang dikehendaki
Allah bagi kita begitu besar sehingga kita takkan pernah bisa
membelinya dengan praktek-praktek keagamaan atau karya-karya amal:
tetapi bagi mereka yang percaya kepada-Nya, Allah memberikan semuanya
(lih. Rm 4).
Juga bukan kebetulan bahwa Yesus menampilkan bagi kita seorang Farisi
yang hanya tahu bagaimana membandingkan dirinya dengan orang lain agar
menemukan dirinya lebih baik daripada orang lain. Justru di situlah
iblis menantikan kita semua dan juga semua kelompok orang Kristen yang
membanggakan dirinya sebagai kelompok yang telah menemukan jalan menuju
pertobatan. Di mana pun kita melihat Gereja yang terbagi, entah dengan
alasan politik atau keagamaan, sudah dapat ditebak bahwa orang-orang
menginginkan situasi itu karena dalam situasi itulah pihak yang satu
dapat membandingkan dirinya dengan pihak yang lain. Sulit rasanya menjadi anggota kelompok “orang-orang yang dipertobatkan” tanpa memandang
dengan penuh kasih sayang kepada saudara-saudari Kristen yang tidak
mengambil jalan yang sama.
KUASA YESUS
• 19.1 Setiap orang di Yerikho menuding Zakheus: bagaimana mungkin
orang ini yang terlibat dalam persekongkolan kotor, (seperti dia juga)
dipertobatkan? Hukuman apa yang akan diberikan Allah kepadanya?
Daripada menghukum dia, Allah datang ke rumahnya.
Yesus menunjukkan bahwa Ia dibimbing oleh Roh ketika Ia ‘memergoki’
Zakheus di antara banyak orang, dan ketika Ia mengerti pada saat itu
juga, bahwa pada hari itu Ia telah datang ke Yerikho, untuk
menyelamatkan seorang kaya.
Zakheus tahu bahwa ia menjadi obyek kecemburuan dan kebencian. Ia
tidak seluruhnya jahat: meskipun tangannya kotor, ia belum kehilangan
pengertian tentang apa yang baik dan ia mengagumi ‘nabi’ Yesus secara
diam-diam. Allah dapat menyelamatkan dia karena niat baiknya. Kebaikan
yang dilakukan Yesus terhadapnya mendorong dia untuk memperlihatkan
kualitas-kualitas yang baik dan manusiawi yang tersembunyi dalam
dirinya.
Dikatakan bahwa ia menerima Yesus dengan sukacita: suatu kegembiraan
yang memperlihatkan transformasi yang telah terjadi dalam dirinya. Sesudah itu, ia tidak mengalami kesulitan meluruskan tindakan-tindakannya
yang bejat. Ia lalu membagikan kekayaannya dan menegakkan kembali
keadilan.
Orang-orang pada marah, dan dalam hal itu mereka meniru orang-orang
Farisi; mereka percaya bahwa nabi Yesus harus mengambil bagian dalam
prasangka mereka bahkan dalam kecemburuan sosial mereka. Yesus bukanlah
seorang demagog; tidak adanya pengertian dari massa pendengar tidak
menjadi soal bagi Yesus; yang menjadi soal adalah ketegaran hati orangorang Farisi. Sekali lagi Yesus menunjukkan kuasa-Nya; Ia menghancurkan
kejahatan dengan menyelamatkan si pendosa.
• 11. Orang-orang Galilea pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah
dan Yesus pergi bersama mereka. Ia tahu bahwa kematian menunggu-Nya,
mereka yakin bahwa Ia akan dimaklumkan sebagai raja dan pembebas
Israel.
Dalam perumpamaan ini Yesus mengundang mereka untuk berpegang pada
harapan lain. Ia akan memerintah sekembalinya dari suatu negeri yang
jauh (kematiannya sendiri) pada akhir sejarah. Dalam pada itu umat-Nya
bertanggung jawab atas kekayaan, yang telah diberikan-Nya kepada mereka
dan yang harus mereka perbanyak. Mereka tidak boleh menantikan
kedatangan-Nya kembali sambil menganggur karena musuh-musuh-Nya akan
memanfaatkan ketidakhadiran-Nya untuk berjuang menentang pengaruh-Nya.
Hamba-hamba Yesus akan mengambil bagian dalam kemenangan-Nya sesuai
dengan jerih payah mereka.
Halaman ini berhubungan erat dengan perumpamaan tentang talenta (Mrk
25:15). Ada dua perbedaan yang ditonjolkan.
Di satu pihak, dalam introduksi dan dalam kesimpulan, Yesus mengacu
kepada kehidupan politik negerinya. Negerinya bergantung kepada Kekaiseran Roma dan raja-rajanya harus dapat diterima oleh pemerintahan
Romawi yang membawahi mereka.
Di lain pihak, perumpamaan ini menekankan keadilan Allah: setiap orang
menerima menurut jasanya. Kebahagiaan surgawi bukanlah sesuatu yang
dapat didistribusikan secara sama rata. Setiap orang akan mengenal
Allah dan ambil bagian dalam kekayaan Allah dalam ukuran sesuai dengan
besar kecilnya cintanya. Setiap langkah yang kita ambil berupa
ketaatan, kurban, dan kerendahan hati, meningkatkan kemampuan kita
untuk menerima Allah dan diubah oleh-Nya.
• 20.9 Betapa banyaknya konfrontasi antara Yesus dan pemimpin-pemimpin
Yerusalem. Di dalam 20:19 Lukas berkata, Mereka takut kepada orang
banyak. Apakah benar bahwa orang Yahudi pada masa itu, guru-guru Hukum
dan para imam lebih jelek daripada kita sekarang? Atau apakah kita
keliru ketika kita bermimpi tentang suatu Gereja tanpa penindasan dan
kontroversi?
Tidak semua kita harus mengalami perlawanan yang dialami Yesus. Ia
memilih bagi diri-Nya jalan salib ini karena itulah jalan raya menuju
Allah.
• 27. Lihat komentar atas Mrk 12:18.
Lukas mempunyai ungkapan sendiri ketika berbicara tentang kebangkitan
dalam ayat 34-36. Itu karena di negara-negara dengan kebudayaan Yunani
(Lukas menulis untuk mereka) banyak orang percaya akan kebakaan jiwa
sebagai sesuatu yang alamiah. Lukas memperjelas hal ini bagi mereka,
bahwa kehidupan yang lain bukanlah sesuatu yang alamiah; ia merupakan
karunia Allah bagi mereka yang dianggap layak memasukinya.
Mereka juga putra-putri Allah. Dengan mempergunakan ungkapan Ibrani,
teks ini berkata, mereka juga adalah putra-putri Allah (pada masa itu
putra-putra Allah adalah para malaikat) karena mereka adalah putraputri kebangkitan. Kebangkitan bukan berarti dipulihkannya hidup
seperti yang kita kenal, melainkan karya Roh Kudus yang mentransformasikan dan menguduskan mereka yang dibangkitkan-Nya. Karena
itu mereka yang dibangkitkan adalah putra-putri Allah dalam arti yang
lebih otentik daripada mereka yang berasal dari dunia ini: karena
dibebaskan dari dosa, mereka dilahirkan kembali oleh Allah.
Semua hidup bagi Dia. Mereka mulai menjadi hidup ketika Allah mengenal
mereka dan memanggil mereka, dan mereka tidak akan lenyap, karena Allah
memanggil mereka dari dunia ini untuk dibawa ke dalam dunia milik-Nya
sendiri.
Iman akan kebangkitan dikontraskan dengan ajaran tentang transmigrasi
yang mengatakan bahwa jiwa-jiwa kembali kepada suatu kehidupan dan
kondisi sosial yang sepadan dengan jasa-jasa mereka. Siklus ini akan
terus berlangsung sepanjang proses pemurnian belum tuntas. Ini
merupakan teori yang kuat yang sanggup menggugah banyak orang di Barat.
Dapat dikatakan bahwa teori ini mudah dan praktis dan membawa orang
kepada hilangnya rasa tanggung jawab karena semua bisa diatur. Namun
sebenarnya ini bukanlah ajaran Hindu: penghayatan ajaran moral mereka
sering kali jauh lebih keras daripada yang kita lakukan, karena mereka
selalu berjaga-jaga untuk menghindar dari berulangnya kembali siklus
ini. Perbedaannya di tempat lain. Ada dua konsep tentang manusia.
Konsep yang satu mengatakan bahwa jiwa terpenjara di dalam tubuh; dalam
konsep yang lain dikatakan bahwa Allah menyelamatkan pribadi utuh yang
tidak dapat dipisah-pisahkan. Tubuh bukanlah pakaian bagi jiwa, yang
dapat berpindah dari seorang tua kepada anak yang baru lahir.
Inilah sebabnya mengapa harapan Kristiani menantikan kebangkitan dalam
arti kemungkinan bagi tiap-tiap orang untuk dilahirkan kembali dari
Allah di dalam Allah dan menyatakan dirinya sepenuh-penuhnya dalam
“tubuh yang dimuliakan”. Kitab Suci mengajar kita bahwa kehidupan kita
yang sekarang ini merupakan satu-satunya kesempatan bagi kita. Orang
hanya satu kali mati dan dihakimi (Ibr.9:27).
• 45. Mereka bahkan mencaplok milik para janda. Ini bisa saja mengacu
kepada guru-guru Hukum yang menginap di rumah janda-janda saleh dan
biaya hidupnya ditanggung si janda.
• 21.5 Lihat komentar atas Mrk 13:1 dan Matius 24:1.
Karena suatu malapetaka yang besar akan menimpa negeri ini (ay. 23).
Lukas meramalkan kehancuran bangsa Yahudi secara lebih jelas daripada
yang dilakukan oleh Matius dan Markus.
Sampai genaplah zaman bangsa-bangsa bukan Yahudi (ay. 24). Lukas
membagi sejarah ke dalam dua zaman. Yang satu berhubungan dengan Perjanjian Lama: itulah zaman ketika Sejarah Suci hampir sama dengan
sejarah Israel. Kemudian, sesudah Yesus, datanglah zaman bangsa-bangsa.
Kehancuran bangsa Yahudi dan terpencarnya orang-orang Yahudi menandai
suatu era baru, yang hampir seluruhnya merupakan sejarah penginjilan
dan pendidikan bangsa-bangsa oleh Gereja. Kita dapat menyebutnya zaman
Perjanjian Baru yang akan berakhir dengan bencana dahsyat yang
mengakhiri sejarah manusia.
• 34. Berjaga-jagalah. Sesudah berbicara tentang akhir Yerusalem yang
akan segera tiba (ay. 28-32), Lukas berbicara tentang hari itu yang
akan mengakhiri sejarah manusia dengan kedatangan Kristus, sang Hakim
(ay. 34-36).
Berjaga-jagalah. Ajakan ini bukan hanya dialamatkan kepada mereka yang
akan mengetahui hari itu, tetapi kepada setiap orang sepanjang sejarah
Gereja. Sekali lagi Ia mengajak kita untuk berjaga-jaga dan berdoa
selagi dunia tertidur (lihat Ef 6:18).
Supaya kamu sanggup bertahan: untuk menghindari kesalahan dan penipuan
(2Tes 2:9; 1Tes 3:13) selama pencobaan yang mendahului kedatangan
Kristus. Doa Bapa Kami menyatakan keprihatinan yang sama. Mereka yang
menantikan kedatangan Kerajaan Allah berdoa: janganlah masukkan kami ke
dalam pencobaan.
Sesungguhnya berjaga dan berdoa tidak hanya berfungsi mencegah
kejatuhan yang mungkin terjadi. Jika kaum beriman dan Gereja tetap
berjaga-jaga, maka mereka lebih banyak bekerja sama dalam pengembangan
rencana ilahi dan mempercepat kedatangan Tuhan.
• 22.7 Di mana Engkau mau kami mempersiapkannya? Ini merupakan
kecemasan utama para peziarah ke Yerusalem: menemukan sebuah rumah
tempat mereka dapat makan domba kurban.
Seorang akan datang kepadamu. Biasanya kendi air dibawa oleh
perempuan, sehingga mudah dikenal laki-laki yang membawa kendi air.
Yesus tahu bahwa Yudas sedang mengkhianati dia, dan tidak mau
menunjukkan tempat perjamuan sebelum waktunya, ia dapat ditangkap di
sana. Maka Ia percaya kepada suatu intuisi profetis: Bapa telah
menentukan tempat bagi perjamuan akhir. Itulah rumah seorang kaya,
murid Yesus di Yerusalem. Kemungkinan di rumah inilah para
berkumpul sesudah kematian Yesus yang menandai permulaan Gereja.
rasul
• 14. Lihat komentar atas Mrk 14:12.
Yesus mengambil tempat pada meja, atau lebih tepat sesuai dengan
Injil, “Ia berbaring” sebagaimana kebiasaan pada perjamuan orang kaya:
para tamu berbaring di sofa sekeliling meja.
Sangat sulit untuk mengetahui apakah perjamuan akhir Yesus ini dimulai
dengan makan domba Paskah lalu diakhiri dengan Ekaristi, atau apakah
Yesus merayakan Ekaristi tanpa lebih dulu makan hidangan Paskah. Yang
pasti, Injil bermaksud mengajarkan kita bahwa Ekaristi diperuntukkan
bagi kita sebagaimana hidangan Paskah diperuntukkan bagi bangsa Israel.
Mereka mengedarkan kepada-Nya piala. Orang yang memimpin perjamuan
Paskah akan mengambil empat piala yang diberkatinya lalu diedarkan
keliling oleh orang yang hadir.
Aku tidak akan minum hasil pohon anggur (ay. 18). Yesus ingat bahwa
bagi
orang
Yahudi,
hidangan
Paskah
sudah
merupakan
gambaran
antisipatoris atas perjamuan Kerajaan Allah. Pada malam itu, perayaan
perjamuan bagi Yesus ini dilaksanakan dengan cara yang amat khusus.
Inilah Tubuh-Ku. Apakah roti yang dikonsekrir merupakan lambang Tubuh
Kristus atau benar-benar Tubuh Kristus? Telah ada kontroversi besar
antara orang Katolik dan orang Protestan mengenai hal ini. Orang
Katolik mengerti bahwa roti ini benar-benar Tubuh Kristus; orang
Protestan mempertahankan bahwa roti ini tidak memuat kehadiran fisik
dari Tubuh Kristus lalu memandangnya hanya sebagai lambang. Kedua pihak
telah berusaha untuk mencapai saling pengertian.
Iman Gereja mengatakan bahwa roti yang dikonsekrir merupakan lambang
Tubuh Kristus dan sekaligus Tubuh Kristus itu sendiri. Kehadiran Tubuh
Kristus tidak bersifat simbolis melainkan riil, meskipun bukan suatu
kehadiran material, seolah-olah kita dapat berkata, “Yesus ada di sini
di atas meja.” Tubuh Kristus hadir tetapi melalui tanda sakramental
roti dan anggur, dan Ia hadir seperti Ia dilambangkan. Di dalam komuni
kita menerima Tubuh Kristus yang “bangkit” (jadi ada satu alasan lain
lagi untuk mengatakan bahwa kehadiran Yesus bukan suatu kehadiran
material, melainkan suatu bentuk kehadiran lain, yang tidak kurang
riilnya, tetapi berbeda) agar kita dapat menerima dari pada-Nya
kekuatan dan hidup. Meskipun kehadiran-Nya bagi kaum beriman dalam
komuni merupakan kenyataan rahasia dan intim, namun tujuan dari
Ekaristi bukanlah membuat Kristus ‘lebih’ hadir, tetapi membarui dan
memperkuat komunio (persekutuan) antara Yesus dan mereka yang makan
pada meja perjamuan Tuhan, sekaligus membuat kita semakin sadar akan
kehadiran ilahi yang berlimpah ruah.
Darah-Ku ditumpahkan bagimu. Yesus memberi kita makna kematian-Nya, Ia
akan menjadi Hamba Yahweh yang dijanjikan Yesaya (53:12), yang memikul
pada diri-Nya dosa-dosa orang banyak. Katakanlah, bahwa bagi orang
Yahudi, orang banyak tidak mengecualikan seorang pun. Namun demikian,
orang banyak ini pertama-tama mengacu kepada orang-orang pilihan Yesus:
itulah sebabnya kita membaca di sini ditumpahkan bagimu, yang sama
bunyinya dengan 1Kor.11:24; Ef.5:25; Yoh17:19.
Perjanjian baru: lihat komentar atas Mrk 14:12.
Lakukan ini sebagai kenangan akan Daku. Dengan kata- kata ini Yesus
melembagakan ekaristi yang akan dirayakan Gereja. Sebagai kenangan akan
Daku: bukan untuk mengenang seorang yang sudah mati. Pada hari Paskah,
orang Yahudi mengenangkan campur tangan Allah yang membebaskan mereka
dari Mesir; dalam ekaristi kita mengenangkan campur tangan Allah yang
menyelamatkan kita melalui kurban Putra-Nya.
Parentesis ayat 19-20 mencakup kata-kata yang tidak terdapat dalam
banyak naskah kuno dan barangkali tidak termasuk Injil Lukas.
• 24. Sesudah cerita tentang Perjamuan Akhir (Mrk 14:12) Lukas
menampilkan beberapa kenangan akan percakapan dengan Yesus sebelum meninggalkan rasul-rasul-Nya. Di sini Ia memperlihatkan Yesus yang
sendirian dan tidak dimengerti oleh rasul-rasul-Nya sendiri pada malam
sebelum kematian-Nya. Mereka belum belajar apa-apa setelah sekian
banyak bulan dan menjelang acara penutup Perjamuan Akhir, mereka hanya
mengungkapkan keprihatinan yang serba duniawi belaka.
Rasul-rasul mendambakan tempat pertama di dalam Kerajaan: Apa kiranya
konsep mereka tentang Kerajaan Allah? Selama perjamuan Yesus telah
bertindak sebagai pelayan rumah (Yoh 13:1).
Yesus tidak patah semangat ketika Ia melihat bahwa para rasul amat
sulit menjangkau pikiran dan keinginan-Nya, bahkan ketika waktu-Nya
sudah hampir berakhir. Ia telah menyerahkan hidup dan karya-Nya kepada
Bapa: jika Ia tampak seolah-olah gagal, Ia tahu bahwa sesudah kematianNya, karya-Nya akan diperbarui sejalan dengan hidup baru yang diperoleh-Nya, dan dengan demikian Ia memenuhi janji-Nya kepada para rasul.
Kamu akan duduk…(ay. 30). Betapa sulitnya bagi kita untuk mengerti
kesetiaan Yesus kepada umat-Nya sendiri. Segala yang ada pada-Nya Ia
bagikan kepada mereka yang membaktikan diri-Nya bagi karya-Nya. Kedua
belas suku Israel berarti seluruh umat Allah. Dengan ini Yesus
menetapkan kita semua yang datang dari segala bangsa untuk menerima
iman para rasul.
Petrus percaya bahwa karena ia adalah kepala, ia akan lebih kuat
daripada yang lain. Yesus, di pihak lain, melihat misi Petrus yang akan
datang. Meskipun Petrus pernah jatuh, Yesus memberikan kepadanya rahmat
khusus supaya ia dapat memperkuat yang lain. Demikianlah cara Yesus
mengerjakan segala sesuatu: Ia menyelamatkan apa yang hilang dan
sesudah melihat kelemahan yang tak tersembuhkan dalam kodrat manusia
Petrus, Ia menggunakan Petrus untuk memberikan kepada Gereja-Nya suatu
stabilitas yang tak pernah dipikirkan oleh masyarakat mana pun. Memang,
kelangsungan hidup Gereja selama berabad-abad, sebagian besar, karena
jasa para paus, yaitu pengganti-pengganti Petrus.
Pada akhirnya, Yesus mempergunakan beberapa gambaran untuk menunjukkan
krisis yang sudah banyak diramalkan dan sekarang tengah dihadapi: para
rasul tidak sungguh-sungguh mengerti dan mereka mencari pedang.
• 39. Rupanya Yesus merayakan Paskah dalam sebuah rumah yang terletak
di sebelah barat-daya kota tua Yerusalem. Ia menuruni jalan bertangga
ke sebuah tempat yang disebut jeram Tiropeon, naik lagi ke daerah Ofel,
kawasan tua dari kota Daud, lalu turun lagi ke sungai Kidron yang
airnya hampir selalu kering. Dari situ Ia mungkin mengambil jalan melewati sebuah lorong menuju Bukit Zaitun. Disebut demikian karena
lereng sebelah barat tertutup oleh pohon-pohon zaitun. Yesus pergi ke
sebuah taman yang disebut Getsemani, atau “tempat pemerasan”. Tanah ini
mungkin milik salah seorang murid Yesus karena Ia sudah beberapa kali
ke situ (Yoh 18:2).
Ia berada dalam sakrat maut. Yesus pasti telah merasakan (sebagaimana
kita rasakan – bahkan atas cara yang lebih hebat) kengerian maut. Ia
juga mestinya telah dikejutkan oleh penglihatan atas dosa dunia yang
nyaris tak terpikulkan karena kehadiran Bapa yang mahakudus. Andaikan
kita ingin mengerti sesuatu yang terjadi pada saat-saat itu, kita harus
belajar tentang kesaksian tokoh-tokoh besar orang kudus yang dengan
cara mereka sendiri mengalami ujian yang luar biasa berat.
Beberapa manuskrip Injil yang kuno tidak memiliki ayat 43 dan 44:
mungkin kedua ayat ini dihilangkan karena banyak orang merasa terpukul
oleh “kelemahan” Kristus.
Seorang malaikat dari surga. Kadang-kadang Kitab Suci berbicara
tentang malaikat untuk menunjukkan bahwa Allah mengintervensi dengan
cara yang penuh misteri lewat peneguhan, pengajaran, dan hukuman…
Malaikat ini mengingatkan kita akan dia yang datang untuk meneguhkan
Elia (1Raj 19:4). Kita harus mengerti bahwa Allah ingin memberikan
Yesus bantuan istimewa agar Ia sanggup bertahan dalam ujian yang
mahaberat.
Sekali lagi kita membutuhkan kesaksian para kudus untuk mengerti hal
ini dengan lebih baik.
Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah. Inilah gejala yang
dimengerti oleh para dokter sebagai akibat dari kecemasan dan
penderitaan.
Jam dan cara penangkapan Yesus hanya bisa dilakukan oleh para penjahat
yang didorong oleh kuasa kegelapan. Ada kalanya terasa seolah-olah
semua harapan dan keadilan telah lenyap dari muka bumi.
• 54. MENGAPA MEREKA MEMBUNUH-NYA?
Dalam hubungan dengan dua pengadilan atas diri Yesus, yang satu
pengadilan agama dan yang lain pengadilan politik, lihat komentar atas
Mrk 14:53.
Pengadilan Yesus dan hukuman mati atas diri-Nya tidak terlalu jauh
berbeda dengan apa yang terjadi dengan orang Kristen militan dan para
martir. Dengan menunjukkan keberpihakan kepada orang miskin dan
mendidik orang-orang sederhana agar mereka dapat bebas dan bertanggung
jawab, kita tidak melakukan tindak kriminal dalam negara, namun selama
berabad-abad, telah dilakukan pengejaran terhadap banyak orang dengan
alasan-alasan ini. Kita telah menyebutkan bahwa Yesus berkhotbah dalam
situasi yang luar biasa sulitnya, karena negeri-Nya berada di bawah
hukum pendudukan Roma dan setiap warta tentang pembebasan dapat dituduh
subversif.
Tak pelak lagi, mereka yang menghukum Yesus mempunyai banyak alasan
untuk membenci Dia. Namun demikian Injil mencatat bahwa tuduhan
terhadap Yesus difokuskan pada pokok-pokok ajaran-Nya. Mereka menghukum
Yesus karena Ia mengklaim diri-Nya Anak Allah: Kristus, Putra
Allah, Dia yang akan duduk pada sisi kanan Allah.
Imam agung pada masa itu termasuk keluarga kaya yang memperjuangkan
posisinya, karena posisi itu memberi akses kepada uang kenisah. Hanas
dan putra-putranya (dan menantunya Kayafas) terkenal sebagai orangorang bermuka tebal yang mendiamkan protes dengan rotan dari para
pengawal, yang sebenarnya merupakan pasukan ilegal. Di sini mereka
tampil bersama para pemimpin Yahudi, atau Kaum Tua-tua, yang termasuk
keluarga yang paling kaya.
• 23.1 Pilatus tidak mau menghukum Yesus, antara lain karena ia
membenci imam-imam Yahudi, dan karena itu ia mengirim Yesus kepada
Herodes.
Dengan
mengenakan
jubah
putih
pada
Yesus,
Herodes
memperlakukan Dia sebagai orang gila yang bermimpi menjadi raja.
Mereka menjadi sahabat mulai dari saat itu, karena meskipun keduanya
sangat berbeda, mereka menyadari bahwa mereka termasuk kelas masyarakat
yang sama, yang dengan kekuasaannya dapat mempermainkan hidup orangorang biasa.
• 18. Barabas mungkin seorang teroris yang mengganggu ketenangan para
penindas Romawi. Imam agung yang ingin berdamai dengan orang-orang Roma
membenci orang semacam Barabas ini. Namun demikian imam agung membujuk
rakyat untuk meminta pembebasan bagi Barabas. Meskipun rakyat membenci
imam agung, mereka mendengarkan seruannya. Dengan demikian rencana
Pilatus untuk melepaskan Yesus gagal.
• 27. Apa yang akan terjadi dengan kayu kering? (ay. 31). Yesus
mengajarkan bahwa kurban yang diterima menghasilkan banyak buah: tetapi
pada saat yang sama Ia meratapi penderitaan yang tidak perlu dari suatu
bangsa yang membiarkan peristiwa itu menimpa mereka; suatu bangsa yang
akan dihancurkan akibat kesalahan mereka sendiri.
Kata-kata ini juga ditujukan kepada mereka yang membuat darah Kristus
tidak berguna bagi mereka.
Orang banyak mengikuti Dia, khususnya perempuan… Lukas adalah satusatunya penginjil yang membuat refleksi atas sikap yang penuh kasih
sayang ini. Berlawanan dengan Matius yang menekankan kesalahan bangsa
Yahudi, Lukas ingin menonjolkan bahwa hukuman atas diri Yesus menggerakkan hati banyak orang. Kata-kata Yesus mengingatkan kita akan apa
yang telah dikatakan-Nya tentang kehancuran bangsa Yahudi (Mrk 13 dan
11:26).
• 39. Pemimpin-pemimpin Yahudi telah menaruh Yesus di tempat yang
menjadi milik-Nya, karena Ia memutuskan untuk menanggung dosa-dosa
kita. Kedua orang itu memandang Dia yang telah datang untuk berbagi
nasib dengan mereka.
Engkau akan berada dalam Firdaus (ay. 43). Apa itu firdaus? Kita tidak
mempunyai cukup kata-kata untuk menyatakan apa yang ada di balik sana.
Di masa Yesus orang Yahudi biasanya membandingkan Tempat Orang Mati
dengan suatu negeri besar yang terbagi atas wilayah-wilayah yang
dipisahkan oleh tembok yang tak dapat dilewati. Neraka adalah salah
satu wilayah; tempat ini diperuntukkan bagi orang jahat, dan dari situ
tak seorang pun dapat melarikan diri. Suatu wilayah yang lain adalah
Firdaus, tempat orang-orang baik akan berkumpul bersama nenek moyang
pertama dari orang kudus yang menantikan saat kebangkitan.
Engkau akan bersama-Ku, kata Yesus. Itu berarti ia akan bersama
Juruselamat, yang selama satu setengah hari berada dalam damai dan
sukacita Allah sebelum kebangkitan. Pernyataan ini membuat kita lega
ketika memikirkan nasib kita pada saat kematian, meskipun kita tidak
tahu apa yang terjadi dengan diri kita sebelum Kebangkitan. Kita tidak
akan dianestesi atau hilang keberadaan kita sebagaimana diklaim oleh
sementara orang, tetapi sebaliknya kita akan memiliki semuanya karena
berada bersama Yesus yang datang untuk berbagi nasib dengan saudarasaudari-Nya dalam kematian dan istirahat mereka (lihat Flp 1:23 dan Why
14:13).
• 24.1 Tuhan Yesus: dengan ungkapan ini, yang tidak dijumpai pada
bagian Injil yang lain tetapi sangat sering dipergunakan oleh Gereja
perdana, Lukas menunjukkan kepada kita bahwa Yesus yang Bangkit telah
memasuki semacam eksistensi yang berbeda dari eksistensi kehidupan
fana-Nya. Hendaknya kita ingat akan hal-hal berikut ini:
1)
Tak satu pun Injil yang menguraikan Kebangkitan Yesus: itu
merupakan peristiwa yang tidak dapat dilihat.
2)
Khotbah para rasul tentang Yesus yang bangkit didasarkan atas
dua kenyataan: kubur yang kosong dan penampakan-penampakan (lihat
komentar atas Mat 28:1).
3)
Sebelum Injil-injil ditulis, surat Paulus yang pertama kepada
umat di Korintus, dalam tahun 57, memberikan sebuah daftar penampakan
Yesus (1Kor 15:3).
4)
Meskipun keempat Injil ini sepakat mengenai hal-hal yang hakiki,
ada perbedaan menyangkut urutan penampakan dan tempat kejadian. Lukas
tidak menyebut penampakan di Galilea. Matius memberi kita kesan bahwa
semua kejadian yang penting terjadi di Galilea, dan bahwa Kenaikan
terjadi di sana. Paulus pertama-tama berbicara tentang penampakan
kepada Petrus dan tidak menyebut penampakan kepada Maria Magdalena.
Dalam suatu studi mendalam tentang teks-teks ini kita mendapat sedikit
gambaran mengapa ada beberapa diskrepansi di sini: mereka tidak mau
menyatakan segala sesuatu, dan sewaktu-waktu lebih suka memodifikasi
detail tempat dan kronologi peristiwa agar cocok dengan tuntutan kitab
dan demi tujuan pengajaran.
5) Dalam hubungan dengan kenaikan Yesus, tidak bisa dikatakan bahwa
ini suatu “perjalanan” ke surga; Ia sudah “di surga” dalam arti bahwa
Ia mengambil bagian dalam kemuliaan Allah sejak saat Kebangkitan.
Kenaikan tidak lain dari penampakan-Nya yang terakhir (lihat komentar
atas Ibr 1:9).
• 13. Kita memperhatikan di halaman Injil ini betapa cermatnya Lukas
secara bergantian mempergunakan kata kerja: melihat dan mengenal. Penginjil ini, sesungguhnya, ingin memperlihatkan kepada kita bahwa sesudah
kebangkitan-Nya Yesus tidak lagi dapat dilihat oleh mata badaniah; Ia
telah pergi dari dunia ini kepada Bapa, dan dunia baru ini luput dari
kemampuan indrawi kita. Hanya dengan penglihatan barulah, terang iman
membuat kita “mengenal”-Nya sebagai pribadi yang hadir dan aktif dalam
diri kita dan di sekeliling kita. Jika sejarah Gereja mencatat sejumlah
penampakan luar biasa dari Yesus yang bangkit, maka orang-orang beriman
diundang untuk “mengenal” Dia melalui iman.
Kedua murid ini kembali ke rumah untuk kembali ke pekerjaan mereka
yang semula, setelah harapan mereka hancur. Kita terbiasa menyebut
mereka peziarah Emaus.
Orang-orang Yahudi atau bangsa Israel adalah kaum peziarah kerena
mereka tidak pernah mempunyai kesempatan untuk berlama-lama di jalan.
Keberangkatan dari Mesir, penaklukan Tanah Terjanji, pertempuran
melawan penyerbu, pengembangan kebudayaan religius merupakan banyak
tahapan sepanjang jalan. Setiap kali mereka berpikir bahwa dengan
mencapai sasaran, masalah mereka akan terselesaikan tetapi setiap kali
pula mereka harus menyadari bahwa jalan yang mereka tempuh masih
panjang.
Kleofas dan pengiringnya adalah peziarah sejak mereka mengikuti Yesus,
karena mereka berpikir bahwa Dia akan menebus Israel. Pada akhirnya
hanya ada kematian Yesus.
Inilah saat ketika Yesus benar-benar hadir dan mengajar mereka bahwa
tak seorang pun dapat memasuki Kerajaan Allah tanpa melewati kematian.
Mereka mengenal-Nya (ay. 31). Barangkali Yesus tampak berbeda seperti
yang kita lihat dalam Yohanes 20:14. Inilah yang dikatakan Markus dalam
16:12. Lukas juga menginginkan agar kita mengerti bahwa orang-orang
yang sama, yang matanya tidak dapat mengenal Yesus, akan melihat Dia
ketika mereka menjadi percaya.
Mulai dengan Musa sampai kepada para nabi (ay. 27). Ingatlah bahwa
“Musa dan para nabi” adalah salah satu cara menyebut Kitab Suci. Yesus
mengundang mereka untuk beralih dari iman dan harapan Israel menuju
masa depan yang bahagia bagi seluruh bangsa, yaitu kepada iman dalam
tiap-tiap pribadi yang menerima misteri penolakan dan Kesengsaraan-Nya.
Segala sesuatu dalam Kitab Suci yang berhubungan dengan diri-Nya (ay.
27). Dalam pelajaran Kitab Suci-Nya yang pertama, Yesus mengajarkan
mereka bahwa Mesias harus menderita. Yesus tidak hanya membeberkan
semua teks yang menubuatkan Kesengsaraan dan Kebangkitan-Nya seperti
Yes 50; Yes 52:13; Zak 12:11; Mzm 22; Mzm 69; tetapi juga teks-teks
yang menunjukkan bahwa rencana Allah menyaring sejarah manusia.
Sesuatu yang mirip terjadi dengan kaum beriman sekarang ketika kita
selalu mengeluh dan menunjukkan ketidaksabaran kita. Namun Yesus tidak
meninggalkan kita sendirian. Ia tidak bangkit untuk duduk-duduk saja di
surga; Ia mendahului kemanusiaan dalam ziarah-Nya dan menarik kita
kepada hari terakhir ketika Ia datang menemui kita.
Pada saat yang sama Ia berjalan bersama kita, dan ketika harapan kita
hancur, itulah saatnya kita menemukan makna Kebangkitan.
Jadi yang dilakukan Gereja bagi kita sama dengan yang dilakukan Yesus
bagi kedua murid-Nya. Pertama, Gereja memberikan kita ‘penafsiran atas
Kitab Suci’: yang menjadi persoalan dalam usaha kita mengerti Kitab
Suci bukanlah menghafal perikop demi perikop, melainkan menemukan
benang merah yang menghubungkan berbagai peristiwa dan mengerti rencana
Allah terhadap manusia.
Kedua, Gereja merayakan Ekaristi. Perhatikan bagaimana Lukas berkata,
Ia mengambil roti, mengucap berkat, membagi-bagi-Nya dan memberikanNya; empat kata yang sama digunakan oleh kaum beriman dalam perayaan
Ekaristi. Kita bisa datang mendekati Yesus lewat percakapan dengan Dia
dan merenungkan sabda-Nya; kita mendapati Dia hadir dalam pertemuanpertemuan persaudaraan kita, tetapi Ia memperkenalkan diri-Nya dengan
cara yang berbeda ketika kita membagi-bagikan roti yang adalah tubuhNya.
Kleofas (ay. 18); suami Maria, ibu Yakobus dan Yoset (lihat Yoh 19:25
dan Mrk 15:40).
• 36. Yesus dilahirkan kembali ke dalam hidup yang mulia sejak hari
kebangkitan-Nya. Ia sudah ada ‘dalam kemuliaan Bapa’ tetapi ingin
bersama murid-murid-Nya pada berbagai kesempatan guna meyakinkan mereka
bahwa keadaan-Nya yang baru bukanlah suatu kehidupan yang kurang
lengkap – katakanlah seperti kehidupan di dunia hantu – tetapi suatu
kehidupan yang mulia.
Dalam pasal ini kita tempatkan dalam kurung beberapa kata atau kalimat
yang tidak terdapat dalam banyak manuskrip tua dan yang barangkali baru
ditambahkan kemudian.
• 44. Yesus
mempergunakan
pertemuan-pertemuan
ini
untuk
mengklarifikasi misi-Nya yang singkat dan intens bagi para rasul-Nya.
Ia menyelamatkan kita dari dosa, yang tidak lain berarti menata kembali
sejarah demi membangkitkan manusia.
Segala sesuatu yang ditulis tentang Aku di dalam Hukum Musa, kitab
Para Nabi dan Mazmur harus dipenuhi. Apa yang dimaklumkan para nabi
tentang juruselamat yang akan ditolak oleh bangsa-Nya dan yang
menanggungkan dosa bangsa-Nya ke atas diri-Nya sendiri, harus dipenuhi.
Dosa apa? Tentu saja dosa setiap orang tetapi juga kekerasan seluruh
masyarakat Yahudi pada masa Yesus. Inilah dosa yang mengantar-Nya
kepada salib.
Sesungguhnya, cara kematian ini dan kebangkitan tidak saja dikhususkan
bagi Yesus, tetapi bagi umat-Nya juga. Dalam masa itu, Israel yang
berada di bawah kekuasaan Roma, harus menerima kematian atas ambisiambisi duniawinya, otonomi, kebanggaan nasional, keunggulan agama
bangsa Yahudi atas bangsa lain… agar bangkit sebagai umat Allah yang
tersebar di antara bangsa-bangsa dan menjadi agen keselamatan. Ada
sekelompok kecil yang mengambil jalan yang ditunjukkan Yesus dan itulah
awal Gereja.
Pertobatan dan pengampunan. Pertobatan Kristiani tidak berarti beralih
dari satu partai ke partai yang lain, dari agama yang satu ke agama
yang lain: pertobatan berarti meleburkan kembali pribadi. Pribadipribadi adalah bagian dari suatu masyarakat, dunia, sejarah, yang
semuanya harus diperbarui. Karena itu berkhotbah kepada bangsa-bangsa
juga berarti pendidikan bangsa-bangsa bahkan masyarakat internasional.
Ini sesuatu yang memakan waktu lebih dari ratusan tahun.
Kamu akan menjadi saksi atas hal-hal ini (ay. 48). Yesus memanggil
para rasul-Nya untuk menjadi saksi resmi atas Injil-Nya dan menjadi
penilai iman yang sejati.
Tinggallah dalam kota. Rasul-rasul tidak bisa langsung memulai karya
misionernya.
Mereka
pertama-tama
akan
membaktikan
dirinya
demi
memperkuat persekutuan dan semangat persaudaraan dalam komunitas muridmurid Yesus, baru sesudah itu menantikan waktu yang dipilih Bapa untuk
memberi mereka kuasa yang datang dari atas.
Aku akan mengirim kepada kamu apa yang dijanjikan Bapa. Yesus tidak
dapat mengukuhkan otoritas ilahi-Nya dan kesatuan dalam tiga pribadi
ilahi secara lebih berkuasa.
Ia mengundurkan diri: inilah penampakan Yesus yang terakhir kepada
kelompok murid-murid-Nya.
Demikianlah Lukas mengakhiri kitabnya yang pertama. Kitabnya yang
kedua, Kisah Para Rasul, mengikuti Injil-injil dan dimulai persis di
mana Injil ini berakhir.
Download