penelitian - Poltekkes Tanjungkarang

advertisement
Jurnal Keperawatan, Volume XII, No. 1, April 2016
ISSN 1907 - 0357
PENELITIAN
KUALITAS TIDUR DAN DISTRESS PADA PASIEN KANKER
YANG MENJALANI KEMOTERAPI
Ririn Sri Handayani*, Giri Udani*
*Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Tanjungkarang
Insiden kanker di Indonesia diperkirakan 180 per 100.000 penduduk. Terapi kanker dapat dilakukan
dengan cara bedah, kemoterapi, radioterapi ataupun kombinasinya. Kemoterapi seringkali menimbulkan
efek samping yang tidak diinginkan oleh pasien seperti rambut rontok, kulit kehitaman, mual, muntah,
gangguan sel darah, kesemutan, kebas serta gangguan saraf tepi lainnya, Efek samping ini seringkali
mengganggu pola istirahat tidur pasien. Frekuensi pemberian kemoterapi dapat menimbulkan beberapa
efek yang dapat memperburuk status fungsional pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan kualitas tidur dengan tanda dan gejala distress pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi
di RSUDAM Provinsi Lampung Tahun 2015. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik korelasi
dengan desain cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di RSUDAM Provinsi Lampung pada bulan
Juli-Agustus 2015. Populasi yang diambil adalah semua pasien kanker yang menjalani kemoterapi di
RSUDAM Provinsi Lampung berjumlah 68 pasien. Pengambilan sampel menggunakan metode total
sampling. Pengumpulan dilakukan dengan survey menggunakan instrumen Pitsburg Sleep Quality Index
(PSQI) untuk meneliti kualitas tidur dan Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) untuk meneliti
distress. Analisis Bivariat dilakukan menggunakan Uji statistik Chi Square dengan menetapkan nilai
Alpha 0,05 dan 95% CI. Hasil penelitian menyimpulkan tidak ada hubungan kualitas tidur dengan tanda
dan gejala distress pada pasien yang menjalani kemoterapi di RSUDAM Provinsi Lampung tahun 2015.
Peneliti menyarankan agar dilakukan penelitian faktor lain yang berhubungan dengan tanda dan gejala
distress pada pasien yang menjalani kemoterapi.
Kata Kunci: Kualitas Tidur, Kemoterapi, Distress
LATAR BELAKANG
Sel tumor adalah sel tubuh yang
mengalami transformasi dan tumbuh
secara autonom lepas dari kendali
pertumbuhan sel normal sehingga sel ini
berbeda dari sel normal dalam bentuk dan
strukturnya. Perbedaan sifat sel tumor
tergantung pada besarnya penyimpangan
dalam bentuk dan fungsi, autonominya
dalam
pertumbuhan,
kemampuannya
mengadakan infiltrasi dan menyebabkan
metastasis. Sel tumor bersifat tumbuh terus
menerus tanpa batas sehingga makin lama
makin membesar dan mendesak jaringan
disekitarnya. Tumor ganas, selnya tumbuh
sambil menyusup dan merembes ke
jaringan sekitar. Neoplasia ganas bersifat
infiltrative dan destruktif, dapat menyebar
ke bagian lain tubuh dan pada umumnya
fatal jika dibiarkan. Neoplasia ganas sering
disebut juga dengan kanker. Kanker
merupakan suatu kondisi dimana sel telah
mengalami kehilangan pengendalian dan
mekanisme
normalnya
sehingga
mengalami pertumbuhan yang tidak
normal, cepat dan tidak terkendali (Le
Mone, 2008).
Insiden tumor ganas atau kanker
disetiap negara tidak sama, baik insiden
keseluruhan maupun insiden spesifik.
Insiden di Eropa Utara dan Amerika Utara
umumnya tinggi (200 – 350 per 100.000
penduduk), di Eropa Selatan, Asia Barat
dan Tengah, serta di Amerika Tengah dan
Selatan sedang (150 – 200 per 100.000
penduduk) dan di Asia Selatan, Timur serta
Afrika agak rendah (75 – 150 per 100.000
penduduk). Insiden kanker di Indonesia
sendiri diperkirakan 180 per 100.000
penduduk. Menurut beberapa sumber,
insiden ini berhubungan dengan struktur
populasi dimana bila struktur populasi
mempunyai jumlah penduduk berusia tua
banyak maka insiden kanker akan lebih
banyak karena kanker jarang terjadi pada
anak-anak.
Frekuensi relatif kanker pada
beberapa daerah di Indonesia tidak sama.
Insiden kanker yang paling banyak
ditemukan adalah kanker serviks, kanker
uteri, kanker hepatoseluler, kanker
[66]
Jurnal Keperawatan, Volume XII, No. 1, April 2016
ISSN 1907 - 0357
payudara, kanker paru dan kanker darah
khususnya leukemia. Insiden kanker yang
agak sering ditemukan adalah kanker kulit,
kanker ovarium, kanker nasofaring dan
limfoma malignum. Dilihat dari faktor
jenis kelamin, risiko kanker pada wanita
dan pria sebenarnya sama, tetapi dengan
banyaknya insiden kanker serviks dan
kanker payudara pada wanita kelihatannya
insiden kanker pada wanita lebih tinggi.
Namun jika dilihat dari faktor usia, insiden
kanker pada wanita dan pada pria tidak
sama. Pada anak-anak usia dibawah 15
tahun insiden kanker pada pria lebih tinggi,
pada usia 15 – 55 tahun insiden kanker
lebih tinggi pada wanita terutama pada
rentang usia 35 – 50 tahun. Setelah usia 60
tahun insiden kanker lebih tinggi pada pria.
Tidak ada keluhan spesifik untuk
kanker dini oleh karena itu kanker
seringkali ditemukan dalam kondisi yang
sudah lanjut dan mulai bermetastase.
Kanker primer biasanya tampil dalam
bentuk
pembengkakan
atau
luka
dipermukaan atau sering juga tidak jika
terletak di organ dalam. Metastase atau
anak sebar tampil sebagai pembesaran
kelenjar limfe regional atau benjolan di
tempat lain. Mungkin penderita akan
mengeluhkan adanya perdarahan atau
gejala obstruksi. Namun demikian kanker
stadium dini tidak menampakkan gejalagejala
tersebut
sehingga
penderita
seringkali datang ketika kondisi sudah
memasuki stadium lanjut sehingga
membutuhkan terapi yang lebih kompleks.
Terapi kanker dapat dilakukan
dengan cara bedah, kemoterapi, radioterapi
ataupun
kombinasinya.
Angka
keberhasilan kira-kira 40 – 50% dan sangat
tergantung
pada
stadium
berapa
dimulainya terapi tersebut pada kanker
yang bersangkutan. Angka penyembuhan
yang tinggi dengan kemoterapi serta
radiasi dapat dicapai oleh anak-anak
karena pada umumnya kanker pada anak
tumbuh dengan cepat sehingga cepat
terdeteksi dan apabila kanker primernya
dapat diangkat sebanyak mungkin maka
metastase dapat dicegah. Hal ini terjadi
sebaliknya pada orang dewasa sehingga di
negara-negara
barat
pun
angka
penyembuhan kanker dengan berbagai
terapi pada orang dewasa sejak puluhan
tahun lalu tidak pernah mencapai 50%.
Berbeda dengan terapi radiasi
yang ditujukan langsung pada sasaran sel
kanker,
kemoterapi dilakukan untuk
membunuh sel kanker dengan obat anti
kanker (sitostatika) dan bekerja secara
sistemik.
Kemoterapi
seringkali
menimbulkan efek samping yang tidak
diinginkan oleh pasien seperti rambut
rontok, kulit kehitaman, mual, muntah,
gangguan sel darah, kesemutan, kebas serta
gangguan saraf tepi lainnya, Efek samping
ini seringkali mengganggu pola istirahat
tidur
pasien. Frekuensi pemberian
kemoterapi dapat menimbulkan beberapa
efek yang dapat memperburuk status
fungsional pasien. Efek kemoterapi yaitu
supresi
sumsum
tulang,
gejala
gastrointestinal seperti mual, muntah,
kehilangan berat badan, perubahan rasa,
konstipasi, diare, dan gejala lainnya
alopesia, fatigue, perubahan emosi, dan
perubahan pada sistem saraf (Nagla, 2010
dalam Melia, dkk (2013).
Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa
efek
kemoterapi
dapat
memperburuk status fungsional (mencakup
ketidak mampuan dalam menjalankan
perannya) setelah pemberian kemoterapi
pada periode kedua (Lee, 2005 dalam
Ogce & Ozkan, 2008 dalam Melia, dkk
(2013)). Penurunan status fungsional ini
termasuk juga pemenuhan kebutuhan
istirahat tidur.
Tidur
merupakan
kebutuhan
penting yang harus dipenuhi secara cukup
yaitu 7- 9 jam perhari. Apabila pada
pasien kanker terjadi gangguan tidur maka
akan
mempengaruhi
terhadap
penyembuhan kankernya (Purwantari,
2013). Gangguan istirahat tidur diduga
dapat menimbulkan gejala distress. Hasil
penelitian Purwantari (2013) terhadap 30
sampel pasien kanker yang menjalani
kemoterapi menunjukkan hasil uji Mc
Nemar pada kualitas tidur sebelum
kemoterapi dan selama kemoterapi
mempunyai nilai p = 0,002 (p<0,05)
dengan demikian menunjukkan bahwa ada
perbedaan antara kualitas tidur sebelum
[67]
Jurnal Keperawatan, Volume XII, No. 1, April 2016
dan selama kemoterapi pada pasien kanker
yang menjalani kemoterapi rawat jalan.
Dengan latar belakang diatas, maka
peneliti ingin mengetahui hubungan antara
kualitas tidur dengan tanda dan gejala
distress pada pasien kanker yang menjalani
kemoterapi di RSUDAM
Provinsi
Lampung Tahun 2015. Tujuan umum
penelitian adalah mengetahui hubungan
kualitas tidur dengan tanda dan gejala
distress pada pasien kanker yang menjalani
kemoterapi di RSUDAM
Provinsi
Lampung Tahun 2015.
METODE
Jenis penelitian ini adalah penelitian
analitik korelasi dengan desain cross
sectional dimana variabel independen dan
dependen di survey dalam satu waktu.
Penelitian ini dilaksanakan di RSUDAM
Provinsi Lampung pada bulan Juli Agustus 2015. Populasi yang diambil
dalam penelitian ini adalah semua pasien
kanker yang menjalani kemoterapi di
RSUDAM Provinsi Lampung berjumlah
68
pasien.
Pengambilan
sampel
menggunakan metode total populasi
sehingga jumlah sampel dalam penelitian
ini adalah sebanyak 68 orang responden.
Variabel yang digunakan pada
penelitian ini ada dua yaitu variabel
dependen atau variable terikat adalah tanda
dan gejala distress penderita kanker dan
variabel independen atau variabel bebas
yaitu kualitas tidur penderita kanker.
Variabel
bebas
diukur
dengan
menggunakan alat ukur Pitsburg Sleep
Quality Index (PSQI) dan variable terikat
diukur dengan menggunakan Hospital
Anxiety and Depression Scale (HADS).
Analisa data yang digunakan pada
penelitian ini adalah dengan menggunakan
uji statistik univariat untuk distribusi
frekuensi masing-masing variable dan
analisis bivariat dengan menggunakan uji
Chi
Square
menggunakan
batas
kemaknaan 95% CI dan Alpha 0,05% .
ISSN 1907 - 0357
HASIL
Karakteristik Responden
Tabel 1: Karakteristik Usia Responden
Variabel
Umur
Mean
Mod SD Min Max
Med
45,71
42 12,84 12 - 82
44,50
Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa
usia rata-rata responden penelitian ini
adalah 45,71 tahun dengan jumlah usia
terbanyak adalah 42 tahun, SD 12,84. Usia
responden berada pada rentang 12 tahun
sampai dengan 82 tahun.
Tabel 2: Karakteristik
Responden
Jenis Kelamin
Laki – laki
Perempuan
Jumlah
Jenis
Kelamin
f
10
58
68
%
14,7
85,3
100
Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa
jenis kelamin responden penelitian ini
adalah paling banyak adalah perempuan
yaitu 58 orang dari total 68 orang
responden atau 85,3% dari keseluruhan
responden.
Tabel 3: Karakteristik
Responden
Pendidikan
Sekolah Dasar
SMP
SMA
Perguruan Tinggi
Jumlah
Pendidikan
f
40
10
15
3
68
%
58,8
14,7
22,1
4,4
100
Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa
pendidikan responden penelitian ini paling
banyak adalah Sekolah Dasar (SD) yaitu
40 orang dari total 68 orang responden atau
58,8% dari keseluruhan responden.
[68]
Jurnal Keperawatan, Volume XII, No. 1, April 2016
Tabel 4: Karakteristik Sumber Pembiayaan
Perawatan Responden
Sumber Biaya
ASKES/BPJS
JKM
Jumlah
f
58
10
68
%
85,3
14,7
100
Berdasarkan tabel 4 diketahui bahwa
sumber pembiayaan perawatan responden
penelitian ini paling banyak adalah
ASKES/BPJS yaitu 58 orang dari total 68
orang responden atau 85,3 % dari
keseluruhan responden.
Tabel 5: Karakteristik
Responden
Pekerjaan
Bekerja
Tidak Bekerja
TOTAL
Pekerjaan
f
23
45
68
%
33,8
66,2
100
Berdasarkan tabel 5 diketahui bahwa
mayoritas responden penelitian ini tidak
bekerja yaitu 45 orang dari total 68 orang
responden atau 66,2 % dari keseluruhan
responden.
Tabel 6: Karakteristik
Responden
Diagnosis Medis
Ca. Mamae
Ca. Prostat
Ca. Lidah
Ca. Usus
Ca. Tyroid
Ca. mata
Tumor
Jumlah
Diagnosis
f
54
5
4
1
1
1
2
68
Medis
%
79,4
7,4
5,9
1,5
1,5
1,5
2,9
100
Berdasarkan tabel 6 diketahui bahwa
mayoritas responden penelitian ini
terdiagnosa medis Ca. Mamae yaitu 54
orang dari total 68 orang responden atau
79,4 % dari keseluruhan responden.
ISSN 1907 - 0357
Analisis Univariat
Tabel 7: Distribusi
Responden
Kualitas
Kualitas Tidur
Baik
Buruk
Jumlah
Tidur
f
1
67
68
%
1,5
98,5
100
Berdasarkan tabel 7 diketahui bahwa
mayoritas responden penelitian ini
memiliki kualitas tidur yang buruk
berdasarkan penilaian menggunakan PSQI
yaitu 67 orang dari total 68 orang
responden atau 98,5 % dari keseluruhan
responden.
Tabel 8: Distribusi tanda
distress responden
dan
gejala
Tanda & Gejala Distress
Normal
Borderline
Distress
Jumlah
f
23
42
3
68
%
33,8
61,8
4,4
100
Berdasarkan tabel 8 diketahui bahwa
mayoritas responden penelitian ini kondisi
distressnya berada pada tingkat borderline
diukur dengan menggunakan AHDS yaitu
42 orang dari total 61,8 orang responden
atau 61,8 % dari keseluruhan responden.
Analisis Bivariat
Tabel 9. Hubungan kualitas tidur
dengan tanda dan gejala distress
Responden
Tanda dan Gejala Distress
Total
Normal Borderline Distress
Kualitas Tidur
f
f
f
f
%
%
%
%
1
0
0
1
Baik
1,5
0
0
1,5
Buruk
Jumlah
pValue
95% CI
22
42
32,4
61,8
23
42
33,9
61,8
0,37
0.39 sd 0,63
3
4,4
3
4,4
67
98,5
68
100
[69]
Jurnal Keperawatan, Volume XII, No. 1, April 2016
ISSN 1907 - 0357
Berdasarkan hasil analisis yang
ditampilkan pada tabel diatas diperoleh
data bahwa ada sebanyak 42 orang
responden (61,8%) dengan kualitas tidur
buruk berada pada kondisi borderline
distress, sebanyak 22 (32,4%) orang
responden dengan kualitas tidur buruk
tidak mengalami tanda dan gejala distress
atau dalam kondisi normal serta 3 orang
(4,4%) responden dengan kualitas tidur
buruk mengalami distress. Hasil uji
statistik membuktikan tidak ada hubungan
kualitas tidur dengan tanda dan gejala
distress pada responden ( p value 0,31 > α
0,05).
Beberapa penelitian melaporkan
bahwa efisiensi tidur pada usia dewasa
muda adalah 80-90% (Dament et al, 1985;
Hayashi & Endo, 1982 dikutip dari
Carpenito, 1998). Di sisi lain, Lai (2001)
dalam Wavy (2008) menyebutkan bahwa
kualitas tidur ditentukan oleh bagaimana
seseorang mempersiapkan pola tidurnya
pada malam hari seperti kedalaman tidur,
kemampuan tinggal tidur, dan kemudahan
untuk tertidur tanpa bantuan medis.
Kualitas tidur yang baik dapat memberikan
perasaan tenang di pagi hari, perasaan
energik, dan tidak mengeluh gangguan
tidur. Dengan kata lain, memiliki kualitas
tidur baik sangat penting dan vital untuk
hidup sehat semua orang.
Menurut peneliti kualitas tidur yang
mayoritas buruk pada responden penelitian
ini dipengaruhi oleh berbagai hal sesuai
dengan pernyataan Johanna & Jachens
(2004) yaitu gangguan fisik berupa respon
dari penyakit pasien, respon dari
kemoterapi serta gangguan mental dan
spiritual
berupa
perasaan
ketidak
berdayaan, putus asa dan penolakan
terhadap kenyataan sakit yang dihadapi.
Dilihat dari usia rata-rata responden
dimana usia rata-rata 45,71 tahun masuk
dalam kategori usia dewasa pertengahan
sedangkan menurut Dament et al, (1985);
Hayashi & Endo, (1982) dikutip dari
Carpenito, (1998) efesiensi tidur mencapai
80 – 90 % pada usia dewasa muda. Hasil
penelitian Purwantari dan Amini (2013)
yang dianalisis dengan uji Mc Nemar
menunjukkan bahwa ada perbedaan antara
kualitas tidur sebelum dan selama
kemoterapi pada pasien kanker yang
menjalani kemoterapi rawat jalan.
Hasil analisis univariat terhadap
variabel tanda dan gejala distress diperoleh
data bahwa mayoritas responden berada
dalam kondisi borderline 61,8%, normal
33,8% dan distress 4,4%. Distress adalah
suatu ketidakseimbangan diri/jiwa dan
realitas kehidupan setiap hari yang tidak
dapat dihindari.
Perubahan yang
memerlukan penyesuaian sering dianggap
sebagai kejadian atau perubahan negatif
yang dapat menimbulkan distress, seperti
cedera, sakit atau kematian orang yag
PEMBAHASAN
Hasil analisis data pada penelitian ini
diperoleh data bahwa mayoritas responden
memiliki kualitas tidur buruk (98,5% dari
68 orang responden) dan hanya 1,5%
responden yang memiliki kualitas tidur
baik. Kualitas tidur, menurut American
Psychiatric Association (2000), dalam
Wavy (2008), didefinisikan sebagai suatu
fenomena kompleks yang melibatkan
beberapa dimensi. Kualitas tidur meliputi
aspek kuantitatif dan kualitatif tidur,
seperti lamanya tidur, waktu yang
diperlukan untuk bisa tertidur, frekuensi
terbangun dan aspek subjektif seperti
kedalaman dan kepulasan tidur. Persepsi
mengenai kualitas tidur itu sangat
bervariasi dan individual yang dapat
dipengaruhi oleh waktu yang digunakan
untuk tidur pada malam hari atau efesiensi
tidur.
Gangguan tidur sebenarnya bukanlah
suatu penyakit melainkan gejala dari
berbagai gangguan fisik, mental dan
spiritual (Johanna & Jachens, 2004). Pada
orang normal, gangguan tidur yang
berkepanjangan
akan
mengakibatkan
perubahan-perubahan pada siklus tidur
biologisnya, menurun daya tahan tubuh
serta menurunkan prestasi kerja, mudah
tersinggung, depresi, kurang konsentrasi,
kelelahan, yang pada akhirnya dapat
mempengaruhi keselamatan diri sendiri
atau orang lain (Potter & Perry, 2001).
[70]
Jurnal Keperawatan, Volume XII, No. 1, April 2016
ISSN 1907 - 0357
dicintai, putus cinta. Pengalaman stress
dapat bersumber dari : lingkungan, diri dan
tubuh dan pikiran.
Ada 2 macam tipe penyebab stress
atau stressor yaitu Stressor Eksternal yaitu
penyebab stress yang berasal dari luar
individu dan stressor internal yaitu
penyebab stress yang berasal dari dalam
diri individu sendiri seperti sikap pesimis,
sering mengkritik diri sendiri, analisa yang
berlebihan, pengaruh minuman berkafein,
kurang tidur, perfeksionis, workaholic,
berfikir kaku, terlalu banyak berfikir dan
tidak berfikir sama sekali.
Menurut
peneliti,
meskipun
mayoritas responden berada dalam kondisi
borderline dimana kondisi ini belum dapat
dikatakan
distress
namun
kondisi
borderline sudah mengarah pada tanda dan
gejala awal distress. Penyebab kondisi ini
dapat berasal dari stressor internal dan
eksternal responden. Stressior internal
dapat berasal dari dalam diri responden
sendiri berupa kondisi penyakit, efek
samping kemoterapi dan kualitas tidur
yang buruk yang mengakibatkan kelelahan
dan penurunan kemampuan fisik.
Analisis bivariat dalam penelitian ini
menunjukkan tidak ada hubungan kualitas
tidur dengan tanda dan gejala distress pada
responden ( p value 0,31 > α 0,05). Hasil
ini tidak sesuai dengan penelitian Gale M
(2008)
dimana
hasil
penelitiannya
menunjukkan terdapat perbedaan tingkat
kecemasan dan depresi yang bermakna
antara orang yang tidur dengan baik,
orang yang tidur dengan kurang baik
tanpa mengkonsumsi benzodiazepin, dan
orang yang tidur dengan kurang baik
yang mengkonsumsi benzodiazepine. Juga
tidak sesuai dengan hasil penelitian Augner
C. (2011) yang membuktikan ada
keterkaitan antara kualitas tidur subyektif
dengan depresi,
gejala
fisik, dan
kecemasan.
Namun mendukung hasil
penelitian Atalay yang membuktikan tidak
ada hubungan yang bermakna antara skor
kualitas tidur dengan trait anxiety (p =
0,152), tetapi
ada
hubungan yang
bermakna antara kualitas tidur dengan
state anxiety (p = 0,002).
Menurut peneliti yang menyebabkan
tidak adanya hubungan antara kualitas
tidur dengan tanda dan gejala distress
karena distress yang berupa depressi dan
kecemasan tidak hanya dipengaruhi oleh
kualitas tidur. Banyak faktor lain yang
mempengaruhi distress selain kualitas
tidur. Berbagai macam faktor stressor
internal dan eksternal yang dapat
mempengaruhi respon ini.
KESIMPULAN
Penelitian ini menyimpulkan bahwa
mayoritas responden penelitian ini
memiliki kualitas tidur yang buruk
berdasarkan penilaian menggunakan PSQI
yaitu 67 orang dari total 68 orang
responden atau 98,5 % dari keseluruhan
responden dan mayoritas responden
penelitian ini kondisi distressnya berada
pada tingkat borderline diukur dengan
menggunakan AHDS yaitu 42 orang dari
total 61,8 orang responden atau 61,8 %
dari keseluruhan responden.
Berdasarkan uji statistik lebih lanjut
disimpulkan bahwa tidak ada hubungan
kualitas tidur dengan tanda dan gejala
distress pada responden (p value: 0,31).
Berdasarkan kesimpulan penulis
menyarankan
agar
perawat
ruang
kemoterapi sebagai tenaga kesehatan yang
paling banyak berinteraksi dengan pasien
agar memperhatikan risiko gangguan
psikologis pada pasien yang menjalani
kemoterapi karena kondisi distress akan
berdampak pada proses penyembuhan
pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Augner C. (2011) Associations of
subjective sleep quality
with
depression score, anxiety, physical
symptoms and sleep onset latency in
students.
LeMone, P. et al. 2008. MedicalSurgical Nursing: Critical Thinking
in Client Care. Vol. 2
Melia, E.KD.A., Putrayasa, I.D.P.Gd.,
Azis, A. 2013. Hubungan Antara
[71]
Jurnal Keperawatan, Volume XII, No. 1, April 2016
ISSN 1907 - 0357
Frekuensi Kemoterapi Dengan Status
Fungsional Pasien Kanker Yang
Menjalani Kemoterapi di RSUP
Sanglah
Denpasar.
Prodi
Keperawatan Univ. Udayana, Bali
Purwantari. Amini. 2013. Perbedaan
Kualitas Tidur Sebelum dan Selama
Kemoterapi Pada Pasien Kanker di
RSUP dr. Sardjito Yogyakarta.
Potter & Perry. 2005. Fundamental Of
Nursing. Philadelphia. WB Saunders
Co
Rohmaningsih, Novitasari. (2013) Hubungan
antara Kualitas Tidur dengan Tingkat
Kecemasan. Studi pada Mahasiswa/i
Angkatan
2011
Program
Studi
Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro
[72]
Download