UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA UJI

advertisement
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN
Garcinia benthami Pierre TERHADAP BEBERAPA
BAKTERI PATOGEN DENGAN METODE
BIOAUTOGRAFI
SKRIPSI
KARIMAH YULIANTI ANDIDHA
1111102000033
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI FARMASI
JAKARTA
JUNI 2015
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN
Garcinia benthami Pierre TERHADAP BEBERAPA
BAKTERI PATOGEN DENGAN METODE
BIOAUTOGRAFI
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi
KARIMAH YULIANTI ANDIDHA
1111102000033
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI FARMASI
JAKARTA
JUNI 2015
ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS
Skripsi ini adalah hasil karya sendiri, dan semua sumber yang
dikutip saya maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar
Nama
: Karimah Yulianti Andidha
NIM
: 1111102000033
Tanda Tangan :
Tanggal
iii
: 18 Juni 2015
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING
Nama
NIM
Program Studi
Judul
:
:
:
:
Karimah Yulianti Andidha
1111102000033
Farmasi
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Garcinia benthami
Pierre terhadap Beberapa Bakteri Patogen dengan Metode
Bioautografi.
Disetujui oleh:
Pembimbing I
Pembimbing II
Puteri Amelia, M.Farm., Apt
NIP. 198012042011012004
Saiful Bahri, M.Si
NRD. 03030784.01
Mengetahui,
Ketua Program Studi Farmasi
FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Yardi, Ph.D.,Apt
NIP. 197411232008011014
iv
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI
Skripsi ini diajukan oleh :
Nama
:
Karimah Yulianti Andidha
NIM
:
1111102000033
Program Studi :
Farmasi
Judul
:
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Garcinia benthami
Pierre terhadap Beberapa Bakteri Patogen dengan Metode
Bioautografi.
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima
sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar
Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
DEWAN PENGUJI
Pembimbing 1 : Puteri Amelia, M.Farm., Apt.
(
)
Pembimbing 2 : Saiful Bahri, M.Si
(
)
Penguji
1 : Eka Putri, M.Si.,Apt
(
)
Penguji
2 : Lina Elfita, M.Si.,Apt
(
)
Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal
: 18Juni 2015
v
ABSTRAK
Nama
:
Program Studi :
Judul
:
Karimah Yulianti Andidha
Farmasi
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Garcinia benthami
Pierre terhadap Beberapa Bakteri Patogen dengan Metode
Bioautografi.
Garcinia benthami Pierre merupakan salah satu spesies dari genus Garcinia.
Garcinia telah dikenal sebagai sumber senyawa xanton dan bioflavonoid dengan
berbagai macam bioaktivitas seperti antibakteri, antioksidan, antikanker,
antifungi, dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas
antibakteri ekstrak n-heksan, etil asetat, dan metanol daun Garcinia benthami
Pierre terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif. Ekstrak n-heksan, etil
asetat dan metanol diperoleh dengan metode maserasi bertingkat, ketiga ekstrak
tersebut diuji menggunakan metode bioautografi. Ekstrak etil asetat merupakan
ekstrak yang mempunyai aktivitas tertinggi dari kedua ekstrak lainnya terhadap
bakteri Staphylococcus epidermidis, Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa,
Shigella dysenteriae, Helicobacter pylori dan Salmonella thypimurium. Ekstrak
etil asetat tersebut dilakukan kromatografi lapis tipis bioautografi untuk
mengetahui pola pemisahan senyawa yang terkandung dalam ekstrak dan aktif
sebagai antibakteri. Eluen terbaik pada bakteri uji S. epidermidis adalah eluen nheksan : etil asetat (5:5) dengan nilai Rf 0,24 dan 0,32, B. subtilis pada eluen nheksan : etil asetat (7:3) dengan nilai Rf 0,033; 0,083; 0,13 dan 0,383, H. pylori
pada eluen n-heksan : etil asetat (6:4) dengan nilai Rf 0,033; 0,125; 0,208; 0,383
dan 0,6, P. aeruginosa pada eluen n-heksan : etil asetat (5:5) dengan nilai Rf 0,24;
0,3; 0,6; 0,7 dan 0,76, S. thypimurium pada eluen n-heksan : etil asetat (5:5)
dengan nilai Rf 0,26; 0,36 dan 0,64, S. dysenteriae pada eluen n-heksan: etil
asetat (6:4) dengan nilai Rf 0,45.
Kata kunci : Garcinia benthami Pierre, ekstrak, antibakteri, bioautografi.
vi
ABSTRACT
Name
Major
Tittle
:
:
:
Karimah Yulianti Andidha
Pharmacy
Antibacterial Activity of Garcinia benthami Pierre Leaf
Extracts Against Bacterial Pathogens by Bioautography
Method.
Garcinia benthami Pierre is one of the species from genus Garcinia. Garcinia that
has been known as a source of xanton and bioflavonoid compounds with various
bioactivities such as antibacterial, antioxidant, anticancer, antifungal and antiinflammatory. This research aims to determine the antibacterial activity of the
extract n-hexane, ethyl acetate, and methanol leaves of Garcinia benthami Pierre
against Gram positive and Gram negative. Extract n-hexane, ethyl acetate and
methanol were obtained by maceration multilevel method where three extracts
were tested using bioautography method. Ethyl acetate extract is an extract which
has the highest activity compared to the two other extracts against Staphylococcus
epidermidis, Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa, Shigella dysenteriae,
Helicobacter pylori and Salmonella thypimurium. The ethyl acetate extract was
examined by thin layer chromatography to determine the pattern separation
bioautography compounds contained in extracts and active as an antibacterial. The
best eluent for the test of bacteria S epidermidis is eluent n-hexane : ethyl acetate
(5:5) with Rf value of 0.24 and 0.32, related B. subtilis in the eluent n-hexane :
ethyl acetate (7:3) Rf value of 0.033; 0.083; 0.13 and 0.383, H. pylori in the eluent
n-hexane : ethyl acetate 6:4 with a value of Rf 0.033; 0.125; 0.208; 0.383 and 0.6,
P. aeruginosa in eluent n-hexane : ethyl acetate (5:5) with Rf value 0.24; 0.3; 0.6;
0.7 and 0.76, S. thypimurium the eluent n-hexane : ethyl acetate (5:5) with Rf
value of 0.26; 0.36 and 0.64, S. dysenteriae the eluent n-hexane : ethyl acetate 6:4
with a value of Rf 0.45.
Keywords : Garcinia benthami Pierre, extract, antibacterial, bioautography
vii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi Rabbil „Alamin, atas segala nikmat iman, islam,
kesempatan, serta kekuatan yang telah diberikan Allah Subhanahuwata‟ala
sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini.
Shalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad SAW sebagai tauladan umat
manusia, semoga kita dapat menjunjung nilai-nilai Islam yang beliau ajarkan dan
semoga kita mendapatkan syafaat beliau.
Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk mendapat gelar sarjana
farmasi dari Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Judul skripsi ini adalah “Uji
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Garcinia benthami Pierre terhadap Beberapa
Bakteri Patogen dengan Metode Bioautografi”.
Penulis menyadari bahwa keberhasilan tugas akhir ini adalah atas bimbingan
dan bantuan berbagai pihak. Dalam kesempatan ini, penulis menyampaikan
terimakasih kepada :
1. Kedua orang tua, Ayah Bambang Santoso dan Mama Sinta Karyati
terimakasih atas kasih sayang, perhatian, semangat, doa yang tiada henti
serta dukungan baik moral maupun materil. Semoga selalu dalam
lindungan Allah swt.
2. Ibu Puteri Amelia, M.Farm., Apt dan bapak Saiful Bahri, M.Si selaku
pembimbing yang senantiasa sabar dan ikhlas dalam memberikan arahan
dan semangat selama proses penyelesaian penelitian dan skripsi ini.
3. Dr. H. Arif Soemantri, S.KM, M.Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Yardi, Ph.D., Apt selaku Ketua Program Studi Farmasi Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
5. Bapak dan Ibu staf pengajar dan karyawan yang telah memberikan
bimbingan dan bantuan selama saya menempuh pendidikan di Program
viii
Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
6. Para laboran Farmasi UIN, Mba Rani, Ka Eris, Ka Rahmadi, Ka Lisna
dan Ka Tiwi yang telah banyak membantu selama praktikum maupun
penelitian.
7. Kedua kakakku tercinta Mba Nia dan Mas Idham yang sudah memberikan
dukungan, semangat dan doa.
8. Teman-teman seperjuangan antimikroba dalam penelitian ini yang tidak
bisa penulis sebutkan satu-satu yang senantiasa dengan sabar menemani,
mendukung dan membantu disaat sedang dibutuhkan.
9. Teman-teman terdekat yang sudah banyak membantu penulis dalam
penelitian ini Sumiati, Qadryna, Silvia yang bersedia mendengarkan
keluhan dan memberikan doa serta semangat.
10. Teman-teman Farmasi 2011 yang sudah banyak memberikan kenangan
dan kebahagiaan selama empat tahun ini. Semoga ukhuwah kita selalu
terjaga.
11. Semua pihak yang turut membantu yang tidak bisa penulis sebutkan satu
per satu.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih belum sempurna. Oleh
karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis sangat mengharapkan kritik
dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Penulis berharap
semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan sumbangan pengetahuan
khususnya di Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan,
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan pembaca pada
umumnya.
Jakarta, 18 Juni 2015
Penulis
ix
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK
Sebagai sivitas akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta, Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama
: Karimah Yulianti Andidha
NIM
: 1111102000033
Program studi
: Farmasi
Fakultas
: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK)
Jenis Karya
: Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya menyetujui skripsi/karya ilmiah
saya dengan judul :
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN Garcinia benthami
Pierre TERHADAP BEBERAPA BAKTERI PATOGEN DENGAN
METODE BIOAUTOGRAFI.
Untuk dapat diakses melalui Digital Library Perpustakaan Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta untuk kepentingan akademik sebatas
sesuai dengan Undang-Undang Hak Cipta. Dengan demikian persetujuan
publikasi karya ilmiah ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di
: Jakarta
Pada Tanggal :18 Juni 2015
Yang menyatakan,
(Karimah Yulianti Andidha)
x
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..................................................................................................... ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS .......................................................... iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................................... iv
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ....................................................................... v
ABSTRAK ................................................................................................................... vi
ABSTRACT .................................................................................................................. vii
KATA PENGANTAR ............................................................................................... viii
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .................................... x
DAFTAR ISI ................................................................................................................ xi
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. xiii
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................................. xiv
DAFTAR TABEL ....................................................................................................... xv
BAB I
PENDAHULUAN ................................................................................ 1
1.1.1 Latar Belakang .......................................................................... 1
1.1.2 Rumusan Masalah ..................................................................... 3
1.1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................... 4
1.1.4 Hipotesis.................................................................................... 4
1.1.5 Manfaat penelitian ..................................................................... 4
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... 5
2.1
Genus Garcinia ......................................................................... 5
2.2
Tanaman Garcinia benthami Pierre .......................................... 6
2.3
Simplisia.................................................................................... 8
2.3.1 Definisi ...................................................................................... 8
2.3.2 Penyiapan Simplisia .................................................................. 8
2.4
Ekstrak dan Ekstraksi .............................................................. 10
2.4.1 Ekstrak..................................................................................... 10
2.4.2 Ekstraksi .................................................................................. 10
2.4.2.1 Ekstraksi Dingin ...................................................................... 10
2.4.2.2 Ekstraksi Panas ....................................................................... 11
2.5
Bakteri ..................................................................................... 12
2.5.1 Morfologi Bakteri.................................................................... 12
2.5.2 Struktur Eksternal Sel Bakteri ................................................. 13
2.5.3 Struktur Internal Sel Bakteri ................................................... 15
2.5.4 Bakteri Uji ............................................................................... 16
2.6
Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba .............................. 20
2.7
Tinjauan Tentang Antimikroba ............................................... 23
2.7.1 Zat Antimikroba ...................................................................... 23
2.7.2 Mekanisme Kerja .................................................................... 23
2.8
Antimikroba Pembanding ....................................................... 25
2.8.1 Kloramfenikol ......................................................................... 25
BAB 3
METODELOGI PENELITIAN....................................................... 27
3.1
Tempat dan Waktu Penelitian ................................................. 27
3.2
Alat dan Bahan ........................................................................ 27
3.2.1 Alat .......................................................................................... 27
xi
3.2.2 Bahan....................................................................................... 27
3.2.3 Mikroba Uji ............................................................................. 27
3.3
Metode Penelitian.................................................................... 28
3.3.1 Penyiapan Sampel ................................................................... 28
3.3.1.1 Penyiapan dan Ekstraksi Garcinia benthami Pierre................ 28
3.3.1.2 Pembuatan Ekstrak .................................................................. 28
3.3.1.3 Pemeriksaan Kandungan Air .................................................. 29
3.3.2 Pemeriksaan Kandungan Kimia Ekstrak Garcinia
benthami Pierre ...................................................................... 29
3.3.2.1 Identifikasi Alkaloid ............................................................... 29
3.3.2.2 Identifikasi Flavonoid ............................................................. 29
3.3.2.3 Identifikasi Saponin ................................................................ 29
3.3.2.4 Identifikasi Tanin .................................................................... 30
3.3.2.5 Identifikasi Steroid .................................................................. 30
3.3.2.6 Identifikasi Triterpenoid.......................................................... 30
3.4
Uji Aktivitas Antimikroba....................................................... 30
3.4.1 Sterilisasi Alat dan Bahan ....................................................... 30
3.4.2 Pembuatan Medium ................................................................ 31
3.4.3 Karakteristik Bakteri Uji ......................................................... 31
3.4.4 Peremajaan Bakteri ................................................................. 32
3.4.5 Pembuatan Suspensi Bakteri ................................................... 32
3.4.6 Pembuatan Larutan Uji ........................................................... 32
3.4.7 Pembuatan Larutan Kontrol .................................................... 33
3.4.8 Penyiapan Plat KLT ................................................................ 33
3.4.9 Uji Bioautografi Nonelusi Antibakteri .................................... 33
3.4.10 KLT Bioautografi .................................................................... 33
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................... 35
4.1
Pembuatan Simplisia ............................................................... 35
4.2
Pembuatan Ekstrak .................................................................. 35
4.3
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Garcinia
benthami Pierre ....................................................................... 39
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 53
5.1
Kesimpulan ............................................................................. 53
5.2
Saran ........................................................................................ 53
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 54
Lampiran
................................................................................................. 59
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Pohon dan Daun Tanaman Garcinia benthami Pierre ............................. 7
Gambar 4.1 Hasil Skrining Antibakteri Ekstrak Daun Garcinia benthami Pierre ..... 41
Gambar 4.2 Hasil Uji Bioautografi Ekstrak Daun Garcinia benthami Pierre ........... 46
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
4.1
4.2
4.3
4.4
4.5
Hasil Rendemen Ekstrak N-heksan, Etil asetat dan Metanol................... 36
Hasil Pengujian Kadar Air Ekstrak Daun Garcinia benthami Pierre ...... 37
Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Daun Garcinia benthami Pierre ....... 38
Hasil Skrining Antibakteri Ekstrak Daun Garcinia benthami Pierre ...... 41
Hasil Uji Bioautografi Ekstrak Daun Garcinia benthami Pierre ............. 46
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
Lampiran 2
Lampiran 3
Lampiran 4
Lampiran 5
Lampiran 6
Lampiran 7
Hasil Determinasi Tanaman Garcinia benthami Pierre ......................... 59
Alur Penelitian ........................................................................................ 60
Alur Kerja Persiapan Serbuk Simplisia .................................................. 61
Langkah Kerja Maserasi Bertingkat ....................................................... 62
Perhitungan Rendemen Ekstrak.............................................................. 63
Perhitungan Kadar Air Ekstrak............................................................... 64
Alur Kerja Penentuan Aktivitas Antimikroba Ekstrak Daun Garcinia
benthami Pierre ...................................................................................... 65
Lampiran 8 Hasil Pengukuran Diameter Zona Hambat ............................................. 69
Lampiran 9 Hasil Uji KLT Bioautografi .................................................................... 71
Lampiran 10 Identifikasi Bakteri dengan Pewarnaan Gram ....................................... 74
Lampiran 11 Hasil Penapisan Fitokimia ..................................................................... 75
xv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kekayaan alam yang
melimpah. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya tanaman yang tumbuh subur di
negara ini. Selain itu menurut Pradono et al. 2006, Indonesia memiliki kekayaan
sumber daya hayati terbesar kedua setelah Brazil dengan lebih dari 28.000 spesies
tanaman. Akan tetapi, hingga saat ini, banyak kekayaan alam di Indonesia belum
sepenuhnya digali dan dimanfaatkan secara maksimal.
Sejak zaman dahulu masyarakat Indonesia mengenal dan memanfaatkan
tanaman berkhasiat obat sebagai salah satu upaya dalam penanggulangan masalah
kesehatan yang dihadapinya. Pengetahuan tentang pemanfaatan tanaman ini
merupakan warisan budaya bangsa berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan
keterampilan secara turun-temurun telah diwariskan oleh generasi berikutnya,
termasuk generasi saat ini. Bagian tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan
obat yaitu daun, kulit batang, biji, buah, dan akar tanaman (Wijayakusuma, 2000).
Salah satu tanaman yang telah dikenal dan digunakan oleh masyarakat
Indonesia adalah genus Garcinia yang temasuk dalam famili Clusiaceae.
Masyarakat mengenal genus ini sebagai tumbuhan keluarga manggis yang dapat
bermanfaat untuk obat tradisional dan sumber makanan. Genus Garcinia memiliki
beberapa kandungan kimia yang telah berhasil diisolasi, yaitu senyawa xanton,
benzofenon, golongan flavonoid dan triterpen (Amelia, 2011).
Garcinia telah dikenal sebagai sumber senyawa xanton dan bioflavonoid
dengan berbagai macam bioaktivitas seperti antibakteri, antioksidan, antikanker,
antifungi, dan antiinflamasi. Garcinia Mangonstana merupakan spesies yang
banyak terdapat di Asia Tenggara yang dikenal dengan Queen of fruit yang selain
buahnya dapat dimakan, kulit ari biji dari buah ini digunakan sebagai obat luka
dan infeksi, penurun panas dan mengurangi rasa sakit. G. cambogia sekarang
banyak terdapat dipasaran sebagai jamu digunakan sebagai suplemen untuk
mengatasi kegemukan. Gom-resin bagian batang G. hanbury Hook sebagai
1
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2
pencahar, G. merguensis Wight untuk obat udema, dan biji G. dulcis Kurz dikenal
sebagai obat gondok (Sosef, 1998).
Genus Garcinia terdiri dari 500 jenis yang tersebar luas di kawasan tropis dan
didapatkan hampir diseluruh Indonesia (Ajrina, 2013). Beberapa spesies Garcinia
yang ada, terdapat spesies dari genus Garcinia yang aktivitasnya belum banyak
diteliti, salah satu spesies yang belum banyak diteliti adalah Garcinia benthami
Pierre. Berdasarkan penelusuran terhadap Garcinia benthami Pierre, penelitian
terhadap tanaman ini baru sebatas pada isolasi senyawa murni yaitu senyawa
xanton, benzofenon, golongan flavonoid dan triterpen, uji aktivitas antioksidan
dan toksisitas (Elya et al., 2006; Amelia, 2011; Ajrina, 2013), sementara uji
aktivitas antibakteri belum dilakukan penelitian lebih lanjut.
Berdasarkan penelitian sebelumnya senyawa yang sudah berhasil diisolasi dari
Garcinia benthami Pierre antara lain ismailbenzofenon dan hilmibenzofenon
(Elya, 2004), salimbenzofenon (Elya, 2006), epikatekin, stigmasterol dan asam3b-hidroksi-olean-5,12-dien-28-oat
(Elya,
2006),
asam-3β-hidroksi-lanosta-
9(11),24-dien-26-oat (Elya, 2009) dan 1,3,6,7-tetrahidroksixanton (Amelia, 2011).
Hasil uji toksisitas ekstrak metanol daun Garcinia benthami Pierre didapatkan
nilai LC50 73,43 µg/mL, hal ini menunjukkan bahwa ekstrak metanol termasuk
dalam kategori toksik (Ajrina, 2013), untuk uji antioksidan nilai IC50 yang
didapatkan adalah 29,91µg/mL, sehingga tergolong antioksidan sangat kuat
(Amelia, 2011).
Daun Garcinia benthami Pierre memiliki hasil positif kandungan kimia antara
lain flavonoid, steroid/terpenoid, tanin, kuinon, kumarin, dan saponin (Amelia,
2011), sehingga hal ini memungkinkan adanya aktivitas antimikroba pada daun
Garcinia benthami Pierre. Berdasarkan genus, terdapat banyak spesies dari genus
Garcinia yang mempunyai aktivitas antibakteri antara lain G. parvifolia,
G. livingstone, G. indica, G. bracteata dan G. nigrolineata (Hemshekhar et al.,
2011). Berdasarkan
kemotaksonomi, spesies tumbuhan dalam satu genus
memiliki aktivitas kimiawi yang sama secara kualitatif (Lukis, 2010), sehingga
hal ini mengindikasikan bahwa Garcinia benthami Pierre memiliki kemungkinan
untuk mempunyai aktivitas antibakteri. Selain itu terbatasnya laporan ilmiah
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
3
tentang aktivitas farmakologi dari Garcinia benthami Pierre khususnya aktivitas
antimikroba, mendorong peneliti untuk melakukan pengujian aktivitas antibakteri
dari ekstrak n-heksan, etil asetat dan metanol daun Garcinia benthami Pierre
terhadap beberapa bakteri patogen.
Pencarian senyawa baru yang berkhasiat sebagai antimikroba perlu terus
dilakukan, hal ini dikarenakan penyakit infeksi merupakan salah satu masalah
dalam bidang kesehatan yang dari waktu ke waktu terus berkembang. Antibiotik
memberikan dasar utama untuk terapi infeksi mikroba (bakteri dan fungi).
Namun, terlalu sering menggunakan antibiotik telah menjadi faktor utama bagi
munculnya dan penyebaran beberapa kelompok mikroorganisme yang resisten
terhadap antibiotik (Harbottle et al., 2006).
Dalam beberapa tahun terakhir, permasalahan resistensi bakteri pada
penggunaan antibiotik merupakan salah satu masalah yang berkembang di seluruh
dunia (Bronzwaer et al., 2002), oleh karena itu diperlukan zat antibakteri baru
dengan mekanisme aksi yang berbeda (Tenover, 2006).
Antimikroba merupakan zat kimia yang memiliki khasiat untuk menghambat
atau membunuh pertumbuhan mikroorganisme. Antimikroba dapat dibagi menjadi
antibakteri, antifungi, antivirus dan antiprotozoal berdasarkan mikroorganisme
yang dimatikan atau dihambat pertumbuhannya (Tjay dan Kiran, 2002).
Penelitian uji antibakteri ekstrak daun Garcinia benthami Pierre ini dirancang
menggunakan metode bioautografi. Metode ini dipilih agar dapat menjadi
panduan peneliti lain yang ingin melakukan isolasi terhadap senyawa yang aktif
sebagai antibakteri dari tanaman ini. Bakteri uji yang digunakan adalah bakteri
Staphylococcus epidermidis ATCC 12228, Bacillus subtilis 6633, Pseudomonas
aeruginosa ATCC 27853, Shigella dysenteriae ATCC 13313, Helicobacter pylori
ATCC 43504, dan Salmonella thypimurium ATCC 14028.
1.2 Rumusan Masalah
Garcinia benthami Pierre merupakan salah satu spesies dari genus Garcinia
yang belum banyak diketahui aktivitas biologinya, salah satu aktivitas biologi
yang belum diketahui adalah antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
4
epidermidis, Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa, Shigella dysenteriae,
Helicobacter pylori dan Salmonella thypimurium.
1.3 Tujuan Penelitian
a. Untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak n-heksan, etil asetat, dan
metanol daun Garcinia benthami Pierre terhadap bakteri Staphylococcus
epidermidis,
Bacillus
subtilis,
Pseudomonas
aeruginosa,
Shigella
dysenteriae, Helicobacter pylori dan Salmonella thypimurium.
b. Menentukan nilai Rf senyawa antibakteri dari ekstrak daun Garcinia
benthami Pierre yang aktif terhadap bakteri Gram positif dan Gram
negatif.
1.4 Hipotesis
a. Ekstrak daun Garcinia benthami Pierre mempunyai aktivitas antibakteri
terhadap
bakteri
Staphylococcus
epidermidis,
Bacillus
subtilis,
Pseudomonas aeruginosa, Shigella dysenteriae, Helicobacter pylori dan
Salmonella thypimurium.
1.5 Manfaat Penelitian
a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang efektivitas
penggunaan ekstrak daun Garcinia benthami Pierre sebagai antibakteri.
b. Dapat mendorong penemuan adanya aktivitas baru, khususnya dari daun
Garcinia benthami Pierre yang masih jarang diteliti di Indonesia.
c. Dapat dijadikan penuntun atau panduan peneliti lain yang ingin melakukan
isolasi terhadap senyawa yang aktif sebagai antibakteri dari tanaman ini.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Genus Garcinia
Genus Garcinia merupakan salah satu genus dari famili Clusiaceae. Di
Indonesia, pemanfaatan Garcinia secara umum masih kurang dilakukan (Ajrina,
2013). Famili Clusiaceae memiliki 40 genus dan lebih dari 1000 spesies (Heyne,
1987). Famili Clusiaceae ini terdiri dari dua genus utama yaitu Garcinia dan
Calophyllum serta sub famili Mesua dan Mammea (Linuma, 1996). Garcinia
merupakan genus yang besar dari pohon polygamous atau semak, tersebar
didaerah tropis Asia, Afrika dan Polinesia dan merupakan sumber yang kaya akan
molekul bioaktif termasuk xanton, flavonoid, benzofenon, lakton dan asam fenolat
(Patil, 2005).
Masyarakat mengenal famili Clusiaceae sebagai tumbuhan keluarga
manggis yang merupakan tanaman pangan dan banyak dimanfaatkan untuk obat
tradisional. Garcinia Mangonstana merupakan spesies yang banyak terdapat di
Asia Tenggara yang dikenal dengan Queen of fruit yang selain buahnya dapat
dimakan, kulit ari biji dari buah ini digunakan sebagai obat luka dan infeksi,
penurun panas dan mengurangi rasa sakit. G. cambogia sekarang banyak terdapat
dipasaran sebagai jamu digunakan sebagai suplemen untuk mengatasi kegemukan.
Gom-resin bagian batang G. hanbury Hook sebagai pencahar, G. merguensis
Wight untuk obat udema, dan biji G. dulcis Kurz dikenal sebagai obat gondok
(Sosef, 1998). G. indica yang berasal dari india secara komersil dikenal dengan
“kokam butter” di dunia perindustrian digunakan sebagai bahan dasar sabun dan
lilin, sebagai preparat industri farmasi, minyak dari tanaman ini juga dapat
digunakan untuk obat urut dan urtikaria serta buahnya digunakan sebagai obat
cacing dan kardiotonik (Sari, 1999; Fumio, 2000).
Genus Garcinia memiliki struktur kayu yang keras dengan warna beragam
mulai dari kuning sampai coklat kemerahan. Habitus pohon memiliki tinggi
mencapai 25-33 meter. Diameter batang pohon sekitar 60-100 cm dan mengecil
kearah ujung. Garcinia jarang yang berupa semak dan bentuk pohon umumnya
kerucut dengan percabangan selang-seling. Umumnya daun berwarna hijau.
5
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
6
Bunga betina biasanya memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan bunga
jantan dan bunga terdapat dibagian ketiak daun. Seluruh bagian pada tumbuhan
ini dapat mengeluarkan getah yang kental dan lengket berwana putih atau kuning
(Amelia, 2011).
Berdasarkan kemotaksonomi, spesies tumbuhan dalam satu genus
memiliki aktivitas kimiawi yang sama secara kualitatif dan akan berbeda secara
kuantitatif. Perbedaan kuantitatif dari setiap senyawa dipengaruhi oleh ekosistem
tumbuhan tersebut. Bagian tertentu pada tumbuhan seperti kulit batang dan akar
juga dapat ditemukan senyawa-senyawa yang sama atau berbeda. Selain itu
afinitas kimiawi dalam satu genus memiliki hubungan kekerabatan molekul yang
dapat dilihat pada jalur biogenesis pembentukan senyawa-senyawa tersebut
(Lukis, 2010).
2.2
Tanaman Garcinia benthami Pierre
Garcinia benthami Pierre termasuk tumbuhan tahunan atau perennial yang
masa hidupnya dapat mencapai puluhan tahun. Tumbuhan tersebut hidup di hutan
primer dataran rendah sampai ketinggian 700 meter di atas permukaan laut.
Tumbuhan ini tersebar di Semenanjung Malaysia, Sumatera dan Kalimantan
(Heyne, 1987).
Garcinia benthami Pierre dapat tumbuh dihutan dataran rendah dan
termasuk tumbuhan tahunan, masa hidupnya dapat mencapai puluhan tahun.
Warna daun tanaman ini selalu berwarna hijau. Genus Garcinia termasuk ke
dalam famili Clusiaceae yang umumnya dikenal sebagai tumbuhan keluarga
manggis dan sering digunakan untuk obat tradisional atau tanaman pangan (Sari,
2000).
Taksonomi tumbuhan Garcinia benthami Pierre memiliki klasifikasi
sebagai berikut (Heyne, 1987) :
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Spermatophyte
Sub divisi
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledoneae
Sub kelas
: Archichlamydeae
Ordo
: Guttiferales
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
7
Family
: Clusiaceae
Genus
: Garcinia
Species
:Garcinia benthami Pierre.
(a)
(b)
Gambar 2.1 (a) Pohon Garcinia benthami Pierre
(b) Daun Garcinia benthami Pierre
(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)
Pada umumnya, tinggi pohon Garcinia benthami Pierre mencapai 30
meter dan pohon berbentuk kerucut dengan percabangan berselang-seling. Pohon
ini memiliki batang yang lurus dan daun berwarna hijau. Bunga jantan memiliki
benang sari dan ukuran bunga jantan kecil dibandingkan bunga betina. Bunga
terdapat diketiak daun, memiliki daun kelopak dan daun mahkota sekitar 4-5
helai. Bunga jantan memiliki benang sari yang jumlahnya bervariasi, dengan
tangkai sari bersatu menjadi satu tiang tengah atas. Bunga betina biasanya
berukuran lebih besar dari bunga jantan, seringkali menyendiri, benang sari semu
dengan tangkai-tangkai sarinya yang bersatu menjadi sebuah cincin di bagian
pangkal, bakal buah beruang 2-12 dan biasanya berbentuk papila. Bijinya besar,
biasanya terbungkus oleh arilus yang berisi banyak sari buah. Embrionya berupa
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
8
masa padat, hanya tersusun atas hipokotil, sedangkan bijinya tidak ada (Rachman,
2003).
2.3
Simplisia
2.3.1
Definisi
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang
belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa
bahan yang telah dikeringkan (Depkes RI, 1995). Simplisia dapat berupa simplisia
nabati, simplisia hewani, simplisia pelikan atau mineral. Pada umumnya
pembuatan simplisia meliputi beberapa tahapan yaitu pengumpulan bahan, sortasi
basah, pencucian, perajangan, pengeringan, sortasi kering, pengepakan dan
penyimpanan (Ritiasa, 2000).
2.3.2
Penyiapan Simplisia (Depkes RI, 1985)
Tahapan yang harus dilakukan sebelum tahap pembuatan ekstrak adalah
penyiapan simplisia, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
a. Pengumpulan Bahan Baku
Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-beda antara lain
tergantung pada :
1. bagian tanaman yang digunakan
2. umur tanaman atau bagian tanaman pada saat panen
3. waktu panen
4. lingkungan tempat tumbuh
b. Sortasi Basah
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahanbahan asing lainnya dari bahan simplisia. Misalnya pada simplisia yang dibuat
dari akar suatu tanaman obat, bahan-bahan asing seperti tanah, kerikil, rumput,
batang, daun, akar yang telah rusak, serta pengotoran lainnya harus dibuang.
c. Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotor lainnya
yang melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih yang
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
9
mengalir, agar dilakukan dalam waktu sesingkat mungkin untuk menghindari
kehilangan zat lebih banyak.
d. Perajangan
Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses perajangan.
Perajangan bahan simplisia dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan,
pengepakan dan penggilingan.
e. Pengeringan
Tujuan pengeringan ialah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah
rusak, sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan
mengurangi kadar air dan menghentikan reaksi enzimatik akan mencegah
penurunan mutu atau perusakan simplisia. Hal-hal yang perlu diperhatikan selama
proses pengeringan adalah suhu pengeringan, kelembaban udara, aliran udara,
waktu pengeringan dan luas permukaan bahan. Suhu pengeringan tergantung
kepada bahan simplisia dan cara pengeringannya. Bahan simplisia dapat
dikeringkan pada suhu 300C sampai 900C, tetapi suhu yang terbaik adalah tidak
melebihi 600C. Bahan simplisia yang mengandung senyawa yang tidak tahan
terhadap panas atau mudah menguap harus dikeringkan pada suhu serendah
mungkin, misalnya 300C sampai 450C.
f. Sortasi Kering
Tujuan sortasi untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian
tanaman yang tidak diinginkan atau pengotor lainnya yang masih tertinggal pada
simplisia kering.
g. Penghalusan
Penghalusan
bertujuan
untuk
memperbesar
luas
permukaan
dan
mempercepat ekstraksi jika simplisia ingin dijadikan ekstrak kental ataupun cair.
h. Pengepakan dan Penyimpanan
Tujuan pengepakan adalah agar simplisia yang telah jadi dapat disimpan
dalam jangka waktu yang lama dan mutunya tetap terjaga.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
10
2.4
Ekstrak dan Ekstraksi
2.4.1
Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat
aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang
sesuai, kemudian semuanya atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau
serbuk yang tersisa diperlukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah
ditetapkan (Depkes RI, 1995).
Ada beberapa jenis ekstrak yakni : ekstrak cair, ekstrak kental, dan ekstrak
kering. Ekstrak cair jika hasil ekstraksi masih bisa dituang, biasanya kadar air
lebih dari 30%. Ekstrak kental jika memiliki kadar air antara 5-30%. Ekstrak
kering jika mengandung kadar air kurang dari 5% (Voigt, 1994).
2.4.2
Ekstraksi
Ekstraksi adalah suatu proses yang dilakukan untuk memperoleh
kandungan senyawa kimia dari jaringan tumbuhan maupun hewan. Ekstrak adalah
sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau
hewani menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung,
ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk. Cairan penyari yang
digunakan air, etanol dan campuran air etanol (Depkes RI, 1979).
Beberapa metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut dibagi menjadi dua
cara, yaitu cara panas dan cara dingin (Ditjen POM, 2000).
2.4.2.1 Ekstraksi Cara Dingin
a) Maserasi
Maserasi
adalah
proses
pengekstrakan
simplisia
dengan
menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan
pada temperatur kamar (Ditjen POM, 2000). Keuntungan ekstraksi dengan
cara maserasi adalah pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana,
sedangkan kerugiannya yakni cara pengerjaannya lama, membutuhkan
pelarut yang banyak dan penyarian kurang sempurna. Dalam maserasi
(untuk ekstrak cairan), serbuk halus atau kasar dari tumbuhan obat yang
kontak dengan pelarut disimpan dalam wadah tertutup untuk periode
tertentu dengan pengadukan yang sering, sampai zat tertentu dapat terlarut.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
11
Metode ini paling cocok digunakan untuk senyawa yang termolabil
(Tiwari et al., 2011).
b) Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai
penyarian sempurna (exhaustive extraction) yang umumnya dilakukan
pada temperatur ruang. Proses terdiri dari tahapan pengembangan bahan,
tahap
maserasi
antara,
tahap
perkolasi
sebenarnya
(penetesan/
penampungan ekstrak), terus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) yang
jumlahnya 1-5 kali dari bahan (Ditjen POM, 2000).
2.4.2.2 Ekstraksi Cara Panas
a) Sokletasi
Sokletasi adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru,
dengan menggunakan alat soklet sehingga terjadi ekstraksi kontinyu
dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik
(Ditjen POM, 2000).
b) Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut pada
temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut
terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM,
2000).
c) Infusa
Infusa adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 900C
selama 15 menit. Infusa adalah ekstraksi menggunakan pelarut air pada
temperatur penangas air dimana bejana infus tercelup dalam penangas air
mendidih, temperatur yang digunakan (96-980C) selama waktu tertentu
(15-20 menit) (Ditjen POM, 2000). Cara ini menghasilkan larutan encer
dari komponen yang mudah larut dari simplisia (Tiwari et al., 2011).
d) Dekok
Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperatur
sampai titik didih air selama 30 menit (Depkes RI, 2000). Dekok adalah
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
12
ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 900C selama 30 menit.
Metode ini digunakan untuk ekstraksi konstituen yang larut dalam air dan
konstituen yang stabil terhadap panas dengan cara direbus dalam air
selama 15 menit (Tiwari et al., 2011).
e) Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik pada temperatur lebih tinggi dari
temperatur suhu kamar, yaitu secara umum dilakukan pada temperatur
40-500C (Ditjen POM, 2000).
Digesti adalah maserasi dengan pengadukan kontinyu pada
temperatur lebih tinggi dari temperatur ruang (umumnya 25-300C). Ini
adalah jenis ekstraksi maserasi di mana suhu sedang digunakan selama
proses ekstraksi (Tiwari, et al., 2011).
2.5
Bakteri
Pada buku manual Bergey’s edisi kedua yang berisi referensi untuk standar
taksonomi bakteri, organisme prokariotik dikelompokan menjadi dua kelompok
besar, yaitu Eubakteri yang merupakan bakteri sejati dan Archaea. Archaea secara
morfologi serupa dengan Eubakteri, namun memiliki perbedaan dalam hal ciri-ciri
fisiologis. Kelompok bakteri terdiri atas semua organisme prokariotik patogen dan
non patogen yang terdapat di daratan dan perairan, serta organisme prokariotik
yang bersifat fotoautotrof. Kelompok Archaea meliputi organisme prokariotik
yang tidak memiliki peptidoglikan pada dinding selnya, dan umumnya hidup
pada lingkungan yang bersifat ekstrim.
Spesies bakteri dapat dibedakan berdasarkan morfologi (bentuk),
komposisi kimia (umumnya dideteksi dengan reaksi biokimia), kebutuhan nutrisi,
aktivitas biokimia, dan sumber energi (sinar matahari atau bahan kimia) (Pratiwi,
2008).
2.5.1
Morfologi Bakteri (Pratiwi, 2008)
Terdapat beberapa bentuk dasar bakteri, yaitu bulat (tunggal: coccus,
jamak: cocci), batang atau silinder (tunggal : bacillus, jamak: bacilli), dan spiral
yaitu berbentuk batang melengkung atau melingkar-lingkar.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
13
Bentuk cocci umumnya bulat atau oval. Bila cocci membelah diri, sel-sel
dapat tetap melekat satu sama lain. Cocci yang tetap berpasangan setelah
membelah disebut diplococci. Cocci yang membelah namun tetap melekat
membentuk struktur menyerupai rantai disebut streptococci. Cocci yang
membelah dalam dua bidang dan tetap melekat membentuk kelompok empat
coccus disebut tetrad. Cocci yang membelah dalam tiga bidang dan tetap melekat
membentuk kubus dengan delapan coccus disebut sarcina, sedangkan cocci yang
membelah pada banyak bidang dan membentuk kumpulan menyerupai buah
anggur disebut Staphylococci.
Bacilli membelah hanya melalui sumbu pendeknya (dalam satu bidang).
Sebagian besar bacilli tampak sebagai batang tunggal. Diplobacilli muncul dari
pasangan bacilli setelah pembelahan dan streptobacilli muncul dalam bentuk
rantai. Beberapa bacilli tampak menyerupai cocci, dan disebut coccobacilli.
Bentuk spiral bakteri memiliki satu atau lebih lekukan dan tidak dalam
bentuk lurus. Bakteri berbentuk spiral ini dibedakan menjadi beberapa jenis.
Bakteri yang berbentuk batang melengkung menyerupai koma disebut vibrio.
Bakteri yang berpilin kaku disebut spirilla, sedangkan bakteri yang berpilin
fleksibel disebut spirochaeta. Umumnya bakteri adalah monomorfik (memiliki
hanya satu bentuk) namun ada bakteri tertentu yang memiliki banyak bentuk
(pleomorfik), misalnya bentuk irregular pada thermoplasma yang merupakan
bakteri archaea termofilik, bentuk bintang dan bentuk kubus pada bakteri
Haloquadratum yang merupakan bakteri archaea halofilik. Sebagian besar bakteri
memiliki diameter dengan ukuran 0,2-2,0 mm dan panjang berkisar 2-8 mm.
Biasanya sel-sel bakteri yang muda berukuran jauh lebih besar daripada sel-sel
yang tua. Bentuk dan ukuran suatu bakteri dapat dipengaruhi oleh faktor
lingkungan seperti temperatur inkubasi, umur kultur, dan komposisi media
pertumbuhan.
2.5.2
Struktur Eksternal Sel Bakteri (Pratiwi, 2008)
Struktur eksternal sel bakteri meliputi glikokaliks, flagella, filamen aksial,
fimbria, dan pili. Glikokaliks (selubung gula) merupakan istilah bagi substansi
yang mengelilingi sel, dan digambarkan sebagai kapsul. Kapsul merupakan
struktur yang sangat terorganisasi dan tidak mudah dihilangkan. Ketebalan kapsul
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
14
bervariasi dan fungsinya bagi bakteri antara lain sebagai perlekatan bakteri pada
permukaan, pelindung sel bakteri terhadap kekeringan, perangkap nutrisi, dan
proteksi bakteri.
Slime (lapisan lendir). Sebagian besar material kapsul dieksresikan oleh
bakteri kedalam media pertumbuhannya sebagai lapisan lendir (slime). Lapisan
lendir pada bakteri relatif tidak terorganisasi dengan baik dan mudah dihilangkan.
Secara spesifik, lapisan lendir ini tersusun dari eksopolisakarida, glikoprotein, dan
glikolipid. Fungsi lapisan lendir pada bakteri adalah untuk melindungi bakteri dari
pengaruh lingkungan yang membahayakan, misalnya antibiotik dan kekeringan.
Flagella merupakan filamen yang mencuat dari sel bakteri dan berfungsi
untuk pergerakan bakteri. Flagella berbentuk panjang dan ramping. Panjang
flagella pada umumnya beberapa kali panjang sel dengan garis tengah 12-30 nm.
Filamen aksial (endiflagela) adalah kumpulan benang yang muncul pada
ujung sel dibawah selaput luar sel dan berpilin membentuk spiral di sekeliling sel.
Rotasi filamen menimbulkan pergerakan selaput luar sel dan memungkinkan arah
gerak bakteri berbentuk spiral.
Fimbria termasuk golongan protein yang disebut lektin yang dapat
mengenali dan terikat pada residu gula khusus pada polisakarida permukaan sel.
Hal itu menyebabkan bakteri berfimbria cenderung saling melekat satu sama lain
atau melekat pada sel hewan. Fimbria umumnya terdistribusi di seluruh
permukaan sel. Mutasi yang menyebabkan hilangnya fimbria akan diikuti oleh
hilangnya sifat virulen.
Pili secara morfologi sama dengan fimbria. Umumnya pili lebih panjang
dibanding fimbria. Pili berperan khusus dalam transfer molekul genetik (DNA)
dari satu bakteri ke bakteri lainnya pada peristiwa konjugasi. Karena fungsinya
yang spesifik pada transfer DNA bakteri, maka pili sering kali disebut sebagai pili
seks.
Dinding sel bakteri merupakan struktur kompleks dan berfungsi sebagai
penentu bentuk sel, pelindung sel dari kemungkinan pecah ketika tekanan air
didalam sel lebih besar dibandingkan di luar sel, serta pelindung isi sel dari
perubahan lingkungan diluar sel. Tebal dinding sel bakteri berkisar 10-23nµ
dengan berat berkisar 20% berat kering sel bakteri. Dinding sel bakteri tersusun
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
15
atas peptidoglikan (juga dikenal sebagai murein), yang menyebabkan kakunya
dinding sel. Peptidoglikan merupakan polimer (molekul besar) yang terdiri atas
perulangan disakarida yang tersusun atas monosakarida N-acetylglucosamine
(NAG) dan N-acetylmuramic acid (NAM).
Dinding
sel
bakteri
Gram
positif
mengandung
banyak
lapisan
peptidoglikan (murein) yang membentuk struktur yang tebal dan kaku, dan asam
teikoat yang mengandung alkohol dan fosfat. Dinding sel bakteri Gram negatif
mengandung satu atau beberapa lapis peptidoglikan dan membran luar.
Peptidoglikan terikat pada lipoprotein pada membran luar. Terdapat daerah
periplasma, yaitu daerah yang terdapat diantara membran plasma dan membran
luar. Periplasma berisi enzim degradasi konsentrasi tinggi serta protein-protein
transport. Dinding sel bakteri Gram negatif tidak mengandung asam teikoat, dan
karena hanya mengandung sejumlah kecil peptidoglikan, maka dinding sel bakteri
Gram negatif ini relatif lebih tahan terhadap kerusakan mekanis.
2.5.3
Struktur Internal Sel Bakteri (Pratiwi, 2008)
Struktur di dalam dinding sel bakteri disebut dengan struktur internal sel
bakteri. Di dalam dinding sel bakteri terdapat sitoplasma yang merupakan
substansi yang menempati ruangan sel bagian dalam. Di dalam sitoplasma
terdapat berbagai enzim, air (80%), protein, karbohidrat, asam nukleat, dan lipid
yang membentuk sistem koloid yang secara optik bersifat homogen. Selain
dikelilingi oleh dinding sel, sitoplasma juga dikelilingi oleh membran sel
(membran plasma) dan kadang-kadang terdapat lapisan di sebelah luar dinding sel
berupa kapsul atau lapisan lendir (slime layer).
Membran plasma adalah struktur tipis yang terdapat di sebelah dalam
dinding sel dan menutup sitoplasma sel. Membran plasma tersusun atas fosfolipid
berlapis ganda dan protein, membentuk model mosaik cairan. Pada eukariot,
membran plasma juga tersusun dari karbohidrat dan sterol, misalnya kolesterol.
Membran plasma berfungsi sebagai sekat selektif material yang ada dalam dan
diluar sel (bersifat selektif permeabel bagi transport material kedalam dan keluar
sel).
Struktur internal sel bakteri yang lainnya adalah daerah inti (daerah
nukleoid) yang mengandung kromosom bakteri; ribosom yang berperan pada
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
16
sintesis protein; badan inklusi yang merupakan organel penyimpan nutrisi;
endospora (resting cell), yaitu struktur dengan dinding tebal dan lapisan tambahan
pada sel bakteri yang dibentuk di sebelah dalam membrane sel. Endospora
berfungsi sebagai pertahanan sel bakteri terhadap panas ekstrem, kondisi kurang
air, dan paparan bahan kimia serta radiasi.
2.5.4
Bakteri Uji
a. Bacillus subtillis
Bacillus subtilis adalah bakteri aerobik Gram positif, mempunyai ciri-ciri
sel berbentuk batang pendek (rods), sendiri-sendiri, jarang membentuk rantai,
motil dengan flagella peritrich, membentuk endospora berukuran 0,8 x 1,5-1,8
μm; permukaan spora terwarnai pucat. Pada spora yang berkecambah, dinding
spora pecah secara melintang (Jauhari, 2010).
Koloni bakteri pada medium agar berbentuk bundar, tepi tidak teratur,
permukaan tidak mengkilap, menjadi tebal dan keruh (opaque); kadang-kadang
mengkerut dan berwarna krem atau kecoklatan. Bentuk koloni agak bervariasi
pada media yang berbeda. Koloni meluas pesat pada medium yang berpermukaan
lembab (Jauhari, 2010).
Biakan bakteri dari medium padat tidak mudah larut dalam air.
Pertumbuhan pada medium cair (broth) keruh, berkerut, dengan pelikel yang
koheren, tidak keruh atau hanya agak keruh. Secara anaerob, dalam medium
kompleks yang mengandung glukosa, pertumbuhan dan fermentasi berlangsung
lambat atau lemah; tetapi dengan menambahkan O2 tumbuh cepat serta
menghasilkan 2,3- butanediol, asetoin, dan CO2. Bakteri ini mendekomposisi
pektin dan polisakarida dari jaringan tanaman, dan beberapa strain dapat
membusukkan umbi kentang (Jauhari, 2010).
Klasifikasi Bacillus subtillis sebagai berikut :
Kingdom
: Prokaryota
Kelas
: Shizomycetes
Ordo
: Eubacteriales
Famili
: Bacillaceae
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
17
Genus
: Bacillus
Spesies
: Bacillus subtilis
b. Staphylococcus epidermidis
Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri yang sering ditemukan
sebagai flora normal pada kulit dan selaput lendir manusia. S. epidermidis
merupakan salah satu bakteri Gram positif berbentuk bulat, biasanya tersusun
dalam rangkaian tak beraturan seperti anggur dan bersifat anaerob fakultatif.
Bakteri ini merupakan penyebab infeksi kulit yang ringan yang disertai abses
(Syahrurachman dkk., 1994). Bakteri ini juga ikut berperan dalam pelepasan asam
oleat hasil hidrolisisnya oleh lipase yang diduga berpengaruh terhadap
perkembangan jerawat (Saising et al., 2008).
Klasifikasi bakteri Staphylococcus epidermidis adalah sebagai berikut :
Kingdom
: Bacteria
Filum
: Firmicutes
Kelas
: Bacili
Ordo
: Bacillales
Famili
: Staphylococcaceae
Genus
: Staphylococcus
Spesies
: Staphylococcus epidermidis
c. Pseudomonas aeruginosa
Pseudomonas aeruginosa termasuk ke dalam kelompok bakteri Gram
negatif, berbentuk tangkai, berflagel, dapat tumbuh pada suhu antara 35-420C dan
merupakan salah satu spesies dari genus Pseudomonas yang dapat menimbulkan
penyakit pada manusia. Dinding selnya tersusun dari lipopolisakarida (LPS) yang
terdiri atas 2-keto-3-deoksi-asam oktanat (KDO) dan lipid (Tim Mikrobiologi,
2003).
Infeksi oleh bakteri tersebut terjadi pada seseorang yang mengalami
gangguan pada sistem pertahanan tubuh. Oleh karena itu P. aeruginosa disebut
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
18
patogen oportunistik yaitu memanfaatkan kerusakan pada mekanisme pertahanan
inang untuk memulai suatu infeksi. Kelainan klinis yang ditimbulkan antara lain :
infeksi pada luka bakar, infeksi saluran kemih, endokarditis, gastroenteritis,
pneumonia dan lain-lain (Tim Mikrobiologi, 2003).
Umumnya, Pseudomonas aeruginosa resisten terhadap bermacam-macam
antimikroba, tetapi masih ada beberapa antimikroba yang efektif untuk mengatasi
infeksi oleh bakteri tersebut, antara lain : amikasin, sefotaksim, piperasilin dan
vaksin heptavalen (Tim Mikrobiologi, 2003).
Klasifikasi P. aeruginosa sebagai berikut :
Kingdom
: Bacteria
Filum
: Proteobacteria
Kelas
: Gamma proteobacteria
Ordo
: Pseudomonadales
Famili
: Pseudomonadaceae
Genus
: Pseudomonas
Spesies
: Pseudomonas aeruginosa
d. Shigella dysenteriae
Shigella dysenteriae merupakan bakteri Gram negatif, berbentuk batang
pendek yang berhabitat pada saluran cerna manusia. Infeksi Shigella dysenteriae
pada saluran cerna dapat menyebabkan diare berdarah atau disentri, khususnya
yang terjadi pada anak.
Klasifikasi ilmiah Shigella adalah sebagai berikut :
Kingdom
: Bacteria
Filum
: Proteobacteria
Kelas
: Gamma Proteobacteria
Ordo
: Enterobacteriales
Famili
: Enterobacteriaceae
Genus
: Shigella
Spesies
: Shigella dysenteriae (Dodd et al., 1982)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
19
Shigella bersifat fakultatif anaerob tetapi tumbuh paling baik secara aerob.
Koloni berbentuk konveks, bulat, transparan dengan tepi yang utuh dan mencapai
diameter sekitar 2 mm dalam 24 jam. Shigella dapat tumbuh subur pada suhu
optimum 370C (Jawetz, 2007).
e. Salmonella thypimurium
Salmonella adalah bakteri Gram negatif dan terdiri dari famili
Enterobacteriaceae. Salmonella merupakan bakteri patogen enteric dan penyebab
utama penyakit bawaan dari makanan (Klotchko, 2011). Salmonella merupakan
bakteri berbentuk batang dan tidak membentuk spora, serta memiliki kapsul.
Bakteri ini juga bersifat fakultatif, dan sering disebut sebagai facultative intracellular parasites. Dinding selnya terdiri atas murein, lipoprotein, fosfolipid,
protein, dan lipopolisakarida (LPS) dan tersusun sebagai lapisan-lapisan (Dzen,
2003).
Klasifikasi ilmiah Salmonella adalah sebagai berikut :
Kingdom
: Bacteria
Filum
: Proteobacteria
Kelas
: Gamma Proteobacteria
Ordo
: Enterobacteriales
Famili
: Enterobacteriaceae
Genus
: Salmonella
Spesies
: Salmonella thypimurium (Todar, 2008).
Habitat Salmonella sp. adalah di saluran pencernaan (usus halus) manusia
dan hewan. Suhu optimum pertumbuhan Salmonella sp. ialah 370C dan pada pH
6-8 (Julius, 1990).
f. Helicobacter pylori
Helicobacter pylori adalah bakteri gram negatif berbentuk batang atau
kokoid (beberapa kepustakaan menyebutnya spiral atau seperti huruf “S”),
mempunyai flagel yang memungkinkan bakteri ini memiliki daya motilitas tinggi,
dan bersifat mikroaerofilik (Benaissa, 1994).
Klasifikasi ilmiah H. pylori adalah sebagai berikut :
Kingdom
: Bacteria
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
20
Filum
: Proteobacteria
Kelas
: Epsilon Proteobacteria
Ordo
: Campylobacteriales
Famili
: Helicobacterales
Genus
: Helicobacter
Spesies
: Helicobacter pylori
2.6
Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba
Metode skrining untuk mendeteksi aktivitas antimikroba dari produk alam
terbagi dalam tiga kelompok, yaitu metode difusi, dilusi dan bioautografi. Metode
bioautografi dan difusi dikenal sebagai teknik kualitatif karena metode ini hanya
untuk menentukan ada atau tidaknya aktivitas zat antimikroba. Sedangkan metode
dilusi merupakan teknik kuantitatif, karena teknik ini dapat menentukan
konsentrasi hambat minimum dari zat antimikroba tersebut (Valgas, 2006).
a. Metode Difusi
1. Cara Cakram (disc)
Metode disc diffusion (tes Kirby & Bauer) menggunakan piringan yang
berisi agen antimikroba, kemudian diletakan pada media agar yang
sebelumnya telah ditanami mikroorganisme sehingga agen antimikroba dapat
berdifusi pada media agar tersebut. Area jernih mengindikasikan adanya
hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh agen antimikroba pada
permukaan media agar (Pratiwi, 2008).
Menurut Davis dan Stout (1971), ketentuan antibakteri adalah sebagai
berikut : daerah hambatan 20 mm atau lebih mengindikasi sangat kuat, daerah
hambatan 10-20 mm mengindikasikan kuat, 5-10 mm mengindikasikan
sedang dan daerah hambatan 5 mm atau kurang mengindikasikan lemah.
2. E-test
Metode E-test digunakan untuk mengestimasi MIC (minimum inhibitory
concentration) atau KHM (kadar hambat minimum), yaitu konsentrasi
minimal suatu agen antimikroba untuk dapat menghambat pertumbuhan
mikroorganisme.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
21
Pada metode ini digunakan strip plastik yang mengandung agen
antimikroba dari kadar terendah hingga tertinggi dan diletakan pada
permukaan media agar yang telah ditanami mikroorganisme. Pengamatan
dilakukan pada area jernih yang ditimbulkannya yang menunjukan kadar agen
antimikroba yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada media
agar (Pratiwi, 2008).
3. Ditch-plate technique
Pada metode ini sampel uji berupa agen antimikroba yang diletakan pada
parit yang dibuat dengan cara memotong media agar dalam cawan petri pada
bagian tengah secara membujur dan mikroba uji (maksimum 6 macam)
digoreskan ke arah parit yang berisi agen antimikroba (Pratiwi, 2008).
4. Cup-plate technique
Metode ini serupa dengan metode disc diffusion, dimana dibuat sumur
pada media agar yang telah ditanami dengan mikroorganisme dan pada sumur
tersebut diberi agen antimikroba yang akan diuji (Pratiwi, 2008).
b. Metode Dilusi
1. Metode Dilusi Cair/ Broth Dilution Test (serial dilution)
Metode ini digunakan untuk mengukur konsentrasi hambat minimum
(KHM) dan kadar bunuh minimum (KBM). Cara yang dilakukan adalah
dengan membuat seri pengenceran agen antimikroba pada medium cair yang
ditambahkan dengan mikroba uji. Larutan uji agen antimikroba pada kadar
terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya pertumbuhan mikroba uji ditetapkan
sebagai KHM. Larutan yang ditetapkan sebagai KHM tersebut selanjutnya
dikultur ulang pada media cair tanpa penambahan mikroba uji atau pun agen
antimikroba, dan diinkubasi selama 18-24 jam. Media cair yang tetap terlihat
jernih setelah diinkubasi ditetapkan sebagai KBM (Pratiwi, 2008).
2. Metode Dilusi Padat (Solid Dilution Test)
Metode ini serupa dengan metode dilusi cair namun menggunakan media
padat (solid). Keuntungan metode ini adalah satu konsentrasi agen
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
22
antimikroba yang diuji dapat digunakan untuk menguji beberapa mikroba uji
(Pratiwi, 2008).
c. Metode Bioautografi
Bioautografi merupakan metode skrining mikrobiologi yang umum
digunakan untuk mendeteksi adanya aktivitas antimikroba. Skrining
merupakan prosedur pertama, yang dilakukan pada sampel yang akan
dianalisis, untuk mengetahui ada atau tidaknya analit yang didapat. Metode
skrining ini memberikan sensitivitas yang lebih tinggi daripada metode
lainnya. Metode ini juga memiliki kelebihan yaitu, sederhana, murah, hemat
waktu dan tidak memerlukan peralatan yang canggih (Choma, 2010).
Metode bioautografi dibedakan menjadi tiga yaitu, bioautografi kontak,
bioautografi imersi atau bioautgrafi agar overlay, dan bioautografi langsung.
Prinsip bioautografi kontak, plat kromatografi diletakkan pada permukaan
agar yang telah diinokulasi mikroba uji selama beberap menit atau jam
sehingga proses difusi dapat terjadi. Plat kromatogram diambil dan media agar
diinkubasi. Daerah hambatan ditunjukan dengan adanya spot antimikroba
yang menepel pada permukaan media agar. Pada bioautografi imersi, plat
kromatogram dicelup pada medium agar, setelah agar memadat ditambahakan
mikroorganisme uji lalu diinkubasi. Metode ini merupakan kombinasi dari
bioautografi kontak dan langsung, karena senyawa antimikroba ditransfer dari
kromatogram ke media agar, seperti dalam metode kontak, tetapi lapisan agar
tetap pada permukaan kromatogram selama inkubasi dan visualisasi seperti
pada bioautografi langsung (Choma, 2010).
Bioautografi langsung merupakan metode bioautografi yang paling banyak
digunakan dari semua metode bioautografi. Prinsip dari metode ini adalah plat
KLT dicelupkan pada suspensi mikroorganisme kemudian diinkubasi.
Visualisasi dari zona ini biasanya dilakukan dengan menggunakan reagen
dehydrogenase untuk deteksi aktivitas, yang paling umum adalah garam
tetrazolium. Dehydrogenase mikroorganisme mengkonversi garam tetrazolium
menjadi berwarna, sehingga terlihat spot krem-putih dengan latar belakang
ungu pada permukaan plat KLT menunjukan keberadaan agen antibakteri
(Choma, 2010).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
23
2.7
Tinjauan Tentang Antimikroba
2.7.1
Zat Antimikroba
Zat antimikroba adalah senyawa biologis atau kimia yang dapat
menghambat pertumbuhan dan aktivitas mikroba. Menurut Fardiaz (1989), zat
antimikroba dapat bersifat bakterisidal (membunuh bakteri), bakteristatik
(menghambat pertumbuhan bakteri), fungisidal, fungistatik atau menghambat
germinasi spora bakteri. Kemampuan suatu zat antimikroba dalam menghambat
pertumbuhan mikroba dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu : (1) konsentrasi zat
antimikroba, (2) suhu lingkungan, (3) waktu penyimpanan, (4) sifat-sifat mikroba,
meliputi jenis, jumlah, umur, dan keadaan mikroba, (5) sifat-sifat fisik dan kimia
makanan termasuk kadar air, pH, jenis, dan jumlah senyawa di dalamnya (Frazier
dan Westhoff, 1988).
Kriteria ideal suatu antimikroba antara lain harus memiliki sifat-sifat
sebagai berikut : aman, ekonomis, tidak menyebabkan perubahan flavor, citarasa
dan aroma makanan, tidak mengalami penurunan aktivitas karena adanya
komponen makanan, tidak menyebabkan timbulnya galur resisten, sebaiknya
bersifat membunuh daripada hanya menghambat pertumbuhan mikroba (Ray,
2001). Penghambatan aktivitas antimikroba oleh komponen bioaktif tanaman
dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : (1) gangguan pada senyawa
penyusun dinding sel, (2) peningkatan permeabilitas membran sel yang
menyebabkan kehilangan komponen penyusun sel, (3) menginaktifasi enzim
metabolik, dan (4) destruksi atau kerusakan fungsi material genetik (Branen dan
davidson, 1993).
2.7.2
Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja dari antimikroba dapat digolongkan menjadi lima yaitu
(Berger et al., 1986) :
a. Antimikroba yang mengganggu metabolisme sel mikroba
Mikroba membutuhkan asam folat untuk kelangsungan hidupnya. Berbeda
dengan mamalia yang mendapatkan asam folat dari luar, kuman patogen harus
mensintesis sendiri asam folat dari asam para amino benzoat (PABA) untuk
kehidupannya. Mekanisme kerja antimikroba adalah dengan membentuk suatu
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
24
senyawa yang akan berkompetisi dengan PABA. Apabila senyawa tiruan ini
menang bersaing dengan PABA untuk diikut sertakan dalam pembentukan asam
folat, maka terbentuk analog asam folat yang nonfungsional. Akibatnya,
kehidupan mikroba akan terganggu.
b. Antimikroba yang menghambat sintesis protein mikroba
Dalam kelangsungan hidup sel mikroba perlu mensintesis berbagai protein. Di
ribosom sintesis protein berlangsung, dengan bantuan mRNA dan tRNA. Pada
bakteri terdapat dua sub unit ribosom yang berdasarkan konstanta sedimentasi
dinyatakan sebagai ribosom 30S dan 50S, kedua komponen ini akan bersatu
pangkal rantai mRNA menjadi ribosom 70S, sehingga dapat berfungsi pada
sintesis protein. Penghambatan sintesis protein dapat terjadi dengan berbagai cara,
salah satu contoh yaitu streptomisin berikatan dengan komponen ribosom 30S dan
menyebabkan kode pada mRNA salah dibaca oleh tRNA pada waktu sintesis
protein. Akibatnya, akan terbentuk protein yang abnormal dan nonfungsional bagi
sel mikroba.
c. Antimikroba yang mengganggu/merusak membran sel mikroba
Membran sel bakteri dapat dirusak oleh beberapa zat tertentu tanpa merusak
sel inang. Akibat dari daya kerja zat ini akan terjadi perusakan membran sehingga
isi sel akan keluar. Antibakteri ini berdaya kerja terhadap sel baik yang sedang
tumbuh maupun yang tidak tumbuh. Misalnya, polymixin dan polyene dan
antiseptik golongan surface active agent. Antimikroba golongan ini dapat
merubah tegangan permukaan sehingga akan merusak permeabilitas selektif dari
membran sel mikroba. Kerusakan membran sel akan menimbulkan kebocoran
yang mengakibatkan keluarnya berbagai komponen sel yang esensial sehingga
bakteri mengalami kematian.
d. Antimikroba yang menghambat sintesis dinding sel mikroba
Suatu antimikroba yang menghambat sintesis dinding sel. Keseluruhan
penghambatan rangkaian sintesis dinding sel tersebut akan menyebabkan tekanan
osmotik dalam sel kuman lebih tinggi daripada di luar sel, maka kerusakan
dinding sel kuman akan menyebabkan terjadinya lisis.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
25
Salah satu contoh klasik yang memiliki mekanisme antimikroba seperti ini
adalah penisilin. Antibiotik ini menyebabkan penghambatan ikatan sebrang silang.
Pada konsentrasi rendah, penisilin menghambat pembentukan ikatan glikosida,
sehingga pembentukan dinding sel baru akan terganggu dapat dilihat dari bakteri
dengan bentuk sel yang panjang tanpa dinding sekat. Pada konsentrasi tinggi,
ikatan sebrang silang terganggu dan pembentukan dinding sel terhenti. Kepekaan
bakteri terhadap penisilin tergantung pada kemampuan mikroorganisme
menghasilkan enzim beta-laktamase enzim ini dapat merusak daya kerjanya.
e. Antimikroba yang menghambat sintesis asam nukleat
Antimikroba tertentu dapat berikatan dengan enzim polimerase RNA (pada
sub unit) sehingga menghambat sintesis RNA dan DNA oleh enzim tersebut, ada
pula antimikroba yang menghambat aktivitas satu sub unit dari enzim DNA girase
pada kuman yang fungsinya menata kromosom yang sangat panjang menjadi
bentuk spiral sehingga dapat termuat dalam sel bakteri yang berukuran sangat
kecil. Hambatan pada aktivitas DNA girase akan menyebabkan kematian pada sel
mikroba.
2.8
Antimikroba Pembanding
2.8.1 Kloramfenikol (Depkes RI, 1995 dan Pratiwi, 2008)
Kloramfenikol adalah antibiotik berspektrum luas, yaitu antibiotik yang dapat
menghambat bakteri Gram positif dan negatif aerob dan anaerob. Karakteristik
kloramfenikol yang digunakan sebagai antibakteri pembanding adalah sebagai
berikut :
a.
Nama lain : D-treo-(-)-2,2-Dikloro-N-[β-hidroksi-α-(hidroksimetil)-pnitrofenetil]asetamida
b.
Rumus kimia : C12H12Cl2N2O5
c.
Pemerian : Hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang; putih
hingga putih kelabu atau putih kekuningan.
d.
Kelarutan : sukar larut dalam air; mudah larut dalam etanol, dalam
propilen glikol, dalam aseton dan dalam etil asetat.
e.
Mekanisme kerja : antibiotik memberikan efek dengan cara bereaksi pada
sub unit 50S ribosom dan menghalangi aktivitas enzim peptidil
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
26
transferase. Enzim ini berfungsi untuk membentuk ikatan peptida antara
asam amino baru yang masih melekat pada tRNA dengan asam amino
terakhir yang sedang berkembang, sebagai akibatnya, sintesis protein
bakteri akan terhenti seketika.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB 3
METODELOGI PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmakognosi dan Fitokimia,
Laboratorium Steril dan Laboratorium Penelitian I Progam Studi Farmasi FKIK
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang dimulai pada bulan Desember 2014 hingga
bulan Mei 2015.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini antara lain, botol maserasi,
gelas ukur (PYREX), beaker glass (DURAN), tabung reaksi (IWAKI),
Erlenmeyer (DURAN), corong (PYREX), cawan penguap, batang pengaduk,
spatel, pinset, jarum ose, mikropipet (BIO RAD), pipet tetes, cawan petri
(NORMAX), bunsen, hot plate, timbangan analitik (AND), rotary evaporator
(EYELA), blender, autoklaf (HIRAYAMA), oven (WTB BINDER), incubator
(FRANCE ETUVES), refrigerator, laminar air flow (SPEG AIR TECH), dan
vortex.
3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain, daun Garcinia
benthami Pierre yang diperoleh dari Kebun Raya Bogor dan telah dideterminasi di
Pusat Penelitin Biologi-LIPI, akuades, pelarut n-heksan, etil asetat, metanol,
DMSO 10%, larutan p-iodonitrotetrazolium violet (INT) (SIGMA), NaCl
fisiologis, mikroba uji, plat KLT silica gel 60 F254 (MERCK), medium Nutrient
Agar (NA), Brain Heart Infussion (BHI), dan kloramfenikol (INDOFARMA).
3.2.3 Mikroba Uji
Bakteri yang digunakan diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi UI, antara lain
:
1. Staphylococcus epidermidis ATCC 12228
2. Bacillus subtillis ATCC 6633
27
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
28
3. Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853
4. Shigella dysenteriae ATCC 13313
5. Helicobacter pylori ATCC 43504
6. Salmonella thypimurium ATCC 14028
3.3 Metode Penelitian
3.3.1 Penyiapan Sampel
3.3.1.1 Penyiapan dan Ekstraksi Garcinia benthami Pierre
Daun segar Garcinia benthami Pierre sebanyak 4 kg yang digunakan pada
penelitian ini dikumpulkan pada bulan Desember 2014 dari Kebun Raya Bogor.
Selanjutnya dilakukan sortasi untuk dipisahkan dari pengotor atau bahan-bahan
asing sehingga dapat mengurangi jumlah pengotor yang ikut terbawa dalam bahan
uji kemudian diangin-anginkan hingga kering.
Simplisia yang telah kering disortasi kembali dari pengotor yang masih
tertinggal. Simplisia yang telah disortir dihaluskan dengan blender, timbang
serbuk simplisia yang didapatkan. Serbuk simplisia kemudian disimpan dalam
wadah bersih, kering dan terlindung dari cahaya (Amelia, 2011).
3.3.1.2 Pembuatan Ekstrak
Sejumlah 1,188 kg serbuk kering daun Garcinia Benthami Pierre
dimaserasi dengan pelarut n-heksan teknis yang telah didestilasi selama 3 hari
sebanyak 18,9 L. Maserasi dilakukan selama 42 hari hingga filtrat yang dihasilkan
hampir tidak berwarna. Hasil maserasi disaring dan filtrat yang diperoleh
dipekatkan dengan penguap putar vakum pada suhu lebih kurang 450C, sehingga
diperoleh ekstrak kental n-heksan. Terhadap ampas n-heksan dilakukan kembali
maserasi berturut turut dengan pelarut etil asetat sebanyak 29,3 L selama 48 hari
dan metanol sebanyak 19,4 L selama 36 hari kemudian pelarut diuapkan dengan
penguap putar vakum hingga diperoleh ekstrak n-heksan, etil asetat, dan metanol
yang kemudian masing-masing ditimbang dan dihitung rendemennya terhadap
berat simplisia awal (Amelia, 2011). Perhitungan rendemen ekstrak dilakukan
dengan rumus sebagai berikut :
% Rendemen ekstrak =
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
29
3.3.1.3 Pemeriksaan Kandungan Air
Sejumlah 1 gram ekstrak n-heksan, etil asetat dan metanol ditimbang
dalam krus porselen bertutup yang sebelumnya telah dipanaskan pada suhu 1050C
selama 90 menit dan telah ditara. Ratakan dengan menggoyangkan hingga
terbentuk lapisan setebal 10-15 mm dan dikeringkan pada suhu penetapan hingga
bobot tetap, buka tutupnya, biarkan krus dalam keadaan tertutup dan mendingin
dalam desikator hingga suhu kamar, kemudian dicatat bobot tetap yang diperoleh
untuk menghitung persentase susut pengeringannya. Dilakukan replikasi atau
pengulangan sebanyak 3 kali (Rostinawati, 2010).
3.3.2 Pemeriksaan Kandungan Kimia Ekstrak N-Heksan, Etil Asetat dan
Metanol Garcinia benthami Pierre
3.3.2.1 Identifikasi Alkaloid
Sejumlah ekstrak dilarutkan dalam 10 mL larutan HCl encer kemudian
disaring dan filtrat dibagi menjadi dua tabung reaksi :
a. Filtrat A ditambahkan reagen Mayer (larutan kalium merkuri iodida).
Terbentuknya endapan berwarna putih menunjukkan adanya senyawa
alkaloid.
b. Filtrat B ditambahkan reagen Dragendorff (larutan kalium bismuth
klorida). Terbentuknya endapan berwarna merah bata menunjukkan
adanya senyawa alkaloid (Tiwari et al., 2011).
3.3.2.2 Identifikasi Flavonoid
Sampel dicampur dengan 5 mL etanol, dikocok, dipanaskan, dan dikocok
lagi kemudian disaring. Kemudian ditambahkan serbuk Mg 0,2 g dan 3 tetes HCl
pada masing-masing filtrat. Terbentuknya warna merah pada lapisan etanol
menunjukkan adanya flavonoid (Anonim, 2000).
3.3.2.3 Identifikasi Saponin
Ekstrak ditambahkan 5 ml aquadest panas, didinginkan kemudian dikocok
kuat-kuat selama 10 menit. Hasil positif ditunjukan dengan terbentuknya buih
yang stabil selama tidak kurang dari 10 menit setinggi 1-10 cm dan pada
penambahan 1 tetes asam klorida 2N buih tidak hilang (Materia Medika, 1980).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
30
3.3.2.4 Identifikasi Tanin
Ekstrak dilarutkan dengan akuades panas lalu dikocok hingga homogen.
Larutan kemudian ditambahkan 5 tetes natrium klorida 10% dan saring. Filtrat
yang diperoleh digunakan sebagai larutan percobaan. Larutan percobaan
kemudian dibagi menjadi tiga bagian dan berturut-turut ditambahkan pereaksi
gelatin 10%, natrium klorida-gelatin, besi (III) klorida 3%. Hasil positif
ditunjukan dengan terbentuknya endapan pada penambahan gelatin 10% dan
natrium klorida-gelatin, sedangkan dengan penambahan besi (III) klorida 3%
ditunjukan dengan terbentuknya larutan biru kehitaman atau hijau kehitaman
(Materia Medika, 1980).
3.3.2.5 Identifikasi Steroid
Sampel diekstrak dengan etanol dan ditambah 2 mL asam sulfat pekat dan
2 mL asam asetat anhidrat. Perubahan warna dari ungu ke biru atau hijau
menunjukkan adanya steroid (Anonim, 2000).
3.3.2.6 Identifikasi Triterpenoid
Sampel dicampur dengan 2 mL kloroform dan 3 mL asam sulfat pekat.
Terbentuknya warna merah coklat pada antar permukaan menunjukkan adanya
triterpenoid (Anonim, 2000).
3.4
Uji Aktivitas Antimikroba
3.4.1 Sterilisasi Alat dan Bahan
a. Sterilisasi Alat
Seluruh alat yang akan digunakan dicuci bersih, dikeringkan dan
disterilisasi terlebih dahulu. Tabung reaksi, gelas ukur dan Erlenmeyer ditutup
mulutnya dengan kapas. Cawan petri dibungkus dengan kertas, kemudian
semuanya dimasukkan dalam plastik tahan panas dan disterilkan dengan autoklaf
pada suhu 1210C, selama 30 menit (Pertiwi, 2010). Cawan petri dan pipet volume
juga dapat disterilkan dengan menggunakan oven, yaitu dengan cara memasukkan
alat-alat tersebut kedalam oven dan dipanaskan dengan suhu 160-1700C selama 12 jam (Kharisma, 2012). Jarum ose disterilkan dengan cara flambir pada nyala
bunsen. Laminar Air Flow disterilisasi dengan lampu UV yang dinyalakan selama
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
31
lebih kurang 2 jam dan disemprotkan dengan alkohol 70% sebelum digunakan.
Sterilisasi Laminar ini dilakukan sebelum dan sesudah bekerja didalamnya
(Pertiwi, 2010).
b. Sterilisasi Bahan
Seluruh media pembenihan (NA dan BHI) disterilisasi dengan autoklaf
pada temperatur 1210C selama 15 menit (Pertiwi, 2010).
3.4.2 Pembuatan Medium
1. Nutrient Agar (NA)
Serbuk NA sebanyak 24 gram dilarutkan dalam 1 L akuades dan
dipanaskan sampai mendidih sehingga semuanya larut. Lalu disterilkan dalam
autoklaf pada suhu 1210C selama 15 menit. Setelah agak dingin dapat disimpan
dalam lemari pendingin dan dapat digunakan jika diperlukan dengan
memanaskannya kembali menggunakan hot plate (Pertiwi, 2010).
2. Brain Heart Infussion (BHI)
Serbuk BHI sebanyak 37 gram dilarutkan dalam 1 liter akuades dan
dipanaskan sampai mendidih sehingga semuanya larut. Lalu disterilkan dalam
autoklaf pada suhu 1210C selama 15 menit. Setelah agak dingin dapat disimpan
dalam lemari pendingin dan dapat digunakan.
3.4.3
Karakterisasi Bakteri Uji
Karakterisasi bakteri uji dilakukan dengan cara metode pewarnaan Gram,
yaitu menyiapkan preparat uji dengan mengoleskan bakteri setipis mugkin di atas
kaca objek yang kemudian difiksasi dengan cara dilewatkan di atas nyala api
sebentar untuk melekatkan bakteri. Preparat tersebut diwarnai dengan larutan
kristal violet dan dibiarkan selama 1 menit, dicuci dengan air mengalir selama 5
detik, diteteskan larutan lugol diatas preparat dan dibiarkan selama 1 menit, dicuci
kembali dengan air mengalir kemudian dicuci dengan alkohol 96% selama 10 - 30
detik sampai tidak ada lagi zat warna lugol lalu dicuci kembali dengan air
mengalir. Diteteskan larutan safranin selama 10-30 detik kemudian dicuci kembali
dengan air mengalir, dikeringkan dengan cara diletakan diatas kertas saring dan
diperiksa preparat dibawah mikroskop (Handayani, 2007).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
32
3.4.4
Peremajaan Bakteri
Stok bakteri dalam agar miring nutrient diremajakan kembali pada media
NA miring dengan cara menggoreskan masing-masing bakteri menggunakan ose
yang telah disterilkan dengan cara memijarkan pada api bunsen kedalam 5 ml
media agar miring NA, kemudian diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam
(Pertiwi, 2010).
3.4.5
Pembuatan Suspensi Bakteri
Pembuatan suspensi mikroba uji dilakukan dengan cara semua mikroba
dari hasil peremajaan dibuat menjadi suspensi mikroba 109 sesuai dengan
kekeruhan Mc Farland III dengan cara diinokulasikan satu ose biakan mikroba,
dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah diisi dengan 3 mL larutan NaCl
0,9% kemudian dikocok dengan vortex. Kekeruhan suspensi mikroba yang dibuat
dibandingkan dengan kekeruhan standar Mc Farland III. Apabila kekeruhan
belum sama, mikroba diinokulasi kembali ke dalam suspensi yang dibuat hingga
diperoleh kekeruhan yang sama dengan standar (Radji, 2006).
Suspensi mikroba 109 kemudian diencerkan sehingga diperoleh suspensi
mikroba 106, pengenceran dilakukan dengan cara suspensi mikroba 109 dipipet 1
mL ke dalam tabung reaksi berisi 9 mL NaCl 0,9% sehingga diperoleh suspensi
mikroba 108. Suspensi mikroba 108 dipipet 1 mL ke dalam tabung reaksi yang
berisi 9 mL NaCl 0,9% sehingga diperoleh suspensi mikroba 107. Suspensi
mikroba 107 dipipet 1mL ke dalam tabung reaksi yang berisi 9 mL BHI sehingga
diperoleh suspensi mikroba 106 (Radji, 2006 dan Bobby, 2013).
3.4.6 Pembuatan Larutan Uji
Ekstrak n-heksan, etil asetat dan metanol daun Garcinia benthami Pierre
untuk pengujian aktivitas antimikroba dengan metode bioautografi, dibuat dengan
konsentrasi 5000 ppm dengan cara ditimbang ekstrak n-heksan, etil asetat dan
metanol sebanyak 25 mg yang dilarutkan dalam 5 mL pelarutnya masing-masing
(Valgas et al., 2007).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
33
3.4.7 Pembuatan Larutan Kontrol
Kontrol positif yang digunakan berupa kloramfenikol dengan konsentrasi
2000 ppm dibuat dengan cara menimbang serbuk kloramfenikol sebanyak 10 mg
yang dilarutkan dalam 5 mL DMSO 100% (Valgas et al., 2007). Kontrol negatif
menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan metanol.
3.4.8 Penyiapan Plat KLT
Masing-masing ekstrak n-heksan, etil asetat dan metanol konsentrasi 5
mg/mL ditotolkan pada plat KLT sebanyak 10 µL menggunakan mikropipet
dengan jarak tiap totolan ±2cm (Ismail et al., 2011).
3.4.9 Uji Bioautografi Nonelusi Antibakteri
Suspensi bakteri Gram positif dan Gram negatif konsentrasi 106 CFU/mL
masing-masing dituang dalam cawan petri steril. Plat KLT yang telah disiapkan,
dicelupkan selama 5 detik ke dalam suspensi bakteri 106 CFU/mL, kemudian
diletakkan dalam cawan petri steril dan terdapat kapas yang dibasahi dengan
akuades. Plat KLT diinkubasi selama 24 jam pada suhu 370C. plat KLT disemprot
dengan larutan p-iodonitrotetrazolium violet (INT) dan diinkubasi selama 24 jam
pada suhu 370C. Aktivitas antibakteri terlihat dengan terbenuknya zona bening
dengan latar belakang warna ungu pada plat. Pengerjaan bioautografi dilakukan
dalam laminar air flow (Valgas et al., 2007).
3.4.10 KLT Bioautografi
Larutan uji yang paling aktif menunjukkan aktivitas antibakteri, selanjutnya
diuji kembali dengan cara ekstrak ditotolkan pada plat KLT sebanyak 10 µL
menggunakan mikropipet dan dielusi dengan eluen etil asetat (100%), n-heksan :
etil asetat (9:1), (8:2), (7:3), (6:4), (5:5), dan (4:6). Ekstrak yang telah dielusi
dilihat dibawah sinar UV 254 nm dan bercak yang terlihat ditandai menggunakan
pensil. Plat KLT tersebut dicelupkan dalam suspensi bakteri 106 CFU/mL selama
5 detik, selanjutnya diletakkan dalam cawan petri steril yang terdapat kapas yang
dibasahi dengan akuades steril. Plat KLT diinkubasi pada suhu 370C selama 24
jam, setelah diinkubasi plat KLT disemprot dengan larutan p-iodonitrotetrazolium
violet (INT), dan diinkubasi kembali selama 4 jam pada suhu 370C. Zona
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
34
penghambatan diamati dan ditentukan nilai Rf senyawa bioaktif (Ismail et al.,
2011; Valgas et al., 2007 yang telah dimodifikasi).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Pembuatan Simplisia
Tanaman Garcinia benthami Pierre yang digunakan dalam penelitian ini
diperoleh dari Kebun Raya Bogor dan telah dilakukan determinasi di Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya
Bogor, Jawa barat (Lampiran 1).
Daun Garcinia benthami yang diperoleh sebanyak 4 kg, disortasi basah
dengan cara dipisahkan dari tangkai dan pengotor yang melekat, dicuci
menggunakan air yang mengalir hingga bersih dari pengotor yang melekat pada
daun. Tahapan selanjutnya yang dilakukan adalah proses pengeringan yang
bertujuan untuk menghentikan reaksi enzimatik dan mengurangi kadar air
sehingga nantinya diperoleh simplisia yang tidak mudah rusak. Pengeringan
dilakukan selama 10 hari pada suhu ruang dan terhindar dari matahari langsung
hal ini dilakukan untuk
menghindari terjadinya kerusakan senyawa yang
terkandung didalamnya.
Daun segar Garinia benthami Pierre sebanyak 4 kg setelah dilakukan
pengeringan beratnya menjadi 1,552 kg daun kering yang selanjutnya dilakukan
penghalusan menggunakan blender sehingga diperoleh serbuk simplisia,
kemudian ditimbang kembali sehingga menghasilkan berat sebanyak 1,188 kg.
4.2
Pembuatan Ekstrak
Proses ekstraksi dilakukan menggunakan ekstrasi cara dingin, yaitu
dengan metode maserasi. Keuntungan ekstraksi dengan cara maserasi adalah
pengerjaan
dan
peralatan
yang
digunakan
sederhana.
Proses
maserasi
menggunakan teknik maserasi bertingkat dengan pelarut yang memiliki tingkat
kepolaran yang berbeda-beda yaitu n-heksana sebagai pelarut non polar, etil asetat
sebagai pelarut semi polar dan metanol sebagai pelarut polar. Dengan
menggunakan maserasi bertingkat maka senyawa akan terkestraksi berdasarkan
tingkat kepolarannya sehingga proses ekstraksi akan lebih maksimal.
35
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
36
Sebanyak 1,188 kg serbuk daun Garcinia benthami diekstraksi dengan
cara maserasi bertingkat, awal maserasi menggunakan pelarut yang bersifat non
polar yaitu digunakan pelarut n-heksan sebanyak 18,9 L sampai didapatkan filtrat
yang bening dengan cara melakukan remaserasi selama 42 hari,
selanjutnya
dilakukan maserasi kembali menggunakan pelarut semi polar yaitu etil asetat
sebanyak 29,3 L selama 48 hari sampai didapatkan filtrat yang bening dan yang
terkahir adalah menggunakan pelarut yang bersifat polar yaitu metanol sebanyak
19,4 L selama 36 hari hingga mendapatkan filtrat yang bening juga. Filtrat bening
yang didapatkan kemudian diuapkan menggunakan rotary evaporator sehingga
didapatkan ekstrak kental.
Dari proses ekstraksi, diperoleh tiga ekstrak kental yaitu ekstrak kental
n-heksan sebanyak 17,8254 g, ekstrak kental etil asetat sebanyak 80,9839 g, dan
ekstrak kental metanol sebanyak 81,7003 g.
Tabel 4.1 Hasil rendemen ekstrak n-heksan, etil asetat dan metanol
Total Simplisia
Ekstrak
Bobot
Rendemen
yang Dimaserasi
1188 g atau
N-heksan
17,8254 g
1,5004%
1,188 kg
Etil asetat
80,9829 g
6,8168%
Metanol
81,7003 g
6,877 %
180,5086 g
15,1942 %
Total
Hasil rendemen dari ketiga ekstrak yaitu ekstrak n-heksan, etil asetat dan
metanol yang telah didapatkan, ekstrak n-heksan merupakan ekstrak yang
memiliki hasil rendemen yang paling sedikit hal ini disebabkan senyawa yang
ditarik oleh pelarut nonpolar sedikit. Menurut Harborne senyawa metabolit
sekunder yang dapat terlarut dalam pelarut nonpolar adalah senyawa golongan
terpenoid, menurut Houghton dan Raman (1998) pelarut non polar juga dapat
menarik senyawa lilin tanaman, lemak-minyak nabati, minyak atsiri dan alkaloid.
Hal ini sesuai dengan hasil skrining fitokimia yang telah dilakukan, dimana
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
37
berdasarkan skrining fitokimia ekstrak n-heksan daun Garcinia benthami Pierre
hanya menunjukan hasil positif pada golongan terpenoid.
Terhadap masing-masing, ekstrak n-heksana, ekstrak etil asetat dan
ekstrak metanol yang telah diperoleh selanjutnya dilakukan pengukuran kadar air.
Kadar air merupakan salah satu parameter penting yang menentukan daya tahan
ekstrak dan terkait dengan aktivitas mikroorganisme selama penyimpanan.
Ekstrak yang mempunyai kadar air yang tinggi lebih mudah rusak karena ekstrak
tersebut menjadi media yang kondusif bagi pertumbuhan mikroorganisme.
Ekstrak dengan kadar air rendah relatif lebih stabil dalam penyimpanan jangka
panjang daripada ekstrak dengan kadar air tinggi (Antoni, 2013).
Penentuan kadar air dilakukan dengan menggunakan metode gravimetri.
Metode gravimetri digunakan karena metode ini merupakan salah satu metode
yang digunakan untuk penetapan kadar air sampel yang tidak mengandung
senyawa yang mudah menguap (Depkes RI, 1995).
Tabel 4.2 Hasil pengujian kadar air ekstrak daun Garcinia benthami Pierre
Ekstrak
% kadar air
N-heksan
1,891%
Etil asetat
8,7%
Metanol
9,95%
Ketiga ekstrak dilakukan perhitungan kadar air karena, semua ketiga
ekstrak tersebut akan dilakukan pengujian aktivitas antibakteri sehingga perlu
dihitung kadar airnya, dimana air merupakan media yang baik untuk kehidupan
bakteri. Menurut literatur, kadar air dalam esktrak tidak boleh lebih dari 10%. Hal
ini bertujuan untuk menghindari cepatnya pertumbuhan jamur dalam ekstrak
(Soetarno dan Soediro, 1997).
Selanjutnya terhadap masing-masing ekstrak n-heksan, etil asetat dan
ekstrak metanol dilakukan penapisan fitokimia, hal ini ditujukan untuk
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
38
memastikan bahwa senyawa yang terkandung dalam ekstrak sudah terpisahkan
berdasarkan polaritasnya. Hasil penapisan fitokimia sebagai berikut :
Tabel 4.3 Hasil penapisan fitokimia ekstrak daun Garcinia benthami Pierre
No
Metabolit Sekunder
Ekstrak
Ekstrak
Ekstrak
N-heksan
Etil Asetat
Metanol
1
Flavonoid
-
-
+
2
Terpenoid
+
+
+
3
Saponin
-
+
+
4
Tannin
-
+
+
5
Alkaloid
-
-
-
6
Steroid
-
-
-
Hasil penapisan fitokimia menunjukan bahwa ekstrak n-heksana hanya
menunjukan hasil positif pada pengujian golongan terpenoid sedangkan pengujian
untuk golongan lainnya menunjukan hasil negatif. Hal ini menunjukan bahwa
metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak n-heksan daun Garcinia benthami
Pierre adalah hanya golongan terpenoid. Hal ini sesuai dengan literatur, menurut
Harborne metabolit sekunder yang terlarut dalam pelarut nonpolar hanya sedikit
salah satunya adalah golongan terpenoid.
Hasil penapisan fitokimia pada esktrak etil asetat yang bersifat semi polar
dan metanol yang bersifat polar hampir sama, perbedaannya pada pengujian
golongan flavonoid. Pada ekstrak etil asetat yang bersifat semi polar golongan
flavonoid menunjukan hasil yang negatif sedangkan pada ekstrak metanol
menunjukan hasil positif. Berdasarkan penilitian Amelia, 2011 untuk ekstrak
semipolar golongan flavonoid menunjukan hasil positif, perbedaan ini mungkin
disebabkan dari perbedaan pelarut semi polar yang digunakan dimana pada
penelitian Amelia, 2011 pelarut yang digunakan adalah aseton sedangkan yang
digunakan pada penelitian ini adalah etil asetat. Menurut Fessenden, 1997
polaritas pelarut aseton lebih tinggi dibanding dengan etil asetat, dimana golongan
flavonoid merupakan senyawa yang bersifat polar, sehingga kemungkinan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
39
golongan ini tidak tertarik dengan menggunakan pelarut etil asetat sehingga hasil
pengujiannya menghasilkan hasil negatif. Hal lain yang bisa mengindikasikan
flavonoid menunjukkan hasil negatif adalah kemungkinan karena pada tahap
penyarian tidak sempurna, sehingga flavonoid belum dapat disari atau ekstrak
yang dihasilkan tidak homogen sehingga kemungkinan sampel yang digunakan
tidak mengnadung flavonoid.
4.3
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Garcinia benthami Pierre
Skrining aktivitas antibakteri dari daun Garcinia benthami Pierre
dilakukan menggunakan metode bioautografi. Bioautografi merupakan metode
skrining mikrobiologi yang umum digunakan untuk mendeteksi adanya aktivitas
antimikroba. Tujuan dilakukannya metode bioautografi ini terkait pencarian
senyawa murni yang aktif sebagai antibakteri. Metode ini juga memiliki kelebihan
yaitu, sederhana, murah, hemat waktu dan tidak memerlukan peralatan yang
canggih (Choma, 2010).
Prinsip dari metode bioautografi adalah plat kromatogram dicelupkan pada
suspensi mikroorganisme dan kemudian diinkubasi. Zona penghambatan
komponen antibakteri diketahui dengan cara menyemprot garam tetrazolium pada
kromatogram (Ismail, 2011).
Hal yang dilakukan dalam pengerjaan dengan metode bioautografi adalah
melakukan persiapan larutan uji, larutan kontrol, peremajaan bakteri, dan
penyiapan plat KLT. Larutan uji yang digunakan adalah konsentrasi 5000 ppm
dibuat dengan cara ditimbang 25 mg ekstrak n-heksan, etil asetat, dan metanol
kemudian dilarutkan dalam 5 mL masing-masing pelarut. Konsentrasi 5000 ppm
dipilih berdasarkan jurnal dari Valgas et al, dimana berdasarkan jurnal tersebut
konsentrasi yang dapat digunakan berkisar dari 5000 ppm sampai 40000 ppm.
Dari hasil optimasi yang dilakukan, pada konsentrasi 5000 ppm sudah dapat
dihasilkan zona hambat sehingga konsentrasi tersebut dipilih menjadi konsentrasi
uji.
Larutan kontrol positif yang digunakan adalah kloramfenikol konsentrasi
2000 ppm. Kloramfenikol konsentrasi 2000 ppm dibuat dengan cara ditimbang 10
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
40
mg serbuk kloramfenikol yang dilarutkan dengan 5 mL DMSO 100%.
Kloramfenikol digunakan sebagai kontrol positif karena kloramfenikol merupakan
antibakteri spektrum luas, sehingga bisa digunakan untuk melawan bakteri baik
Gram negatif maupun Gram positif. Tujuan dari digunakannya kontrol positif
adalah sebagai pembanding dari zona hambat yang terbentuk. Kontrol negatif
yang dipakai adalah pelarut yang digunakan untuk melarutkan masing-masing
ekstrak yaitu n-heksan, etil asetat, dan metanol. Tujuan dari digunakannya
masing-masing pelarut sebagai kontrol negatif adalah untuk membuktikan bahwa
pelarut yang digunakan untuk melarutkan ekstrak tidak berpengaruh terhadap
aktivitas antibakteri.
Peremajaan bakteri dilakukan dalam media Nutrient Agar miring yang
sudah disterilkan. Bakteri yang digunakan terdiri dari bakteri Gram positif yaitu
Staphylococcus epidermidis ATCC 12228, Bacillus subtilis ATCC 6633 dan
bakteri Gram negatif yaitu Salmonella thyphii ATCC 14028, Shigella dysenteriae
ATCC 13313, Helicobacter pylori ATCC 43504, dan Pseudomonas aeruginosa
ATCC 27853. Keenam bekteri tersebut mewakili bakteri patogen yang menyerang
saluran pencernaan, pernafasan dan kulit.
Setelah melakukan persiapan, hal selanjutnya yang dilakukan adalah
melakukan skrining. Skrining dilakukan menggunakan tiga ekstrak yaitu ekstrak
n-heksan, etil asetat, dan metanol. Masing-masing ekstrak dilarutkan dengan
masing-masing pelarut sehingga menghasilkan konsentrasi 5000 ppm setelah itu
larutan uji, kontrol positif, dan kontrol negatif diinokulasikan masing-masing
sebanyak 10 µL pada plat KLT yang sudah disiapkan. Setelah kering, plat KLT
yang sudah diinokulasikan dicelupkan dalam suspensi bakteri yang sudah
disiapkan. Suspensi bakteri dibuat dengan cara semua mikroba dari hasil
peremajaan dibuat menjadi suspensi mikroba 109 sesuai dengan kekeruhan Mc
Farland III dengan cara 5 sampai 10 ose bakteri dimasukkan ke dalam tabung
reaksi yang telah diisi dengan 2 mL larutan NaCl 0,9% kemudian dikocok dengan
vortex. Kekeruhan suspensi mikroba yang dibuat dibandingkan dengan kekeruhan
standar Mc Farland III, Kemudian di encerkan sampai konsentrasi 107
menggunakan NaCl 0,9%, kemudian diencerkan kembali sampai konsentrasi 106
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
41
menggunakan BHI (Radji, 2006 dan Bobby, 2013). Penggunaan NaCl 0,9%
bertujuan untuk melakukan pengenceran saja sedangkan BHI bertujuan untuk
melakukan pengenceran dan sebagai media pertumbuhan dari bakteri uji.
Inkubasi dilakukan selama 24 jam didalam inkubator dengan suhu 370C.
Tujuan dilakukannya inkubasi adalah agar bakteri dapat tumbuh dengan baik.
Setelah inkubasi selesai, plat KLT disemprot menggunakan larutan piodonitrotetrazolium (INT) yang digunakan sebagai indikator pertumbuhan
bakteri. INT digunakan karena selain dari hasilnya yang baik dan kontras karena
memberikan warna ungu juga penyiapannya yang mudah yaitu dilarutkan dalam
akuades (Valgas et al., 2007).
Tabel 4.4 Hasil skrining antibakteri ekstrak daun Garcinia benthami Pierre
Bakteri
Staphylococcus epidermidis
Gambar
Staphylococcus epidermidis
Keterangan :
-
E
= ekstrak etil asetat
-
M
= esktrak metanol
-
N
= ekstrak n-heksan
-
E-
= kontrol - (EA)
-
M- = kontrol - (M)
-
N-
-
K+ = kontrol +
(kloramfenikol)
= kontrol - (N)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
42
Bacillus subtilis
Bacillus subtilis
Keterangan :
-
E
= ekstrak etil asetat
-
M = esktrak metanol
-
N
-
E- = kontrol - (EA)
-
M- = kontrol - (M)
-
N- = kontrol - (N)
-
K+ = kontrol +
(kloramfenikol)
= ekstrak n-heksan
Salmonella thypii
Salmonella thypii
Keterangan :
-
E
= ekstrak etil asetat
-
M = esktrak metanol
-
N
-
E- = kontrol - (EA)
-
M- = kontrol - (M)
-
N- = kontrol - (N)
-
K+ = kontrol +
(kloramfenikol)
= ekstrak n-heksan
Shigella dysenteriae
Shigella dysenteriae
Keterangan :
-
E
= ekstrak etil asetat
-
M = esktrak metanol
-
N
-
E- = kontrol - (EA)
-
M- = kontrol - (M)
-
N- = kontrol - (N)
-
K+ = kontrol +
(klorsmfenikol)
= ekstrak n-heksan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
43
Helicobacter pylori
Helicobacter pylori
Keterangan :
-
E
= ekstrak etil asetat
-
M = esktrak metanol
-
N
-
E- = kontrol - (EA)
-
M- = kontrol - (M)
-
N- = kontrol - (N)
-
K+ = kontrol +
(kloramfenikol)
= ekstrak n-heksan
Pseudomonas aeruginosa
Keterangan :
-
E
-
M = esktrak metanol
-
N
-
E- = kontrol - (EA)
-
M- = kontrol - (M)
-
N- = kontrol - (N)
-
K+ = kontrol +
(kloramfenikol)
Pseudomonas aeruginosa
= ekstrak etil asetat
= ekstrak n-heksan
Hasil dari tahap non elusi menunjukkan bahwa esktrak etil asetat memiliki
aktivitas antibakteri lebih besar dibandingkan dengan ekstrak n-heksan dan
metanol. Hal ini disebabkan oleh senyawa kimia yang terkandung dalam ekstrak
etil asetat, dimana etil asetat merupakan pelarut semipolar sehingga akan
menarik senyawa yang bersifat semipolar juga yaitu ada yang bersifat non polar
dan ada juga yang bersifat polar, sehingga keseimbangan antara senyawa yang
bersifat non polar dan polar lebih besar dibandingkan dengan ekstrak n-heksan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
44
yang bersifat non polar maupun metanol yang bersifat polar. Menurut Kanazawa
et al., 1995 untuk interaksi suatu senyawa antibakteri dengan bakteri diperlukan
keseimbangan hidrofilik-lipofilik (HLB : hydrophilic lipophilic balance). Sifat
hidrofilik diperlukan untuk menjamin senyawa larut dalam fase air yang
merupakan tempat hidup mikroba, tetapi senyawa yang bekerja pada membran
sel hidrofobik memerlukan pula sifat lipofilik, sehingga senyawa antibakteri
memerlukan keseimbangan hidrofilik-lipofilik untuk mencapai aktivitas yang
optimal (Branen & Davidson 1993).
Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak n-heksan
memiliki aktivitas antibakteri pada bakteri uji Bacillus subtilis. Hal ini bisa
dilihat dari terbentuknya zona bening pada sekeliling totolan ekstrak n-heksan
pada plat KLT bakteri B. subtilis. Berdasarkan penapisan fitokimia ekstrak nheksan walaupun banyak menghasilkan hasil yang negatif, tetapi ekstrak n-hekan
memiliki hasil positif pada uji golongan terpenoid. Dimana senyawa terpenoid
ini mempunyai kemampuan sebagai antibakteri dengan mekanisme kerjanya
diduga melibatkan pemecahan membran oleh komponen-komponen lipofilik
(Cowan, 1999; Bobbarala, 2012).
Hasil penelitian untuk ekstrak metanol menunjukkan bahwa esktrak
metanol memiliki aktivitas antibakteri pada bakteri uji P. aeruginosa dan S.
thypimurium. Berdasarkan penapisan fitokimia ekstrak metanol menghasilkan
hasil positif pada uji golongan flavonoid, terpenoid, saponin dan tannin, dimana
keempat metabolit sekunder tersebut diketahui mempunyai aktivitas antibakteri.
Mekanisme kerja flavonoid adalah membentuk senyawa kompleks dengan
protein melalui ikatan hidrogen sehingga struktur tersier protein terganggu, dan
protein tidak dapat berfungsi lagi maka terjadi denaturasi protein dan asam
nukleat. Denaturasi tersebut menyebabkan koagulasi protein dan mengganggu
metabolisme dan fungsi fisiologis bakteri. Metabolisme yang terganggu akan
mengakibatkan rusaknya sel secara permanen karena tidak tercukupnya
kebutuhan energi (Agustin, 2005). Mekanisme terpenoid sebagai antibakteri
diduga melibatkan pemecahan membran oleh komponen-komponen lipofilik
(cowan, 1999; Bobbarala, 2012). Mekanisme saponin sebagai antibakteri adalah
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
45
dengan cara meningkatkan permeabilitas membran sel bakteri sehingga dapat
mengubah struktur dan fungsi membran, menyebabkan denaturasi protein
membran sehingga membran sel akan rusak dan lisis (Siswandono dan Soekarjo,
1995). Mekanisme tannin sebagai antibakteri adalah dengan cara merusak
membran sel yang menyebabkan kebocoran intraseluler. Akibat terganggunya
permeabilitas dan rusaknya fungsi integritas membran sitoplasma, sel tidak dapat
melakukan aktivitas hidup sehingga pertumbuhannya terhambat (Smullen, 2007).
Hasil penelitian untuk ekstrak etil asetat menunjukan bahwa ekstrak etil
asetat memiliki zona hambat pada keenam bakteri yang diujikan. Hal ini bisa
dilihat dari terbentuknya zona bening pada sekeliling totolan ekstrak etil asetat
disetiap plat KLT bakteri uji, sedangkan untuk ekstrak n-heksan dan metanol
juga memiliki zona hambat tetapi tidak disemua plat KLT bakteri uji, hal ini
menandakan bahwa ekstrak etil asetat memiliki aktivitas antibakteri pada keenam
bakteri uji, sehingga ekstrak etil asetat dapat dijadikan sampel uji untuk
dilakukan pengujian untuk tahap yang selanjutnya yaitu tahap elusi.
Berdasarkan penapisan fitokimia ekstrak etil asetat memberikan hasil
positif untuk senyawa terpenoid, saponin dan tannin. Dimana ketiga senyawa
tersebut mempunyai aktivitas antibakteri. Mekanisme terpenoid sebagai
antibakteri diduga melibatkan pemecahan membran oleh komponen-komponen
lipofilik (cowan, 1999; Bobbarala, 2012). Mekanisme saponin sebagai
antibakteri adalah dengan cara meningkatkan permeabilitas membran sel bakteri
sehingga dapat mengubah struktur dan fungsi membran, menyebabkan denaturasi
protein membran sehingga membran sel akan rusak dan lisis (Siswandono dan
Soekarjo, 1995). Mekanisme tannin sebagai antibakteri adalah dengan cara
merusak membran sel yang menyebabkan kebocoran intraseluler. Akibat
terganggunya permeabilitas dan rusaknya fungsi integritas membran sitoplasma,
sel tidak dapat melakukan aktivitas hidup sehingga pertumbuhannya terhambat
(Smullen, 2007).
Hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa kontrol negatif yang
digunakan tidak memberikan zona hambat terhadap pertumbuhan bakteri uji,
sehingga hal ini bisa membuktikan bahwa pelarut yang digunakan untuk
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
46
melarutkan ekstrak tidak mempunyai aktivitas antibakteri sehingga tidak
berpengaruh terhadap aktivitas antibakteri yang dihasilkan dari ekstrak uji.
Kontrol positif (kloramfenikol) yang digunakan memberikan zona hambat yang
cukup besar, hal ini menandakan bahwa bakteri uji masih belum resisten
terhadap kontrol positif sehingga kontrol positif masih layak digunakan.
Peda tahap non elusi, dari ketiga ekstrak yang diujikan terhadap keenam
bakteri uji, ekstrak etil asetat merupakan ekstrak yang memiliki hasil positif
aktivitas antibakteri pada keenam bakteri uji, sehingga ekstrak etil asetat
merupakan ekstrak yang dipilih untuk dijadikan sampel pada tahap selanjutnya
yaitu tahap elusi.
Tabel 4.5 Hasil uji bioautografi ekstrak daun Garcinia benthami Pierre
Ekstrak
Nilai Rf yang Menunjukkan Daerah Hambatan Terhadap Bakteri
S. epidermidis
100%
N:E
N:E
N:E
N:E
N:E
N:E
EA
(9:1)
(8:2)
(7:3)
(6:4)
(5:5)
(4:6)
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
EA
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
47
Ekstrak
Nilai Rf yang Menunjukkan Daerah Hambatan Terhadap Bakteri
B. subtilis
100%
N:E
N:E
N:E
N:E
N:E
N:E
EA
(9:1)
(8:2)
(7:3)
(6:4)
(5:5)
(4:6)
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
EA
Ekstrak
Nilai Rf yang Menunjukkan Daerah Hambatan Terhadap Bakteri
H. pylori
100%
N:E
N:E
N:E
N:E
N:E
N:E
EA
(9:1)
(8:2)
(7:3)
(6:4)
(5:5)
(4:6)
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
EA
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
48
Ekstrak
Nilai Rf yang Menunjukkan Daerah Hambatan Terhadap Bakteri
P. aeruginosa
100%
N:E N:E
N:E
N:E
N:E
N:E
EA
(9:1)
(8:2)
(7:3)
(6:4)
(5:5)
(4:6)
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
EA
Nilai Rf yang Menunjukkan Daerah Hambatan Terhadap Bakteri
S. thypimurium
Ekstrak 100%
N:E
N:E
N:E
N:E
N:E
N:E
EA
(9:1)
(8:2)
(7:3)
(6:4)
(5:5)
(4:6)
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
RF
EA
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
49
Nilai Rf yang Menunjukkan Daerah Hambatan Terhadap Bakteri
S. dysenteriae
Ekstrak 100%
N:E
N:E
N:E
N:E
N:E
N:E
EA
(9:1)
(8:2)
(7:3)
(6:4)
(5:5)
(4:6
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
EA
Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode bioautografi hampir
sama pengerjaannya dengan skrinning aktivitas antibakteri. Perbedaannya yaitu
untuk pengujian aktivitas antibakteri dilakukan tahap elusi menggunakan berbagai
eluen yang sesuai. Pemilihan eluen sebaiknya dimulai dari pelarut organik yang
non polar seperti n-heksan dan peningkatan kepolaran dengan etil asetat atau
pelarut yang lebih polar lainnya (Gritter, 1991).
Eluen yang digunakan dalam penelitian ini dimulai dari 100% n-heksan
kemudian dilanjutkan 100% etil asetat, n-heksan (9) : etil asetat (1) , 8:2, 7:3, 6:4,
5:5, dan 4:6. Dari kedelapan eluen yang dicoba eluen 100% n-heksan tidak terjadi
pemisahan senyawa hal ini bisa dilihat dari tidak adanya spot yang naik, sehingga
eluen ini tidak digunakan. Untuk eluen 100% etil asetat sampai eluen n-heksan
(4): etil asetat (6) terjadi pemisahan, dimana dapat dilihatnya spot yang naik pada
plat KLT yang dielusi. Namun, tidak semua eluen menghasilkan pola pemisahan
yang baik. Hal ini disebabkan dari kepolaran senyawa yang terdapat dalam
ekstrak etil asetat. Dimana dari ketujuh eluen yang digunakan eluen yang
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
50
menghasilkan pola pemisahan yang baik adalah eluen n-heksan : etil asetat (7:3)
sampai (5:5). Pada ketiga eluen tersebut terdapat spot-spot yang terlihat terpisah,
sehingga nantinya untuk tahap penelitian selanjutnya yaitu tahap isolasi bisa
memudahkan untuk pengerjaannya.
Pemilihan eluen yang terbaik tidak hanya dilihat dari pola pemisahan yang
baik saja tetapi aktivitas antibakteri pun harus dipertimbangkan. Eluen dapat
dikatakan baik jika menghasilkan pola pemisahan yang baik dan juga terdapat
aktivitas antibakteri, karena tujuan dari pengujian dengan metode ini adalah untuk
menentukan senyawa yang mempunyai aktivitas antibakteri. Aktivitas antibakteri
dari metode ini dapat dilihat dari terbentuk zona hambat pada bagian-bagian spot
yang naik. Zona hambat dapat terlihat dengan menggunakan larutan piodonitrotetrazolium (INT) yang disemprotkan pada plat KLT yang telah
diberikan perlakuan dan diinkubasi. INT akan menyebabkan bakteri yang tumbuh
pada plat KLT menjadi warna merah atau ungu sedangkan bagian plat yang tidak
ditumbuhi bakteri akan tetap berwarna putih atau krem. Hal ini terjadi karena
adanya reaksi enzimatik antara larutan INT dengan bakteri,dimana larutan INT
yang tadinya
berwarna kuning kehijauan
akan direduksi
oleh
enzim
dehidrogenase yang terdapat pada bakteri sehingga berubah formazan yang
berwarna merah atau ungu (Zakiya, 2014).
Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai Rf yang aktif dari keenam
bakteri uji tidak sama. Sifat senyawa tertentu di dalam sistem kromatografi lapis
tipis dinyatakan dengan harga Rf. Harga Rf didefinisikan sebagai berikut :
Rf =
Pada bakteri S.epidermidis eluen yang memiliki hasil pengujian yang
terbaik adalah eluen n-heksan : etil asetat (5:5), karena ketika menggunakan eluen
tersebut menghasilkan pola pemisahan yang baik dan memiliki zona hambat pada
dua spot (nilai Rf 0,24 dan 0,32). Pada eluen n-heksan : etil asetat (7:3) dan (6:4)
juga mempunyai pola pemisahan yang baik tetapi zona hambat yang terbentuk
hanya masing-masing satu spot nilai Rf 0,08 dan nilai Rf 0,34 sehingga eluen n-
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
51
heksan : etil asetat (5:5) dapat dijadikan eluen yang terbaik untuk pengujian
bakteri S. epidermidis.
Pada bakteri B. subtilis eluen yang memiliki hasil pengujian yang terbaik
adalah eluen n-heksan : etil asetat (7:3), karena ketika menggunakan eluen
tersebut menghasilkan pola pemisahan yang baik dan memiliki zona hambat pada
empat spot (nilai Rf 0,033; 0,083; 0,13 dan 0,383) . Pada eluen n-heksan : etil
asetat (6:4) dan (5:5) yang mempunyai pola pemisahan yang baik tetapi zona
hambat yang terbentuk hanya satu (nilai Rf 0,483) dan dua spot (0,167 dan 0,33)
sehingga eluen n-heksan : etil asetat (5:5) dapat dijadikan eluen yang terbaik
untuk pengujian bakteri B. subtilis.
Pada bakteri H. pylori eluen yang memiliki hasil pengujian yang terbaik
adalah eluen n-heksa : etil asetat (6:4), karena ketika menggunakan eluen tersebut
menghasilkan pola pemisahan yang baik dan memiliki zona hambat pada lima
spot (nilai Rf 0,033; 0,125; 0,208; 0,383 dan 0,6. Pada eluen n-heksan : etil asetat
(5:5) walaupun mempunyai jumlah zona hambat yang sama dengan eluen nheksan : etil asetat (6:4) yaitu lima spot (nilai Rf 0,125; 0,208; 0,417; 0,6917 dan
0,767) tetapi dari segi pola pemisahan senyawa eluen 6:4 lebih baik dibanding
dengan eluen n-heksan : etil asetat (5:5) sedangkan untuk eluen n-heksan : etil
asetat (7:3) jumlah zona hambatnya hanya terdapat 4 spot (nilai Rf 0,05; 0,1167;
0,33 dan 0,358) sehingga eluen n-heksan : etil asetat (6:4) dapat dijadikan eluen
yang terbaik untuk pengujian bakteri H. pylori.
Pada bakteri P. aeruginosa eluen yang memiliki hasil pengujian yang
terbaik adalah eluen n-heksan : etil asetat (5:5), karena ketika menggunakan eluen
tersebut menghasilkan pola pemisahan yang baik dan memiliki zona hambat pada
lima spot (nilai Rf 0,24; 0,3; 0,6; 0,7 dan 0,76). Pada eluen n-heksan : etil asetat
(7:3) dan (6:4) juga mempunyai pola pemisahan yang baik tetapi zona hambat
yang terbentuk hanya satu (0,08) dan empat spot (0,12; 0,36; 0,4 dan 0,56)
sehingga eluen n-heksan : etil asetat (5:5) dapat dijadikan eluen yang terbaik
untuk pengujian bakteri P. aeruginosa.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
52
Pada bakteri S. thypimurium eluen yang memiliki hasil pengujian yang
terbaik adalah eluen n-heksan : etil asetat (5:5), karena ketika menggunakan eluen
tersebut menghasilkan pola pemisahan yang baik dan memiliki zona hambat pada
tiga spot dengan nilai Rf 0,26; 0,36 dan 0,64. Pada eluen n-heksan : etil asetat
(7:3) dan (6:4) juga mempunyai pola pemisahan yang baik tetapi zona hambat
yang terbentuk hanya satu (titik penotolan sampel) dan dua spot (nilai Rf 0,12
dan 0,18) sehingga eluen n-heksan : etil asetat (5:5) dapat dijadikan eluen yang
terbaik untuk pengujian bakteri S. thypimurium.
Pada bakteri S. dysenteriae eluen yang memiliki hasil pengujian yang
terbaik adalah eluen n-heksan : etil asetat (6:4), karena ketika menggunakan eluen
tersebut menghasilkan pola pemisahan yang baik dan memiliki zona hambat pada
satu spot dengan nilai Rf 0,45. Pada eluen n-heksan : etil asetat (5:5) dan (7:3)
walaupun mempunya jumlah zona hambat yang sama dengan eluen n-heksan : etil
asetat (6:4) yaitu masing-masing satu dengan nilai Rf 0,3 dan 0,15 tetapi dari segi
pola pemisahan senyawa eluen n-heksan : etil asetat (6:4) lebih baik dibanding
dengan eluen n-heksan : etil asetat (5:5) dan (7:3) sehingga eluen n-heksan : etil
asetat (6:4) dapat dijadikan eluen yang terbaik untuk pengujian bakteri S.
dysenteriae.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:
1. Ekstrak yang menunjukkan aktivitas antibakteri pada keenam bakteri
uji adalah ekstrak etil asetat.
2. Bacillus subtilis merupakan bakteri uji yang memiliki diameter zona
hambat terbesar dengan rata-rata diameter terhadap esktrak etil asetat
sebesar 11,3 mm pada tahap non elusi.
3. Pada bakteri uji S. epidermidis eluen n-heksan : etil asetat (5:5)
merupakan eluen yang terbaik dengan nilai Rf 0,24 dan 0,32.
4. Pada bakteri uji B. subtilis eluen n-heksan : etil asetat (7:3) merupakan
eluen yang terbaik dengan nilai Rf 0,033; 0,083; 0,13 dan 0,383.
5. Pada bakteri uji H. pylori eluen n-heksan : etil asetat (6:4) merupakan
eluen yang terbaik dengan nilai Rf 0,033; 0,125; 0,208; 0,383 dan 0,6.
6. Pada bakteri uji P.aeruginosa eluen n-heksan : etil asetat (5:5)
merupakan eluen yang terbaik dengan nilai Rf 0,24; 0,3; 0,6; 0,7 dan
0,76.
7. Pada bakteri uji S. thypii eluen n-heksan : etil asetat (5:5) merupakan
eluen yang terbaik dengan nilai Rf 0,26; 0,36 dan 0,64.
8. Pada bakteri uji S. dysenteriae eluen
n-heksan : etil asetat (6:4)
merupakan eluen yang terbaik dengan nilai Rf 0,45.
5.2
Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diharapkan dapat
dilakukan penelitian lebih lanjut, yaitu :
1. Isolasi dan identifikasi senyawa murni yang aktif sebagai antibakteri
dalam ekstrak daun Garcinia benthami Pierre.
2. Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak Garcnia benthami Pierre untuk
mengetahui konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak.
53
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
DAFTAR PUSTAKA
Adams, MR, and Moss, M.O., 1995. Food Microbiology. The Royal Society of
Chemistry, New York.
Amelia P. 2011. Isolasi, elusidasi struktur dan uji aktivitas antioksidan senyawa
kimia dari daun Garcinia benthami Pierre. [Tesis]. Depok: Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia.
Anonim. 2000. Parameter Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Edisi 1. Dirjen POM,
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Benaissa M, Babin P, Quellard N, Pezennec L, Cenatiempo Y, Fauchere JL.
Changes in Helicobacter pylori ultrastructure and antigens during
conversion from the bacillary to the coccoid form. Infect Immun 1996;
100: 2331-5.
Berger, A. Stephen & Stephen C. Edberg. 1986. Antibiotika dan infeksi. Jakarta :
EGC Penerbit Buku Kedokteran.
Bobbara, V. 2012. Antimicrobial Agents. Intech, Croatia.
Branen A. L. dan P. J. Davidson. 1993. Antimicrobials in Foods. Marcel Dekker.
Bronzwaer, SL., Cars, O., Buchhols, U., Molstad, S., dan Goettsch, W., 2002, A
European Study on The Relationship between Antimicrobial Use and
Antimicrobial Resistance, Emerging Infectious Disease, 8, 278-282.
Choma, Irena M, Edyta M Grzelak. 2010. Bioautography Detection in Thin
Layaer Chromatography. Journal of Chromatography A Chroma-351708
Cowan, M. 1999. Plant Product as Antimicrobial Agents, Clinical Microbial
Reviews, 12 (4).
Davis & Stout. (1971). Disc Plate Method Of Microbiological Antibiotic Essay.
Journal Of Microbiology. Vol 22 No 4.
Depkes RI. 1980. Materia Medika Indonesia. Jilid IV. Cetakan Pertama. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat Dan Makanan.
Depkes RI. 1985. Cara Pembuatan Simplisia. Jakarta: direktorat jendral
pengawasan obat dan makanan.
Depkes RI. 1995. Materia Medika Indonesia. Jilid VI. Cetakan Keenam. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat Dan Makanan.
Depkes, RI, 1995, Farmakope Indonesia, ed. 4, Depkes RI, Jakarta, 4, 449-450.
54
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
55
Ditjen POM, 1995. Parameter Standar Umum Ekstrak Obat.. Jakarta :
Departemen Kesehatan RI.
Elya, Berna et al., 2006. Two New Xanthones from Garcinia rigida leaves.
Natural Product Research Vol. 20 (9): 788-79.
Fardiaz, S. 1989. Analisis Mikrobiologi Pangan. Petunjuk Laboratorium. PAU
Fessenden, R.J. & Fessenden .J.S. 1997. Dasar-Dasar Kimia Organik. Jakarta:
Binarupa Aksara.
Frazier, W. C. dan D. C. Westhoff. 1988. Food Microbiology 4th ed. Mc Gaw Hill
Publ. Co. Ltd., New York.
FumioY., Toshiaki, A., Yoshishiro, Y. and Hiroyuki, N. 2000. Antioxidative and
Anti-Glycation Activity of Garcinol from Garcinia indica Fruit Rind.
Journal of Agriculture and Food Chemistry, 48: 180-185.
Gritter, R. J., J. M. Bobbit and A. E. Schwarting. 1991. Pengantar Kromatografi,
ed 2, terjemahan Kosasih Padmawinata. Bandung: Penerbit ITB.
Handayani. 2007. Skrining kapang endofit penghasil antimikroba dari ranting
tanaman Garcinia tetrandra Pierre. terhadap Escherichia coli,
Staphylococcus aureus, Salmonella typhosa, Bacillus subtilis,
Pseudomonas aeruginosa, Candida albicans, dan Aspergilus niger.
Skripsi Sarjana Ekstensi Farmasi FMIPA UI, Depok: 27-29, 45-46.
Dalam : Rachmayani, 2008.
Harbottle H., Thakur, S., Zhao, S., dan White, D.G. 2006. Genetics of
Antimicrobial Resistance, Anim.Biotechnol, 17, 111-124
Hemshekhar. M, K. Sunitha. 2011. An Overview on Genus Garcinia:
Phytochemical and Therapeutical Aspects. Springer Science+Business
Media B.V
Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid III. Cetakan I. Badan
Penelitian dan Pengembangan Departemen Kehutanan. Jakarta, 13811390.
Houghton PJ, Raman. 1998. Laboratory Handbook for The Fractonation of
Natural Extract. Chapman & Hall. London.
Ismail, Sabariah. 2011. An Antimicrobial Compound Isolated from Cinnamomum
Iners Leaves with Activity against Methicillin- Resistant Staphylococcus
Aureus. Molecules Journal 1420-3049
Jauhari, Lendra Tantowi. 2010. Seleksi dan Identifikasi Kapang Endofit Penghasil
Antimikroba Penghambat Pertumbuhan Mikroba Patogen. [SKRIPSI],
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
56
Ciputat; Progam Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi,
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jawetz E, Melnick GE, dan Adelberg CA, 2005, Mikrobiologi kedokteran, Edisi
II, Diterjemahkan oleh dr. Nani Widorini, Jakarta, Salemba Medika
Pradono, D. I., Y.
Kharisma, Adnan dan Abdul Manan. 2012. Kelimpahan Bakteri Vibrio sp. Pada
Air Pembesaran Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Sebagai
Deteksi Dini Serangan Penyakit Vibrosis. Jurnal Ilmiah Perikanan dan
Kelautan V0l. 4 No.2.
Lukis PA, Ersam T. Dua senyawa mangostin dari ekstrak n-heksan pada kayu
akar manggis (Garcinia mangonstana Linn) asal Kab. Nganjuk Jawa
Timur. Prosiding Akhir Semester Genap 2010/2011 ; Kimia-FNIPA ITS.
Parker, R. 2000. Introduction of Plant Science. Delmar Publisher. Columbia.
Patil, B.P. 2005. Kokum, Brochure, Western Ghats Kokum Foundation, Goa.
Pertiwi N. 2010. Uji Akivitas Antibakteri dan Mekanisme Penghambatan Ekstrak
Air Campuran Daun Sirih (Piper betle L) dan Kapur Sirih (Ca(OH)2)
Terhadap Beberapa Bakteri Uji. [SKRIPSI], Ciputat; Progam Studi
Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Pertiwi, Sylvia T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Yogyakarta: Penerbit Erlangga.
R.Dodd, Christine, and Jones, 1982. Dorothy. A Numerical Taxonomic Study of
the Genus Shigella. Departemen of Microbiology, The University
Leceister 128.
Rachman, I. 2003. Sumber Koleksi Herbarium Bogoriense. Bidang Botani Pusat
Penelitian Biologi-LIPI. Bogor.
Radji, M. 2006. Penuntun Praktikum Mikrobiologi. Edisi 2. Departemen Farmasi
FMIPA, UI. Depok, Jawa Barat.
Ray, B. 2001. Fundamnental Food Microbiology 2nd ed. CRC Press. USA.
Ritiasa, Ketut. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta :
Departemen Kesehatan RI.
Rostinawati, T. 2010. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Bunga Rosella
(Hibiscus sabdariffa L.) Terhadap Escherichia coli, Salmonella typhi,
dan Staphylococcus aureus Dengan Metode Difusi Agar. Fakultas
Farmasi. Universitas Padjadjaran. Jatinangor.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
57
Saising, J.; Hiranat, A.; Mahabusarakam, W.; Ongsakul, M. & Voravuthikunchai,
S.P. 2008. Rhobdomyrtone from Rhadomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk.
as a Natural Antibiotic for Staphylococcus Cutaneous Infections.
Journal of Health Science, 54(5) 589-595.
Sari R, Hanan A, Garcinia (Clusiaceae) di Kebun Raya Bogor : fisiognomi,
keragaman dan potensi, Prosding Seminar Hari Cinta Puspa dan Satwa
Nasional; 5 November 2000; Kebun Raya Bogor.
Siswandono SB. 1995. Kimia Medisinal. Surabaya: Universitas Airlangga.
Smullen J. Koutsou GA, Foster HA, Zumbe A, Storey DM. 2007. The
Antibacterial Activity of Plant Extracts Containing Polyphenols Againat
Streptococcus mutans. 41:342-9
Soetarno S dan IS. Soediro. 1997. Standarisasi Mutu Simplisia dan Ekstrak Bajan
Obat Tradisional. Presidium Temu Ilmiah Nasional Bidang Farmasi.
Sosef, M. S. M., Hong, L. T. and Prawirohatmodjo, S. 1998. PROSEA (Plant
Resources of South East Asia) Timber Trees: Lesser – Known Timber.
Backhuys Publisher, Leyden. (3) 246-249.
Syahrurachman Agus dkk. 1994.Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Binarupa
Aksara.
Tan Hoan Tjay, Kirana Rahardja. 2002. Obat-obat Penting : Khasiat,
Penggunaan dan Efek-efek Sampingnya . Jakarta : PT. Gramedia. h. 488490.
Tenover, Fred C., 2006, Mechanisms of Antimicrobial Resistance in Bacteria. The
American Journal of Medicine, 119 (6A), S3–S10
Tim Mikrobiologi FK Unibraw. Bakteriologi Medik. Edisi Pertama. Malang:
Bayumedia Publishing, 2003
Tiwari, P. Kumar et al. 2011. Phytochemical Screening and Extraction: A Review.
Internationale Pharmaceutica Science, Vol. 1 Issue 1.
Todar, K. 2008. Staphylococcus aureus and Staphylococcus Disease. USA :
Winconsin, Madison.
Tortora, G. J., B. R. Funke, and C. L. Case. 2002. Microbiology : An Introduction.
Addison Wesley Longman, New York.
Valgas, Cleidson, Simone Machado de Souza, Elza F A Smania, Artur Smania Jr.
2006. Screening Methode to Determine Antibacterial Activity of Natural
Products. Brazilian Journal Microbiologi 38:369-380.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
58
Voigt, R, 1994, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi edisi 5, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Wahyu, Bobby Widiatmo, dkk. 2013. Efek Antimikroba Ekstrak Etanol Daun
Pepaya (Carica papaya L.) terhadap Bakteri Shigella dysenteriae Kode
Isolat 2312-F Secara In Vitro. Malang. Universitas Brawijaya.
Wijayakusuma, H.M. Hembing. 2000. Potensi Tumbuhan Obat Asli Indonesia
Sebagai Produk Kesehatan. Risalah Pertemuan Ilmiah Penelitian dan
Pengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi.
Zakiya, Kamila Muhamad. 2014. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Dan Fraksi
Daun Sintok (Cinnamomum sintoc Blume) Terhadap Staphylococcus
aureus dan Pseudomonas aeruginosa Serta Analisa Komponen Senyawa
Fraksi Aktif Dengan Kromatografi Gas-Spektrometri Massa. [SKRIPSI],
Ciputat; Progam Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
59
Lampiran 1. Hasil Determinasi Tanaman Garcinia benthami Pierre.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
60
Lampiran 2. Alur Penelitian
Studi literatur tumbuhan Garcinia benthami Pierre
Survei sampel Garcinia benthami
PPPPPPPPPPPierre
Kebun
Raya
Bogor
Pengumpulan sampel uji Garcinia
benthami Pierre & Determinasi
tanaman.
Penyiapan serbuk simplisia
Ekstraksi
(metode maserasi)

Sortasi

Pengeringan

Penghalusan simplisia
Serbuk simplisia
n-heksan
ampas
filtrat
Etil asetat
Ekstrak kental
filtrat
ampas
Pemeriksaan Kandungan Kimia Ekstrak
Garcinia Benthami Pierre
Metanol
Pemeriksaan Kadar Air Ekstrak Garcinia
Benthami Pierre
filtrat
Pengujian aktivitas antibakteri dengan
metode bioautografi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
ampas
61
Lampiran 3. Alur Kerja Persiapan Serbuk Simplisia
Pengumpulan sampel
(daun Garcinia
benthami) sebanyak 4kg.
Sortasi basah
menggunakan air
mengalir.
Penimbangan daun
kering didapatkan
1,552 kg
Pengeringan pada
suhu ruang selama
kurang lebih 10 hari.
Penghalusan simplisia
menggunakan blender.
Penimbangan serbuk
simplisia didapatkan
1,188 kg
Maserasi secara bertingkat
dari non polar sampai
polar.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
62
Lampiran 4. Langkah Kerja Maserasi Bertingkat
Serbuk simplisia
sebanyak 1,188 gram
n-heksan
Ampas
Maserat
Etil asetat
evaporator
Ekstrak
kental
Maserat
Ampas
Metanol
evaporator
Maserat
Ekstrak
kental
evaporator
Ekstrak
kental
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
63
Lampiran 5. Perhitungan Rendemen Ekstrak
Ekstrak n-heksana
Rendemen ekstrak (%)
Rendemen ekstrak (%)
Rendemen ekstrak (%) = 1,5004%
Ekstrak etil asetat
Rendemen ekstrak (%)
Rendemen ekstrak (%)
Rendemen ekstrak (%) = 6,8168%
Ekstrak metanol
Rendemen ekstrak (%) =
Rendemen ekstrak (%)
Rendemen ekstrak (%) = 6,877 %
Lampiran 6. Perhitungan Kadar Air Ekstrak
A. Perhitungan Kadar Air Ekstrak N-heksana
1. Kadar air ekstrak n-heksan
=
=
= 2,186%
2. Kadar air ekstrak n-heksan
=
=
= 1,596%
Rata-rata kadar air ekstrak n-heksan 1,891%
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
64
B. Perhitungan Kadar Air Ekstrak Etil Asetat
1. Kadar air ekstrak etil asetat
=
=
= 8,4 %
2. Kadar air ekstrak etil asetat
=
=
= 9%
Rata-rata kadar air ekstrak etil asetat 8,7%
C. Perhitungan Kadar Air Ekstrak Metanol
1. Kadar air ekstrak metanol
=
=
= 11,8%
2. Kadar air ekstrak metanol
=
=
= 8,1 %
Rata-rata kadar air ekstrak metanol 9,95%
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
65
Lampiran 7. Alur Kerja Penentuan Aktivitas Antimikroba Ekstrak Garcinia
benthami Pierre
A. Peremajaan Mikroba
Inkubasi selama
18-24 jam dengan
suhu 370C.
Biakan bakteri Staphylococcus
epidermidis, Bacillus subtilis
Shigella dysentri, Salmonella
thypi, Helicobacter pylori, dan
Pseudomonas aeruginosa.
Agar
miring
steril
B. Pembuatan Suspensi Mikroba
0,5 mL
0,5 mL
1 mL
Beberapa
ose
Biakan
mikroba
109
3 mL
NaCl 0,9%
108
4,5 mL
NaCl 0,9%
107
4,5 mL
NaCl 0,9%
106
9 mL
BHI
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
66
C. Persiapan Plat KLT Untuk Skrining
Larutan
ekstrak
n-heksan
5000ppm
atau
5 mg/mL
Larutan
ekstrak
etil asetat
5000ppm
Atau
5mg/mL
Larutan
ekstrak
metanol
5000ppm
atau
5mg/mL
Kontrol –
(nheksan)
Kontrol –
(etil
asetat)
Kontrol –
(metanol)
Kontrol +
Kloramfen
ikol
2000ppm
Atau
2mg/mL
10 µL
1
2
5
6
3
4
7
Keterangan : 1. Larutan ekstrak n-heksan
2. larutan ekstrak etil asetat
3. larutan ekstrak metanol
4. kontrol negatif n-heksan
5. kontrol negatif etil asetat
6. kontrol negatif metanol
7. kontrol positif kloramfenikol
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
67
D. Skrining Antibakteri
1
2
5
6
1
2
5
6
3
4
Suspensi
bakteri
7
3
4
Inkubasi 24 jam
suhu 370C
7
Plat KLT disemprot
dengan INT
Inkubasi selama 4 jam pada suhu
370C.
INT
Dilakukan pengamatan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
68
E. Uji Aktivitas Antibakteri dengan Metode Bioautografi Elusi
Larutan
ekstrak
etil
asetat
Plat KLT dielusi
menggunakan berbagai
perbandingan pelarut.
Plat KLT dicelupkan
kedalam cawan petri yang
berisi suspensi bakteri
selama 5 detik.
Dilakukan pengamatan dibawah
sinar uv dengan panjang
gelombang 254 dan diberikan
tanda menggunakan pensil untuk
setiap spot yang terlihat.
Plat
KLT
dimasukan
kedalam cawan petri yang
sudah berisi kapas steril
yang sudah dibasahi dengan
akuades. Inkubasi selama 24
jam pada suhu 370C.
Plat KLT disemprot dengan
INT, diinkubasi selama 4 jam.
Dilakukan pengamatan.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
69
Lampiran 8. Hasil pengukuran diameter zona hambat
Hasil pengukuran diameter zona hambat ekstrak n-heksana, etil asetat, dan
metanol terhadap bakteri S.epidermidis, B.subtilis, H.pylori, P.aeruginosa,
S.thypii, dan S.disenteriae.
Diameter Zona Hambat (mm)
S.epidermidis
Ekstrak
I
II
III
B.subtilis
Rata2
I
II
III
Rata2
NH
-
-
-
-
5,5
5,7
5.65
5,617
EA
5,675
5.975
4.850
5.50
9.1
14.65
10.15
11.3
ME
-
-
-
-
-
-
-
-
11.425
15.125
12.90
13.15
21.3
22.35
20.125
21.258
-
-
-
-
-
-
-
-
K-EA
-
-
-
-
-
-
-
-
K-ME
-
-
-
-
-
-
-
-
K+
(Kloramfenik
ol)
K- NH
Keterangan : NH = N-Heksan
K- NH = Kontrol Negatif N-Heksan
EA = Etil Asetat
K- EA = Kontrol Negartif Etil Asetat
ME = Metanol
K- ME = Kontrol Negatif Metanol
K+ Kloramfenikol = Kontrol Positif Kloramfenikol
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
70
Diameter Zona Hambat (mm)
H.pylori
Ekstrak
I
II
III
P.aeruginosa
Rata2
I
II
III
Rata2
NH
-
-
-
-
-
-
-
-
EA
10.3
25
-
9.3
8.5
9.375
10.2
10.5
9.92
10.207
-
-
-
8.5
7.45
7.3
7.75
25.5
19.65
21.817
28.775
27.7
56.8
37.758
-
-
-
-
-
-
-
ME
K+
20.3
(Kloramfenikol)
K- NH
K-EA
-
-
-
-
-
-
-
-
K-ME
-
-
-
-
-
-
-
-
Keterangan : NH = N-Heksan
K- NH = Kontrol Negatif N-Heksan
EA = Etil Asetat
K- EA = Kontrol Negartif Etil Asetat
ME = Metanol
K- ME = Kontrol Negatif Metanol
K+ Kloramfenikol = Kontrol Positif Kloramfenikol
Diameter Zona Hambat (mm)
Ekstrak
S.thypii
I
II
III
S.dysenteriae
Rata2
I
II
III
Rata2
NH
-
-
-
-
-
-
-
-
EA
7.5
10.6
8.425
8.842
7.65
7.7
6.9
7.417
ME
7.6
7.25
7.475
7.442
-
-
-
-
26.45
27.45
25.33
18.45
16.35
18.7
17.833
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
K+
22.1
(Kloramfenikol)
K- NH
K-EA
-
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
71
K-ME
-
-
-
-
Keterangan : NH = N-Heksan
-
-
-
-
K- NH = Kontrol Negatif N-Heksan
EA = Etil Asetat
K- EA = Kontrol Negartif Etil Asetat
ME = Metanol
K- ME = Kontrol Negatif Metanol
K+ Kloramfenikol = Kontrol Positif Kloramfeniko
Lampiran 9. Hasil Uji KLT Bioautografi
Ekstrak
Nilai Rf yang Menunjukkan Daerah Hambatan Terhadap Bakteri
S.epidermidis
100%
N:E
N:E
N:E
N:E
N:E
N:E
EA
(9:1)
(8:2)
(7:3)
(6:4)
(5:5)
(4:6)
Rf
EA
Ekstrak
0,78
Rf
Rf
Titik
Titik
0,08
penotolan penotolan
ekstrak
ekstrak
Rf
Rf
Rf
0,14
0,24
0,52
0,32
0,64
Nilai Rf yang Menunjukkan Daerah Hambatan Terhadap Bakteri
B.subtilis
100%
N:E
N:E
N:E
N:E
N:E
N:E
EA
(9:1)
(8:2)
(7:3)
(6:4)
(5:5)
(4:6)
Rf
EA
Rf
0,75
0,783
Rf
Rf
Rf
Titik
penotola
n
ekstrak
Titik
penotol
an
ekstrak
Titik
penotola
n
ekstrak
0,025
0,067
0,033
0,083
Rf
0,483
Rf
Titik
penotol
an
ekstrak
Rf
0,533
0,617
0,167
0.333
0,13
0,383
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
72
Ekstrak
EA
Nilai Rf yang Menunjukkan Daerah Hambatan Terhadap Bakteri
H.pylori
100%
N:E
N:E
N:E
N:E
N:E
N:E
EA
(9:1)
(8:2)
(7:3)
(6:4)
(5:5)
(4:6)
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
Titik
penotol
an
ekstrak
Titik
penotola
n
esktrak
Titik
penotol
an
esktrak
Titik
penotola
n
ekstrak
Titik
penotol
an
ekstrak
Titik
penotol
an
ekstrak
Ttik
penotola
n
esktrak
0,767
0,025
0,033
0,05
0,033
0,125
0,75
0,083
0,1167
0,125
0,208
0,808
0,33
0,208
0,417
0,883
0,358
0,383
0,6917
0,933
0,6
0,767
0,8
0,867
0,7
Nilai Rf yang Menunjukkan Daerah Hambatan Terhadap Bakteri
P.aeruginosa
Ekstrak 100% EA
N:E
N:E
N:E
N:E
N:
N:
(9:1)
(8:2)
(7:3)
(6:4)
E
E
(5:5) (4:6)
Rf
EA
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
Titik
Titik
Titik
Titik
Titik
0,24
penotolan penotolan penotolan penotolan penotolan
0,3
esktrak
ekstrak
ekstrak
ekstrak
ekstrak
0,38
0,12
0,6
0,72
0,16
0,7
0,78
0,4
0,76
0,1
0,08
0,12
0,08
0,54
0,56
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
73
Nilai Rf yang Menunjukkan Daerah Hambatan Terhadap Bakteri S.thypii
Ekstrak 100%
EA
N:E
(9:1)
Rf
Titik
penotolan
ekstrak
EA
N:E
(8:2)
N:E
(7:3)
N:E
(6:4)
N:E
(5:5)
N:E
(4:6)
Rf
Rf
Rf
Rf
Rf
RF
Titik
penotola
n
ekstrak
Titik
penotol
an
ekstrak
Titik
penotola
n ekstrak
Titik
penotola
n
ekstrak
Titik
penotola
n
ekstrak
Titik
penotolan
ekstrak
0,12
0,26
0,78
0,1
0,82
0,36
0,18
0,36
0,9
0,44
0,64
Nilai Rf yang Menunjukkan Daerah Hambatan Terhadap Bakteri
S.dysenteriae
Ekstrak 100%
N:E
N:E
N:E
N:E
N:E
N:E
EA
(9:1)
(8:2)
(7:3)
(6:4)
(5:5)
(4:6
Rf
EA
0,867
Rf
Titik
penotola
n
ekstrak
Rf
0,033
Rf
0,15
Rf
0,45
Rf
0,3
Rf
0,883
0,083
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
74
Lampiran 10. Identifikasi Bakteri dengan Pewarnaan Gram
Bacillus subtilis
Pewarnaan bakteri Gram positif
Perbesaran : 1000x
Morfologi : berbentuk batang
pendek.
Pseudomonas aeruginosa
Pewarnaan bakteri Gram negatif
Perbesaran 1000x
Morfologi : berbetuk tangkai
Staphylococcus epidermidis
Pewarnaan bakteri Gram positif
Perbesaran : 1000x
Morfologi : berbentuk bulat.
Helicobacter pylori
Pewarnaan bakteri Gram negatif
Perbesaran 1000x
Morfologi : berbentuk batang
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
75
Shigella dysenteriae
Pewarnaan bakteri Gram Negatif
Perbesaran 1000x
Morfologi : berbentuk batang
Salmonella thypii
Pewarnaan bakteri Gram Negatif
Perbesaran 1000x
Morfologi : berbentuk batang
Lampiran 11. Hasil Penapisan Fitokimia
No
Metabolit Sekunder
Ekstrak
N-heksan
Ekstrak Etil
Asetat
Ekstrak
Metanol
1
Flavonoid
-
-
+
2
Terpenoid
+
+
+
3
Saponin
-
+
+
4
Tannin
-
+
+
5
Alkaloid
-
-
-
6
Steroid
-
-
-
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
76
Metabolit
sekunder
Ekstrak N-heksan
Ekstrak Etil Asetat
Ekstrak Metanol
Flavonoid
Terpenoid
Saponin
Tannin
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
77
Alkaloid
Meyer
Dragendorf
Meyer
Dragendorf Meyer
Dragendorf
Steroid
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Download