naskah publikasi hubungan antara spiritualitas dengan agresivitas

advertisement
NASKAH PUBLIKASI
HUBUNGAN ANTARA SPIRITUALITAS
DENGAN AGRESIVITAS PADA REMAJA
Oleh:
DYAH RETNO WARDHANI
HEPI WAHYUNINGSIH
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2008
NASKAH PUBLIKASI
HUBUNGAN ANTARA SPIRITUALITAS
DENGAN AGRESIVITAS PADA REMAJA
Oleh:
DYAH RETNO WARDHANI
HEPI WAHYUNINGSIH
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2008
NASKAH PUBLIKASI
HUBUNGAN ANTARA SPIRITUALITAS DENGAN AGRESIVITAS
PADA REMAJA
Telah Disetujui Pada Tanggal
Dosen Pembimbing Utama
( Hepi Wahyuningsih, S.Psi.,M.Si )
HUBUNGAN ANTARA SPIRITUALITAS DENGAN AGRESIVITAS PADA
REMAJA
Dyah Retno Wardhani
Hepi Wahyuningsih
INTISARI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara
spiritualitas dengan agresivitas pada remaja. Hipotesis yang diajukan dalam
penelitian ini adahubungan negative antara spiritualitas dengan agresivitas pada
remaja. Semakin tinggi spiritualitas, semakin rendah agresivitas yang dilakukan
remaja. Sebaliknya, semakin rendah spiritualitas, maka semakin tinggi
agresivitas pada remaja.
Subjek dalam penelitian ini berjumlah 158 orang adalah para murid SMU
Negeri 1 Magelang, yang berusia antara 15-18 tahun. Adapun skala yang
digunakan adalah Skala Agresivitas yang mengacu pada The Aggression
Questionaire (Buss dan Perry, 1992). Skala ini terdiri dari empat aspek
agresivitas yaitu agresi fisik, agresi verbal, agresi permusuhan, agresi
kemarahan yang dikemukakan oleh Buss dan Perry (1992). Koefisien reliabilitas
(a) skala agresivitas 0,893 dan memiliki korelasi total item bergerak dari 0,303 –
0,677. Sementara Skala Spiritualitas mengacu pada The Spirituality Scale
(Delaney, 2005). Skala ini terdiri dari tiga aspek yaitu aspek self discovery, aspek
relationship, dan aspek eco-awareness. Koefisien reliabilitas (a) skala
Spiritualitas sebesar 0,916 dan memiliki korelasi total item bergerak dari 0,3010,741.
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
analisis korelasi product moment Pearson melalui prosedur bivariate correlation
dari computer program SPSS 16.0 for window untuk menguji apakah ada
hubungan antara kedua variabel. Analisis data menunjukan adanya korelasi yang
signifikan sebesar - 0,265 dengan p = 0,001 (p < 0,01). Hal tersebut
menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara
agresivitas dan spiritualitas pada remaja dengan sumbangan efektif sebesar 7%.
Kata kunci : Agresivitas, Spiritualitas
Pengantar
Masa remaja dapat dipandang sebagai suatu masa dimana individu
dalam proses pertumbuhan, terutama fisik telah mencapai kematangan. Periode
ini merupakan masa transisi dari kehidupan masa kanak-kanak ke masa dewasa.
Secara negatif periode ini disebut periode “serba tidak” atau belum seimbang ,
belum stabil dan belum dapat diramalkan. Karena periode ini terjadi banyak
perubahan-perubahan yang sangat berarti dalam segi-segi fisik, emosional,
sosial dan intelektual (Sulaiman dalam Suryaningsih, 2006). Masa remaja dapat
dibagi menjadi tiga fase, yaitu masa remaja awal yang berkisar antara usia 12-15
tahun, masa remaja pertengahan antara usia 15-18 tahun, dan masa remaja
akhir yaitu antara usia 18-21 tahun (Monks dalam Suryaningsih, 2006).
Para remaja dalam menghadapi permasalahan terkadang memiliki cara
sendiri-sendiri dan berbeda-beda setiap orangnya. Semuanya mengikuti tuntutan
lingkungannya. Menurut Djuwariyah (2002), perubahan-perubahan sosial yang
cepat sebagai bentuk konsekuensi modernisasi, industrialisasi, dan kemajuan
teknologi mengakibatkan perilaku agresif pada remaja semakin meningkat.
Beberapa kasus agresifitas pada remaja seperti pemukulan yang
dilakukan oleh sebuah genk remaja perempuan bernama Nero di Pati yang
ditujukan kepada para remaja perempuan yang dianggapnya neko-neko atau
banyak tingkah (http://www.kompas.com), perkelahian antar dua remaja putri
yang disertai umpatan-umpatan kasar di Yogyakarta (http://www.kompas.com).
Tawuran pelajar yang disebabkan masalah sepele antara sekelompok siswa
SMA Dewantara menyerang siswa SMA Yapendri dan SMA Budi Utomo di
Depok,
Jawa
Barat
(http://www.liputan6.com),
selain
itu
tawuran
yang
disebabkan karena minuman keras seperti yang dilakukan ratusan pelajar
SMA/SMK
di
Banyumas,
Jawa
Tengah
(http://www.pikiranrakyat.com).
Pembacokan yang dilakukan oleh SMK Penerbangan terhadap seorang siswa
kelas 1 SMK Bhakti, Cawang, Jakarta Timur (http//:www.tempointeraktif.com).
Saling ejek yang menyebabkan pembunuhan yang dilakukan oleh beberapa
remaja belasan tahun terhadap seorang remaja berusia 15 tahun siswa SMK
Bhakti Duta Mas, Jakarta Barat (http://www.antara.co.id).
Menurut Barkowitz (1993), agresi sebagai segala bentuk perilaku yang
dimaksudkan untuk menyakiti seseorang baik secara fisik maupun mental.
Menurut Baron dan Bryne (2005), agresi adalah tingkah laku yang diarahkan
kepada tujuan menyakiti makhluk hidup lain yang tidak menginginkan datangnya
tingkah laku tersebut.
Dilihat dari bentuk perilaku yang ditampilkan, Buss dan Perry (1992)
membagi perilaku ke dalam empat macam, yaitu :
1. agresi verbal yaitu suatu tindakan dalam bentuk ucapan yang dapat
menyakiti atau melukai orang lain. Perilaku verbal bisa juga menghina,
mengancam, memaki, menjelek-jelekan orang lain.
2. Agresi fisik yaitu suatu perilaku dalam bentuk tindakan fisik yang dapat
merugikan, merusak, dan melukai orang lain. Perbuatan tersebut bisa berupa
menendang, meludahi, memukul, dan sebagainya.
3. Agresi kemarahan yaitu suatu bentuk agresi yang sifatnya tersembunyi dalam
perasaan seseorang tapi efeknya dapat menyakiti orang lain.
4. Agresi permusuhan yaitu suatu bentuk agresi berupa perasaan negatif
terhadap orang lain yang muncul karena persaan tertentu misalnya cemburu,
dengki, dan sebagainya.
Beberapa faktor perilaku agresi seseorang adalah, tindak kekerasan dari
pihak lain yang mempengaruhi untuk berbuat agresif dan prasangka negatif
dalam diri (Suryaningsih, 2006 ), tipe kepribadian seseorang (Baron dan Byrne,
2005), komunikasi yang negatif dan perilaku antisosial, kurang berempati
terhadap lingkungannya (Pepler dalam Kurniawan, 2004), perilaku agresi muncul
ketika tolak ukur normatif manusia bergeser dari tolak ukur transenden kearah
imanen, seperti orientasi kepada harta benda dan duniawi (Zubair, 2007),
provokasi dari pihak lain, penyimpangan kekuasaan, tidak adanya rasa hormat
dan tidak ada rasa saling menghargai antar sesama (Koeswara, 1988)
Sehingga, dari beberapa faktor agresifitas yang telah dipaparkan di atas
sangat berhubungan negatif dengan spiritualitas seseorang. Menurut, Alwee
(2006) menyebutkan orang yang memilki spiritual yang tinggi adalah orang yang
terpanggil untuk melakukan sesuatu yang bermakna dalam lingkungan sekeliling
mereka dan melakukan hal yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan
sekitar.
Menurut Amin (Buseri, 2006), spiritualitas Islami yakni memandang
segala sesuatu dengan bersih dan suci, apa adanya dan bebas prasangka.
Dengan iman memberikan kekuatan spiritual , menghilangkan rasa cemas dan
takut. Secara konsisten spiritual menjaga arah tujuan sampai pada titik sasaran.
Menurut Boorstein (Midasari ,2007) dimensi spiritual diasosiasikan sebagai
perasaan positif seperti cinta kasih.
Seseorang yang memiliki kecenderungan untuk menyakiti orang lain atau
memiliki kecenderungan berperilaku agresif, mereka tidak mempedulikan
keadaan lingkungan atau keadaan sosial mereka. Menurut Elkins (Smith 1994),
spiritualitas meyakini keadilan sosial dan menyadari bahwa tidak ada seseorang
pun yang dapat hidup tanpa interaksi sosial dengan orang lain. Kesadaran akan
kemampuan tinggi untuk berempati dan menghargai satu sama lain bahwa hidup
itu bernilai. Dari pengertian tersebut berarti kita harus memiliki perasaan saling
peduli satu sama lain.
Malinski (Smith, 1994) mengkaitkan spiritualitas sebagai eksistensi diri
dan pengalaman dari kesatuan yang diwujudkan dalam bentuk kesadaran yang
meningkat tentang saling keterkaitan antara masyarakat dengan lingkungannya;
serta kesatuan cara pandang manusia dan kosmiknya. Perasaan tersebut dapat
diwujudkan dengan tindakan dan cinta kasih terhadap sesama.
Sedangkan menurut Delaney (2005), seseorang memiliki spiritualitas
tinggi apabila memiliki suatu hubungan integral dengan orang lain berdasar rasa
hormat yang mendalam pada kehidupan, berpengalaman dalam berhubungan
serta penghormatan untuk lingkungan dan kepercayaan bahwa bumi itu suci. Hal
tersebut mengandung makna bahwa tidak ada yang saling menyakiti dan harus
saling menghormati.
Smith (1994) merangkum sembilan aspek spiritualitas yang diungkapkan
oleh Elkins, dkk. tersebut menjadi empat aspek sebagaimana berikut:
1. Merasa yakin bahwa hidup sangat bermakna. Hal ini mencakup rasa memiliki
misi dalam hidup.
2. Memiliki sebuah komitmen terhadap aktualisasi potensi-potensi positif dalam
setiap aspek kehidupan. Hal ini mencakup kesadaran bahwa nilai-nilai
spiritual menawarkan kepuasan yang lebih besar dibandingkan nilai-nilai
material, serta spiritualitas memiliki hubungan integral dengan seseorang, diri
sendiri, dan semua orang.
3. Menyadari akan keterkaitan dalam kehidupan. Hal ini mencakup kesadaran
akan musibah dalam kehidupan dan tersentuh oleh penderitaan orang lain.
4. Meyakini
bahwa
berhubungan
dengan
dimensi
transendensi
adalah
menguntungkan. Hal ini mencakup perasaan bahwa segala hal dalam hidup
adalah suci.
Delaney (2005) membagi spiritualitas dalam empat aspek yaitu :
1. Higher power of universal intelligence, yaitu suatu kepercayaan kepada
kekuatan yang lebih tinggi atau kecerdasan universal yang mungkin atau
tidak mungkin meliputi praktek-praktek religius formal.
2. Self-discovery, yaitu perjalanan spiritual yang dimulai dengan refleksi dalam
diri dan pencarian makna dan tujuan. Proses penemuan diri ini petunjuk
untuk tumbuh, penyembuhan dan transformasi.
3. Relationships, yaitu suatu hubungan integral dengan orang lain berdasar rasa
hormat yang mendalam dan penghormatan untuk kehidupan yang dikenal
dan pengalaman dalam berhubungan.
4. Eco-awareness, yaitu suatu hubungan integral dengan alam berdasar rasa
hormat yang mendalam serta penghormatan untuk lingkungan dan
kepercayaan bahwa bumi itu suci.
Menurut Delaney (2005), apabila seseorang tidak memiliki suatu
hubungan integral dengan orang lain berdasar rasa saling menghormati antar
sesama, tidak berpengalaman dalam berhubungan serta penghormatan untuk
lingkungan dan kepercayaan bahwa bumi itu suci, maka hal tersebut akan
menimbulkan perasaan saling menyakiti, hilangnya rasa saling menghormati,
dan saling merusak satu sama lain.
Zubair (2007) berpendapat bahwa bergesernya tolak ukur normatif dari
pemahaman transenden kearah imanen dapat mengakibatkan perasan iri,
dengki, kerena harta benda menjadi orientasi kehidupan mereka. Hal ini sangat
mudah memunculkan perilaku agresif antar sesama karena
manusia telah
mengabaikan tugas-tugasnya sebagai khalifah Allah SWT di muka bumi ini.
Metode Penelitian
Subjek Penelitian
Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah remaja pertengahan
rentang usia 15-18 tahun. Pemilihan subjek ini didasarkan atas pertimbangan
usia remaja yang duduk dibangku sekolah menengah atas.
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
dengan metode angket atau kuesioner untuk mendapat jenis data kuantitatif.
Penggunaan metode ini dengan alasan kepraktisan.
Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebuah angket yang terdiri dari dua skala pengukuran, yaitu :
1. Skala Agresivitas pada Remaja
Aspek pada skala Agresivitas menggunakan bentuk-bentuk agresivitas
yang dikemukakan oleh Buss dan Perry (1992). Pernyataan dalam skala ini telah
diadaptasi oleh penulis sebelumnya, empat aspek tersebut yang terdiri dari
agresi verbal, agresi fisik, agresi kemarahan, agresi permusuhan. Skala ini
digunakan untuk mengkategorisasikan tingkat agresivitas remaja ; apakah
rendah, sedang, atau tinggi. Sistem penilaian dalam skala ini menggunakan
model Likert (Azwar, 2004) dengan pilihan jawaban, yaitu sangat sesuai (SS),
sesuai (S), tidak sesuai (TS), sangat tidak sesuai (STS).
2.. Skala Spiritualitas
Skala ini digunakan untuk mengetahui tingkat spiritualitas subjek. Skala
yang digunakan merupakan hasil adaptasi dari skala spiritualitas yang disusun
oleh Delaney (2005). Skala ini digunakan untuk mengkategorisasikan tingkat
spiritualitas seseorang ; apakah rendah, sedang, atau tinggi. Skala ini disusun
berdasarkan satu kategori, yaitu item-item skala yang bersifat favourable. Skala
spiritualitas ini berisi aspek-aspek (Delaney, 2005), yaitu Self-discovery,
Relationships, Eco-awareness. Sistem penilaian dalam skala ini menggunakan
model Likert (Azwar, 2004) dengan pilihan jawaban, yaitu sangat sesuai (SS),
sesuai (S), tidak sesuai (TS), sangat tidak sesuai (STS).
Metode Analisis Data
Untuk menganalisis data penelitian, statistik yang digunakan diolah
menggunakan program SPSS for windows yang sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai dalam penelitian ini. Peneliti dalam menganalisis data yang diperoleh
menggunakan metode kuantitatif dan analisis data yang diperlukan untuk
menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah korelasi product moment dari
Pearson untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel bebas dan
variabel tergantung.
Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 29 Mei 2008 di SMU Negeri 1
Magelang. Pengambilan data dilakukan pada jam 07.00-10.00 WIB ke siswa
siswi kelas 1 sebanyak 5 kelas dengan melibatkan subjek sebanyak 158 siswa.
Berdasarkan hasil analisis aitem pada skala Agresivitas menunjukan
bahwa dari 36 aitem yang diujicobakan, terdapat 22 aitem yang dinyatakan sahih
dan 14 aitem dinyatakan gugur. Koefisien validitas skala ini bergerak antara
0,303 sampai 0,677 dan koefisien reliabilitas alphanya adalah 0,893. Hasil
analisis pada aitem pada skala Spiritualitas menunjukan bahwa dari 36 aitem
yang diujicobakan terdapat 5 aitem yang gugur dan 31 aitem yang
lain
dinyatakan sahih. Koefisien validitas skala ini bergerak antara 0,301 sampai
0,741 dan koefisien reliabilitas alphanya adalah 0,916.
Dari hasil perhitungan yang dilakukan berdasarkan data-data yang
diperoleh dari kuesioner, maka diketahui fungsi-fungsi statistik dasar berupa data
penelitian mengenai skor hipotetik dan skor empirik yang meliputi skor maksimal,
skor minimal, rerata (mean), dan standar deviasi pada masing-masing skala.
Deskripsi data penelitian secara umum dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Variabel
Hipotetik
Empirik
Min
Maks
Mean
SD
Min
Maks
Mean
SD
Agresivitas
22
88
55
11
27
72
48,15
7,08
Spiritualitas
31
124
77,5
15,5
80
124
102,42
8,65
Deskripsi di atas menunjukkan bahwa rerata empirik variabel spiritualitas
lebih besar daripada rerata hipotetiknya. Hal ini berarti bahwa tingkat spiritualitas
subjek cenderung tinggi. Sementara itu, rerata empirik variabel agresivitas lebih
rendah daripada rerata hipotetiknya. Hal ini berarti bahwa tingkat agresivitas
subjek cenderung rendah.
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah setiap variabel
terdistribusi (tersebar) secara normal. Sebaran yang normal merupakan
gambaran bahwa data yang diperoleh telah mewakili keseluruhan data. Uji
normalitas yang menggunakan teknik One Sample Kolmogorov-Smirnov Test
dari program SPSS 16.0 for Windows. Hasil uji normalitas antara skala
agresivitas dengan skala spiritualitas menunjukan bahwa skala tersebut untuk
skala Agresivitas K-S-Z sebesar 1,106 ; p = 0,173 (p > 0,05) dengan skala
Spiritualitas menunjukan 0,719 ; p = 0, 679 (p>0,05). Berdasarkan hasil uji
normalitas menunjukan bahwa kedua skala tersebut memiliki sebaran data yang
normal.
Uji linearitas digunakan untuk mengetahui apakah kedua variabel memiliki
hubungan yang linear, sehingga dapat diketahui boleh tidaknya product moment
digunakan untuk menguji hipotesis. Hasil uji linearitas menunjukkan koefisien F =
11,459 dengan p = 0,001 (p < 0,01). Hal ini berarti bahwa hubungan antara
agresivitas dan variabel spiritualitas memenuhi asumsi linearitas (membentuk
garis lurus) dan kecenderungan menyimpang dari garis linearnya sebesar p =
0,639 atau p > 0,05.
Setelah terpenuhinya uji normalitas dan uji linearitas, maka selanjutnya
dilakukan uji hipotesis. Oleh karena data penelitian ini adalah data interval, maka
untuk menganalisis hipotesisnya peneliti menggunakan teknik korelasi product
moment dari Pearson dengan bantuan komputer program SPSS 16.0 for
Windows. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa antara agresivitas dan
spiritualitas diperoleh koefisien korelasi rxy = - 0,265 dengan p = 0,001 (p < 0,01).
Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan
antara agresivitas dan spiritualitas pada remaja. Semakin tinggi spiritualitas pada
remaja, semakin rendah agresivitasnya. Sebaliknya, semakin rendah spiritualitas
pada remaja semakin tinggi agresivitasnya.
Hal lain yang diperoleh dari hasil analisis data tersebut adalah nilai
koefisien determinasi (R squared) sebesar 0,070 yang berarti bahwa spiritualitas
memberikan sumbangan efektif sebesar 7 % terhadap agresivitas pada remaja.
Sedangkan sisanya 93 % dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.
Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara spiritualitas
dengan agresivitas pada remaja. Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh
dari lapangan, terlihat bahwa terdapat korelasi yang sangat signifikan antara
variabel spiritualitas dan agresivitas remaja (rxy = - 0,265). Hubungan negatif ini
menunjukkan bahwa semakin tinggi spiritualitas pada remaja, semakin rendah
agresivitasnya. Sebaliknya, semakin rendah spiritualitas pada remaja semakin
tinggi agresivitasnya.
Hal tersebut di atas sesuai dengan studi literatur yang diungkapkan oleh
Zubair (2007), bahwa bergesernya tolak ukur normatif dari pemahaman
transenden kearah imanen dapat mengakibatkan meningkatnya perasan iri,
dengki, kerena harta benda dan duniawi menjadi orientasi kehidupan mereka
sehingga manusia telah mengabaikan tugas-tugasnya sebagai khalifah Allah
SWT di muka bumi ini. Sedangkan perbedaan dengan penelitian ini adalah
penelitian ini menggunakan data kuantitatif dengan metode angket dalam
memperoleh data.
Hasil temuan ini juga sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh
Elkins (Smith 1994) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa, spiritualitas
meyakini keadilan sosial dan menyadari bahwa tidak ada seseorang pun yang
dapat hidup tanpa interaksi sosial dengan orang lain, berempati, kesadaran
mendalam terhadap kesakitan, penderitaan, serta kematian dan menghargai satu
sama lain bahwa hidup itu bernilai. Sesuai dengan penelitian ini, seseorang yang
memiliki spiritualitas yang tinggi akan memiliki kecenderungan untuk tidak
menyakiti orang lain, menjaga lingkungan mereka dan penuh cinta kasih.
Senada dengan hal di atas, penelitian ini juga mendukung penelitian yang
dilakukan oleh Graham, dkk (Adami, 2006) menemukan bahwa semakin tinggi
spiritualitas seseorang, semakin besar kemampuannya dalam menghadapi
masalah. Penelitian ini menyarankan bahwa spiritualitas dapat memiliki peran
penting dalam mengatasi masalah. Dari penjelasan di atas dapat dipahami
bahwa dengan spiritualitas yang tinggi dapat membantu seseorang untuk
menentukan langkah dengan baik sehingga agresivitas tidak akan terjadi, akan
lebih memaknai hidup, dapt mengambil hikmah dari pengalaman hidupnya serta
selalu berintrospeksi diri.
Penelitian lain yang pernah dilakukan oleh Young (2000) yaitu The
Moderating Relationship of Spirituality on Negative Life Events and Psychological
Adjustment juga menunjukan bahwa spiritualitas memiliki pengaruh dalam
tingkatan depresi. Hal tersebut ditunjukan dengan adanya hubungan negatif yang
signifikan antara spiritualitas dengan tingkat depresi seseorang. Dari penelitian
tersebut dapat diungkap bahwa dengan meningkatkan spiritualitas dalam diri
seseorang dapat menekan hal-hal yang bersifat negatif seperti perilaku agresif.
Tinggi rendahnya agresivitas dan tinggi rendahnya spiritualitas pada
remaja secara otomatis memperlihatkan hubungan antar keduanya. Hal ini
terlihat pada kondisi subjek yang rata-rata memiliki agresivitas sedang (51,89 %)
dan rendah (40,5 %), sementara mayoritas subjek memiliki tingkat spiritualitas
yang tinggi (58,23%) dan spiritualitas memberikan sumbangan efektif kepada
agresivitas sebesar 7%. Sedangkan sisanya 93% dipengaruhi oleh beberapa
faktor-faktor lain, seperti stress, frustasi, suhu udara, pengaruh media masa,
jenis kelamin, tipe kepribadian dan pengaruh alcohol serta obat-obatan.
Bagi para remaja, berbagai bentuk agresivitas ini tidak akan terjadi
apabila mereka selalu memiliki tujuan hidup, selalu memaknai setiap
pengalaman hidup mereka, bahagia dengan keadaan diri sendiri, keluarga dan
teman-teman, selalu bersyukur, saling menghormati antar sesama hidup,
memiliki hubungan harmonis dengan alam, selalu menjaga hubungan baik dalam
berteman, memiliki keyakinan terhadap kekuatan tertinggi di dunia serta akhirat,
selalu berdoa dan berintrospeksi diri. Hal tersebut di atas, terkandung makna
spiritualitas. Dengan spiritualitas, membuat para remaja lebih menjaga
perilakunya dengan baik. Sehingga, agresivitas dapat dihindari.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya,
maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara
spiritualitas dengan agresivitas pada remaja, semakin tinggi spiritualitas pada
remaja, maka semakin rendah agresivitasnya . Sebaliknya, semakin rendah
tingkat spiritualitas remaja, maka semakin tinggi pula agresivitasnya. Dengan
demikian, hipotesis yang diajukan dapat diterima
Saran
Dalam penelitian ini, masih terdapat beberapa kekurangan yang tidak
dapat dikontrol oleh peneliti. Sehubungan dengan hal tersebut, peneliti mencoba
untuk memberikan beberapa saran sebagai berikut:
1. Bagi para remaja
Berdasarkan penelitian ini, remaja yang memiliki tingkat spiritualitas yang
tinggi, akan memiliki agresivitas yang rendah. Hal tersebut perlu dipertahankan
karena akan dapat menjaga perilakunya menjadi baik dan akan menjaga dirinya
dari masalah-masalah yang akan merugikannya.
Bagi para remaja yang spiritualitasnya rendah, maka memiliki agresivitas
yang tinggi. Maka sebaiknya mereka segera merubah perilakunya menjadi lebih
baik. Merubah perilaku menjadi lebih baik, tidak akan merugikan dirinya, bahkan
akan memberikan banyak keuntungan bagi mereka, seperti mereka akan mudah
diterima di lingkungan, dan banyak teman-teman yang akan bermain dengannya,
serta hidup akan lebih bahagia bagi dirinya maupun lingkungannya.
2. Bagi Para Orang Tua atau Keluarga
Bagi para remaja, orang tua atau keluarga memiliki arti yang penting.
Sehingga, para anggota keluarga harus menjaga hubungan yang harmonis di
dalam lingkungan keluarga. Hal tersebut akan memberikan kenyaman bagi para
anggota keluarga yang ada di dalamnya sehingga sifat-sifat tercela dapat
dihindarkan.
3. Bagi Pihak Sekolah
Sekolah juga memiliki arti penting pada kehidupan remaja selain lingkungan
keluarga. Karena, mereka banyak melakukan kegiatan bersama-sama di
sekolah. Pihak sekolah hendaknya selalu mendukung setiap kegiatan positif para
siswa siswinya dalam upaya untuk mengurangi hal-hal tercela yang dilakukan
sering diberitakan saat ini seperti tawuran antar pelajar maupun perkelahian.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan lebih cermat lagi dalam metode
dan proses pengambilan data. Apabila, penelitian selanjutnya menggunakan
metode pengambilan data secara klasikal di dalam kelas yang jumlah subyeknya
banyak, diharapkan peneliti perlu dibantu dua atau tiga orang lagi dalam
membantu proses sebar data. Hal itu akan menjaga ketenangan di dalam kelas
dan mendampingi beberapa siswa dalam proses pengisian data. Diharapkan dari
hal tersebut, para siswa dapat mengisi sesuai dengan apa yang ada pada
dirinya.
Bagi peneliti lain yang tertarik untuk meneliti agresivitas, disarankan
mempertimbangan variabel lainnya yang berhubungan dengan agresivitas agar
dapat ditemukan temuan baru, sehingga akan memberikan pengetahuan yang
beraga. Bila dirasa dalam penelitian ini terdapat kekurangan, penelitian
selanjutnya dapat menyempurnakannya bahkan dapat mengembangkannya
menjadi jauh lebih baik.
Daftar Pustaka
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
2007.
Satu
Orang
Dibacok
dalam
Tawuran
http://www.tempointeraktif.com/ (diakses tanggal 02/09/08)
Pelajar.
Anonim.
2007.
Satu
Siswa
Tewas
dalam
http://www.antara.co.id/ (diakses tanggal 02/09/08)
Pelajar.
Tawuran
Anonim. 2008. Gang Belimbing Gang Cinta Juga
http://www.kompas.com/ (Diakses tanggal 02/09/08)
Geng
Nero.
Anonim. 2008. Rekaman Duel Dua Cewek Rebutan Cowok Beredar di Yogya.
http://www.kompas.com/ (diakses tanggal 02/09/08)
Anonim.
2008.
Tawuran
Pelajar
Warnai
Pawai
Http://www.pikiranrakyat.com (diakses tanggal 02/09/08)
Anonim.
2008.
Tawuran
Pelajar
Kembali
Terjadi
Tujuhbelasan.
di
Depok.
http://www.liputan6.com/ (diakses tanggal 02/09/08)
Adami. 2006. Hubungan Antara Spiritualitas dengan Proactive Coping pada
Survivor Bencana Gempa Bumi di Bantul . Skripsi (Tidak Diterbitkan).
Yogyakarta: Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam
Indonesia
Alwee. 2008. Spiritualitas Inklusif. http://www.institutpendidikannasional.com/
(Diakses tanggal 7/3/2008)
Azwar, S. 2004. Penyusunan Alat Ukur. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Azwar, S. 2004. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Baron, R. A. & Byrne, D. 2005. Psikologi Sosial Jilid Dua. Edisi Kesepuluh.
Jakarta : Erlangga
Berkowitz, L. 1995. Agresi : Sebab dan Akibatnya. (penerjemah : Hartati, W.S).
Jakarta: PT Pustaka Binaan Pressindo
Buseri.
2006. Peran Spiritualitas (Agama) dalam Penyelenggaraan
(Diakses
tanggal
Kepemimpinan.
http://www.stiabinabenua.co.id/
8/3/2008)
Buss, A.H & Perry, M. 1992. The Aggression Questionaire. Jurnal of Personality
and Psikology, edisi 63, No 33, 452-45
Delaney. 2005. The Spirituality Scale. Jurnal of Holistic Nursing, June vol 23,
No.2
Djuwarijah. 2002. Hubungan Pengasuhan Islami dengan Agresivitas Remaja.
Logika, Vol 7 No 8, 95-107
Djuwarijah. 2002. Hubungan Antara Kecerdasan Emosi dengan Agresivitas Pada
Remaja. Psikologika, no 13, Th VII, 69-76
Koeswara. 1988. Agresi Manusia. Bandung : Eresco
Kurniawan, dkk. 2004. Pengaruh Pelatihan Kecerdasan Emosional Terhadap
Penurunan Agresivitas Anak di Sekolah. Psikologika, No 18, th IX, 35-44.
Larson, B. L. & Larson, S. B. 2003. Spirituality is Potential Relevance to Physical
and Emotional Health: A Brief Review of Quantitative Research. Journal
of Psychology and Theology, 31: 37-49.
Midasari. 2007. Altered State of Conciousness, Afirmasi dan Visualisasi untuk
Mengatasi
Masalah
Obesitas.
Proceeding
PESAT.
Vol
2.
http://www.gunadarma.com/ (Diakses tanggal 8/3/2008.
Smith, D. W. 1994. Theory of Spirituality. Journal of Holistic Nursing, 9.
Suryaningsih, dkk. 2006. Hubungan Kekerasan Orang Tua Terhadap Anak
Dengan Perilaku Agresif Pada Siswa SMP Negeri 2 Ungaran. Jurnal
Psikologi Proyeksi. Vol 1. No 1,59 -69.
Zubair. 2008. “Agama dan Kekerasan” Menemukan Kembali Makna Spiritualitas
Manusia. http://pemimpin-unggul.com/ (Diakses tanggal 8/3/2008)
Young, J. S., Cashwell, C. S. & Shcherbakova, J. 2000. The Moderating
Relationship of Spirituality on Negative Life Events and Psychological
Adjustment. Journal of Counseling and Values, 45: 153 -169
Identitas Penulis
Nama Mahasiswa
: Dyah Retno Wardhani
No. Mahasiswa
: 04320018
Alamat Rumah
: Jl. Sunan Kalijaga IV no 4, RT 5, RW14, Karet, Magelang ,
Jawa Tengah, 56123
No. Tlp/Hp
: (0293) 365755 / 081802699001
Email
: [email protected]
Download