naskah publikasi hubungan antara persepsi terhadap perlakuan

advertisement
1
NASKAH PUBLIKASI
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP
PERLAKUAN ORANGTUA DENGAN SELF ESTEEM
DISUSUN OLEH:
HERAWATI SETIANINGSIH OKTAVIANTI
IRWAN NURYANA KURNIAWAN
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2007
2
NASKAH PUBLIKASI
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP PERLAKUAN
ORANGTUA DENGAN SELF ESTEEM
Telah Disetujui Pada Tanggal
Dosen Pembimbing Utama
(Irwan Nuryana Kurniawan, S.Psi., M.Si)
3
Hubungan Antara Persepsi Terhadap Perlakuan Orangtua
Dengan Self Esteem
Herawati Setianingsih Oktavianti
Irwan Nuryana Kurniawan
Intisari
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi terhadap
perlakuan orangtua dengan self esteem pada anak. Persepsi terhadap perlakuan
orangtua dibedakan menjadi persepsi terhadap perlakuan ayah dan persepsi
terhadap perlakuan ibu. Hipotesis yang diajukan adalah ada korelasi positif antara
persepsi terhadap perlakuan orangtua dengan self esteem anak.
Subyek penelitian ini berjumlah 65 anak yang merupakan siswa-siswi Sekolah
Dasar Terpadu Ma’arif Gunung Pring kelas V dan VI. Adapun skala yang
digunakan adalah skala self esteem dan skala persepsi terhadap perlakuan
orangtua yang dibedakan menjadi persepsi terhadap perlakuan ayah dan persepsi
terhadap perlakuan ibu. Skala self esteem diadopsi dari LAWSEQ Self EsteemQuestionnaire (dalam http :// www. Users .globalnet .co.uk /˜ ebdstudy /strategy/
Lawseq.htm) sedangkan skala persepsi terhadap perlakuan orangtua diadopsi dari
skala persepsi terhadap perlakuan orangtua oleh Fatiasari (2003). Masing-masing
skala terdiri dari 15 aitem.
Data yang diperoleh dari penelitian ini dianalisis dengan korelasi Product
moment namun karena hasilnya tidak normal dan tidak linear maka analisis yang
digunakan adalah korelasi parametrik Spearman. Hasil yang diperoleh dari
persepsi terhadap perlakuan ayah adalah r = 0,065, p>0,01 dan persepsi terhadap
perlakuan ibu r = -0,01, p>0,01 perlakuan. Dari hasil tersebut berarti tidak ada
hubungan yang signifikan antara perepsi terhadap perlakuan orangtua dengan self
esteem anak.
Kata kunci: persepsi terhadap perlakuan orangtua, self esteem
4
PENDAHULUAN
Self esteem merupakan modal manusia untuk menakar keberadaan dirinya.
Melalui self esteem, manusia melihat dan bercermin serta menilai dirinya. Melalui
self esteem pula dapat menghargai diri sendiri dan orang lain. Self esteem juga
mengandung arti suatu hasil penilaian individu terhadap dirinya yang
diungkapkan dalam sikap-sikap dapat bersifat positif atau negatif. Bagaimana
seorang anak menilai dirinya akan mempengaruhi prilaku dalam kehidupan
sehari-hari.
Dalam proses pertumbuhan dan proses kehidupan, ternyata tidak mudah dalam
membentuk self esteem yang positif, karena mungkin mempunyai pandangan yang
tidak menyenangkan terhadap diri sendiri karena pengaruh komentar temanteman, orangtua, saudara atau orang lain. Self esteem yang hakiki seperti
kejujuran, tanggung jawab, kebaikan hati, cinta kepada Tuhan dan sesama
manusia, kebenaran dan pengabdian kepada Tuhan. Self esteem yang didasarkan
pada nilai kejujuran akan mampu memberikan penerimaan yang tulus tentang
keadaan dirinya, baik kemampuan maupun kekurangan yang dimiliki. Karena
setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, sekarang ini sangat
banyak manusia yang salah kaprah dalam menilai self esteemnya. Misalnya
banyak manusia yang menyandarkan self esteemnya pada kecantikan dan
ketampanan fisik, kekayaan dan kecerdasan semata. Pandangan tersebut
diantaranya sebagai akibat dari tayangan televisi, yang sekarang ini lebih
didominasi oleh kecantikan dan ketampanan serta kekayaan. Hal tersebut
mengakibatkan seseorang tidak puas dan risau dengan fisik yang kurang
5
sempurna. Orang merasa tidak berharga karena buruk rupa, miskin, dan bodoh.
Fenomena-fenomena tersebut bahkan sudah menjalar di kalangan anak-anak.
Hanya karena ingin tampil cantik di depan teman-temannya, anak-anak sekolah
dasar sudah memakai make up misalnya bedak dan body lotion padahal belum
waktunya. Mereka takut jika ada teman-temannya yang mengatakan jelek si anak
tersebut menjadi minder atau kurang percaya diri. Seorang anak suka menggoda
temannya atau membuat ulah sehingga mendapat perhatian dari orang lain dan
merasa jika telah mendapat perhatian dari orang lain dirinya berharga dan
kehadirannya dibutuhkan orang lain. Bahkan banyak terjadi siswa sekolah dasar
laki-laki berkelahi dengan temannya hanya karena tersinggung oleh ejekan
temannya yang dianggapnya merendahkan dirinya sehingga ia nekat menyerang
agar dianggap pemberani dan untuk membuktikan kepada teman-temannya kalau
dirinya sebenarnya mempunyai kemampuan yang dapat dihargai dan dirinya
berguna. Contoh-contoh tersebut membuktikan bahwa anak-anak yang tidak
memiliki kecantikan dan ketampanan, kekayaan, dan kecerdasan mereka
melakukan tindakan-tindakan yang negatif karena ingin diperhatikan oleh orang
lain. Sebaliknya jika anak memiliki self esteem yang positif maka akan
membangkitkan rasa percaya diri, penghargaan diri, rasa yakin akan
kemampuannya sendiri dan rasa berguna serta rasa bahwa kehadirannya
diperlukan di dunia ini.
Penelitian yang dilakukan oleh Brown (dalam e-psikologi, 2000) mengatakan
bahwa self esteem anak usia 11-12 tahun ternyata memiliki korelasi yang kuat
dengan hasil persepsi mereka terhadap aspek yang terkait dalam hubungan
6
komunikasi orangtua-anak. Dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki self
esteem stabil, anak-anak dengan self esteem yang tidak stabil dilaporkan bahwa
orang tua mereka ternyata suka mengkritik, mengontrol secara berlebihan dan
kurang menghargai perilaku-perilaku positif yang dilakukan anaknya.
Melihat dari contoh-contoh yang telah dikemukakan di atas, lingkungan sosial
cenderung
membentuk
anak-anak
dengan
menghadapkan
pada
aneka
pembelajaran instan, bahkan mengarah pada kekerasan dan pemaksaan sebagai
cara yang dipandang efektif dalam memecahkan masalah. Seperti telah
dikemukakan di atas bahwa self esteem seseorang telah terbentuk sejak kecil.
Untuk itu selayaknya ditanamkan self esteem yang kuat pada anak-anak sejak
kecil pula agar anak kelak dapat menghadapi segala tekanan di lingkungan sosial.
Anak itu harapan masa depan. Karenanya, mereka perlu dipersiapkan agar kelak
menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, sehat, bermoral dan berguna bagi
masyarakat. Untuk itu perlu dipersiapkan sejak dini yaitu sejak dalam kandungan
melalui perlakuan yang baik. Di sini peran orangtua sangat diperlukan. Dimana
keluarga
merupakan
lembaga
pertama
yang
sangat
berpengaruh
bagi
perkembangan anak sehingga sebelum terjun ke lingkungan sosial anak perlu
diberi bekal agar tidak terpengaruh dan mampu menghadapi segala tekanan di
lingkungan sosial. Hal itu sesuai dengan yang dikemukakan oleh Kartono
(Yuniyati, 2003) keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak,
tempat anak belajar dan menyatakan dirinya sebagai makhluk sosial. Keluarga
memberikan dasar pembentukan tingkah laku, watak, moral dan pendidikan pada
anak.
7
Telah dipaparkan di atas bahwa keluarga sebagai peletak dasar dalam
pembentukan pribadi anak berarti keluarga mempunyai kedudukan yang sangat
penting. Namun demikian sampai sejauh mana hal tersebut telah dilaksanakan
oleh keluarga kiranya masih perlu dikaji lebih jauh. Salah satu segi yang perlu
dikaji adalah bagaimana perlakuan orangtua terhadap anak dan bagaimana
persepsi anak terhadap perlakuan orangtua. Perlakuan orangtua terhadap anak
akan mempunyai pengaruh terhadap pribadi anak, khususnya berkaitan dengan
self esteem anak. Apapun yang dilakukan oleh orangtua akan sangat berpengaruh
terhadap pembentukan kepribadian anak, termasuk self esteemnya. Karena itu
sikap dan perlakuan orangtua terhadap anak akan sangat berpengaruh terhadap
pembentukan self esteem anak. Bila orangtua bersikap baik terhadap anak, hal
tersebut akan sangat membantu terbentuknya self esteem anak yang positif,
demikian pula sebaliknya. Namun demikian hal tersebut sering tidak dimengerti
atau tidak disadari oleh orangtua.
Berdasarkan dari uraian di atas jelas bahwa sebagai lembaga pertama yang
berpengaruh bagi perkembangan anak, orangtua atau keluarga mempunyai peran
yang sangat penting dalam pembentukan self esteem yang positif pada anak.
Untuk itu perlakuan orangtua sangat berpengaruh pada self esteem anak.
Kepribadian sebagai salah satu aspek penting dari setiap individu mempunyai
arti yang sangat berharga. Self esteem merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi perilaku seseorang. Branshaw (1981 dalam Handayani, 1997)
menyatakan bahwa self esteem merupakan penilaian seseorang terhadap dirinya
sendiri. Menurut Coopersmith (1967) self esteem merupakan suatu hasil dari
8
penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri. Penilaian ini dipengaruhi oleh sikap
penghargaan dan penerimaan orang lain terhadap individu yang diterima melalui
interaksi sosialnya (Bee,1981 dalam Lestari, 1995).
Hurlock (1996) mengatakan bahwa self esteem terbentuk pada masa kanakkanak dan di masa remaja self esteem akan mengalami kemapanan. Perkembangan
self esteem ini bermula terhadap dirinya sendiri kemudian berkembang atas dasar
nilai yang dipelajari dari interaksinya dengan individu lain.
Seiring dengan bertambahnya usia, anak mulai mengadakan kontak sosial
dengan lingkungan yang luas. Melalui pengalaman melakukan interaksi ini anak
akan mengembangkan gambaran dirinya melalui sikap dan respon orang lain
terhadap dirinya (Koentjara, 1989). Selain itu dengan bertambahnya usia, anak
mulai dapat mengembangkan sistem kognitifnya, yaitu kepercayaan diri dan cara
individu membuat kerangka penilaian dirinya, sehingga self esteem pada saat
selanjutnya akan ditentukan oleh faktor kognitif di samping faktor afektif (Pelham
dan Swann dalam Lestari, 1995).
Coopersmith (1967, dalam Berns, 2003) menjelaskan hal-hal yang dapat
menaikkan self esteem seseorang adalah dengan keberhasilan yang diperoleh
selama dirinya berinteraksi dengan lingkungan. Keberhasilan itu sendiri meliputi
aspek-aspek berikut, yaitu:
a. Power yaitu kamampuan untuk bisa mengatur dan mengontrol tingkah laku
orang lain yang didasarkan oleh adanya pengakuan dan rasa hormat yang
diterima individu dari orang lain.
9
b. Significance yaitu kepedulian, perhatian dan afeksi yang diterima individu dari
orang lain yang mengindikasikan penerimaan dan popularitas individu di
lingkungan sosialnya.
c. Virtue yaitu adanya suatu ketaatan untuk mengikuti standar moral dan etika
dimana individu akan menjauhi tingkah laku yang harus dihindari dan
melakukan tingkah laku yang dibolehkan atau diharuskan untuk moral, etika
dan agama.
d. Competence. Aspek ini menunjukkan adanya suatu kemampuan untuk sukses
memenuhi tuntunan prestasi yang ditandai dengan keberhasilan individu
dalam mengerjakan tugas dengan baik.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi self esteem dapat dibedakan menjadi
dua faktor yaitu dari dalam diri individu sendiri (internal) dan faktor yang berasal
dari luar individu (eksternal), antara lain a) Keadaan psikologi individu b)
Lingkungan keluarga c). Lingkungan sosial d) Jenis kelamin.
Menurut Hurlock (1973) orangtua adalah orang dewasa yang membimbing
perkembangan anak ke tahap perkembangan selanjutnya, yaitu masa dewasa.
Tugas orangtua adalah melengkapi dan mempersiapkan anak menuju ke masa
dewasa dengan memberikan bimbingan dan pengarahan yang dapat membantu
anak dalam menjalani kehidupan.
Persepsi menurut Young (1956 dalam Nasichah, 2002) menunjukkan adanya
suatu aktivitas dari mengidera, menginterpretasi dan memberi penilaian terhadap
obyek-obyek fisik maupun sosial
10
Persepsi merupakan pandangan, pengamatan atau tanggapan individu terhadap
benda, kejadian, tingkah laku manusia atau hal-hal lain yang ditemuinya seharihari (Crow dan Crow, 1976).
Perlakuan orangtua adalah cara orangtua memperlakukan anak dan sikap
orangtua terhadap anak. Jika perlakuan orangtua menguntungkan, maka
membentuk hubungan orangtua-anak yang baik. Perlakuan orangtua juga dapat
berarti cara orangtua memberikan penghargaan dan hukuman terhadap anak.
(Hurlock, 1978).
Perlakuan orangtua ini bisa terbentuk dari hasil interaksi antara anak dengan
orangtuanya. Dalam interaksi masing-masing saling mempengaruhi satu dengan
yang lain, masing-masing saling memberikan stimulus dan respon (Marx,1976:
Young,1956 dalam Walgito 1990). Dengan interaksi antara anak dengan orangtua
maka akan terbentuk gambaran-gambaran tertentu pada masing-masing pihak.
Dengan demikian anak mempunyai gambaran-gambaran tertentu mengenai
orangtuanya terutama sikap dan cara orangtua memperlakukan anak atau
sebaliknya dengan interaksi tersebut orangtua mempunyai gambaran mengenai
sikap anak. Hal serupa juga dikemukakan oleh Hurlock (1973) yang menyatakan
bahwa sikap orangtua mempengaruhi cara mereka memperlakukan anak dan
perlakuan mereka terhadap anak akan mempengaruhi sikap dan perilaku anak
terhadap mereka.
Mengenai hubungan antara persepsi terhadap perlakuan orangtua dengan self
esteem dikatakan orangtua dituntut agar bisa membimbing dan mengarahkan anak
dengan baik karena anak mulai mengadakan hubungan langsung dengan
11
lingkungan pertama-tama adalah lingkungan keluarga terutama orangtua.
Keluarga merupakan lingkungan sosial yang pertama-tama bagi anak (Walgito,
1984). Dalam lingkungan keluargalah anak mulai mengadakan persepsi baik
mengenai hal-hal di luar dirinya maupun mengenai dirinya sendiri. Dalam
keluargalah anak mulai terbentuk self esteemnya. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa lingkungan keluarga, terutama orangtua mempunyai peran
yang sangat penting dalam rangka pembentukan self esteem anak. (Buss,1978;
Coopersmith, 1967).
Menurut Johnson dan Medinus (1974) dalam melihat hubungan anak dengan
orangtua dilihat dari dua arah yang terpisah satu dengan yang lain, yaitu dari segi
penerimaan-penolakan (acceptance-rejection) dan otonomi-kontrol (autonomycontrol). Pendapat ini senada dengan yang dikemukakan oleh Hetherington dan
Parke (1977) yaitu warmth hostility dan restrictiveness-permissiveness.
Penerimaan-penolakan (acceptance-rejection) berkaitan dengan kehangatan
dan penolakan orangtua terhadap anak, ini merupakan aspek hubungan emosional.
Pada
aspek
ini
orangtua
sangat
memperhatikan
perkembangan
dan
memperhitungkan minat anak. Dengan sikap orangtua yang demikian membuat
self esteem anak meningkat karena anak merasa kehadirannya dibutuhkan,
diterima dan anak juga merasa dirinya dihargai. Sebaliknya pada aspek penolakan,
antara orangtua dengan anak ada sikap bermusuhan, orangtua terlalu banyak
menuntut dan orangtua kurang memperhatikan kesejahteraan anak. Sikap orangtua
yang demikian menyebabkan anak merasa dirinya ditolak kehadirannya dan
12
merasa bahwa dalam dirinya tidak ada yang berharga sehingga menumbuhkan self
esteem yang negatif.
Aspek otonomi-kontrol atau restrictiveness-permissiveness mencerminkan
hubungan orangtua dengan anak dalam kaitannya dengan pemberian atau
penanaman disiplin pada anak. Dalam suasana otonomi atau permisif orangtua
memberikan kontrol kepada anak. Jika perlakuan permisif tidak berlebihan dapat
meningkatkan self esteem anak, karena dengan anak merasa dirinya berharga di
depan orangtuanya. Pada kontrol/ restrictiveness orangtua sangat ketat
memberikan kontrol kepada anak-anaknya.Anak harus tunduk dengan orangtua.
Sikap orangtua yang terlalu mengontrol anak ini menyebabkan self esteem anak
kurang percaya diri karena setiap perilakunya harus sesuai dengan orangtuanya
sehingga anak merasa dirinya tidak mempunyai kemampuan. Perlakuan orangtua
yang demikian menyebabkan self esteem anak yang negatif.
HIPOTESIS
Ada korelasi positif antara persepsi perlakuan orangtua dengan self esteem.
Semakin positif persepsi anak terhadap perlakuan orangtua, maka semakin positif
self esteem anak. Sebaliknya, semakin negatif persepsi anak terhadap perlakuan
orangtua maka semakin negatif self esteem anak.
13
METODE PENELITIAN
Subyek penelitian ini adalah anak-anak usia 9-13 tahun yang merupakan
siswa-siswi kelas 5 dan 6 SD Terpadu Ma’arif Gunungpring, Muntilan, Magelang.
Jumlah subyek 65 anak.
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala. Skala
yang digunakan pada penelitian ada dua yaitu skala self esteem dan skala persepsi
terhadap perlakuan orangtua. Skala self esteem disusun peneliti berdasarkan dari
LAWSEQ Self Esteem (dalam http :// www. Users. Globalnet. Co.uk/˜ ebdstudy
/strategy/Lawseq.htm) dan skala persepsi terhadap perlakuan orangtua diadopsi
dari skala persepsi terhadap perlakuan orangtua oleh Fatiasari (2003). Walaupun
awalnya skala LAWSEQ Self Esteem Questionnairre terdiri dari 22 aitem dan
persepsi terhadap perlakuan orangtua 48 aitem namun masing-masing skala hanya
diambil 15 aitem. Pada persepsi terhadap perlakuan orangtua aitem yang diambil
hanya aitem yang favourabel saja.
Skala persepsi terhadap perlakuan orangtua disusun mencakup aspek-aspek
kehangatan dan rasa aman, kemampuan menahan kemarahan dan permusuhan,
dan responsif. Distribusi nomor aitem skala persepsi terhadap perlakuan orangtua
yang terdiri dari persepsi terhadap perlakuan ayah dan persepsi terhadap
perlakuan ibu dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 1
Distribusi Nomor Aitem Skala 2
Aspek
1. Kehangatan dan rasa aman
2. Kemampuan menahan kemarahan dan
permusuhan
3. Responsif
Total
Nomor Butir
1,3,8,9,15
4,6,7,12,13
Jumlah
5
5
2,5,10,11,14
5
15
14
Skala self esteem ini terdiri dari 15 pertanyaan. Penilaian pada skala self
esteem dilakukan dengan menjumlahkan skor yang diperoleh subyek pada setiap
aitem yang dijawab. Pada aitem nomor 4,7,9 jika subyek menjawab tidak maka
mendapat nilai 2, namun jika menjawab ya mendapat nilai 1. Sebaliknya, jika
pada nomor 1,2,3,5,6,8,10,11,12,13,14,15 subyek menjawab tidak maka mendapat
nilai 1 namun jika menjawab ya mendapata nilai 2. Semakin banyak skor yang
diperoleh subyek maka semakin positif self esteemnya, sebaliknya semakin sedikit
skor yang diperoleh subyek maka semakin negatif self esteemnya.
Skala persepsi terhadap perlakuan ayah dan persepsi terhadap perlakuan ibu
terdiri dari 15 pernyataan. Aitem-aitem dalam skala disusun dengan menggunakan
tiga alternatif jawaban yaitu sering (S), jarang (JR), atau tidak pernah (TP). Skor
total subyek diperoleh dengan cara menjumlahkan skor seluruh aitem pada skala
ini. Skor yang diberikan adalah untuk jawaban sering (S) mendapat skor 3, untuk
jawaban jarang (JR) mendapat skor 2 dan untuk jawaban tidak pernah mendapat
skor 1. Semakin tinggi skor total yang diperoleh subyek maka semakin positif
persepsi subyek terhadap perlakuan orangtua dan sebaliknya semakin rendah skor
total yang diperoleh subyek maka semakin negative persepsi anak terhadap
perlakuan orangtua.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik
korelasi product moment dari Pearson untuk mengetahui hubungan antara persepsi
terhadap perlakuan orangtua dengan self esteem anak dengan bantuan program
SPSS 11.5 for windows.
15
HASIL
Berdasarkan deskripsi statistik data penelitian pada skala persepsi terhadap
perlakuan yang dibedakan menjadi persepsi terhadap perlakuan ayah dan persepsi
terhadap perlakuan ibu dan skala self esteem dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 2
Deskripsi Statistik Data Penelitian
Skor X
Variabel Yang Dimungkinkan (Hipotetik)
Xmax Xmin Mean SD
Persepsi
45
15
30
5
thd Perlk.
Ayah
Persepsi
thd
45
15
30
5
Perlakuan
Ibu
Self
30
15
22,5
2,5
Esteem
Skor X
Yang Diperoleh (Empirik)
Xmax Xmin Mean SD
43
23
34,8
4,8
45
22
36,7
5,5
22
14
21,2
1,5
Subyek dalam penelitian ini digolongkan menjadi lima kategori (Azwar, 2002)
yaitu sangat positif, positif, sedang, negatif dan sangat negatif. Untuk mengetahui
keadaan kelompok subyek penelitian berdasarkan sebaran hipotetik dari skor skala
persepsi terhadap perlakuan orangtua yang dibedakan menjadi persepsi terhadap
perlakuan ayah dan persepsi terhadap perlakuan ibu, maka dapat dilihat pada tabel
berikut:
Tabel 3
Kriteria Kategorisasi Skala Persepsi Terhadap Perlakuan Ayah
Kategori
Skor
Jumlah
X < 21
Sangat negatif
0
21 = X = 27
Negatif
7
27 < X = 33
Sedang
15
33 < X = 39
Positif
36
X > 39
Sangat Positif
7
Prosentase
0%
10,76 %
23,07 %
55,38 %
10,76 %
16
Tabel 4
Kriteria Kategorisasi Skala Persepsi Terhadap Perlakuan Ibu
Kategori
Skor
Jumlah
X < 21
Sangat negative
0
21 = X = 27
Negatif
5
27 < X = 33
Sedang
14
33 < X = 39
Positif
21
X > 39
Sangat Positif
25
Prosentase
0%
7,69 %
21,53 %
32,3 %
38,46 %
Tabel 5
Kriteria Kategorisasi Skala Self Esteem
Kategori
Skor
X < 13,21
Sangat negative
13,21 = X = 15,41
Negatif
15,41 < X = 17,59
Sedang
17,59 < X = 19,79
Positif
X > 19,79
Sangat Positif
Prosentase
0%
3,07 %
0%
6,15 %
90,76 %
Jumlah
0
2
0
4
59
Dari tabel di atas, didapat bahwa subyek penelitian pada skala persepsi
terhadap perlakuan ayah berada dalam kategori positif dengan rentang 33 < X =
39 pada taraf 55,38%, persepsi terhadap perlakuan ibu berada dalam kategori
positif dan sangat positif. Dengan rentang 33 < X = 39 untuk positif dan rentang X
> 39 untuk sangat positif. Pada kategori positif tarafnya sebesar 32,3% dan pada
kategori sangat positif tarafnya sebesar 38,46%. Sedangkan pada self esteem
berada pada kategori sangat positif dengan rentang X > 19,79 sebesar 90,76%.
Uji Asumsi
a. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan teknik One Sample
Kolmogorof-Smirnov. Variabel persepsi terhadap perlakuan orangtua yang
dibedakan menjadi dua, pada persepsi terhadap perlakuan ayah menunjukkan KSZ = 1,287; p = 0,073 (p>0,05) dan persepsi terhadap perlakuan ibu K-SZ =
17
0,839; p = 0,482 (p>0,05). Variabel self esteem menunjukkan K-SZ = 2,677; p =
0,000 (p<0,000). Hasil uji normalitas ini menunjukkan bahwa skor subyek pada
alat ukur persepsi terhadap perilaku orangtua yang terdiri dari persepsi terhadap
perlakuan ayah dan persepsi terhadap perlakuan ibu memiliki sebaran normal
sedangkan pada alat ukur self esteem memiliki sebaran tidak normal.
b. Uji Linearitas.
Uji linearitas persepsi terhadap perlakuan ibu dengan self esteem dilihat dari
Deviation from Linearity diperoleh F = 0,390 dan p = 0,815 (p>0,05) ,sedangkan
jika dilihat dari linearity diperoleh F = 0,044 dan p = 0,834 (p>0,01) sehingga
hasilnya tidak linear. Uji linearitas persepsi terhadap perlakuan ibu dengan self
esteem dilihat dari Deviation from Linearity diperoleh F = 0,089 dan p = 986 (p>
0,05), sedangkan dilihat dari linearity diperoleh F = 0,033 dan p = 0,857 (p>0,01)
sehingga hasil linearitas ini menunjukkan bahwa antara persepsi terhadap
perlakuan orangtua yang dibedakan persepsi terhadap perlakuan ayah dan persepsi
terhadap perlakuan ibu dengan self esteem tidak linear, sehingga analisis data
yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis non parametrik dari Spearman.
Uji Hipotesis
Hipotesis yang diajukan oleh peneliti adalah adanya hubungan positif antara
persepsi terhadap perlakuan orangtua yang dibedakan persepsi terhadap perlakuan
ayah dan persepsi terhadap perlakuan ibu dengan self esteem. Analisis ini
dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi non parametrik dari Spearman
yang hasilnya dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:
Tabel 6
Korelasi Persepsi terhadap Perlakuan Orangtua dengan Self Esteem
18
Perlakuan Ayah
Perlakuan Ibu
Self Esteem
Perlakuan Ayah
Perlakuan Ibu
Self Esteem
1
0,524
0,099
0,524
1
-0,01
0,099
-0,01
1
Hasil analisis yang telah dilakukan dengan bantuan program SPSS versi 11.5
for windows diperoleh hasil bahwa koefisien korelasi (r antara persepsi terhadap
perlakuan orangtua yang dibedakan persepsi terhadap perlakuan ayah dan persepsi
terhadap perlakuan ibu dengan self esteem sebesar 0,065 dan -0,01. Angka
tersebut menunjukkan tidak adanya korelasi antara persepsi terhadap perlakuan
orangtua dengan self esteem (di bawah 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tidak
ada hubungan antara persepsi terhadap perlakuan orangtua dengan self esteem.
Dengan demikian hipotesis yang diajukan oleh peneliti ditolak.
PEMBAHASAN
Awalnya penelitian ini akan menggunakan analisis data dengan teknik korelasi
parametrik dari pearson namun karena hasilnya tidak normal dan tidak linear
maka teknik analisis datanya menggunakan teknik korelasi Spearman. Hasilnya
menunjukkan bahwa tidak ada korelasi signifikan persepsi terhadap perlakuan
orangtua yang dibedakan persepsi terhadap perlakuan ayah dan perlakuan ibu
dengan self esteem. Persepsi terhadap perlakuan ayah menunjukkan hasil r =
0,099, p>0,01 dan persepsi terhadap perlakuan ibu menunjukkan r = -0,01,
p>0,01. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kedua variabel tidak memenuhi syarat
korelasi. Tidak adanya korelasi kedua variabel tersebut dikarenakan subyek pada
penelitian ini adalah anak-anak usia 9-13 tahun. Pada usia tersebut, kemampuan
19
verbalnya masih kurang padahal padahal pada penelitian ini metode yang
digunakan adalah metode angket. Anak-anak disuruh mengisi angket yang
diberikan dan saat itu juga harus segera diisi sehingga waktu anak untuk berpikir
kurang. Selain itu, waktu anak bersama orangtua sangat sedikit karena subyek
banyak mengikuti ekstrakurikuler sehingga waktunya lebih banyak dihabiskan
oleh teman-temannya. Akibatnya pengaruh orangtua terhadap dirinya berkurang.
Bee (1981) mengatakan bahwa self esteem merupakan hasil penilaian
seseorang terhadap dirinya sendiri. Penilaian diri ini dipengaruhi oleh sikap
penghargaan dan penerimaan orang lain terhadap individu yang diterima melalui
interaksi sosialnya. Hal ini menunjukkan bahwa yang mempengaruhi positif atau
negatifnya self esteem seseorang dari interaksi sosialnya. Kondisi subyek yang
telah menginjak usia 10 tahun ke atas, maka interaksi sosialnya tidak hanya dari
orangtua saja melainkan lingkungan sosial misalnya teman sebaya, tetangga,
sekolah dan guru. Dengan kondisi tersebut maka pengaruh orangtua sangat sedikit
apalagi telah dipaparkan di atas bahwa waktu subyek dengan orangtuanya sangat
sedikit karena banyaknya kegiatan ekstrakurikuler yang harus diikuti subyek.
Dengan kegiatan tersebut, waktu subyek lebih banyak dihabiskan oleh temanteman sebayanya. Melalui teman sebaya tersebut pula anak-anak mengevaluasi
apa yang mereka lakukan dalam arti apakah yang mereka lakukan lebih baik dari
teman-temannya atau tidak karena hal tersebut sulit dilakukan di rumah selain itu
mereka ingin diakui dan dianggap berharga bahkan ingin populer di kalangan
teman sebayanya, dengan dianggap populer mereka merasa percaya diri sehingga
mempunyai self esteem yang positif.
20
Dengan bertambahnya usia, anak mulai dapat mengembangkan sistem
kognitifnya, yaitu kepercayaan diri dan cara individu membuat kerangka penilaian
dirinya, sehingga self esteem selanjutnya akan ditentukan oleh faktor kognitif di
samping faktor afektifnya (Pelham dan Swann dalam Lestari, 1995). Untuk dapat
mengembangkan sistem kognitifnya tersebut, anak membutuhkan lingkungan
sosial yang lebih luas misalnya sekolah atau lingkungan dengan teman sebayanya.
Dalam tahap ini orangtua tidak dapat terlalu mempengaruhi anak. Anak lebih
membutuhkan teman-temannya untuk membuktikan kalau anak tersebut percaya
diri dan dapat diterima oleh teman-temannya sehingga anak merasa dirinya
berharga di depan teman-temannya.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa orangtua bukan faktor mutlak
yang mempengaruhi perkembangan self esteem seseorang karena dalam penelitian
ini, peneliti mengambil subyek anak kelas lima dan enam atau sekitar usia 10
tahun dimana dalam usia tersebut anak sudah berinteraksi dengan lingkungan
sosial. Pada penelitian ini terbukti bahwa selain faktor orangtua masih ada faktorfaktor lain yang mempengaruhi self esteem anak misalnya teman sebaya.
PENUTUP
Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa tidak ada korelasi yang
signifikan antara persepsi terhadap perlakuan orangtua dengan self esteem. Selain
faktor orangtua masih ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi self esteem anak
misalnya teman sebaya.
Hendaknya orangtua benar-benar memperhatikan perkembangan anaknya
karena ternyata selain perlakuan orangtua, lingkungan dan teman sebaya sangat
21
mempengaruhi perkembangan anak. Orangtua perlu mengawasi lingkungan dan
teman-teman si anak sehingga anak tidak terpengaruh hal-hal yang buruk.
Walaupun waktu anak lebih banyak dihabiskan oleh teman-temannya namun
sebaiknya dengan waktu anak bersama orangtua yang sedikit tersebut orangtua
dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk memberikan bimbingan dan
pengarahan terhadap anak.
Bagi peneliti selanjutnya yang berminat terhadap tema yang sama dengan
penelitian ini hendaknya lebih memperbanyak subyek penelitian yang beragam
dan mencari subyek yang kiranya waktu bersama orangtua lebih banyak, sehingga
penelitian ini dapat digeneralisasikan. Peneliti menggunakan aspek-aspek lain
yang mempengaruhi penelitian ini sehingga akan diperoleh hasil yang murni.
22
DAFTAR PUSTAKA
Azwar, S. 2002. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Bee, H & Boyd, D. 2003. Life Span Development Fourth Edition. Boston
Berns, R. M. 2003. Child Family, School, Community Socialization and Support.
New York: University Of California
Brown, B. Margaret. 2004. Recommended Practice in Parent Education and
Support-A Literatur Review:Part 1- General Parenting Education and
Support Issues. http://ag.udel.edu/extension/fam/recprac/part1.pdf.10/07/06
Coopersmith, S. 1967. The Antecedents of Self Esteem. Freeman and Company.
San Fransisco
Crow, L.D & Crow,A. 1976. General Psychology. New Jersey: Littlefield Adams
Handayani. 1997. Hubungan Antara Pola Pikir Positif dengan Harga Diri.
Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas
Gajah Mada
Hetherington, E.M dan Parke, R.D. 1977. Child Psychology A Contemporary
Viewpoint 3th Edition. New York: Mc.Graw Hill, inc
Hurlock, E. B. 1973. Adolescent Development. Tokyo: Mc. Graw Hill Kogakusha
Company.ltd
Hurlock, E. B. 1990. Perkembangan Anak. Jilid 2. Edisi keenam.Jakarta: Erlangga
Johnson dan Medinnus. 1974. Child Psychology Behavior and Development
2rd Edition. Canada: John Wiley and Sons
Koentjara. 1989. Perbedaan Harga Diri Remaja di Daerah Miskin Penghasil
Pelacur dan Bukan Penghasil Pelacur. Laporan Penelitian (Tidak
Diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada
Lestari, S. 1995. Hubungan Antara Persepsi Mengenai Penerimaan Orangtua
Dengan Harga Diri Pada Remaja Penyandang Tuna Netra. Skripsi (Tidak
Diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada
23
Nasichah, U. 2002. Hubungan antara Persepsi Remaja dengan Disiplin
Orangtua. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi
Universitas Gajah Mada
Walgito. 1992. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset
.
2006.
LAWSEQ
Self-Esteem
Questionnaire.
http://www.users.globalnet.co.uk/˜ebdstudy/strategy/lawseq/htm.10/16/2006
24
IDENTITAS PENULIS
Nama
: Herawati Setianingsih Oktavianti
No Mahasiswa
: 02 320 176
Alamat
: Kwilet II-01/ 02, Ketunggeng, Dukun, Magelang
No HP
: 085643462761
Download