BAB I PENDAHULUAN 1.1 Krisis Keuangan Global Yang Dipicu

advertisement
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Krisis Keuangan Global Yang Dipicu Subprime Mortage
Krisis Global pada tahun 2009 dipicu oleh krisis kredit perumahan Amerika
Serikat yang populer dengan sebutan Subprime Mortgage. Istilah Subprime
mengacu kepada kreditur yang tidak memenuhi standar “prime” yang ditetapkan
oleh Federal National Mortgage Association di mana kreditur harus memiliki nilai
kredit di atas 620, rasio hutang terhadap pendapatan tidak lebih dari 75% dan rasio
jumlah seluruh pinjaman terhadap nilai barang sebesar 90%. Kreditur yang masuk
dalam Subprime memiliki resiko lebih tinggi sehingga harus membayar bunga yang
lebih tinggi. Mortgage merupakan instrumen hutang yang dijamin dengan nilai
sebuah properti di mana debitur berhak menarik properti apabila cicilan tidak dapat
dilunasi.
Sebelum terjadinya krisis, ada kenaikan jumlah persentase subprime
mortgage dari 8% pada awalnya menjadi sekitar 20% pada tahun 2004 hingga 2006
(Simkovic, 2011). Sebagian besar dari subprime mortgage tersebut merupakan
adjustable rate mortgages yang pada tahun 2006 mencapai proporsi lebih dari 90%
(Zandi, 2009). Terjadi penurunan standar pemberian pinjaman dan naiknya risiko
produk mortgage (Burry, 2011) secara nyata. Rendahnya suku bunga kredit pada
tahun 2002-2004 juga berperan dalam pelonggaran kredit (Krugman, 2009).
Kemudahan kredit dan tren harga perumahan yang terus meningkat
mendorong kreditur berspekulasi akan dapat melakukan refinancing di kemudian
hari untuk memperoleh keuntungan. Spekulasi dalam bidang perumahan ini menjadi
faktor pemicu krisis subprime mortgage (Uchitelle, 1996). Selama 2006, 22% (1,65
juta unit) rumah yang dibeli dimanfaatkan untuk investasi, sedangkan 14% (1,07 juta
unit) digunakan sebagai rumah berlibur.
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
1
Diagram 1.1: Subprime Mortage Crisis (1 dari 2)
Housing Bubble Formation
Lending Decisions by Institutions
GSE
Mortgage
Buying
Practices
Political
Influence
Bank
Lending
Practices
Capital
Credit
Availability
MBS
Credit
Ratings
Investor
Low Interest Outdated
Demand for
Rates &
Credit
MBS
Tax Cuts
Rating
Policies
Govt.
Securitization Dot-com Conflict of
Objectives
And
Bust
Interest:
Regarding
Credit Risk
& Foreign The Rated
Low-Income Insurance
Investment Fund the
Housing
Raters
Borrowing Decisions by Individuals
High Risk
Cultural
Home
Housing
Mortgage Pressure Perceived Speculation
Products For Home
A Safe
&
(ARM)
Ownership Investment Overbuilding
Expectation Media,
Context
That
Hollywood Of Recent
Refinancing & Govt.
Dot-Com
Available Promotion
Bust
Bubble
Psychology
SelfReinforcing
Rising Housing Price Trend (Profit/Security Motive)
High Household Debt Levels
High Risk Tolerance & Leverage (Borrowing Invest)
Outdated Financial Regulatory Regime
Management Bonuses/Short-Term Profit Incentives
Sumber: www.stat.unc.edu
Pecahnya Bubble yang memicu turunnya harga properti perumahan yang
menyebabkan refinancing menjadi lebih sulit. Dampaknya, 23% harga rumah di
Amerika Serikat lebih rendah daripada nilai pinjaman mortgage-nya. Di sisi lain,
terjadi kenaikan pada suku bunga mortgage yang berakibat naiknya biaya cicilan
yang harus dibayar. Dampak yang terjadi adalah meningkatnya jumlah kredit yang
macets sehingga
debitur menyita aset yang dijaminkan (Wells Fargo Economic
Research, 2010).
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
2
Diagram 1.2: Subprime Mortage Crisis (2 dari 2)
Housing Market
Excess
Housing
Inventory
Causes of
Housing
Buble-
Housing
Prices
Decline
Housing bubble
Poor lending &
burst
borrowing decisions
Household
Arm adjustments
Negative
Effects on
Economy
business Investment
Risk of Increasing
Mortgage
Delinquency
And
Foreclouse
Negative
Effects on
Economy
Mortgage
Cash Flow
Declines
Financial Market
wealth declines
Downward presure on
Inability
To
Refinance
Mortgage
Liquidity
Crunch for
Businesses
Bank
Failures
unemployment
Bank
Capital
Levels
Depleted
Bank
Losses
Stock market dedines
further reduce household wealth
Harder to get loans
Washington Mutual
Loss on mortgages retained
Higher interest
Wachovia
Loss on mortgages - backed securities (MBS)
rates for loans
Lehman Brothers
High bank debt levels ("leverage")
Goverment & Industry
Responses
Central
Bank
Actions
Fiscal
Stimulus
Package
Homeowner
Assistance
One-Off
Bailouts
Systemic
Rescue
Lower interest rates
Economic
Hope Now Alliance
Fannie & Freddie
Emergency Economic
Increased lending
Stimulus Act of 2008
Housing & Economic
Bear Stearns
Stabilization Act ($700 bailout)
Recovery Act of 2008
Northern Rock
Bank recapitalizations globally
AIG
Sumber: www.stat.unc.edu
Perubahan pola pemberian pinjaman oleh debitur turut berperan dalam
munculnya krisis (Demyanyk & Van Hemert, 2008). Kualifikasi dalam memperoleh
kredit mulai berubah. Pada awalnya, calon kreditur cukup menyatakan mereka
memiliki pendapatan, kemudian dilakukan verifikasi atas aset yang dimiliki untuk
memperoleh pinjaman. Hal ini kemudian berubah menjadi kreditur cukup
menunjukkan memiliki sejumlah aset tanpa perlu bukti memiliki pekerjaan. Debitur
semakin agresif dalam memberikan kredit rumah kepada kreditur yang memiliki
risiko tinggi (Kirchhoff & Keen, 2007) bahkan kepada imigran gelap (Pasha, 2005).
Pada tahun 2005, rerata uang pangkal bagi pembeli rumah untuk pertama kali
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
3
adalah 2%, di mana 43% dari keseluruhan pembeli tidak melakukan pembayaran
uang pangkal. Syarat memperoleh pinjaman semakin diperlonggar, pada akhirnya
kreditur tidak memerlukan bukti pekerjaan ataupun aset yang dimiliki untuk
memperoleh pinjaman, yang diperlukan hanyalah nilai kredit kreditur tersebut (Stock
Market Investor, 2010).
Dampak krisis perumahan ini sendiri sangat besar bagi perekonomian dalam
negeri maupun global. Pada tahun 2008, indeks saham S&P 500 turun hingga 45%
dibandingkan titik tertingginya pada 2007. Harga perumahan turun hingga 20%
dibandingkan pada puncaknya pada 2006 ditambah dengan sinyal bahwa di masa
depan terdapat kemungkinan turun hingga 30-35%. Industri otomotif Amerika Serikat
turun drastis di mana penjualan mobil baru turun dari 17 juta di tahun 2005 menjadi
hanya 12 juta pada 2010 (New York Times, 2011). Berdasarkan data Bloomberg,
tahun 2009, enam juta lapangan pekerjaan hilang semenjak resesi dimulai sejak
2007.
Ketika Lehmann Brothers dan beberapa institusi finansial bangkrut, terjadi
penarikan dana secara masif dari pasar uang Amerika Serikat yang mencapai USD
150 miliar. Untuk mencegah terjadinya kehancuran pada sistem keuangan global,
Bank Sentral Amerika Serikat maupun Bank Sentral Eropa menyuntikkan dana
hingga USD 2,5 triliun dalam bentuk pembelian hutang pemerintah dan aset swasta
yang bermasalah dari bank. Injeksi ini tercatat sebagai suntikan dana terbesar dalam
sejarah dunia. Pemerintah Amerika Serikat dan negara-negara di benua Eropa juga
menaikkan modal yang dimiliki sistem perbankan nasionalnya dengan cara
melakukan pembelian saham yang baru. Hingga Agustus 2008, perusahaan
keuangan di berbagai belahan dunia mencatatkan kerugian senilai USD 501 milyar
dalam investasi yang berkaitan dengan sekuritas subprime (Bloomberg, 2008).
1.2 Kondisi Perdagangan Internasional
Globalisasi ekonomi yang cepat selama periode ini juga merupakan hasil dari
peningkatan pentingnya hubungan perdagangan-investasi. Saat ini lebih banyak
perdagangan terjadi melalui pembagian jaringan produksi global kompleks (yaitu
rantai pasokan) seperti di sektor garmen, produk listrik / elektronik dan mobil.
Perdagangan intra perusahaan sebagai bagian dari arus perdagangan dunia telah
meningkat secara besar-besaran dalam dekade terakhir, khususnya negara-negara
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
4
berkembang di Asia. Munculnya rantai pasokan global meningkatkan pertumbuhan
perdagangan bagian Selatan-Selatan, khususnya di Asia Timur, dan melibatkan
negara-negara berkembang seperti Tiongkok dan India yang saat ini dipandang
sebagai tiang pertumbuhan ekonomi baru.
Grafik 1.1: Volume Ekspor Dunia Periode 2000-2013
Sumber: World Trade Organization 2014
Kecepatan pertumbuhan perdagangan dunia sangat cepat pada periode
antara tahun 2000 dan 2008, rata-rata 14% per tahun. Tetapi krisis keuangan di
akhir tahun 2008 dan penurunan ekonomi global, menyebabkan pertumbuhan
perdagangan dunia berbalik negatif. Pada tahun 2009, perdagangan dunia
diperkirakan berkontraksi 10% sampai 15%, meskipun pemulihan bertahap
tampaknya sudah mulai terlihat dari kuartal keempat tahun 2009 dan seterusnya
(UNCTAD, 2010). Namun terjadinya krisis keuangan di Eropa di tahun 2011 yang
berawal dari Yunani menimbulkan lesunya perekonomian karena kebijakan
pengetatan anggaran Uni Eropa untuk tahun 2012.
Negara Asia pulih lebih cepat dari krisis dibandingkan negara maju.
Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang saat terjadi krisis keuangan
global merupakan salah satu motor penggerak perekonomian global ketika terjadi
kelesuan ekonomi. Menurut G-20, pertumbuhan ekspor negara berkembang di Asia
pada kuartal keempat (Q4) tahun 2009 adalah 10%, dan pertumbuhan tahunan
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
5
adalah 46%. Berbeda dengan pertumbuhan negara maju tahun 2009 yang besarnya
4% dan tahunan 17% (UNCTAD, 2010). Tidak heran banyak pihak memprediksi
pusat pertumbuhan ekonomi dunia sudah mulai bergeser ke kawasan Asia Pasifik.
Krisis ini juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap ekspor-impor
barang Amerika Serikat. Akibat dari tingginya suku bunga dan sulitnya memperoleh
pinjaman (liquidity crunch), ekspansi bisnis pun ikut mengalami kesulitan. Hal ini
turut
diperparah
dengan
naiknya
jumlah
pengangguran
akibat
banyaknya
perusahaan yang gulung tikar. Hal inilah yang menyebabkan terjadi penurunan
jumlah impor maupun ekspor (Brunnermeier, 2007).
Eropa juga mengalami kerugian besar karena merupakan investor portofolio
terbesar di bursa saham Amerika Serikat. Pada akhir 2007, para investor Eropa
memegang 51% dari seluruh saham yang dipegang oleh investor luar negeri, diikuti
oleh Amerika Latin dengan 28%, sedangkan Asia Timur hanya memegang 18%
(Shiraj, 2009). Disisi lain, walaupun secara total Jepang dan Tiongkok memegang
peringkat satu dan dua dalam jumlah investasi dalam bentuk surat hutang,
kebanyakan investasi yang ditanam adalah investasi dalam surat hutang jangka
panjang US Treasury dan Agency. Sedangkan Inggris memegang peringkat satu
dalam investasi yang lebih berisiko, yaitu pada surat hutang jangka panjang dalam
sektor korporasi.
Ketika tanda-tanda resesi global pertama kali tampak setelah krisis keuangan,
ada kekhawatiran bahwa sentimen proteksionis pasar akan merusak aturan
perdagangan multilateral yang ditetapkan di bawah WTO. Namun, negara-negara
memilih untuk mematuhi peraturan WTO. Hal ini dibuktikan oleh fakta bahwa
pembatasan perdagangan baru yang diperkenalkan pada periode antara September
2009 dan Februari 2010 hanya mencakup 0,4% dari impor dunia atau 0,7% dari
Impor kelompok G-20.
1.3. Maksud dan Tujuan
Maksud dilakukan penelitian ini adalah untuk mengukur dampak dari krisis
global tahun 2008 terhadap kinerja ekspor dan impor Indonesia di tahun 2008-2013.
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
6
1.4. Permasalahan Penelitian

Apakah krisis global 2008 mempengaruhi kinerja ekspor dan impor
Indonesia?

Apakah terjadi pergeseran komoditas unggulan perdagangan Indonesia
setelah terjadi krisis global 2008?

Bagaimanakah korelasi dan kausalitas antara neraca modal terhadap neraca
perdagangan Indonesia setelah terjadi krisis global tahun 2008?

Bagaimanakah perubahan hubungan Indonesia dengan berbagai mitra
(negara) strategis setelah krisis global tahun 2008?

Apa
rekomendasi
yang
dapat
digunakan
bagi
peningkatan
kinerja
perdagangan Indonesia di masa mendatang?
1.5. Ruang Lingkup
Krisis global tahun 2008 memberikan pengaruh terhadap kinerja perdagangan
internasional Indonesia, yang mencakup berbagai hal yang akan dibahas dalam
kajian ini:

Kinerja ekspor dan impor Indonesia;

Ekspor dan impor berdasarkan negara tujuan;

Dinamika aliran modal yang masuk ke Indonesia dalam periode setelah dan
sebelum krisis 2008;

Dinamika pertumbuhan ekspor dan impor non-migas Indonesia dalam periode
setelah dan sebelum krisis 2008;

Dinamika harga berbagai komoditas di pasar internasional dan pengaruhnya
terhadap ekspor dan impor Indonesia dalam periode setelah dan sebelum
krisis 2008;

Dinamika nilai tukar (USD/IDR) dan pasar modal (IHSG) dalam periode
setelah dan sebelum krisis 2008.
1.6. Metodologi
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan sumber data sekunder
(hasil kajian terdahulu dan instansi pengelola data) dengan rentang waktu tahun
2008-2013. Regresi antar-variabel dilakukan menggunakan Vector Error Correction
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
7
Model (VECM). Dengan menggunakan model tersebut didapatkan gambaran
kausalitas Granger antar-variabel yang dibahas dalam studi ini.
Diagram 1.3: Kerangka Studi Pengukuran Dampak Krisis Global 2008 Terhadap
Kinerja Perdagangan Internasional Indonesia
Tinjauan Literatur
Fokus Bahasan
Indikator
Pengolahan Data dan
Analisis Kualitatif dan
Kuantitatif
Penelusuran Literatur
dan Pengumpulan Data
dari Instansi Pengelola
Data
Identifikasi Data /
Informasi Sekunder
Kinerja Perdagangan
Internasional Indonesia
2008-2013
Kesimpulan dan
Rekomendasi
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
8
BAB II KONDISI PERDAGANGAN LUAR NEGERI INDONESIA
2.1 Kondisi Perdagangan Luar Negeri Indonesia Saat Krisis Keuangan Global
Perdagangan dapat memberikan banyak manfaat secara ekonomi untuk
sebuah negara, seperti menjual barang atau produk, terciptanya lapangan pekerjaan
dan memanfaatkan keuntungan kompetitif (contoh, ilmu pengetahuan, tenaga kerja
dan teknologi). Indonesia sendiri menjadikan perdagangan sebagai mesin
pertumbuhan selama bertahun-tahun. Ekspor produk yang menjadi bahan bakar
(fuel) masih menjadi kontribusi terbesar dari total nilai ekspor ke seluruh negara
yang mencapai 33% (Mangunsong, Hirawan & Lesmana, 2012). Krisis keuangan
global yang terjadi di tahun 2008-2009 menyebabkan turunnya perdagangan global
sampai 12% di tahun 2009 (World Trade Organization, 2010). Penurunan
perdagangan ini disebabkan oleh runtuhnya sistem keuangan akibat krisis yang
menyebabkan rasa tidak percaya investor untuk berinvestasi sehingga hal ini
mengganggu pembiayaan perdagangan.
Adanya krisis keuangan global mempengaruhi perdagangan Indonesia
dengan mitra dagangnya. Pada tahun 2009 ekspor Indonesia mengalami penurunan
sampai 18 %, ini merupakan penurunan terbesar di dekade terakhir. Nilai penurunan
terbesar terjadi untuk produk bahan bakar senilai USD 13 miliar. Sementara secara
persentase, penurunan terbesar terjadi untuk produk transportasi yang menyumbang
sekitar 37% dari total penurunan ekspor Indonesia.Ekspor Indonesia ke negaranegara ASEAN mengalami penurunan sebesar 13% untuk ekspor non migas selama
periode krisis keuangan global. Krisis keuangan global juga mempengaruhi negara
tujuan ekspor Indonesia di kawasan Eropa. Dari tahun 2008 sampai 2009 juga
terjadi penurunan untuk ekspor non migas Indonesia ke negara-negara Eropa,
khususnya untuk Jerman, Perancis dan Inggris yang menjadi tujuan ekspor utama
untuk kawasan Eropa. Penurunannya sebesar 5,34% untuk Jerman menjadi USD
2,3 miliar, 10,42% untuk Perancis menjadi USD 840,7 juta dan 7,34% untuk Inggris
menjadi USD 1,4 miliar (BPS, 2009).
Ekspor Indonesia ke Amerika Serikat juga mengalami penurunan karena
imbas krisis keuangan global. Ekspor ke negara adidaya ini untuk produk non migas
turun sebesar 16,51% menjadi USD 10,4 miliar. Ekspor Indonesia ke Australia untuk
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
9
produk non migas juga mengalami penurunan sebesar 18,57% menjadi USD 1,7
miliar. Penurunan juga terjadi untuk ekspor ke Taiwan yang turun sebesar 1%
menjadi USD 2,8 miliar selama periode krisis.Sementara itu, ekspor Indonesia ke
Tiongkok tetap naik selama periode krisis keuangan global. Ekspor Indonesia tetap
naik sebesar 14,35% menjadi USD 8,9 miliar untuk ekspor non migas. Kenaikan ini
didorong oleh tetap positifnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok selama krisis global.
Total ekspor Indonesia ke Jepang mengalami penurunan sebesar 13% selama
periode krisis keuangan global untuk ekspor non migas Indonesia menjadi USD 11,9
miliar. Ekspor Indonesia ke Korea Selatan juga mengalami kenaikan selama periode
krisis keuangan global, ekspor non migas naik sebesar 10,9% menjadi USD 5 miliar.
2.2 Ekspor Migas dan Non Indonesia Tahun 2008 sampai 2013
Ekspor Indonesia apabila dibandingkan dengan tahun 2008, nilai untuk
produk migas dan non migas tahun 2009 mengalami penurunan sekitar 14,97%
menjadi USD 116,51 miliar, sementara ekspor non migas mencapai sekitar USD
97,49 miliar atau turun 9,66%. Krisis keuangan global juga mempengaruhi ekspor
migas Indonesia, untuk tahun 2009 ekspor migas Indonesia mencapai USD 19,0183
miliar atau turun sebesar 34,7%.
Selama tahun 2009, ekspor dari 10 golongan barang (HS 2 digit) memberikan
kontribusi 54,34% dari total ekspor non migas Indonesia (BPS, 2009). Dari sisi
pertumbuhan, ekspor 10 golongan barang tersebut mengalami kenaikan 4,25%
terhadap tahun 2008. Di tahun 2009, ada beberapa komoditi dalam golongan HS 2
digit mengalami kenaikan maupun penurunan bila dibandingkan tahun sebelumnya.
Untuk ekspor yang mengalami kenaikan antara lain; bahan bakar mineral (HS 27)
naik dari USD 10,6562 miliar menjadi USD 13,9321 miliar; bijih, kerak dan abu
logam (HS 26) naik dari USD 4,2956 miliar menjadi USD 5,8114 miliar;
perhiasan/permata (HS 71) dari USD 1,0688 miliar menjadi USD 1,1918 miliar;
daging dan ikan olahan (HS 16) dari USD 506,7 juta menjadi USD 540,8 juta.
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
10
Grafik 2.1: Ekspor Migas dan Non Migas Indonesia Periode 2008-2013
Sumber: Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (diolah)
Sedangkan untuk barang-barang yang mengalami penurunan yaitu; lemak
dan minyak hewani/nabati (HS 15) dari USD 15,624 miliar menjadi USD 12,2246
miliar; mesin/peralatan listrik (HS 85) dari USD 8,1202 miliar menjadi USD 8,0338
miliar; karet dan bahan olahan dari karet (HS 40)dari USD 7,6373 miliar menjadi
USD 4,8877 miliar; mesin-mesin/pesawat mekanik (HS 84) dari USD 5,2266 miliar
menjadi USD 4,7161 miliar; kopi,teh, rempah-rempah (HS 09) dari USD 1,4526
menjadi USD 1,2531 miliar; dan bahan kimia anorganik (HS 28) dari USD 735,5 juta
menjadi USD 378,6 miliar.
Tahun 2010 ekspor Indonesia secara total menunjukan tren positif, hal ini
ditandai dengan meningkatnya ekspor Indonesia untuk migas dan non migas secara
total sekitar USD 157,778 miliar atau naik 35,42%. Ekspor migas Indonesia sendiri
naik mencapai lebih dari USD 28 miliar atau naik sebesar 47,43% dibandingkan
tahun sebelumnya. Selain itu, kenaikan juga terjadi untuk non migas, bila
dibandingkan dengan 2009 terjadi kenaikan 33,08% yang mencapai sekitar USD
129,7 miliar. Kenaikan ekspor ini menjadi pertanda bahwa perekonomian global
mulai membaik.
Selama tahun 2010, ekspor dari 10 golongan barang (HS 2 digit) memberikan
kontribusi 61,19% terhadap total ekspor non migs Indonesia (BPS, 2010). Dari sisi
pertumbuhan, ekspor 10 golongan tersebut naik 37,13% dibandingkan dengan tahun
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
11
2009. Semua komoditi yang masuk HS 2 digit mengalami peningkatan, antara lain:
bahan bakar mineral (HS 27) dari USD 13,934 miliar menjadi USD 18,7257 miliar;
lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) dari USD 12,2195 miliar menjadi USD
16,2948 miliar; mesin/peralatan listrik (HS 85) dari USD 8,0204 miliar menjadi USD
10,3741 miliar; karet dan barang dari karet (HS 40) dari USD 4,912 miliar menjadi
USD 9,3733 miliar; bijih, kerak dan abu logam (HS26) dari USD 5,8046 miliar
menjadi USD 8,0911 miliar; mesin-mesin/pesawat mekanik (HS 84) dari USD 4,7217
menjadi USD 4,9873 miliar; kertas/karton (HS 48) dari USD 3,3573 miliar menjadi
USD 4,1844 miliar; kendaraan dan bagiannya (HS 87) dari USD 1,9578 miliar
menjadi USD 2,8999 miliar; bahan kimia organik (29) dari USD 1,6724 miliar menjadi
USD 2,6916 miliar dan timah (HS 80) dari USD 1,268 miliar menjadi USD 1,7346
miliar.
Di tahun 2011 pun ekspor Indonesia secara keseluruhan naik mencapai lebih
dari USD 203 miliar atau naik 28,92%. Kenaikan ini disumbang ekspor migas
sebesar lebih dari USD 41 miliar atau naik sebesar 47,92%. Ekspor non migas
sendiri mencapai lebih dari USD 162 miliar atau naik 24,88% bila dibandingkan
tahun sebelumnya.Selama tahun 2011, ekspor dari 10 golongan barang (HS 2 digit)
memberikan kontribusi 63,49% terhadap total ekspor nonmigas (BPS, 2011).
Dari sisi pertumbuhan ekspor 10 golongan barang tersebut naik 26,93%
dibandingkan tahun 2010. Hampir semua komoditi yang masuk HS 2 digit
mengalami peningkatan, antara lain: bahan bakar mineral (HS 27) dari USD 18,7257
miliar menjadi USD 27,4439 miliar; lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) dari
USD 16,3122 miliar menjadi USD 21,6553 miliar; mesin/peralatan listrik (HS 85) dari
USD 10,3732 miliar menjadi USD 11,1483 miliar; karet dan barang dari karet (HS
40) dari USD 9,3734 miliar menjadi USD 14,3522 miliar; mesin-mesin/pesawat
mekanik (HS 84) dari USD 4,9867 menjadi USD 5,7496 miliar; bahan kimia organik
(29) dari USD 2,6901 miliar menjadi USD 3,8159 miliar; kayu, barang dari kayu
(HS44) dari USD 2,936 menjadi USD 3,3747 miliar dan tembaga (HS 74) dari USD
3,3058 miliar menjadi USD 3,8107 miliar. Sementara itu penurunan terjadi di bijih,
kerak dan abu logam (HS26) dari USD 8,148 miliar menjadi USD 7,3426 miliar,
kertas/karton (HS 48) dari USD 4,1862 miliar menjadi USD 4,1691 miliar.
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
12
Terjadi penurunan total ekspor Indonesia tahun 2012 sebesar 10,85% dari
sekitar USD 203 miliar menjadi sekitar USD 190 miliar. Untuk ekspor migas terjadi
penurunan 10,58% bila dibandingkan tahun sebelumnya menjadi sekitar USD 36,9
miliar dan untuk ekspor non migas mengalami penurunan sebesar 5,53% menjadi
sekitar USD 153 miliar. Penurunan ekspor ini dipicu oleh krisis keuangan yang
terjadi di Eropa yang berdampak secara global. Berdasarkan data BPS, 2012,
selama 2012, ekspor dari 10 golongan barang (HS 2 digit) memberikan kontribusi
63,05% terhadap total ekspor non migas Indonesia. Dari sisi pertumbuhan, ekspor
10 golongan barang tersebut turun 6,29% dibandingkan dengan tahun 2011.
Ada beberapa komoditas yang tetap mencatatkan pertumbuhan positif.
Komoditas tersebut antara lain: mesin-mesin/pesawat (HS 84) dari USD 5,7495
miliar menjadi USD 6,1027 miliar; kendaraan dan bagiannya (HS 87) dari USD
3,3286 miliar menjadi USD 4,8574 miliar; berbagai produk kimia (HS 38) dari USD
3,6653 miliar menjadi USD 3,8489 miliar.
Sedangkan komoditas yang menurun pertumbuhannya bila dibandingkan
tahun sebelumnya antara lain: bahan bakar mineral (HS 27) dari USD 27,4441 miliar
menjadi USD 26,4078 miliar; lemak dan minyak hewani/nabati dari USD 21,6553
miliar menjadi USD 21,2998 miliar; mesin/peralatan listrik (HS 85) dari USD 11,1454
miliar menjadi USD 10,7652 miliar; karet dan barang dari karet (HS 40) dari USD
14,3522 miliar menjadi USD 10,4742 miliar; bijih, kerak dan abu logam (HS 26) dari
USD 7,3426 miliar menjadi USD 5,0826 miliar; kertas/karton (HS 48) dari USD
4,1694 miliar menjadi USD 3,9357 miliar dan pakaian jadi bukan rajutan dari USD
4,1497 miliar menjadi USD 3,7444 miliar.
Berdasarkan data BPS, 2013, ekspor Indonesia di tahun 2013 menurun
dibandingkan 2012, turun sebesar 3,93% menjadi sekitar USD 182 miliar. Ekspor
migas juga mengalami penurunan 11,75% menjadi sekitar USD 32 miliar. Untuk
ekspor non migas terjadi penurunan 2,04% menjadi USD 149,9 miliar.Selama tahun
2013, ekspor 10 golongan barang (HS 2 digit) memberikan kontribusi 60,84%
terhadap total ekspor non migas Indonesia.
Dari sisi pertumbuhan, ekspor 10 golongan barang tersebut turun 3,67%
dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ada beberapa komoditas yang tetap
mengalami kenaikan, antara lain: bijih, kerak, dan abu logam (HS 26) dari USD
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
13
5,0826 miliar menjadi USD 6,5428 miliar; pakaian jadi bukan rajutan (HS 62) dari
USD 3,7445 miliar menjadi USD 3,9029 miliar; alas kaki (HS 64) dari 3,5246 menjadi
USD 3,8599 miliar; plastik dan barang dari plastik (HS 39) dari USD 2,4366 menjadi
USD 2,5277 miliar.
Sementara itu, untuk komoditas yang mengalami penurunan antara lain:
bahan bakar mineral (HS 27) dari USD 26,4078 miliar menjadi USD 24,782 miliar;
lemak dan minyak hewan/nabati (15) dari 21,2998 miliar menjadi USD 19,2249
miliar; mesin/peralatan listrik (HS 85) dari USD 10,7648 miliar menjadi USD 10,4443
miliar; karet dan barang dari karet (HS 40) dari USD 10,4752 miliar menjadi USD
9,3941 miliar; mesin-mesin/pesawat mekanik (HS 84) dari USD 6,1031 miliar
menjadi USD 5,9694 miliar; kendaraan dan bagiannya (HS 87) dar USD 4,8569
miliar menjadi USD 4,571 miliar.
Grafik 2.2: Perubahan Ekspor Komoditas Periode 2008-2013 (Dalam Miliar USD)
Sumber: Diolah dari data Badan Pusat Statistik, Berita Resmi Statistik: Perkembangan Ekspor dan
Impor Indonesia 2008-2013
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
14
Grafik 2.3: Indeks Keunggulan Komparatif Indonesia
Sumber: OECD Reviews of Regulatory Reform Indonesia: Market Opennes (2012)
Industri otomotif Indonesia merupakan salah satu indutri yang mendapatkan
manfaat dari liberalisasi (Molnar & Lesher, 2008). Peningkatan daya saing industri
otomotif Indonesia dapat dilihat pada diagram diatas, secara keseluruhan daya saing
industri otomotif Indonesia meningkat. Untuk sektor tekstil, indeks keunggulan
komparatifnya fluktuatif, namun semakin lama daya saingnya menurun. Sektor besi
dan baja indeksnya menunjukan tingkat yang stagnan. Untuk sektor peralatan listrik,
indeksnya juga stagnan beberapa tahun terakhir setelah fluktuasi di awal tahun
2000-an. Indeks keunggulan komparatif hasil olahan kayu mengalami penurunan
dari tahun ke tahun.
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
15
Grafik 2.4: Ekspor Indonesia Sektor Migas dan Non Migas Periode 2008-2013
Sumber: Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (diolah)
Berdasarkan data BPS, 2009, antara tahun 2008 dan 2009, terjadi penurunan
ekspor Indonesia hampir diseluruh sektor, kecuali di sektor pertambangan dan
lainnya yang masing masing mengalami kenaikan sebesar 32,11% atau sekitar USD
19,6 miliar dan 54,54% atau sekitar USD 37,8 juta. Berbeda dengan sektor pertanian
dan industri yang masing-masing mengalami penurunan sebesar 5,06% atau
menjadi sekitar USD 4,35 miliar dan 16,92% atau sekitar USD 73,43 miliar di tahun
2009. Dilihat dari kontribusinya terhadap ekspor secara keseluruhan tahun 2009,
kontribusi ekspor produk industri adalah sebesar 63,03%, sedangkan kontribusi
ekspor produk pertanian adalah sebesar 3,75%, dan kontribusi ekspor produk
pertambangan dan lainnya adalah sebesar 16,89%, sementara kontribusi ekspor
migas adalah sebesar 16,33%.
Tetap tumbuhnya perekonomian Tiongkok dan negara-negara berkembang
lainnya pasca krisis keuangan global membantu mendorong ekspor Indonesia.
Berdasarkan data BPS, 2010), hal ini ditunjukan kinerja ekspor Indonesia tahun
2009 sampai 2010, terjadi kenaikan hampir disemua sektor ekspor Indonesia kecuali
di sektor lainnya yang turun 73,81% atau menjadi sekitar USD 9,9 juta. Untuk sektor
pertanian, industri dan pertambangan, masing-masing mengalami kenaikan sebesar
14,92%, 33,49% dan 35,36%, nilai masing-masing hampir mencapai USD 5 miliar,
USD 98 miliar dan USD 26,6 miliar di tahun 2010. Dilihat dari kontribusinya terhadap
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
16
ekspor keseluruhan di tahun 2010, kontribusi ekspor produk industri adalah sebesar
62,14%, sedangkan kontribusi ekspor produk pertanian adalah sebesar 3,17% dan
kontribusi ekspor produk pertambangan dan lainnya adalah sebesar 16,91%,
sementara kontribusi ekspor migas adalah sebesar 17,78%.
Sementara itu, berdasarkan data BPS, 2011, dari tahun 2010 sampai 2011,
ekspor Indonesia mengalami kenaikan di semua sektornya. Kenaikan untuk sektor
pertanian, industri, pertambangan dan lainnya masing-masing sebesar 3,27%,
24,64%, 30% dan 30,3%, nilainya masing-masing hampir mencapai USD 5,1 miliar,
USD 112,1 miliar, USD 34,6 miliar, dan USD 12,9 juta di tahun 2011. Dilihat dari
kontribusinya terhadap ekspor keseluruhan tahun 2011, kontribusi ekspor produk
industri adalah sebesar 60,01%, sedangkan kontribusi ekspor produk pertanian
adalah sebesar 2,54% dan kontribusi ekspor produk pertambangan dan lainnya
adalah sebesar 17,02%, sementara kontribusi ekspor migas adalah sebesar
20,43%.
Krisis keuangan yang melanda Eropa ditahun 2011, berakibat pada
pengetatan anggaran negara-negara zona Euro yang menjadi salah satu pemicu
turunnya ekspor Indonesia antara tahun 2011 dan 2012. Perlambatan ekonomi
Tiongkok juga berpengaruh terhadap penurunan ekspor Indonesia, dengan
pertumbuhan ekonomi hanya sekitar 7,7% di tahun 2012 yang turun dari 9,3% di
tahun 2011. Berdasarkan data BPS, 2012, hal ini ditandai dengan turunnya ekspor
untuk sektor industri dan pertambangan yang masing-masing turun sebesar 4,95%
dan 9,59%, nilainya masing-masing hampir mencapai USD 116,1 miliar dan USD
31,1 miliar. Untuk ekspor Indonesia sektor pertanian dan lainnya masih mencatatkan
kenaikan positif masing-masing sebesar 7,84% dan 44,96%, nilainya masing-masing
sekitar USD 5,5 miliar dan USD 18,7 juta. Dilihat dari kontribusinya terhadap ekspor
keseluruhan tahun 2012, kontribusi ekspor produk industri adalah sebesar 61,11%,
sedangkan kontribusi ekspor produk pertanian adalah sebesar 2,94%, dan kontribusi
ekspor produk pertambangan dan lainnya adalah sebesar 16,50%, sementara
kontribusi ekspor migas adalah sebesar 19,45%.
Berdasarkan data BPS, tahun 2013, penurunan ekspor juga terjadi di tahun
2013 bila dibandingkan dengan tahun 2012. Semua sektor ekspor Indonesia
menunjukan nilai negatif. Untuk sektor pertanian, industri, pertambangan dan lainnya
masing-masing mengalami penurunan sebesar 2,55%, 2,67%, 0,65% dan 19,20%,
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
17
nilainya masing-masing sekitar USD 5,7 miliar, USD 113 miliar, USD 31,1 miliar dan
15,11 juta. Dilihat dari kontribusinya terhadap ekspor keseluruhan tahun 2013,
kontribusi ekspor produk industri adalah sebesar 61,91%, sedangkan kontribusi
ekspor produk pertanian adalah sebesar 3,14%, dan kontribusi ekspor produk
pertambangan dan lainnya adalah sebesar 17,08%, sementara kontribusi ekspor
migas adalah sebesar 17,87%.
Pada tahun 2013 perkembangan ekonomi dunia diwarnai dengan pemulihan
ekonomi Amerika Serikat, berdasarkan Bureau Economic Analyst, perekonomian
Amerika Serikat tumbuh 1,7% (YoY) pada triwulan II tahun 2013. Sementara untuk
pertumbuhan ekonomi pada triwulan I tahun 2013 direvisi hanya tumbuh 1,1%.
Sementara itu perekonomian kawasan Eropa terkontraksi 0,2% pada triwulan II
tahun 2013 dibandingkan dengan periode yang sama. Pada Juli tahun 2013
perekonomian negara-negara berkembang Asia di proyeksikan menjadi hanya 6,3%,
turun 0,3% dari proyeksi bulan April 2013 (Bappenas, 2013). Ekonomi Tiongkok
yang tumbuh melambat akan menjadi faktor yang membebani pertumbuhan
ekonomi
negara-negara
di
regional
Asia.
Perlambatan
ekonomi
Tiongkok
mempengaruhi turunnya tingkat perdagangan negara berkembang Asia yang salah
satunya adalah Indonesia.
Grafik 2.5:Persentase Perubahan Ekspor Indonesia Menurut Sektornya Periode
2008-2013
Sumber: Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (diolah)
Berdasarkan data BPS, tahun 2009, nilai Impor Indonesia secara total
mencapai sekitar USD 129, 197 miliar di tahun 2008. Pada tahun 2009 mengalami
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
18
penurunan impor sebesar 25,03% menjadi sekitar USD 96,86 miliar. Penurunan
terjadi pada impor migas sebesar 37,85% dan impor non migas sebesar 21,06%.
Secara lebih rinci penurunan impor migas lebih disebabkan oleh penurunan impor
minyak mentah dan hasil minyak, yaitu masing-masing sekitar USD 2,6993 miliar
(26,83%) dan USD 9,0935 miliar (44,95%). Impor non migas menurut HS 2 digit
mengalami penurunan di tahun 2009 bila dibandingkan tahun 2008 yaitu dari USD
64,3288 miliar menjadi USD 51,0025 miliar.
Grafik 2.6: Impor Indonesia Periode 2008-2013
Sumber: Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (diolah)
Peranan impor sepuluh golongan barang utama HS 2 digit sendiri mencapai
65,5% dari total impor non migas Indonesia atau 52,66% dari total impor
keseluruhan. Dilihat dari peranan terhadap total impor nonmigas Indonesia tahun
2009, mesin/pesawat mekanik memberikan peranan terbesar, yaitu 18,79%, diikuti
mesin dan peralatan listrik sebesar 14,52%; besi dan baja sebesar 5,60%; bahan
kimia organik sebesar 5,06%; pesawat udara dan bagiannya sebesar 4,16%; plastik
dan barang dari plastik sebesar 4,12 %; kendaraan bermotor dan bagiannya sebesar
4,05%; barang dari besi dan baja sebesar 3,57%; dan kapal, perahu dan struktur
terapung sebesar 3,47%. Sementara itu, golongan barang residu dan sisa dari
industri makanan diimpor dengan peranan di bawah 3 %, yaitu sebesar 2,16%.
Berdasarkan data BPS, 2010, pada tahun 2009 sampai 2010 terjadi kenaikan
impor Indonesia sebesar 40% yang mencapai USD 135,6 miliar. Peningkatan terjadi
pada impor migas dan non migas masing-masing sebesar 44,16% dan 39,04%.
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
19
Secara lebih rinci peningkatan impor migas lebih disebabkan oleh peningkatan impor
minyak mentah sebesar USD 1,12 miliar (15,16%) dan impor hasil minyak sebesar
USD 6,89 miliar (61,93%). Demikian juga impor gas meningkat USD 374,1 juta atau
sebesar 76,49%. Peningkatan impor juga terjadi di impor 10 golongan barang
utama, terjadi peningkatan dari USD 49,595 miliar dolar menjadi USD 69,2683 miliar
dolar. Peranan impor sepuluh golongan barang utama mencapai 63,99% dari total
impor non migas atau 51,08% dari total impor keseluruhan.
Dilihat dari peranan terhadap total impor non migas Indonesia di tahun 2010,
impor mesin dan peralatan mekanik memberikan peranan terbesar, yaitu 18,49%,
diikuti mesin dan peralatan listrik sebesar 14,44%; besi dan baja sebesar 5,89%;
kendaraan bermotor dan bagiannya sebesar 5,30%; bahan kimia organik sebesar
4,92%; plastik dan barang dari plastik sebesar 4,45%; pesawat udara dan bagiannya
sebesar 3,26 persen, dan barang dari besi dan baja sebesar 3,19%. Sementara itu,
impor dua golongan barang sisanya mempunyai peranan di bawah 3%, yaitu kapas
sebesar 2,06% dan serealia sebesar 1,99%.
Di tahun 2011, nilai impor Indonesia mengalami kenaikan sebesar 30,85%
menjadi USD 177,43 miliar jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Peningkatan terjadi pada impor migas sebesar USD 13,27 miliar atau 48,42%.
Demikian juga pada impor non migas yang mengalami peningkatan sebesar 26,20%
atau menjadi USD 28,36 miliar. Secara lebih rinci peningkatan impor migas lebih
disebabkan oleh peningkatan impor minyak mentah dan hasil minyak masingmasing sebesar USD 2,62 miliar atau 30,75% dan USD 10,10 miliar atau 56,06%
(BPS, 2011). Demikian juga dengan impor gas yang meningkat USD 0,55 miliar atau
63,64%. Selain itu terjadi peningkatan impor untuk 10 golongan barang utama dari
USD 69,275 miliar menjadi USD 87,2928 miliar, peranan sepuluh golongan barang
utama mencapai 63,9% dari total impor non migas atau 49,23% dari total
keseluruhan impor Indonesia.
Dilihat dari peranan terhadap total impor non migas Indonesia di tahun 2011,
impor mesin dan peralatan mekanik memberikan peranan terbesar, yaitu 18,06%,
diikuti mesin dan peralatan listrik sebesar 13,34%; besi dan baja sebesar 6,28
persen; kendaraan bermotor dan bagiannya sebesar 5,55%; plastik dan barang dari
plastik sebesar 4,90%; bahan kimia organik sebesar 4,86%; dan serealia sebesar
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
20
3,48%. Sementara itu, impor tiga golongan barang sisanya mempunyai peranan di
bawah 3%, yaitu barang dari besi dan baja sebesar 2,61%, pesawat udara dan
bagiannya sebesar 2,50%, dan kapas sebesar 2,32%.
Di tahun 2012, nilai impor Indonesia tumbuh sebesar 8,03% yang nilainya
sekitar USD 191,69 miliar. Peningkatan impor ini terjadi pada impor migas sebesar
USD 1,8638 miliar atau menyumbang 4,58% (BPS, 2011). Sementara impor non
migas juga mengalami peningkatan sebesar USD 12,3716 miliar atau 9,05%. Secara
lebih rinci peningkatan impor migas disebabkan oleh peningkatan impor hasil minyak
dan gas masing-masing sebesar USD 546 juta (1,94%) dan USD 1,6691 miliar
(118,17%). Sedangkan impor minyak mentah mengalami penurunan USD 351,3 juta
atau 3,15%. Sedangkan untuk impor 10 barang utama mengalami kenaikan dari
USD 86,4461 miliar menjadi USD 96,9809 miliar, peranan impor sepuluh golongan
barang utama mencapai 65,04% dari total impor non migas atau 50,60% dari
keseluruhan impor Indonesia.
Dilihat dari peranan terhadap total impor non migas Indonesia tahun 2012,
impor mesin dan peralatan mekanik memberikan peranan terbesar, yaitu 19,06%,
diikuti mesin dan peralatan listrik sebesar 12,68%; besi dan baja sebesar 6,80
persen; kendaraan bermotor dan bagiannya sebesar 6,54%; plastik dan barang dari
plastik sebesar 4,69%; bahan kimia organik sebesar 4,61%; barang dari besi dan
baja sebesar 3,28%, dan kapal terbang dan bagiannya 3,01%. Sementara itu, impor
dua golongan barang sisanya mempunyai peranan di bawah 3,00%, yaitu serealia
sebesar 2,49% dan sisa industri makanan sebesar 1,88%,
Penurunan impor Indonesia terjadi di tahun 2013 bila dibandingkan dengan
tahun 2012 sebesar 2,64% atau menjadi sekitar USD 186,63 miliar di tahun 2013.
Penurunan tersebut dipicu oleh turunnya impor non migas, yaitu sebesar USD
7,7608 miliar atau 5,2% (BPS, 2013). Sebaliknya impor migas mengalami
peningkatan USD 2,7026 miliar (6,35%). Secara lebih rinci peningkatan impor migas
disebabkan oleh naiknya nilai impor minyak mentah dan gas masing-masing
sebesar USD 2,7826 miliar (25,76%) dan USD 31,4 juta (1,04%). Sementara impor
hasil minyak turun sebesar USD 111,4 juta (0,39%). Untuk sepuluh golongan barang
utama
sendiri
mengalami
penurunan
apabila
dbandingkan
dengan
tahun
sebelumnya, yaitu dari USD 95,0185 miliar menjadi 91,5822 miliar, sepuluh
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
21
golongan barang utama ini memiliki peranan sebesar 64,78% dari total impor non
migas Indonesia.
Grafik 2.7: Perubahan Impor 10 Komoditas Utama Periode 2008-2013
Sumber: Diolah dari data Badan Pusat Statistik, Berita Resmi Statistik: Perkembangan Ekspor dan
Impor Indonesia 2008-2013
Antara tahun 2008 dan 2009 terjadi penurunan nilai impor Indonesia menurut
penggunaan barang, baik barang konsumsi, bahan baku pendukung maupun barang
modal semuanya mengalami penurunan masing-masing sebesar 18,68%, 30,01%,
dan 4,50% yang masing-masing memiliki nilai USD 8,3 milyar, USD 99,49 milyar dan
USD 21,4 milyar. Penurunan impor ini dipicu oleh kerisis keuangan global yang
menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat anjlok. Kenaikan
impor terjadi di tahun 2010 apabila dibandingkan dengan nilai impor tahun
sebelumnya. Terjadi kenaikan disemua jenis barang, untuk barang konsumsi, bahan
baku pendukung dan barang modal masing-masing mengalami kenaikan 47,97%,
41,77% dan 31,69% yang masing-masing bernilai USD 9,9 milyar, USD 98,72 milyar
dan USD 26,9 milyar. Kenaikan impor ini dipicu oleh mulai membaiknya kondisi
perekonomian global dan didukung oleh menguatnya nilai tukar rupiah terhadap
dolar Amerika Serikat.
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
22
Grafik 2.8: Impor Indonesia Menurut Golongan Penggunaan Barang (2008-2013).
Sumber: Kementerian Perdagangan Republik Indonesia
Pada tahun 2011, nilai impor Indonesia mengalami kenaikan dibandingkan
tahun sebelumnya. Untuk barang konsumsi, bahan baku pendukung dan barang
modal masing-masing mengalami kenaikan 34,04%, 32,62% dan 23,01% yang
masing-masing memiliki nilai USD 13,39 milyar, USD 141,127 milyar dan USD 38,15
milyar di tahun 2011. Sedangkan untuk tahun 2012, terjadi kenaikan nilai impor
Indonesia meskipun kenaikannya relatif lebih kecil khususnya untuk barang
konsumsi yang naik 0,12% menjadi USD 13,4 milyar. Untuk bahan baku pendukung
dan barang modal sendiri mengalami kenaikan masing-masing sebesar 7,78% dan
15,24% yang masing-masing menjadi sekitar USD 141,1 milyar dan USD 38,1
milyar.
Di tahun 2013, terjadi penurunan nilai impor Indonesia apabila dibandingkan
dengan impor tahun sebelumnya menjadi USD 186,6 miliar, turun sebesar 2,64%.
Untuk barang konsumsi, terjadi penurunan sebesar 2,01% dibanding tahun
sebelumnya menjadi sekitar USD 13,1 milyar di tahun 2013. Untuk bahan baku
pendukung sendiri masih memiliki nilai positif meskipun naik tipis, yaitu naik 0,59%
atau bernilai sekitar USD 141,9 miliar ditahun 2013. Penurunan juga terjadi untuk
barang modal yang turun sebesar 17,36% atau menjadi sekitar USD 186,8 miliar.
Penurunan paling besar terjadi di barang modal sebesar 17%, hal ini disebabkan
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
23
kebijakan pemotongan quantitative easing oleh The Fed seiring pengangguran di
Amerika Serikat yang semakin menurun yang menjadi indikator pemulihan ekonomi
negara tersebut.
Grafik 2.9: Persentase Perubahan Impor Indonesia (2008-2013).
Sumber: Kementerian Perdagangan Republik Indonesia
2.4 Dinamika Negara Sasaran Ekspor dan Impor
Pertumbuhan ekspor ke negara-negara tujuan utama ekspor Indonesia terus
tumbuh pasca krisis keuangan global. Hal ini dapat dilihat seperti total ekspor
Indonesia ke negara-negara ASEAN, seperti Singapura, Malaysia dan Thailand yang
masing-masing tumbuh 25,22%, 27,24%, dan 29,19% di tahun 2010 yang masingmasing mencapai USD 13,7 miliar, USD 9,3 miliar dan USD 4,5 miliar. Pada tahun
2011 ekspor Indonesia juga tumbuh ke negara-negara tersebut sebesar 25,59%,
14,86% dan 22,56%. Pertumbuhan ekspor Indonesia sempat melambat di tahun
2012 bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, hal ini dilihat dari penurunan
ekspor ke Singapura sebesar 7,64% yang mencapai USD 17,135 miliar, namun
masih terjadi pertumbuhan positif untuk ekspor ke Malaysia dan Thailand yang
masing-masing
tumbuh
sebesar
2,5%
dan
11,13%.
Seiring
melambatnya
perekonomian dunia, terjadi penurunan ekspor untuk ke tiga negara di kawasan
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
24
ASEAN tersebut yang masing-masing Singapura turun 2,69% menjadi USD 16,68
miliar, Malaysia turun 5,73% menjadi sekitar USD 10,66 miliar dan Thailand turun
9,46% mencapai sekitar USD 6,061 miliar perdagangannya di tahun 2013
(Kementerian Perdagangan RI, 2013).
Dinamika ekspor Indonesia ke tiga negara tersebut memiliki pola yang hampir
mirip dengan impor Indonesia dari negara tersebut. Dari tahun 2009 sampai tahun
2012 pertumbuhan impor Indonesia positif dari ke tiga negara tersebut, meskipun di
tahun 2012 pertumbuhan melambat. Namun di tahun 2013, impor Indonesia dari
Singapura dan Thailand menunjukan pertumbuhan yang negatif, masing-masing
menunjukan penurunan impor sebesar 1,94% dan 6,43%. Sementara impor
Indonesia dari Malaysia masih menunjukan pertumbuhan positif yaitu sebesar
8,18%. Sementara itu untuk ekspor Indonesia ke negara-negara Eropa, khususnya
Jerman, Perancis dan Inggris menunjukan tren positif dari tahun 2009 sampai 2011.
Namun dari tahun 2011 sampai 2012 dan dari tahun 2012 sampai 2013 menunjukan
pertumbuhan ekspor yang negatif. Penurunan ekspor antara tahun 2011 dan 2012
dipicu oleh krisis Eropa sehingga ekspor Indonesia turun ke Jerman (7,47%),
Perancis (13,87%) dan Inggris (1,35%). Di tahun 2013 pun ekspor Indonesia
menurun bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya untuk ekspor ke Jerman
(6,64%), Perancis(6,16%) dan Inggris (3,79%).
Impor Indonesia dari ke tiga negara tersebut bervariasi, namun untuk Jerman
selalu menunjukan pertumbuhan dari tahun 2009 sampai 2013. Berbeda dengan
Perancis yang pada tahun 2010 mengalami penurunan sebesar 21,83%, namun
tumbuh di tahun 2011 sebesar 49,55% meskipun kemudian di tahun 2012 dan 2013
turun masing-masing sebesar 4,01% dan 17,33%. Impor dari Inggris mengalami
petumbuhan positif dari tahun 2009 sampai 2012, namun mengalami penurunan di
tahun 2013 menjadi USD 1,08 milyar atau turun 20,82%.
Untuk negara-negara tujuan utama lainnya seperti Tiongkok, Jepang,
Amerika Serikat, India, Australia, Korea Selatan, Taiwan, masing-masing memiliki
pertumbuhan ekspor yang positif untuk tahun 2010 sebesar USD 15,6 miliar
(26,72%), USD 25,7 miliar (27,95%), USD 14,2 miliar (23,95%), USD 9,9 miliar
(25,03%), USD 4,2 miliar (23,09), USD 12,57 miliar (35,23%) dan USD 4,83 miliar
(30%). Kenaikan positif ini menunjukkan menguatnya perekonomian global pasca
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
25
krisis keuangan. Tren positif ini terus berlanjut sampai tahun 2011, karena di tahun
2012 pertumbuhan ekspor ke negara-negara tersebut menunjukan penurunan
dibandingkan tahun sebelumnya, nilai ekspornya masing masing turun, Tiongkok
(5,92%), Jepang (11,88%), Amerika Serikat (10,65%), India (6,72%), Australia
(13,80%), Korea Selatan (8,90%) , Taiwan (5,48%). Untuk tahun 2013 sendiri, hanya
beberapa negara yang menunjukan pertumbuhan ekspor positif ke negara Tiongkok
USD 22,6 milyar (4,17%), Amerika Serikat USD 15,6 milyar (5,21%), dan India USD
13 milyar (4,11%), sedangkan untuk negara lainnya turun, yaitu Jepang USD 27
milyar (11,26%), Australia USD 4,3 milyar (12,24%), Republik Korea Selatan USD
11,4 milyar (31,76%) dan Taiwan USD 5,8 milyar (6,48%). Untuk impor Indonesia
dari Tiongkok, Jepang, Amerika Serikat, India, Australia, Korea Selatan, Taiwan
memiliki tren positif dari tahun 2009 sampai 2011, namun di tahun 2012 impor dari
India dan Korea Selatan menunjukan nilai negatif. Di tahun 2013 hampir semua
impor dari negara-negara tersebut menunjukan penurunan bila dibandingkan
dengan tahun 2012, kecuali impor dari Tiongkok.
Tabel 2.1: Korelasi Pertumbuhan Ekonomi Partner Dagang dengan Ekspor
Indonesia 2005-2013
Negara
Koefisien Signifikansi
Australia
0.021
0.41
Amerika Serikat
0.007
-0.77
Inggris
-0.028
0.26
Jerman
0.047
0.07*
Jepang
0.005
0.7
-0.032
0.51
Singapura
1.223
0.001***
Tiongkok
0.0625
0.31
Perancis
Sumber: Hasil Olahan Tim Pengkaji
Data yang digunakan dalam regresi diatas ini merupakan data kuartalan dari
kuartal 1 tahun 2005 hingga kuartal 4 tahun 2013. Data ekspor Indonesia didapatkan
dari situs resmi Badan Pusat Statistik (BPS). Data tersaji dalam bentuk bulanan,
yang kemudian disusun menjadi bentuk kuartal. Selanjutnya dari data tersebut
dihitung pertumbuhan ekspor Indonesia per kuartal dari awal 2005 hingga akhir
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
26
2013. Data pertumbuhan ekonomi (GDP) untuk Australia, Amerika Serikat, Inggris,
Perancis, Jerman, Jepang dan Inggris didapatkan dari situs resmi Organization for
Economic Co-operation and Development (OECD). Data yang disajikan dalam situs
tersebut sudah berbentuk pertumbuhan GDP per kuartal, sehingga bisa langsung
digunakan. Adapun data pertumbuhan GDP Tiongkok dan Singapura, didapatkan
dari layanan data (CEIC).
Berdasarkan hasil regresi model terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi
sebagian besar negara yang dibahas dalam studi ini memiliki pengaruh searah
dengan pertumbuhan ekspor Indonesia. Negara-negara tersebut adalah Australia,
Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Tiongkok dan Singapura. Pertumbuhan ekonomi
negara-negara tersebut memiliki korelasi positif dengan pertumbuhan ekspor
Indonesia. Hal ini bermakna bahwa bila pertumbuhan ekonomi negara tersebut
positif, maka secara statistik akan memberikan dampak positif terhadap ekspor
Indonesia (peningkatan ekspor).Korelasi positif terbesar berdasarkan model adalah
pertumbuhan ekonomi Singapura. Hasil regresi menunjukkan bahwa secara statistik
peningkatan 1% perekonomian Singapura akan menaikkan ekspor Indonesia
sebesar 1,22%. Besaran korelasi ini berbeda jauh dengan pertumbuhan ekonomi
Jepang. Bila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi negara lainnya yang
memiliki korelasi positif dengan perdagangan Indonesia, pertumbuhan setiap 1%
perekonomian Jepang hanya akan memberikan peningkatan 0,0047% ekspor
Indonesia.
Sebaliknya, terdapat dua negara yang pertumbuhan ekonominya memiliki
korelasi negatif dengan pertumbuhan ekspor Indonesia. Dua negara tersebut adalah
Inggris dan Perancis. Keduanya masing-masing memiliki koefisien korelasi -0,028
dan -0,032. Hal ini bermakna bahwa secara statistik setiap pertumbuhan positif 1%
perekonomian Inggris dan Perancis, maka akan menurunkan ekspor Indonesia
sebesar masing-masing 0,028% dan 0,032%.
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
27
BAB III UJI EMPIRIK
3.1. Data
Studi ini melakukan uji empirik terhadap berbagai variabel yang dianggap
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Uji empirik yang dilakukan
menggunakan data dengan rentang waktu dari tahun 2005-2013. Set variabel yang
digunakan sejalan dengan kerangka empat jalur transmisi Global Shock yang
digunakan oleh Bank Sentral India.
Bagan 3.1. Empat Jalur Transmisi Shock Global
Transmisi
Shock Global
Jalur
Perdagangan
Internasional
Jalur Keuangan
Jalur Harga
Komoditas
Jalur Ekspektasi
dan
Kepercayaan
Sumber: Bank Sentral India 2010
Data yang digunakan dalam uji empirik studi ini terbagi ke dalam empat
kelompok, yaitu:
1. Trade Channel: Data yang berkaitan dengan kegiatan perdagangan
internasional. Data yang digunakan adalah data ekspor dan impor non-migas
Indonesia secara total dan dengan lima negara mitra dagang utama (Jepang,
Amerika Serikat, Tiongkok, Singapura, dan India). Data bersumber dari Bank
Indonesia.
2. Finance Channel: Data yang berkaitan dengan arus modal yang masuk dan
keluar dari Indonesia. Data yang digunakan adalah data investasi langsung
(Foreign Direct Invesment/FDI) yang masuk ke Indonesia baik secara total
maupun per negara dari lima negara, yaitu Jepang, Amerika Serikat,
Tiongkok, Singapura, dan India. Data bersumber dari Bank Indonesia.
3. Commodity Prices: Data harga komoditas dunia. Komoditas yang dijadikan
variabel merupakan komoditas yang penting bagi Indonesia. Komoditas yang
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
28
ikut diperhitungkan adalah batu bara, beras, minyak mentah, daging sapi,
kayu, kopi, gas, dan minyak sawit. Data bersumber dari World Bank.
4. Expectations and Confidence: Data yang berkaitan dengan nilai tukar mata
uang dan harga aset. Data yang digunakan adalah nilai tukar Rupiah
terhadap USD (USD/Rupiah) dan seri data IHSG (Jakarta Composite Index).
Data bersumber dari Bloomberg.
3.2. Tahapan Estimasi
Untuk dapat menguji hubungan dua arah (bidirectional atau causal
relationship), terlebih dahulu dilakukan pengujian unit root seri data yang akan
digunakan. Pengujian dilanjutkan dengan menggunakan Augmented Dickey Fuller
Test
(ADF-test)
untuk
menentukan
apakah
suatu
variabel
diuji
dengan
menggunakan Vector-Autoregressive (VAR) atau Vector Error Correction Model
(VECM). Jika memiliki stasionaritas, maka bisa dilakukan pengujian hubungan
dengan VAR.
Bagan 3.2. Tahapan Estimasi Empirik
Pengujian Unit Root
Pengujian Kointegrasi
Augmented Dickey Fuller
Test
Johansen Cointegration
Test
Pengujian Kausalitas
Granger
Vector Error Correction
Model / VECM
Namun, untuk penentuan apakah model VAR atau VECM yang akan
digunakan, perlu dilakukan pengujian kointegrasi. Pengujian kointegrasi dilakukan
dengan metode Johansen. Jika variabel-variabel tersebut terbukti tidak memiliki
stasionaritas dan tidak terkointegrasi, maka pengujian akan menggunakan VAR.
Sedangkan bila variabel tersebut terbukti tidak memiliki stasionaritas dan
terkointegrasi, maka pengujian selanjutnya akan menggunakan VECM.
Terakhir, dari pengujian Kausalitas Granger (dalam model VECM) akan
terlihat hubungan kausalitas antar variabel yang diuji. Secara total terdapat empat
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
29
set regresi dimana variabel yang digunakan berbeda-beda. Berikut adalah variabel
dependen dalam regresi studi ini:
1. Variabel dependen pertumbuhan GDP Indonesia (d_gro_gdp_indonesia)
2. Variabel
dependen
pertumbuhan
total
ekspor
non-migas
Indonesia
total
impor
non-migas
Indonesia
(d_gro_eks_nm_indonesia)
3. Variabel
dependen
pertumbuhan
(d_gro_im_nm_indonesia)
4. Variabel dependen pertumbuhan FDI yang masuk ke Indonesia (d_fdi_total)
Pengujian pengaruh masing-masing variabel terhadap variabel dependen
dibagi ke dalam lima persamaan regresi. Persamaan regresi pertama adalah
hubungan variabel dependen dengan pertumbuhan ekonomi lima mitra dagang
utama. Persamaan regresi kedua merupakan representasi trade channel, yaitu
pengaruh ekspor dan impor non-migas Indonesia secara total dan dengan lima
negara mitra dagang utama terhadap variabel dependen. Persamaan regresi ketiga
merupakan representasi financial channel, yaitu pengaruh nilai penyaluran kredit
dalam negeri serta investasi langsung (FDI) yang masuk ke Indonesia secara total
dan dari lima negara mitra dagang utama terhadap variabel dependen. Persamaan
regresi keempat merupakan representasi commodity price channel, yaitu pengaruh
harga dunia berbagai komoditas penting terhadap variabel dependen. Persamaan
regresi kelima merupakan representasi expectation/s and confidence channel, yang
dicerminkan dalam pengaruh nilai tukar USD/IDR dan IHSG terhadap variabel
dependen.
Berikut ini adalah variabel-variabel independen yang digunakan dalam
regresi:

Pertumbuhan GDP Indonesia dan Lima Negara Mitra Dagang Utama
d_gro_gdp_indonesia = Pertumbuhan GDP Indonesia (%)
d_gro_gdp_jepang
= Pertumbuhan GDP Jepang (%)
d_gro_gdp_as
= Pertumbuhan GDP Amerika Serikat (%)
d_gro_gdp_tiongkok
= Pertumbuhan GDP Tiongkok (%)
d_gro_gdp_singapura = Pertumbuhan GDP Singapura (%)
d_gro_gdp_india
= Pertumbuhan GDP India (%)
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
30

Trade Channel
d_gro_eks_nm_as
= Pertumbuhan ekspor non-migas Indonesia ke
Amerika Serikat (%)
d_gro_eks_nm_india
= Pertumbuhan ekspor non-migas Indonesia ke India
(%)
d_gro_eks_nm_jepang
= Pertumbuhan ekspor non-migas Indonesia ke
Jepang (%)
d_gro_eks_nm_singapura = Pertumbuhan ekspor non-migas Indonesia ke
Amerika Serikat (%)
d_gro_eks_nm_tiongkok
= Pertumbuhan ekspor non-migas Indonesia ke
Tiongkok (%)
d_gro_eks_nm_total
= Pertumbuhan total ekspor non-migas Indonesia (%)
d_gro_im_nm_as
= Pertumbuhan impor non-migas Indonesia dari
Amerika Serikat (%)
d_gro_im_nm_india
= Pertumbuhan impor non-migas Indonesia dari India
(%)
d_gro_im_nm_jepang
= Pertumbuhan impor non-migas Indonesia dari
Jepang (%)
d_gro_im_nm_singapura = Pertumbuhan impor non-migas Indonesia dari
Amerika Serikat (%)
d_gro_im_nm_tiongkok
= Pertumbuhan impor non-migas Indonesia dari
Tiongkok (%)
d_gro_im_nm_total

= Pertumbuhan total impor non-migas Indonesia (%)
Financial Channel
d_dist_kredit
= Persetujuan kredit perbankan di Indonesia (Miliar
Rupiah)
d_fdi_jepang
= FDI Jepang ke Indonesia (Juta USD)
d_fdi_as
= FDI Amerika Serikat ke Indonesia (Juta USD)
d_fdi_india
= FDI India ke Indonesia (Juta USD)
d_fdi_singapura
= FDI Singapura ke Indonesia (Juta USD)
d_fdi_tiongkok
= FDI Tiongkok ke Indonesia (Juta USD)
d_fdi_total
= Total FDI yang masuk ke Indonesia (Juta USD)
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
31

Commodity Price Channel
d_batu_bara
= Harga batubara dunia (USD/MT)
d_beras
= Harga beras dunia (USD/MT)
d_crude_oil
= Harga minyak mentah dunia (USD/bbl)
d_daging_sapi
= Harga daging sapi dunia (USD/kg)
d_kayu
= Harga kayu dunia (USD/
d_kopi_arabika
= Harga kopi Arabika dunia (USD/kg)
d_kopi_robusta
= Harga kopi Robusta dunia (USD/kg)
d_kedelai
= Harga kedelai dunia (USD/MT)
d_liquid_gas
= Harga gas alam cair dunia (USD/MMBTU)
d_kopi_metals_minerals

)
= Harga logam dasar dunia (USD/MT)
d_natural_gas
= Harga gas alam dunia (USD/MMBTU)
d_palm_oil
= Harga minyak sawit dunia (USD/MT)
d_rubber
= Harga karet dunia (USD/kg)
d_woodpulp
= Harga pulp kayu dunia (USD/MT)
Expectation/s and Confidence Channel
d_ihsg
= Harga historis Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG/JCI) (Rupiah)
d_usd_idr
= Nilai tukar Rupiah terhadap USD (USD/IDR)
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
32
3.3. Hasil Uji Empirik
3.3.1. Augmented Dickey-Fuller Test
Seluruh variabel yang diikutkan dalam pengujian diperiksa stasionaritasnya
dengan menggunakan Augmented Dickey-Fuller Test. Hasilnya seperti pada tabel,
terlihat bahwa sebagian besar variabel tidak memiliki stasionaritas (nonstationarity).
Hal
ini
menyebabkan
dalam
melihat
hubungan
antar-variabel
tidak
bisa
menggunakan regresi biasa (OLS).
Tabel 3.1:Hasil Pengujian Unit Root dengan Metode Dickey Fuller
No
Variabel
P-value for Z(t)
Nilai Kritis
Stasionaritas
1
dist_kredit
0.0942
0.05
Non-Stasioner
2
usd_idr
0.8632
0.05
Non-Stasioner
3
ihsg
0.7997
0.05
Non-Stasioner
4
batu_bara
0.3016
0.05
Non-Stasioner
5
liquid_gas
0.7098
0.05
Non-Stasioner
6
natural_gas
0.2147
0.05
Non-Stasioner
7
palm_oil
0.2665
0.05
Non-Stasioner
8
woodpulp
0.0182
0.05
Non-Stasioner
9
kopi_robusta
0.2810
0.05
Non-Stasioner
10
kopi_arabica
0.7225
0.05
Non-Stasioner
11
crude_oil
0.1806
0.05
Non-Stasioner
12
metals_minerals
0.1266
0.05
Non-Stasioner
13
beras
0.0281
0.05
Stasioner
14
rubber
0.3372
0.05
Non-Stasioner
15
kedelai
0.4752
0.05
Non-Stasioner
16
daging_sapi
0.7115
0.05
Non-Stasioner
17
kayu
0.3043
0.05
Non-Stasioner
18
gro_gdp_amerika serikat
0.0110
0.05
Stasioner
19
gro_gdp_india
0.0000
0.05
Stasioner
20
gro_gdp_indonesia
0.0000
0.05
Stasioner
21
gro_gdp_tiongkok
0.0000
0.05
Stasioner
22
23
24
gro_gdp_singapura
gro_eks_nm_ amerika serikat
gro_eks_nm_singapura
0.0002
0.0000
0.0000
0.05
0.05
0.05
Stasioner
Stasioner
Stasioner
25
gro_eks_nm_india
0.0000
0.05
Stasioner
26
gro_eks_nm_jepang
0.0000
0.05
Stasioner
27
gro_eks_nm_tiongkok
0.0000
0.05
Stasioner
28
gro_eks_nm_total
0.0000
0.05
Stasioner
29
gro_im_nm_ amerika serikat
0.0000
0.05
Stasioner
30
gro_im_nm_singapura
0.0000
0.05
Stasioner
31
gro_im_nm_india
0.0000
0.05
Stasioner
32
gro_im_nm_jepang
0.0000
0.05
Stasioner
33
gro_im_nm_tiongkok
0.0000
0.05
Stasioner
34
gro_im_nm_total
0.0000
0.05
Stasioner
35
fdi_as
0.0000
0.05
Stasioner
36
fdi_jepang
0.1930
0.05
Non-Stasioner
37
fdi_tiongkok
0.1199
0.05
Non-Stasioner
38
fdi_india
0.0000
0.05
Stasioner
39
fdi_singapura
0.8027
0.05
Non-Stasioner
40
fdi_total
0.2291
0.05
Non-Stasioner
Sumber: Operasi Stata 12
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
33
Melihat banyaknya variabel yang tidak stasioner, maka seluruh variabel
diderivasikan satu tingkat (first difference). Operasi derivasi ini tidak hanya dilakukan
terhadap variabel yang tidak stasioner saja. Akan tetapi dilakukan juga pada variabel
yang stasioner.
3.3.2. Uji Kointegrasi
Hasil uji kointegrasi Johansen untuk kelima persamaan pada keempat set
menunjukkan bahwa masing-masing persamaan memiliki kointegrasi. Oleh sebab
itu, dalam studi ini seluruh model yang digunakan adalah Vector Error Correction
Model (VECM), bukan Vector Autoregression (VAR).
3.3.3. Pengujian Kausalitas Granger dengan Vector Error Correction Model
(VCEM)
Pada dasarnya hubungan Kausalitas Granger dalam suatu model ditunjukkan
oleh VECM. Sehingga hasil dari VECM secara otomatis menggambarkan hubungan
antar-variabel dalam konteks Kausalitas Granger.Dalam membaca hasil regresi
VECM terdapat dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, yaitu nilai probabilitas
statistik z. Bila nilai probabilitas P > |z| lebih besar kurang dari 0,05, maka berarti
variabel independen tersebut memiliki pengaruh signifkan terhadap variabel
dependen. Mayoritas variabel dalam regresi studi ini memiliki nilai probabilitas
kurang dari 0.05, sehingga dapat dikatakan bahwa variabel tersebut memiliki
pengaruh terhadap variabel dependen. Kedua, nilai koefisien. Semakin besar nilai
koefisien maka pengaruh variabel independen tersebut terhadap variabel dependen
semakin besar.
3.3.3.1. Pertumbuhan GDP Indonesia dan Mitra Dagang Utama
Berdasarkan hasil regresi VECM, terlihat bahwa pertumbuhan GDP Indonesia
dipengaruhi oleh pertumbuhan GDP Amerika Serikat, India, dan Singapura.
Pertumbuhan GDP Amerika Serikat sebesar 1% akan menurunkan pertumbuhan
GDP Indonesia sebesar 0,495%. Hal ini disebabkan Amerika Serikat merupakan
importir barang-barang hasil manufaktur, bukan importir barang mentah. Sementara
Indonesia merupakan eksportir barang mentah. Sementara itu, pertumbuhan GDP
India sebesar 1% akan menaikkan pertumbuhan GDP Indonesia sebesar 0,434%.
Sedangkan pertumbuhan GDP Singapura memiliki pengaruh yang sangat signifikan
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
34
terhadap pertumbuhan GDP Indonesia. Kenaikan pertumbuhan GDP Singapura
sebesar 1% akan menurunkan pertumbuhan GDP Indonesia sebesar 6,204%.
Pertumbuhan GDP India sebesar 1% akan meningkatkan pertumbuhan total
ekspor non-migas Indonesia sebesar 7,631%. Sedangkan pertumbuhan GDP
Singapura 1% akan menurunkan pertumbuhan total ekspor non-migas Indonesia
sebesar 259,7%. Di sisi lain, pertumbuhan GDP Jepang sebesar 1% akan
menurunkan pertumbuhan total ekspor Indonesia sebesar 1,16%.
Tabel 3.2:Hasil Pengujian Granger Menggunakan VECMuntuk Dampak
Pertumbuhan PDB Negara Mitra Dagang Utama
Variabel Dependen
Variabel
Independen
Konstanta
Koefisien
(P>|z|)
Pertumbuhan
Total Ekspor
Non-Migas
Indonesia
Koefisien
(P>|z|)
0.004
(.)
-0.595
(.)
2.209
(.)
74.183
(.)
1
(.)
3.760
(0.171)
-103.739**
(0.000)
12704.08**
(0.000)
Pertumbuhan
PDB Indonesia
Pertumbuhan
Total Impor NonMigas Indonesia
Total FDI yang
Masuk ke
Indonesia
Koefisien
(P>|z|)
Koefisien
(P>|z|)
Pertumbuhan
PDB Indonesia
Pertumbuhan
PDB Amerika
Serikat
Pertumbuhan
PDB India
-0.495**
(0.000)
0.728
(0.559)
82.189**
(0.000)
-1473.266
(0.250)
0.434***
(0.000)
7.631***
(0.000)
-10.721*
(0.070)
7136.12**
(0.000)
Pertumbuhan
PDB Tiongkok
0.062
(0.791)
-2.506
(0.505)
-35.648
(0.202)
8981.104**
(0.010)
Pertumbuhan
PDB Singapura
-6.204***
(0.000)
-259.7013**
(0.000)
29.895
(0.890)
-121346.1**
(0.000)
Pertumbuhan
0.059
-1.158**
-29.332**
-1441.197**
PDB Jepang
(0.131)
(0.030)
(0.000)
(0.006)
Seluruh variabel telah diturunkan satu tingkat (first difference) | Sumber: Operasi Stata 12
Hasil VECM juga menunjukkan bahwa pertumbuhan PDB Indonesia sebesar
1% akan menurunkan pertumbuhan total impor non-migas Indonesia sebesar
103,74%. Pertumbuhan PDB Amerika Serikat sebesar 1% akan menaikkan
pertumbuhan total impor non-migas Indonesia sebesar 82,19%. Sedangkan
pertumbuhan PDB Jepang sebesar 1% akan menurunkan pertumbuhan total impor
non-migas Indonesia sebesar 29,33%.
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
35
3.3.3.2.Jalur Perdagangan Internasional (Trade Channel)
Berdasarkan hasil regresi VECM, terlihat bahwa pertumbuhan ekspor nonmigas ke berbagai negara mitra dagang utama memiliki pengaruh signifikan
terhadap pertumbuhan PDB Indonesia. Beberapa yang paling besar pengaruhnya
yaitu pertumbuhan ekspor non-migas kepada Amerika Serikat, India, dan total.
Kenaikan 1% pertumbuhan ekspor non-migas ke Amerika Serikat akan menurunkan
0,23% pertumbuhan PDB Indonesia. Kenaikan 1% pertumbuhan ekspor non-migas
ke India akan menurunkan PDB Indonesia sebesar 0,2%. Sedangkan kenaikan 1%
pertumbuhan total ekspor non-migas Indonesia akan menaikkan pertumbuhan PDB
Indonesia sebesar 0,491%.
Tabel 3.3:Hasil Pengujian Granger Menggunakan VECM untuk
JalurPerdagangan Internasional
Variabel Dependen
Koefisien
(P>|z|)
Pertumbuhan
Total Ekspor
Non-Migas
Indonesia
Koefisien
(P>|z|)
Pertumbuhan
Total Impor
Non-Migas
Indonesia
Koefisien
(P>|z|)
-0.069
(.)
0.011
(.)
0.109
(.)
-186.322
(.)
Pertumbuhan Ekspor Non-Migas ke
Amerika Serikat
-0.234**
(0.000)
-0.889**
(0.000)
0.929**
(0.000)
618.620**
(0.004)
Pertumbuhan Ekspor Non-Migas ke
Singapura
0.085**
(0.000)
0.483**
(0.000)
-0.300**
(0.000)
110.1788*
(0.258)
Pertumbuhan Ekspor Non-Migas ke India
-0.207**
(0.000)
-0.205**
(0.000)
0.150**
(0.000)
157.8193**
(0.000)
Pertumbuhan Ekspor Non-Migas ke Jepang
-0.188**
(0.000)
0.368**
(0.000)
-0.4173**
(0.000)
493.782**
(0.000)
Pertumbuhan Ekspor Non-Migas ke
Tiongkok
-0.149**
(0.000)
-0.369**
(0.000)
0.420**
(0.000)
223.269**
(0.009)
Pertumbuhan Total Ekspor Non-Migas
Indonesia
0.491**
(0.000)
1
(.)
-1.297**
(0.000)
-1635.339**
(0.000)
Pertumbuhan Impor Non-Migas dari
Amerika Serikat
-0.195**
(0.000)
0.391**
(0.000)
-0.591**
(0.000)
241.296**
(0.001)
Pertumbuhan Impor Non-Migas dari
Singapura
-0.161**
(0.000)
0.483**
(0.000)
-0.150**
(0.000)
144.068**
(0.023)
Pertumbuhan Impor Non-Migas dari India
0.094**
(0.000)
0.244**
(0.000)
-0.122**
(0.000)
164.444**
(0.000)
Pertumbuhan Impor Non-Migas dari
Jepang
-0.007*
(0.377)
0.386**
(0.000)
-0.401**
(0.000)
137.163**
(0.049)
Variabel Independen
konstanta
Pertumbuhan
PDB Indonesia
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
Total FDI yang
Masuk ke
Indonesia
Koefisien
(P>|z|)
36
Pertumbuhan Impor Non-Migas dari
Tiongkok
0.124**
(0.000)
-0.632**
(0.000)
0.546**
(0.000)
-381.289**
(0.003)
Pertumbuhan Total Impor Non-Migas
0.211**
-0.711**
1
Indonesia
(0.000)
(0.000)
(.)
Seluruh variabel telah diturunkan satu tingkat (first difference) | Sumber: Operasi Stata 12
-192.230*
(0.316)
Dari sisi arus investasi yang masuk ke Indonesia secara langsung (FDI),
pertumbuhan ekspor non-migas ke Amerika Serikat, Jepang, dan secara total
memiliki pengaruh yang besar terhadap total FDI yang masuk ke Indonesia.
Kenaikan 1% pertumbuhan ekspor non-migas ke Amerika Serikat akan menaikkan
total FDI yang masuk ke Indonesia sebesar 618,62 juta USD. Kenaikan 1%
pertumbuhan ekspor non-migas ke Jepang akan menaikkan total FDI yang masuk
ke Indonesia sebesar 493,78 juta USD. Sedangkan kenaikan 1% pertumbuhan total
ekspor non-migas Indonesia akan menurunkan total FDI yang masuk ke Indonesia
sebesar 1,635 milyar USD.
3.3.3.3.Jalur Keuangan Internasional (Finance Channel)
Dari sisi transmisi finansial tampak bahwa investasi langsung tidak memiliki
pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Hasil VECM
menunjukkan bahwa kenaikan FDI total yang masuk ke Indonesia sebesar 1% akan
meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,0002%.
Tabel 3.4:Hasil Pengujian Granger Menggunakan VECM untuk Jalur
Keuangan Internasional
Variabel Dependen
Variabel Independen
konstanta
Persetujuan Kredit di
Indonesia
Total FDI Amerika
Serikat yang Masuk ke
Indonesia
Total FDI Jepang yang
Masuk ke Indonesia
Koefisien
(P>|z|)
Pertumbuhan
Total Ekspor
Non-Migas
Indonesia
Koefisien
(P>|z|)
Pertumbuhan
Total Impor
Non-Migas
Indonesia
Koefisien
(P>|z|)
-0.071
(.)
-64.066
(.)
-0.469
(.)
229.315
(.)
-7.34*
(0.204)
0.000*
(0.087)
-0.000*
(0.052)
0.001*
(0.076)
-0.001**
(0.000)
-0.070**
(0.000)
-0.611**
(0.000)
-1.994**
(0.000)
-0.001**
(0.000)
-0.048**
(0.000)
-0.037**
(0.000)
-1.060**
(0.000)
Pertumbuhan
PDB Indonesia
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
Total FDI yang
Masuk ke
Indonesia
Koefisien
(P>|z|)
37
Total FDI Tiongkok
0.094**
0.146**
0.135**
3.806**
yang Masuk ke
(0.000)
(0.011)
(0.006)
(0.027)
Indonesia
Total FDI India yang
-0.006**
-0.105**
-0.116**
-3.507**
Masuk ke Indonesia
(0.000)
(0.000)
(0.000)
(0.000)
Total FDI Singapura
7.87*
-0.061**
-0.0622**
-1.566**
yang Masuk ke
(0.969)
(0.000)
(0.000)
(0.000)
Indonesia
Total FDI yang Masuk
0.000**
0.039**
0.033**
1
ke Indonesia
(0.010)
(0.000)
(0.000)
(.)
Seluruh variabel telah diturunkan satu tingkat (first difference) | Sumber: Operasi Stata 12
3.3.3.4.Jalur Harga Komoditas (Commodity Price)
Dinamika harga berbagai komoditas penting memiliki pengaruh yang
bervariasi terhadap perekonomian Indonesia.
Berdasarkan hasil VECM, harga komoditas kopi Arabika, daging sapi, liquid
gas memainkan peranan yang penting terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kenaikan harga kopi Arabika sebesar 1 USD/Kg akan menaikan pertumbuhan
ekonomi Indonesia sebesar 0,31% (korelasi positif). Penurunan harga daging sapi
sebesar 1 USD/Kg akan menaikkan PDB Indonesia sebesar 0,91% (korelasi
negatif). Sedangkan kenaikan harga liquid gas sebesar 1 USD/MMBTU akan
menaikkan pertumbuhan PDB Indonesia sebesar 0,24% (korelasi positif).
Tabel 3.5:Hasil Pengujian Granger Menggunakan Vector Error Correction
Model untuk Jalur Harga Komoditas
Variabel Dependen
Koefisien
(P>|z|)
Pertumbuhan
Total Ekspor
Non-Migas
Indonesia
Koefisien
(P>|z|)
Pertumbuhan
Total Impor
Non-Migas
Indonesia
Koefisien
(P>|z|)
-0.040
(.)
2.679
(.)
3.538
(.)
235.18
(.)
Harga Batubara Dunia
-0.011**
(0.00)
-0.355**
(0.000)
0.068**
(0.046)
46.607**
(0.000)
Harga Beras Dunia
0.000*
(0.260)
-0.040**
(0.001)
0.020**
(0.002)
-10.659**
(0.000)
Harga Minyak Mentah
Dunia
0.008*
(0.061)
-0.119*
(0.184)
-0.409**
(0.000)
-48.970**
(0.000)
Harga Daging Sapi
Dunia
-0.914**
(0.000)
-40.056**
(0.000)
-50.915**
(0.000)
-2474.964**
(0.000)
Variabel Independen
konstanta
Pertumbuhan
PDB Indonesia
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
Total FDI yang
Masuk ke
Indonesia
Koefisien
(P>|z|)
38
Harga Kayu Dunia
-0.003**
(0.014)
0.242**
(0.000)
0.058**
(0.000)
18.132**
(0.000)
Harga Kopi Arabica
Dunia
0.311**
(0.003)
9.472**
(0.000)
23.082**
(0.000)
-542.237**
(0.000)
Harga Kopi Robusta
Dunia
0.083*
(0.838)
-57.991**
(0.000)
8.906**
(0.000)
-5940.961**
(0.000)
Harga Liquid Gas
Dunia
0.241**
(0.000)
11.551**
(0.000)
7.621**
(0.000)
174.482**
(0.000)
Harga Kedelai Dunia
0.002**
(0.001)
0.004*
(0.759)
0.126**
(0.000)
-2.536**
(0.000)
Harga Logam Dunia
-0.007*
(0.308)
1.183**
(0.000)
0.805**
(0.000)
126.141**
(0.000)
Harga Gas Alam Dunia
0.007*
(0.682)
0.039**
(0.000)
7.172**
(0.000)
-7.605*
(0.721)
Harga Minyak Kelapa
Sawit Dunia
-0.001*
(0.245)
-0.025*
(0.136)
-0.208**
(0.000)
3.915**
(0.000)
Harga Karet Dunia
0.001*
(0.982)
-22.796**
(0.000)
-25.34**
(0.000)
6.400*
(0.930)
0.000*
-0.154**
-0.066**
-26.798**
(0.930)
(0.000)
(0.000)
(0.000)
Seluruh variabel telah diturunkan satu tingkat (first difference) | Sumber: Operasi Stata 12
Harga Pulp Kayu Dunia
Dari sisi pertumbuhan ekspor non-migas, dinamika harga berbagai komoditas
memberikan pengaruh yang cukup signifikan. Kenaikan harga daging sapi 1 USD/Kg
akan menurunkan pertumbuhan total ekspor non-migas Indonesia sebesar 40%.
Kenaikan harga kopi Robusta sebesar 1 USD/kg akan menurunkan total
pertumbuhan ekspor non-migas Indonesia sebesar 58%. Harga karet dunia juga
memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap pertumbuhan total ekspor nonmigas Indonesia. Kenaikan harga karet dunia 1 USD/Kg akan menurunkan
pertumbuhan total ekspor non-migas Indonesia sebesar 22,8%.
3.3.3.5.Jalur
Ekspektasi
dan
Tingkat
Kepercayaan
(Expectation
and
Confidence Channel)
Hasil VECM menunjukkan bahwa nilai tukar Rupiah terhadap USD dan IHSG
tidak memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan PDB Indonesia. Di sisi lain, apresiasi
Rupiah terhadap USD sebesar 1 basis poin akan menaikkan pertumbuhan total
ekspor non-migas Indonesia sebesar 0,01%.
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
39
Tabel 3.6:Hasil Pengujian Granger Menggunakan VECM untuk Jalur
Ekspektasi dan Tingkat Kepercayaan
Variabel Dependen
Koefisien
(P>|z|)
Pertumbuhan
Total Ekspor NonMigas Indonesia
Koefisien
(P>|z|)
Pertumbuhan
Total Impor NonMigas Indonesia
Koefisien
(P>|z|)
Total FDI yang
Masuk ke
Indonesia
Koefisien
(P>|z|)
konstanta
-0.017
(.)
2.167
(.)
1.695
(.)
114.511
(.)
USD/IDR
0.000*
(0.451)
-0.010**
(0.015)
-0.002*
(0.551)
-0.367**
(0.210)
Variabel
Independen
Pertumbuhan
PDB Indonesia
-0.000*
-0.009*
-0.008*
-1.536**
(0.185)
(0.216)
(0.105)
(0.004)
Seluruh variabel telah diturunkan satu tingkat (first difference) | Sumber: Operasi Stata 12
IHSG
Sedangkan kenaikan IHSG sebesar 1 basis poin akan menurunkan total FDI
yang masuk ke Indonesia sebesar 1,54 juta USD. Hal ini menunjukkan bahwa bila
terjadi kenaikan arus modal ke Indonesia melalui pasar modal (IHSG), maka akan
mengurangi tingkat modal yang masuk melalui investasi langsung (FDI).
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
40
BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN
4.1 Kesimpulan
Studi ini mengevaluasi dampak krisis pada ekonomi Indonesia dengan
kerangka teori yang memfokuskan pada empat jalur transmisi yaitu perdagangan
internasional, keuangan, harga komoditas dan ekspektasi/kepercayaan. Metode
yang digunakan adalah kausalitas (causality) dengan VAR/VECM. Masing-masing
jalur ditelaah dampaknya pada pertumbuhan PDB, ekspor non-migas, impor nonmigas dan FDI.
Pertumbuhan ekonomi mitra dagang utamamemiliki dampak pada ekonomi
Indonesia. Tapi uji empiris menunjukkan hanya pertumbuhan PDB India yang
memiliki dampak positif yang tidak besar pada PDB Indonesia. Adapun pertumbuhan
PDB Amerika Serikat dan Singapura memiliki dampak negatif, dimana dampak
negatif Singapura sangat besar. Pada sisi pertumbuhan ekspor nonmigas,
pertumbuhan PDB India berdampak positif dan besar sedangkan Jepang berdampak
negatif kecil dan Singapura berdampak negatif sangat besar. Cara paling baik
mengurangi impor non-migas adalah menaikkan pertumbuhan PDB Indonesia.
Pertumbuhan PDB Amerika meningkatkan impor non-migas Indonesia cukup besar
sedangkan pertumbuhan PDB di Jepang menguranginya. Pada sisi FDI,
pertumbuhan PDB Indonesia menyebabkan kenaikan yang sangat besar dengan
disusul pertumbuhan PDB Tiongkok. Adapun pertumbuhan PDB Jepang dan
Singapura mengurangi FDI ke Indonesia secara signifikan.
Pada jalur perdagangan internasional (trade chanel), hanya pertumbuhan
ekspor non migas ke Singapura yang berdampak positif pada pertumbuhan PDB
Indonesia. Adapun pertumbuhan ekspor ke Amerika Serikat, India, Jepang dan
Tiongkok semua berdampak negatif. Pada sisi pertumbuhan ekspor non-migas,
hanya pertumbuhan ekspor ke Singapura dan Jepang yang berdampak positif
dengan variabel serupa ke Amerika Serikat, India dan Tiongkok berdampak negatif.
Berdasarkan dampak pada pertumbuhan impor non migas indonesia, pertumbuhan
ekspor ke Amerika Serikat, India dan Tiongkok memiliki dampak positif dengan
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
41
Jepang nefatif. Adapun pertumbuhan ekspor ke semua mitra dagang utama
berdampak positif pada arus FDI.
Pada sisi impor non-migas, hanya impor dari India dan Tiongkok yang
berdampak positif pada pertumbuhan PDB Indonesia, impor dari Amerika Serikat,
Singapura, dan Jepang berdampak negatif. Semua impor dari negara mitra dagang
utama berdampak positif pada pertumbuhan ekspor kecuali Tiongkok. Hal ini
menandakan impor Indonesia kebanyakan berupa bahan baku dan mesin yang di
eskpor lagi kecuali dari Tiongkok yang sebagian besar di konsumsi di Indonesia.
Impor dari negara mitra dagang utama berdampak positif pada FDI kecuali dari
Tiongkok.
Pada jalur keuangan (finance chanel), hanya FDI Singapura yang memiliki
dampak besar dan positif ke pertumbuhan PDB Indonesia. Adappun FDI Tiongkok
sedikit memicu ekspor dan banyak mendorong FDI negara lain, sedangkan FDI
negara mitra utama lainnya berdampak negatif. Namun FDI Tiongkok juga paling
besar memicu impor dengan FDI Amerika Srikat yang paling mengurangi impor.
Pada jalur harga komoditas (commodity pricechannel), yang paling besar
perannya pada peningkatan PDB adalah harga kopi arabika disusul gas cair dengan
harga daging sapi paling besar dampak negatifnya. Tetapi kenaikan harga daging
sapi juga berperan negatif tertinggi kedua pada penurunan pertumbuhan ekspor
setelah harga kopi robusta. Yang berdampak positif adalah harga kopi arabika dan
gas cair serta logam. Kenaikan harga sapi sangat besar dampaknya pada
pengurangan impor disusul harga karet. Sedangkan kenaikan harga kopi arabika,
robusta dan gas akan meningkatkan impor. Peningkatan harga daging sapi sangat
besar dampaknya pada penurunan arus FDI, kedua setelah harga kopi. Adapun
yang memicu kenaikan FDI adalah kenaikan harga logam dan liquid gas.
Pada jalur ekspektasi dan kepercayaan (expectation and confidence
channel), perubahan nilai tukar ke dolar dan IHSG hanya memiliki dampak sangat
kecil pada pertumbuhan PDB Indonesia. Dampak kedua valriabel itu juga kecil pada
pertumbuhan ekspor dan impor meskipun negatif pada total FDI. Menunjukkan
bahwa investor asing lebih banyak masuk ketika ekonomi Indonesia sedang turun
sehingga murah secara relatif.
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
42
4.2 Rekomendasi Kebijakan
Untuk meningkatkan pertumbuhan PDB dan ekspor non-migas, Indonesia perlu
meningkatkan keterkaitan dengan India yang memiliki causality terbesar. Adapun
pertumbuhan PDB Indonesia adalah obat termujarab untuk mengurangi impor dan
menaikkan FDI dengan disusul pertumbuhan PDB India dan Tiongkok. Peningkatan
ekspor-impor ke Amerika Serikat, walaupun menurunkan ekspor Indonesia, akan
tetapi mendorong FDI yang besar sehingga merupakan trade-off yang baik dengan
disusul Jepang.
Pada sisi finance chanel, Indonesia perlu membuka pintu untuk FDI Singapura
yang sangat besar dampaknya pada pertumbuhan PDB. FDI dari Tiongkok
merupakan pertanda masuknya FDI negara lain secara deras, sedangkan FDI India,
Amerika Serikat, Singapura dan Jepang masuk ketika tidak banyak negara lain yang
berinvestasi di Indonesia. Impor dari Tiongkok perlu dikurangi karena meningkatkan
impor total dan mengurangi FDI secara signifikan.
Menarik untuk dicermati pada commodity price channel bahwa Indonesia perlu
berupaya menjaga tingginya harga kopi, karet, dan daging sapi serta liquid gas demi
tingkatkan
PDB,
ekspor
dan
FDI
Indonesia.
Pada
sisi
confidence
and
expectationchannel, performa BI dalam menjaga stabilitas rupiah dengan kenaikan
dan pernurunan yang bertahap perlu dipuji, sehingga nilai tukar tidak mempunyai
dampak yang besar pada pertumbuhan PDB, ekspor, impor dan FDI.
Secara makro, perlu dilakukan diversifikasi negara tujuan ekspor dan
peningkatan nilai tambah ekspor Indonesia. Perjanjian FTA dengan negara lain juga
perlu di telaah untung ruginya karena dengan FTA Tiongkok ternyata lebih banyak
negatifnya. Terakhir, perlu ditingkatkan daya saing produk Indonesia dan melakukan
non tarif barier secara sistematis demi perlahan pengusaha domestik untuk
melakukan substitusi pada produk impor.
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
43
Referensi
Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Laporan Hasil
Kajian.2011. Free Trade Area dan Economic Partnership Agreement (EPA), dan
Pengaruhnya terhadap Arus Perdagangan dan Investasi dengan Negara Mitra.
Badan Pusat Statistik, Berita Resmi: Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia
Desember 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, 2013.
Berg A., Papageorgiou C., Pattillo C., Schindler M., Spatafora N., Weisfeld H.,.
2012.Global Shocks and Their Impact on Low-Income Countries: Lessons from the
Global Crisis.IMF
"Bloomberg.com: Worldwide"
(http://www.bloomberg.com/apps/news?pid=20601087&sid=a8sW0n1Cs1tY&refer=h
ome) .Bloomberg.com.
Brunnermeier M., K.,.National Bureau of Economic Research.Deciphering The
Liquidity and Credit Crunch 2007-08.
http://www.nber.org/papers/w14612.pdf?new_window=1
Daftar seluruh regional trade agreements (RTAs) yang berlaku dan tersedia
http://rtais.wto.org/UI/PublicAllRTAList.aspx
Demyanyk, Yuliya; Van Hemert, Otto (2008-08-19). "Understanding the Subprime
Mortgage Crisis" (http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=1020396)
Working Paper Series. Social Science Electronic Publishing
Effendi, N., Purmini, Masbar, R., Hakim, L., Pradiptyo, R.,.2013. Rekomendasi
Kebijakan Untuk Pengurangan Subsidi Energi.Regional Economist.
Kawai M.,.2009.The Impact of The Global Financial Crisis on Asia and Asia’s
Responses.Asian Development Bank
Kementerian Riset dan Teknplogi Republik Indonesia:
http://www.ristek.go.id/?module=News%20News&id=4517 diakses 4 April 2014.
Kementerian PPN/Bappenas.2013.Laporan Perekonomian Indonesia Triwulan I
2013.
Kementerian PPN/Bappenas.2013.Laporan Perekonomian Indonesia Triwulan II
2013.
Krugman-Revenge of the Glut
(http://www.nytimes.com/2009/03/02/opinion/02krugman.html?_r=1\
Kirchhoff, Sue; Keen, Judy (2007-04-25). "Minorities hit hard by rising costs of
subprime loans - USATODAY.com"
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
44
(http://www.usatoday.com/money/economy/housing/2007-04-25subprime-minoritiesusat_N.htm). USA Today
Laporan dari pengukuran G-20 Trade and Investment (September 2009 sampai
February 2010), persiapan dibawah tanggung jawab bersama Director-General of
the WTO, the Secretary-General of OECD, dan the Secretary-General dari UNCTAD
(8 March2010)
Margaret Chadbourn. "Five Banks are Seized"
(http://www.bloomberg.com/apps/news?pid=20601110&sid=aCbHA.m7rikc)
Michael Simkovic, Competition and Crisis in Mortgage Securitization
(http://ssrn.com/abstract=1924831)
Michael Burry-Vanderbilt Magazine-Missteps to Mayhem-Summer 2011
(http://www.vanderbilt.edu/magazines/vanderbilt-magazine/2011/09/missteps-tomayhem/)
Miskhin, F., S.,.2010. Over The Clift:From The Subprime To The Global Financial
Crisis.
OECD (2012), Review of Regulatory Reform – Indonesia Market Opennes.
NYT-Why Budget Cuts Don't Bring Prosperity-February 2011
(http://community.nytimes.com/comments/www.nytimes.com/2011/02/23/business/e
conomy/23leonhardt.html)
Pasha, Shaheen (August 8, 2005). "Banks help undocumented workers own their
own home – Aug. 8, 2005"
(http://money.cnn.com/2005/08/08/news/economy/illegal_immigrants/).Money.cnn.co
m.
Pangestu, M., E.,.2006. Indonesia, International Trade Negotiation and Fair Trade.
“Successful trade and development strategies for mitigating the impact of the global
economic and financial crisis”, catatan oleh sekertariat UNCTAD untuk sesi ke dua
dari Trade and Development Commission (TD/B/C.1/7 and Corr. 1).
Shirai, S.,.MPRA.2009.The Impact of The US Subprime Mortage Crisis on the World
and East Asia.Keio University
The Asia Foundation.2008. Biaya Transportasi Barang Angkutan, Regulasi, dan
Pungutan Jalan di Indonesia.
"The Subprime Mortgage Crisis Explained" (http://www.stock-marketinvestors.com/stock-investment-risk/the-subprime-mortgage-crisis-explained.html).
Stock-market-investors.com.
The World Bank.Indonesia Economic Quarterly Juli 2013. Menanggapi Berbagai
Tekanan.
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
45
Transformation of Indonesia’s Export Products Post-Global Financial Crisis.
Mangunsong, C., Hirawan, F., dan Lesmana, T.,2012.
United Nations.2010.International Trade After the Economic Crisis:Challenges and
New Opportunities.
UNCTAD.2012.Classification of Non-Tariff Measures
WTO, 2010. Trade to Expand by 9.5% in 2010 After a Dismal 2009, WTO Reports.
WTO Press Release. 26 March 2010. Retrieved from
http://www.wto.org/english/news_e/pres10_e/pr598e.htm.
http://www.stat.unc.edu/faculty/cji/fys/2012/Subprime%20mortgage%20crisis.pdf
Zandi, Mark (2009). Financial Shock. FT Press. ISBN 978-0-13-701663-1.
http://www.worldbank.org/en/news/feature/2014/03/26/infographic-rer31-confidencecrisis
http://www.imf.org/external/pubs/ft/survey/so/2013/car052113a.htm
http://rbi.org.in/scripts/PublicationsView.aspx?id=12303
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
46
LAMPIRAN
Persamaan I
TES KOINTEGRASI JOHANSEN UNTUK PERSAMAAN I
.
vecrank d_gro_gdp_indonesia d_gro_gdp_jepang d_gro_gdp_as d_gro_gdp_tiongkok d_gro_gdp_singapura d_gro_gdp_india d_gro_eks_nm_total
d_gro_im_nm_total d_ihsg d_dist_kredit d_usd_idr d_batu_bara d_beras d_crude_oil d_daging_sapi d_kayu d_kopi_arabica d_kopi_robusta d_liquid_gas
d_palm_oil
Johansen tests for cointegration
Trend: constant
Number of obs =
Sample: 2006q1 - 2013q4
Lags =
------------------------------------------------------------------------------5%
maximum
trace critical
rank parms
LL
eigenvalue statistic value
0
420
.
.
.*
.
1
459
. 1.00000
.
.
2
496
. 1.00000
.
.
3
531
. 1.00000
.
.
4
564
. 1.00000
.
.
5
595
. 1.00000
.
.
6
624
. 1.00000
.
.
7
651
. 1.00000
.
.
8
676
. 1.00000
.
.
9
699
. 1.00000
. 277.71
10
720
. 1.00000
. 233.13
11
739
. 1.00000
. 192.89
12
756
. 0.00000
. 156.00
13
771
. 0.00000
. 124.24
14
784
. 0.00000
. 94.15
15
795
. 0.00000
. 68.52
16
804
. -0.00000
. 47.21
17
811
. -0.00000
. 29.68
18
816
. -0.00000
. 15.41
19
819
. -0.00000
. 3.76
20
820
. -0.00000
------------------------------------------------------------------------------Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
32
2
47
VECTOR ERROR CORRECTION MODEL UNTUK PERSAMAAN I
.
vec d_gro_gdp_indonesia d_gro_gdp_jepang d_gro_gdp_as d_gro_gdp_tiongkok d_gro_gdp_singapura d_gro_gdp_india
d_gro_eks_nm_total d_gro_im_nm_total d_ihsg d_dist_kredit d_usd_idr d_batu_bara d_beras d_crude_oil d_daging_sapi d_kayu
d_kopi_arabica d_kopi_robusta d_liquid_gas d_palm_oil
Johansen normalization restriction imposed
------------------------------------------------------------------------------------beta |
Coef. Std. Err.
z P>|z| [95% Conf. Interval]
--------------------+---------------------------------------------------------------_ce1
|
d_gro_gdp_indonesia |
1
.
.
.
.
.
d_gro_gdp_jepang | -8.441752 2.762152 -3.06 0.002 -13.85547 -3.028034
d_gro_gdp_as | -18.1646
.
.
.
.
.
d_gro_gdp_tiongkok | -2.726739
.
.
.
.
.
d_gro_gdp_singapura | -.0292541
.
.
.
.
.
d_gro_gdp_india | 5.836752
.
.
.
.
.
d_gro_eks_nm_total | 12.10056 2.938152 4.12 0.000 6.341887 17.85923
d_gro_im_nm_total | -10.04011 2.926588 -3.43 0.001 -15.77611 -4.304099
d_ihsg | -.2647483 .0742127 -3.57 0.000 -.4102026 -.119294
d_dist_kredit | -.0006483 .0001803 -3.60 0.000 -.0010016 -.000295
d_usd_idr | -.1159234 .0241588 -4.80 0.000 -.1632738 -.068573
d_batu_bara | -4.147714 .9451435 -4.39 0.000 -6.000161 -2.295267
d_beras | -.076888 .0561765 -1.37 0.171 -.1869918 .0332159
d_crude_oil | 11.28535 2.759803 4.09 0.000 5.876232 16.69446
d_daging_sapi | -2.544369
.
.
.
.
.
d_kayu | -1.444557 .4423052 -3.27 0.001 -2.311459 -.5776547
d_kopi_arabica | 5.070132
.
.
.
.
.
d_kopi_robusta | -2.527907
.
.
.
.
.
d_liquid_gas | .0082344
.
.
.
.
.
d_palm_oil | .4561854 .1136824 4.01 0.000
.233372 .6789987
_cons | -23.53254
.
.
.
.
.
-------------------------------------------------------------------------------------
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
48
Persamaan II
TES KOINTEGRASI JOHANSEN UNTUK PERSAMAAN II
. vecrank d_gro_gdp_indonesia d_gro_gdp_jepang d_gro_gdp_as d_gro_gdp_tiongkok d_gro_gdp_singapura d_gro_gdp_india d_fdi_as
d_fdi_jepang d_fdi_singapura d_fdi_tiongkok d_fdi_total d_gro_eks_nm_as d_gro_eks_nm_india d_gro_eks_nm_jepang
d_gro_eks_nm_singapura d_gro_eks_nm_total d_gro_im_nm_total
Johansen tests for cointegration
Trend: constant
Number of obs =
Sample: 2006q1 - 2013q4
Lags =
------------------------------------------------------------------------------5%
maximum
trace critical
rank parms
LL
eigenvalue statistic value
0
306
.
.
.*
.
1
339
. 1.00000
.
.
2
370
. 1.00000
.
.
3
399
. 1.00000
.
.
4
426
. 1.00000
.
.
5
451
. 1.00000
.
.
6
474
. 1.00000
. 277.71
7
495
. 1.00000
. 233.13
8
514
. 1.00000
. 192.89
9
531
. 1.00000
. 156.00
10
546
. 1.00000
. 124.24
11
559
. 1.00000
. 94.15
12
570
. 1.00000
. 68.52
13
579
. 1.00000
. 47.21
14
586
. 1.00000
. 29.68
15
591
. 0.00000
. 15.41
16
594
. -0.00000
. 3.76
17
595
. -0.00000
-------------------------------------------------------------------------------
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
32
2
49
VECTOR ERROR CORRECTION MODEL UNTUK PERSAMAAN II
. vec d_gro_gdp_indonesia d_gro_gdp_jepang d_gro_gdp_as d_gro_gdp_tiongkok d_gro_gdp_singapura d_gro_gdp_india d_fdi_as
d_fdi_jepang d_fdi_singapura d_fdi_tiongkok d_fdi_total d_gro_eks_nm_as d_gro_eks_nm_india d_gro_eks_nm_jepang
d_gro_eks_nm_singapura d_gro_eks_nm_total d_gro_im_nm_total
Johansen normalization restriction imposed
---------------------------------------------------------------------------------------beta |
Coef. Std. Err.
z P>|z| [95% Conf. Interval]
-----------------------+---------------------------------------------------------------_ce1
|
d_gro_gdp_indonesia |
1
.
.
.
.
.
d_gro_gdp_jepang | 3.204865 .2609581 12.28 0.000 2.693397 3.716334
d_gro_gdp_as | -9.344458 .7883231 -11.85 0.000 -10.88954 -7.799373
d_gro_gdp_tiongkok | 3.167345
.
.
.
.
.
d_gro_gdp_singapura | 1.285996
.
.
.
.
.
d_gro_gdp_india | .9654473 .2892371 3.34 0.001
.398553 1.532342
d_fdi_as | .0040426 .0009986 4.05 0.000 .0020855 .0059998
d_fdi_jepang | .0074379 .000936 7.95 0.000 .0056034 .0092724
d_fdi_singapura | .0035293 .001156 3.05 0.002 .0012635 .0057951
d_fdi_tiongkok | -.0157737 .0048556 -3.25 0.001 -.0252905 -.0062568
d_fdi_total | -.0022658 .0007048 -3.21 0.001 -.0036472 -.0008843
d_gro_eks_nm_as | .2059382 .052598 3.92 0.000 .1028479 .3090285
d_gro_eks_nm_india | -.0556818 .016021 -3.48 0.001 -.0870823 -.0242813
d_gro_eks_nm_jepang | -.1616992 .0402873 -4.01 0.000 -.2406608 -.0827375
d_gro_eks_nm_singapura | -.0096805 .0853283 -0.11 0.910 -.1769208 .1575598
d_gro_eks_nm_total | -.003943 .0591528 -0.07 0.947 -.1198804 .1119944
d_gro_im_nm_total | -.002949 .0218301 -0.14 0.893 -.0457351 .0398371
_cons | -.2759905
.
.
.
.
.
----------------------------------------------------------------------------------------
Puska Daglu, BPPKP, Kementerian Perdagangan
50
Download