Dialog-Kritis Antara Golongan Elit Dan Warga Desa

advertisement
BAB 7 DESA dan OTONOMI
7.1. Desa dan Antar Desa: Antara Aspirasi dan Kenyataan
Keberhasilan ide pembangunan pemerintah pusat pada dasarnya
sangatlah dibatasi oleh kemampuan untuk mewujudkannya. Keterbatasan
penyediaan baik berupa dana, tenaga ahli, dan lain-lain, mengakibatkan
pelaksanaan kegiatan pembangunan sesungguhnya akan memerlukan tumpuan
pada kemampuan atau potensi-potensi yang ada di desa itu sendiri. Dengan
kata lain ada semacam ketergantungan pembangunan seperti yang dimaui
pemerintah itu kepada institusi-institusi yang ada pada komunitas desa, baik
formal maupun informal.
Padahal sebagaimana kita ketahui selama perjalanan PJP I sumber
kekuasaan lebih banyak di tangan pemerintah. Hampir semua kemauan
pemerintah pada dasarnya sulit ditentang, dikritik, atau bahkan diberi tafsiran
yang berbeda. Ini semua karena institusi-institusi swadaya non-pemerintah dan
swasta tidak cukup kuat secara politik untuk menghadapinya. Pemerintah hanya
dapat dikritik dalam hal-ha1 yang bersifat teknis belaka, namun tidak dalam
essensinya. Pertanyaannya adalah apakah Indonesia masa itu diperintah oleh
rezim yang otoriter atau totaliter. Pertanyaan ini memang tidak mudah dijawab.
Hal ini disebabkan, dalam kenyataannya realitas selalu lebih majemuk daripada
teori. Teori selalu menunjuk pada penggambaran ideal dari tipe yang diuraikan,
sedangkan realitas merupakan campuran dari pelbagai tipe, yang satu lebih
dominan dari pada yang lainnya'
.
Dalam uraian terdahulu kita telah sempat rnembahas tentang apa itu
Negara Korporatis. Dimaksudkan dengan konsep ini adalah negara secara
sepihak mengambil inisiatif kebijaksanaan-kebijaksanaannya. Diakui, negara
secara aktif memang berkonsultasi dengan wakil-wakil masyarakat untuk
mengemukakan pandangan-pandangan mereka. Namun dalam waktu yang
Lihat Arief Budiman (1987:3), Kebudayaan Kekuasaan atau SosiologiKekuasaan,
Prisma No. 3, LP3ES, Jakarta.
bersamaan sebenarnya negara juga berperan aktif dalam menentukan
kelompok-kelompok mana dari masyarakat yang boleh mengirim wakil-wakilnya,
berapa jumlahnya, dan sebagainya. Dengan kata lain, proses demokratis yang
dijalankan negara merupakan proses demokrasi yang datang dari atas, dan
sifatnya terbatas. Melalui proses ini diharapkan kebijaksanaan-kebijaksanaan
negara yang dihasilkan akan bersifat melayani kepentingan umum2 .
Dengan penggambaran di atas tampaknya lebih mudah bagi kita untuk
sepakat
menempatkan
Indonesia, semasa PJP I, pada bentuk negara
korporatis. Pada bentuk negara yang demikian itu maka gejala birokratisasi
dalam pembangunan menjadi ha1 yang tak terelakkan. Artinya, keterlibatan
pemerintah yang cukup jauh dalam proses pembangunan dengan menciptakan
dan
menggunakan organisasi
(korporatis) bukan saja
terbatas
untuk
menghimpun berbagai sumberdaya yang dibutuhkan, tetapi juga
untuk
mempertahankan dan melaksanakan kekuasaan. Namun keterlibatan ini sering
begitu menonjol; sehingga terasa makin menciutkan kebebasan bertindak dalam
berbagai bidang kehidupan masyarakat
.
Kembali pada temuan pokok studi ini kita dapat melihat bagaimana
proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan kegiatan PMD-formal lebih
banyak berlangsung pada ruang sosial semi-otonom. Hal ini tak lain merupakan
reaksi dari tak berfungsinya institusi-institusi desa bentukan pemerintah (LMD
dan FKMD) dalam menjalankan missinya. Lebih khusus dapat dicermati
tampilnya kekuatan PS mengkritisi sikap kekuatan PM-formal (yang dibawakan
oleh Kades dan aparaturnya) dalam kegiatan PMD-formal (yang diprakarsai
pihak atas-desa) adalah indikasi dari tak berhasilnya institusi-institusi formal
desa bentukan pemerintah menjembatani kepentingan dua kekuatan tersebut
secara fungsional. Lebih spesifik dapat saya katakan pedoman normatif yang
menjadi acuan kerja institusi-instittusi tersebut pada gilirannya hanya berfungsi
LihatArief Budiman (op cit, 1982:6).
a Lihat John J.O.I. lhalauw (I98215), BimkmfisasidalamPembangunan, Prisma No.7,
LP3ES. Jakarta.
sebagai kategori imperatif yang terbatas saja tanpa kemampuan memberikan
irnbas pada praksis. Proses tarik-menarik kepentingan antara Kades dan warga
desa, mencakup di dalamnya golongan periferi, terkadang harus berlangsung
cukup menegangkan. Hal yang patut dicatat dari kasus di desa Cijati adalah
proses tarik-menarik kepentingan tersebut berhasil berlangsung dalarn proses
interaksi yang egaliter karena di dalamnya berhasil berkembang dialog-dialog
kritis. Tentu saja tidak seluruh ajang sosial mampu bertransformasi menjadi
ruang sosial semistonom yang berkembang di dalamnya proses-proses dialog
kritis. Ada prasyarat tertentu untuk keperluan tersebut, yaitu semua partisipan
melandasi diri dengan norma moral sosial yang sama dan otentik, khususnya
dari golongan elit.
Menyimak kenyataan di atas kita dapat mengatakan ketiadaan otonomi
desa untuk menata rumahtangganya sendiri telah menyebabkan Kades dan
jajarannya hanya dapat melaksanakan semua kegiatan PMD-formal atas
perintah dari atasdesa, tanpa diberi peluang yang memadai untuk memberikan
penafsiran atau mengadaptasikannya sesuai dengan kebutuhannya. PS dalam
ha1 ini adalah suatu peristiwa yang berjalan di luar sistem institusi formal, dan
sebaliknya PM-formal pun temyata hanya berhenti di di tataran normatif saja
tanpa ada pertautannya secara fungsional dengan praksis.
Bagi warga desa dan golongan periferi, seperti telah dinyatakan,
keharusan untuk
golongan elit
senantiasa menggelar interaksi yang dialogis dengan
untuk
hampir setiap soal yang langsung atau pun tidak
mempengaruhi atau bahkan mengancam nasib hidupn mereka tentu akan
sangat melelahkan dan menguras perhatian mereka. Hal ini juga akan
mengurangi perhatian mereka terhadap kepentingan-kepentingan lain yang juga
tak kalah mendesak, misalnya pendidikan anak, kegiatan-kegiatan sosial, dan
sebagainya.
Persoalannya kini adalah bagaimana agar aspirasi dari warga desa dan
kepentingan dari atasdesa dapat terhubungkan dalam dialektika yang bersifat
sinergis. Jawaban umum yang dapat kita ajukan adalah agar tampung saja
dalam suatu struktur institusi yang lebih akomodatif, dimana kekuatan yang
membawa kepentingan PM-formal dan PS dapat berdialog dalam kerangka kerja
institusional mengikuti istilah Habermas.
Persoalan ini selanjutnya akan membawa kita pada pertanyaan apakah
desa memerlukan otonomi tersendiri, sehingga pemerintahan desa dan
warganya dapat sepenuhnya menjalin hubungan kerjasama untuk mengurus
pemenuhan kebutuhan diri mereka sendiri. Namun sebelum menjawab
pertanyaan ini ingin saya ajukan sejumlah kenyataan lain yang mencerminkan
aspirasi warga desa dalam skala yang lebih luas (antar desa). Di Sumedang
misalnya dewasa ini
ada aspirasi kuat yang menginginkan pembangunan
waduk Jatigede segera direalisasikan. Mereka percaya dengan pembangunan
ini kesejahteraan para petani dan masyarakat Sumedang pada umumnya akan
lebih baik. Sejauh ini pembebasan tanah yang telah berlangsung kurang lebih
satu dasa warsa untuk sebagian telah selesai dilaksanakan. Tak banyak
keluhan yang terdengar dari warga yang bersangkutan soal pembebasan tanah
ini, sehingga sampai derajat tertentu pemasyarakatanfungsi dan manfaat waduk
ini bagi masyarakat Sumedang di masa depan dapat dikatakan
berhasil.
Pemasyarakatan yang dimaksud bukan hanya berjalan dari pemerintah pada
masyarakat, namun juga di kalangan anggota masyarakat itu sendiri lewat para
pemukanya.
Aspirasi lain berkenaan dengan ketentuan pelaksanaan proyek di atas
nilai Rp. 10 juta yang dalam ketentuan hanya boleh dilaksanakan oleh
kontraktor luar desa. Mereka ingin ketentuan ini dicabut dan diberikan
sepenuhnya kepada pemerintahan dan warga desa itu sendiri. Apalagi ada
keinginan di kalangan warga antar desa apabila ha1 ini bisa direalisasikan maka
mereka dapat mengkonsolidasikan dana tersebut yang kebetulan diterima oleh
sejumlah desa di satu kecamatan dalam satu proyek tertentu pada satu desa
tertentu pula secara bergilir. Hal yang sama juga diinginkan dapat berlaku untuk
dana proyek lnpres Bandes, agar pemanfaatannya dapat diserahkan
sepenuhnya kepada putusan desa, dan jika perlu dapat dikonsolidasikan pada
suatu proyek tertentu pada desa tertentu secara bergilir di satu lingkungan
kecamatan. Dengan demikian dana tersebut dapat terhimpun dalam jumlah yang
cukup memadai untuk membangun suatu proyek.
Aspirasi lain berkenaan dengan keberadaan dan mekanisme operasional
institusi-institusi berskala kecamatan, seperti KUD, Puskesmas, pasar Inpres,
terminal, dan sebagainya yang menurut penuturan sejumlah Kades sepantasnya
dibicarakan berdasarkan harapan dari bawah (warga antar desa) yang menjadi
sasaran kepentingannya. Selama ini institusi-institusi tersebut apabila dilihat
dari lokasinya saja, untuk mengangkat suatu contoh, tidak cukup strategis dilihat
dari kacamata warga dari sejumlah desa yang menjadi bagian kepentingannya.
Belum lagi apabila kita hendak membahas lebih mendasar institusi-institusi apa
yang sebenarnya lebih dibutuhkan masyarakat desa, mekanisme kerja apa yang
perlu dikembangkan, dan seterusnya.
7.2. Otonomi: Desa dan hubungannya dengan Atas-desa*
7.2.1. Otonomi dan Demokratisasi Kekuasaan
Melihat kenyataan di atas maka ada dua aspek persoalan yang pertamatama perlu menjadi perhatian banyak pihak, termasuk para ilmuwan sosial itu
sendiri. Pertama, persoalan kepentingan internal desa dan, kedua persoalan
eksternal yang melibatkan kepentingan antar desa (kecamatan), antar
kecamatan (kabupaten), dan seterusnya. Dengan demikian apabila kita hendak
membahas dimana dan bagaimana bentuk otonomi yang tepat maka kita perlu
melibatkan aspek-aspek persoalan tersebut dalam keterhubungannya dengan
kepentingan aras mikro, meso, dan bahkan makrolglobai. Atas dasar itu konsep
otonomi yang dimaksudkan di sini hendak saya beri pengertian dalam konteks
yang lebih longgar bahkan demokratis. Artinya, yang hendak ditekankan adalah
soal keterhubungan antara kesadaran lokal dengan faktor-faktor kekuatan atas' Dimaksudkan dengan daerah otonom, adalah kesatuan masyarakat hukum
yang rnempunyai batas wilayah tertentu, yang berhak, bewenang dan berkewajiban
mengatur dan mengurus rumah-tangganya sendiri ikatan negara kesatuan Republik
Indonesia, sesuai dengan peraturan per-undangan yang berlaku (UU no 5 1975, pasal
1 ayat e tentang pengertian-pengertian).
desa dalam hubungan yang sinergis. Di desa kasus telah terdernonstrasikan
bagaimana pembangunan proyek-proyek swadaya tidak hanya melibatkan
warga desa setempat namun juga warga asal yang kini berdiam menetap di
berbagai kota besar. Ini menunjukkan kesadaran lokal tak lagi harus dimengerti
dalam batas-batas geografis. Dengan kata lain, otonomi perlu diberi konteks
yang tak lagi me-dikhotomi-kan pemahaman konsep lokal vs global, basistempat (place-based) vs spasial (spatial). Otonomi juga bukan suatu bentuk
yang harus berakibat munculnya fragmentasi kekuasaan. Otonomi justru
sebagai implementasi demokratisasi pemerintahan yang diharapkan mampu
menjembatani kepentingan dari berbagai aras mulai dari nasional, regional,
lokal, desa, komunal, termasuk dimensi kota4
.
Dalam rangka itulah uraian
berikut hendak saya tempatkan. Namun mendahului itu semua perlu kita tinjau
sejarah singkat masalah otonomi desaldaerah di tanah air kita.
Soemardjan menulis sejak Republik Indonesia (untuk selanjutnya disebut
RI) terbentuk sebagai suatu negara kesatuan yang merdeka dan berdaulat,
masalah desentralisasi kekuasaan pemerintahan kepada daerah-daerah otonom
mendapat perhatian besar pemerintah. Sebagai negara kepulauan yang
terbesar di dunia, hampir setiap orang berpendapat bahwa pembentukan
daerah-daerah otonom merupakan keperluan mutlak demi pemerintahan
demokratis yang efektif. Tidaklah mungkin pemerintah RI di tingkat nasional
melancarkan
kekuasaannya sampai pelosok-pelosok yang jauh. Perhatian
tersebut ditunjang pula oleh kenyataan adanya berbagai kendala fisik yang
mernbayangi tahun-tahun pertama hidupnya negara RI yang saat itu belum
dapat diatasi, seperti sistem telekomunikasi. Sarana-sarana transportasi masih
sangat terbatas. Di bidang sosial-budaya terdapat ratusan suku yang masingmasing mempunyai kebudayaan dan bahasa sendiri. Kebanyakan dari sukusuku itu pandangan hidup dan adat-istiadatnya berbeda dari yang dimiliki oleh
'
Bandingkan Arif Diriik (1998: 7-13), Globalism and The Politics of Place, Jumal
Development Vol. 41, Sage Publications.
Lihat pula David Slater (1988:21-28). me SpatialNes of Democratization h Global
Times, Jumal Development Vo1.41, Sage Publications.
masyarakat di Jakarta. Para pemimpin nasional RI saat itu menyadari adanya
kebhinekaan di bidang kesukuan dan kebudayaan itu. Namun sejajar dengan itu
agar bangsa Indonesia tidak rnelupakan bentuk tunggal bagi negara yang akan
dibentuk, maka kedua faktor kenyataan sosial-budaya itu dirangkaikan menjadi
semboyan negara Bhineka Tunggal Ika. Yang menjadi masalah pada waktu itu
adalah bagaimana membentuk pemerintahan yang mernperhatikan dan
rnenghormati kebhinekaan sosial-budaya itu, namun sekaligus dengan itu dapat
mengikat semua suku menjadi satu bangsa yang taat pada negara kesatuan RI=
.
Dikatakan lebih lanjut, menurut kesepakatan para pemimpin nasional maka
jalan terbaik untuk mengatasi dilema yang terkandung dalam hubungan antara
unsur bhineka dan tunggal adalah dengan membagi-bagi wilayah negara dalam
daerahdaerah seperti dirumuskan dalam pasal 18 UUD 1945 dan membentuk
pemerintahan di tiap-tiap daerah yang tunduk pada pemerintahan nasional. Oleh
karena sudah diterangkan datam penjelasan Pasal 18 UUD 1945 bahwa daerah
Indonesia akan dibagi dalam daerah-daerah propinsi dan daerah propinsi
dibagi dalam daerah yang lebih kecil, maka tidak ada keragu-raguan lagi
tentang ha1 itu. Seperti kita ketahui yang disebut daerah yang lebih kecil itu
kemudian menjelma menjadi daerah kabupaten dan kotamadya. Dengan
diberikannya otonomi kepada daerah-daerah itu maka secara resrni namanya
kemudian menjadi daerah otonomi tingkat I (propinsi) dan daerah otonomi
tingkat II (kabupaten dan kotamadya).
Disebabkan pembentukan daerah-daerah itu serta pengisian otonominya
dapat diatur dengan undang-undang atau dengan terminologi umum dapat diatur
dari atas maka relatif dari sudut hukum tidak banyak kesulitan yang dialami.
Namun dari sudut politik agak berbeda, selalu dirasakan keinginan masyarakat
di berbagai daerah untuk membentuk propinsi baru sebagai pecahan suatu
propinsi yang sudah ada dan kabupaten baru sebagai pecahan dari suatu
kabupaten yang lama. Mengenai pembentukan daerah-daerah administratif
Selo Soemardjan (1992:l-J).
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Otonomi Desa: Apakah
Itu 7, Jumal Ilmu-ilmu Sosial.
pada umumnya tidak dijumpai masalah-masalah yang berarti, baik secara
hukum maupun politis. Sebaliknya menghadapi desa, negeri, marga, dan
sebagainya yang diakui sebagai daerah istimewa tampaknya ada berbagai
pendapat yang berbeda-beda yang sampai sekarang belum dapat disatukan
dengan tuntas. Perbedaan pendapat itu mengakibatkan keragu-raguan
pemerintah untuk memilih antara sistem desentralisasi dua tingkat, yaitu dengan
daerah otonomi tingkat I dan tingkat II saja, dan sistem tiga tingkat dimana di
bawah tingkat II ditambah lagi dengan tingkat Ill .
Untuk menambah tingkat Ill itu desa, nagari, marga, dan sebagainya
(untuk selanjutnya disebut desa saja) yang berpenduduk antara 2.000-5.000
orang dianggap terlalu kecil untuk memegang otonomi seperti daerahdaerah di
atasnya. Lagi pula daerahdaerah kecil itu dipandang tidak mempunyai
sumberdaya manusia pendidikan cukup tinggi serta kesadaran nasional yang
cukup tebal untuk mendukung otonomi pemerintahan secara efektif. Untuk
mengatasi keraguan tersebut maka timbul pikiran agar daerah otonom tingkat
Ill itu diwujudkan dalam bentuk desapraja yang dibayangkan meliputi daerah
satu kecamatan yang mencakup sejumlah desa di dalamnya. Kalau ini terjadi
maka sifat daerah tingkat Ill pada pokoknya akan sama dengan daerah tingkat I
dan II, yaitu diciptakan dari atas dengan otonomi yang isinya ditentukan dari
atas pula. Pikiran itu kemudian direalisasikan dalam Undang-undang no 1911965
tentang Desapraja. Dalam proses pembentukan desapraja ini pemerintah pusat
berhati-hati sekali. Sebagai percobaan dibentuk beberapa daerah desapraja, di
antaranya di propinsi Sulawesi Utara. Tetapi tampaknya percobaan ini
menunjukkan gejala-gejala yang tidak membenarkan pelestarian desapraja itu,
sehingga percobaan dihentikan dan tidak disusul dengan mewujudkan
desapraja yang sungguh-sungguh di mana pun. Akhirnya Undang-undang no.
1911965 tersebut dicabut kembali dengan undang-undang no.511979 tentang
Pemerintahan Desa.
Dengan gagalnya usaha pembentukan desapraja itu pemerintah kembali
menghadapi desa dengan keraguan untuk menerapkan otonomi padanya,
sebagaimana otonomi yang dimiliki daerah tingkat I dan II . Sebaliknya tampak
juga keengganan pemerintah untuk rnengakui dan mengukuhkan otonomi asli
yang disandangnya oleh tiap-tiap desa sejak saat terbentuknya oleh para warga
masyarakat di zaman yang larnpau
Pikiran
yang
serupa
sebenarnya
pernah
diajukan
pula
oleh
Kartohadikoesoemo. Di sini beliau mengusulkan daerah setingkat Kawedanaan
agar dijadikan daerah otonom tingkat Ill. Pembentukan daerah seperti itu dalam
rangka usaha untuk memberi kemajuan secara tidak langsung. Artinya,
kemjauan itu diberikan oleh suatu kekuasaan dalam suatu organisasi
ketataprajaan yang menggabung beberapa desa menurut sistem yang dikenal di
kalangan rakyat, misalnya moncopat atau monco-limo desa, dan didasarkan
atas kepentingan bersama dari desa-desa itu sendiri. Bentuk itu di masa lalu
berhasil melindungi desadesa yang mendapat beban dari pemerintahan
penjajahan konservatif
pada permulaaan abad ke-19. Di samping itu ada
manfaat-manfaat lain yang dapat dipetik apabila kita menggunakan sistem
monwpat atau monw-limo desa ini, misalnya untuk menata kepentingan
pengairan irigasi bersama, mengatasi lolosnya para pemilik tanah guntai dari
wajib kerja, dan sebagainya. Jadi jelaslah sistem ini belurn mati, bahkan
berulangkali menunjukkan perannya kembali6.
Sistem ini didasarkan atas prinsip yang sangat sederhana, yang
dipraktekkan orang dari jaman dahulu, yaitu: kalau sesuatu beban atau
pekerjaan tidak mungkin dipikul oleh seorang, maka pikullah ia oleh beberapa
orang bersama-sama, pasti beban atau pekerjaan itu menjadi lebih ringan. Hal
lain, bahwa pemberian kemajuan kepada rakyat desa seharusnya jangan
diberikan langsung kepada desa per desa, sistem gotong-royong itu juga
penting berhubung dengan kelemahan desa-desa,
terutama di lapangan
keuangan, ekonomi, dan tenaga yang cakap. Jika otonomi yang modern hendak
diberikan kepada desadesa secara langsung, maka pada umurnnya desadesa
tidak akan mencapai kemajuan yang cepat berhubung dengan kekemahannya
6
Soetardjo Kartohadikoesoemo (1965: 283-291). Desa. Sumur Bandung. Bandung.
satu per satu tadi. Oleh karena itu lebih baik kalau otonomi yang modern itu
diselenggarakan oleh beberapa desa bersama-sama.
Jika otonomi yang modern itu, diselenggarakan oleh sesuatu gabungan
desa yang disusun secara federatif, maka kepribadian masing-masing desa
dapat dipelihara baik-baik dan lambat laun melalui jalan evolusi kepribadian
desa itu dapat dikembangkan oleh daerah gabungan, sehingga menjadi dasar
yang kuat bagi pembangunan negara secara keseluruhan Lebih rinci
diterangkan oleh Kartohadikoesoemo pemerintah daerah kawedanaan - seperti
juga pemerintah daerah otonom lain-lainnya
-
dalam negara kesatuan ini
haruslah merupakan sintesa, harus berarti manunggalnya kekuasaan berdaulat
dari negara kesatuan dengan kekuasaan rakyat dalam daerah.
Atas dasar prinsip tersebut di atas maka pemerintah daerah kawedanaan
menurut beliau harus tersusun sebagai berikut:
1. Dewan Perwakilan Daerah
2. Majelis Pemerintah Daerah, dan
3. Kepala Daerah, yaitu Wedana.
Anggota Dewan Perwakilan terdiri atas sejumlah anggota yang mewakili
rakyat desa-desa dalam kawedanaan. Sedangkan Pemerintah daerah dipilih
oleh anggota-anggota Dewan Perwakilan daerah, baik dari kalangan sendiri,
maupun dari luar yang dipilih selain oleh karena memiliki pengetahuan yang
luas tentang tugas pemerintah, juga memiliki komitmen dalam ha1 kepentingan
rakyat. Pemerintah daerah ini seharusnya jangan dijadikan dewan pemerintahan
yang bersifat politik, melainkan 'dewan pekerja' yang mewakili dan mengurus
serta memajukan kepentingan rakyat dalam berbagai-bagai aspeknya.
Mengenai ide Daerah Otonomi Tingkat Ill ini Sajogyo menulis bahwa
menjelang kita memasuki abad ke-21, modernisasi potensi pembangunan lokal
(antar desa dan antar kecamatan) dibayangkan dalam dua jenis perkembangan:
di bidang pemerintahan berupa Daerah Otonomi Tingkat Ill (bernama
'Kecamatan atau nama lain: Nagari, dsb). sedangkan di aras desa (definisi
sekarang) dan aras kampung (bagian dari desa) sebagai pengganti yang adalah
kelembagaan LPSM yang mencakup bentuk kelembagaan berdasar adat lokal .
Di aras inilah institusi berazas swadaya dan kemandirian dijamin ruang hidup
yang layak. Jika di tingkat desa (arti sekarang) Pemerintah Daerah akan
menempatkan petugas aparat, maka dapat diberi nama 'mantri desa' misalnya
(sama halnya sejak 1979 di wilayah Kotamadya ditempatkan pegawai sebagai
Kepala Kelurahan17.
7.3. Pikiran Tentang Otonorni dan Desa
Berdasarkan pemikiran di atas dan memperhatikan perkembangan di aras
atas-desa yang akan menyertai dan memberi pengaruh tertentu terhadap
kehidupan desa-desa, maka sejumlah pertanyaan yang lebih spesifik dapat
saya ajukan:
1. Apakah desa itu perlu otonom atau tidak ?
2. Apakah otonomi desa di masa-masa mendatang dapat menjawab tantangan
sosial, ekonomis dan teknologis, dan harus dilihat dalam skala apa ?
(komunal, mikro
-
desa, meso
-
kecamatanlkewedanaan, regional
-
kabupatenlpropinsi, makro - nasionallglobal )
3. Bagaimana dengan gagasan pembentukan daerah otonomi tingkat Ill atau
pikiran-pikiran alternatif ?, dan jika ada bagaimana dengan status desa itu
sendiri ?.
Sebelum itu, kita perlu mencatat terlebih dahulu pelajaran apa saja yang
dapat kita petik dari hasil-hasil studi di pedesaan mengenai ciri-ciri khas desa
dan masyarakatnya yang berguna untuk kita pakai sebagai landasan pikiran
sebelum kita melangkah lebih jauh dengan gagasangagasan otonomi. Dalam
ha1 ini kita dapat merujuk pada Soemardjan yang menyatakan bahwa tanpa
melupakan perbedaan asal-usul masyarakat desa yang timbul karena
perbedaan pola perkembangannya maka kita dapat melihat berbagai unsur
'
Sajogyo (1998), Ulasan Atas Ulasan Catatan Salogyo pada Ulasan 'Pencanan
Kerangka Miksos Sajogyo. Makalah disampaikan pada Diskusi Diselenggarakan oleh DOKIS.
Jurusan Sosek Faperta IPS.
sosial-budaya yang sama pada desa-desa pada umumnya sebelum mengalami
pembangunan '.
Dengan kata lain kita dapat mengidentifikasikan suatu cin imanen
masyarakat desa, sebelum tersentuh arus pembangunan. Ciri-ciri masyarakat
desa tersebut adalah:
1. Sumber penghidupan masyarakat desa adalah pada pokoknya tanah yang
dimanfaatkan
dengan
sistem
pertanian
atau
perkebunan.
Sumber
penghidupan masyarakat pantai adalah pokoknya laut yang menghasilkan
ikan dan menimbulkan masyarakat nelayan.
2. Teknologi pertanian, perkebunan, dan penangkapan ikan laut pada umumnya
rendah. Kekuatan keluarga untuk berproduksi terbatas pada subsistensi
(produksi untuk keperluan hidup keluarga sendiri, tidak untuk pasaran).
3. Tata hidup dan tata hubungan sosial di dalam masyarakat desa berkembang
untuk social subsistence (keperluan sosial sendiri) dengan menggunakan
kekuatan pengalaman hidupnya sendiri. Perkembangan ini rnenciptakan adat
yang di dalam beberapa ha1 menguat menjadi hukum adat dan menjadi
landasan pemerintahan desa dengan segala kelengkapannya.
4. Karena isolasi fisik dan kultural yang dialami dalam waktu panjang maka
sistem sosial masyarakat desa lebih kuat sifatnya daripada individualistik.
5. Dalam kehidupan yang terisolasi dan kolektif berdasarkan adat itu tumbuh
masyarakat desa yang dalam ilmu etnologi zaman belanda dinamakan adat
rechts-gemenschaap" (kesatuan masyarakat adat), yang meningkat menjadi
adat rechts-gemenschaap (kesatuan masyarakat hukurn adat). Kedua istilah
itu mengandung arti bahwa masyarakat menyandang tata hidup yang
berdasarkan adat atau bahkan berdasarkan hukum adat. Kalau adat hanya
berisikan pedoman hidup sosial yang tiap-tiap warga masyarakat diharapkan
menghayati, maka hukum adat mengandung peraturan dan larangan yan
diperkuat dengan ancaman hukum dan memerlukan peradilan yang
melembaga.
'Selo Soemardjan (op cit, 1992:58)
Ada juga orang yang mempelajari desa waktu zaman kolonial Belanda
yang sampai pada waktu kesimpulan bahwa secara hukum tata negara desa
dapat dinamakan dorps republiek (republik desa). Pandangan ini didasarkan
atas adanya pelengkap-pelengkap kenegaraan yang sesuai dengan TriasPolitica yang mengenal adanya badan-badan legislatif, eksekut~f, dan
yudikatif di suatu negara.
Para ahli masyarakat desa di zaman Republik Indonesia pada umurnnya
berpendapat; karena pertanian dan perkebunan menjadi usaha penghidupan
utama warga desa maka ini mengakibatkan berkembangnya hubungan magis
religius
antara masyarakat dan tanehnya. Seluruh adat mereka tak dapat
dipisahkan dari tanah selama tidak ada sumber penghidupan lain yang dapat
menggantikannya.
Memisahkan
desa
pertanian
dari
tanahnya
tanpa
menyediakan sumber penghidupan yang baru sebagai pengganti berarti
menciptakan kekosongan budaya bagi masyarakatnya dengan segala akibatnya.
Di samping hubungan dengan tanah yang dapat kita namakan landasan
teritorial ada landasan adat yang lain, yaitu atas dasar keturunan. Desa yang
sejak berdirinya tumbuh menjadi wadah kesadaran masyarakat dan kesatuan
pemerintah serta dijiwai oleh adat yang kuat itu, oleh pemerintah Belanda
dibiarkan melestarikan hidupnya tanpa banyak dicampuri urusan di dalamnya.
Namun sejak proklamasi RI 1945 masyarakat desa diikut-sertakan dalam
perjuangan revolusi fisik (sampai dengan 1950), sebagai pendukung massa
partai politik (sampai dengan 1965). Desa yang sepanjang massa hanya
mengerti adat untuk mengurus rumah-tangganya sendiri, sekonyong-konyong
diajari berbagai ideologi politik dan diajak ikut menyadari, kalau tidak ikut
memikirkan, masalah-masalah politik negara. Di bawah pemerintahan Orde
Baru (sampai dengan 1998) desa 'dibebaskan' kembali dari pengaruh politik
(kecuali Golkar tentunya) dengan dikenalkannya kebijakan massa mengambang
(floating mass). Dengan kata lain sebenarnya masyarakat desa tak pernah
mencapai kepulihan rust en orde (ketenangan dan ketertiban) di bidang politik
praktis seperti yang pernah dialaminya di zaman Belanda.
Dengan menyadari perjalanan masyarakat desa serupa itu saya berdiri
sejalan dengan pikiran-pikiran para ahli pedesaan terdahulu, yang melihat
otonomi tidak harus diletakkan di desa dengan sejumlah alasan sebagai berikuts
I . Di waktu mendatang akan terjadi perubahan-perubahan kependudukan yang
lebih besar secara kuantitatif dan kualitatif, dalam ha1 ini rnobilitas penduduk
secara horizontal dan vertikal akan berlangsung lebih cepat.
2.
Aspirasi penduduk makin kompleks dan menguat.
3.
Pelayanan administrasi pembangunan makin menonjol dalam bidang sosial,
budaya dan ekonomis, antara lain lingkungan hidup, kesehatan, air minum,
hutan, kesehatan, keamanan khususnya kepolisian, limbah, asosiasi-asosiasi
kepentingan seperi koperasi, kelompok tani pemakai air, kelompok petani
peternak, kehidupan keagamaan, kesenian, dan sebagainya yang harus
dilaksanakan di aras mikro.
Dalam kaitan ini apabila desa yang kita definisikan berskala seperti yang
dikenal sekarang, secara otonom, sulit dibayangkan akan marnpu membagi
seluruh risiko kehidupan tersebut atas jumlah penduduk dan potensi sosialekonomi yang mereka miliki sekarang ini. Skala desa dengan penduduk
sekitar 2.000-3.000 ribu orang terlalu kecil untuk rnembangun potensi
terhadap tantangan masa depan itu. Upaya-upaya ekonomis di aras mikro
harus didukung oleh minimal penduduk kira-kira setingkat dengan 5-6 desa.
3. Pikiran-pikiran altematif untuk membangun pemerintahan terendah di waktu
mendatang menurut saya harus dapat menjamin dua hal, yaitu skala
ekonomis, dan penyelenggaraanyang demokratis.
Berikutnya desa di waktu mendatang tidak perlu dirornbak, termasuk di
dalamnya sebagai kelompok masyarakat hukum. Di sini desa tidak berazas
-
Dalarn merumuskan pikiran-pikiran ini saya amat dibantu dengan diskusi- diskusi yang
pernah saya lakukan dengan intensif dalam beberapa kali perlernuan di kota Kupang benarna
bapak dr. Ben Mboi mantan Gubemur Propinsi NTT pada tahun 1991. Walaupun demikian isi
pikiran-pikiran yang diajukan di sini tetap merupakan tanggung jawab saya pribadi.
desentralisasi teritorial, melainkan desentralisasi fungsional dalam wilayah
yang ditetapkan dari atas.
Pengelompokan masyarakat dalam fungsi-fungsi tertentu sesuai dengan
partisipasinya: petani, peternak, nelayan, pramuka, alim ulama, koperasi,
guru dan sebagainya. Perwakilan dalam LKMD misalnya menggunakan
perwakilan atas dasar kelompok fungsional, bukan partai politik. Kades
adalah koordinator fungsi-fungsi di desa yang menerima gaji.
7.4. Rangkuman
Pendekatan PMD yang oleh pihak atas-desa dilakukan dengan cara
teknokratis dan paternalistik, telah memberi pelajaran penting bagi kita bahwa
cara seperti itu tidak tepat
untuk terus dipertahankan.
Dari kasus
penyelenggaraan Program lnpres Bandes, yang digelar lengkap dengan juknisnya sebagai contoh, dengan sangat gamblang menggambarkan ha1 tersebut.
Dengan pendekatan itu komunitas desa mendapat perlakuan ibarat sebuah
mesin atau anak kecil sehingga arahnya seolah bisa ditentukan begitu saja
dengan cara sepihak berdasarkan rencana-rencana yang disusun oleh para
pengambilan keputusan di tingkat atas-desa. Dapat diduga dengan pendekatan
seperti itu tak ada peluang cukup bagi warga desa untuk mempertanyakan,
menyesuaikan, mengoreksi, apalagi menggagalkan rencana-rencana yang
dinilai tidak tepat atau bahkan potensial merugikan mereka.
Implikasinya, apabila kita sepakat untuk meninggalkan pendekatan itu,
maka keberadaan dan peran institusi-institusi ekonomi-politik bentukan negara
yang selama ini sarat dengan ciri korporatis juga perlu ditinjau ulang. Alasannya
karena keberadaan dan peran institusi-institusi formal tersebut cenderung
hanya diperlakukan sebagai unit perwakilan kepentingan negara. Dengan ciri
kelembagaan seperti ini dapat dimengerti apabila pembentukan konfigurasi elif
lokal pun hanya merupakan hasil dari hubungan-hubungan kekuasaan yang
terbatas saja. Dikatakan terbatas, karena ia hanya melibatkan pihak-pihak yang
memiliki kekuatan dominan saja dalam percaturan dinamika ekonomi-politik
lokal. Dengan kata lain, karena ada faktor monopolisasi lembaga perwakilan
desa seperti itu maka dapat diduga hanya melalui elit desa sajalah terbentang
'jembatan' satu-satunya yang menghubungkan kepentingan warga desa dan
aktor-aktor di luar desa, khususnya dalam memperoleh akses pada sumberdaya
negara.
Dengan merujuk pada gambaran kasus Pilkades kita dapat melihat
bagaimana eratnya keterkaitan kepentingan antara pihak luar dan elit desa
tersebut secara timbal-balik. Pihak luar, dalam ha1 ini adalah aparat atas-desa,
sering tanpa ragu berupaya mendesakkan figur-figur
elit desa yang
dijagokannya untuk naik meraih jabatan Kades. Sebaliknya, kita juga
memperhatikan bagaimana individu-individu elit desa sendiri tak jarang bersikap
pro aktif
merangkul kekuatan atas-desa guna memuluskan langkah mereka
menuju puncak kepemimpinan desa. Singkat kata, memang tercipta
situasi
yang kondusif bagi kedua belah pihak untuk melakukan proses kolusi, karena
memang tatanan institusi lokal yang berciri korporatis pada dasarnya memberi
kemungkinan luas untuk terjadinya proses itu. Dengan tatanan kelembagaan
seperti itu kita juga melihat ada gejala umum yang mendorong elit desa, dalam
ini Kades dan perangkatnya, untuk mengejar karier dan bisnis ke aras atasdesa.
Memang benar, walaupun menurut Undang-undang No.511979 kepada
Kades masih diberi hak untuk menyelenggarakan rumahtangga, ternyata lewat
kebijakan lain pemerintah pusat rnasih melakukan campur tangan
dengan
Peraturan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) No.411984. Peraturan Mendagri ini
tidak hanya menyebutkan hak, akan tetapi lengkap dengan menyatakan apa
wewenang dan kewajiban Kades. Dengan demikian kita sadari bahwa secara
normatif Kades sesungguhnya tak rnemiliki dasar legalitas untuk tampil sebagai
pemimpin yang lebih otonom yang memihak pada aspirasi dan kepentingan
warganya.
Namun dalam prakteknya jelas ditunjukkan bahwa kepemimpinan Kades
tak mungkin berlaku ketat mengikuti dasar legalitas formal. Lewat
proses
Pilkades yang relatif demokratis warga sejak awal akan meng-klaim figur
pemimpin mereka yang terpilih menjadi Kades adalah miliknya yang sah dan
kompeten. Dengan kata lain proses Pilkades adalah titik genting yang akan
menentukan apakah warga akan berhasil mempertahankan Kades sebagai
'milik' warga ataukah ia akan 'direbut' sebagai wakil pemerintah atasan.
Menyimak apa yang terjadi di desa Cijati campur tangan pihak atas-desa
dalam Pilkades ternyata segera menghadapi perlawanan dari warga, sehingga
calon yang dijagokannya gagal naik menjadi Kades. Setiapkali Pilkades warga
berkepentingan untuk memastikan bahwa Kades pilihannya adalah figur
pembela kepentingan warga dalam arti yang paling otentik. Mengapa
demikian?, karena bila kita menyingkapkan kembali sejumlah kasus peristiwa
'pembangunan' dapatlah disimak bagaimana pergumulan yang bersifat tarikmenarik senantiasa menyertai di banyak kegiatan PMD.
Proses tarik-menarik ini kadangkala menyeret kedudukan Kades pada
posisi yang dikhotomis. Pada peristiwa penarikan pungutan dana warga oleh
pihak atas-desa yang mengatas-namakan kewajiban pembayaran pajak,
sumbangan, iuran, pembelian saham, dan sebagainya, kita dapat merasakan
makna reaksi warga yang urusan rumahtangganya menjadi terbebani. Apalagi
dalam pungutan-pungutan tersebut terselip pos-pos pungutan baru yang
terkesan mendadak. Namun yang lebih penting lagi dalam peristiwa ini adalah
warga tidak cukup memperoleh rasionalitas yang memuaskan dari kewajibankewajiban tersebut. Pungutan PBB misalnya oleh warga dipersepsikan sebagai
kewajiban yang samasekali tak memperhatikan kesulitan yang sedang dihadapi
warga akibat musim kemarau panjang. Situasi ini serta merta memposisikan
Kades dalam situasi pelik baik ke 'bawah' menghadapi warga maupun 'ke atas'
terhadap pejabat pengambil keputusan. Di sinilah Kades dituntut mampu
memainkan peranannya secara pas terutama terhadap warga desa yang seharihari harus dihadapinya. Sebagai catatan terdapat ha1 yang ironis sehubungan
dalam soal pungutan dana warga ini, yaitu jumlah total dana yang harus
disetorkan ternyata lebih besar daripada dana segar yang disuntikkan oleh
pihak atas-desa.
Namun kita juga disodori dengan gambaran lain dirnana Kades seringkali
tak berdaya rnenghadapi kekuatan pihak atas-desa. Satu contoh berkenaan
dengan pengaturan dalam pengerjaan proyek pembangunan fisik berskala
'besar' di wilayah pedesaan. Proyek demikian menurut ketetapan pemerintah
daerah haknya harus diberikan kepada pihak pemborong dari luar. Dalam
praktek pihak yang disebut terakhir ini ternyata lebih bertindak mengeruk
keuntungan belaka sehingga banyak menelantarkan mutu kerjanya.
Tentu saja praktek seperti ini hanya mungkin dilakukan apabila warga
desa tidak mereka libatkan menjadi tenaga kerja di dalamnya. Pelibatan warga
desa hanya akan menyebabkan terjadinya proses kontrol
yang bisa
menyulitkan praktek 'buruk' tersebut. Memang demikianlah yang terjadi, warga
hanya bisa menjadi penonton di kampung sendiri tanpa berkemampuan
melakukan protes karena memang mereka tak memiliki akses dengan aktoraktor luar yang menjadi pengambil keputusan.
Kades dan perangkatnya yang menjadi jembatan tunggal antara warga
dan pejabat para pengambil keputusan di atas-desa juga tak kuasa untuk
mempengaruhi kebijaksanaan tersebut. Di sinilah Kades menghadapi situasi
kritis, terutama karena golongan periferi khususnya sangat berharap dapat
memperoleh pekerjaan di dalamnya untuk sumber penghasilannya di situasi
kehidupan yang makin sulit.
Singkat kata, institusi-institusi
pembangunan desa yang berciri
korporatis telah gagal mengembangkan kegiatan PMD-formal rnenjadi PMDpartisipatif, karena memang tak tercipta media penyambung antara warga
terhadap negara dalam proses dialog yang kritis. Sebaliknya, apabila tadi kita
mengatakan perlu penggantian oleh institusi lain maka yang dimaksud adalah
sampai mana peranan lembaga-lembaga a d mendapatkan tempat yang lebih
otonom dan proporsional.
Lembaga asli itu adalah apa yang dikenal dengan sebutan crescived
institution, karena sebagaimana ditunjukkan dari hasil studi lembaga tersebut
masih kuat bertumpu pada keberadaan dan peranan kelompok-kelompok
primer. Kelompok-kelompok primer ini adalah berupa entitas kekerabatan,
entitas teritorial maupun berbentuk perkumpulan-perkumputan kecil di bawahdesa yang keseluruhannya dikenal pula dengan sebutan sodalis.
Diakui walaupun sejumlah kelompok primer terutama yang berwujud
perkumpulan-perkumpulan kesejahteraan seperti beas perelek, atau yang lebih
awal lagi adalah lumbung desa tidak lagi hadir dalam kehidupan warga, namun
kelembagaan yang mengakomodasikan kegiatan gotong-royong dan tolongmenolong antar kelompok-kelompok primer masih cukup kuat berperan. Dengan
kata lain kelembagaan yang disebut terakhir ini masih cukup efektif memainkan
peran bagi komunitas desa untuk mencapai kemaslahatan sosial (social utility).
Lembaga-lembaga tersebut biasanya bergiat setelah lebih dulu didorong
oleh adanya proses-proses dialog
antar warga yang melintasi perbedaan
golongan dalam media yang kita sebut sebagai ruang sosial semi-otonom. Kita
sebut semi-otonom. Di samping itu dengan istilah semi-otonom saya berrnaksud
menggaris-bawahi kenyataan bahwa pada dasarnya hubungan sosial itu rentan
terhadap pengendalian yang datang dari luar, misalnya karena pemberlakuan
suatu regulasi atau karena kegiatan dari alat-alat kelembagaan negara yang
didukung oleh kekuatan politik dan legalitas. Dengan demikian keberadaan
ruang sosial semi-otonom itu pada dasamya tidak cukup kuat memberikan
makna dalam kancah kegiatan PMD-formal, apabila pihak-pihak yang terlibat di
dalamnya tidak membekali diri dengan nilai moral sosial yang mengutamakan
kepentingan bersama (etos komunal).
Berdasarkan itu dapat kita katakan melalui ruang sosial semi-otonom,
yang mewujud dalam berbagai bentuk ajang sosial dengan kadar ikatan
konsensualnya yang berbeda-beda,
itulah warga desa dari golongan yang
berlainan dimungkinkan untuk sating bertemu dan berdialog kritis. Elit desa
yang menjalankan PM dan
warga desa termasuk golongan periferi yang
membawakan PS, dapat saling mempertemukan kepentingannya secara timbalbalik (resprokal) dalam wujud pengaturan kegiatan PMD-formal yang
bermanfaat bagi semua pihak..
Pertemuan-pertemuan silaturahmi antar warga di berbagai kesempatan
yang terbuka begitu lebar, apalagi yang melibatkan Kades seringkali akan
mengubah maknanya
menjadi ruang
sosial
semi-otonom yang
akan
menentukan bentuk respon warga secara keseluruhan terhadap kegiatan PMDformal. Pada gilirannya dengan bentuk respons tersebut kita akan memperoleh
perkiraan bagaimana efektivitas suatu kegiatan PMD yang akan dijalankan. Ini
memberikan pengertian bahwa keseimbangan kepentingan antara yang
dibawakan PM dan PS adalah sesuatu proses yang perlu dicapai.
Sebagai pelajaran utama dari hasil studi ini kita dapat rumuskan bahwa
proses-proses dialog kritis antar warga dari berbagai golongan senantiasa perlu
tergelar agar dapat memberikan legitimasi atas setiap bentuk pengejawantahan
PMD-formal. Namun demikian suatu proses dialog kritis akan mengalami
kemerosotan daya apabila senantiasa berlangsung di luar sistem, di luar
institusi-institusi formal.
la perlu ditampung dalam institusi formal, dan itu
berarti memerlukan independensi institusi itu sendiri dari berbagai macam
campur tangan pihak lain, termasuk pihak atas-desa.
7.5. Kesirnpulan dan Saran
Sebagaimana diketahui studi ini diawali dengan perumusan hipotesishipotesis yang membantu peneliti sebagai work guideline. Namun dalam
kenyataan hipotesis-hipotesis tersebut tentu saja telah memberi sumbangan
yang amat berharga tidak saja dalam menuntun kerja studi ini, melainkan juga
telah membantu peneliti untuk menarik kesimpulan-kesimpulan akhir. Dengan
kata lain kesimpulan-kesimpulan studi ini saya turunkan dengan merujuk ,
kembali pada hipotesis-hipotesis tersebut langung maupun tak langsung dan
bukan dalam konteks pengujian kebenaran ilmiah yang bersifat matematis,
melainkan lebih bersifat kualitatif. Kesimpulan-kesimpulan akhir studi ini
adalah sebagai berikut:
1. Timpangnya kedudukan beragam antar golongan sosial (di aras materiil)
yang menjadi pendukung beragam institusi PMD-formal bentukan
(pernerintah desa dan LKMD) memang berpengaruh penting pada kinerja
institusi. Narnun dengan etos kornunal resiprokal yang masih kuat
menopang sendi-sendi kehidupan sosial warga desa setempat rnaka
timpangnya kedudukan beragam golongan tersebutnya tidak sampai
membentuk corak kesadaran (di aras immaterial) yang berbeda-beda atau
bahkan bertentangan satu sama lain.
2. Pedoman normatif yang dilekatkan negara pada institusi-institusi PMD
formal tersebut, yang tujuan resminya untuk mengangkat kesejahteraan
warga desa khususnya golongan periferi, ternyata hanya berlaku sebagai
kategori imperatif yang bersifat simbolik belaka. Hal ini disebabkan karena
introduksi PM, lewat penyelenggaraan PMD-formal, oleh pihak atas-desa
lebih diberlakukan dengan corak yang
bersifat teknokratis
dan
paternalistik. Dari kasus penyelenggaraan Program lnpres Bandes, yang
digelar lengkap dengan juknis-nya sebagai contoh, dengan sangat
gamblang rnenggambarkan kepada kita tentang bagaimana PMD-formal
dengan segala kegiatan yang menyertainya bersifat disfungsional pada
kebutuhan kesejahteraan warga yang justru menjadi khalayak sasarannya.
3. Implikasinya, mudah dimengerti apabila institusi-institusi desa bentukan
atasdesa gagal mengembangkan kegiatan PMD-formal menjadi PMDpartisipatif, karena memang tak membangkitkan PS yang berhadapan
setara dengan PM. Kegagalan ini pada gilirannya menyebabkan tak ada
media proses sosial yang dapat menghubungkan kepentingan antara
warga desa dan negara dalam proses dialog yang kritis.
4. Menyimak bahwa proses rekrutmen calon Kades relatif dapat berlangsung
berlandaskan pilihan warga dalam tatacara yang demokratis, khususnya
untuk menjaring figur yang paling memiliki otentisitas moral, maka
sewajarnya hak, wewenang, dan kewajiban mengurus rumah tangga yang
ada pada Kades dan jajarannya perlu tumbuh dari dalam berdasarkan
sistem adat setempat.
5.
Keberadaan ruang sosial semi-otonom di aras bawah-desa dapat diduga
tak akan cukup berdaya untuk secara terus-menerus mempengaruhi
proses-proses pengambilan keputusan di aras desa dan apalagi di aras
atas-desa. Oleh karena itu hasil-hasil konsensus yang dicapai lewat
wacana sosial (ruang sosial semi-otonom) tersebut dapat kita nilai hanya
sebagai solusi yang bersifat ad hoc belaka, sehingga sangat melelahkan
dan menguras konsentrasi pikiran dan mental partisipannya khususnya
golongan periferi. Dengan kata lain diperlukan institusi PMD yang lebih
independen dan demokratis sehingga secara formal kelembagaan dapat
mengakomodasikan aspirasi warga desa secara keseluruhan, termasuk
dari golongan periferi.
Sejajar dengan itu kita juga dapat melihat hidupnya berbagai aspirasi
warga dalam lingkup antar-desa (kecamatan), sehingga menggugah saya
untuk turut serta menguatkan kembali gagasan dalam konteks daerahotonom tingkat Ill.
Secara skematis gagasan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
EF'
Pemerintah Pusat
Kemungkinan -1)
eskalasi
Tingkat I Administratif
4
Tingkat II Otonom
I
Tingkat Ill Kecamatanl
Kewedanaan
Desa Fungsional
I
1. Kerjasama fungsional antar propinsi
2. Kerjasama fungsional antar kabupaten
3. Kerjasama fungsional antar daerah otonom tk. Ill
4. Hubungan tanggung jawab
Dengan skema tersebut penjelasannya adalah:
I . Apabila daerah otonom tingkat
I dihilangkan dan tingkat II masih ada
dan dipertahankan maka daerah otonom baru itu adalah daerah
otonomi tingkat Ill kurang lebih setingkat kecamatanlkewedanaan agar
mencapai skala ekonomis dan administrable.
2.
Desa ditingkatkan statusnya menjadi desa desentralisasi fungsional
dengan Lernbaga perwakilan desa yang diisi secara demokratis oleh
anggota-anggota yang mewakili kelompok masyarakat fungsional.
3.
Kepala desa adalah koordinator fungsi-fungsi yang berlaku di desa,
dan imbalan gajinya dibayar dari atasan.
Download