BAB II LANDASAN KONSEPTUAL KERJASAMA EKONOMI LUAR

advertisement
BAB II
LANDASAN KONSEPTUAL KERJASAMA EKONOMI LUAR NEGERI
MENGHADAPI GLOBALISASI
A. Teori Landasan Komseptual Hukum Pembangunan.
Pembukaan undang-undang dasar 1945, alinea 4, menetapkan tujuan
bernegara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, antara lain :
“… ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial…”
Ikut melaksanakan ketertiban dunia, merupakan ciri dari Indonesia yang
telah merdeka, untuk dapat memelihara hubungan-hubungan internasional dengan
negara-negara lain secara baik dalam suasana keerdekaan, persamaan derajat
dengan keadilan. Secara teoritis, konsep untuk memelihara eksistensi sebagai
negara yang merdeka dan berdaulat, tiap negara termasuk Indonesia mempunyai
cita-cita yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera. Upaya
mewujudkan keadilan dan kesejahteraan ini ditempuh melalui pembangunan yang
merata di segala bidang.
Karena ini menurut Mochtar Kusumaatmadja, tujuan kehidupan bernegara
itu dapat dicapai melalui pembangunan nasional menuntut pembaharuan dan
pembinaan di segala bidang. Dalam keadaan demikian, hukum harus disesuaikan
atau menyesuaikan diri dengan keadaan yang telah berubah. 14
14
Mochtar Kusumaatmaadja, Hukum Masyarakat dan Pembangunan Hukum Nasional,
Bandung, 1976, hlm. 6.
Universitas Sumatera Utara
Hukum pada hakekatnya merupakan sarana penunjang perkembangan
masyarakat dan pembangunan. Hukum sebagai sarana penunjang pembangunan
berarti hukum diperlukan sebagai pemberi patokan serta pengarahan hukum
haruslah dapat memberikan kebutuhan hukum masyarakat. Tujuan pembangunan
hukum ini dimaksudkan untuk mencapai tujuan hukum itu sendiri yaitu
ketertiban. Kebutuhan akan ketertiban ini adalah syarat fundamental bagi adanya
suatu masyarakat manusia yang teratur.
Agar
pelaksanaan
perundang-undangan
yang
bertujuan
untuk
pembangunan itu berjalan sebagaimana mestinya, hendaknya aturan perundangundangan yang dibentuk itu sesuai dengan apa yang menjadi inti pemikiran aliran
sociological jurisprudence, yaitu hukum yang baik hendaknya sesuai dengan
hukum yang hidup didalam masyarakat, jadi mencerminkan nilai-nilai yang hidup
di masyarakat. Sebab jika ternyata tidak, akibatnya ketentuan tersebut akan tidak
dapat dilaksanakan (bekerja) dan mendapat tantangan-tantangan. Hal ini cukup
beralasan, karena di satu sisi Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah memberikan peluang bagi daerah untuk mengatur rumah
tangganya sendiri, namun di sisi lain ketentuan-ketentuan dari beberapa Pasal
tersebut belum sepenuhnya mendukung bagi terlaksananya otonomi daerah yang
luas dan bertanggungjawab.
Selain itu, dapat dipelihara pula dari ketentuan Pasal-Pasal yang berkaitan
dengan pelaksanaan investigasi di daerah, dimana dalam hal ini daerah “masih
dikekang” dan kurang diberikan keterluasan dalam mengeluarkan kebijaksanaan
untuk mengeluarkan izin-izin yang berkaitan dengan investigasi. Dengan kata lain
Universitas Sumatera Utara
Undang-undang tersebut tidak aspiratif dan tidak mencerminkan terhadap nilainilai yang tumbuh di tengah masyarakat dan terkesan cenderung bersifat
sentralistik. Begitu pula halnya dengan UU No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian
Internasional dan Undang-Undang No. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar
Negeri dimana mungkin terdapat ketentuan-ketentuan yang belum mengakomodir
kepentingan masyarakat atau daerah dalam melaksanakan kerjasama ekonomi
dengan luar negeri secara efektif dan efisien.
Perubahan yang teratur melalui prosedur hukum, baik ia berwujud
perundang-undangan atau keputusan badan-badan peradilan lebih baik dari pada
perubahan yang tidak teratur dengan menggunakan kekerasan semata-mata.
Karena baik “perubahan” maupun “ketertiban” (keteraturan) merupakan tujuan
kembar dari masyarakat yang sedang membangun, hukum menjadi suatu alat yang
tidak dapat diabaikan dalam proses pembangunan. Dalam hal adanya suatu
masyarakat internasional, saling membutuhkan antara bangsa-bangsa di berbagai
lapangan kehidupan yang mengakibatkan timbulnya hubungan yang tetap dan
terus menerus antara bangsa-bangsa, mengakibatkan pula timbulnya kepentingan
untuk memelihara dan mengatur hubungan yang demikian. Karena kebutuhan
antara bangsa-bangsa timbal balik sifatnya, kepentingan memelihara dan
mengatur hubungan yang bermanfaat demikian merupakan suatu kepentingan
bersama.
Untuk menertibkan, mengatur dan memelihara hubungan internasional ini
dibutuhkan hukum guna menjamin unsure kepastian yang diperlukan dalam setiap
hubungan yang teratur. Hubungan antara orang atau kelompok orang yang
Universitas Sumatera Utara
bergabung dalam ikatan kebangsaan atau kenegaraan yang berlainan itu dapat
merupakan hubungan tak langsung atau resmi yang dilakukan oleh para pejabat
negara yang mengadakan berbagai perundingan atas nama negara dan meresmikan
persetujuan yang dicapai dalam perjanjian antar negara.
Disamping hubungan antar negara yang resmi demikian, orang dapat juga
mengadakan hubungan langsung secara perseorangan atau gabungan di lapangan
perniagaan, keagamaan, ilmu pengetahuan, keagamaan, ilmu pengetahuan, olah
raga atau perburuhan yang melintasi batas negara. Jika direduksi maka tujuan
utama hukum adalah untuk mewujudkan ketertiban (order). Tujuan ini sejalan
dengan fungsi utama hukum, yaitu mengatur. Ketertiban merupakan syarat dasar
bagi adanya suatu masyarakat. Kebutuhan akan ketertiban merupakan fakta dan
kebutuhan objektif bagi setiap manusia.
Masyarakat internasional yang anggotanya terdiri dari negara-negara
merdeka dan berdaulat, juga membutuhkan hukum untuk mengatur hubunganhubungan di antara mereka. Hukum yang mengatur hubungan-hubungan di antara
anggota-anggota masyarakat internasional adalah hukum internasional. Hukum
internasional secara langsung
mengatur keseluruhan kegiatan hubungan
internasional di antara negara-negara sebagai subjek hukum internasional. Hukum
internasional
secara
tidak
langsung
mempengaruhi
jalannya
hubungan
internasional.
Kebutuhan untuk memelihara ketertiban di dalam masyarakat internasional
telah melahirkan hukum internasinal, yang secara terus menerus dikembangkan
dan disesuaikan dengan perkembangan, serta ditaati oleh anggota-anggota
Universitas Sumatera Utara
masyarakat internasional berupa negara-negara merdeka dan berdaulat. Atas dasar
hidup berdampingan secara damai di antara negara-negara serta berlandaskan
pada Pembukaan Undang-undang Dasar 1945, yang mewajiibkan Indonesia untuk
“ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi dan keadilan sosial”, maka terbentuklah hubungan-hubungan antara
Indonesia dengan negara-negara lain di dunia ini. Hubungan-hubungan
internasional ini tidak saja dilakukan dalam bentuk hubungan antar negara, tetapi
juga telah berkembang dengan pesat hubungan kerjasama antar kota maupun
hubungan antar daerah dengan luar negeri. Adanya hukum suatu masyarakat
internasional, yang meliiputi seluruh bangsa-bangsa yang ada didunia ini, benarbenar merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah lagi. Adanya hukum
alami yang mengharuskan bangsa-bangsa di dunia hidup berdampingan secara
damai, dapat dikembalikan kepada akal sehat manusia (rasio) dan naluri untuk
mempertahankan diri dan jenisnya.
Kerjasama internasional sebagai akibat adanya saling ketergantungan,
diupayakan
dengan
internasional.
menghormati
Penghormatan
keadilan
terhadap
keadilan
dan
kewajiban-kewajiban
dan
kewajiban-kewajiban
internasional diupayakan terutama untuk :
a) Memelihara perdamaian dan keamanan internasional;
b) Mengembangkan
hubungan
persahabatan
antar
bangsa-bangsa
berdasarkan prinsip persamaan hak; serta
Universitas Sumatera Utara
c) Mencapai kerjasama internasional dalam memecahkan persoalanpersoalan internasional di lapangan ekonomi, sosial, kebudayaan atau
bersifat kemanusian. 15
Bagi Indonesia, kerjasama antar kota (Sister City) maupun Kerjasama
Ekonomi Sub-Regional yang merupakan salah satu contoh kerjasama ekonomi
daerah dengan luar negeri selain bertujuan untuk mempererat persahabatan antara
kedua negara, juga dapat memanfaatkan kemajuan dan kemampuan kota di negara
yang menjadi pihak dalam kerjasama untuk kepentingan pengembangan dan
pembangunan daerah yang berada di Indonesia. Pelaksanaan kerjasama ekonomi
luar negeri oleh daerah ini dilakukan sepanjang tidak bertentangan dengan
kepentingan-kepentingan sebagai berikut :
a) Ketertiban, ketentraman dan kepentingan umum;
b) Stabilitas politik dalam negeri;
c) Terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa serta kepribandian
nasional.
Dalam kaitan ini maka kerjasama antar kota/daerah harus bermanfaat
untuk :
a) Menunjang pelaksanaan program pembangunan nasional di
daerah;
b) Membantu meningkatkan taraf hidup, kesejahteraan dan
kecerdasan masyarakat;
15
Pasal 1 Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa.
Universitas Sumatera Utara
c) Membantu
meningkatkan
kemampuan
pemerintah
dan
pembangunan, dan lain sebagainya.
Begitu pula halnya dengan Kerjasama Ekonomi Sub-Regional yang
melibatkan beberapa provinsi di Indonesia dalam meghadapi perkembangan
ekonomi dunia yang semakin pesat akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi mendorong pihak pemerintah untuk mencari “model” pengembangan
ekonominya dalam upaya untuk tetap dapat bersaing dan memanfaatkan peluangpeluang yang ada di daerah dalam rangka mengintensifkan kerjasama antar negara
yang telah terjalin.
Sementara itu pembentukan kawasan-kawasan pertumbuhan ekonomi
tersebut dapat dilakukan dalam kekosongan hukum, artinya pembentukan dan
mekanisme hubungan antar negara yang merupakan anggota dari kawasan
tersebut membutuhkan kehadiran perangkat hukum untuk mengesahkan dan
mengaturnya. Dengan kata lain, kerjasama ekonomi internasional antar negara
selalu memerlukan pengaturan hukum (perjanjian internasional). Di sinilah
kemudian kita akan menemukan peran dan fungsi dari hukum ekonomi nasional
dan internasional.
Masyarakat, khususnya dunia bisnis sekarang ini sudah merasa yakin
bahwa pembangunan ekonomi sangat memerlukan sarana hukum. Supaya
pembangunan ekonomi itu benar-benar mencapai tujuan sesuai dengan rencana.
Sunaryati Hartono menyatakan : Dalam mencari penyelesaiaan bagi masalahmasalah nasional kita, perlu lebih dikembangkan pendekatan transnasional, yaitu
pendekatan yang mengusahakan penyelesaian masalah dengan hanya tidak
Universitas Sumatera Utara
melihatnya
dalam
konteks
nasional
saja,
akan
tetapi
juga
dengan
menempatkannya ke dalam kehidupan masyarakat dunia. Disinilah diperlukan
peraturan-peraturan hukum ekonomi Indonesia yang cukup jeli, untuk disatu
pihak mengembangkan kerjasama internasional di bidang ekonomi, tetapi dilain
pihak memasang rambu-rambu yang cukup ampuh untuk melindungi hajat hidup
maupun kepribadian dan jati diri bangsa di dalam badai globalisasi itu. Di sini
pula tampak betapa hukum nasional ikut menentukan ketahanan sosial. 16
B. Pembangunan Hukum dan Pembangunan Ekonomi sebagai isu Global
Memahami dinamika globalisasi dengan segala dimensinya, maka
globalisasi juga akan memberi pengaruh terhadap hukum. Globalisasi hukum akan
menyebabkan peraturan-peraturan negara-negara berkembang mengenai investasi,
perdagangan, jasa-jasa dan bidang-bidang ekonomi lainnya mendekati negaranegara maju (Convergency). tetapi apapun istilah yang dilekatkan pada globalisasi
hukum itu, pada intinya hendak menegaskan bahwa disamping hukum nasional
suatu negara bangsa berkembang suatu hukum-hukum yang melampaui batasbatas kedaulatan negara bangsa.
Meskipun saat ini pembicaraan terhadap globalisasi hukum lebih
cenderung dalam konteksnya dengan globalisasi dibidang lain. Globalisasi hukum
kadang kala dipahami pula sebagai penyesuaian hukum-hukum nasional suatu
negara bangsa sebagai dampak dari perkembangan perekonomian global
misalnya. Penyesuaian hukum nasional bisa juga dilakukan atas adanya tekanan
16
Sunaryati Hartono, Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional, Bandung,
1991, hlm. 71.
Universitas Sumatera Utara
organisasi internasional atau badan-badan dunia seperti WTO, IMF, World Bank
dan lain sebagainya. Meskipun pengaruh sistem hukum yang datang dari dari luar
itu bukan barang baru bagi Indonesia, tetapi yang membedakannya dari suatu
waktu adalah kondisi dan situasi serta atas kepentingan apa hukum-hukum
nasional Indonesia menyesuaikan diri atau memerlukan penyesuaian.
Dalam perspektif perbandingan sistem hukum benar adanya Hari
Purwadi, 17 bahwa Indonesia merupakan laboratorium hukum yang paling execelen
di dunia. Karena memang tidak bisa diingkari, bahwa sebagian besar sistem
hukum di Indonesia adalah sistem hukum import sejak dari zaman penjajahan
sampai saat ini. Oleh karena itu, globalisasi hukum di Indonesia sudah berlansung
sejak lama, akan tetapi globalisasi hukum yang terjadi masa lalu itu hanya
menjadi sistem hukum yang hidup dan berkembang dalam suatu negara bangsa
yang berdaulat. Globalisasi hukum dalam perkembangannya justeru tumbuh dan
berkembang melampau batas-batas kedaulatan negara dan kalau pun ia hidup
dalam suatu negara nasional, tetapi perubahan dan penyesuaian sistem hukum itu
lahir dari suatu kesepakatan internasional.
Dari sudut perkembangan globalisasi hukum yang demikian tentu bisa
dipahami apabila pada abad mendatang akan berkembang apa yang disebut
dengan “the era of comparative law”, meskipun saat ini geraknya belum tampak
terlalu kuat. Namun demikian, yang terpenting sebenarnya dalam kaitan ini
memaksa kita untuk mendalami globalisasi hukum pada satu pihak dan sistem
hukum global dipihak lain. Apakah kemudian sistem hukum global menjadi
17
Hari Purwadi, Pendekatan Baru Dalam Studi Perbandingan Hukum : “Critical
Comparative Law” Dan Transplantasi Hukum Di Indonesia, dalam Wajah Hukum di Era
Reformasi,Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000, hal 225.
Universitas Sumatera Utara
bagian dari globalisasi hukum atau globalisasi hukum melahirkan sistem hukum
global, merupakan tema-tema yang menjadi fokus pada bagian ini. Kalau secara
nasional sudah jelas bagaimana pengaruh globalisasi itu menjalar dalam
kehidupan sistem hukum nasional. Di Indonesia saja saat ini berkembang
beberapa sistem hukum:
1.
2.
3.
4.
5.
Civil Law System
Common Law Sistem
Islamic Law
Socialisme Law
Customary Law atau Sistem Hukum Adat. 18
Oleh karenanya, jika globalisasi hukum bergulir ke ranah publik bersaman
dengan pengejewantahan globalisasi, bagi Indonesia tidak sepenuhnya benar,
karena jauh sebelum Indonesia merdeka sudah terjadi impor sistem hukum ke
Indonesia. Dengan demikian, pembicaraan terhadap globalisasi hukum di
Indonesia beberapa waktu belakangan, tampaknya lebih merupakan suatu
pembicaraan berkaitan dengan pergerakkan globalisasi di bidang lain. Dalam
banyak pembicaraan dan bahasan sering diutarakan, bahwa globaliasi hukum
diberbagai bidang, semisal globalisasi di bidang ekonomi, teknologi harus di ikuti
dengan globalisasi hukum. Artinya globalisasi hukum berada dibelakang
globalisasi bidang lain. Jika disetujui, bahwa globalisasi ekonomi merupakan
manifesitasi baru dari perkembangan kapitalisme sebagai sistem ekonomi sosial,
dimana transaksi dan lalu lintas ekonomi dan perdagangan tidak lagi terikat pada
asal negara dari berbagai sistem hukum dan tradisi, maka globalisasi ekonomi
harus diikuti globalisasi hukum. Meskipun demikian, tetap saja ada keraguan,
dimana globaliasi hukum itu tetap diharapkan berlangsung pada sistem hukum
18
J. G Starke, Pengantar Hukum International, Sinar Grafika, 2008, hal 96.
Universitas Sumatera Utara
yang berbeda. Artinya, model ini tidak menjelaskan apakah globalisasi hukum
memiliki sistem sendiri atau sistem hukum yang berbeda menjadi kekayaan dari
globalisasi hukum.
Terkait dengan globalisasi itu, Soetandyo Wigjosoebroto mengemukakan,
bahwa proses nasionalisasi saat ini belum selesai, namun proses baru yang
dikenali sebagai proses globalisasi sudah memasuki ambang pintu. Ini suatu
proses yang lebih berhakikat sebagai proses ekonomi dan sosial kultural daripada
sebatas proses politik, nota bene proses politik yang diilhami oleh semangat dan
paham nasionalisme, dengan cita-citanya yang tak mau ditawar untuk
mewujudkan kesatuan bangsa di bawah kontrol kepemimpinan yang berlegalitas
kuat. Akan tetapi, kini kenyataan telah kian menjadikan cita-cita seperti itu
bagaikan ilusi belaka. Kini, perkembangan kehidupan tidak lagi berhenti pada
jalannya proses integrasi komunitas-komunitas lokal ke satuan-satuan nasional,
melainkan bersiterus ke prosesnya yang kian berlanjut.19 Hal ini memperkuat
globalisasi hukum menjadi suatu yang tidak terhindarkan dan akhirnya meminta
kita untuk mengamini, bahwa kehidupan nasional di manapun, baik yang
menyatukan manusia-manusia yang terbilang ‘bangsa tua’ yang muncul dalam
sejarah sebagai bangsa penjajah maupun yang terbilang ‘bangsa muda’ yang
terjajah, kini ini telah terkocok ulang dalam suatu kekisruhan yang namun begitu
bolehlah tetap direspons secara optimistik sebagai suatu proses yang secara
progresif menuju ke bentuk-bentuknya yang baru.
19
Soetandyo Wigjosoebroto, Pluralisme Hukum Dalam Kehidupan Global, Hukum
Dalam Masyarakat:Perkembangan dan Masalah (Malang: Bayumedia, 2008), hlm. 237-252
Universitas Sumatera Utara
Dalam perpesktif seperti dikemukakan di atas, bagaimana sistem hukum
global memainkan peran dan eksistensinya tidaklah mudah, sementara dilain
pihak diyakini global society bukanlah suatu global state. Adanya juga yang
menyebut Global state lebih tepat kalau dikatakan sebagai “masyarakat pasar”
yang boleh juga disebut a global economy. Hal ini tentu menjadi integral dengan
global society, dimana masyarakat negara bangsa terbebas dari ikatan-ikatan
hukum nasional mereka. Dalam perkembangan saat ini, globalisasi berkembang
lebih jauh dari pada global state (masyarakat pasar) atau global state dalam
pemahaman yang lebih luas sebagai “negara dunia” yang hadir dalam bentuknya
yang nyata, tetapi berkembang dalam apa yang disebut dengan “tanggung jawab
global”.
Keadaan itu tampak rumit dibanding memahami globalisasi hukum dalam
perspektif tuntutan dari globalisasi ekonomi-perdagangan atau bidang lainnya.
Jika, global economy bekerja melampui batas-batas nation state yang selama ini
dirasakan sebagai hambatan, sekarang Jika terjadi silang sengketa dalam
hubungan kontratual yang tidak bersanksi negara itu, maka penyelesaiannya akan
dilakukan lewat apa yang disebut ADR (alternative dispute resolution), mulai dari
yang bermodel renegosiasi atau mediasi sampai ke yang disebut arbitrasi.
Alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan seperti ini mulai banyak
dipilih daripada penyelesaian-penyelesaian adjudikatif lewat litigasi-litigasi di
badan-badan peradilan nasional. Pada tataran ini tampak globalisasi hukum
sebagai dampak dari globalisasi ekonomi melahirkan suatu sistem hukum. Pilihan
penyelesaian sengketa dari hubungan perdanganan dalam ranah globalisasi seperti
Universitas Sumatera Utara
yang terjadi pada bidang ekonomi/perdagangan itu, tentu akan tampak berbeda
dalam konteks “global state” yang berwujud dalam tanggung jawab global.
Bagi Indonesia sendiri pengaruh globalisasi itu, selain menuntut
penyesuaian sistem hukum nasional, globalisasi hukum sekaligus menghadapkan
Indonesia pada berbagai penuntasan persoalan hukum yang harus dilesaikan.
Tidak saja menyangkut grand desain hukum nasonal yang belum ada, ada
sejumlah keadaan hukum Indonesia atau apa yang dinamakan dengan (the existing
legal system) 20 yang menunjukkan hal-hal sebagai berikut :
1. Dilihat dari substansi hukum, asas dan kaedah, hingga saat ini terdapat
berbagai sistem hukum yang berlaku – sistem hukum adat, sistem hukum
agama, sistem hukum barat, dan sistem hukum nasional. Tiga sistem
hukum yang pertama merupakan akibat politik hukum masa penjajahan.
Secara negatif, politik hukum tersebut dimaksudkan untuk membiarkan
rakyat tetap hidup dalam lingkungan hukum tradisional dan sangat dibatasi
untuk memasuki sistem hukum yang diperlukan bagi suatu pergaulan yang
modern.
2. Ditinjau dari segi bentuk, sistem hukum yang berlaku lebih mengandalkan
pada bentuk-bentuk hukum tertulis. Para pelaksana dan penegak hukum
senantiasa mengarahkan pikiran hukum pada peraturan-peraturan tertulis.
Pemakaian kaidah hukum adat atau hukum Islam hanya dipergunakan
dalam hal-hal yang secara hukum ditentukan harus diperiksa dan diputus
menurut kedua hukum tersebut. Penggunaan jurisprudensi dalam
20
Bagir Manan, Pembinaan Hukum Nasional , Penerbit Alumni, Bandung, 1999, hal 238
– 245
Universitas Sumatera Utara
mempertimbangkan suatu putusan hanya sekedar untuk mendukung
peraturan hukum tertulis yang menjadi tumpuan utama.
3. Hingga saat ini masih cukup banyak hukum tertulis yang dibentuk pada
masa Pemerintahan Hindia Belanda. Hukum-hukum ini bukan saja dalam
banyak hal tidak sesuai dengan alam kemerdekaan, tetapi telah pula
ketinggalan orientasi dan mengandung kekosongan-kekososngan baik
ditinjau dari sudut kebutuhan dan fungsi hukum maupun perkembangan
masyarakat.
4. Keadaan hukum kita dewasa ini menunjukkan pula banyak aturan
kebijakan (beleidsregel). Peraturan-peraturan kebijakan ini tidak saja
berasal dari administrasi negara, bahkan ada pula dari badan justisial.
5. Keadaan hukum kita dewasa ini adalah sifat departemental centris.
Hukum- khususnya peraturan perundang-undangan- sering dipandang
sebagai urusan departemen yang bersangkutan.
6. Tidak pula jarang dijumpai inkonsistensi dalam penggunaan asas-asas
hukum atau landasan teoretik yang dipergunakan.
Keadaan hukum Indonesia sebagaimana digambarkan Bagir Manan di
atas, penyesuaian sistem hukum nasional sebagai tuntutan globalisasi, jelaslah
merupakan bukan pekerjaan ringan. Disisi lain, arus globalisasi terus mengalir
dengan deras. Artinya, beberapa penyesuaian sistem hukum nasional Indonesia
saat ini berkenaan dengan tuntutan globalisasi masih menyisakan banyak
pekerjaan rumah.
Universitas Sumatera Utara
Bagaimana globalisasi hukum dan perkembangannya merasuki sisten
hukum nasional, maka dipihak lain globalisasi hukum pun menampakkan
wujudnya sendiri yang tidak sekedar berupa adaptasi yang dilakukan dalam sistem
hukum nasional. Bahwa keberadaan ADR sebagai sistem hukum global tentulah
tidak akan sama keberadaanya dengan keberadaan Mahkamah Internasional yang
mengurusi peradilan atas pelanggaran hak azasi manusia. Globalisasi hukum
kemudian memperlihatkan wujudnya yang lain, dimana Mahkamah Internasiona;
sebagai sistem hukum global sebagai suatu intrumen negara dunia (global state).
Meskipun tidak terang-terangan dimaksudkan demikian, namun pengadilanpengadilan nasional bukan satu-satunya tempat berproses bagi suatu kejahatan
yang meskipin masih dibatasai objek dan subjeknya, tetapi ada lagi Mahkamah
Internasional sebagai alternative. Mahkamah Internasionan akan bekerja atas
suatu pengaduan/tuntutan, sekalipun yang teradukan adalah suatu tindakan dari
pejabat pemerintah negara nasional yang sah.
Berdasarkan dinamika globalisasi yang mempengaruhi bidang hukum,
maka globalisasi hukum sepertinya berakar pada dua hal, Pertama globalisasi
hukum yang berakar pada globalsiasi ekonomi dan bidang lainnya yang
menempatkan global state sebagai “masyarakat pasar. Kedua globalisasi hukum
yang berakar pada global state yang menampakkan wujudnya dalam apa yang
disebut dengan “tanggung jawab global”. Hal ini mengindikasikan, globalisasi
hukum ternyata lebih rumit dibanding globalisasi ekonomi. Globalisasi hukum
dalam artian tanggung jawab global telah menempatkan dirinya sebagai alat bagi
Universitas Sumatera Utara
global state. Kondisi ini mirip dengan hukum sebagai alat kekuasaan sebagaimana
terjadi pada negara-negara bangsa (negara nasional).
Dengan demikian. globalisasi dan pengaruhnya pada kehidupan hukum,
yang kini ini kian tak lagi gampang dikontrol oleh kekuasaan sentral negara
nasional, telah mengundang perhatian yang serius dari berbagai pengkaji dan
pembuat kebijakan di manapun, baik yang nasional maupun yang internasional.
Hukum berformat macam apakah yang kini ini mesti beroperasi di berbagai
kancah, mulai yang transnasional, nasional dan juga subnasional. Tatkala negaranegara nasional terpaksa banyak membuka perbatasan-perbatasannya, dan
perubahan-perubahan kehidupan ekonomi – yang berimbas ke kehidupan politik,
sosial dan kultural – telah meningkatkan jumlah manusia berikut ide dan
ideologinya yang melintasi berbagai sekatan, masalah penataan tertib dan
kekuasaan struktural penertibnya akan menjadi pekerjaan rumah para pemimpin
masa depan. Walaupun globalisasi hukum merupakan sesuatu yang sukar
dihindari negara-negara nasional, namun dalam konteks ini menjadi paradoks,
sistem hukum global tumbuh dan berkembang, tapi ia tumbuh dan berkembang
tidak dalam ruang apa yang disebut dengan global state. Kalaupun kemudian
diproyeksikan akan akan suatu era pasca modern dengan paradigmanya sendiri
yang lain, maka sistem hukum global yang sekarang berkembang belum
menemukan bentuknya yang ideal.
Apakah mungkin mengharapkan globalisasi hukum akan melahirkan suatu
sistem hukum global, sementara yang disebut global state itu tidak ada. Suatu
kemungkinan yang paling berpeluang untuk terjadi adalah masuknya pengaruh
Universitas Sumatera Utara
sistem hukum suatu negara nasional yang kemudian bertindak atas nama tanggung
jawab internasional atau dengan dalih perdagangan global, memaksanakan sistem
hukumnya diterima suatu negara-negara bangsa. Kemungkinan itu bisa terjadi
apabila terdapat tergantungan ekonomi, perdagangan, investasi, politik dan
pertahanan dari suatu negara bangsa pada negara-negara yang selalu tampil dalam
memainkan peran tanggung jawab internasional. Untuk saat ini globalisasi hukum
yang berakar pada pengejawantahan tanggung jawab internasional itu, maka yang
paling logis bisa terjadi adalah impor sistem hukum. Meskipun kita tidak
melupakan adanya beberapa kesepakatan internasional yang melahirkan lembagalembaga
hukum
lintas
batas
negara-negara
bangsa
seperti Mahkamah
Internasional, dan lain sebagainya.
Terlepas dari bagaimana hubungan yang menyelimuti antara hukum
nasional dan globalisasi hukum itu, berkaca pada apa yang mengarus pada
globalisasi ekonomi, maka globalisasi hukum mengikuti globalisasi ekonomi
dalam arti substansi berbagai undang-undang dan perjanjian yang menyebar
melewati batas-batas negara. Globalisasi hukum dapat terjadi melalui perjanjian
dan konvensi internasional, hukum privat, dan institusi ekonomi baru. Globalisasi
hukum itu kemudian diikuti dengan praktek hukum, dimana antara lain konsultan
hukum suatu negara dan suatu sistem hukum, dapat bekerja dinegara lain yang
mempunyai sistem hukum yang berbeda. Akan tetapi dibalik globalisasi hukum
ada hukum global.
Jika demikian halnya, maka dalam bertumbuhnya globalisasi sedemikian
rupa suka atau tidak suka pengaturan-pengaturan hukum kita akan dihadapkan
Universitas Sumatera Utara
pada apa yang digambarkan Paul Schiff Berman, “we need to realize that
normative conflict among multiple, overlapping legal systems is unavoidable and
might even sometimes be desirable, both as a source of alternative ideas and as a
site for discourse among multiple community affiliations”.21 Persoalannya
menjadi tidak hanya sekedar menyangkut pertempuran hukum local (baca hukum
nasional) yang dihadapan pada globalisasi hukum, tetapi sekaligus dengan hukum
global. Persoalannya kemudian, bagaimana sistem hukum global bekerja dan
eksis.. hidup berdampingan dengan hukum nasional.
Indnesia memiliki kekayaan sumber daya alam. Kenyataan bahwa
sumberdaya yang berlimpah tersebut tidak merata berada di seluruh daerah. Hal
yang sama terjadi dengan sebaran sumberdaya manusia yang merupakan “aktor”
pembangunan tersebar juga tidak merata. Implikasi dari ketidak-merataan
keberadaan kedua sumberdaya tersebut adalah belum baiknya tingkat pelayanan
infrastruktur wilayah melayani kebutuhan wilayah dan masyarakat, terutama
daerah-daerah terisolir dan tertinggal.
Untuk mengoptimalkan nilai manfaat sumberdaya yang berlimpah tetapi
tidak merata tersebut bagi pengembangan wilayah nasional secara berkelanjutan
dan menjamin kesejahteraan umum secara luas (public interest), diperlukan
intervensi kebijakan dan penanganan khusus oleh Pemerintah untuk pengelolaan
wilayah yang tertinggal. Hal ini seiring dengan agenda Kabinet Gotong Royong
untuk menormalisasi kehidupan ekonomi dan memperkuat dasar bagi kehidupan
perekonomian rakyat melalui upaya pembangunan yang didasarkan atas sumber
21
Peter Roorda, The Internasional Of The Practice Law, “Wake Forest Law Rieview Vol
28 (1993) hal 141-159.
Universitas Sumatera Utara
daya setempat (resource-based development), dimana baik sumberdaya lautan
dan daratan saat ini didorong pemanfaatannya, sebagai salah satu andalan bagi
pemulihan perekonomian nasional. Secara sederhana, pembangunan ekonomi
dapat dipahami sebagai upaya melakukan perubahan yang lebih baik dari
sebelumnya yang ditandai oleh membaiknya faktor-faktor produksi. Faktor-faktor
produksi tersebut adalah kesempatan kerja, investasi, dan teknologi yang
dipergunakan dalam proses produksi. Lebih lanjut, wujud dari membaiknya
ekonomi suatu wilayah diperlihatkan dengan membaiknya tingkat konsumsi
masyarakat, investasi swasta, investasi publik, ekspor dan impor yang dihasilkan
oleh suatu negara. Secara mudah, perekonomian wilayah yang meningkat dapat
diindikasikan dengan meningkatnya pergerakan barang dan masyarakat antar
wilayah.
Dalam konteks tersebut, pembangunan ekonomi merupakan pembangunan
yang a-spasial, yang berarti bahwa pembangunan ekonomi memandang wilayah
nasional tersebut sebagai satu “entity”. Meningkatnya kinerja ekonomi nasional
sering
diterjemahkan
dengan
meningkatnya
kinerja
ekonomi
seluruh
wilayah/daerah. Hal ini memberikan pengertian yang “bias”, karena hanya
beberapa wilayah/daerah yang dapat berkembang seperti nasional dan banyak
daerah yang tidak dapat berlaku seperti wilayah nasional. Wilayah Indonesia
terdiri sari 33 propinsi dengan 400an kabupaten/kota yang secara sosial ekonomi
dan budaya sangat beragam. Keberagaman ini memberikan perbedaan dalam
karakteristik faktor-faktor produksi yang dimiliki. Seringkali kebijakan nasional
Universitas Sumatera Utara
pembangunan ekonomi yang disepakati sulit mencapai tujuan dan sasaran yang
diharapkan pada semua daerah-daerah yang memiliki karakteristik sangat berbeda.
Pembangunan ekonomi wilayah memberikan perhatian yang luas terhadap
keunikan karakteristik wilayah (ruang). Pemahaman terhadap sumberdaya alam,
sumberdaya manusia, sumberdaya buatan/infrastruktur dan kondisi kegiatan usaha
dari masing-masing daerah di Indonesia serta interaksi antar daerah (termasuk
diantara faktor-faktor produksi yang dimiliki) merupakan acuan dasar bagi
perumusan upaya pembangunan ekonomi nasional ke depan.
Tantangan pembangunan Indonesia ke depan sangat berat dan berbeda
dengan yang sebelumnya. Paling tidak ada 4 (empat) tantangan yang dihadapi
Indonesia, yaitu:
1) Otonomi daerah,
2) Pergeseran orientasi pembangunan sebagai negara maritim,
3) Ancaman dan sekaligus peluang globalisasi, serta
4) Kondisi objektif akibat krisis ekonomi.
Pertama, undang-undang otonomi daerah secara tegas meletakkan otonomi
daerah di daerah kabupaten/kota. Hal ini berarti telah terjadi penguatan yang nyata
dan legal terhadap kabupaten/kota dalam menetapkan arah dan target
pembangunannya sendiri. Di satu sisi, penguatan ini sangat penting karena secara
langsung permasalahaan yang dirasakan masyarakat di kabupaten/kota langsung
diupayakan diselesaikan melalui mekanisme yang ada di kabupaten/kota tersebut.
Tetapi, di sisi lain, otonomi ini justru menciptakan ego daerah yang lebih besar
Universitas Sumatera Utara
dan bahkan telah menciptakan konflik antar daerah yang bertetangga dan ancaman
terhadap kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kedua, reorientasi pembangunan Indonesia ke depan adalah keunggulan
sebagai negara maritim. Wilayah kelautan dan pesisir beserta sumberdaya
alamnya memiliki makna strategis bagi pembangunan ekonomi Indonesia, karena
dapat diandalkan sebagai salah satu pilar ekonomi nasional.
Ketiga, ancaman dan peluang dari globalisasi ekonomi terhadap Indonesia
yang terutama diindikasikan dengan hilangnya batas-batas negara dalam suatu
proses ekonomi global. Proses ekonomi global cenderung melibatkan banyak
negara sesuai dengan keunggulan kompetitifnya seperti sumberdaya manusia,
sumberdaya buatan/infrastruktur, penguasaan teknologi, inovasi proses produksi
dan produk, kebijakan pemerintah, keamanan, ketersediaan modal, jaringan bisnis
global, kemampuan dalam pemasaran dan distribusi global.
C. Bentuk-Bentuk
Internasional
Kerjasama
antara
Daerah
dengan
Lembaga
Perkembangan dunia yang semakin tak berbatas ini, membuat aktivitas
aktor-aktor di suatu negara makin berkembang. Negara tak lagi menjadi aktor
utama
dalam
melaksanakan
peran-perannya
dalam
kancah
hubungan
internasional. Pergeseran kedudukan negara telah digantikan dan diisi oleh aktoraktor lain, mulai dari organisasi internasional sampai ke tingkat individu. 22
22
Dominick Solvatort, Ekonomi Internasional, Erlangga, Jakarta, 1992, hal 245.
Universitas Sumatera Utara
Salah satu bentuk peningkatan kapasitas diri adalah dengan melalui
kerjasama. Keinginan untuk bekerjasama tidak terbatas hanya dengan pemerintah
negara saja, tetapi mulai merambah ke pemerintah daerah di negara lain atau
denan Lembaga Internasional. Adanya kebijakan otonomi daerah menuntut
pemerintah daerah untuk lebih mandiri, tidak selalu tergantung pada pemerintah
pusat. Hal ini mendorong pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi
daerahnya,
baik
yang
berupa
potensi
alam
maupun
manusia,
untuk
memaksimalkan pendapatan asli daerah agar dapat melaksanakan pembangunan
demi meningkatkan taraf hidup masyarakat. Caranya adalah dengan mengadakan
kerjasama dengan daerah otonom lain. Tidak hanya kerjasama antar daerah
otonom di Indonesia, tetapi juga kerjasama dengan daerah (propinsi, kabupaten,
kota) di luar negeri maupun dengan Lembaga Internasional.
Kerjasama ini sangat menarik untuk dibicarakan, karena merupakan suatu
bentuk kerjasama internasional yang dapat dirasakan lebih dekat manfaatnya
karena bersifat lokal-internasional. Bisa dikatakan bahwa bentuk kerjasama ini
adalah praktek dari konsep think globally, act locally. Kerjasama ini bisa juga
dikatakan sebagai “pembumian” dari konsep hubungan internasional yang sangat
luas dan besar.
Kerjasama begitu sangat dibutuhkan, perkembangan dan masa depan
negara akan menjadi lebih sulit bila tanpa menutup dirinya untuk tidak
mengadakan kontak kerja sama dengan negara lain. Itu sudah kodratnya, tidak ada
satu pun negara yang akan sanggup menjamin eksistensinya ke depan bila dalam
Universitas Sumatera Utara
penyelesaian masalah yang dihadapi dengan sendirian, mereka butuh kerja sama
(Co-operate), terutama di bidang Ekonomi.
Pada awalnya, kerjasama ekonomi hanya sebatas pada kegiatan ekspor dan
impor saja. Tetapi dengan makin luasnya pengaruh globalisasi ekonomi, semakin
dirasakan dampaknya terhadap aktivitas pembangunan suatu negara. Bentuk kerja
sama antar negara yang akan kita bahas saat ini, tentunya tidak hanya terpaku
pada sektor trading (perdagangan) saja, tetapi bisa meluas sampai pada usaha
untuk ikut aktif dalam aktivitas pembangunan seperti investasi atau pendirian
cabang usaha baru di negara lain. Agar kerja sama tersebut berhasil dan
menguntungkan, maka kerja sama antarnegara tersebut diatur dalam suatu bentuk
organisasi resmi. 23
Bentuk-bentuk kerjasama antarnegara dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Kerja Sama Bilateral
Kerja sama bilateral merupakan kerja sama antar dua negara. Misalnya,
kerja sama ekonomi yang terjalin antara Indonesia dengan Singapura atau
Amerika dengan Arab Saudi. Kerja sama bilateral bertujuan untuk membina
hubungan yang telah ada serta menjalin hubungan kerja sama perdagangan
dengan negara mitra. Pemerintah Indonesia sendiri telah mentandatangani
perjanjian perdagangan dan ekonomi di Kawasan Asia Pasifik dengan 14 negara,
di Afrika dan Timur Tengah dengan 10 negara, di Eropa Timur dengan 9 negara,
di Eropa Barat dengan 12 negara dan di Amerika Latin dengan 7 negara. 24
23
Sobri, Ekonomi Internasional, Badan Penerbit Fakultas Ekonomi UGM, Jogjakarta,
1999, hal 46.
24
M. Rafiqul Islam, 1999, Internatinal Trade Law, LBC, Sydney, 2003, hal 56.
Universitas Sumatera Utara
Kerja sama bilateral, yang dikoordinasikan oleh Bagian Kerja Sama
Bilateral, lazimnya dapat dilaksanakan antara Indonesia dan suatu negara yang
memiliki
hubungan
diplomatik
dengan
Indonesia
dan
keduanya
telah
menandatangani “Persetujuan” atau Agreement, yang akan menjadi payung bagi
semua bentuk kerja sama bilateral. Kerja sama bilateral dalam bidang pendidikan,
pemuda dan olahraga dituangkan dalam Nota Kesepahaman atau Memorandum of
Understanding (MOU), yang diikuti dengan kesepakatan pelaksanaannya yang
dituangkan
dalam
“Pengaturan
Pelaksanaan”
atau
Implementational
Arrangements bersama Rencana Aksinya ( Action Plan ). 25
2. Kerja Sama Regional
Kerja sama regional merupakan kerja sama antara negara-negara
sewilayah atau sekawasan. Tujuannya tidak lain adalah untuk menciptakan
perdagangan bebas antara negara di suatu kawasan tertentu. Bentuk kerja sama
regional sudah dijajaki oleh PBB melalui pembentukan komisi regional yang
dimulai dari Eropa, Asia Timur dan Amerika Latin. Komisi ini mengembangkan
kebijakan bersama untuk masalah pembangunan khususnya pada bidang ekonomi.
Kerja sama secara regional biasanya lebih pada hubungan dengan lokasi negara
serta berdasarkan alasan historis, geografis, teknik, sumber daya alam dan
pemasaran. 26
Kerja sama regional pada dasarnya berkenaan dengan kerja sama
antarnegara-negara di Asia Tenggara yang dalam bidang pendidikan, ilmu
25
Ibid. hal 27.
Mochtar Kusumatmadja dan Etty R. Agoes, Pengantar Hukum Internasinal, Penerbit
PT. Alumni, Bandung, 2003, hal. 115.
26
Universitas Sumatera Utara
pengetahuan dan kebudayaan dimulai pada Tahun 1965 ketika SEAMEO ( SouthEast Asia Ministers of Education Organization ) dibentuk dengan lima negara
anggota, yaitu Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Sekarang
anggota SEAMEO telah bertambah lima , yaitu Brunei Darussalam, Myanmar ,
Kamboja, Laos , dan Vietnam . Di samping itu, organisasi ini memiliki enam
associate members : Australia , Belanda, Kanada, Jerman, Perancis, dan Selandia
Baru. Selain itu, ada satu affiliate member, yaitu Norwegia. Sekretariat SEAMEO,
yang disebut SEAMES ( South-East Asia Ministers of Education Secretariat ),
yang berkantor di Bangkok , dipimpin oleh seorang Direktur dengan masa bakti 3
(tiga) Tahun, yang direkrut dari negara-negara anggota secara bergiliran.
3. Kerja sama Multilateral
Kerja sama multilateral, yang dikoordinasikan oleh Bagian Kerja Sama
Multilateral, berurusan dengan kerja sama dengan badan-badan dunia yang
melibatkan sejumlah negara. Dalam melaksanakan program-program pendidikan,
pemuda dan olahraga yang memerlukan bantuan teknis asing, Depdiknas bekerja
sama dengan ADB ( Asian Development Bank ), WB ( World Bank ), dan IDB (
Islamic Development Bank) melalui program kemitraan. Kerja sama dengan
badan-badan dunia ini dapat berupa pemberian hibah atau pinjaman, untuk
mendukung program-program yang dilaksanakan di dalam negeri maupun di luar
negeri, seperti pelatihan jangka pendek dan pendidikan pascasarjana. Kedua
bentuk kerja sama ini memerlukan persiapan yang melibatkan berbagai instansi
terkait, terutama BAPPENAS, KEMENKEU, KEMENLU, dan Sekretariat
Negara, serta perwakilan badan-badan dunia terkait. Di samping itu, kerja sama
Universitas Sumatera Utara
multilateral juga dapat dilakukan dengan badan-badan dunia lain, seperti UNICEF
dan UNESCO. 27
D. Penyelenggaraan Dan Mekanisme Hubungan Luar Negeri Oleh
Daerah Menurut Hukum Nasional Dan Hukum Internasional.
Globalisasi akan diwarnai dengan peningkatan hubungan ekonomi, sosial
dan budaya (EKOSOSBUD), dimana peran Pemerintah Pusat akan memudar dan
diambil alih oleh Pemerintah Daerah sejalan dengan diberlakukannya otonomi
daerah berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah.
Otonomi daerah bermakna kemandirian, dimana fenomena sistem
pemerintahan yang selama ini bersifat sentralistik bergulir ke arah desentralisasi
yang memberikan kewenangan kepada daerah untuk dapat mengelola daerahnya
sendiri secara mandiri. 28 Istilah otonomi itu sendiri menurut Sidik Jatmika berasal
dari bahasa Yunani yaitu “outonomos” yang berarti keputusan sendiri (self
goverment), di mana di dalam istilah tersebut terkandung beberapa pengertian :
1. Otonomi adalah bentuk pemerintahan sendiri yaitu hak untuk memerintah
atau menentukan nasib sendiri (the right of self goverment, self
determination).
2. Otonomi adalah pemerintahan sendiri, diakui dan dijamin tidak adanya
control oleh pihak lain terhadap fungsi daerah (local internal affairs) atau
terhadap minoritas suatu bangsa.
27
Ibid, hal. 115.
Barkah Syahroni, “Analisis Jabatan, Implementasi dan Prospek Dalam Era Otonomi
Daerah di Llingkungan Pemerintah Provinsi DIY”, Makalah dalam Bimtek Analisis Jabatan
Pemerintah Provinsi DIY, 2005, hlm. 4.
28
Universitas Sumatera Utara
3. Pemerintahan
otonomi
memiliki
pendapatan
yang
cukup
untuk
menentukan hasil sendiri, memenuhi kesejahteraan hidup maupun
mencapai tujuan hidup secara adil.
4. Pemerintahan
otonomi
memiliki
supremasi
dominasi
kekuasaan
(supremacy of authority) atau hukum (rule) yang dilaksanakan sepenuhnya
oleh pemegang kekuasaan di daerah. 29
Lebih jelas lagi pengertian atau definisi tentang otonomi daerah secara
formal ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 pada Pasal 1
angka 5 yang menyebutkan : “Otonomi daerah adalah hak, wewenang dan
kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan
perundang-undangan”. 30
Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah di Negara Kesatuan RI
digunakan atau diberlakukan prinsip otonomi daerah yang seluas-luasya serta
otonomi
nyata
dan
bertanggungjawab.
Prinsip
otonomi
seluas-luasnya
dimaksudkan bahwa daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur
semua urusan pemerintahan diluar yang menjadi urusan pemerintah pusat.
Sedangkan prinsip otonomi yang nyata yaitu prinsip otonomi dimana untuk
menangani urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas, wewenang dan
29
Sidik Jatmika, Otonomi Daerah, Perspekti f Hubungan Intenasional, Penerbit Bigraf
Publishing, Yogyakarta, 2001, hlm. 1.
30
Undang-undang RI Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Penerbit BP
Panca Usaha Putra, Jakarta, 2004, hlm. 6.
Universitas Sumatera Utara
kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh, hidup dan
berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah. 31
Dapat disimpulkan menurut pengertian prinsip otonomi yang nyata ini,
tentunya isi dan jenis otonomi untuk setiap daerah tidak selalu sama dengan
daerah lainnya karena masing-masing daerah mempunyai kekhasan kultur dan
karakter daerah sendiri sendiri.
Melalui prinsip-pinsip otonomi tersebut di atas diharapkan daerah dalam
penyelenggaraan kegiatan pemerintahan daerah mampu meningkatkan daya saing
dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan
dan kekhususan serta potensi dan keaneka-ragaman daerah dalam sistem Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Keberadaan suatu daerah di Indonesia secara jelas diatur dalam Undangundang
Nomor
32
Tahun
2004
tentang
Pemerintahan
Daerah
yang
mengamanatkan perhatian hubungan dan kerjasama daerah yang saling
menguntungkan. Dalam Pasal 195 ayat 1 dinyatakan bahwa “Dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan rakyat, daerah dapat mengadakan kerjasama dengan
daerah lain yang didasarkan pada pertimbangan efisiensi dan efektifitas pelayanan
publik, sinergi dan saling menguntungkan”.
Semangat otonomi daerah menempatkan Pemerintah Daerah sebagai pusat
penggerak ekonomi khususnya sektor riil, dan selanjutnya Pemerintah Daerah
menjadi koordinator dalam mensinergikan para pelaku EKOSOSBUD di
31
Barkah Syahroni, op cit, hlm. 13.
Universitas Sumatera Utara
daerahnya dan menerjemahkan potensi daerahnya ke manca negara dalam rangka
menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga manca negara. 32
Meski dalam Undang-undang tentang Pemerintahan Daerah tersebut tidak
secara tegas mengatur tentang hubungan dan kerjasama pemerintah daerah dengan
luar negeri, namun dalam ketentuan Pasal yang lain disebutkan secara jelas aturan
mekanismenya, artinya bahwa dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah ada
kegiatan hubungan dan kerjasama internasional antara pemerintah daerah dengan
pihak luar negeri. Dalam Pasal 42 ayat (1) pada huruf (f) yang antara lain
dinyatakan : ”DPRD mempunyai tugas dan wewenang memberikan pendapat dan
pertimbangan
kepada
Pemerintah
Daerah
terhadap
rencana
pernjanjian
internasional di daerah”, selanjutnya dalam ayat (1) huruf (g) dinyatakan : “DPRD
mempunyai tugas dan wewenang memberikan persetujuan terhadap rencana
kerjasama internasional yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah”.
Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 1 Tahun 1999
tentang Penyelenggaraan Hubungan dan Kerjasama Dengan Pihak Luar Negeri di
Jajaran Departemen Dalam Negeri. Dalam konsideran Permendagri dimaksud
disebutkan bahwa : “Hubungan kerjasama luar negeri yang diselenggarakan oleh
jajaran Departemen Dalam Negeri pada dasarnya adalah perwujudan dan
penjabaran kebijaksanaan politik luar negeri Pemerintah RI yang bebas dan
aktif”. 33
32
Damos Dumoli Agusman, Hubungan dan Kerjasama Luar Negeri Dalam Kerangka
Otonomi Daerah, Ditjen Hukum dan Perjanjian Internasional Departmen Luar Negeri, Jakarta,
2007, hlm 9
33
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan
Hubungan dan Kerjasama Dengan Pihak Luar Negeri, Biro Hukum Setjen Depdagri, Jakarta,
2000, hlm. 5
Universitas Sumatera Utara
Menurut ketentuan ini kiranya lebih memperjelas peranan Pemerintah
Daerah dalam penyelenggaraan hubungan kerjasama dengan luar negeri, karena
Pemerntah Daerah merupakan lembaga yang berada di bawah jajaran Departemen
Dalam Negeri dan merupakan bagian dari Negara Kesatuan RI.
Lebih lanjut dalam Bab II Pasal 3 dinyatakan : “Penyelengaraan hubungan
dan kerjasama luar negeri ditujukan untuk menunjang pelaksanaan program
pembangunan nasional dan daerah, membantu meningkatkan taraf hidup,
kesejahteraan dan kecerdasan masyarakat serta membantu meningkatkan
kemampuan Pemerintah Daerah dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan
dan pembangunan”. 34
Jika dikaitkan dengan tujuan penyelenggaraan hubungan dan kerjasama
dengan pihak luar negeri, maka ketentuan-ketentuan Permendagri tersebut
menjadi instrumen daya dukung pelaksanaan otonomi daerah guna meningkatkan
kemampuan Pemerintah Daerah dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan
dan pembangunan.
Selain itu ditegaskan pula bahwa : “Kerjasama luar negeri merupakan
pelengkap dalam melaksanakan pembangunan nasional dan daerah, dan
pelaksanaannya harus tetap memperhatikan asas persamaan dan saling memberi
manfaat serta tidak boleh merugikan kepentingan ketertiban, ketenteraman dan
kepentingan umum, stabilitas politik dalam negeri, persatuan dan kesatuan bangsa
serta kepribadian nasional”. 35
34
35
Ibid. Hal 7.
Ibid. Hal 8.
Universitas Sumatera Utara
Konsep otonomi daerah dengan prinsip otonomi seluas-luasnya serta
otonomi yang nyata dan bertanggungjawab menempatkan pemerintah daerah yang
merupakan bagian dari perilaku birokrasi dalam tatanan pemerintahan Indonesia
untuk dapat lebih mampu melaksanakan tugas-tugas pemerintahan dan
pembangunan dalam mencapai tujuan nasional. Untuk melaksanakan tugas-tugas
tersebut di antaranya melakukan hubungan dan kerjasama dengan daerah lain
termasuk juga hubungan dan kerjasama dengan pihak manca negara.
Selain itu, pelaksanaan hubungan kerjasama luar negeri harus aman dari
berbagai segi, yaitu:
1. Politik (tidak bertentangan dengan politik luar negeri dan kebijakan
hubunganluar negeri pemerintah pusat pada umumnya).
2. Keamanan (tidak menggangu dan mengancam stabilitas negara)
3. Yuridis (adannya jaminan kepastian hukum).
4. Teknis (tidak
bvertentang
dengan kebijakan yang
ditetapkan
departemen yang terkait). 36
Menurut Garis-garis Besar Haluan Negara 1999-2004, arah kebijakan
Propenas dalam Sub Bidang Hubungan Luar Negeri adalah:
1. Menegaskan arah politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif
dan berorientasi pada kepentingan nasional, menitikberatkan pada
solidaritas
antarnegara
berkembang,
mendukung
perjuangan
kemerdekaan bangsa-bangsa, menolak penjajahan dalam segala
36
http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/6209237254_1693-5594.pdf
Universitas Sumatera Utara
bentuk, serta meningkatkan kemandirian bangsa dan kerjasama
internasional bagi kesejahteraan rakyat.
2. Dalam melakukan perjanjian dan kerjasama internasional yang
menyangkut kepentingan dan hajat hidup orang banyak harus dengan
persetujuan lembaga perwakilan rakyat.
3. Meningkatkan kualitas dan kinerja aparatur luar negeri agar mampu
melakukan diplomasi pro aktif dalam segala bidang untuk membangun
citra
positif
Indonesia
di
dunia
internasional,
memberikan
perlindungan dan pembelaan terhadap warganegara dan kepentingan
Indonesia, serta memanfaatkan setiap peluang positif bagi kepentingan
nasional.
4. Meningkatkan kualitas diplomasi guna mempercepat pemulihan
ekonomi dan pembangunan nasional, melalui kerjasama ekonomi,
regional maupun intternasional dalam rangka stabilitas, kerjasama dan
pembangunan kawasan.
5. Meningkatkan kesiapan Indonesia dalam segala bidang untuk
menghadapi perdagangan bebas, terutama dalam menyongsong
pemberlakukan AFTA, APEC dan WTO.
6. Memperluas perjanjian ekstradisi dengan negara-negara sahabat serta
memperlancar prosedur diplomatik dalam upaya melaksanakan
ekstradisi bagi penyelesaian perkara pidana. 37
37
Damos Dumoli Agusman, Hubungan dan Kerjasama Luar Negeri Dalam Kerangka
Otonomi Daerah, Ditjen Hukum dan Perjanjian Internasional Departmen Luar Negeri, Jakarta,
2007, hlm 24.
Universitas Sumatera Utara
Sejalan dengan hal tersebut terdapat aturan-aturan mengenai hubungan
bersahabat antara negara-negara. Beberapa aturan mengenai hubungan bersahabat
antara negara-negara terdiri dari:
1. Prinsip yang mungkin sejalan dengan larangan dalam hukum
nasional terhadap penyalahgunaan hak (abuse the right) bahwa
suatu negara tidak boleh mengizinkan wilayahnya digunakan untuk
tujuan-tujuan yang membahayakan kepentingan negara lain.
Misalnya kasus Yunani pada Tahun 1946-1949.
2. Dalam Trail Smelter Arbitration Case 1941 diakui prinsip bahwa,
suatu negara memikul kewajiban untuk melakukan pencegahan
wilayahnya dijadikan sumber kerugian ekonomi dari wilayah
tetangganya. Misalnya lewat pembuangan gas beracun (toxius
fumes).
3. Dalam Declaration on Human Environment yang dikeluarkan oleh
Konfrensi Stockholm tentang Lingkungan Hidup Manusia bulan
Juni 1972 (Prinsip 21-22 Deklarasi), dinyatakan bahwa negaranegra bertanggung jawab menjamin bahwa aktivitas-aktivitas
dalam yurisdiksi atau pengawasan mereka tidak menimbulkan
kerusakan lingkungan negara-negara lain, atau dikawasan-kawasan
di luar batas-batas yuridiksi nasional. misalnya uji coba nuklir yang
dilakukan oleh Prancis di wilayah Pasifik.
4. Dalam Corfu Channel Case (Merits) 1949, Internastional Court of
Justice menyatakan bahwa telah menjadi “suatu prinsip yang
Universitas Sumatera Utara
diakui oleh umum” bahwa setiap negara memikul kewajiban untuk
tidak memberikan wilayahnya digunakan bagi tindakan-tindakan
yang bertentangn dengan hak-hak negara lain.
5. Dalam Pasal 74 Charter Perserikatan Bangsa-Bangsa, prinsip
umum mengenai bertetangga baik (Good Neighbourlines) di
bidang sosial, ekonomi, dan perdagangan ditetapkan sebagai hal
yang harus ditaati negara-negara anggota berkaitan dengan wilayah
induk dan wilayah-wilayah bagiannya.
6. Dalam Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa
tanggal 3 November 1947, prinsip tentang kewajiban menjalin
persahabatan antara negara-negara yang mengutuk propaganda
yang ditunjukan atau kemungkinan untuk provokasi atau
mendukung terhadap ancaman-ancaman terhadap perdamaian,
pelanggaran perdamaian dan tindakan-tindakan Israel. 38
Erat kaitannya dengan prinsip-prinsip kewajiban bersahabat antara negaranegara adalah konsep yang saat ini terus dikembangkan yaitu konsep “hidup
berdampingan secara damai” (peacefull co-existence). Lima prinsip tentang hidup
berdampingan secara damai ini disepakati secara tegas oleh India dan Republik
Rakyat Cina di dalam Mukadimah Traktat mengenai Tibet yang ditandatangani di
Beijing tanggal 29 April 1954. Prinsip-prinsip itu adalah:
1. Saling menghormati integritas dan kedaulatan teritorial masingmasing.
38
T. May Rudy. Hukum Internasional 1. PT. Refika Aditama. Bandung. 2002. Hal. 48.
Universitas Sumatera Utara
2. Saling tidak melakukan agresi (mutual non-agresional).
3. Saling tidak mencampuri urusan-urusan dalam negeri masingmasing.
4. Persamaan kedudukan dan saling menguntungkan.
5. Hidup berdampingan secara damai. 39
Lebih lanjut doktrin hidup berdampingan secara damai ini disebut dan
dinyatakan dalam traktat-traktat lainnya serta sejumlah deklarasi internasional,
seperti deklarasi-deklarasi yang dikeluarkan oleh Majelis Umum Perserikatan
Bangsa-Bangsa tanggal 14 Desember 1957, dan dalam Komite akhir dari
Konfrensi Asia Afrika di Bandung, Indonesia pada bulan April 1955 yang
memuat sepuluh prinsip berkenaan dengan permasalahan yang dibahas ini. Juga
bidang literatur secara pesat dikembangkan konsep hidup berdampingan secara
damai serta tempatnya secara tepat di dalam hukum internasional.
Contohnya:
1. Report of the Forty-ninth Conference at Hamberg of the International
Law Association 1960, hal. 368-370.
2. Vallat, Year Book of World Affairs (1964), hal 249-258.
3. Proffesor
G.I.Tunkin,
Droit
Internatinal
Public:
Problemes
Theoriques (terjemahan dari bahasa Rusia,1965) hal 51-55.
4. Rosalyn Higgins, Conflict of Interest (1965) p.3.40
Bebarapa diantaranya membatasi konsep hidup berdampingan secara
damai pada kaidah-kaidah atau prinsip-prinsip yang menjamin bahwa negara39
40
Ibid.
Ibid . hal 49.
Universitas Sumatera Utara
negara yang menganut sistem politik atau sistem ekonomi yang berbeda harus
menghormati kedaultan masing-masing atau pemikiran-pemikiran mereka
terhadap negara-negara lain.
Bagaimanapun, sebagian besar prinsip yang harus dinyatakan sebagai
norma-norma hidup berdampingan secara damai tersebut adalah sama sekali
bukan hal yang baru dan telah ada baik secara tegas ataupun tersirat dalam isi
Charter Perserikatan Bangsa-Bangsa serta dalam konstitusi-konstitusi organisasi
internasional
lainnya.
Barangkali,
nilai
sebenarnya
dari
konsep
hidup
berdampingan secara damai terketak dalam penekanannya pada konstitusi tersebut
diatas terhadap masyrakat internasional yang pada saat ini terbagi dalam blokblok yang saling bermusuhan, dan andai kata mungkin perumusan serta
pengkodifikasian
kaidah-kaidah
yang
bersangkutan
dapat
mengurangi
ketegangan-ketegangan, seklipun tidak banyak yang dapat disumbangkan kepada
ketentuan-ketentuan charter.
Semua uraian diatas pada dasarnya hendak memperlihatkan atau
menegaskan fakta bahwa negara menjadi pelaku utama yang penting dalam
hubungan internasional maupun dalam kerangka hukum internasional. Tentu saja
hal itu bermaksud untuk mengeyampingkan keberadaan dair non state actors.
Jika kenyataan diatas dikaitkan dengan persoalan menyangkut hubungan
luar negeri yang dilakukan oleh pemerintah daerah maka jelaslah bahwa
hubungan luar negeri hanya itu berada sepenuhnya dibawah kewenangan
pemerintah pusat (negara). Menurut hukum internasional yang berlaku seperti
Konvensi Wina 1969 dan Konvensi Wina 1986 tentang “hukum perjanjian”
Universitas Sumatera Utara
bahwa subjek-subjek hukum internasional yang dapat membuat perjanjian
internasional hanyalah “negara” dan organisasi internasional”. Selain itu subjek
hukum internasional yang dapat membuat perjanjian internasional adalah Tahta
suci Vatikan, kaum Belligrent, dan bangsa yang sedang memperjuangkan
haknya. 41
Dengan demikian jelaslah bahwa hubungan luar negeri yang dilakukan
oleh pemerintah daerah maupun negara-negara bagian dapat dilakukan sepanjang
masih berada dalam kewenangan pemerintah pusat atau pemerintah federal.
Pembuatan perjanjian internasional sebagai tindak lanjut dari hubungan luar
negeri yang dilakukan oleh pemerintah daerah atau negara bagian dilakukan atas
nama pemerintah pusat atau atas nama pemerintah federalseperti yang dimaksud
dalam Konvensi Wina 1961 tentang “Hubungan Diplomatik”, Konvensi Wina
Tahun 1963 tentang “Hubungan Konsuler” dan Konvensi Wina Tahun 1969
tentang “Perjanjian Internasional”. Sebagai konsekuensinya, apapbila pemerintah
daerah atau negara bagian melakukan perbuatan yang melanggar kewajibankewajiban internasional maka pemerintah pusat atau pemerintah federal yang
harus mengambil tanggung jawab internasionalnya dengan mengatasnamakan
negara.
41
http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/6209237254_1693-5594.pdf
Universitas Sumatera Utara
Download