Templat tesis dan disertasi

advertisement
KAJIAN SPESIES SERANGGA DAN TUMBUHAN
ASING INVASIF DI WILAYAH PEMERIKSAAN
KARANTINA PERTANIAN DI JAKARTA
RAHMA SUSILA HANDAYANI
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis “Kajian Spesies Serangga dan
Tumbuhan Asing Invasif di Wilayah Pemeriksaan Karantina Pertanian di Jakarta”
adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan
dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang
berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari
penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di
bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, Februari 2014
Rahma Susila Handayani
NIM A352100144
RINGKASAN
RAHMA SUSILA HANDAYANI. Kajian Spesies Serangga dan Tumbuhan
Asing Invasif di Wilayah Pemeriksaan Karantina Pertanian di Jakarta. Dibimbing
oleh PUDJIANTO dan SRI SUDARMIYATI TJITROSOEDIRDJO.
Badan Karantina Pertanian (BARANTAN) sedang mengembangkan tugas
untuk mencegah masuk dan menyebarnya spesies asing invasif di Indonesia.
Penelitian ini menganalisis spesies asing invasif yang menjadi Organisme
Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK), pemasukannya secara sengaja melalui
impor, dan pemasukan secara tidak sengaja melalui kontaminasi produk tumbuhan
impor. Hal ini dilakukan untuk menginventaris serangga dan tumbuhan yang
menjadi OPTK dan kontaminan, serta tumbuhan impor yang menjadi spesies
asing invasif, selanjutnya dipelajari potensi invasif serta keberadaannya di
Indonesia.
Penelitian ini difokuskan pada spesies serangga dan tumbuhan. Data
diperoleh dari inventarisasi daftar OPTK, pengambilan contoh produk pertanian
dan kehutanan impor seperti benih atau selain benih untuk diidentifikasi spesies
kontaminannya, hasil intersepsi BARANTAN tahun 2010-2011, koleksi intersepsi
pada Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Tanjung Priok dan Soekarno Hatta,
survei tanaman ke nursery di Jabodetabek dan Karawang. Sebagai tambahan
adalah data impor BARANTAN tahun 2010-2011 berupa spesies benih, tanaman
hidup, dan biji bukan benih yang berpotensi tumbuh. Seluruh hasil inventarisasi
disandingkan dengan daftar spesies serangga dan tumbuhan invasif pada Global
Invasive Species Database (GISD). Spesies yang sama adalah spesies invasif yang
kemudian dikaji mengenai bioekologi, sejarah invasi, dan dampaknya. Spesies
yang tidak terdaftar di dalam GISD dilakukan pencarian informasi tentang potensi
invasifnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesies asing invasif yang merupakan
target OPTK ada 12 spesies serangga dan 3 spesies gulma. Pemasukan spesies
asing invasif melalui kontaminasi produk impor ada 5 spesies serangga dan 37
spesies tumbuhan. Agrilus sulcicollis dan Megacyllene robiniae merupakan
serangga invasif yang belum terdapat di Indonesia dan tidak termasuk di dalam
daftar OPTK maupun GISD. Ada 5 spesies tumbuhan invasif yang sebelumnya
tidak dilaporkan di Indonesia yaitu Cirsium vulgare, Cirsium arvense (OPTK
kategori A1) Centaurea melitensis, Lepidium virginicum, dan Melilotus albus.
Spesies tumbuhan yang diimpor dan dari hasil survei menunjukkan terdapat 18
spesies tumbuhan berpotensi invasif. Satu dari 18 spesies tersebut memiliki
kesamaan nama spesies OPTK kategori A2 (Asystasia gangetica subsp.
micrantha). Spesies-spesies yang diketahui belum ada di Indonesia dari hasil
penelitian ini, dapat menjadi informasi sebagai bahan penetapan target
pemantauan, target IAS, dan revisi daftar OPTK. Pengelolaan spesies invasif di
pre-border perlu ditingkatkan dengan membuat target pemeriksaan spesies
invasif, peningkatan kemampuan identifikasi, peningkatan standar penerimaan
terhadap kualitas impor, dan penerapan standar Sanitary and Phytosanitary
Measures yang sebaik-baiknya.
Kata kunci: serangga, tumbuhan, asing, invasif, dan karantina
SUMMARY
RAHMA SUSILA HANDAYANI. Study Invasive Alien Insects and Plants
Species in Indonesia. Supervised by PUDJIANTO and SRI SUDARMIYATI
TJITROSOEDIRDJO.
Agricultural Quarantine Agency (AQA) is developing a duty to prevent the
entry and spread of invasive alien species in Indonesia. This study was conducted
to analyze the potency of alien species listed in quarantine pests, introduction
intentionally through import, and introduction unintentionally through
contamination of imports plant products to become invasive and quarantine pest,
its revenue through import intentionally, and unintentionally income through
contamination of plant products imports. This is done to make an inventory of
invasive alien species, to know the character of invasive and existence in
Indonesia.
This study has focus on the species of insects and plants. Data were
obtained from the inventory insects and plants listed as quarantine pests, sampling
of imported agricultural and forestry products such as seed or non-seed to detect
and identify contaminant species, the results AQA interception in 2010-2011,
collection of interception at Agricultural Quarantine of Tanjung Priok Sea Port
and Soekarno Hatta Air Port, as well as survey of plants to the nursery in
Jabodetabek and Karawang. In addition, the data of imported living plants, seeds
and non-seeds in 2010-2011 BARANTAN were also analyzed. All data were
compared to the list of invasive species in Global Invasive Species Database
(GISD). The dentified that were listed in GISD were classified as invasive
species, and then were studied their bioecology, historical invasion, and impact.
Species that are not included in the list of GISD performed invasive potential of
information retrieval.
The results showed that 12 species of insects and 3 species of weeds listed
in the quarantine pests could be classified as invasive species. Five species as
contaminants of imported products were invasive insect species and 37 were
found plants. The invasive insects Agrilus sulcicollis and Megacyllene robiniae
not exist in Indonesia and are not listed in the quarantine pests and GISD. Five of
invasive plants which are not exist in Indonesia were Cirsium vulgare,
Cirsium arvense (quarantine pest A1 category), Centaurea melitensis,
Lepidium virginicum, and Melilotus albus. Introduction invasive alien plants were
imported and the results of survey there are 18 invasive plants species of GISD.
One of 18 plants species is known as quarantine pest A2 category (Asystasia
gangetica subsp. micrantha). The invasive alien species that do not exist in
Indonesia can be used as target material monitoring and revision is a list
quarantine pest. Management of invasive species in the pre-border needs to be
improved by making the target invasive species inspection, increased expertise of
identification, improvement of the quality standards of imported products, and the
acceptance of the application of Sanitary and Phytosanitary Measures as well as.
Key Words: insects, plants, alien, invasive, and quarantine.
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
KAJIAN SPESIES SERANGGA DAN TUMBUHAN
ASING INVASIF DI WILAYAH PEMERIKSAAN
KARANTINA PERTANIAN DI JAKARTA
RAHMA SUSILA HANDAYANI
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains
pada
Program Studi Fitopatologi
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
Penguji pada Ujian Tesis:
Prof. Dr. Ir. Damayanti Buchori, MSc.
Penguji pada Ujian Terbuka: Prof Dr Ir Marimin, MS
Dr Ir Naresworo Nugroho, MS
Judul Tesis : Kajian Spesies Serangga dan Tumbuhan Asing Invasif di Wilayah
Pemeriksaan Karantina Pertanian di Jakarta
Nama
: Rahma Susila Handayani
NIM
: A352100144
Disetujui oleh
Komisi Pembimbing
Dr Ir Pudjianto, MSi
Ketua
Dr Sri Sudarmiyati T., MSc
Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi
Fitopatologi
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr Ir Sri Hendrastuti Hidayat, MSc
Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr
Tanggal Ujian:
24 Februari 2014
Tanggal Lulus:
Judul Tesis : Kajian Spesies Serangga dan Tumbuhan Asing Invasif di Wilayah
Pemeriksaan Karantina Pertanian di Jakarta
: Rahma Susila Handayani
Nama
: A352100144
NIM
Disetujui o1eh
Komisi Pembimbing
Dr Ir Pudjianto, MSi
Ketua
Dr Sri Sudarmiyati T., MSc
Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi
Fitopatologi
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr Ir Sri Hendrastuti Hidayat, MSc
Tangga1 Ujian:
24 Februari 2014
Tanggal Lulus:
2 8 FEB 2014
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat
dan hidayah-Nya sehingga tesis ini dapat diselesaikan. Penelitian ini dilaksanakan
di Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno-Hatta, Laboratorium Balai Besar
Karantina Pertanian Tanjung Priok, Jl. Sambu, No. 9, Baranangsiang, Bogor dan
Laboratorium Herbarium-SEAMEO BIOTROP. Adapun tema dari penelitian ini
yaitu pembelajaran spesies serangga dan tumbuhan asing invasif diharapkan dapat
memberi sumbangsih bagi kegiatan perlindungan pertanian di Indonesia secara
umum. Sumber dana penelitian dan pendidikan pascasarjana penulis ini berasal
dari Anggaran DIPA tahun 2010 Badan Karantina Pertanian-Jakarta.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pembimbing Dr Ir Pudjianto,
MSi dan Dr Sri Sudarmiyati Tjitrosoedirdjo, MSc atas kesabarannya dalam
membimbing penulis hingga selesainya tesis ini. Ungkapan terima kasih juga
penulis ucapkan kepada Ibu dan Bapak tercinta serta Kakak dan Adik yang selalu
memberikan motivasi serta semangat saat melakukan penelitian. Selain itu penulis
juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman di Wilayah Kerja Karantina
Pertanian Kantor Pos Bogor, Ibu Trisnasari, Bapak Hermawan, Bapak Iman
suryaman, Bagus Seta Chandra W., Epriyanto serta rekan-rekan lainnya yang
telah banyak membantu penulis dalam melakukan penelitian dan penyelesaian
tesis ini.
Penulis berharap, semoga tesis ini bermanfaat bagi pembacanya.
Bogor, Februari 2014
Rahma Susila Handayani
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
vi
DAFTAR GAMBAR
vi
DAFTAR LAMPIRAN
vii
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
1
1
3
3
2 TINJAUAN PUSTAKA
Spesies Asing Invasif (IAS)
Karantina Pertanian di Indonesia
4
4
8
3 METODE
Tempat dan Waktu
Bahan
Alat
Metode Pelaksanaan
10
10
10
10
11
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
Kelompok Serangga
Kajian Spesies Serangga Asing Invasif yang Terdaftar sebagai
OPTK Indonesia
Kajian Spesies Serangga Kontaminan yang Berpotensi Invasif di
Indonesia
Kelompok Tumbuhan
Kajian Spesies Tumbuhan Asing Invasif yang Terdaftar sebagai
OPTK Indonesia
Kajian Spesies Tumbuhan Kontaminan yang Berpotensi Invasif
di Indonesia
Kajian Spesies Tumbuhan Impor yang Berpotensi Invasif
di Indonesia
Pengelolaan spesies asing invasif di Pre-Border
14
14
42
48
5 SIMPULAN DAN SARAN
49
DAFTAR PUSTAKA
50
LAMPIRAN
57
RIWAYAT HIDUP
14
20
27
27
30
109
DAFTAR TABEL
1 Spesies serangga invasif yang tergolong OPTK
2 Lima negara asal barang impor dengan tingkat temuan kontaminasi
serangga dan tumbuhan asing tertinggi di tahun 2010 dan 2011
3 Lima produk pertanian impor tahun 2010 dan 2011 yang sering
terkontaminasi spesies serangga dan tumbuhan asing
4 Lima famili serangga dari Ordo Coleoptera yang sering
mengontaminasi produk pertanian impor di tahun 2010 dan 2011
5 Serangga yang sering ditemukan mengontaminasi kedelai impor di
tahun 2010 dan 2011
6 Status spesies serangga asing yang belum ada di Indonesia
mengontaminasi produk pertanian impor
7 Daftar spesies tumbuhan asing invasif yang merupakan OPTK
kelompok gulma di Indonesia
8 Biji tumbuhan yang sering mengontaminasi produk kedelai impor di
tahun 2010 dan 2011
9 Spesies tumbuhan asing invasif yang terdaftar di GISD dan ditemukan
mengontaminasi produk pertanian impor
10 Spesies tumbuhan asing kontaminan yang telah menjadi invasif di
Indonesia
11 Spesies tumbuhan asing yang berpotensi invasif hasil survei ke nursery
di Jabodetabek dan Karawang
12 Benih dan bibit tumbuhan impor tahun 2010-2011 yang terdaftar
sebagai spesies invasif di dalam GISD
14
21
22
23
23
24
28
31
33
35
43
44
DAFTAR GAMBAR
1 Imago Anthonomus grandis perbesaran 6.5x (Sumber: Koleksi
Penerimaan BBKP Tanjung Priok, foto oleh Rahma, mikroskop stereo
ZEISS Stemi 2000-C, kamera AxioCam ERc5s)
2 Imago Ceratitis capitata perbesaran 6.5x (Sumber: Koleksi Penerimaan
BBKP Tanjung Priok, foto oleh Rahma, mikroskop stereo ZEISS Stemi
2000-C, kamera AxioCam ERc5s)
3 Imago Trogoderma granarium perbesaran 6.5x (Sumber: Koleksi
Penerimaan BBKP Tanjung Priok, foto oleh Rahma, mikroskops stereo
ZEISS Stemi 2000-C, kamera AxioCam ERc5s)
4 Proporsi ordo serangga yang mengontaminasi produk pertanian impor
tahun 2010 dan 2011
5 Imago Agrilus sulcicollis perbesaran 6.5x (Sumber: foto oleh Rahma,
mikroskop stereo ZEISS Stemi 2000-C, kamera Canon Ixus 1000HS)
16
17
20
22
25
DAFTAR GAMBAR (lanjutan)
6 Imago Megacylene robiniae perbesaran 6.5x (Sumber: foto oleh
Rahma, mikroskop stereo ZEISS Stemi 2000-C, kamera Canon Ixus
1000HS)
7 Imago Pyrrhidium sanguineum betina dan jantan (paling kanan)
perbesaran 6.5x (Sumber: foto oleh Rahma, mikroskop stereo ZEISS
Stemi 2000-C, kamera Canon Ixus 1000HS)
8 Tanaman Asystasia gangetica subsp. micrantha (Sumber: foto oleh
Rahma, kamera Canon Ixus 1000HS)
9 Proporsi famili tumbuhan yang mengontaminasi produk pertanian
impor tahun 2010 dan 2011
10 Polong dan biji melilotus albus perbesaran 10x (Sumber: foto oleh
Rahma, mikroskops stereo ZEISS Stemi 2000-C, kamera AxioCam
ERc5s)
26
27
29
30
40
DAFTAR LAMPIRAN
1 Hasil intersepsi serangga dan tumbuhan kontaminan pada produk
pertanian impor dari Amerika Serikat tahun 2010 dan 2011
57
2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi spesies serangga dan tumbuhan
kontaminan pada sampel produk pertanian impor serta jadwal survei
62
3 Beberapa foto serangga hasil hasil deteksi dan identifikasi pada produk
pertanian impor
83
4 Beberapa foto dan deskripsi biji kontaminan hasil deteksi dan
identifikasi pada produk pertanian impor
85
5 Beberapa foto biji tumbuhan asing hasil deteksi dan identifikasi pada
produk pertanian impor
88
6 Impor produk pertanian berupa tanaman hidup, benih, dan hasil
tanaman hidup bukan benih, hasil tanaman mati diolah, dan tanpa
olahan periode tahun 2010
100
7 Impor produk pertanian berupa tanaman hidup, benih, dan hasil
tanaman hidup bukan benih, hasil tanaman mati diolah, dan tanpa
olahan periode tahun 2011
106
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Spesies asing invasif yang lebih dikenal dengan invasive alien species (IAS)
menurut McNeely (2001) adalah spesies, subspesies, atau varietas yang masuk ke
dalam suatu ekosistem bukan habitat aslinya baik secara langsung maupun tidak
langsung, menetap, dan bereproduksi sehingga dapat menjadi agen pengubah dan
mengancam ekosistem, habitat, keanekaragaman hayati, merugikan ekonomi dan
kesehatan manusia. Sekarang ini IAS telah menjadi perhatian publik sejak adanya
perjanjian KTT Bumi yang ditandai oleh Convention on Biological Diversity
(CBD) di Rio de Janeiro pada tahun 1992. Prinsip utama perjanjian tersebut
adalah memperhatikan kondisi lingkungan dalam rangka pembangunan ekonomi.
Artikel ke-8 (h) di dalam CBD menyatakan bahwa setiap negara perlu mencegah
introduksi, mengendalikan, dan memusnahkan spesies-spesies asing yang dapat
mengancam ekosistem, habitat, dan spesies lainnya (Lopian 2005). Mengingat
pentingnya keanekaragaman hayati maka Indonesia merativikasi Konvensi
Keanekaragaman Hayati atau CBD melalui Undang-undang No. 5 tahun 1994
tentang Pengesahan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai
keanekaragaman hayati (Indrawan et al. 2007).
Pelaksanaan perlindungan dari IAS merupakan mandat dari CBD dan
Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) terhadap
International Plant Protection Convention (IPPC) karena peran pencegahan
introduksi spesies asing lebih sesuai dengan peran IPPC (Lopian 2005). Spesies
yang bersifat invasif dapat berupa: (1) bakteri, virus, cendawan, parasit; (2) hewan
liar; (3) serangga dan invertebrata lain; (4) organisme pengganggu ekosistem laut;
dan (5) gulma, (Australian Goverment Department of Sustainability,
Environment, Water, Population, and Communities 2010). Serangga dan gulma
merupakan bagian dari kelompok organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang
keberadaannya dapat dilihat secara makroskopis atau mata telanjang. Dua
kelompok OPT ini juga merupakan sebagian dari target pemeriksaan karantina
yang tercantum dalam daftar OPT-Karantina (OPTK). Menurut Lopian (2005),
tidak semua serangga OPTK merupakan spesies invasif. Oleh karena itu,
penelitian ini lebih mengutamakan pada bahasan serangga sebagai hama dan
tumbuhan yang berpotensi menjadi gulma.
Serangga yang dapat menjadi invasif dalam suatu ekositem umumnya dapat
berperan sebagai predator, polinator, dan hama. Hama merupakan yang paling
umum sebagai perusak. Sebagai contoh: kutu putih Paracoccus marginatus
merupakan serangga asli dari Mexico yang dilaporkan telah masuk dan menjadi
invasif di Indonesia dan India (Muniappan et al. 2008). Kutu putih ini sangat
merugikan secara ekonomi khususnya pada tanaman pepaya.
Tumbuhan yang menjadi gulma adalah tumbuhan yang tumbuh salah
tempat, belum diketahui manfaatnya, atau tidak diharapkan oleh kelompok orang
tertentu, tetapi berdasarkan observasi faktual gulma merupakan tumbuhan yang
efisien dan berhasil di tempat ia tumbuh. Keberhasilan gulma ditentukan oleh
beberapa karakter biologi (Tjitrosoedirdjo et al. 2011).
2
Tumbuhan invasif memiliki karakter yang sama dengan gulma
(Tjitrosoedirdjo 2010). Tumbuhan yang memiliki karakter gulma yang baik
menjadi tumbuhan invasif yang berbahaya (Zihmdal 2007). Di Indonesia, gulma
dapat terjadi di ekosistem pertanian dan ekosistem non-pertanian (Tjitrosoedirdjo
2010). Keberadaan gulma di lingkungan pertanian antara lain dapat mengganggu
sistem produksi pertanian, mengontaminasi produk pertanian sehingga
mempengaruhi kualitas produksi, dan sebagai agens penyebaran OPT (Radosevich
et al. 2007). Menurut Ujiyani (2009), spesies invasif Bromus tectorum ditemukan
mengontaminasi komoditas pertanian yang masuk melalui Pelabuhan Tanjung
Priok tahun 2006 sampai dengan tahun 2007 yang merupakan salah satu OPTK
kategori A1 (belum ada di Indonesia). B. tectorum dilaporkan menginvasi dan
menyebabkan area pertumbuhan Artemisia tridentata sebagai sumber pakan
hebivora di Amerika Utara menjadi lebih mudah terbakar (Radosevich et al.
2007).
Penelitian tentang spesies invasif di Indonesia masih sangat terbatas.
Peluang masuknya IAS mempengaruhi kehidupan dan lingkungan di Indonesia
dan negara lain. Kejadian invasif bersifat unik di setiap lokasi yang diinvasi.
Globalisasi telah menstimulir peningkatan arus perdagangan, transportasi, dan
arus perjalanan wisatawan. Hal ini dapat menjadi fasilitas kemudahan masuk dan
tersebarnya spesies asing ke suatu area. Jika habitat baru merupakan habitat yang
mirip dengan habitat aslinya, spesies asing dapat bertahan dan bereproduksi.
Suatu spesies menjadi invasif jika mampu berkompetisi dengan organisme asli
untuk memperoleh makanan dan habitat, menyebar melalui lingkungan barunya,
mengalami peningkatan populasi, dan membahayakan ekosistem yang
diintroduksinya (CBD 2009a). Contoh spesies asing invasif yang menetap di
Indonesia dan merugikan secara ekonomi yaitu Paracoccus marginatus (kutu
putih). P. marginatus menghisap cairan tanaman, membentuk koloni yang padat
sehingga menghambat fotosintesis dan pertumbuhan tanaman tersebut, bahkan
menyebabkan kematian tanaman. Dampak dari introduksi P. marginatus memiliki
kontribusi terhadap penurunan produksi pepaya di wilayah kecamatan Sukaraja
(Bogor) hingga mencapai 58% dan terjadi peningkatan biaya produksi 46% akibat
penggunaan pestisida. Petani mengalami kerugian sekitar 14.2 juta ton/ha
(Ivakdalam 2010). Chromolaena odorata (Kirinyuh) merupakan tanaman invasif
yang agresif berasal dari Amerika Tengah dan Selatan. Pertama kali ditemukan di
Indonesia pada tahun 1934 tepatnya di Lubuk Pakam, Sumatera Utara, di
perkebunan tembakau. Kirinyuh ini menyebar sangat cepat di seluruh Indonesia
dari Aceh, Sumatera hingga Papua (Titrosoedirdjo 2005). Senyawa alelopati yang
dihasilkan tanaman ini di dalam tanah dapat mencegah perkecambahan dan
pertumbuhan tanaman yang asli (native). Kerugian yang diakibatkan C. odorata
menyebabkan kehilangan hasil tanaman mencapai 30% sampai dengan 35%,
tetapi kerugian meningkat pada tanaman kopi dan cokelat yaitu 45% (Wise et al.
2007). Enceng gondok (Eichhornia crassipes) telah menginvasi habitat tropis di
seluruh dunia, menyebar ke 50 negara lebih di lima benua. Enceng gondok dapat
menghambat saluran perairan, memusnahkan satwa liar perairan dan mata
pencaharian masyarakat lokal, serta dapat menjadikan kondisi yang ideal untuk
penyakit dan vektornya (CBD 2009b). Bahaya yang ditimbulkan IAS sangat
serius sehingga perlu penanganan khusus untuk meminimalkan peluang masuk ke
suatu wilayah, khususnya negara Indonesia.
3
Pencegahan masuk IAS ke wilayah Indonesia lebih berkaitan dengan
peranan karantina pertanian. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lopian (2005)
bahwa IAS berhubungan dengan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina
(OPTK). Sebagian besar OPTK merupakan IAS, dan IAS yang merugikan secara
ekonomi pada tanaman baik secara langsung maupun tidak langsung merupakan
OPTK. Tupoksi karantina pertanian di Indonesia selama ini masih terbatas pada
OPTK/HPHK berdasarkan UU No. 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan
dan Tumbuhan, PP No. 14 tahun 2002 tentang Karantina Tumbuhan, dan PP No.
82 tahun 2000 tentang Karantina Hewan. Pengembangan tugas karantina dimulai
tahun 2009 yaitu menangani keamanan pangan. Karantina terus melakukan
pengembangan peran sesuai dengan perkembangan aturan di dunia, seperti
peranannya yang terkait dengan IAS. Badan Karantina Pertanian (BARANTAN)
dan FAO serta SEAMEO-BIOTROP berkolaborasi mempersiapkan program kerja
“Strengthening Quarantine Control System for Invasive Alien Species (IAS)”
beberapa diantaranya menyiapkan peraturan dan pengembangan kapasitas
kelembagaan meliputi sistem manajemen informasi (BARANTAN 2011).
Penelitian ini berkaitan dengan program kerja karantina tersebut sehingga
diharapkan dapat memberikan informasi mengenai IAS yang diperkirakan dapat
berada di wilayah Indonesia. Penelitian ini mengutamakan ruang lingkup pada
beberapa wilayah layanan pemeriksaan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Karantina
Tumbuhan di Jakarta yaitu Bekasi, Bogor, Depok, Jakarta, Karawang, dan
Tangerang (Kementan 2010). Selain itu, target yang menjadi bahan pengamatan
ini dikhususkan pada serangga hama di ekosistem pertanian, kehutanan, dan
serangga gudang, sedangkan untuk tumbuhan meliputi tanaman hias, cover crop,
dan biji tumbuhan kontaminan yang berpotensi menjadi gulma.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan untuk inventarisasi serangga dan tumbuhan yang
menjadi OPTK dan kontaminan, serta tumbuhan impor yang menjadi IAS dan
mempelajari kriteria potensi IAS di Indonesia melalui kajian taksonomi, biologi,
daerah asal, dan sejarah invasi. Kajian tersebut dilakukan terhadap spesies yang
invasif di ekosistem pertanian maupun ekosistem non-pertanian.
Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini berupa informasi yang dapat digunakan sebagai
bahan dalam penyusunan database IAS di Indonesia, untuk merevisi daftar OPTK,
pencegahan masuk dan tersebarnya IAS, serta penentuan teknik pengelolaan IAS
di Indonesia.
4
2 TINJAUAN PUSTAKA
Spesies Asing Invasif (IAS)
Pengertian IAS
Istilah spesies asing invasif ini dikenal pertama kali melalui pertemuan
para ahli lingkungan yaitu dalam CBD yang diorganisasikan oleh United Nations
Environment Programme (UNEP) dalam Earth Summit tahun 1992 dan lebih
dikenal dengan Invasive Alien Spesies (IAS) (Tjitrosoedirdjo 2010). Spesies asing
invasif menurut McNeely et al. (2001) adalah spesies introduksi baik secara
langsung maupun tidak langsung, menetap dan bereproduksi sehingga dapat
menjadi agen pengubah dan mengancam ekosistem, habitat, keanekaragaman
hayati, merugikan ekonomi dan kesehatan manusia. IAS dapat berupa tumbuhan,
hewan, patogen, dan organisme lain yang asing dalam ekosistem, yang
menyebabkan kerugian secara ekonomi, kerusakan lingkungan dan bahkan dapat
mengganggu kesehatan manusia, khususnya berdampak negatif terhadap
keanekaragaman hayati, termasuk penurunan dan penghilangan spesies asli
melalui kompetisi, pemangsaan, atau transmisi patogen dan terganggunya
ekosistem lokal serta fungsi ekosistem (CBD 2009c). Menurut Australian
Goverment Department of Sustainability, Environment, Water, Population,
Communities (2010), spesies invasif merupakan spesies yang terjadi, sebagai
akibat dari aktivitas manusia, diluar distribusi normalnya, dipertimbangkan
merugikan lingkungan, pertanian dan sumber daya lain. Spesies invasif ini
meliputi: (1) patogen dan parasit; (2) hewan liar; (3) serangga dan invertebrata
lain; (4) OPT di ekosistem laut; serta (5) gulma.
Proses Invasi
Invasi merupakan perluasan geografis dari suatu spesies pada daerah yang
sebelumnya tidak ada spesies tersebut. Tidak semua organisme yang masuk ke
dalam suatu wilayah/habitat baru menjadi invasi. Terkadang invasi dapat terjadi
kegagalan, tetapi invasi yang berhasil adalah peristiwa yang jarang. Invasi yang
berhasil memerlukan bahwa spesies itu sampai kesitu, mapan, bereproduksi,
menyebar, dan mengintegrasikan diri dengan anggota lain dari komunitas yang
diinvasi (Tjitrosoedirdjo 2010). Tiga fase mayor invasi tanaman menurut Raizada
(2007) yaitu introduksi, kolonisasi, dan naturalisasi. Hill (2008) menyatakan suatu
yang berbeda bahwa satu spesies harus dapat melalui enam fase untuk berhasil
menetap di lokasi baru. Hasil dari setiap fase memiliki keterkaitan kemungkinan
berhasil dan setiap fase harus diselesaikan sebelum pindah ke fase berikutnya.
Oleh karena itu, satu spesies harus melalui semua fase untuk berhasil melakukan
invasi yaitu: fase introduksi, fase bertahan secara individu, fase memasuki
lingkungan yang sesuai untuk bertahan jangka panjang, fase sukses bereproduksi
secara individu, fase sukses berkompetisi, dan fase perluasan dan penyebaran
populasi.
Kemiripan habitat baru dengan habitat asli dari suatu spesies yang masuk ke
suatu area dapat menyebabkan spesies tersebut dapat bertahan dan bereproduksi.
Suatu spesies menjadi invasif harus mampu berkompetisi dengan organisme asli
5
untuk makanan dan habitat, menyebar melalui lingkungan barunya, populasi
meningkat, dan membahayakan ekosistem yang diintroduksinya (CBD 2009a).
Ada 4 tahapan proses invasi tumbuhan yang idealistik menurut
Tjitrosoedirdjo (2010), yaitu:
1. Berada di daerah baru
Tahapan ini merupakan periode pemeliharaan, seperti untuk tumbuhan yang
dibudidayakan dan tanaman hias, sedangkan untuk tumbuhan lain merupakan
periode dorman.
2. Mapan secara spontan
Periode telah menghasilkan 1 generasi dalam daerah baru tersebut tanpa
bantuan manusia.
3. Mapan secara permanen
Periode telah membentuk populasi dan mampu bertahan di daerah baru
tersebut.
4. Persebaran di daerah baru tersebut telah tuntas
Periode telah terjadi invasi di seluruh lokasi yang cocok untuk
pertumbuhannya sebagai implikasi sebaran baru telah tercapai.
Keberhasilan invasi tergantung spesies dan kemudahan invasi dari habitat.
Kemampuan spesies menginvasi meliputi karakter sejarah kehidupan, sebaran asli
secara geografis luas, dan pola taksonomi. Kemudahan invasi dari habitat peran
pengrusakan dan peran keanekaragaman hayati, dan ketersediaan sumber daya
alam. Pengelolaan yang baik terhadap organisme dapat meminimalkan terjadinya
invasi.
Kriteria Tumbuhan Invasif
Tumbuhan invasif, salah satunya adalah gulma. Gulma merupakan
tumbuhan yang efisien dan berhasil di tempat ia tumbuh. Keberhasilannya
ditentukan oleh karakter biologi (Tjitrosoedirdjo et al. 2011).
Karakter biologis gulma ideal (Baker 1974 di dalam Tjtrosoedirdjo et al.
2011), yaitu:
1. Syarat perkecambahan dapat terpenuhi oleh berbagai lingkungan
2. Biji mempunyai viabilitas yang lama dan perkecambahan bersifat
diskontinyu
3. Pertumbuhan yang cepat dari fase vegetatif sampai ke taraf pembungaan
4. Terus menerus memproduksi biji sepanjang kondisi lingkungan
memungkinkan
5. Self-compatible, tetapi tidak autogami atau apomixis penuh
6. Perkawinan silang; bila terjadi tidk memerlukan polinator khusus ataupun
angin.
7. Produksi biji sangat tinggi, dalam kondisi lingkungan yang menguntungkan
8. Produksi biji dapat terjadi dalam rentang kondisi lingkungan yang lebar,
toleran, dan plastis.
9. Teradaptasi untuk penyebaran jarak jauh maupun jarak dekat
10. Apabila berupa tumbuhan tahunan, reproduksi vegetatif sangat subur, atau
dapat ber-regenerasi dari fragmentasi
11. Apabila berupa tumbuhan semusim, bersifat mudah patah, sehingga tidak
mudah dicabut dari tanah
6
12. Mempunyai kemampuan berkompetisi antar spesies dengan alat khusus
(roset, mencekik tumbuhan lain, dan alelopati)
Tingkat keinvasifan suatu spesies sangat beragam. Tingkat invasi
tumbuhan ditentukan dengan mengevaluasi karakteristik biologis dan ekologis
terhadap kriteria yang mencakup persyaratan menetap (established), tingkat
pertumbuhan dan kemampuan berkompetisi, metode reproduksi, dan mekanisme
pemencaran (Weiss dan Laconis 2002).
Karakter keinvasifan tumbuhan dapat diprediksi. Prediksi utama tingkat
keinvasifan menurut Rejmanek (2001) sebagai berikut:
1. Memiliki kebugaran yang konstan baik secara individu maupun populasi di
berbagai lingkungan.
2. Ukuran genom yang kecil, umumnya berkaitan dengan masa generasi yang
pendek, peridoe juvenile yang pendek, ukuran benih yang kecil, membuat
naungan yang cepat, tingkat pertumbuhan yang relatif tinggi
3. Keinvasifan spesies tumbuhan berkayu dihubungkan dengan ukuran masa
biji yang ringan, periode penghasilan biji yang panjang, periode juvenil
yang pendek, dan periode pembentukan buah yang panjang
4. Dapat disebarkan oleh vertebrata
5. Spesies yang merupakan invasif di daerah sebaran aslinya
6. Dapat bereproduksi secara vegetatif
7. Tumbuhan asing berasal dari genus asing dan lebih invasif daripada di
habitat aslinya
8. Spesies tidak memiliki simbiosis mutualisme yang spesifik
9. Tumbuhan komunitas yang tidak berbahaya secara natural atau semi natural
akan lebih menginvasi tumbuhan yang tinggi
10. Penyebaran spesies asing umumnya tergantung pada aktivitas manusia.
Menurut (Weber 2003) tumbuhan invasif dapat berasal dari jenis tanaman
hias, tumbuhan untuk pengendali erosi, tumbuhan berkayu, pakan ternak, tanaman
pangan, tumbuhan pelindung, dan masih banyak lagi jenis yang belum dikenal.
Kriteria Serangga Invasif
Serangga merupakan bagian dari taksonomi Kingdom Animal yang
memiliki tubuh beruas-ruas dan bertungkai 3 pasang. Peranan serangga di dalam
suatu ekosistem antara lain sebagai bahan makanan serangga lain, herbivor,
predator, polinator, pesaing, vektor, parasit, parasitoid, dekomposer atau detrivor.
Invasif dapat berpengaruh terhadap perekonomian dan lingkungan secara
langsung melalui pemakanan dan persaingan, sedangkan cara tidak langsung
seperti penyebaran patogen.
Karakteristik yang mencirikan spesies serangga invasif menurut Worner
(2002) antara lain: berasosiasi dengan aktivitas manusia sehingga dapat menyebar
luas di wilayah aslinya, kelimpahan tinggi di wilayah aslinya, memiliki
kemampuan peningkatan populasi yang tinggi, berperan pada kondisi yang luas,
memiliki daya pencar yang besar, siklus hidup menyesuaikan lingkungan yang
baru secara cepat, memiliki reproduksi dengan berbagai cara, dan memiliki
keragaman genetik yang tinggi.
Menurut Sanders et al. (2010), kunci utama dalam menentukan karakteristik
spesies arthropoda invasif meliputi nama spesies, wilayah sebaran asli, kerusakan
di wilayah sebaran aslinya, kisaran wilayah introduksi, mekanisme introduksi,
7
terkait dengan habitat buatan manusia, kisaran inang yang luas, dan kemampuan
sebagai vektor penyakit. Faktor lain yang dapat mendukung keinvasifan serangga
adalah faktor kondisi dan habitat. Faktor kondisi berupa tersedianya kesempatan
bagi spesies serangga untuk muncul dan menang dalam persaingan pemanfaatan
sumber daya. Habitat yang diperlukan adalah habitat yang telah mengalami
gangguan atau kerusakan. Habitat yang demikian rentan terhadap invasi (Worner
2002).
Penyebaran IAS
Penyebaran spesies asing dapat terjadi secara sengaja atau tidak sengaja.
Proses penyebaran IAS secara sengaja dapat dipicu dengan adanya globalisasi.
Globalisasi telah mendorong peningkatan perdagangan, transportasi, perjalanan
dan wisatawan. Hal ini dapat menjadi fasilitas untuk masuk dan tersebarnya
spesies asing ke suatu area. Jika habitat baru merupakan habitat yang memadai
habitat asli spesies tersebut, memungkinkan spesies tersebut untuk bertahan dan
bereproduksi. Suatu spesies menjadi invasif harus mampu berkompetisi dengan
organisme asli untuk makanan dan habitat, menyebar melalui lingkungan barunya,
meningkatkan populasi, dan membahayakan ekosistem yang diintroduksinya
(CBD 2009a). Penyebaran IAS secara tidak sengaja dapat berupa adanya
organisme yang menjadi kontaminan atau menginvestasi komoditas pertanian
yang diedarkan.
Dampak Negatif IAS
Faktor yang dapat menyebabkan terganggunya keanekaragaman hayati di
suatu kawasan, salah satunya adalah pengaruh spesies asing (eksotik). Spesies
asing yang mempunyai daya adaptasi tinggi dan bersifat invasif mampu
mengubah ekosistem lokal (Shiva et al. dalam Kumalasari 2006). Kerugian yang
diakibatkan oleh IAS bervariasi tergantung spesies dan lingkungannya.
E. crassipes yang awalnya sebagai tanaman hias di aquarium, sekarang
menyebabkan kerugian secara ekonomi dan mengganggu ekosistem air.
Tumbuhan ini diketahui menjadi berbahaya setelah 30 tahun dari pemasukannya
(Tjitrosoedirdjo 2007). Mikania micrantha dari Amerika Selatan dapat merusak
ekosistem hutan di Indonesia dengan cara merambati kanopi sehingga
menghambat pertumbuhan vegetasi asli (Tjitrosoedirdjo & Subiakto 2010).
Penghambatan pertumbuhan dan perusakan keanekaragaman hayati menyebabkan
kerugian secara ekonomi. Sebagai contoh: P. marginatus merusak tanaman
pepaya dengan cara menusuk dan menghisap cairan tanaman dan membentuk
koloni yang padat sehingga menghambat fotosintesis dan pertumbuhan tanaman
tersebut. Dampak dari introduksi P. marginatus memiliki kontribusi terhadap
penurunan produksi pepaya di wilayah kecamatan Sukaraja (Bogor) hingga
mencapai 58%, tetapi terjadi peningkatan biaya produksi 46% akibat penggunaan
pestisida. Petani mengalami kerugian sekitar 14.2 juta ton/ha (Ivakdalam 2010).
Gulma di Indonesia dilaporkan dapat terjadi di berbagai tempat antara lain
pekarangan, lahan pertanian tanaman pangan, lahan perkebunan, dan hutan serta
perairan. Ageratum conyzoides merupakan gulma yang dapat ditemukan
diberbagai macam tempat di Indonesia kecuali di area perairan (Soerjani et al.
1986). Gulma ini merupakan spesies tumbuhan yang invasif. Selain menjadi
gulma, A. conyzoides menjadi inang beberapa penyakit tumbuhan. Alelopati yang
8
dihasilkan dapat menginterfensi tumbuhan lain sehingga dapat menghambat
perkecambahan dan pertumbuhan tanaman lain. Gulma tersebut dapat
menyebabkan alergi dan mengganggu kesehatan manusia (ISSG 2011). Spesies
invasif lebih umum diketahui berasal dari spesies asing yang masuk, menetap dan
berkembang biak di negara lain. Ada sedikit pengecualian bahwa spesies dapat
menjadi invasif di daerah sebaran aslinya, seperti Imperata cyliandrica dan
Phragmites vallatoria yang merupakan spesies invasif asli di Indonesia
(Tjirosoedirdjo 2007).
Karantina Pertanian di Indonesia
Landasan Hukum Karantina Pertanian Terkait dengan IAS
Badan Karantina Pertanian mempunyai tugas pokok dan fungsi terkait
pencegahan masuk dan tersebarnya organisme pengganggu tumbuhan
karantina/hama dan penyakit hewan karantina dengan dasar UU No. 16 tahun
1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, PP No. 14 tahun 2002
tentang Karantina Tumbuhan, dan PP No. 82 tahun 2000 tentang Karantina
Hewan. Karantina mulai mengembangkan tugas sesuai dengan peraturan dunia
yaitu dengan mengawasi keamanan pangan pada tumbuhan atau bahan asal
tumbuhan segar tahun 2009 sebagai implementasi Peraturan Menteri Pertanian
No. 27 /Permentan/PP.340/5/ Tahun 2009 juncto Peraturan Menteri Pertanian
Nomor: 38/Permentan/PP.340/8/2009. Peraturan yang terkait dengan spesies
invasif di Indonesia masih dalam proses pembentukan, tetapi karantina telah
menyiapkan berbagai sarana dan konsep untuk pelaksanaan kegiatan yang terkait
dengan spesies invasif. Pembentukan peraturan IAS didasarkan pada tindak lanjut
ratifikasi Indonesia terhadap peraturan CBD. Persiapan pembentukan peraturan
dan sistem informasi tentang IAS tersebut melibatkan kerjasama dengan berbagai
pihak di lingkungan instansi maupun lembaga penelitian serta lembaga
pendidikan. Seperti halnya IPB, SEAMEO-BIOTROP, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Peternakan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pusat
Karantina Ikan, Badan Penelitian Dan Pengembangan (Litbang) Kehutanan, Balai
Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas LIPI, Balai Besar Taman Nasional
Gunung Gede Pangrango, Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor LIPI,
dan Pusat Penelitian Biologi LIPI.
Tindakan Karantina Pertanian Berkaitan dengan IAS
Karantina pertanian untuk penanganan IAS masih terbatas dalam
persiapan. Pencegahan IAS pada umumnya telah dilakukan seiring dengan
pencegahan OPTK. Kegiatan pencegahan dilakukan dengan pemeriksaan
karantina baik di tempat masuk dan pengeluaran maupun di luar tempat tersebut.
Wilayah pelayanan pemeriksaan karantina tumbuhan di luar tempat pemasukan
dan pengeluaran ditetapkan oleh Menteri Pertanian yaitu nomor 56/Permentan/
OT.140/9/2010 tentang pelaksanaan tindakan karantina tumbuhan di luar tempat
pemasukan dan pengeluaran. BARANTAN bekerja sama dengan SEAMOBIOTROP, Kementrian Lingkungan Hidup (KLH), FAO dan instansi lain untuk
menyusun payung hukum mengenai IAS di Indonesia. Langkah awal untuk
mewujudkan tindakan karantina dalam menangani IAS salah satunya dengan
9
menyusun database IAS di Indonesia untuk dijadikan pedoman sasaran
pemeriksaan seperti halnya daftar OPTK.
10
3 METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian dilaksanakan di Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP)
Soekarno-Hatta (Jakarta), di Laboratorium BBKP Tanjung Priok-Wilayah Kerja
Kantor Pos Bogor dan di Herbarium SEAMEO-BIOTROP, Bogor. Pengambilan
sampel dan survei dilakukan pada bulan September 2011 sampai dengan Januari
2012.
Bahan
Data yang dipergunakan di dalam penelitian ini bersumber dari data primer
dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil deteksi dan identifikasi
spesies serangga dan tumbuhan kontaminan pada sampel produk pertanian impor
dan hasil survei nursery yang dipertimbangkan banyak melakukan importasi
tanaman hias, tanaman penutup tanah, dan tanaman pelindung. Data sekunder
diperoleh dari data pemasukan tanaman hidup dan benih yang terekam di dalam
database Eplaq System BARANTAN tahun 2010-2011, data intersepsi yang
terekam di dalam database Eplaq System BARANTAN tahun 2010-2011, data
koleksi biji tumbuhan dan serangga hasil intersepsi di BBKP Tanjung Priok dan
Soekarno-Hatta, dan data koleksi media pembawa OPT/OPTK impor di BBKP
Tanjung Priok dan Soekarno-Hatta. Selain itu, data yang digunakan berupa daftar
spesies OPTK kelompok serangga dan gulma yang tertera pada Lampiran
Peraturan Menteri Pertanian nomor 93/Permentan/OT.140/12/2011 tentang
Spesies Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina dan data spesies serangga
dan tumbuhan invasif internasional yang ada pada Global Invasive Species
Database (GISD) tahun 2011 [http://www.issg.org/database/welcome/].
Serangga yang menjadi bahan penelitian berupa arthropoda dari Kelas
Insekta yang menjadi hama gudang, hama di ekosistem hutan, dan di ekosistem
pertanian. Tumbuhan yang menjadi bahan kajian penelitian berupa benih atau
bibit tanaman hias, tanaman penutup tanah, rumput-rumputan, dan biji tumbuhan
yang mengontaminasi media pembawa OPT/OPTK (dalam penelitian ini disebut
produk pertanian impor).
Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini berupa kamera digital Canon Ixus
1000HS, mikroskop stereo binokuler ZEISS Stemi 2000-C dengan kamera digital
AxioCamERc5s. Literatur berupa buku, internet, dan CD-ROM CABI 2007 untuk
identifikasi biji tumbuhan dan serangga.
11
Metode Pelaksanaan
Pengambilan Sampel
Sampel produk pertanian impor diambil untuk dilakukan deteksi dan
identifikasi spesies serangga dan biji kontaminan. Produk pertanian tersebut
berupa tanaman hidup dan benih, hasil tanaman hidup bukan benih, dan hasil
tanaman mati yang tidak diolah atau telah diolah. Sampel hasil tanaman mati yang
diolah atau tidak diolah seperti beras, tepung jagung, bungkil kedelai, kayu, dan
lain sebagainya. Sampel hasil tanaman hidup bukan benih, contoh jagung, kedelai,
kacang tanah yang pemasukannya tidak dipergunakan sebagai benih atau untuk
ditanam.
Sampel produk pertanian impor yang berupa tanaman hidup dan benih yaitu
tanaman hias, rumput-rumputan, kelapa sawit, dan tanaman penutup tanah
diperoleh dari laboratorium Karantina Tumbuhan di BBKP Tanjung Priok dan
BBKP Soekarno-Hatta. Pengambilan sampel benih biji-bijian dilakukan sesuai
dengan panduan pada pedoman teknis pengambilan sampel biji-bijian untuk benih
yang dikeluarkan oleh BARANTAN tahun 2007, sedangkan untuk pelaksanaan
pengambilan sampel non-benih mengadopsi dan memodifikasi dari pedoman
tersebut. Ukuran sampel yang digunakan bergantung pada jenis produk pertanian
impor, jumlah produk pertanian yang diimpor, jenis kemasan, ukuran kemasan,
jumlah kemasan, dan alat yang digunakan untuk pengambilan sampel. Jenis
kemasan yang dimaksud adalah kemasan dalam bentuk kantong/kontainer dan
curah. Pengambilan sampel dilakukan secara acak. Sampel produk pertanian
impor yang dipergunakan minimum 200 g dan maksimum 5 000 g.
Sampel yang berupa hasil tanaman hidup bukan benih, dan hasil tanaman
mati yang tidak diolah atau telah diolah diperoleh dari Depo Arcola, Depo
Transporindo, laboratorium Karantina Tumbuhan di BBKP Tanjung Priok dan
BBKP Soekarno-Hatta. Sampel diambil selama penelitian berlangsung dengan
periode 1 minggu sekali.
Pendeteksian dan Identifikasi Spesies Kontaminan pada Sampel Produk
Pertanian Impor
Sampel produk pertanian impor yang diperoleh, kecuali tanaman hidup
dilakukan pemaparan sampel. Sampel yang diperoleh diletakkan dan dipaparkan
di dalam nampan plastik. Selanjutnya, sampel diperiksa untuk dideteksi
organisme kontaminannya dengan memilah antara sampel dan kontaminan
menggunakan kuas dan spatula di bawah magnifier lamp. Kontaminan kelompok
serangga dapat berupa bagian tubuh serangga atau stadia serangga, sedangkan
untuk kelompok tumbuhan ditemukan berupa biji. Hal ini tidak menutup
kemungkinan jika ditemukan bagian dari tanaman yang dapat diidentifikasi untuk
menentukan spesies. Hasil pendeteksian kontaminan diletakkan di dalam cawan
petri, kemudian diidentifikasi di bawah mikroskop stereo. Setelah teridentifikasi
spesies yang ditemukan dicatat.
Sampel produk pertanian yang berupa tanaman hidup dilakukan
pendeteksian langsung di Laboratorium Karantina Tumbuhan BBKP Tanjung
Priok dan BBKP Soekarno-Hatta yaitu dengan memeriksa fisik tanaman secara
cermat dengan bantuan magnifier lamp dan kuas untuk dideteksi keberadaan
12
organisme yang terbawa pada sampel. Organisme yang ditemukan selanjutnya
dilakukan identifikasi morfologi dan dicatat.
Identifikasi morfologi dilakukan dengan mencocokkan morfologi
organisme kontaminan dengan master koleksi, buku identifikasi, kunci identifikasi
on-line, master koleksi, dan CD-ROM CABI 2007 atau menanyakan spesies
organsime tersebut dengan pakarnya.
Survei ke Nursery
Survei dilakukan pada enam wilayah layanan pemeriksaan UPT Karantina
Tumbuhan yang ada di Jakarta. UPT tersebut yaitu BBKP Tanjung Priok dan
BBKP Soekarno-Hatta. Adapun wilayah layanan pemeriksaan UPT tersebut yang
digunakan survei adalah Bekasi, Bogor, Depok, Jakarta, Karawang, dan
Tangerang (Peraturan Menteri Pertanian nomor 56/Permentan/ OT.140/9/2010
tentang pelaksanaan tindakan karantina tumbuhan di luar tempat pemasukan dan
pengeluaran). Informasi lokasi nursery diperoleh dari pencarian di internet,
informasi dari BBKP Tanjung Priok-Soekarno Hatta, dan informasi dari pihak
lain. Lokasi survei di Jakarta (Griya Dina Nursery dan Toko Trubus Bintaro),
Bogor (Top Nursery), Bekasi (Anisa Adenium Nursery dan R & D Nursery),
Tangerang (Flora Alam Sutra dan Bunga Desa Nursery), Depok (PT. Godong Ijo
Nursery), dan di Karawang (PT. Benara Nursery).
Survei difokuskan pada tanaman hias, tanaman penutup tanah, dan tanaman
pelindung. Survei dilakukan dengan melakukan interview kepada pemilik
mengenai importasi tanaman hias yang dilakukan dan jenisnya.
Kelompok Serangga
Kajian spesies OPTK kelompok serangga yang berpotensi invasif.
Daftar OPTK Kategori A1 (yang belum ada di Indonesia) dan A2 (yang sudah ada
di Indonesia dengan wilayah sebaran terbatas) diseleksi dan dikumpulkan khusus
spesies yang termasuk kelompok serangga baik OPTK ekosistem pertanian dan
OPTK tanaman kayu/hutan. Daftar tersebut disandingkan dengan daftar spesies
serangga invasif dari GISD khusus kelompok serangga. Selanjutnya, spesies yang
sama dari hasil penyandingan dilakukan kajian informasi bioekologi, dampak,
daerah asal, deskripsi, status keberadaan di Indonesia, sebaran geografi, dan
taksonomi.
Kajian spesies serangga kontaminan yang berpotensi invasif. Kajian
serangga kontaminan ini menggunakan bahan yang berasal dari spesies hasil
deteksi dan identifikasi, hasil intersepsi kelompok serangga dari database Eplaq
Sytem BARANTAN tahun 2010-2011, hasil koleksi serangga intersepsi dari
BBKP Tanjung Priok. Selanjutnya, semua data tersebut digabungkan dan
kemudian disandingkan dengan data spesies serangga invasif dari GISD. Spesies
yang sama dilakukan kajian informasi seperti metode sebelumnya.
Spesies serangga kontaminan yang tidak terdaftar GISD dilakukan kajian
status mengenai keberadaannya di Indonesia serta peranannya. Data intersepsi
dari database Eplaq Sytem BARANTAN tahun 2010-2011 umumnya berupa
organisme dari kelompok bakteri, cendawan, gulma, nematoda, serangga, dan
virus. Setiap satu jenis produk pertanian impor kemungkinan dapat tercatat lebih
dari 1 organisme temuan dan berasal dari berbagai kelompok sehingga perlu
penyeleksian data organisme khusus kelompok serangga.
13
Kelompok Tumbuhan
Kajian spesies OPTK kelompok gulma yang berpotensi invasif. Daftar
spesies gulma yang ada di dalam lampiran OPTK baik kategori A1 dan A2
dikumpulkan dan selanjutnya disandingkan dengan daftar spesies tumbuhan
invasif dari GISD. Spesies yang sama dalam kedua daftar dilakukan kajian
informasi bioekologi, dampak, daerah asal, deskripsi, status keberadaan di
Indonesia, sebaran geografi, dan taksonomi.
Kajian spesies biji tumbuhan kontaminan yang berpotensi invasif.
Bahan yang digunakan dalam kajian ini adalah spesies hasil deteksi dan
identifikasi, spesies intersepsi kelompok serangga yang terekam di database Eplaq
Sytem BARANTAN tahun 2010-2011, dan spesies biji tumbuhan hasil koleksi
intersepsi dari BBKP Tanjung Priok. Selanjutnya, data tersebut digabungkan dan
disandingkan dengan data spesies tumbuhan invasif dari GISD. Spesies yang
sama dilakukan kajian informasi seperti metode sebelumnya. Spesies biji
tumbuhan kontaminan yang tidak terdaftar GISD dilakukan kajian status
mengenai keberadaannya di Indonesia serta peranannya.
Kajian spesies tumbuhan impor yang berpotensi invasif. Data yang
digunakan dalam kajian ini berasal dari spesies hasil survei ke nursery, hasil
koleksi media pembawa OPT/OPTK impor di BBKP Tanjung Priok dan BBKP
Soekarno Hatta, serta data pemasukan impor berupa tanaman hidup dan benih
yang terekam di database Eplaq Sytem BARANTAN tahun 2010-2011. Semua
data tersebut digabungkan, kemudian disandingkan dengan data spesies tumbuhan
invasif dari GISD. Spesies yang sama dilakukan kajian informasi seperti metode
sebelumnya. Spesies biji tumbuhan kontaminan yang tidak terdaftar GISD
dilakukan kajian status mengenai keberadaannya di Indonesia serta peranannya.
14
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
Kelompok Serangga
Kajian Spesies Serangga Asing Invasif yang Terdaftar sebagai OPTK
Indonesia
Spesies serangga yang terdaftar sebagai OPTK di dalam Lampiran
Keputusan Kepala BARANTAN No 28/Kpts/HK.060/1/2009 Tahun 2009
berjumlah 226 spesies yang termasuk kategori A1 dan 33 spesies yang termasuk
kategori A2. Spesies serangga yang terdaftar di dalam GISD tahun 2011 yang
telah di up date tahun 2011 berjumlah 86 spesies. Hasil penyandingan spesies
pada daftar OPTK tahun 2011 dengan daftar GISD diperoleh 11 spesies
berpotensi invasif tergolong OPTK kategori A1 dan 1 spesies yang tergolong
OPTK kategori A2 (Tabel 1). OPTK yang berpotensi invasif didominasi ordo
Coleoptera. Spesies serangga OPTK yang terdaftar invasif pada umumnya
merupakan hama pada tanaman kayu/kehutanan dan hama lapangan tanaman
pangan dan hortikultura, sedangkan untuk hama gudang hanya 1 spesies yang
terdaftar sebagai OPTK yang berpotensi invasif yaitu Trogoderma granarium.
Tabel 1. Spesies serangga invasif yang tergolong OPTK*)
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
*)
Spesies
Agrilus planipennis
Anoplophora glabripennis
Anthonomus grandis
Bactrocera tryoni
Ceratitis capitata
Coptotermes formosanus
Hypanthria cunea
Ips typographus
Icerya purchasi
Lymantria dispar
Sirex noctilio
Trogoderma granarium
Kategori
Ordo
Famili
A1
A1
A1
A1
A1
A1
A1
A1
A2
A1
A1
A1
Coleoptera
Coleoptera
Coleoptera
Diptera
Diptera
Isoptera
Lepidotera
Coleoptera
Hemiptera
Lepidoptera
Hymenoptera
Coleoptera
Buprestidae
Cerambycidae
Curculionidae
Tephritidae
Tephritidae
Rhinotermitidae
Arctidae
Scolytidae
Margarodidae
Lymantriidae
Siricidae
Dermestidae
Hasil penyandingan antara spesies pada Kementan (2011) dengan GISD.
Aturan nasional selalu berkembang sesuai perkembangan aturan dunia,
daftar OPTK harus selalu diperbarui. Penetapan daftar OPTK di Indonesia pada
umumnya berjalan setiap 3 tahun (Hermawan 20 Februari 2012, komunikasi
pribadi), tetapi pada 29 Desember 2011 bertepatan dengan proses penelitian ini,
telah terbit Peraturan Menteri Pertanian nomor 93/Permentan/OT.140/12/2011
tentang Jenis Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina. Perubahan daftar
15
OPTK tersebut, mencantumkan adanya spesies serangga mengalami perubahan
daftar OPTK. Total serangga terdaftar OPTK yaitu 229 spesies, terjadi
penambahan 6 spesies, dan terjadi perubahan status kategori ada 2 spesies
(Bactrocera neohumeralis dan Heterobostrychus aequalis).
Penambahan spesies pada daftar OPTK terdiri atas 2 spesies kategori A1
(Caliothrips masculinus dan Chaetosiphon fragaefolii) dan 4 spesies kategori A2
(B. occipitalis, Pineus boerneri, Sexava nubila, dan, Thosea monolancha).
Perubahan daftar OPTK pada tahun 2011 tidak menunjukkan perbedaan hasil
spesies OPTK yang berpotensi invasif dengan pada daftar OPTK 2009. Presentase
spesies OPTK yang merupakan invasif kurang lebih 3.5%. Hal ini menunjukkan
bahwa tidak semua spesies OPTK merupakan spesies invasif seperti yang
dinyatakan oleh Lopian (2005).
Agrilus planipennis. Serangga ini merupakan salah satu serangga kumbang
metalik penggerek kayu yang lebih dikenal dengan sebutan Emerald ash borer
(EAB). Kumbang ini menjadi invasif dan asli China Timur Laut, Korea, Jepang,
dan Rusia. Tubuh imago tidak ada spot, pronotum berwarna hijau keemasan, elitra
dan sternit abdomen berwarna hijau, tergit abdomen berwarna tembaga keunguan,
pigidium berbentuk cekung seperti duri, dan panjang tubuh 13 mm (Zablotny
2008). Serangan awal A. planipennis sangat sulit untuk dideteksi tetapi dapat
dicirikan bahwa tanaman yang terserang kumbang ini tidak mengeluarkan getah
atau cairan dan terbentuk lubang pada pohon seperti huruf “D” sebagai tempat
keluarnya imago. Pendeteksian serangan A. planipennis dapat dilakukan ketika
serangan tinggi atau pohon telah mati. Larva menyerang floem dan menggerek
lapisan kambium, umumnya serangan dengan pola zigzag. Larva bersifat kanibal
terutama pada kepadatan populasi yang tinggi. Imago tertarik pada cahaya, tetapi
akan jatuh atau pura-pura mati ketika ada bahaya dan kembali terbang. Imago
aktif pada kanopi yang terpapar cahaya dan pada kondisi suhu lebih dari 25 °C.
Satu generasi dihasilkan dalam kurun 1 tahun (Wang et al. 2010).
Kumbang ini membuat koloni dan serangannya menyebabkan kematian
pepohonan ash, terutama tanaman genus Fraxinus di daerah perkotaan dan hutan.
Selain itu, tanaman yang diserang adalah tanaman hias dan pohon yang ada di tepi
jalan dan kebun (EPPO 2005).
Anoplophora glabripennis. Kumbang penggerek kayu terbesar di Asia
sebagai habitat aslinya seperti China, Jepang, Korea, dan Taiwan menyebar ke
Austria, Jerman, Kanada, Perancis, dan USA. Serangga ini banyak ditemukan di
daerah subtropik hingga beriklim sedang. A. glabripennis menyebabkan kerugian
secara ekonomi, sosial, dan ekosistem. Kerusakan berdampak pada ekosisten
tanaman berdaun lebar di Eropa, berkompetisi dengan serangga Xylophagus,
menyerang pohon di jalan dan kebun di daerah urban, mematikan tanaman sehat,
dan bahkan menyerang pohon yang telah dipanen (Sauvard 2006). Di Amerika
Serikat, kumbang ini menyerang populasi pohon kota. Perkiraan potensi dampak
maksimum secara nasional, A. glabripennis merusak 34.9% total kanopi,
menyebabkan kematian pohon 30.3% (1.2 milyar pohon), dan kerugian 669
milyar $US (Nowak et al. 2001). A. glabripennis jantan pada umumnya sebagai
penyerang inang pertama kali, kemudian mengundang betina untuk kawin dengan
feromon dan selanjutnya berkembang biak di pohon inang. Perkembangannya
diperkirakan dapat berhasil dan mapan di Indonesia mengingat kisaran suhu untuk
perkembangan sesuai dengan kisaran suhu di Indonesia. Imago betina mampu
16
bertahan hidup pada kisaran suhu 3-39 °C dan jantan pada suhu 2-38 °C. Suhu
optimum untuk fekunditas maksimum adalah 23-24 °C. Telur cepat menetas pada
suhu 29 °C dan presentase penetasan tertinggi pada suhu 23 °C (Keena 2006).
Pengendalian dapat dilakukan dengan melakukan monitoring dan eradikasi (EPPO
2013b).
Anthonomus grandis. Kumbang moncong asli dari Meksiko hingga
Amerika Tengah dan menjadi invasif di USA. Ukuran tubuhnya 6-7 mm,
berambut kasar dan moncong melengkung. Elitra beralur dan dipenuhi rambut
kaku (Gambar 1). Kumbang ini memakan dan berkembang hanya pada kapas dan
tanaman malvaceous. Di daerah beriklim sedang, A. grandis dorman bereproduksi
tanpa makan sepanjang musim dingin dan akan kembali aktif hingga kapas
berbunga. Di daerah sub tropik dan tropik, imago aktif secara periodik selama
musim panas dan musim kapas tidak bereproduksi, dan kumbang akan makan dan
bereproduksi setelah tersedia inang yang sesuai. Serangan A. grandis
menyebabkan berkurangnya produksi kapas. Pengendalian yang dapat dilakukan
dengan mengaplikasikan insektisida pada daun dan bunga (ISSG 2011).
Bactrocera tryoni. Lalat buah ini dikenal sebagai Q-fly dan QFF yang
umum ditemui pada area kota dan hortikultura di Australia Timur. Serangga ini
sangat merusak sebagian besar buah-buahan, dan merugikan secara ekonomi.
Panjang tubuhnya 7 mm dengan panjang sayap 10-12 mm. Imago berwarna
cokelat kemerahan. Imago sepanjang hidupnya dapat meletakkan telur sampai
dengan ratusan butir. Perkembangan telur menjadi larva sangat cepat sehingga
dapat merusak buah dalam beberapa hari. Inang utama seperti apel, kopi, jambu
biji, lemon, mangga, kenanga, pepaya dan tomat serta masih banyak lagi jenis
buah impor yang menjadi inang lalat tersebut. Q-fly telah dilaporkan menyerang
60 jenis tanaman liar. Lalat ini mampu beradaptasi pada kisaran iklim yang luas.
Lalat mampu bertahan pada suhu -2 ºC sampai dengan 25 ºC bahkan lebih, lalat
ini tidak mati pada lokasi yang mengalami musim gugur yang bersuhu -4.5 ºC.
Pengendalian dilakukan dengan melakukan kombinasi penyemprotan umpan yang
diberi insektisida, menjaga kebersihan di kebun, dan pelepasan jantan mandul
(ISSG 2011).
Gambar 1
Imago Anthonomus grandis perbesaran 6.5x (Sumber: Koleksi
Penerimaan BBKP Tanjung Priok, foto oleh Rahma, mikroskop
stereo ZEISS Stemi 2000-C, kamera AxioCam ERc5s)
17
Ceratitis capitata. Hama utama yang menyerang lebih dari 300 inang yang
berbeda, terutama pada buah daerah beriklim sedang dan subtropik. Lalat
menginvasi di beberapa negara dan penyebab utama kehilangan hasil bagi petani
buah. C. capitata memiliki toleransi yang tinggi pada suhu dingin daripada lalat
buah lainnya. Selain secara ekonomi, serangan lalat ini menyebabkan penurunan
estetika (ISSG 2011). Ukuran imago lalat 3.5-5 mm, dengan corak semburat
cokelat kekuningan pada tungkai, abdomen, dan sayap. Tanda pada sayap
mempunyai karakteristik khusus (Gambar 2). Tengah kepala ke bawah terdapat
seta berwarna putih, mata ungu kemerahan, terdapat rambut di sekitar oceli.
Apikal skutelum berwarna hitam. Siklus hidup kurang lebih 1 bulan dan imago
dapat hidup mencapai 2 bulan. Kisaran suhu perkembangan yang sesuai antara
13 °C dan 28 °C. Pengendalian dapat dilakukan dengan memasang perangkap
dengan umpan yang dikominasikan dengan insektisida malathion (EPPO 2011).
Kisaran suhu perkembangan lalat buah yang demikian dan kelimpahan inang
berupa buah-buahan sangat sesuai dengan kondisi di Indonesia sehingga perlu
kewaspadaan keberadaan C. capitata di Indonesia mengingat kerugian yang
diakibatkannya.
Gambar 2 Imago Ceratitis capitata perbesaran 6.5x (Sumber: Koleksi
Penerimaan BBKP Tanjung Priok, foto oleh Rahma, mikroskop
stereo ZEISS Stemi 2000-C, kamera AxioCam ERc5s)
Coptotermes formosanus. Rayap yang banyak ditemukan di daerah
subteranian. Rayap ini menyukai daerah kelambaban tinggi dan tersedia kayu.
Hama ini bersifat agresif sehingga mampu bersaing dengan spesies lain. Rayap
mampu hidup pada suhu 17-32 °C. Pengendalian tidak dapat dilakukan secara
tuntas karena faktor koloni yang besar dan berada di dalam tanah. Rayap
memakan bahan yang terdapat selulosa. Serangga ini dapat berpindah tempat
dengan menginfestasi galangan kapal. Panjang tubuh 4-5 mm. Alate beukuran 1215 mm. Kerugian yang diakibatkan serangan rayap ini yaitu menyebabkan
kerugian ekonomi yang dikeluarkan untuk biaya pengendalian, berkuranngnya
persediaan bahan bangunan dari kayu, mampu bersaing dengan spesies rayap yang
asli di USA. Pengendalian dapat dilakukan dengan mengawetkan kayu
menggunakan creosote dan garam anorganik, termitisida, dan umpan beracun
18
(CABI 2013). Indonesia sangat sesuai untuk perkembangbiakan C. formosanus
karena suhu yang mendukung dan kelimpahan kayu di Indonesia.
Hypanthria cunea. Serangga ini asli Amerika Utara, menyebabkan
kerusakan di area pertanian dan kerusakan keanekaragaman hayati. Serangga
bersifat polifagus dan menyerang lebih dari 100 spesies tanaman inang. Serangga
ini lebih menyukai inang cottonwood dan chokecherry. Satu tahun dapat terjadi 1
hingga 2 generasi tergantung lokasi. Larva hidup secara gregarius dan sebagai
fase perusak (Davis 2011). Di Amerika, suhu optimum untuk perkembangan
serangga ini yaitu 22-25 °C dengan kelembaban 70-80%. Serangga ini menyerap
menyerang daun hingga gundul. Telur diletakkan 293-1 892 butir selama 1-2 hari
(CABI 2013).
Iceriya purchasi. Serangga ini menyebabkan hilangnya cairan pada
tanaman sehingga daun dan buah berumur muda menjadi gugur serta kematian
cabang dan beberapa tanaman. Keberadaan serangga ini dapat memicu
pertumbuhan cendawan jelaga hitam yang menutupi permukaan daun sehingga
menghalangi proses fotosintesis. Serangga ini asli Australia dan telah menyebar di
beberapa daerah Galapagos (ISSG 2011). Tubuh serangga ini berwarna oranye
kecokelatan, dengan tungkai, antena dan rambut tubuh berwarna hitam, serta
panjang tubuh 10 mm. Umur jantan lebih pendek daripada betina. Ciri khas
serangga ini adalah mempunyai 2 spirakel pada abdomen, dan 3 citracices dan
seta yang berwarna hitam. Hama ini telah ada di Indonesia di wilayah Jawa,
Sulawesi, Sumatera, dan Papua Barat (CABI 2013).
Ips typographus. Serangga ini asli Eropa dan Asia. Kumbang ini berwarna
cokelat gelap, mengkilat, dan berambut. Tubuhnya berukuran 4.5-5.5 mm, antena
berbentuk clavate, dan kepala berada di bawah pronotum. Ciri khusus terletak
pada posterior di bagian elitra, dengan ujung seperti penyok dan tepi penyokan
terdapat empat tonjolan seperti gerigi, tonjolan ketiga lebih membulat dan besar.
Imago betina mampu memproduksi telur 30-80 butir dengan ukuran kurang dari
1 mm. Larva tidak bertungkai. Awalnya, imago jantan menyerang pohon dengan
menularkan cendawan Ceratocystis polonica untuk menanggulangi reaksi kimia
pada cairan tanaman, kemudian mempersiapkan diri untuk kawin dengan
mengeluarkan sex feromon untuk menarik betina di dalam pohon dan selanjutnya
betina bereproduksi di dalam pohon. Kondisi lingkungan yang sesuai akan
mendukung perkembangan hama dan umumnya 1 generasi tercapai dalam
2-2.5 bulan. Suhu yang rendah dapat menghambat perkembangan hama tersebut.
Perkembangan hama yang cepat mencirikan keinvasifan dengan menghasilkan
4-6 generasi per tahun dan itu tergantung pada kondisi lingkungan yang
mendukung. Suhu maksimum imago beraktivitas terbang pada 25-30 ºC (CABI
2013). Wabah serangan hama ini mengakibatkan kerugian 30 juta meter kubik
pohon cemara di Jerman, dan baru-baru ini serangan hama berserta adanya angin
kencang menyebabkan kerugian 7 juta meter kubik pohon cemara di Norwegia
dan Swedia (USDA 2013).
Lymantria dispar. Serangga ini dikenal dengan nama Asian gypsy moth,
sebaran aslinya Eurasia. Serangga ini menyerang dedaunan pada pohon naungan,
pohon buah-buahan, tanaman hias, dan tanam hutan kayu keras. Serangan berat
dapat menyebabkan gundulnya daun, terhambatnya pertumbuhan, dan kematian
pohon, serta berkurangnya kelembaban tanah. Imago mampu meletakkan telur
300-1 000 butir, diletakkan berkelompok dan ditutupi rambut-rambut berwarna
19
kekuningan. Serangga ini mengalami periode dormansi dan mampu bertahan pada
suhu antara -30 dan -31.7 ºC. Ada 2 strain L. dispar yaitu strain Asia dan strain
Eropa. Strain Asia lebih invasif daripada strain Eropa. Kemampuan terbang
L. dispar strain Asia mencapai 25 mil untuk meletakkan telur, sehingga
memungkinkan penyebaran yang agresif. Larva instar terakhir mengonsumsi daun
paling banyak (85% dari total konsumsi). Wabah berlangsung 2 sampai 4 tahun
dan kemudian mati. Kematian umumnya disebabkan serangan virus, parasit,
predator, kelaparan, dan kondisi iklim yang tidak menguntungkan. Hama ini
menyerang 500 spesies tumbuhan. Serangan dapat menyebabkan kematian pohon
mencapai 30-40%. Rambut-rambut serangga ini menyebabkan alergi kulit, mata,
dan pernafasan (Fabel 2000). Penyebaran alami juga dapat dilakukan oleh larva
instar terkahir yang dapat berjalan hingga 100 m (ISSG 2011). Sebagian inang
hama ini merupakan spesies tanaman yang dibudidayakan di Indonesia sehingga
perlu diwaspadai pemasukan L. dispar karena kondisi lingkungan di Indonesia
sangat mendukung perkembangbiakannya.
Sirex noctilio. Tabuhan asli Eropa ini memiliki resiko invasif yang tinggi.
Di beberapa bagian Asia, tabuhan yang bersimbiosis dengan cendawan
Amylostereum areolatum menyebabkan kematian 80% pohon pinus. Ukuran
tubuh S. noctilio adalah 12-34 mm, berwarna biru gelap metalik. Tungkai depan
dan tengah berwarna kuning atau merah kecokelatan, dan tungkai belakang
berwarna hitam. Sayap berwarna kuning. Tabuhan ini mampu beradaptasi pada
keragaman suhu dan kelembaban yang luas. Inang utama yang diserang tabuhan
ini adalah Pinus spp. Tabuhan dapat terbawa melalui impor palet (ISSG 2011).
Trogoderma granarium. Kumbang ini sering disebut Khapra beetle,
serangga ini asli dari India dan telah menetap di Eropa, Afrika, dan Asia
(Arakelian 2013). Kumbang ini dipertimbangkan invasif karena dapat
menyesuaikan diri di berbagai kondisi lingkungan, memiliki inang beragam,
berkembang biak dengan cepat, dan merugikan secara ekonomi serta dapat
mengganggu kesehatan manusia. Imago berukuran 1.6-3.4 mm, tubuhnya ditutupi
dengan rambut, berbentuk oval, berwarna cokelat kehitaman, dan elitra terdapat
pola gelombang berwarna merah kekuningan (Gambar 3). Siklus hidupnya
26-220 hari bergantung pada suhu. Suhu perkembangan optimum yaitu 35 °C.
T. granarium mampu bertahan pada suhu di bawah -8 °C. Larva terkadang
mengalami diapause pada interval waktu yang panjang dan aktif kembali secara
tidak teratur bergantung pada ketersediaan inang yang baru. Larva dapat bertahan
hidup tanpa makanan hingga 3 tahun. Larva menyerang utamanya pada epikotil
biji. Serangan berat dapat menyebabkan rusaknya produk simpanan. Kumbang ini
menyerang serealia utuh, serealia bentuk remahan, biji yang mengandung lemak,
dan bahan makanan lainnya. Kumbang ini juga dapat menyerang komoditas
kering yang berasal dari hewan. Kerugian secara ekonomi yang disebabkan
serangan T. granarium berkisar 2-70%. Rambut-rambut dan eksuvie T. granarium
dapat menyebabkan dermatitis (Ahmedani et al. 2007).
20
3 mm
Gambar 3. Imago Trogoderma granarium perbesaran 6.5x (Sumber: Koleksi
Penerimaan BBKP Tanjung Priok, foto oleh Rahma, mikroskop
stereo ZEISS Stemi 2000-C, kamera AxioCam ERc5s)
Kajian Spesies Serangga Kontaminan yang Berpotensi Invasif di Indonesia
Hasil intersepsi dari BARANTAN menunjukkan bahwa ada 5 negara asal
produk pertanian impor yang memiliki urutan frekuensi tertinggi yang memiliki
andil dalam pemasukan spesies serangga dan tumbuhan asing secara tidak sengaja
ke Indonesia. Amerika Serikat merupakan negara yang memiliki andil pemasukan
organisme asing terbanyak ke Indonesia (Tabel 2). Produk pertanian impor dari
negara maju tidak menjamin bahwa kualitas produk pertanian dalam hal
kebersihan dan kesehatan tanaman akan selalu baik. Adapun organisme serangga
dan tumbuhan kontaminan pada berbagai produk pertanian impor dari Amerika
Serikat tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Lampiran 1. Produk pertanian
impor yang paling sering ditemukan serangga dan tumbuhan asing kontaminan
adalah kedelai (Tabel 3). Serangga yang mengontaminasi produk pertanian impor
di tahun 2010 dan 2011 pada umumnya berasal dari Ordo Coleoptera yaitu lebih
dari 75% (Gambar 4). Hasil intersepsi BARANTAN tahun 2010 banyak
menemukan serangga yang tidak diidentifikasi karena yang ditemukan hanya
berupa bagian dari tubuh dan atau stadia serangga. Umumnya serangga yang
ditemukan merupakan hama tetapi ada satu spesies yang termasuk agens hayati
berupa parasitoid di penyimpanan. Parasitoid tersebut dari Ordo Hymenoptera
yaitu Anisopteromalus calandrae.
Ordo Coleoptera yang sering mengontaminasi produk pertanian impor di
tahun 2010 ada 18 famili, sedangkan di tahun 2011 ada 12 famili. Famili
Nitidulidae sering ditemukan mengontaminasi produk pertanian impor di tahun
2010, sedangkan di tahun 2011 sering ditemukan organisme dari Famili
Tenebrionidae (Tabel 4). Hal ini disebabkan produk pertanian impor di tahun
2010 berupa mayoritas produk pertanian yang lembab atau mengandung air dan
mudah membusuk, seperti bawang merah, edamame, bawang putih, dan lain-lain.
Produk tersebut merupakan inang yang disukai serangga Famili Nitidulidae
karena beberapa serangga dari famili ini memakan getah tumbuhan dan cairan
pada buah (Government of Canada, Canadian Grain Commission 2013a), tetapi
famili ini juga dapat menyerang produk simpanan yang kering. Produk pertanian
21
kering yang dimpor di tahun 2010 banyak yang berbentuk remahan dan sedikit
yang berbentuk biji, tetapi di tahun 2011 didominan dengan biji-bijian utuh dan
remahan. Famili Nitidulidae merupakan hama sekunder. Biji yang sering diserang
di penyimpanan umumnya biji yang telah berlubang atau mengalami kerusakan
sebelumnya atau berupa remahan. Famili Tenebrionidae umumnya menyerang
biji-bijian yang utuh dan stabil di penyimpanan, meskipun sebagian inang ada
yang menyukai tepung atau remahan. Serangga Famili Tenebrionidae umumnya
menjadi hama primer. Hal ini yang menyebabkan Famili Tenebrionidae lebih
banyak ditemukan pada produk pertanian impor di tahun 2011 yang mayoritas
bentuknya berupa biji (Government of Canada, Canadian Grain Commission
2013b).
Hasil intersepsi yang terekam di database Eplaq Sytem BARANTAN pada
umumnya kurang dapat menunjukkan jenis produk pertanian yang terbawa atau
terkontaminasi serangga maupun tumbuhan asing karena berdasarkan nomor
registrasi permohonan masuk. Satu kali permohonan yang masuk terkadang terdiri
atas 2 atau lebih jenis produk pertanian dan bahkan rekaman data produk impor
tidak mencukupi ruangan yang telah disediakan di aplikasi. Untuk lebih detail dan
rinci hasil intersepsi hanya dapat diperoleh dari hasil intersepsi di setiap UPT
Karantina Pertanian.
Tabel 2
Lima negara asal barang impor dengan tingkat temuan kontaminasi
serangga dan tumbuhan asing tertinggi di tahun 2010 dan 2011*)
Jumlah kontaminan
Persentase
(organisme)
temuan
(%)
Temuan
Serangga Tumbuhan
Frekuensi (kali)
Tahun
Negara
Impor
2010
2011
*)
Amerika
Serikat
Malaysia
Singapura
Thailand
Vietnam
10 646
351
3.30
23
21
6 101
6 327
4 973
1 672
366
18
39
41
6.00
0.28
0.78
2.45
15
12
12
13
6
1
6
2
Amerika
Serikat
India
Malaysia
Thailand
Vietnam
7 345
131
1.78
8
27
4 691
5 409
3 744
1 786
22
16
42
57
0.47
0.30
1.12
3.19
10
7
9
11
0
1
7
8
Sumber: dihitung dari database Eplaq Sytem BARANTAN.
22
Tabel 3 Lima produk pertanian impor tahun 2010 dan 2011 yang sering
terkontaminasi spesies serangga dan tumbuhan asing*)
Tahun
Produk pertanian
2010
Kedelai (Soybean)
Bawang merah (Shallot)
Beras (Rice)
Kayu oak merah
(Round log/red oak logs)
Kedelai muda (Edamame)
Kedelai (Soybean)
Beras (Rice)
Jagung (Corn)
Beras menir (Broken rice)
Bungkil jagung (Corn kernel)
2011
*)
Frekuensi temuan (kali)
219
109
61
57
52
125
78
17
12
9
Sumber: dihitung dari database Eplaq Sytem BARANTAN.
2010
2011
Gambar 4 Proporsi ordo serangga yang mengontaminasi produk pertanian
impor tahun 2010 dan 2011
23
Tabel 4
Lima famili serangga dari Ordo Coleoptera yang sering
mengontaminasi produk pertanian impor di tahun 2010 dan 2011*)
Famili serangga
Anobiidae
Cucujidae
Curculionidae
Nitidulidae
Tenebrionidae
*)
Frekeunsi temuan (kali)
Tahun 2010
Tahun 2011
51
48
30
219
108
27
23
37
28
77
Sumber: dihitung dari database Eplaq Sytem BARANTAN.
Kedelai yang diimpor pada tahun 2010, terkontaminasi serangga OPTK
kategori A1 yaitu Sitophilus granarius (Tabel 5). Seluruh hasil intersepsi
menunjukkan bahwa ada 3 spesies serangga asing invasif yang terdaftar sebagai
OPTK kategori A1 (Tabel 6). Adanya temuan spesies tersebut baik dalam keadaan
mati maupun hidup, sebagai tindakan antisipasi penyebaran spesies yang tahan
terhadap perlakuan di negara asal maka di Indonesia telah dilakukan tindakan
perlakuan terhadap produk pertanian yang terkontaminasi tersebut.
Tabel 5 Serangga yang sering ditemukan mengontaminasi kedelai impor di
tahun 2010 dan 2011*)
Negara asal
Amerika Serikat
India
Kanada
*)
Nama organisme serangga
kontaminan
Ahasverus advena
Alphitobius diaperinus
Araecerus fasciculatus
Callosobruchus maculatus
Cryptolestes ferrugineus
Cryptolestes sp.
Liposcelis sp.
Oryzaephilus surinamensis
Sitophilus granarius
Sitophilus oryzae
Sitophilus sp.
Tribolium castaneum
Tribolium sp.
Carpophilus sp.
Cryptolestes ferrugineus
Tribolium castaneum
Oryzaephilus surinamensis
Tribolium sp.
Sumber: dihitung dari database Eplaq Sytem BARANTAN.
- Tidak terdeteksi.
Frekeunsi temuan (kali)
2010
2011
2
1
2
2
3
1
1
1
1
3
1
1
1
2
2
1
1
2
1
3
7
1
-
24
Pendeteksian dan identifikasi spesies asing secara langsung dilakukan pada
31 produk pertanian impor dari berbagai negara yang masuk melalui pelabuhan
Tanjung Priok dan bandara Soekarno-Hatta. Keseluruhan hasil pengamatan
menunjukkan adanya 156 organisme asing yang terdiri atas kelompok tumbuhan
137 organisme dan kelompok serangga 19 organisme (Lampiran 2). Beberapa foto
serangga kontaminan terdapat pada Lampiran 3. Sembilan belas organisme
serangga kontaminan terdiri atas 15 spesies, 1 genus, 1 famili, dan 2 ordo. Jumlah
organisme asing terbanyak ditemukan pada kedelai impor dari Amerika Serikat
yaitu 48 organisme. Kelompok serangga yang terdeteksi mayoritas merupakan
serangga gudang kosmopolitan. Ada beberapa serangga yang merupakan hama
pada kayu yaitu A. sulcicollis, M. robiniae, dan P. sanguineum. Dua diantara
hama kayu tersebut merupakan serangga yang berpotensi invasif, sedangkan
P. sanguineum merupakan spesies yang terancam punah (Tabel 6). Data koleksi
yang bersumber dari kegiatan intersepsi untuk kelompok serangga tidak ada yang
menunjukkan OPTK atau spesies yang berpotensi invasif. Data koleksi serangga
yang ada di BBKP Soekarno-Hatta terbatas dari hasil pemantauan sehingga data
koleksi serangga intersepsi hanya diperoleh dari BBKP Tanjung Priok.
Tabel 6
Status spesies serangga asing yang belum ada di Indonesia
mengontaminasi produk pertanian impor
Spesies
Agrilus sulcicollis
Megacyllene robiniae
Pyrrhidium sanguineum
Ceratitis capitata*)
Sirex noctilio*)
Trogoderma granarium*)
Bactrocera psidii**)
Sitophilus granarius**)
*)
**)
Produk pertanian/
Negara Asal
Sumber
perolehan
Status
Kayu log oak
merah/ Jerman
Kayu log oak
merah/ Jerman
Kayu log oak
merah/ Jerman
Longan fresh/
Thailand
Kurma/Mesir
Kayu (Logs)/
Amerika Serikat
Soybean Meal/
Argentina
Identifikasi
Invasif
Identifikasi
Invasif
Identifikasi
Terancam
punah
Invasif
Intersepsi
tahun 2010
Intersepsi
tahun 2010
Invasif
Yelow
Peas/Malaysia
Kedelai/ Amerika
Serikat
Beras/ Thailand
dan Vietnam
Intersepsi
tahun 2010
Intersepsi
tahun 2010
Intersepsi
tahun 2011
Noninvasif
Noninvasif
Intersepsi
tahun 2010
Terdaftar sebagai OPTK kategori A1 dan spesies invasif di dalam GISD.
Terdaftar sebagai OPTK kategori A1.
Invasif
25
A. sulcicollis. Serangga ini merupakan kumbang yang lebih dikenal dengan
European oak borer (EOB). Ukuran tubuh 7 mm, warna biru metalik, dan elitra
mengkilap (Gambar 5). Rincian deskripsi seperti pada laporan Jendek dan
Grebenniko (2009). Siklus hidup mencapai 1 hingga 2 tahun. Imago menyerang
batang dan pohon yang berdaging tebal dan lemah. Telur diletakkan di bawah
kulit kayu. Larva hidup dan menyerang bagian antara floem dan kulit kayu,
sehingga membuat pohon mudah terbakar. Serangga ini asli Eropa dan di Asia
meliputi Azerbaijan, Georgia, dan Kazakhstan tetapi kemungkinan yang
dilaporkan di Asia ialah A. buresi. Serangga ini lebih menyerang oak. Selain itu,
dapat menyerang Fagus sylvatica, Castanea. Spesies ini pernah dikoleksi di
Kanada menggunakan perangkap pada pohon Quercus rubra, Sticky-trapp pada
Carya cordiformis, dan perangkap di pohon Fraxinus sp. Kumbang A. sulcicollis
diketahui invasif di Kanada, yakni di Ontario Selatan. Serangga ini diperkirakan
telah masuk Ontario pada tahun 1995 (Jendek dan Grebenniko 2009). Spesies ini
memiliki genus yang sama pada spesies invasif yang terdaftar dalam GISD yaitu
A. planipennis. Spesies ini belum ada laporan yang menyatakan keberadaannya di
Indonesia.
Gambar 5 Imago Agrilus sulcicollis perbesaran 6.5x (Sumber: foto oleh Rahma,
mikroskop stereo ZEISS Stemi 2000-C, kamera Canon Ixus 1000HS)
Megacyllene robiniae. Locust borer, merupakan sebutan nama untuk
kumbang berwarna hitam, dengan garis berwarna kuning melintang pada toraks,
dan di setiap elitra terdapat pola “V” berwarna kuning sehingga jika elitra
menyatu, membentuk huruf “W”. Ukuran tubuh 16 mm (Gambar 6). Antena
panjang dan tungkai berwana kuning kemerahan. Imago M. robiniae meletakkan
telur di kulit atau cabang pohon, berukuran kecil sekitar 100-200 telur secara
terpisah atau berkelompok. Stadia larva yang paling merugikan karena larva
menghisap cairan tanaman dan menggerek pohon hingga kambium (pertengahan
pohon) dan kemudian menuju pertengahan batang dan cabang. Pohon menjadi
lemah dan mati. Siklus hidup menghasilkan 1 generasi per tahun. Serangga ini
menjadi hama di Kanada bagian Timur dan juga banyak terjadi di Amerika
26
16 mm
Serikat (Karren 2003). Menurut Ciesla (2011) serangga ini menyebar di Amerika
Utara, Kanada Selatan, dan USA. Inang utamanya ialah Robinia pseudoacacia
dan dapat menyerang kultivar Genus Robiniae lainnya seperti R. neomexicana.
Pohon yang rentan terhadap serangan hama ini adalah pohon yang tingginya
kurang dari 6 in, pohon yang vigornya melemah, pohon yang sakit, pohon pada
kondisi kering dan kurang gizi (Karren 2003). Serangga ini termasuk dalam daftar
spesies invasif yang telah menetap di Oregon tahun 2000 (Nugent et al. 2005).
Selain M. robiniae berpotensi merusak, kriteria potensi invasif juga didukung oleh
keinvasifan inangnya. R. pseudoacacia merupakan spesies invasif. Tanaman ini
telah dibudidayakan khususnya di Jawa yang lebih dikenal dengan sebutan Jati
Unggul. Tumbuhan ini pernah dilaporkan invasif di Amerika Selatan, Australia,
Bostwana, beberapa negara bagian Amerika Utara, beberapa negara bagian Eropa,
Israel, Namibia, New Zealand, dan Turki (CABI 2013), tetapi belum ada
pelaporan tentang hama tersebut di Indonesia. Invasi yang diakibatkan tumbuhan
ini berdampak menghambat pertumbuhan tanaman asli dan mempengaruhi
komposisi tumbuhan di dalam ekosistem. Selain itu, R. pseudoacacia mampu
memfiksasi nitrogen dan keberadaannya menyebabkan peningkatan kadar
nitrogen di perairan (Sabdo 2000). Perlu kewaspadaan tinggi masuknya hama
M. robiniae ke Indonesia karena dapat merusak R. pseudoacacia yang
dibudidayakan di Indonesia. Meskipun R. pseudoacacia dibudidayakan di
Indonesia perlu perhatian khusus cara pengelolaan yang baik dalam skala budi
daya agar tidak menjadi invasif di Indonesia.
Gambar 6 Imago Megacyllene robiniae perbesaran 6.5x (Sumber: foto oleh
Rahma, mikroskop stereo ZEISS Stemi 2000-C, kamera Canon
Ixus 1000HS)
Pyrrhidium sanguineum. Longhorned beetle merupakan kumbang yang
menyerang kayu dan cabang tebal yang baru mati yang terpapar matahari atau
bagian batang oak. Larva menggerek kayu dan membuat jalur datar di bawah kulit
kayu. Hidupnya bergantung pada ketersediaan kayu dan cabang tebal yang mati.
Kumbang ini dilaporkan bertahan hidup pada habitat hutan yang memiliki
proporsi kayu tegakan hutan yang tinggi seperti di bagian Timur dari Småland dan
Öland pusat. Kumbang telah menyebabkan masalah pada limbah pemotongan
27
13 mm
kayu dan sempalan sebagai energi hutan (Ehnström 1999). Ukuran tubuh
6-13 mm, tubuh imago berwarna merah bata menyala, dan elitra berambut. Kepala
dan antena berwarna hitam. Antena berukuran setengah panjang tubuh (Gambar
7). P. sanguineum merupakan spesies yang dikhawatirkan terancam punah dan
tercantum pada “Red List status of European saproxylic beetles” (Nieto dan
Alexander 2010). Wilayah sebarannya meliputi Tunisia, Algeria, Eropa, Rusia,
Turki, Syria, Iran, dan Kazakhstan. Penyebaran berlanjut dari semua negara
Nordik dan negara-negara Baltik. Prevalensi dunia mulai dari Eropa Selatan dan
Barat ke arah Timur ke Turki dan Iran (Ehnström 1999).
Sebagai catatan bahwa A. sulcicollis, M. robiniae, dan P. sanguineum
diperoleh dari hasil deteksi dan identifikasi pada kayu log oak merah impor dari
Jerman melalui BBKP Tanjung Priok pada akhir 2011 dan telah diberi perlakuan
menggunakan metil bromida.
Gambar 7
Imago Pyrrhidium sanguineum betina dan jantan (paling kanan)
perbesaran 6.5x (Sumber: foto oleh Rahma, mikroskop stereo ZEISS
Stemi 2000-C, kamera Canon Ixus 1000HS)
Kelompok Tumbuhan
Kajian Spesies Tumbuhan Asing Invasif yang Terdaftar sebagai OPTK
Indonesia
Spesies gulma yang terdaftar sebagai OPTK di dalam Lampiran Keputusan
Kepala BARANTAN No 28/Kpts/HK.060/1/2009 Tahun 2009 berjumlah 58
spesies yang termasuk kategori A1 dan tidak ada gulma yang terdaftar sebagai
OPTK kategori A2. Seiring proses penelitian berjalan, daftar OPTK di Indonesia
mengalami perubahan pada tanggal 29 Desember 2011 dengan terbitnya Peraturan
Menteri Pertanian nomor 93/Permentan/OT.140/12/2011 tentang Jenis Organisme
Pengganggu Tumbuhan Karantina. Perubahan penetapan daftar OPTK tahun 2011
telah mencantumkan 3 spesies gulma OPTK kategori A2 dan 38 spesies gulma
OPTK kategori A1.
Target pemeriksaan Karantina Tumbuhan (daftar OPTK) terbaru,
diketahui bahwa ada 2 spesies tumbuhan asing invasif yang merupakan gulma
OPTK Kategori A1 dan 1 spesies yang tergolong OPTK kategori A2 (Tabel 7).
28
Spesies tumbuhan asing invasif yang terdaftar di dalam OPTK lebih didominasi
oleh Famili Asteraceae. Menurut Williams et al. (2001) bahwa Asteraceae
merupakan famili dari gulma paling penting dengan jumlah spesies tertinggi di
dunia. Sebagian besar OPTK kelompok gulma merupakan gulma pada ekosistem
pertanian yang dapat merugikan secara ekonomi. Famili Asteraceae dilaporkan
menjadi salah satu famili mayoritas tumbuhan invasif di Canada (Canadian Food
Inspection Agency 2008) dan Cina (Weber et al. 2008).
Tabel 7 Daftar spesies tumbuhan asing invasif yang merupakan OPTK kelompok
gulma di Indonesia*)
No
Spesies
1
Asystasia gangetica subsp. micrantha
(sinonim Asystasia intrusa)
Cirsium arvense
Parthenium hysterophorus
2
3
*)
Famili
Kategori
Acanthaceae
A2
Asteraceae
Asteraceae
A1
A1
Hasil penyandingan daftar OPTK 2011 dengan GISD.
Asystasia gangetica subsp. micrantha. Tumbuhan ini asli dari Afrika.
Tumbuhan ini menginvasi suatu tempat dengan cara berkembang biak secara
cepat, membentuk semak belukar yang sangat tebal, mengalahkan tumbuhan lain
di sekitarnya. Tumbuhan ini memiliki ciri khas bunga berwarna putih dengan
bintik keunguan (Gambar 8). Di Indonesia, Tumbuhan ini menginvasi di pinggir
jalan, lahan terlantar, tepi sungai, perkebunan kelapa sawit, karet, cokelat, HTI
Eucalyptus, dan lain-lain. A. gangetica subsp. micrantha dapat tumbuh di lahan
terbuka atau lahan yang ternaungi. Di tempat teduh, tumbuhan ini akan tumbuh
menjalar dan menghasilkan masa vegetatif yang berlimpah sehingga perlu upaya
dan tenaga kerja yang cukup besar untuk mengendalikannya. Di tempat terbuka
akan lebih banyak menghasilkan bunga dan biji. Tumbuhan ini menjadi gulma
yang produktif dan kompetitif. Pertumbuhan A. gangetica subsp. micrantha
memerlukan nutrisi N dan P yang tinggi. Penyebaran dapat melalui ternak yang
memakan biji. Produksi biji dengan 85% viabilitas dan dapat bertahan 8 bulan di
tanah. Secara alami, biji dapat tumbuh 30 hari setelah tanam dan memerlukan 8
bulan atau lebih untuk memproduksi biji. Sebaran di Indonesia meliputi Jawa
Barat, Kalimantan, dan Sumatera (SEAMEO-BIOTROP 2014a).
Cirsium arvense. Tumbuhan ini merupakan herba perennial asli Eropa
Tenggara, Asia Barat, dan Afrika Utara. C. arvense merupakan tanaman berumah
dua (duocieous) dan mempunyai akar yang dalam. Herba ini tumbuh baik pada
daerah yang lembab, mampu tumbuh pada tanah berlempung, tanah liat, dan tanah
berpasir. Biji bertipe achene, dapat memproduksi hingga 40.000 biji per tahun,
dan mampu memencar jauh dari tumbuhan induk hingga 1 km. Biji berkecambah
dengan baik pada kedalaman 1 cm dari permukaan tanah pada suhu antara 20 ºC
dan 30 ºC. Biji dapat mengapung di air dan dapat dipencarkan melalui tiupan
angin. Biji juga dapat menempel pada kulit atau bulu hewan. Perkecambahan biji
rata-rata 90% dalam satu tahun. Biji dapat menjadi dorman di dalam tanah hingga
20 tahun (Klein 2011). Habitat yang diinvasi berupa hutan, padang rumput,
29
riparian, tepi danau dan daerah berpasir. C. arvense memiliki akar yang tumbuh
mendalam di dalam tanah sehingga sulit untuk dikendalikan (Weber 2003).
Keberadaannya dapat menggusur tanaman asli, mengurangi hasil panen, merubah
struktur dan komposisi suatu habitat, serta menjadi inang hama Aphid dan
penggerek batang (ISSG 2011).
Gambar 8 Tanaman Asystasia gangetica subsp. micrantha (Sumber: foto oleh
Rahma, kamera Canon Ixus 1000 HS)
Parthenium hysterophorus. Tumbuhan ini merupakan gulma herba agresif
asli daerah tropik dan subtropik Amerika Utara dan Selatan. Gulma ini mampu
tumbuh pada tanah berpasir hingga tanah liat. P. hysterophorus mampu tumbuh
pada daerah yang bercurah hujan tinggi dan toleran terhadap tanah kering (Masum
et al. 2013). Gulma ini dapat mengolonisasi area dengan cepat dan menggusur
vegetasi asli, serta dapat menyebabkan alergi pada manusia. Selain itu, gulma ini
tidak dapat dimakan oleh hewan ternak karena mengandung parthenin yang
hepatotoksik. Biji yang dihasilkan berukuran kecil dan ringan sehingga dapat
dipencarkan oleh angin dan air. Pemencaran selain dari biji dapat dilakukan
dengan bagian tanaman lainnya seperti bonggol, akar dan pelepah yang tersisa di
tanah. Biji yang dihasilkan mencapai 25 000 biji per tanaman. Kemunculan
P. hysterophorus dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman
karena menghasilkan asam fenolat dan seskuiterpen (Kohli et al. 2006). Asam
fenolat dapat dikeluarkan oleh gulma Parthenium dari akar, daun, achene, dan
sisa-sisa tanaman yang membusuk di tanah (Masum et al. 2013). Ekstrak daun
P. hysterophorus dapat menghambat perkecambahan gandum hingga 22% (Gella
et al. 2013). Tanaman ini dapat menjadi inang kutu kebul. Tanpa pengendalian
P. hysterophorus sepanjang musim dapat merugikan hasil panen sorghum antara
40-97% di Ethiopia. Viabilitas biji tetap tinggi lebih dari 50% setelah 26 bulan
terkubur di dalam tanah. Secara alami biji akan berkecambah setelah 60 hari
berada di tanah. Biji mampu berkecambah dengan baik di tanah pada kedalaman
kurang dari 5 cm (Tamado et al. 2002).
30
Kajian Spesies Tumbuhan Kontaminan yang Berpotensi Invasif di Indonesia
Kajian ini diperoleh dari hasil intersepsi kelompok gulma dari database
Eplaq Sytem BARANTAN tahun 2010-2011, hasil deteksi dan identifikasi
tumbuhan kontaminan secara langsung, serta koleksi intersepsi biji gulma yang
ada di BBKP Tanjung Priok dan BBKP Soekanro-Hatta. Hasil intersepsi gulma
BARANTAN tahun 2010-2011 menunjukkan adanya 73 organisme kelompok
tumbuhan kontaminan yang terdiri atas 54 yang teridentifikasi hingga spesies dan
18 yang teridentifikasi hingga genus. Kontaminasi kelompok tumbuhan di tahun
2010 didominasi dari Famili Malvaceae, sedangkan di tahun 2011 didominasi dari
Famili Poaceae (Gambar 9). Kedelai merupakan produk pertanian impor yang
paling sering ditemukan terkontaminasi serangga dan tumbuhan asing. Adapun
organisme tumbuhan kontaminan pada kedelai impor di tahun 2010 dan 2011
terlihat pada Tabel 8. Biji tumbuhan kontaminan lebih banyak ditemukan di tahun
2010 daripada tahun 2011.
2010
2011
Gambar 9 Proporsi famili tumbuhan yang mengontaminasi produk pertanian
impor tahun 2010 dan 2011
Hasil deteksi kelompok tumbuhan kontaminan secara langsung diperoleh
dari 31 produk impor. Jumlah identifikasi kontaminan tersebut adalah 120 spesies,
11 genus, dan 6 famili. Hasil identifikasi organisme tumbuhan yang terdeteksi
mengontaminasi sampel produk pertanian impor di BBKP Tanjung Priok dan
31
BBKP Soekarno-Hatta terdapat pada Lampiran 2. Beberapa deskripsi dan foto biji
tumbuhan kontaminan hasil deteksi dan identifikasi dapat dilihat pada Lampiran 4
dan 5.
Koleksi biji tumbuhan kontaminan hasil intersepsi pada kegiatan impor
diperoleh dari koleksi OPT/OPTK di BBKP Tanjung Priok berjumlah 106 spesies
dan 4 genus. Koleksi kelompok tumbuhan di BBKP Soekarno-Hatta masih
terbatas pada koleksi media pembawa OPT/OPTK sehingga tidak diperoleh data
koleksi biji tumbuhan intersepsi dari BBKP Soekarno-Hatta.
Keseluruhan data tumbuhan asing kontaminan menunjukkan bahwa terdapat
spesies yang merupakan OPTK dan atau spesies invasif yang terdaftar di dalam
GISD serta spesies tanaman budidaya. Ada 2 spesies tumbuhan kontaminan yang
termasuk OPTK yaitu Cirsium arvense dan Cuscuta epithymum. C. arvense
merupakan spesies kontaminan yang termasuk OPTK invasif. Tumbuhan asing
yang mengontaminasi produk impor dan terdaftar di dalam GISD ada 20 spesies
(Tabel 9), 11 spesies diantaranya telah dilaporkan mapan di Indonesia (ISSG
2011). Beberapa spesies tumbuhan asing kontaminan ada yang merupakan spesies
tanaman budidaya di Indonesia antara lain: Anoda cristata, Avena fatua,
Beta vulgaris, Brassica campestris, Carica papaya, Cicer arietinum,
Fagopyrum esculentum, Glycine max, Helianthus annuus, Hordeum vulgare,
Linum usitatissimum, L. temulentum, Melilotus indicus, Phaseolus vulgaris,
Sesamum indicum, Trigonella faecumgraecum, dan Vigna radiata. Selain itu,
ditemukan spesies tumbuhan asing kontaminan yang diketahui telah menjadi
invasif di Indonesia (Tabel 10). Berdasarkan perihal keanekaragaman hayati, ada
8 spesies tumbuhan kontaminan yang terdaftar di dalam The IUCN Red List of
Threatened Species dengan kategori dikhawatirkan punah (Least Concern) antara
lain:
Aeschynomene
indica,
Cyanotis
axillaris,
Mimosa
pudica,
Paspalum scrobiculatum, Polygonum barbatum, Polygonum lapathifolium,
Polygonum persicaria, dan Sorghum bicolor.
Tabel 8
Biji tumbuhan yang sering mengontaminasi produk kedelai impor di
tahun 2010 dan 2011*)
Negara asal
Nama organisme kontaminan
Amerika Serikat
Abutilon theophrasti
Amaranthus sp.
Ambrosia artemisiifolia
Ambrosia confertiflora
Ambrosia sp.
Ambrosia spp.
Ambrosia trifida
Anoda cristata
Asteraceae
Avena sativa
Brassica campestris
*)
Sumber: dihitung dari database Eplaq Sytem BARANTAN.
- Tidak terdeteksi.
Frekeunsi temuan (kali)
Tahun 2010
Tahun 2011
4
3
26
1
1
86
1
1
11
21
2
1
21
1
1
-
32
Tabel 8
Biji tumbuhan...(lanjutan)
Negara asal
Nama organisme kontaminan
Amerika Serikat
(lanjutan)
Cassia obtusifolia
Echinochloa sp.
Ipomoea purpurea
Ipomoea sp.
Leguminosae
Panicum repens
Phytolaca sp.
Phytolacca americana
Polygonum convolvulus
Polygonum pensylvanicum
Polygonum persicaria
Polygonum sp.
Polygonum scandens
Proboscidea louisianica
Proboscidea sp.
Setaria parviflora
Setaria pumila
Setaria sp.
Sida sp.
Sida spinosa
Sorghum bicolor
Sorghum halepense
Solanum rostratum
Xanthium sp.
Xanthium strumarium
Ambrosia trifida
Emex australis
Urena lobata
Ambrosia trifida
Ambrosia artemisiifolia
Ambrosia trifida
Xanthium strumarium
Kanada
Malaysia
Uruguay
Frekeunsi temuan (kali)
Tahun 2010
Tahun 2011
7
6
1
1
1
2
1
3
1
1
31
2
1
1
5
1
3
3
1
1
9
1
1
2
1
5
3
2
1
4
2
1
1
5
5
1
3
3
-
*)
Sumber: dihitung dari database Eplaq Sytem BARANTAN.
- Tidak terdeteksi.
Secara umum hasil intersepsi BARANTAN tahun 2010-2011 kelompok
gulma menunjukkan bahwa beberapa spesies telah ada di Indonesia tetapi ada
yang belum diketahui potensi invasif dan status keberadaanya di Indonesia.
Spesies tersebut adalah A. confertiflora, Cyperus schweinitzii, P. americana, dan
P. pensylvanicum. Spesies kontaminan yang tidak terdaftar dalam GISD seperti P.
louisianica dan Brachiaria decumbens telah diketahui berpotensi invasif tetapi
dengan tingkatan yang rendah. B. decumbens merupakan gulma lingkungan yang
menjajah lingkungan terganggu, pertumbuhannya bersifat agresif, umumnya
33
memerlukan N dan P yang tinggi, dapat beradaptasi pada tanah dengan kesuburan
rendah, mengalami dormansi, dormansi dapat dipatahkan setelah 6-9 bulan
penyimpanan atau dengan skarifikasi asam dan produk biji berlimpah, tetapi
beberapa negara telah membudidayakan gulma ini sebagai pakan ternak (Cook et
al. 2005). Menurut Shelton (tahun tidak diketahui) bahwa gulma ini tumbuh
dengan cepat tetapi tidak menimbulkan bahaya. P. lousianica menjadi invasif di
Victoria karena semak ini berbuah yang berbentuk seperti cakar dan dapat
melukai kaki manusia, umumnya tumbuh pada lingkungan terganggu, daya saing
tumbuh tinggi terhadap tanaman kapas (DEPI 2013).
Tabel 9
Spesies tumbuhan asing invasif yang terdaftar di GISD dan ditemukan
mengontaminasi produk pertanian impor
Spesies kontaminan
Ageratum conyzoides*)
Ambrosia artemisiifolia
Produk
pertanian
Negara Asal
Sumber
Edamame,
groundnut
kernel, dan
bawang merah
Malaysia
Intersepsi
2010
-
-
Kedelai
Kedelai
White oak
Koleksi
2005
Amerika
Serikat
Amerika
Serikat dan
Uruguay
Jerman
-
-
Centaurea melitensis
-
-
Cirsium arvense
-
-
Cirsium vulgare
-
-
Lepidium virginicum
-
-
Melilotus albus
Mimosa pudica*)
Gandum
Edamame,
groundnut
kernel, kacang
hijau, dan
bawang merah
Pakistan
Malysia
*)
Spesies invasif yang dilaporkan ada di Indonesia menurut GISD.
- Informasi tidak diperoleh.
Identifikasi
Intersepsi
2010
Intersepsi
2010
Koleksi
2005; 2008
Koleksi
2008
Koleksi
2008
Koleksi
2008
Koleksi
2008
Identifikasi
Intersepsi
2010
34
Tabel 9
Spesies tumbuhan ... (lanjutan)
Spesies kontaminan
Produk
pertanian
Negara Asal
Mimosa pigra*)
-
-
Panicum repens*)
Kedelai
Amerika
Serikat
Koleksi
2005
Intersepsi
2011
Paspalum
scrobiculatum*)
Beras
Thailand
Identifikasi
Prosopis farcta*)
-
-
Prosopis pallida*)
-
-
Prosopis pubescens*)
-
-
Rottboellia
cochinchinensis*)
Vigna radiata
Myanmar
Identifikasi
Pueraria
javanica
Malaysia
Identifikasi
Rumex acetosella
-
-
Rumex crispus
Gandum
Pakistan
-
-
Rumex obtusifolisus
Gandum
Pakistan
Setaria verticillata*)
-
-
Sorghum halepense*)
Jinten hitam
Djibouti
Amerika
Serikat
Kedelai
Sumber
Koleksi
2005
Koleksi
2005
Koleksi
2008
Koleksi
2008
Identifikasi
Koleksi
2008
Identifikasi
Koleksi
2008
Identifikasi
Intersepsi
2011
*)
Spesies invasif yang dilaporkan ada di Indonesia menurut GISD.
- Informasi tidak diperoleh.
Hasil deteksi dan identifikasi spesies tumbuhan kontaminan diperoleh
Cynoglossum glochidiatum yang keberadaannya juga belum ada di Indonesia dan
memiliki kesamaan genus pada spesies invasif GISD yaitu C. officinale. Informasi
tentang C. glochidiatum masih terbatas. Biji C. officinale berkuruan lebih besar
daripada C. glochidiatum.
Koleksi spesies tumbuhan kontaminan di BBKP Tanjung Priok umumnya
berupa gulma. Spesies hasil koleksi BBKP Tanjung Priok tahun 2005-2008 yang
selama ini teridentifikasi sebagai Verbascum thapsus dan Ipomoea locunosa telah
mengalami re-identifikasi bahwa spesies tersebut berurutan adalah
Cyanotis axillaris dan Melochia corchorifolia. Dua spesies tersebut telah ada dan
menetap di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa belum ada spesies invasif
V. thapsus dan I. locunosa yang masuk melalui BBKP Tanjung Priok seperti yang
telah dilaporkan oleh Ujiyani (2009). M. corchorifolia telah diverifikasi dengan
35
melakukan identifikasi biji dan seedling, sedangkan C. axillaris diverifikasi
berdasarkan referensi identifikasi biji. Biji M. corchorifolia umumnya berukuran
2 mm, warna hitam, dengan hilum di ujung seperti terdapat garis-garis yang
tersusun melingkar, irisan melintang biji berbentuk segitiga dengan tepiannya
cenderung halus. Biji I. locunosa berwarna cokelat kehitaman, berukuran 4 mm,
irisan melintang biji berbentuk segitiga dengan tepian tajam, dan hilum berbentuk
bulat-cekung terletak di ujung (Lampiran 4).
Tabel 10
*)
Spesies tumbuhan asing kontaminan yang telah menjadi invasif di
Indonesia*)
No.
Spesies
Famili
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
Aeschynomene americana
Aeschynomene indica
Ageratum conyzoides
Amaranthus spinosus
Ambrosia artemisiifolia
Borreria alata
Centrosema pubescens
Cleome rutidosperma
Crotalaria juncea
Cyanotis axillaris
Echinochloa colonum
Echinochloa crus-galli
Eriochloa polystachya
Euphorbia heterophylla
Hyptis capitata
Ipomoea triloba
Mimosa pigra
Mimosa pudica
Panicum repens
Paspalum scrobiculatum
Polygonum barbatum
Rottboellia cocchinchinensis
Rumex acetosella
Rumex crispus
Silene gallica
Tribulus terestris
Fabaceae
Fabaceae
Asteraceae
Asteraceae
Asteraceae
Rubiaceae
Fabaceae
Cleomaceae
Fabaceae
Commelinaceae
Poaceae
Poaceae
Poaceae
Euphorbiaceae
Lamiaceae
Convolvulaceae
Fabaceae
Fabaceae
Poaceae
Poaceae
Polygonaceae
Polygonaceae
Polygonaceae
Polygonaceae
Caryophyllaceae
Zygophyllaceae
Sumber KLH (2003).
Cuscuta epithymum. Spesies ini dikenal dengan clover dodder. Tumbuhan
ini tidak berakar, bersifat parasit dan memiliki daun yang tereduksi. Batangnya
berbulu, seperti benang (tebal 0.25-0.40 mm), dan berwarna kuning, merah, atau
36
keunguan. Tumbuhan ini menghasilkan bunga dan buah. Buah berbentuk kapsul
yang berisi 4 biji. Biji berukuran 1 mm. C. epithymum asli Eropa dan menyebar
hampir di seluruh dunia. Pada umumnya spesies tersebut memarasit tanaman
Calluna vulgaris, Ulex europaeus, dan Trifolium spp. Biji yang berkecambah
harus segera menemukan inang untuk dihisap cairannya dan bertahan hidup.
C. epithymum membentuk haustorium sebagai alat untuk menembus ke jaringan
tanaman dan sebagai penghubung transfer makanan. Adanya kontak langsung
dengan tanaman akan mempercepat pertumbuhan C. epithymum. C. epithymum
tumbuh melilit tanaman inang berlawanan dengan arah jarum jam. Tingkat
pertumbuhan C. epithymum tergantung kesesuaian inang dan kekuatan inang. Di
Eropa Barat, C. epithymum hidup pada tanaman berbunga yag berumur 0-3 tahun
di daerah panas. Gangguan pemangkasan, pembakaran, dan pemotongan dapat
membantu perkecambahan biji. Biji dapat menjadi dorman dan mampu
berkecambah hingga beberapa tahun. C. epithymum banyak dimanfaatkan sebagai
obat pencahar dan untuk mengobati gangguan pada hati, limpa serta saluran
kemih (King dan Harris 2013). Menurut CABI (2013) bahwa C. epithymum
berpotensi invasif. Penyebarannya melalui biji dan bagian vegetatif tumbuhan.
C. epithymum mampu menghasilkan 16 000 biji. Perkecambahan biji optimum
pada suhu 15-20 ºC. C. epithymum belum ada di Indonesia dan terdaftar sebagai
OPTK kategori A1 (Kementan 2011).
Aeschynomene americana. Tumbuhan asli Amerika Tengah dan Amerika
Selatan tropik. Tumbuhan ini pada umumnya menjadi gulma pada padi dan
kedelai sehingga memerlukan pengendalian budidaya dan kimia yang memadai
mengingat gulma tersebut Famili Fabaceae yang juga merupakan famili tanaman
inang. Gulma telah ternaturalisasi di Sri Lanka. Biji berukuran 2-3 mm berwarna
abu-abu kecokelatan. Tumbuh di daerah basah dataran rendah dan tanah tergenang
air. Kemampuan beradapatasinya tinggi pada kesuburan tanah yang rendah dan
tahan terhadap nanungan yang moderat. A. americana menghasilkan fiksasi
nitrogen yang tinggi (Cook 2007). A. americana juga dilaporkan telah
ternaturalisasi di Indonesia (KLH 2003 dan Cook et al. 2005).
Aeschynomene indica. A. indica sebagai salah satu gulma padi utama di
Asia Tenggara. Gulma ini dilaporkan sebagai inang alternatif dari
Helicoverpa armigera di India. Fiksasi nitrogen tinggi dan dilaporkan berbahaya
untuk dikonsumsi kuda bila dalam tahap berbuah. Ukuran biji A. indica lebih
besar daripada A. americana. A. indica lebih menyukai kondisi tanah basah dan
sering ditemukan di sepanjang perbatasan selokan atau kolam renang, atau di
lahan pertanian basah. Tumbuhan ini telah ada dan ternaturalisasi di Indonesia
(CABI 2013).
Amaranthus spinosus. Tanaman ini asli Amerika Tropik. Benih memiliki
viabilitas yang panjang, disimpan di dalam kaca selama 19 tahun mempunyai
viabilitas 4%. Biji dihasilkan sebanyak 235 000 biji per tanaman. Biji dapat
disebarkan oleh air dan angin. Tumbuhan mampu beradaptasi pada tanah kering
dan basah, tetapi tidak tahan terhadap genangan air. Tumbuhan memiliki duri.
(Gordon et al. 2008). Tumbuhan ini menghasilkan alelopati sehingga dapat
menghambat pertumbuhan terutama pada tanaman C4. A. spinosus telah menyebar
luas di Indonesia (CABI 2013).
Ageratum conyzoides. Tumbuhan asli Amerika Tropik yang lebih dikenal
dengan sebutan nama daerah Babadotan. Spesies ini dapat terjadi di daerah
37
lembab di lahan pertanian, limbah tanah, pinggir jalan, perkebunan, padang
rumput dan ladang padi gogo. Tumbuhan ini merupakan herba semusim yang
mampu memproduksi 40 000 atau lebih biji per individu. Biji mampu disebarkan
oleh angin dan air. Siklus hidup sekitar 2 bulan. Tumbuhan ini menjadi inang
beberapa hama dan penyakit tumbuhan. Keberadaan A. conyzoides secara
signifikan mengurangi biomassa total dan jumlah spesies, yaitu keanekaragaman
hayati sekaligus merubah struktur komunitas vegetasi dan regim tanah. Spesies ini
penghasil zat alelopati dan dapat menyebabkan alergi ke beberapa manusia (ISSG
2011). Tumbuhan ini telah menyebar di Indonesia (KLH 2003).
Ambrosia artemisiifolia. Spesies ini merupakan tumbuhan herba semusim
asli USA dan Kanada. Spesies ini kompetitif, agresif, dan dianggap sebagai gulma
berbahaya yang mengganggu tanaman budidaya. Kondisi yang sesuai untuk
perkembangannya bergantung pada sinar matahari yang penuh, area yang hangat,
kaya nutrisi, tanah yang sedikit asam, dan spesies ini dapat mentolerir kondisi
tanah yang kering. Serbuk sari bunga jantan menyebabkan alergi ke beberapa
orang yang sensitif seperti; rhinitis, oculorhinitis, asma dan iritasi kulit. Biji dapat
menyebabkan penyakit pada ternak yang menelannya. Spesies ini dapat menjadi
gulma di area bunga matahari, jagung, bit, dan sereal lainnya. Kerugian ekonomi
yang ditimbulkan akibat pengeluaran biaya perawatan dan waktu tenaga kerja
(ISSG 2011). Satu tanaman dapat menghasilkan 3 000–4 000 biji, bahkan hingga
mencapai 32 000 biji per individu. Biji mampu bertahan hingga 40 tahun dan
viabilitas berkurang dipengaruhi oleh waktu penyimpanan. Biji yang matang
mempunyai daya kecambah yang rendah, dan memerlukan stratifikasi dingin
untuk perkecambahan. Biji dapat mengalami dormansi skunder (CABI 2013).
A. artemisiifolia telah masuk ke wilayah Indonesia (KLH 2003).
Centaurea melitensis. Tumbuhan herba asli Afrika Selatan dan Eropa
Selatan. Spesies ini menyerang area terbuka, area terganggu, dan penyebarannya
dapat dengan bantuan manusia atau tanah yang terkontaminasi, benih tanaman,
serta rumput. C. melitensis memiliki duri dan dapat memproduksi 6 000 biji per
individu. Kebakaran dapat membantu perkcambahan dan pemencaran biji.
Pertumbuhan spesies ini lebih cepat dibandingkan dengan vegetasi asli (CABI
2013). Belum ada informasi mengenai keberadaannya di Indonesia.
Centrosema pubescens. Tumbuhan asli Amerika Selatan Tropik. Tumbuh
merambat dengan sedikit bulu pada permukaan daun dan batang. Tumbuhan ini
memproduksi 20 biji per polong, biji berwarna hitam kecokelatan dan terdapat
pola bintik-bintik warna gelap dengan halo berwarna lebih terang. Biji berukuran
4 mm. C. pubescens mampu tumbuh pada tanah berlempung dan berpasir, daerah
tropik basah dengan curah hujan 750 mm atau lebih. Akar berupa akar tunggang
sehingga toleran terhadap kekeringan. Selain itu, toleran terhadap banjir sampai
dengan terendam selama 2 bulan. Tumbuhan ini juga toleran terhadap tanah yang
memiliki kandungan mangan yang tinggi, toleran terhadap naungan, dan mampu
menghasilkan fiksasi nitrogen yang tinggi. Kebakaran dapat memicu
perkecambahan biji. Perkecambahan biji 60% memerlukan skarifikasi, biji
mempunyai pelindung yang keras sehingga tahan abrasi dan hampir kedap air
(PIER 2005). Tumbuhan ini dikenal dengan sentro yang dapat tumbuh alami di
Jawa Timur (Schlutze-Kraft dan Clements 1990).
Cirsium vulgare. C. vulgare merupakan tumbuhan asli Afrika Utara, Asia,
dan Eropa. Tumbuhan ini berpotensi untuk bersaing dengan banyak spesies
38
tumbuhan asli dan mampu menggantikan vegetasi asli. Kemampuan mentolerir
kondisi lingkungan yang merugikan dan beradaptasi dengan habitat yang berbeda
menyebabkan mampu menyebar secara terus menerus dan menempati daerah baru
meskipun tindakan pengendalian diterapkan. Satu individu mampu menghasilkan
1 600-8 400 biji bahkan ada yang mencapai 50 000 biji. Produksi biji yang tinggi,
mengalami dormansi yang bervariasi, dan kebiasaan pertumbuhan kuat membuat
spesies ini menjadi invasif. Tumbuhan ini mampu bersaing dengan spesies lain di
padang rumput, lahan pertanian, dan dapat menyebabkan cedera fisik untuk
binatang (CABI 2013). Belum ada laporan tentang keberadaannya di Indonesia.
Crotalaria juncea. Tumbuhan ini asli Amerika Tengah yang mampu
tumbuh di daerah tropik dan subtropik. Kemampuan beradaptasi pada tanah
kering sangat tinggi, mampu beradaptasi pada tanah berpasir, lebih produktif pada
tanah yang lembab, toleransi rendah sampai dengan sedang pada tanah yang salin.
Tumbuhan memproduksi alkaloid pada biji dan polong, tetapi tidak untuk daerah
topik. Ukuran benih bervariasi dari 11 000 sampai dengan 77 000 per pon
(Sheahan 2012). Batas suhu untuk perkembangan dan pertumbuhan C. juncea
9-30 ºC (Orwa et al. 2009). Spesies ini menjadi tanaman pupuk yang ditemukan
tumbuh di Indonesia, Rodhesia, Malaysia, Taiwan, Thailand, dan China (Rotar
dan Joy 1983).
Echinochloa colonum. Tumbuhan ini merupakan asli India yang umum
menjadi gulma penting pada lahan padi. E. colonum menjadi gulma kosmopolit
pada area budidaya, area sampah, selokan dan lapangan. Kemampuan bersaing
dengan padi ditandai dengan tumbuh lebih cepat dan memiliki kumpulan akar
yang lebih besar sehingga penyerapan nitrogen, fosfor, dan kalium jauh lebih
besar daripada padi. Tumbuhan mampu memproduksi biji sebanyak 42 000 biji
viabel, dan biji mampu bertahan hingga 3 tahun. Gulma mendominasi lahan
sehingga dapat mengurangi hasil panen padi gogo rancah sekitar 74-98% (CABI
2013). Spesies ini telah ternaturalisasi di Indonesia (KLH 2003).
Echinochloa cruss-galli. E. cruss-galli tersebar luas di daerah beriklim
sedang dan subtropik hangat di dunia, memperluas ke daerah tropik. Tumbuhan
ini lebih suka tempat cerah terbuka dan sebagian besar terbatas pada tanah basah,
tanah liat sampai tanah liat berpasir. Gulma ini dapat mentolerir tanah kering,
tetapi juga dapat terus tumbuh ketika sebagian terendam. Benih memiliki
dormansi 3-4 bulan dan tidak berkecambah dalam air yang lebih dalam dari 12
cm, suhu tanah optimum untuk perkecambahan adalah 20-30 °C. Gulma
menghasilkan 3 500-80 000 biji bergantung pada jenis tanaman yang berkompetisi
dengan gulma tersebut (CABI 2013). Spesies ini telah ternaturalisasi di Indonesia
(KLH 2003).
Euphorbia heterophylla. Tumbuhan ini asli daerah tropik dan subtropik di
Amerika. Biji diproduksi dalam jumlah besar dan kelangsungan hidup yang
tinggi. Pertumbuhan optimum pada suhu 25 dan 35 °C. E. heterophylla bersama
gulma lain menghasilkan zat alelopati yang dapat menghambat pertumbuhan dan
menurunkan hasil tanaman (CABI 2013). Spesies ini telah ternaturalisasi di
Indonesia (KLH 2003).
Hyptis capitata. Tumbuhan asli Amerika Tropik dengan nama lain
H. rhomboidea. Tumbuhan banyak menginvasi sisi jalan, selokan, area sampah,
lahan kering, perkebunan karet, dan hutan jati yang lembab. Habitat yang disukai
39
daerah yang cerah atau terdapat nanungan dan mampu berbunga sepanjang tahun.
Tumbuhan ini telah menyebar di seluruh Indonesia (SEAMEO-BIOTROP 2014b).
Ipomoea triloba. Spesies ini asli dari Amerika Tropik. Tumbuhan ini telah
ada di Jawa dan ditemukan di perkebunan karet, ladang tebu, pinggir jalan, serta
lahan pembuangan sampah. I. triloba tumbuh melilit dan memproduksi biji.
Pertumbuhannya bergantung pada curah hujan. Kelembaban tanah yang sesuai
untuk perkecambahan biji ialah 40-80%. Biji mengalami dormansi. Pemecahan
dormansi yang paling efektif dengan memotong atau membuka kulit biji
menggunakan pisau. Spesies ini menjadi gulma serius di Australia dan Filipina
terutama pada tanaman monokultur. I. triloba berpotensi invasif karena
kemampuan bersaing dengan tanaman lain untuk memperoleh air dan nutrisi, serta
pertumbuhannya yang melilit dapat menyebabkan kesulitan pemanenan secara
mekanik. I. triloba ini diketahui menjadi inang penyakit sapu setan pada ubi jalar
dan inang alternatif Meloidogyne javanica dan M. incognita (CABI 2013).
Lepidium virginicum. Spesies ini asli dari Amerika Utara, Amerika
Selatan, Costa Rica, El Salvador, Guatemala, Honduras, Nicaragua, dan Panama.
Tumbuhan ini menjadi gulma di lahan pertanian, sayuran, buah-buahan, dan di
lahan pembibitan. Tumbuhan ini ternaturalisasi di Amerika Serikat bagian Barat,
Hawai, dan menyebar cepat ke Grand Cayman, serta ternaturalisasi di Turki. Buah
berbentuk silica membulat, dengan ujung bertakik, lebar buah 4 mm, pipih dan
bersayap di bagian eksterior. Tanaman ini dapat tumbuh daerah yang ternaungi
atau daerah yang mendapat sinar matahari penuh (PIER 2013). Spesies ini belum
ada pelaporannya di Indonesia.
Melilotus albus. Spesies ini merupakan herba biennial asli Afrika Utara,
Asia, dan Eropa. Tumbuhan ini menghasilan coumarin yang beracun bagi hewan
(ISSG 2011). Produksi biji tinggi dengan indeks produktivitas sebesar 14-26%
(Kolyasnikova 2013). M. albus memproduksi biji hingga 350 000 biji baik dari
hasil penyerbukan silang maupun hasil penyerbukan sendiri. Biji tetap viabel
meskipun terkubur di dalam tanah hingga 81 tahun. Kebakaran baik alami
maupun dari kegiatan manusia dapat menyebabkan skarifikasi biji dan
menstimulir perkecambahan biji. Suhu kurang dari 59 ºF merupakan suhu
optimum perkecambahan biji. Tumbuhan ini toleran pada tanah dengan
kandungan garam moderat dan tidak toleran terhadap naungan. Gulma ini dapat
terjadi di hutan, perairan, dan padang rumput (NPS 2013). Biji yang dihasilkan
berbentuk hati dengan warna hijau kekuningan hingga kuning kecokelatan,
permukaan biji halus, berukuran panjang 1-2 mm. Satu polong menghasilkan 1
biji seperti ada alur gelombang pada permukaan polong (Gambar 10). Informasi
tentang keberadaannya di Indonesia belum diketahui.
Mimosa pudica. Spesies ini merupakan herba Amerika, menghasilkan biji
600-700 biji per musim. Biji dapat bertahan hingga 19 tahun disimpan di
Laboratorium dengan daya kecambah 2%. Kulit polong berbulu memungkinkan
dapat dipencarkan melalui manusia atau bulu hewan. Biji juga dapat dipencarkan
oleh air. M. pudica dapat tumbuh pada kisaran kondisi tanah yang luas.
Tumbuhan ini toleran pada daerah yang teduh. Daun yang dihasilkan dapat mudah
terbakar. Tumbuhan di duga menghasilkan zat beracun sehingga meracuni ternak
di Papua New Guinea. Populasi yang tinggi dengan batang yang berduri
menyebabkan berkurangnya ketersediaan hijauan untuk merumput ternak.
M. pudica dan M. pigra dilaporkan sebagai gulma berbahaya di Australia (Gordon
40
et al. 2008). Introduksi ke Indonesia pertama kali di perkebunan tembakau di Deli,
Sumatera. Di jawa telah ternaturalisasi dan sekarang telah menyebar keseluruh
Indonesia. Tumbuhan ini menjadi gulma penting di nursery dan perkebunan karet
(SEAMEO-BIOTROP 2014c).
Gambar 10 Polong dan biji Melilotus albus perbesaran 10 x (Sumber: foto
oleh Rahma, mikroskop ZEISS Stemi 2000-C, kamera
AxioCam ERc5s)
Mimosa pigra. Habitat yang disukai adalah daerah lembab. Spesies ini
merupakan herba asli Amerika Tropik yang menyebar sebagai tanaman hias atau
tanaman penutup tanah. Spesies ini menjadi gulma di pertanian, pesisir pantai, di
hutan yang lembab, dan di padang rumput. Gulma mampu beradaptasi dan
tumbuh di berbagai tipe tanah. Berkembang biak dengan biji dan suckers.
Tanaman menghasilkan biji sampai dengan 90 000 biji di Laboratorium. Biji
mempunyai sifat dorman lebih dari 15 tahun. Kemampuan bertahan hidup biji
yang terkubur di dalam tanah bervariasi (Gordonet al. 2008). Sebaran di Indonesia
masih terbatas di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Di Jawa, tumbuhan ini lebih
agresif daripada propinsi lain. Tumbuhan ini menginvasi waduk di Bening dan
Saradan, Jawa. Di Saradan, M. pigra menjadi spesies dominan (Tjitrosoedirdjo
1988/1989).
Panicum repens. Jenis rumput asli Afrika Topik, Afrika Utara, dan
Mediteranian. Akarnya yang bersifat rizoma menyebabkan tumbuhan ini sulit
dikendalikan. Rumput ini menjadi gulma di daerah basah, baik pesisir dan
pedalaman, yang terjadi secara alami di sepanjang tepi sungai, saluran irigasi,
danau dan tepi pantai payau. Gulma ini toleran pada berbagai tipe tanah dan tidak
sensitif terhadap pH tanah dan salinitas tanah. Suhu pertumbuhan optimum
30-35 ºC. Dormansi biji terjadi pada biji muda. Perkecambahan biji dapat
ditingkatkan dengan dingin, nitrat, dan perubahan suhu. Rumput ini dapat
menyebabkan penurunan hasil hingga 50% pada tanaman tebu karena
menghasilkan zat alelopati. Selain itu, P. repens dapat menjadi inang kutu loncat
padi, Ustilago spp., dan Pyrricularia spp. Spesies ini telah banyak ditemukan di
Indonesia (CABI 2013).
Paspalum scrobiculatum. Spesies ini merupakan gulma berbahaya di
Amerika Serikat dan berpotensi menjadi invasif di Pasifik. Gulma ini menjadi
41
OPTK di 10 negara bagian Amerika. Spesies ini asli Afrika (ISSG 2011). Spesies
ini telah menyebar di Indonesia (CABI 2013).
Polygonum barbatum. Tumbuhan ini merupakan herba tahunan yang
tercatat sebagai salah satu gulma dari tujuh spesies gulma yang dapat mengurangi
65% hasil panen kentang di India. Pertumbuhan yang padat di perairan dapat
menurunkan kualitas air, dan transportasi air (Plantwise Knowledge Bank 2013).
Gulma ini salah satu spesies asing yang menginvasi perairan terbuka di Waduk Ir.
P. M. Noor, Kalimantan Selatan (Tjitrosoedirdjo 2005).
Rottboellia cochinchinensis. Rumput yang lebih sering tumbuh daerah
yang beriklim tropik dan subtropik. Rumput ini menjadi gulma di pertanian dan di
tepi jalan di Pasifik. Gulma ini membahayakan tanaman budidaya karena
menghasilkan alelopati, selain itu juga berbahaya bagi hewan ternak dan manusia
karena menyebabkan luka karena rambut kasar pada daun dan batang. Rumput ini
menjadi inang alternatif virus yaitu rice leaf gall virus dan corn leaf gall virus.
Rumput ini menajdi gulma pada tanah liat dan liat berpasir. Biji diproduksi
setelah 6-7 minggu dari kemunculan. Biji tidak terdapat awn dan dipencarkan oleh
air. Biji diproduksi 2 200-16 500 biji per individu. Biji tetap bertahan dan viabel
di dalam tanah hingga 4 tahun (Gordon et al. 2008). Spesies ini ada di Jawa,
Nusa Tenggara, dan Sumatera (CABI 2013).
Rumex acetosella. Tumbuhan merupakan herba tahunan asli Eurasia dan
Chili dapat terjadi di daerah terganggu, seprti pinggir jalan dan padang rumput
dan hutan. Herba ini menghasilkan asam oksalat sehingga beracun bagi hewan.
Hal ini juga menyebabkan demam pada manusia. Pertumbuhan yang cepat dan
mampu mengolonisasi daerah terganggu. Spesies ini dapat menghambat
pembentukan kembali spesies asli dan mempengaruhi proses suksesi alami (ISSG
2011). Peningkatan invasi didukung oleh bank benih yang relatif besar. Tanaman
menghasilkan biji mencapai 1 622 biji per ramet. Hal ini bergantung dari lokasi
dan genetik. Perkembangan optimum pada suhu 17.5-30 ºC. Peneduh dapat
menghambat pertumbuhan R. acetosella. Biji masih viabel walau terkubur di
dalam tanah selama 5 tahun. Perlakuan suhu lebih dari 70 ºC dapat mengurangi
vibilitas biji (CABI 2013).
Rumex crispus. Tumbuhan herba asli Afrika Utara, Asia Tropik, dan
Eropa. Tumbuhan menginvasi air tawar, lahan basah, rawa, dan pesisir. Selain itu,
dapat ternaturalisasi di daerah temperate. Tumbuhan ini merupakan gulma di
pertanian di seluruh benua. Tumbuhan ini menghasilkan racun sehingga dapat
menyebabkan kembung dan dermatistids pada hewan. Gulma ini tumbuh subur
pada tanah yang kaya nutrisi dan nitrogen, lembab, dan berlempung. Herba ini
memproduksi hingga 60 000 biji per individu dan biji yang disimpan masih viabel
hingga berapa dekade (Gordon et al. 2008). Menurut CABI (2013) spesies ini
tidak menjadi invasif di Jawa.
Rumex obtusifolius. Tumbuhan ini menghasilkan asam oksalat yang
beracun bagi hewan dan dapat mengurangi palatabilitas rumput hingga 65%.
Tumbuhan ini menjadi gulma di pertanian, di padang rumput, dan di perkebunan.
Di wilayah Sub Antartika, gulma ini menginvasi berbagai habitat termasuk daerah
yang didominasi oleh spesies tumbuhan asli (ISSG 2011). Biji diproduksi
bervariasi 100-60 000 biji per individu per tahun. Viabilitas biji tinggi mencapai
83% setelah terkubur selama 21 tahun. Selain biji, gulma ini dapat berkembang
biak secara vegetatif yaitu dengan akar. Kemampuan beradaptasi terhadap
42
lingkungan yang ekstrim terhadap dingin dan kering. Gulma ini juga
mengeksfoliasi nitrogen sehingga dapat merugikan spesies asli (CABI 2013).
R. obtusifolisus telah mapan, tetapi tidak menjadi invasif di Tengger, Jawa Timur
(KLH 2003).
Setaria verticillata. Tumbuhan asli Eropa. Tumbuhan ini menjadi gulma
pada lahan pertanian, kota, dan daerah terganggu. Kerugian yang ditimbulkan oleh
keberadaan S. verticillata meliputi kerugian ekonomi dan lingkungan. Gulma ini
dapat beradaptasi dengan lingkungan lokal dengan cepat, serta resisten terhadap
beberapa pestisida (ISSG 2011). Biji memiliki sifat dorman selama 7 bulan
setelah terpencar. Suhu 25-35 °C yang paling menguntungkan untuk
perkecambahan (minimum 15 °C, maksimum 40 °C) dengan perubahan gelap dan
terang. Biji akan menurun viabilitasnya setelah 18 bulan tersimpan di dalam
tanah. Spesies ini telah ada di Jawa, Nusa Tenggara, dan Sulawesi (CABI 2013).
Silene gallica. Spesies yang asli Afrika Utara, Asia Barat, dan Eropa.
Spesies ini menginvasi daerah terganggu terutama pada daerah pantai. S. gallica
mampu tumbuh di tanah subur dan limbah, cenderung berpasir, daerah semi-teduh
dan terbuka, termasuk padang rumput, lahan pertanian, daerah berhutan ringan,
pinggir jalan, jalan, dan daerah terganggu. Tumbuhan ini mampu berkompetisi
dengan spesies asli untuk kelembaban, toleran terhadap suhu rendah hingga 10 ºC
dan toleran terhadap kekeringan (GOERT 2011). Spesies ini ditemukan di Jawa
Timur (KLH 2003).
Sorghum halepense. Spesies ini merupakan tumbuhan asli Eropa Tenggara
yang berproduksi dengan biji dan rizoma. Tumbuhan ini merupakan gulma
berbahaya yang sangat invasif dengan distribusi di seluruh dunia. Produksi benih
yang tinggi dan sistem perakaran yang luas membuatnya sulit untuk diberantas.
Spesies ini memiliki sejumlah efek merugikan meliputi toksisitas terhadap hewan
merumput, resiko kebakaran selama musim panas dan eksklusi kompetitif
tanaman lain. Gulma ini mengurangi kesuburan tanah, bertindak sebagai inang
untuk patogen tanaman dan dapat menyebabkan alergi (ISSG 2011).
Tribulus terestris. Spesies ini asli Eropa Selatan, Afrika beriklim sedang
dan Asia Tropik. Tumbuhan ini memiliki kandungan nitrat yang tinggi yang
bersifat racun pada hewan ternak. Spesies ini toleran pada berbagai tipe tanah,
berkembang sangat baik pada tanah kering yang berpasir. Buah memiliki duri. Biji
dihasilkan 200-5 000 biji per individu (Clifford 2010). Tumbuhan ini sering
dibudidayakan di Indonesia sebagai obat tradisional.
Spesies tumbuhan asing invasif yang ditemukan pada produk pertanian impor
pada umumnya merupakan spesies invasif yang merugikan ekosistem pertanian. Oleh
karena itu, sangat penting dan wajib dilakukan pemeriksaan karantina terhadap
produk pertanian khususnya yang berasal dari tumbuhan yang akan diperdagangkan
dan atau dilalulintaskan di dan ke wilayah Indonesia untuk mencegah masuk dan
tersebarnya spesies yang berpotensi invasif.
Kajian Spesies Tumbuhan Impor yang Berpotensi Invasif di Indonesia
Kajian ini diperoleh dari survei ke nursery dan data spesies tumbuhan
impor berupa bibit/benih/biji BARANTAN Tahun 2010 sampai dengan 2011 serta
koleksi media pembawa OPT/OPTK impor di BBKP Tanjung Priok dan BBKP
Soekarno-Hatta. Survei dilakukan di wilayah jabodetabek dan karawang. Hasil
survei menunjukkan bahwa pada umumnya tanaman yang diperjualbelikan
merupakan tanaman hasil penyilangan atau hibrida, sehingga kecil potensinya
43
menjadi invasif. Akan tetapi tidak semua tanaman yang diperdagangkan
merupakan hasil persilangan sehingga jalur perdagangan tersebut dapat berpotensi
sebagai jalur penyebaran spesies invasif di wilayah Indonesia. Ada 13 spesies
tumbuhan asing yang berpotensi invasif yang diperdagangkan di nursery (Tabel
11). Data spesies berpotensi invasif banyak diperoleh dari Depok (PT. Godong Ijo
Nursery) dan di Karawang (PT. Benara Nursery). Paling banyak macam tanaman
hias ada di Karwang. Spesies yang memiki genus yang sama dengan spesies
OPTK kelompok gulma kategori A2, yaitu A. gangetica pernah diperdagangkan di
tahun 2011, tetapi pada awal tahun 2012 tidak lagi diperdagangkan seiring dengan
adanya perkembangan aturan daftar OPTK tahun 2011.
Tabel 11 Spesies tumbuhan asing yang berpotensi invasif hasil survei ke nursery
di Jabodetabek dan Karawang*)
*)
**)
No.
Spesies
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
Alpinia zerumbet
Ardisia elliptica
Arundo donax
Asystasia gangetica**)
Citharexylum spinosum
Flacourtia indica
Lonicera japonica
Melaleuca quinquinervia
Phoenix canariensis
Samanea saman
Spathodea campanulata
Tecomaria capensis
Thevetia peruviana
Famili
Zingiberaceae
Primulaceae
Poales
Acanthaceae
Verbenaceae
Salicaceae
Caprifoliaceae
Myrtaceae
Arecaceae
Fabaceae
Bignoniaceae
Bignoniaceae
Apocynaceae
Hasil penyandingan dengan daftar GISD
Spesies yang sama dengan OPTK tahun 2011
Jenis produk pertanian impor pada tahun 2010 dan 2011 yang tercatat di
BARANTAN (Lampiran 6 dan 7), diketahui bahwa ada 5 spesies tumbuhan yang
merupakan spesies invasif yang terdaftar di dalam GISD (Tabel 12). Benih
Elaeis guineensis dan Ipomoea aquatica merupakan benih tanaman yang
dibudidayakan sehingga kemungkinan menjadi invasif sangat tipis selama selalu
dalam pengelolaan yang baik. Tiga spesies lain perlu di awasi pengelolaannya,
karena bersifat tanaman hias dan penutup tanah sehingga apa bila pengelolaan
tidak dilakukan secara terus menerus potensi invasif akan muncul. Tanaman hias
pengelolaannya cenderung sesuai kebutuhan dan minat terhadap suatu tumbuhan
dari pengelola, sehingga hal ini yang mendorong kemungkinan munculnya potensi
invasif jika pengelolaan tidak dilakukan secara terus menerus. Tumbuhan invasif
umumnya berasal dari tanaman hias (Ujiyani 2009).
44
Tumbuhan yang diimpor pada umumnya tercatat dalam bentuk nama
umum dan genus, sehingga untuk menentukan dan penyandingan nama spesies
invasif agak terkendala. Detail komoditi umumnya tersimpan di setiap unit
pelaksana teknis yang melakukan pemasukan data ke dalam database Eplaq
System BARANTAN. Sebagian dari tumbuhan impor ada yang memiliki genus
yang sama dengan spesies invasif tetapi tumbuhan impor ini lebih banyak
dipergunakan untuk benih tanaman hortikultura atau buah-buahan. Sampel produk
pertanian impor yang masuk selama penelitian berlangsung ada yang termasuk
spesies invasif yang terdafar di dalam GISD, tetapi juga telah ada di Indonesia dan
menjadi invasif seperti Cynodon dactylon dan Calopogonium caeruleum (KLH
2003). E. guineensis merupakan tanaman budidaya yang memiliki potensi invasif
yang terdaftar di GISD. Pengelolaan budidaya tanaman yang baik dan
berkelanjutan sangat diperlukan untuk meminimumkan terjadinya ledakan atau
invasi.
Tabel 12
Benih dan bibit tumbuhan impor tahun 2010-2011 yang terdaftar
sebagai spesies invasif di dalam GISD
No. Spesies
1. Cynodon dactylon
2.
*
Elaeis guineensis
Tahun
2010
Volume
9 344.2
Satuan
kg
2010
3 505 621
411 632.1
batang
kg
2011
4 031 435
18 704.7
batang
kg
batang
kg
kg
3.
4.
Impatiens walleriana*
Ipomoea aquatica
2011
2010
2011
710
1 500
7 980
5.
Zantedeschia
aethiopica
2011
594
kg
Negara Asal
Filipina,
Singapura,
Taiwan, dan
Thailand.
Afrika Selatan,
Costa Rica,
Malaysia, Pantai
Gading, Papu
Nugini dan
Thailand.
Angola,
Kolombia,
Costarica,
Malaysia,
Panama, Papua
nugini, Perancis,
Pantai Gading,
Thailand
Belanda
Amerika Serikat
China, Taiwan,
Thailand
Taiwan
Total pemasukan spesies ini bersamaam dengan spesies Begonia semperflorens.
45
Koleksi spesies tumbuhan impor yang ada di BBKP Tanjung Priok dan
BBKP Soekanro-Hatta pada umumnya berasal dari biji-bijian tanaman
hortikultura dan tanaman pangan hibrida sehingga tidak berpotensi invasif.
Koleksi media pembawa yang ada di BBKP Tanjung Priok diperoleh ada satu
spesies yang berpotensi invasif dan terdaftar di dalam GISD yaitu
Cyperus rotundus. Sumber koleksi spesies ini diperoleh dari kegiatan impor.
C. rotundus dimasukkan ke Indonesia untuk reklamasi lahan di area
pertambangan. Koleksi yang ada di BBKP Soekarno-Hatta yang berpotensi
invasif adalah E. guineensis.
Alpinia zerumbet. Semak yang tumbuh padat di habitat seperti sungai dan
lereng yang teduh. Tumbuhan ini menghasilkan sebanyak 1 000 biji per kaki
persegi. Biji berdaging buah dan dapat terbawa air ketika tumbuh di dekat sungai.
Selain dengan biji, tanaman juga dapat berkembang biak dengan pembelahan
rimpang (ISSG 2011). A. zerumbet ternaturalisasi di Afrika bagian Selatan,
Hawai, dan Puerto Rico (PIER 2013).
Ardisia elliptica. Tumbuhan ini berkembang cepat dan mampu menginvasi
daerah hutan lembab yang terganggu serta tidak terganggu. Viabilitas biji sangat
tinggi mencapai 99% dan tidak mempunyai sifat dormansi yang lama. Biji dan
tanaman muda dapat bertahan dalam kondisi yang teduh selama bertahun-tahun
(PIER 2013).
Arundo donax. A. donax merupakan hidrofit yang dapat tumbuh di tanah
lembab hingga tanah kering. Preferensi tanah terjadi pada pasir kasar, tanah liat
dan sedimen sungai air tawar, dan payau, parit, dan sepanjang tepi sungai.
A. donax tidak menghasilkan biji yang layak di sebagian besar wilayah dan
mampu beradaptasi dengan baik. Spesies ini berkembang biak dengan vegetatif.
Tumbuhan ini dilaporkan mentolerir curah hujan tahunan 300-4 000 mm, suhu
tahunan dari 9-29 °C dan pH tanah 5.0-8.7. Ekosistem yang terinvasi telah
berubah struktur dan komunitasnya (CABI 2013).
Citharexylum spinosum. Spesies ini merupakan jenis pohon yang memiliki
akar dengan pertumbuhan yang agresif. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan
pada pipa dan jaringan lain di dalam tanah. Kejadian tersebut dapat terjadi di area
pertanian, perkotaan, pesisir, dan area terganggu. Tumbuhan ini membentuk
kanopi yang lebat sehingga dapat mengancam spesies lain (ISSG 2011).
Cynodon dactylon. Spesies gulma pertanian yang potensial berasal dari
jenis rumput-rumputan. Gulma mampu bertahan hidup di daerah kering dan
banjir. Tumbuhan ini menghasilkan alelopati yang dapat menghambat
pertumbuhan dan mengurangi 41-86% hasil panen tanaman budidaya. Alat
perkembangbiakan dapat melalui biji, stolon, dan rizoma. Benang sari dapat
menyebabkan alergi seperti demam. Tumbuhan ini dapat menstimulir kebakaran
pada kondisi kering yang berkepanjangan, toleran pada berbagai jenis dan kondisi
tanah. Biji dihasilkan pada kondisi yang kurang subur, pada umumnya gulma
jarang menghasilkan biji pada kondisi subur. Biji dapat bertahan di tanah
maksimum 2 tahun. Biji tetap viabel meskipun melalui pencernaan ternak dan
setelah perendaman air selama 50 hari (PIER 2013).
Elaeis guineensis. Tumbuhan ini merupakan palm asli hutan hujan tropik
Afrika Barat. Akar, buah, dan batang tahan terhadap api. Polen dapat
menyebabkan alergi polinosis di Malaysia dan Singapura. Pertumbuhan lambat
tetapi menjadi cepat jika didukung oleh kelembaban tanah yang tinggi dan kaya
46
nutrisi (PIER 2013). Di Indonesia, tumbuhan ini dibudidayakan dan dikelola
dengan baik untuk penghasil minyak.
Flacourtia indica. Tumbuhan ini merupakan semak yang dapat menyerang
daerah terganggu, tepi hutan, dan pembukaan lahan. Biji bersifat orthodoks dan
tetap viabel setelah lebih dari 1 tahun di simpan kering pada suhu 5 ºC.
Perkecambahan biji lambat. Tumbuhan mempunyai duri yang dapat berbahaya
bagi manusia dan hewan (PIER 2013).
Impatiens walleriana. Tumbuhan ini merupakan herba dari Afrika.
Pemotongan dapat menyebabkan pertumbuhan kembali setelah 2-3 minggu.
Kebugaran biji berkurang maksimum 2 tahun di bawah kondisi laboratorium. Biji
berukuran kecil 65 000 butir di dalam setengah sendok teh. Biji memiliki
fotodormansi. Spesies ini tumbuh pada tanah sedikit asam, tanah berlempung atau
berpasir yang kaya organik maupun tanah organik, dan berdrainase baik. Ada
spesies yang memiliki genus yang sama dan umum menjadi gulma di Indonesia
yaitu I. platypetala (PIER 2013). I. walleriana menyebabkan punahnya spesies
asli dan mengancam tegakan tertentu pada hutan hujan pesisir di New South
Wales (Queensland Goverment 2011), tetapi spesies ini mempunyai penilaian
resiko yang rendah (PIER 2013).
Ipomoea aquatica. Tumbuhan semusim atau tahunan yang tumbuh sangat
cepat berasal asli dari India. Perbanyakan dapat dilakukan dengan pemotongan
atau biji. Buah berupa kapsul yang terdiri dari 4 biji dengan ukuran 4 mm. Satu
individu dapat menghasilakan 175-250 biji. Biji yang baru matang memiliki
viabilitas 80% dan 100% setelah 3 hari. Penyimpanan dapat memicu dormansi
sekunder pada biji, dan memerlukan skarifikasi dengan membuang kulit biji.
Tumbuhan ini toleran pada panas tetapi tidak toleran terhadap garam. Tumbuhan
ini menyebabkan polusi pada air, mengganggu sistem irigasi, dapat menurunkan
hasil panen pada padi dan tebu. Kondisi Banjir dapat meningkatkan pertumbuhan
I. aquatica (Lethonen 1993).
Lonicera japonica. Tumbuhan ini asli Jepang dan Korea. Keberadaannya
dapat menyebabkan punahnya spesies asli tanaman hutan, dan memicu adanya
invasi spesies lain. L. japonica bersaing dengan spesies asli untuk memperoleh
cahaya dan nutrisi. Pertumbuhan merambati kanopi, melilit, dan mencekik pohon
sehingga menyebabkan kematian pohon tersebut. Tumbuhan ini toleran terhadap
naungan dan kondisi kering (ISSG 2011).
Melaleuca quinquinervia. Spesies asli Australia Timur. Benih spesies ini
banyak dan dapat menjadi gulma, terutama di area yang mengalami kebakaran
periodik. Hal tersebut memberikan persemaian yang cocok, seperti di Florida
Selatan. Keberadaannya meluas ke Selatan Papua Nugini dan Irian Jaya,
Indonesia, dan memiliki distribusi yang luas di Kaledonia Baru, terutama di
sebelah Barat Laut dari pulau. Suhu untuk pertumbuhan M. quinquinervia antara
4 ºC dan 38ºC. Tumbuhan ini sangat toleran terhadap api kecuali bibit muda
(PIER 2013).
Phoenix canariensis.
Palm asli dan endemik Kepulauan Canary.
Tumbuhan ini memiliki duri tajam yang dapat menyebabkan infeksi bagi manusia
dan hewan. Selain itu, daun-daun yang kering dapat menyebabkan asma pada
sebagian orang yang sensitif. Keberadaannya dapat menggantikan spesies asli
(ISSG 2011).
47
Samanea saman. Kacang-kacangan ini tumbuh dengan cepat mencapai
ketinggian 25 m. Spesies ini menjadi invasif di Fiji yang menyerang ekosistem
hutan. Biji yang dihasilkan produktif antara 4 400 dan 7 700 biji/kg dengan kulit
biji yang keras. Toleran terhadap berbagai kondisi dan tekstur tanah. Getah yang
memancar dapat merusak rumput atau tumbuhan yang dibawahnya karena
kandungan alelopati. Spesies ini dapat memperbaiki kesuburan tanah karena
mampu memfiksasi nitrogen (CABI 2013). S. saman telah ada di Indonesia tetapi
tidak menjadi invasif (KLH 2003).
Spathodea campanulata. Pohon asli Afrika Barat. Perkecambahan biji
cepat sehingga cepat membentuk semak dan dapat membentuk kanopi yang dapat
menggantikan spesies asli. Spesies ini dapat menjadi gulma di area pertanian,
kehutanan, dan perkotaan. Penyebarannya sangat cepat dapat melalui air dan
angin. Spesies sering ditemukan di daerah yang lembab. Biji bersayap sehingga
mudah diterbangkan oleh angin (PIER 2013).
Tecomaria capensis. Tanaman toleran pada tanah liat, berpasir, asam,
netral, basa, bergaram, dan agak toleran kekeringan. Tumbuh cepat dan memadat
memebentuk belukar. Buah yang diproduksi menghailkan biji dalam jumlah
banyak. Perkecambahan biji 6-21 hari. Spesies ini tumbuh kuat dan membekap
tanaman sehingga dapat menggantikan spesies asli (PIER 2013).
Thevetia peruviana. Tumbuhan semak asli Amerika Tropik. Buah dan biji
beracun bahkan dapat menyebabkan kematian. Biji tahan terhadap kebakaran.
Habitat yang disukai adalah tanah yang subur hingga kering, umumnya di daerah
terganggu (PIER 2013).
Zantedeschia aethiopica. Tumbuhan asli Afrika Selatan yang mampu
beradaptasi pada berbagai type tanah, toleran terhadap iklim tropik dan dingin.
Infestasi dapat menyebabkan berkurangnya area hijauan merumput, menggantikan
spesies asli padang rumput, dan menurunkan produktivitas padang rumput.
Penurunan produktivitas lebih dari 5%. Seluruh bagian tanaman dapat
menyebabkan keracunan pada hewan dan manusia. Pengendalian dapat
menyebabkan alergi dan iritasi (PIER 2013).
Sebagai catatan, hasil survei tanaman di nursery ada yang merupakan
spesies yang sama dengan spesies invasif di GISD, tetapi spesies tersebut tidak
invasif di Indonesia yaitu Psidium guajava dan Lantana camara. Dua spesies
tersebut yang diperdagangkan di nursery umumnya telah berkurang sifat liarnya
dan telah mengalami perbaikan genetik. P. guajava yang lebih dikenal jambu biji,
telah disilangkan untuk mendapatkan tanaman yang berproduksi buah banyak,
cepat panen, berdaging buah tebal, dan umumnya kurang berbiji bahkan tidak
berbiji. L. camara yang diperjualbelikan di nursery, umumnya telah
dipersilangkan dan memiliki varietas yang beranekaragam, pertumbuhannya
lambat sehingga memudahkan perawatan sebagai tanaman hias, bunga yang
dihasilkan banyak dan berukuran besar.
P. guajava dan L. camara yang menjadi invasif umumnya memiliki
perkembangan cepat, tumbuh liar, berbuah atau berbunga banyak, umumnya
ukuran biji kecil dan biji diproduksi dalam jumlah banyak. P. guajava yang
invasif, cepat membentuk semak padat menyebabkan berkurangnya daerah
hijauan pada padang rumput. Daun mengandung alelopati dan eksudat akar dapat
menghambat pertumbuhan gulma lain (PIER 2013). L. camara yang invasif
menghasilkan zat alelopati yang dapat menghambat pertumbuhan spesies lain dan
48
menurunkan hasil panen tanaman budidaya. Daun dan biji menghasilkan
triterpenoid yang menyebabkan kercaunan pada hewan. Biji tetap viabel sampai
beberapa tahun (PIER 2013).
Kajian spesies tumbuhan asing invasif pada tumbuhan impor ditujukan
untuk mengetahui spesies asing invasif yang dapat merugikan ekosistem nonpertanian. Tumbuhan yang menjadi invasif umumnya dari tanaman hias.
Pengelolaan Spesies Asing Invasif di Pre-Border
Badan Karantina Pertanian selaku pelaksana hukum dalam mencegah masuk
dan tersebarnya OPTK maupun spesies asing invasif di pre-Border. Spesies asing
yang berupa produk tumbuhan yang akan dimasukkan ke dalam wilayah RI harus
memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan sesuai UU no. 16 tahun 1992 dan PP
no 14 tahun 2002. Pemasukan yang berupa bibit atau benih atau bagian-bagiannya
yang difungsikan untuk di tanam, sebelum dilaporkan ke petugas Karantina untuk
dilakukan pemeriksaan tindakan karantina tumbuhan maka wajib mendapat ijin
pemasukan dari Menteri Pertanian yaitu SIPMENTAN. SIPMENTAN
dikeluarkan oleh Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian
(PPVTPP). Izin pemasukan tersebut dikeluarkan atas dasar pertimbanganpertimbangan terutama Analisis Resiko Organisme Pengganggu Tumbuhan
(AROPT) pada media pembawa yang termasuk WRA (Weed Risk Analys). Hal ini
untuk menentukan tolak, terima, dan perlu evaluasi terhadap produk impor
tersebut.
Pemeriksaan produk impor yang berasal dari tumbuhan dilakukan tindakan
karantina tumbuhan berdasarkan target pemeriksaan yaitu OPTK. OPTK disusun
melalui berbagai tahap dari hasil AROPT dan WRA maupun dari hasil penelitian
dan informasi outbreak serta hasil pemantauan OPT/OPTK. Penetapan status
OPTK dilakukan berdasarkan dari hasil rapat dengan pihak-pihak berwenang dan
ahli dalam bidangnya. Perubahan status OPTK umumnya dilakukan setiap tahun,
tetapi di Indonesia dilakukan maksimum 3 tahun. Pemeriksaan yang dilakukan
antara lain pemeriksaan administrasi, kesehatan fisik dan atau kesehatan
laboratorium. Hasil pemeriksaan tersebut akan menunjukkan kesehatan tanaman
secara jelas dan akurat, oleh karena itu diperlukan peningkatan akurasi alat dan
sdm di dalam hal identifikasi spesies temuan. Hasil pemeriksaan yang sesuai
dengan target OPTK akan dilakukan tindakan karantina tumbuhan sesuai dengan
golongan OPTK. Jika produk pertanian impor ditemukan target OPTK golongan I
(tidak dapat dibebeaskan) maka dilakukan tindakan pemusnahan atau penolakan
jika produk tersebut belum turun dari alat angkut. Temuan golongan II (dapat
dibebaskan) maka dilakukan tindakan perlakuan seperti fumigasi, iradiasi, purity
analys dan lain sebagainya. Pemeriksaan yang demikian dapat memperkecil
peluang masuk dan tersebarnya OPTK dan spesies asing invasif. Target spesies
asing invasif di Indonesia telah dilakukan pembuatannya dengan pembuatan
website Invasive Alien Species (IAS). Namun, petunjuk teknis tentang
pemeriksaan tentang IAS khususnya masih dalam proses pembuatan.
Pencegahan masuk dan tersebarnya IAS maupun OPTK dapat dipermudah
dengan memberlakukan persyaratan teknis dan mutu terhadap produk pertanian
impor tersebut.
49
5 SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Target OPTK kelompok serangga yang berpotensi invasif ada 12 spesies.
Tiga spesies diantaranya ditemukan mengontaminasi produk pertanian impor
(Ceratitis capitata, Sirex notilio, dan Trogoderma granarium). Agrilus sulcicollis
dan Megacyllene robiniae merupakan spesies asing invasif yang belum ada di
wilayah Indonesia ditemukan mengontaminasi produk pertanian impor. Target
OPTK kelompok gulma yang berpotensi invasif terdapat 3 spesies. Asystasia
gangetica subsp. micrantha (OPTK kategori A2 berpotensi invasif) telah ada di
Indonesia dalam wilayah sebaran terbatas, penyebarannya diasumsikan melalui
perdagangan nursery. Hasil survei menunjukkan bahwa terdapat spesies tanaman
hias yang sama dengan OPTK tersebut yaitu A. gangetica. Cirsium arvense
(OPTK kategori A1 berpotensi invasif) ditemukan mengontaminasi produk
pertanian impor. Centaurea melitensis, Cirsium vulgare, Lepidium virginicum,
dan Melilotus albus merupakan spesies yang belum ada di Indonesia yang juga
ditemukan mengontaminasi produk pertanian impor. Tumbuhan asing berpotensi
invasif yang diimpor dan hasil survei ada 18 spesies. Data spesies asing invasif
yang belum ada di Indonesia dapat menjadi bahan informasi sebagai penetapan
target pemantauan, target IAS, dan revisi daftar OPTK.
Spesies asing invasif yang mengontaminasi produk pertanian umumnya
berpotensi menginvasi ekosistem pertanian, sedangkan spesies tumbuhan impor
yang berpotensi invasif umumnya merugikan ekosistem non-pertanian. Spesies
yang dipertimbangkan sebagai OPTK ialah spesies yang dapat merugikan secara
ekonomi. Spesies invasif yaitu spesies yang memiliki karakter berkembang cepat,
mampu beradaptasi di kisaran lingkungan yang luas, dapat berpotensi menjadi
vektor, unggul dalam berkompetisi dengan spesies lain, merugikan secara
ekonomi, keanekaragaman hayati, lingkungan, dan atau kesehatan manusia.
Keberhasilan invasi juga dibatasi oleh keberadaan musuh alaminya dan
pengelolaan yang baik.
Pengelolaan spesies asing invasif di tingkat pre-border dapat dilakukan
sama dengan halnya pengelolaan OPTK yaitu melalui pemeriksaan karantina
tumbuhan. Pencegahan masuk dan tersebarnya IAS/OPTK dapat diupayakan
dengan penertiban pemeriksaan, peningkatan keakuratan identifikasi, penerapan
persyaratan tekhnis dan persyaratan kualitas produk yang diimpor serta Sanitary
and Phytosanitary Measures yang baik.
Saran
Spesies invasif yang belum ada di Indonesia (Agrilus sulcicollis, Centaurea
melitensis, Cirsium arvense, Cirsium vulgare, Cynoglossum glochidiatum,
Lepidium virginicum, Melilotus albus, dan Megacyllene robiniae) sebaiknya
dilakukan penelitian atau monitoring lebih lanjut mengenai sebaran dan
dampaknya di Indonesia mengingat pernah menjadi kontaminasi produk pertanian
impor.
50
DAFTAR PUSTAKA
Ahmedani MS, Khaliq A, Tariq M, Anwar M, Naz S. 2007. Khapra beetle
(Trogoderma granarium everts): a serious threat to food security and safety.
Pak. J. Agri. Sci. Vol. 44(3): 481-493.
Arakelian G. 2013. Field Guide to Target Insects in Pest Detection Programs.
Los
Angeles
(CA):
County
Department
of
Agricultural
Commissioner/Weights and Measures.
Australian Government Deparment of Sustainability, Environment, Water,
Population, and Comunities. 2010. Invasive species [Internet]. [diunduh
2011 Jun 18]; Canbera (AU): Asutralian Government Deparment of
Sustainability, Environment, Water, Population, and Comunities. Tersedia
pada: http://www.environment. gov.au/ biodiversity/invasive/.
[BARANTAN] Badan Karantina Pertanian. 2011. Tentang invasive alien spesies
Invasive Alien Species [Internet]. [diunduh 2011 des 15]; Jakarta (ID):
BARANTAN. Tersedia pada: http://ias.karantina.deptan.go.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=55&Itemid=60.
CABI. 2013. Invasive species compendium [Internet]. [diunduh 2012 Jul 17];
Wallingford (UK): CAB International. Tersedia pada: http://www.cabi.org
/isc.
Canadian Food Inspection Agency. 2008. Invasive Alien Plants in Canada.
Ottawa (CA) : CFIA.
[CBD] Convention on Biological Diversity. 2009a. Cause and impact of invasive
alien species CBD [Internet]. [diunduh 2011 Jun 16]; Montreal (CA):
Convention on Biological Diversity. Tersedia pada: http://www.cbd.int/idb/
2009/about/causes/.
[CBD] Convention on Biological Diversity. 2009b. Examples of invasive alien
species CBD [Internet].
[diunduh 2011 Jun 16]; Montreal (CA):
Convention on Biological Diversity. Tersedia pada: http://www.cbd.int/idb/
2009/about/examples/.
[CBD] Convention on Biological Diversity. 2009c. What are alien invasive
species? [Internet]. [diunduh 2011 Jul 1]; Montreal (CA): Convention on
Biological Diversity. Tersedia pada: https://www.cbd.int/idb/2009/about/
what/.
Ciesla WM. 2011. Forest Entomology A Global Perspective. West Sussex (UK):
Wiley-Blackwell.
Clifford P. 2010. Tribulus terrestris (Zygophyllaceae) [Internet]. [diunduh 2012
Feb 17]; Pasific Island (US): US Forest Service, Pacific Island Ecosystems
at Risk (PIER).
Tersedia pada: http://www.hear.org/pier/wra/pacific/
Tribulus_terrestris_PMC.pdf.
Cook B, Pengelly B, Brown S, Donnelly J, Eagles D, Franco A, Hanson J, Mullen
B, Partridge I, Peters M, et al. 2005. Tropical forages: an interaktif
selection tool [Internet]. [Diunduh 2013 Mei 20]; St Lucia (AU): CSIRO,
DPI&F Queensland, CIAT, dan ILRI. Tersedia pada: http://www.tropical
forages.info.
51
Cook BG. 2007. American jointvetch [Internet]. [diunduh 2011 Agu 12].
Tersedia pada:
http://www.pasturepicker.com.au/Html/American_jointvetch.htm.
Davis RS. 2011. Fall webworm [Internet]. Utah State University Extension and
Utah Plant Pest Diagnostic Laboratory. [diunduh 2012 Jun 12]. Tersedia
pada:
http://extension.usu.edu/files/publications/factsheet/fall-webworm
2010.pdf.
[DEPI] Departmen of Environment and Primary Industries. 2013. Impact
assessment - Devil's Claw (purple flower) (Proboscidea louisianica) in
Victoria. Victorian Resources Online [Internet]. [diunduh 2013 Mei 20].
Tersedia pada: http://vro.depi.vic.gov.au/dpi/vro/vrosite.nsf/pages/impact_
devils_claw_ purple.
Ehnström B. 1999. Pyrrhidium sanguineum [Internet]. [diunduh 2013 Des 22];
ArtDatabanken.
Tersedia pada:
http://www.artfakta.se/artfaktablad/
Pyrrhidium_Sanguineum_101690.pdf
[EPPO] European and Mediterranean Plant Protection Organization. 2005. Data
sheets on quarantine pests Agrilus planipennis. Bulletin OEPP/EPPO 41:
340-346.
[EPPO] European and Mediterranean Plant Protection Organization. 2011.
Diagnostic Ceratitis capitata. Bulletin OEPP/EPPO 41: 340-346.
[EPPO] European and Mediterranean Plant Protection Organization. 2013b.
National regulatory control systems, PM 9/15 (1) Anoplophora
glabripennis: procedures for official control. Bulletin OEPP/EPPO 43 (3):
510–517. DOI: 10.1111/epp.12064.
Fabel S. 2000. Effects of Lymantria dispar, the Gypsy Moth, on broadleaved
forests In Eastern North America. Restoration and Reclamation Review
[Internet].
[diunduh
30
Jan
2014];
6(6).
Tersedia
pada:
http://conservancy.umn.edu/bitstream/11299/60112/1/6.6.Fabel.pdf.
Gella D, Ashagre H, dan NegewoT. 2013. Allelopathic effect of aqueous extracts
of major weed species plant parts on germination and growth of wheat.
J. Agric. Crop Res. Vol. 1(3): 30-35.
[GOERT] Garry Oak Ecosystems Recovery Team. 2011. Silene gallica-common
catchfly [Internet]. [diunduh 2012 Jun 13]; Columbia (UK): Garry Oak And
Associated Ecosystems In British Columbia.
Tersedia pada:
http://www.goert.ca/documents/Silene-gallica.pdf.
Gordon DR, Onderdonk DA, Fox AM, Stocker RK, Gantz C. 2008. Predicting
invasive plants in Florida using the Australian weed risk assessment.
Invasive Plant Science and Management 1: 178-195.
Government of Canada, Canadian Grain Commission. 2013a. Secondary insect
pests [Internet].
[diunduh 2013 Des 02].
Tersedia pada:
https://www.grainscanada. gc.ca/storage-entrepose/sip-irs/sip-irs-eng.htm
Government of Canada, Canadian Grain Commission. 2013b. Primary insect
pests [Internet]. [diunduh 2013 Des 02]. https://www.grainscanada.gc.ca/
storage-entrepose/pip-irp/pip-irp-eng.htm
Hill JE. 2008. Non-native species in aquaculture: terminology, potential impacts,
and the invasion process.
Southern Regional Aquaculture Center
Publication [internet]. [diunduh 2011 Jul 1]; No. 4303. Tersedia pada:
https://srac.tamu. edu/index.cfm/event/getFactSheet/whichfactsheet/209/.
52
Indrawan M, Primack RB, Supriatna J. 2007. Biologi Konservasi, Edisi Revisi.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
[ISSG] The Invasive Species Specialist Group (ISSG). 2011. Global invasive
species database [Internet]. [diunduh 2012 Feb 02]. Tersedia pada:
http://www.issg.org/database/welcome/.
Ivakdalam LM. 2010. Dampak ekonomi usahatani pepaya akibat serangan hama
Paracoccus marginatus (Hemiptera: Pseudococcidae) di Kecamatan
Sukaraja. Jurnal Ilmiah Agribisnis Perikanan. 3(2): 66-73.
Jendek E, Grebenniko VV. 2009. Agrilus sulcicollis (Coleoptera: Buprestidae), a
new alien species in North America. Can. Entomol. 141: 236–245.
Karren JB. 2003. Locust Borer fact. Sheet 35 [Internet]. [diunduh 2012 Des 02].
Utah State University Cooperative Extension.
Tersedia pada:
http://extension.usu.edu/files/publications/factsheet/locust-borers02.pdf.
Keena MA. 2006. Effects of temperature on Anoplophora glabripennis
(Coleoptera: Cerambycidae) adult survival, reproduction, and egg hatch.
Environ. Entomol. 35(4): 912-921.
[Kementan] Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
2010. Lampiran
Peraturan Menteri Pertanian Nomor 56/Permentan/OT.140/9/2010 tentang
Pelaksanaan Tindakan Karantina Tumbuhan di Luar Tempat Pemasukan dan
Pengeluaran. Jakarta (ID): Kementan.
[Kementan] Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
2011. Lampiran
Peraturan Menteri Pertanian Nomor 93/Permentan/OT.140/12/2011 tentang
Jenis Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina. Jakarta (ID):
Kementan.
King S, Harris T (editor). 2013. Cuscuta epithymum (clover dodder). Kew Royal
Botanic Gardens [internet]. [diunduh 2013 Feb 14]. Tersedia pada:
http://www.kew.org/plants-fungi/Cuscuta-epithymum.htm.
[KLH] Kementrian Lingkungan Hidup. 2003. Penyebaran Jenis Tumbuhan
Asing di Indonesia.
Jakarta (ID): Kementrian Lingkungan Hidup
bekerjasama dengan SEAMEO-BIOTROP.
Klein H. 2011. Canada thistle. University of Alaska Anchirage (UAA)
[Internet]. [diunduh 2012 Mei 13]. Tersedia pada: http://aknhp.uaa.
alaska.edu/wp-content/uploads/2013/01/Cirsium_arvense_ BIO_CIAR4.pdf.
Kohli RK, Batish DR, Singh HP, Dogra KS. 2006. Status, invasiveness and
environmental threats of three tropical American invasive weeds
(Parthenium hysterophorus L., Ageratum conyzoides L., Lantana camara
L.) in India. Biological Invasions 8:1501–1510. DOI 10.1007/s10530-0055842-1.
Kolyasnikova NL. 2013. The Flowering and seed production species of
Melilotus albus and Melilotus officinalis. Middle-East J Sci Res 16 (11):
1466-1469. DOI: 10.5829/idosi.mejsr.2013.16.11.12064.
Kumalasari NR. 2006. Analisis pengaruh jenis asing invasif Acacia nilotica Will
ex Dell 1813 terhadap pola pergerakan banteng (Bos javanicus d’Alton
1823) di Padang Savana Bekol, Taman Nasional Baluran [Tesis]. Bogor
(ID): Institut Pertanian Bogor.
Lethonen P. 1993. Pest Risk Assessment on Chinese Water Spinach [Internet].
[diunduh 2012 Des 02]; USDA. Tersedia pada: http://www.aphis.usda.gov/
plant_health/plant_pest _info/weeds/downloads/wra/Ipomoea_aquatica.pdf.
53
Lopian R. 2005. The international plant protection convention and invasive alien
species. Di dalam: IPPC Secretariat, editor. Identification of Risks and
Management of Invasive Alien Species Using The IPPC Framework.
Proceedings of The Workshop on Invasive Alien Species and The
International Plant Protection Convention [Internet]; 2003 Sep 22-26;
Braunschweig, Germany. Roma (IT): FAO; [diunduh 2011 Jul 2]. Tersedia
pada: http://www.fao.org/ docrep/008/y5968e/y5968e07.htm.
Masum SM, Hasanuzzaman M, Ali MH. 2013. Threats of Parthenium
hysterophorus on agro-ecosystems and its management: a review. Intl J
Agri Crop Sci [Internet]. [diunduh 2013 Okt 21]; 6 (11): 684-697.
http://www.ijagcs.com/wp-content/uploads/2013/10/684-697.pdf.
McNeely JA, Mooney HA, Neville NE, Schei P, Waage JK (editor). 2001.
A Global Strategy on Invasive Alien Species. Cambridge (UK): IUCN.
Muniappan R, Shepard BM, Watson GW, Carner GR, Sartiami D. 2008. First
report of the papaya mealybug, Paracoccus marginatus (Hemiptera:
Pseudococcidae), in Indonesia. J. Agric. Urban Entomol. 25(1): 37-40.
Nieto A, Alexander KNA. 2010. European Red List of Saproxylic Beetles.
Luxembourg (LU): Publications Office of the European Union.
Nowak DJ, Pasek JE, Sequeira RA, Crane DE, Mastro VC. 2001. Potential effect
of Anoplophora glabripennis (Coleoptera: Cerambycidae) on urban trees in
the United States. J. Econ. Entomol. 94(1): 116-122.
[NPS] National Park Service U.S Department of The Interior. 2013. White
http://
Sweetclover [Internet]. [diunduh 2013 Jan 15]. Tersedia pada:
www.nps.gov/akso/NatRes/EPMT/Species_bios/Melilotus%20alba.pdf.
Nugent M, Alexanian K, Chan S, Cudd S, Demasi R, Guntermann C, Henry R,
Hilburn D, Reynolds B, Schwamberger E, et al. 2005. Oregon Invasif
Spesies Action Plan [Internet]. [diunduh: 2013 Sep 02]; Portland (OR):
Oregon Department
of Fish
& Wildlife. Tersedia pada:
http://www.oregon.gov/ oisc/docs/pdf/oisc_plan6_05.pdf.
Orwa C, Mutua A, Kindt R, Jamnadass R, Simons A. 2009. Agroforestree
database: a tree reference and selection guide. version 4.0. World
Agroforestry Centre, Kenya [Interrnet]. [diunduh 2012 Jun 20]. Tersedia
pada: http://www.worldagroforestry.org/resources/databases/ agroforestree.
[PIER] Pacific Island Ecosystems at Risk. 2005. Centrosema pubescens
[Internet]. [diunduh 2012 Apr 6]. Tersedi pada: http://www.hear.org/pier/
wra/pacific/centrosema_molle_htmlwra.htm.
[PIER] US Forest Service, Pacific Island Ecosystems at Risk.
2013. Plant
Threats to Pacific Ecosystems. [Internet]. [diunduh 2013 Jub 6]. Tersedi
pada : http://www.hear.org/pier/scientificnames/index.html.
Plantwise Knowledge Bank.
2013.
Knot grass (Polygonum barbatum).
plantwise knowledge bank [Internet]. [diunduh 2013 Mar 02]. Tersedia
pada:
http://www.plantwise.org/KnowledgeBank/Datasheet.aspx?dsid=
42686.
Queensland Goverment. 2011. Environmental weeds of Australia for biosecurity
Queensland: Impatiens walleriana [internet]. [diunduh 2013 Des 29];
Queensland (AU): Queensland Goverment. Tersedia pada: http://keyserver.
lucidcentral.org/weeds/data/03030800-0b07-490a-8d04-0605030c0f01/
media/Html/Impatiens_walleriana.htm.
54
Radosevich SR, Holt JS, Ghersa CM. 2007. Ecology of Weeds and Invasive
Plants: Relationship to Agriculture and Natural Resource Management.
Canada (US): John Wiley & Sons, Inc.
Raizada P. 2007. Invasive species: the concept, invasion process, and impact and
management of invaders. International Society of Environmental Botanist
[internet]. [diunduh 2011 Jul 1]; Vol.13 No. 3.
Tersedia pada:
http://isebindia.com/05_08/07-07-2.html.
Rejmanek M. 2001. What tools do we have to detect invasive plant species?.
Groves FH, Panetta FD, Virtue JG, editor. Weed Risk Assessment. Asutralia:
CSIRO Publishing.
[RI] Presiden Republik Indonesia. 1992. Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 14 tentang Karantina Tumbuhan. Jakarta: RI.
[RI] Presiden Republik Indonesia. 1992. Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 16 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan. Jakarta: RI.
Rotar PP, Joy RJ. 1983. 'Tropic Sun' sunn hemp, Crotalaria juncea L. Research
Extension Series: 0271-9916.
Sabdo E. 2000. Robinia pseudoacacia invasions and control in North America
and Europe. Student On-Line Journal [Internet]. [diunduh 2014 Feb 24]
vol (6). Tersedia pada: http://conservancy.umn.edu/bitstream/59729/1/6.3.
Sabo.pdf.
Sanders CJ, Mellor PS, Wilson AJ. 2010. Invasive arthropods. Rev. sci. tech. Off.
int. Epiz [Internet]. [diunduh 2013 Mei 28]; 29 (2): 273-286. Tersedia pada:
http://www.oie.int/doc/ged/D7614.PDF.
Sauvard D. 2006. Anoplophora glabripennis [internet]. [diunduh 05 feb 2012].
[DAISIE] Delivering Alien Invasive Species Inventories for Europe.
Tersedia pada: http://www.europe-aliens.org/pdf/Anoplophora_glabripennis
.pdf.
Schlutze-Kraft R, Clements J. 1990. Centrosema: Biology, Agronomy, and
Utilization. Cali (CO): Centro Internacional de Agricultura Tropical
[CIAT].
SEAMEO-BIOTROP. 2014a. Invasive alien species [Internet]. Bogor (ID):
SEAMEO-BIOTROP.
[Diunduh 2014 Jan 20].
Tersedia pada:
http://www.biotrop.org/database.php?act=dbias&page=2.
SEAMEO-BIOTROP. 2014b. Invasive alien species [Internet]. Bogor (ID):
SEAMEO-BIOTROP.
[Diunduh 2014 Feb 24].
Tersedia pada:
http://www.biotrop.org/database.php?act=dbias&page=6
SEAMEO-BIOTROP. 2014c. Invasive alien species [Internet]. Bogor (ID):
SEAMEO-BIOTROP.
[Diunduh 2014 Feb 24].
Tersedia pada:
http://www.biotrop.org/database.php?act=dbias&page=4.
Sheahan CM. 2012. Plant guide for sunn hemp (Crotalaria juncea). USDANatural Resources Conservation Service, Cape May Plant Materials
Center. Cape May, NJ . 08210 [Internet]. [diunduh 2013 Jan 14]. Tersedia
pada: https://plants.usda.gov/plantguide/pdf/pg_crju.pdf.
Shelton M. Tahun tidak diketahui. Brachiaria decumbens [Internet]. [diunduh
2013 Mei 20]; Roma (IT): FAO Tersedia pada: http://www.fao.org/ag/
AGP/AGPC/doc/Gbase/data/pf000188.htm.
55
Soerjani M, Sundaru M, Anwar C. 1986. Present status of weed problems and
their control in Indonesia. Symposium in Weed Science. Proceedings of The
Symposium in Weed Science; 1984 Apr 10-12; . Bogor. Bogor (ID):
SEAMO-BIOTROP.
Tamado T, Schütz W, Milberg P. 2002. Germination ecology of the weed
Parthenium hysterophorus in eastern Ethiopia. Ann. appl. Biol. 140: 263270.
Tjitrosoedirdjo SS. 1988/1989. The distribution and potential problems of
Mimosa pigra l. In indonesia. BIOTROPIA (2): 18-24.
Tjitrosoedirdjo SS. 2005. Inventory of the invasive allien plant species in
Indonesia. BIOTROPIA NO. 25: 60 – 73.
Tjitrosoedirdjo SS. 2007. Notes on the profile of Indonesian invasive alien plant
species. BIOTROPIA. 14(1): 57-66.
Tjitrosoedirdjo S. 2010. Konsep gulma dan tumbuhan invasif. Jurnal Gulma
dan Tumbuhan Invasif Tropika. Bogor (ID): Vol. 1 No. 2: 89-100.
Tjitrosoedirdjo S dan Subiakto A. 2010. Mikania micrantha suatu jenis asing
invasive mengancam rehabilitasi hutan alam bekas tebangan di Indonesia.
Jurnal Gulma dan Tumbuhan Invasif Tropik. Bogor (ID): Vol. 1 No. 1: 1-7.
Tjitrosoedirdjo SS, Tjitrosoedirdjo S, Mochtar M, dan Cicuzza D. 2011.
Pengelolaan Gulma dalam Sistem Agroforestri Kakao di Sulawesi Tengah.
Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor, IPB Press. 1-140. ISBN: 978-979-493319-0.
Ujiyani F. 2009. Inventarisasi dan kajian potensi invasif arthropoda dan
tumbuhan yang mauk ke wilayah Indonesia melalui Bandara SoekarnoHatta dan Pelabuhan Tanjung Priok [tesis]. Bogor (ID): Sekolah Program
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
[USDA] United States Department of Agriculture National Agricultural. 2013.
National invasive species information center: European spruce bark beetle
[Internet].
[Diunduh
2013
Apr
12].
Tersedia
pada:
http://www.invasivespeciesinfo.gov/animals/eurosbb.shtml.
Wang XY, Yang ZQ, Gould JR, Zhang YN, Liu GJ, Liu ES. 2010. The biology
and ecology of the emerald ash borer, Agrilus planipennis, in China.
Journal of Insect Science [Internet]. [Diunduh 2013 Apr 12]; 10: 128.
Tersedia pada: http://www.insectscience.org/10.128/i1536-2442-10-128.pdf.
Weber E. 2003. Invasive Plant Species of The World Areference Guide to
Eenvironmental Weeds. Oxon (UK): CABI.
Weber E, Guo Shun S, Li B. 2008. Invasive alien plants in China: diversity and
ecological insights. Biol Invasions 10:1411–1429. DOI 10.1007/s10530008-9216-3.
Weiss JER, Laconis LJ. 2002. Pest Plant Invasiveness Assessment. Victoria
(AU): Parks Victoria.
Williams PA, Nicol E, Newfield M. 2001. Assesing the risk to indigenous biota
of plant taxa new to New Zealand. Di dalam: Groves RH, Panetta FD, dan
Virtue JG, editor. Weed Risk Assessment. Collingwood (AU): CSIRO
Publishing. hlm 100-116.
56
Wise RM, van Wilgen BW, Hill Mp, Schulthess F, Tweddle D, Chabi-Olay A,
Zimmermann HG. 2007. The Economic Impact and Appropriate
Management of Selected Invasive Alien Species on the African Continent.
Afrika Selatan: CISR.
Worner P. 2002. Prediciting the invasive potential of exotic insects. Di dalam:
Hallman GJ dan Schwalbe CP, editor. Invasive Arthropods in Agriculture.
Enfield (NH): Science Publishers. hlm 119-137.
Zablotny JE. 2008. Agrilus planipennis Fairmaire Screening Aid [internet].
[diunduh 2013 Feb 20]. New York (US): USDA APHIS PPQ. Tersedia
pada: http://caps.ceris.purdue.edu/screening/agrilus_planipennis.
Zimdahl RL. 2007. Fundamentals of Weed Science. California (US): Academic
Press.
LAMPIRAN
57
Lampiran 1 Hasil intersepsi serangga dan tumbuhan kontaminan pada produk pertanian impor dari Amerika Serikat tahun 2010 dan 2011*)
Negara/ Tahun
Frekuensi
temuan/negara
(kali)
Jumlah
serangga
dan
tumbuhan
kontaminan
(organisme)
1
2
351
Amerika Serikat
/ 2010
Organisme kontaminan
Frekuensi
temuan
individu/negara
(kali)
Produk pertanian impor
3
4
5
6
44
Abutilon theophrasti
Ahasverus advena
Alphitobius diaperinus
Amaranthus sp.
Ambrosia artemisiifolia
Ambrosia confertiflora
Ambrosia sp.
Ambrosia trifida
Araecerus fasciculatus
Famili Asteraceae
Avena sativa
Bagian tubuh serangga
Brassica campestris
4
2
1
3
23
1
1
86
1
1
3
2
2
Brassica nigra
Callosobruchus maculatus
Carpophilus hemipterus
*)
Sumber: hasil ringkasan dari database Eplaq System BARANTAN tahun 2010 dan 2011.
1
2
2
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Wheat grain
Oak logs
Soybean
Wheat grain
Wheat grain
Soybean
Corn pellet
Distillers dried grains
58
Lampiran 1 Hasil intersepsi serangga ...(lanjutan)
1
2
3
4
5
6
Cryptolestes ferrugineus
Cryptolestes sp.
Drosophila melanogaster
Famili Cerambycidae
3
1
1
3
Soybean
Soybean
Distillers dried grains
Red oak veneer logs
White oak logs
Soybean
Soybean
Hard Maple Logs
Hard maple saw logs
Hickory logs
Hickory logs, red oak logs
Logs
Red oak logs
Red oak saw logs hickory log
Red oak
Round log/red oak logs
Round logs
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Ipomoea purpurea
Ipomoea sp.
Tungkai serangga
Famili Leguminosae
Liposcelis sp.
Oryzaephilus surinamensis
Phytolaca sp.
Phytolacca americana
Polygonum pensylvanicum
Polygonum scandens
*)
Sumber: hasil ringkasan dari database Eplaq System BARANTAN tahun 2010 dan 2011.
7
6
43
1
1
1
1
1
2
1
59
Lampiran 1 Hasil intersepsi serangga ...(lanjutan)
1
*)
2
3
4
5
6
Proboscidea louisianica
Proboscidea sp.
Pupa serangga
3
1
86
Sirex noctilio
Sitophilus granarius
Sitophilus sp.
Solanum rostratum
Famili staphylinidae
Tribolium castaneum
1
1
1
1
1
11
Tribolium sp.
Xanthium strumarium
2
31
Soybean
Soybean
Hard maple logs
Hickory logs
Hickory logs, red oak logs
Logs
Red oak logs
Red oak
Round log/red oak logs
Round logs
White oak logs, red oak logs
Logs
Soybean
Soybean
Soybean
White oak
Corn meal
Corn pellet
Distillers dried grains
Soybean
U.S. no.2 or better hard red
winter wheat
Soybean
Sumber: hasil ringkasan dari database Eplaq System BARANTAN tahun 2010 dan 2011.
60
Lampiran 1 Hasil intersepsi serangga ...(lanjutan)
1
2
3
4
Xyleborinus sp.
Xylosandrus sp.
Xylotrechus sp.
5
1
1
3
Amerika serikat /
2011
131
35
Abutilon theophrasti
Ahasverus advena
11
2
Ambrosia artemisiifolia
Ambrosia sp.
Ambrosia spp.
19
2
2
Ambrosia trifida
Anoda cristata
Avena sativa
Callosobruchus maculatus
Cassia obtusifolia
Cryptolestes ferrugineus
Cryptolestes pusillus
Echinochloa sp.
Ipomoea purpurea
Panicum repens
Phytolaca sp.
Phytolacca americana
Polygonum convovulus
21
1
1
2
1
1
1
1
9
1
1
2
1
*)
Sumber: hasil ringkasan dari database Eplaq System BARANTAN tahun 2010 dan 2011.
6
White oak logs
Red oak logs
Red oak
White oak logs
Soybean
Black cherry (lumber)
Soybean
Soybean
Soybean
Edamame
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Black cherry (lumber)
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
61
Lampiran 1 Hasil intersepsi serangga ...(lanjutan)
1
*)
2
3
4
5
6
Polygonum pensylvanicum
Polygonum persicaria
Polygonum sp.
Proboscidea sp.
Setaria parviflora
Setaria pumila
Setaria sp.
Sida sp.
Sida spinosa
Sitophilus oryzae
Sorghum bicolor
Sorghum halepense
Tribolium castaneum
5
3
2
1
4
2
1
1
5
3
5
1
9
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Soybean
Ampas jagung
Edamame
Corn
Soybean
Tribolium sp.
Xanthium sp.
1
4
Xanthium strumarium
Xylotrechus sp.
3
2
Soybean
Edamame
Soybean
Soybean
Red oak
Sumber: hasil ringkasan dari database Eplaq System BARANTAN tahun 2010 dan 2011.
62
Lampiran 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi spesies serangga dan tumbuhan kontaminan pada produk pertanian impor serta jadwal
survei
Tanggal
Komoditas
Negara
Jumlah
Total Impor
Pengambilan Lokasi
Identifikasi
Pertanian
Asal
Impor
dalam 1 bulan
Sampel
1
2
3
4
5
6
7
01-Sep-11
Depo Transporindo
Vigna radiata
Myanmar Rottboellia cochinchinensis
25 000 kg
25 000 kg
02-Sep-11
Lab. KT Soekarno-Hatta Tidak ada
sampel yang
memiliki target
gulma dan
serangga (kultur
jaringan)
06-Sep-11
Depo Arcola
Gandum
Australia Avena fatua
515 800 kg 112 093 975 kg
Brassica campestris
Brassica juncea
Brassica napus
Brassica notatum
Convolvulus arvensis
Echinochloa cruss-galli
Lolium perenne
Lolium temulentum
Melilotus indicus
Phalaris minor
Raphanus raphanistrum
Rumex altisimus
63
Lampiran 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi... (lanjutan)
1
06-Sep-11
2
Depo Transporindo
Milet
4
Amerika
Serikat
06-Sep-11
Depo Transporindo
Barley Malt
Belgia
09-Sep-11
Lab. KT Soekarno-Hatta
Tidak ada sampel
yang memiliki
target gulma dan
serangga (kultur
jaringan)
Pueraria javanica
12-Sep-11
Lab. KT Tanjung Priok
3
5
Sorghum bicolor
Hordeum vulgare
Helianthus anus
Convolvulus arvensis
Poaceae1
Aeolus sp.
Cenchrus longispinus
Euphorbia heterophylla
Layia platyglossa
Eragrostis cilianensis
Brassica sp.
Veronica hederifolia
-
-
Malaysia
Urena lobata
Carica papaya
Rottboellia cochinchinensis
6
86 945 kg
7
86 945 kg
198 000 kg
674 020 kg
-
4 000 kg
-
21 327 kg
64
Lampiran 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi... (lanjutan)
1
12-Sep-11
2
Lab. KT Tanjung Priok
3
Callopogonium
coeruleum
4
Malaysia
12-Sep-11
Depo Transporindo
Kedelai hitam
China
5
Fabaceae 1
Pueraria javanica
Fabaceae 2
Malvaceae 1
Araecerus fasciculatus
Vigna radiata
Centrosema pubescens
Fabaceae 3
Fabaceae 4
Panicum miliaceum
Polygonum convolvulus
Setaria italica
Sitophilus oryzae
Sorghum bicolor
Vigna radiata
Phaseolus vulgaris
Vigna angularis
Fagopyrum esculentum
Canabis sp.
Vicia angustifolia
Panicum notatum
Tribulus terestris
6
4 000 kg
7
21 327 kg
44 500 kg
44 500 kg
65
Lampiran 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi... (lanjutan)
1
12-Sep-11
16-Sep-11
18-Sep-11
2
Depo Transporindo
(lanjutan)
Lab. KT Soekarno-Hatta
3
Kedelai hitam
Tidak ada sampel
yang memiliki target
gulma dan serangga
(kultur jaringan)
4
China
5
Sinapsis alba
6
7
-
-
-
-
Avena sterilis
Vicia sp.
Sitophilus oryzae
Phyllanthus sp.
Lolium perenne
Brassica sp.
Rhyzopertha dominica
Oryzaephilus mercator
Oryzaephilus
surinamensis
Triticum aestivum
255 580 kg
91 114 198.6 kg
412 799 kg
17 856 090 kg
485 980 kg
7 749 875.99 kg
-
-
-
19-Sep-11
SURVEY
TANGERANG
Lab. KT Tanjung Priok
Gandum
Australia
19-Sep-11
Depo Arcola
Kedelai
Amerika
Serikat
19-Sep-11
Depo Transporindo
Jagung
Pakistan
23-Sep-11
Lab. KT Soekarno-Hatta
Tidak ada sampel
yang memiliki target
gulma dan serangga
(kultur jaringan)
66
Lampiran 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi... (lanjutan)
1
26-Sep-11
2
Depo Transporindo
3
Barley malt
4
Australia
26-Sep-11
Depo Arcola
Black cummin
seed
Djibouti
5
Avena fatua
Bromus tectorum
Avena fatua
Avena sativa
Coriandrum sativum
Lolium temulentum
Phaseolus lunatus
Setaria sp.
Sorghum halapense
Triticum aestivum
Trigonella
faecumgraecum
Linum usitatissimum
Cynoglossum
glochidiatum
Setaria macrostachya
Sesamum indicum
Phyllanthus virgatus
Myriophyllum
verrucosum
Physalis heterophylla
Eriochloa polystachya
6
239 220 kg
7
695 580 kg
30 000 kg
30 000 kg
67
Lampiran 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi... (lanjutan)
1
01-Okt-11
2
Lab. KT Soekarno-Hatta
03-Okt-11
Depo Arcola
3
Tidak ada sampel
yang memiliki
target gulma dan
serangga (kuljar)
Jagung
04-Okt-11
Lab. KT Tanjung Priok
Gandum
4
5
6
7
-
-
-
-
119 400 kg
16 284 296.99 kg
325 870 kg
91 114 198.6 kg
Pakistan
Rhyzopertha dominica
Tribolium castaneum
Cryptolestes ferrugineus
Cryptolestes pusillus
Triticum aestivum
Sitophilus oryzae
Alphitobius diaperinus
Alphitobius laevigatus
Australia Avena sterilis
Lolium perenne
Lolium temulentum
Amaranthus retroflexus
Amaranthus albus
Papaver orientale
Polygonum scandens
Rumex maritimus
68
Lampiran 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi... (lanjutan)
1
07-Okt-11
2
Depo Transporindo
08-Okt-11
Lab. KT Soekarno-Hatta
3
Jagung
10-Okt-11
Lab. KT Tanjung Priok
Tidak ada sampel
yang memiliki
target gulma dan
serangga (kultur
jaringan)
Ketan pecah
10-Okt-11
Depo Arcola
Beras Pecah
4
India
5
Sysimbrium officinale
Cryptolestes ferrugineus
Larva lepidoptera
Oryzaephilus mercator
Rhyzopertha dominica
Sitophilus oryzae
Tribolium castaneum
Vigna radiata
-
-
Thailand
Ipomoea locunosa
Aeschynomene indica
Cyanotis axyllaris
Trifolium avense
Echinochloa colonum
Echinochloa cruss-galli
Oryzaephilus surinamensis
Rhyzopertha dominica
Myanmar
6
249 645 kg
7
49 735 370 kg
-
-
250 000 kg
344 000 kg
2 775 000 kg
1 140 000 kg
69
Lampiran 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi... (lanjutan)
1
10-Okt-11
2
Depo Arcola (lanjutan)
3
Beras Pecah
4
Myanmar
14-Okt-11
Lab. KT Soekarno-Hatta
Australia
17-Okt-11
Depo Transporindo
Tidak ada sampel
yang memiliki
target gulma dan
serangga (kultur
jaringan)
Barley malt
17-Okt-11
Lab. KT Tanjung Priok
Beras pecah
Myanmar
21-Okt-11
Lab. KT Soekarno-Hatta
Elaeis guineensis
benih biji
Costa Rica
23-Okt-11
SURVEI JAKARTA
5
Scirpus robustus
Ipomoea triloba
Cyanotis axyllaris
Melochia corchorifolia
6
7
-
-
-
Avena fatua
Brassica oleraceae
Lolium perenne
Aeschynomene indica
Cryptolestes pusillus
Echinochloa cruss-galli
Famili Bostrichidae
Sitophilus oryzae
Tribolium castaneum
Cyanotis axyllaris
Melochia corchorifolia
Nihil
239 240 kg
1 304 740 kg
500 000 kg
1 140 000 kg
474 kg
474 kg
70
Lampiran 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi... (lanjutan)
1
24-Okt-11
2
Lab. KT Tanjung Priok
3
Beras
4
Myanmar
24-Okt-11
Depo Transporindo
Kedelai
Amerika
Serikat
5
Alphitobius laevigatus
Alphitobius diaperinus
Cryptolestes ferrugineus
Echinochloa cruss-galli
Ipomoea sp.
Rhyzopertha dominica
Sitophilus oryzae
Tribolium castaneum
Aeschynomene indica
Aeschynomene americana
Canabis sp.
Triticum aestivum
Abutilon theophrasti
Brassica notatum
Echinochloa cruss-galli
Echinochloa colonum
Ambrosia trifida
Thlaspi arvense
Sida spinosa
Ipomoea purpurea
6
296 000 kg
7
1 140 000 kg
335 988 kg
17 574 814.64 kg
71
Lampiran 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi... (lanjutan)
1
24-Okt-11
2
Depo Transporindo
(lanjutan)
3
Kedelai
4
Amerika
Serikat
24-Okt-11
Depo Arcola
Jagung
Amerika
Serikat
28-Okt-11
Lab. KT Soekarno-Hatta
Tidak ada
sampel yang
memiliki target
gulma dan
serangga
(kultur
jaringan)
Kedelai
31-Okt-11
Depo Transporindo
-
Amerika
Serikat
5
Amaranthus retroflexus
Amaranthus spinosus
Anoda cristata
Rumex crispus
Chenopodium album
Hibiscus trionum
Polygonum pensylvanicum
Setaria pumila
Aster pilosus
Malva neglecta
Nihil
-
Amaranthus palmeri
Amaranthus retroflexus
Amaranthus rudis
Abutilon theophrasti
6
25 900 kg
7
451 301 kg
-
-
212 029 kg
17 574 814.64 kg
72
Lampiran 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi... (lanjutan)
1
31-Okt-11
2
Depo Transporindo
(lanjutan)
3
Kedelai
4
Amerika
Serikat
5
Ambrosia trifida
Anoda cristata
Cryptolestes ferrugineus
Echinochloa cruss-galli
Ipomoea hederaceae
Palorus ratzeburgii
Rhyzopertha dominica
Setaria pumila
Sida spinosa
Tribolium castaneum
Triticum aestivum
Urochloa ramosa
Vigna radiata
Polygonum laphatifolium
Chenopodium album
Ambrosia artemisiifolia
Hibiscus trionum
Phalaris canariensis
Polygonum pensylvanicum
Polygonum scandens
6
7
73
Lampiran 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi... (lanjutan)
1
31-Okt-11
3
Kedelai
31-Okt-11
2
Depo Transporindo
(lanjutan)
Depo Arcola
Red millet
4
Amerika
Serikat
China
01-Nop-11
Depo Transporindo
Jagung
Pakistan
03-Nop-11
Lab. KT Soekarno-Hatta
Tidak ada sampel
yang memiliki
target gulma dan
serangga (kultur
jaringan)
5
Digitaria sanguinalis
Panicum miliaceum
Shorgum bicolor
Setaria italica
Setaria viridis
Fagopyrum tartaricum
Panicum laetum
Setaria palmifolia
Corispermum declinatum
Cryptolestes ferrugineus
Cryptolestes pusillus
Rhyzopertha dominica
Sitophilus oryzae
Tribolium castaneum
Triticum aestivum
-
6
7
21 000 kg
67 000 kg
351 010 kg
1 584 790 kg
-
-
-
74
Lampiran 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi... (lanjutan)
1
09-Nop-11
11-Nop-11
13-Nop-11
16-Nop-11
2
Lab. KT Tanjung Priok
Lab. KT Soekarno-Hatta
SURVEY BEKASI
Lab. KT Soekarno-Hatta
3
Beras ketan
Tidak ada sampel
yang memiliki
target gulma dan
serangga (kultur
jaringan)
4
Vietnam
5
6
300 000 kg
-
-
-
-
-
-
-
-
18-Nop-11
Lab. KT Tanjung Priok
Tidak ada sampel
yang memiliki
target gulma dan
serangga (kultur
jaringan)
Barley
18-Nop-11
Lab. KT Tanjung Priok
Beras pecah
Thailand
18-Nop-11
Lab. KT Tanjung Priok
Beras
India
Belgia
Nihil
Avena fatua
237 920 kg
Oryza sativa
Sitophilus oryzae
75 000 kg
Echinochloa cruss-galli
Aeschynomene indica
Shorgum bicolor
20 000 kg
Triticum aestivum
Panicum miliaceum
Cryptolestes ferrugineus
Helianthus annuus
Avena sativa
7
9 051 200 kg
473 840 kg
17 305 530 kg
1 235 000 kg
75
Lampiran 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi... (lanjutan)
1
18-Nop-11
2
Lab. KT Tanjung Priok
(lanjutan)
18-Nop-11
18-Nop-11
22-Nop-11
Lab. KT Tanjung Priok
Lab. KT Tanjung Priok
Depo Transporindo
25-Nop-11
Lab. KT Soekarno-Hatta
3
Beras
28-Nop-11
Depo Transporindo
02-Des-11
Lab. KT Soekarno-Hatta
Beras ketan
Beras pecah
Biji bunga
matahari
Tidak ada
sampel yang
memiliki target
gulma dan
serangga
(kultur
jaringan)
Herb
medicinal
plant
Beras
04-Des
SURVEY BOGOR
DAN DEPOK
Depo Transporindo
Barley Malt
05-Des-11
4
Vietnam
Pakistan
China
5
Cryptolestes ferrugineus
Setaria viridis
Panicum virgatum
Nihil
Nihil
Nihil
-
-
China
Nihil
Saudi
Arabia
Tribolium castaneum
Oryzaephilus surinamensis
Australia
Avena sterilis
Lupinus angustifolius
6
7
500 000 kg
270 300 kg
120 000 kg
-
10 840 940 kg
270 300 kg
934 000 kg
-
12 981 kg
54 559 kg
50 kg
50 kg
240 020 kg
825 260 kg
76
Lampiran 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi... (lanjutan)
1
05-Des-11
2
Depo Transporindo
3
Barley
4
Belgia
05-Des-11
Depo Transporindo
Barley Malt
Belgia
05-Des-11
Lab. KT Tanjung Priok
Beras Ketan
Thailand
05-Des-11
Depo Arcola
China
05-Des-11
Depo Arcola
Herb
medicinal
plant
Gandum
Pakistan
5
Avena fatua
Avena sterilis
Galium aparine
Galium sp.
Beta vulgaris
Brassica oleraceae
Zea mays
Avena sterilis
Polygonum convolvulus
Galium sp.
Paspalum scrobiculatum
Echinochloa cruss-galli
Scirpus robustus
Aeschynomene americana
Cyanotis axyllaris
Melochia corchorifolia
Nihil
6
220 920 kg
7
1 357 240 kg
238 600 kg
864 788 kg
250 000 kg
5 445 000 kg
8 283 kg
19 421 kg
Melilotus indicus
Rumex crispus
523 300 kg
1 479 990 kg
77
Lampiran 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi... (lanjutan)
1
05-Des-11
2
Depo Arcola (lanjutan)
3
Gandum
4
Pakistan
5
Chenopodium album
Medicago polymorpha
Avena fatua
Avena sterilis
Beta vulgaris
Brassica campestris
Brassica notatum
Coriandrum sativum
Cyperus sp.
Lathyrus sp.
Linum usitatissimum
Lolium temulentum
Lophocateres pusillus
Lupinus sp.
Phalaris minor
Phaseolus lunatus
Polygonum sp.
Rhyzopertha dominica
Tribolium castaneum
Melilotus albus
Raphanus raphanistrum
Kumerowia stipulacea
Rumex obtusifolius
6
7
78
Lampiran 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi... (lanjutan)
1
05-Des-11
09-Des-11
2
Depo Arcola (lanjutan)
Lab. KT Soekarno-Hatta
14-Des-11
Lab KT Tanjung Priok
16-Des-11
Lab. KT Soekarno-Hatta
19-Des-11
19-Des-11
19-Des-11
Depo Transporindo
Depo Transporindo
Depo Transporindo
19-Des-11
23-Des-11
Lab. KT Tanjung Priok
Lab. KT Soekarno-Hatta
3
Gandum
Tidak ada sampel
yang memiliki target
gulma dan serangga
(kultur jaringan)
Barley
Tidak ada sampel
yang memiliki target
gulma dan serangga
(kultur jaringan)
Feed oats for horses
Herb medicinal plant
Jagung
Cynodon dactylon
Tidak ada sampel
yang memiliki target
gulma dan serangga
(kultur jaringan)
4
Pakistan
5
Rumex brownii
Belgia
Avena sativa
Brassica notatum
Australia
China
India
Amerika
Serikat
-
6
7
-
-
216 880 kg
864 788 kg
-
-
Avena strigosa
Ordo Coleoptera
Tribolium castaneum
Brassica notatum
521 028 kg
17 755 kg
199 945 kg
521 028 kg
55 044 kg
34 209 873 kg
4 350 kg
4 350 kg
Nihil
-
-
-
-
79
Lampiran 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi... (lanjutan)
1
26-Des-11
2
Lab. KT Tanjung Priok
3
Ketan
4
Thailand
26-Des-11
Depo Arcola
Kayu oak merah
log
Jerman
30-Des-11
Lab. KT Soekarno-Hatta
03-Jan-12
06-Jan-12
Depo Transporindo
Lab. KT Soekarno-Hatta
Tidak ada sampel
yang memiliki
target gulma dan
serangga (kultur
jaringan)
Rape seed meal
India
Cynodon dactylon
stolon
09-Jan-12
SURVEY
KARAWANG
5
Echinochloa cruss-galli
Echinochloa colonum
Ipomoea sp.
Aeschynomene americana
Aeschynomene indica
Cyanotis axyllaris
Sesbania sericea
Melochia corchorifolia
Megacyllene robiniae
Pyrhidium sanguineum
Agrilus sulcicollis
6
3 270 000 kg
7
5 445 000 kg
48 000 kg
3 385 235 kg
Cyamopsis tetragonoloba
Nihil
212 400 kg
48 000 kg
80
Lampiran 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi... (lanjutan)
1
10-Jan-12
2
Lab. KT Tanjung Priok
3
Gandum
13-Jan-12
Lab. KT Soekarno-Hatta
Tidak ada sampel
yang memiliki
target gulma dan
serangga (kultur
jaringan)
4
Rusia
-
5
Avena sterilis
Ipomoea sp.
Brassica oleraceae
Brassica rapa
Polygonum convolvulus
Brassica sp.
Polygonum sp.
Galium aparine
Convolvulus arvensis
Lolium perenne
Helianthus annuus
Brassica napus
Calystegia sepium
Lithospermum arvense
Polygonum scandens
Echium plantagineum
-
6
1 849 210 kg
-
7
1 849 210 kg
-
81
Lampiran 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi... (lanjutan)
1
16-Jan-12
2
Lab. KT Tanjung Priok
3
Beras pecah
20-Jan-12
Lab. KT Soekarno-Hatta
Tidak ada
sampel yang
memiliki target
gulma dan
serangga (kultur
jaringan)
Beras
Thailand
Beras
Thailand
Beras pecah
Thailand
23-Jan-12
Lab. KT Tanjung Priok
23-Jan-12
Lab. KT Tanjung Priok
(lanjutan)
Lab. KT Tanjung Priok
23-Jan-12
4
Thailand
-
5
Echinochloa cruss-galli
Aeschynomene americana
Ipomoea aquatica
Aeschynomene indica
Cyanotis axyllaris
Sesbania sericea
Melochia corchorifolia
6
1 730 000 kg
7
21 601 400 kg
-
-
-
Echinochloa cruss-galli
Echinochloa colonum
Crotalaria striata
Vigna radiata
Melochia corchorifolia
Echinochloa cruss-galli
Melochia corchorifolia
125 000 kg
21 601 400 kg
82
Lampiran 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi... (lanjutan)
1
27-Jan-12
2
Lab. KT Soekarno-Hatta
3
Tidak ada sampel
yang memiliki
target gulma dan
serangga (kultur
jaringan)
4
5
-
-
6
7
-
-
83
Lampiran 3
No.
1.
Beberapa foto serangga hasil deteksi dan identifikasi produk
pertanian impor*
Foto
Nama ilmiah/Perbesaran
Alphitobius laevigatus 6.5x
Keterangan
Imago
dan
*
A. laevigatus 20.0x
Mata faset
2.
Cryptolestes ferrugineus
12.5x
Imago
3.
Cryptolestes pusillus 12.5x
Imago
4.
Famili Bostrichidae 10.0x
Imago
Foto diambil menggunakan bantuan mikroskop stereo binokuler ZEISS Stemi 2000-C dengan
kamera AxioCam ERc5s.
84
Lampiran 3 Beberapa foto serangga...(lanjutan)
No.
*
Foto
Nama ilmiah/Perbesaran
Keterangan
5.
Pseudoscorpion 10.0x
Imago
6.
Araecerus fasciculatus 6.5x
Imago
7.
Lophocateres pusillus 12.5x
Imago
8.
Palorus ratzeburgii 10.0x
Imago
Foto diambil menggunakan bantuan mikroskop stereo binokuler ZEISS Stemi 2000-C dengan
kamera AxioCam ERc5s.
85
Lampiran 4
No.
1.
Beberapa foto dan deskripsi biji kontaminan hasil deteksi dan
identifikasi produk pertanian impor*)
Foto
Spesies/Perbesaran/Deskripsi
Keterangan
Avena fatua 6.5x
Caryopsis
dan Floret
-Dapat
ditemukan
berupa
caryopsis,
floret, dan
jarang berupa
spikelet
o caryopsis panjang, sempit,
dan ada penipisan pada
tengah atas caryopsis,
panjang caryopsis 7-8 mm
o Permukaan floret agak
kasar, tetapi cenderung
berbulu dan terlihat
mengkilap, posisi awn
terletak di bagian tengah
atas pada glume, bagian
dasar semua floret
membulat seperti tapal
kuda, ujung rachila
membulat segitiga pada
semua floret, panjang floret
14-20 mm. Umumnya floret
ditemukan tunggal.
2.
3.
Aeschynomene americana 12.5x
Biji
o Biji kecil berwarna cokelat
hingga kehitaman, biji
seperti huruf “C”,
berukuran 2 mm, hilum
terletak di bagian atas,
tepian biji tipis, hilum
berbentuk bulat kecil.
Beta vulgaris 10.0x (biji) dan
6.5x (kapsul)
Biji
dan
o Biji terbungkus kapsul yang
keras karena biji mudah
hancur, kulit biji tipis,
berwarna cokelat
kemerahan, dan mengkilap.
Diameter biji 1-2 mm.
Kapsul
-Umumnya
ditemukan
berupa kapsul
86
Lampiran 4 Beberapa foto dan deskripsi biji...(lanjutan)
No.
Foto
Spesies/Perbesaran/Deskripsi
Keterangan
4.
Cynoglossum glochidiatum 10.0 x
o Biji nampak seperti berduri,
duri memiliki karakter seperti
menara, biji berukuran 2-3
mm.
5.
Cyanotis axillaris 10.0x
Biji
o Biji berbentuk tabung,
berukuran 2 mm, berwarna
cokelat kehitaman, jika dibelah
melintang seperti bentukan
busur panah yang dibentang,
terdapat cerukan dipermukaan
biji, hilum terletak di atas
bagian tepi yang pipih.
Melochia corchorifolia 10.0x
Biji
o Biji berbentuk segitiga dengan
salah satu posisi tepian
membulat, berwarna hitam,
hilum terletak dibagian ujung
biji, berukuran
2 mm.
6.
7.
Rotboellia cocchinchinensis 6.5x
o Floret berbentuk tabung,
dengan lema dan glume yang
keras, berwarna hijau hingga
kuning, erukuran 6-7 mm.
Floret umumnya tersusun
membentuk spikelet seperti
pensil
o Caryopsis berwarna kuning,
bentuk seperti kapal boat,
hilum bulat, panjang 4 mm,
dan lebar 1.5 mm.
Biji
Floret
-Umumnya
ditemukan
berupa floret
Caryopsis
87
Lampiran 4 Beberapa foto dan deskripsi biji...(lanjutan)
No.
8.
9.
10.
*
Foto
Spesies/Perbesaran/Deskripsi
Keterangan
Corispermum declinatum 10.0x
o Biji berwarna cokelat,
berbentuk pipih, ujung biji
seperti capit, permukaan biji
ada tonjolan-tonjolan,
panjang 3 mm, dan lebar 1.5
mm.
Ipomoea locunosa 8.0x
o Biji berwarna cokelat
kehitaman, berbentuk
segitiga jika dilihat dari
samping, sudut tepi tegas,
panjang 4 mm, dan lebar 45 mm.
Biji
Raphanus raphanistrum 8.0x
o Umumnya polong yang
ditemukan mengontaminan
berbentuk gada atau
potongan kayu, tekstur
polong tidak teralalu keras,
permukaan polong cenderung
halus dan terkadang beralur
garis memanjang.
o Biji bulat lonjong berwarna
merah kecokatan, bagian
salah satu tepi biji terdapat
alur, bagian ujung biji agak
datar dan terdapat hilum.
Umumnya disekitar hilum
terlihat seperti ada tepung
putih.
Polong
Biji
-Dapat
ditemukan
berupa
polong dan
terkadang
berupa biji
Biji
Foto diambil menggunakan bantuan mikroskop stereo binokuler ZEISS Stemi 2000-C dengan
kamera AxioCam ERc5s.
88
Lampiran 5 Beberapa foto biji tumbuhan asing hasil deteksi dan identifikasi
produk pertanian impor*
No.
1.
Foto
Nama ilmiah/Perbesaran
Keterangan
Abutilon theophrasti 8.0x
Biji (Kamera
AxioCam
ERc5s)
2.
Ambrosia artemisiifolia
10.0x
Biji (Kamera
AxioCam
ERc5s)
3.
Aster pilosus 8.0x
Bunga
majemuk
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
dan
A. pilosus 12.5x
Bunga
tunggal
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
-Umumnya
ditemukan
berupa bunga
majemuk
89
Lampiran 5 Beberapa foto biji ...(lanjutan)
No.
Foto
Nama ilmiah/Perbesaran
Keterangan
4.
Avena strigosa 6.5x
Floret
(Kamera
Canon
Ixus
1000HS)
5.
Canabis sp. 6.5x
Biji (Kamera
AxioCam
ERc5s)
6.
Cenchrus longispinus 10.0x
Caryopsis
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
-Umumnya
ditemukan
berupa
spikelet.
7.
Centrosema pubescens 8.0x
Biji (Kamera
AxioCam
ERc5s)
8.
Convolvulus arvensis 8.0x
Biji (Kamera
AxioCam
ERc5s)
90
Lampiran 5 Beberapa foto biji ...(lanjutan)
No.
9.
Foto
Nama ilmiah/Perbesaran
Keterangan
Digitaria sanguinalis 10.0x
Caryopsis
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
10.
Echium plantagineum 10.0x
Biji (Kamera
AxioCam
ERc5s)
11.
Eragrostis cilianensis 10.0x
Spikelet
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
dan
caryopsis
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
91
Lampiran 5 Beberapa foto biji ...(lanjutan)
No.
Foto
Nama ilmiah/Perbesaran
Keterangan
12.
Eriochloa polystachya
10.0x
Caryopsis
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
13.
Euphorbia heterophylla
10.0x
Biji (Kamera
AxioCam
ERc5s)
14.
Fagopyrum esculentum 6.5x
Kapsul dan
Biji (Kamera
AxioCam
ERc5s)
-Biji umumnya
ditemukan
bersama
kapsulnya
15.
Galium aparine 12.5x
Biji (Kamera
AxioCam
ERc5s)
92
Lampiran 5 Beberapa foto biji ...(lanjutan)
No.
16.
17.
Foto
Nama ilmiah/Perbesaran
Keterangan
Hibiscus trionum 10.0x
Biji
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
Kochia scoparia 10.0x
Biji
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
kapsul
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
-Umumnya
ditemukan
berupa kapsul
Achene
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
18.
Layia platyglossa 10.0x
19.
Linum usitatissimum 10.0x
Biji (Kamera
AxioCam
ERc5s)
20.
Lithospermum arvense 8.0x
(Sinonim dari
Buglossoides arvensis)
Biji
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
93
Lampiran 5 Beberapa foto biji ...(lanjutan)
No.
21.
Foto
Nama ilmiah/Perbesaran
Keterangan
Lolium temulentum 6.5x
Caryopsis
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
22.
Lupinus angustifolius 6.5x
Biji
(Kamera
Canon Ixus
1000HS)
23.
Medicago polymorpha 6.5x
Polong
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
dan
24.
M. polymorpha 12.5x
Biji
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
Melampyrum verrucosum
10.0x
Biji
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
94
Lampiran 5 Beberapa foto biji ...(lanjutan)
No.
25.
Foto
Nama ilmiah/Perbesaran
Melilotus indicus 10.0x
Keterangan
Polong
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
Biji
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
26.
Panicum notatum 10.0x
Floret
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
27.
Paspalum scrobiculatum 10.0x
Floret
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
95
Lampiran 5 Beberapa foto biji ...(lanjutan)
No.
28.
Foto
Nama ilmiah/Perbesaran
Phalaris minor 10.0x
Keterangan
Floret
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
Caryopsis
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
29.
Phyllanthus virgatus 12.5x
Biji (Kamera
AxioCam
ERc5s)
30.
Physalis heterophylla 10.0x
Biji (Kamera
AxioCam
ERc5s)
31.
Polygonum scandens 12.5x
Biji (Kamera
AxioCam
ERc5s)
32.
Fagopyrum tartaricum 10.0x
Biji (Kamera
AxioCam
ERc5s)
96
Lampiran 5 Beberapa foto biji ...(lanjutan)
No.
33.
Foto
Nama ilmiah/Perbesaran
Rumex altissimus 10.0x
Keterangan
Kapsul
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
Kapsul
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
-dapat
ditemukan
berupa kapsul
atau biji
Biji (Kamera
AxioCam
ERc5s)
34.
Scirpus robustus 10.0x
35.
Sesamum indicum 10.0x
Biji (Kamera
AxioCam
ERc5s)
36.
Sesbania sericea 12.5x
Biji (Kamera
AxioCam
ERc5s)
97
Lampiran 5 Beberapa foto biji ...(lanjutan)
No.
37.
Foto
Nama ilmiah/Perbesaran
Setaria faberi 12.5x
Keterangan
Floret
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
dan
Caryopsis
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
-Umunya
ditemukan
floret, jarang
sekali
ditemukan
berupa
caryopsis
38.
Setaria pumila 10.0x
Floret
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
39.
Setaria macrostachya 10.0x
Floret
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
98
Lampiran 5 Beberapa foto biji ...(lanjutan)
No.
40.
Foto
Nama ilmiah/Perbesaran
Keterangan
Setaria sphacelata 12.5x
Floret
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
41.
Setaria viridis 12.5x
Floret
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
42.
Sida spinosa 10.0x
Kapsul
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
dan
Biji (Kamera
AxioCam
ERc5s)
43.
Sorghum halapense 10.0x
Floret
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
99
Lampiran 5 Beberapa foto biji ...(lanjutan)
No.
44.
45.
Foto
Nama ilmiah/Perbesaran
Keterangan
Thlaspi arvense 12.5x
Biji (Kamera
AxioCam
ERc5s)
Urena lobata 6.5x
Kapsul
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
dan
Biji
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
46.
Urochloa ramosa 10.0x
Biji
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
47.
Veronica hederifolia 8.0x
Biji
(Kamera
AxioCam
ERc5s)
*
Foto diambil menggunakan bantuan mikroskop stereo binokuler ZEISS Stemi 2000-C.
100
Lampiran 6 Impor produk pertanian berupa tanaman hidup, benih dan hasil
tanaman hidup bukan benih, hasil tanaman mati diolah, dan tanpa
olahan periode tahun 2010*)
Kelompok
Jenis produk pertanian
Frekuensi
Volume
Satuan
Tanaman
Hias
Acacia spp.
Acorus spp.
Agave spp.
Aglaonema spp.
Aglaonema spp., Anthurium spp.,
Sansevieria spp., Phalaenopsis spp.
Anthurium spp.
Arecaceae
Auricularia polytricha
Bambusa spp.
Begonia spp.
Begonia spp., Bidens spp.,
Brachyscome spp., Impatiens spp.,
Lobelia spp., Sanvi spp.
Benih bunga
Bibit anggrek
Bibit hias
Boswellia carteri
Bromelia spp.
Cannabis spp.
Cassia spp.
Cattleya spp., Dendrobium spp.,
Vanda spp.
Cattleya spp., Phalaenopsis spp.
Chamelaucium ciliatum,
Eriostemon spp., Banksia serrata
Chrysanthemum indicum
Chrysanthemum spp.
Cichorium intybus
Commiphora myrrha
Copernicia alba
Cuscuta spp.
Cycas spp.
Cymbidium spp, Lilium spp.,
Tulipa sp.
1
1
1
56
1
96
7 275
150 000
32 823
300
kg
kg
batang
batang
kg
1
1.500
batang
7
1
1
2
2
2
1
2
12 455
5 000
5 000
236
24 000
420
30 000
1 445
batang
kg
kg
batang
kg
kg
batang
batang
1
77 430
batang
2
2
6
1
1
1
1
20 050
23 250
3 252.60
90
280
120
435
kg
batang
batang
kg
batang
kg
kg
1
24 750
batang
1
24 750
batang
1
148
8
2
1
1
1
1
1
2
167 100
21 408
20 000
90
10
180
12
3.398
1
242
kg
batang
kg
kg
kg
batang
kg
batang
kg
kg
101
Lampiran 6 Impor ... (lanjutan)
Kelompok
Tanaman
Hias
Jenis produk pertanian
Dendrobium spp.
Dendrobium spp.,
Phalaenopsis spp.,
Vanda spp.
Dianthus caryophyllus
Dianthus spp.
Dracaena spp.
Encephalartos spp.
Eucalyptus spp.
Flowerbulbs
Gerbera spp.
Helianthus annuus
Lilium spp.
Livistona rotundifolia
Lomandra spp.,
Dianella spp.
Lomandra spp., Dianella
spp., Anigozanthos spp.
Lophanthera lactescens
Lophanthera spp
Loropetalum chinensis
Nelumbo nucifera
Oncidium spp.
Oncidium spp.,
Phalaenopsis amabilis
Oncidium spp.,
Phalaenopsis spp.
Papaver somniferum
Papaver spp.
Parent seed
Perilla frutescens
Phalaenopsis amabilis
Phalaenopsis spp.
Phalaenopsis spp.,
Dendrobium spp.,
Cymbidium spp.
Frekuensi
Volume
Satuan
12
163 830
batang
1
24 500
batang
3
14 745
1
320
1
30
1
1 500
5
185
3
84
1
1.13
1
15
6
89 000
1
10 500
1
595
74 5 258 167.10
7
22 011
34
107 321.50
1
100
1
3 000
batang
kg
batang
kg
batang
kg
kg
kemasan
batang
batang
kemasan
kg
batang
kg
batang
kg
1
740
batang
1
3 509
batang
1
1
1
3
2
50
800
0
675
5 .678
batang
kg
kg
kg
batang
1
2 742
batang
1
2 060
batang
1
1
2
1
16
1
17
3
1
3 402.48
16.18
68 522
360
117 460
7 000
3 926
6 052
320
1
5 401
kg
kg
kg
kg
batang
kg
kemasan
batang
kemasan
batang
102
Lampiran 6 Impor ... (lanjutan)
Kelompok
Tanaman
Hias
Jenis produk pertanian
Philodendron spp.
Phoenix sp.
Phoenix spp.
Phoenix sylvestris
Platycladus orientalis
Pruni persicae
Prunus spp.
Pterocarpus indicus
Pruni persicae
Rhapis excelsa
Rheum palmatum
Rosa spp.
Sandersonia auratiaca,
Calla palustris
Sanseivera spp.
Saracca spp.
Sargassum spp.
Aquarium
Tanaman Hias
Vaccaria spp.
Vanda spp.
Wrightia religiosa
Xanthorea spp.
Xanthostemon spp.
Zambila hyachitus
Ziziphi spinosae
Hortikultura Cucurbita pepo
Olea europaea
Allium ampeloprasum
Allium cepa
Amaranthus spp.
Ananas comosus
Apium graveolens
Apium
graveolens subsp. dulce
Benih sayuran (campuran)
Bibit sayuran
Brassica napus
Frekuensi
Volume
Satuan
5
1
1
4
1
1
2
2
1
1
2
1
1
1
5
1 140
930
20
254
3 000
90
600
170
200
50
170
50
600
17 500
18 145
270
batang
kg
batang
batang
kg
batang
kg
kg
kg
batang
kg
batang
kg
kg
batang
kg
1
155
11
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
2
1
1
48
2
1
1
3 175
50
1 600
160
1 985
8 794
169
300
50
600
10
800
1
300
6 850
660
10
2 441 735
2 508
240 000
9 687
1
100
kg
19
1
6
26 464.8
124
121 036
kg
kg
kg
kg
batang
batang
kg
kg
batang
batang
kg
batang
batang
kg
batang
kg
batang
kg
kg
kg
kg
kg
kg
batang
kg
103
Lampiran 6 Impor ... (lanjutan)
Kelompok
Jenis produk pertanian
Tanaman
Hortikultura Brassica oleracea
Brassica oleracea var.
botrytis
Brassica spp.
Capsicum spp.
Citrullus lanatus
Citrullus lanatus,
Cucumis sativus
Citrullus lanatus,
Lactuca sativa,
Capsicum annuum
Citrus spp.
Coriandrum sativum
Cucumis sativus
Cucurbita moschata
Cuminum cyminum
Curcuma longa
Daucus carota,
Brassica oleracea
Daucus carota,
Solanum lycopersicum
Fragaria × ananassa
Glycine max
Illicium verum
Ipomoea aquatica
Jatropha curcas
Jatropha spp.
Lactuca sativa
Lathyrus odoratus
Momordica charantia
Momordica charantia;
Cucurbita moschata
Musa spp.
Nymphaea spp.
Ocimum basilicum
Ocimum tenuiflorum
Origanum majorana
Petoselinum crispum
Pisum sativum
ssp. sativum
Raphanus sativus
Rubus spp.
Sesamum indicum
Frekuensi
Volume
Satuan
34
7952.25
kg
2
120
kg
12
3
9
125 527.50
1 717.25
3 948
kg
kg
kg
1
450.2
kg
1
6.75
kg
3
11
1
8
16
2
11 450
298 192
50
610.04
273 065.75
11 200
1
1 228
kg
1
1 300
kg
3
3
2
2
5
1
1
2
2
1
88 250
1 040
4 915
34 640
9 344.20
300
112
1.500
6.812
27
1
25.19
kg
3
2
7
2
1
8
50 000
6 375
73 584
30 000
20
44.25
batang
kg
kg
kg
kg
kg
2
15 220
kg
4
1
12
490
5 000
209 228
kg
batang
kg
batang
kg
kg
kg
kg
kg
batang
kg
kg
kg
kg
kg
kg
kg
kg
kg
104
Lampiran 6 Impor ... (lanjutan)
Kelompok
Jenis produk pertanian
Tanaman
Hortikultura Solanum lycopersicum
Syzygium aqueum,
Nephelium lappaceum
Syzygium malaccense
Trachyspermum ammi
Vaccinium myrtillus
Vitis vinifera
Wasabia japonica
Kehutanan
Acacia spp.
Albizia chinensis
Corylus spp.
Swietenia macrophylla
Obat
Folium artemisiae
Folium eriobotryae
Folium mori(sangye)
Folium perillae
Tribulus terestris
Vitex spp.
Xanthium spp.
Pangan
Manihot utilisima
Oryza sativa
Solanum lycopersicum
Solanum tuberosum
Sorghum bicolor
Zea mays
Penutup
Tanah,
rumput, dan Benih pakan ternak
pakan
ternak
Benih rumput
Callopogonium caeruleum
Callopogonium mucunoides
Croton sp.
Croton spp.
Cynodon dactylon
Brachiaria decumbens;
Chloris gayana; Stylosanthes
hamata; dan C. dactylon
Linum usitatissimum
Medicago sativa
Mucuna bracteata
Phalaris canariensis
Frekuensi
Volume
Satuan
3
736.04
kg
1
710
kg
1
50
1
6 300
1
4 339
1
10 000
2
54
1
75
1
1 043
4
42 500
1
3
2
774
1
450
1
416
1
399
1
150
1
160
1
180
1
9.37
57 2 504 940.70
2
558.07
17
1 924 400
1
2 000
40
923 929.71
kg
kg
kg
batang
kg
kg
kemasan
kg
kg
kg
kg
kg
kg
kg
kg
kg
kg
kg
kg
kg
kg
kg
1
5
kg
1
3
1
3
1
1
6 530
40 000
10 000
827
1 000
1 500
kg
kg
kg
batang
kg
kg
1
5 530
kg
9
47
7
9
163 876.53
16 044.04
10 470
422 962
kg
kg
kg
kg
105
Lampiran 6 Impor ... (lanjutan).
Kelompok
Jenis produk
Tanaman
pertanian
Pueraria javanica
Penutup
Tanah, rumput, Serinus canaria
dan pakan
Penutup tanah
ternak
Perkebunan
Areca catechu
Canarium spp.
Coccos nucifera
Coffea spp.
Elaeis guineensis
Gossypium spp.
Nicotiana tabacum
Theobroma cacao
*)
Frekuensi
Volume
Satuan
7
2
127 000
219 500
kg
kg
31
613 600
kg
1
5
1
2
43
45
2
2
1
11 200
439 360
26
134 400
6 372 483
422 048.60
49 314
85.6
150 000
kg
kg
koli
kg
batang
kg
kg
kg
kg
Sumber: Eplaq System BARANTAN tahun 2010 dan telah dilakukan pencarian nama spesies.
106
Lampiran 7 Impor produk pertanian berupa tanaman hidup, benih dan hasil
tanaman hidup bukan benih, hasil tanaman mati diolah, dan tanpa
olahan periode tahun 2011*)
Kelompok
Tanaman
Kehutanan
Hias
Jenis produk pertanian
Acacia spp.
Fcus benjamina
Swietenia macrophylla
Tectona grandis
Agalaonema spp.
Agastache cana
Agave spp.
Anthurium andraeanum
Arecaceae
Begonia glabra
Begonia semperflorens,
Impatiens walleriana
Brachiaria decumbens
Chloris gayana
Chrysanthemum indicum
Cichorium intybus
Crocosmia x crocosmiiflora
Dahlia spp., Penstemon spp.
Dendrobium spp.
Dracaena spp.
Echinacea purpurea
Eustoma grandiflorum
Gerbera spp.
Guizotia abyssinica
Gypsophila spp.
Frekuensi
Volume
Satuan
4
1
1
1
30
1
1
1
1
3
115.19
5 060
89 269.15
246 922.8
14 500
12
130 000
30
44
35 360
kg
kg
kg
batang
batang
batang
batang
kg
batang
batang
1
710
batang
1
1
8
13
1
1
8
200
300
80 396
76 598
24
1 595
272 150
328.5
297
12
8 000
7 130
36 191
12 500
6 506
989.87
48
3 300
40 506
130 810
1 500
1 996
14 640
1 880
500
300
40
102 672
0.20
kg
kg
batang
kg
batang
batang
batang
kg
kg
batang
batang
batang
kg
batang
1
1
1
2
2
2
Helianthus annuus
77
Heuchera sanguinea
Impatiens spp.
Lilium spp.
1
3
20
Neliumbium nucifera
Nigella spp.
Orcidaceae
Salam seashore paspalum
Setaria sphacelata
Stylosanthes hamata
Petunia spp.
Phalaenopsis amabilis
1
1
1
1
1
1
1
17
kg
batang
batang
batang
kg
kg
kg
batang
kg
kg
kg
batang
batang
kg
107
Lampiran 7 Impor ...(lanjutan)
Kelompok
Tanaman
Hias
Jenis produk pertanian
Phalaenopsis amabilis
Phalaenopsis spp.
Phoenix spp.
Podocarpus costalis
Rheum palmatum
Rosa spp.
Rudbeckia
subtomentosa
Salvia officinalis
Sandersonia auratica
Saururus cernuus
Stevia rebaudiana
Valeriana officinalis
Vanda spp.; P amabilis;
Cattleya spp.;
Dendrobium spp.
Zantedeschia aethiopica
Tanaman hias
Hortikultura Allium ampeloprasum
Allium ascalonicum
Amaranthus spp.
Ananas comosus
Apium graveolens
Brassica napus
Brassica oleracea
Brassica oleracea
gemmifera
Brassica paradisi
Capsicum annuum
Citrullus vulgaris
Citrus sp.
Coriandrum sativum
Cucumis melo
Cucumis sativus
Cucurbita spp.
Cycas rumphii
Daucus carota
Fragaria × ananassa
Ipomoea aquatica
Lactuca sativa
Frekuensi
Volume
Satuan
2
1
1
4
3 730
33
5 960.20
3 760
3
28
100
20 000
68 030
1
12
batang
1
2
1
2
1
2
12
284.50
36
200 000
9 250
52 250
batang
kg
kg
batang
kg
batang
2
2
4
16
3
6
1
7
14
8
670.5
300
41 228
928 000
2 496.20
660 340
2 190
1 968
5 060
1 185
kg
batang
kg
kg
kg
batang
kg
kg
kg
kg
8
9
11
2
1
1
3
2
1
1
1
5
5
895
1 312.57
2 984.1
2 600
20 000
1 200
26.21
3.20
41 000
18 000
40 000
7 980
25 910.60
kg
kg
kg
batang
kg
kg
kg
kg
batang
kg
batang
kg
kg
11
kemasan
batang
kg
kemasan
koli
kg
batang
kg
batang
108
Lampiran 7 Impor (lanjutan)
Kelompok
Jenis produk pertanian
Tanaman
Hortikultura Momordica charantia
Ocimum spp.
Origanum majorana
Petroselinum crispum
Pisum sativum
Pyrus pyrifolia
Raphanus sativus
Rubus idaeus
Solanum lycopersicum
Vigna unguiculata
Wasabia japonica
Benih sayuran (campuran)
Kehutanan
Aquilaria spp
Corylus spp
Gingko biloba
Pangan
Linum usitatissimum
Oryza sativa
Solanum tuberosum
Zea mays
Penutup
Medicago sativa
Tanah.
Lomandra spp
rumput. dan
pakan
Mucuna spp
ternak
Phalaris canariensis
Penutup Tanah
Benih Leguminosae
Benih rumput
Perkebunan Elaeis guineensis
Encephalartos spp
Gossypium herbaceum
Jatropha curcas
Nicotiana tabacum
Phoenix dactylifera
*)
Frekuensi
3
1
1
1
2
1
5
1
6
7
2
47
1
5
2
2
33
12
54
53
2
7
3
29
1
1
99
2
1
10
3
1
Volume
Satuan
18 862.67
2 000
10
40
5 870
5 000
1 131.95
4 000
1 989.98
312 000
7
97 083.15
15 000
45 219.96
240
4 917
2 151 794.442
864000
1 393 642.53
1 313 431.79
9 148
225
23 540
180 530
242 077
31.8
1 000
4 031 435
18 476.60
13
18 000
6 400
1 267.50
21.2
28
kg
kg
kg
kg
kg
kg
kg
batang
kg
kg
kg
kg
batang
kg
kg
kg
kg
kg
kg
kg
batang
kemasan
kg
kg
kg
kg
kg
batang
kg
batang
kg
batang
kg
kg
kg
Sumber: Eplaq System BARANTAN tahun 2011 dan telah dilakukan pencarian nama spesies.
109
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Madiun, Jawa Timur pada tanggal 06 April 1981 dari
pasangan Bapak Rakidin dan Ibu Ismojowati, SPd. Penulis merupakan putri kedua
dari empat bersaudara.
Penulis lulus pendidikan Sekolah Menengah Umum Negeri I Mejayan
pada tahun 1999 dan melanjutkan pendidikan strata-1 (S1) di Institut Pertanian
Bogor (IPB) melalui Jalur Undangan Seleksi Mahasiswa IPB (USMI) dan
memilih jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian dan lulus
pada tahun 2004.
Kegiatan yang pernah diikuti oleh penulis yaitu peserta Olimpiade
Matematika Tingkat Karisidenan Madiun pada tahun 1994, peserta Olimpiade
Kimia Tingkat Kotamadya Madiun pada tahun 1996, menjadi pemrasaran pada
Symposisum PEI tahun 2004 dengan judul “Pengaruh Konsentrasi Pakan Madu
terhadap Lama Hidup dan Produksi telur Trichogramma pretiosum”, menjadi
anggota PEI Cabang Bogor Tahun 2004 sampai dengan sekarang dan anggota PFI
Cabang Jakarta sejak tahun 2012 sampai dengan sekarang.
Penghargaan yang pernah diperoleh penulis yaitu sebagai mahasiswa
lulusan terbaik tingkat Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, IPB tahun
2004.
Pengalaman kerja penulis yaitu sebagai asisten peneliti di laboratorium
Ekologi-Parasitoid IPB dan di Yayasan Peduli Konservasi Alam (PEKA)
Indonesia pada tahun 2004-2005, Pegawai Negeri Sipil-Fungsional Pengendali
Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) di Balai Karantina Tumbuhan Kelas I
Bandar Lampung dari Januari 2005 sampai dengan April 2013, selanjutnya dari
April 2013 sampai dengan sekarang penulis bekerja sebagai POPT di Balai Besar
Karantina Pertanian Tanjung Priok tepatnya di Wilayah Kerja Karantina Pertanian
Kantor Pos Bogor.
Download