cultural studies - Vivid Journal of Language and Literature

advertisement
e135: THE FUTURE LANGUAGE DICTIONARY1
Sawirman
Universitas Andalas Padang
ABSTRACT
How is the future dictionary should be created? This question is actually aimed at
revising and providing the strategic solutions on the weaknesses of contemporary
dictionaries. Instead of the lack of genealogical aspects, most dictionaries do not
explain the development of entries historically, and socio-cultural values are even
rare to describe. Various dictionaries only meet mere practical functions. In
essence, this is the ground of the significance of e135 conceptual framework as one
of guidelines in developing the future dictionary. This matter is definitely in
accordance with ethical responsibility of any dictionary as a medium of language
and cultural values conserving, not only as pure literal reference. Furthermore, this
writing is also intended to propose e135 framework to be used as prospective
model of developing various dictionaries entries genealogically in the world.
Keywords: words geneology, language dictionary, and e135
ABSTRAK
Bagaimana gambaran kamus masa depan yang diharapkan? Pertanyaan ini
sebenarnya dimaksudkan untuk merevisi dan memberikan solusi strategis terhadap
kelemahan-kelemahan kamus bahasa dewasa ini. Selain aspek genealogis yang
belum disentuh, kebanyakan kamus tidak memberikan gambaran terhadap
perkembangan entri dari masa ke masa. Di samping itu, nilai-nilai kultural dan
sosial yang mewarnai perkembangan suatu kata juga jarang sekali dibahas.
Kamus-kamus yang beredar selama ini umumnya masih berfokus pada fungsi
praktis semata. Hal inilah yang mendasari perlunya kerangka konseptual e135
digunakan sebagai salah satu guideline dalam mengembangkan kamus masa
depan. Hal ini sejalan dengan tanggung jawab etis sebuah kamus yang tidak hanya
sebagai acuan makna kata tetapi juga sebagai media pelestari bahasa dan nilai
budaya. Sembari memberikan masukan terhadap pengembangan kamus bahasa
tansi dimaksud, tulisan ini juga mengusulkan kerangka e135 untuk digunakan
sebagai salah satu model untuk pengembangan setiap entri secara genealogis
dalam pembuatan kamus setiap bahasa di dunia.
Kata kunci: genealogis kata, kamus bahasa, dan e135
1
Paper ini merupakan pengembangan dari salah satu subbagian Skim Penelitian Hibah
Bersaing Dikti yang penulis ketuai pada tahun 2009-2010 berjudul “Pengembangan
Pembelajaran Linguistik
Berbasis Kompetensi dan Cultural Studies Menuju
Pembentukan Kurikulum Magister dan Mazhab Linguistik Universitas Andalas”.
Sawirman
1. Pendahuluan
Tanggal 2 Maret tahun 2010, saya diundang sebagai salah seorang keynote
speakers untuk membedah sebuah kamus pidgin berjudul Kamus Bahasa Tansi
Sawahlunto. Kamus tersebut adalah terbitan Yayasan Pendidikan Roda Yogyakarta
tahun 2009 yang ditulis oleh Elsa Putri Ermisah Syafril. Di mata saya, kamus tersebut
memiliki spirit etis untuk mengkaji ranah-ranah yang selama ini terpinggirkan dan
termarjinalkan. Adalah menjadi alasan mengapa saripati makalah yang disampaikan
dalam forum tersebut ditulis dalam jurnal ini.
Sebuah kamus bahasa masa depan di mata saya minimal memuat (1)
penelusuran kata secara etimologis, (2) penelusuran kata secara genealogis
(mengungkap “sejarah ide” kata), (3) menelusuri perkembangan semantis kata
dalam konteks kekinian, (4) menelusuri pihak-pihak yang mempopulerkan kata,
(5) menelusuri miskonsepsi seputar kata, (6) membandingkan bentuk dan makna
kata dengan bentuk dan makna protonya, dan (7) mengungkap pola, imaji, citra,
arkeologi, ideologi, dan filsafat yang terdapat dalam setiap kata.
Untuk melahirkan kamus berdimensi aspek-aspek tersebut diperlukan
sebuah model. e135 diusulkan sebagai salah satu jembatan untuk mencapainya.
Secara substansial, materi pengembangan salah satu subbagian Skim Penelitian
Hibah Bersaing Dikti yang penulis ketuai pada tahun 2009-2010 ini pernah
disampaikan di Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto pada tanggal 2 Maret
2010 dalam forum Alek Tansi untuk membedah sebuah kamus berjudul Kamus
Bahasa Tansi karya Elsa Putri Ermisah Syafril terbitan Yayasan Pendidikan Roda
Yogyakarta tahun 2009.
263
Linguistika Kultura, Vol.03, No.03/Maret/2010
Gambar 1: Cupilkan Poster Alek Tansi
2. Kata dan Dokumentasinya
Kosakata merupakan unsur bahasa paling labil. Kontak bahasa dan
budaya biasanya ditandai dengan munculnya kosakata baru. Kemunculan
kosakata baru tersebut dapat dianggap sebagai gejala perubahan atau
perkembangan sebuah bahasa maupun budaya. Perubahan itu disebabkan oleh
faktor eksternal seperti sistem sosial, adat, budaya, agama, kepercayaan, dan
ideologi, selain faktor internal termasuk sistem kebahasaan itu sendiri dan
perubahan pada berbagai dimensi kehidupan masyarakat. Kosa kata Minang dan
bahasa Indonesia (BI) misalnya. Baik secara bentuk maupun semantis sejumlah
kosa kata Minang dan bahasa Indonesia (BI) berkembang pesat. Akan tetapi
perkembangan ini seakan-akan tidak didata oleh pihak-pihak yang berwenang
seperti Pusat Bahasa dan jajarannya. Yang lebih parah lagi bila seonggok kata
menghilang dari peredaran. Hilangnya jejak seperangkat leksikon adalah sebuah
pertanda hilangnya setupuk budaya, sejarah, dan ideologi yang ada di dalamnya.
Elsa Putri Ermisah Syafril (2009) adalah salah seorang yang berpikir ke arah
pelestarian itu.
Pada saat KTT Bumi PBB di Bali bulan tahun 2002 berlangsung, kata
hutang yang dulunya hanya bermakna hutang uang atau hutang emas,
berkembang maknanya menjadi hutang ekologis. Pernyataan “Negara majulah
yang harus membayar hutang kepada negara berkembang akibat kerusakan
lingkungan yang ditimbulkannya” santer mengemuka kala itu. Pernyataan
tersebut memuat “logika terbalik”. Negara-negara Selatan (sebutan lain untuk
negara-negara berkembang) seakan-akan tidak perlu lagi membayar hutang
uang kepada negara maju, karena kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh
negara maju tidak sebanding dengan pinjaman negara berkembang kepada
negara maju atau negara-negara utara. Secara semantis kata hutang sudah
mengalami perkembangan semantis ke arah meluas yang belum terdaftar dalam
entri kamus, misalnya dalam KBBI dan beberapa kamus berbahasa Inggris.
264
Sawirman
Dulu orang kita hanya memaknai kata kirim berhubungan dengan barang
atau uang, sekarang Indonesia khususnya Jakarta bermasalah dengan kata kirim
tersebut akibat adanya banjir kiriman setiap tahun dari Bogor ke Jakarta. Bila
difiturkan secara semantis, pada kata kirim yang melekat pada kata uang atau
barang memiliki fitur makna kesengajaan [+sengaja], sementara kata kirim pada
banjir kiriman memiliki fitur makna ketidakkesengajaan [-sengaja]. Dulu kata
cicak dan buaya hanya ditujukan kepada binatang atau playboy pada padanan
kata lelaki buaya, sekarang kata-kata ini juga bermakna KPK dan Polisi.
Tanpa disadari oleh berbagai pihak, pasca gempa tanggal 30 September
2009 di Sumatera Barat, sejumlah leksikon dan akronim semakin tersosialisasi.
Sebut misalnya ACT (Aksi Cepat Tanggap), TTD (Tim Tanggap Derurat), LCB
(Liburan Cerdas Bunda), wisata bencana, trauma healing, dan lain-lain. Katakata tersebut perlu diidentifikasi dan sebagiannya perlu diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia.
Gambar 2: Kata peduli adalah salah
satu kata yang banyak diberdayakan
dan dipadankan dengan kata lain.
Foto diambil di BIM bulan Oktober
2009.
Gambar 3:
Kata
peduli
dipadankan
dengan
bantuan. Foto diambil di BIM bulan
Oktober 2009.
Gambar 4: Kata Tidak Layak Huni yang ditempel oleh PNPM Mandiri pada
sejumlah rumah pasca gempa tanggal 30 September 2009 bukan berarti rumah
yang tidak bisa ditempati, tetapi dapat dimaknai sebagai rumah yang
kerusakannya agak parah sekalipun masih bisa dihuni secara layak. Foto diambil
di rumah penduduk bulan Oktober 2009. Kata-kata dengan nuansa terkait masih
perlu diteliti.
265
Linguistika Kultura, Vol.03, No.03/Maret/2010
Gambar 5: Salah satu spanduk saat trauma healing
dilakukan. Foto diambil 18 Oktober 2009. Kata
trauma healing hanyalah salah satu kata dari
ratusan kata yang belum ditemukan padanannya
dalam konteks bahasa Indonesia pasca gempa 30
September 2009.
Gambar 6: Salah satu
stiker di mobil bantuan.
Foto diambil di BIM
Oktober 2009
Pasti masih ingat dalam benak masyarakat Indonesia pada saat kata
contreng digunakan dalam Pesta Demokrasi tahun 2004. Dalam KBBI
(2002:220), setelah entri kata conteng yang berarti ‘pembungkus atau wadah dari
daun atau kertas yang berbentuk kerucut’ langsung meloncat ke entri cop yang
bersinonim dengan kata kecup. Dengan demikian, kata contreng belum terdaftar
dalam KBBI andalan Indonesia tersebut. Usut punya usut, ternyata kata contreng
adalah Dialek Betawi. Permasalahannya sekarang, sudahkah kata-kata itu
didaftar dalam KBBI cetakan terkini? Adalah sebuah kekeliruan besar dan akan
menjadi cacatan sejarah yang memalukan bila kata ini belum dibakukan menjadi
kata resmi bahasa Indonesia. Sejumlah akronim pun beredar kala itu. Partai
Keadilan Sejahtera (PKS) misalnya memunculkan sejumlah akronim baru, dari
partai kasih sayang hingga peduli kesejahteraan sesama. PKS tidak
menggunakan istilah “Ketua Partai”, tetapi “Presiden Partai” (baca pula
Sawirman, 2009).
Gambar 7: Kata Dapil Gambar 8: Selain Kata Dapil, kata DP. diberdayakan
diberdayakan
untuk pula untuk singkatan Daerah Pemilihan
singkatan Daerah Pemilihan
Bila tidak segera diinventarisasi dan didokumentasi, sejumlah kata tersebut akan
mengalami overgeneralisasi sehingga menjauh dari makna aslinya. Dengan
266
Sawirman
demikian, sebuah kamus yang merangkul penelusuran kata secara etimologis
dan genalogis dengan membandingkan bentuk dan makna kata dengan bentuk
dan makna protonya, perkembangan semantis kata dalam konteks kekinian,
pihak-pihak yang mempopulerkan dan miskonsepsi seputar kata, serta
penelusuran pola, imaji, citra, arkeologi, ideologi, dan filsafat yang terdapat
dalam setiap kata diperlukan untuk kamus masa depan.
Selama ini aspek genealogis jarang disentuh oleh pembuat kamus.
Kebanyakan kamus yang beredar belum memberikan gambaran terhadap
perkembangan entri dari masa ke masa. Kealfaan sang pembuat kamus
terhadap atensi nilai-nilai kultural dan sosial yang mewarnai perkembangan
suatu kata akan berkonsekuensi pada ketiadaan tanggung jawab etis. Hal inilah
yang mendasari diusulkannya kerangka konseptual e135 untuk dijadikan sebagai
salah satu guideline dalam mengembangkan kamus masa depan.
3. e135 sebagai Model Pengembangan Entri Kamus
e135 merupakan singkatan dari “Enkripsi 135”2. Ada lima tahapan analisis
dalam e135 yang disimbolkan dengan angka 5. Lima tahapan tersebut dirangkul
menjadi satu kata, yakni RESET (Refleksi, Ekspresi, Signifikasi, Eksplorasi, dan
Transfigurasi) yang masing-masingnya dilandasi dengan landasan ontologis,
epistemologis, dan aksiologis seperti dalam tabel berikut.
Tabel 1: Landasan Analisis dalam e135
5 Objek Material/ 5 Objek Formal
5 Tahapan
Ontologis
Epistemologis
Analisis
Filosofi, Fokus, Abstraksi
I
Refleksi
Pendekatan, Epistem, Data Logika, Sistem, Teori
Bahasa sebagai cermin
Pendekatan formalis
Logika reflektif
Epistemologi objektif
Sistem langue
Teks
Wacana Formalis
Bahasa sebagai ekspresi
Pendekatan fungsional
Logika ekspresi
Otoritas pemproduksi teks
Epistemologi subjektif
Sistem parole
Abstraksi fungsi
Intrateks
Fungsi wacana
Bahasa sebagai permainan
Pendekatan kritis
Logika semantis
Otoritas pengonsumsi teks
Epistemologi pragmatis
Sistem tanda
Abstraksi makna
Interteks
Semiotik
Otoritas teks/ produk
Abstraksi bentuk
II
Ekspresi
III Signifikasi
2
Aksiologis
Ada perubahan singkatan untuk huruf e pada e135 pada artikel ini. Pada beberapa
artikel saya terdahulu, huruf e pada e135 menyimbolkan sebuah eksemplar.
Perubahan tersebut tiada lain untuk menghargai masukan responden selama
melakukan uji coba pada model ini selama penelitian Hibah Bersaing tahun 2009.
267
Linguistika Kultura, Vol.03, No.03/Maret/2010
IV Eksplorasi
V Transfigurasi
Bahasa ajang dialektis
Pendekatan posmodernis
Logika dialektis
Otoritas intersubjektif
Epistemologi metaetis
Sistem dialektis
Abstraksi efek makna
Hiperteks
Hipersemiotik
Bahasa sebagai kesenangan
Pendekatan cultural studies
Logika filosofis
Otoritas interpretan
Epistemologi hermeneutis
Sistem nilai
Abstraksi solusi strategis
“Cultural studies”
Pemetaan Bahasa
Setiap paradigma memiliki objek material dan objek formal. Objek material dan
objek formal diaplikasikan pada lima tahapan analisis (simbol angka 5 pada
e135). Sebagai titik tolak pemahaman, masing-masing tahap diberi penjelasan
akademis ringkas seperti berikut.
a. Tahap refleksi
Beberapa filosofi yang mendasarinya tahap refleksi adalah language is a
mirror of mind (bahasa adalah cermin pikiran, refleksi realitas, atau refleksi
sebenarnya) seperti yang diungkapkan Chomsky, text is operational of language
seperti yang disebut Halliday. Tahap ini menyediakan ruang bagi penganut yang
menganggap tanda yang tersaji dalam wacana/tanda dinilai sama dengan
realitas empirik (X=X). Wacana/tanda berperan sebagai reflektor sekadar
menghadirkan fakta atau peristiwa yang ada atau berlangsung dalam realitas
empiris.
Pendekatan/teori wacana formalis atau teori-teori linguistik (mikro) dapat
digunakan pada tahap refleksi. Tahap ini merupakan ruang bagi para linguis
untuk membedakan analisis wacana yang mereka lakukan dengan analisis
wacana yang juga dilakukan oleh para ahli dalam sejumlah disiplin ilmu.
Pemanfaatan wacana formalis yang dimaksudkan tidak harus tergantung dengan
sebuah teori besar (grand narrative) tertentu. Tipe data sebuah wacana/teks
dijadikan sebagai titik sentral untuk memilih teori-teori formalis yang sepadan.
Bila sebuah wacana/teks memuat klausa pasif, maka teori pemasifan dan
pendatifan perlu diungkap terlebih dahulu. Sejumlah teori pasif/datif dalam
sejumlah aliran (baik wacana maupun sintaksis) dapat digunakan pada tahap ini.
Perlu diingat bahwa tidak ada satu pun teori yang betul-betul mampu
mengakomodasi semua tipe data dalam wacana/teks yang beragam. Dengan
kata lain, tahap refleksi menampung aneka teori formalis atau linguistik mikro
yang sesuai dengan tipe data yang dianalisis.
Tahap refleksi memaknai teks/wacana sebagai sebuah produk dalam
wujudnya secara fisik (“object oriented”). Objek material atau data yang
digunakan adalah teks (dalam artian teks atau wacana yang ditelaah, bukan
intrateks, interteks atau hiperteks). Tahap refleksi adalah elaborasi sistem
langue, determinisme teori sistem (mencari makna dari sumber standar dan
hukum keteraturan), kategori benar-salah, linear, bahasa sebagai cermin
monolitik, abstraksi bentuk, dan logika operasi praktis (sesuai nilai tukar) yang
memposisikan teks sebagai sebuah instrumen.
268
Sawirman
b. Tahap ekspresi
Ekspresi merupakan hubungan antara bahasa sebagai tanda dengan
konsep mental yang dipresentasikannya dengan realitas yang ada tentang fakta,
manusia, keadaan, peristiwa, benda nyata, atau objek fiktif. Sebagai kesatuan
intelectual organic (meminjam istilah Gramsci), praktik wacana, bahasa, atau
tanda yang dipresentasikan ke ruang publik adalah koleksi sejumlah ide, pikiran,
dan gagasan subjektif pemproduksi teks. Sebuah wacana merupakan hasil
konstruksi pengarang dengan percampuran faktor subjektivitas, ideologi, kultur,
dan nilai yang dianut pembuat teks. Konstruksi realitas yang dibuat pemproduksi
teks dari berbagai objek atau peristiwa menjadi wacana bermakna dan dapat
menentukan citra terhadap objek atau peristiwa dimaksud.
Dalam konteks e135, para analis wacana pada tahap ekspresi diharapkan
mampu mengungkap ekspresi mental di balik wacana/teks yang dihadirkan
secara tersembunyi oleh pemproduksi teks. Pemproduksi teks, wacana, tanda,
atau kata yang dimaksudkan bisa precurso3r, instigator4, produser5, distributor6,
atau intenceptor7. Dengan kata lain, bias kepentingan dan ideologis setiap subjek
(pengarang, media, institusi, dan lain-lain) sebagai pemproduksi teks perlu
menjadi titik perhatian tahapan ini. Analis diharapkan dapat “memposisikan diri”
sebagai pemproduksi teks pada tahap ini atau disebut “otoritas pengarang”.
Dengan demikian, e135 juga menghargai subjek pengeluar teks. Dengan kata
lain, e135 tidak serta merta menganggap “pengarang sudah mati” seperti klaim
Roland Barthes. Hak pengarang masih dihargai. Objek material tahap ini
dilakukan dengan “intrateks”. Term “intrateks” yang dimaksudkan teks-teks
sejenis yang juga dihasilkan oleh pemproduksi teks sebagai pelaku representasi.
Tahap ekspresi yang dimaksudkan dalam e135 dapat merangkul representasi
sejumlah fungsi kewacanaan (abstraksi fungsi).
Dalam konteks ini bahasa dianggap menjadi bagian dari sistem
representasi. Pertukaran makna terjadi ketika ada akses terhadap bahasa
bersama sebagai sistem langue. Bahasa sebagai sistem tanda (sign) akan
membawa makna setelah diwujudkan dalam bentuk kata, ungkapan, gaya, diksi,
suara, mimik, gestures, kesan, serta wilayah bahasa lainnya. Selain filosofi
Gadamer bahasa sebagai rumah ada (language is the house being) dan filosofi
Heidegger bahasa sebagai apresiasi, filosofi Halliday bahasa sebagai ekspresi
(perasaan, pengalaman, ide, pikiran, gagasan, dan pengalaman) serta filosofi
Gibbons bahwa “kata adalah rumah baru bagi gagasan universal” juga melandasi
tahapan ini.
3
4
5
6
7
Precursor yang dimaksudkan dalam e135 adalah aktor sosial yang pertama kali
menemukan, menciptakan suatu ide, tanda, dan wacana namun tanpa visi strategis.
Instigator yang dimaksudkan dalam e135 adalah aktor sosial yang pertama kali
memulai atau membangun visi suatu proses taktis atau strategis suatu wacana atau
tanda
Produser yang dimaksudkan dalam e135 adalah aktor sosial yang memproduksi
secara masif sebuah wacana atau tanda.
Konsep distributor yang dimaksudkan dalam e135 adalah penyalur suatu wacana atau
tanda kepada masyarakat atau komunitas
Interseptor yang dimaksudkan dalam e135 adalah aktor sosial yang memotong jalur
distribusi suatu wacana atau aktor sosial yang menyerobot atau melakukan sabotase
terhadap aliran makna suatu wacana atau tanda
269
Linguistika Kultura, Vol.03, No.03/Maret/2010
Ekspresi merupakan kongretisasi pemakai bahasa yang terbentuk melalui
perseptual, pengalaman, dunia ide, kesadaran batin, dan fungsi representasi
yang bila dikaitkan dengan statemen Halliday dapat disejajarkan dengan bahasa
sebagai wahana ideasional (wahana mengekspresikan sesuatu) dan
interpersonal (wahana menilai, menyikapi, dan berinteraksi). Bahasa sebagai
ekspresi “logika kesadaran”, sistem parole, emosi, pikiran, ide, dan tingkah laku,
bukan hanya sekadar serangkaian kata penunjuk benda. Objek material pada
tahapan representasi adalah data interteks. Semua teks yang terkait perlu
dipahami secara totalitas sebagai penghargaan pada otoritas the author.
c. Tahap signifikasi
Signifikasi adalah sebuah istilah yang sudah ada sejak Plato. Plato’s
notion that the image-like quality of an expression enables the addressee to
recognize what speaker is thinking his initial theory that “the signification of
words is given .... (Keller, 1998:111). Term signifikasi (signification) diberdayakan
kembali oleh Barthes dalam teori semiotika. Semiotika Barthes memiliki dua
tahap pemaknaan, yakni: (1) language object dan (2) signifikasi atau metalanguage (meta-bahasa). Aspek penting yang dikemukakan Barthes pada tahap
meta-bahasa adalah pentingnya peran pembaca (otoritas pembaca). Proses
pemaknaan terhadap teks adalah negosiasi antara representasi mental
pemproduksi teks (sebagai pelaku representasi) dengan representasi mental
pembaca teks. Tahap signifikasi dalam e135 menyediakan ruang bagi pembaca
seluas-luasnya untuk melacak makna terhadap representasi mental pemproduksi
teks. Tahap ini mengharapkan seorang analis teks agar memposisikan diri
sebagai seorang pembaca teks yang kritis untuk men-decode atau
menginterpretasikan makna teks.
Tanda yang tersaji dalam wacana/media belum tentu merefleksikan
realitas yang sebenarnya. Bisa saja tanda X mempresentasikan realitas X(tanda semu), atau tanda X mempresentasikan realitas X+ (tanda hiperealitas),
atau tanda X mempresentasikan realitas Y (tanda dusta), dan lain-lain. adalah
beralasan mengapa tahap signifikasi membutuhkan keaktifan pembaca dalam
memaknai sebuah teks agar dapat berfungsi sesuai dengan logika kesetaraan
nilai guna sebuah teks atau teks dianggap sebagai komoditas.
Semakin penuh pembaca diberi otoritas memaknai sebuah teks, maka
semakin sentral peran bahasa sebagai sebuah tanda. Tanda (lingual) dalam
sebuah teks tidak hanya berwujud morfem, fonem, kata, frase, klausa, kalimat,
dan paragraf, tetapi juga kategori, struktur, klasifikasi, diksi, kata/ klausa kunci,
dan ejaan yang digunakan merepresentasikan konsep, gagasan, atau perasaan
sehingga memungkinkan pembaca memaknainya. Menurut Saussure language
is a system of signs that express ideas, and is therefore comparable to a system
of writing, the alphabet of deaf–mutes, symbolic rites, polite formulas, military
signals, etc. but is the most important of all these systems8. Fungsi bahasa
menurut Stuart Hall juga dapat dianggap sebagai tanda9. Dengan demikian,
penggunaan ranah semiotika untuk menganalisis teks/wacana menjadi semakin
sentral. Sebagai representasi logika esensial, proposisi, metabahasa, dan sistem
8
Arthur Asa Berger, Media Analysis Techniques, Sage Publications, Beverly Hills,
California, 1982, hal. 16. dalam Hermawan (2008).
9
Stuart Hall (Ed.), Representation: Cultural Representations dan Signifying Practices,
Sage Publications, London, 1997, hal.5, seperti dikutip Hermawan 2008.
270
Sawirman
emik, data interteks dalam konteks ini dijadikan sebagai objek material. Tahap
signifikasi e135 yang dilandasi filosofi Wittgenstein, bahasa adalah permainan
(language is a game) dianggap sebagai abstraksi makna.
d. Tahap eksplorasi
Terma eksplorasi berasal dari bahasa Inggris exploration [explore+-tion].
Explore berarti “examined throughly in order to test, learn about” (Hornby,
1987:300). Istilah eksplorasi yang digunakan dalam e135 mengindikasikan agar
penjelajahan makna tanda/simbol lingual dianalisis sampai tahapan makna
terdalam(depth meaning) seperti harapan Baudrillard. Makna tersembunyi di
balik kata eksplorasi e135 dapat disejajarkan dengan (1) surplus meaning, telaah
plus, wacana ontologis, atau wacana tambah oleh Paul Ricoeur, (2) wacana baru
oleh Roland Barthes, (3) wacana explanatory oleh Chomsky, dan (4) depth
meaning oleh Baudrillard. Tahap eksplorasi dilandasi filosofi berpikir Herder
kutipan Gibbons (2002:142) yang menganggap bahasa sebagai ajang dialektis
untuk mencapai kesadaran reflektif. Sebagai representasi logika paradigmatis,
kemenduaan, dan perbedaan sesuai dengan nilai tanda/simbol sebagai ajang
dialektis, “data hiperteks” dalam konteks ini dijadikan sebagai objek material agar
negosiasi makna dengan kuasa dan dialektika struktur-agen sebuah teks dapat
terungkap dalam tahap ini. Para analis wacana pada tahap ini diharapkan tidak
lagi mempersoalkan kedudukan tanda/simbol, baik sebagai replika realitas
maupun menipu realitas, tetapi lebih concern pada jawaban bagaimana pihakpihak berkepentingan saling memperebutkan, saling mempertentangkan, saling
menegasikan, dan saling melakukan tesis, antitesis, sintesis terhadap sebuah
tanda/simbol. Otoritas intersubjektif Habermas atau kesesuaian teks dengan
interpretasi yang berbeda-beda berdasarkan norma, nilai universal, latar historis,
kultural, politis, ideologis, serta konteks ruang dan waktu masing-masing
pemproduksi teks ditelaah pada tahap ini.
e. Tahap transfigurasi
Menurut Ricoeur seperti dikutip Gibbons (2002:xviii), sebuah teks dari
sisi penulis teks tercipta melalui tiga tahapan, yakni: (1) pra-figurasi (tahap
pengalaman yang belum terumuskan); (2) konfigurasi (perumusan pengalaman
dan gagasan oleh penulis teks); dan (3) transfigurasi (penafsiran teks oleh
banyak orang secara berbeda). Ketiga tahapan itu menurut Ricoeur dan Gibbons
tidak pernah murni dan selalu terdistorsi oleh discursive practices. Dengan
demikian, implikasi dari tahap transfigurasi e135 adalah mempersilakan masingmasing analis memaknai wacana secara berbeda tergantung pada pemahaman
subjektif antar-analis berdasarkan horizon ekpektasinya. Kebebasan penelaah
teks/tanda seperti harapan para hermeneutis, dekonstruksionis, dan
posmodernis menjadi konsep kunci tahap transfigurasi. Tahap ini dilandasi
filosofi Barthes text is a pleasure yang dapat didekati baik dengan logika filosofis,
etis, preskriptif (prediksi ke depan), nilai hidup, nilai religius, kejiwaan, estetis,
kesucian, kesakralan, maupun dengan kearifan penelaah teks. Tahap ini adalah
“haknya” analisis teks untuk berinterpretasi berbasis sejumlah celah-celah
pemaknaan empat tahap sebelumnya.
4. Contoh analisis dengan e135
Untuk memaknai kata dengan lima tahapan dimaksud, antara lain dapat
dilihat pada contoh kata teror berikut.
271
Linguistika Kultura, Vol.03, No.03/Maret/2010
a. Tahap refleksi
Pada tahap ini, mencari bentuk dan makna proto sebuah kata diperlukan.
Pencarian bentuk dan makna proto (asali atau dasar) sebuah kata tidak mungkin
hanya ditemukan dari sebuah teks, kamus, atau buku. Kajian interteks pada
sejumlah sumber dan referensi harus dibedah secara kritis terlebih dahulu.
Berdasarkan penelusuran didapatkan fakta bahwa kata teror sering dikaitkan
dengan kekacauan dan kepanikan. Dengan demikian aspek psikologis dan
mental menjadi acuan semantis pemaknaan. Salah satu prinsip e135 adalah
pengenal prinsip shelter sebagai tempat persinggahan setiap makna. Dengan
demikian, makna tahap I akan disimpan dalam shelter 1 seperti pernyataan
berikut.
Shelter 1
Teror
Kata teror sering dikaitkan dengan kekacauan dan kepanikan dengan
menjadikan aspek psikologis dan mental menjadi fitur pemaknaan. Kata teror
pada awal kemunculannya dilekatkan pada sosok-sosok psikopat (Landau,
2002:700).
Analisis pemaknaan kata perlu dilanjutkan ke tahap kedua yang disebut dengan
tahap ekspresi.
b. Tahap ekspresi
Tahap ini perlu mencari pihak-pihak pemproduksi baik secara
kelembagaan maupun secara individual serta aneka aspek kepentingan yang
termaktub di dalam kata tersebut. Informasi yang didapatkan dapat disimpan
pada shelter 2 seperti pernyataan berikut.
Shelter 2
Teror
Kata teror dalam perspektif sejarah ternyata sebuah kata yang cukup tua. Kata
teror dan teroris atau sejenisnya ternyata dikenal hampir pada semua etnis,
negara, dan ideologi besar di dunia. Aspek-aspek politis, ideologis, ekonomis, dan
ekologis ternyata menjadi latar belakang utama. Aneka terma holy war (“perang
suci”) terdapat pada semua ideologi besar dunia (Amstrong, 2001). Stalin (pewaris
tahta Lenin) di Rusia saat “memegang sabuk juara pemerintahan teror”
menghabisi lawan politiknya Trotsky beserta keluarganya dengan cara sadis. Kata
teror masuk ke dalam kosa kata politis pada masa Revolusi Perancis. Istilah red
terror dan white terror pernah beredar pada masa revolusi Rusia tahun 1917.
Istilah ini berkembang menjadi great terror pada masa yang sama. Semasa
perang dingin, Rusia yang dianggap AS sebagai sarang teroris. Gerilya Macan
Tamil sekuler mengatasnamakan kemerdekaan wilayah utara Sri Lanka, kelompok
Hezbollah mengatasnamakan ekologis untuk mengusir tentara pendudukan Israel,
kelompok Hamas (atas nama perjuangan kemerdekaan Palestina), partai Kurdi
(atas nama menuntut kemerdekaan Kurdi), IRA (atas nama ideologi), al-Qaida
(atas nama ideologi), Lebanon, Irak, India, Lybia, Arab, Sigh, Kurdi, Tamil, Irlandia
(atas nama negara), serta Aceh, Ambon, dan Irian (atas nama etnis) pernah
mendapat julukan teroris dengan versinya masing-masing. Terlepas dari adanya
272
Sawirman
unsur rekayasa atau bukan, tragedy WTC, bom Bali I (12 Oktober 2002), JW
Marriott (5 Agustus 2003), Kadubes Australia (9 September 2004), bom Bali II (1
Oktober 2005), peledakan bom Madrid, Spanyol (11 Maret 2004), dan Bom
London (7 Juli 2005 yang terjadi tepat pada saat konferensi G8 di Skotlandia) dan
bom yang meledak di kota Delhi pada tanggal 29 Oktober 2005
mengatasnamakan ideologis (Piliang, 2004:225; Kendal, 2005; Tobing 2005;
Sawirman, 2008).
c. Tahap signifikasi
Tahap ini perlu mencari pihak-pihak yang menjadi target aksi dan wacana
teror baik secara kelembagaan maupun secara individual. Informasi yang
didapatkan dapat disimpan pada shelter 3 seperti pernyataan berikut.
Shelter 3
Teror
Sejarah terorisme dunia merilis catatan panjang aksi kelabu yang
dilakukan organisasi yang umumnya bersimbolkan religi dan politis. Seperti yang
diungkap oleh John Kendal (pengamat teroris AS) saat diwawancarai oleh Metro
TV (salah satu tv swasta di Indonesia) di tahun 2005, hampir semua ideologi besar
dunia dan negara di dunia memiliki catatan kelam seputar aksi teror yang
dilakukan oleh penganut dan warga negaranya. Kendal mengungkap secara detail
sejumlah aliran garis keras, aliran ekstrim, dan noda hitam sejarah yang pernah
dilakukan oleh “sekelompok makhluk” mengatasnamakan semua ideologi besar
dunia. Target Stalin (pewaris tahta Lenin) di Rusia menghabisi lawan politiknya
termasuk Trotsky beserta keluarganya. Semasa perang dingin, AS dijadikan
sebagai target wacana teror Rusia dan sebaliknya. Target Fight the Terror AS
pasca WTC adalah Al-Qaida, JI, dan lain-lain.
d. Tahap eksplorasi
Mencari kolokasi dan padanan kata teror dalam konteks kekinian secara
multidimensi menjadi titik fokus pada tahap ini. Berdasarkan kolokasi dan
padanan kata teror yang didapat dari berbagai sumber dalam konteks kekinian
maka pernyataan-pernyataan dalam kamus dapat berisi seperti dalam shelter 4
berikut.
Shelter 4
Teror
Dalam konteks kekinian10, kata teror dilekatkan pada berbagai ranah. Para
penderita penyakit susah tidur (insomnia) juga sering disebut night terror.
Sembilan buah kapal milik Angkatan Laut AS diberi nama HMS terror. Terror band
adalah nama sebuah grup band terkenal di dunia. di Antartica dan di USA, juga
ada nama mount terror (sebuah nama gunung). Sebutan terror core juga dipakai di
bidang mode khususnya pemakai gaya ekstrim. Teror juga menjadi judul sebuah
komik. Nama kapal Emsworth Oyster yang didesain, dibangun, dan dioperasikan
di sebuah desa atau daerah kecil di Inggris juga diberi nama Emsworth teror pada
tahun 1890-1900s. Istilah terror fiction juga beredar di kalangan para pengagum
fiksi horor. John Kendal tahun 2004 juga mengeluarkan istilah “millenium terrorist”
untuk menyebut para pelaku teror yang mau mengorbankan diri atau nyawanya
10
Sebagian contoh diakses dari http://en.wikipedia.org/wiki/terror/graphology
273
Linguistika Kultura, Vol.03, No.03/Maret/2010
untuk sebuah keyakinan atau ideologi yang dianggapnya benar, seperti tragedi
WTC, Bom Bali, Bom London, dan lain-lain.Istilah terror fiction juga beredar di
kalangan para pengagum fiksi horor. Dewasa ini, kata teror identik dengan
kriminal seperti yang marak diberitakan media massa. Kata ini mengalami
peyoratif sejak dilekatkan pada Islam pasca tragedi WTC.
e. Tahap transfigurasi
Tahap ini disebut juga tahapan solutif. Selain simpulan, aneka solusi
strategis diharapkan dapat muncul pada tahapan ini berbasis temuan empat
tahap temuan sebelumnya seperti pada shelter 5 berikut.
Shelter 5
Teror
Kata teror ternyata sudah mengalami overgeneralisasi sehingga
kehilangan arah makna dari makna asalnya. Kata teror yang secara genealogis
sejak awal kemunculannya sampai perkembangan makna dalam konteks kekinian
mengalami perubahan secara meluas (broadening).
Contoh tersebut baru analisis sekilas aplikasi e135 untuk mengungkap sebuah
simbol lingual yang diharapkan dapat menjadi salah satu panduan untuk
membuat kamus dan ensiklopedia masa depan. Analisis sejenis juga dapat
dilakukan pada semua genre leksikon lainnya.
5. Penutup
Kamus impian masa depan adalah kamus yang tidak hanya mampu
mendokumentasikan kata, tetapi juga mampu memberikan kecerdasan dan
perjuangan etis bagi kemanusiaan. Selain ke arah Postdiscourse Sawirman-e135
(PDS-e135),
Postsemiotics
Sawirman-e135
(PSS-e135),
Postkeyword
Sawirman-e135 (PKS-e135), dan Postlingual symbol Sawirman-e135 (PLSe135), dengan segala keterbatasan yang ada, e135 akan dikembangkan ke arah
teori menulis (writing theory) dan leksikologi yang berhubungan dengan dunia
perkamusan.
274
Sawirman
REFERENCE
Amstrong, K. 2001a. Sejarah Tuhan Kisah Pencarian Tuhan yang Dilakukan oleh
Orang-orang Yahudi, Kristen, dan Islam Selama Empat Ribu Tahun.
Bandung: Mizan.
Amstrong, K. 2001b. Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis. Terjemahan
Sirikit Syah. Surabaya: Risalah Gusti.
Chomsky, Noam. 2001. Maling Teriak Maling: Amerika Sang Teroris. Bandung:
Mizan Pustaka.
Chomsky, Noam. 2003. Power and Terror Perbincangan Tragedi WTC 11
September 2001. Terjemahan. Yogyakarta: Ikon Teralitera.
Hardiman, F.B. 2003. Terorisme: Paradigma dan Definisi. Dalam Marpaung dan
Al Araf, (eds). Terorisme, Definisi, Aksi, dan Regulasi. Jakarta: Imparsial.
Kuhn, T.S. 2002. The Structure of Scientific Revolution Peran Paradigma dalam
Revolusi Sains. Terjemahan Tjun Surjaman. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Piliang, Y.A. 2003. Hipersemiotika, Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna.
Yogyakarta: Jalasutra.
Piliang, Y.A. 2004. Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika.
Yogyakarta: Jalasutra
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Kamus Besar Bahasa
Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas.
Sawirman, dkk. 2007. Simbol Lingual, Material, dan Wacana Fotografis serta
Kontribusinya pada Kebijakan Nasional dan UU Antiterorisme. Laporan
Penelitian Hibah Bersaing tahun 2007.
Sawirman. 2008. Selamatkan Linguistik dengan e135. Makalah pada National
Seminar on Language Literature and Language Teaching di FBSS UNP
Padang tanggal 10-11 Oktober 2008
Sawirman. 2009a. e135: Campur Kode “Indomi”, “Indobet”, dan “Indolish” Elit
Indonesia
Sawirman. 2009b. e135 menuju Teori Linguistik Terapan dan Haki.
Dipresentasikan dalam Forum Nominasi Unand Award tanggal tanggal 27
September 2009 di Basko Hotel Padang.
Sawirman, dkk. 2009. Pengembangan Pembelajaran Linguistik
Berbasis
Kompetensi dan Cultural Studies Menuju Pembentukan Kurikulum Magister
dan Mazhab Linguistik Universitas Andalas. Laporan Penelitian Hibah
Bersaing Dikti Tahun 2009.
Sawirman. 2010. e135 Mengeksplorasi Aneka Ranah Bahasa dan Media.
Disampaikan dalam Seminar Internasional Melayu Lintas Media di Gedung
E Universitas Andalas tanggal 16 Februari 2010.
Syafril, Elsa Putri Ermisah. 2009. Kamus Bahasa Tansi Sawahlunto. Yogyakarta:
Yayasan Pendidikan Roda.
275
Download