Islam and the Secular State

advertisement
Edisi 001, Oktober 2011
Review Buku
Review Buku | Edisi 001, Oktober 2011
Pro
je
D
ig
ital
ct
kaa
n
MENJADI MUSLIM
DI NEGARA SEKULER
Ihsan Ali Fauzi
1
Edisi 001, Oktober 2011
Informasi
Review Buku Buku: Abdullahi Ahmed AnNa`im, Islam and the Secular State:
Negotiating the Future of Shari`a
(Cambridge, MA and London, England:
Harvard University Press, 2008), 336
halaman.
o
ABSTRAK
c
cy
a
r
Dem
Masalah tempat agama, ter masuk Islam
dan hukum-hukumnya, dalam sistem
politik demokrasi modern ter us ramai
diperbincangkan para ahli dan agamawan.
Dalam buku ini, Abdullahi Ahmed AnNa`im menawarkan satu pandangan bar u
mengenai tempat hukum Islam (Syari`ah) di
dalam satu negara demokratis. Dia menolak
hukum Islam dijadikan hukum nasional,
dengan argumen-argumen yang diambilnya
dari ajaran-ajaran dan sejarah Islam sendiri
dan dari wawasan tentang sekularisme
yang netral-agama, yang ditur unkannya
dari khazanah filsafat dan ilmu-ilmu sosial
kontemporer. Menur utnya, kaum Muslim
justr u hanya dapat menjadi Muslim yang
seutuhnya di bawah sekularisme modern
yang netral-agama.
Pe
rp
2
us
ta
Edisi 001, Oktober 2011
B
Pro
je
Review Buku
D
ig
ital
ct
eberapa tahun belakangan ini,
Abdullahi Ahmed An-Na`im,
penulis buku ini, guru besar hukum
di Universitas Emory, Amerika
Serikat, sibuk berkeliling dunia
Islam. Dia sedang mengampanyekan
proyeknya yang ambisius, yang
disebutnya “Menegosiasikan Masa
Depan Syari`ah,” yang berkisar pada
upaya memperoleh rumusan yang
masuk akal mengenai hubungan
antara Syari`ah dan politik
demokratis di negara modern. Dalam
rangka itu dia juga sempat mampir
ke Indonesia, untuk menawarkan
gagasannya dan berdiskusi dengan
kaum Muslim di sini. Sebelum
dibukukan, bahan-bahan proyek ini
sudah ditayangkan di website-nya,
dalam beragam bahasa.
kaa
n
Mengingat rekam jejak kesarjanaan
dan aktivismenya, pandanganpandangan An-Na`im penting
didengar dan diperbincangkan.
Dalam bukunya yang sebelumnya,
Toward an Islamic Reformation
(1990), dia sudah menyerukan
3
Edisi 001, Oktober 2011
Review Buku
c
cy
a
r
Dem
o
reformasi Islam, dengan menegaskan
kompatibilitas Syari`ah dengan
prinsip-prinsip universal hak
asasi manusia HAM). Inilah yang
mendorongnya bergiat sebagai wakil
Human Rights Watch di Afrika,
satu lembaga advokasi HAM yang
terkenal. Dia didorong pengalaman
traumatis. Mahmud Muhammad
Thaha, guru yang amat dihormatinya,
digantung rezim pemerintah Islam
Sudan karena dianggap mengajarkan
paham Islam yang salah. Sejak itu,
dia menjadi pelarian politik di AS.
Pe
Dalam buku ini, An-Na`im
menyuarakan kembali pandangan
lamanya tentang mudarat yang pasti
diderita kaum Muslim jika negara
diberi hak mengelola Syari`ah. Tapi
argumen-argumennya dalam buku
lebih kaya dan matang dibanding
sebelumnya. Katanya, Syari`ah
terbuka kepada beragam penafsiran,
padahal penerapannya oleh negara
mengharuskan penunggalan
penafsirannya. Formalisasi Syari`ah
juga berarti pemaksaannya. Ini
rp
4
us
ta
Edisi 001, Oktober 2011
Review Buku
Pro
bertentangan dengan ajaran Islam
yang menyerukan umatnya untuk
menjalankan Syari`ah secara sukarela.
Bukankah nanti, di akhirat, kita
ditimbang menurut apa yang kita
sendiri lakukan?
je
D
ig
ital
ct
Maka tesis dan seruan utama AnNa`im jelas: untuk kebaikan mereka
sendiri, masyarakat-masyarakat
Muslim perlu membangun sebuah
negara sekuler yang “bersikap
netral dalam masalah ajaran-ajaran
agama” dan “tidak mengklaim atau
berpretensi untuk memaksakan
penerapan Syari`ah – hukum
agama Islam.” Dia mendukung
pandangannya ini dengan
mengajukan sejumlah argumen
yang diyakininya sebagai “argumenargumen Islam.” Selain itu,
pandangannya juga ditopang oleh
berbagai perkembangan mutakhir
dalam disiplin filsafat politik,
sosiologi dan ilmu politik.
kaa
n
Argumen keislamannya yang paling
penting adalah bahwa seorang
5
Edisi 001, Oktober 2011
Review Buku
c
cy
a
r
Dem
o
Muslim hanya dapat “menjadi
Muslim berdasarkan keyakinan dan
pilihannya sendiri.” Karena itu,
ketika kekuatan memaksa negara
mencoba memaksakan Syari`ah, hal
itu pada dasarnya justru memasung
kehidupan keagamaan seorang
Muslim. Terkait dengan ini, AnNa`im juga menyatakan bahwa hanya
sebuah negara sekuler yang dapat
menjamin dan menjadi penengah bagi
kehidupan plural dalam masyarakat
yang majemuk. Negara sekuler pula
yang dapat menjamin “perdamaian
di dalam dan di antara komunitaskomunitas keagamaan.”
Pe
Argumennya yang lain berasal
dari wawasan ilmu politik, yakni
bahwa lembaga-lembaga negara
itu dikontrol oleh pejabat-pejabat
negara. Ketika mereka mengadopsi
hukum Islam atau memilih satu di
antara beberapa tafsir atas hukum
Islam tertentu, maka sebenarnya
mereka sedang melakukan itu sebagai
aktor-aktor negara. Karenanya, “apa
pun yang dilaksanakan negara atas
rp
6
us
ta
Edisi 001, Oktober 2011
Review Buku
nama Syari`ah, semuanya itu akan
dengan sendirinya bersifat sekuler.”
Pro
je
D
ig
ital
ct
An-Na`im juga memperkuat
argumennya dengan tinjauan
sejarah. Menurutnya, pada masa
Islam pra-kolonial, termasuk di
masa kekhalifahan yang awal, agama
dan negara juga tidak sepenuhnya
bercampur. Di sini berlangsung
pemisahan antara kewenangan
para ulama dan kewenangan para
pemimpin politik. Ada saat-saat
di mana para khalifah mencoba
mengontrol ulama dan ada saat-saat
di mana para ulama memberontak
terhadap ketetapan pemimpin politik.
kaa
n
Lebih dari itu, dalam sejarah, praktik
keagamaan Islam dan aturan-aturan
hukum yang menyertainya seringkali
jauh lebih beragam dibanding yang
mungkin bisa ditoleransi oleh negaranegara modern yang mengklaim
monopoli atas pemilihan dan
penerapan hukum. Nah, keragaman
hukum Islam di masa lalu itu sulit
untuk diterapkan begitu saja di masa
7
Edisi 001, Oktober 2011
Review Buku
c
cy
a
r
Dem
o
sekarang, karena sistem kenegaraan
modern memerlukan sistem hukum
yang lebih menyatukan. Itu sebabnya,
bahkan negara-negara yang kini
mengklaim-diri sebagai negara Islam
pun, seperti Saudi Arabia, Sudan
atau Iran, hanya menerapkan bagianbagian tertentu dari Syari`ah dan
mengadopsi banyak aturan-aturan
hukum yang berasal dari Barat untuk
urusan-urusan lain.
Pe
Maka An-Na`im tegas menyatakan
bahwa negara sekuler adalah lembaga
terbaik yang bisa menampung gairah
umat Islam akan Syari`ah. Karena
itu, dia membela sekularisme,
sekaligus merehabilitasi nama
buruknya di mata banyak kaum
Muslim. Baginya, sekularisme adalah
paham mengenai pengelolaan negara
yang bersifat netral-agama, bukan
benci agama. Dan dia menunjukkan
bahwa rumusan “pemisahan agama
dan negara” ini diterapkan secara
berbeda-beda di banyak negara,
sesuai dengan kondisi dan latar
belakangnya.
rp
8
us
ta
Edisi 001, Oktober 2011
Review Buku
Pro
je
ital
ct
Mengikuti jejak para pemikir seperti
John Rawls dan Jürgen Habermas,
An-Na`im lalu berbicara mengenai
pentingnya nalar publik (public
reason) sebagai satu-satunya
prasyarat agar pesan Syari`ah
bisa didesakkan ke ruang publik.
Di sini seorang Muslim tampil
sebagai seorang warga negara yang
hendak memperjuangkan kesalehan
personalnya ke ruang publik. Dus,
butir-butir Syari`ah diterima atau
ditolak publik bukan karena ia
berasal Tuhan, melainkan karena ia
secara demokratis dianggap baik atau
buruk oleh publik.
D
ig
Rumusan menjanjikan An-Na`im ini
akan memperoleh reaksi keras dari
kaum Muslim yang paternalistik,
yang beranggapan bahwa penerapan
Syari`ah harus dikontrol lembaga
tertentu. Di sini, kewajiban
menjalankan Syari`ah dipahami
sebagai kewajiban negara atau ulama
mengontrol penerapannya oleh kaum
Muslim. Ada jurang lebar antara
doktrin Islam yang menegaskan
kaa
n
9
Edisi 001, Oktober 2011
Review Buku
pentingnya individu dan realitas
aktual banyak kaum Muslim yang
terus bersikap paternalistik. Oleh
mereka yang diuntungkan sikap ini,
An-Na`im akan dituduh melanggar
doktrin Islam tentang kewajiban
Syari`ah.
c
cy
a
r
Dem
o
Seruan An-Na`im tentang perlunya
sekularisme bagi kalangan agamawan
juga akan ditentang oleh mereka yang
membaca sekularisme sebagai paham
yang memang ingin menyingkirkan
agama, karena agama dianggap
sebagai sumber segala penyakit.
Itulah yang mencirikan sejarah
sekularisme modern di negara-negara
seperti Perancis. Itu pulalah yang kita
simak akhir-akhir ini di Turki, tempat
di mana seorang politikus penting
ingin digonjang-ganjingkan kariernya
hanya karena istri dan kedua putrinya
berjilbab.
Pe
rp
Sekalipun ambisius, proyek AnNa`im patut didukung. Kita boleh
berbeda pendapat dengannya
soal detail, tapi secara garis besar
10
us
ta
Edisi 001, Oktober 2011
Review Buku
Pro
proyeknya mencerahkan. Kaum
Muslim perlu memperbarui diri,
menafsirkan kembali Syari`ah agar
sesuai dengan kebutuhan kiwari
mereka. Tapi itu hanya mungkin jika
wadah penerapannya, negara sekuler
modern, juga berbenah diri: tidak
perlu menganakemaskan agama, tapi
juga tak menganaktirikannya.
je
D
ig
ital
ct
kaa
n
11
Edisi 001, Oktober 2011
c
cy
a
r
Dem
© 2011
Review Buku ini diterbitkan oleh
Democracy Project,
Yayasan Abad Demokrasi.
o
Review Buku
Jika Anda berminat mendapatkan buku
(ebook) yang direview, silakan isi
form permintaan.
12
Pe
Kode buku: AAA001
rp
us
ta
Download