Pemanfaatan Infusa Lidah Buaya (Aloe vera L) sebagai Antiseptik

advertisement
577
Pemanfaatan Infusa Lidah Buaya (Aloe vera L) sebagai
Antiseptik Pembersih Tangan terhadap Jumlah Koloni Kuman
Dyanti Warrahmah Dewi1, Siti Khotimah2, Delima Fajar Liana3
1
Program Studi Pendidikan Dokter, FK UNTAN
Prodi Biologi, FMIPA UNTAN
3
Departemen Pre Klinik Mikrobiologi Medik, Program Studi Pendidikan Dokter, FK UNTAN
2
Abstrak
Latar Belakang. Antiseptik adalah zat yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan
mikroorganisme patogen seperti virus, bakteri, parasit, dan jamur. Lidah buaya (Aloe vera L.)
merupakan tanaman fungsional yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Penelitian menunjukkan
lidah buaya (Aloe vera L.) memiliki kandungan saponin, flavonoid, polifenol, serta tanin yang
bersifat antiseptik. Metode. Skrining fitokimia menggunakan metode uji tabung. Aloe vera
diekstraksi dengan metode infundasi menggunakan akuades steril. Uji efek antiseptik pembersih
tangan menggunakan infusa lidah buaya konsentrasi 150%, 250%, dan 350%. Kontrol positif
menggunakan hand sanitizer sedangkan kontrol negatif menggunakan air mengalir. Sampel
kuman didapat dari swab telapak tangan responden yang dimasukan kedalam tabung berisi NaCl
0,9% dan dilakukan pengenceran berseri. Suspensi kuman ditumbuhkan pada media Plate Count
Agar dengan metode pour plate. Jumlah koloni kuman dihitung menggunakan colony counter
dengan memenuhi Standard Plate Counts (SPC) Hasil. Infusa Aloe vera L. dapat mengurang
jumlah koloni kuman pada telapak tangan dengan penurunan koloni terbanyak pada penggunaan
konsentrasi 350%. Kesimpulan. Infusa Aloe vera L. dapat mengurang jumlah koloni kuman pada
telapak tangan.
Kata Kunci: Antiseptik, Infusa Aloe vera L., Koloni Kuman
Background. An antiseptic is a substance that can inhibit the growth and development of
pathogenic microorganisms such as viruses, bacteria, parasites and fungi. Aloe vera L. is a
functional plant which widely cultivated in Indonesia. A research shows that Aloe vera L. consist
of saponins, flavonoids, polyphenols, and tannins that are antiseptic. Method. Phytochemical
screening test was performed by test tube method. Aloe vera were extracted by infundation method
using sterile aquadest. Testing of antiseptic hand cleaner used Aloe vera infusion with
concentration 150%, 250%, and 350%. Hand sanitizer was used as positive control while negative
control used running water. Germ sample was obtained from respondents hand swab which put
into NaCl 0,9% tube and made serial dilutions. Germ sample cultivated on Plate Count Agar with
pour plate method. Amount of germs colonies counted by colony counter in accordance with
Standart Plate Counts (SPC). Result. Aloe vera L. infusion can reduce the number of germs
colonies in hands with the highest colony decline on the use of 350% concentration. Conclusion.
Aloe vera L. infusion can reduce the number of germs colonies on hands.
Keywords: Antiseptic, Infusion of Aloe vera L., Germs Colonies
Jurnal Cerebellum. Volume 2. Nomor 3. Agustus 2106
578
Penyakit
LATAR BELAKANG
Antiseptik adalah zat yang
tangan.
perkembangan
mencuci
Penggunaan
upaya
antiseptik
untuk
didalam
inaktivasi
atau
menular
dengan mudah salah satunya melalui
dapat menghambat pertumbuhan dan
mikroorganisme.
infeksi
Oleh
tangan
keharusan
kuman
karena
untuk
itu
sering
adalah
suatu
menghilangkan
penyebab
penyakit
yang
kontak
yang
melenyapkan mikroba merupakan
ditularkan
langkah
sering dengan orang lain. Salah satu
yang
pencegahan
penting
terjadinya
untuk
infeksi.
cara
melalui
pencegahan
infeksi
yang
Penyakit infeksi (infectious disease)
ditetapkan oleh Center for Disease
adalah penyakit yang terjadi akibat
Control adalah dengan penggunaan
mikroorganisme
antiseptik
patogen
seperti
virus, bakteri, parasit, dan jamur.1
Menurut WHO tahun 2006,
lebih dari 45% kematian yang terjadi
untuk
membersihkan
tangan atau bagian tubuh lain yang
tercemar darah atau cairan tubuh
lainnya.4
di negara-negara ASEAN adalah
Era modern seperti saat ini
akibat penyakit infeksi.2 Penyakit
dimana
infeksi di Indonesia sendiri pada
dengan
berbagai
tahun 2010 menempati urutan kedua
jadwal
yang
yaitu sebesar 29,5%. Infeksi sendiri
masyarakat ingin serba praktis dalam
dapat
membersihkan
terjadi
di
masyarakat
masyarakat
disibukkan
kegiatan
padat
tangan.
serta
membuat
Dalam
(community acquired) maupun di
kondisi tertentu, orang susah mencari
rumah sakit (hospital acquired).3
air ataupun sabun pembersih tangan.
Jurnal Cerebellum. Volume 2. Nomor 3. Agustus 2106
579
Keberadaan sabun dan air terkadang
pada kulit yang berfungsi sebagai
tidak sesuai dengan yang diinginkan.
pelindung
Air yang tersedia terkadang tidak
mikroorganisme.
bersih, berbau, serta keluar dari
mudah terbakar dan pada pemakaian
keran yang sudah berkarat. Selain itu
berulang menyebabkan kekeringan
sabun yang digunakan bersama-
dan iritasi pada kulit.6
sama,
terkadang
menimbulkan
terhadap
infeksi
Alkohol
Meningkatnya
keinginan
kekhawatiran atas kebersihan dan
masyarakat
kesehatan pengguna sebelumnya.5
bahan alam atau “back to nature”,
Hand
merupakan
sanitizer
ditanggapi
dengan
menggunakan
banyaknya
pembersih
produk-produk topikal berbahan aktif
tangan hadir sebagai jalan keluar dari
tanaman untuk perawatan kesehatan,
permasalahan
Namun
kosmetik, dan pencegahan penyakit.
antiseptik
Hand sanitizer yang berasal dari
pembersih tangan (hand sanitizer) di
bahan alam lebih aman digunakan,
pasaran masih menggunakan alkohol
tidak
dengan konsentrasi ± 50% sampai
berbahaya,
70% sebagai bahan antibakterinya.
pernafasan, dan aman untuk anak-
Penggunan alkohol dalam pembersih
anak.7
beberapa
antiseptik
yang
untuk
juga
tersebut.
jenis
gel
mengandung
tidak
zat
kimia
merusak
tangan dirasa kurang aman terhadap
Lidah buaya (Aloe vera L.)
kesehatan karena alkohol merupakan
merupakan tanaman yang fungsional
pelarut
dapat
karena semua bagian dari tanaman
melarutkan lapisan lemak dan sebum
ini dapat dimanfaatkan baik untuk
organik
yang
Jurnal Cerebellum. Volume 2. Nomor 3. Agustus 2106
580
perawatan
tubuh
mengobati
maupun
berbagai
untuk
Proses
infundasi
dan
penyakit.
pengujian infusa sebagai antiseptik
Tanaman ini banyak dibudidayakan
pembersih tangan, dan pengambilan
di Indonesia terutama di Kalimantan
swab
Barat. Berdasarkan hasil penelitian
dilakukan di Laboratorium Biologi
dilaporkan bahwa lidah buaya (Aloe
Fakultas
vera
Pengetahuan
L.)
memiliki
kandungan
telapak
tangan
Matematika
Alam
saponin, flavonoid, polifenol, serta
Tanjungpura Pontianak.
tanin yang mempunyai kemampuan
Alat Penelitian
untuk membersihkan dan bersifat
antiseptik.8
responden
dan
Ilmu
Universitas
Alat yang digunakan pada
penelitian ini antara lain gelas ukur,
pipet tetes, pipet volumetrik, vortex,
METODE
labu erlenmeyer, tabung reaksi, rak
Waktu dan Tempat Penelitian
tabung, cawan petri, termometer,
Penelitian dilaksanakan mulai
inkubator,
Hot
plate, timbangan
bulan Agustus 2014 hingga Maret
analitik, blender, batang pengaduk,
2015. Sampel lidah buaya (Aloe vera
bunsen, autoklaf, lemari pendingin,
L.) didapat di Aloe Vera Center Jl.
oven,
28
Kecamatan
masker, lidi kapas steril, penjepit
Pontianak Utara. Skrining fitokimia
tabung reaksi, stopwatch, alumunium
dilakukan
foil, colony counter, spuit, gelas
Oktober
di
Siantan,
Laboratorium
Non
Mikroskopik Fakultas Kedokteran
penangas
air,
Handscun,
beker, label.
Universitas Tanjungpura Pontianak.
Jurnal Cerebellum. Volume 2. Nomor 3. Agustus 2106
581
mencuci tangan menggunakan air
Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan pada
mengalir sebagai perlakuan kontrol
penelitian ini antara lain lidah buaya,
negatif, perlakuan mencuci tangan
media Plate Count Agar, aquades,
menggunakan hand sanitizer sebagai
spiritus, asam asetat glasial, asam
kontrol positif, perlakuan mencuci
klorida pekat, asam sulfat pekat, besi
tangan menggunakan infusa lidah
(III) klorida 1%, besi (III) klorida
buaya (Aloe vera L.) konsentrasi
5%, kalium iodida (KI), serbuk
150%,
magnesium,
konsentrasi 350% sebagai kelompok
pereaksi
Mayer,
konsentrasi
kloroform, larutan NaCl 0,9%, Hand
eksperimen.
sanitizer.
Prosedur Kerja
Responden Penelitian
Pengolahan Sampel
Responden penelitian adalah
Mahasiswa/i
dan
Sampel yang digunakan pada
Studi
penelitian ini adalah pelepah lidah
Universitas
buaya (Aloe vera L.). Pelepah lidah
Tanjungpura Angkatan 2011-2012
buaya (Aloe vera L.) yang telah
berjumlah 15 orang.
dikumpulkan,
Rancangan Penelitian
kemudian dicuci menggunakan air
Pendidikan
Program
250%,
Dokter
Penelitian
ini
merupakan
yang
disortasi
mengalir
sampai
basah,
bersih,
penelitian eksperimental murni (true
dikeringanginkan di dalam ruangan
experimental design) dengan metode
tanpa
Rancangan Acak Lengkap (RAL),
langsung,
terkena
sinar
disortasi
matahari
kering,
menggunakan lima perlakuan yaitu
Jurnal Cerebellum. Volume 2. Nomor 3. Agustus 2106
582
dihaluskan
dengan
menggunakan
menjadi warna hijau, biru atau ungu
blender.9
menunjukkan
Pembuatan Infusa
fenol. 11-13
Infundasi pelepah lidah buaya
(Aloe vera L.)
adanya
senyawa
Pemeriksaan Flavonoid
dilakukan dengan
Infusa
sebanyak
1
ml
menyari simplisia dengan akuades
dimasukkan ke dalam tabung reaksi,
steril pada suhu 90oC selama 15
ditambahkan
menit.10
magnesium sebanyak 1 g dan 1 ml
Skrining Fitokimia
larutan
Pemeriksaan Alkaloid
Perubahan warna larutan menjadi
Infusa
sebanyak
1
ml
asam
dengan
klorida
flavonoid. 11-13
lalu ditambahkan 3 tetes kloroform
Pemeriksaan Saponin
3
tetes
Terbentuknya
pekat.
warna kuning menandakan adanya
dimasukkan ke dalam tabung reaksi
dan
serbuk
pereaksi
Mayer.
endapan
putih
dimasukkan ke dalam tabung reaksi,
adanya
lalu ditambahkan 10 ml air, setelah
mengindikasikan
Infusa
sebanyak
2
ml
alkaloid.11-13
itu dikocok dengan kuat selama 10
Pemeriksaan Fenol
menit lalu dibiarkan selama 10
Infusa
sebanyak
1
ml
menit. Buih/busa yang terbentuk dan
dimasukkan ke dalam tabung reaksi,
bertahan
lebih
dari
10
menit
ditambahkan tiga tetes air panas dan
menunjukkan adanya saponin. 11-13
tiga tetes pereaksi besi(III) klorida
1%.
Perubahan
warna
larutan
Jurnal Cerebellum. Volume 2. Nomor 3. Agustus 2106
583
Infusa Lidah Buaya digunakan untuk
Pemeriksaan Tanin
Infusa
sebanyak
1
ml
membersihkan
telapak
tangan
selanjutnya
telapak
dimasukkan ke dalam tabung reaksi,
responden,
lalu ditambahkan 3 tetes besi(III)
tangan di swab dan dimasukan ke
klorida 5%. Bila terbentuk warna
tabung berisi NaCl 0,9% setelah itu
biru
dilakukan
tua
atau
kehitaman
pengenceran
berseri.
menunjukkan adanya tanin. 11-13
Suspensi kuman dari masing-masing
Pemeriksaan Triterpenoid-Steroid
pengencaran
Infusa
media Plate Count Agar dengan
dimasukkan ke dalam tabung reaksi,
metode pour plate, diinkubasi pada
lalu ditambahkan dengan 1 ml asam
suhu 37oC selama 48 jam. Koloni
asetat glasial dan 1 ml larutan asam
yang tumbuh dihitung menggunakan
sulfat pekat. Jika warna larutan
colony counter dengan memenuhi
berubah menjadi biru atau ungu,
Standart Plate Counts (SPC).14,15
adanya
1
pada
ml
menandakan
sebanyak
ditumbuhkan
kelompok
senyawa steroid, jika terdapat cincin
HASIL
merah
Infusa Daun Mangga Bacang (M.
menunjukkan
adanya
kelompok senyawa triterpenoid. 11-13
foetida L.)
Infusa lidah buaya ( Aloe
Uji Infusa Lidah Buaya (Aloe vera
vera L.) menghasilkan cairan kental
L.) sebagai Antiseptik Pembersih
berwarna hijau kecoklatan sebanyak
Tangan
150 ml pada konsentrasi infusa
150%, 250 ml pada konsentrasi
Jurnal Cerebellum. Volume 2. Nomor 3. Agustus 2106
584
250% dan 300 ml pada konsentrasi
penggunaan
350% .
CFU/cm2 pada penggunaan infusa
Uji Infusa Lidah Buaya (Aloe vera
250%,
L.) sebagai Antiseptik Pembersih
penggunaan
Tangan terhadap Jumlah Koloni
Berdasarkan guideline jumlah koloni
Kuman
kuman menurut interpretasi indikator
Berikut adalah hasil uji infusa
infusa
dan
150%,
CFU/cm2
2
infusa
kebersihan
3
pada
350%.
tangan16
telapak
lidah buaya (Aloe vera L.) sebagai
menunjukan jumlah koloni kuman
antiseptik pembersih tangan terhadap
pada responden kelompok kontrol
CFU/cm2
negatif dan kelompok infusa 150%
jumlah
koloni
kuman
telapak tangan responden:
dikategorikan sangat kontaminasi,
Hasil uji infusa lidah buaya
sedangkan pada responden kelompok
(Aloe vera L.) sebagai antiseptik
kontrol positif, infusa 250%, dan
pembersih
infusa 350% dikategorikan bersih.
tangan
menunjukan
terdapat penurunan jumlah koloni
Penurunan
kuman
masing responden perlakuan yang
responden
menggunakan
infusa lidah buaya (Aloe vera L.)
dengan
konsentrasi 150%, 250%, dan 350%.
sebagai
telapak
koloni
kuman pada telapak tangan masing-
infusa
pada
jumlah
setelah
antiseptik
tangan
menggunakan
pembersih
Hal ini ditunjukan dengan
tangannya diduga akibat kandungan
rerata jumlah koloni kuman pada
senyawa metabolit sekunder yang
responden kontrol negatif yaitu 26
terkandung pada infusa lidah buaya
CFU/cm2 menjadi 14 CFU/cm2 pada
(Aloe vera L.) seperti tanin, saponin,
Jurnal Cerebellum. Volume 2. Nomor 3. Agustus 2106
585
alkaloid,
flavonoid,
triterpenoid
fenol,
mimiliki
dan
mekanisme
Adenosina trifosfat yang menurun
mengakibatkan
terhambatnya
kerja yang sama seperti mekanisme
pertumbuhan dan perkembangan sel
kerja antiseptik dalam menghambat
kuman dan selanjutnya menyebabkan
atau membunuh kuman.
kematian sel.17,18
Senyawa
fenol
mampu
Mekanisme kerja flavonoid
melakukan migrasi dari fase cair ke
berfungsi sebagai antiseptik diduga
fase lemak yang terdapat pada
dengan cara berinteraksi dengan sel
dinding sel yang dapat meyebabkan
bakteri
turunnya tegangan permukaan sel,
melibatkan ikatan hidrogen dengan
sehingga senyawa fenol dapat masuk
gugus fenol. Atom H pada kompleks
ke dalam sel. Senyawa fenol juga
protein yang terdapat pada dinding
dapat berikatan dengan atom H dari
sel berikatan dengan gugus fenol
protein
protein
pada flavonoid, selanjutnya protein
terganggu. Protein yang merupakan
mengalami penguraian diikuti oleh
komponen enzim apabila mengalami
penetrasi flavonoid ke dalam sel dan
kerusakan akan menganggu kerja
menyebabkan
enzim.
denaturasi protein plasma.19
sehingga
Apabila
pada
enzim,
kerja
terjadi
kerusakan
maka
melalui
Terpenoid
adsorpsi
presipitasi
dapat
yang
serta
berikatan
akan
dengan protein pada membran sel
metabolisme
mikroorganisme salah satunya pada
produksi
bakteri. Membran sel bakteri sendiri
adenosina trifosfat (ATP) menurun.
terdiri dari fosfolipid dan molekul
mengakibatkan
menurun,
sehingga
Jurnal Cerebellum. Volume 2. Nomor 3. Agustus 2106
586
protein. Kerusakan membran sel
bakteri
dapat
metabolisme sel bakteri sehingga
terjadi
bereaksi
ketika
dengan
sisi
terpenoid
aktif
dan
dari
menyebabkan
membran sel atau dengan melarutkan
kematian.18, 21
konstituen lipid atau protein dan
meningkatkan
permeabilitasnya.
Akibatnya dapat terjadi lisis sel.20
Mekanisme
bakteri
mengalami
Mekanisme saponin sebagai
antiseptik diduga saponin bereaksi
dengan porin (protein transmembran)
yang
pada membran luar dinding sel
antiseptik
mikroba, membentuk ikatan polimer
adalah tanin dapat mengikat salah
yang kuat sehingga mengakibatkan
satu protein adhesin pada bakteri
rusaknya porin. Rusaknya porin yang
yang
reseptor
merupakan pintu keluar masuknya
permukaan bakteri sehingga terjadi
senyawa mengurangi permeabilitas
penurunan daya perlekatan bakteri
membran sel mikroba yang akan
dan mengganggu sintesis dinding sel,
mengakibatkan sel mikroba tersebut
akibatnya terjadi pengerutan dinding
akan kekurangan nutrisi, sehingga
sel dan terjadi kebocoran dinding sel.
pertumbuhan bakteri terhambat atau
diperkirakan
tanin
mengganggu
sebagai
dipakai
sebagai
Tanin juga dapat masuk ke
dalam
membran
sel
dengan
mati.22
Senyawa
alkaloid
diduga
menembus plasma melalui saluran
dapat digunakan sebagai antiseptik
porin
plasma.
karena terdapat gugus basa yang
mempresipitasi
mengandung nitrogen akan bereaksi
protein pada proses sintesis protein
dengan senyawa asam amino yang
pada
Selanjutnya
membran
tanin
Jurnal Cerebellum. Volume 2. Nomor 3. Agustus 2106
587
menyusun
dinding
sel
mikroba
dengan
nilai
significancy
untuk
seperti pada dinding sel bakteri dan
masing-masing kelompok semuanya
DNA bakteri.
1,000 (> 0,05). Berdasarkan hasil uji
Reaksi
ini
mengakibatkan
variansi
data
didapatkan
bahwa
terjadinya perubahan struktur dan
variansi data juga normal p=1,000
susunan
(>0,05).
asam
amino,
menimbulkan
sehingga
perubahan
Karena data terdistribusi dan
keseimbangan genetik pada rantai
bervariansi normal maka dilakukan
DNA sehingga
akan mengalami
uji one way analysis of variance
kerusakan
akan
mendorong
(ANOVA) dengan hasil nilai Sig.
terjadinya lisis sel bakteri, akhirnya
adalah 0,000 (<0,05) artinya terdapat
menyebabkan kematian sel pada
perbedaan bermakna antar kelompok
bakteri.23
metabolit
data. Selanjutnya dilakukan analisis
sekunder yang kompleks ini diduga
Post Hoc untuk uji ANOVA adalah
bekerja
Least Significant Difference (LSD).
dan
Senyawa
saling
berkaitan
untuk
menghambat atau membunuh kuman
Uji LSD menunjukan bahwa
sehingga dapat mengurangi jumlah
konsentrasi ifusa lidah buaya (Aloe
koloni kuman pada telapak tangan
vera
responden penelitian.
konsentrasi yang paling signifikan
L.)
350%
merupakan
dalam mengurangi jumlah koloni
kuman.
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil uji normalitas
didapatkan data terdistribusi normal
Jurnal Cerebellum. Volume 2. Nomor 3. Agustus 2106
588
5.
KESIMPULAN
Infusa lidah buaya (Aloe vera
L.) pada konsentrasi 150%, 250%,
6.
dan 350% dapat mengurangi jumlah
koloni kuman pada telapak tangan
7.
responden.
Perlu
dilakukan
penelitian
potensi lidah buaya (Aloe vera L.)
sebagai antiseptik pembersih tangan
dengan
teknik
ekstraksi
8.
9.
10.
dengan
11.
penggunaan konsentrasi yang lebih
kecil dibandingkan dengan teknik
infusa.
12.
13.
14.
DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
15.
Ministry
of
Health
Malaysia.
Antiseptics for Skin Preparations Prior
to
Procedures.
Kuala
Lumpur,
Malaysia:
Health
Technology
Assessment Section (MaHTAS); 2010.
World Health Organization (WHO),
Hand Hygiene: Why, How, andWhen?.
(Online)
2009.
http://www.who.int/gpsc/5may/Hand_
Hygiene_Why_How_and_When_Broc
hure.pdf (17 juli 2014).
Kementerian Kesehatan RI. Rencana
Strategis
Kementerian
Kesehatan
Tahun 2010-2014. Jakarta; 2010.
Bailey, R. Bacteria And Food
Poisoning.
(Online)
2010.
http://biology.about.com/od/bacteriolo
gy/a/aa072706a.htm (7 April 2014).
16.
17.
18.
19.
Rahman, M.A. Kitosan Sebagai bahan
Antibakteri Alternatif Dalam Formulasi
Gel
Pembersih
Tangan
(Hand
Sanitizer). Institut Pertanian Bogor:
Departermen Teknologi Hasil Perairan;
2012.
Block S. Disinfection, Sterilization and
Preservation, 4th. Edition. Williams
and Wilkins. P; 2001,
Retnosari. Studi Efektivitas Sediaan
Gel Antiseptik Tangan Ekstrak Daun
Sirih (Piper betle Linn.). Jurnal
Farmasi Indonesia; 2006; 17(4), 163169.
Hariana, A. Tumbuhan Obat dan
Khasiatnya, Seri 2. Jakarta: Penebar
Swadaya; 2008.
Gunawan D dan Mulyani S. Ilmu Obat
Alam (Farmakognosi). Jakarta: Penebar
Swadaya; 2004.
Departemen
Kesehatan
Republik
Indonesia. Sediaan Galenik. Jakarta.
Depkes RI. 1999.
Farnsworth NR. Biological and
Phytochemical Screening of Plant. J.
Pharm.Sci. 1966; 55:59.
Harborne JB. Metode Fitokimia
Penentuan Cara Modern Menganalisis
Tumbuhan. Bandung: ITB; 1987.
Departemen
Kesehatan
Republik
Indonesia. Farmakope Indonesia, Edisi
4. Jakarta: Depkes RI; 1995.
Waluyo, L. Mikrobiologi Umum.
Malang: UMM Press; 2009.
Harmita dan Radji, M. Buku Ajar:
Analisis Hayati. Jakarta: EGC; 2008.
Centers for Disease Control and
Prevention
(CDC).
General
Information on Hand Hygiene.
(Online)
2009.
http://www.cdc.gov./htm ( 27 juli
2014).
Brooks, GF., Butel, JS., dan Morse,
SA. Mikrobiologi Kedokteran, Edisi
23. Jakarta: EGC; 2007.
Dhayanti, A.P.Y.,Trisunuwati, P.,
Murwani, S. Efek Antimikroba Ekstrak
n-Hekasa Daun Kelor (Moringa
oleifera Lamk.) terhadap Escherichia
coli. Universitas Brawijaya, Program
Studi Pendidikan Dokter Hewan; 2013
Rachmawaty, F.J., Citra, D.A.,
Nirwani, B., Nurmasitoh, T., dan
Wibowo, E.T. Manfaat Sirih Merah
(Piper crocatum) sebagai Agen Anti
Jurnal Cerebellum. Volume 2. Nomor 3. Agustus 2106
589
20.
21.
22.
23.
Bakterial terhadap Bakteri Gram Positif
dan Bakteri Gram Negatif. Jurnal
Kedokteran Mastarakat; 2009; 25:
167-175.
Mayanti, T., Tjokronegoro, R.,
Supratman, U., Mukhtar, M. R.,
Awang, K., dan Hamid, A. A.
Antifeedant Triterpenoids from the
Seeds and Bark of Lansium
domesticum cv Kokossan (Meliaceae),
Molecules; 2011; 16: 2785-95.
Juliantina, F., Citra, D.A, Nirwani, B.,
Nurmasitoh, T., dan Bowo, E.T.
Manfaat Sirih Merah (Piper crocatum)
sebagai Agen Anti Bakterial terhadap
Bakteri Gram Positif dan Bakteri Gram
Negatif. Jurnal Kesehatan Indonesia,
vol 1; 2013; pp. 11-21.
Furnawanthi, I. Khasiat dan Manfaat
Lidah Buaya. Jakarta: Agromedia
Pustaka; 2002.
Simbala, Herny E.I. Analisis Senyawa
Alkaloid Beberapa Jenis Tumbuhan
Obat Sebagai Bahan Aktif Fitofarmaka.
Pacific Journal; 2009 Vol 1 (4) : 489494.
Jurnal Cerebellum. Volume 2. Nomor 3. Agustus 2106
Download