BAB 1 - STIESIA Repository

advertisement
 BAB1
PENDAHULUAN
Sampai menjelang wafat, beliau tetap menjadi selebriti di media massa
karena keberhasilannya, tetapi beliau tidak bisa menjadi pahlawan nasional,
hanya pengadilan sejarah yang bisa menyelesaikan kasus Soeharto
(Adam,2000)
1.1 Latar Belakang Masalah
Tanggal 5 Juli tahun 1959 merupakan peristiwa yang bersejarah bagi
kehidupan bangsa Indonesia, karena saat itu terjadi peristiwa sejarah yang luar
biasa.
Peristiwa tersebut adalah terjadinya Dekrit Presiden yang dikeluarkan
berdasar hukum darurat negara (staat nood recht) yang berisi: “Berlakunya
kembali Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) dan tidak berlakunya UndangUndang
Dasar
Sementara
(UUDS/1950)
serta
pembentukan
Majelis
Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) dan Dewan Pertimbangan Agung
Sementara (DPAS)” yang mengakibatkan terjadi perubahan sistem ketatanegaraan
sangat mendasar (Budiardjo, 1996:71). Diberlakukan kembali UUD 1945, adalah
merupakan solusi terbaik setelah mengalami kebuntuan politik, karena Badan
Konstituante hasil pemilihan umum tahun 1955 tidak mampu menyelesaikan
tugas untuk
menyusun Undang-Undang Dasar
baru, untuk mengganti
UUDS/1950 (Anshari, 1986:123).
Kesempatan ini dimanfaatkan sebaik- baiknya oleh Partai Komunis
Indonesia (PKI), dengan berbagai cara
untuk menyusupkan ideologi pada
pemerintahan Soekarno. Begitu kuatnya penyusupan ideologi sampai Soekarno
(mantan Presiden Republik Indonesia pertama)
terjebak dalam
ideologi
Komunis/Maxisme, dalam pernyatakannya, bahwa: ” …dus orang yang
1
menyatakan dirinya Marhaenisme tetapi tidak menjalankan Marxisme, mereka
adalah Marhaenisme gadungan. Marhaenisme adalah Marxisme–Soekarnoisme,
Marhaenisme adalah Marxisme yang diterapkan di Indonesia dan itu paralel
dengan Komunisme…” (Soerojo,1989:407). Selain itu melalui pendekatan yang
intensif, akhirnya Soekarno pada tahun 1960 membubarkan Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR) hasil pemilihan umum tahun 1955, dan kemudian disusun Dewan
Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) yang anggotanya didominasi oleh
orang-orang komunis. Langkah selanjutnya, MPRS yang terbentuk melalui Dekrit
Presiden tanggal 5 Juli 1959, yang jumlah anggotanya dua kali dari jumlah
anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), telah dilakukan perombakan, sehingga
anggota yang diangkat oleh Presiden, juga didominasi oleh orang-orang komunis
(Budiardjo,1996:69).
Ini masa awal lahirnya Orde Lama di Indonesia, yaitu masa pelaksanaan
sistem Demokrasi Terpimpin, yang ditandai dengan beberapa
penyimpangan
terhadap pelaksanaan UUD 1945. Beberapa penyimpangan terhadap UUD 1945
tersebut diantaranya; pembubaran DPR hasil pemilihan umum
pengangkatan
Soekarno
tahun 1955,
sebagai Presiden seumur hidup melalui
ketetapan
No.III/MPRS/1963 (Muhono, 166:526). Juga terjadi pergeseran peran DPR-GR
yang dibentuk Pesiden menjadi pembantu pemerintah, yaitu dengan mengangkat
ketua DPR sebagai menteri, sehingga telah menghapus fungsi control terhadap
Pemerintah dan ditinggalkan doktrin Trias Politica (Budiardjo,1996:71).
Penyimpangan lain terhadap UUD 1945 adalah dengan dibentuknya lembaga
Negara yang inkonstitusinal, yaitu lembaga Front Nasional. Lembaga tersebut
2
kemudian dimanfaatkan oleh PKI, menjadi arena kegiatan yang mirip dengan
strategi komunis internasional, dengan menggariskan Front Nasional sebagai
langkah awal terbentuknya demokrasi rakyat seperti yang terjadi di negara-negara
komunis. Situasi politik semakin tak terkendali, adu domba dan saling mencurigai
antar elit politik semakin memanas. Politik Mercusuar untuk menggalang
hubungan dengan luar negeri, yaitu RRT dan Uni Soviet melahirkan poros
Jakarta-Peking dan Jakarta-Moskow, sedang kondisi ekonomi semakin merosot
tajam, karena pemerintah lebih menjadikan rakyat menjadi basis politik daripada
persoalan ekonomi (Budiardjo, 1996:22).
Dalam kondisi kehidupan rakyat serba kekurangan, pihak komunis terus
melakukan aksinya. Diantara aksi tersebut adalah dengan menghembuskan isu
tentang terbentuknya “Dewan Jendral” (kelompok para Jendral), yang dituduh
akan melakukan perebutan kekuasaan yang sah. Selanjutnya pihak PKI
melakukan aksi tandingan dengan membentuk “Dewan Revolusi”, dengan tujuan
membantu pemerintah
yang sah, melindungi Soekarno serta seluruh ajaran-
ajarannya. Dengan alasan akan dikudeta oleh Dewan Jendral, pihak PKI segera
bergerak lebih dulu, dengan melakukan pemberontakan yang kemudian dikenal
dengan Gerakan 30 September 1965 atau G30S/PKI (Adam, 2009:140). Gerakan
tersebut berupa penculikan dan pembunuhan terhadap tujuh orang jendral putraputra terbaik bangsa, kemudian dibuang di bekas sumur tua di Lubang Buaya.
Bahwa kemudian muncul penafsiran yang berbeda tentang “dalang” peristiwa itu
adalah sah-sah saja karena sudut pandang yang berbeda. Ada penafsiran yang
menyatakan bahwa, dalang peristiwa G30S/PKI tersebut dilakukan oleh: “PKI,
3
Angkatan Darat, CIA, Soeharto, Soekarno Kudeta Merangkak MPRS”(Adam,
2009:33,140,153). Penjelasan tentang perbedaan penafsiran terhadap dalang
peristiwa G30S/PKI akan dibahas lebih lanjut pada bab lain.
Peristiwa
G30S/PKI
telah
menimbulkan
krisis
politik
yang
berkepanjangan, akibat strategi politik yang menjadikan rakyat sebagai basis
pejuangan politik, serta strategi “Sistem Ekonomi Terpimpin dan Demokrasi
Terpimpin”. Krisis sosial budaya ikut juga
kibatkan
terjadi
berkecamuk, sehingga menga-
perpecahan persatuan dan kesatuan bangsa, serta tegaknya
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Krisis politik, ekonomi dan keamanan
menimbulkan kekacauan luar biasa, dan terjadi pembantaian besar-besaran
(sekitar 200.000 orang) antar kelompok elit politik yang saling curiga mencurigai
atas terjadinya gerakan G30S/PKI serta berbagai krisis tersebut (Adam, 2009:
183). Kecuali itu juga tidak kurang 10.000 orang dibuang ke Pulau Buru tanpa
melalui proses peradilan, karena diduga sebagai anggota komunis (Soerojo,
1989:272). Akhirnya Soekarno mengeluarkan surat perintah kepada Pangkostrad
Letjen Soeharto pada tanggal 11 Maret 1966. Saat itulah sebagai tanda
berakhirnya masa pemerintahan Orde Lama di bawah kepemimpinan Soekarno.
Krisis politik sebenarnya telah diawali sejak tahun 1960, yaitu sejak Soekarno
ditetapkan menjadi Presiden seumur hidup oleh MPRS yang inkonstitusional.
Ditambah lagi dengan sistem pemerintahannya yang otoriter, dan kemudian
diakhiri dengan keluarnya Supersemar pada tanggal 11 Maret 1966 (Soerojo,
1989:366). Isu Dewan Jendral yang dihembuskan oleh pimpinan PKI membuat
pemerintahan Soekarno semakin tidak menentu. Kelengahannya, dimanfaatkan
4
oleh PKI untuk melakukan coup d’etat (kudeta) dengan melakukan penculikan
dan pembantaian para jendral putra-putra terbaik bangsa.
Pemerintahan
Orde Baru adalah rezim yang menggantikan sistem
pemerintahan rezim Orde Lama, yaitu sistem pemerintahan yang bertujuan untuk
melakukan penataan kembali, baik di bidang politik, pemerintahan, ekonomi, dan
sosial budaya. Orde Baru merupakan awal tumbangnya sistem pemerintahan
rezim Orde Lama, yaitu masa kejayaan Soekarno dengan sistem demokrasi
terpimpin, dan ekonomi terpimpinnya. Berakhirnya Orde Lama yang diawali
dengan
krisis politik yang luar biasa dengan meletusnya peristiwa gerakan
G30S/PKI,
yang menimbulkan gelombang demonstrasi besar-besaran oleh
mahasiswa, pelajar dan pemuda selama lebih kurang 50 hari di ibukota Negara
(Saelan, 2008:281). Dipelopori kekuatan mahasiswa yang tergabung dalam
Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan
Kesatuan Aksi
Pemuda
Pelajar Indonesia (KAPPI), aksi demontrasi dimulai tanggal 10 Januari 1966 yang
terkenal dengan Tiga Tuntutan Rakyat (TRITURA). Tuntutan tersebut berisi
pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI), membersihkan kabinet Dwikora
dari unsur-unsur komunis dan perbaikan bidang ekonomi dengan cara
menurunkan harga sembilan bahan pokok (Notosusanto, 1964:406).
Akhirnya Supersemar memaksa Soekarno atas nama Presiden/Panglima
Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi, mengeluarkan perintah kepada Letjen
Soeharto yang saat itu menjabat Panglima Komando Strategi Angkatan Darat
(Pangkostrad) untuk mengambil langkah-langkah dan segala tindakan yang perlu
untuk mengatasi krisis. Surat perintah tersebut bertujuan
untuk menjamin
5
keamanan, stabilitas
jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi, serta
menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Presiden, serta demi keutuhan
bangsa dan tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan
mengamankan ajaran Pemimpin Besar Revolusi (Adam,2009:115).
Melalui Supersemar,
kekuasaan Soekarno sebagai Presiden
akhirnya
runtuh, dan runtuhnya kekuasaan Soekarno semakin nyata setelah secara yuridis
formal
dikeluarkan ketetapan No. XXXIII/MPRS/1967 (Saelan, 2008:260).
Berikutnya setelah mencabut kekuasaan Soekarno melalui
MPRS tahun 1967, dilanjutkan dengan mengangkat
Sidang Istimewa
pengemban Supersemar
(Letjen Soeharto) menjadi Pejabat Presiden. Selanjutnya pada Sidang Umum
MPRS tahun 1968, dengan ketetapan No. XLIV/MPRS/1968, tepat pada bulan
Maret 1968 Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) mengangkat
Letjen Soeharto secara definitif ditetapkan menjadi Presiden kedua Republik
Indonesia (Notosusanto, 1964:407).
Itulah
titik awal kejayaan pemerintahan Soeharto, dan berjalan terus
dengan berbagai strategi yang dilakukan, dari masa ke masa terus bergulir, baik
melalui sistem pemilihan umum (Pemilu), fusi partai politik, Dwi Fungsi ABRI
dan lain-lain. Dalam Sidang umum Majelis Permusyawaratan Rakyat tahun 1973
sampai tahun 1998, Soeharto selalu terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia,
karena Golkar sebagai mesin politik dalam Pemilu selalu menjadi single mayority.
Proses strategi politik berikutnya adalah, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)
yang anggotanya sebagian dipilih melalui Pemilu dan sebagian lagi diangkat oleh
Presiden, menjadi tidak berkutik dan selalu memilih Soeharto sebagai Presiden
6
(tabel 1.2). Akhirnya
Soeharto mampu menggalang kekuatan dan dapat
mempertahankan kekuasaan sampai 32 tahun, dengan berbagai cara dan strategi
baik melalui struktur politik, jalur ABRI, Golkar dan Birokrat (jalur ABG), yang
merupakan mesin politik Soeharto dalam menggilas habis lawan politiknya.
Untuk melanggengkan kekuasaannya, Soeharto mulai melirik mekanisme
sistem kepartaian yang merupakan sarana demokrasi dalam pelaksanaan
pemilihan umum. Dimulai dari pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu) tahun
1971 yang diikuti oleh 10 kontestan (9 Partai Politik dan 1 Golongan Karya),
Soeharto dengan menggunakan kendaraan Golkar, terus membangun strategi
untuk merebut kekuasaan. Hal tersebut dapat dilihat dalam perolehan suara pada
Pemilu tahun 1971, yang menunjukkan dominasi kemenangan mutlak (single
mayority), dengan mengantongi 68,7% suara, atau 236 kursi di DPR dari jumlah
360 kursi DPR yang diperebutkan (Budiardjo, 1996:72).
Menghadapi Pemilu tahun 1977, Soeharto
mulai menggunakan jurus
baru, yaitu dengan mengeluarkan Undang-Undang No.3/1975 tentang Partai
Politik dan Golkar. Undang-Undang No.3/1975 memuat tentang penyederhanaan
(fusi) partai politik, yaitu yang semula ada 10 partai politik yang ikut dalam
Pemilu pada tahun 1971, menjadi dua partai politik (Partai Persatuan
Pembangunan, Partai Demokrasi Indonesia) dan satu Golongan Karya (Golkar)
pada Pemilu tahun 1977 (Mardjono, 1998:57).
Penyederhanaan sistem kepartaian tersebut semakin memperkuat posisi
Golkar sebagai mesin penggerak pemerintahan Soeharto, sehingga dalam Pemilu
7
tahun 1977 sampai dengan tahun 1997, untuk pemilihan anggota DPR selalu
dimenangkan oleh Golkar. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang perolehan suara
Golkar pada Pemilu tahun 1971 sampai tahun 1997, dapat dilihat pada tabel 1.1
berikut ini:
Tabel 1.1
PEROLEHAN SUARA GOLKAR
PADA PEMILU 1971-1997
No TAHUN
PEROLEHAN PEROLEHAN
PEMILU
SUARA
KURSI
1. Tahun 1971
68,07%
236 kursi
2. Tahun 1977
62,11%
232 kursi
3. Tahun 1982
64,31%
242 kursi
4. Tahun 1987
73,16%
292 kursi
5. Tahun 1992
68,10%
282 kursi
6. Tahun 1997
74,51%
325 kursi
------------------------------------------------------------------------------Sumber: Hasil Olahan Pemilu1971-1997
Kalau melihat perolehan suara pada Pemilu dan perolehan kursi di DPR
dari tahun 1971 sampai dengan tahun 1997, disimpulkan bahwa untuk sementara
strategi yang dipakai Soeharto dalam memperkuat kekuasaannya melalui Pemilu
dengan
kendaraan politik Golkar, telah sukses
meraih kemenangan yang
signifikan. Proses selanjutnya, kaitannya dengan mekanisme pemilihan Presiden
pada
periode
tahun 1971 sampai dengan tahun 1997 yang dilakukan oleh
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sesuai dengan ketentuan Pasal 6 (ayat 2)
Undang–Undang Dasar 1945. Kaitannya dengan susunan keanggotaan MPR
menurut
Pasal 2 (ayat 1) UUD 1945 (asli) dikatakan bahwa: “Majelis
Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat,
8
ditambah dengan utusan-utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan,
menurut aturan yang ditetapkan dengan undang-undang”.
Majelis Permusyawaratan Rakyat
yang merupakan lembaga tertinggi
negara, memiliki kekuasaan sangat besar mewakili seluruh komponen masyarakat
Indonesia (pasal 1 ayat2 UUD 1945 asli). Sebagai lembaga tertinggi negara yang
mempunyai kekuasaan sangat besar,
MPR berwenang memilih, mengangkat,
melantik, dan menghentikan Presiden.
MPR juga berwenang meminta
pertanggung jawaban Presiden/Wakil Presiden, serta menetapkan Garis-Garis
Besar daripada Haluan Negara (Pasal 3 UUD 1945 asli). Komposisi keanggotaan
MPR terdiri atas seluruh anggota DPR-RI, ditambah dengan utusan daerah-daerah
dan wakil golongan-golongan (Pasal 2 ayat 1 UUD 1945 asli). Keanggotaan
DPR yang merupakan bagian dari anggota MPR, juga ditunjang
100 orang
anggota ABRI yang juga diangkat langsung. Sedangkan anggota MPR dari
utusan daerah-daerah adalah perwakilan dari seluruh provinsi di Indonesia, yang
ditetapkan oleh DPRD Provinsi sebanyak masing-masing 5 orang wakil. Kalau
waktu itu ada 27 propinsi. maka jumlah anggota MPR dari unsur Utusan Daerah
sebanyak 135 orang. Di samping itu masih ditambah lagi dengan anggota MPR
yang langsung ditunjuk oleh Presiden adalah seluruh Gubernur Kepala Daerah
Propinsi se Indonesia, para Panglima Komando Daerah Militer, para Rektor
Perguruan Tinggi Negeri dan para anggota Kabinet serta para istri menteri.
Mereka itu sudah barang tentu adalah orang-orang yang mempunyai hubungan
dekat dengan Presiden (Syafiie,2002:42). Sedangkan wakil golongan terdiri atas
kelompok buruh, nelayan, petani, organisasi wanita, cendekiawan, rohaniawan,
9
dan perwakilan orang cacat. Keberadaan Golkar yang merupakan penpanjangan
tangan ABRI (khususnya Angkatan Darat), masih diperkuat lagi dengan
masuknya para Pegawai Republik Indonesia yang tergabung dalam organisasi
Korpri (Korp Pegawai Republik Indonesia), ibu-ibu
DharmaWanita, ibu-ibu
Dharma Pertiwi dan keluarganya, ikut memperkuat Golkar sebagai mesin politik
Soeharto (Syafiie, 2002:31).
Hasil pemilihan presiden oleh MPR melalui sidang umum MPR mulai
tahun 1973 sampai dengan tahun 1998, selalu dimenangkan oleh Golkar dan
memilih Soeharto menjadi presiden, lihat tabel 1.2
Tabel 1.2
HASIL SIDANG UMUM MPR
TAHUN 1973-1998
No TAHUN
SIDANG MPR
1. Tahun 1973
2. Tahun 1978
3. Tahun 1983
4. Tahun 1988
5. Tahun 1993
6. Tahun 1998
KETETAPAN MPR
NOMOR
IX/MPR/1973
X/MPR/1978
VI/MPR/1983
V/MPR/1988
IV/MPR/1993
IV/MPR/1998
PRESIDEN
TERPILIH
Soeharto
Soeharto
Soeharto
Soeharto
Soeharto
Soeharto
Sumber: Syafiie , (2002:31)
Telah diuraikan di muka, bahwa pemerintahan Soeharto pada rezim
“Orde Baru”, telah berjalan sejak
tahun 1966 yaitu saat dikeluarkan Surat
Perintah pada tanggal 11 Maret 1966, dan berakhir sampai 21 Mei 1998, saat
Soeharto menyerahkan jabatan presiden akibat revolusi rakyat dari segala elemen
10
masyarakat khususnya mahasiswa, dan digantikan oleh pemerintahan baru, yaitu
rezim “Orde Reformasi”. Adapun agenda utama Orde Reformasi adalah:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
Melakukan amandemen UUD 1945
Melaksanakan proses demokratisasi sesuai ketentuan UUD 1945
Melaksanakan otonomi daerah
Menghapuskan dwi fungsi ABRI
Memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN)
Menegakkan supremasi hukum di Indonesia (Dokumen ANRI)
Pemerintahan baru di bawah B.J.Habibi, sebagai awal rezim pemerintahan
Orde Reformasi tidak berjalan lama. Demikian juga pemerintahan di bawah
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang berduet dengan Megawati Soekarnoputri
sebagai wakil presiden. Abdurahman Wahid hanya mampu bertahan sekitar dua
tahun, karena dijatuhkan (di impeach) oleh MPR karena kasus Buloggate dan
Bruneigate (Syafiie,2002:40). Setelah Abdurrahman Wahid jatuh, maka otomatis
Megawati
Soekarnoputri
(wakil
presiden),
dilantik
menjadi
Presiden
menggantikan Abdurrahman Wahid sampai habis masa jabatannya. Hal itu sesuai
dengan ketentuan pasal 8 (ayat 1) UUD 1945, yang berbunyi : ” Jika Presiden
mangkat, berhenti atau diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajiban
dalam masa jabatannya, ia diganti oleh Wakil Presiden sampai habis masa
jabatannya”.
Pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden secara langsung diawali
sejak Pemilu tahun 2004, dan dimenangkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono
yang berpasangan dengan Yusuf Kalla (SBY-YK). Pemilihan umum Presiden
dan Wakil Presiden secara langsung ini sesuai dengan hasil amandemen UUD
11
1945 yang termuat dalam BAB VII B, Pasal 22 E (ayat 2) yang berbunyi:
“Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan
Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah”.
Masa Orde Reformasi berjalan sampai sekarang, dan pemilihan umum
Presiden dan Wakil Presiden tahun 2009 masih dimenangkan oleh
Susilo
Bambang Yudhoyono yang berpasangan dengan Budiono. Orde Reformasi yang
dimulai pada tahun 1998, pada prinsipnya bertujuan untuk membangun sistem dan
mereformasi (menata kembali) di berbagai sektor pemerintahan, baik Eksekutif,
Legislatif dan Yudikatif. Sebagai agenda awal reformasi, MPR telah melakukan
amandemen UUD 1945 sampai empat kali (lampiran7). Untuk mengetahui lebih
lanjut tentang perbandingan dan penjelasan antara masa Orde Lama, Orde Baru
dan Orde Reformasi, akan disampaikan dalam bab lain.
Reformasi
terkait
dengan
lembaga
Eksekutif
telah
dilaksanakan
amandemen, dengan melakukan pemilihan Presiden/Wakil Presiden secara
langsung agar legitimasi pemerintah semakin kuat. Lembaga Legislatif juga
melakukan reformasi terkait dengan sistem keanggotaan MPR, yang anggotanya
terdiri atas seluruh anggota DPR dan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
Di samping itu juga menempatkan MPR sebagai Lembaga Tinggi Negara dan
bukan Lembaga Tertinggi Negara lagi, sehinga tugas dan fungsinya juga berbeda.
Amandemen terhadap lembaga Yudikatif dilakukan dengan melakukan revitalisasi
12
tugas Mahkamah Agung menjadi tiga badan, yaitu Mahkamah Konstitusi (MK),
Mahkamah Agung (MA), dan Komisi Yudisial (KY) dengan fungsi yang berbedabeda. Proses amandemen dan tahapan-tahapan amandemen Undang-Undang
Dasar 1945 dapat dilihat pada lampiran 7.
Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah mereformasi
sistem hukum untuk melakukan pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme
(KKN). Hal itu sesuai dengan cita-cita reformasi, yaitu penegakan hukum serta
membangun stabilitas politik dan keamanan yang dinamis dan mewujudkan
pertumbuhan ekonomi yang mantap. Khusus untuk menangani korupsi telah
dibentuk lembaga penegak hukum, yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
yang bersifat sementara (Ad-Hoc). Meskipun masih terjadi korupsi disana-sini
dalam penegakan hukum, dan banyak kasus pelanggaran hukum lain, seperti
terjadinya makelar kasus (Markus) dan lain-lain, namun penegakan hukum bukan
semata-mata hanya bisa dilihat dari sistemnya, tetapi lebih pada perilaku para
penegak hukum, moral
etika
dan political will mereka sebagai pelaku dan
pelaksana penegak hukum di negeri ini.
Perlu diketahui bahwa kemenangan Golkar pada masa rezim Orde Baru
yang menetapkan Soeharto menjadi Presiden Republik Indonesia sampai beberapa
periode (32 tahun), akan menjadi pelajaran bagi pemimpin berikutnya. Hal ini
terbukti bahwa meskipun jabatan presiden saat ini maksimal hanya dapat dipilih
dua periode sesuai dengan pasal 7 UUD 1945 (hasil amandemen), namun masih
13
ada wacana dari partai politik pengusung yang ingin memperpanjang masa jabatan
Susilo Bambang Yudhojono untuk menjabat Presiden lebih dari dua periode. Hal
ini menimbulkan wacana baru untuk melanggengkan kekuasaan Presiden (seperti
rezim Orde Baru), yang secara tidak langsung akan melegalkan pelanggaran
terhadap UUD kembali. Hal ini sangat bertentangan dengan prinsip negara hukum
(recht staat), karena kekuasaan akan kembali menjadi raja, kekuasaan berada di
atas hukum dan bukan kekuasaan yang tunduk pada hukum.
Terjadi pula rekayasa kepemimpinan Kepala Daerah, baik Gubernur,
Bupati, dan Walikota untuk memperpanjang periode jabatan lebih dari dua kali
masa jabatan. Rekayasa tersebut antara lain dengan cara merubah komposisi dari
Kepala Daerah menjadi Wakil Kepala Daerah. Rekayasa seperti ini menjadi
wacana/model pemerintahan saat ini baik di pusat maupun di daerah, yang
merupakan dampak secara langsung model pemerintahan pada rezim Soeharto
yang lalu, sehingga perlu diwaspadai agar tidak terus-menerus menjadi acuan bagi
pemegang kekuasaan berikutnya.
Namun proses reformasi yang digulirkan saat ini dianggap belum
membawa perbaikan yang signifikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hal itu ditambah karut-marutnya manuver elit politik yang cenderung lebih
mementingkan kekuasaan daripada memikirkan kesejahteraan rakyat. Akibatnya
luka hati masyarakat karena ulah elit politik tersebut akhirnya berkulminasi pada
kesadaran baru, bahwa rakyat merindukan kembali figur “Soeharto”, sekaligus
14
rezim pemerintahan Orde Baru. Proses “pencitraan ulang” rezim Soeharto ini
tampaknya semakin terlihat indikasinya. Berbagai manuver yang dilakukan makin
variatif, baik metode, ragam sasaran maupun instrumen yang digunakan.
Kontroversi muncul antara yang pro dan kontra terhadap pemerintahan
Soeharto pada rezim Orde Baru. Mereka yang pro, kembali memuji kehebatan
strategi manajemen dan kepemimpinannya. Perilaku yang merakyat yaitu mau
berkumpul dengan rakyat kecil di desa-desa, masuk ke pelosok-pelosok pedesaan,
dalam acara “Klompencapir” dengan senyuman yang khas. Kesan rakyat pedesaan
masih tertanam, dengan
keberhasilan sang pemimpin, sehingga patut
menyandang gelar “Bapak Pembangunan”, karena mampu berswasembada
pangan saat kepemimpinannya genap 15 tahun. Kelompok cendekiawan tidak
ketinggalan, masih banyak yang mengenang kepiawian Soeharto
untuk
memimpin Negara. Tidak sedikit di antara mereka yang bisa studi lanjut dengan
beasiswa
“Supersemar” dari yayasan yang didirikan dan dipimpin Soeharto.
Buku-buku yang mengupas tentang keberhasilan Sang Jendaral Besar Soeharto
saat ini masih bermunculan, seperti: Soeharto Tak Pernah Mati (Mubarok, 2009),
Membongkar Manipulasi Sejarah (Adam, 2009) dan lain-lain. Terakhir pada
tanggal 8 Juni 2011 di acara TV One diluncurkan buku berjudul: ” The Out Old
Historis”, yang mengupas tentang sisi lain kehidupan Soeharto, dengan tampilan
113 cerita pribadinya (Thoyib, 2011).
15
Menjelang wafatnya sang maestro pemimpin rezim Orde Baru, sebagai
mesin penggerak roda kekuasaan yang dianggap absulut ini tidak hanya dirasakan
oleh kroni rezim Orde Baru. Di era reformasi sekarang ini pengaruh Soeharto
masih sangat terasa kental. Sejak lengser dari jabatan Presiden pada tanggal 21
Mei 1998, pemberitaan seputar Soeharto selalu menarik. Mulai berita terkena
stroke ringan tahun 1999, hingga dirawat kembali di rumah sakit yang sama tahun
2008, Soeharto tetap menjadi selebriti di berbagai media. Kondisi Soeharto yang
semakin kritis menjelang wafatnya, bandara Adi Sumarno Solo sudah stand by
sejak tanggal 4 Januari 2008, saat hari pertama dirawat di rumah sakit.
Kondisi psikologis nasional terkait kesehatan Soeharto dirasakan di seluruh
pelosok tanah air. Pengaruh Soeharto di kalangan rakyat bawah masih sangat
kuat. Doa bersama terus mengalir, tahlilan dan lain-lain terdengar di seluruh
pelosok pedesaan, di pesantren yang dilakukan oleh agamawan dan para tokoh
politik. Semua mendoakan agar Soeharto lepas dari maut. Kegiatan kunjungan
kenegaraan Perdana Menteri Myanmar
(Thein Sein) yang sedianya datang
pertengahan Januari 2008 diperintahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
untuk ditunda. Tidak hanya kroni yang selama ini pro Soeharto, tetapi lawan
politiknya ikut “tersihir” melihat kondisi kesehatan Soeharto. Sungguh luar biasa
daya magis Soeharto, mereka yang kritis, yang menghujat, yang membenci,
namun akhirnya bersuara lain yaitu kompak “membela sang maestro” tirani masa
Orde Baru ini (Mubarok,2008:36).
16
Mantan ketua Pengurus Besar-Nadlatul Ulama (PB-NU),
K.H. Hasjim
Muzadi ikut berdoa dan memberikan solusi atas kasus Soeharto. Secara khusus
minta rakyat Indonesia mendoakan agar Soeharto diampuni segala dosanya, dan
diterima segala amalnya. Masyarakat juga diminta memaafkan segala kesalahan
Soeharto itu, tetapi tidak berarti beliau tidak bersalah, melainkan gerakan moral
untuk perbaikan bangsa, karena secara legal formal tidak mungkin dilakukan.
Kepada ahli waris berpesan agar seluruh hutangnya tetap diselesaikan, baik
kepada orang lain maupun kepada Negara. Menurut ajaran Islam orang yang
meninggal itu tidak boleh meninggalkan hutang, karena itu sepeninggal Soeharto
ahli waris harus menyelesaikan semua hutang-hutangnya. Ahli waris harus
membayar semua hutang orang yang meninggal, itu “ajaran agama” bukan “ajaran
politik” dan berlaku bagi setiap muslim. Demikian tutur pengasuh pondok
pesantren Al-Hikam Malang Jawa Timur (Mubarok, 2008:37).
Itulah beberapa bukti keberhasilan strategi manajemen dan kepemimpinan
Soeharto pada masa pemerintahan Orde Baru, yang telah mampu membangun
negara ini. Selain mampu mewujudkan swasembada pangan, dan program
keluarga berencana (kependudukan) sehingga mendapatkan penghargaan dari
Unesco, pemerintahan Orde Baru juga telah mampu mewujudkan stabilitas
nasional yang mantap, baik dibidang keamanan, sosial politik sehingga
pembangunan berjalan lancar serta mampu mewujudkan kerjasama regional
bangsa-bangsa di Asia Tenggara.
17
Dari sisi lain, terhadap pemerintahan Soeharto dianggap banyak melakukan
korupsi, mengumpulkan kekayaan melalui beberapa yayasan yang dipimpin.
Hujatan demi hujatan akhirnya menuju tuntutan agar Soeharto tetap diadili.
Anggota Wantimpres tetap minta Soeharto diajukan ke pengadilan. Dugaan
perdata penyalahgunaan dana melalui yayasan-yayasan yang dipimpin berkisar
USD 420 juta, dan Rp 185,92 miliar, plus ganti rugi imateriil sebesar Rp10 trilyun
(Mubarok, 2008:21).
Menjelang skaratul maut, keluarga Cendana menawarkan
akta perdamaian atas gugatan perdata oleh pemerintah. Tawaran disampaikan
kuasa hukum Soeharto (O.C. Kaligis), dengan alasan kemanusiaan di saat
kondisinya semakin drop, dan akhirnya keluarlah keputusan deponering
(Mubarok, 2008:20). Meskipun banyak kalangan yang menolak deponering
Soeharto, karena dianggap mencederai tujuan reformasi dan mengingkari
ketetapan MPR No. XI/1998 (tentang pemberantasan korupsi), serta bertentangan
dengan konstitusi. Diantara yang menolak deponering adalah J.Piliang peneliti
senior bidang sosial politik CSIS, yang menyatakan bahwa “… jika pencabutan
tuntutan terhadap Soeharto tanpa proses peradilan, justru akan menghancurkan
kredibilitas Susilo Bambang Yudhoyono, penegakan hukum dan konstitusi di
Indonesia…”(Mubarok, 2008: 34).
Data empiris terhadap hasil survei dan hasil penelitian terdahulu terkait
kepemimpinan Soeharto yang telah dilakukan, menujukkan berapa hasil sebagai
berikut:
18
Pertama; Lembaga Survei Indonesia (LSI), pada bulan Oktober 2007
dengan judul: “Prospek Kepemimpinan Nasional” (Evaluasi Publik 3 Tahun
Presiden). Survei dilakukan terhadap sampel sebanyak 1300 responden (berusia
17 tahun, atau sudah menikah), menyimpulkan bahwa, ada empat kualifikasi
syarat kepemimpinan nasional, yaitu: a) Kompetensi/pintar = 5%, b) Mampu
mengambil keputusan dengan tepat dan tegas = 9%, c) Perhatian pada
rakyat/empati= 24%, d) Jujur/bisa dipercaya/integritas= 62%. Untuk ini Soeharto
masih menempati urutan nomor wahid, diantara Presiden dan para pemimpin
nasional yang lain.
Kedua; Tulisan Coen Holtzappel dalam Jurnal of Contempory Asia (vol.2
1979), menyatakan bahwa peristiwa G30S/PKI sebenarnya dipicu oleh konflik
internal angkatan. Tiga angkatan tersebut yaitu pasukan Pringgodani, pasukan
Pasopati dan pasukan Bimasakti. Coen mencurigai Mayor (udara) Suyono dan
Syam Komaruzaman sebagai tokoh sentral yang mengendalikan pasukan
Pringgodani (Angkatan Udara) dalam melakukan kudeta, yang mengakibatkan
gugurnya beberapa perwira Angkatan Darat.
Ketiga; Hasil survei Indo Barometer oleh Suryopratomo (16 Mei 2011),
memberikan kesimpulan bahwa “Soeharto Pemimpin Terbaik” dibandingkan
kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono (SBY-Boediono). Melihat
dari 13 tahun setelah reformasi, dalam 18 bulan pemerintahan (SBY-Boediono)
belum memenuhi
harapan rakyat. Kaitannya dengan pemberantasan korupsi
19
sebagai agenda utama reformasi, SBY-Budiono banyak mengambil keputusan
yang tidak tegas penuh keraguan dan terkesan tidak konsisten, selalu takut dengan
resiko yang diambil. Akibatnya kasus korupsi, mafia pajak, mafia hukum, mafia
peradilan
dan lain-lain terus merebak dimana-mana. Dibandingkan dengan
kepemimpinan Soeharto terlepas dari sikap otoriternya, Soeharto lebih tegas dan
berani mengambil resiko setiap mengambil keputusan. Soeharto berani
mengambil tanggungjawab atas perintah yang disampaikan kepada bawahan,
tidak lempar batu sembunyi tangan. Soeharto terkenal sebagai sosok pemimpin
yang efektif dan tegas dalam setiap mengambil keputusan, dan berani menerima
risiko apapun atas tindakannya.
Ke-empat; Abeng (1997)
dalam “Manajemen Presiden Soeharto
Penuturan 17 Menteri”, memberikan ulasan yang sangat menarik. Ulasan tersebut
disimpulkan bahwa Soeharto adalah Presiden yang memiliki kompetensi sebagai
pemimpin sejati sekaligus sebagai manajer professional. Sebagai mantan anggota
ABRI, Soeharto mampu mengintegrasikan delapan azas kepemimpinan (Asta
Gatra) dengan tiga azas kepemimpinan Ki Hajar Dwantoro (Ing ngarso sung
tulodo, Ing madyo mangun karso, Tutwuri handayani). Azas-azas kepemimpinan
tersebut tergabung menjadi 11 azas kepemimpinan, dan sesuai dengan doktrin
kepemimpinan ABRI (Abeng, 1997:186).
Ke-lima; Wawancara dengan Radio Nederland pada tanggal 18 Oktober
2010 (Fedya Andina) dengan Wartawan Tempo (Ibrahim Isa), seputar rencana
20
penobatan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional. Disimpulkan bahwa Soeharto
tidak memenuhi syarat sebagai Pahlawan Nasional, karena menurut Peraturan
Presiden No: 33 Tahun 1964, tentang syarat sebagai Pahlawan Nasional. Diantara
syarat tersebut antara lain; (a) warganegara yang dalam sejarahnya ambil bagian
dalam perjuangan aktif membela bangsa dan negara, (b) dalam perjalanan
hidupnya tidak boleh cacat dalam pelanggaran ini dan itu. Menurut Ibrahim Isa,
Soeharto sebagai prajurit pernah melakukan pembangkangan terhadap atasannya.
Pada tanggal 3 Oktober 1966
Soekarno mengangkat Jendral Pranoto
Reksosamudro sebagai pimpinan Angkatan Darat menggantikan Jendral A. Jani
yang terbunuh pada peristiwa G 30 S/PKI. Keputusan pengangkatan itu ditolak
oleh Soeharto, dengan alasan jabatan itu sudah ditangannya sebagai penguasa
keadaan. Penyataan yang sama juga pernah disampaikan oleh Inu Kencana
Syafiie(Syafiie, 2002:30). Kedua, pada saat Soeharto menjabat sebagai Panglima
Divisi Diponegoro di Jawa Tengah, diduga melalukan penyelundupan bahanbahan ekspor Indonesia bersama Liem Sioe Liong, kemudian dicopot dari
jabatannya. Jadi Soeharto dianggap tidak memenuhi syarat sebagai Pahlawan
Nasional (Isa, 2011:3). Alasan lain untuk menolak sebagai pahlawan national:
pelanggaran HAM berat selama menjadi presiden, serta keterlibatannya korupsi
besar-besaran (Isa,2011:2).
Ke-enam; Jurnal Istiqlal (7 Juli 2000), tulisan Sulangkang Suwalu dengan
judul: “Para Pendukung Soeharto Terus Pertahankan Tap No. XXV/MPRS/1966”.
21
Strategi Soeharto sudah dimulai sejak Sidang Kabinet tanggal 11 Maret 1966.
Sebagai anggota kabinet, Soeharto sengaja tidak hadir dalam sidang kabinet
tersebut. Menurut Frans Seda, beliau sengaja tidak hadir pada sidang tersebut, dan
sengaja membuat panik Presiden dan para Menteri,
dengan menggerakkan
mahasiswa untuk demonstrasi di luar istana. Untuk melindungi para demonstran,
Soeharto mengerahkan pasukan tanpa identitas. Akibatnya sidang kabinet kacau
karena melihat ada pasukan tak dikenal yang mengepung istana. Akhirnya sidang
diakhiri dan Soekarno segera meninggalkan Istana Negara Jakarta menuju Istana
Bogor. Malam harinya Soeharto menugaskan tiga orang Jendral (M.Jusuf, Amir
Mahmud dan Basuki Rakhmat) untuk menghadap Presiden dengan pesan agar
beliau diberi kekuasaan yang lebih luas untuk pengamanan di Istana Negara, dan
kemudian dibuatlah Surat Perintah pada tanggal 11 Maret 1966 tersebut.
Ke-tujuh; Hakekat Supersemar adalah perintah pengamanan jalannya
pemerintahan dan pengamanan pribadi Presiden Soekarno, jadi bukan pelimpahan
wewenang (transfer of authority). Kebijakan Soeharto untuk mengambil langkahlangkah telah melampui batas kewenangannya. Hal itu pernah
diperingatkan
oleh Soekarno pada tanggal 13 Maret 1966, dengan mengirim surat lewat Letjen
Leimena dan Brigjen Hartono. Setelah membaca surat itu, Soeharto berkata:
”sampaikan pada bapak Presiden, semua yang saya lakukan atas tanggung jawab
saya sendiri”. Setelah mendengar jawaban Soeharto itu,
Soekarno kembali
menegaskan bahwa perintah kepada Letjen Soeharto pada tanggal 11 Maret 1966
22
adalah penugasan administratif sehari-hari. Oleh karena itu harus dilaporkan dan
dipertanggungjawabkan kepada saya. Pada tanggal 12 Juni 1966, A.H.Nasution
selaku ketua MPRS bersama Soeharto membawa Surat Perintah 11 Maret 1966
ke Sidang Umum MPRS, dan akhirnya keluarlah ketetapan No. IX/MPRS/1966,
tentang pengangkatan pengemban Supersemar (Soeharto) sebagai Pejabat
Presiden. Langkah berikutnya adalah dengan dipenuhinya usul DPR-GR (versi
Soeharto) untuk mengadakan sidang istimewa, sidang dimulai tanggal 7 sampai
dengan tanggal 12 Maret 1967. Sidang menghasilkan keputusan politik yang luar
biasa, yaitu dikeluarkan ketetapan No. XXXIII/MPRS1967 tentang pencabutan
kekuasaan Soekarno, dan ketetapan No. XXXVI/MPRS1967 tentang larangan
semua ajaran-ajarannya. Serangkaian strategi Soeharto untuk menyusun kekuatan
dan mempertahankan kekuasaan tersebut kemudian dikenal dengan ”Kudeta
Merangkak” sang Jendral Soeharto (Adam, 2009:33,147,153).
Itulah beberapa survei dan hasil penelitian sebelumnya, terkait dengan
kepemimpinan
Soeharto.
Diharapkan
memformulasikan model kepemimpinan
hasil penelitian ini mampu
yang baru dan menyempurnakan
hasil penelitian sebelumnya. Disamping itu “historical research” juga memiliki
makna yang dalam, kaitannya dengan kasus penyesatan
pernah terjadi (G30S/PKI tertulis G30S) saja, pada
fakta sejarah yang
buku sejarah nasional di
sekolah.
23
Beberapa alasan inilah yang mendasari penelitian ini, sehingga sangat
menarik untuk dikaji kembali, khususnya untuk menemukan formulasi baru
strategi manajemen dan kepemimpinan Soeharto.
Setiap pemimpin akan
mengalami masa kejayaan dan masa krisis, ada kekurangan dan juga ada
kelebihan.
Keberhasilan
yang
dicapai
Soeharto
akan
terus
diteladani,
dipertahankan dan disempurnakan, dan segala kekurangan akan menjadi pelajaran
berharga buat generasi berikutnya untuk diperbaiki.
1.2 Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mencapai beberapa tujuan. Pertama, untuk
mengkaji dan menganalisis strategi manajemen Soeharto pada masa Pemerintahan Orde Baru di Indonesia. Bagaimana Soeharto sebagai seorang mantan
militer mampu mengendalikan suatu pemerintahan yang saaat itu pada kondisi
yang karut-marut berubah menjadi Negara yang mampu berswasembada pangan
dalam waktu relatif singkat. Bagaimana Soeharto melakanakan prinsip-prinsip
manajemen, seperti:
membuat perencanaan (planning), pengorganisasian
(organizing), pelaksanaan dan pengelolaan (actuating) serta melakukan
pengendalian (controlling).
Kedua, untuk mengkaji dan menganalisis strategi
kepemimpinan Soeharto pada masa Pemerintahan Orde Baru di Indonesia.
Seperti diketahui bahwa kepemimpinan yang berhasil, adalah mereka yang
mampu mengubah suatu organisasi dari situasi terpuruk menjadi mapan.
Kepemimpinan adalah “kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok guna
mencapai sebuah visi atau serangkaian tujuan yang telah ditetapkan” (Robbins,
24
2008:49). Sedangkan Maxwell dalam Nawawi (2010b:165) mengatakan bahwa:
“kepemimpinan itu kemampuan untuk memperoleh pengikut”. Untuk itu, maka
agar supaya kepemimpinan itu mampu mempengaruhi orang lain untuk
mendapatkan pengikut, maka diperlukan suatu strategi. Diantara strategi yang
dilakukan oleh Soeharto untuk mempengaruhi pengikutnya adalah melalui:
stuktur politik, jalur ABRI., Birokrat dan Golkar (ABG), lewat Partai politik
dalam pemilihan umum, serta konstitusi ideologis. Oleh karenanya pada
penelitian ini, untuk mengkaji dan menganalisis strategi kepemimpinan Soeharto
adalah merupakan agenda yang sangat penting.
1.3 Manfaat Penelitian
1) Manfaat teoritis:
a) Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran
terhadap pengembangan ilmu manajemen, khususnya bidang manajemen
publik di Indonesia.
b) Sebagai bahan kajian bagi mereka yang akan melakukan penelitian lebih
lanjut, terkait dengan obyek penelitian tentang manajemen publik.
2) Manfaat praktis:
a) Hasil penelitian ini akan memberikan manfaat bagi peneliti untuk memenuhi
sebagian syarat dalam memperoleh gelar Doktor ilmu manajemen dalam
bidang manajemen publik.
25
b) Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pemerintah saat ini dan yang
akan datang dalam mengimplementasikan hasil kajian ini.
Hasil kajian
diharapkan dapat menjadi acuan bagi penguasa yang akan datang, bagaimana
Soeharto membangun ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan nasional
dan sosial budaya berdasarkan visi, dan misi organisasi.
c)
Membuat
kebijakan
bagi
pemerintah
dalam
menetapkan
strategi
kepemimpinan yang lebih terencana untuk menggerakkan sendi-sendi
kehidupan organisasi negara, dalam mewujudkan tujuan Negara sebagai visi
organisasi, serta mampu menciptakan pemerintahan yang stabil, efektif dan
efisien.
1.4 Motivasi Penelitian
Penelitian ini termotivasi oleh beberapa hal sebagai berikut. Pertama,
menyadari adanya indikasi yang mendorong struktur politik, baik supra struktur
maupun infra struktur yang ingin melanggengkan kekuasaan dan atau
memperpanjang masa jabatan presiden lebih dari dua periode, sehingga cenderung
terjadi penyimpangan terhadap hasil amandemen UUD 1945. Kedua, terdapat
kontradiksi
terhadap
keberhasilan
kepemimpinan
Soeharto
pada
masa
Pemerintahan Orde Baru, sehingga terjadi pro dan kontra terhadap keberhasilan
kepemimpinannya. Ke-tiga, dimungkinkan pada suatu saat
akan terjadi
penyesatan fakta sejarah, sehingga dikhawatirkan pada waktu mendatang akan
menimbulkan penyesatan pemahaman dari generasi yang akan datang. Ke-empat,
keberhasilan kepemimpinan Soeharto yang telah dirasakan oleh seluruh rakyat
26
Indonesia, dan banyak mendapat penghargaan internasional, ternyata sampai
sekarang Soeharto dianggap tidak memenuhi syarat sebagai pahlawan nasional.
Beberapa motivasi inilah yang mendorong peneliti, guna mendapat pencerahan
terhadap beberapa kemungkinan terjadi penyesatan fakta sejarah.
1.5 Pertanyaan Penelitian
Setelah
mengkaji tentang latar belakang
mendorong penulis
masalah penelitian, akhirnya
untuk melakukan penelitian ini. Adapun yang menjadi
pertanyaan dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah strategi
manajemen dan
kepemimpinan Soeharto pada masa pemerintahan Orde Baru di Indonesia?
1.6 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini mengkaji strategi manajemen dan kepemimpinan Soeharto
pada masa pemerintahan Orde Baru di Indonesia. Adapun ruang lingkup kajian
dibatasi
sejak masa pemerintahan Soeharto yaitu sejak lahirnya Supersemar
(Surat Perintah 11 Maret 1966) sampai
Soeharto mengundurkan diri sebagai
Presiden Republik Indonesia (21 Mei 1998).
Ruang lingkup terkait lahirnya
Supersemar, juga di awali sejak terjadinya peristiwa G30S/PKI tahun 1965,
karena perlu dikaji tentang siapa sebenarnya pelaku pada peristiwa tersebut,
mengapa hal tersebut sampai terjadi, serta siapa saja sebenarnya yang ikut terlibat
dan bagaimana keterlibatannya. Dengan mengkaji hal-hal tersebut, diharapkan
seluruh bangsa Indonesia tetap waspada terhadap bahaya laten komunis, sehingga
tidak akan terulang lagi pada masa yang akan datang.
27
28
Download