perilaku agresi pada mahasiswa ditinjau dari kematangan emosi

advertisement
Perilaku Agresi Pada Mahasiswa
Ditinjau Dari Kematangan Emosi
Volume I, No 2, Juni 2011
PERILAKU AGRESI PADA MAHASISWA DITINJAU DARI
KEMATANGAN EMOSI
Aprius Maduwita Guswani
Fajar Kawuryan 2
Abstract
This study aimed to examine the correlation
between emotional maturity with agressive
behavior in collegian. Subject in this study are
technique and law collegian in Muria Kudus
University. The participants took by accidental
sampling. Agressive behavior and emotional
maturity scale are used to get the data. The
data analysed by product moment. Coeficient
correlation result the both variables is rxy=0,906 with p=0,000 (p<0,01).
It’s mean there is significant negative
correlation between emotional maturity and
agressive behavior. More higher emotional
maturity, lower agressive behavior can get, the
opposite, lower emotional maturity make
agressive behavior more higher. Effective
giveness emotional maturity to agressive
behavior is 82%.
Keywords : emotional maturity, agressive
behavior, collegian.
Fenomena yang terjadi akhir–akhir ini
sangatlah memprihatinkan, karena
kecenderungan merosotnya moral bangsa
hampir terasa di semua strata kehidupan. Krisis
moral ini kemudian diikuti dengan
menyuburnya pola hidup konsumtif,
materialistis, hedonis, dan lain sebagainya
yang semuanya menyebabkan tersingkirnya
rasa kemanusiaan, kebersamaan, dan
1 Alumni Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus
2 Staf Pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Muria
Kudus
1
kesetiakawanan sosial. Khusus di kalangan
remaja, problem sosial moral ini dicirikan
dengan sikap arogansi, saling memfitnah
sesama teman, rendah kepedulian sosial,
meningkatnya hubungan seks pra nikah,
bahkan merosotnya penghargaan dan rasa
hormat terhadap guru ataupun orangtua
sebagai sosok yang seharusnya disegani dan
dihormati. Bila dicermati dengan seksama
ternyata kejadian ini semuanya
mengisyaratkan adanya kecenderungan
meningkatnya perilaku agresif pada remaja
(Aziz dan Mangestuti, 2006).
Di Indonesia, fenomena perilaku agresif
mahasiswa seringkali terjadi dan mendapatkan
perhatian banyak pihak. Agresi merupakan
perilaku yang dapat merugikan diri sendiri dan
pihak lain, sehingga diperlukan upaya untuk
mereduksi dan mengendalikan perilaku agresif
pada mahasiswa (Wildan, 2008). Beberapa
perilaku agresi pada mahasiswa Indonesia,
misalnya di Makassar pada tanggal 14 Juni
2010 tawuran antara fakultas ekonomi dengan
fakultas olah raga UNM. Peristiwa ini berawal
dari adanya saling ejek di sebuah pertandingan
futsal. Peristiwa lain yakni tawuran antara
mahasiswa peternakan dan mahasiswa teknik
UNHAS yang bermula seorang mahasiswi
diganggu oleh mahasiswa yang mengaku
berasal dari fakultas pertanian. Lalu tanggal 25
Mei 2010 juga terjadi tawuran antara
mahasiswa FISIPOL dengan mahasiswa
fakultas teknik, tanggal 26 Oktober 2010
(Saido, 2010).
86
Jurnal Psikologi Pitutur
Perilaku Agresi Pada Mahasiswa
Ditinjau Dari Kematangan Emosi
Volume I, No 2, Juni 2011
Fenomena senada juga ditemukan penulis
di Universitas Muria Kudus, dari wawancara
dengan mahasiswa A pada tanggal 7 Oktober
2010. Menurut A pada hari selasa tanggal 20
Oktober 2010 telah terjadi perkelahian antara
mahasiswa fakultas teknik dengan mahasiswa
fakultas hukum. Kurang tahu penyebabnya
tetapi yang jelas perkelahian tersebut sampai
menimbulkan adu mulut saling mengejek dan
mengucapkan kata-kata yang tidak pantas
diucapkan, bahkan sampai melukai fisik seperti
memukul dan menendang.
Lain lagi kejadian sekitar bulan Oktober
2010 ketika ada lomba voli antar fakultas.
Waktu itu suporter dari prodi Teknik Informatika
mengejek pemain fakultas hukum karena
permainannya tidak bagus. Pemain fakultas
hukum lama-lama semakin panas dan emosi
karena selalu diejek dan timbullah perkelahian.
Salah satu mahasiswa fakultas hukum sempat
memukul mahasiswa fakultas teknik, tetapi ada
yang melerai dan situasi kembali normal.
Namun ada mahasiswa hukum yang sempat
mengambil senjata dan senjata itu dibawa ke
belakang suporter hukum untuk berjaga-jaga.
Pada saat suasana mulai panas, mahasiswa
fakultas hukum terpancing emosinya dan
pertengkaran itu berlanjut kembali.
Mahasiswa yang berperilaku agresi secara
konsisten menunjukkan kekurangan dalam
kemampuan interpersonal terhadap
perencanaan dan manajemen agresi. Menurut
Mundy (dalam Aryani, 2006), bahwa
kemunculan perilaku agresi bisa disebabkan
karena berhadapan dengan situasi-situasi atau
keadaan yang tidak menyenangkan dalam
lingkungannya. Mahasiswa yang melakukan
perilaku agresi dipengaruhi oleh beberapa
faktor salah satunya adalah kematangan
emosi. Mahasiswa yang belum stabil dan
kurang matang emosinya dapat lebih mudah
muncul perilaku agresinya daripada yang telah
matang emosinya (Rahayu, 2008).
Emosi marah yang bersifat negatif dan
meledak-ledak disertai dengan faktor eksternal
seperti frustrasi dan provokasi, menyebabkan
terjadinya proses penyaluran energi negatif
berupa dorongan agresi yang akan
mempengaruhi perilaku individu. Individu
dengan tingkat kematangan emosional tinggi
mampu meredam dorongan agresi dan
mengendalikan emosinya, pandai membaca
perasaan orang lain, serta dapat memelihara
hubungan baik dengan lingkungannya,
sehingga apabila individu memiliki kematangan
emosi yang baik, maka individu tersebut
mampu mengendalikan perilaku agresinya
(Rahayu, 2008). Individu yang telah mencapai
kematangan emosi dapat diidentifikasikan
sebagai individu yang dapat menilai situasi
secara kritis terlebih dahulu sebelum bertindak,
tidak lagi bereaksi tanpa berpikir sebelumnya
seperti anak-anak atau orang yang tidak
matang emosinya (Hurlock, 1994).
Kemampuan individu untuk merespon
stimulus yang berpengaruh terhadap
lingkungannya dapat ditunjukkan dengan
pribadi yang sehat, terarah dan jelas sesuai
dengan stimulus serta tanggung jawab atas
segala keputusan dan perbuatannya terhadap
lingkungan. Jika hal tersebut terpenuhi, maka
individu tersebut dikatakan matang emosinya
(Cole dalam Khotimah, 2006). Menurut Hurlock
(1980) kematangan emosi adalah apabila
individu menilai situasi secara kritis terlebih
dulu sebelum bereaksi secara emosional, tidak
lagi bereaksi tanpa berfikir sebelumnya seperti
anak-anak atau orang yang belum matang.
Kematangan emosi adalah kemampuan
menerima hal-hal negatif dari lingkungan tanpa
membalasnya dengan sikap yang negatif,
melainkan dengan kebijakan (Martin, 2003).
Adapun menurut Chaplin (dalam Khotimah,
2006) kematangan emosi adalah suatu
keadaan atau kondisi mencapai tingkat
87
Jurnal Psikologi Pitutur
Perilaku Agresi Pada Mahasiswa
Ditinjau Dari Kematangan Emosi
Volume I, No 2, Juni 2011
kedewasaan dari perkembangan emosional,
dan oleh karena itu pribadi yang bersangkutan
tidak lagi menampilkan pola emosional yang
pantas bagi anak-anak.
sampelnya adalah sebagian dari mahasiswa
Fakultas Teknik dan Hukum sejumlah masingmasing 75 mahasiswa yang diambil dengan
teknik accidental sampling.
Kematangan emosi memiliki beberapa
aspek. Menurut Walgito (2003) aspek-aspek
kematangan emosi adalah :
Data dalam penelitian ini diambil dengan
menggunakan dua macam skala, yaitu skala
perilaku agresi dan skala kematangan emosi.
Setelah terkumpul, data dianalisis dengan uji
korelasi product moment.
a. Dapat menerima keadaan dirinya
maupun orang lain seperti apa adanya
Hasil Penelitian
b. Tidak impulsif
c. Dapat mengontrol emosi dan ekspresi
emosinya dengan baik
d. Dapat berfikir secara objektif dan
realistis, sehingga bersifat sabar, penuh
pengertian dan memiliki toleransi yang
baik
e. Mempunyai tanggung jawab yang baik,
dapat berdiri sendiri, tidak mudah
mengalami frustrasi dan akan
menghadapi masalah dengan penuh
pengertian.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan menguji secara
empirik hubungan antara kematangan emosi
dengan perilaku agresi pada mahasiswa.
Hipotesis
Berdasarkan uraian di atas, hipotesis yang
diajukan dalam penelitian ini adalah ada
hubungan negatif antara kematangan emosi
dengan perilaku agresi pada mahasiswa.
Artinya, semakin tinggi kematangan emosi
maka semakin rendah perilaku agresi,
sebaliknya semakin rendah kematangan emosi
maka semakin tinggi perilaku agresi.
Metode Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah
mahasiswa Fakultas Teknik dan Hukum
Universitas Muria Kudus, sedangkan
Berdasarkan perhitungan dengan batas
koefisien validitas 0,20, maka diperoleh skala
perilaku agresi sejumlah 40 item tidak terdapat
item yang gugur. Seluruh item valid memiliki
koefisien validitas berkisar antara 0,3749
sampai 0,8549.
Skala kematangan emosi pada uji validitas
tahap pertama dari 40 item terdapat satu item
yang gugur dengan koefisiensi validitas
sebesar -0,2769, dan 39 item yang valid
dengan koefisiensi validitas berkisar antara
0,2190 sampai 0,8464. Pada uji validitas tahap
kedua skala kematangan emosi dari 39 item
yang sudah uji validitasnya tidak terdapat item
yang gugur dengan koefisiensi validitas
berkisar antara 0,2190 sampai 0,8464.
Item-item yang valid dicari koefisien
reliabilitasnya dengan teknik Cronbach Alpha.
Skala perilaku agresi menunjukkan reliabilitas
alpha (ryy) sebesar 0,9737. Dengan program
yang sama, skala kematangan emosi
menunjukkan reliabilitas alpha (ryy) tahap
pertama sebesar 0,9701, sedangkan tahap
kedua sebesar 0,9732.
Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan dengan teknik
Kolmogorov - Smirnov Test menggunakan
program SPSS 15,0 for windows. Hasil uji
normalitas pada variabel tingkat perilaku agresi
menujukan nilai KS- Z sebesar 1,357 dan p
88
Jurnal Psikologi Pitutur
Perilaku Agresi Pada Mahasiswa
Ditinjau Dari Kematangan Emosi
Volume I, No 2, Juni 2011
sebesar 0,050 (p>0,05), sedangkan uji
normalitas pada variabel tingkat kematangan
emosi KS- Z sebesar 0,984 dan p sebesar
0,287 (p>0,05). Dari uji normalitas ini
menunjukan bahwa kedua variabel memiliki
sebaran data normal.
product moment. Hasilnya adalah sebagai
berikut :
Tabel 3
Uji Hipotesis
Tabel 1
Hasil Uji Normalitas Sebaran
Uji Linieritas
Tabel 2
Uji Linieritas Hubungan Kematangan
Emosi dengan Perilaku agresi
ANOVA TABLE
Berdasarkan perhitungan di atas, koefisien
korelasi dari kedua variabel; rxy = -0,906
dengan p = 0,000 (p < 0,01). Hal ini berarti ada
hubungan negatif yang sangat signifikan antara
kematangan emosi dengan perilaku agresi
pada mahasiswa, artinya semakin tinggi
kematangan emosi maka semakin rendah
perilaku agresi, sebaliknya semakin rendah
kematangan emosi maka semakin tinggi
perilaku agresi.
Diskusi
Hasil uji linieritas di atas menunjukkan
korelasi antara kematangan emosi dengan
perilaku agresi adalah linier. Hal ini ditunjukkan
dengan hasil yang diperoleh dari nilai F Linier
sebesar 1,423 dengan p sebesar 0,067 (p >
0,05).
Uji Hipotesis
Setelah terbukti semua data terdistribusi
normal dan berkorelasi linier, selanjutnya
dilakukan pengujian hipotesis dengan bantuan
perhitungan program SPSS teknik korelasi
Berdasarkan hasil analisis data hipotesis
dengan rxy sebesar -0,906 dengan p sebesar
0,000, dengan demikian hipotesis yang
diajukan diterima, bahwa ada hubungan negatif
yang sangat signifikan antara kematangan
emosi dengan perilaku agresi, yaitu semakin
tinggi kematangan emosi maka semakin
rendah perilaku agresi, sebaliknya semakin
rendah kematangan emosi maka semakin
tinggi perilaku agresi.
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang
dikemukakan Rahayu (2008), bahwa perilaku
agresi mahasiswa dapat dipengaruhi oleh
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor
internal yaitu faktor dari dalam diri individu yang
salah satunya berupa kematangan emosi yang
89
Jurnal Psikologi Pitutur
Perilaku Agresi Pada Mahasiswa
Ditinjau Dari Kematangan Emosi
Volume I, No 2, Juni 2011
kurang baik. Seseorang yang telah matang
emosinya berarti pula dapat mengendalikan
luapan emosi dan nafsu, sehingga individu
tersebut dapat mengelolanya dengan baik.
Sedangkan faktor eksternal berupa reaksi atau
respon emosi yang diluapkan individu, respon
emosi yaitu perasaan subjektif yang bervariasi
dari rasa kecewa, jengkel, ataupun luapan
kegembiraan yang ditujukan kepada dirinya
sendiri.
Lebih lanjut Rahayu (2008), terdapat
bermacam-macam emosi pada diri manusia,
seperti emosi takut, marah, senang, benci, iri,
gelisah dan lain-lain. Nilai emosi terkadang bisa
positif dan juga sebaliknya bisa negatif. Emosi
marah belum tentu negatif, meskipun dalam
hal-hal tertentu sifat pemarah adalah jelek dan
cenderung negatif. Dengan demikian, dapat
dikatakan bahwa setiap individu memiliki
respon emosi yang berbeda-beda tergantung
dari tingkat kematangan emosinya. Emosi
marah yang bersifat negatif dan meledak-ledak
disertai dengan faktor eksternal seperti
frustrasi dan provokasi, menyebabkan
terjadinya proses penyaluran energi negatif
berupa dorongan agresi yang akan
mempengaruhi perilaku individu. Individu
dengan tingkat kematangan emosional tinggi
mampu meredam dorongan agresi dan
mengendalikan emosinya, pandai membaca
perasaan orang lain, serta dapat memelihara
hubungan baik dengan lingkungannya.
Sehingga, apabila individu memiliki
kematangan emosi yang baik maka individu
tersebut mampu untuk mengendalikan perilaku
agresinya.
Besarnya pengaruh kematangan emosi
terhadap perilaku agresi pada mahasiswa
Fakultas Teknik dan Fakultas Hukum
Universitas Muria Kudus tampak pada
sumbangan efektif sebesar 82%, berarti masih
terdapat 18% faktor lain yang mempengaruhi
perilaku agresi. Besarnya sumbangan efektif
kematangan emosi yang cukup besar ini
penting untuk diperhatikan (khususnya bagi
para mahasiswa). Dengan kematangan emosi
yang tinggi diasumsikan mahasiwa mampu
mengontrol perilaku agresinya.
Hasil penelitian ini juga mendukung
pendapat Walgito (dalam Chomsah, 2009)
bahwa individu yang bisa dikatakan telah
matang emosinya adalah jika dalam diri
individu tersebut mampu menerima keadaan
dirinya maupun orang lain apa adanya, tidak
impulsif, akan memberikan tanggapan
terhadap stimulus secara adekwat, dapat
mengontrol emosi dan ekspresi emosinya
dengan baik, dapat berfikir secara obyektif dan
realistis sehingga bersifat sabar, penuh
pengertian dan memiliki toleransi yang baik,
mempunyai tanggung jawab yang baik, dapat
berdiri sendiri, tidak mudah mengalami frustrasi
dan akan menghadapi masalah dengan penuh
pengertian.
Sebaran tingkat perilaku agresi mahasiswa
Fakultas Teknik dan Fakultas Hukum
Universitas Muria Kudus adalah sebagai
berikut : perilaku agresi sangat tinggi 13 orang
(8,67%), tinggi 33 orang (22,%), sedang 51
orang (34%), rendah 48 orang (32%), dan
sangat rendah 5 orang (3,33%), sedangkan
sebaran tingkat kematangan emosi mahasiswa
Fakultas Teknik dan Fakultas Hukum
Universitas Muria Kudus adalah sebagai
berikut : tingkat kematangan emosi sangat
tinggi ada 8 orang (5,33%), tinggi ada 41 orang
(27,33%), sedang ada 58 orang (38,67%),
rendah ada 30 orang (20%), dan sangat rendah
ada 13 orang (8,67%).
Penelitian ini masih terdapat beberapa
kelemahan. Adapun beberapa kemungkinan
yang menyebabkan penelitian ini memiliki
beberapa kelemahan diantaranya :
90
Jurnal Psikologi Pitutur
Perilaku Agresi Pada Mahasiswa
Ditinjau Dari Kematangan Emosi
Volume I, No 2, Juni 2011
1. Kemungkinan adanya pengaruh social
desirability pada pada saat pengisian skala,
karena dalam item berisi pernyataanpernyataanya yang bersifat normatif. Hal ini
kemungkinan berpengaruh terhadap jawaban
yang diberikan subyek sehingga ada
kemungkinan jawaban tersebut tidak sesuai
dengan kondisi objektif yang dialami subyek itu
sendiri.
2. Ada kemungkinan rasa tidak nyaman dari
responden ketika mengisi skala ditunggui
peneliti, sehingga tergesa-gesa dalam
menjawab.
mengontrol emosi agar tidak terjadi perilaku
agresi terhadap orang lain. Sedangkan bagi
mahasiswa yang mempunyai kematangan
emosi yang baik dengan perilaku agresi yang
rendah diharapkan tetap dapat menjaga
kematangan emosinya agar tidak terjadi
perilaku agresi terhadap orang lain.
2. Bagi peneliti selanjutnya
Penelitian selanjutnya disarankan agar
dapat menyempurnakan hasil penelitian ini dari
sisi penyempurnaan item dan melibatkan
pengaruh faktor-faktor lain selain kematangan
emosi seperti kecerdasan emosional,
religiusitas, kontrol diri, dan pengaruh media.
Simpulan dan Saran
Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data yang telah
dilakukan pembahasan terhadap hasil
penelitian, disimpulkan bahwa ada hubungan
negatif yang signifikan antara kematangan
emosi dan perilaku agresi pada mahasiswa.
Semakin tinggi kematangan emosi maka akan
semakin rendah perilaku agresi, sebaliknya
semakin rendah kematangan emosi maka akan
semakin tinggi perilaku agresi. Sumbangan
efektif variabel kematangan emosi terhadap
perilaku agresi sebesar 82%. Sedangkan
sisanya 18% kemungkinan masih ada faktorfaktor lain yang mempengaruhi perilaku agresi
selain faktor kematangan emosi seperti kontrol
diri, religiusitas, kecerdasan emosional, dan
pengaruh media.
Saran
1. Bagi mahasiswa
Bagi mahasiswa yang mempunyai
kematangan emosi yang rendah dengan
perilaku agresi
tinggi, diharapkan dapat
meningkatkan kematangan emosinya dengan
berusaha mengendalikan emosi, serta
berusaha berpikir positif, sehingga dapat
91
Jurnal Psikologi Pitutur
Perilaku Agresi Pada Mahasiswa
Ditinjau Dari Kematangan Emosi
Volume I, No 2, Juni 2011
Daftar Pustaka
Aryani, D. (2006). Efektivitas Layanan BK
Bidang Sosial Untuk Mengurangi Perilaku
Agresif Verbal Remaja Pada Siswa kelas
VIII SMP Teuku Umar Semarang. Skripsi
(tidak diterbitkan). Semarang : Fakultas
Psikologi Universitas Negeri Semarang.
Aziz, R & Mangestuti. (2006). Pengaruh
Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan
Emosional (EI) dan Kecerdasan Spiritual
(SI) Terhadap Agresivitas Pada Mahasiswa
UIN Malang. Jurnal Penelitian dan
Pengembangan.
Chomsah, S. (2009). Hubungan antara
Tawakal dengan Kematangan Emosi pada
remaja di Pesantren Darul Falah Jekulo
Kudus. Skripsi (tidak diterbitkan). Kudus :
Fakultas Psikologi Universitas Muria
Kudus.
Saido, S. (2010) Memahami agresivitas
mahasiswa makassar. [online].
http://www.tribunnews.com
Sylviana, O. (2008). Hubungan Antara
Kejenuhan Kerja dengan Kecenderungan
Perilaku Agresif Pada Anggota Polisi Sat
Reskrim di Polres Wonosobo. Skripsi (tidak
diterbitkan). Fakultas Psikologi Universitas
Negeri Semarang.
Walgito, B. (2003). Pengantar Psikologi Umum.
Yogyakarta : Andi Offset.
Wildan, A. (2008). Hubungan antara
Religiusitas dengan Agresivitas pada
Mahasiswa. Skripsi. Malang : Fakultas
Psikologi Universitas Muhammadiyah
M a l a n g . [ o n l i n e ] . Te r s e d i a d a l a m
http://skripsi.umm.ac.id/ (20-06-2010)
Hurlock, B. E. (1980). Psikologi
Perkembangan. Edisi ke 5. Jakarta :
Erlangga.
Krahe, B. (2001). Perilaku Agresif. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.
Khotimah, K. (2006). Hubungan Dukungan
Sosial dan Kematangan Emosi dengan
Post Partum Depression Pada Ibu yang
Melahirkan Anak Pertama. Skripsi (tidak
diterbitkan). Semarang : Fakultas Psikologi
Universitas Negeri Semarang.
Martin, A. D. (2003). Emotional Quality
Management. Jakarta : Arga.
Rahayu, C. (2008). Hubungan Antara
Kematangan Emosi dan Konformitas
dengan Perilaku Agresif pada Suporter
Sepak Bola. Skripsi. Surakarta : Fakultas
Psikologi Universitas Muhammadiyah
Surakarta.
[online]. Tersedia dalam
http://etd.eprints.ums.ac.id/ (20-06-2010).
92
Jurnal Psikologi Pitutur
Download