pengaruh pembelajaran partisipatif terhadap hasil

advertisement
PENGARUH PEMBELAJARAN PARTISIPATIF
TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI
(Quasi eksperimen di SMA Terpadu Darul ‘Amal, Selajati, Sukabumi)
SKIRPSI
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana
Pendidikan Biologi di Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam
Oleh
FEBRI MASWANDI
NIM : 105016100495
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010 M
LEMBAR PENGESAHAN
“Pengaruh Pembelajaran Partisipatif Terhadap Hasil Belajar Biologi”
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan (S-1)
Oleh :
Febri Maswandi
NIM : 105016100495
Di bawah Bimbingan
Pembimbing I
Pembimbing II
Ir. Mahmud M.Siregar, M.Si
NIP : 150 222 933
Yanti Herlanti, M.Pd
NIP : 197101192008012010
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN IPA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2010 M/ 1431 H
LEMBAR PENGESAHAN
“Pengaruh Pembelajaran Partisipatif Terhadap Hasil Belajar Biologi”
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan (S-1)
Oleh :
Febri Maswandi
NIM : 105016100495
Di bawah Bimbingan
Pembimbing I
Pembimbing II
Ir. Mahmud M.Siregar, M.Si
NIP : 150 222 933
Yanti Herlanti, M.Pd
NIP : 197101192008012010
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN IPA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2010 M
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi berjudul: “Pengaruh Pembelajaran Partisipatif Terhadap Hasil Belajar
Biologi” diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta, dan telah dinyatakan lulus dalam Ujian Munaqasyah
pada, 22 Mei 2008 di hadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak
memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Jurusan Ilmu Pengetahuan
Alam Program Studi Pendidikan Biologi.
Jakarta, Juli 2010
PENGARUH PEMBELAJARAN PARTISIPATIF TERHADAP HASIL
BELAJAR BIOLOGI
Febri Maswandi
Program Studi Biologi, Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh model pembelajaran partisipatif
terhadap hasil belajar siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode
kuasi eksperimen dengan desain penelitian pre test-post test two group design.
Populasi penelitian adalah siswa kelas X SMA Terpadu Darul Amal Sukabumi
sebanyak 80 siswa yang terbagi kepada lima kelas. Pengambilan sampel dilakukan
dengan cara purposive sampling dengan kelas X-B sebagai kelas eksperimen dan
kelas X-D sebagai kontrol dengan masing-masing kelas 19 siswa. Hasil uji-t
(thitung [3,44] > ttabel [2,03], α 0,05) menunjukan hasil belajar siswa dengan
menggunakan model partisipatif lebih tinggi daripada hasil belajar siswa tanpa
menggunakan
model
partisipatif.
Model
pembelajaran
partisipatif
yang
dikembangkan dalam penelitian ini sudah cukup efektif (n gain = 0,40). Pada
penelitian ini, model pembelajaran partisipatif berpengaruh terhadap hasil belajar
biologi siswa pada konsep tumbuhan.
Kata kunci : pembelajaran partisipatif, hasil belajar, biologi
PENGARUH PEMBELAJARAN PARTISIPATIF TERHADAP HASIL
BELAJAR BIOLOGI
Febri Maswandi
Program Studi Biologi, Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
ABSTRAK
This study aims to see the impact of participatory learning model of student
learning outcomes. The method used is the method of quasi-experimental research
design with pre test-post test two group design. The study population were high
school students of class X Sukabumi Integrated Darul Amal which is divided by
80 students to five classes. Sampling was done by purposive sampling with the
class as a class XB XD as experimental and control classes with each class 19
students. T-test results (tcount [3.44]> ttable [2.03], α 0.05) shows the results of
student learning by using participatory model is higher than student learning
outcomes without the use of participatory models. Participatory learning model
developed in this research has been quite effective (n gain = 0.40). In this
research, a participatory learning model affects students' learning outcomes on the
concept of plant biology.
Keywords: parisipatif learning, learning outcomes, biological
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabil ‘alamiin. Puji penulis panjatkan kepada Allah SWT
yang Maha Suci yang telah menurunkan al-Qur’an di bulan yang suci. Syukur
penulis yang tidak akan berhenti selama hayat dikandung badan. Atas karunia
dan nikmat-Nya yang luar biasa. Shalawat dan salam selalu tersampaikan pada
Nabi besar Muhammad Saw. yang telah mengajarkan umatnya untuk selalu
bersyukur dan bersyukur, dan kepada kelurga beserta sahabatnya.
Skripsi yang berjudul “Pengaruh Pembelajaran Partisipatif Terhadap
Hasil Belajar Biologi” dibuat sebagai wujud realilisasi mata kuliah wajib
sekaligus syarat menjadi sarjana jenjang strata-1 di Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, Program Studi Pendidikan Biologi.
Atas keberhasilan segala kegiatan penulisan skripsi dan terselesaikannya
skripsi ini tidak terlepas dari adanya bimbingan dan bantuan dari segala pihak
dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. Karenanya pada kesempatan ini penulis
ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya pada :
1. Prof. Dr. Dede Rosyada, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Baiq Hana Susanti, M.Si, selaku Ketua Jurusan
Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Ir. H. Mahmud Siregar, M.Si. selaku pembimbing I dan Yanti Herlanti,
M.Pd Selaku Pembimbing II
4. Bapak dan Ibu Dosen Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah &
Keguruan UIN Jakarta yang telah mengamalkan ilmunya.
5. Dr. H. Umay M Djafar Siddieq MA & Lily Maryunani sebagai donatur
yang menjadi Inspirasi penulis.
iii 6. Mamah Imas, dan Orang – orang tercinta yang telah memberi doa,
dorongan moril dan materil serta motivasi sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan.
7. Keluarga besar pondok Pesantren Terpadu Darul ‘Amal (Laskar Jihad :
Ust Dede Muharamsyah beserta jajarannya)
8. Sahabat-sahabat Badan Golgi 2005: Jajang, Leo, Dewa, Harja, Irfan, Sigit,
Ihsan, Nurul Huda, Sita dkk. Terima kasih.
9. “Dulur dilembur baraya di panyabaan”: Rifky, Yosep, Fahmi, dan semua
dulur RIMASI Jakarta.
10. Teman-teman Atlit Volly Forsa UIN Jakarta dan keluarga besar Forsa,
Kawan BEM Fakultas Ilmu Tarbiyah & Keguruan periode 2007-2008,
Sahabat ILMIDA,
dan Keluarga besar Sanggar Ayu. Keluarga besar
IKAHIMBI (Nadia, Coco, Syukron, Dewa, Eva, Ayu, Aneu dll) tetap
salam lestari & salam konservasi.
Semoga Allah membalas kebaikan semuanya. Aaamiiiiiiin
Jakarta, Juni 2010
Penulis
iv DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN …………………………………………….. i
ABSTRAK ………………………………………………………………. ii
KATA PENGANTAR ………………………………………………….. iii
DAFTAR ISI................................................................................................ v
DAFTAR TABEL……………………………………………………….. viii
DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………… ix
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah........................................................................... 5
C. Pembatasan Masalah......................................................................... 6
D. Perumusan Masalah.......................................................................... 6
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian....................................................... 6
BAB II DESKRIPSI TEORETIS, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS
A. Kajian Teori....................................................................................... 8
1. Pembelajaran Partisipatif............................................................. 8
a. Pengertian pembelajaran partisipatif.................................... 8
b. Kegiatan pembelajaran partisipatif………………………. 11
c. Prinsip-prinsip pembelajaran partisipatif............................. 13
2. Hasil Belajar.............................................................................. 14
a. Konsep belajar...................................................................... 14
1). Pengertian belajar........................................................... 14
2). Ciri-ciri belajar................................................................ 16
3). Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar....................... 18
b. Konsep hasil belajar.............................................................. 19
c. Hakikat biologi ……………………………………………. 22
B. Hasil Penelitian yang Relevan .......................................................... 24
C. Kerangka Berpikir............................................................................. 28
D. Perumusan Hipotesis..........................................................................30
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian........................................................... 31
B. Variabel penelitian ………………………………………………. 31
C. Metode dan Desain Penelitian........................................................... 31
1. Metode Penelitian ……………………………………………... 31
2. Desain Penelitian ……………………………………………… 31
D. Populasi dan Sampel.......................................................................... 32
a. Populasi ……………………………………………………….. 32
b. Sampel …………………………………………………………. 33
E. Teknik Pengumpulan Data................................................................. 33
1. Variabel Bebas ………………………………………………… 33
2. Variabel terikat ………………………………………………... 33
F. Instrumen penelitian …………………………………………….. 34
1. Kisi-kisi instrument …………………………………………… 34
2. Kalibrasi Instrumen …………………………………………… 35
G. Prosedur Penelitian ………………………………………………. 36
1. Tahap Persiapan ………………………………………………. 36
2. Tahap Pelaksanaan …………………………………………… 37
3. Tahap akhir …………………………………………………… 37
H. Teknik Analisis Data........................................................................ 37
1. Uji Normalitas ………………………………………………… 37
2. Uji Homogenitas ……………………………………………… 38
3. Normal Gain ………………………………………………….. 39
4. Uji Hipotesis ………………………………………………….. 39
I. Hipotesis Statistika.......................................................................... 40
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian………. …………………………………………… 41
B. Pembahasan ……………………………………………………….. 48
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ……………………………………………………….. 54
B. Saran ……………………………………………………………… 54
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 55
LAMPIRAN-LAMPIRAN ……………………………………………… 58
DAFTAR TABEL
3.1 Desain penelitian …………………………………………………………… 27
3.2 Kisi-kisi Instrumen Penelitian Kognitif Pada Konsep Tumbuhan ………..... 29
4.1 Rekapitulasi Data Hasil Pretest Kelompok Kontrol dan Eksperimen ……... 36
4.2 Hasil Uji Normalitas Data Pretest …………………………………………. 37
4.3 Hasil Uji Homogenitas Data Pretest Kelompok Kontrol dan Eksperimen… 37
4.4 Hasil Penghitungan Uji-t Data Pretest Kelompok Kontrol dan Eksperimen..38
4.5 Rekapitulai Data Hasil Posttest Kelompok Kontrol dan Eksperimen……… 38
4.6 Hasil Uji Normalitas Data Posttest Kelompok Kontrol dan Eksperimen….. 39
4.7 Hasil Uji Homogenitas Data Pretest Kelompok Kontrol dan Eksperimen 39
4.8 Hasil Penghitungan Uji-t Data Posttest Kelompok Kontrol dan Eksperimen 40
4.9 Rekapitulasi Data hasil postest kelompok kontrol dan eksperiman terhadap
KKM ……………………………………………....................................
41
4.10 Hasil Penghitungan Normal Gain ……………………………...………… 41
4.11 Nilai Rata-rata Pretest, Posttest, dan N-Gain…………………………….. 41
4.12 Persentase Keterlaksanaan Skenario Pembelajaran Pembelajaran ..…...... 41
vii DAFTAR LAMPIRAN
1. Perhitungan mean, median, dan modus serta distribusi untuk skor hasil
pretest siswa kelas kontrol ....................................................................... 51
2. Perhitungan mean, median, dan modus serta distribusi untuk skor hasil
postest siswa kelas eksperimen ............................................................... 53
3. Perhitungan mean, median, dan modus serta distribusi untuk skor hasil
posttest siswa kelas kontrol ...................................................................... 55
4. Perhitungan mean, median, dan modus serta distribusi untuk skor hasil
posttest siswa kelas eksperimen ............................................................ 57
5. Data Nilai kelas kontrol dan kelas eksperimen ..................................... 59
6. Uji Normal Gain ……………………………………………………….. 60
7. Uji Normalitas Data …………………………………………………… 61
8. Uji Homogenitas Data ………………………………………………… 64
9. Uji Hipotesis ………………………………………………………….. 66
10. Soal Pretes dan Posttest ………………………………………………. 70
11. Pedoman observasi terhadap keterlaksanaan pembelajaran partisipatif . 74
12. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kelas kontrol …………….. 75
13. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kelas eksperimen ………… 83
14. Lembar Kerja Siswa …………………………………………………… 95
15. Data Anates ............................................................................................ 102
ix BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan kualitas
manusia seutuhnya, adalah misi pendidikan yang menjadi tanggung jawab
profesional setiap guru. Pengembangan kualitas manusia ini menjadi suatu
keharusan, terutama dalam memasuki era globalisasi dewasa ini, agar generasi
muda kita tidak menjadi korban dari globalisasi itu sendiri. Pendidikan yang
berorientasi pada kualitas ini menghadapi berbagai tantangan yang tidak dapat
dikejar dengan cara-cara lama yang dipakai dalam sekolah-sekolah kita. Ibarat
mengejar mobil yang melaju dengan kecapatan tinggi di atas tol dengan
delman.1
Upaya memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan seakan tidak
pernah berhenti. Banyak agenda reformasi yang telah, sedang, dan akan
dilaksanakan. Reformasi pendidikan adalah restrukturisasi pendidikan, yakni
memperbaiki pola hubungan sekolah dengan lingkungannya dan dengan
pemerintah, pola pengembangan perencanaan serta pola mengembangkan
manajerialnya,
pembelajaran.
pemberdayaan
guru
dan
restrukturisasi
model-model
2
Reformasi pendidikan tidak cukup hanya dengan perubahan dalam
sektor kurikulum, baik struktur maupun prosedur perumusannya. Pembaharuan
kurikulum akan lebih bermakna bila diikuti oleh perubahan praktik
pembelajaran di dalam maupun di luar kelas. Indikator pembaruan kurikulum
ditunjukkan dengan adanya perubahan pola kegiatan pembelajaran, pemilihan
media pendidikan, penentuan pola penilaian yang menghasilkan pendidikan.
Keberhasilan
implementasi
kurikulum sangat
dipengaruhi
oleh
kemampuan guru yang akan menerapkan dan mengaktualisasikan kurikulum
tersebut. Kemampuan guru tersebut terutama berkaitan dengan pengetahuan
dan kemampuan, serta tugas yang dibebankan kepadanya. Tidak jarang
1
W.gulo, Strategi belajar-mengajar, (Jakarta, PT Gramedia 2002), h 2 Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran (Mengembangkan Standar Kompetensi
Guru), (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), cet. VIII, h.3 2
1 2 kegagalan implementasi kurikulum disebabkan oleh kurangnya pengetahuan,
keterampilan, dan kemampuan guru dalam memahami tugas-tugas yang harus
dilaksanakannya.
Kondisi
tersebut
menunjukkan
bahwa
berfungsinya
kurikulum terletak pada bagaimana pelaksanaanya di sekolah, khususnya di
kelas dalam kegiatan pembelajaran yang merupakan kunci keberhasilan
tersebut.
Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta
didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang
lebih
baik.
Dalam
interaksi
tersebut
banyak
sekali
faktor
yang
mempengaruhinya, baik faktor internal yang datang dari dalam individu,
maupun faktor eksternal yang datang dari lingkungan.3
Guru sebagai pengajar bertugas memberikan pengajaran di dalam kelas.
Ia mengumpulkan pelajaran agar murid memahami dengan baik semua
pengetahuan yang telah disampaikan. Guru sebagai pembimbing berkewajiban
memberikan bantuan kepada murid agar mereka mampu menemukan
masalahnya sendiri, memecahkan masalahnya sendiri, mengenal diri sindiri
dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Selain itu guru juga dikatakan
sebagai menejer dalam kelas dimana dia bertanggungjawab atas semua
perencanaan, proses dan hasil belajar siswa.4
Guru sebagai pengelola kegiatan belajar mengajar memiliki tugas yang
tidak mudah karena ia merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap
pencapaian proses belajar mengajar. Oleh Karena itu, guru dituntut untuk
memiliki sejumlah kemampuan, keterampilan didalam bidangnya, serta
memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas. Banyak sekali jenis
kemampuan, keterampilan dan keahlian yang harus dimiliki guru yang
professional, karena guru merupakan fasilitator maupun motivator bagi siswa.
Pada mata pelajaran IPA ada lima karakteristik dan kemampuan
professional guru yang harus dikembangkan yaitu: (1) menguasai kurikulum;
(2) Menguasai materi semua mata pelajaran; (3) Terampil menggunakan multi
3
Dr. E. Mulyasa, M.Pd. Kurikulum tingkat Satuan pendidikan; suatu panduan praktis,
(bandung, PT remaja Rosdakarya, 2003), h. 255 4
Prof.Dr.Oemar Hamalik . Proses Belajar mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), h.20 3 metode pembelajaran; (4) Memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugasnya;
(5) Memiliki kedisiplinan. Hal senada juga disampaikan oleh Ahmad
menyatakan bahwa minimal ada lima kompetensi yang harus dimiliki guru
yaitu: (1) Menguasai kurikulum; (2) Menguasai materi pelajaran; (3)
Menguasai berbagai metode dan evaluasi; (4) Dedikasi yang tinggi dalam
pelaksanaan tugas; (5) Disiplin.5
Tujuan pembelajaran IPA terkait dengan materi pembelajaran
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu fakta dan konsep/prinsip. Fakta adalah
sesuatu yang dapat diperoleh dengan cara melihat, mendengar atau keaktifan
indra lainnya. Sedangkan konsep atau prinsip ialah pemahaman yang
mendalam tentang suatu benda atau peristiwa.6 Salah satu tujuan
mata
pelajaran ilmu pengetahuan alam mata pelajaran biologi di SMA/MA bertujuan
agar peserta mampu : 1. Memupuk sikap ilmiah yaitu jujur, objektif, terbuka,
ulet, kritis dan dapat bekerjasama dengan orang lain, 2. Mengembangkan
kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif dengan menggunakan
konsep dan prinsip biologi. 3. Mengembangkan penguasaan konsep dan prinsip
biologi dan saling keterkaitannya dengan IPA lainnya serta mengembangkan
pengetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri. 4. Menerapkan konsep dan
prinsip biologi untuk menghasilkan karya teknologi sederhana yang berkaitan
dengan kebutuhan manusia.7
Pada pelaksanaannya, tujuan pembelajaran IPA di atas belum terealisasi
dengan baik, bahkan dalam proses pembelajaran siswa kurang memiliki sikap
ilmiah, sehingga kurang mampu dalam proses berpikir, proses pembelajaran di
dalam kelas diarahkan kepada kemampuan siswa untuk menghafal informasi;
dipaksa mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk
memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dalam
5
Ahmad Sopyan, Konstruktivisme dalam pembelajaran IPA/Sains, (proseding Seminar
Internasional Pendidikan IPA 2007), hal.10 6
Ibid.hal 9 7
Badan Standar Nasional Pendidikan, Panduan Penyusunan kurikulum tingkat satuan
pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah, (Jakarta: BNSP, 2006),h.453 4 kehidupan sehari-hari. Akibatnya? Ketika mereka lulus dari sekolah, mereka
pintar secara teoretis akan tetapi mereka miskin aplikasi.
Pencapaian tujuan pendidikan sebagian besar ditentukan oleh
keberhasilan proses belajar mengajar di kelas. Keberhasilan proses belajar
mengajar di kelas dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satu faktornya
adalah interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran. Guru adalah subjek yang
sangat berperan dalam membelajarkan dan mendidik siswa sedangkan siswa
merupakan subjek yang menjadi sasaran pendidikan.8
Masalah utama dalam pembelajaran biologi adalah bagaimana
menghubungkan fakta yang pernah dilihat dan dialami siswa dalam kehidupan
sehari-hari dengan konsep biologi, sehingga menjadikan pengetahuan yang
bermakna dalam benak siswa.
Pemahaman siswa tentang biologi sebagai ilmu, diasumsikan sebagai
ilmu hafalan dan tidak ada manfaatnya dalam kehidupan keseharian. Anggapan
yang timbul karena mereka melihat biologi sebagai ilmu yang banyak
mempergunakan bahasa latin sebagai bahasa ilmiah. Juga akibat pengalaman
belajar yang bersifat verbalistis dan tidak pernah diajak belajar di luar kelas.
Pengalaman belajar di sekolah sebelumnya lebih bersifat tekstual dan lebih
menekankan pada penyelesaiaan soal-soal daripada pembelajaran secara
praktis.9
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk
pengalaman belajar yang
melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta
didik, dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka
pencapaian kompetensi sumber belajar lainnya dalam rangka pencapain
kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat berwujud melalui
penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada
8
Rita Murtafi’ah, Meningkatkan Motivasi Siswa Kelas II A SMPN 2 Amuntai Utara Pada Pembelajaran Biologi Semester Genap Tahun 2005/2006 Melalui “Strategy Based Student Request”. Dikutip dari. http://eko13.wordpress.com/1999/11/30/penelitian-tindakan-kelas-classaction-researc/#more-138 tanggal 12 april 2009 9
Hidayat Raharja, Pembelajaran Ekosistem di Taman Sekolah. Dikutip dari
http://www.scribd.com/doc/16604552/ekosistem tanggal 12 April 2009 5 peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu
dikuasai peserta didik.10
Untuk mencapai tujuan diatas maka peran guru sangatlah penting
terutaman dalam merancang system pembelajaran, pendekatan dan metode
yang tepat. Salah satu upaya untuk mengatasi hal diatas diperlukan kreativitas
guru dalam menerapkan suatu pendekatan dalam pelajaran biologi sehingga
akan
mencapai
sasaran
yang
diharapkan
dalam
pendidikan,
yaitu
berkembangnya segi kognitif, afektif, dan psikomotor siswa. Adapun
pendekatan yang digunakan, yaitu pendekatan partisipatif yang menekankan
pada keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran, baik keterlibatan dalam
perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi.
Dibutuhkan bentuk pembelajaran yang bisa memberikan solusi siswa
dalam pembelajaran. Pembelajaran partisipatif sebagai kegiatan belajar lebih
memperhatikan kegiatan-kegiatan individual dan mengutamakan kemampuan
pendidik, menekankan pentingnya pengalaman dan pemecahan masalah, dan
memfokuskan pada manfaat belajar bagi peserta didik.11 Berpartisipasi belajar
akan memberikan kemudahan kepada siswa untuk memperbanyak pengalaman
siswa.
Bertolak dari uraian-uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk
melakukan pengkajian ilmiah berdasarkan penelitan terhadap efektivitas
pembelajaran partisipatif dalam meningkatkan hasil belajar biologi siswa.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian materi pada latar belakang di atas dapat
diidentifikasikan masalah sebagai berikut :
Bagaimana cara memajukan pendidikan dengan cara-cara baru?
Bagaimana merealisasikan tujuan Pembelajaran IPA dengan baik? Mengapa
dalam proses pembelajaran siswa kurang memiliki sikap ilmiah, sehingga
10
11
Badan Standar Nasional Pendidikan,opp.chit, h.452 Suryono Yoyon, Strategi Pembelajaran Kejar Paket C Setara SMA Berbasis Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan. http://yoyonsuryono.wordpress.com/2008/01/12/model-pembelajaran2/,tanggal 20 januari 2008. 6 kurang mampu dalam proses berpikir. Bagaimana menghubungkan fakta yang
pernah dilihat dan dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari dengan konsep
biologi?
C. Pembatasan Masalah
Mengingat luasnya cakupan masalah yang timbul dari topik penelitian
yang dilakukan dan agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda
maka penulis membatasi masalah hanya pada :
1. Model pembelajaran yang akan diterapkan yaitu model pembelajaran
partisipatif
2. Siswa yang dimaksud adalah siswa SMA terpadu Darul Amal kelas X
3. Hasil belajar yang dimaksud adalah hasil tes yang diberikan kepada siswa
kelas X pada konsep tumbuhan
4. Pengaruh pembelajaran mengacu pada penguasaan konsep dan peningkatan
hasil belajar dari aspek kognitif yaitu hasil belajar biologi siswa sesudah
(posttest) penerapan model pembelajaran partisipatif.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, peneliti merumuskan
permasalahan, sebagai berikut : “Bagaimana pengaruh pembelajaran
partisipatif terhadap hasil belajar biologi siswa pada konsep tumbuhan ?”
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran
partisipatif terhadap hasil belajar biologi siswa pada konsep tumbuhan.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat:
1. Bagi guru adalah untuk menambah wawasan dan memberikan alternative
metode pembelajaran sesuai dengan situasi dan kondisi.
2. Bagi siswa adalah meningkatkan kemampuan belajar siswa dan menambah
ketertarikan mereka untuk belajar biologi.
7 3. Bagi sekolah adalah sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan hasil
belajar biologi siswa.
BAB II
DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS
A. Kajian Teori
1.
Pembelajaran Partisipatif
a.
Pengertian Pembelajaran Partisipatif
Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata pembelajaran adalah kata benda
yang diartikan sebagai proses, cara, menjadikan orang atau mahluk hidup belajar.
Pembelajaran dapat diberi arti sebagai setiap upaya yang sistematis dan disengaja
oleh pendidik untuk menciptakan kondisi-kondisi agar peserta didik melakukan
kegiatan belajar.1
Pembelajaran atau ungkapan yang lebih dikenal sebelumnya “pengajaran”
adalah upaya untuk membelajarkan siswa.2 Pembelajaran menurut Corey adalah
suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk
memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi
khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu. Sedangkan menurut
Dimyati & Mudjiono adalah kegiatan guru secara terpogram dalam disain
intruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan
penyedian sumber belajar. UUSPN no.20 tahun 2003 menyatakan pembelajaran
adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar.3
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan
yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan
pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan
kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses
untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.4 Pembelajaran pada
1
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
1998), h. 100 2
Abdul majid, Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru,
(Bandung : PT Remaja Rosdakarya 2008), h.11 3
Syaeful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta 2009), h. 67 4
http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran 20/06/2009 7 8 hakikatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan
sumber belajar dan anak dengan pendidik.5
Pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu upaya yang sistematis dan
disengaja oleh pendidik untuk menciptakan kondisi-kondisi agar peserta didik
melakukan kegiatan belajar. Dalam kegiatan pembelajaran terjadi interaksi antara
dua pihak, yaitu peserta didik yang melakukan kegiatan belajar dengan pendidik
yang melakukan kegiatan membelajarkan. Belajar merupakan perubahan tingkah
laku ke dalam kegiatan belajar, sedangkan yang dimaksud dengan membelajarkan
adalah kegiatan yang sistematik dan dilakukan secara sengaja oleh pendidik
dengan tujuan membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar.
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar
yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik,
peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka
pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud
melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada
peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai
peserta didik.
Kata Partisipatif berasal dari kata dasar bahasa inggris “participate” yang
berarti mengikutsertakan atau mengambil bagian. Kata “Participation” yang
berarti pengambilan bagian atau pengikutsertaan.6 Partisipative adalah kegiatan
yang banyak melakukan pengambilan bagian, seperti mendengar, berbagi
pengalaman, dan pembelajaran dari yang lain.7 Partisipatif berarti pengikutsertaan
seseorang untuk melakukan sesuatu atau pengambilan bagian dari sesuatu yang
harus dilakukan oleh pelakunya.
Pembelajaran partisipatif dapat diartikan sebagai upaya pendidik untuk
mengikutsertakan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran
5
Tim Pustaka Yustisia, Panduan Lengkap KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). (Jakarta: Pustaka Yustisia, 2008), h 253 6
John M. Echols & Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia (Jakarta: Gramedia 1982),
h.419 7
Learning+Teaching Scotland, “Participative ang Learning. (Scotland: Save the Children
2007), h. 4 9 partisipatif mengandung arti ikut sertanya peserta didik di dalam program
pembelajaran partisipatif. Keikutsertaan peserta didik itu diwujudkan dalam tiga
tahapan kegiatan pembelajaran yaitu perencanaan program, pelaksanaan, dan
penilaian kegiatan pembelajaran.8 Pembelajaran partisipatif adalah pembelajaran
yang sangat tepat sebagai pembelajar para ahli dalam keadaan yang tidak teratur
atau ahli dalam memecahkan masalah.9
Menurut E.Mulyasa ada beberapa indikator dalam pembelajaran
partisipatif yaitu (1) adanya keterlibatan emosional dan mental peserta didik (2)
adanya keterlibatan peserta didik untuk memberikan kontribusi dalam pencapaian
tujuan (3) dalam kegiatan belajar terdapat hal yang menguntungkan peserta
didik.10
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran partisipatif
adalah sebuah upaya membelajarkan peserta didik yang disengaja atau dirancang
oleh pendidik dengan cara mengikutsertakan peserta didik dimana peserta didik
terlibat langsung dalam proses pembejarannya dari mulai perencanaan program,
kemudian pelaksanaan, dan penilaian kegiatan pembelajaran.
b. Kegiatan Pembelajaran Partisipatif
Kegiatan pembelajaran diarahkan untuk memberdayakan semua potensi
peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diharapkan. Kegiatan
pembelajaran mengembangkan kemampuan untuk mengetahui, memahami,
melakukan sesuatu , hidup dalam kebersamaan, dan mengaktualisasikan diri.
Dengan demikian, kegiatan pembelajaran perlu : 1) berpusat pada peserta didik; 2)
mengembangkan kreatifitas peserta didik; 3) menciptakan kondisi yang
8
Prof.H.D.Sudjana S., S.Pd.,M.Ed.,PhD. Strategi Pembelajaran Pendidikan Luar
Sekolah, (Bandung: Falah Production 2000) h. 155 9
Jacky Pow, A Reflective-participate approach to professional development in teaching
of liberal studies in schools, (Hong Kong Teacher’s Centre Journal 2007), h.19 10
Yoyon suryono, model pembelajaran. http://yoyonsuryono.wordpress.com 12/02/2010
10 menyenangkan dan menantang; 4) bermuatan nilai, etika, estetika, logika dan
kinestika, dan 5) menyediakan pengalaman belajar yang beragam.11
Kegiatan pembelajaran partisipatif terdiri atas membelajarkan dan belajar
yang
mengikutsertakan
peserta
didik
dalam
kegiatan
merencanakan,
melaksanakan, dan menilai kegiatan pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran
partisipatif, pendidik berupaya memotivasi dan melibatkan peserta didik dalam
ketiga kegiatan tersebut.
Kegiatan partisipatif dapat dilakukan dengan cara : melakukan assesmen
kebutuhan belajar, memilih pokok bahasan, mengenali karakteristik peserta didik,
mengidentifikasi materi, merumuskan tujuan belajar, merancang kegiatan
pembelajaran, memilih alat bantu, menentukan fasilitas dan sumber lain,
mempersiapkan evaluasi proses dan hasil, serta melaksanakan test.12
Menurut Sudjana kegiatan pembelajaran partisipatif dapat dilakukan
melalui enam tahapan kegiatan yang berurutan.13 Yang teridiri dari : (1) Tahap
pembinaan keakraban yang bertujuan untuk mengkondisikan peserta didik agar
mampu melakukan kegiatan belajar partisipatif, (2) tahap identifikasi kebutuhan
sumber dan kemungkinan hambatan dimana peserta didik didorong untuk
menyatakan kebutuhan belajar yang mereka rasakan berupa pengetahuan, sikap,
nilai, atau keterampilan tertentu yang ingin mereka peroleh melalui kegiatan
belajar, (3) tahap perumusan tujuan belajar, dalam tahap ini mengikutsertakan
peserta didik dalam menentukan arah dan merusmuskan tujuan belajar yang ingin
dicapai melalui kegiatan belajar , (4) tahap penyusunan program kegiatan belajar
yang mencakup komponen program kegiatan belajar dan proses pelaksanaan
program. Komponen program antara lain materi belajar, motede dan teknik,
fasilitas dan sarana belajar, waktu belajar. (5) tahap pelaksanaan kegiatan
pembelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran ini, para peserta didik
yang dibantu oleh pendidik, melibatkan diri dalam proses pembelajaran. dan (6)
tahap penilaian proses, hasil, dan pengaruh kegiatan pembelajaran. Kegiatan
11
12
Opp Chit. Abdul Majid., h.24 Opp chit. Yoyon suryono, 13
Prof.H.D.Sudjana S., S.Pd.,M.Ed.,PhD. Metode & Teknik Pembelajaran Partisipatif
Pendidikan non Formal. (Bandung: Falah Production. 2005), h. 66 11 pembelajaran pada tahap ini ditandai dengan keterlibatan peserta didik dalam
penilaian program kegiatan pembelajaran.
Pendapat di atas dapat menjelaskan tiga kegiatan pembelajaran partisipatif
yaitu mengikutsertakan peserta didik dalam proses merencanakan pembelajaran
yang ditandai dengan kegiatan akrabisasi peserta didik atau saling mengenali
karakteristik, mengidentifikasi kebutuhan, sumber ataupun materi, merumuskan
tujuan belajar, serta merancang kegiatan pembelajaran. Selanjutnya peserta didik
melaksanakan program pembelajaran yang berkaitan dengan tugas dan tanggung
jawab dalam penyelenggaraan program kegiatan pembelajaran. Kemudian peserta
didik menilai pembelajarannya yang mencakup penilaian terhadap proses, hasil
dan dampak pembelajarannya.
c.
Prinsip-Prinsip Pembelajaran Partisipatif
(1) Berdasararkan kebutuhan belajar (learning needs based); Pelajar akan
belajar secara efektif dalam proses pembelajaran apabila semua komponen
program belajar dapat membantu peserta didik untuk memenuhi kebutuhannya.
Dalam hal ini adalah kebutuhan sebagai guru sesuai dengan tugas dan fungsinya
yang sekaligus sebagai fasilitator.
(2) Berorientasi pada tujuan kegiatan pembelajaran (learning goals and
objectives oriented); Dalam kegiatan belajar partisipatif direncanakan dan
dilaksanakan untuk mencapai tujuan belajar yang telah diprogramkan. Jadi dalam
setiap proses kegiatan belajar diarahakan untuk mencapai tujuan belajar yang
telah disusun oleh sumber belajar/ guru dan peserta didik.
(3) Berpusat pada peserta didik (participant centered); Dalam kegiatan
belajar partisipatif itu dilakukan atas dasar kesesuaian dengan latar belakang
kehidupan peserta didik. Latar belakang kehidupan meliputi pendidikan,
pergaulan, agama dan sebagainya. Dalam penyusunan proses kegiatan belajar
peserta didik memegang peranan utama sehingga peserta didik dapat merasakan
bahwa kegiatan belajar itu menjadi milik peserta didik sendiri, berkewajiban dan
bertanggung jawab untuk melakukan proses yang telah ditetapkan oleh mereka.
12 Peserta didik diikutkan pula dalam kegiatan identifikasi kebutuhan belajar,
sumber-sumber, dan kemungkinan hambatan serta dalam kegiatan menentukan
tujuan belajar. Dalam kegiatan identifikasi tersebut peserta didik tidak hanya
bertindak sebagai responden, tetapi berperan dalam merumuskan alat-alat yang
digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar.
(4)
dan Berangkat dari pengalaman belajar (experienital learning) ;
Prinsip belajar memberi arah bahwa kegiatan belajar partisipatif disusun dan
dilaksanakan berawal dari pengalaman yang telah dimiliki oleh peserta didik.
Proses kegiatan belajar merupakan kegiatan peserta didik yang dilakukan secara
bersama didalam situasi pengalaman nyata, baik pengalaman dalam tugas yang
dilakukan sehari-hari maupun pengalaman sebagai pelajar, maka pendekatan yang
digunakan dalam proses kegiatan belajar mengutamakan pendekatan pemecahan
masalah. Pemecahan masalah ini merupakan pembelajaran yang lebih banyak
menumbuhkan partisipasi peserta didik, nilai dan keterampilan yang telah dimiliki
oleh peserta didik dan lebih menitikberatkan pada pendekatan pemecahan
masalah. 14
Prinsip-prinsip pembelajaran partisipatif di atas memberikan pengertian
bahwa peserta didik dalam pembelajaran partisipatif benar-benar diuntungkan.
Karena kegiatan pembelajaran partisipatif bertujuan untuk menjadikan peserta
didik sebagai pusat dari kegiatan seluruh kegiatan pembelajaran.
2.
Hasil Belajar
a.
Konsep Belajar
1) Pengertian Belajar
Skinner, seperti yang dikutip Barlow dalam bukunya
Educational
Psychologi; The Teaching-Learning Process, berpendapat bahwa belajar adalah
sustu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara
progresif. Hintzaman dalam bukunya The Psycology of Learning and Memory
berpendapat Learning is a change in organism due to experience which can affect
the organism’s behavior. Artinya, belajar adalah suatu perubahan yang terjadi
14
Opp chit. Prof.H.D.Sudjana S., S.Pd.,M.Ed.,PhD., h. 170 13 dalam diri organism (manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman yang
dapat mempengaruhi tingkah laku organism tersebut.15
Menurut Gagne belajar didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu
organisme berubah perilakunya akibat suatu pengalaman. Henry E. Garret
berpendapat bahwa belajar merupakan proses yang berlangsung dalam jangka
waktu lama melalui latihan maupun pengalaman yang membawa kepada
perubahan diri dan perubahan cara mereaksi terhadap suatu perangsang tertentu.
Kemudian Lester D. Crow mengemukakan belajar ialah upaya untuk memperoleh
kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap-sikap.16
Cronbach menyatakan bahwa ; Learning is shown by a change in behavior
as a result of experience. Jadi menurut Cronbach, belajar yang sebaik-baiknya
adalah dengan mengalami; dan dalam mengalami itu pelajar mempergunakan
pancaindranya. Sesuai dengan pendapat ini adalah pendapatnya Harold Spears.
Spears menyatakan bahwa ; Learning is to observe, to read, to imitate, to try
something themselves, to listen, to follow direction.17
Belajar pada hakikatnya merupakan proses perubahan di dalam
kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Perubahan
ini bersifat menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari
latihan atau pengalaman.18 Artinya, tujuan kegiatannya adalah perubahan tingkah
laku, baik yang menyangkut pengalaman, keterampilan, maupun sikap, bahkan
meliputi segenap aspek organism atau pribadi.
Belajar adalah suatu perubahan dalam disposisi atau kecakapan baru
peserta didik karena adanya usaha yang dilakukan dengan sengaja dari pihak luar
peserta didik serta melalui interaksi peserta didik dengan lingkungannya.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah usaha untuk
mencapai perubahan dalam memiliki pengetahuan penguasaan materi maupun
15
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya. 2003), h. 90 16
DR.H.Syaeful Sagala,M.Pd. Konsep dan Makna Pembelajaran untuk Membantu
Memecahkan Probelamtika Belajar dan Mengajar. (Bandung : Alfabeta. 2009), h. 13 17
Daryanto, Panduan Proses Pembelajaran Kreatif & Inovatif ; Teori dan praktif dalam
pengembangan Profesionalisme bagi Guru. (Jakarta: AV Publisher 2009), h. 72 18
Opp chit., Tim Pustaka Yustisia, h 253 14 tingkah laku yang dilakukan secara sengaja sehingga memperoleh hasil dari
kegiatan tersebut.
2) Ciri-Ciri Belajar
William Burton menyimpulkan uraiannya yang cukup panjang tentang
ciri-ciri belajar sebagai berikut : (1). proses belajar ialah pengalaman, berbuat,
mereaksi, dan melampaui. (2) Proses itu melalui bermacam-macam ragam
pengalaman dan mata pelajaran-mata pelajaran yang terpusat pada suatu tujuan
tertentu. (3) Pengalaman belajar secara maksimum bermakna bagi kehidupan
murid. (4) Pengalaman belajar bersumber dari kebutuhan dan tujuan murid sendiri
yang mendorong motivasi yang kontinu. (5) Proses belajar dan hasil belajar
disyarati oleh hereditas dan lingkungan. (6) proses belajar dan hasil usaha belajar
secara materiil dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan individual di kalangan
murid-murid. (7) proses belajar berlangsung secara efektif apabila pengalamanpengalaman dan hasil-hasil yang diinginkan disesuaikan dengan kematangan
murid. (8) proses belajar yang terbaik apabila murid mengetahui status dan
kemajuan. (9) proses belajar merupakan kesatuan fungsional dari berbagai
prosedur. (10) hasil-hasil belajar secara fungsional bertalian satu sama lain, tetapi
dapat didiskusikan secara terpisah. (11) proses belajar berlangsung secara efektif
di bawah bimbingan yang merangsang dan membimbing tanpa tekanan dan
paksaan.(12)
Hasil-hasil
belajar
adalah
pola-pola
perbuatan,
nilai-nilai,
pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, abilitas, dan keterampilan. (13)
hasil-hasil belajar diterima oleh murid apabila member kepuasan pada
kebutuhannya dan berguna serta bermakna baginya. (14) hasil-hasil belajar
dilengkapi dengan jalan serangkaian pengalaman-pengalaman yang dapat
dipersamakan dan dengan pertimbangan yang baik (15) hasil-hasil belajar itu
lambat laun dipersatukan menjadi kepribadian dengan kecepatan yang berbedabeda. (16) hasil-hasil belajar yang telah dicapai adalah bersifat kompleks dan
dapat berubah-ubah (adabtable), jadi tidak sederhana dan statis.19
19
Prof.Dr.Oemar Hamalik. Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), h.31 15 Belajar menyebabkan perubahan pada aspek-aspek kepribadian yang
berfungsi terus menerus, yang berpengaruh pada proses belajar selanjutnya.
Belajar hanya terjadi melalui pengalaman yang bersifat individual. Belajar
merupakan kegiatan yang bertujuan, yaitu arah yang ingin dicapai melalui proses
belajar.
Belajar
menghasilkan
perubahan
yang
menyeluruh,
melibatkan
keseluruhan tingkah laku secara integral. Belajar adalah proses interkasi. Belajar
berlangsung dari yang paling sederhana sampai pad kompleks. Itulah ciri-ciri
belajar yang didasari perubahan tingkah laku.20
Ciri-ciri belajar berarti dapat ditandai dengan adanya proses perubahan
tingkah laku, terjadi proses pengalaman, berbuat, mereaksi, dan mendapatkan
sebuah hasil berupa pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikapsikap, apresiasi, abilitas dan keterampilan.
Proses belajar dan hasil usaha belajar secara meteril dipengaruhi oleh
perbedaan-perbedaan individual di kalangan murid-murid. Proses belajar
berlangsung secara efektif apabila pengalaman-pengalaman dan hasil-hasil yang
diinginkan disesuaikan dengan kematangan murid. Proses belajar yang terbaik
apabila murid mengetahui status dan kemajuan karena proses belajar merupakan
kesatuan fungsional dari berbagai prosedur.
3) Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Belajar adalah suatu proses yang menimbulkan terjadinya suatu perubahan
atau pembaharuan dalam tingkah laku dan atau kecakapan. Sampai dimanakah
perubahan itu dapat tercapai atau dengan kata lain, berhasil baik atau tidaknya
belajar itu tergantung kepada bermacam-macam faktor. Adapun faktor-faktor itu,
dapat kita bedakan menjadi dua golongan :
1.
Faktor-faktor yang berasal dari luar pelajar atau faktor eksogen.
Faktor eksogen dipengaruhi oleh faktor keluarga, sekolah dan lingkungan.
Faktor keluarga sebagai salah satu penentu yang berpengaruh dalam belajar, dapat
dipengaruhi oleh aspek ekonomi, hubungan emosional orang tua dan anak, dan
cara orang tua mendidik anak. Faktor sekolah dipengaruhi oleh faktor lingkungan
20
Opp chit. DR.H.Syaiful Sagala, M.Pd, h.53 16 social sekolah seperti guru, pegawai administrasi dan teman-teman sekolah.
Faktor lingkungan dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya dalam keluarga
sekolah maupun masyarakatnya.21
2.
Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri pelajar
Dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu: faktor jasmaniah, faktor
psikologi, dan faktor kelelahan. Faktor jasmaniah dipengaruhi oleh kesehatan dan
cacat tubuh. Faktor psikologi terdiri dari faktor intelegensi, perhatian, minat,
bakat, motif, kematangan dan kesiapan. Sedangkan faktor kelelahan dapat
dibedakan menjadi kelelahan jasmani akibat kekacauan pembakaran dalam tubuh
dan kelelaha rohani yaitu dapat ditandai dengan kebosanan dan kelesuan.22
Pada intinya faktor-faktor belajar dapat dipengaruhi oleh faktor eksogen
atau luar diri pembelajar dan endogen dari dalam diri pembelajar. Dimana kedua
faktor ini tidak akan bisa dilepaskan dari proses belajar peserta didik.
b. Konsep Hasil Belajar
Horward Kingsley membagi tiga macam hasil belajar, yakni (a)
keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan citacita.23 Hasil belajar peserta didik dapat diklasifikasi ke dalam tiga ranah (domain),
yaitu: (1) domain kognitif (pengetahuan atau yang mencakup kecerdasan bahasa
dan kecerdasan logika - matematika), (2) domain afektif (sikap dan nilai atau yang
mencakup kecerdasan antarpribadi dan kecerdasan intrapribadi, dengan kata lain
kecerdasan emosional), dan (3) domain psikomotor (keterampilan atau yang
mencakup kecerdasan kinestetik, kecerdasan visual-spasial, dan kecerdasan
musikal).24
Penilaian terhadap hasil belajar penguasaan materi bertujuan untuk
mengukur penguasaan dan pemilihan konsep dasar keilmuan (content objectives)
berupa materi-materi esensial sebagai konsep kunci dan prinsip utama. Konsep
21
Drs. Alex Sobur, M.Si. Psikologi Umum (Bandung; Pustaka Setia 2003), h.244 Opp chit, Daryanto, h. 51 23
Dr. Nana Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.2009), h. 22 24
Ahmad Sudrajat, Penilaian Hasil Belajar http://« Akhmad Sudrajat Let’s Talk About
Education.htm 27 oktober 2009 22
17 kunci dan prinsip utama keilmuan tersebut harus dimiliki dan dikuasai siswa
secara tuntas, bukan hanya dalam bentuk hafalan. 25
Kesuluruhan hasil pendidikan dibagi atas hierarki atau taksonomi menurut
Benjamin Bloom menjadi tiga kawasan (domain) yaitu: (1) domain kognitif
mencakup kemampuan intelekstual mengenal lingkungan yang terdiri atas enam
macam kemampuan yang disusun secara hierarkis dari yang paling sederhana
samapai yang paling kompleks yaitu pengetahuan (kemampuan mengingat
kembali hal-hal yang dipelajari), pemahaman (kemampuan menangkap makna
atau arti sesuaru hal0, penerapan (kemampuan mempergunakan hal-hal yang telah
dipelajari untuk menghadapi situasi-situai baru dan nyata), analysis (kemampuan
menjabarkan sesuatu menjadi bagian-bagian sehingga struktur organisasinya dapat
difahami), sintesis (kemampuan memadukan bagian-bagian menjadi satu
keseluruhan yang berarti), dan penilaian (kemampuan memberikan harga sesuatu
hal berdasarkan kriteria intern, kelompok, ekstern, atau yang telah ditetapkan
terlebih dahulu); (2) domain afektif mencakup kemampuan-kemampuan
emosional dalam mengalami dan menghayati sesuatu hal yang meliputi lima
macam kemampuan emosional disusun secara hierarkis yaitu: kesadaran
(kemampuan untuk ingin memperhatikan sesuatu hal), partisipasi (kemampuan
untuk turut serta atau terlibat dalam sesuatu hal), penghayatan nilai (kemampuan
untuk menerima nilai dan terikat kepadanya), pengorganisasian nilai (kemampuan
untuk memiliki sistem nilai dalam dirinya), dan karakterisasi diri (kemampuan
untuk memiliki pola hidup dimana sistem nilai yang terbentuk dalam dirinya
mampu mengawasi tingkah lakunya); dan (3) domain psikomotor yaitu
kemampuan-kemampuan motorik menggiatkan dan mengkoordinasikan gerakan
terdiri dari: gerakan reflex (kemampuan melakukan tindakan-tindakan yang
terjadi secara tak sengaja dalam menjawab sesuatu perangsang), gerakan dasar
(kemampuan melakukan pola-pola gerakan yang bersifat pembawaan dan
terbentuk dari kombinasi-kombinasi reflek), kemampuan perceptual (kemampuan
menterjemahkan perangsang yang diterima melalui alat indra menjadi gerakan 25
Ahmad sofyan, dkk. Evalauasi Pembelajran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta:
Lembaga penelitian UIN Jakarta dengan UIN Jakarta Press, 2006), h. 14 18 gerakan yang tepat), kemampuan jasmani (kemampuan dan gerakan-gerakan dasar
merupakan inti untuk memperkembangkan gerakan-gerakan yang terlatih),
gerakan-gerakan terlatih (kemampuan melakukan gerakan-gerakan canggih dan
rumit
dengan
tingkat
efisiensi
tertentu),
dan
komunikasi
nondiskursif
(kemampuan melakukan komunikasi dengan isyarat gerakan badan).26
Hasil belajar yang dicapai seorang individu merupakan hasil interaksi
antara berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam diri (faktor
endogen) maupun dari luar diri (faktor eksogen) individu. Secara garis besar ada
2 macam faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu:
1)
Faktor endogen seperti kesehatan, intelegensi atau kemampuan, perhatian
dan minat, bakat, motivasi, kematangan dan kepribadian.
2)
Faktor eksogen seperti keluarga, sekolah dan lingkunga lainnya. 27
Hasil belajar yang dicapai siswa melalui proses belajar yang optimal
cenderung menunujukan hasil yang berciri sebagai berikut : (a) kepuasan dan
kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi belajar intrisik pada diri siswa.
(b) menambah keyakinan akan kemampuan dirinya. (c) hasil belajar yang
dicapainya bermakna bagi dirinya. (d) hasil belajar diperoleh siswa secara
menyeluruh (komprehensif). (e) kemampuan siswa untuk mengontrol atau menilai
dan mengendalikan dirinya terutama dalam menilai hasil yang dicapainya meupun
menilai dan mengendalikan proses dan usaha belajarnya.28
Secara singkat dapat dikatakan bahwa hasil belajar berupa pertambahan
materi pengetahuan yang berupa fakta, informasi, prinsip atau kaidah, prosedur
atau cara dan sebagainya. Hasil belajar dapat berupa penguasaan pola-pola
kognitif proses berfikir, mengingat atau mengenal, perilaku afektif (sikap-sikap
apresiasi, pengahayatan), perilaku psikomotorik. Serta perubahan dalam sifat-sifat
kepribadian.
26
Opp chit. DR.H.Syaeful Sagala,M.Pd..,h. 33 Drs. Alex Sobur, M.Si. Psikologi Umum. (Bandung: Pustaka Setia. 2003)., h. 244 28
0pp.chit Dr. Nana Sudjana. h. 56 27
19 c.
Hakikat Biologi
Ilmu pengetahuan alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang
gejala alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan
pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja
tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat
menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam
sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian
pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik
mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA
diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik
untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.29
Sains atau ilmu pengetahuan alam adalah ilmu yang mempelajari tentang
fenomena yang terjadi di alam. Dalam sains, fenomena-fenomena alam ini
diterangkan berdasarkan kepada fakta-fakta yang ada. Tak jarang sains bisa
dibuktikan dengan melakukan percobaan-percobaan sederhana yang bisa
dilakukan di sekolah, rumah atau halaman sekolah.30
Biologi bagian dari sains yang mamiliki karakteristik yang sama dengan
ilmu sains yang lainnya. Adapun karakteristik ilmu pengetahuan alam termasuk
biologi (sains/IPA) yaitu : obejk kajian berupa benda konkret dan dapat ditangkap
indara, dikembangkan berdasarkan pengalaman empiris (pengalaman nyata),
memiliki langkah-langkah sistematis yang bersifat baku, menggunakan cara
berfikir logis yang bersifat deduktif artinya berfikir dengan menarik kesimpulan
dari hal-hal yang khusus menjadi ketentuan yang berlaku umum, bersifat induktif
artinya berfikir dengan menarik kesimpulan dari hal-hal yang umum menjadi
ketentuan khusus, hasilnya bersifat obyektif atau apa adanya, terhindar dari
29
Dr. E. Mulyasa, M.Pd. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Suatu Penduan Praktis. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2009), h. 132 30
Munaspriyanto, R, Metamorfosa Jurnal Pendidikan IPA ; Pembelajaran Sains
Menyenangkan dengan Metode Konstruktivisme, ( CSE UIN Jakarta ;vol. 1 No 2, 2006 ) h. 49 20 kepentingan pelaku (subyektif), hasil berupa hukum-hukum yang berlaku umum
dimanapaun diperlakukan.31
Biologi sebagai salah satu bidang IPA menyediakan berbagai penglaman
belajar untuk memahami konsep dan proses sains. Keterampilan proses ini
meliputi keterampilan mengamati, mengajukan hipotesis, menggunkan alat dan
bahan secara baik dan benar dengan selalu mempertimbangkan keamanan dan
keselamatan kerja, mengajukan pertanyaan, menggolongkan dan menafsirkan
data, serta mengkomunikasikan hasil temuan secara lisan atau tertulis, menggali
dan memilah informasi factual yang relevan untuk menguji gagasan-gagasan atau
memecahkan masalah sehari-hari.32
Biologi (ilmu hayat) adalah ilmu mengenai kehidupan. Istilah ini diambil
dari bahasa belanda “biologie”, yang juga diturunkan dari gabungan kata bahasa
yunani bios (“hidup”) dan logos (“lambing”, “ilmu”). 33
Berdasarkan struktur keilmuan menurut BCCS (Biological Science
Curricullum Study) bahwa ruang lingkup biologi meliputi obyek biologi berupa
Kingdom (plantae, animalia, protista, fungi, archaebacteria, eubacteria), ditinjau
dari tingkat molekul (virus) – sel (protozoa, bakteri, tumbuhan unisel) – jaringan –
organ (hati, ginjal, dll) – sistem organ (sistem sirkulasi, sistem pencernaan, dll) –
individu (manusia) – populasi (kumpulan individu yang sama di daerah yang
sama) – komunitas (kumpulan beberapa populasi) – ekosistem (kumpulan
beberapa komunitas) – biosfer (kumpulan beberapa ekosistem). 34
Dengan demikian bahwa ilmu biologi adalah bagian dari Ilmu
Pengetahuan Alam yang berarti ilmu kehidupan yang mempelajari tentang mahluk
hidup dari tingkatan sel hingga individu beserta bentuk macam dan tempat hidup
mahluk hidup.
31
http://materi-pelajaran.blogspot.com/2007/11/hakekat-biologi-sebagaiilmu.html/ 27 januari 2010 32
Badan Standar Nasional Pendidikan. Panduan Penyusunan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah (Jakarta: 2006), h.451 33
http://id.wikipedia.org/wiki/Biologi 27 januari 2010 34
http://materi-pelajaran.blogspot.com/2007/11/hakekat-biologi-sebagai
ilmu.html/27januari 2010 21 B. Hasil Penelitian yang Relevan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh SUMARDIYANTO,
dengan judul Pengaruh teknik pembelajaran partisipatif terhadap kemampuan
motorik dasar dan penguasaan keterampilan gerak : suatu studi tentang proses
belajar penguasaan keterampilan gerak. Menyatakan bahwa ada empat kesimpulan
yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini. Pertama, pembelajaran partisipatif
dengan teknik demostrasi dan pembelajaran partisipatif dengan teknik
penggunaan alat bantu pandang (visual aids) secara keseluruhan mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap penguasaan keterampilan gerak. Kedua,
terdapat interaksi yang signifikan antara teknik pembelajaran partisipatif dengan
kemampuan motorik dasar terhadap penguasaan keterampilan gerak. Ketiga, bagi
siswa yang memiliki kemampuan motorik dasar tinggi, perlakuan pembelajaran
partisipatif dengan teknik demostrasi memberikan pengaruh yang lebih besar
dibandingkan dengan teknik penggunaan alat bantu pandang (visual aids).
Keempat, bagi siswa yang memiliki kemampuan motorik rendah yang diberikan
perlakuan pembelajaran partisipatif dengan teknik demostrasi dan pembelajaran
partisipatif dengan teknik pengunaan alat bantu pandang (visual aids) tidak
memberikan pengaruh yang berbeda terhadap hasil belajar penguasaan
keterampilan gerak.35
SETIAWAN, Ajeng Yeni Ratnasari, Pembelajaran Partisipatif Dalam
Meningkatkan Prestasi Belajar Anak Tunalaras Pada Mata Pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan (PKn) Penelitian bertempat di SLB - E Handayani Jakarta
Timur. Hasil pengolahan data menunjukan terjadi peningkatan prestasi belajar
anak yang cukup baik dan keaktifan anak di kelas menunjukan perubahan yang
signifikan sehingga penulis menyarankan kepada pihak sekolah untuk
mempertimbangkan pemilihan model/strategi/pendekatan yang sesuai dengan
35
Sumardiayanto, ”Pengaruh Teknik Pembelajaran Partisipatif terhadap Kemampuan Motorik Dasar dan Penguasaan Keterampilan Gerak.“, http://digilib.upi.edu/pasca/available/etd‐1002106‐122801/ 27 januari 2009 dalam 22 kebutuhan dan karakteristik anak sehingga tujuan yang ingin capai mampu
diwujudkan secara optimal.36
Sigit Widiyanto, Penerapan Model Pembelajaran Partisipatif Pada Program
Diklat Menganalisis Rangkaian Listrik dan Elektronika (MRLE) di SMKN 12
Bandung (Suatu Studi Tindakan Kelas). Aktivitas siswa secara keseluruhan dari
proses pelaksanaan pembelajaran mengalami peningkatan pada setiap siklus. Pada
siklus I jumlah siswa yang aktif sesuai dengan pengamatan di lapangan sebesar
85,21%, pada siklus II sebanyak 88,4%, dan pada siklus III sebanyak 93,8% dari
seluruh siswa yang mengikuti kegiatan proses pembelajaran partisipatif.
Berdasarkan hasil pelaksanaan tes formatif pada setiap siklus terjadi peningkatan
dari hasil pre test ke hasil post test. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes formatif pre
test dan post test pada siklus I, jumlah siswa yang mendapat nilai ≥ 6 meningkat
dari 22,2% menjadi 91,5%, pada siklus II meningkat dari 11,11% menjadi 83,2%
dan pada siklus III dari 49,93% menjadi 86%. Bagi guru dapat menjadi masukan
dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Dari kesimpulan penelitian ini bahwa
pembelajaran partisipatif dapat meningkatkan kegiatan pembelajaran siswa baik
dari keaktifan siswa, motivasi siswa, hasil belajar siswa dan profesionalitas
guru.37
Lina Yuliana, Implementasi Metode Pembelajaran Kelompok Dalam
Kegiatan Pembelajaran Partisipatif Untuk meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMP
Penelitian tentang Efektivitas Metode Pembelajaran Kelompok Dalam Kegiatan
Pembelajaran Partisipatif Untuk Siswa SMP ini dilakukan untuk mendapatkan
gambaran tentang penerapan metode pembelajaran kelompok dalam kegiatan
pembelajaran partisipatif dalam kegiatan pembelajaran fisika. Penelitian ini
berupa penelitian eksperimen dengan menggunakan Randomized Control Group
Pre test - Post test Design. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 5 Sumedang
36
Ajeng Yeni Ratnasari Setiawan, “Pembelajaran Partisipatif dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Anak Tunalaras pada Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).” dalam http://digilib.upi.edu/pasca/available/etd‐0116109‐092839/ 20 oktober 2011 37
Sigit Widiyanto, “Penerapan Model Pembelajaran Partisipatif pada Program Diklat Menganalisis Rangkaian Listrik dan Elektronika”. dalam http://digilib.upi.edu/pasca/available/etd‐ 0324109‐081931/ 2 November 2011 23 dengan populasi penelitian kelas IX. Sampel yang diambil kelas IX-E sebagai
kelas eksperimen dan kelas IX-C sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian
berupa tes pilihan ganda sebanyak 11 soal untuk mengukur efektivitas
pembelajaran sebelum dan sesudah pelaksanaan pembelajaran serta lembar
observasi guru. Data yang diperoleh dari hasil tes diolah dengan uji statistik yang
meliputi uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis. Dari hasil uji hipotesis
ternyata bahwa metode pembelajaran kelompok dalam kegiatan pembelajaran
partisipatif secara signifikan lebih efektif dibanding dengan metode lain.38
SUPENO MARTADI, Perbedaan Model Pembelajaran Partisipatif Dan
Konvensional Dalam Hal Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Elektronika
Digital dan Komputer Pada Siswa Kelas I SMKN IV Bandung. Berdasarkan hasil
analisis data disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal
prestasi belajar siswa yang mendapat model pembelajaran Partisipatif dengan
siswa yang mendapat model pembelajaran konvensional. Dengan adanya
perbedaan ini maka dapat dikatakan bahwa prestasi belajar siswa yang
menggunakan model pembelajaran Partisipatif lebih tinggi dibandingkan dengan
menggunakan model konvensional.39
C. Kerangka Berpikir
Peran guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sangatlah penting.
Tidak akan berarti bila pendidikan tanpa guru. Guru menjadi salah satu factor
suksesnya kegiatan belajar mengajar di sekolah sekaligus sebagai actor utama
dalam menyampaikan pesan atau informasi. Guru sebagai fasilitator akan menjadi
penentu dalam proses pembelajaran.
Proses mengajar yang dilakukan guru sangat penting bagi keberlangsungan
pembelajaran. Guru menjadi pengatur kelangsungan pembelajaran dalam rangka
38
Lina Yuliana, “Implementasi Metode Pembelajaran Kelompok dalam Kegiatan Pembelajaran Partisipatif untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMP”. dalam http://digilib.upi.edu/pasca/available/ etd‐0428108‐124226/ 2 November 2011 39
Supeno Murtadi, “Perbedaan Model Pembelajaran Partisipatif dan Konvesional dalam Hal Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Elektronika Digital dan Komputer pada Siswa Kelas I SMKN IV Bandung”. dalam http://digilib.upi.edu/pasca/available/etd.0610110‐113844/ 2 November 2011 24 memberikan pengajaran di dalam kelas. Guru mengumpulkan pelajaran agar siswa
bisa mendapatkan hasil belajar yang baik. Guru membantu siswa untuk
menemukan masalahnya, memecahkan masalah, serta mampu mengamalkan
pelajaran dalam kehidupannya sehari-hari. Guru mewujudknanya dengan metode
pembelajaran yang tepat dalam proses transfer ilmu.
Mengajar adalah cara guru untuk menyampaikan apa yang akan
ditransferkan. Melalui mengajar lah siswa akan mendapatkan ilmu. Jika guru
mengajar dengan baik
melalui pendekatan, model, dan metode yang tepat,
tentunya hasil belajar pun akan tercapai sesuai dengan yang diharapkan.
Sebaliknya jika proses mengajarnya tanpa memperhatikan pendekatan, model dan
metode pembelajaran kemungkinan besar hasil belajar yang diinginkan tidak
sebaik yang menggunakannya.
Biologi sebagai ilmu yang terdiri dari konsep-konsep dan teori-teori yang
membutuhkan pemahaman yang mendalam, maka pendekatan pembelajaran
merupakan salah satu metode pembelajaran yang bermanfaat. Biologi juga
dikatakan sebagai ilmu terapan, yaitu ilmu yang dapat langsung dilaksanakan
dalam kehidupan sehari-hari, sehingga siswa yang belajar biologi bisa langsung
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk mempermudah proses pembelajaran maka pembelajaran partisipatif
menjadi salah satu model yang akan memberikan kemudahan dalam penyerapan
konsep biologi. Pembelajaran partisipatif mengikutsertakan siswa untuk benarbenar memahami konsep yang dirancang guru untuk diterima siswa sesuai dengan
yang diinginkan oleh siswa tersebut. Dengan belajar partisipatif maka siswa akan
menentukan proses belajarnya sendiri dengan keinginannya. Karena siswa sendiri
yang menetukan iklim pembelajarannya, siswa diikutsertkan dalam proses
pembuatan rencana, proses bahkan evaluasi proses pembelajarnya. Peran guru
hanya sebagai teman yang menemani siswanya sesuai dengan keinginan siswa.
Agar pembelajaran partisipatif dalam pembelajaran biologi menjadi
maksimal maka perlu adanya langkah-langkah yang teratur antara lain :
Melakukan asesmen kebutuhan belajar, memilih pokok bahasan, mengenali
karakteristik peserta didik, mengidentifikasi materi, merumuskan tujuan belajar,
25 merancang kegiatan pembelajaran, memilih alat bantu, menentukan fasilitas dan
sumber lain, mempersiapkan evaluasi proses dan hasil, melaksanakan test.
Singkatnya dengan menggunakan pembelajaran partisipatif, siswa akan lebih baik
dalam memahami konsep biologi yang diberikan serta mampu menggunakannya
dalam memecahkan persoalan yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
Model pembelajaran partisipatif menekankan peran serta siswa dalam
kegiatan pembelajaran dengan menerapkan teknik pembelajaran yang variatif
sehingga siswa terhindar dari rasa jenuh dan diharapkan dapat meningkatkan hasil
belajar siswa.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah dengan
menerapkan model pembelajaran partisipatif peningkatan hasil belajar lebih tinggi
dan dapat mencapai ketuntasan belajar untuk materi pokok tumbuhan jika
dibandingkan dengan penerapan model pembelajaran konvensional.
D. Perumusan Hipotesis
Berdasarkan kajian steoretis dan penyusunan kerangka pikir, maka
hipotesis penelitian ini adalah : “Terdapat pengaruh yang signifikan penerapan
model pembelajaran partisipatif terhadap hasil belajar biologi.”
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan di SMA Terpadu Darul Amal Selajati-
Sukabumi pada semester genap tahun ajaran 2009-2010 selama bulan Februari –
Maret 2010.
B. Variabel Penelitian
Variabel independent (X) = Pembelajaran partisipatif
Variabel devenden (Y) = Hasil belajar biologi pada konsep tumbuhan.
C. Metode Penelitian dan Desain Penelitian
1.
Metode penelitian
Penelitian yang dilaksanakan menggunakan metode quasi eksperiment
(eksperimen semu), yaitu metode penelitian yang melakukan pengontrolan
terhadap salah satu variabel. Desain ini mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak
dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang
mempengaruhi pelaksanaan eksperimen.1 Sehingga perlu dicari atau dilakukan
pengontrolan yang sesuai dengan kondisi yang ada.
Penelitian kuasi eksperimen ini dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan (6
jam pelajaran x 45 menit) pada konsep Tumbuhan. Dilakukan pretest yaitu untuk
melihat hasil belajar biologi siswa sebelum penerapan model pembelajaran
partisipatif dan posttest yaitu untuk melihat hasil belajar biologi siswa setelah
penerapan model pembelajaran partisipatif.
1
Prof.Dr.Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan; pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan
R & D (Bandung: CV. Alfabeta, 2006), Cet. VI ., h. 114 26 27 2.
Desain Penelitian
Desain penelitian menggunakan kuasi eksperimen pre test-post test two
group design.2 Pada tiap-tiap kelompok tersebut dilakukan pre test dan post test
untuk melihat ada tidaknya perbedaan pemahaman pada kedua kelompok
perlakuan. Pretest dilakukan sebelum pelajaran dimulai dan posttest dilakukan
setelah kegiatan belajar mengajar pada topik tumbuhan.
Tabel 3.1 Desain penelitian
Kelompok
Pretest
Perlakuan
Posttest
Eksperimen
T1
X
T2
Kontrol
T1
T2
D. Populasi Dan Sampel
1.
Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang
mempunyai kualitas dan kerakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.3 Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh siswa SMA Terpadu Darul Amal Selajati- Sukabumi. Populasi
target dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Terpadu Darul Amal
Sukabumi. Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA
terpadu Darul Amal Selajati- Sukabumi kelas X pada tahun ajaran 2009/2010.
2.
Sampel
Sampel merupakan wakil populasi yang akan diteliti. Sampel dalam
penelitian ini adalah siswa SMA Terpadu Darul Amal Selajati-Sukabumi kelas
X. Kelas eksperimen yaitu X-B (putri) dan kelas kontrol yaitu kelas X-D (putri).
Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, karena untuk
menentukan seseorang menjadi sampel dengan dasar bertujuan.4
2
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik,.(Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2006), h, 86 3
Prof.Dr.Sugiyono,Op Cit , h. 297 4
Prof. Sukardi,Ph.D, Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya,
(Jakarta : PT Bumi Aksara 2004) h. 64 28 E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada variabel penelitian ini adalah:
1.
Variabel bebas (pembelajaran partisipatif)
Untuk memperoleh data terhadap penerapan pembelajaran partisipatif
digunakan lembar observasi yang diberikan kepada observer. Terdiri dari lembar
observer keterlaksanaan pembelajaran partisipatif oleh guru untuk mengetahui
keberlangsungan pembelajaran partisipatif.
2.
Variabel terikat (Hasil belajar biologi dalam konsep tumbuhan)
Hasil belajar siswa diperoleh dari skor tes kognitif yang berupa pretest dan
posttest pada materi ciri dan klasifikasi tumbuhan. Sebelum tes ini diberikan ke
siswa, tes ini diujicobakan dahulu untuk diketahui validitas dan releabilitasnya.
Dengan jumlah soal 50 butir, penulis menguji coba tes tersebut pada sampel yang
telah mendapatkan materi tentang tumbuhan, yaitu kelas XI IPA.
Instrumen berupa tes hasil belajar kemudian dianalisis, sehingga diperoleh
soal yang valid berjumlah 23 butir (lihat lampiran). Dari 23 butir soal yang valid,
penulis menggunakan 20 soal sebagai instrument penelitian, dengan pengurangan
3 soal yang valid. Dari hasil pengujian reliabilitas didapat r = 0.85 yang tergolong
klasifikasi tinggi ( lihat lampiran ). Soal-soal tersebut sudah dapat mewakili empat
indikator pencapaian hasil belajar yang akan diterapkan dalam pembelajaran yang
menggunakan pembelajaran partisipatif dengan lima pilihan jawaban yeng
meliputi jenjang hafalan (C1), pemahaman (C2), dan penerapan (C3).
F. Intrumen Penelitian
1.
Kisi-kisi instrumen
Untuk mengetahui bagaimana guru melakukan kegiatan pembelajaran
partisipatif, digunakan lembar observasi dengan skala linkert. Lembar observasi
ini merupakan pernyataan tentang proses pembelajaran partisipatif yang terdiri
dari enam indikator, yaitu : Siswa melakukan pengakraban, mengidentifikasi
kebutuhan, sumber dan kemungkinan hambatan belajar, merumuskan tujuan
belajar, menyusun program kegiatan belajar, melaksanakan kegiatan belajar, dan
menilai proses, hasil dan pengaruh kegiatan pembelajaran.
29 Untuk variabel Y (hasil belajar siswa dalam konsep tumbuhan), instrumen
yang digunakan adalah tes hasil belajar biologi untuk mengukur sejauh mana
pemahaman siswa terhadap materi yang telah diajarkan. Tes hasil belajar
diberikan seteleh seluruh siswa mempelajari materi yang diajukan.
Tes yang diberikan berupa tes tertulis berupa tes objektif (pilihan ganda)
yang terdiri dari 20 soal dengan lima jawaban pilihan. Sebelum tes diberikan ke
siswa, tes ini diujicobakan dahulu untuk diketahui validitas dan reliabilitasnya.
Hasil belajar biologi siswa adalah hasil yang telah dicapai siswa dalam
mata pelajaran biologi pada materi ciri dan klasifikasi tumbuhan. Hasil belajar
biologi dapat diketahui dari skor pretest dan posttes setelah seluruh siswa
mengerjakan tes yang diberikan. Pada aspek kognitif yang meliputi jenjang
hafalan (C1), pemahaman (C2), dan penerapan (C3).
Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Penelitian Kognitif Pada Konsep Tumbuhan
Konsep/ subkonsep
Tingkat Pengetahuan dan
Jumlah
Nomor Butir
C1
1.Ciri-ciri
tumbuhan
bedasarkan
pengamatan
2. Tumbuhan Lumut
- Ciri lumut
- Sistem reproduksi lumut
- Peranan lumut
3. Tumbuhan Paku
- Ciri Paku
- Sistem reproduksi paku
- Peranan Paku
4. Tumbuhan Biji
- Ciri tumbuhan biji
- Klasifikasi Spermathophyta
- Peranan Spermathophyta
Jumlah
C3
8,9,14,19,20
13
6
11, 15
4
6
3
10
12,
16
1,
2, 4
5,
3,
7
17
18
7
7,
C2
10
3
20
30 2.
Kalibrasi Instrumen
a.
Pengujian Validitas
Suatu instrumen dikatakan valid jika instrumen yang digunakan dapat
mengukur apa yang hendak diukur.5 Salah satu syarat tes yang baik adalah apabila
tes tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur. Dalam penelitian ini penulis
menggunakan validitas isi, dimana soal dikaitkan dengan indikator sesuai dengan
materi yang diberikan kepada siswa.
Sedangkan untuk pengujian validitasnya menggunakan rumus anates.
b.
Uji Reliabilitas
Reliabilitas tes berhubungan dengan konsistensi hasil tes. Pengukuran
reliabilitas menggunakan anates.
c.
Pengujian Taraf Kesukaran
Untuk mengetahui apakah soal tes yang diberikan tergolong mudah,
sedang atau sukar, digunakan anates.
Kriteria yang digunakan adalah semakin kecil indeks yang diperoleh, maka
soal tersebut termasuk kategori sukar. Sebaliknya makin besar indeks yang
diperoleh, maka soal tersebut termasuk kategori mudah. Adapun kriteria indeks
tingkat kesulitan soal tersebut adalah:6
1.
Proporsi 0,00 – 0,30
: Soal kategori sukar
2.
Proporsi 0,30 – 0,70
: Soal kategori sedang
3.
Proporsi 0,70 – 1,00
: Soal kategori mudah
G. Prosedur penelitian
1.
Tahap persiapan
Sebelum melaksanakan penelitian di SMA Terpadu Darul Amal Selajati-
Sukabumi. Peneliti melakukan tahapan persiapan dengan melakukan koordanasi
dengan pihak sekolah yang akan dijadikan lokasi penelitian. Mengurus surat izin
penelitian dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
5
ibid h. 121 Prof.Dr.Suharsimi Arikunto. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (edisi revisi).(Jakarta.
PT Rineka Cipta. 2003).,h. 210 6
31 Tahapan persiapan lainnya adalah membuat persiapan mengajar dan
membuat alat pengumpul data.
2.
Tahap pelaksanaan
Memilih dua kelompok sampel, yaitu kelompok eksperimen (kelas X-B)
dan kelompok kontrol (kelas X-D). memberikan pretest kepada kedua kelompok
penelitian. Memberikan perlakuan berupa pembelajaran partisipatif pada
kelompok eksperimen dan metode ceramah pada kelompok kontrol. Setelah
memberikan perlakuan, kemudian memberikan posttest pada kedua kelompok
penelitian.
3.
Tahap akhir
Mengolah dan menganalisis data hasil penelitian dengan menggunakan uji
statistik untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh penggunaan pembelajaran
partisipatif terhadap hasil belajar siswa.
Mengambil kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan.
H. Teknik Analisis Data
1.
Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk melihat bahwa data yang diperoleh dari
populasi berdistribusi normal atau tidak.7 Pengujian ini menggunkan tes Liliefors
dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a.
Urutkan data sampel dari yang terkecil hingga terbesar.
b.
Tentukan nilai Zi dari tiap-tiap data berikut dengan rumus:
Keterangan:
Zi = skor baku
X= Mean
Xi = skor data
7
Russeffendi, Statistika dasar untuk Pelatihan Pendidikan, (Bandung: IKIP Bandung
Press, 1998), h. 291 32 S = simpangan baku
c.
Tentukan besar peluang untuk masing-masing nilai Zi berdasarkan table Zi
sebutkan dengan F (Zi) dengan aturan jika Zi>0, maka F (Zi) 0.5 + nilai table,
jika Zi<0, maka F (Zi)= 0.5 – nilai table.
d.
Selanjutnya hitung proporsi Zi. Jika proporsi Z1, Z2…Zn lebih kecil atau
sama dengan Zi. Jika proporsi dinyatakan oleh S (Zi), maka: S (Zi)=
banyaknya Z1, Z2, … yang ≤ Zn/N.
e.
Hitung selisih nilai F (Zi)-S(Zi), kemudian tentukan harga mutlak.
f.
Ambil nilai terbesar diantara harga-harga mutlak selisih tersebut, nilai ini
dinamakan Lo.
g.
Memberi interpretasi Lo dengan membandingkan Lt. Lt adalah harga yang
diambil tabel harga kritis uji Liliefors.
h.
Mengambil kesimpulan berdasarkan harga Lo dan Lt yang telah didapat,
apabila Lo < Lt maka sampel berasal dari distribusi normal.
2.
Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui perbedaan antara dua
keadaan atau populasi. Uji homogenitas yang dilakukan adalah uji Fisher.
a. Menentukan hipotesis
Ho : Variasi populasi homogen
Ha : Variasi populasi tidak homogen
b. Tentukan varians dari masing-masing kelompok
S
2
=
n Σ X 12 − (Σ X
n (n − 1 )
1
)2
Menetukan Fhitung
S 12 X
var .terbesar
=
2
S2
var .terkecil
33 3.
Normal gain
Gain adalah selisih nilai posttest dan pretest, gain menunjukan
peningkatan pemahaman atau penguasaan konsep siswa setelah pembelajaran
dilakukan oleh guru. Rumusnya :
Dangan kategorisasi perolehan sebagai berikut :
g-tinggi
= nilai > 0.70
g-sedang
= nilai 0.30 – 0.70
g-rendah
= nilai < 0.30
4.
Uji hipotesis
Uji hipotesis dilakukan untuk melihat perbedaan hasil tes siswa dari
kelompok eksperimen dan kelompok control,8 yaitu dengan cara menggunakan
uji-t. hasil perhitungan thitung dibandingkan ttabel pada taraf signifikan 0.05 dengan
kriteria:
Menolak Ho, jika thitung > ttabel dan ha diterima
Terima Ho, jika thitung < ttabel dan Ha ditolak
Pengujian hipotesis menggunakan uji t dengan rumus :
Langkah-langkah penghitungan Uji-t sebagai berikut :
1. Mencari mean, yaitu :
2. Mencari standar deviasi (SD), yaitu :
3. Mencari standar error mean (SEM), yaitu :
4. Mencari standar error dari perbedaan mean (SEM1-M2) antar variable, yaitu
:
5. Mencari “t” atau “to”, yaitu
8
ibid., h.277 34 I.
Hipotesis Statistik
Hipotesis statistik dirumuskan sebagai berikut :
Ho
: µx =
µy
Ha
: µx >
µy
Keterangan :
Ho
: Hipotesis nol
Ha
: Hipotesis alternatif
µx
: Nilai rata-rata hasil belajar siswa
menggunakan model pembelajaran
partisipatif (posttest).
µy
: Nilai rata-rata hasil belajar siswa tanpa menggunakan model pembelajaran
partisipatif (posttest).
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENELITIAN
1. Deskripsi Data Pre-test Kelas Kelompok Kontrol dan Eksperimen
Dari hasil pretest pada kelompok kontrol diperoleh nilai tertinggi 30
dan nilai terendah 10, nilai rata-rata sebesar 21, median sebesar 20, modus
10,20 dan 30, dan standar deviasi sebesar 8.36. Sedangkan data hasil pretest
pada kelompok eksperimen diperoleh nilai tertinggi 30 dan nilai terendah
10, nilai rata-rata sebesar 20.5, median sebesar 20, modus sebesar 15, 20,
25, 30 dan standar deviasi sebesar 6.86.
Tabel 4.1. Rekap Data Hasil Pretest Kelompok Kontrol dan Eksperimen
Nilai
Kontrol
Eksperimen
Tertinggi
30
30
Terendah
10
10
Rata-rata
21
20.5
Median
20
20
Modus
10, 20, 30
15, 20, 25, 30
8.36
6.86
Standar
Deviasi
2. Deskripsi Data Posttest Kelompok Kontrol dan Eksperimen
Dari hasil posttet pada kelompok kontrol diperoleh nilai tertinggi 60
dan nilai terendah 15, nilai rata-rata sebesar 36.1, median sebesar 30, modus
25, 30 dan standar deviasi sebesar 14.8. Sedangkan data hasil posttest pada
kelompok eksperimen diperoleh nilai tertinggi 70 dan nilai terendah 30,
nilai rata-rata sebesar 51.3, median sebesar 55, modus sebesar 55, dan
standar deviasi sebesar 11,5.
37 38 Tabel 4.2. Rekapitulai Data Hasil Posttest Kelompok Kontrol dan
Eksperimen
Nilai
Kontrol
Eksperimen
Tertinggi
60
70
Terendah
15
30
Rata-rata
36.1
51.3
Median
30
55
Modus
25, 30
55
Standar Deviasi
14.8
11,5
3. Deskripsi data nilai Gain
Gain adalah selisih antara nilai posttest dan pretest, gain
menunjukkan peningkatan pemahaman atau penguasaan konsep siswa
setelah pembelajaran dilakukan oleh guru. Untuk menghindari kesalahan
dalam penafsiran gain, maka nilai gain dinormalisasikan dan didapatkan
hasil berupa N-Gain.
Berdasarkan hasil penghitungan N-Gain (lihat lampiran 5) diperoleh
skor N-Gain pada kelompok kontrol dan eksperimen sebagai berikut:
39 Tabel 4.3. Hasil Penghitungan Normal Gain
kelas kontrol
Kelas eksperimen
N-Gain
Siswa pretes
postes
N-gain
1
Kategori siswa pretes
postes
2
Kategori
1
30
55
0.21
Rendah
1
15
40
0.29
Rendah
2
10
20
0.11
Rendah
2
20
35
0.19
Rendah
3
30
25
-0.07
Rendah
3
25
65
0.53
Sedang
4
25
30
0.07
Rendah
4
30
50
0.29
Rendah
5
25
55
0.40
Sedang
5
15
50
0.41
Sedang
6
25
50
0.33
Sedang
6
30
30
0.00
Rendah
7
20
30
0.13
Rendah
7
15
55
0.47
Sedang
8
20
60
0.50
Sedang
8
30
60
0.43
Sedang
9
10
20
0.11
Rendah
9
30
65
0.50
Sedang
10
10
40
0.33
Sedang
10
25
45
0.27
Rendah
11
30
40
0.14
Rendah
11
20
70
0.63
Sedang
12
40
50
0.17
Rendah
12
10
55
0.50
Sedang
13
30
60
0.43
Sedang
13
25
40
0.20
Rendah
14
15
40
0.29
Rendah
14
20
35
0.19
Rendah
15
20
25
0.06
Rendah
15
15
65
0.6
Sedang
16
15
25
0.12
Rendah
16
25
55
0.40
Sedang
17
10
15
0.06
Rendah
17
20
35
0.13
Rendah
18
15
15
0.00
Rendah
18
10
60
0.6
Sedang
19
20
30
0.13
Rendah
19
10
55
0.50
Sedang
X
21.1
36.1
20.5
51.3
0.4
Sedang
T
40
60
30
70
R
10
15
10
30
SD
8.36
14.8
6.86
11.5
0.2 Rendah
40 4. Deskripsi Data Kualitatif
Berdasarkan data obeservasi yang dilakukan oleh observer mengenai
keterlaksanaan scenario pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran
partisipatip pada setiap pertemuan dapat diketahui bahwa pembelajaran
dilaksanakan dengan baik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel
berikut:
Tabel 4.4. Persentase Keterlaksanaan Skenario Pembelajaran Pembelajaran
Pertemuan
Persentase Keterlaksanaan (%)
I
100
II
100
III
100
Rata-rata
100
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa skenario pembelajaran
dengan pembelajaran partisipatif dapat dilaksanakan oleh guru secara
keseluruhan pada setiap pertemuan.
B. Pengujian Prasyarat Analisis Data
1. Uji Normalitas
a. Uji Normalitas Kelompok Eksperimen
Hasil yang diperoleh dalam uji normalitas data hasil penelitian
kelas eksperimen adalah sebagai berikut:
Tabel 4.5 Uji Normalitas Kelompok Eksperimen
Lhitung (Lo)
A
Pretest
Postest
0,176
0,5%
0,100
Ltabel (Lt)
0,195
Kesimpulan
Ho diterima
Ho diterima
Dengan demikian karena Lhitung lebih kecil daripada Ltabel (Lo <
Lt), maka Hipotesis nol (Ho) diterima yaitu data hasil penelitian sebelum
dilakukan pembelajaran pada kelompok eksperimen berdistribusi normal.
41 b. Uji Normalitas Kelompok Kontrol
Hasil yang diperoleh dalam uji normalitas data hasil penelitian
sebelum dilakukan pembelajaran pada kelompok kontrol adalah sebagai
berikut:
Tabel 4.6. Hasil Uji Normalitas Data Pretest-Posttest Kelompok Kontrol
Α
Pretest
Lhitung (Lo)
0,127
0,5%
Posttest
Ltabel (Lt)
0,195
0,185
Kesimpulan
Ho diterima
Ho diterima
Dengan demikian karena Lhitung lebih kecil daripada Ltabel (Lo <
Lt), maka Hipotesis nol (Ho) diterima yaitu data hasil penelitian sebelum
dilakukan pembelajaran pada kelompok kontrol berdistribusi normal.
2. Uji Homogenitas
a. Uji Homogenitas Pretest
Hasil penghitungan uji homogenitas data pretest pada kelas
kontrol dan eksperimen didapat Fhitung sebesar 1.46 dan Ftabel sebesar 2.04
artinya Fhitung < Ftabel. Hal ini menunjukkan bahwa pada taraf signifikan α
= 0,05 (5%) Ho diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
kedua sampel terebut berasal dari populasi yang berdistribusi homogen.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.7. Hasil Uji Homogenitas Data Pretest Kelompok Kontrol dan
Eksperimen
Α
0,05
F
Hitung
Tabel
1.46
2.04
N
Kesimpulan
38
Ho diterima
b. Uji Homogenitas Postest
Hasil penghitungan uji homogenitas antara kelas kontrol dan
eksperimen didapat Fhitung < Ftabel yaitu Fhitung = 1,66 sedangkan Ftabel =
2.04. Hal ini menunjukkan bahwa pada taraf signifikan α = 0.05 (5%)
42 Ho diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua
sampel tersebut berasal dari populasi yang berdistribusi homogen
(lihat lampiran). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut
ini:
Tabel 4.8. Hasil Uji Homogenitas Data Pretest Kelompok Kontrol dan
Eksperimen
F
Α
Hitung
1.66
0.05
Tabel
2.04
N
Kesimpulan
38
Ho diterima
3. Uji-t
a. Uji-t Pretest
Hasil penghitungan dengan menggunakan uji-t, maka didapat
hasil sebagai berikut:
Tabel 4.9. Hasil Penghitungan Uji-t Data Pretest Kelompok Kontrol dan
Eksperimen
Rata-
Kelompok
N
Kontrol
19
21
Eksperimen
19
20.5
rata
thitung
0,4
ttabel
Kesimpulan
α = 0,05
α = 0,01
2.03
2,72
Ho diterima
Karena thitung < ttabel, maka Hipotesis nol (Ho) diterima. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang
signifikan sebelum menggunakan
pembelajaran partisipatif terhadap
hasil belajar biologi pada konsep tumbuhan
b. Uji-t Eksperimen
Hasil penghitungan dengan menggunakan uji-t, maka didapat
hasil sebagai berikut:
43 Tabel 4.10. Hasil Penghitungan Uji-t Data Posttest Kelompok Kontrol dan
Eksperimen
Kelompok
N
Ratarata
Kontrol
19
36,1
Eksperimen
19
51.3
ttabel
thitung
3,44
α=
α=
0,05
0,01
2,03
2,72
Kesimpulan
Ho ditolak
Karena thitung > ttabel, maka Hipotesis nol (Ho) ditolak. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan
setelah menggunakan pembelajaran partisipatif terhadap hasil belajar
biologi pada konsep tumbuhan.
C. PEMBAHASAN
Berdasarkan data hasil penelitian pada tabel 4.9 diperoleh data nilai ratarata hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran partisipatif.
Pembelajaran (kelas eksperimen) sebesar 51,3. Sedangkan nilai rata-rata hasil
belajar siswa tanpa menggunakan model pembelajaran Partisipaif (kelas kontrol)
sebesar 36,1. Hal ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil belajar siswa pada
kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata hasil belajar
siswa pada kelas kontrol. Selain itu nilai rata-rata N-Gain pada kelas eksperimen
juga lebih tinggi daripada nilai rata-rata N-Gain kelas kontrol, yaitu 0,40 > 0,20
yang termasuk ke dalam kategori sedang.
Dari hasil penghitungan uji normalitas terhadap data hasil penelitian
didapat Lhitung pada kelas eksperimen dan kontrol sebesar 0,100 dan 0,185 dengan
Ltabel 0,195. Dengan demikian Lhitung < Ltabel, maka hipotesis nol (Ho) diterima,
artinya kedua data hasil penelitian berdistribusi normal.
Hasil penghitungan uji homogenitas terhadap data hasil penelitian didapat
Fhitung sebesar 1,66 dengan Ftabel pada taraf signifkan α = 0,05 (5%) sebesar 2,04.
Dengan demikian Fhitung < Ftabel, maka dapat dipastikan bahwa kedua kelompok
sampel penelitian (eksperimen dan kontrol) yang digunakan berasal dari populasi
yang homogen.
44 Dari hasil penghitungan uji hipotesis dengan menggunakan uji-t didapat
ttabel pada taraf signifikan α = 0,05 (5%) sebesar 2,03. Sedangkan thitung sebesar
3,44. Dengan demikian thitung > ttabel. Hal ini membuktikan bahwa hasil belajar
siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran partisipatif lebih
tinggi daripada hasil belajar siswa yang diajarkan tanpa menggunakan model
pembelajaran partisipatif.
Hal itu dikarenakan kegiatan pembelajaran partisipatif terdiri atas
membelajarkan dan belajar yang mengikutsertalan peserta didik dalam kegiatan
merencanakan, melaksanakan dan menilai kegiatan pembelajaran. Peserta merasa
bebas untuk melaksanakan pembelajaran dengan cara mereka masing-masing,
sehingga timbul pembelajaran yang memberikan pengalaman belajar yang
memberikan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta
didik dengan guru.
Berdasarkan pengamatan peneliti, keaktifan siswa jelas terlihat dalam
kelas pembelajaran
partisipatif.
Keaktifan
tersebut
ditunjukkan dengan
keikutsertaan siswa dalam tahapan perencanaan, pelaksanaan dan penilaian
pembelajaran. Partisipasi pada tahap perencanaan dapat dilihat dari keterlibatan
peserta didik dalam kegiatan mengidentifikasi kebutuhan belajar, permasalahan,
sumber-sumber yang tersedia dan kemungkinan hambatan dalam pembelajaran.
Partisipasi dalam tahap pelaksanaan program kegiatan pembelajaran terlihat dari
keterlibatan peserta didik dalam menciptakan iklim yang kondusif untuk belajar.
Dimana salah satu iklim yang kondusif untuk kegiatan belajar adalah pembinaan
hubungan antara peserta didik, dan antara peserta didik dengan pendidik sehingga
tercipta hubungan yang terbuka, akrab, terarah, saling menghargai. Partisipasi
dalam tahap penilaian program pembelajaran terlihat dari keterlibatan peserta
didik dalam penilaian pelaksanaan pembelajaran maupun untuk penilaian program
pembelajaran. Penilaian pelaksanaan pembelajaran mencakup penilaian terhadap
proses, hasil dan dampak pembelajaran.
Peserta didik melakukan perencanaan pembelajaran, dengan diawali
pembentukan kelompok sambil menentukan sumber belajar seperti buku pandu
biologi, LKS, bagan atau gambar. Selain itu siswa menentukan tujuan
45 pembelajaran yang dipandu oleh guru yang ditandai dengan mencari tujuan
belajar dalam buku ajar dan membuat program pembelajaran yang akan mereka
gunakan pada tahapan pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan kemampuan dan
keinginan peserta didik.
Dalam menyusun program kegiatan belajar. Peserta didik menyatakan,
memilih, menyusun, dan menetapkan program kegiatan belajar yang akan
ditempuhnya. Menyusun metode dan teknik serta fasilitas yang akan mereka
tempuh. Dalam proses ini peserta didik telah membuat langkah-langkah kegiatan
pembelajaran yang akan dilakukan oleh peserta dibawah bimbingan guru. Metode
diskusi dan Tanya jawab dijadikan sebagai program yang yang akan dilakukan
siswa.
Dalam tahapan pelaksanaan pembelajaran terdapat proses kegiatan
pembelajaran yang telah diprogram oleh peserta didik. Proses ini terlihat dari
keikutsertaan siswa berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab mereka dalam
kegiatan ini siswa menyiapkan fasilitas pembelajaran, menerima informasi, bahan
belajar membahas LKS, melakukan diskusi untuk menyelesaikan semua masalah/
materi dan sesuai dengan program pembelajaran yang disiapkan peserta didik
sebelumnya proses ini terlihat dari banyaknya siswa yang aktif membahas materi
dan memecahkan masalah.
Dalam kegiatan menilai proses, hasil dan pangaruh kegiatan belajar adalah
proses akhir yang dilakukan peserta didik. Peserta didik mengevaluasi sendiri
semua program yang telah dilaksanakan yang ditandai dengan banyaknya siswa
yang memberi masukan terhadap kegiatan belajar.
Sehingga
sesuai
dengan
apa
yang
dikatakatan
sudjana
bahwa
“Pembelajaran partisipatif dapat diartikan sebagai upaya pendidik untuk
mengikutsertakan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran
partisipatif mengandung arti ikut sertanya peserta didik di dalam program
pembelajaran partisipatif. Keikutsertaan peserta didik itu diwujudkan dalam tiga
46 tahapan kegiatan pembelajaran yaitu perencanaan program, pelaksanaan, dan
penilaian kegiatan pembelajaran.”1
Dari proses pembelajaran inilah siswa dapat ikut serta langsung dalam
mencari pengalaman dan pemecahan masalah dalam pembelajaran tanpa
menunggu guru atau hanya diam saja. Hal itu senada dengan yang dikatakan
Yoyon bahwa Pembelajaran partisipatif sebagai kegiatan belajar lebih
memperhatikan kegiatan-kegiatan individual dan mengutamakan kemampuan
pendidik, menekankan pentingnya pengalaman dan pemecahan masalah, dan
memfokuskan pada manfaat belajar bagi peserta didik.2
Fenomena-fenomena tersebut sangat jarang sekali terlihat pada kelas
kontrol
yang
menerapkan
pembelajarannya.
Dalam
metode
kelas
ceramah
kontrol
dan
siswa
tanya
cenderung
jawab
dalam
pasif
dengan
mendengarkan penjelasan dari guru. Walaupun sesekali mereka menanyakan
suatu hal yang belum dimengerti kepada guru. Ketidakaktifan siswa ini dapat kita
lihat terutama pada barisan siswa yang duduk di belakang yang sering mengobrol,
atau bahkan mengerjakan tugas pelajaran lain. Banyak siswa yang tidak ikut serta
dalam proses pembelajaran.
Gejala-gejala tersebut terjadi akibat guru tidak memberikan kesempatan
kepada siswa untuk melakukan partisipasi. Sehingga siswa dalam kelas kontrol
cenderung pasif dan hanya akan menunggu guru berbicara. Proses ini hanya akan
memberikan tumpukan masalah pada siswa.
Dalam proses menjawab soal siswa dalam kelas kontrol lebih banyak
mengalami kesulitan dibanding siswa dalam kelas eksperimen. Ini diakibatkan
siswa dalam kelas kontrol kurang pengalaman dalam proses pembelajarannya
sehingga kurang penguatan.
Dengan pembelajaran di atas, siswa benar-benar mampu menemukan
masalah
sendiri,
memecahkan
masalahnya,
mengenal
diri
sendiri
dan
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sehingga proses di atas secara
1
Prof.H.D.Sudjana S., S.Pd.,M.Ed.,PhD. Strategi Pembelajaran Pendidikan Luar Sekolah,
(Bandung: Falah Production 2000) h. 155 2
http://yoyonsuryono.wordpress.com/2008/01/12/model-pembelajaran-2/,tanggal20
januari 2008. 47 langsung telah membantu tugas guru dalam memberikan pembelajaran di dalam
kelas yang mengakibatkan siswa banyak mendapatkan pengalaman dan ilmu.
Hal inilah yang merangsang para peserta didik untuk lebih aktif dan kreatif
untuk membangun pikiran mereka dalam pembelajaran biologi. Peserta didik
mampu menghubungkan fakta yang pernah dilihat dan dialaminya dalam
kehidupan sehari-hari dengan konsep biologinya. Menjadikan pengalamannya
yang bermakna dalam benak peserta didik. Sehingga tidak ada lagi kesan
pengalaman belajar sebelumnya lebih bersifat tekstual dan lebih menekankan pada
penyelesaian soal-soal daripada pembelajaran.
Dengan
demikian,
pembelajaran
partisipatif
mampu
memberikan
pembelajaran yang meningkatkan keaktifan siswa dan ketuntasan belajar,
memufuk sifat ilmiah, dapat menimbulkan kerja sama dengan orang lain,
mengembangkan kemampuan berpikir analitis, mengembangkan pengetahuan,
keterampilan dan sikap percaya diri. Sesuai dengan tujuan pembelajaran ilmu
pengetahuan alam mata pelajaran biologi di SMA/MA.
Fenomena-fenomena di atas dapat dikatakan sebagai pembelajaran siswa
aktif. Sesuai dengan ciri-ciri cara belajar siswa aktif yaitu terjadinya kegitan fisik,
seperti
menulis, mengatur, meragakan, dan terjadi keterampilan proses yaitu
mengamati atau mengobservasi, menyusun kesimpulan, mengkomunikasikan.
Sehingga CBSA adalah cara belajar dengan melibatkan aktivitas siswa secara
maksimal dalam proses belajar baik kegiatan mental intelektual, kegiatan
emisional, maupun kegiatan fisik secara terpadu.3
Hasil uji hipotesis di atas juga dapat dibuktikan dengan lebih besarnya
peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siswa dengan menggunakan pembelajaran
partisipatif.
Pembelajaran
yang
menggunakan
pembelajaran
partisipatif
mempunyai hasil rata-rata sebesar 51,3. Sedangkan nilai rata-rata hasil belajar
siswa tanpa menggunakan model pembelajaran partisipatif sebesar 36,1. Hal ini
menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil belajar siswa pada kelas eksperimen lebih
tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada kelas kontrol.
3
W.Gulo, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Grasindo 2002), h. 74 48 Dengan demikian, Dari hasil penghitungan uji hipotesis dengan
menggunakan uji-t didapat ttabel pada taraf signifikan α = 0,05 (5%) sebesar 2,03.
Sedangkan thitung sebesar 3,44, thitung > ttabel yang menunjukkan bahwa pada taraf
signifikan α = 0,05 Ho ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
terdapat pengaruh pembelajaran partisipatif terhadap hasil belajar biologi di SMA
Terpadu Darul ‘Amal, Selajati-Sukabumi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan pengolahan data dan pembahasan, maka didapat kesimpulan
bahwa penggunaan model pembelajaran partisipatif lebih efektif. Hal ini
ditunjukkan dengan perbedaan rata-rata gain ternormalisasi untuk kelompok
eksperimen yang secara kuantitasi lebih besar daripada kelompok kontrol serta
diperkuat dengan hasil uji hipotesis pada taraf signifikan 5% dan 1%.
B. Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka ada beberapa hal yang
disarankan kepada peneliti selanjutnya, diantaranya:
1.
Guru dapat menerapkan metode ini sebagai alternative dalam PAKEM.
Selanjutnya guru dapat menelitinya melalui sebuah PTK.
2.
Peneliti berikutnya, diharapkan mengkaji pengaruh model ini terhadap
keterampilan proses sains atau berfikir tingkat tinggi.
47 DAFTAR PUSTAKA
Azhari, akyas. Psikologi umum dan perkembangan., Bandung: Seri buku
daras,2004
Badan Standar Nasional Pendidikan, Panduan Penyusunan kurikulum tingkat
satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah, 2006. Jakarta.
Chambers, Robert , “Sharing Without Boundaries Is Absolutely Essential For
Participation And PRA” Nepan: A Napalese journal of participatory
Development: Year I No 1 1999
Daryanto, Panduan Proses Pembelajaran Kreatif & Inovatif ; Teori dan praktif
dalam pengembangan Profesionalisme bagi Guru. Jakarta: AV Publisher.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Jakarta: 1998
Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain Aswan, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: PT
Rineka Cipta. 2006
E
Mulyasa,
kurikulum
berbasis
kompetensi
konsep;
karakteristik
dan
implementasi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003.
Fuller Alison, Participative Learning Through the Work-Based Route: From
Apprenticeship to part-time Higher Education. England: Centre for labour
market studies, University of Leicester, 2002.
Gulo, W. strategi belajar mengajar, jakarta: Grasindo, 2005
Handi, Pengertian Belajar. Diambil dari http://www.whandinet.com//pengertianbelajar
Hatimah, I, Strategi dan metode pembelajaran. Bandung : Andira, 2003.
Herlin Purnama, Kurikulum dan pembelajaran partisipatif. diambil dari
http://purnamaherlin.blogspot.com/2009/01/kurikulum-dan-pembelajaranpartisipatif.html
http://digilib.upi.edu/pasca/available/etd-1002106-122801/
Jacky Pow, A Reflective-participate approach to professional development in
teaching of liberal studies in schools, Hong Kong Teacher’s Centre
Journal 2007
48 49 Jati Wijayati, Aktif Biologi Pelajaran Biologi untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta:
Ganeca Exaxt, 2007.
Learning+Teaching Scotland, “Participative ang Learning. Scotland: Save the
Children. 2007
M. Ngalim purwanto, Psikologi pendidikan,Bandung: Rosda Karya, 2007
Majid Abdul. Perencanaan pembelajaran mengembangkan standar kompetensi
guru. Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2005.
Nuryani, Strategi Belajar Mengajar Biologi, Malang: UM Press. 2005
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara, 2005
Rasyad, Aminuddun. Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Uhamka Press,
2003
Ruseffendi. Statistika Dasar untuk Pelatihan Pendidikan, Bandung: IKIP
Bandung Press, 1998
Sagala, Syaeful. konsep dan makna Pembelajaran untuk membantu memecahkan
probelamtika belajar dan mengajar. Bandung : Alfabeta. 2009.
Saktiyono, Seribu Pena Biologi untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Erlangga, 2008.
Sarwono, Sarlito Wirawan, Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: PT Bulan
Bintang. 2000.
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: PT Rineka
Cipta. 2003
Sobur, Alex . Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia. 2003
Sofyan Ahmad, Konstruktivisme dalam pembelajaran IPA/Sains, (proseding
Seminar Internasional Pendidikan IPA 2007)
Sofyan, Ahmad dkk. Evalauasi Pembelajran IPA Berbasis Kompetensi, Jakarta:
Lembaga penelitian UIN Jakarta dengan UIN Jakarta Press. 2006
Sudijono, Anas. ”Pengantar Statistika Pendidikan”, Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2005
Sudjana, Metoda dan teknik pembelajaran partisipatif, Bandung: Fallah
Production, 2005.
--------, Strategi pembelajaran Pendidikan Luar Sekolah, Bandung: Fallah
Production, 2005.
50 Sudjana, Nana dan Ibrahim, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Bandung: Sinar
Baru, 1989
Sudjana, Nana Penilaian hasil proses belajar mengajar, Bandung: remaja
rosdakarya. 2001
--------, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (edisi revisi), Jakarta: PT Rineka Cipta.
2002
Sudrajat
Akhmad,
Model
Pembelajaran.
diambil
dari
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/12/model-pembelajaran-2/
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan; pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R
& D , Bandung : CV. Alfabeta, 2006
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu pendekatan praktek, Jakarta: PT
Rineka Cipta, 2002
--------------, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (edisi revisi). Jakarta. PT Rineka
Cipta. 2003 Suryono Yoyon, Strategi Pembelajaran Kejar Paket C Setara Sma Berbasis
Kurikulum
Tingkat
Satuan
Pendidikan.
Diambil
dari
http://yoyonsuryono.wordpress.com/2008/01/12/model-pembelajaran-2/
Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya. 2003.
Tim Pustaka Yustisia, Panduan Lengkap KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan), Jakarta: Pustaka Yustisia. 2008.
Wikipedia,
Pengertian
Pembelajaran.
http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran
Diambil
dari
Lampiran 2
Perhitungan mean, median, dan modus serta distribusi untuk skor hasil
pretest siswa kelas kontrol
Persiapan tabe l distribusi frekuensi skor hasil pretes siswa kelas kontrol ,
diketahui data skor pretest kelas kontrol sebagai berikut.
10
10
10
10
15
15
15
20
20
20
20
25
25
25
30
30
30
30
40
No
1
2
3
4
5
6
Jumlah
Tabel Skor hasil Pretes kelas kontrol
X
F
X2
Fx
fx2
10
4
100
40
400
15
3
225
45
675
20
4
400
80
1600
25
3
625
75
1875
30
4
900
120
3600
40
1
1600
40
1600
140
19
3850
400
9750
Langkah-langkah yang diperlukan dalam menyusun tabel distribusi frekuensi
adalah :
1. Menentukan rantang, yaitu data terbesar dikurangi data terkecil.
Dalam hal ini data terbesar = 40 dan data terkecil = 10, dengan
menggunakan rumus :
R = data terbesar – data terkecil
R =40-10
R = 30
2. Menentukan banyaknya kelas interval yang diperlukan dengan
menggunakan rumus:
K = 1 + 3.3 Log N
K= 1 + 3.3 log 19
K= 5.224 (5)
3. Menentukan panjangnya kelas interval (i), yaitu dengan menggunakan
rumus :
I = rentang (R) / Banyak kelas (K)
I = 30/5
I=6
Tabel distribusi frekuensi pretest kelas control
no Interval Titik
batas
batas
relatif
frekuensi
Kelas tengah bawah
atas
absolut
1
2
3
4
5
6
10-15
16-21
22-27
28-33
34-39
40-45
12.5
18.5
24.5
30.5
36.5
42.5
9.5
15.5
21.5
27.5
33.5
39.5
15.5
21.5
27.5
33.5
39.5
45.5
7
4
3
4
0
1
4. Menentukan mean (rata-rata), yaitu :
Mean (M) = 21
5. Menentukan median
Posisi median = (N+1)/2
Posisi Median = (10+1)/2 = 10
Median = 20
6. Menentukan modus (nilai paling banyak muncul), yaitu :
Mo = 10, 20, 30
7. Menentukan nilai standar deviasi (standar baku), yaitu :
S 8.36
36.85%
21.05%
15.79%
21.05%
0%
5.26%
Lampiran 3
Perhitungan mean, median, dan modus serta distribusi untuk skor hasil
pretest siswa kelas eksperimen
Persiapan tabel distribusi frekuensi skor hasil pretes siswa kelas eksperimen ,
diketahui data skor pretest kelas eksperimen sebagai berikut.
10
15
20
30
10
15
25
30
10
20
25
30
15
20
25
30
15
20
25
Tabel Skor hasil Pretes kelas eksperimen
No
X
1
2
3
4
5
Jumlah
F
10
15
20
25
30
100
X2
3
4
4
4
4
19
100
225
400
625
900
2250
f.X
f.X2
30
60
80
100
120
390
300
900
1600
2500
3600
8900
Langkah-langkah yang diperlukan dalam menyusun table distribusi frekuensi
adalah :
1. Menentukan rantang, yaitu data terbesar dikurangi data terkecil.
Dalam hal ini data terbesar = 30 dan data terkecil = 10, dengan
menggunakan rumus :
R = data terbesar – data terkecil
R =30-10
R = 20
2. Menentukan banyaknya kelas interval yang diperlukan dengan
menggunakan rumus :
K = 1 + 3.3 Log N
K= 1 + 3.3 log 19
K= 5.224 (5)
3. Menentukan panjangnya kelas interval (i), yaitu dengan menggunakan
rumus :
I = rentang (R) / Banyak kelas (K)
I = 20/5
I=4
Tabel distribusi frekuensi pretest kelas eksperimen
no
interval Titik
Batas
Kelas
Tengah Bawah
Batas
Atas
frekuensi
absolut
relatif
1
2
3
4
5
6
10-13
14-17
18-21
22-25
26-29
30-33
11.5
15.5
19.5
23.5
27.5
31.5
9.5
13.5
17.5
21.5
25.6
29.5
13.5
17.5
21.5
25.5
29.5
33.5
4. Menentukan mean (rata-rata), yaitu :
Mean (M) = 21
5. Menentukan median
Posisi median = (N+1)/2
Posisi Median = (10+1)/2 = 10
Median = 20
6. Menentukan modus (nilai paling banyak muncul), yaitu :
Mo = 15, 20, 25, 30
7. Menentun nilai standar deviasi (standar baku), yaitu :
S = 6.86
3
4
4
4
0
4
15.80%
21.05%
21.05%
21.05%
0.00%
21.05%
Lampiran 4
Perhitungan mean, median, dan modus serta distribusi untuk skor hasil
postest siswa kelas control
Persiapan tabel distribusi frekuensi skor hasil posttest siswa kelas kontrol ,
diketahui data skor pretest kelas kontrol sebagai berikut.
15
25
40
55
15
25
40
55
20
30
40
60
20
30
50
60
25
30
50
Tabel Skor hasil Postest kelas kontrol
No
X
1
2
3
4
5
6
7
8
9
F
15
20
25
30
40
50
55
60
295
X2
2
2
3
3
3
2
2
2
19
225
400
625
900
1600
2500
3025
3600
12875
fx
fx2
30
40
75
90
120
100
110
120
685
450
800
1875
2700
4800
5000
6050
7200
28875
Langkah-langkah yang diperlukan dalam menyusun tabel distribusi frekuensi
adalah :
1. Menentukan rantang, yaitu data terbesar dikurangi data terkecil.
Dalam hal ini data terbesar = 60 dan data terkecil = 15, dengan
menggunakan rumus :
R = data terbesar – data terkecil
R =60-15
R = 45
2. Menentukan banyaknya kelas interval yang diperlukan dengan
menggunakan rumus :
K = 1 + 3.3 Log N
K= 1 + 3.3 log 19
K= 5.224 (5)
3. Menentukan panjangnya kelas interval (i), yaitu dengan menggunakan
rumus :
I = rentang (R) / Banyak kelas (K)
I = 45/5
I=9
Tabel distribusi frekuensi posttest kelas kontrol
no
1
2
3
4
5
6
Interval Titik
Batas
Batas
frekuensi
Kelas
tengah Bawah
Atas
absolut
15-23
19
14.5
23.5
4
24-32
28
23.5
32.5
6
33-41
37
32.5
41.5
3
42-50
46
41.5
50.5
2
51-59
55
50.5
59.5
2
60-68
64
59.5
68.5
2
4. Menentukan mean (rata-rata), yaitu :
Mean (M) = 36.1
5. Menentukan median
Posisi median = (N+1)/2
Posisi Median = (10+1)/2 = 10
Median = 30
6. Menentukan modus (nilai paling banyak muncul), yaitu :
Mo = 25, 30
7. Menentun nilai standar deviasi (standar baku), yaitu :
S = 14.8
relatif
21.05%
31.58%
15.78%
10.53%
10.53%
10.53%
Lampiran 5
Perhitungan mean, median, dan modus serta distribusi untuk skor hasil
postest siswa kelas eksperimen
Persiapan tabel distribusi frekuensi skor hasil posttest siswa kelas kontrol ,
diketahui data skor posttest kelas kontrol sebagai berikut.
30
45
55
65
35
45
55
65
35
50
55
65
40
50
60
70
40
55
60
Tabel Skor hasil Postest kelas eksperimen
no
x
1
2
3
4
5
6
7
8
9
F
30
35
40
45
50
55
60
65
70
450
x2
1
2
2
2
2
4
2
3
1
19
900
1225
1600
2025
2500
3025
3600
4225
4900
24000
fx
fx2
30
70
80
90
100
220
120
195
70
975
900
2450
3200
4050
5000
12100
7200
12675
4900
52475
Langkah-langkah yang diperlukan dalam menyusun tabel distribusi frekuensi
adalah :
1. Menentukan rentang, yaitu data terbesar dikurangi data terkecil.
Dalam hal ini data terbesar = 70 dan data terkecil = 30, dengan
menggunakan rumus :
R = data terbesar – data terkecil
R =70-30
R = 40
2. Menentukan banyaknya kelas interval yang diperlukan dengan
menggunakan rumus :
K = 1 + 3.3 Log N
K= 1 + 3.3 log 19
K= 5.224 (5)
3. Menentukan panjangnya kelas interval (i), yaitu dengan menggunakan
rumus :
I = rentang (R) / Banyak kelas (K)
I = 40/5
I=8
Tabel distribusi frekuensi posttest kelas eksperimen
no
1
2
3
4
5
6
Interval Titik
Batas
Batas
frekuensi
Kelas
tengah Bawah
Atas
absolut
30-37
33.5
29.5
37.5
3
38-45
41.5
37.5
45.5
4
46-53
49.5
45.5
53.5
2
54-61
57.5
53.5
61.5
6
62-69
65.5
61.5
69.5
3
70-77
73.5
69.5
77.5
1
4. Menentukan mean (rata-rata), yaitu :
Mean (M) = 51.3
5. Menentukan median
Posisi median = (N+1)/2
Posisi Median = (10+1)/2 = 10
Median = 55 (di pisisi 10)
6. Menentukan modus (nilai paling banyak muncul), yaitu :
Mo = 55
7. Menentunkan nilai standar deviasi (standar baku), yaitu :
S = 11.5
relatif
15.79%
21.05%
10.53%
31.58%
15.79%
5.26%
Lampiran 6
Data Nilai kelas control dan kelas eksperimen
Siswa pretes
1
30
2
10
3
30
4
25
5
25
6
25
7
20
8
20
9
10
10
10
11
30
12
40
13
30
14
15
15
20
16
15
17
10
18
15
19
20
X
21.1
T
40
R
10
SD
8.36
kelas kontrol
N-Gain
postes 1
55
0.21
20
0.11
25
-0.07
30
0.07
55
0.40
50
0.33
30
0.13
60
0.50
20
0.11
40
0.33
40
0.14
50
0.17
60
0.43
40
0.29
25
0.06
25
0.12
15
0.06
15
0.00
30
0.13
36.1
0.2
60
15
14.8
Kategori siswa pretes
Rendah
1
15
Rendah
2
20
Rendah
3
25
Rendah
4
30
Sedang
5
15
Sedang
6
30
Rendah
7
15
Sedang
8
30
Rendah
9
30
Sedang
10
25
Rendah
11
20
Rendah
12
10
Sedang
13
25
Rendah
14
20
Rendah
15
15
Rendah
16
25
Rendah
17
20
Rendah
18
10
Rendah
19
10
Rendah
20.5
30
10
6.86
Kelas eksperimen
N-gain
postes 2
40
0.29
35
0.19
65
0.53
50
0.29
50
0.41
30
0.00
55
0.47
60
0.43
65
0.50
45
0.27
70
0.63
55
0.50
40
0.20
35
0.19
65
0.6
55
0.40
35
0.13
60
0.6
55
0.50
51.3
0.4
70
30
11.5
Kategori
Rendah
Rendah
Sedang
Rendah
Sedang
Rendah
Sedang
Sedang
Sedang
Rendah
Sedang
Sedang
Rendah
Rendah
Sedang
Sedang
Rendah
Sedang
Sedang
Sedang
Lampiran 7
Uji Normal Gain
Uji normal gain dilakukan untuk melihat peningkatan pemahaman atau
penguasaan
posttest – pretest
N gain =
Skor ideal – pretest
Kategorisasi perolehan sebagai berikut :
g-tinggi = nilai (<g>) > 0.70
g-sedang = nilai 0.70 e” (<g>) e” 0.30
g-rendah = nilai (<g>) < 0.30
Tabel perhitungan normal gain
Normal gain
Terendah
Tertinggi
Rata-rata
Kategori
Kelas Kontrol
-0.07
0.5
0.20
G-rendah
Kelas eksperimen
0
0.63
0.40
Gain sedang
Lampiran 8
Uji Normalitas Data
Uji normalitas dilakukan untuk melihat bahwa data yang diperoleh dari
populasi berdistribusi normal atau tidak.
Uji normalitas yang digunakan adalah uji liliefors, dengan rumus :
Lo = [F(Zi) – S(Zi)]
Langkah-langkah perhitungan uji liliefors sebagai berikut :
1. Data diurutkan dari terkecil hingga terbesar
2. Tentukan nilai Zi dari tiap-tiap data dengan rumus :
Xi-X
Zi =
SD
3. Nilai Zi dikonsultasikan dengan daftar F (kolom Z tabel)
4. Untuk kolom F (Zi) : Jika Zi negative maka F (Zi) = 0.5-Zt; jika Zi
positip, maka F (Zi) = 0.5 Zt
5. Untuk kolom :
Zn
S(Zi) =
Jumlah responden
6. Kolom [F(Zi) – S(Zi)] merupakan harga mutlak dari selisih antara F
(Zi) – S (Zi)
7. Menentukan harga terbesar dari harga mutlak tersebut untuk
menentukan Lo
8. Apabila Lo hitung < Lo tabel, maka sampel berasal dari distribusi normal.
A. Hasil tes kelompok eksperimen
1. Pretest
Tabel Uji normalitas liliefors (pretest) kelas eksperimen
No
1
2
3
4
5
Xi F Zn
Zi
Ztabel F(Zi)
S (Zi)
[F(Zi)-S(Zi)]
10 3
3 -1.60 0.4452 0.0548
0.1579
0.103
15 4
7 -0.87 0.3078 0.1922
0.3684
0.176
20 4
11 -0.15 0.0596 0.5596
0.5789
0.019
25 4
15
0.58
0.219
0.719
0.7895
0.070
30 4
19
1.31 0.4049 0.9049
1.0000
0.095
Sd = 6.86 Lo = 0.176 X = 21
Ltabel = 0.195
Lo < Ltabel = 0.176<0.195
Kesimpulan : Populasi sampel berdistribusi normal
2. Postest
Tabel Uji normalitas liliefors (postest) kelas eksperimen
No Xi F Zn
Zi
Ztabel F(Zi)
30 1
1 -1.85 0.4678 0.0322
35 2
3 -1.42 0.4222 0.0778
40 2
5 -0.98 0.3365 0.1635
45 2
7 -0.55 0.2088 0.2912
50 2
9 -0.11 0.0438 0.4562
55 4
13
0.32 0.1255 0.6255
60 2
15
0.76 0.2764 0.7764
65 3
18
1.19
0.383
0.883
70 1
19
1.63 0.4484 0.9484
S(Zi)
[F(Zi)-S(Zi)]
0.052632
0.020
0.157895
0.080
0.263158
0.100
0.368421
0.077
0.473684
0.017
0.684211
0.059
0.789474
0.013
0.947368
0.064
1
0.052
Sd = 11.5 Lo = 0.100 X = 51.3 Ltabel = 0.195
Lo < Ltabel = 0.100<0.195
Kesimpulan : Populasi sampel berdistribusi normal
B. Hasil tes kelompok kontrol
1. Pretest
Tabel Uji normalitas liliefors (pretest) kelas kontrol
No
1
2
3
4
5
6
Xi f Zn
Zi
Ztabel F(Zi)
S (Zi)
[F(Zi)-S(Zi)]
10 4
4 -1.32 0.4066 0.0934
0.2105
0.117
15 3
7 -0.72
0.888
0.388
0.3684
0.020
20 4
11 -0.12 0.0478 0.4522
0.5789
0.127
25 3
14
0.48 0.1844 0.6844
0.7368
0.052
30 4
18
1.08 0.3599 0.8599
0.9474
0.087
40 1
19
2.27 0.4884 0.9884
1.0000
0.012
Sd = 8.36 Lo = 0.127 X = 21
Ltabel = 0.195
Lo < Ltabel = 0.127 < 0.195
Kesimpulan : Populasi sampel berdistribusi normal
2. Postest
Tabel Uji normalitas liliefors (postest) kelas control
No
1
2
3
4
5
6
7
8
Xi f Zn
Zi
Ztabel F(Zi)
S (Zi)
[F(Zi)-S(Zi)]
15 2
2 -1.42 0.4222 0.0778
0.1053
0.027
20 2
5 -1.08 0.3599 0.1401
0.2632
0.123
25 3
7 -0.75 0.2734 0.2266
0.3684
0.142
30 3
10 -0.41 0.1591 0.3409
0.5263
0.185
40 3
13
0.27 0.1064 0.6064
0.6842
0.078
50 2
15
0.94 0.3264 0.8264
0.7895
0.037
55 2
17
1.28 0.3997 0.8997
0.8947
0.005
60 2
19
1.61 0.4474 0.9474
1.0000
0.053
Sd = 14.83 Lo = 0.185 X = 36.1 Ltabel = 0.195
Lo < Ltabel = 0.185 < 0.195
Kesimpulan : Populasi sampel berdistribusi normal
Lampiran 9
Uji Homogenitas Data
Pengujian homogenitas di sini adalah mengenai sama tidaknya
variansi-variansi dua buah distribusi atau lebih
Pengujian dilakukan dengan j uji homogenitas dua varians.
Rumus uji homogenitas yang digunakan adalah uji fisher, dengan rumus :
Langkah- langkah penghitungan uji fisher sebagai berikut :
1. Merumuskan hipotesis
Ho
: Variansi populasi homogeni
Ha
: Variansi populasi tidak homogen
2. Jumlah sampel N = 19
3. Derajat kebebasan
Penyebut
: dk2 = N-1= 19-1 =18
Pembilang
: dk1 = N-1= 19-1= 18
4. Menentukan F table
Untuk dk penyebut 18 dan dk pembilang 18 pada taraf signifikan a=
0.05 dari daftar table distribusi F adalah 2.04
5. Menentukan F hitung yaitu varian terbesar dibagi varian terkecil
.
A. Hasil Homogenitas pre-test
Tabel Uji homogenitas pre-test
N
X
S
S2
Eksperimen Kontrol
19
19
21
21
8.36
6.86
69.89
47.06
69.89
= 47.06
Karena Fhitung < Ftabel; 1.46 < 2.04 maka Ho diterima yang
berarti bahwa kedua sampel memiliki variansi populasi yang
homogen.
B. Hasil Homogenitas posttest
Tabel uji homogenitas posttest
N
X
S
S2
Eksperimen
19
36.1
14.83
219.93
Kontrol
19
51.3
11.5
132.25
219.93
= 132.25
Karena Fhitung < Ftabel; 1.66 < 2.04 maka Ho diterima yang
berarti bahwa kedua sampel memiliki variansi populasi yang
homogen.
Lampiran 10
Uji Hipotesis
Uji Hipotesis dilakukan untuk meliahat perbedaan hasil tes
siswa dari kelompok eksperimen dan kelompok control.
Uji hipotesis yang digunakan adalah uji-t jika data berdistribusi
normal dan homogen, dengan rumus ;
Langkah-langkah penghitungan Uji-t sebagai berikut :
∑
1. Mencari mean, yaitu :
∑
2. Mencari standar deviasi (SD), yaitu :
∑
2
2
∑
2
峌
3. Mencari standar error mean (SEM), yaitu :
√
1
4. Mencari standar error dari perbedaan mean (SEM1-M2) antar
variable, yaitu :
5. Mencari “t” atau “to”, yaitu
A. Uji Hipotesis Hasil Pretest
Tabel perhitungan Uji-t pretest kelas eksperimen (1)
No
1
2
3
4
5
Jumlah
X
10
15
20
25
30
100
F
3
4
4
4
4
19
X2
100
225
400
625
900
2250
f.X
30
60
80
100
120
390
f.X2
300
900
1600
2500
3600
8900
Tabel penghitungan Uji-t pretest kelas control (2)
No
1
2
3
4
5
6
Jumlah
X
F
X2
fx
fx2
10
15
20
25
30
40
140
4
3
4
3
4
1
19
100
225
400
625
900
1600
3850
40
45
80
75
120
40
400
400
675
1600
1875
3600
1600
9750
Langkah-langkah :
1. Mencari mean, yaitu :
1
∑
∑
=
390
19
20.5
2
∑
∑
=
400
19
21.1
2. Mencari standar deviasi (SD), yaitu :
12
2
∑
∑
2
2
∑
22
6.86
∑
2
8.36
3. Mencari standar error mean (SEM), yaitu :
1
√
1
1.55
2
√
1
1.97
4. Mencari standar error dari perbedaan mean (SEM1-M2) antar
2.51
variable, yaitu:
= 0.4
5. Mencari “t” atau “to”, yaitu
Df = N-2 = 38-2 = 36 (konsultasi tabel nilai “t”), ternyata
dalam tabel tidak didapat df sebesar 36, maka menggunakan df
yang terdekat yaitu df sebesar 35 dengan df 35 itu diporeleh
harga kritik “t” pada tabel atau ttabel sebesar, sebagai berikut :
Pada taraf signifikan 5% = 2.03
Pada tarap signifikan 1% = 2.72
Dengan demikian to lebih kecil daripada tabel ; yaitu
2.03>0.4<2.72
Dengan demikian hipotesis nihil (Ho) diterima.
Kesimpulan : tidak terdapat pengaruh yang signifikan sebelum
menggunakan pendekatan pembelajaran partisifatif terhadap
hasil belajar siswa pada konsep tumbuhan.
B. Uji Hipotesis Hasil Posttest
Tabel penghitungan Uji-t Posttest kelas eksperimen (1)
No
X
1
2
3
4
5
6
7
8
9
F
30
35
40
45
50
55
60
65
70
450
x2
1
2
2
2
2
4
2
3
1
19
fx
900
1225
1600
2025
2500
3025
3600
4225
4900
24000
fx2
30
70
80
90
100
220
120
195
70
975
900
2450
3200
4050
5000
12100
7200
12675
4900
52475
Tabel penghitungan Uji-t Posttest kelas control (2)
No
X
1
2
3
4
5
6
7
8
9
F
X2
15
20
25
30
40
50
55
60
295
2
2
3
3
3
2
2
2
19
fx
225
400
625
900
1600
2500
3025
3600
12875
fx2
30
40
75
90
120
100
110
120
685
450
800
1875
2700
4800
5000
6050
7200
28875
Langkah-langkah :
1. Mencari mean, yaitu :
∑
1
=
∑
975
19
51.3
2
∑
∑
=
685
19
36.1
2. Mencari standar deviasi (SD), yaitu :
12
∑
2
∑
2
2
∑
22
11.5
∑
2
14.8
3. Mencari standar error mean (SEM), yaitu :
1
√
1
2.71
2
√
1
3.49
4. Mencari standar error dari perbedaan mean (SEM1-M2) antar
variable, yaitu:
5. Mencari “t” atau “to”, yaitu
4.42
= 3.44
Df = N-2 = 38-2 = 36 (konsultasi tabel nilai “t”), ternyata
dalam tabel tidak didapat df sebesar 36, maka menggunakan df
yang terdekat yaitu df sebesar 35 dengan df 35 itu diporeleh
harga kritik “t” pada tabel atau ttabel sebesar, sebagai berikut :
Pada taraf signifikan 5% = 2.03
Pada tarap signifikan 1% = 2.72
Dengan demikian to lebih kecil daripada tabel ; yaitu
2.03>3.44>2.72
Dengan demikian hipotesis nihil (Ho) diterima.
Kesimpulan : Terdapat pengaruh yang signifikan sebelum
menggunakan pendekatan pembelajaran partisifatif terhadap
hasil belajar siswa pada konsep tumbuhan.
Lampiran 11
Uji Korelasi Hasil partisipatif siswa terhadap hasil belajar kognitif
Untuk mengetahui derajat korelasi hasil partisipatif siswa terhadap hasil
belajar kognitif digunakan uji koralasi Pearson Product Moment (PPM) dengan
rumus :
thitung =
√
√
2
1
Langkah-langkah :
1. Merumuskan hipotesis nol dan hipotesis alternative dalam bentuk kalimat
Ho : tidak terdapat hubungan yang signifikan antara hasil partisipatif siswa
terhadap hasil belajar siswa
Ha : terdapat hubungan yang signifikan antara hasil partisipatif siswa
terhadap hasil belajar siswa
2. Membuat hipotesis statistic
Ho : r = 0
Ha : r ≠ 0
R = nilai korelasi PPM
3. Membuat tabel penolong untuk menghitung korelasi PPM
Tabel penolong untuk Menghitung Korelasi PPM
Nama
Agustina
Elinda
Framudita
Hindasyah
Hamidah
Rahmawati
Meida Nurul Huda
Naila Silmi Ilmawati
Neneng Istifaiyah
Nur Azizah
Nurohmah
Nurul Amalia Putri
Resa Choirunnisa
Rika Elia
X1
X12
Y1
Y12
7.67
8.33
40
35
58.83
69.39
1600
1225
X1Y1
306.8
291.55
9.33
65
87.05
4225
606.45
9.5
7.67
8.33
9.33
9.5
8.33
7.67
9.33
9.5
50
50
50
30
55
65
45
70
55
90.25
58.83
69.39
87.05
90.25
69.39
58.83
87.05
90.25
2500
2500
2500
900
3025
4225
2025
4900
3025
475
383.5
416.5
279.9
522.5
541.45
345.15
653.1
522.5
Risti Wijaya
7.67
40
58.83
1600
306.8
Sandef Tesa Fuswita
8.33
45
69.39
2025
374.85
Santi Nurani
9.33
65
87.05
4225
606.45
Siti Maisaroh
7.67
55
58.83
3025
421.85
Siti Patimah
8.33
35
69.39
1225
291.55
Siti Saadah
9.33
60
87.05
3600
559.8
Wianti Malinda
9.5
55
90.25
3025
522.5
2
2
∑X1
∑Y1
∑X1
∑Y1
∑X1Y1
Statistik
Jumlah
164.65
965 1437.334
51375
8428.2
Keterangan :
4.
X1
: Hasil partisipatif
Y1
: Hasil belajar kognitif
Menentukan nilai rhitung dengan cara memasukan angka statistic dari tabel
penolong dengan rumus :
– ∑
∑
.∑
∑
∑
.∑
∑
.
19 8428.2 – 164.65 965
19.1437.33
164.65
19.51375
965
.
0.43
5. Mencari besarnya sumbangan (kontribusi) variable X1 terhadap Y1 dengan
rumus :
KP = r2 x 100%
KP = (0.43)2 x 100%
KP = 18.49%
6. Menguji signifikan dengan rumus thitung :
thitung =
thitung =
2
1
0.43√19 2
√19 1
√
√
thitung = 2. 17
dk = n – 2 = 19-2 = 17 (dikonsultasikan tebel nilai “t”), dengan dk 17
diperoleh harga kritik “t” pada tabel atau ttabel sebesar sebagai berikut :
pada taraf signifikan 0,05 (5%)
17 = 2.11
Dengan demikian thitung > ttabel, yaitu 2.17 > 2.11
Kesimpulan : terdapat hubungan yang signifikan antara hasil partisipatif
siswa terhadap hasil belajar kognitif.
Rekapitulasi hasil posttest kelas control (X-4)
No Soal
Kunci jawaban
No Nama
1 Diana Wangsih
2 Elis Sulastri
3 Euis Solihat
4 Ida Rostika Sari
5 Intan Pandini
6 Irma Wati
7 Ita Elita
8 Lathifah A'rsy
9 Melin Mustika Ayu
10 Munawaroh
11 Nazma Laela
12 Noneng Sapitri
13 Riska Nurmaida
14 Seli Susilawati
15 Siti Ai Maspupah
16 Siti Maisaroh
17 Siti Patimah
18 Yohana Yoel
19 Nurhasanah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 Total
e A b a a d c e b A e b c
b b d
e d d a
e
a
a
e
e
e
a
e
e
e
e
a
e
e
e
e
a
a
e
B
A
B
C
A
c
c
b
b
b
b
a
a
c
b
b
b
b
b
b
b
a
a
c
a
b
b
c
b
a
b
a
a
a
e
b
a
b
e
b
e
a
a
a
a
e
e
e
a
a
a
e
a
b
e
e
e
a
e
b
b
e
b
e
a
e
a
a
e
a
e
e
a
e
e
a
b
b
a
b
d
d
b
d
b
b
b
d
b
b
b
a
a
b
a
a
a
c
e
a
b
a
c
a
a
c
c
c
a
a
e
a
e
a
d
a
c
e
e
e
a
d
d
c
e
a
a
e
c
c
e
c
a
e
a
c
c
c
e
c
b
c
c
e
b
e
c
c
c
e
e
a
13
4
8
8
7
4 5
6
2
A
B
B
c
a
a
b
a
b
b
b
a
a
a
b
b
b
b
b
7
e
d
a
a
a
e
d
a
a
a
d
e
a
a
a
a
b
b
a
b
b
b
b
b
a
b
b
b
b
b
b
b
b
b
a
b
b
b
c
c
c
a
c
b
c
c
c
c
c
c
c
c
c
c
b
c
b
3 17 15
b
a
a
d
d
b
d
a
a
b
d
a
a
b
a
b
d
d
a
5
a
a
a
b
b
c
a
b
a
b
d
a
b
d
d
a
c
a
a
5
a
e
d
b
b
d
d
a
a
e
b
a
d
b
a
e
c
b
a
e
a
a
a
c
e
c
e
a
a
a
a
a
b
a
b
a
a
a
4
3
b
a
b
d
a
d
b
b
b
b
a
a
b
b
b
b
a
a
a
2
d
a
b
a
d
a
b
d
b
b
b
a
b
d
b
b
c
b
d
a
b
a
b
a
b
a
a
a
a
b
a
a
a
a
e
a
a
a
rata4 14 rata
Nilai
11
4
5
6
11
10
6
12
4
8
8
10
12
8
5
5
3
3
6
55
20
25
30
55
50
30
60
20
40
40
50
60
40
25
25
15
15
30
36.1
Rekapitulasi hasil posttest kelas eksperimen (X-2)
No Soal
Kunci Jawaba
No Nama
1 Agustina
2 Elinda
3 Framudita Hindasyah
4 Hamidah Rahmawati
5 Meida Nurul Huda
6 Naila Silmi Ilmawati
7 Neneng Istifaiyah
8 Nur Azizah
9 Nurohmah
10 Nurul Amalia Putri
11 Resa Choirunnisa
12 Rika Elia
13 Risti Wijaya
14 Sandef Tesa Fuswita
15 Santi Nurani
16 Siti Maisaroh
17 Siti Patimah
18 Siti Saadah
19 Wianti Malinda
1
e
2
A
3
b
4
a
5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Total
a d c e b a
e
b
c
b
b
d
e
d
d
a
e
e
e
e
a
e
c
c
e
a
e
e
c
e
e
e
e
e
e
14
C
a
d
d
a
c
a
a
a
a
a
b
a
a
b
b
a
c
a
11
b
a
b
b
c
a
b
c
b
b
b
b
a
e
b
b
b
b
a
12
b
a
c
c
a
d
a
a
c
b
a
c
b
a
b
a
b
b
a
8
c
b
a
a
c
a
c
c
a
a
a
a
a
c
a
c
a
c
b
10
b
a
d
d
a
c
d
d
c
a
b
c
b
b
b
c
a
a
b
4
a
a
a
c
c
a
e
a
c
c
c
c
c
a
b
c
e
a
c
9
e
b
e
c
a
c
e
e
c
a
e
e
a
a
b
e
a
e
e
9
b
b
a
c
c
a
b
a
b
a
b
c
a
a
b
b
b
a
b
9
a
a
a
c
a
a
c
a
a
a
a
c
a
a
a
b
b
a
b
13
b
a
e
a
e
a
a
e
a
a
b
e
e
a
b
b
e
a
a
6
b
b
b
b
a
b
b
b
b
b
b
b
a
b
b
b
a
b
b
17
c
a
c
a
c
c
c
c
c
a
c
c
d
b
c
c
a
c
c
13
e
c
a
b
a
a
b
a
b
c
b
c
a
c
b
a
a
d
b
6
c
c
b
b
a
c
a
a
c
c
a
b
a
a
b
a
a
c
b
5
a
b
d
c
d
a
c
d
a
d
c
a
d
d
d
b
b
d
b
8
b
b
b
e
e
c
e
e
e
e
e
d
b
e
e
b
b
d
e
10
c
a
e
d
d
a
c
c
a
c
c
c
b
d
d
d
b
a
b
4
c
b
d
a
c
c
d
d
d
c
d
d
d
a
d
d
d
a
b
10
Nilai
a
8
40
a
7
35
a
13
65
c
10
50
a
10
50
a
6
30
c
11
55
a
12
60
a
13
65
a
9
45
b
14
70
a
11
55
a
8
40
a
9
45
a
13
65
a
11
55
a
7
35
b
12
60
a
11
55
15 rata-rata 51.3
Rekapitulasi hasil posttest kelas eksperimen (X-2)
Tabel 4.15 Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen Dan Kontrol
No
soal
KD
Indicator
1
3.3 Mendeskripsikan cirri-ciri divisio dalam
dunia tumbuhan dan peranannya bagi
kelangsungan hidup di bumi
3.3.8 Mendeskripsikan cirri umum
tumbuhan berbiji
2
Idem
3
Idem
4
Idem
5
Idem
6
Idem
7
Idem
8
Idem
9
Idem
10
Idem
11
Idem
3.3.8 Mendeskripsikan cirri umum
tumbuhan berbiji
3.3.8 Mendeskripsikan cirri umum
tumbuhan berbiji
3.3.9 Mengklasifikasikan tumbuhan
berbiji
3.3.9 Mengklasifikasikan tumbuhan berbiji
3.3.5 Mendeskripsikan cirri umum
tumbuhan paku
3.3.3 Mendeskripsikan cirri umum
tumbuhan lumut
3.3.2 Menyusun klasifikasi dunia
tumbuhan
3.3.1 Mendeskripsikan cirri umum dunia
tumbuhan
3.3.3 Mendeskripsikan cirri umum
tumbuhan lumut
3.3.3 Mendeskripsikan cirri umum
tumbuhan lumut
kelas ekperimen
Frek
%
kelas kontrol
frek
%
C1
14
73.7
13
68.4
Sedang
C2
11
57.9
4
21.1
Tumbuhan biji
Mudah
C3
12
63.2
8
42.1
Tumbuhan biji
Sedang
C2
8
42.1
8
42.1
Tumbuhan biji
Sedang
C1
10
52.6
7
36.8
Tumbuhan paku
sukar
C2
4
21.1
4
21.1
Tumbuhan lumut
sedang
C1
9
47.4
5
26.3
Cirri tumb uhan
mudah
C2
9
47.4
6
31.6
Cirri tumbuhan
Mudah
C2
9
47.4
2
10.5
Tumbuhan lumut
Sangat mudah
C1
13
68.4
7
36.8
Tumbuhan lumut
Sangat sukar
C2
6
31.6
3
15.8
konsep/ sub
konsep
tingkat
kesukaran
Tingkatan
kognitif
Tumbuhan biji
Sedang
Tumbuhan biji
12
Idem
13
Idem
14
Idem
15
Idem
16
idem
17
idem
18
idem
19
idem
20
idem
3.3.5 Mendeskripsikan cirri umum
tumbuhan paku
3.3.1 Mendeskripsikan cirri umum dunia
tumbuhan
3.3.2 Menyusun klasifikasi dunia
tumbuhan
3.3.3 Mendeskripsikan cirri umum
tumbuhan lumut
3.3.5 Mendeskripsikan cirri umum
tumbuhan paku
3.3.10 Menjelaskan peranan tumbuhan biji
bagi manusia
3.3.9 mengklasifikasikan tumbuhan berbiji
3.3.2 Menyusun klasifikasi dunia
tumbuhan
3.3.1 Mendeskripsikan cirri umum dunia
tumbuhan
Tumbuhan paku
Sedang
C1
17
89.5
17
89.5
Cirri tumbuhan
sukar
C3
13
68.5
15
78.9
Ciri tumbuhan
sedang
C2
6
31.6
5
26.3
Tumbuhan lumut
sukar
C2
5
26.3
5
26.3
Tumbuhan Paku
Sedang
C1
8
42.1
4
Tumbuhan biji
sedang
C3
10
52.6
3
15.8
Tumbuhan biji
Sedang
C1
4
21.1
2
10.5
Ciri tumbuhan
sedang
C2
10
52.6
4
21.1
Ciri tumbuhan
sukar
C2
15
78.9
14
73.7
21.1
Soal ujian 1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Angiospermae sering disebut sebagai tumbuhan berbiji tertutup. Disebut berbiji tertutup karena bakal bijinya ditutupi oleh … a. Kulit buah b. kulit biji tebal c. Endosporm d. berada dalam strobilus e. Bakal buah Lima contoh tumbuhan yang termasuk kelompok kormophyta, yaitu : 1) Kelapa (Cocos nucifera) 2) Nenas (Ananas sativus) 3) Pisang (Musa paradisiacal) 4) Jahe (Zingiber officanale) 5) Rumput teki (cyperus rotundus) Persamaan ciri‐ciri yang dimiliki oleh kelima tumbuhan di atas adalah …. a. Tulang daunnya sejajar atau melengkung b. Akar dan batangnya berkambium c. Tulang daunnya menyirip atau menjari d. Daun‐daunnya kaku e. Tidak mempenyai bunga Seorang siswa mengamati satu tumbuhan dan didapatkan cirri‐ciri, yaitu daun berbentuk runcing seperti jarum, batang bercabang‐cabang, tidak dijumpai bunga tetapi ada bagian berbentuk strobilus berwarna coklat. Berdasarkan ciri‐ciri tersebut dapat disimpulkan bahwa tanaman tersebut termasuk…. a. Angiospermae b. Gymnospermae c. Dikotil d. Monokotil e. Pteridophyta Perhatkikan crri‐ciri tumbuhan berikut ini. 1) Memiliki bagian bunga dengan kelipatan 3 2) Berkambium 3) Tulang dan menyirip dan menjari 4) Berakar tunggang 5) Kotiledon Ciri‐ciri yang menunjukkan kelompok tumbuhan dikotil adalah… a. 1‐2‐3 d. 2‐3‐5 b. 1‐3‐5 e. 3‐4‐5 c. 2‐3‐4 Berikut adalah contoh jenis tumbuhan yang merupakan Gymnospermae yaitu … a. Cycas rumpii d. Pisum sativum b. Ficus benjamina e. Mimosa pudica c. Opuntia megacantia Perhatikan cirri‐ciri tumbuhan berikut : 1) Memiliki akar, batang, dan daun sejati 2) Memiliki klorofil 3) Berkembang biak dengan spora dan mengalami pergeliran keturunan Kemungkinan tumbuhan yang memiliki cirri‐ciri di atas adalah … a. Bawang putih d. Selaginella sp b. Kelapa e. Lidah buaya c. Sphagnum Gametangium lumut jantan pada lumut disebut …. a. Arkegonium d. indusidium b. Sporangium e. Protalium c. Anteridium 8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
Tumbuhan lumut hati, lumut daun, paku ekor kuda, paku kawat, dan suplir memiliki persamaan, yaitu ….. a. Memiliki akar, batang, dan daun b. Habitatnya di darat dan air tawar c. Memiliki rizoid sebagai alat untuk melekat d. Memiliki xylem dan floem e. Terdapat pergiliran keturunan dalam siklus hidupnya Paku dan lumut keduanya memiliki … a. Berkas pembuluh b. Pergiliran keturunan c. Akar, batang dan daun d. Biji sebagai alat perkembangbiakan e. Rizoid sebagai akar Pergiliran keturunan antara fase vegetative dan fase generative pada tumbuhan lumut dan paku disebut …. a. Metagenesis d. metamorfisis b. Spermatogenesis e. gametogenesis c. partenogenesis Pada pergiliran keturunan lumut, didapatkan: 1. Tumbuhan lumut 2. Spora 3. Protonema’ 4. Sporogonium Urutan yang benar dari daur hidup lumut adalah …. a. 1‐3‐2‐4 d. 2‐3‐1‐4 b. 2‐4‐3‐1 e. 2‐3‐4‐1 c. 2‐1‐3‐4 Dalam perkembangbiakan tumbuhan paku, sel telur dihasilkan oleh … a. Anteridium d. sporangium b. Arkegonium e. sporofil c. Sporogonium Tumbuhan yang mempunyai ciri‐ciri berklorofil, menghasilkan spora, dan tidak berbunga antara lain …. a. Semanggi, pakis haji, dan rumput b. Suplir, lumut hati, dan jamur merang c. Suplir, semanggi dan lumut hati d. Paku air, lumut daun, dan rumput e. Rumput, jamur merang, dan suplir Berikut ini adalah beberapa jenis tumbuhan : 1. Lumut hati 2. Lumut daun 3. Paku ekor kuda 4. Paku kawat 5. Suplir Kelima Janis tumbuhan di atas memiliki persamaan cirri yaitu …. a. Sudah mempunyai akar, batang, dan daun b. Dalam daur hidupnya terdapat pergiliran keturunan c. Habitat di darat dan di air tawar d. Memiliki berkas xylem dan floem e. Memiliki rizoid sebagai alat pelekat Ciri‐ciri tumbuhan : 1. Suatu tumbuhan hidup di tempat lembap 2. Berklorofil 3. mempunyai rizoid 4. tidak berbunga 5. mempunyai batang, dan 16.
17.
18.
19.
20.
6. berkembang biak denganspora. Tumbuhan tersebut termasuk …. a. Alga d. gymnospermae b. Bryophyte e. angiospermae c. pteridophyta Semua pernyataan mengenai Pterydophyta di bawah ini benar, kecuali …. a. Generasi sporofit hidup lebih lama b. Generasi gametofit membentuk arkegonium dan anteridium c. Gamet‐gamet adalah haploid d. Pembelajan meiosis terjadi waktu gamet dibentuk e. Generasi sporofit dapat mengadakan fotosisntesis Gymnospermae berkembang biak secara … No Tumbuhan Manfaat
1. Pinus Terpentin
2. Apel Tanaman hias 3. Malvaceae Bahan bangunan 4. Agathis alba Kapas 5. Gnetum gnemon Makanan Data di atas yang benar adalah … a. 1, 3, 4 d. 3,5 b. 2, 5 e. 1, 5 c. 3, 4 Suatu tumbuhan memiliki batang mejemuk yang terbentuk dari pelepah daun yang saling membungkus, dan berkeping satu. Tumbuhan itu termasuk family …. a. Mimosaceae d. musaceae b. Palmae e. caesalpiniaceae c. myrtaceae Perbedaan tumbuhan paku dan lumut ialah …. a. Tumbuhan paku tidak memiliki sperma yang berflagela, sedangkan lumut memiliki sperma berflagela b. Tumbuhan paku menghasilkan spora untuk beroproduksi, sedangkan lumut tidak menghasilkan spora c. Fase gametofit dan sporofit tumbuhan lumut hidup bebas d. Tumbuhan paku memiliki jaringan pengangkut, sedangkan lumut tidak. e. Jawaban C dan D benar Tumbuhan berbeda dengan ganggang dalam hal … a. Hanya tumbuhan yang bersifat eikariotik b. Hanya tumbuhan yang berfotosintesis c. Hanya tumbuhan yang mempunyai embrio multiesluler d. Hanya tumbuhan yang mempunyai klorofil e. Hanya tumbuhan yang multiseluler Rubrik Observasi
Partisipasi Siswa dalam Pembelajaran
A. Melakukan pengakraban
1. Siswa tidak melakukan apa-apa
2. Siswa mengobrol dengan teman yang disampingnya
3. Siswa berbincang dengan dua orang disampingnya
4. Siswa aktif berbincang dengan semua orang di dalam kelompoknya
B. Mengidentifikasi kebutuhan, sumber dan kemungkinan hambatan belajar
1. Siswa tidak melakukan apa-apa
2. Satu Siswa merumuskan kebutuhan, sumber dan hambatan belajar
3. Dua Siswa merumuskan kebutuhan, sumber dan hambatan belajar
4. Lebih dari dua Siswa merumuskan kebutuhan, sumber dan hambatan belajar
C. Merumuskan tujuan belajar
1. Siswa tidak melakukan apa-apa
2. Satu orang siswa menentukan tujuan belajar
3. Dua orang siswa menentukan tujuan belajar
4. Lebih dari dua Siswa menyusun tujuan belajar
D. Menyusun program kegiatan belajar
1. Siswa tidak melakukan apa-apa
2. Hanya satu Siswa yang mengajukan program kegiatan belajar
3. Dua Siswa menganalisis progam kegiatan belajar
4. Lebih dari dua Siswa mengajukan dan menganalisis program kegiatan belajar
E. Melaksanakan kegiatan belajar
1. Siswa tidak melakukan apa-apa
2. Hanya satu Siswa melibatkan diri dalam kegiatan belajar
3. Dua Siswa melibatkan diri dalam kegiatan belajar
4. Lebih dari dua Siswa aktif membahas materi dan memecahkan masalah yang
dihadapi
F. Menilai proses, hasil dan pengaruh kegiatan pembelajaran
1. Siswa tidak melakukan apa-apa
2. Hanya satu Siswa yang mengevaluasi proses, hasil dan pengaruh kegiatan belajar
3. Dua siswa yang mengevaluasi proses, hasil dan pengaruh kegiatan belajar
4. Lebih dari dua Siswa memberi masukan terhadap kegiatan belajar mengajar
Format Observasi Partisipasi siswa dalam pembelajaran
Pertemuan ke 1
Kelompok
Aspek yang dinilai
A
B
C
D
E
F
Keterangan
1
2
3
4
Keterangan : Pengisian disesuaikan dengan nomer rubrik observasi
Format Observasi Partisipasi siswa dalam pembelajaran
Pertemuan ke 2
Kelompok
Aspek yang dinilai
A
B
C
D
E
F
Keterangan
1
2
3
4
Keterangan : Pengisian disesuaikan dengan nomer rubrik observasi
Format Observasi Partisipasi siswa dalam pembelajaran
Pertemuan ke 3
Kelompok
Aspek yang dinilai
A
B
C
D
E
F
1
2
3
4
Keterangan : Pengisian disesuaikan dengan nomer rubrik observasi
Keterangan
99 Lampiran : 16
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Pertemuan
Alokasi Waktu
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Tujuan
:
:
:
:
:
:
Biologi
X (Sepuluh)/ II (Dua)
1
2 jam pelajaran
3. Memahami manfaat keanekaragaman hayati
3.3 Mendeskripsikan ciri-ciri Divisio dalam dunia tumbuhan dan
peranannya bagi kelangsungan hidup di bumi.
: Siswa mampu mendeskripsikan ciri-ciri tumbuhan, mengklasifikasikan
tumbuhan, dan ciri-ciri lumut serta peranan lumut
I. Indikator
•
Mendeskripsikan ciri umum dunia tumbuhan
•
Menyusun klasifikasi dunia tumbuhan
•
Mendeskripsikan ciri-ciri umum tumbuhan lumut (Bryophyta)
•
Menjelaskan peranan lumut bagi manusia.
II. Materi Ajar
1. Ciri-ciri umum plantae
Setiap organism yang termasuk ke dalam kelompok plantae, memiliki ciri :
a. Bersifatmultiseluler dan fotoautotof karena mempunyai kloroplas.
b. Sel-selnya mempunyai dinding sel.
c. Ada yang sudah memiliki akr, batang, dan daun sejati (kormus/kormophyta), dan
ada juga yang belum memiliki akar, batang, dan daun sejati (thalus/thallophyta).
d. Ada yang tidak mempunyai pembuluh angkut (atracheophyta), dan ada juga yang
mempunyai pembuluh angkut (tracheophyta).
e. Dibedakan menjadi tiga division, yaitu tumbuhan lumut (Bryophyta), tumbuhan
paku (Pteridophyta), dan tumbuhan berbiji (Spermathophyta).
2. Bryophyte (Tumbuhan Lumut)
a. Ciri-ciri
‐ Merupakan tumbuhan atracheophyta (tidak memiliki pembuluh angkut) dan
peralihan antara kormophyta dan thallophyta.
‐ Habitat di tempat teduh dan lembap
‐ Mengalami pergiliran keturunan (metagenesis).
‐ Struktur tumbuhan lumut : Thalus, tumbuhan fase gametofit, rhizoid,
tumbuhan fase sporofit, dan sporangium.
b. Reproduksi
100 ‐
Secara aseksual reproduksi dilakukan dengan menghasilkan spora. Sedangkan
secara seksual dengan peleburan gamet jantan (spermatozoid) yang dihasilkan
anteridium dan gamet betina (ovum) yang dihasilkan arkegonium.
‐ Salah satu cirri tumbuhan lumut adalah mengalami pergiliran keturunan
(metagenesis) antara fase sporofit dan gametofit.
c. Peranan Tumbuhan Lumut
Beberapa anggota kelompok lumut yang bermanfaat bagi manusia adalah :
‐ Marchantia untuk obat penyakit hati (hepar)
‐ Sphagnum untuk bahan pembalut dan bahan bakar
III. Metode Pembelajaran
• Ceramah- tanya jawab
IV. Langkah-Langkah Pembelajaran
Pertemuan 1 (2 jam pelajaran)
A. Kegiatan awal
• Guru menanyakan beberapa jenis tumbuhan yang sudah dikenal siswa.
B. Kegiatan inti
• Guru menyampaikan materi tentang ciri-ciri tumbuhan dan klasifikasinya,
pengrtian briophyta dan peranannnya.
• Guru melakukan pembelajaran dengan dua arah dengan membuka tanya jawab
• Guru memberikan penekanan tentang materi yang disampaikan
C. Kegiatan akhir
• Guru meminta siswa mengulang materi yang telah disampaikan sambil
manyimpulkan materi
•
Guru memberikan tugas kepada siswa
•
Guru menyampaikan materi yang akan datang
•
Guru memberikan motivasi
V. Alat/ Bahan/ Sumber
• Buku Seribu Pena Biologi SMA/MA Kelas X, Erlangga
• Buku Seri Pendalaman Materi Biologi SMA/MA, Erlangga
• Berbagai tumbuhan yang bisa dijumpai di sekitar siswa
VI. Penilaian
• Uji kompetensi tertulis
101 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Pertemuan
Alokasi Waktu
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Tujuan
: Biologi
: X (Sepuluh)/ II (Dua)
: 2
: 2 jam pelajaran
: 3. Memahami manfaat keanekaragaman hayati
: 3.3 Mendeskripsikan ciri-ciri Divisio dalam dunia tumbuhan dan
peranannya bagi kelangsungan hidup di bumi.
: Siswa mampu mendeskripsikan ciri-ciri tumbuhan paku,
mengklasifikasikan tumbuhan paku, dan peranan paku
I. Indikator
•
Mendeskripsikan ciri umum tumbuhan paku (Pteridophyta)
•
Mengklasifikasikan tumbuhan paku (Pteridophyta)
•
Menjelaskan peranan paku (Pteridophyta) bagi manusia
II. Materi Ajar
a. Ciri-ciri
‐ Merupakan kormophyta berspora dilihat dari pembuluhnya merupakan tumbuhan
tracheophyta.
‐ Ada dua generasi yang hidup terpisah, yaitu fase sporofit (penghasil spora) yang
bersifat dominan dan fase gametofit (penghasil gamet). Tumbuhan paku yang
biasanya menjadi tanaman hias merupkan fase sporofit.
‐ Mempuyai batang berupa akar tinggal (rhizome) yang terdapat di dalam tanah.
‐ Tumbuhan paku menghasilkqn spora di daun (sporofil) pada struktur yang disebut
sorus.
‐ Umumnya memiliki batang yang berada dalam tanah (rhizome) dan memiliki akar
semu (rhizoid). Daun muda yang baru muncul tampak menggulung.
b. Reproduksi
‐ Secara seksual bereproduksi dengan menghasikan spora. Sedangkan secara seksual
terjadi dengan peleburan gamet jantan yang dihasilkan anteridium dan gamet betina
yang dihasilkan arkegonium.
‐ Mengalami pergiliran keturunan (metagenesis) antara fase gametofit dan sporofit.
c. Pernanan tumbuhan paku
Beberapa anggota paku yang bermanfaat bagi manusia adalah :
‐ Marsilea crenata (semanggi) dimakan sebagai sayur.
‐ Selaginella plana (paku rane) sebagai obat.
‐ Azolla piñata sebagai pupuk hijau tanaman padi di sawah.
102 ‐
III.
IV.
•
Asplenidum nidus (paku sarang burung), Adiantum cuneatum (suplir), dan
Platycerum bifurcatum (paku tanduk rusa) sebagai tanaman hias.
Metode Pembelajaran
Ceramah- tanya jawab
Langkah-Langkah Pembelajaran
Pertemuan ke-2 (2 jam pelajaran)
A. Kegiatan awal
• Guru menanyakan beberapa jenis tumbuhan yang sudah dikenal siswa.
B. Kegiatan inti
• Guru menyampaikan materi tentang ciri-ciri tumbuhan paku, klasifikasinya, dan
peranannnya.
• Guru melakukan pembelajaran dengan dua arah dengan membuka tanya jawab
• Guru memberikan penekanan tentang materi yang disampaikan
C. Kegiatan akhir
• Guru meminta siswa mengulang materi yang telah disampaikan sambil
manyimpulkan materi
•
Guru memberikan tugas kepada siswa
•
Guru menyampaikan materi yang akan datang
•
Guru memberikan motivasi
VI. Alat/ Bahan/ Sumber
• Buku Seribu Pena Biologi SMA/MA Kelas X, Erlangga
• Buku Seri Pendalaman Materi Biologi SMA/MA, Erlangga
• Buku Biologi SMA kelas X, Esis, Bab VI
• Berbagai tumbuhan yang bisa dijumpai di sekitar siswa
VI. Penilaian
• Uji kompetensi tertulis
103 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Pertemuan
Alokasi Waktu
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Tujuan
: Biologi
: X (Sepuluh)/ II (Dua)
: 3
: 2 jam pelajaran
: 3. Memahami manfaat keanekaragaman hayati
: 3.3 Mendeskripsikan ciri-ciri Divisio dalam dunia tumbuhan dan
peranannya bagi kelangsungan hidup di bumi.
: Siswa mampu mendeskripsikan ciri-ciri tumbuhan biji,
mengklasifikasikan tumbuhan biji, dan peranan tumbuhan biji
I. Indikator
•
Mendeskripsikan ciri umum tumbuhan berbiji (spermatophyta)
•
Mengklasifikasikan tumbuhan berbiji (spermatophyta)
•
Menjelaskan peranan tumbuhan berbiji (spermatophyta) bagi manusia.
II. Materi Ajar
a. Ciri-ciri
‐ Mempunyai ciri khas, yaitu menghasilkan biji yang terbentuk dari proses
pembuahan.
‐ Biji mengandung calon individu baru, yaitu tembaga.
b. Klasifikasi Spermathophyta
Spermatophyta dibedakan menjadi dua subdivisi, yaitu :
‐ Gymnospermae
• Bakal biji tumbuh pada permukaan megasporofil (daun buah). Biji tidak
dilingkupi oleh buah tetapi berada dalam sisik-sisik strobilus.
• Tidak mempunyai bunga yang sesungguhnya tetapi membentuk strobilus
jantan dan strobilus betina.
• Penyerbukan terjadi dengan perantaraan angin. Serbuk sari kemudian akan
membuahi bakal biji.
• Gymnospermae dibagi menjadi beberapa kelas, yaitu Cycadinae (contoh:
Cycas rumpii atau pakis haji), Cinifera (contoh: Agahtis alba atau dammar
dan Pinus merkusii atau pinus), Gnetinae (contoh : Gnetum genemon atau
melinjo), dan Gingkoinae (contoh: Ginkgo biloba).
‐ Angiospermae (berbiji tertutuP) mempunyai cirri-ciri, yaitu :
• Bakal biji dilindungi oleh bakal buah atau daun-daun buah (karpela).
• Mempunyai buah sesungguhnya
• Terjadi peleburan gamet jantan dan gamet betina yang didahului oleh
penyerbukan (jatuhn ya serbuk sari di kepala putik).
104 •
Angiospermae dibedakan menjadi monokotil (berkeping satu) dan dikotil
(berkeping dua). Perbedaan karakteristik antara monokotil dan dikotil
adalah sebagai berikut :
Karakteristik
Monokotil
Dikotil
Kotiledon
1 buah
2 buah
Sistem perakaran
Serabut
Tunggang
Pertulangan daun
Sejajar/ melengkung
Menyirip/ menjari
Jumlah bagian bunga
Kelipatan tiga
Kelipatan empat/lima
Cambium
Tak berkambium
Berkambium
c. Peranan
Beberapa anggota spermatophyte bermanfaat bagi manusia adalah :
‐ Jagung, padi, dan gandum sebagai bahan pangan pokok.
‐ Kubis, wortel, dan tomat sebagai sumber serat, vitamin, dan protein nabati.
‐ Kapas sebagai sumber bahan pandang.
‐ Jahe, mengkudu, dan mahkota dewa sebagai sumber obat-obatan.
‐ Kunyit, kuncir, dan bawang sebagai bumbu dapur.
III.
IV.
•
Metode Pembelajaran
Ceramah- tanya jawab
Langkah-Langkah Pembelajaran
Pertemuan ke- 3 (2 jam pelajaran)
A. Kegiatan awal
• Guru menanyakan beberapa jenis tumbuhan yang sudah dikenal siswa.
B. Kegiatan inti
• Guru menyampaikan materi tentang ciri-ciri tumbuhan biji, klasifikasi, dan
peranannnya.
• Guru melakukan pembelajaran dengan dua arah dengan membuka tanya jawab
• Guru memberikan penekanan tentang materi yang disampaikan
C. Kegiatan akhir
• Guru meminta siswa mengulang materi yang telah disampaikan sambil
manyimpulkan materi
105 •
Guru memberikan tugas kepada siswa
•
Guru menyampaikan materi yang akan datang
•
Guru memberikan motivasi
V. Alat/ Bahan/ Sumber
• Buku Seribu Pena Biologi SMA/MA Kelas X, Erlangga
• Buku Seri Pendalaman Materi Biologi SMA/MA, Erlangga
• Buku Biologi SMA kelas X, Esis, Bab VI
• Berbagai tumbuhan yang bisa dijumpai di sekitar siswa
VI. Penilaian
• Uji kompetensi tertulis
106 Lampiran : 17
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Kelas Eksperimen
Pertemuan ke- 1
Satuan Pendidikan
: SMA
Kelas/ Semester
: X/ 2
Mata Pelajaran
: Biologi
Pokok Bahasan
: Plantae
Sub Pokok Bahasan : Lumut
Metode
: Partisipatif (Tanya jawab, inkuiri, diskusi)
Alokasi Waktu
: 2 X 45’
A. Standar Kompetisi : 3. Memahami manfaat keanekaragaman hayati
B. Kompotensi Dasar : 3.3 Mendeskripsikan ciri-ciri Divisio dalam dunia tumbuhan dan
peranannya bagi kelangsungan hidup di bumi.
C. Indikator :
Mendeskripsikan ciri umum dunia tumbuhan
Menyusun klasifikasi dunia tumbuhan
Mendeskripsikan ciri-ciri umum tumbuhan lumut (Bryophyta)
Menjelaskan peranan lumut bagi manusia.
D. Sarana dan Sumber Belajar
1. Sarana :
‐ Karton bergambar
‐ Laptop
‐ LCD
2. Sumber belajar
‐ LKS
‐
Buku Seribu Pena Biologi SMA/MA Kelas X, Erlangga
‐
Buku Seri Pendalaman Materi Biologi SMA/MA, Erlangga
‐
Berbagai tumbuhan yang bisa dijumpai di sekitar siswa
E. Uraian Materi
1. Ciri-ciri umum plantae
Setiap organism yang termasuk ke dalam kelompok plantae, memiliki ciri :
a. Bersifatmultiseluler dan fotoautotof karena mempunyai kloroplas.
b. Sel-selnya mempunyai dinding sel.
c. Ada yang sudah memiliki akr, batang, dan daun sejati (kormus/kormophyta),
dan ada
juga yang belum memiliki akar, batang, dan daun sejati
(thalus/thallophyta).
d. Ada yang tidak mempunyai pembuluh angkut (atracheophyta), dan ada juga
yang mempunyai pembuluh angkut (tracheophyta).
e. Dibedakan menjadi tiga division, yaitu tumbuhan lumut (Bryophyta),
tumbuhan paku (Pteridophyta), dan tumbuhan berbiji (Spermathophyta).
2. Bryophyte (Tumbuhan Lumut)
a. Ciri-ciri
107 ‐
Merupakan tumbuhan atracheophyta (tidak memiliki pembuluh angkut)
dan peralihan antara kormophyta dan thallophyta.
‐ Habitat di tempat teduh dan lembap
‐ Mengalami pergiliran keturunan (metagenesis).
‐ Struktur tumbuhan lumut : Thalus, tumbuhan fase gametofit, rhizoid,
tumbuhan fase sporofit, dan sporangium.
b. Reproduksi
‐ Secara aseksual reproduksi dilakukan dengan menghasilkan spora.
Sedangkan secara seksual dengan peleburan gamet jantan (spermatozoid)
yang dihasilkan anteridium dan gamet betina (ovum) yang dihasilkan
arkegonium.
‐ Salah satu cirri tumbuhan lumut adalah mengalami pergiliran keturunan
(metagenesis) antara fase sporofit dan gametofit.
c. Peranan Tumbuhan Lumut
Beberapa anggota kelompok lumut yang bermanfaat bagi manusia adalah :
‐ Marchantia untuk obat penyakit hati (hepar)
‐ Sphagnum untuk bahan pembalut dan bahan bakar
F. Langkah Pembelajaran
Pengalaman Belajar
Waktu
I.
Pendahuluan
‐ Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam,
kemudian memeriksa kehadiran siswa.
‐ Guru memberi apersepsi dengan memberikan pertanyaan
sebagai berikut :
¾ Kalian pernah makan sayur-sayuran?
¾ Berikan contoh?
‐ Guru menarik minat siswa terhadap topic yang akan dipelajari
dengan menginformasikan indicator yang harus dicapai dan
menginformasikan materi yang akan dipelajari
‐ Guru memunculkan permasalahan yang berkaitan dengan
materi yang akan dipelajari, dengan mengungkapkan :
¾ Kalian pernah mengamati tumbuhan?
¾ Apa yang kalian temukan dari tumbuhan?
‐ Guru memberikan tanggapan atas jawaban siswa dengan tidak
langsung membenarkan atau menyalahkan
II.
Kegiatan Inti
Tahap Pembinaan Keakraban
Guru membagi siswa menjadi 4 kelompok. Pembagian kelompok
dilakukan oleh siswa itu sendiri agar siswa merasa nyaman dan
lebih tercipta keakraban di antara siswa
Tahap Identifikasi Kebutuhan Sumber dan Kemungkinan
Hambatan
‐ Guru menanyakan kepada setiap kelompok tentang sumber
belajar yang sudah dimiliki.
‐ Guru memberikan sumber belajar untuk yang tidak memiliki.
Tahap Perumusan Tujuan Belajar
‐ Guru menginformasikan tujuan belajar yang akan dicapai
108 III.
kepada siswa agar proses belajar mengajar dapat lebih terarah
Tahap Penyusunan Program Kegiatan Pembelajaran
‐ Guru menerangkan langkah-langkah yang akan dilakukan
dalam kegiatan pembelajaran kepada siswa
‐ Guru member tanggapan ababila ada yang tidak dimengerti
oleh siswa dari langkah-langkah tersebut.
Tahap Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran
‐ Guru menunjukkan alat-alat yang akan digunakan dalam
pembelajaran yaitu karton bergambar, kertas bergambar,
gunting dan lem.
‐ Guru membimbing siswa dalam melakukan pengamatan
terhadap gambar dalam karton.
‐ Guru membimbing siswa untuk menyelesaikan LKS dan
membantu siswa untuk menyimpulkan konsep dengan
memberikan pertanyaan agar hasil yang diperoleh lebih
terarah.
¾ Dari hasil kegiatan 1, coba masing-masing kelompok
tuliskan hasil yang telah diperoleh?
¾ Menurut kalian apakah cirri-ciri tumbuhan?
¾ Cirri-ciri apa yang dimiliki oleh lumut?
¾ Apa perbedaan dari tumbuhan 1 dengan lumut?
¾ Coba simpulkan hasil kegiatan 1!
¾ Sekarang tuliskan hasil dari kegiatan 2!
¾ Apa yang terjadi pada system reproduksi lumut!
¾ Bagaimana system reproduksi lumut!
¾ Simpulkan kegiatan 2!
¾ Tuliskan peranan lumut yang kalian ketahui?
Tahap Penilaian Proses, Hasil, dan Pengaruh Kegiatan
Pembelajaran
‐ Guru meminta masing-masing kelompok menuliskan apakah
tujuan telah tercapai dan pengaruh apa yang dirasakan setelah
melakukan percobaan
Penutup
‐ Pada akhir kegiatan pembelajaran guru memberikan penguatan
terhadap konsep yang telah dipelajari pada pertemuan ini
‐ Guru meminta satu atau dua orang siswa untuk merefleksikan
konsep yang telah dipelajari.
‐ Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
tentang konsep yang telah dipelajari.
‐ Guru menginformasikan materi yang akan dipelajari pada
pertemuan selanjutnya dan menyuruh siswa untuk
mempelajarinya.
‐ Pembelajaran ditutup dengan doa dan salam.
109 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Kelas Eksperimen
Pertemuan ke- 2
Satuan Pendidikan
: SMA
Kelas/ Semester
: X/ 2
Mata Pelajaran
: Biologi
Pokok Bahasan
: Plantae
Sub Pokok Bahasan : Tumbuhan Paku
Metode
: Partisipatif (Tanya jawab, inkuiri, diskusi)
Alokasi Waktu
: 2 X 45’
A. Standar Kompetisi : 3. Memahami manfaat keanekaragaman hayati
B. Kompotensi Dasar : 3.3 Mendeskripsikan ciri-ciri Divisio dalam dunia tumbuhan dan
peranannya bagi kelangsungan hidup di bumi.
C. Indikator :
Mendeskripsikan ciri umum tumbuhan paku (Pteridophyta)
Mengklasifikasikan tumbuhan paku (Pteridophyta)
Menjelaskan peranan paku (Pteridophyta) bagi manusia
D. Sarana dan Sumber Belajar
3. Sarana :
‐ Paku kawat
‐ Kertas bergambar
‐ Gunting
‐ Lem
4. Sumber belajar
‐ LKS
‐
Buku Seribu Pena Biologi SMA/MA Kelas X, Erlangga
‐
Buku Seri Pendalaman Materi Biologi SMA/MA, Erlangga
‐
Berbagai tumbuhan yang bisa dijumpai di sekitar siswa
E. Uraian Materi
a. Ciri-ciri
‐ Merupakan kormophyta berspora dilihat dari pembuluhnya merupakan tumbuhan
tracheophyta.
‐ Ada dua generasi yang hidup terpisah, yaitu fase sporofit (penghasil spora) yang
bersifat dominan dan fase gametofit (penghasil gamet). Tumbuhan paku yang
biasanya menjadi tanaman hias merupkan fase sporofit.
‐ Mempuyai batang berupa akar tinggal (rhizome) yang terdapat di dalam tanah.
‐ Tumbuhan paku menghasilkqn spora di daun (sporofil) pada struktur yang
disebut sorus.
‐ Umumnya memiliki batang yang berada dalam tanah (rhizome) dan memiliki
akar semu (rhizoid). Daun muda yang baru muncul tampak menggulung.
b. Reproduksi
110 ‐
Secara seksual bereproduksi dengan menghasikan spora. Sedangkan secara
seksual terjadi dengan peleburan gamet jantan yang dihasilkan anteridium dan
gamet betina yang dihasilkan arkegonium.
‐ Mengalami pergiliran keturunan (metagenesis) antara fase gametofit dan sporofit.
c. Pernanan tumbuhan paku
Beberapa anggota paku yang bermanfaat bagi manusia adalah :
‐ Marsilea crenata (semanggi) dimakan sebagai sayur.
‐ Selaginella plana (paku rane) sebagai obat.
‐ Azolla piñata sebagai pupuk hijau tanaman padi di sawah.
‐ Asplenidum nidus (paku sarang burung), Adiantum cuneatum (suplir), dan
Platycerum bifurcatum (paku tanduk rusa) sebagai tanaman hias.
F. Langkah Pembelajaran
Pengalaman Belajar
Waktu
IV. Pendahuluan
‐ Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam, kemudian
memeriksa kehadiran siswa.
‐ Guru memberi apersepsi dengan memberikan pertanyaan sebagai
berikut :
¾ Pernahkah kalian menanam tanaman hias?
¾ Sebutkan contohnya?
‐ Guru menarik minat siswa terhadap topik yang akan dipelajari dengan
menginformasikan
indikator
yang
harus
dicapai
dan
menginformasikan materi yang akan dipelajari
‐ Guru memunculkan permasalahan yang berkaitan dengan materi yang
akan dipelajari, dengan mengungkapkan :
¾ Apakah kalian tahu cirri-ciri dari tanaman hias tersebut?
¾ Kalian tahu bagaimana cara reproduksinya?
‐ Guru memberikan tanggapan atas jawaban siswa dengan tidak
langsung membenarkan atau menyalahkan
V. Kegiatan Inti
Tahap Pembinaan Keakraban
‐ Guru membagi siswa menjadi 4 kelompok. Pembagian kelompok
dilakukan oleh siswa itu sendiri agar siswa merasa nyaman dan lebih
tercipta keakraban di antara siswa
Tahap Identifikasi Kebutuhan Sumber dan Kemungkinan
Hambatan
‐ Guru menanyakan kepada setiap kelompok tentang sumber belajar
yang sudah dimiliki.
‐ Guru memberikan sumber belajar untuk yang tidak memiliki.
Tahap Perumusan Tujuan Belajar
‐ Guru menginformasikan tujuan belajar yang akan dicapai kepada
siswa agar proses belajar mengajar dapat lebih terarah
Tahap Penyusunan Program Kegiatan Pembelajaran
111 ‐ Guru menerangkan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam
kegiatan pembelajaran kepada siswa
‐ Guru member tanggapan ababila ada yang tidak dimengerti oleh siswa
dari langkah-langkah tersebut.
Tahap Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran
‐ Guru menunjukkan alat-alat yang akan digunakan dalam
pembelajaran yaitu paku-pakuan, kertas bergambar, gunting
dan lem.
‐ Guru membimbing siswa dalam melakukan pengamatan
terhadap tanaman paku.
‐ Guru membimbing siswa untuk menyelesaikan LKS dan
membantu siswa untuk menyimpulkan konsep dengan
memberikan pertanyaan agar hasil yang diperoleh lebih
terarah.
¾ Dari hasil kegiatan 1, coba masing-masing kelompok
tuliskan hasil yang telah diperoleh?
¾ Menurut kalian apakah cirri-ciri pteridophyta?
¾ Coba simpulkan hasil kegiatan 1!
¾ Sekarang tuliskan hasil dari kegiatan 2!
¾ Apa yang terjadi pada system reproduksi Pteridophyta!
¾ Apakah mengalami pergiliran keturunan?
¾ Simpulkan kegiatan 2!
¾ Tuliskan peranan Pteridophyta yang kalian ketahui?
TahTahap Penilaian Proses, Hasil, dan Pengaruh Kegiatan
Pembelajaran
‐ Guru meminta masing-masing kelompok menuliskan apakah tujuan
telah tercapai dan pengaruh apa yang dirasakan setelah melakukan
percobaan
VI. Penutup
‐ Pada akhir kegiatan pembelajaran guru memberikan penguatan
terhadap konsep yang telah dipelajari pada pertemuan ini
‐ Guru meminta satu atau dua orang siswa untuk merefleksikan konsep
yang telah dipelajari.
‐ Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang
konsep yang telah dipelajari.
‐ Guru menginformasikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan
selanjutnya dan menyuruh siswa untuk mempelajarinya.
‐ Pembelajaran ditutup dengan doa dan salam.
112 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Kelas Eksperimen
Pertemuan ke- 3
Satuan Pendidikan
: SMA
Kelas/ Semester
: X/ 2
Mata Pelajaran
: Biologi
Pokok Bahasan
: Plantae
Sub Pokok Bahasan : Tumbuhan Biji
Metode
: Partisipatif (Tanya jawab, inkuiri, diskusi)
Alokasi Waktu
: 2 X 45’
A. Standar Kompetisi : 3. Memahami manfaat keanekaragaman hayati
B. Kompotensi Dasar : 3.3 Mendeskripsikan ciri-ciri Divisio dalam dunia tumbuhan dan
peranannya bagi kelangsungan hidup di bumi.
C. Indikator :
Mendeskripsikan ciri umum tumbuhan berbiji (spermatophyta)
Mengklasifikasikan tumbuhan berbiji (spermatophyta)
Menjelaskan peranan tumbuhan berbiji (spermatophyta) bagi manusia.
D. Sarana dan Sumber Belajar
1. Sarana :
‐ Bunga rose
‐ Buah melinjo
‐ Buah jeruk
‐ Pohon mangga
‐ Pohon pisang
‐ Gunting
‐ Lem
‐ Kertas bergambar
2. Sumber belajar
‐ LKS
‐ Buku paket sains Biologi SMA X
E. Uraian Materi
a. Ciri-ciri
‐ Mempunyai ciri khas, yaitu menghasilkan biji yang terbentuk dari proses
pembuahan.
‐ Biji mengandung calon individu baru, yaitu tembaga.
b. Klasifikasi Spermathophyta
Spermatophyta dibedakan menjadi dua subdivisi, yaitu :
‐ Gymnospermae
• Bakal biji tumbuh pada permukaan megasporofil (daun buah). Biji
tidak dilingkupi oleh buah tetapi berada dalam sisik-sisik strobilus.
• Tidak mempunyai bunga yang sesungguhnya tetapi membentuk
strobilus jantan dan strobilus betina.
113 •
‐
Penyerbukan terjadi dengan perantaraan angin. Serbuk sari kemudian
akan membuahi bakal biji.
• Gymnospermae dibagi menjadi beberapa kelas, yaitu Cycadinae
(contoh: Cycas rumpii atau pakis haji), Cinifera (contoh: Agahtis alba
atau dammar dan Pinus merkusii atau pinus), Gnetinae (contoh :
Gnetum genemon atau melinjo), dan Gingkoinae (contoh: Ginkgo
biloba).
Angiospermae (berbiji tertutuP) mempunyai cirri-ciri, yaitu :
• Bakal biji dilindungi oleh bakal buah atau daun-daun buah (karpela).
• Mempunyai buah sesungguhnya
• Terjadi peleburan gamet jantan dan gamet betina yang didahului oleh
penyerbukan (jatuhn ya serbuk sari di kepala putik).
• Angiospermae dibedakan menjadi monokotil (berkeping satu) dan
dikotil (berkeping dua). Perbedaan karakteristik antara monokotil dan
dikotil adalah sebagai berikut :
Karakteristik
Monokotil
Dikotil
Kotiledon
1 buah
2 buah
Sistem perakaran
serabut
Tunggang
Pertulangan daun
Sejajar/ melengkung
Menyirip/ menjari
Jumlah bagian bunga Kelipatan tiga
Kelipatan empat/lima
Cambium
Tak berkambium
Berkambium
c. Peranan
Beberapa anggota spermatophyte bermanfaat bagi manusia adalah :
‐ Jagung, padi, dan gandum sebagai bahan pangan pokok.
‐ Kubis, wortel, dan tomat sebagai sumber serat, vitamin, dan protein nabati.
‐ Kapas sebagai sumber bahan pandang.
‐ Jahe, mengkudu, dan mahkota dewa sebagai sumber obat-obatan.
‐ Kunyit, kuncir, dan bawang sebagai bumbu dapur.
F. Langkah Pembelajaran
Pengalaman Belajar
Waktu
I. Pendahuluan
‐ Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam, kemudian
memeriksa kehadiran siswa.
‐ Guru memberi apersepsi dengan memberikan pertanyaan sebagai berikut
:
¾ Kalian pernah memanjat pohon?
¾ Contoh pohon apa yang pernah kalian panjat?
‐ Guru menarik minat siswa terhadap topic yang akan dipelajari dengan
menginformasikan indicator yang harus dicapai dan menginformasikan
materi yang akan dipelajari
‐ Guru memunculkan permasalahan yang berkaitan dengan materi yang
akan dipelajari, dengan mengungkapkan :
114 ¾ Kalian tahu, buah-buahan yang dimakan berasal dari tumbuhan
apa?
¾ Kenapa paku-pakuan tidak menghasilkan buah?
‐ Guru memberikan tanggapan atas jawaban siswa dengan tidak langsung
membenarkan atau menyalahkan
II. Kegiatan Inti
Tahap Pembinaan Keakraban
‐ Guru membagi siswa menjadi 4 kelompok. Pembagian kelompok
dilakukan oleh siswa itu sendiri agar siswa merasa nyaman dan lebih
tercipta keakraban di antara siswa
Tahap Identifikasi Kebutuhan Sumber dan Kemungkinan Hambatan
‐ Guru menanyakan kepada setiap kelompok tentang sumber belajar yang
sudah dimiliki.
‐ Guru memberikan sumber belajar untuk yang tidak memiliki.
Tahap Perumusan Tujuan Belajar
‐ Guru menginformasikan tujuan belajar yang akan dicapai kepada siswa
agar proses belajar mengajar dapat lebih terarah
Tahap Penyusunan Program Kegiatan Pembelajaran
‐ Guru menerangkan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam kegiatan
pembelajaran kepada siswa
‐ Guru member tanggapan ababila ada yang tidak dimengerti oleh siswa
dari langkah-langkah tersebut.
Tahap Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran
‐ Guru menunjukkan alat-alat yang akan digunakan dalam
pembelajaran yaitu pohon,Buah-buahan, kertas bergambar,
gunting dan lem.
‐ Guru membimbing siswa dalam melakukan pengamatan
terhadap tanaman buah jeruk dan melinjo lalu pengamatan
terhadap pohon mangga dan pisang.
‐ Guru membimbing siswa untuk menyelesaikan LKS dan
membantu siswa untuk menyimpulkan konsep dengan
memberikan pertanyaan agar hasil yang diperoleh lebih terarah.
¾ Dari hasil kegiatan 1, coba masing-masing kelompok
tuliskan hasil yang telah diperoleh?
¾ Menurut kalian apa bedanya biji buah jeruk dengan buah
melinjo?
¾ Lalu apa bedanya akar, daun, dan batang pohon mangga
dengan pohon pisang!
¾ Coba simpulkan hasil kegiatan 1!
¾ Sekarang tuliskan hasil dari kegiatan 2!
¾ Bagaimana system reproduksi pada spermatophyte?
¾ Simpulkan kegiatan 2!
¾ Tuliskan peranan Spermatophyta yang kalian ketahui?
Tahap Penilaian Proses, Hasil, dan Pengaruh Kegiatan Pembelajaran
‐ Guru meminta masing-masing kelompok menuliskan apakah tujuan telah
tercapai dan pengaruh apa yang dirasakan setelah melakukan percobaan
115 III.
Penutup
‐ Pada akhir kegiatan pembelajaran guru memberikan penguatan terhadap
konsep yang telah dipelajari pada pertemuan ini
‐ Guru meminta satu atau dua orang siswa untuk merefleksikan konsep
yang telah dipelajari.
‐ Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang
konsep yang telah dipelajari.
‐ Guru menginformasikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan
selanjutnya dan menyuruh siswa untuk mempelajarinya.
‐ Pembelajaran ditutup dengan doa dan salam.
99 Plantae (Tumbuhan)
A. Briophyta
1. Ciri-ciri umum plantae
Setiap organism yang termasuk ke dalam kelompok plantae, memiliki cirri :
a. Bersifatmultiseluler dan fotoautotof karena mempunyai kloroplas.
b. Sel-selnya mempunyai dinding sel.
c. Ada yang sudah memiliki akr, batang, dan daun sejati
(kormus/kormophyta), dan ada juga yang belum memiliki akar, batang,
dan daun sejati (thalus/thallophyta).
d. Ada yang tidak mempunyai pembuluh angkut (atracheophyta), dan ada
juga yang mempunyai pembuluh angkut (tracheophyta).
e. Dibedakan menjadi tiga division, yaitu tumbuhan lumut (Bryophyta),
tumbuhan paku (Pteridophyta), dan tumbuhan berbiji (Spermathophyta).
2. Bryophyte (Tumbuhan Lumut)
a. Ciri-ciri
‐ Merupakan tumbuhan atracheophyta (tidak memiliki pembuluh angkut)
dan peralihan antara kormophyta dan thallophyta.
‐ Habitat di tempat teduh dan lembap
‐ Mengalami pergiliran keturunan (metagenesis).
‐ Struktur tumbuhan lumut : Thalus, tumbuhan fase gametofit, rhizoid,
tumbuhan fase sporofit, dan sporangium.
b. Reproduksi
‐ Secara aseksual reproduksi dilakukan dengan menghasilkan spora.
Sedangkan secara seksual dengan peleburan gamet jantan (spermatozoid)
yang dihasilkan anteridium dan gamet betina (ovum) yang dihasilkan
arkegonium.
‐ Salah satu cirri tumbuhan lumut adalah mengalami pergiliran keturunan
(metagenesis) antara fase sporofit dan gametofit.
c. Klasifikasi tumbuhan lumut
‐ Lumut daun ex : Sphagnum fimbriatum
‐ Lumut hati (Hepaticae) ex : Marchantia polymorpha
‐ Lumut tanduk (Anthocerotae) ex : Anthoceros laevis
d. Peranan Tumbuhan Lumut
Beberapa anggota kelompok lumut yang bermanfaat bagi manusia adalah
:
‐ Marchantia untuk obat penyakit hati (hepar)
‐ Sphagnum untuk bahan pembalut dan bahan bakar
B. Pteridophyta
a. Ciri-ciri
100 ‐
Merupakan kormophyta berspora dilihat dari pembuluhnya merupakan
tumbuhan tracheophyta.
‐ Ada dua generasi yang hidup terpisah, yaitu fase sporofit (penghasil spora)
yang bersifat dominan dan fase gametofit (penghasil gamet). Tumbuhan
paku yang biasanya menjadi tanaman hias merupkan fase sporofit.
‐ Mempuyai batang berupa akar tinggal (rhizome) yang terdapat di dalam
tanah.
‐ Tumbuhan paku menghasilkqn spora di daun (sporofil) pada struktur yang
disebut sorus.
‐ Umumnya memiliki batang yang berada dalam tanah (rhizome) dan
memiliki akar semu (rhizoid). Daun muda yang baru muncul tampak
menggulung.
b. Reproduksi
‐ Secara seksual bereproduksi dengan menghasikan spora. Sedangkan secara
seksual terjadi dengan peleburan gamet jantan yang dihasilkan anteridium
dan gamet betina yang dihasilkan arkegonium.
‐ Mengalami pergiliran keturunan (metagenesis) antara fase gametofit dan
sporofit.
c. Klasifikasi tumbuhan paku
‐ Psilophyta (paku purba) ex : Psilotum nudum (bersifat homospora)
‐ Lycopodiophyta (Paku Kawat) ex: Lycopodium cernuum (bersifat
heterospora)
‐ Equisetophyta (Paku ekor kuda) ex : Equisetum debile (bersifat peralihan
antara homospora dengan heterospora
‐ Pterophyta (Paku sejati) ex: suplir (Adiantum cuneatum) semanggi
(Marcelia cranata) paku sarang burung (Asplenium nidus)
d. Pernanan tumbuhan paku
Beberapa anggota paku yang bermanfaat bagi manusia adalah :
‐ Marsilea crenata (semanggi) dimakan sebagai sayur.
‐ Selaginella plana (paku rane) sebagai obat.
‐ Azolla piñata sebagai pupuk hijau tanaman padi di sawah.
‐ Asplenidum nidus (paku sarang burung), Adiantum cuneatum (suplir), dan
Platycerum bifurcatum (paku tanduk rusa) sebagai tanaman hias.
C. Spermatophyta
a. Ciri-ciri
‐ Mempunyai ciri khas, yaitu menghasilkan biji yang terbentuk dari proses
pembuahan.
‐ Biji mengandung calon individu baru, yaitu tembaga.
b. Klasifikasi Spermathophyta
101 Spermatophyta dibedakan menjadi dua subdivisi, yaitu :
‐ Gymnospermae
•
Bakal biji tumbuh pada permukaan megasporofil (daun buah). Biji tidak
dilingkupi oleh buah tetapi berada dalam sisik-sisik strobilus.
•
Tidak mempunyai bunga yang sesungguhnya tetapi membentuk strobilus
jantan dan strobilus betina.
•
Penyerbukan terjadi dengan perantaraan angin. Serbuk sari kemudian
akan membuahi bakal biji.
•
Gymnospermae dibagi menjadi beberapa kelas, yaitu Cycadinae (contoh:
Cycas rumpii atau pakis haji), Cinifera (contoh: Agahtis alba atau
dammar dan Pinus merkusii atau pinus), Gnetinae (contoh : Gnetum
genemon atau melinjo), dan Gingkoinae (contoh: Ginkgo biloba).
‐ Angiospermae (berbiji tertutuP) mempunyai cirri-ciri, yaitu :
•
Bakal biji dilindungi oleh bakal buah atau daun-daun buah (karpela).
•
Mempunyai buah sesungguhnya
•
Terjadi peleburan gamet jantan dan gamet betina yang didahului oleh
penyerbukan (jatuhn ya serbuk sari di kepala putik).
•
Angiospermae dibedakan menjadi monokotil (berkeping satu) dan
dikotil (berkeping dua). Perbedaan karakteristik antara monokotil dan
dikotil adalah sebagai berikut :
Karakteristik
Monokotil
Dikotil
Kotiledon
1 buah
2 buah
Sistem perakaran
Serabut
Tunggang
Pertulangan daun
Sejajar/ melengkung
Menyirip/ menjari
Jumlah
bagian Kelipatan tiga
Kelipatan empat/lima
bunga
Cambium
Tak berkambium
Berkambium
Contoh
Karet, tomat, jambu, Kelapa, padi, pisang, jahe,
kacang bincis, petai,
angrek,
kapas
c. Peranan
Beberapa anggota spermatophyte bermanfaat bagi manusia adalah :
‐ Jagung, padi, dan gandum sebagai bahan pangan pokok.
‐ Kubis, wortel, dan tomat sebagai sumber serat, vitamin, dan protein
nabati.
‐ Kapas sebagai sumber bahan pandang.
‐ Jahe, mengkudu, dan mahkota dewa sebagai sumber obat-obatan.
‐ Kunyit, kuncir, dan bawang sebagai bumbu dapur.
116 Lampiran : 18 Lembar Kerja Siswa (Pertemuan 1) Kelas : Anggota : A. Tujuan ‐ Menyelidiki ciri‐ciri tumbuhan ‐ Menyelidiki ciri‐ciri tumbuhan lumut ‐ Menyelidiki peranan tumbuhan lumut B. Alat dan Bahan ‐ LCD C. Langkah Kerja Kegiatan 1 1. Perhatikan gambar tumbuhan berikut! a. Amati baik‐baik gambar 1 tumbuhan di atas! b. Sebutkan cirri‐ciri tumuhan dari gambar 1 1. 2. 3. 4. c. Apa nama tumbuhan dari gambar 2 di atas? d. Sebutkan cirri‐ciri tumbuhan gambar 2? Jelaskan ? e. Jelaskan kesimpulan yang kalian peroleh dari pengamatan di atas! Kegiatan 2 1. Perhatikan gambar 3? 2. Bagaimana system reproduksi pada lumut? 3. Jelaskan kesimpulan yang kalian peroleh dari kegiatan yang telah dilakukan! 4. Sebutkan peranan lumut? 117 Lembar Kerja Siswa (Pertemuan 2) Kelas : Anggota : A. Tujuan ‐ Menyelidiki ciri‐ciri tumbuhan pteridophyta ‐ Menyelidiki system reproduksi tumbuhan pteridophyta ‐ Menyelidiki peranan tumbuhan pterydophyta B. Alat dan Bahan ‐ Karton bergambar ‐ Gunting ‐ Lem ‐ Kertas bergambar C. Langkah Kerja Kegiatan 1 2. Perhatikan gambar tumbuhan berikut a. Amati baik‐baik gambar tumbuhan di atas! b. Beri keterangan sesuai nomor yang terdapat pada gambar! 1. 2. 3. 4. c. Dari gambar tumbuhan di atas, sebutkan ciri utama tumbuhan? Jelaskan? d. Jelaskan kesimpulan yang kalian peroleh dari pengamatan di atas! Kegiatan 2 1. Sesuaikan potongan‐potongan gambar dengan nomor kolom pada kertas LKS! 2. Bagaimana system reproduksi pada pteridophyta? 3. Jelaskan kesimpulan yang kalian peroleh dari kegiatan yang telah dilakukan! 118 Lembar Kerja Siswa (Pertemuan ke‐3) Kelas : Anggota : A. Tujuan ‐ Menyelidiki ciri‐ciri tumbuhan Spermatophyta ‐ Menyelidiki perbedaan tumbuhan angiospermae dan gymnospermae ‐ Menyelidiki perbedaan tumbuhan dikotil dan monokotil ‐ Menyelidiki peranan tumbuhan spermatophyta B. Alat dan Bahan ‐ Buah melinjo ‐ Buah jeruk ‐ Pohon Mangga ‐ Pohon pisang ‐ Lem ‐ Kertas bergambar C. Langkah Kerja Kegiatan 1 1. Perhatikan tumbuhan berikut! Buah 1 (melinjo) Buah 2 (jeruk) a. Amati baik‐baik buah 1 tumbuhan di atas! b. Beri penjelasan tentang bentuk buah, kulit, dan biji.! c. Dari buah 1 di atas, sebutkan ciri‐ciri gymnospermae! d. Beri penjelasan bentuk, kulit dan warna dari buah 2! e. Apa nama tumbuhan dari gambar 2? f. Dari ke dua buah di atas, carilah perbedaannya! Jelaskan? g. Jelaskan kesimpulan yang kalian peroleh dari pengamatan di atas! 2. Perhatikan pohon berikut! Pohon 1 (mangga) Pohon 2 (pisang) a. Amati baik‐baik pohon 1 tumbuhan di atas! b. Beri penjelasan tentang akar, bentuk daun, ada tidaknya kambium, bentuk bunga. c. Dari pohon 2 di atas, amati dan beri keterangan tentang akar, daun, batang, dan bunga! d. Mana yang termasuk tumbuhan dikotil dan mana tumbuhan monokotil! Jelaskan? e. Jelaskan kesimpulan yang kalian peroleh dari pengamatan di atas? Kegiatan 3 1. Sesuaikan potongan‐potongan gambar dengan nomor kolom pada kertas LKS! 2. Bagaimana system reproduksi pada spermatophyta? 3. Jelaskan kesimpulan yang kalian peroleh dari kegiatan yang telah dilakukan! Kegiatan 4 1. Tuliskan manfaat dari spermatophyta 
Download