UPAYA MENINGKATKAN BELAJAR BAHASA

advertisement
UPAYA MENINGKATKAN BELAJAR BAHASA ARAB SEDERHANA
DENGAN MENGGUNAKAN (READING ALOUD) MEMBACA KERAS
Sebuah Penelitian Tindakan Kelas SISWA RA MASITHOH KEBUMEN
BANYUBIRU SEMARANG
TAHUN 2010
Diajukan Untuk Menyusun
SKRIPSI
Oleh:
SITI NUR ASIYAH
NIM: 114 08 043
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
SALATIGA
2010
ii
Skripsi saudari Siti Nur Asiyah dengan nomor induk mahasiswa 11408043
yang berjudul UPAYA MENINGKATKAN BELAJAR BAHASA ARAB
SEDERHANA DENGAN MENGGUNAKAN (READING A LOUD)
MEMBACA KERAS SISWA RA MASITHOH KEBUMEN BANYUBIRU
SEMARANG TAHUN 2010 telah dimunaqosyahkan dalam siding panitia
ujian jurusan tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga
pada tanggal 25 September 2010 dan telah diterima sebagai bagian dari
syarat-syarat untuk memperoleh gelar sarjana Pendidikan Islam (S.Pdi).
Nurwanto,
M.Hum
197510152002121006
NIP…………………
iii
iii
MOTTO
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah
selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang
lain.
KUPERSEMBAHKAN:
Keluarga
dan
putraku
Varel
tercinta, serta rekan-rekan yang aku
sayangi yang telah memberikan
dorongan
hingga
penulisan skripsi.
iv
selesainya
KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah
melimpahkan
rahmat
dan
hidayah-Nya,
sehingga
penulis
dapat
menyelesaikan penulisan penelitian ini yang bertujuan untuk memenuhi salah satu
syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi
Agama Islam Salatiga.
Dalam penulisan ini, penulis banyak mendapat bantuan serta bimbingan
sampai terselesaikannya penulisan penelitian ini. Oleh sabab itu tak lupa penulis
ucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Imam Sutomo, selaku Ketua STAIN Salatiga.
2. Bapak Norwanto, M.Hum, selaku pembimbing skripsi di STAIN
Salatiga, terima kasih atas bimbingannya dari awal sampai
terselesaikannya skripsi ini.
3. Bapak Rozikin, selaku Kepala MI Kebumen Banyubiru Kabupaten
Semarang.
4. Ibu Farida Ariyani, selaku Kepala RA Masitoh Kebumen Banyubiru
Kabupaten Semarang.
5. Rekan-rekan Guru RA Masitoh Kebumen Banyubiru Kabupaten
Semarang, terima kasih dukungannya.
6. Keluarga tercinta dan tersayang serta rekan-rekan mahasiswa kalian
akan selalu dihati
v
7. Putraku Varel yang lucu, tercinta dan tersayang, cepat besar, jadi anak
yang baik, berguna bagi nusa dan bangsa. Amin.
8. Terima kasih kuucapkan buat seseorang (Adit Ambon) yang telah
mendukungku dan memberikan bantuan baik materi ataupun spiritual
dalam pembuatan skripsi ini.
Akhir kata, semoga Allah SWT memberikan balasan atau imbalan pahala
yang sebesar-besarnya atas jasa dan bantuan yang telah diberikan. Penulis
berharap penelitian ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Salatiga, Agustus 2010
Penulis,
vi
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL.......................................................................................
i
HALAMAN NOTA PEMBIMBING..............................................................
ii
HALAMAN PENGESAHAN KELULUSAN................................................
iii
HALAMAN MOTTO .....................................................................................
iv
KATA PENGANTAR ....................................................................................
v
DAFTAR ISI...................................................................................................
vii
ABSTRAK ......................................................................................................
ix
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................
1
A. Latar Belakang ............................................................................
1
B. Rumusan Masalah .......................................................................
3
C. Tujuan Penelitian ........................................................................
4
D. Manfaat Penelitian ......................................................................
4
E. Metodologi Penelitian .................................................................
5
F. Sistematika Penulisan Skripsi. ....................................................
15
BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................
17
A. Membaca .....................................................................................
17
B. Membaca Keras...........................................................................
35
C. Kerangka Berfikir........................................................................
48
D. Hipotesis Tindakan......................................................................
49
vii
BAB III DESKRIPSI SEKOLAH...................................................................
50
A. Tempat Penelitian........................................................................
50
BAB IV ANALISIS DATA ..........................................................................
57
A. Penyajian Data ...........................................................................
57
B. Deskripsi Pelaksanaan Siklus 1..................................................
58
C. Deskripsi Pelaksanaan Siklus 2..................................................
69
D. Deskripsi Pelaksanaan Siklus 3..................................................
75
E. Hasil Penelitian dan Pembahasan................................................
80
BAB V PENUTUP ......................................................................................
85
A. Simpulan ...................................................................................
85
B. Saran .........................................................................................
86
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
viii
ABSTRAK
"UPAYA MENINGKATKAN BELAJAR BAHASA ARAB SEDERHANA
DENGAN MENGGUNAKAN (READING ALOUD) MEMBACA KERAS
Sebuah Penelitian Tindakan Kelas SISWA RA MASITHOH KEBUMEN
BANYUBIRU SEMARANG TAHUN 2010".
Tujuan yang diharapkan dapat dicapai kegiatan penelitian ini adalah
sebagai berikut: Untuk mengetahui apakah strategi pembelajaran Reading Aloud
(membaca keras) dapat meningkatkan perhatian siswa berupa aktivitas dalam
mata pelajaran bahasa arab setelah diterapkan metode Reading Aloud. Untuk
mengetahui apakah pembelajaran metode Reading Aloud (membaca keras) dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa. Untuk mengetahui apakah pembelajaran
metode reading aloud (membaca keras) dapat meningkatkan aktifitas siswa dalam
mata pelajaran bahasa arab.
Metode penelitian yang peneliti gunakan adalah: Rancangan Penelitian:
Rancangan penelitian yang ditetakan berupa penelitian tindakan kelas (Classroom
Actiob research), yaitu sebagai bentuk penelitian refleksi yang dilakukan oleh
pendidik sendiri terhadap kurikulum pengembangan sekolah, meningkatkan
prestasi belajar, pengembangan keahlian mengajar dan sebagainya. Tahapantahapan dalam rencana penelitian tindakan kelas adalah; Perencanaan,
Pelaksanaan tindakan kelas, Pengamatan tindakan kelas, Refleksi. Instrumen
Penelitian: Untuk mendapatkan data yanmg akurat perlu disusun suatu instrumen
yang valid dan relible. Instrumen yang peneliti gunakan adalah instrumen yang
sesuai dengan penelitian tindakan kelas dan untuk mendapatkan data yang
sebenarnya, maka peneliti menggunakan instrumen yang valid. Instrumen yang
valid adalah instrumen yang mampu dengan tepat mengukur apa yang hendsak
diukur dengan instrumen yang tepat guna. Metode pengumpulan data: Adalah
suatu cara yang digunakan untuk mengamati variabel yang akan diteliti dengan
metode wawancara, tes, observasi, kuesioner, sehingga memperoleh
data/informasi-informasi yang sesuai dengan harapan. Metode Tes: digunakan
lembaran tes yang dikerjakan siswa, baik berupa tes awal maupun tes akhir.
Metode observasi: Dalam pengambilan data dipandu dengan lembaran
pengamatan yang dilakukan langsung oleh peneliti.
Hasil penelitian pada penelitian di atas adalah sebagai berikut: Belajar
bahasa arab dengan sederhana dengan reading aloud belum meningkatkan
pemahaman siswa kepada guru pada pelajaran bahasa arab sederhana tema diri
sendiri. Terbukti pada hasil yang disimpulkan dari adanya 10 (59%) siswa total 17
siswa memperoleh nilai BM berarti masih terdapat 59% siswa belum terbiasa
dengan metode reading aloud. Belajar bahasa arab sederhana dengan reading
aloud dapat meningkatkan prestasi siswa. Kesimpulan ini berdasarkan dari
peningkatan prestasi belajar siswa yang dilihat dari nilai siswa yang semakin
meningkat dari siklus 1 hingga siklus 3, yaitu dari 7 orang (31%), 11 orang (65%)
dan 15 orang (88%).
Kata kunci: Membaca keras, refleksi, instrument, observasi, kuesioner.
ʝ
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia terlahir sebagai makhluk sosial, dalam semua kegiatannya
selalu membutuhkan orang lain. Kecenderungan inilah yang mendorong untuk
selalu kontak dan integrasi antar sesama. Sadar akan adanya kebutuhan untuk
saling berhubungan antar sesamanya, kemudian manusia menciptakan suatu
alat yang dapat mempertemukan alam pikiran antar anggota masyarakat yang
kemudian dikenal dengan bahasa. Sehubungan dengan kepentingan manusia
terhadap penguasaan bahasa sebagai alat penghubung utama antar sesamanya,
maka berbagai upaya dan pendekatan untuk menyeragamkan dalam
penggunaannya.
Bimbingan
belajar merupakan
salah
satu usaha
yang perlu
dilaksanakan untuk mencapai tujuan belajar yang maksimal. Pelaksanaan
bimbingan dilatarbelakangi oleh beberapa aspek diantaranya aspek psikologis,
sosiologis, cultural dan pedagogis. Aspek psikologis dalam proses pendidikan
menempatkan siswa sebagai subyek didik yang merupakan pribadi unik
dengan segala karakteristiknya. Hal ini yang menyebabkan perbedaan
kemampuan anak dalam menerima pelajaran yang diberikan guru. Dari segi
sosial budaya, kegiatan belajar dan pembelajaran merupakan salah satu
kegiatan yang diberikan di sekolah, dengan tujuan agar siswa berhasil dalam
bidang pendidikan dan pada akhirnya siswa dapat menyesuaikan diri dengan
1
2
lingkungan. Walaupun begitu masih ada siswa yang belum berhasil. Dan
peran guru sangat diperlukan untuk memberikan bimbingan belajar kepada
siswa yang belum berhasil.
Dari segi pedagogis, bimbingan belajar mempuyai peranan yang amat
penting dalam pendidikan yaitu membantu setiap pribadi anak didik agar
berkembang secara optimal dan berhasil dalam kegiatan pembelajaran.
Sebagai pendidik, tugas dan tanggung jawab guru yang paling utama ialah
mendidik yaitu membantu subyek didik untuk mencapai keberhasilan dalam
belajar. Sebelum memberi bimbingan belajar kepada siswa, guru diharuskan
mengenal dan memahami tingkat perkembangan anak didik. Sistem motivasi
kebutuhan, pribadi, kecakapan dan kesehatan mental yang dimiliki oleh siswa
yang belum berhasil dalam belajar.
Mengajar membaca untuk siswa TK/RA tentu berbeda dengan
mengajarkan membaca untuk siswa SMP, SMA atau mahasiswa. Perbedaan
itu wajar sebab tujuannya berbeda juga. Oleh karena itu membuat rumusan
membaca tingkat Sekolah rendah (TK/RA), SMP, SMA, Perguruan Tinggi
jelas tidak sama. Untuk siswa TK/RA dalam kegiatan membacanya hanya
dituntut mampu menyatakan bacaan dengan teknik dan suara tidak tersendatsendat dan diulang-ulang (lancar membaca) hal inilah sering disebut dengan
teknik membaca keras.
Membaca keras adalah hal yang paling utama dalam membantu anak
belajar membaca karena membantu berkembangnya kemampuan membaca
anak. Anak dibiarkan melihat ketika kita membaca setelah memiliki dasar
3
teknik membaca yang baik, anak mulai diarahkan untuk mampu menangkap
makna kalimat sederhana.
Berdasarkan hal tersebut membaca keras merupakan salah satu dasar
yang penting dari teknik membaca yang baik di samping pengajaran membaca
ini mengutamakan penjiwaan isi bacaan. Dalam hubungan ini pembaca harus
memahami dan menguasai cara dan teknik membaca yang benar. Teknik
membaca keras sering dianggap biasa / kurang menarik maka kemampuan
membaca keras antara siswa yang satu dengan siswa yang lain berbeda-beda
dan siswa tidak mengetahui teknik membaca keras yang benar.
Berkaitan dengan permasalahan di atas maka penulis mengangkat
permasalahan tersebut dalam suatu penelitian yang berjudul :
"UPAYA
MENINGKATKAN
BELAJAR
BAHASA
ARAB
SEDERHANA DENGAN MENGGUNAKAN (READING ALOUD)
MEMBACA KERAS SISWA RA MASITHOH KEBUMEN
BANYUBIRU SEMARANG TAHUN 2010".
B. Rumusan Masalah
1. Apakah belajar bahasa arab sederhana dengan menggunakan (Reading
Aloud) membaca keras dapat meningkatkan pemahaman siswa RA
MASITHOH Kebumen Banyubiru Semarang tahun 2010?
2. Apakah belajar bahasa arab sederhana dengan menggunakan (Reading
Aloud) membaca keras dapat meningkatkan prestasi siswa RA
MASITHOH Kebumen Banyubiru Semarang tahun 2010?
4
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang diharapkan dapat dicapai kegiatan penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apakah strategi pembelajaran Reading Aloud
(membaca keras) dapat meningkatkan pemahaman siswa berupa
aktivitas dalam mata pelajaran bahasa arab setelah diterapkan metode
Reading Aloud.
2. Untuk mengetahui apakah pembelajaran metode Reading Aloud
(membaca keras) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian kependidikan sangat besar manfaatnya bagi pengembangan
sistem
pendidikan
maupun
untuk
kepentingan
praktis
dalam
menyelenggarakan pendidikan. Penelitian ini sangat berguna bagi peneliti,
guru, maupun bagi siswa hal ini dapat dilihat sebagai berikut :
1. Bagi Siswa
Dengan adanya penelitian ini penulis sangat berharap hasil dari
penelitian ini dapat memberikan informasi atau masukan pengetahuan baru
khususnya
mengenai
membaca
keras.
Di
samping
itu
peneliti
mengharapkan supaya dengan adanya penelitian itu ini siswa lebih giat
lagi untuk belajar terutama dalam mata pelajaran Bahasa Arab.
5
2. Bagi Guru
Dengan penelitian ini, dapat dijadikan sebagai bahan masukan
untuk pemantapan pengetahuan yang didapat dari hasil penelitian ini guna
lebih memahami, menguasai maupun terampil dalam menyampaikan suatu
materi pelajaran Bahasa Arab khususnya dalam materi membaca keras.
3. Bagi Peneliti
Untuk memperoleh pengalaman praktis dalam melaksanakan
penelitian selanjutnya atau penelitian serupa di masa yang akan datang. Di
samping itu untuk mengetahui kemampuan membaca keras siswa RA
Masithoh Kebumen Banyubiru Semarang tahun 2010.
E. Metode penelitian
1. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang ditetakan berupa penelitian tindakan kelas
(Classroom Actiob research), yaitu sebagai bentuk penelitian refleksi yang
dilakukan oleh pendidik sendiri terhadap kurikulum pengembangan sekolah,
meningkatkan prestasi belajar, pengembangan keahlian mengajar dan
sebagainya.
Secara terperinci tahapan-tahapan dalam rencana penelitian tindakan
kelas adalah sebagai berikut :
a. Perencanaan
b. Rancangan tindakan
c. Tahapan pelaksanaan
6
d. Tahapan pemantauan
e. Refleksi
f. Siklus
Langkah-langkah kegiatan
a. Perencanaan
Peningkatan kemampuan bahasa arab dengan metode Rading
Aloud / membaca keras dengan perancanaan sebagai berikut
1) Pembelajaran bahasa arab dengan metode reading aloud dalam
PBM
2) Pokok bahasan bahasa arab sederhana dengan tema anggota
tubuh manusia
3) Hafalan bahasa arab tema anggota tubuh manusia secara
sederhana
4) Menyiapkan alat peraga/media pembelajaran yaitu patung boneka
manusia
5) Menyiapkan format nilai
6) Mengembangakan format observasi
7) Guru mengatur pelaksanaan penelitian pada saat proses belajar
mengajar
b. Pelaksanaan tindakan kelas
1) Memberikan
penjelasan
materi/contoh cara
kerja
membaca keras bahasa arab sederhana kepada siswa.
belajar
7
2) Peneliti membagi siswa menjadi kelompok-kelompok atau
perbangku.
3) Peneliti menyuruh maju satu kelompok dan membaca keras apa
yang tadi disampaikan guru dengan menunjukkan angota tubuh
manusia dengan bahasa arab kemudian bergantian kelompok
untuk maju kedepan kelas.
4) Peneliti memberikan waktu untuk siswa agar berani maju
didepan kelas sendiri untuk membaca keras bahasa arab.
c. Pengamatan tindakan kelas
1) Peneliti mengamati jalannya proses belajar mengajar berlangsung
dengan format observasi.
2) Peneliti menilai dan mengamati apa kelebihan dan kekurangan
dalam PBM dengan metode rading aloud (membaca keras).
3) Peneliti mencatat hasil/data-data yang akurat pada saat proses
belajar mengajar sehingga mendapatkan data-data hasil penelitian
yang harus direfleksikan pada siklus berikutnya.
d. Refleksi
1) Peneliti mengungkapkan dan mengevaluasi apa yang dilakukan
setelah melakukan tindakan meneliti diri sendiri, kekurangan dan
kelebihan guru saat penelitian tindakan kelas berlangsung.
2) Peneliti mengamati dan meneliti tindakan apa yang sudah
berhasil dan tindakan apa yang belum berhasil.
8
3) Tindakan-tindakan yang belum berhasil maka harus diperbaiki
kembali untuk penelitian siklus kedua (berikutnya)
2. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian tindakan kelas untuk mendapatkan data yanmg
akurat perlu disusun suatu instrumen yang valid dan relible. Instrumen yang
peneliti gunakan adalah instrumen yang sesuai dengan penelitian tindakan
kelas dan untuk mendapatkan data yang sebenarnya, maka peneliti
menggunakan instrumen yang valid. Instrumen yang valid adalah instrumen
yang mampu dengan tepat mengukur apa yang hendsak diukur dengan
insdtrumen yang tepat guna.
Peneliti tindakan kelas harus yakin dengan fakta yang dikumpulkan
itu cukup valid. Realibilitas menyangkut akuransi dan konsistensi alat
pengumpul data. Jika Instrumen tidak konsisten (berubah-ubah) maka
instrumen itu tidak dapat dipercaya. Dalam penelitian tindakan kelas
penelitian lebih valid bila dilakukan dengan kolaborasi dengan guru/peneliti
lain dengan melakukan triangulasi dalam kegiatan tindakan kelas dan
menggunakan alat-alat perlengkapan penelitian yaitu jadwal pelaksanaan
penelitian. Format observasi, format nilai (penilaian), angket, alat tes standar
dan alat tes lain, lampiran-lampiran data hasil penelitian.
3. Subyek Penelitian
Subyek yang akan dikenai tindakan adalah siswa kelas TK B RA
MASITHOH Kebumen Banyubiru Semarang. Pertimbangan pilihan subyek
yakni
perlunya
penerapan tindakan
dalam
penelitian
ini
terhadap
9
pembelajaran bahasa arab sederhana RA MASITHOH BKebumen Banyubiru
Semarang pada kelas TK B dengan jumlah 17 anak. 9 anak perempuan, 8
anak laki-laki. 10 anak mereka bersal dari keluarga ekonomi menengah
kebawah pada umumnya. Tetapi mereka adalah siswa-siswa yang
mempunyai semangat belajar yang tinggi, senag bergaul dengan teman, ceria
dan suka membantutemannya jika ada temannya yang belum bisa dalam
tugasnya. Saya sebagai peneliti dalam tindakan penelitian kelas ini adalah
guru RA mengajar TK kelas A khususnya.
4. Metode pengumpulan data
Metode pengumpulan data adalah suatu cara yang digunakan untuk
mengamati variabel yang akan diteliti dengan metode wawancara, tes,
observasi, kuesioner, sehingga memperoleh data/informasi-informasi yang
sesuai dengan harapan. Menurut kerlinger mengatakan bahwa mengobservasi
adalah suatu istilah umum yang mempunyai arti semua bentuk penerimaan
data yang dilakukan dengan cara merekam kejadian, menghitungnya,
mengukurnya dan mencatatnya. (Suharsimi Arikunto, 1997: 197)
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode pengumpulan
data yang berbentuk tes dan observasi (pengamatan), karena data yang dicari
adalah tingkat kemampuan membaca keras maka metode yang cocok adalah
metode tes dan observasi (pengamatan)
10
a. Metode Tes
Untuk melihat nilai bahasa arab digunakan lembaran tes yang
dikerjakan siswa, baik berupa tes awal maupun tes akhir. Khusus untuk tes
prestasi belajar yang digunakan di sekolah dibedakan menajdi dua yaitu:
1. Tes buatan guru disusun oleh guru dengan prosedur tertentu.
2. Tes terstandar, tes yang biasa disediakan dilembaga testing.
(Suharsimi Arikunto, 1997: 198)
Metode tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain
yang digunakan untuk mengukur keterapilan, penetahuan, intelektual,
kemempuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Keuntungan menggunakan metode tes adalah sebagai berikut:
1) Data riil
2) Waktu yang singkat
3) Memberikan kemudahan dalam menilai
4) Kemungkinan mendapat nilai yang memuaskan, karena materi tes
yang selaras dengan pelajaran.
Kelemahan adalah kondisi siswa yang kurang sehat pada waktu
melaksanakan tes sangat mempengaruhi nilai.
Sedangakan untuk mengatasi bias (kecondongan) hasil yang
diperoleh, maka disarankan:
1) Memberi kesempatan berlatih pada tester.
2) Melengkapi instrumen tes dengan selengkap mungkin dan sejelas
mungkin.
11
3) Menciptakan situasi tes sedemikian rupa sehingga membantu tester.
4) Menentukan waktu pengerjaan tes secara tepat, baik ketepatan
pelaksanaan maupun lamanya.
Sedangkan bentuk tes adalah tes membaca keras dari suatu bacaan
yang diambil dari buku pelajaran bahasa arab.
b. Metode observasi
Dalam pengambilan data dipandu dengan lembaran pengamatan yang
dilakukan langsung oleh peneliti (kelompok guru) untuk memperoleh data
penelitian, aktifitas siswa dan daa ketrampilan guru selama proses
pembelajran berlangsung. Dalam menggunakan metode observasi cara yang
paling efektif adalah melengkapi dengan format atau blangko pengamatan
sebagai instrument. Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian
atau tingkat laku yang digambarkan akan terjadi. (Suharsimi Arikunto,
1997:204)
Observasi dapat dilakukan dengan cara yang kemudiandigunakan
untuk menyebut jenis observasi, yaitu:
1) Observasi non sistematik, yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak
menggunakan instrumen pengamatan.
2) Observasi sistematik, yang dilakukan oleh pengamat dengan
menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan.
Berdasrkan hal tersebut diatas, maka dalam penelitian ini yang
digunakan adalah observasi sitematik, dimana penulis menggunakan
12
instrumen bacaan untuk mengamati kemampuan membaca keras siswa RA
MASITHOH Kebumen Banyubiru Semarang.
Metode observasi mempunyai kebaikan dan kelemahan dalam
penggunaannya diantaranya yaitu:
Kebaikan metode observasi
1) Data tersebut berguna untuk mengetahui secara langsung objek yang
diteliti.
2) Pada metode ini, objek langsung diteliti sehingga memudahkan dalam
pengoprasian hasil penelitian.
Kelemahan metode observasi
3) Diantara berbagai metode pengumpulan data, pengamatan merupakan
metode yang paling rawan dalam arti tingkatan pengamatanya rendah.
4) Penelitian dapat dilakukan berulang-ulang dalam arti apabila yang
diteliti benda diam, data dapt diambil sewaktu-waktu apabila ada
keraguan pada diri peneliti, sedangkan kalau yang diteliti suatu proses
maka pengulangan pangamatan tidak mungkin dilakukan kecuali
mempunyai rekaman vidio atau film.
5) Ada unsur subyektivitas, kesan tidak objektif dalam menilai.
6) Biaya yang tinggi dan memakan waktu yang agak lama.
Untuk mengatasi adanya bias yang terjadi dalam penelitian dengan
menggunakan metode pengamatan (observasi) maka langkah yang dilakukan
adalah sebagai berikut;
1) Dibutuhkan latihan baik dari pihak pengamat maupun dari pihak tester.
13
2) Menyingkirkan unsur subyektivitas dalam menilai.
3) Menggunakan alat bantuan dalam melakukan pengamatan misalnya,
menggunakan rekaman vidio atau tape recorder.
4) Dalam penelitian ini metode penelitian digunakan untuk mencari
data/menamati kemampuan membaca keras siswa RA MASITHOH
Kebumen Banyubiru Semarang.
5. Analisis Data
Dalam pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) mengumpulkan
data adalah data kuantitatif (nilai hasil belajar siswa), prestasi keberhasilan
belajar siswa, dan data kualitatif yaitu minat bakat siswa dalam PBM dan
pemahaman terhadap mata pelajaran (kognitif) denagn metode Reading
Aloud/membaca
keras
(afektif)
aktifitas
belajar,
motivasi
belajar,
kepercayaan diri lebih meningkat.
Analisis merupakan usaha untuk memilih, memilah dan membuang,
menggolongkan serta menyusun kedalam kategorisasi, mengklasifikasikan
data untuk menjawab pertanyaan aktivitas belajarn dan perhatian siswa
membaik sesudah guru mengajar dengan metode reading aloud (membaca
keras) didalam Proses Belajar Mengajar (PBM) dan bukti dari data hasil
wawancara serta observasi dikelas, adanya siswa yang bertanya secara tepat
dan terarah. Data hasil tes sesudah tindakan diberiakan merupakan data
kuantitatif dengan teknik analisisnya menggunakan statistik diskriptif. Dari
14
hasil belajar siswa dapat diketahui tingkat kemajuan dalam belajar bahasa
arab melalui metode reading aloud (membaca keras)
Rumus yang saya pakai pada analisis data adalah statistik sederhana yaitu
rumus T table sebagai berikut:
Keterangan:
N = Banyaknya sample pengukuran
t = Nilai
d = Selisih dari post tes & pre tes (Nilai post tes – Nilai pre tes)
6. Jadwal Kegiatan
Bulan
No
Kegiatan
4
1
Persiapan
2
Persiapan Siklus I
3
a.
Perencanaan Tindakan
b.
Pelaksanaan Tindakan Dan Observasi
c.
Analisis Dan Refleksi
Persiapan Siklus II
5
a.
Perencanaan Tindakan
b.
Pelaksanaan Tindakan Dan Observasi
c.
Analisis Dan Refleksi
6
7
15
4
5
6
Persiapan Siklus III
a.
Perencanaan Tindakan
b.
Pelaksanaan Tindakan Dan Observasi
c.
Analisis Dan Refleksi
Penyusunan Laporan
a.
Menyusun Draf Hasil Penelitian
b.
Menyelenggarakan seminar draf hasil penelitian
Ujian
F. Sistematika Skipsi
Skipsi ini penulis gunakan dengan desain Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) dengan sistematika sebagai berikut:
Bagian Pendahuluan Skripsi yang meliputi: Halaman Judul, Halaman
Persetujuan Pembimbing, Halaman Pengesahan, Halaman Motto, Kata
Pengantar, Daftar Isi, Abstrak.
Bagian Isi Skripsi:
BAB I Pendahuluan yang mencakup: Latar Belakang, Rumusan
Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Metodologi Penelitian,
Sistematika Penulisan Skripsi.
BAB II Kajian Teori dan Pustaka, Pada bab ini diuraikan beberapa
konsep teoritis yang mendasari dilakukannya penelitian ini dan selanjudnya
diikuti dengan hipotensis. Dasar-dasar teori yang dijadikan landasan dalam
pembahasan masalah dalam penelitian yang dilakukan meliputi: Bagian A.
Membaca bahasa arab meliputi: Hakekat membaca, Pengertian membaca,
Proses membaca, Periode membaca, Jenis-jenis membaca, Faktor-faktor
16
penyebab siswa mengalami kesulitan dalam belajar membaca, Tujuan
membaca, Membaca sebagai suatu ketrampilan, Aspek-aspek membaca.
Bagian B. Membaca keras meliputi: Pengertian membaca keras, Membaca
keras, Ketrampilan-ketrampilan yang dituntut dalam membaca keras,
Peningkatan ketrampilan dalam membaca keras, Cara belajar bahasa arab
dengan membaca keras, Contoh bahasa arab sederhana. Bagian C. Kerangka
berpikir: Pada bagian ini dijelaskan bahwa mempelajari dan memahami
bahasa arab sangat penting terutama dalam kehidupan sehari-hari. Dan
menghafal bahasa arab perlu dipelajari dari kelas TK supaya pada tahap
selanjudnya dapat mempelajari bahasa arab dengan mudah degan metode yang
cocok dalam pembelajaran bahasa arab. Bagian D. Hipotesis Tindakan belajar
membaca bahasa arab dengan teknik Reading Alond dapat meningkatkan
ketrampilan membaca bahasa arab dan dapat meningkatkan perubahan prilaku
siswa dan hasil belajar siswa membaca bahasa arab.
BAB III Setting penelitian: Tempat Penelitian.
BAB IV Analisis Data: Penyajian Data, Deskripsi Pelaksanaan
Siklus 1, Deskripsi Pelaksanaan Siklus 2, Deskripsi Pelaksanaan Siklus 3,
Hasil Penelitian dan Pembahasan.
BAB V Penutup yang mencakup kesimpulan dan saran. Kesimpulan
menjelaskan simpulan hasil penelitian (potret kemajuan) dalam tujuan
penelitian. Sasan merupakan tindak lanjut yang diberikan berdasarkan temuan
peletian dan pembahasan hasil penelitian.
Bagian Akhir Skripsi. Meliputi daftar pustaka dan lampiran-lampiran.
BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN
Landasan Teori
Dalam membahas landasan teori ini terlebih dahulu ditegaskan tentang
hakekat penyusunan landasan teori. Menyusun landasan teori pada hakekatnya
adalah mengadakan penganalisaan terhadap hasil penyelidikan yang relevan
dengan permasalahan yang akan dipecahkan. Dengan adanya pengertian tersebut
diatas maka dalam penyusunan landasan teori perlu pembahasan secara terperinci,
teliti dan kritis terhadap beberapa teori yang telah ada. Dalam landasan teori ini
perlu diberikan pengertian seperti yang terkandung dalam judul agar tidak terjadi
penafsiran yang salah, dengan demikian dalam bab ini akan dibahas teori-teori
yang relevan dengan permasalahan-permasalahan dalam penelitian ini, sehingga
dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Adapun teori-teori yang perlu
dikemukakan adalah sebagai berikut :
A. Membaca
1. Hakekat Membaca
Menurut Kolker (1983: 3) membaca merupakan suatu proses
komunikasi antara pembaca dan penulis dengan bahasa tulis. Hakekat
membaca ini menurutnya ada tiga hal, yakni afektif, kognitif, dan bahasa.
Perilaku afektif mengacu pada perasaan, perilaku kognitif mengacu pada
pikiran, dan perilaku bahasa mengacu pada bahasa anak.
١
١
Doglass (dalam Cox, 1988: 6) memberikan definisi membaca
sebagai suatu proses penciptaan makna terhadap segala sesuatu yang ada
dalam lingkungan tempat pembaca mengembangkan suatu kesadaran.
Sejalan dengan itu Rosenblatt (dalam Tompkins, 1991: 267) berpendapat
bahwa membaca merupakan proses transaksional. Proses membaca
berdasarkan pendapat ini meliputi langkah-langkah selama pembaca
mengkonstruk makna melalui interaksinya dengan teks bacaan. Makna
tersebut dihasilkan melalui proses transaksional. Dengan demikian, makna
teks bacaan itu tidak semata-mata terdapat dalam teks bacaan atau
pembaca saja.
Fredick Mc Donald (dalam Burns, 1996: 8) mengatakan bahwa
membaca merupakan rangkaian respon yang kompleks, di antaranya
mencakup respon kognitif, sikap dan manipulatif. Membaca tersebut dapat
dibagi menjadi beberapa sub keterampilan, yang meliputi: sensori,
persepsi, sekuensi, pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi, afektif, dan
konstruktif. Menurutnya, aktiivitas membaca dapat terjadi jika beberapa
sub keterampilam tersebut dilakukan secara bersama-sama dalam suatu
keseluruhan yang terpadu Syafi'i (1999: 7) juga menyatakan bahwa
membaca pada hakekatnya adalah suatu proses yang bersifat fisik atau
yang disebut proses mekanis, beberapa psikologis yang berupa kegiatan
berpikir dalam mengolah informasi.
١
Adapun Farris (1993: 304) mendefinisikan membaca sebagai
pemrosesan kata-kata, konsep, informasi, dan gagasan-gagasan yang
dikemukakan oleh pengarang yang berhubungan dengan pengetahuan dan
pengalaman awal pembaca. Dengan demikian, pemahaman diperoleh bila
pembaca mempunyai pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki
sebelumnya dengan apa yang terdapat di dalam bacaan.
Dengan adanya beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan
bahwa membaca pada hakekatnya adalah suatu proses yang dilakukan oleh
pembaca untuk membangun makna dari suatu pesan yang disampaikan
melalui tulisan. Dalam proses tersebut, pembaca mengintegrasikan antara
informasi atau pesan dalam tulisan dengan pengetahuan atau pengalaman
yang telah dimiliki.
2. Pengertian Membaca
Menurut Hudgson dalam bukunya Tarigan (1985 : 7), “Membaca
adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca
untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui
media kata-kata atau bahasa tulis”. Suatu proses yang menuntut agar
kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu
pandangan sekilas, dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat
diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, maka pesan yang tersurat dan
yang tersirat tidak akan tertangkap atau dipaharni, dan proses membaca itu
tidak terlaksana baik.
٠
Dan segi linguistik, seperti yang dikatakan oleh Anderson dalam
buku Tarigan (1985 : 7), “Membaca adalah suatu proses penyandian
kembali dan pembacaan sandi (a recording and dicoding process),
berbeda dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan penyandian
(encoding)”.
Sebuah
aspek
pembacaan
sandi
(decoding)
adalah
menghuhungkan kata-kata tulis (written word) dengan makna bahasa lisan
(oral language meaning) yang mencakup pengubahan tulisan atau setakan
menjadi bunyi yang bermakna.
Membaca menurut Udjang Pairin (1988 : 29) adalah : “Proses
pengo1ahan bacaan secara kritis dan kreatif yang dilakukannya secara
sadar dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman yang bersifat
menyeluruh tentang bacaannya, fungsi dan dampak bacaan itu secara lebih
luas”. Lebih lanjut dikatakan, jika kegiatan/pengertian membaca itu
ditinjau dari segi perbedaan lingkupnya, maka batasan membaca tersebut
dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu batasan membaca secara
sempit, agak luas, dan dalam pengertian yang lebih luas.
a. Membaca dalam arti sempit
Menurut pengertian ini proses membaca adalah sebagai
kegiatan mengenali simbol-simbol tertulis. Dalam kegiatan ini siswa
diarahkan untuk mengenali kata-kata secara teliti. Selin itu juga
diharapkan anak dapat mengatur gerakan mata secara ritmis tanpa
lompatan balik di sepanjang baris-banris kalimat.
١
Kegiatan membaca untuk tingkatan ini belum memasukkan
unsur pemahaman dan penafsiran makna sebagai bagian dari kegiatan
membaca.
Pemahaman dan penafsiran makna dianggapnya sebagai bagian
dari kegiatan berfikir yang menyertai kegiatan membaca. Jadi
membaca dalam arti sempit ini menekankan pada mekanisme
membaca secara benar dalam membina siswa. Model pengajaran
membaca semacam ini diterapkan di sekolah kelas rendah dan dikenal
dengan mambaca bersuara atau membaca teknis.
b. Membaca dalam arti agak luas
Bentuk pengajaran membaca yang masuk klasifikasi ini yaitu
kegiatan membaca yang mensyaratkan penguasaan dasar-dasar
membaca (mekanisme membaca) secara baik, juga para siswa mulai
diarahkan dan diperkenalkan dengan unsur makna membaca, sampai
pada akhirnya anak dituntut untuk dapat memahami informasi yang
ada dalam bacaan yang dibacanya. Proses pemahaman tersebut
dilakukan dengan memadukan berbagai unsur makna menjadi suatu
kesatuan ide yang bulat. Jadi pada dasarnya pengertian ini memusatkan
pada proses pemahaman makna atau isi bacaan.
c. Membaca dalam arti luas
Kegiatan membaca menurut pandangan ini lebih luas jika
dibandingkan dengan batasan (a) dan (b). Hal ini tampak pada kriteria
yang dituntut. Dalam kegiatan membaca itu disamping membaca
diharapkan merniliki kemampuan dasar dan kemampuan menangkap
ide yang tersurat dan tersirat dari suatu bacaan, di samping itu dalam
diri pembaca masih dibebani tuntutan lain yang lebih tinggi. Dari
kegiatan membaca tersebut diharapkan menumbuhkan sikap kritis,
kreatif, selektif dan evaluatif dalam diri pembaca dalam menemukan
signifikansi nilai, fungsi dan menghubungkan isi bacaan dengan
masalah kehidupan yang lebih luas serta dampak positif dan negatif
bacaan yang dibacanya.
3. Proses Membaca
Menurut beberapa ahli ada beberapa model pemahaman proses
membaca, di antaranya model bottom-up, top-down, dan model interaktif.
Model botton-up menganggap bahwa pemahaman proses membaca
sebagai proses decoding yaitu menerjemahkan simbol-simbol tulis menjadi
simbol-simbol bunyi. Pendapat itu menurut Harjasujana (1986: 34) sama
dengan pendapat Flesch (1955) yang mengatakan bahwa membaca berarti
mencari makna yang ada dalam kombinasi huruf-huruf tertentu. Begitu
juga menurut pendapat Fries (dalam Harjasujana, 1986: 34) bahwa
membaca sebagai kegiatan yang mengembangkan kebiasaan-kebiasaan
merespon pada seperangkat pola yang terdiri atas lambang-lambang grafis.
Pendapat-pendapat di atas ternyata ditentang oleh Goodman (dalam Cox,
1998: 270) yang menyatakan bahwa membaca sebagai proses interaksi
yang menyangkut sebuah transaksi antara teks dan pembaca. Pembaca
yang sudah lancar pada umumnya meramalkan apa yang dibacanya dan
kemudian menguatkan atau menolak ramalannya itu berdasarkan apa yang
terdapat dalam bacaan, membaca seperti itu disebut model top-down.
Kedua pendapat yang menyatakan model bottom-up dan model
top-down akhirnya dipersatukan oleh Rumelhart dengan nama model
interaktif. Rumelhart (dalam Harris dan Sipay, 1980: 8) menyatukan dua
pendapat itu dengan alasan bahwa proses belajar membaca permulaan
bergantung pada informasi grafis dan pengetahuan yang berada dalam
skemata. Membaca merupakan suatu proses menyusun makna melalui
interaksi dinamis di antara pengetahuan pembaca yang telah ada dan
informasi itu telah dinyatakan oleh bahasa tulis dan konteks situasi
pembaca.
Burns, dkk. (1996: 6) menyatakan bahwa aktifitas membaca terdiri
atas dua bagian, yaitu proses membaca dan produk membaca. Dalam
proses membaca ada sembilan aspek yang jika berpadu dan berinteraksi
secara harmonis akan menghasilkan komunikasi yang baik antara pembaca
dan penulis. Komunikasi antara pembaca dan penulis itu berasal dari
pengkonstruksian makna yang dituangkan dalam teks dengan pengetahuan
yang
dimiliki
sebelumnya.
Lebih
lanjut
Burns,
dkk.
(1996:8)
mengemukakan sembilan proses membaca tersebut yaitu: (1) mengamati
simbol-simbol tulisan, (2) menginterprestasikan apa yang diamati, (3)
mengikuti urutan yang bersifat linier baris kata-kata yang tertulis, (4)
menghubungkan kata-kata (dan maknanya) dengan pengalaman dan
pengetahuan yang telah dipunyai, (5) membuat referensi dan evaluasi
materi yang dibaca, (6) mengingat apa yang dipelajari sebelumnya dan
memasukkan gagasan-gagasan dan fakta-fakta baru, (7) membangun
asosiasi, (8) menyikapi secara personal kegiatan/tugas membaca sesuai
dengan interesnya, (9) mengumpulkan serta menata semua tanggapan
indera untuk memahami materi yang dibaca.
4. Periode Membaca
a. Prabaca
Menurut Burns, dkk. (1996: 224) siswa akan terdorong
memahami keseluruhan materi jika para guru membiasakan kegiatan
membaca dengan aktivitas prabaca, saatbaca, dan pascabaca. Tahaptahap membaca itu tidak sama prosedurnya. Tahap prabaca berbeda
dengan tahap saat-baca dan pascabaca sebab tahap-tahap itu
memerlukan teknik pembelajaran yang berbeda pula.
Aktivitas pada tahap prabaca sangat berguna bagi mahasiswa
untuk membangkitkan pengetahuan sebelumnya. Aktivitas tersebut
menurut Burns, dkk. (1996:224) bisa berupa membuat prediksi tentang
isi bacaan, dan menyusun pertanyaan tujuan. Adapun Moore (1991:
22) menyarankan kepada siswa agar pada prabaca, siswa menganalisis
judul bab, subjudul, gambar, pendahuluan yang dilanjutkan dengan
menyusun pertanyaan. Leo (1994: 5) mempertegas pendapat Moore
bahwa sebelum kegiatan membaca, siswa mensurvei judul bab supaya
bisa mengembangkan membaca secara efektif, dan bisa mengatur
waktunya secara fleksibel.
b. Saat-baca
Aktivitas pada tahap saat-baca merupakan kegiatan setelah
prabaca. Kegiatan ini dilakukan siswa untuk memperoleh pengatahuan
baru dari kegiatan membaca teks bacaan. Dalam membaca tersebut,
siswa akan berusaha secara maksimal memahami teks bacaan dengan
berbagai strategi. Burns, dkk. (1996:229-236) mengemukakan
beberapa strategi dan aktivitas yang dapat digunakan pada saat-baca
untuk meningkatkan pemahaman tersebut. Strategi dan aktivitas yang
dimaksud
meliputi
strategi
matakognitif,
prosedur
cloes
dan
pertanyaan penuntun. Sedangkan Leo (1994: 8) lebih menekankan
pada kegiatan membaca dengan cara menandai bagian-bagian yang
dianggap penting dan atau membuat ikhtisar bacaan tersebut.
c.
pasca-baca
Aktivitas pada tahap pascabaca, menurut Burns, dkk.
(1996:237) digunakan untuk membantu siswa memadukan informasi
baru yang dibacanya ke dalam skemata yang telah dimilikinya
sehingga diperoleh tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Strategi yang
bisa
digunakan
pengayaan,
dalam
pertanyaan,
pascabaca
dapat
representasi
penceritaan kembali dan aplikasi.
berupa
visual,
pembelajaran
teater
pembaca,
5. Jenis-Jenis Membaca
Dari Aspek kegiatannya
1. Membaca Keras
Membaca
keras
merupakan
kegiatan
membaca
yang
menekankan pada ketepatan bunyi, irama, kelancaran, perhatian
terhadap tanda baca. Kegiatan membaca seperti ini disebut juga
sebagai kegiatan “membaca teknis”.
2. Membaca dalam Hati
Membaca dalam Hati merupakan kegiatan membaca yang
bertujuan untuk memperoleh pengertian, baik pokok-pokok maupun
rincian-rinciannya.
menghindari
Secara
vokalisasi,
fisik
membaca
pengulangan
dalam
membaca,
hati
harus
menggunakan
telunjuk/petunjuk atau gerakan kepala.
3. Membaca Cepat
Yaitu membaca yang tidak menekankan pada pemahaman
rincian-rincian isi bacaan, akan tetapi memahami pokok-pokoknya
saja. Membaca ini dapat dilakukan dengan menggerkkan mata dengan
pola-pola tertentu.
4. Membaca Rekreatif
Yaitu kegiatan membaca yang bertujuan untuk membina minat
dan kecintaan membaca; biasanya bahan bacaab diambil dari cerpen
dan novel.
5. Membaca Analitik
Yaitu kegiatan membaca yang bertujuan untuk mencari
informasi dari bahan tertulis; menghubungkan satu kejadian dengan
kejadian yang lain, menarik kesimpulan yang tidak tertulis secara
eksplisit dalam bacaan.
Menurut Bentuknya :
1. Membaca Intensif (Qira’ah Mukatsafah)
Yaitu
membaca
yang
bertujuan
untuk
meningkatkan
keterampilan utama dalam membaca dan memperkaya perbendaharaan
kata serta menguasai qawaid yang dibutuhkan dalam membaca.
2. Membaca Ekstensif (Qira’ah Muwassa’ah)
Yaitu
membaca
yang
bertujuan
untuk
meningkatkan
pemahaman isi bacaan.
6. Faktor-Faktor
Penyebab
Siswa
Mengalami
Kesulitan
Belajar
Membaca
Faktor-faktor
yang
mempengaruhi
kemampuan
membaca
seseorang pada umumnya berasal dari dalam diri anak itu sendiri (faktor
dalam) dan berasal dari luar diri anak tetapi berkaitan langsung dengan
proses membaca (faktor luar).
a. Faktor dalam
Ada empat potensi yang umumnya terdapat pada diri manusia
yang ternyata sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca,
yaitu : 1) Intelegensia, 2) Sikap, 3) Perbedaan jenis kelamin, dan 4)
Penguasaan bahasa. Keempat memiliki keterkaitan yang turut
menentukan kualitas daya baca secara individu.
1) Faktor intelegensia
Intelegensia adalah potensi yang ada pada setiap manusia
yang dapat menentukan tingkat kecerdasan seseorang. Dari
berbagai penelitian dan percobaan dibuktikan bahwa faktor
intelegensia ternyata berpengaruh sekali terhadap kemampuan
membaca siswa pada semua peringkat atau tingkatan pendidikan.
2) Faktor sikap
Sikap sebagai kecenderungan jiwa yang prediktif sifatnya
dalam mereaksi sesuatu, termasuk membaca. Sikap yang negatif
terhadap bacaan yang dibacanya akan berakibat kurang kritis dan
melemahkan daya kemampuan membaca dalam kaitannya dengan
upaya mendapatkan informasi dari suatu bacaan baik yang tersirat.
Sikap negatif yang dimaksud misalnya rasa tidak senang pada
penulisnya, prasangka buruk sebelum membaca, tidak senang pada
jenis tulisan tertentu, dan sikap tidak suka dan kurang memiliki
kegemaran pada kegiatan membaca.
3) Faktor perbedaan jenis kelamin
Manusia dalam masa perkembangannya antara laki-laki dan
perempuan
membacanya.
terdapat
perbedaan
dalam
hal
kemampuan
4) Faktor penguasaan bahasa
Penguasaan bahasa sebagai salah satu faktor yang
berpengaruh dalam proses memahami bacaan telah lama diakui dan
dibuktikan kebenarannya baik dengan pendekatan empirik. Secara
nalar memang demikian, seseorang akan mampu berkomunikasi
dengan bacaan apabila dirinya telah mengenali dan memahami
sistem kebahasaannya (fonologi, morfologi, dan sintaksis, dan lainlain)
b. Faktor luar
Faktor luar adalah semua faktor yang ada di luar diri siswa,
tetapi dalam kenyataannya sangat besar pengaruhnya terhadap
keberhasilan tindak membaca. Faktor-faktor tersebut antara lain : 1)
Faktor status ekonomi sosial, 2) Faktor bahan bacaan, dan 3) Faktor
guru.
1) Faktor status ekonomi sosial
Keadaan ekonomi orang tua anak, kedudukannya di
masyarkat dan; lingkungan anak didik menurut beberapa penelitian
ternyata berpengaruh terhadap kemampuan membaca anak.
2) Faktor bahan bacaan
Dan hasil penelitian yang pernah dilakukan disimpulkan
bahwa bahan bacaan juga ikut mempengaruhi tingkat kesulitan
dalam memahami makna bacaan. Lazar Seld, Ruddell dan Spache
menganjurkan hahwa dalam membina kemampuan membaca,
٠
bahan pengajarannya diharapkan : Bersifat spesifik, struktur
kalimatnya disesuaikan dengan tingkat penguasaan bahasa anak,
gunakan skema atau label, bahan bacaan hendaknya diambil dari
hasil tulisan orang yang terkenal sehingga bahasanya sudah hanyak
dikenali anak.
3) Faktor guru
Pemilikan pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam
membaca sebenarnya merupakan produk dan pengajaran membaca.
Dalam proses pemilikan pengetahuan dan keterampilan tersebut,
guru dipandang sebagai figur yang paling besar memberikan
sumbangannya. Ciri guru yang baik akan tercermin pada kepekaan
dan kejeliannya dalam hal memilih buku yang tepat (bacaan),
tingkat
kesulitannya
dengan
kemampuan
siswanya,
mengelompokkan siswanya secara homogin, merumuskan tujun
yang akan dicapai, mengobservasi dan mendiagnosis hasil belajar
membaca siswanya serta melaksanakan program “remedial
teaching” yang tepat agar semua siswanya dapat mencapai tujuan
membaca sesuai dengan apa yang telah digariskan dalam tujuan
pengajaran, merencanakan dan menyusun program pengajaran
membaca dan bilamana perlu menggunakan langkah uji coba àgar
program pengajaran membaca yang akan disajikan benar-benar
dapat mengukur kemampuan membaca anak.
١
a. Faktor penyebab yang bersifat internal
1. Motivasi
Kekurang pahaman terhadap manfaat berbahasa dengan baik dan
benar akan menganggu minat dan motivasi siswa belajar Bahasa
Arab.
2. Kemampuan dasar intelektual
Kemampuan dasar intelektual yang rendah dapat menyebabkan
siswa gagal dalam mengikuti pelajaran Bahasa Arab.
3. Kebiasaan belajar
Kebiasaan belajar yang salah atau kurang memadai memungkinkan
prestasi belajar yang dicapai siswa rendah.
4. Kemampuan dan ketrampilan dasar
Kemampuan dasar memahami dan ketrampilan menggunakan
bahasa yang kurang dikuasai siswa.
b. Faktor penyebab yang bersifat eksternal
1. Minimnya sarana penunjang yang tersedia (perpustakaan sekolah).
2. Metode pembelajaran yang diterapkan guru kurang menarik minat
siswa untuk belajar sungguh-sungguh.
3. Kondisi siswa yang merasa bosan dan frustasi.
7. Tujuan Membaca
Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta
memperoleh informasi mencakup isi memahami makna bacaan. Menurut
Tarigan (1985 : 9) mengemukakan beberapa tujuan membaca, yaitu :
a. Membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta
(reading for details or facts), di mana dengan membaca mengetahui
atau mengetahui penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh sang
tokoh, apa yang telah dibuat oleh sang tokoh, apa yang telah terjadi
pada tokoh khusus atau’ untuk memecahkan masalah-rnasalah yang
dibuat oleh sang tokoh.
b. Membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas),
dengan membaca untuk rnengetahui mengapa hal itu merupakan topik
yang baik dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita, apa-apa
yang dipelajari atau yang dialami sang tokoh, dan merangkumkan halhal yang dilakukan oleh sang tokoh untuk mencapai tujuannya.
c. Membaca untuk rnengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita
(reading for sequance or organization), dengan membaca untuk
menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian
cerita,
apa
yang
terjadi
mula-mula
pertama,
kedua
dan
ketiga/seterusnya, setiap tahap dibuat untuk memecahkan suatu
masalah, adegan-adegan dan kejadian, kejadian dibuat dramatisasi.
d. Membaca untuk menyimpulkan, membaca inferensi (reading of
inference), dengan membaca untuk menemukan serta mengetahui
menganggap para tokoh merasakan seperti cara mereka itu, apa yang
hendak diperlihatkan oleh sang pengarang kcpada para pembaca,
mengapa para tokoh berubah, kualitas-kualitas yang dimiliki para
tokoh yang membuat mereka berhasil atau gagal.
e. Membaca
untuk
mengelompokkan,
membaca
untuk
mengklasifikasikan (reading to classify), dengan membaca untuk
menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak biasa, tidak wajar
mengenai seseorang tokoh, apa yang lucu dalam cerita, atau apakah
cerita itu benar atau tidak benar.
f. Membaca untuk menilai, mengevaluasi (reading to evaluate), dengan
membaca untuk menemukan apakah sang tokoh berhasil atau hidup
dengan ukuran-ukuran tertentu, apakah kita ingin berbuat seperti yang
diperbuat oleh sang tokoh, atau bekerja seperti cara sang tokoh bekerja
dalam cerita itu.
g. Membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan (reading
to compare or contrast), dengan membaca untuk menemukan
bagaimana caranya sang tokoh berubah, bagaimana hidupnya berbeda
dan kehidupan yang kita kenal, bagaimana dua cerita rnempunyai
persamaan, bagaimana sang tokoh menyerupai pembaca.
8. Membaca Sebagai Suatu Ketrampilan
Setiap guru haruslah menyadari serta memahami benar-benar
bahwa membaca adalah suatu keterampilan yang kompleks, yang rumit,
yang mencakup atau melibatkan serangkaian keterampilan-keterampilan
yang lebih kecil. Dengan perkataan lain keterampilan membaca mencakup
tiga komponen (Tarigan, 1985 : 10), yaitu :
a. Pengenalan terhadap aksara serta tanda-tanda baca, merupakan suatu
keterampilan atau kemampuan untuk mengenal bentuk-bentuk yang
disesuaikan dengan mode yang berupa gambar, gambar di atas suatu
lembaran, lengkungan-lengkungan, garis-garis, dan titik-titik dalam
hubungan-hubungan berpola yang teratur rapi.
b. Korelasi aksara beserta tanda-tanda baca dengan unsur-unsur linguistik
yang formal, merupakan suatu keterampilan atau kemampuan untuk
menghubungkan tanda-tanda hitam di atas kertas yaitu gambar-gambar
berpola dengan bahasa. Adalah tidak mungkin belajar membaca tanpa
kemampuan belajar memahami bahasa.
c. Hubungan lebih lanjut dari point a dan b dengan makna atau meaning,
mencakup keseluruhan keterampilan membaca, pada hakekatnya
merupakan keterampilan intelektual, ini merupakan keterampilan atau
kemampuan atau abilitas untuk menghubungkan tanda-tanda hitam di
atas kertas melalui unsur-unsur bahasa yang formal, yaitu kata-kata
sebagai bunyi.
9. Aspek-Aspek Membaca
Secara garis besar terdapat dua aspek penting dalam membaca,
yaitu : (Tarigan, 1985i 1)
a. Keterampilan yang bersifat mekanis (mechanical skills) yang dapat
dianggap berada pada urutan yang lebih rendah (lower order). Aspek
mi mencakup : pengenalan bentuk huruf, pengenalan unsur-unsur
linguistik (fonem/grafem, kata, frase, pola klause, kalimat dan lainlain), pengenalan hubungan/korespondensi pola ejaan dan bunyi
(kemampuan menyuarakan bahan tertulis atau to bark at print),
kecepatan membaca bertaraf lambat.
b. Keterampilan yang bersifat pemahaman (comprehension skills) yang
dapat dianggap berada pada urutan yang lebih tinggi (higher order).
Aspek ini mencakup : memahami pengertian sederhana (leksikal,
gramatikal, retorikal), memahami signifikansi atau makna (antara lain
maksud dan tujuan pengarang relevansi/keadaan kehudayaan, reaksi
pembaca), evaluasi atau penilaian (isi, bentuk), kecepatan membaca
yang fleksibel, yang mudah disesuaikan dengan keadaan.
B. Membaca Keras
1. Pengertian Membaca Keras
Ditinjau dari segi terdengar atau tidaknya suara si pembaca waktu
dia membaca, maka proses membaca dapat dibagi atas : a. membaca
nyaring, membaca bersuara, membaca lisan (reading old loud, oral
reading, reading aloud), b. membaca dalam hati (silent reading).
Pada membaca dalam hati, kita hanya mempergunakan ingatan
visual. Dalam hal ini yang aktif adalah mata (pandangan, penglihatan dan
ingatan juga turut aktif ingatan pendengaran) dan ingatan yang bersangkut
paut dengan otot-otot kita.
(Menurut Ismail SM, M. Ag, 2008 : 76) membaca keras adalah
membaca suatu teks dengan keras dapat membantu peserta didik
memfokuskan perhatian secara
mental, menimbulkan pertanyaan-
pertanyaan dan merangsang diskusi.
Strategi ini mempunyai efek pada memusatkan perhatian dan
membuat suatu kelompok yang kohesif.
2. Membaca Keras
a. Membaca keras (tidak dalam hati)
Membaca keras adalah hal yang paling utama dalam membantu
anak belajar membaca karena membantu berkembangnya kemampuan
membaca anak.
a.
Jadikan membaca keras menyenangkan, pilihlah tempat yang
nyaman
b.
Baca sesering mungkin, pagi hari, sebelum tidur siang, setelah
bermain
c.
pada saat anda membaca, bantu mereka, jelaskan bila mereka
tidak mengerti
d.
Bertanyalah mengenai yang anda baca
e.
Bicaralah mengenai buku yang dibaca
f.
Bacalah berbagai jenis buku
g.
Pilihlah buku yang membantu anda mengajar, seperti buku
alfabet, buku warna, dll
h.
Bacalah buku favorit mereka berulang-ulang
1) Jadilah contoh
Biarkan anak melihat ketika anda membaca, baik majalah, atau
buku, resep, peta, daftar belanja, tagihan, surat, apa saja. Membaca
merupakan bagian dari hidup kita dan anak akan punya keinginan
untuk belajar membaca bila kita melihatkan kepada mereka bahwa kita
membaca.
2) Kenalkan media cetak
Anak perlu menyadari adanya media cetak di sekitar mereka,
mengerti bahwa media cetak itu ada artinya dan mengalami media
cetak melalui tulisan
a)
Tunjukkan pada anak bahwa media cetak ada dimana saja,
bacakan kepada mereka, di kaos, di boks dll
b)
Suruh mereka membuat rambu dan label
c)
Alihkan perhatian mereka pada bermacam kegunaan media
cetak, daftar belanja dll
3) Jangan lupa untuk mendengar
Sukses tidaknya proses membaca juga bergantung pada
kesempatan untuk berbicara dan mendengarkan orang lain bicara.
Bantulah anak membaca dengan mendengarkan mereka. Biarkan
mereka berlatih bicara. Jadilah contoh pendengar yang baik.
Apa yang perlu anda lakukan untuk membantu anak
membaca ? Asosiasi Perpustakaan Amerika meringkaskan kemampuan
yang harus dimiliki anak sebelum membaca :
a) Kosa kata
Mengetahui nama-nama benda
b) Motivasi pada media cetak
Tertarik dan menikmati buku
c) Menyadari media cetak
Menyadari adanya media cetak, tahu memegang buku dan tahu
bagaimana mengikuti bacaan pada lembaran cetak
d) Kemampuan bercerita
Mampu menggambarkan suatu benda/kejadian dan bercerita
e) Sadar fonem
Dapat mendengar dan bermain dengan bunyi-bunyi yang terdapat
pada kata-kata
f) Pengetahuan huruf
Tahu bahwa huruf itu berbeda-beda, tahu nama-nama huruf,
bunyinya dan tahu bahwa huruf ada di mana-mana.
Prosedur dari strategi ini adalah :
a) Guru memilih sebuah teks yang cukup menarik untuk dibaca
dengan keras. Misal : bahasa Arab tentang angka, guru hendaknya
membatasi dengan suatu pilihan teks yang kurang dari 20 angka.
b) Guru menjelaskan teks itu dengan beberapa cara lain. Guru
menyuruh sukarelawan-sukarelawan untuk membaca keras bahasa
Arab angka tersebut.
c) Guru menjelaskan teks pada peserta didik secara singkat, guru
memperjelas point-point kunci atau masalah-masalah pokok yang
dapat diangkat.
d) Ketika bacaan-bacaan tersebut berjalan, guru menghentikan di
beberapa tempat untuk menekan point-point tertentu, kemudian
guru memunculkan beberapa pertanyaan atau memberi contoh.
Guru dapat membuat diskusi-diskusi singkat jika para peserta
menunjukkan minat dalam bagian tertentu, kemudian guru
melanjutkan dengan menguji apa yang ada dalam teks tersebut.
e) Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi dan tindak lanjut.
Menurut Prof. Dr. Komarudin Hidayat : 139 membaca keras
adalah kegiatan yang merupakan sebuah teknik hebat untuk
merangsang diskusi dan mendapatkan pemahaman lebih mendalam
tentang berbagai isu komplek.
Format tersebut mirip dengan sebuah perdebatan namun kurang
formal dan berjalan dengan lebih cepat.
Prosedurnya adalah :
a) Pilihlah sebuah masalah yang mempunyai dua sisi / perspektif atau
lebih.
٠
b) Bagilah kelas dalam kelompok-kelompok menurut jumlah posisi
yang
telah
anda
mengungkapkan
tetapkan,
argumennya
dan
untuk
mintalah
tiap
mendukung
kelompok
bidangnya.
Doronglah mereka bekerja dengan partner tempat duduk atau
kelompok-kelompok inti yang kecil.
c) Gabungkan kembali seluruh kelas, tetapi mintalah para anggota
dari tiap kelompok untuk duduk bersama dengan jarak antara subsub kelompok itu.
d) Jelaskan bahwa peserta didik bisa memulai perdebatan. Setelah itu
peserta didik mempunyai kesempatan menyampaikan suatu
argumen yang sesuai dengan posisi yang telah ditentukan, teruskan
diskusi tersebut dengan bergerak secara cepat maju mundur antara
atau diantara kelompok-kelompok itu.
e) Simpulkan kegiatan tersebut dengan membandingkan isu-isu
sebagaimana anda melihatnya, berikan reaksi dan diskusi lanjutan.
Variasi :
a) Sebagai ganti sebuah perdebatan kelompok dengan kelompok,
pasangkan peserta didik individual dari kelompok-kelompok
berbeda dan suruhlah mereka saling berargumen. Ini dapat
dilakukan secara serentak, agar setiap peserta didik didorong dalam
perdebatan itu pada saat yang sama.
b) Aturlah kelompok-kelompok yang berlawanan agar mereka saling
berhadapan. Ketika seorang menyimpulkan argumennya, suruhlah
١
peserta didik itu melemparkan suatu benda (sebuah pola) kepada
seorang anggota dari kelompok yang berlawanan. Orang yang
menangkap benda tersebut harus menangkis argumen orang
sebelumnya.
3. Ketrampilan-Ketrampilan Yang Dituntut Dalam Membaca Keras
Membaca keras merupakan aktivitas yang menuntut aneka
ragam
keterampilan.
Selanjutnya
akan
dikemukakan
sejumlah
keterampilan yang dituntut dalam membaca keras. Kita khususkan di
TK/RA dengan keyakinan bahwa apabila keterampilan-keterampilan
tersebut telah dilatih sejak awal, maka apabila para pelajar melanjutkan
atau meningkatkan pelajaran di sekolah lanjutan mereka telah
mempunyai modal yang sangat penting. Keterampilan-keterampilan
pokok telah ditanm di TK, pemupukan serta pengembangan dilakukan di
sekolah selanjutnya.
Daftar keterampilan berikut ini bagi para guru menolong
menjalankan tugasnya untuk mencapai tujun yang telah ditentukan
dalam membaca keras.
Kelas TK B :
a. Membaca dengan terang dan jelas.
b. Membaca dengan penuh perasaan, ekspresi.
c. Membaca tanpa tertegun-tegun, tanpa terbata-bata.
4. Peningkatan Keterampilan Membaca Keras
Seorang pembaca keras yang baik biasanya berhasrat sekali
menyampaikan sesuatu yang penting kepada para pendengarnya. Sesuatu
yang penting tersehut dapat berupa informasi yang baru, sesuatu
pengalaman yang berharga, uraian yang jelas, karakter yang menarik hati,
sekelumit humor yang segar, atau sebait puisi. Tanpa dorongan yang
sedemikian rupa maka kegiatan membaca keras itu akan menjadi hambar
dan tidak hidup. Sang pembaca hendaknya mengetahui serta mendalami
keinginan serta kebutuhan para pendengarnya, serta menginterpretasikan
bahan bacaan itu secara tepat.
Agar dapat membaca keras dengan baik, maka sang pembaca
harus mnguasai keterampilan-keterampilan persepsi (penglihatan dan
daya tanggap) sehingga dia mengenal/memahami kata-kata dengan cepat
dan tepat. Yang sama pentingnya dengan hal itu ialah kemampuan
mengelompokkan kata-kata ke dalam kesatuan-kesatuan pikiran serta
membacanya dengan baik dan lancar. Untuk membantu para pendengar
menangkap serta memahami maksud sang pengarang, maka sang
pembaca biasanya mempergunakan berbagai cara, antara lain : a. Dia
menyoroti ide-ide baru dengan mempergunakan penekanan yang jelas, b.
Dia menjelaskan perubahan dari satu ide ke ide lainnya, c. Dia
menerangkan kesatuan-kesatuan pikiran di dalam satu kalimat dengan
penyusunan kata-kata yang tepat dan baik, d. Menghubungkan ide-ide
yang bertautan dengan jalan menjaga suaranya agar tinggi sampai akhir
dan tujuan tercapai, e. Menjelaskan klimaks-klimaks dengan gaya dan
daya ekspresi yang baik dan benar.
5. Cara belajar bahasa arab dengan membaca keras
Reading Aloud atau belajar bahasa arab dengan membaca keras
salah satu sistem pembelajaran kooperatif yang didalamnya siswa
dibentuk kedalam kelompok belajar terdiri 2 - 5 siswa. Guru memberikan
penjelasan dan selanjudnya siswea bekerja dalam kelompoknya masingmasing (jika bentuk kelompok dan saling bertukar pikiran atau tanya
jawab dengan sesama temannya masing-masuing kelompok telah
menguasai 2 – 5 nama-nama benda dalam bahasa arab yang telah
diberikan guru. Kemudian siswa mulai melaksanakan tugas individu
dengan menghafal nama-nama benda bahasa arab yang kemudian
diucapkan atau dibaca dengan suara keras sehingga teman-teman yang
lain bisa mendengar dengan sempurna dan konsentrasi dalam belajarnya.
Siswa yang berani membaca keras nama-nama benda dalam
bahasa arab maka akan diberi nilai yang bagus dan mendapat poin
tersendiri, nilai ini kemudian ditambah pada nilai kelompok.
a. Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran
dimana siswa belajar bahasa arab sederhana dalam kelompokkelompok kecil yang berbeda. Dalam menjelaskan tugas kelompok,
setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami
bahan. pembelajaran kooperatif
berikut:
dapat dikelompokkan sebagai
1. Siswa bekerja sama dalam kelompok untuk menguasai matrri
pembelajaran
2. Kelompok siswa terdiri dari siswa berprestasi tinggi, sedang dan
rendah
3. Bila memungkinkan kelompok tersebut merupakan campuran
dari jenis kelamin
Dalam
pembelajaran
kooperatif
ini,
keberhasilan
individu
diorientasikan keberhasilan kelompok, dalam hal ini siswa
bekerjasama dalam mencapai tujuan, siswa berusaha keras untuk
membantu mendorong teman-temannya untuk berhasil dalam belajar.
Siswa juga harus bekerja bersama-sama dalam belajara dan
bertanggung jawab atas pembelajaran yang dilakukan. Menekankan
pada tujuan dan keberhasilan kelompok hanya dapat dicapai jika
semua anggota kelompok mempelajari apa yang diajarkan.
b. Karakteristi pembelajaran reading aloud pada pembelajaran bahasa
arab
Dalam pembelajaran bahasa arab sederhana dengan membaca keras
maka siswa akan lebih berani dn percaya diri bahwa dirinya bisa.
c. Penguasaan materi pembelajaran
Penguasaan materi pembelajaran merupakan indikator suatu
keberhasilan dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Belajar
intensitas penguasaan materi pembelajaran dapat dipengaruhi tiga hal
faktor utama yaitu guru, siswa dan lingkungan atau situasi
pembelajaran dikelas.
Dengan adanya berbagai faktor diatas, perlu adanya strategi
pembelajaran diharapkan penguasaan materi siswa dapat ditingkatkan
juga diharapkan pendidik lebih kreatif dalam penyampaian materi belajar
dengan membuat program secara terencana. Kegiata-kegiatan dan latihanlatihan secara rutin sehingga siswa dapat memperoleh dan menguasai
materi pelajaran.
6. Contoh bahasa arab sederhana
Tema anggota tubuh 2 – 10 kata
No
1
2
3
4
5
6
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Rambut
Sya'run
Ro'sun
Jabhatun
Udzunun
Ainun
Anfun
Kepala
Dahi
Telinga
Mata
Hidung
7
8
9
10
Kaki
Rijlun
Yadun
Sinnun
Zunfrun
!"
Tangan
Gigi
Kuku
C. Intonasi
Bila kita memperhatikan dengan cermat tutur bicara seseorang,
maka arus ujaran (bentuk bahasa) yang sampai ke telinga kita terdengar
seperti berombak-ombak. Hal ini terjadi karena bagian-bagian dari arus
ujaran itu tidak sama nyaring diucapkan. Ada bagian yang diucapkan lebih
keras dan ada bagian yang diucapkan lebih lembut, ada bagian yang
diucapkan lebih tinggi dan ada bagian yang lebih rendah, ada bagian yang
diucapkan lambat-lambat dan ada bagian yang diucapkan dengan cepatcepat. Di samping itu di sana-sini, arus ujaran itu masih dapat diputuskan
untuk suatu waktu yang singkat atau secara relatif lebih lama, dengan
suara yang meninggi (naik), merata, atau merendah (turun). Keseluruhan
dari gejala-gejala ini terdapat dalam suatu tutur disebut intonasi. (Gorys
Keraf, 1991 : 30)
Berarti intonasi itu tidak merupakan suatu gejala tunggal, tetapi
merupakan perpaduan dari bermacarn-macam gejala yang disebut :
Tekanan (Stress), Nada (Pitch), Durasi (panjang-pendek), Perhentian, dan
suara yang meninggi, mendatar atau merendah pada akhir arus ujaran tadi.
Intonasi dengan semua unsur pemhentuknya itu disèbut Suprasegmental.
(Gorys Keraf 1991 : 30)
Berdasarkan hal tersebut di atas maka yang dimaksud dengan
intonasi adalah kerjasama antara nada, tekanan, durasi, dan perhentianperhentian yang menyertai suatu tutur, dan awal hingga keperhentian
terakhir.
Karena unsur yang terpenting dari intonasi adalah tekanan, nada,
durasi, dan perhentian, maka di bawah ini akan diberikan uraian singkat
mengenai keempat komponen.
1. Tekanan (Stress)
Tekanan (Stress) adalah suatu jenis unsur suprasegmental yang
ditandai oleh keras-lembutnya arus ujaran. Arus ujaran yang lebih
keras atau lebih lembut ditentukan oleh amplitudo getaran, yang
dihasilkan oleh tenaga yang lebih kuat atau lebih lemah. (Gorys Keraf,
1991 : 30)
2. Nada (Pitch)
Yang dimaksud dengan nada (pitch) adalah suatu jenis unsur
suprasegmental yang ditandai oleh tinggi-rendahnya arus ujaran.
Tinggi rendahnya arus ujaran terjadi karena frekuensi getaran yang
berbeda antar segmen. Bila seseorang berada dalam kesedihan ia akan
berbicara dengan nada rendah. Sebaliknya bila berada dalam keadaan
gembira atau rnarah, nada tinggilah yang dipergunakan orang. Suatu
perintah atau pertanyaan selalu disertai nada khas. Nada dalam ilmu
bahasa biasanya dilambangkan dengan angka misalnya /2 3 2/ yang
berarti segmen pertama ketiga lebih rendah dari segmen kedua.
3. Tempo
Yang dimaksud dengan tempo adalah cepat lambatnya suara
dalam
percakapan.
Tempo
inipun
digunakan
sesuai
dengan
suasananya. Orang yang riang selain berbicara dengan nada tinggi,
tekanan keras, juga disertai tempo percakapan yang ceat. Sedangkan
bila suasana sedih hanya menggunakan nada rendah, tekanan dinamik
lembut dan tempo yang lambat.
Kerangka Berfikir
Peningkatan mutu pendidikan merupakan sasaran pembangunan di bidang
pendidikan nasional dalam raangka peningkatan mutu manusia Indonesia kaffah.
Untuk mencapai tujuan tersebut diatas perlu diterapkan berbagai strategi
pembelajaran yang sesuai dengan mata pelajaran bahasa Arab sederhana yaitu
dengan menggunakan reading aloud membaca keras (di RA). Salah satu strategi
pembelajaran yang diasumsikan relevan dengan pembelajaran kooperatif dengan
sistem membaca keras. Dalam sistem membaca keras, siswa belajar untuk
mengeluarkan suaranya tidak hanya pasif di kelas dan kelas akan menjadi hidup
dan siswa bekerja bersama-sama untuk belajar dan bertanggung jawab atas
pembelajaran yang dilakukan. Proses belajar mengajar diorientasikan pada tujuan
dan keberhasilan semua siswa, dan siswa memiliki kesempatan yang sama untuk
mempeorleh keberhasilan.
Faktor guru dan siswa snagat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran
bahasa Arab sederhana dengan menggunakan bahasa keras. Pembelajaran dengan
sistem membaca keras menuntut kesiapan pelajaran yang berlangsung berkaitan
dengan lingkungan pembelajaran yang nyata.
Kesiapan siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran turut
menentukan kualitas pembelajaran. Jika kualitas pembelajaran meningkat dapat
diasumsikan terjadi peningkatan penguasaan materi pembelajaran yang akhirnya
meningkatkan prestasi belajar pada siswa.
Hipotesis Tindakan
Hipotesis secara singkat adalah dugaan sementara, tapi hipotesis berasal
dari 2 kata, yaitu hypo berarti di bawah dan thesa berarti kebenaran. Hipotesis
adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap masalah penelitian sampai
terbukti melalui data. Hipotesis adalah dugaan sementara yang mungkin benar
atau mungkin salah. Dia akan ditolak jika salah dan akan diterima jika benar bila
fakta-fakta itu benar.
Adapun hipotesis yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut :
٠
1. Strategi pembelajaran dengan model reading aloud dapat meningkatkan
perhatian siswa dalam mata pelajaran Bahasa Arab sederhana.
2. Strategi pembelajaran dengan sistem reading aloud dapat meningkatkan
aktivitas siswa dalam belajar Bahasa Arab sederhana.
3. Strategi pembelajaran dengan model reading aloud dapat meningkatkan
prestasi belajar siswa.
BAB III
DESKRIPSI SEKOLAH
A. Tempat Penelitian
Pada penelitian ini peneliti mencari tempat penelitian dimana tempat
tersebut adalah tempat dimana peneliti mengajar dalam kegiatan sehari-hari.
Mudah dijangkau dan memerlukan biaya yang tidak terloalu mahal. Disini
peneliti akan memaparkan profil sekolah yang diteliti dengan data sebagai
berikut :
1. Alamat Sekolah
Nama sekolah
: RA MASITHOH KEBUMEN BANYUBIRU
SEMARANG
Nama yayasan
: AL MAARIF
Tanggal didirikan : 1 Januari 1975
Alamat sekolah
: Jln. Brantas no. 1 Kebumen Banyubiru
Semarang
Terakreditasi
:A
Nomer telepon
: (0298) 5992986
Kode Pos
: 50664
a. Profil nama-nama anggota yayasan Al Maarif Kebumen
Banyubiru Semarang
Nama Ketua Yayasan
: Khodziq Faisol
Alamat
: Kebon Wage, Kebumen
١
Nama Sekretaris Yayasan : M. Adib
Alamat
: Kebon Wage, Kebumen
Nama Bedahara Yayasan : Bp. Mahbud
Alamat
: Krajan RT 03 / RW 07 Kebumen
Nama Anggota
:
Bpk. Shobirin
Bpk. Nasokha
Bpk. Bindari
Bpk. Imroni
Bpk. Sonani
b. Profil nama-nama guru pengajar RA MASITHOH Kebumen
Banyubiru Semarang
1) Nama
: Farida Ariyani, A. Ma.
Tempat/ tanggal lahir : Kab. Semarang, 16 November 1072
Alamat
Kedudukan
2) Nama
: Pundan Banyubiru
: Kepala Sekolah (PNS)
: Siti Soviatun, A. Ma.
Tempat/ tanggal lahir : Kab. Semarang, 22 Maret 1980
Alamat
: Krajan RT 05/RW 07 Kebumen
Banyubiru
Kedudukan
3) Nama
: Guru Kelas TK B
: Maslikhatul Umami, A. Ma.
Tempat/ tanggal lahir : Kab. Semarang 5 Juli 1983
Alamat
: Krajan RT 01/RW 07 Kebumen
Banyubiru
Kedudukan
4) Nama
: Guru Kelas TK A
: Siti Nur Asiyah
Tempat/ tanggal lahir : Kab. Semarang 17 November 1984
Alamat
Kedudukan
5) Nama
: Tenggaron Banyubiru
: Guru Kelas TK A
: Naviatun Muthila'ah, S. Pdi
Tempat/ tanggal lahir : Kab. Semarang 25 September 1983
Alamat
Kedudukan
6) Nama
: Kali Beji Tuntang
: Guru TK B
: Malimatul Mustamiroh
Tempat/ tanggal lahir : Kab. Demak 17 April 1984
Alamat
Kedudukan
7) Nama
: Pundan Banyubiru
: Guru Mengaji
: Atik Ta'lina
Tempat/ tanggal lahir : Kab. Semarang 05 Agustus 1982
Alamat
Kedudukan
: Kebon Wage
: TU
2. Deskripsi Geografis
RA MASITHOH Kebumen Banyubiru adalah merupakan
sekolah yang didirikan oleh yayasan Al Maarif desa Kebumen.
Letaknya tidak jauh dari jalan raya ambarawa-salatiga. Kira-kira
kurang lebih 200 meter dari jalan raya tersebut. RA MASITHOH
Kebumen Banyubiru terletak antara bukit-bukit kecil yang indah dan
biasanya dilewati untuk pariwisata yang ingin ke air terjun pancur
yang indah dijangkau dengan berjalan kaki. Selain itu sekolah ini
juga terdapat ojek sepeda motor dikarenakan desa-desa yang berada
di kelurahan Kebumen banyak di daerah kaki bukit, sehingga orang
yang akan menuju desa tersebut akan jauh bilas dijangkau dengan
berjalan kaki. Di bagian samping sekolah ada jurang tetapi tidak
begitu dalam, jika musim hujan terdengar sangat berisik sekali,
karena air di sungai banjir. Selain ada jurang sekolah ini dikelilingi
kebun warga yang lumayan luas dengan ditumbuhi pohon buah seta
perumahan para warga sekitar. Karena sekolah kita sudah diberi
pagar sehingga aktivitas warga tidak menggangu kegiatan yang ada
di sekolah.
Letak sekolah kita sangat strategis dan mudah dijangkau dari
desa manapun, karena letaknya yang tidak terlalu jauh dengan jalan.
Udaranyapun tidak terlalu panas karena banyak tumbuhan dan
dikelilingi bukit kecil. Siswa yang sekolah sinipun tidak hanya dari
desa Kebumen saja, tetapi sudah sampai ke desa tetangga
dikarenakan sekolah tersebut mempunyai fasilitas yang cukup
dibanding dengan RA atau TK yang lain.
Dulunya sekolah ini kurang luas jika setiap tahunnya selalu
mendapat siswa yang banyak, sehingga kami yang dari yayasan,
sekolah dan masyarakat sekitar berembuk untuk melebarkan sekolah
ini. disamping sekolah terdapat kebun warga yang luas, dan rencana
akan dibeli sekolah dari setengahnya luas kebun tersebut. Pihak
yayasan bergegas untuk membicarakan tanah tersebut kepada orang
yang memilikinya, apakah sebagian tanahnya boleh dijual untuk
dijadikan atau memperluas lahan sekolah.
Akhirnya pemilik tanah menjualnya kepada kami dengan
harga yang tidak terlalu mahal, karena pemilik tanah tersebut juga
bukan dari desa lain bahkan dari dsa Kebumen sendiri. Dana
dikumpulkan dari kas yayasan, sekolah, sumbangan wali murid dan
juga dermawan dari masyarakat sekitar. Setelah dana terkumpul uang
tersebut diberikan kepada pemilik tanah dan tanah resmi menjadi
milik sekolah.
Perluasan sekolahpun dijalankan dengan menambah lokal
kelas atau menambah ruang kelas serta pelebaran lapangan sekolah
yang digunakan untuk berolahraga seta letak alat-alat permainan
diluar kelas seperti : ayunan, jungkat-jungkit, komedi putar, bola
dunia, papan titian dan banyak lagi. Selain itu juga dibuatkan aula
yang cukup lebar digunakan untuk pertemuan rapat-rapat guru
(IGRA, IGTKI, KKG, KORSA) serta rapat wali murid sehingga
tidak perlu menggunakan kelas untuk kegiatan-kegiatan seperti itu.
Disekitar pinggir lapangan sekolah ditanami berbagai jenis
tanaman, agar terlihat indah. Dan juga membuat para siswa senang,
ceria dalam bermain serta siswa menjadi betah berada di sekolah.
3. Deskripsi Reputasi Sekolah
RA MASITOH berdiri pada tanggal 1 Januari 1975, berarti
sudah mencapai 35 tahun. Sekolah ini selalu mempunyai murid yang
banyak. Karena persaingan sekolah TK disekitar kami sedikit dan
letaknya juga agak jauh dari sekolah ini sehingga banyak orang tua
yang menyekolahkan anaknya disekolah kami dan dari berbagai
dusun di desa Kebumen.
RA MASITHOH Kebumen baru satu kali menikuti akreditasi
pada tahun 2007 dengan hasil yang sangat bagus yaitu terakreditasi
A dari Departemen Pendidikan Nasional. Itu berkat kerja keras guruguru pengajar dan kerjasamanya dengan yayasan, masyarakat sekitar
dan wali murid. Kerjasamanya yaitu dengan mengisi atau menulis
apa yang ada disekitar sekolah seperti sarana prasarana, buku
administrasi, kegiatan sekolah dan lain-lain. Itu untuk guru pengajar.
Menambah perqalatan sekolah yang masih kurang, membersihkan
sekolah, halaman, lapangan sekolah sehingga terlihat indah, kamar
mandi supaya tidak bau yang tidak enak, mengecat sekolah, menata
ruangan kelas, menambah hiasan kelas dan alat peraga itu wujud
kerjasama wali murid.
Sekolah ini juga selalu mendapat juara jika mengikuti lomba
antar sekolah tingkat kecamatan dan sebagian juga pernah menjuarai
lomba ditingkat kabupaten. Seperti lomba porseni anak yang tahun
juara dua lomba melukis dan mewarnai, juara dua senam kreasi guru,
juara tiga lari tunggal putri. Dan pada tahun 2008 menjuarai lomba
paduan suara dengan dua puluh satu peserta mendapat juara pertama
ditingkat kabupaten.
BAB IV
ANALISA DATA
A. Penyajian Data
Sebelum mengadakan penelitian, terlebih dahulu mempersiapkan
segala sesuatunya sebagai bekal dalam melaksanakan penelitian ini dan
diharapkan penelitian ini dapat berjalan dengan lancar. Dalam bagian ini,
penulis akan mengemukakan segala pengalaman dan kegiatan sampai
diperoleh data-data yang dipergunakan untuk mengetahui kemampuan
membantu keras siswa kelas TK RA Masithoh Kebumen Banyubiru
Semarang.
Adapun data – data nama siswa kelas TK B yang digunakan sebagai
obyek penelitian adalah sebagai berikut :
Tabel I Data Karakteristik Siswa Kelas B1 RA Masithoh Kebumen
Banyubiru
NO NAMA SISWA
L/P
UMUR (TH)
1
Alya
P
5
2
Atul
P
5
3
Asna
P
5
4
Haffa
P
5
5
Linda
P
5
6
Mafaza
P
5
7
Riska
P
5
8
Salisa
P
5
9
Sasa
P
5
10
Abda
L
5
11
Adi
L
5
12
Akafif
L
5
13
Diki
L
5
14
Romadhon
L
5
15
Noval
L
5
16
Reza
L
5
17
Rois
L
5
B. Deskripsi Pelaksanaan Siklus I
Penelitian dilaksanakan satu kali pretes dalam tiga siklus yang masingmasing meliputi: perencanaan (Planning), pelaksanaan (acting), observasi dan
refleksi. Sebelum pembelajaran menggunakan metode reading aloud dan
dilaksanakan, terlebih dahulu penulis melakukan pretes, yaitu pengajaran pada
materi yang sama tanpa menggunakan metode reading aloud.
1. Pretes
Pretes dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 8 April 2010.
pembelajaran pada pretes ini merupakan pembelajaran terintegrasi di RA
Masithoh Kebumen Banyubiru dengan Tema Diri Sendiri Sub Tema
Anggota Tubuh Manusiadan memuat beberapa indicator yang harus
dicapai. Indicator – Indikator tesebut antara lain: pendidikan agama Islam,
Bahasa, Moral Perilaku, Fisik Motorik, areaMatematika dan seni tanpa
menggunakan metode reading aloud. Langkah – langkah yang
dilaksanakan adalah :
i.
Perencanaan
Dalam tahab ini, tercakup kegiatan sebagai berikut :
1) Penelitian merencanakan pembelajaran dengan metode ceramah,
Tanya jawab dan mempersiapkan materi pelajaran yang akan
diberikan.
2) Peneliti menyusun Satuan Kegiatan Harian ( SKH ) sesuai dengan
pokok bahasan dan instrument pengumpulan data selama penelitian
berlangsung.
٠
3) Peneliti menyiapkan perankat dan sarana media pembelajaran.
ii.
Pelaksanaan
1. Kegiatan Pendahuluan (30 menit)
Membuka pembelajaran dengan :
a. memberi salam dan memulai pelajaran dengan membaca ikrar
dua kalimat syahadat dan doa mau belajar
b. Menjelaskan materi pelajaran dan kompetensi yang diharapkan
dan pemberian motivasi akan manfaat mempelajari bahan
pelajaran
c. Bercakap – cakap tentang macam – macam ciptaan Allah mata,
kaki dan tangan
d. Guru membaca syair tentang mata
2. Kegiatan Inti (60 menit)
a. Guru membacakan macam- macam anggota tubuh manusia
dengan bahasa arab
b. Guru menunjuk bagian – bagian anggota tubuh manusia dengan
bahasa arab
c. Membilang urutan bilangan 1 – 20 dan meminta anak
menirukan
3. Istirahat Makan (30 menit)
a. Makan bekal bersama dengan pengamatan guru
b. Sopan santun makan, berdoa sesudah makan dan sebelum
makan
١
c. Bermain di halaman
4. Kegiatan Akhir (45 menit)
a. Guru menanyakan tentang bagian – bagian wajah dengan
bahasa arab
b. Guru menanyakan tentang kegunaan mata, hidung dan telinga
c. Tanya jawab tentang kesehatan dan kebersihan gigi, kuku dan
rambut
Penulis melaksanakan penelitain proses pembelajaran
pada pretes dengan melakukan teknik observasi dan pencatatan
anekdot. Hasil penelitian pretes siswa ini penulis susun dalam
table2.
Table 1.2 Hasil Penelitian Pretes Siswa RA Masithoh Kebumen Banyubiru
pada Indikator Pendidikan Agama Islam
No Aspek yang diamati
1
2
3
4
Sering bertanya pada
guru atau siswa lain
Mau
Mengerjakan
Tugas yang diberikan
guru
Mampu menjawab
pertanyaan
Senang diberi tugas
belajar
iii.
Kemunculan
BM MM BSH BSB
V
V
V
V
Koreksi
catatan/pengamat
10
siswa
belum
muncul (58,82%)
8
siswa
belum
muncul (47,05%)
7
siswa
belum
muncul (41,17%)
Baru 7 anak yang
berkembang sesuai
harapan (41,17%)
Evaluasi
Evaluasi pelajaran berupa memberikan sejumlah pertanyaan
kepada siswa yang harus dijawab secara lisan kemudian dinilai oleh
guru. Evaluasi tersebut berguna untuk menilai proses pembelajaran
untuk mengetahui hasil pembelajaran. Hasil evaluasi ini menjadi nilai
pretes. Hasil lengkap mengenai nilai siswa pada pretes ini adalah
sebagai berikut.
Tabel 1.3 Nilai Siswa Kelas TK B RA Masithoh Kebumen
Banyubiru Pada Indikator Pendidikan Agama Islam pada pretes
No
Nama Siswa
L/P
1
2
3
4
Alya
Atul
Asna
Haffa
P
P
P
P
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
Linda
Mafaza
Riska
Salisa
Sasa
Abda
Adi
Akafif
Diki
Romadhon
Noval
Reza
Rois
P
P
P
P
P
L
L
L
L
L
L
L
L
Kemunculan
Keterangan
BM MM BSH BSB
v
V
V
V
V
tgl ijin
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
2. Sklus I
Siklus pertama penelitian ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal
17 April 2010 dengan pengembangan kompetensi dasar terintegrasi berupa
Pendidikan Agama Islam, bahasa, moral perilaku, fisik motorik,
matematika dan seni. Tena yang diajarkan adalah mengenai diri sendiri
dan sub tema anggota tubuh manusia. Sedangkan materi yang diberikan
adalah bahasa arab tentang anggota tubuh manusia. Tahab lengkap yang
dilakukan peneliti adalah :
i.
Perencanaan
Dalam tahab ini, tercakup kegiatan sebagai berikut :
1. Peneliti menentukan permasalahan dan pengkajian evaluasi
terhadap pembelajaran di RA Masithoh Kebumen Banyubiru
sebelumnya dilakukan tanpa menggunakan metode reading aloud
sehingga aspek seringnya bertanya pada guru atau siswa lain belum
muncul (10 siswa atau 58,82%), masih yang mau mengerjakan
tugas yang diberikan guru (8 siswa atau 47,05%), sedikit yang
mampu menjawab pertanyaan (7 siswa atau 41,17%), dan sangat
sedikit siswa yang merasa senang diberi tugas belajar (7 siswa atau
41,17%).
2. Peneliti menyusun Satuan Kegiatan Harian (SKH) sesuai dengan
pokok bahasan dan instrument pengumpulan data selama penelitian
berlangsung.
3. Peneliti menyiapkan perangkat dan sarana dan sarana media
pembelajaran.
ii.
Pelaksanaan
Siklus I dilaksanakan pada hari Sabtu, 17 April 2010 selama dua
jam . pembelajaran dilaksankan dengan system pembelajaran
terintegrasi dengan pengembangan kompetensi dasar terintegrasi
berupa Pendidikan Agama Islam, bahasa, moral perilaku, fisik
motorik, matematika dan seni. Tema yang diajarkan adalah diri sendiri
dan sub tema anggota tubuh manusia. Sedangkan materi bahasa arab
anggota tubuh pada wajahyang diberikan adalah tata cara berwudlu
dengan tertib, jalannya proses pembelajaran adalah :
1) Melakukan Pre
tes
tentang seringnya
bertanya,
kemauan
mengerjakan tugas , kemampuan menjawab pertanyaan dan minat
dalam mengerjakan tugas. Penulis menggunakan nilai pretes pada
kegiatan pembelajaran sebelumnya, yaitu pembelajaran tanpa
reading aloudsebagai acuan.
2) Melakukan pembelajaran sesuai dengan strategi dalam SKH
1. Kegiatan Pendahuluan (30 menit)
Membuka pembelajaran dengan :
a. Memberi salam dan memulai pelajaran dengan membaca
ikrar mengucapkan dua kalimat syahadat dan doa mau
belajar
b. Menjelaskan materi pelajaran dan kompetensi yang
diharapkan
c. Guru menjelaskan tentang pembelajaran metode reading
aloud
d. Guru menyempaikan tujuan pembelajaran
e. Guru melakukan apersepsi dan motivasi
f. Hafalan bersama asmaul husna
g. Guru membuka percakapan mengenai macam – macam
anggota tubuh manusia dari atas sampai bawah
h. Guru membaca syair tentang mata
2. Kegiatan Inti (60 menit)
Pelaksanaan pembelajaran metode reading aloud
a. Guru memperlihatkan gambar anggota tubuh manusia
b. Guru menunjuk gambar anggota tubuh manusia dengan
menggunakan bahsa arab
c. Guru menyanyikan gerak dan lagu tentang anggota tubuh
manusia
d. Guru menggambar gambar mata dengan ditulis kata mata
menggunakan bahasa arab
e. Menggunting gambar orang
f. Membilang urutan bilangan 1 – 20 bergantian anak yang
sudah se;esai mengerjakan tugas.
3. Istirahat Makan (30 menit)
a. Makan bekal bersama dengan pengamatan guru
b. Guru memperhatikan sopan santun makan
c. Guru memimpin doa sebelum dan sesudah makan
d. Bermain di halaman
4. Kegiatan Akhir (45 menit)
a. Menyanyi bersama “ro’sun kepala”
b. Tepuk panca indra
c. Tanya jawab tentang kesehatan dan kebersihan gigi, kuku
dan rambut
d. Doa penutup belajar
iii.
Observasi
Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk meningkatkan
pemahaman terhadap pelajaran bahasa arab anggota tubuh manusia
pada siswa kelas B RA Masithoh Kebumen Banyubiru tahun 2010
dengan menggunakan metode reading aloud, pada akhir pembelajaran
diadakan evaluasi guna mengetahui hasil pembelajaran maka
obseervasi terhadap situasi kelas pada saat pembelajaran dilakukan
oleh peneliti.
Dalam observasi, peneliti menggunakan lembar pengamatan
sebagai berikut :
iv.
Table 1.4 Lembar Pengamatan Situasi Kelas pad Siklus I
Kemunculan
Koreksi
No Aspek yang diamati
BM MM BSH BSB catatan/pengamat
1
Sering bertanya pada
12 siswa telah seringt
V
guru atau siswa lain
bertanya (70,59%)
2
Mau
Mengerjakan
10
siswa
mau
Tugas yang diberikan
V
mengerjakan
tugas
guru
(58,82%)
3
Mampu menjawab
9
siswa
mampu
pertanyaan
V
menjawab pertanyaan
(52,94%)
4
Senang diberi tugas
10 siswa senang
belajar
V
diberi tugas belajar
(58,82%)
Refleksi
Refleksi dilakukan oleh peneliti berdasarkan dua hasil penelitian,
yaitu hasil pengamatan situasi kelas pembelajaran, dan hasil observasi
terpenuhinya
hasil
pengembangan
kompetensi
dasar
yang
direncanakan yaitu kompetensi dasar Pendidikan Agama Islam yang
diharapkan berkembang adalah hafalan asmaul husna, tata cara wudlu
dan doa sehari – hari.
Berdasarkan hasil pengamatan situasi pembelajaran pada siklus
pertama ini, peneliti dapat menemukan kelemahan pembelajaran
sebagai berikut :
a. Masih ada 15 siswa (29,41%) yang belum sering bertanya pada
guru atau siswa lain
b. Ada 7 siswa (41,17%) yang masih belum mau mengerjakan tugas
yang diberikan guru
c. Baru 9 siswa (50,94%) yang mampu menjawab pertanyaan guru
d. Baru 10 anak (58,82%) yang merasa senang diberi tugas oleh guru
e. Guru belum mampu maksimal dalam menerapkan metode reading
aloud.
Meski demikian, pembelajaran ini telah menunjukkan peningkatan,
yanitu dalam hal – hal :
1) Ada peningkatan siswa yang sering mengajukan pertanyaan yang
sebelumnya 10 siswa menjadi 12 siswa, atau terjadi peningkatan
dua kali lipaat pada siklus I
2) Ada peningkatan siswa yang mau mengerjakan tugas yang
diberikan guru dari yang sebelumnya 8 siswa menjadi 10 siswa.
3) Ada peningkatan siswa yang mampu menjawab pertanyaan guru
dari sebelumnya 7 siswa menjadi 9 siswa
4) Ada peningkatan sikap senang siswa ketika diberi tugas oleh guru
dari yang sebelumnya 7 siswa menjasi 10 siswa
5) Proses pembelajaran siklus I berlangsung baik. Siswa telah mulai
mengalami peningkatan dalam kegiatan belajar mengajar
6) Pemahaman siswa terhadap materi pelajaran juga mengalami
peningkatan yang cukup tinggi pada siklus I jika dibandingkan pad
pretes. Hal tersebut dapat dilihat dalam table berukut.
Tabel 1.5 Hasil Penilaian Siswa Kelas TK B RA Masithoh
Kebumen Banyubiru pada Indikator Pendidikan Agama Islam
pada Siklus I
Kemunculan
No
Nama Siswa
L/P
Keterangan
BM MM BSH BSB
1
Alya
P
V
V
2
Atul
P
V
3
Asna
P
V
4
Haffa
P
V
5
Linda
P
V
6
Mafaza
P
V
7
Riska
P
V
8
Salisa
P
V
9
Sasa
P
V
10
Abda
L
V
11
Adi
L
V
12
Akafif
L
V
13
Diki
L
V
14
Romadhon
L
V
15
Noval
L
V
16
Reza
L
V
17
Rois
L
Jumlah
Presentase
%
%
%
%
١
١
Tabel 1.5 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan apabila
dibandingkan dengan nilai – nilai pada tabel 1.3. Jika pada pretes
(tabel 1.3) masih ada 10 siswa (59%) yang memperoleh BM (belum
muncul) dalam kompetensi dasar pendidikan agama, maka pada siklus
I (tabel 1.5) jumlah tersebut telah menurun menjadi 2 siswa (12%).
Sebaliknya, jumlah siswa yang memperoleh BSB (berkembang sangat
baik) dalam KD yang sama meningkat dari yang sebelumnya tidak ada
(0%) menjadi 2 siswa (12%). Walaupun peningkatannya hanya 12 %,
namun hal ini cukup menggembirakan karena terbukti metode yang
penulis gunakan dalam proses belajar mengajar memberikan pengaruh
terhadap pemahaman siswa.
Berdasarkan beberapa hal di atas, maka hal – hal yang akan
peneliti perhatikan dan perbaiki pada siklus II adalah :
1) Mencari masalah yang menyebabkan adanay 5 siswa (29,41%)
yang belum sering bertanya. Penulis menemukan bahwa dominasi
siswa yang pintar (5 siswa) masih terlalu besar sehingga siswa
lainnya memilih untuk diam. Guru perlu melakukan perbaikan
terhadap metode reading aloud agar mampu menghilangkan
masalah tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan memberi
kesempatan siswa lain untuk bertanya.
2) Melakukan pembatasan waktu agar siswa terpacu dan lebih
semangat
٠
3) Guru berusaha lebih mampu menguasai keadaan kelas dengan
menarik perhatian siswa, menggunakan intonasi yang menarik dan
bahasa tubuh yang baik.
C. Diskripsi Pelaksanaan Siklus II
i.
Perencanaan
Siklus kedua penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 15 Mei
2010
dengan
pembelajaran
terintegrasi
yaitu
mengandung
pengembangan kompetensi dasar Pendidikan Agama Islam, perilaku,
bahasa, fisik motorik, seni dan kognitif. Adapun tema yang diajarkan
mengenai diri sendiri dan sub tema anggota tubuh manusia. Materi
bahasa arab yang diberikan dalam pembelajaran ini adalah :
Masih tentang anggota tubuh tangan dan kaki
Tahapan perencanaan terdiri atas :
a. Menyusun Satuan Kegiatan Harian (SKH)
b. Menyusun alat evaluasi
c. Menyiapkan bahan pembelajaran.
d. Menyiapkan alat observasi
ii.
Pelaksanaan
Siklus II dilaksanakan pada hari Sabtu, 15 Mei 2010 selama dua
jam . pembelajaran terintegrasi yaitu mengandung pengembangan
kompetensi dasar Pendidikan Agama Islam, bahasa, perilaku, fisik
motorik, seni dan kognitif. Adapun tema yang diajarkan adalah diri
١
sendiri dan sub tema anggota tubuh manusia. Materi bahasa arab yang
diberikan dalam pembelajaran ini adalah keginaan tangan dan kaki,
jumlah tangan dan kaki, membaca keras bahasa arabnya tangan dan
kaki. Jalannya proses pembelajaran ini adalah :
a. Melakukan pretes. Nilai pretes diambil dari nilai siklus I
b. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan strategi dalam SKH
1. Kegiatan Pendahuluan (30 menit)
Membuka pembelajaran dengan :
a. memberi salam dan memulai pelajaran dengan membaca ikrar
dua kalimat syahadat dan doa belajar
b. memeriksa kuku, gigi, rambut dan kerapihan , kebersihan
pakaian
c. Menghafal doa sehari – hari yang sudah diajarkan : doa kedua
orang tua, doa keabikan dunia akhirat
2. Kegiatan Inti (60 menit)
Pelaksanaan pembelajaran metode reading aloud
a.
Guru memperlihatkan gambar anggota tubuh manusia terutama
bagian tangan dan kaki dengan bahasa arab menggunakan
reading aloud
b.
Menyenyi macam – macam jari tangan
c.
Bercakap – cakap kegunaa tangan dan kaki
d.
Praktek duduk dengan sopan di kursi dan membuang sampah
dengan baik
e.
Menunjuk dan menyebutkan gerakan duduk, jongkok, berdiri,
berdiri dengan tumit, berdiri dengan satu kaki sampai hitungan
10
3. Istirahat Makan (30 menit)
a. Makan bekal bersama, cuci tangan, berdoa untuk makan dan
sesudah makan, adab makan
b. Bermain di halaman
4. Kegiatan Akhir (45 menit)
a. Membaca keras mata, tangan, hidung, telinga, kaki dengan
bahasa arab
b. Menunujuk anggota bagian tubuh dengan bahasa arab
c. Pengucapan yang sulit tentang bahasa arab tema diri sendiri
iii.
Observasi
Penulis melakukan observasi terhadap perkembangan yang
dialami oleh siswa. Dan observasi ini, peneliti menggunakan lembar
pengamatan sebagai berikut :
Tabel 1.6 Lembar pengamatan Situasi Kelas B pada Siklus II
Kemunculan
Koreksi
No Aspek yang diamati
BM MM BSH BSB catatan/pengamat
1
Sering bertanya pada
13 siswa telah seringt
V
guru atau siswa lain
bertanya (76,47%)
2
Mau
Mengerjakan
15
siswa
mau
Tugas yang diberikan
V
mengerjakan
tugas
guru
(88,21%)
3
Mampu menjawab
14 siswa mampu
pertanyaan
V
menjawab pertanyaan
(83,35%)
4
Senang diberi tugas
15 siswa senang
belajar
V
diberi tugas belajar
(88,24%)
Data yang dikumpulkan pada pelaksanaan siklus II adalah :
a. Hasil observasi proses pembelajaran
1) Seringnya bertanya siswa meningkat dari siklus I. hal ini
dapat diketahui dari adanya peningkatan jumlah siswa yang
sering mengajukan pertanyaan yang awalnya 12 siswa
(70,59%) menjadi 13 siswa (76,47%)
2) Kemauan siswa mengerjakan tugas meningkat dari 10 siswa
(58,82%) pada siklus I menjadi 15 siswa (88,24%) pada
siklus II
3) Kemampuan siswa menjawab pertanyaaqn meningkat dari 9
siswa (52,94%) menjadi 14 siswa (82,35%)
4) Sikap senang diberi tugas belajar meningkat dari 10 siswa
(58,82%) menjadi 15 siswa (88,24%)
5) Semua siswa telah aktif dalam pembelajaran dengan metode
reading aloud. Tidak ditemukan adanya siswa yang melamun
atau berdiam diri. Semua siswa terlibat aktif dalam proses
belajar.
iv.
Refleksi
Berdasarkan hasil pengamatan situasi pembelajaran pada siklus
kedua ini, peneliti dapat menemukan kelemahan pembelajaran sebagai
berikut :
a. Masih ada 4 orang (23,52%) yang belum sering bertanya
b. Ada 2 orang siswa (11,76%) yang masih belum mau mengerjakan
tugas dari guru
c. Baru 3 orang siswa (17,64%) yang belum mampu menjawab
pertanyaan guru dan baru 15 siswa (88,24%) yang merasa senang
diberi tugas belajar oleh guru
d. Pemahaman siswa masih belum mencapai 100%
Meski
demikian,
pembelajaran
ini
telah
menunjukkan
perubahan/peningkatan, yaitu dalam hal – hal :
a. Siswa yang mulai senang belajar dengan menggunakan metode
reading aloud
b. Proses pembelajaran siklus II berlangsung baik. Dominasi anak
berhasil diminalkan dengan memodifikais metode reading aloud
dengan memberikan pertanyaan terlebih banyak dan pembatasan
waktu siswa
c. Diskusi kelas hamper sesuai dengan alokasi waktu yang disediakan
d. Hasil evaluasi penilaian perkembangan siswa pada siklus II
meningkat dibandingkan kondisi sebelumnya, walaupun nilai BSB
(berkembang sangat baik) masih belum mencapai 100%. Kondisi
ini dapat dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 1.7 Hasil Penilaian Siswa Kelas TK B RA Masithoh
Kebumen Banyubiru pada Indikator Pendidikan Agama Islam
pada Siklus II
Kemunculan
No
Nama Siswa
L/P
Keterangan
BM MM BSH BSB
1
Alya
P
V
V
2
Atul
P
V
3
Asna
P
V
4
Haffa
P
V
5
Linda
P
V
6
Mafaza
P
V
7
Riska
P
V
8
Salisa
P
V
9
Sasa
P
V
10
Abda
L
V
11
Adi
L
V
12
Akafif
L
V
13
Diki
L
V
14
Romadhon
L
V
15
Noval
L
V
16
Reza
L
V
17
Rois
L
Jumlah
٠
Presentase
٠%
%
%
١%
Perbandingan nilai perkembangan siswa pada siklus I dan siklus
II menunjukkan adanya peningkatan. Hal tersebut dapat dilihat dari
nilai BM (belum muncul) perkembangan menjadi 0 pada siklus II,
nilai MM (mulai muncul) perkembangan menjadi 35% dari 47% yang
berarti sebagian siswa mengalami perkembangan sesuai harapan, nilai
BHS (berkembang sesuai harapan) meningkat dari 29% menjadi 53%
dan BSB (berkembang sangat baik) tetap 12%.
Berdasarkan dua hal di atas, maka hal – hal yang akan peneliti
perhatikan dan perbaiki pada siklus III adalah :
1) Berusaha meningkatkan perkembangan situasi kelas hingga
mencapai 100% dengan metode reading aloud yang disempurnakan
2) Menerpakan pemberian hadiah bagi siswa yang berhasil menjawab
pertanyaa dari guru dan siswa yang berhasil membaca dan
menunjuk gambar anggota tubuh manusia
3) Guru berusaha lebih mampu menguasai keadaan kelas dengan
menarik perhatian siswa, menggunakan intonasi yang menarik dan
bahasa tubuh yang baik.
D. Diskripsi Pelaksanaan Siklus III
Siklus III penelitian ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 2
Mei 2010 selama 2 jam 45 menit dengan pembelajaran terintegrasi yang
mengandung program perkembangan kompetensi dasar dari sikap
perilaku, pendidikan agama islam, seni, fisik motorik, bahasa dan kognitif
tema yang penulis ajarkan adalah Diri Sendiri Sub Tema Anggota Tubuh
Manusia, Allah maha pencipta sedangkan materi bahasa arab yang penulis
berikan adalah menyebut dan membaca keras bahasa arab mata, hidung,
telinga, kaki, tahab lengkap yang dilakukan peneliti adalah :
i.
Perencanaan
Dalam tahab ini, tercakup kegiatan sebagai berikut :
a. Menyusun satuan kegiatan harian (SKH) perbaikan
b. Menyusun alat evaluasi
c. Menyiapkan bahan pembelajaran
d. Menyiapkan alat observasi.
ii.
Pelaksanaan
Dalam pelaksanaan peneliti menerapkan strategi pembelajaran
sesuai dengan SKH yang telah disembpurnakan, yaitu menggunakan
metode reading aloud, dengan beberapa perbaikan berdasarkan pada
refleksi siklus kedua. Pem,belajaran dilaksanakan dengan model
pembelajaran terintegrasi yang mengandung program pengembangan
kompetensi dasar sikap perilaku, pendidikan agama Islam, seni, fisik
motorik, bahasa dan kognitif. Tema yang penulis ajarkan adalah diri
sendiri, sedang materi bahasa arab yang penulis berikan adalah jumlah
anggota tubuh kita dengan membaca keras. Langkah – langkah
pelaksanaan ini meliputi :
a. Melakukan pretes mengenai minat siswa
b. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan strategi dalam SKH
dimulai dengan :
1. Kegiatan Pendahuluan (30 menit)
Membuka pelajaran dengan
a. Mengucapkan salam, ikrar mengucap dua kalimat syahadat dan
doa mau belajar
b. Memberikan apersepsi dan motivasi dengan membaca keras
jumlah mata, hidung, telinga, tangan, kaki
2. Kegiatan Inti (60 menit)
Pelaksanaan pem,belajaran metode reading aloud
a.
Bercerita tentang riwayat lahirnya Nabi Muhammad SAW
b.
Guru memperlihatkan gambar mata, hidung, telinga, tangan ,
kaki dan jumlahnya
c.
Mewarnai bentuk 2 tangan
d.
Membaca keras perkelompok bahasa arab jumlah anggota
tubuh yang ditunjuk guru.
3. Istirahat Makan (30 menit)
Makan bekal bersama dengan membaca doa mau makan dan
doa sesudah makan. Setelah itu siswa bermain di halaman sekolah,
melempar dan menangkap bola
4. Kegiatan Akhir (45 menit)
a. Ucapan guru dengan keras bahasa arab anggota tubuh manusia
b. Meniru tulisan kata yang sudah dicontohkan guru
iii.
Observasi
Dalam observasi/pengamatan, peneliti menggunakan lembar
pengamatan sebagai berikut :
Table 1.8 Pengamatan Situasi Kelas pad Siklus III
Kemunculan
Koreksi
No Aspek yang diamati
BM MM BSH BSB catatan/pengamat
1
Sering bertanya pada
15 siswa telah sering
V
guru atau siswa lain
bertanya (88,24%)
2
Mau
Mengerjakan
17
siswa
mau
Tugas yang diberikan
V mengerjakan
tugas
guru
(88,24%)
3
Mampu menjawab
16 siswa mampu
pertanyaan
V menjawabpertanyaan
(94,12%)
4
Senang diberi tugas
17 siswa senang
belajar
V diberi tugas belajar
(100%)
iv.
Refleksi
Berdasarkan hasil pengamatan situasi pembelajaran pada siklus
ketiga ini, peneliti dapat menemukan kelemahan pembelajaran sebagai
berikut :
a. Siswa membutuhkan ketrampilan menyusun jawaban pertanyaan
guru dalam kalimat yang baik. Hal ini dapat dipecahakan dengan
bimbingan adari guru dalam menyusun jawaban pertanyaan dengan
kalimat baik
b. Guru telah mampu menguasai kondisi kelas dengan maksimal
Meski demikian, pembelajaran ini telah menunjukkan peningkatan,
yaitu dalam hal – hal :
1) Siswa terlihat antusias belajar dengan metode reading aloud
2) Guru maupun siswa sama- sama aktif dalam proses
pembelajaran
3) Prestasi siswa meningkat, terlihat pada hasil rekapitulasi
perkembangan siswa di akhir siklus ketiga yang mendekati
sempurna seperti dapat dilihat dalam tabel berikut.
٠
Tabel 1.9 Hasil Penilaian Siswa Kelas TK B RA Masithoh
Kebumen Banyubiru pada Indikator Pendidikan Agama Islam
pada Siklus III
Kemunculan
No
Nama Siswa
L/P
Keterangan
BM MM BSH BSB
1
Alya
P
V
V
2
Atul
P
V
3
Asna
P
V
4
Haffa
P
V
5
Linda
P
V
6
Mafaza
P
V
7
Riska
P
V
8
Salisa
P
V
9
Sasa
P
V
10
Abda
L
V
11
Adi
L
V
12
Akafif
L
V
13
Diki
L
V
14
Romadhon
L
V
15
Noval
L
V
16
Reza
L
V
17
Rois
L
Jumlah
٠
١٠
Presentase
٠%
١%
%
%
Peningkatan hasil penilaian perkembangan siswa terlihat dari
jumlah siswa yang mencapai nilai BSH (berkembang sesuai harapan)
dan BSB (berkembang sangat baik) yaitu 88% (29% dan 59%). Selain
itu juga tidak ditemukan siswa yang memperoleh nilai BM (belum
muncul) dalam perkembangan. Namun demikian, ternyata masih ada 2
orang (12%) yang mendapat nilai MM (mulai muncul) sehingga perlu
mendapatkan perhatian khusus dari peneliti.
Setelah melakukan interprestasi data dan pengamatan secar
seksama, dapat diketahui bahwa masih ditemukannya 2 orang siswa
١
yang mendapatkan nilai MM (mulai muncul) karena tingkat
ketidakhadiran yang tinggi di sekolah dan factor siswa sendiri yang
lemah dalam menerima materi pelajaran.
E. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Di dalam bab ini, penulis menjelaskan tentang hasil interprestasi data
dalam bab sebelumnya. Interprestasi data tersebut didasarkan pada permasalahan
– permasalahan yang ingin dipecahkan melalui penelitian tindakan kelas yang
penulis laksanakan. Adapun rumusan masalah yang penulis kemukakan dalam bab
sebelumnya adalah : 1). Bagaimanakah tingkat pemahamansiswa terhadap
pembiasaaan nilai – bilai agama Islam di RA masithoh Kebumen Banyubiru, dan
2). Apakah metode reading aloud mampu meningktakan pemahaman siswa
terhadap pembiasaan nilai – nilai agama Islam RA Masithoh Kebumen Banyubiru
A. Tingkat Pemahaman Siswa Terhadap Pembiasaan Bahasa Arab
Sederhana Tema Anggota Tubuh Manusia di RA Masithoh Kebumen
Banyubiru
Salah satu tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat
pemahaman siswa terhadap bahasa arab sederhana tema diri sendiri dan sub
tema anggota tubuh manusia sebelum metode reading aloud diterapkan.
Pemahaman siswa sebelum metode reading aloud digunakan diukur dengan
terlebih dahulu melaksanakan pembelajaran metode ceramah. Ceramah
merupakan metode pengajaran yang aman digunakan di hamper setiap
sekolah.
Selama proses pembelajaran dan setelah kegiatan belajar mengajar
selesai
dilaksanakan
penulis
melakukan
observasi
dan
penilaian
perkembangan siswa untuk mengukur hasil belajar siswa. Adapun hasil
penilaian hasil belajar siswa tersebut dapat dilihat dalam tabel 1.3. dari data
tersebut, dapat diketahui bahwa 10 (59%) siswa dari total 17 siswa
memperoleh nilai BM (belum muncul). Hal ini berarti masih terdapat 59%
siswa yang belum terbiasa dengan bahasa arab sederhana tema diri sendiri sub
tema anggota tubuh manusia. Dari pretes juga dapat diketahui bahwa terdapat
5 siswa yang menonjol di kelas TK B. hal ini tersebut terbukti dari peroleh
nilai BSH oleh mereka pada pembelajaran pretes. Pada pembelajaran pretes ini
dua siswa terpaksa tidak mengikuti proses kegiatan belajar mengajar
dikarenakan sakit dan ijin.
Dari total 17 siswa kelas TK B dapat diketahui bahwa terdapat 5 siswa
yang memiliki kecerdasan diatas siswa yang lain. Pada pemilaian
pembelajaran tanpa metode reading aloud siswa tersebut telah menunjukkan
prestasi yang cukup baik. Dari data mengenai catatan prestasi non akademik di
ketahui bahwa kelima siswa tersebut juga menonjol dibidang tersebut.
B. Penggunaan Metode Reading Aloud untuk Meningkatkan Pemahaman
Siswa terhadap Pembiasaan Bahasa Arab Sederhana dengan Tema Diri
Sendiri dan Sub Tema Anggota Tubuh Manusia
Tujuan kedua penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman
siswa terhadap pembiasaan bahasa arab sederhana dengan tema diri sendiri
dan sub tema anggota tubuh manusia, penilaian mengenai pemahaman siswa
ini dilakukan dengan menilai kandisi siswa saat proses pembelajaran
berlangsung. Tabel 2 berikut menunjukkan hasil belajar siswa dengan
menggunakan metode reading aloud.
Tabel 2 Hasil Belajar Siswa dalam Pelajaran Terintegrasi dengan
Menggunakan Metode Reading Aloud.
No Nama Siswa L/P
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
Alya
Atul
Asna
Haffa
Linda
Mafaza
Riska
Salisa
Sasa
Abda
Adi
Akafif
Diki
Romadhon
Noval
Reza
Rois
Jumlah
Presentase
P
P
P
P
P
P
P
P
P
L
L
L
L
L
L
L
L
Pretes
Siklus I
Siklus II
Siklus III
MB MM BSHBSB MB MMBSHBSB MB MM BSHBSB MB MM BSHBSB
√
√
√ √
√
√
√
√
√ √
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√ √
√
√
√
√ √
√
√
√
√
√
√ √
√
√
√ √
√
√
√
√
√
√
√
10
V √ √
√
√
√
√
√ √
√
√ √
√
√
2
5
0
2
8
√
√
√ √
5
2
0
6
9
2
0
2
5
10
59%12%29%0% 12%47%29%12%0% 35%53%12%0% 12%29%59%
Dari tabel diatas, apabila dibuat presentase hasil belajar siswa akan
menunjukkan penigkatan siklus pertama samapi siklus ketiga. Hal ini
disajikan dalam tabel 2.1.
Tabel 2.1 Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Siswa dalam pembelajaran
NO
1
2
3
4
Siklus
Pretes
Siklus I
Siklus II
Siklus III
BM
10
2
0
0
Penilaian
% MM % BSH
59%
2
12%
5
12%
8
47%
5
0%
6
35%
9
0%
2
12%
5
% BSB %
29%
0
0%
29%
2
12%
53%
2
12%
29% 10 59%
Berdasarkan tabel diatas, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan
metode reading aloud dapat meningkatkan hasil belasjar siswa dalam proses
pembelajaran terintegrasi pada program pengembangan bahasa arab sederhana
sub tema anggota tubuh manusia di RA Masithoh Kebumen Banyubiru.
Perhitungan Rumus Statistik t table pada hasil siklus di atas
Nomor
1
2
3
4
Jumlah
Pre
10
2
0
0
2
17.204 – (2)2
17 – 1
2
3468 - 4
16
Post
0
2
2
10
d (post-pre)
-10
0
2
10
2
d2
100
0
4
100
204
2
3464
16
2
216,5
=
2
14,71
= 0,135
Ditolak
Diterima
0 0,135
2,583
Df/db/dk
Df = N – 1 = 17 – 1 = 16
Nilai Tabel
Nilai table t distribusi student. Uji satu sisi, α = 10%, df = 16, nilai t table = 2,583
Daerah Penolakan
0,135 < 2,583
Berarti Ho diterima
Ha ditolak
Kesimpulan
Tidak ada perbedaan pre tes dan siklus berikutnya pada α = 10%
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang penulis laksanakan dari tanggal 8
April 2010 hingga 2 Juni 2010 dan pembahasan pada bab sebelumnya penulis
mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Hasil belajar siswa TK B RA Masithoh Kebumen Banyubiru Semarang
untuk materi bahasa arab sederhana pada tema diri sendiri sub tema
anggota tubuh sebelum guru menggunakan metode reading aloud
tergolong rendah. Hal ini disimpulkan dari adanya 10 anak (59%) dari
total 17 siswa memperoleh nilai BM (belum muncul). Hal ini berarti masih
terdapat 59% siswa memperoleh belum terbiasa dengan bahasa arab
serderhana.
2. Metode reading aloud dapat meningkatkan hasil belajar siswa TK B RA
Masithoh Kebumen Banyubiru Semarang mengenai pemahaman materi
bahasa arab sederhana dengan tema diri sendiri sub tema anggota tubuh.
Kesimpulan ini berdasarkan dari peningkatan prestasi belajar siswa yang
dilihat dari nilai siswa yang semakin meningkat dari siklus 1 hingga siklus
3. Siswa yang memperoleh nilai BSH (berkembang sesuai harapan) dan
BSB (berkembang sangat baik) meningkat bertutur-tutur dari 7 orang
(31%), 11 orang (65%), dan 15 orang (88%)
B. SARAN - SARAN
Atas dasar kesimpulan yang ada, maka penulis meberikan saran –
saran antara lain :
1. Bagi Guru
Dengan melihat hasil penelitian ini, maka terbukti peran guru
sangat menentukan keberhasilan siswa dalam mengerti dan belajar akan
bahasa Arab yang benar, terutama dalam kemampuan siswa dalam hal
membaca
keras
untuk
ini
guru
dituntut
lebih
meningkatkan
kemampuannya dan ketrampilan dalam memberikan pelajaran bahasa
Arab lebih banyak memberikan latihan – latiahan kepada siswwa terutama
dalam hal membaca, karena membaca merupakan hal yang penting atau
dasar dari segala ilmu pengetahuan.
2. Bagi Siswa
Hendaknya siswa lebih giat lagi melatih dan meningkatkan
kemampuannya dalam berbahasa Arab terutama dalam membaca,
sehingga dengan mengetahui hal ini diharapkan siswa mampu berbahasa
Arab yang baik dan benar.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, 1997 Prosedur Penelitian Praktik, Jakarta, Rineka Cipta
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka
Keraf, Gorys, 1991, Tata Bahasa Indonesia. Jakarta, Penerbit Nusa Indah.
Pairin, Udjang, 1988, Ketrampilan Membaca. Teori dan Penerapannya,
Surabaya, Balai Pustaka
Taringan, Henry Guntur, 1985, Membaca Sebagai Suatu Ketrampilan
Berbahasa. Bandung, Angkasa
Nuscholis Hanif, Mafrukhi, 2006. Saya Senang Berbahasa Indonesia SD Kelas
I. Jakarta, Erlangga
Djamarah, Syaiful Bahri, 2002, Rahasia dan Sukses Belajar. Jakarta,
Rineka Cipta
Moeslichatoen R, 1999. Metode Pengajaran di Taman Kanak – Kanak. Jakarta,
Rineka Cipta.
Hidayat Komaruddin, 2009. Active Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif.
Yogyakarta. YAPPENDIS
Huda Nurul, 2010, Mengenal Huruf Hijaiyah. Yogyakarta: Alfamedia
http://tarjo2009.blogspot.com/2009/03/hakekat-membaca-proses-jenis-8558.html
www.scribd.com/full/19597032?access-key=key-2cqgh4mk633n7wi5458v
Download