DEMONSTRASI menentang pembangunan Pembangkit Listrik

advertisement
DEMONSTRASI menentang pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Muria terus
berlanjut. Unjukrasa besar-besaran dalam menentang proyek itu pernah terjadi sebulan lalu di Jakarta
terus berlanjut di tingkat lokal dilakukan oleh warga Desa Balong Kecamatan Kembang Jepara. Isu
yang diusung para pengunjukrasa di Jakarta antara lain trauma penyebaran radioaktif apabila terjadi
kecelakaan, dampak yang merusak terhadap lingkungan, sementara masih banyaknya energi alternatif
yang lebih ramah lingkungan yang dapat dimanfaatkan dan PLTN sebagai proyek yang
menguntungkan pihak-pihak yang berkepentingan. Unjukrasa yang dilakukan di Desa Balong lebih
menitikberatkan pada politik representasi persetujuan warga (katanya 60% warga menyetujui) terhadap
proyek PLTN Muria yang diklaim Kades Balong. Namun kenyataannya belum pernah dilakukan jajak
pendapat.
Pembangunan PLTN Muria yang kontroversial tersebut sebetulnya dapat dilihat dari berbagai dimensi.
Namun yang menarik untuk dilihat adalah dimensi ekonomi-politiknya yang sarat dengan berbagai
kepentingan. Pada awalnya dilontarkan wacana kelangkaan energi listrik di Jawa yang dilakukan oleh
para birokrat (pemerintah) dan teknokrat (BATAN) yang memprediksi bahwa pada tahun 2020 nanti
akan terjadi kelangkaan listrik. Karena energi listrik yang berbasis fosil seperti minyak dan gas bumi
sudah semakin menipis maka alternatif yang paling murah adalah PLTN. Kata mereka, nuklir dianggap
energi yang paling efisien karena 1 kg uranium setara dengan 3.000 ton batu bara atau 160 truk tanki
minyak diesel berkapasitas a 6.500 liter. PLTN Muria yang akan dibangun tersebut diharapkan akan
beroperasi pada tahun 2015 dan menghasilkan daya listrik sebesar 7.500 MW.
Politik wacana kelangkaan energi listrik inilah yang kemudian cenderung dijadikan alasan untuk
membenarkan kebutuhan PLTN, meskipun sebenarnya masih banyak energi alternatif yang tidak
merusak lingkungan seperti energi angin (kinetik), matahari, air, dll. Mungkin secara ekonomis
pengembangan teknologi pembangkit listrik alternatif tidak menguntungkan secara ekonomi bagi agenagen industri dibanding dengan PLTN. Ironisnya, di beberapa negara maju seperti Belanda, Jerman,
Swedia, Spanyol dan lainnya kebijakan nuklirnya adalah menghentikan pertambahan jumlah reaktor
nuklir, menutup sebagian dan mencari energi alternatif. Alasannya adalah teknologi nuklir sangat
berbahaya bagi lingkungan apabila terjadi kecelakaan seperti trauma mereka terhadap kecelakaan
Chernobyl (1986) yang kemudian memicu gerakan anti PLTN yang mengglobal termasuk gerakan
perempuan melawan nuklir.
Contoh kebijakan rencana penutupan PLTN-PLTN yang ada adalah di Jerman. Negara ini memiliki 17
reaktor PLTN, satu sudah selesai dibangun di kota Hamm tetapi karena gerakan protes anti nuklir
reaktor tersebut dibekukan dan kebijakan selanjutnya adalah menutup secara bertahap reaktor-reaktor
lainnya. Proses politik yang demokratis (terutama koalisi antara SPD dan Partai Hijau) telah mengubah
kebijakan energi nuklir di Jerman dengan ditandatanganinya secara resmi oleh pemerintah pada tahun
2001 tentang kesepakatan penghapusan secara bertahap PLTN-PLTN yang ada hingga memperoleh
sumber-sumber energi alternatif. Bersamaan dengan itu opini publik di Jerman terhadap kebutuhan
energi nuklir yang pernah dominan semakin menghilang.
Pertanyaannya adalah mengapa kebijakan di beberapa negara maju justru menutup secara bertahap
PLTN-PLTN yang ada dan mengembangkan energi alternatif yang ramah lingkungan sementara di
Indonesia justru gencar ingin membangun PLTN Muria?
Ini merupakan persoalan lebih dari sekadar (beyond) ilmu pengetahuan dan teknologi, sebab upaya
pembangunan PLTN sarat kepentingan ekonomi dan politik. Energi nuklir dalam praktiknya menjadi
bisnis yang menguntungkan pihak-pihak negara maju, produsen, teknokrat, birokrat, perusahaan,
komprador (agen lokal tetapi pembela kepentingan asing karena profit) dan lainnya, yang menjelma
dalam bentuk kelembagaan nuclear industrial complex. Artinya, kebutuhan akan energi nuklir memang
harus diciptakan melalui politik simulasi media agar timbul permintaan pembangunan PLTN. Sehingga
muncul opini publik kebutuhan energi nuklir dan hal itu menjadi legitimasi pengambilan kebijakan
pengembangan PLTN oleh pemerintah. Seluruh mekanisme industrial ini berujung pada pencapaian
profit.
Maka secara sederhana dapat dikatakan bahwa program PLTN Muria sedang terjebak dalam tesis
nuclear industrial complex. Buktinya, demonstrasi-demonstrasi berskala kecil hingga besar terus saja
terjadi namun pemerintah sebagai pengambil kebijakan kurang merespons. Bahkan para birokrat di
tingkat pusat (Menristek dan lainnya) serta lokal (kasus Kades Balong), ahli-ahli nuklir (BATAN)
cenderung berperan sebagai komprador yang membela kepentingan ekspansi industri nuklir di tanah air
(dalam hal ini Korea Hydro Nuclear Power Co LTD (KHNP)) dan senjata politik mereka adalah upaya
sosialisasi proyek PLTN dan bukannya langkah negosiasi dengan para pemrotes.
Dengan demikian kalau proyek PLTN Muria jadi dibangun sebetulnya cacat secara politis karena
mengabaikan suara pemrotes. Demokrasi bukan hanya memberi ruang dan membiarkan para pemrotes
beraksi tetapi mengambil kebijakan secara komunikatif dan proporsional. Seyogyanya proyek PLTN
Muria dihentikan saja agar tidak menuai kontroversi sosial-politik dan menghindari risiko bencana
karena budaya kedisiplinan kita terhadap high tech yang masih rendah. (Penulis adalah Dosen Fisipol
UGM dan Peneliti Senior IRE)
Download