POTENSI Cyperus kyllingia Endl. UNTUK FITOREMEDIASI TANAH

advertisement
1
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 1 No 1: 01-08, 2014
POTENSI Cyperus kyllingia Endl. UNTUK FITOREMEDIASI
TANAH TERCEMAR MERKURI LIMBAH TAMBANG EMAS
Cynthia Monica Sugiono, Yulia Nuraini, Eko Handayanto*
Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya
* penulis korespondensi: [email protected]
Abstract
Small-scale gold mining activities in Sekotong District of West Lombok Regency started in 2009.
Gold is recovered through a two-stage process of amalgamation and cyanidation. Tailing is
discharged to land with no concern for contaminants. Phytoremediationcould cost-effectively
replace traditional mercury remediation strategies. The objective of this study was to elucidate the
potential of Cyperus kyllingia Endlfor phytoremediation of soil contaminated with mercury of gold
amalgamation and cyanidation tailings in conjunction withammonium thiosulphate to phytoextract
mercury. The study was conducted at the Laboratory of Soil Brawijaya University and in a shade
house located in the area of Dermo, Sengkaling. Samples of tailings-uncontaminated soil were
mixed with samples of tailings with the proportion of 30%: 70% (w/w). At harvest shoots and
roots were analyzed for mercury concentration in treatments, Tailing (tailings cyanidation and
amalgamation), ligand ( 0, 4, and 8 g kg-1 ). The results showed that Cyperus kyllingia was a potential
local species for phytoremediation of mercury contaminated soils as this plant was able to take up
mercury of 122,53 mg kg-1 (shoot) and 77,9 mg kg-1 (shoot). Based on TF (translocation factor)
value that was < 1, it is a potential species for phytostabilization. Addition on 8 g ammonium
thiosulphate kg-1 planting media enhancedmercury taken up by plant as much as 71,18%.
Key words: mercury , phytoremediation, ligand
Pendahuluan
Sektor pertambangan emas di Indonesia terdiri
atas penambangan emas skala besar,
penambangan emas skala sedang, serta
penambangan emas skala kecil (PESK). Di
Indonesia, dalam lima tahun terakhir telah
terjadi peningkatan dua kali lipat dari jumlah
titik PSEK.Situs pertambangan emas yang ada
umumnya terletak di tanah milik pribadi yang
dikelola oleh sebuah kelompok petambang,
maupun masyarakat umum. Di tahun 2010,
terdapat sekitar 900 titik, yang mencakup
sekitar 250.000 petambang, termasuk di dalam
jumlah tersebut adalah para perempuan dan
anak-anak kecil di bawah umur. Sekitar
1.000.000
populasi
menggantungkan
keberlangsungan kehidupan mereka dari
perputaran ekonomi bisnis tambang emas yang
eksploitatif ini (Ismawati, 2010).Dari berbagai
http://jtsl.ub.ac.id
literatur diperkirakan tiap petambang dalam
sehari dapat menghasilkan sekitar 10 gram
emas.
Desa Sekotong Tengah, Kecamatan
Sekotong Lombok Barat, adalah diantara
berbagai wilayah PESK di Indonesia yang yang
terlah beroperasi sejak tahun 2009. Amalgamasi
merkuri (Hg) merupakan metode tradisional
yang digunakan oleh penambang PESK untuk
mendapatkan emas. Dalam setiap gram emas
yang dihasilkan, terdapat sekitar 1-3 gram
merkuri yang terlepas ke lingkungan dari proses
amalgamasi konsentrat (Telmer, 2007), dimana
sebagian terlepas di udara dan sebagian lagi
terlepas ke perairan bersama dengan lumpur
hasil pencucian. Suatu penelitian pada PESK di
Filipina menunjukkan bahwa hanya 10% emas
yang dapat diperoleh dengan metode
amalgamasi Hg tersebut (Hylander et al., 2007).
2
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 1 No 1: 01-08, 2014
Sisa lumpur yang dibuang ke lahan pertanian
berdampak negatif terhadap produksi tanaman
pangan karena pertumbuhan tanaman yang
terhambat, bahkan tanaman mati, akibat
keracunan Hg. Hasil analisis pendahuluan yang
dilakukan di laboratorium tanah Universitas
Mataram menunjukkan bahwa kadar Hg dalam
tanah di Kecamatan Sekotong, Kabupaten
Lombok Tengah berkisar dari 25 ppm sampai
40 ppm, sedangkan kandungan Hg dalam biji
jagung dan padi yang tumbuh dilokasi
pembuangan limbah sekitar 0.20 ppm
(Krisnayanti et al., 2012).
Kegiatan penambangan di wilayah
Sekotong tersebut di atas dilaporkan telah
menyebabkan tanaman jagung menjadi
kekuning-kuningan yang pada gilirannya
menurunkan produksi tanaman jagung.
Khlorosis (tanaman menguning) merupakan
gejala utama tanaman yang keracunan Hg,
selain itu keracunan Hg juga menyebabkan akar
tanaman berwarna coklat, jumlah dan ukuran
akar menurun, dan tudung akar rusak (Patra
dan Sharma, 2000). Terjadinya keracunan
merkuri pada tanaman dapat disebabkan oleh
(a) perubahan permeabilitas membran sel, (b)
reaksi gugus sulphydryl (-SH) dengan kation,
(c) afinitas untuk bereaksi dengan gugus fosfat
dan gugus ADP atau ATP yang aktif, dan (d)
penggantian unsur esensial, terutama unsur
makro (Munzuroglu dan Geekil, 2002).
Kadar logam berat pada lahan pertanian
tersebut dapat dikurangi dan dinetralisir dengan
metode yang murah, yang dikenal dengan
fitoremediasi, yaitu pemanfaatan tumbuhan
hijau ataupun mikroorganisme yang berasosiasi,
untuk menyerap, memindahkan, menurunkan
aktivitas unsur toksik, serta mengurangi
kandungan senyawa toksik dalam tanah (Truu
et al., 2003). Fitoremediasi terdiri atas empat
jenis teknologi berbasis tanaman, yakni
rhizofiltrasi, fitostabilisasi, fitovolatilisasi, dan
fitoekstraksi; (Chandra Sekhar et al.,
2005).Diantara empat teknologi fitoremediasi
tersebut, fitostraksi merupakan metode yang
paling banyak digunakan untuk ekstraksi logam
berat pencemar tanah.Hasil penelitian Hidayati
et al. (2009) menunjukkan bahwa ada beberapa
spesies tanaman di lokasi PESK di Jawa Barat
yang mampu mengakumulasi sampai dengan 20
ppm Hg, diantaranya Cyperus kyllingia Endl..
Tumbuhan inio umumnya dijumpai pada
http://jtsl.ub.ac.id
daerah terbuka seperti tempat pembuangan,
tepi jalan, yang merupakan gulma pertanian
yang
potensial.Kondisi
terbaik
untuk
pertumbuhan Cyperus kyllingia dengan suhu
rata-rata 25oC. umbi teki mampu berkecambah
pada suhu 10o – 40oC.pH tanah untuk
menumbuhkan rumput teki berkisar antara 4,0
– 7,5. (Moenandir, 1993). Perkembangbiakan
Cyperus kyllingia dengan biji dan rimpang
(Kasmo, 1986).
Merkuri mempunyai afinitas kuat dengan
kelompok thiol, terutama kompleks sulfide dan
bisulfida (Morel et al., 1998).Selain itu, senyawa
humik yang menyusun 50% bahan organik
tanah mengandung kelompok fungsional yang
mengandung S dalam jumlah cukup besar
(Wallschlager et al., 1998).Senyawa humik yang
tersusun dari asam humat dan asam fulvat
merupakan peng-khelat Hg (Wallschlager et al.,
1996). Larutan mengandung sulfur telah
digunakan untuk memacu akumulasi Hg dalam
jaringan tanaman (Moreno et al., 2004).
Misalnya,
Brassica
juncea
dapat
mengkonsentrasikan Hg sampai 40 mg kg-1
dalam jaringan tajuk tanaman setelah aplikasi
amonium thiosulfat ([NH4]2S203) pada limbah
tambang yang terkontaminasi dengan 2.8 mg
Hg kg-1.Oleh karena itu amonium thiosulfat
sering digunakan oleh beberapa peneliti sebagai
suatu strategi yang potensial untuk remediasi
lingkungan tercemar Hg.
Tujuan penelitian ini adalah untuk (1)
mempelajari dan mengetahui potensi Cyperus sp,
dalam fitoremediasi tanah yang tercemar oleh
limbang tambang emas mengandung unsur Hg,
dan (2) mempelajari dan mengetahui pengaruh
penambahan bahan ligand mengandung S
terhadap pelarutan Hg dalam tanah tercemar
Hg dan perubahan serapan Hg oleh Cyperus sp,.
Bahan dan Metode
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari
2013 – September 2013 di Malang. Dimana
analisis
laboratorium
dilakukan
di
Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian
Universitas
Brawijaya dan
penanaman
dilakukan di rumah kaca yang terletak di daerah
Dermo, Sengkaling, Kabupaten Malang.Bahan
yang digunakan adalah tailingproses amalgamasi
merkuri, tailing proses sianidasi, tanah
Inceptisol,
ligan
amonium
thiosulfat
3
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 1 No 1: 01-08, 2014
([NH4]2S2O3), (5) pupuk kalium (KCl), pupuk
nitrogen (urea), pupuk fosfor (SP36), pupuk
kompos, dan tanaman Cyperus kyllingia.Tailing
amalgamasi dan tailing sianidasi diperoleh dari
lokasi pertambangan emas rakyat di Kecamatan
Sekotong, Kabupaten Lombok Barat (Gambar
1).
Lokasi sampel
Gambar 1. Lokasi Sampel Tailing di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat
Tanah Inceptisol diperoleh dari Desa Beji,
Kecamatan Junrejo, Kabupaten Malang.
Pemilihan tanah Inceptisol didasarkan pada
pertimbangan bahwa tanah di Kecamatan
Sekotong, Kabupaten Lombok Barat tersebut
di dominasi oleh ordo Inceptisol. Pupuk
kalium (KCl), nitrogen (Urea) dan fosfor
(SP36) digunakan sebagai pupuk dasar.Pupuk
kompos diperoleh dari UPT kompos UB.
Tumbuhan Cyperus kyllingia diperoleh dari
lokasi yang tercemar tailing proses amalgamasi
maupun proses sianidasi.
Sampel tanah Inceptisol diambil pada
kedalaman 0-30 cm dengan menggunakan bor
tanah, kemudian dibawa ke laboratorium tanah
Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya.
Sampel tanah di kering udarakan selama 3 hari,
kemudian diayak dengan ayakan 2 mm. Analisis
dasar tanah meliputi kandungan N total
(metode Kjeldahl), P tersedia (Bray-1) dan K
(flamephotometer), serta kandungan Corganik (metode Walkley dan Black). Sampel
tailing diambil secara acak dari timbunan tailing
di lokasi proses amalgamasi maupun proses
sianidasi. Kandungan merkuri dalam masingmasing sampel tailing kering udara ditetapkan di
laboratorium tanah dengan menggunakan
http://jtsl.ub.ac.id
F732-S Cold Atomic absorption Mercury
Vaporanalyzer (Shanhgai Huaguang Instrument
Company), dengan prinsip reduksi logam
merkuri oleh stannum kliorida (SnCl2). Sifat
kimia tailing sianidasi adalah sebagai berikut: N
total 0,009 %, P tersedia 2,79 mg kg-1, Corganik 0,55 %, K total 0,11 %, pH7,59, dan
Hg 327,0 mg kg-1, sedangkan sifat kimia tailing
amalgamasi adalah: N total 0,013 %, P tersedia
4,94 mg kg-1, C-organik 0,21 %, K total 0,59 %,
pH 8,43, dan Hg 393,6 mg kg-1.
Tanaman Cyperus kyllingia diperoleh dari
lokasi di sekitar lokasi pengambilan sampel
tailing dalam bentuk utuh kemudian dilakukan
aklimatisasi tunas yang dipotong hingga setinggi
2 cm sehingga diperoleh anakan yang seragam.
Proses aklimatisasi selama 1 – 2 minggu.Cyperus
kyllingia yang sudah diaklimatisasi ditanam pada
polibag 5 kg dengan campuran 70% tanah
inceptisols dan 30% tailing dari proses
amalgamasi (proses gelondong) atau proses
sianidasi (proses tong) yang ditempatkan dalam
polibag. Untuk memacu serapan merkuri
ditambahkan amonium thiosulfat dengan dosis
0,4 dan 8 g kg-1 media (Wang et al., 2012).
Berdasarkan hal diatas, maka terdapat enam
perlakuan (Tabel 1).Enam perlakuan tersebut
disusun dalam rancangan acak lengkap dengan
4
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 1 No 1: 01-08, 2014
tiga ulangan.Masing-masing perlakuan diberi
pupuk dasar N, P dan K dengan dosis setara
100 kg N (urea) ha-1, 50kg K (KCl) ha-1, dan
50kg P (SP36) ha-1, serta kompos dengan dosis
10 t ha-1. Hal ini dilakukan untuk
memaksimalkan pertumbuhan Cyperus kyllingia.
Perlakuan penambahan ligan amonium
thiosulfat (untuk dosis 4 dan 8 g kg-1 media)
dilakukan setelah tumbuhan berumur 7
minggu, atau 1 minggu sebelum panen.
Pengaplikasian ligan dengan cara melarutkan
ligan dengan kurang lebih 200 mL aquades dan
disiramkan pada media tanaman dengan
menghindari kontak langsung larutan ligan
dengan tanaman Cyperus kyllingia. Selama
percobaan, pemberian air dilakukan setiap hari
untuk menjaga kecukupan pasokan air untuk
pertumbuhan tanaman. Satu minggu setelah
penambahan ligan amonium thiosulfat,
tanaman
dapat
dipanen
(umur
8
minggu).Parameter yang diamati adalah tinggi
tanaman,jumlah daun, dan konsentrasi Hg
pada tajuk dan akar.
Biological Concentration Factor (BCF)
dihitung sebagai rasio konsentrasi Hg dan akar
dengan konsentrasi Hg dalam tanah (Yoon et
al., 2006). Translocation Factor (TF) dihitung
sebagai rasio Hg dalam tajuk dengan
konsentrasi Hg dalam akar (Cui et al., 2007: Li
et al., 2007). Biological Accumulation
Coefficient (BAC) dihitung sebagai rasio
konsentrasi Hg dalam tajuk dan dengan
konsentrasi Hg dalam tanah (Cui et al., 2007: Li
et al., 2007).
Data yang diperoleh akan diuji dengan
analisis ragam (Anova) dengan uji BNJ 5%
untuk mengetahui pengaruh perlakuan.
Tabel 1. Kombinasi perlakuan
No
1
Kode Perlakuan
CKT1L0
2
CKT1L1
3
CKT1L2
4
CKT2L0
5
CKT2L1
6
CKT2L2
Keterangan
Cyperus kyllingia pada tailing sianidasi tanpa penambahan amonium
thiosulfat
Cyperus kyllingia pada tailin gsianidasi dengan penambahan 4 g amonium
thiosulfat kg-1 media
Cyperus kyllingia pada tailing sianidasi dengan penambahan 8 g amonium
thiosulfat kg-1 media
Cyperus kyllingia pada tailing amalgamasi tanpa penambahan amonium
thiosulfat
Cyperus kyllingia pada tailing amalgamasi dengan penambahan 4 g
amonium thiosulfat kg-1 media
Cyperus kyllingia pada tailing amalgamasi dengan penambahan 8 g
amonium thiosulfat kg-1 media
Hasil dan Pembahasan
Hasil pengamatan pertumbuhan Cyperus
kyllingia menunjukan bahwa penambahan ligan
pada media mempengaruhi tinggi, jumlah daun
dan jumah anakan. Semakin tinggi dosis
penambahan ligan maka semakin menurun
pertumbuhan tanaman Cyperus kyllingia.
Pada perlakuan L0 tinggi tanaman pada
56HST
terus
mengalami
peningkatan,
sedangkan pada perlakuan L1 dan L2
mengalami
penurunan
karena
adanya
penambahan ligan yang mempengaruhi tinggi
http://jtsl.ub.ac.id
tanaman. (Gambar 1). Hasil analisis ragam
menunjukkan
bahwa
perlakuan
ligan
berpengaruh sangat nyata pada serapan akar.
Kemudian, dilanjutkan pengujian lebih lanjut
dengan menggunakan uji BNJ 5%, dan
didapatkan hasil yang berbeda sangat nyata
pada masing – masing perlakuan (Tabel 2). Hal
ini didukung dengan pernyataan Irwan (2009)
yang menyatakan bahwa kompleks Hg-thiosulfat dapat meningkatkan kelarutan Hg dalam
air sehingga lebih mudah diserap oleh akar
tanaman.
5
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 1 No 1: 01-08, 2014
Gambar 1. Tinggi Cyperus kyllingia
Keterangan: CK (Cyperus kyllingia); T1 (Tanah tercemar tailing sianidasi); T2 (Tanah tercemar tailing
amalgamasi); L0 (tanpa ligan); L1 (ligan 4g kg-1); L2 (ligan 8g kg-1)
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa
perlakuan liganberpengaruh nyata pada serapan
tajuk Kemudian, dilanjutkan pengujian lebih
lanjut dengan menggunakan uji BNJ 5%, dan
didapatkan hasil yang berbeda nyata pada
masing – masing perlakuan (Tabel 2). Sama
halnya dengan akar, tajuk tanaman Cyperus
kyllingia mampu mengakumulasi Hg semakin
banyak seiring dengan tingginya dosis ligan
yang diberikan. Larutan mengandung sulfur
telah digunakan untuk memacu akumulasi Hg
dalam jaringan tanaman (Moreno et al., 2004).
Tabel 2. Serapan Hg pada Akar Cyperus kyllingia
Perlakuan
CKT1L0
CKT1L1
CKT1L2
CKT2L0
CKT2L1
CKT2L2
Berat Kering
(g tanaman-1)
Tajuk
Akar
16,77a
1,98b
11,25a
1,28ab
8,69a
1,05a
17,84b
1,61ab
17,71a
1,52ab
16,35a
1,37ab
Konsentrasi Hg
(mg kg-1)
Tajuk
Akar
3,31a
16,67a
5,33ab
26,33ab
7,18b
41,16c
4,16a
24,83ab
5,46ab
32,16bc
7,71b
57,16d
Serapan Hg
(mg kg-1)
Tajuk
Akar
54,51a
33,09a
59,51ab
33,82a
62,3ab
43,58a
76,35ab
40,74a
98,61ab
49,36a
122,53b
77,9b
Keterangan:Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata
berdasarkan uji BNJ taraf 5 %;CK (Cyperus kyllingia);T1 (Tanah tercemar tailingsianidasi); T2 (Tanah tercemar tailing
amalgamasi); L0 (tanpa ligan); L1 (ligan 4g kg-1); L2 (ligan 8g kg-1).
http://jtsl.ub.ac.id
6
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 1 No 1: 01-08, 2014
Gambar 2. Bioakumulasi Hg
Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji
BNJ taraf 5 %; Nilai BNJ BAC 0,0075; BCF 0,028;CK (Cyperus kyllingia); T1 (Tanah tercemar tailing sianidasi); T2 (Tanah
tercemar tailing amalgamasi); L0 (tanpa ligan); L1 (ligan 4g kg-1); L2 (ligan 8g kg-1); BAC (Biological Accumulation
Concentration); BCF (Biological Concentration Factor);TF (Translocationfactor).
Hasil analisis ragam yang dilanjutkan dengan uji
BNJ 5% menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan yang sangat nyata terhadap faktor
Biological Concentration Factor (BCF)pada masing
- masing perlakuan.Hal ini terjadi karena
konsentrasi Hg pada akar semakin meningkat
seiring dengan penambahan ligan yang
diberikan.
(Gambar
2).
BAC
(BiologicalAccumulation Concentration) berpengaruh
sangat nyata terhadap perbedaan jenis ligan,
berdasarkan hasil pengamatan, konsentrasi Hg
pada tajuk meningkat dengan adanya
penambahan dosis ligan. (Gambar 2). Hasil
analisis ragam pada Translocation Factor
(TF)menunjukkan bahwa pada masing –
masing perlakuan tidak berpengaruh nyata
terhadap TF sehingga tidak dilakukan uji
lanjutan dengan uji BNJ 5%. Nilai TF <1 maka
tanaman Cyperus kyllingia dapat disebut
fitostabilisator(Yoon et al., 2006), karena hanya
dapat mengakumulasi Hg pada akar lebih
banyak dan tidak dapat mentranslokasikan Hg
pada tajuknya.
Dua bulan setelahtanam menunjukkan
bahwa T1(tanah yang tercemar tailingsianidasi)
memiliki kandungan Hg lebih rendah
dibandingkan
dengan
T2(tanah
yang
tercemartailingamalgamasi).Tabel
2
menunjukkan bahwa penurunan Hg paling
tinggi terdapat pada perlakuan CKT2L2 yaitu
375,27 mg kg-1 sedangkan paling rendah
terdapat pada perlakuan CKT1L0 yaitu 305,8
mg kg-1. Dengan penambahan ligan amonium
thiosulfat mampu meningkatkan besarnya nilai
penurunan Hg dalam tanah.
Tabel 2. Perubahan Kandungan Hg setelah fitoremediasi
Perlakuan
CKT1L0
CKT1L1
CKT1L2
CKT2L0
CKT2L1
CKT2L2
Kandungan Hgdalam TanahTercemar Hg
Hg awal
Hg akhir
Penurunan Hg
mg kg-1
mg kg-1
mg kg-1
%
327
21,2
305,8
93,51
327
16,07
310,93
95,08
327
13,2
313,8
95,96
393,6
25,6
368
93,49
393,6
20,73
372,87
94,73
393,6
18,33
375,27
95,34
Keterangan:CK (Cyperus kyllingia);T1 (Tanah tercemar tailingsianidasi); T2 (Tanah tercemar tailing amalgamasi);
L0 (tanpa ligan); L1 (ligan 4g kg-1); L2 (ligan 8g kg-1)
http://jtsl.ub.ac.id
7
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 1 No 1: 01-08, 2014
Serapan Hg pada tajuk tanaman sebesar 122,53
mg kg-1 sedangkan serapan Hg pada akar
tanaman sebesar 77,9 mg kg-1. Hal ini
disebabkan oleh tingginya berat kering pada
tajuk tanaman sehingga nilai serapan yang
didapat lebih tinggi. Hal ini didukung oleh
pernyataan dari Hidayati et al.(2009) bahwa
akumulasi Hg terbanyak terdapat pada tajuk
Cyperus kyllingia.Serapan paling tinggi juga
terdapat pada perlakuan CKT2L2 dengan
serapan Hg total sebesar 200,44 mg kg-1, dan
serapan paling rendah terdapat pada perlakuan
CKT1L0 dengan serapan Hg total sebesar 87,6
mg kg-1 (Tabel 3). Dengan demikian perlakuan
penambahan ligan 8 g kg-1 dapat meningkatkan
serapan merkuri sebesar 71,18%.
Tabel 3. Peningkatan Serapan Hg oleh Cyperus
kyllingiaakibat penambahan ligan aminium
thiosulfat
Perlakuan
CKT1L0
CKT1L1
CKT1L2
CKT2L0
CKT2L1
CKT2L2
Serapan
Hg (mg
kg-1)
87,6
93,33
105,88
117,09
147,97
200,44
Persentase
peningkatan
serapan Hg
0
6,54
20,86
0
26,37
71,18
Keterangan:CK (Cyperus kyllingia);T1 (Tanah
tercemar tailingsianidasi); T2 (Tanah tercemar tailing
amalgamasi); L0 (tanpa ligan); L1 (ligan 4g kg-1); L2
(ligan 8g kg-1)
Kesimpulan
Cyperus kyllingia dapat digunakan untuk
fitoremediasi tanah tercemar merkuri
limbah tambang emas rakyat karena
mampu menyerap merkuri sebesar 122,53
mg kg-1 (tajuk) dan 77,9 mg kg-1 (akar).
Berdasarkan konsentrasi Hg dalam tajuk
dan akar, Cyperus kyllingia berpotensi
sebagai
tumbuhan
fitostabilisatior.
Penambahan penambahan ligan amonium
thiosulfat dengan dosis 8g kg-1 media
meningkatkan serapan total Hg pada
tanaman Cyperus kyllingia sebesar 71,18%.
http://jtsl.ub.ac.id
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Universitas Brawijaya atas biaya bantuan
penelitian yang diberikan melalui dana
BOPTN-UB tahun. Ucapan terima kasih juga
penulis sampaikan kepada petani di Kecamatan
Sekotong, Kabupaten Lombok atas bantuan
penyediaan tanah tercemar tailing tambang
emas skala kecil.
Daftar Pustaka
Chandra Sekhar K., Kamala, C. T., Chary, N. S.
Balaram, V. and Garcia, G. 2005. Potential of
Hemidesmus indicus for phytoextraction of lead
from
industrially
contaminated
soils.
Chemosphere58: 507-514
Cui, S., Zhou, Q. and L. Chao, L. 2007. Potential
hyperaccumulation of Pb, Zn, Cu and Cd in
endurant plants distributed in an old smeltery,
northeast China, Environmental Geology51: 20078.
Hidayati, N., Juhaeti, T. and Syarif, F. 2009.Mercury
and Cyanide Contaminations in Gold Mine
Environment and Possible Solution of Cleaning
Up by Using Phytoextraction.Hayati Journal of
Biosciences16: 88-94.
Hylander, L.D., Plath, D., Miranda, C.R., Lucke, S.,
Ohlander,
J.
and
Rivera,
A.T.F.
2007.Comparison of different gold recovery
methods with regard to pollution control and
efficiency.Clean35: 52-61.
Irwan, N., Yaacob, I. I., Johan, M. R., and Ang, B.
C. 2009. Characterization and Stability Monitoring of
Maghemite Nanoparticle Suspensions. In: Advanced
Materials Research Vol. 576 (2012) pp 398-401.
Eds. Trans Tech Publications, Switzerland.
Ismawati, Y. 2010. Presentation at the National
Mercury Roundtable Forum, Jakarta, 4 August
2010.
Kasmo. 1986. Beberapa gulam penting pada
tanaman pangan dan cara pengendaliannya.
Direktorat Jendral Pertanian Tanaman Pangan,
Jakarta.
Krisnayanti, B.D., Arifin, Z. Bustan, Sudirman. and
Yani, A. 2012.Mercury Concentration on Tailing
and Water from One Year of ASGM at
Lantung,
Sumbawa,
Indonesia.In:
Environmental, Socio-economic, and Health
Impacst of Artisanal and Small-Scale Minings.
E. Handayanto, B.D. Krisnayanti and Suhartini
(eds). p 61-66. UB Press, Malang, Indonesia
Li, M.S., Luo, Y.P. and Su, Z.Y. 2007. Heavy metal
concentrations in soils and plant accumulation
in a restored manganese mineland in Guangxi,
South China, Environmental Pollution147: 168-175.
8
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol 1 No 1: 01-08, 2014
Moenandir, J. 1993. Pengantar ilmu dan
pengendalian gulma. PT Raja Grafindo Persada .
Jakarta.
Morel, F.M.M., Kraepiel, A.M.L. and Amyot,
M.1998.The chemical cycle and bioaccumulation
of mercury.Annual Reviews in Ecological Systems
29:543-566Moreno, F.N., Anderson, C.W.N.,
Robinson, B.H. and Stewart, R.B. 2004.
Phytoremediation of mercury-contaminated
mine tailings by induced plant-Hg accumulation.
Environmental Practice 6(2):165-175.
Munzuroglu, O. and Geekil, H. 2002. Effect of
metals on seed germination root elongation and
coeoptiles and hypocotyls growth in Triticum
aestivum and Cucumis salivus.Archieve of
Environmental and Contamination Toxicology. 43:
203-213.
Patra, M.and Sharma, A. 2000.Mercury Toxicity in
Plants.Botanical Reviews 66: 379-422.
Telmer, K. 2007. Mercury and Small Scale Gold
Mining –Magnitude and Challenges Worldwide.
GEF/UNDP/UNIDO Global Mercury Project
Truu, J. Talpsep, E. Vedler, E. Heinaru, E. and
Heinaru, A. 2003.Enhanced Biodegradation of
Oil Shale Chemical Industry Solid Wastes by
Phytoremediation
and
Bioaugmentation.
Estonia Academy Publisher
http://jtsl.ub.ac.id
Wallschlager, D., Desai, V.M.M. and Wilken, R.
1996. The role of humic substances in the
aqueous mobilization of mercury from
contaminated floodplain soils.Water, Air, and Soil
Pollution 90:507-520.
Wallschlager, D., Desai, V.M.M., Spengler, M., and
Wilken, R. 1998a. Mercury speciation in
floodplain soils and sediments along a
contaminated river transect. Journal of
Environmental Quality 27:1034-1044.
Wang, J., X, Feng, X. and C.W.N. Anderson,
C.W.N.
2012.
Thiosulphateassistedphytoextractionof mercury
(Hg) contaminated soilsatthe Wanshan mercury
mining
district,
Southwest
China.
in
Environmental, Socio-economic, and Health Impacst of
Artisanal and Small-Scale Minings. E. Handayanto,
B.D. Krisnayanti and Suhartini (eds). p 67-76.
UB Press, Malang, Indonesia, February, 2012
Yoon, J., Cao, X., Zhou, Q. and Ma,L.Q.
2006.Accumulation of Pb, Cu, and Zn in native
plants growing on a contaminated Florida
site.Science of the Total Environment368: 456-464.
Download