Identifikasi Gen Penyandi Protein A Bakteri

advertisement
VETERINARIA
Vol. 3 No. 3, Nopember 2010
Bakteri Seluloltik untuk Meningkatkan Kualitas Pakan Komplit Berbasis Limbah
Pertanian
Cellulolityc Bacteria for Increasing Quality of Complete Feed from Waste Product
Tatik Hernawati, Mirni Lamid, Herry Agoes Hermadi, Sunaryo Hadi Warsito
Fakultas Kedokteran Hewan Unair
Kampus C Unair, Jl. Mulyorejo Surabaya-60115.
Telp. 031-5992785, Fax. 031-5993015
Email : [email protected]
Abstract
The aim this research was to study the crude fiber and crude protein of rice complete feed which
were fermented by cellulolityc bacteria for design study was Completely Randomized Design with three
treatments. Proximate analysis were done after complete feed fermented for seven days. The data were
analyzed with Analysis of Variance followed by Duncan’s Multiple Range Test. The result showed that the
effect of cellulolityc bacteria could decrease crude fiber of complete feed, PKP (17,19 %) and PKW (17,01
%) but were significantly lower (p<0.05) than PK (20,54 %) and could increasing crude protein of complete
feed, PKW (18,10%) and , PKP (17,77 %) but were significantly higher (p<0.05) than PK (14,98 %).
Keywords : complete feed, waste product, cellulolityc bacteria, crude fiber, crude protein
Pendahuluan
Populasi ternak domba di Kabupaten Sidoarjo
pada tahun 2003 sebanyak 19.614 ekor dan tahun
2004 mengalami penurunan populasi 14,6% yaitu
sebesar 16.756 ekor (BPS Kabupaten Sidoarjo,
2009). Penurunan populasi disebabkan disamping
pertumbuhan domba pada kelompok ternak
tersebut masih rendah hanya berkisar 30 - 40
gram/ekor/hari, juga adanya bencana Lumpur
Lapindo yang menyebabkan banyak kematian
ternak di Wilayah Kabupaten Sidoarjo. Pakan
merupakan biaya produksi yang terbesar dalam
usaha peternakan yaitu sekitar 60 – 80% dari biaya
produksi (Hardianto dkk., 2002); sehingga
penyusunan ransum tidak hanya harus mencukupi
kebutuhan nutrisi tetapi juga harus secara
ekonomis menguntungkan.
Adanya bencana lumpur panas Lapindo
memang menyebabkan kerusakan pada sebagian
lahan pertanian di beberapa daerah Wilayah
Kabupaten Sidoarjo, namum demikian dari lahan
yang ada masih mempunyai potensi untuk
menghasilkan limbah pertanian (jerami padi,
jerami kangkung , kulit gabah, jerami jagung,
tumpi jagung, dedak padi, batang jagung, batang
daun ubi jalar) yang cukup potensial. Limbah
pertanian ini mempunyai prospek sebagai bahan
baku pembuatan pakan komplit. Namun disisi lain
kendala pemanfaatan limbah pertanian adalah
rendahnya nilai nutrisi sehingga kecernaannya
menjadi rendah. Perlakuan biologis menggunakan
inokulum
bakteri
selulolitik
berperan
meningkatkan kualitas limbah pertanian sebagai
pakan ternak. Salah satu upaya meningkatkan nilai
nutrisi limbah pertanian dan aman penggunaannya
adalah dengan memanfaatkan jasa mikroba
khususnya
bakteri
selulolitik.
Rekayasa
bioteknologi dengan menggunakan isolat bakteri
selulolitik yang diperoleh dari cairan rumen sapi
diharapkan dapat melonggarkan ikatan kompleks
ligno-selulosa dan ligno-hemiselulosa pada limbah
pertanian. Cara ini lebih praktis dibandingkan
dengan cara fisik dan kimia, karena cukup dengan
menyebarkan inokulum bakteri pada substrat
limbah pertanian dan waktu fermentasi pada
limbah pertanian relatif lebih singkat. Bakteri
selulolitik mampu memproduksi enzim yang dapat
memecah komponen serat kasar menjadi
karbohidrat terlarut. Terdapat 3 (tiga) bentuk
enzim selulase, yaitu : komponen C1 ( -1, 4glucan
cellobiohydrolase
atau
exo- -1,4glucanase), komponen Cc (emdo- -1,4-glucanase)
dan komponen selobiase ( -glucocidase) (Howard
et al, 2003 ;Mathew et al., 2008) . Penggunaan
bakteri selulolitik sebagai inokulum diharapkan
mempunyai kemampuan dalam menguraikan
ikatan ligno-selulosa dan ligno-hemiselulosa,
205
Tatik Hernawati dkk. Bakteri Seluloltik untuk Meningkatkan ...
sehingga dapat mempercepat laju fermentasi
limbah pertanian.
Dalam upaya peningkatan kualitas
peternakan domba dan kambing dapat dilakukan
dengan memanfaatkan kemajuan teknologi
dibidang pakan ternak dengan membuat formula
pakan komplit berbasis limbah pertanian. Pakan
komplit yang dimaksud adalah suatu jenis pakan
ternak yang terdiri dari bahan hijauan dan
konsentrat dalam imbangan yang memadai dan
efisien (Reddy, 1988).
Berdasarkan pertimbangan tersebut
diatas perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui
pengaruh penggunakan bakteri selulolitik terhadap
kualitas pakan komplit berbasis limbah pertanian
dan hasil penelitian ini diaplikasikan untuk
meningkatkan produktivitas ternak domba di
Kecamatan Wonoayu dan Prambon.
Materi dan Metode Penelitian
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah bahan limbah pertanian yang terdiri dari :
katul, tumpi jagung, bungkil kopra, jerami
kangkung dan menir kedelai yang dikemas dalam
bentuk pakan komplit yang diperoleh dari
Kecamatan Wonoayu dan Prambon Kabupaten
Sidoarjo. Isolat bakteri yang digunakan adalah
bakteri seluloltik yang merupakan stok dari
Laboratorium
Makanan
Ternak
Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas
Airlangga
Surabaya.
Pelaksanaan Penelitian
Pada penelitian ini bahan-bahan limbah
limbah pertanian diperoleh dari 2 lokasi yaitu
Kecamatan Wonoayu (PKW) dan Kecamatan
Prambon (PKP) yang semuanya dibuat dalam
bentuk pakan komplit dengan iso protein (protein
kasar 12-13%). Selanjutnya semua bahan tersebut
ini dilakukan fermentasi menggunakan isolat
bakteri selulolitik yang diperam selama 7 hari.
Proses pengolahan pakan dilakukan dengan cara
mencampur semua bahan limbah pertanian yang
ada dan selanjutnya diproses dengan menggunakan
metode fermentasi. Semua bahan disemprot
dengan larutan yang terdiri dari bakteri selulolitik,
urea dan tetes secara merata, selanjutnya
dimasukkan dalam kantong plastik. Setelah proses
fermentasi selesai, pakan komplit dianginanginkan selanjutnya dilakukan analisis proksimat
untuk mengetahui kandungan protein kasar dan
serat kasar dengan metode AOAC (1990).
Rancangan penelitian yang digunakan adalah
Rancangan Acak Lengkap (RAL).
Adapun
perlakuan penelitian sebagai berikut :
206
PK = Pakan komplit (kontrol)
PKW = Pakan komplit +10 % bakteri selulolitik
PKP = Pakan komplit +10 % bakteri selulolitik
Ketiga
perlakuan
tersebut
diuji
pengaruhnya terhadap kandungan protein kasar
dan serat kasar.
Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini
dianalisis dengan uji F sesuai dengan mengunakan
Rancangan Acak Lengkap. Apabila perlakuan
memberikan perbedaan yang nyata dilanjutkan
dengan Uji Jarak Berganda Duncan’s Multiple
Test dengan menggunakan perangkat lunak SPSS
12.0.
Hasil dan Pembahasan
Kandungan Nutrisi Pakan
Kandungan nutrisi pakan komplit yang
digunakan dalam penelitian ini disajikan pada
Tabel 1.
Tabel 1 . Hasil Analisis Proksimat Pakan Komplit
(% BK)
Variabel
PK
PKW
PKP
Protein kasar
14,98 a
18,10 b
17,77 bc
Serat kasar
20,54 a
17,01 b
17,19 b
a,b,c superskrip yang berbeda pada baris yang
sama menunjukkan perbedaan yang nyata
(p<0,05)
Gambar 1. Hasil Analisis Proksimat Fermentasi
Pakan Komplit
Berdasarkan hasil Analisis of Varian
(Anova) dapat diketahui bahwa penambahan
bakteri selulolitik pada fermentasi pakan komplit
berpengaruh nyata terhadap kandungan protein
kasar dan serat kasar (p<0,05). Berdasarkan hasil
uji Jarak Berganda Duncan dapat diketahui bahwa
kandungan protein kasar tertinggi adalah PKP dan
PKW yang berbeda nyata (P<0,5) dengan PK.
VETERINARIA
Berdasarkan hasil uji Duncan dapat diketahui
bahwa kandungan serat kasar terendah adalah
PKW yang tidak berbeda nyata dengan PKP
(P>0,5), namun berbeda nyata (P<0,5) dengan PK.
Hasil penelitian ini menunjukkan terjadi
peningkatan kandungan protein kasar pakan
komplit yang difermentasi dengan menggunakan
bakteri selulolitik. Peningkatan kandungan protein
kasar terdapat pada PKW dan PKP, hal ini
disebabkan
peningkatan
aktivitas
bakteri
selulolitik dalam mengikat nitrogen sebagai bahan
dasar untuk sintesis protein, sehingga peningkatan
kadar nitrogen ini sangat menguntungkan bakteri
selulolitik untuk melakukan pertumbuhan dan
melakukan aktivitas secara optimal sehingga kadar
protein kasar pakan komplit meningkat lebih tinggi
dibandingkan dengan perlakuan PK (kontrol),
karena bakteri selulolitik merupakan protein sel
tunggal. Persentase bakteri selulolitik yang tinggi
dan tidak diimbangi dengan kandungan nutrisi
yang sesuai dapat menyebabkan aktivitas bakteri
selulolitik untuk tumbuh selama proses fermentasi
akan menjadi terhambat. Tanpa kandungan nutrisi
yang lengkap perombakan protein tidak dapat
berjalan optimal karena bakteri selulolitik tidak
akan hidup dan berkembang dengan baik.
Perkembangan dari mikroba tergantung pada
karbon yang tersedia, dengan meningkatnya
jumlah mikroba tersebut maka terjadi kompetisi
diantara mikroba untuk mendapatkan karbon,
sehingga ketersediaan karbon menjadi faktor
pembatas (Rifqiyah, 2005). Pada umumnya bakteri
selulolitik memerlukan sumber karbon berupa
bahan organik, vitamin dan beberapa mineral
sebagai energi untuk aktivitasnya (De Maria,
2002). Penambahan tetes pada fermentasi pakan
komplit dapat menyediakan sumber energi bagi
bakteri selulolitik untuk bekerja pada pakan yang
banyak mengandung serat kasar seperti selulosa
dan hemiselulosa. De Jong et al., (1991)
menyatakan bahwa tingginya kadar karbohidrat
(73,1 %) dan mineral (11,7 %) pada tetes mampu
menstimulir pertumbuhan bakteri selulolitik
sehingga protein kasar pakan komplit meningkat,
karena bakteri selulolitik ini merupakan protein sel
tunggal.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
terjadi penurunan kandungan serat kasar pakan
komplit yang difermentasi dengan menggunakan
bakteri selulolitik. Hasil terendah adalah PKP
(17,19%) dan PKW (17,01 %) yang berbeda nyata
dengan PK (20,54 %). Perlakuan yang
menunjukkan hasil terbaik dengan kandungan serat
kasar terendah adalah PKP dan PKW hal ini
disebabkan jumlah bakteri selulolitik sesuai
Vol. 3 No. 3, Nopember 2010
dengan sumber nutrisi yang tersedia sehingga tidak
terjadi kompetisi antar mikroba dan mikroba dapat
tumbuh secara optimal sehingga dalam melakukan
aktivitas mendegradasi selulosa dalam bahan
pakan lebih optimal dibandingkan dengan
perlakuan lainnya. Menurut Hardjo dkk. (1989)
ketersediaan nutrisi yang lebih besar daripada
jumlah populasi bakteri selulolitik dapat
menyebabkan laju pertumbuhan bakteri selulolitik
tidak
optimal.
Bakteri
selulolitik
akan
menghasilkan enzim selulase yang merupakan
enzim kompleks yang terdiri dari endoselulose dan
eksoselulose. Enzim ini akan memecah selulosa
menjadi selobiosa. Enzim yang mendegradasi
selulosa yaitu endoglukanase/karboksil metil
selulase (endo-1,4-β-glukanase), eksoglukanase /
selobiohidrolase
(ekso-1,4-β-glukanase)
dan
selobiase (β-glukosidase) (Hardjo dkk.,1989;
Schlegel and Schmidt, 1994). Endoglukanase
memecah selulosa menjadi selulo-oligosakarida /
selulodekstrin. Eksoglukanase memecah unit
glukosil
dari
selulo-oligosakarida
dengan
melepaskan selobiosa, kemudian selobiase
menghidrolisis selobiosa dan oligosakarida
menjadi glukosa (Hardjo dkk., 1989). Secara
umum hasil dari penelitian ini menunjukkan
bahwa penggunaan bakteri selulolitik sebagai
fermentor pada proses fermentasi pakan komplit
terbukti dapat menurunkan kandungan serat kasar
pakan komplit. Hal ini disebabkan karena bakteri
selulolitik mampu menghasilkan enzim selulase
yang dapat mendegradasi selulosa.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
bahan pakan limbah pertanian antara lain katul,
tumpi jagung, bungkil kopra, jerami kangkung,
menir kedelai dan tetes mempunyai prospek untuk
dikembangkan sebagai bahan baku pembuatan
pakan komplit, hal ini memberi indikasi bahwa
biodiversity bahan-bahan limbah pertanian yang
keberadaannya di pedesaan melimpah dapat
dimanfaatkan secara optimal dengan harga yang
relatif murah per kg pakan komplit sehingga
memberikan keuntungan bagi peternak. Hasil
evaluasi pemberian pakan komplit menghasilkan
pertambahan berat badan domba 1-1,3 kg/minggu,
dan hasil yang dicapai setelah dievaluasi ternyata
optimalisasi produksi domba dapat tercapai.
Kesimpulan
Penggunaan bakteri selulolitik dapat meningkatkan
kandungan protein kasar dan menurunkan serat
kasar pakan komplit berbasis limbah pertanian
dengan waktu pemeraman 7 hari.
207
Tatik Hernawati dkk. Bakteri Seluloltik untuk Meningkatkan ...
Daftar Pustaka
De Jong, R., Van Bruchem, J., Ibrahim, M.N.M.,
H. Purnomo. 1991. Livestock and Feed
Development In Tropis. Agricultural
University,
Wageningen,
The
Netherlands.
DeMaria,B.2000. Identification, production, and
assay for trichoderma.
Hardjo, S., N. S. Indrasti, dan T. Bantacut. 1989.
Biokonversi : Pemanfaatan Limbah
Industri Pertanian. PAU-Pangan dan Gizi.
Institut Pertanian Bogor.
Hardianto, R., D.E. Wahyono, C. Anam, Suryanto,
G. Kartono dan S.R.Soemarsono. 2002.
Kajian Teknologi Pakan Lengkap
(Complete
feed)
sebagai
peluang
agribisnis bernilai komersial di pedesaan.
Makalah Seminar dan Ekspose Teknologi
Spesifik Lokasi. Agustus 2002. Badan
Litbang Pertanian, JakartaHoward, R.L;
Abotsi, E; Jansen van Rensburg El and
Howard, S. 2003. African Journal of
Biotecnology . Vol. 2 (12). Pp. 602-619
Howard, R.L., P. , E. Abotsi, E.L.J. van Rensburg
and S. Howard. 2003.Lignocelluulose
biotechnology : Issue of bioconversion
and enzyme production. African J.
Biotechnology. 2 (12):602-619.
208
Mathew GM, RK Sukumaran, RR Singhania and
A Pandey. 2008. Progress in Reasearch on
Fungal Cellulases for Lignocellulose
Degradation. Journal of Scientific and
Industrial Research. Vo 67: 898-908.
Reddy, M.R. 1988. Complete Ration on Fibrous
Agricultural Residues for Ruminant. In :
Non Conventional Feed Resourcesd
Fibrous
for
Expanded
Utilation.
Proceeding of a Consultation Held in
Hisar, India, 21- 29 March 1988. Editor :
C. Davendra International Development
Research Center, Indian Council of
Agricultural Research. India.
Rifqiyah, N . 2005. Pengaruh Pemberian Probiotik
pada Jerami Padi Terhadap Kandungan
Protein Kasar dan Serat Kasar [skripsi].
Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas
Airlangga. Surabaya.
Schlegel, H.G dan K. Schmidt.1994. Mikrobiologi
Umum. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Download