Untitled - PTBMMKI

advertisement
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PERHIMPUNAN TIM BANTUAN MEDIS MAHASISWA KEDOKTERAN
INDONESIA
Penyusun & Editor:
Deno Madasa Subing, PMPATD Pakis Rescue Team FK Universitas Lampung
Farisa Ariffatin, LAKESMA FK Universitas Brawijaya
Kepala Staf Pendidikan dan Pelatihan:
Sekar Rahadisiwi, KPLA FK Universitas Airlangga
Staf Pendidikan dan Pelatihan:
Aditya Agam Nugraha, TBMM Panacea FK Universitas Gadjah Mada
Anindya Primaditha, TBM Chrestotes FK Universitas Pelita Harapan
Azharani Anwar, TBM AXIS FKIK Universitas Tadulako
Earlya Fevri Rifani, TBMM Panacea FK Universitas Gadjah Mada
Faridah Alatas, PMPATD Pakis Rescue Team FK Universitas Lampung
Made Agus Cahya, TBM Janar Duta FK Universitas Udayana
Mega Ratnasari, TBM VERTEX FK Universitas Jember
Raden Partinah, USMR FK Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Rifka Ulfa Rosyida, TBM AXIS FKIK Universitas Tadulako
Riky Setyawan, TBMM Panacea FK Universitas Gadjah Mada
Rycha Dwi Syafutri, TBM FK USU PEMA Universitas Sumatera Utara
2
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah berkenan memberikan nikmat
sehat dan nikmat iman sehingga kami staf Pendidikan dan Latihan PTBMMKI periode
2015/2016 diberikan kesempatan menyelesaikan buku materi kurikulum PTBMMKI
2015/2016 sehingga dapat terselesaikan dengan baik .
Buku materi kurikulum PTBMMKI 2015/2016 ini merupakan salah satu program
kerja dari staf Pendidikan dan Latihan PTBMMKI periode 2015/2016. Buku ini dibuat adalah
sebagai panduan bagi anggota maupun nonanggota PTBMMKI yang mengacu pada daftar
kompetensi kurikulum PTBMMKI 2015/2016. Buku ini berisi penjabaran materi dari
kompetensi utama dan kompetensi tambahan kurikulum PTBMMKI 2015/2016.
Pada kesempatan ini tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak
yang telah berkontribusi dalam pembuatan buku ini secara terlampir. Mengingat kami
hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, masih banyak perbaikan-perbaikan
yang harus dilakukan terhadap buku ini. Kami berharap buku ini dapat membawa banyak
manfaat terhadap peningkatan kualitas anggota PTBMMKI ke depannya.
Akhir kata, kami mohon maaf apabila masih banyak kekurangan dalam penyusunan
buku kurikulum PTBMMKI 2015/2016 ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya
membangun juga sangat diharapkan kedepannya demi kesempurnaan buku ini. Semoga segala
bentuk dukungan, ketulusan, dan do’a yang diberikan kepada kami mendapat limpahan pahala
dari Allah SWT, Amin.
Staf Pendidikan dan Pelatihan PTBMMKI 2015/2016
Penyusun
3
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
UCAPAN TERIMA KASIH
Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahim. Segala puji bagi Allah SWT Rabb semesta alam,
atas limpahan rahmat dan karuniaNya sehingga penyusun dapat menyelesaikan
penyempurnaan buku ini. Sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada Rasullallah
Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan pengikutnya yang senantiasa
istiqomah dalam sunnahnya hingga akhir jaman.
Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa begitu banyak pihak yang telah turut
membantu dalam penyelesaian buku ini. Melalui kesempatan ini, dengan segala
kerendahan hati, penyusun ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Staf BPP PTBMMKI 2015/2016 yang telah membantu dan memberikan saran
yang membangun selama proses penyempurnaan buku ini.
2. Staf Pendidikan dan Pelatihan PTBMMKI sebelumnya yang telah berusaha
membuat buku ini menjadi lebih baik.
3. Staf Pendidikan dan Pelatihan PTBMMKI 2015/2016 yang selalu memberikan
motivasi serta dukungan selama proses penyempurnaan buku ini.
4
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4. Seluruh
TBM
unit
yang
telah
berpartisipasi
dalam
penyelesaian
menyempurnakan buku tahun 2015
-
PMPATD Pakis Rescue Team Univesitas Lampung
-
LAKESMA Universitas Brawijaya
-
TBM AXIS Universitas Tadulako
-
TBM Janar Duta Universitas Udayana
-
MAPADOKS Unissula
-
TBM Averroes Universitas Bengkulu
-
TBM FK USU PEMA Universitas Sumatera Utara
5. Rekan-rekan dan sahabat yang telah membantu secara personal dalam
penyempurnaan buku tahun ini, semoga Allah membalas dengan balasan yang
lebih baik dan menjadikan motivasi buat rekan-rekan lain untuk bisa
berkontribusi tahun depan
-
Rifka Ulfa Rosyida,
TBM AXIS Univ. Tadulako
-
Raden Partinah,
UIN Syahid Medical Rescue
-
Rizky Arif Prasetyo,
PMPATD Pakis Rescue Team
-
Nandya Dwizella,
PMPATD Pakis Rescue Team
-
Osy Lu’lu Alfarossi,
PMPATD Pakis Rescue Team
-
Muhammad Fakih Abdurrahman,
PMPATD Pakis Rescue Team
-
Arsie Noor Faridah,
LAKESMA Univ. Brawijaya
-
Eleonora Elsa Sucahyo,
LAKESMA Univ. Brawijaya
-
Ika Ashmi Puspitasari,
LAKESMA Univ. Brawijaya
5
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................................... 3
DAFTAR ISI ....................................................................................................................... 6
KOMPETENSI UTAMA
MATRA MEDIS EMERGENSY
 Initial Assessment ........................................................................................
 Basic Life Support .......................................................................................
 Advanced Trauma Life Support ..................................................................
 Trauma Muskuloskeletal ............................................................................
 Resusitasi Cairan ........................................................................................
 Syok ............................................................................................................
 Trauma Lingkugan .....................................................................................
 Envenomasi ................................................................................................
 Intoksikasi ...................................................................................................
 Basic Surgical Skill .....................................................................................
7
26
38
59
78
87
93
112
126
132
MATRA MEDIS NON EMERGENSY
 Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik ............................................................. 156
 Farmakologi Praktis .................................................................................... 177
 Kasus-Kasus Medis Non Emergency .......................................................... 190
KOMPETENSI TAMBAHAN
MATRA PENUNJANG
 Navigasi Darat ............................................................................................
 Komunikasi Lapangan ................................................................................
 Evakuasi Medis Darat .................................................................................
 Evakuasi Medis Perairan ............................................................................
 Teknik Survival ..........................................................................................
 E-SAR..........................................................................................................
209
234
249
258
270
286
MATRA MANAJEMEN
 Disaster Management ................................................................................. 298
 Manajemen Operasional Lapangan ............................................................ 334
 Team Building ............................................................................................ 340
MATRA ORGANISASI
 Kepemimpinan dan Kedipimpinan ............................................................. 349
 Pendidikan Organisasi Nasional ................................................................. 364
6
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
KOMPETENSI UTAMA
MATRA MEDIS EMERGENCY
INITIAL ASSESSMENT
1. SCENE SURVEY
Langkah pertama dalam prinsip penatalaksanaan kegawatdaruratan adalah dengan
meninjau kondisi medan penyelamatan atau lokasi kejadian. Keselamatan diri, partner
kerja, dan orang lain di sekitar lokasi kejadian selalu menjadi prioritas utama. Sebelum
menjangkau korban, periksa kemungkingan adanya bahaya bagi penolong. Jangan
memaksakan jika kondisi tidak memungkinkan. Tahapan scene survey, antara lain:
1.1 Memastikan keadaan lingkungan
1.1.1 Consider
Mempertimbangkan segala informasi mengenai medan penyelamatan dari orangorang sekitar. Misalnya informasi dari saksi mata kejadian yang terpercaya.
1.1.2 Observe
Mengamati secara langsung kondisi medan seperti binatang buas, orang-orang
mencurigakan, jalan keluar penyelamatan, dan lain-lain.
1.1.3 Think
Selalu memikirkan rencana cadangan jika terjadi perubahan situasi. Misalnya
keadaan cuaca yang memburuk atau terjadi bencana susulan.
1.2 Memastikan kesadaran dari korban/pasien.
Untuk memastikan korban dalam keadaan sadar atau tidak penolong harus melakukan
upaya agar dapat memastikan kesadaran korban/pasien, dapat dengan cara menyentuh
atau menggoyangkan bahu korban/pasien dengan lembut dan mantap untuk mencegah
pergerakan yang berlebihan, sambil memanggil namanya atau Pak !!! / Bu!!! / Mas!!!
/Mbak !!!.
7
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.3 Meminta pertolongan.
Jika ternyata korban/pasien tidak memberikan respon terhadap panggilan, segera
minta bantuan dengan cara berteriak "Tolong !!!" untuk mengaktifkan sistem pelayanan
medis yang lebih lanjut.
1.4 Memperbaiki posisi korban/pasien.
Untuk melakukan tindakan BHD yang efektif, korban/pasien harus dalam posisi
terlentang dan berada pada permukaan yang rata dan keras. jika korban ditemukan dalam
posisi miring atau tengkurap, ubahlah posisi korban ke posisi terlentang. Ingat! penolong
harus membalikkan korban sebagai satu kesatuan antara kepala, leher dan bahu
digerakkan secara bersama-sama. Jika posisi sudah terlentang, korban harus
dipertahankan pada posisi horisontal dengan alas tidur yang keras dan kedua tangan
diletakkan di samping tubuh.
2. TRIASE
Triase adalah cara pemilahan pasien berdasarkan kebutuhan terapi dan sumber daya
yang tersedia serta mengatur prioritas pengelolaan korban dalam jumlah yang banyak.
Tindakan ini berdasarkan prioritas ABC (Airway dengan kontrol servikal, Breathing dan
Circulation dengan kontrol perdarahan) yang merupakan proses yang bersinambungan
sepanjang pengelolaan medik gawat darurat. Proses triase inisial harus dilakukan oleh
petugas pertama yang tiba atau berada ditempat dan tindakan ini harus dinilai ulang terus
menerus karena status triase pasien dapat berubah. Bila kondisi memburuk atau membaik,
lakukan retriase.
2.1 Prinsip-prinsip triase sebagai berikut:
2.1.1 Derajat ancaman jiwa
Pasien yang terancam jalan pernapasannya, lebih diprioritaskan dari pada pasien
yang terganggu sirkulasi atau neurologinya
2.1.2 Beratnya cedera
Sebagai contoh, fraktur pada satu tulang prioritas lebih rendah dibandingkan bisa
fraktur tersebut disertai dengan perdarahan
2.1.3 Kemungkinan terselamatkan
Pasien dengan cedera hebat tidak selalu menduduki prioritas utama, harus
dipertimbangkan kemungkinan pasien akan bertahan hidup atau tidak.
8
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2.1.4 Sumber daya
Pasien yang kebutuhannya melampaui kapabilitas sumber daya, mendapat prioritas
rendah sampai kebutuhan sumber daya tersebut terpenuhi.
2.1.5 Waktu, jarak, lingkungan
Cedera yang dapat dikelola dengan cepat, meskipun beratnya cedera tergolong
ringan dan ancamannya minimal terhadap jiwa, dapat mempunyai prioritas tinggi
karena pendeknya waktu yang diperlukan untuk mengatasi masalah yang
teridentifikasi. Jarak dan faktor lingkugan dalam perjalanan membawa pasien ke
tempat terapi definitif juga perlu dipertimbangkan.
Triase harus mencatat tanda vital, perjalanan penyakit praRS, mekanisme cedera, usia, dan
keadaan yang diketahui atau diduga membawa maut. Temuan yang mengharuskan
peningkatan pelayanan antaranya cedera multipel, usia ekstrim, cedera neurologis berat, tanda
vital tidak stabil, dan kelainan jatung-paru yang diderita sebelumnya.
2.2 Dua jenis keadaan triase dapat terjadi:
2.2.1 Multiple Causalties
Musibah massal dengan jumlah pasien dan beratnya cedera tidak melampaui
kemampuan RS. Dalam keadaan ini pasien dengan masalah yang mengancam jiwa
dan multi trauma akan dilayani terlebih dahulu.
2.2.2 Mass Causalties
Musibah massal dengan jumlah pasien dan beratnya luka melampaui kemampuan
RS. Dalam keadaan ini yang akan dilayani terlebih dahulu adalah pasien dengan
kemungkinan survival yang terbesar, serta membutuhkan waktu, perlengkapan dan
tenaga paling sedikit.
2.3 Tag Triage
Tag (label berwarna dengan form data pasien) yang dipakai oleh petugas triase untuk
mengindentifikasi dan mencatat kondisi dan tindakan medik terhadap korban.
9
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Gambar 1. Triase dan pengelompokan berdasar Tagging
2.3.1 Prioritas Nol (Hitam) :
Pasien mati atau cedera fatal yang jelas dan tidak mungkin diresusitasi.
2.3.2 Prioritas Pertama (Merah) :
Pasien cedera berat yang memerlukan penilaian cepat serta tindakan medik dan
transport segera untuk tetap hidup (misal : gagal nafas, cedera torako-abdominal,
cedera kepala atau maksilo-fasial berat, shok atau perdarahan berat, luka bakar
berat).
2.3.3 Prioritas Kedua (Kuning) :
Pasien memerlukan bantuan, namun dengan cedera yang kurang berat dan
dipastikan tidak akan mengalami ancaman jiwa dalam waktu dekat. Pasien
mungkin mengalami cedera dalam jenis cakupan yang luas (misal : cedera abdomen
tanpa shok, cedera dada tanpa gangguan respirasi, fraktura mayor tanpa shok,
cedera kepala atau tulang belakang leher tidak berat, serta luka bakar ringan).
2.3.4 Prioritas Ketiga (Hijau) :
Pasien dengan cedera minor yang tidak membutuhkan stabilisasi segera,
memerlukan bantuan pertama sederhana namun memerlukan penilaian ulang
berkala (cedera jaringan lunak, fraktura dan dislokasi ekstremitas, cedera maksilofasial tanpa gangguan jalan nafas, serta gawat darurat psikologis).
10
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3. PRIMARY SURVEY
Proses ini merupakan ABCDE-nya trauma dan berusaha untuk mengenali keadaan
yang mengancam nyawa terlebih dahulu, dengan berpatokan pada urutan berikut:
A airway
: menjaga jalan napas dengan kontrol servikal
B breathing
: menjaga pernapasan dengan ventilasi
C circulation : bantuan sirkulasi dengan kontrol perdarahan
D disability
: status neurologis
E exposure
: buka baju pasien, tetapi cegah hipotermia
3.1 A (AIRWAY) Jalan Napas
3.1.1 Pemeriksaan jalan napas.
Tindakan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan jalan napas oleh
benda asing. Jika terdapat sumbatan harus dibersihkan dahulu, kalau sumbatan
berupa cairan dapat dibersihkan dengan jari telunjuk atau jari tengah yang dilapisi
dengan sepotong kain, sedangkan sumbatan oleh benda keras dapat dikorek dengan
menggunakan jari telunjuk yang dibengkokkan. Mulut dapat dibuka dengan teknik
cross finger, dimana ibu jari diletakkan berlawanan dengan jari telunjuk pada mulut
korban.
Gambar 1.1. Bentuk jari seperti kait dan keluarkan bendanya
11
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3.1.2 Membuka jalan napas.
Setelah jalan napas dipastikan bebas dari sumbatan benda asing, biasa pada korban
tidak sadar tonus otot-otot menghilang, maka lidah dan epiglotis akan menutup
faring dan laring, inilah salah satu penyebab sumbatan jalan napas. Pembebasan
jalan napas oleh lidah dapat dilakukan dengan cara tengadah kepala topang dagu
(Head tild - chin lift) dan manuver pendorongan mandibula (jaw thrust). Teknik
membuka jalan napas yang direkomendasikan untuk orang awam dan petugas,
kesehatan adalah tengadah kepala topang dagu, namun demikian petugas kesehatan
harus dapat melakukan manuver lainnya.
Gambar 1.2. Head tild - chin lift
Gambar 1.3. Jaw thrust pada pasien kecurigaan fraktur cervikal
12
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3.1.3 Ingat
Selama memeriksa dan memperbaiki airway, harus diperhatikan bahwa tidak boleh
dilakukan ekstensi, fleksi atau rotasi pada leher bila dicurigai adanya kelainan
vertebra servikalis. Jika ada, maka harus dipakai alat imobilisasi
Gambar 1.4. Penolong menstabilkan kepala dan leher penderita, pelindung leher
terpasang
3.2 B (BREATHING) Bantuan napas
Terdiri dari 2 tahap :
3.2.1 Memastikan korban/pasien tidak bernapas.
Dengan cara melihat pergerakan naik turunnva dada, mendengar bunyi napas
dan merasakan hembusan napas korban/pasien. Untuk itu penolong harus
mendekatkan telinga di atas mulut dan hidung korban/pasien, sambil tetap
mempertahankan jalan napas tetap terbuka. Prosedur ini dilakukan tidak boleh
melebihi 10 detik.
3.2.2 Memberikan bantuan napas.
Jika korban/pasien tidak bernapas, bantuan napas dapat dilakukkan melalui
mulut ke mulut, mulut ke hidung atau mulut ke stoma (lubang yang dibuat pada
tenggorokan) dengan cara memberikan hembusan napas sebanyak 2 kali hembusan,
waktu yang dibutuhkan untuk tiap kali hembusan adalah 1,5 - 2 detik dan volume
udara yang dihembuskan adalah 7000 - 1000 ml (10 ml/kg) atau sampai dada
korban/pasien terlihat mengembang serta mendengar dan merasakan udara yang
keluar pada ekspirasi . Penolong harus menarik napas dalam pada saat akan
menghembuskan napas agar tercapai volume udara yang cukup. Konsentrasi
13
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
oksigen yang dapat diberikan hanya 16 - 17%. Penolong juga harus memperhatikan
respon dari korban/pasien setelah diberikan bantuan napas.
Cara memberikan bantuan pernapasan :
1. Mulut ke mulut
Pemakaian alat pelindung dan masker tetap merupakan pilihan utama.
Keputusan untuk melakukan pernapasan buatan dari mulut ke mulut bersifat
personal. Bantuan pernapasan dengan menggunakan cara ini merupakan cara yang
tepat dan efektif untuk memberikan udara ke paru-paru korban/pasien.
Pada saat dilakukan hembusan napas dari mulut ke mulut, penolong harus
mengambil napas dalam terlebih dahulu dan mulut penolong harus dapat menutup
seluruhnya mulut korban dengan baik agar tidak terjadi kebocoran saat
mengghembuskan napas dan juga penolong harus menutup lubang hidung
korban/pasien dengan ibu jari dan jari telunjuk untuk mencegah udara keluar
kembali dari hidung.
Volume udara yang diberikan pada kebanyakkan orang dewasa adalah 700 1000 ml (10 ml/kg). Volume udara yang berlebihan dan laju inpirasi yang terlalu
cepat dapat menyebabkan udara memasuki lambung, sehingga terjadi distensi
lambung. Selain itu terdapat bahaya bagi penolong yaitu penyebaran penyakit,
kontaminasi bahan kimia dan muntah penderita.
Gambar 1.5. Mulut ke mulut
14
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Gambar 1.6. Memberikan pernapasan buatan melalui masker
2 . Mulut ke hidung
Teknik ini direkomendasikan jika usaha ventilasi dari mulut korban tidak
memungkinkan, misalnya pada trismus atau dimana mulut korban mengalami luka
yang berat, dan sebaliknya jika melalui mulut ke hidung, penolong harus menutup
mulut korban/pasien.
3. Mulut ke Stoma
Pasien yang mengalami laringotomi mempunyai lubang (stoma) yang
menghubungkan trakhea langsung ke kulit. Bila pasien mengalami kesulitan
pernapasan maka harus dilakukan ventilasi dari mulut ke stoma.
3.3 C (CIRCULATION)
3.3.1 Terdiri atas 3 penemuan klinis
1. Tingkat kesadaran
Bila volume darah menurun, perfusi otak dapat berkurang yang akan
mengakibatkan penurunan kesadaran.
2. Warna kulit
Warna kulit dapat memberikan diagnosis hipovolemia. Pasien trauma dengan
warna kulit kemerahan terutama pada wajah dan ekstrimitas jarang dalam keadaan
hipovolemia. Sebaliknya, jika wajah pucat keabu-abuan dan kulit ekstrimitas pucat
merupakan tanda hipovolemia.
15
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3. Nadi
Periksalah pada nadi yang besar seperti a.femoralis atau a.karotis. Nadi yang
tidak cepat, teratur dan kuat menandakan normo-volemia, biasanya nadi yang tidak
teratur merupakan tanda gangguan jantung dan tidak ditemukan pulsasi pada arteri
besar yang merupakan pertanda diperlukannya resusitasi segera untuk memperbaiki
volume dan cardiac output.
Cara pemeriksaan a.carotis dapat ditentukan dengan meraba arteri karotis di
daerah leher korban/ pasien, dengan dua atau tiga jari tangan (jari telunjuk dan
tengah) penolong dapat meraba pertengahan leher sehingga teraba trakhea,
kemudian kedua jari digeser ke bagian sisi kanan atau kiri kira-kira 1 - 2 cm raba
dengan lembut selama 5 - 10 detik. Jika teraba denyutan nadi, penolong harus
kembali memeriksa pernapasan korban dengan melakukan manuver tengadah
kepala topang dagu untuk menilai pernapasan korban/pasien. Jika tidak bernapas
lakukan bantuan pernapasan, dan jika bernapas pertahankan jalan napas
3.3.2 RJP (Resusitasi Jantung Paru)
Jika tidak teraba nadi dalam 10 detik, mulai lakukan kompresi dada (LIHAT
BAB 2).
Gambar 1.6. Pemeriksaan arteri carotis
16
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3.4 D (DISABILITY) Neurologic Evaluation
Penilaian meliputi tinkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil, tanda-tanda lateralisasi
dan tingkat cedera spinal. Penurunan kesadaran dapat disebabkan oleh trauma langsung
pada otak atau penurunan oksigenasi ke otak, jika terjadi penurunan harus dilakukan
reevaluasi terhadap keadaan oksigenasi, ventilasi dan perfusi. GCS (Glasgow Coma
Scale) adalah sistem skoring yang sederhana dan dapat menilai derajat/tingkat kesadaran
penderita dengan kriteria yang secara kuantitatif dan terpisah yaitu respon membuka
mata (E), respon motorik terbaik (M), dan respon verbal terbaik (V).
3.4.1 Cara Penilaian Skala Koma Glasgow
Dalam kasus gangguan kesadaran maka auto anamnesis masih dapat
dilakukan, hal ini terjadi pada kasus dimana gangguan kesadaran masih bersifat
ringan, pasien masih dapat menjawab pertanyaan hasil auto anamnesis ini dapat
dimanfaatkan untuk menetapkan adanya gangguan kesadaran yang bersifat
psikiatrik, termasuk sendrom otak organik atau gangguan kesadaran yang bersifat
neorologik (dinyatakan secara kualitatif maupun kuantitatif kedalam GCS). Respon
perilaku dalam pemeriksaan GCS meliputi respon membuka mata, respon verbal
dan respon motorik. Glasgow Coma Scale meliputi pengkajian reflek :
1. Respon membuka mata
Penilaian membuka mata meliputi evaluasi terhadap keadaan terjaga, aspek
pertama dari kesadaran. Jika mata pasien tertutup, maka keadaan terjaga pasien
dinilai berdasarkan derajat stimulasi yang diperlukan agar pasien dapat membuka
matanya. Membuka mata (terjaga selalu menjadi pengukuran pertama yang
dilakukan sebagai bagian dari GCS karena tanpa hal tersebut kognisi tidak dapat
terjadi. Membuka mata pasien tidak dapat dilakukan jika mata penderita
membengkak. Skor penilaiannya adalah :
A. Nilai 4
Membuka mata secara spontan, mata membuka tanpa harus diperintah atau
disentuh (respon optimal).
B. Nilai 3
Mata membuka sebagai respon terhadap stimulus verbal (biasanya nama
paien) tanpa menyentuh pasien. Observasi mulai dari volume suara yang
normal dan naikkan volume suara jika diperlukan dengan mengatakan
perintah yang jelas.
17
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
C. Nilai 2
Mata membuka sebagai responterhadap nyeri sentral, misalnya penekanan
trapezium, tekanan suborbital (direkomendasikan), sternal rub (menekan
dan memutar diatas sternum. Stimulus nyeri hanya dilakukan jika pasien
gagal merespon terhadap perintah yang jelas dan keras.
D. Nilai 1
Mata tidak membuka walaupun dengan stimulus verbal dan nyeri sentral.
Cara melakukan stimulus nyeri sentral meliputi :
i. Cubitan trapezium
Dengan cara menggunakan cubitan ibu jari dan jari telunjuk pada
sekitar 5cm otot trapezius (diantara kepala dan bahu dan diputar).
ii. Tekanan suborbital
Teknik pelaksanaannya letakkan satu jari disepanjang margin
supraorbital (pada tepi tulang disepanjang puncak mata) sampai
mmenemukan takik atau lekukan. Tekanan pada daerah ini akan
menyebabkan nyeri yang menyerupai jenis nyeri kepala. Kadang-kadang
hal ini dapat membuat pasien meringis yang menyebabkan penutupan
dan bukan pembukaan mata. Catatan : tidak boleh dilakukan jika pasien
mengalami fraktur wajah.
iii. Sternal rub teknik
Pelaksanaannya tekan dengan kuat sternum menggunakan kuku-kuku
jari. Catatan dapat dilakukan dengan metode lain karena pada metode ini
dapat meninggalkan bekas pada kulit.
2. Respon verbal
Penilaian respons verbal mencakup evaluasi kewaspadaan, aspek kedua dari
kesadaran. Pada respons ini dilakukan penilaian secara komprehensif dari apa
yang dilakukan oleh praktisi dan dilakukan evaluasi terhadap area yang berfungsi
pada pusat yang lebih tinggi serta kemampuan untuk mengatakan dan
mengekspresikan jawaban Disfasia atau ketidak mampuan berbicara dapat
disebabkan oleh kerusakan pada pusat bicara di otak,misalnya setelah
pembadahan intrakranial atau cedera kepala.
Memastikan ketajaman pendengaran pasien dan pemahaman bahasa sebelum
menilai respons ini merupakan hal yang penting. Ketidakmampuan berbicara
18
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
mungkin tidak selalu menunjukan pnurunan tingkat kesadaran.Selain itu,beberapa
pasien mungkin membutuhkan stimulasi yang banyak untuk mempertahankan
konsentrasi mereka ketika menjawab pertanyaan. Banyaknya stimulasi yang
diperlukan harus dicatat sebagai bagian dari penilaian dasar. Skor penilaiannya
adalah sebagai berikut:
A. Nilai 5
Orientasi baik, pasien dapat mengatakan kepada praktisi siapa mereka,
dimana mereka, dan hari, tahun, serta bulan saat ini (hindari menggunakan
hari keberapa dari hari minggu ini atau tanggal).
B. Nilai 4
Konfusi (bingung), pasien dapat melakukan percakapan dengan
praktisi, namun tidak dapat menjawab secara akurat terhadap pertanyaan
yang diberikan.
C. Nilai 3
Kata-kata yang tidak tepat, pasien cenderung menggunakan kata-kata
tunggal dari pada suatu kalimat dan tidak terdapat percakapan dua arah.
D. Nilai 2
Suara yang tidak dimengerti, respons pasien diperoleh dalam bentuk
suara-suara yang tidak jelas seperti ruangan atau gumaman tanpa kata-kata
yang dapat dimengerti. Stimulus verbal dan juga stimulus nyeri mungkin
diperlukan untuk mendapatkan respons dari pasien. Jenis pasien ini tidak
waspada terhadap lingkungan sekitarnya.
E. Nilai 1
Tidak ada respon, tidak didapatkan respon dari pasien walaupun
dengan stimulus verbal maupun fisik.
Catatan : catat sebagai “D” jika pasien mengalami disfasiadan “T” jika
pasien menggunakan selang trakeal atau trakeostomi.
3. Respon Motorik
Respon motorik dirancang untuk memastikan kemampuan pasien untuk
mematuhi perintah dan untuk melokalisasi, menarik, atau merasakan posisi
tubuh yang abnormal sebagai respon terhadap stimulus nyeri. Jika pasien tidak
merespon dengan mematuhi perintah, maka respon terhadap stimulus nyeri harus
19
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
dinilai. Respon melokalisasi yang benar adalah pasien mengangkat lengannya
setinggi dagu, misalnya menarik masker oksigen.
Untuk membangkitkan respon ini direkomendasikan untuk melakukan cubitan
trapezium, tekanan rigi supraorbital, atau tekanan pada tepi rahang. Untuk
menghindari cidera jaringan lunak, maka setimulus diberikan tidak lebih dari
sepuluh detik kemudian dilepaskan. Selain itu ketika memberikan stimulus,
paling baik dimulai dengan tekanan yang ringan kemudian ditingkatkan sampai
respon terlihat, yang penilaianya sebagai berikut :
A. Nilai 6
Pasien mematuhi perintah, minta pasien untuk menjulurkan lidah,
jangan minta pasien untuk hanya meremas tangan anda karena hal ini dapat
menampilkan respon genggam primitif, pastikan perawat meminta mereka
untuk melepasnya. Hal ini penting untuk memastikan bahwa respon yang
didapat bukan hanya suatu gerakan reflek, sangat penting untuk meminta
pasien melakukan dua perintah yang berbeda.
B. Nilai 5
Melokalisasi pusat nyeri,jika pasien tidak merespon terhadap stimulus
verbal, pasien dengan sengaja menggerakan lengan untuk menghilangkan
penyebab nyeri. Tekanan rigi supraorbital dianggap merupakan tehnik yang
paling dapat dipercaya karena paling kecil kemungkinannya untuk terjadi
kesalah interpretasi.
C. Nilai 4
Menarik diri dari nyeri : pasien melakukan fleksi atau melipat lengan
menuju sumber nyeri namun gagal melokalisasi sumber nyeri. Tidak ada
rotasi pergelangan tangan.
D. Nilai 3
Fleksi terhadap nyeri : pasien memfleksikan atau melipat lengan. Ini
ditandai oleh rotasi internal dan aduksi bahu dan fleksi pada siku dan jauh
lebih lambat dari pada fleksi normal.
E. Nilai 2
Ekstensi terhadap nyeri pasien mengekstensiakn lengan dengan
meluruskan siku,kadang kadang disertai dengan rotasi internal bahu dan
pergelangan tangan,kadang kadang disebut sebagai postur deserebrasi.
20
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
F. Nilai 1
Tidak ada respons, tidak ada respons terhadap stimulus nyeri yang
internal.
Glasgow coma scale berguna/bermanfaat untuk evaluasi dan
penatalaksanaan pasien dengan gangguan kesadaran pasca trauma, juga
untuk menentukan prognosis perawatan suatu penyakit. Penilaian GCS pada
penderita dengan cedera kepala disamping untuk melakukan observasi juga
untuk mengetahui faktor-faktor penyebab gangguan kesadaran.
Selanjutnya nilai tiap – tiap pemeriksaan dijumlahkan, nilai GCS yang tertinggi adalah
15 yaitu E4 V5 M6 dan terendah adalah 3 yaitu E1 V1 M1. Biasanya, pasien dengan nilai
GCS dibawah 5 ialah pasien emergensi yang sulit dipertahankan keselamatannya.
Berdasarkan buku Advanced Trauma Life Support, GCS berguna untuk menentukan derajat
trauma/cedera kepala (trauma capitis).
Derajat cedera kepala berdasarkan GCS:
GCS : 14-15 = CKR (cedera kepala ringan)
GCS :9-13 = CKS (cedera kepala sedang)
GCS : 3-8
= CKB (cedera kepala berat)
3.5. E (EXPOSURE) Kontrol lingkungan
Pasien harus dibuka keseluruhan pakaiannya dengan cara menggunting untuk
memeriksa dan evaluasi pasien. Setelah pakaian dibuka, segera menyelimuti pasien agar
tidak hipotermia. Pasien bisa dipakaikan selimut hangat, ruangan cukup hangat dan
diberikan cairan intravena yang sudah dihangatkan. Jadi, yang terpenting adalah suhu
tubuh pasien, bukan rasa nyaman petugas kesehatan.
4. SECONDARY SURVEY
Secondary survey baru dapat dilakukan setelah primary survey selesai, RJP dilakukan
dan ABC-nya pasien dipastikan membaik. Secondary survey adalah pemeriksaan kepala
sampai kaki (head to toe examination) termasuk reevaluasi pemeriksaan tanda vital. Pada
tahap ini dilakukan pemeriksaan neurologis lengkap, foto ronsen dan pemeriksaan lab
termasuk GCS bisa di primary survey belum dilakukan.
21
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4.1 Anamnesis
Setiap pemeriksaan lengkap memerlukan anamnesis mengenai riwayat perlukaan.
Biasanya data ini tidak bias didapat dari penderita sendiri dan harus didapat dari keluarga
tau petugas lapangan.
Patut ditanyakan riwayat SAMPLE:
S : Simptom
A : Alergi
M : Medikasi (obat yang diminum saat ini)
P : Past Illness (penyakitpenyerta) / Pregnancy
L : Last meal
E : Even / Environment yang berhubungan dengan kejadian perlukaan
Mekanisme perlukaan sangat menentukan keadaan penderita. Jenis perlukaan dapat
diramalkan dari mekanisme kejadian perlukaan itu.
4.1.1 Trauma biasanya dibagi menjadi beberapa jenis:
1. Trauma tumpul
Dapat disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, terjatuh dan kegiatan rekreasi
atau pekerjaan. Keterangan yang penting yang dibutuhkan kecelakaan lalu lintas
mobil adalah pemakaian sabuk pengaman, deformasi kemudi, arah tabrakan,
kerusakan kendaraan baik kerusakan major dalam bentuk luar atau hal – hal yang
berhubungan dengan perlengkapan penumpang, dan terlemparnya keluar
penumpang. Pola perlukaan pada penderita dapat diramalkan dari mekanisme
traumanya. Trauma perlukaan juga sangat dipengaruhi usia dan aktivitas.
2. Trauma tajam
Trauma akibat pisau atau benda tajam dan senjata api semakin sering
ditemukan. Faktor yang menentukan jenis dan berat perlukaan adalah daerah
tubuh yang terluka, organ yang terkena dan velositas (kecepatan). Dengan
demikian maka velositas, kaliber, arah dan jarak dari senjata merupakan informasi
yang sangat penting diketahui.
3. Trauma termal
Luka bakar dapat terjadi sendiri atau dalam kombinasi dengan trauma tumpul
atau trauma tajam akibat mobilter bakar, ledakan, benda yang terjatuh, usaha
penyelamatan diri ataupun serangan pisau dan senjata api.
22
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Cedera dan keracunan monoksida dapat menyertai luka bakar. Secara khusus
perlu ditanyakan tempat terjadinya kejadian perlukaan (ruang tertutup / terbakar)
atau bahan yang ikut terbakar (bahan kimia, plastik, dsb) dan perlukaan lain yang
menyertai.
Hipotermia akut atau kronik dapat menyebabkan kehilangan panas umum atau
lokal. Kehilangan panas dalam jumlah besar dapat terjadi walaupun tidak dalam
suhu yang terlalu dingin (15-20OC) yaitu bila penderita memakai pakaian yang
basah, tidak bergerak aktif atau minum alkohol, sehingga tubuh tidak bias
menyimpan panas.
4. Trauma akibat bahan berbahaya (Hazardous Material)
Kontak dengan bahan kimia, toksin atau radiasi perlu diketahui karena dua
sebab. Pertama, disebabkan karena bahan – bahan ini dapat mengakibatkan
berbagai macam kelainan pada jantung, paru atau organ tubuh lainnya. Kedua,
bahan ini dapat berbahaya bagi tenaga kesehatan yang merawat penderita tersebut.
4.2 Pemeriksaan Fisik
4.2.1 Pemeriksaan kepala
1. Kelainan kulit kepala dan bola mata
2. Telinga bagian luar dan membrana timpani
3. Cedera jaringan lunak periorbital
4.2.2 Pemeriksaan leher
1. Luka tembus leher
2. Emfisema subkutan
3. Deviasi trakea
4. Vena leher yang mengembang
4.2.3 Pemeriksaan neurologis
1. Penilaian fungsi otak dengan Glasgow Coma Scale (GCS)
2. Penilaian fungsi medula spinalis dengan aktivitas motorik
3. Penilaian rasa raba / sensasi dan refleks
4.2.4 Pemeriksaan dada
1. Clavicula dan semua tulang iga
2. Suara napas dan jantung
3. Pemantauan ECG (bila tersedia)
23
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4.2.5 Pemeriksaan rongga perut (abdomen)
1. Luka tembus abdomen memerlukan eksplorasi bedah
2. Pasanglah pipa nasogastrik pada pasien trauma tumpul abdomen kecuali bila
ada
4.2.6 Trauma wajah
1. Periksa dubur (rectal toucher)
2. Pasang kateter kandung seni jika tidak ada darah di meatus externus
4.2.7 Pelvis dan ekstremitas
1. Cari adanya fraktura (pada kecurigaan fraktur pelvis jangan melakukan tes
gerakan apapun karena memperberat perdarahan)
2. Cari denyut nadi-nadi perifer pada daerah trauma
3. Cari luka, memar dan cedera lain
4.2.8 Pemeriksaan sinar-X (bila memungkinkan) untuk :
1. Dada dan tulang leher (semua 7 ruas tulang leher harus nampak)
2. Pelvis dan tulang panjang
3. Tulang kepala untuk melihat adanya fraktura bila trauma kepala tidak disertai
defisit neurologis fokal
4.2.9 Foto atas daerah yang lain dilakukan secara selektif
1. Foto dada dan pelvis mungkin sudah diperlukan sewaktu survei primer
4.3 Transportasi Pasien Kritis
Transportasi pasien-pasien kritis ini berisiko tinggi sehingga diperlukan komunikasi
yang baik perencanaan dan tenaga-tenaga kesehatan yang sesuai. Pasien harus
distabilisasi lebih dulu sebelum diberangkatkan. Prinsipnya pasien hanya ditransportasi
untuk mendapat fasilitas yang lebih baik dan lebih tingggi di tempat tujuan.
4.3.1 Perencanaan dan persiapan meliputi :
1. Menentukan jenis transportasi (mobil, perahu, pesawat terbang)
2. Menentukan tenaga keshatan yang mendampingi pasien
3. Menentukan peralatan dan persediaan obat yang diperlukan selama perjalanan
baik
4. kebutuhan rutin maupun darurat
5. Menentukan kemungkinan penyulit
6. Menentukan pemantauan pasien selama transportasi
24
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4.3.2 Komunikasi yang efektif sangat penting untuk menghubungkan :
1. Rumah sakit tujuan
2. Penyelenggara transportasi
3. Petugas pendamping pasien
4. Pasien dan keluarganya
4.3.3 Untuk stabilisasi yang efektif diperlukan :
1. Resusitasi yang cepat
2. Menghentikan perdarahan dan menjaga sirkulasi
3. Imobilisasi fraktur
4. Analgesia
Ingat :
Jika kondisi pasien memburuk lakukan evaluasi ulang dengan survey primer, berikan
terapi yang adekuat untuk kondisi yang mengancam jiwa dan nilailah kembali fungsi
organ yang terganggu dengan lebih teliti
REFERENSI
1. Colquhoun MC, Handley AJ, Evans TR. 2004. ABC of Resuscitation 5th ed. BMJ
Publishing Group
2. Fildes, John. 2008. Advanced Trauma Life Support for Doctors eight edition.
Amerika : American College of Surgeons Committe on Trauma.
3. Materi Calcaneus On Respirology Emegency 2011. Airway Management oleh
dr.Syafri K Arief,Sp.An.
4. Materi pertolongan pertama Palang Merah Indonesia
5. Seri PPGD. Penanggulangan Penderita Gawat Darurat / General Emergency Life
Support (GELS). Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) Cetakan
Ketiga. Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan R.I. 2006.
25
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
BASIC LIFE SUPPORT
1. Pengertian Basic Life Support
Basic Life Support / Bantuan Hidup Dasar adalah tindakan pertolongan yang
diberikan sesegera mungkin pada keadaan henti jantung (cardiac arrest), bertujuan untuk
mempertahankan sirkulasi darah yang hilang pada penderita henti jantung mendadak
dengan melakukan kompresi dada secara efektif dan benar, diikuti dengan pemberian
ventilasi yang efektif sampai didapatkan sirkulasi sistemik secara spontan atau telah tiba
peralatan yang lebih lengkap.
Basic life support terdiri dari beberapa elemen:
1. penilaian awal,
2. Pemeliharaan saluran nafas, P
3. Penyelamatan pernapasan (seperti pernapasan dari mulut ke mulut)
4. Kompresi dada eksternal.
Jika semua digabungkan maka hal ini disebut dengan istilah Resusitasi Jantung Paru
(RJP).
1.1 Tujuan Bantuan Hidup Dasar
Tujuan bantuan hidup dasar ialah untuk oksigenasi darurat secara efektif pada organ
vital seperti otak dan jantung melalui ventilasi buatan dan sirkulasi buatan sampai paru
dan jantung dapat menyediakan oksigen dengan kekuatan sendiri secara normal.
1.2 Indikasi Bantuan Hidup Dasar
Tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP) yang terkandung di dalam bantuan hidup
dasar sangat penting terutama pada pasien dengan cardiac arrest dan atau respiratory
arrest.
1.2.1 Henti napas
Henti napas ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara
pernapasan dari korban/pasien. Henti napas dapat terjadi pada keadaan:
1. Tenggelam
2. Stroke
3. Obstruksi jalan napas
4. Epiglotitis
26
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
5. Overdosis obat-obatan
6. Tersengat listrik
7. Infark miokard
8. Tersambar petir
9. Koma akibat berbagai macam kasus.
Pada awal henti napas oksigen masih dapat masuk kedalam darah untuk
beberapa menit dan jantung masih dapat mensirkulasikan darah ke otak dan organ
vital lainnya, jika pada keadaan ini diberikan bantuan napas akan sangat bermanfaat
agar korban dapat tetap hidup dan mencegah henti jantung.
1.2.2 Henti jantung
Pada saat terjadi henti jantung, secara langsung akan terjadi henti sirkulasi.
Henti sirkulasi ini akan dengan cepat menyebabkan otak dan organ vital
kekurangan oksigen. Pernapasan yang terganggu (tersengal-sengal) merupakan
tanda awal akan terjadinya henti jantung.
Bantuan hidup dasar merupakan bagian dari pengelolaan gawat darurat medik
yang bertujuan:
1. Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi.
2. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi dan ventilasi dari
korban yang mengalami henti jantung atau henti napas melalui
Resusitasi Jantung Paru (RJP).
Resusitasi jantung Paru terdiri dari 2 tahap, yaitu :
1. Survei Primer (Primary Survey), yang dapat dilakukan oleh setiap
Orang
2. Survei Sekunder (Secondary Survey), yang hanya dapat dilakukan
oleh tenaga medis dan paramedis terlatih dan merupakan lanjutan
dari survei primer.
2. Penatalaksanaan Jalan Napas (Tanpa Alat)
Obstruksi jalan napas oleh benda asing pada orang dewasa sering terjadi pada saat
makan, muntahan, bekuan darah, atau partikel lain yang masuk yang dan mengobstruksi
laring/ trakea daging merupakan penyebab utama obstruksi jalan napas dan berbagai
macam bentuk makanan yang lain berpotensi menyumbat jalan napas pada anak-anak dan
orang dewasa.
27
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Benda asing tersebut dapat menyebabkan obstruksi jalan napas sebagian (parsial) atau
komplit (total). Pada obstruksi jalan napas parsial korban mungkin masih mampu
melakukan pernapasan, namun kualitas pernapasan dapat baik atau buruk. Pada korban
dengan pernapasan yang masih baik, korban biasanya masih dapat melakukan tindakan
batuk dengan kuat, usahakan agar korban tetap bisa melakukan batuk dengan kuat sampai
benda asing tersebut dapat keluar.
Bila sumbatan jalan napas parsial menetap, maka aktifkan sistem pelayanan medik
darurat. Obstruksi jalan napas parsial dengan pernapasan yang buruk harus diperlakukan
sebagai obstruksi jalan napas komplit. Obstruksi jalan napas komplit (total), korban
biasanya tidak dapat berbicara (afoni), sukar bernapas (dispnea sampai apnea), tidak lama
kemudian wajah menjadi biru (sianosis). Biasanya korban memegang lehernya diantara
ibu jari dan jari lainnya (v-sign).
Bila sumbatan total berlangsung lebih dari 5 menit pada orang dewasa/ 8 menit pada
anak, maka akan terjadi kerusakan pada otak dan jantung berhenti. Oleh karena itu,
diperlukan ketepatan dalam menegakkan diagnosis dan kecepatan dalam melakukan
tindakan pertolongan.
Penatalaksanaan obstruksi jalan napas oleh benda asing:
2.1 Manuver Heimlich
Untuk mengatasi obstruksi jalan napas oleh benda asing dapat dilakukan manuver
Heimlich (hentakan subdiafragma abdomen). Suatu hentakan yang menyebabkan
peningkatan tekanan pada diafragma sehingga memaksa udara yang ada di dalam paruparu untuk keluar dengan cepat sehingga diharapkan dapat mendorong atau mengeluarkan
benda asing yang menyumbat jalan napas.
Setiap hentakan harus diberikan dengan tujuan menghilangkan obstruksi, mungkin
dibutuhkan hentakan 6 – 10 kali untuk membersihkan jalan napas. Pertimbangan penting
dalam melakukan manuver Heimlich adalah kemungkinan kerusakan pada organ-organ
besar. Perlu diperhatikan saat melakukannya pasien membungkuk agar sumbatan lebih
mudah keluar.
2.2 Manuver Heimlich pada korban sadar dengan posisi berdiri atau duduk
Penolong harus berdiri di belakang korban, melingkari pinggang korban dengan kedua
lengan, kemudian kepalkan satu tangan dan letakkan sisi jempol tangan kepalan pada
perut korban, sedikit di atas pusar dan di bawah ujung tulang sternum. Pegang erat
28
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
kepalan tangan dengan tangan lainnya, Tekan kepalan ke perut dengan hentakan yang
cepat ke arah atas. Setiap hentakan harus terpisah dan dengan gerakan yang jelas.
2.3 Manuver Heimlich pada korban yang tergeletak (tidak sadar)
Korban harus diletakkan pada posisi terlentang dengan muka keatas. Penolong
berlutut disisi paha korban. Letakkan salah satu tangan pada perut korban di garis tengah
sedikit di atas pusat dan jauh dibawah ujung tulang sternum, tangan kedua diletakkan
diatas tangan pertama. Penolong menekan kearah perut dengan hentakan yang cepat
kearah atas. Manuver ini dapat dilakukan pada korban sadar jika penolongnya terlampau
pendek untuk memeluk pinggang korban.
29
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2.4 Manuver Heimlich pada yang dilakukan sendiri
Pengobatan diri sendiri terhadap obstruksi jalan napas Kepalkan sebuah tangan,
letakkan sisi ibu jari pada perut diatas pusat dan dibawah tulang sternum, genggam
kepalan itu dengan kuat dan berikan tekanan ke atas ke arah diafragma dengan gerakan
cepat, jika tidak berhasil dapat dilakukan tindakan dengan menekan perut pada tepi meja
atau belakang kursi.
2.5 Penyapuan jari
Manuver ini hanya dilakukan atau digunakan pada korban tidak sadar, dengan muka
menghadap keatas buka mulut korban dengan memegang lidah dan rahang diantara ibu
jari dan jari-jarinya, kemudian mengangkat rahang bawah. Tindakan ini akan menjauhkan
lidah dari kerongkongan serta menjauhkan benda asing yang mungkin menyangkut
ditempat tersebut. Masukkan jari telunjuk tangan lain menelusuri bagian dalam pipi, jauh
ke dalam kerongkongan di bagian dasar lidah, sebelumnya bungkus jari yang akan
mengait dengan kain agar kemudian lakukan gerakan mengait untuk melepaskan benda
asing serta menggerakkan benda asing tersebut ke dalam mulut sehingga memudahkan
untuk diambil. Hati-hati agar tidak mendorong benda asing lebih jauh kedalam jalan
napas.
3. Resusitasi Jantung Paru
30
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Untuk prosedur BLS adalah D – R – C – A – B (danger-responsive-circulation–
airway-breathing) oleh American Heart Association Guidelines for Cardiopilmonary
Resuscitation and Emergency Cardiovaskular tahun 2010.
3.1 Danger (Penilaian Situasi)
Sebelum melakukan RJP adalah menilai situasi apakah keadaan lingkungan cukup
aman bagi penolong, misal adanya bahan toksik, aliran listrik, bahan peledak atau
bangunan runtuh. Pastikan keselamatan penolong dan pasien terjamin (Lebih jelasnya
lihat Bab 1)
3.2 Responsive (Penilaian Respon)
Penilaian respon dilakukan setelah penolong yakin bahwa dirinya sudah aman untuk
melakukan pertolongan. Penilaian respon dilakukan dengan menepuk-nepuk dan
menggoyangkan penderita sambil berteriak memanggil penderita. Hal yang perlu
diperhatikan setelah melakukan penilaian respon penderita:
1. Bila penderita menjawab atau bergerak maka usahakan tetap mempertahankan
2. posisinya seperti diawal atau diposisikan ke dalam posisi mantap (recovery
position) sambil terus melakukan pemantauan tanda-tanda vital sampai bantuan
datang.
Gambar 2. Posisi pemulihan
3. Posisi supine bisa dengan mengganjal punggung, pasien aman, airway lapang dan
memiringkan kepala ke kanan atau kiri
4. Posisi pemulihan merupakan pertolongan yang bertujuan untuk mempertahankan
jalan napas bebas dari sumbatan pangkal lidah dan memperkecil kemungkinan
aspirasi isi lambung/ muntahan
5. Bila korban tidak memberikan respon serta tidak bernapas atau bernapas tidak
normal (gasping) , maka korban dianggap mengalami henti jantung.
31
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
6. Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan melakukan aktivasi sistem layanan
darurat. Sistem ini penolong hendaknya menelepon sistem layanan darurat (atau
sistem kode biru di RS), saat melakukan percakapan dengan petugas layanan
hendaknya dijelaskan lokasi, kondisi dan bantuan yang sudah diberikan pada
korban.
3.3 Circulation (Kompresi Jantung)
Sebelum melakukan kompresi dada harus dipastikan keadaan tanpa nadi (Lihat Bab
1). Jika telah dipastikan tidak ada denyut jantung, selanjutnya dapat diberikan bantuan
sirkulasi atau yang disebut dengan kompresi jantung luar, dilakukan dengan teknik
sebagai berikut :
1. Dengan jari telunjuk dan jari tengah penolong menelusuri tulang iga kanan atau
kiri sehingga bertemu dengan tulang dada (sternum).
2. Dari pertemuan tulang iga (tulang sternum) diukur kurang lebih 2 atau 3 jari ke
atas. Daerah tersebut merupakan tempat untuk meletakan tangan penolong
dalam memberikan bantuan sirkulasi.
3. Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara menumpuk satu telapak
tangan di atas telapak tangan yang lainnya, hindari jari-jari tangan menyentuh
dinding dada korban/pasien, jari-jari tangan dapat diluruskan atau menyilang.
4. Dengan posisi badan tegak lurus, penolong menekan dinding dada korban
dengan tenaga dari berat badannya secara teratur sebanyak 15 kali dengan
kedalaman penekanan berkisar antara 1.5 - 2 inci (3,8 - 5 cm).
5. Tekanan pada dada harus dilepaskan keseluruhannya dan dada dibiarkan
mengembang kembali ke posisi semula setiap kali melakukan kompresi dada.
Selang waktu yang dipergunakan untuk melepaskan kompresi harus sama
dengan pada saat melakukan kompresi. (50% Duty Cycle).
6. Tangan tidak boleh lepas dari permukaan dada dan atau merubah posisi tangan
pada saat melepaskan kompresi.
7. Rasio bantuan sirkulasi dan pemberian napas adalah 15 : 2 dilakukan oleh 1
penolong atau 5:1 jika dilakukan oleh 2 penolong jika korban/pasien tidak
terintubasi dan kecepatan kompresi adalah 80-100 kali permenit (dilakukan 4
siklus permenit), untuk kemudian dinilai apakah perlu dilakukan siklus
berikutnya atau tidak. Dari tindakan kompresi yang benar hanya akan mencapai
tekanan sistolik 60 – 80 mmHg, dan diastolik yang sangat rendah, sedangkan
32
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
curah jantung (cardiac output) hanya 25% dari curah jantung normal. Selang
waktu mulai dari menemukan pasien dan dilakukan prosedur dasar sampai
dilakukannya tindakan bantuan sirkulasi (kompresi dada) tidak boleh melebihi
30 detik.
Gambar 2.1. Menentukan titik tekan
Gambar 2.2. Mulai menekan
Gambar 2.3. RJP oleh 2 penolong
33
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Gambar 2.4. Teknik berdasarkan usia
A. Infant, rasio 5:1 dengan kedalaman saat kompresi dada 1,5-2,5 cm dan saat
breathing dengan lama waktu 1-1,5 detik
B. Child, rasio 5:1 dengan kedalaman saat kompresi dada 2,5-4 cm dan saat
breathing dengan lama waktu 1-1,5 detik
Kapan menghentikan RJP
1. Bila RJP berhasil
Ada denyut nadi karotis
Perubahan warna kulit ( pucatkemerahan)
Perubahan ukuran pupil mata
Nafas spontan
Batuk atau korban sadar
2. Penolong mengalami kelelahan
3. Datangnya bantuan dari medik atau orang yang lebih berpengalaman
3.4 Airway
3.4.1 Periksa jalan napas dalam keadaan terbuka/bersih
1. Adakah cairan (muntahan dll)
2. Adakah benda asing (makanan, gigi palsu dll)
3.4.2 Bila jalan nafas terhambat  BEBASKAN!
Gunakan teknik head tilt chin lift pada korban tidak cedera leher atau jaw
thrust pada korban cedera leher (Lihat Bab 1).
34
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3.5 Breathing
Periksa korban apakah bernapas atau tidak yang dapat dikenali tanda-tanda objektif
yaitu sebagai berikut:
3.5.1 LIHAT (look)
Bila pasien mengalami penurunan kesadaran maka memberi kesan hipoksia,
hiperkarbia. Sianosis menunjukkan hipoksemia karena kurangnya oksigenasi dan
dapat dilihat dari kuku serta kulit sekitar mulut. Otot-otot pernapasan yang tidak
bergerak juga merupakan bukti adanya gangguan airway. Perhatikan naik turunnya
dada yang simetris dan pergerakan dinding dada yang adekuat.
3.5.2 DENGAR (listen)
Adanya suara-suara abnormal pernapasan menunjukkan jalur pernapasan yang
tersumbat.
3.5.3 RABA (feel)
Lokasi trakea dan dengan cepat ditentukan apakah trakea berada ditengah.
Gambar 2.5. Periksa napas lihat, dengar, rasakan
Pemberian napas buatan dilakukan setelah jalan napas terlihat aman. Tujuan utama
memberikan bantuan napas adalah untuk mempertahankan oksigenasi yang adekuat dengan
metode mulut ke mulut, mulut ke hidung dan mulut ke stoma (Lihat Bab 1)
35
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4.
Penatalaksanaan Paska Resusitasi Jantung Paru
Perawatan paska resusitasi dilakukan segera setelah pasien kembali pada sirkulasi
spontan sampai pasien dipindahkan ke unit perawatan intensif. Perawatan yang efektif
pada periode ini akan memberikan hasil yang memuaskan terutama untuk perbaikan pada
fungsi serebral.
4.1 Tindakan yang harus segera dilakukan :
1. Melakukan pengkajian berdasarkan ABCD sekunder
4.2 Airway Jalan napas
1. Mempertahankan jalan napas.
2. Memastikan letak ETT dengan pemeriksaan fisik (auskultasi paru kanan-kiri,
lambung) pemantauan end tidal CO2 dan rontgen foto thoraks
4.3 Breathing (bantuan napas)
1. Memberikan oksigen
2. Memberikan tekanan positif seperti bantuan ventilasi dengan bagging atau
ventilasi mekanik
3. Periksa perkembangan dada
4. Periksa saturasi oksigen (pulse oxymetri) dan analisa gas darah (AGD)
5. Pada pasien yang bernapas spontan tetapi membutuhkan ventilasi mekanik
maka harus diberikan obat pelemas otot dan sedasi.
6. Periksa kemungkinan terjadinya komplikasi seperti pneumotoraks, patah
tulang iga dan letak ETT yang salah.
4.4 Circulation (sirkulasi)
1. Periksa tanda-tanda vital pasien
2. Berikan cairan NaCl atau dekstrosa aapat diberikan apabila pasien mempunyai
riwayat hipoglikemia
3. Pemantauan EKG dan tekanan darah
4. Pemantauan produksi urine
5. Jika pada saat henti jantung dengan irama VF pasien belum mendapat anti aritmia
maka obat anti aritmia dapat diberikan secara bolus kemudian dilanjutkan dengan
pernberian dosis pemeliharaan.
6. Apabila anti aritmia sudah diberikan pada saat resusitasi maka pemberian anti
aritmia tersebut dilanjutkan dengan dosis pemeliharan.
36
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
7. Diagnosis Banding
A. Penyebab henti jantung dapat diketahui dengan cara melakukan :
B. Pemeriksaan rontgen foto toraks
C. Anamnesis ulang
D. Pemeriksaan fisik
E. Perekaman EKG 12 lead
F. Pemeriksaan elektrolit darah.
G. Tindakan lain
H. Memasang nasogastric tube (NGT)
I. Memasang kateter urine
J. Mengatasi secara cepat gangguan keseimbangan elektrolit
REFERENSI
1. Fildes, John. 2008. Advanced Trauma Life Support for Doctors eight edition.
Amerika : American College of Surgeons Committe on Trauma.
2. Konsil Kedokteran Indonesia. 2002. Standar Kompetensi Dokter Indonesia.
Jakarta
3. Materi pertolongan pertama Palang Merah Indonesia
4. Perhimpunanan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia. Buku Panduan Khusus
Bantuan Hidup Jantung Dasar. Edisi 2013. Jakarta
5. Ramadhian MR, Hanriko R, Oktaria D. 2011. Buku CSL Blok Neurobehaviour.
Bandar Lampung : FK UNILA
6. Schoolfield B. Highlights of the 2010 American Heart Association Guidlines for
CPR amd ECC
37
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
ADVANCE TRAUMA LIFE SUPPORT
1. INTUBASI
Merupakan prosedur medis dimana sebuah tabung dimasukkan ke dalam tenggorokan
(trakea) melalui mulut atau hidung. Bila keadaan darurat akan dimasukkan melalui mulut.
Walaupun pasien sadar atau tidak, pemberian obat untuk mempermudah prosedur ini
akan tetap dilakukan. Setelah prosedur ini dilakukan, bila pasien sadar dokter akan
memberi
obat
untuk
mengurangi
kecemasan
atau
ketidaknyamanan.
Intubasi
endoktrakeal dilakukan untuk :
1. Membuka jalan napas untuk memberikan oksigen, obat – obatan atau anastesi
2. Bantuan pernapasan karena penyakit tertentu (pneumonia, emfisema, gagal
jantung, kolaps paru – paru)
3. Menghilangkan sumbatan pada jalan napas
4. Melindungi paru – paru pada pasien yang tidak bisa melindungi jalan napas
(overdosis, stroke, perdarahan masif dari esofagus atau perut)
1.1 Resiko :
1. Infeksi
2. Trauma pada laring, kelenjang tiroid, pita suara, dan trakea atau esofagus
3. Perforasi pada bagian rongga dada bisa menyebabkan kolaps paru – paru
1.2 Faktor Predisposisi Komplikasi
Kejadiannya bergantung pada beberapa faktur, seperti :
1.2.1 Faktor Pasien
1. Komplikasi mungkin terjadi pada bayi, anak- anak, dan perempuan dewasa
karena memiliki laring yang lebih kecil dan lebih rentan terhadap edema jalan
napas
2. Pasien yang memiliki kesulitan bernapas lebih rentan terhadap cedera dan
hipoksia
3. Pasien dengan penyakit bawaan dan kronis (memungkinkan terjadinya trauma
selama intervensi)
4. Komplikasi lebih mungkin terjadi saat kondisi darurat
38
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.2.2 Faktor Anastesi Terkait :
1. Dokter Anastesi :
A. Pengetahuan,keterampilan teknis dan manajemen kemampuan seorang
anastesis berperan penting selama intervensi dan hasil yang diberikan serta
komplikasi yang terjadi
B. Intubasi yang terburu – buru tanpa evaluasi pada jalan napas/persiapan dan
peralatan yang kurang.
1.3 Orotracheal
1.3.1 Indikasi
1. Pada keadaan yang memerlukan kontrol definitif jalan napas (pada yang
sedang mendapat anastesi umum)
2. Pasien sakit kritis dengan penyakit multisistem/ cedera
3. Keadaan darurat (masalah pada jantung/pernapasan, gagal melindungi jalan
napas dari aspirasi, oksigenasi tidak memadai, dan berkemungkinan obstruksi
saluran napas
1.3.2 Kontraindikasi
Laringoskopi pada pasien dengan transeksi parsial trakea
1.3.3 Prosedur
1. Posisikan diri penolong berada pada jarak yang pas sehingga mata penolong
cukup jauh dari pasien agar mempermudah penglihatan dengan binokular
2. Laringoskop berada di tangan kiri, buka mulut pasien dengan tangan kanan
3. Masukan laringoskop ke kanan lidah pasien
39
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4. Secara bertahap memindahkan laringoskop ke tengah dengan mendorong lidah
ke kiri
5. Masukan laringoskop lebih dalam sampai menemukan epiglotis
6. Bila menggunanakan laringoskop dengan bagian pisau yang melengkung,
tempatkan diujung epiglotitica vallecula (antara pangkal lidah dan epiglotis).
7. Bila menggunakan laringoskop dengan pisau lurus, tempatkan ujung posterior
pisau ke epiglotis.
8. Bila letak ujung pisau telah benar, angkat laringoskop ke atas pada sudut 45
derajat untuk mengekspos pita suara.
9. Hati – hati jangan sampai tangan yang memegang gagang laringoskop menekuk
atau menggoyangkan pisau ke gigi pasien (cedera gigi atau jaringan sekitarnya).
10. Masukkan tabung endoktrakeal ke sisi kanan mulut pasien (tabung tidak
menghalangin penglihatan penolong terhdapa pita suara.
40
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
11. Masukkan terus tabung melalui pita suara sampai balon menghilang dari trakea.
12. Hilangkan stylet, dan majukan tabung samapi balon berada 3 – 4 cm dari pita
suara.
13. Kembangkan balon endotrakeal dengan udara tekanan kecil diperlukan untuk
menghindari kebocoran udara selama vntilasi tidal volume (biasanya butuh 10
ml udara).
14. Tahan tekanan pada krikoid sampai tabung dinyatakan berada di trakea.
1.4 Nasotracheal
1.4.1 Indikasi
Pasien dengan riwayat bedah kepala dan leher
1. Bedah intra-oral dan orofaringeal
2. Prosedur intra-oral kompleks melibatkan prosedur rekonstruksi mandibula
3. Laringoskop kaku dan operasi microlaryngeal
4. Operasi gigi
Indikasi secara umum
1. Intubasi pasien dnegan patologi intra-oral, kelainan struktural dan trsimus
2. Intubasi pasien dengan ketidakstabilan tulang belakang leher dan penyakit
tulang belakang leher
3. Intubasi pasien dengan OSA
4. Perbesaran area bedah
5. Teknik pilihan untuk prosedur kepala dan leher yang lebih kompleks
(melibatkan osteotomi mandibula)
6. Pilihan dalam keadaan endoskopi yang kaku/sulit terutama mikrolaringoskop
1.4.2 Kontraindikasi
1. Respon yang baik terhadap pemberian terapi oksigen dan terapi farmakologi
selama persiapan intubasi nasotrakeal dan bila keadaan pasien semakin
membaik.
2. Usia pasien kurang dar 12 tahun
3. Trauma wajah mayor (pada rahang atau hidung)
4. Apnea
41
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Kontraindikasi relatif :
1. Pasien menggunakan Coumadin atau antikoagulan lain
2. Pasien memiliki gangguan pembekuan darah
1.4.3 Prosedur
1. Menjelaskan kepada pasien perihal seluruh prosedur yang akan dilakukan dan
jelaskan bahwa tabung akan tinggal selama beberapa hari atau lebih lama.
Mintalah agar pasien dapat bekerja sama dengan baik.
2. Periksa kedua lubang hidung dan pilih yang lebih besar (bisa dengan penlight
atau menutup salah satu lubang hidung yang rasakan aliran udara mana yang
lebih besar).
3. Semprotkan anastesi topikal pada bagian hidung dan belakang tenggorokan
serta vasokonstriktor (neosynephrine) untuk mati rasa mukosa dan
mengurangi perdarahan.
4. Pasangkan kanul pada mulut pasien untuk menjaga oksigen
selama
melakukan prosedur.
5. Periksa ukuran balon pada tabung sudah tepat (ama tau 2 ukuran lebih kecil
dari endotracheal tube). Secara rapat di bagian belakang adaptor 15mm di
proksimal ujung tabung dan melumasi bagian distal (4cm) dengan xylocaine
jelly.
6. Bila memungkinkan, posisi kepala pasien berada di garis tengah posisi netral.
Pasien juga bisa duduk atau telentang.
7. Beri tahu pasien, mungkin akan merasa seperti tersedak atau batuk sat tabung
dimasukkan dan minta pasien agar tetap tenang.
8. Dengan lembut dan yakin, tekan dengan stabil, masukkan tabung dan
diarahkan ke oksipital yang ada tonjolan dibagian belakang tengkorak dan
ubah arah (dimiringkan) menuju septum hidung. Bila terdapat tahanan pindah
ke sisi satunya. Bila sudah mencapai nasofaring, putar tabung seperempat
putaran. Jangan dipaksa.
9. Saat tabung sudah mencapai orofaring dibagian belakang mulut, dengarkan
suara udara dari dalam tabung saat respirasi. Saat sudah mulai inhalasi, secara
lembut dan tegas dorong tabung lebih masuk ke lubang hidung dan dengarkan
42
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
sampai masuk trakea. Jangan memaksa tabung turun karena bisa merobek
laring. Bila posisi benar, tabung akan mudah masuk ke trakea.
10. Konfirmasi poisisi tabung dengan cara yang sama seperti prosedur
endotrakeal. Kontrol perdarahan dnegan mencubit secara lembut lubang
hidung disekitar tabung.
11. Masukan ET CO2 dengan tetap memantau tabung. Lihat ada atau tidaknya
perubahan warna. Bila tidak ada perubahan warna pada pasien dengan tekanan
menunjukkan letak tabung yang kurang pas. Keluarkan tabung dan lakukan
intubasi kembali bila memungkinkan.
12. Bila tabung tidak masuk dengan mudah dalam percobaan pertama, tarik
kembali ke orofaring dan mencoba reintergrasi selama inhalasi. Tindakan
yang terlalu lama akan memperburuk hipoksia. Setiap tindakan dilakukan
tidak lebih dari 30 detik.
13. Bila prosedur gagal, lepaskan alat – alat prosedur dan bantu napas pasien
dnegan pemberian oksigen aliran tinggi dengan masker dan rujuk.
2. Pemasangan Guedel
Oropharyngeal airway merupakan alat yang digunakan pada pasien dengan penurunan
kesadaran, diletakkan dalam mulut untuk menjaga saluran nafas (airway) tetap terbuka
dan mencegah lidah menutupi faring. Alat ini tidak dapat digunakan pada pasien yang
sadar (alert or semiconscious) karena menstimulasi refleks muntah dan tersedak.
2.1 Indikasi :
1. Nafas Spontan
2. Tidak ada refleks muntah
3. Pasien tidak sadar, tidak mampu manuver manual
43
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2.2 Kontraindikasi
1. Pasien sadar
2.3 Komplikasi
1. Obstruksi jalan napas
2. Laringospasme (bila pemilihan ukuran OPA tidak tepat)
3. Muntah
4. Aspirasi
2.4 Prosedur
Peralatan
1. Oropaharingeal
2. Jelly
3. Sarung tangan
Prosedur
1. Bersihkan mulut dan faring dari sekresi, darah atau muntahan dengan menggunakan
ujung penyedot faring yang kaku bila memungkinkan.
2. Pilih ukuran OPA yang tepat, yaitu dengan menempatkan OPA di samping wajah,
dengan ujung OPA pada sudut mulut ujung yang lain pada sudut rahang bawah.
Bila OPA diukur dan dimasukkan dengan tepat, makan OPA akan tepat sejajar
dengan pangkal glotis.
3. Masukkan OPA sedemikian hingga ia berputar ke arah belakang ketika memasuki
mulut.
4. Ketika OPA sudah masuk rongga mulut dan mendekati dinding posterior faring,
putar lah OPA sejauh 180 derajat ke arah posisi yang tepat.
3. SUCTIONING
Saluran napas bagian atas menghangatkan, membersihkan, dan melembabkan udara
yang kita hirup. Dengan pemasangan tabung, udara yang bergerak melalui tabung lebih
dingin, lebih kering, dan tidak bersih.
Dalam menghadapi perubahan ini, tubuh
memproduksi lendir lebih banyak. Penyedotan yang bisa dilakukan membersihkan lebidr
dari tabung trakeostomi dan sangat penting untuk pernapasan yang tepa. Serta sekresi
yang tersisa ditabung bisa jadi terkontaminasi dan infeksi dinding dada bisa terjadi.
Hindari penyedotan yang terlalu sering karena bisa menyebabkan sekresi lebih banyak
menumpuk.
44
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3.1 Membuang lendir dari tabung trakeostomi tanpa penyedotan
1. Bungkukan pasien dan minta untuk batuk lalu tangkap lendir dari tabung (bukan dari
mulut atau hidung).
2. Semprotkan lautan garam steril-normal saline- (sekitar 5cc) ke dalam tabung
trakeostomi untuk membantu membersihkan lendir dan batuk lagi.
3. Lepaskan kanula lalu pengisapan.
4. Telpon 911 bila napas belum normal setelah melakukan smeua langkah diatas.
5. Lepaskan tabung dan siapkan tabung cadangan.
6. Lanjutkan batuk, masukan saline, dan hisap sampai napas normal atau bantuan datang.
3.2 Kapan melakukan penghisapan
1. Penghisapan penting dilakukan bila lendir memblikir tabung dan menyebabkan pasien
sulit bernapas.
2. Setiap kali pasien merasa atau mendengar derak lendir dari tabung/saluran napas.
3. Pagi hari saat pasien bangun.
4. Ketika pasien mengalami kesulitan bernapas.
5. Sebelum makan.
6. Sebelum pergi ke luar ruangan.
7. Sebelum tidur.
Sekret harus bening atau putih. Jika berubah warna menunjukkan tanda infeksi. Jika
perubahan warna bertahan hingga lebih dari tiga hari segera hubungi rumah sakit untuk
penanganan lebih lanjut. Jika ada darah pada sekret, tingkatkan kelembaban atau hisap dengan
lembut.
3.3 Cara Suctioning
Peralatan
1. Kateter penghisap yang bersih (pastikan memiliki ukuran yang tepat)
2. Air steril dan Normal Saline
3. Mesin penyedot
4. Penghubung tabung dan penghisap
5. Wadah untuk merendam kanula bagian dalam (bila ada)
6. Kuas trakeostomi (untuk membersihkan tabung trakeostomi)
7. Tabung trakeostomi tambahan
45
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Penanganan
1. Cuci tangan
2. Nyalakan mesin penghisap dan hubungkan dengan pipa penghubung ke mesin.
Gunakan kateter penghisap bersih saat melakukan penyedotan. Kateter penyedut
dilakukan berulang, tempatkan kateter pada wadah yang disediakan berisi air steril
dan diamkan selama kurang lebih 30 detik untuk membersihkan skret didalamnya.
Lalu bilas kateter dengan air selama beberapa menit kemudian rendam dalam lartan
cuka dengan air steril (1:1) diamkan selama 15 menit. Sering – sering diaduk. Bilas
kateter dalam air dingin dan udara kering. Biarkan kateter kering didalam wadah yang
sudah disiapkan. Jangan gunakan kateter bila kaku atau retak.
3. Hubungkan kateter ke penghubung tabungan dan penghisap.
4. Pasien diminta berbaring dengan gulungan handuk/selimut kecil menyangga
punggungnya. Bisa juga dengan posisi duduk.
5. Basahi kateter dengan air steril untuk pelumasan dan untuk menguji mesin penghisap
dan dan saluran tabung.
6. Lepaskan kanula bagian dalam dari tabung (bila ada).
7. Ada beberapa jenis kanula bagian dalam, jadi hati hati saat meleapas kanula bagian
dalam ini.
8. Hati – hati agar tidak melepas tabung saat mengeluarkan kanula.
9. Letakan dan rendam kanula bagian dalam ke wadah yang disediakan.
10. Hati – hati saat memasukkan kateter ke dalam tabung. Memungkinkan kateter
mengikuti kelengkungan alami dari tabung treakeostomi. Jangan meninggalkan
kateter dalam tabung selama lebih dari 5 – 10 detik karena pasien tidak akan bisa
bernapas dengan baik bila kateter berada di dalam tabung.
11. Pasien kemungkinkan pulih dari penghisapan setidaknya tunggu 10 detik.
12. Hisap sedikit air steril dengan kateter untuk membersihkan sisa – sisa sekret.
13. Masukan kanula bagian dalam dari tabung tambahan (bila ada).
14. Matikan mesin dan buang kateter.
46
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4. CRICOTHYROIDOTOMY
Langkah 1
: Posisikan tubuh pasien terlentang (supine) dengan posisi leher netral
Langkah 2
: Palpasi cekukan/takik tiroid, interval krikotiroid, dan letak sternum untk
menentukan orientasi
Langkah 3
: Dekatkan seluruh peralatan yang dibutuhkan
Langkah 4
: Siapkan pembedahan dan berikan bius lokal bila pasien sadar
Langkah 5
: Stabilisasi tulang rawan tiroid dengan tangan kiri dan pertahankan stabilisasi
sampai trakea terintubasi
Langkah 6
: Buat insisi melintang pada kulit pada membran krikotiroid, dan secara hati –
hati insisi membran secara melintang
Langkah 7
: Masukkan hemostat atau trachea spreader ke insisi dan putar 90 derajat
untuk membuka jalan napas
47
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Langkah 8
: Sisipkan ukuran yang tepat, belenggu/fiksasi endotracheal tube/tracheostomy
tube dalam insisi membran krikotiroid, arahkan tabung secara distal ke dalam
trakea
Langkah 9
: Kembangkan manset dan pasang ventilasi
Langkah 10 : Observasi perkembangan paru dan auskultasi dada untuk ventilasi yang
adekuat
Langkah 11 : Kuatkan endotracheal tube/tracheostomy tube pada pasien untuk mencegah
agar tidak terlepas
Langkah 12 : Perhatian jangan potong atau cabut kartilago krikoid dan atau tiroid
4.1 Komplikasi Pembedahan Cricothyroidotomy
1. Aspirasi (misal : darah)
2. Membuat bagian palsu dalam jaringan
3. Laryngeal stenosis
4. Membuat terjadinya perdarahan atau hematoma
5. Laserasi pada esofagus
6. Laserasi pada trakea
7. Mediastinal emphysema
8. Kelumpuhan pusat suara atau suara serak
48
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
5. NEEDLE THORACOCENTESIS
Needle thoracocentesis merupakan intervensi awal yang dilakukan terhadap pasien
dengan pneumothorax spontan primer. Intervensi ini merupakan intervensi langsung yang
diterima dalam kasus – kasus tension pneumothorax. Intervensi ini akan dilanjutkan
dengan pemeriksaan X- ray pada dada dan drainase pada bagian yang diberi intervensi.
5.1 Indikasi
1. Pneumothorax spontan primer
2. Tension pneumothorax
5.2 Kontraindikasi
Thoracocentesis harus dipertimbangkan dengan berkonsultasi dengan dokter
emergensi :
1. Pneumothorax spontan pada pasien yang memiliki penyakit paru – paru
2. Penumothorax traumatis tanpa tension pneumothorax
5.3 Penanganan
1. Pantau terus keadaan jantung pasien dan pulse oximetry
2. Letakkan pasien trauma dengan kepala mengahdap ke atas dan posisi telentang
3. Bisa juga posisi pasien duduk dengan sudut 45 derajat
4. Palpasi bagian dada (batas atas costae ke 3 di midclavicular line)-intercostae ke 2 di
midclavicular line atau intercostae ke 5 pada midaxillary line- lalu asepsis area
tersebut dengan betadine (swab)
49
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
5. Siapkan spuit 5 cc
6. Tusukan jarum dari atas costae ke tiga untuk menghindari pembuluh interkostal dan
saraf
7. Hati – hati saat memasukkan jarum pada saat jarum sudah masuk ke dalam rongga
pleura sementara lakukan aspirasi
8. Setelah masuk rongga pleura penolong akan mendengar suara ‘pop’ dan melihat
gelembung memasuki jarum suntik. Pada keadaan tension penumothorax, penolong
akan merasakan perubahan resistensi.
9. Bila sudah, keluarkan jarum dengan lembut dan yakin dengan teknik withdrawl dan
biarkan kateter menetap pada area tusukan
10. Amankan kateter dengan memfiksasi untuk mencegah gagalnya tindakan dan
membuat satu jalur untuk pengeluaran gelembung
11. Lakukan pemantauan terus – menerus pada letak kateter
12. Bantu ventilasi bila memang masih diperlukan
13. Bersiaplah untuk melakukan intervensi ulang bila tension pneumothorax kembali
terjadi.
Tension pneumothorax merupakan keadaan dimana meningkatnya pasokan udara
dalam rongga pleura yang biasanya disebabkan karena laserasi pada paru yang menyebabkan
udara masuk ke dalam paru namun tidak bisa keluar kembali. Tekanan positif ventilasi bisa
berkemungkinan menyebabkan buruknya efek ‘satu-jalur-katup’.
50
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Peningkatan tekanan pada rongga pleura mendorong mediastiunum ke arah yang
berlawanan dengan hemithorax, dan obstruksi vena kembali ke jantung. Hal ini menyebabkan
ketidakstabilan sirkulasi dan menyebabkan bertahannya trauma yang didapat. Tanda – tanda
klasik pada tension pneumothorax adalah deviasi pada jalur trakea dari samping dengan
ketegangan, perluasan (hyper expanded) area dada, peningkatan perkusi dada dan perluasan
bidang dada yang sedikit bergerak saat respirasi.
Tekanan vena sentral biasanya meningkat, tapi akan normal atau rendah pada keadaan
hipovolemik. Akan tetapi tanda – tanda tersebut biasanya tidak muncul dan biasanya yang
terjadi pada pasien adalah takikardi, takipnea, dan hipoksia. Tanda – tanda ini diikuti oleh
kolaps sirkulasi dengan hipotensi dan trauma lanjutan dengan pulseless electrical activity
(PEA). Suara nafas dan perkusi suara thorax mungkin akan sulit diindentifikasi pada bagian
yang trauma
51
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
6. TUBE THORACOTOMY
Tube Thoracotomy merupakan suatu tindakan/prosedur dalam menangani kondisi
patologis dalam rongga pleura (pneumonia atau kanker, yang menyebabkan cairan ekstra
untuk didalam rongga di sekitar paru – paru(efusi pleura). Tabung pada dada yang
mungkin bisa menyebabkn pendarahan di sekitar paru – paru (haematothoraks). Tube
thoracotomy yaitu menempatkan sebuah tabung plastik berongga antara tulang rusuk dan
dada untuk mengalirkan cairan atau udara dari sekitar paru – paru. Tabung ini juga sering
dihubungkan dengan mesin untuk membantu drainase. Tabung tetap di dada sampai
semua atau sebagian besar cairan/udara keluar, biasanya beberapa hari. Kadang obat –
obatan khusus juga diberikan melalui tabung ini.
6.1 Resiko
Resiko komplikasi serius jarang terjadi (perdarahan dan infeksi). Resiko yang
dirasakan biasanya nyeri saat pemasangan, perdarahan saat penyisipan tabung, dan
infeksi bakteri yang masuk melalui tabung.
6.2 Indikasi
1. Pneumothorax Spontaneous
2. Tension Pneumothorax
3. Penetrating Chest Trauma
4. Haemothorax
5. Parapneumonic effusion (bila sudah kompleks)
6. Empyema
7. Malignant leurl effusion
8. Pleurodiesis Recurrent Malignant
9. Pleurodiesis effusion
10.
Chylothorax
11.
Bronchopleural fistula
12.
Haemodinamik pasien yang tidak stabil
6.3 Kontraindikasi
1. Paru – paru melekat pada dinding dada di seluruh hemithorax
2. Koagulopati
3. Peningkatan resiko perdarahan dan infeksi pada tempat penyisipan
52
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
7. BLOOD TRANFUSION
Merupakan transfusi darah yang aman, prosedur umum dimana darah akan diberikan
ke resipien melalui intravena (IV) pada salah satu pembuluh darah pasien. Transfusi
darah dilakukan untuk menggantikan darah yang hilang selama operasi atau karena
cedera serius. Tranfusi juga dilakukan bila tubuh tidak dapat memproduksi darah dengan
baik karena suatu penyakit tertentu. Selama tranfusi darah, jarum kecil yang digunakan
untuk memasukkan infus ke dalam pembuluh darah. Memalui jalur ini, pasien akan
menerima darah yang sehat. Prosedur ini biasanya memkna waktu sekita 1 – 4 jam,
tergantung jumlah darah yang dibutuhkan.
Setiap orang memiliki salah satu jenis darah (A, B, AB, atau O). Serta darah setiap
orang memiliki rhesus positif atau negatif. Darah yang digunakan dalam transfusi harus
bisa bekerja sama dengan golongan darah pasien/resipien. Bila tidak, antibodi (protein)
dalam darah yang baru ditransfusikan akan membuat resipien sakit.
Komponen – komponen darah meliputi :
7.1 Whole Blood (WB)
Darah simpan :
1. Berisi 250 – 350 cc
2. Kadar Hb 12 g/dL, hematokrit 35% - 45%
3. Trombosit tak berfungsi, F V dan F VIII nihil
4. Suhu simpan 2oC – 6oC, 30 menit keluar dari penyimpanan harus ditransfusikan
5. Tidak steril, bisa menularkan hepatitis B dan C, HIV, Sifilis, dan malaria.
6. Indikasi : perdarahan akut+hipovolemia, transfusi tukar
7. Kontraindikasi : anemia kronik, gagal jantung insipien
8. Dilarang memasukkan apapun kecuali saline
9. Batas waktu transfusi 4 jam
53
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
7.2 Packed Red Cell (PRC)
1. Volume 150 – 250 ml
2. Kadar Hb 20 g/dL, hematokrit 55% - 75%
3. Penyimpanan dan resiko infeksi = darah penuh
4. Indikasi : Menambah eritrosit pada anemia kronik dan perdrahan akut setelah
resusitasi dengan cairan kristaloid atau koloid.
7.3 Thrombocyte Concentrate (TC)
1. Volume 50 ml, trombosit > 55x109 trombosit
2. Di rak agitasi suhu 200C - 240C, disimpan 72 jam
3. Indikasi
: perdrahan ok trombositopenia/ trombopatia
4. Kontraindikasi :
54
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
ITP, TTP, DIC yang tidak diobati
Trombositopenia dengan septicaemia
Hipersplenisme
5. Transfusi set harus baru, selesai 20 menit/kantong
6. Bila kantong kosong bilas dengan saline 10 – 20 cc, dikocok, infuskan lagi
7. Dosis 1 kantong TC/10 kgBB, diberikan sampai perdarahan berhenti atau masa
perdarahan < 2x kontrol
8. Golongan darah TC donor dan resipien sama. Tidak perlus crossmatch.
7.4 Fresh Frozen Plasma (FFP)
1. Plasma berusia ≤ 6 jam dari penyadapan darah, dibekukan pada ≤ - 25oC sampai 1
tahun, volume 150 ml
2. Faktor pembekuan, albumin dan imunoglobulin stabil. Sekali mencair tidak bisa
disimpan lagi, disuhu kamar > 6 jam rusak.
3. Indikasi : perdarahan karena kurang faktor pembekuan multipel (penyakit liver/sirosis,
overdosis warfarin, transfusi warfarin, DIC, dan TTP)
4. Dosis 15ml/kgBB, golongan darah FFP dan resipien harus sama, tidak perlu
crossmatch
5. Setelah mencair dalam 30 menit harus sudah diinfuskan
6. Infus 1 kantong FFP selesai dalam 20 menit
55
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
7.5 Cryoprecipitate (AHF)
1. Volume 10 – 20 ml/unit
2. Isi F VIII : 80 – 100 IU dan fibrinogen 150 – 300 mg
3. Suhu ≤ - 250C sampai 1 tahun
4. Indikasi pada perdarahan karena defisiensi F VIII: Von Willebrand disease, Hemofilia
A, dan DIC
5. Golongan darah donor dan resipien harus sama, tidak perlu crossmatch
6. Dosis 1 kantong/ 1 – 6 kgBB tergantung berat perdarahan
7. Setelah mencair segera infuskan dengan transfusion set baru, selesai 20 menit/kantong
8. bila kantong kosong, bilas dengan aline 10 – 20 cc, kocok dan infuskan lagi.
56
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
REFERENSI
1. Jacob
L,
Heller.
2014.
Endotracheal
https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003449.htm
Intubation.
diakses
pada
31
Desember 2015
2. V, Divatia J dan Bhowmick K. 2005. Complication of endotracheal Intubation and
Other
Airway
Management
Procedures.
http://medind.nic.in/iad/t05/i4/iadt05i4p308.pdf diakses pada 31 Desember 2015
3. Kabrhel, Christopher, et al. 2007. Orotracheal Intubation. The New England Journal of
Medicine. http://www.nejm.org/doi/pdf/10.1056/NEJMvcm063574 diakses pada 31
Desember 2015
4. Hall CEJ and Shutt LE. Nasotracheal Intubation for Head and Neck Surgery.
Anaesthesia 2003; 58; 249-256 County of San Mateo. 2002. Nasotracheal Intubation.
http://smchealth.org/sites/default/files/docs/6765284Procedures7.pdf diakses pada 31
Desember 2015
5. Johns
Hopkins
Medicine.
2015.
Suctioning.
http://www.hopkinsmedicine.org/tracheostomy/living/suctioning.html diakses pada 31
Desember 2015
6. American College of Surgeons Committee on Trauma. 2008. Advanced Trauma Life
Support Student Course Manual 8th Edition. Chicago: American College of Surgeons
7. The
Royal
Childrens’s
Hospital
Melbourne.
http://www.rch.org.au/clinicalguide/guideline_index/Needle_Thoracocentesis/ diakses
pada 31 Desember 2015
8. Jones,
Steve.
Needle
Thoracocentesis
Pneumothorax/Hemothorax.
http://www.clemc.us/images/PneumothoraxHemopneumothorax_Needle_Decompression.pdf diakses pada 31 Desember 2015
9. Trauma.
2004.
Chest
Trauma
Pneumothorax
http://www.trauma.org/archive/thoracic/CHESTtension.html
Tension.
diakses
pada
31
Desember 2015
10. America
Thoracic
Society.
2004.
Chest
Tube
Thoracostomy.
https://www.thoracic.org/patients/patient-resources/resources/chest-tubethoracostomy.pdf diakses pada 1 Januari 2015
57
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
11. British Journal of Hospital Medicine. 2006. Tube Thoracostomy How to Insert A
Chest
Drain.
https://www.ucl.ac.uk/anaesthesia/StudentsandTrainees/Tube_Thoracostomy diakses
pada 1 Januari 2015
12. Hogg, Jeremy R, et al. 2011. Tube Thoracostomy A Review for The Interventional
Radiologist. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3140253/pdf/sir28039.pdf
diakses pada 1 Januari 2015
13. Hogg, Jeremy R, et al. 2011. Tube Thoracostomy A Review for The Interventional
Radiologist. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3140253/pdf/sir28039.pdf
diakses pada 1 Januari 2015
14. NIH (National Heart Lung and Blood Institute. 2012. Explore Blood Tranfussion.
https://www.nhlbi.nih.gov/health/health-topics/topics/bt daikses pada 1 Jnuari 2015
15. Budiman. 2014. Tata Cara Transfusi. Workshop Transfusi Paramedik: Malang
16. Dorland, W.A Newman. 2012. DORLAND’S POCKET MEDICAL DICTIONARY, 28th
Ed. Singapore: Elsevier. ISBN 978-979-044-070-8. Pp 32-33; 265; 1141-1142.
17. ICRC. 2002. Emergency Medical Items Catalogue
18. FKUNISSULA. Buku Panduan Skill Lab Pengelolaan Bantuan Nafas Dasar dan
Lanjut
58
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
TRAUMA MUSKULOSKELETAL
1. LUKA
1.1 Pengertian
Luka adalah keadaan hilang/terputusnya kontinuitas jaringan. Menurut InETNA, luka
adalah sebuah injuri pada jaringan yang mengganggu proses selular normal, luka dapat
juga dijabarkan dengan adanya kerusakan pada kuntinuitas/kesatuan jaringan tubuh
yang biasanya disertai dengan kehilangan substansi jaringan.
1.2 Klasifikasi Luka
Luka dibedakan berdasarkan :
1.2.1 Berdasarkan penyebab
1. Ekskoriasi atau luka lecet
2. Vulnus scisum atau luka sayat
3. Vulnus laseratum atau luka robek
4. Vulnus punctum atau luka tusuk
5. Vulnus morsum atau luka karena gigitan binatang
6. Vulnus combotio atau luka bakar
1.2.2 Berdasarkan ada/tidaknya kehilangan jaringan
1. Ekskoriasi
2. Skin avulsion
3. Skin loss
1.2.3 Berdasarkan derajat kontaminasi
1. Luka bersih
A. Luka sayat elektif
B. Steril, potensial terinfeksi
C. Tidak ada kontak dengan orofaring, traktus respiratorius, traktus
elimentarius, traktus genitourinarius.
2. Luka bersih tercemar
A. Luka sayat elektif
B. Potensi terinfeksi : spillage minimal, flora normal
C. Kontak orofaring, respiratorius, elimentarius dan genitourinarius
D. Proses penyembuhan lebih lama
59
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3. Luka tercemar
A. Potensi terinfeksi: spillage dari traktus elimentarius, kandung empedu,
traktus genito urinarius, urine
B. Luka trauma baru : laserasi, fraktur terbuka, luka penetrasi.
4. Luka kotor
A. Akibat proses pembedahan yang sangat terkontaminasi
B. Perforasi visera, abses, trauma lama.
1.3 Tipe Penyembuhan luka
Terdapat 3 macam tipe penyembuhan luka, dimana pembagian ini dikarakteristikkan
dengan jumlah jaringan yang hilang.
1. Primary Intention Healing (penyembuhan luka primer) yaitu penyembuhan yang
terjadi segera setelah diusahakan bertautnya tepi luka biasanya dengan jahitan.
2. Secondary Intention Healing (penyembuhan luka sekunder) yaitu luka yang tidak
mengalami penyembuhan primer. Tipe ini dikarakteristikkan oleh adanya luka yang
luas dan hilangnya jaringan dalam jumlah besar. Proses penyembuhan terjadi lebih
kompleks dan lebih lama. Luka jenis ini biasanya tetap terbuka.
3. Tertiary Intention Healing (penyembuhan luka tertier) yaitu luka yang dibiarkan
terbuka selama beberapa hari setelah tindakan debridement. Setelah diyakini bersih,
tepi luka dipertautkan (4-7 hari). Luka ini merupakan tipe penyembuhan luka yang
terakhir.
60
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Gambar 4. Tipe penyembuhan luka
1.4 Fase Penyembuhan Luka
Proses penyembuhan luka memiliki 3 fase yaitu fase inflamasi, proliferasi dan
maturasi. Antara satu fase dengan fase yang lain merupakan suatu kesinambungan yang
tidak dapat dipisahkan.
1.4.1 Fase Inflamasi
Tahap ini muncul segera setelah injuri dan dapat berlanjut sampai 5 hari.
Inflamasi berfungsi untuk mengontrol perdarahan, mencegah invasi bakteri,
menghilangkan debris dari jaringan yang luka dan mempersiapkan proses
penyembuhan lanjutan.
1.4.2 Fase Proliferasi
Tahap ini berlangsung dari hari ke 6 sampai dengan 3 minggu. Fibroblast (sel
jaringan penyambung) memiliki peran yang besar dalam fase proliferasi.
1.4.3 Fase Maturasi
Tahap ini berlangsung mulai pada hari ke 21 dan dapat berlangsung sampai
berbulan-bulan dan berakhir bila tanda radang sudah hilang. Dalam fase ini terdapat
remodeling luka yang merupakan hasil dari peningkatan jaringan kolagen,
pemecahan kolagen yang berlebih dan regresi vaskularitas luka.
1.5 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka
Penyembuhan luka merupakan suatu proses yang kompleks dan dinamis karena
merupakan
suatu
kegiatan
bioseluler
dan
biokimia
yang
terjadi
saling
berkesinambungan. Proses penyembuhan luka tidak hanya terbatas pada proses
regenerasi yang bersifat lokal saja pada luka, namun dipengaruhi pula oleh faktor
intrinsik dan faktor ekstrinsik.
61
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Faktor Instrinsik adalah faktor dari penderita yang dapat berpengaruh dalam proses
penyembuhan meliputi : usia, status nutrisi dan hidrasi, oksigenasi dan perfusi jaringan,
status imunologi, dan penyakit penyerta (hipertensi, DM, Arthereosclerosis).
Faktor Ekstrinsik adalah faktor yang didapat dari luar penderita yang dapat
berpengaruh dalam proses penyembuhan luka, meliputi : pengobatan, radiasi, stres
psikologis, infeksi, iskemia dan trauma jaringan.
1.6 Komplikasi Penyembuhan Luka
Komplikasi dan penyembuhan luka timbul dalam manifestasi yang berbeda-beda.
Komplikasi yang luas timbul dari pembersihan luka yang tidak adekuat, keterlambatan
pembentukan jaringan granulasi, tidak adanya reepitalisasi dan juga akibat komplikasi
post operatif dan adanya infeksi.
Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah : hematoma, nekrosis jaringan
lunak, dehiscence, keloids, formasi hipertropik scar dan juga infeksi luka.
1.7 Penatalaksanaan/Perawatan Luka
Dalam manajemen perawatan luka ada beberapa tahap yang dilakukan yaitu evaluasi
luka, tindakan antiseptik, pembersihan luka, penjahitan luka, penutupan luka,
pembalutan, pemberian antiboitik dan pengangkatan jahitan.
1.7.1 Evaluasi luka meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik (lokasi dan eksplorasi).
1.7.2 Tindakan Antiseptik, prinsipnya untuk mensucihamakan kulit. Untuk melakukan
pencucian/pembersihan luka biasanya digunakan cairan atau larutan antiseptik
seperti:
1. Alkohol, sifatnya bakterisida kuat dan cepat (efektif dalam 2 menit).
2. Halogen dan senyawanya
A. Yodium, merupakan antiseptik yang sangat kuat, berspektrum luas dan
dalam konsentrasi 2% membunuh spora dalam 2-3 jam
B. Povidon Yodium (Betadine, septadine dan isodine), merupakan kompleks
yodium dengan polyvinylpirrolidone yang tidak merangsang, mudah dicuci
karena larut dalam air dan stabil karena tidak menguap.
C. Yodoform, sudah jarang digunakan. Penggunaan biasanya untuk antiseptik
borok.
62
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
D. Klorhesidin (Hibiscrub, savlon, hibitane), merupakan senyawa biguanid
dengan sifat bakterisid dan fungisid, tidak berwarna, mudah larut dalam
air, tidak merangsang kulit dam mukosa, dan baunya tidak menusuk
hidung.
3. Oksidansia
A. Kalium permanganat, bersifat bakterisid dan funngisida agak lemah
berdasarkan sifat oksidator.
B. Perhidrol (Peroksida air, H2O2), berkhasiat untuk mengeluarkan kotoran
dari dalam luka dan membunuh kuman anaerob.
4. Logam berat dan garamnya
A. Merkuri klorida (sublimat), berkhasiat menghambat pertumbuhan bakteri
dan jamur.
B. Merkurokrom (obat merah)dalam larutan 5-10%. Sifatnya bakteriostatik
lemah, mempercepat keringnya luka dengan cara merangsang timbulnya
kerak (korts)
C. Asam borat, sebagai bakteriostatik lemah (konsentrasi 3%).
5. Derivat fenol
A. Trinitrofenol (asam pikrat), kegunaannya sebagai antiseptik wajah dan
genitalia eksterna sebelum operasi dan luka bakar.
B. Heksaklorofan (pHisohex), berkhasiat untuk mencuci tangan.
6.
Basa ammonium kuartener, disebut juga etakridin (rivanol), berupa serbuk
berwarna kuning dam konsentrasi 0,1%. Kegunaannya sebagai antiseptik borok
bernanah, kompres dan irigasi luka terinfeksi.
Dalam proses pencucian/pembersihan luka yang perlu diperhatikan adalah pemilihan
cairan pencuci dan teknik pencucian luka. Penggunaan cairan pencuci yang tidak tepat akan
menghambat pertumbuhan jaringan sehingga memperlama waktu rawat dan meningkatkan
biaya perawatan. Pemelihan cairan dalam pencucian luka harus cairan yang efektif dan aman
terhadap luka. Selain larutan antiseptik yang telah dijelaskan diatas ada cairan pencuci luka
lain yang saat ini sering digunakan yaitu Normal Saline. Normal saline atau disebut juga NaCl
0,9%. Cairan ini merupakan cairan yang bersifat fisiologis, non toksik dan tidak mahal. NaCl
dalam setiap liternya mempunyai komposisi natrium klorida 9,0 g dengan osmolaritas 308
mOsm/l setara dengan ion-ion Na+ 154 mEq/l dan Cl- 154 mEq/l.
63
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.7.3 Pembersihan Luka
Tujuan dilakukannya pembersihan luka adalah meningkatkan, memperbaiki
dan mempercepat proses penyembuhan luka; menghindari terjadinya infeksi;
membuang jaringan nekrosis dan debris. Beberapa langkah yang harus diperhatikan
dalam pembersihan luka yaitu :
1.
Irigasi
dengan
sebanyak-banyaknya
dengan
tujuan
untuk
membuang jaringan mati dan benda asing.
2.
Hilangkan semua benda asing dan eksisi semua jaringan mati.
3.
Berikan antiseptik
4.
Bila diperlukan tindakan ini dapat dilakukan dengan pemberian
anastesi lokal
5.
Bila perlu lakukan penutupan luka
1.7.4 Penjahitan luka
Luka bersih dan diyakini tidak mengalami infeksi serta berumur kurang dari 8
jam boleh dijahit primer, sedangkan luka yang terkontaminasi berat dan atau tidak
berbatas tegas sebaiknya dibiarkan sembuh per sekundam atau per tertiam.
1.7.5 Penutupan Luka
Adalah mengupayakan kondisi lingkungan yang baik pada luka sehingga
proses penyembuhan berlangsung optimal.
1.7.6 Pembalutan
Pertimbangan dalam menutup dan membalut luka sangat tergantung pada
penilaian kondisi luka. Pembalutan berfungsi sebagai pelindung terhadap
penguapan, infeksi, mengupayakan lingkungan yang baik bagi luka dalam proses
penyembuhan, sebagai fiksasi dan efek penekanan yang mencegah berkumpulnya
rembesan darah yang menyebabkan hematom.
1.7.7 Pemberian Antibiotik
Prinsipnya pada luka bersih tidak perlu diberikan antibiotik dan pada luka
terkontaminasi atau kotor maka perlu diberikan antibiotik.
64
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.7.8 Pengangkatan Jahitan
Jahitan diangkat bila fungsinya sudah tidak diperlukan lagi. Waktu
pengangkatan jahitan tergantung dari berbagai faktor seperti, lokasi, jenis
pengangkatan luka, usia, kesehatan, sikap penderita dan adanya infeksi.
NO
Lokasi
Waktu (hari)
1
Kelopak mata
3
2
Pipi
3-5
3
Hidung, dahi, leher
5
4
Telinga, kulit kepala
5-7
5
Lengan, tungkai, tangan ,kaki
7-10+
6
Dada, punggung, abdomen
7-10+
Sumber. Walton, 1990:44
REFERENSI
1. Indonesia Enterostomal Therapy Nurse Association (InETNA) & Tim
Perawatan Luka dan Stoma Rumah Sakit Dharmais. 2004.Perawatan Luka.
Jakarta : Makalah Mandiri.
2. Mansjoer.Arif, dkk. Eds.2000.Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jakarta :
Media Aesculapius FKUI.
3. Walton,Robert L. 1990. Perawatan Luka dan Penderita Perlukaan Ganda,
Alih bahasa. Sonny Samsudin, Cetakan I. Jakarta : EGC.
65
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2. FRAKTUR
2.1 Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya. Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh. Fraktur atau patah
tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang
umumnya disebabkan oleh tekanan yang berlebihan. Trauma yang menyebabkan tulang
patah dapat berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung. Trauma langsung
menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan.
Trauma tidak langsung, apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari
daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada
klavikula, pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.
1.2.Klasifikasi fraktur
Fraktur dibedakan atas beberapa klasifikasi, antara lain:
1.2.1 Klasifikasi etiologis
1. Fraktur traumatik. Terjadi karena trauma yang tiba-tiba.
2. Fraktur patologis. Terjadi karena kelemahan tulang sebelumnya akibat kelainan
patologis di dalam tulang.
3. Fraktur stres. Terjadi karena adanya trauma yang terus menerus pada suatu
tempat tertentu.
2.2.2. Klasifikasi klinis
1.
Fraktur tertutup (simple fracture). Suatu fraktur yang tidak mempunyai
hubungan dengan dunia luar
2.
Fraktur terbuka (compound fracture). Fraktur yang mempunyai hubungan
dengan dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk
from within (dari dalam) atau from without (dari luar)
3.
Fraktur dengan komplikasi (compicated fracture). Fraktur yang disertai dengan
komplikasi misalnya malunion, delayed union, infeksi tulang
66
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2.2.3 Klasifikasi radiologis
Klasifikasi ini berdasarkan atas:
1. Lokalisasi
A. Difasial
B. Metafisial
C. Intra-artikuler
D. Fraktur dengan dislokasi
2. Konfigurasi
A. Fraktur transversal
B. Fraktur oblik
C. Fraktur spiral
D. Fraktur Z
E. Fraktur segmental
F. Fraktur kominutif, fraktur lebih dari dua fragmen
G. Fraktur baji, biasanya pada vertebra karena trauma kompresi
H. Fraktur avulsi, fragmen kecil tertarik oleh otot atau tendo, misalnya fraktur
epikondilus humeri, fraktur trokanter mayor, fraktur patela
I. Fraktur depresi, karena trauma langsung, misalnya pada tulang tengkorak
J. Fraktur impaks
K. Fraktur pecah (burst), dimana terjadi fragmen kecil yang berpisah,
misalnya pada fraktur vertebra, patela, talus, kalkaneus
L. Fraktur epifisis
3. Menurut ekstensi
A. Fraktur total
B. Fraktur tidak total (fraktur crack)
C. Fraktur buckie atau torus
D. Fraktur garis rambut
E. Fraktur green stick
4. Menurut hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya
A. Tidak bergeser (undisplaced)
B. Bergeser (displaced)
Bergeser dapat terjadi dalam 6 cara: Bersampingan, angulasi, rotasi, distraksi,
over-riding dan impaksi
67
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.3 Penanganan Awal Fraktu
Sebelum terapi definitive fraktur dilakukan, perhatian ditujukan pada pertolongan
pertama prinsip (Advanced Trauma Life Support (ATLS)), penilaian klinis pasien
dengan kemungkinan adanya luka atau komplikasi, dan resusitasi.
Pertolongan pertama:
1.3.1 Memastikan jalan nafas bersih,
1.3.2 Memastikan apakah ada perdarahan eksternal
Sangat jarang kasus perdarahan yang memerlukan torniket. Semua perdarahan
biasa dapat dikontrol dengan membebat rapat luka, hanya jika perdarahan hebat
dengan kondisi pasien berbaring yang memerlukan tekanan dari torniket.
Penekanan daerah perdarahan arteri utama di ujung tungkai juga dapat dilakukan
untuk mengontrol perdarahan
1.3.3 Membersihkan luka
1.3.4 Menyediakan alat imobilisasi untuk fraktur lengan dan tungkai.
”2 prinsip pembidaian yaitu jika terdapat fraktur pada sendi maka pembidaian pada
dua tulang dan jika fraktur pada tulang maka pembidaian melewati dua sendi.”
1.3.5 Membuat pasien nyaman selama menunggu bantuan/ambulans datang
1. Apabila perlu memindahkan pasien dengan fraktur tulang panjang, lakukan
traksi untuk meringankan nyeri.
2. Apabila ada fraktur spinal column, penanganan kemudiam pindahkan, untuk
mencegah keparahan lebih lanjut. Maka penting untuk mencegah fleksi dan
ekstensi spinal karena dapat membuat pergeseran. Mempersiapkan proteksi
leher berupa cervical collar sebelum memindahkan pasien.
REFERENSI
1. Anonim. Princple of Fracture Treatment Article.
2. Prawira, harry. Fracture. Fakultas Kedokteran Universitas Riau. RSUD Arifin
Achmad Pekanbaru. Juli. 2008.
68
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3. DISLOKASI
Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi
ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen
tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi).
1. Mudah dikenal
2. Perubahan bentuk anatomi
3. Nyeri hebat
4. Tindakan emergency
5. Tidak mengancam jiwa
6. Periksa denyut nadi, persarafan distal lesi
7. Sanggah & luruskan extremitasi (posisi menyenangkan penderita)
8. Rujuk
3.1 Amputasi
1. Perdarahan
2. Mengancam jiwa
3. Tindakan balut tekan
4. Ambil bagian teramputasi
5. Simpan dalam kantong plastic
6. Diluarnya bungkus es
7. Bisa vabilitasnya > 4 jam
3.2 Riwayat Trauma & Penatalaksanaannya
1. Mengetahui riwayat trauma extremitas
2. Membereskan jalan napas, pernapasan, sirkulasi
3. Trauma pada tungkai (jatuh dari ketinggian) sering disertai trauma lumbal
4. Trauma pada lutut pasien disertai dengan trauma panggul
5. Jatuh pada lengan menyebabkan trauma pada lengan dan siku dievaluasi
bersamaan.
6. Hal yang sama pada lutut & proksimal tibia fibula
7. Trauma bahu dapat melibatkan leher, dada atau bahu
8. Fraktur pelvis sering menyebabkan kehilangan darah yang sangat banyak
69
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3.3 Penatalaksanaan
3.3.1 Hati-hati pada fraktur pelvis dan tulang besar & harus control perdarahan
3.3.2 Secondary survey :
1. Look : lihat, inspeksi : ada luka?
2. Feel : raba, palpasi : bagaimana nvd?
3. Move : gerakan, jangan lakukan bila ada fraktur.
4. Ukur apa ada perbedaan panjang extremitas
3.3.3 Periksa semua persendian dari sakit danpergerakan
3.3.4 Ukur dan catat denyut nadi, pergerakan & sensibilitas extremitas distal
3.3.5 Krepitasi adalah tanda fraktur
3.3.6 Krepitasi tulang diimobilisasi untuk melindungi jaringan lunak
3.3.7 Krepitasi ujung tulang yang patah saling bersinggungan satu sama lain &
menyebabkan kerusakan jaringan lebih lanjut
3.4 Spalk
3.4.1 Tujuan spinting (spalk)
1. Untuk mencegah pergerakan tulang yang patah
2. Kapan digunakan splinting tidak ada aturan, kalau ragu-ragu lebih baik pasang
saja
3.4.2 Peraturan umum dalam splinting
1. Harus benar-benar melihat bagian-bagian dari yang luka
2. Periksa & catat sensasi distal sebelum & setelah splinting
3. Lakukan traksi jika pasien menunjukkan angulasi dan denyut nadi tidak teraba
4. Luka terbuka harus ditutup
5. Splint untuk imobilisasi persendian di atas dan di bawah
6. Luruskan spint dengan benar
7. Jangan lakukan penekanan di bawah kulit
8. Lakukan splint sebelum memindahkan pasien
9. Splint luka yang memungkinkan saja
3.4.3 Penatalaksanaan cidera yang spesifik
1. Tulang belakang : imobilisasi harus dilakukan untuk mencegah pasalise
seumur hidup
2. Pelvis : dimasukkan dalam trauma extremitas
70
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3. Femur : biasanya patah pada 1/3 tengah pangkal paha dan sendi
4. Dislokasi panggul adalah hal yang berbeda
5. Lutut : raktur sangat serius karena arteri berada diatas dan dibawah
6. Tibia dan fibula : terjadinya compartment syndrome
7. Bahu : disertai kerusakan parah dari dada dan leher
8. Siku : dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan saraf
9. Tangan dan pergelangan tangan : biasanya jatuh atau penarikan yang terlalu
kuat
10. Kaki dan tangan : fraktur multiple yang terbuka dan avulsi
3.4.4 Beberapa Hal Yang Penting Dalam Menangani Fraktur & Dislokasi
1. Harus mengetahui mekanisme fraktur dan komplikasinya
2. Mulai dengan primary survey
3. Lihat dan periksa bagian luka
4. Waspada pada patah tulang
5. Catat pembuluh darah dan sensasi sebelum dan sesudah pemasangan splinting
6. Luruskan persendian dengan hati-hati
7. Curiga fraktur!! Lakukan imobilisasi
8. Splint pasien pada waktu yang tepat
9. Ragu-ragu pada tulang belakang lakukan aplinting pada long spine board
10. Jangan sia-siakan golden hour
REFERENSI
1. Rasjad, Chairuddin. 2006. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makassar : Bintang
Lamumpatue.
71
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4. STRAIN DAN SPRAIN
4.1 Definisi
Cedera paling sering yang dialami ketika berolahraga adalah otot terkilir yang dalam
istilah medis disebut dengan sprain dan strain. Sprain adalah teregangnya ligamen
(jaringan ikat/penghubung yg kuat) sehingga menimbulkan robekan parsial/sebagian,
hal ini terjadi karena stress berlebihan yang mendadak atau penggunaan berlebihan yang
berulang-ulang dari sendi. Strain adalah teregangnya otot dan tendon (jaringan
ikat/penghubungan yg kuat yg menghubungkan otot dengan tulang) karena penggunaan
yang berlebihan ataupun stress yang berlebihan.
4.2 Klasifikasi Strain dan Sprain
4.2.1 Berdasarkan berat ringannya cedera, strain dibedakan menjadi 3 tingkatan, yaitu:
1. Strain Tingkat I
Pada strain tingkat I, terjadi regangan yang hebat, tetapi belum sampai terjadi
robekan pada jaringan m. tendineus.
2. Strain Tingkat II
Pada strain tingkat II, terdapat robekan pada unit m.tendineus. Tahap ini
menimbulkan rasa nyeri dan sakit sehingga kekuatan berkurang.
3. Strain Tingkat III
Pada strain tingkat III, terjadi robekan total pada unit m. tendineus. Biasanya
hal ini membutuhkan tindakan pembedahan jika diagnosis dapat ditetapkan.
4.2.2 Berdasarkan berat ringannya cedera terbagi sprain menjadi tiga tingkatan, yaitu:
1. Sprain Tingkat I
Pada cedera ini terdapat sedikit hematoma dalam ligamentum dan hanya
beberapa serabut yang putus. Cedera menimbulkan rasa nyeri tekan,
pembengkakan dan rasa sakit pada daerah tersebut.
2. Sprain Tingkat II
Pada cedera ini lebih banyak serabut dari ligamentum yang putus, tetapi lebih
separuh serabut ligamentum yang utuh. Cedera menimbulkan rasa sakit, nyeri
tekan, pembengkakan, efusi, dan biasanya tidak dapat menggerakkan
persendian tersebut.
72
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3. Sprain Tingkat III
Pada cedera ini seluruh ligamentum putus, sehingga kedua ujungya terpisah.
Persendian yang bersangkutan merasa sangat sakit, terdapat darah dalam
persendian, pembekakan, tidak dapat bergerak seperti biasa, dan terdapat
gerakan–gerakan yang abnormal.
4.3 Penatalaksanaan
4.3.1 Prinsip terapinya adalah RICE:
1. R = rest/istirahat.
2. I = ice.
Ingat, es bukan kompres hangat! Saat cedera baru berlangsung, akan terjadi
robekan pembuluh darah, pembuluh darah sekitar tempat cedera akan melebar
(dilatasi) sebagai respon peradangan. Pemberian kompres dingin/es akan
menyempitkan
(vasokonstriksi)
pembuluh
darah
yg
melebar
sehingga
mengurangi bengkak. Kompres dingin bisa dilakukan 1-2 kali sehari, jangan
lebih dari 20 menit karena justru kan mengganggu sirkulasi darah. Sebaliknya,
saat cedera sudah kronik, tanda-tanda peradangan seperti bengkak, warna merah,
nyeri hebat sudah hilang, maka prinsip pemberian kompres hangat bisa
dilakukan.
3. C = compression. Kompres/penekanan pada bagian cedera, bisa dilakukan
dengan perban/dibalut. Jangan terlalu erat, tujuannya untuk mengurangi
pembengkakan.
4. E = elevation. Jika ankle kaki yg terkilir, sering-sering istirahat dengan kaki
diangkat atau dengan diganjal. Tujuannya untuk mengurangi pembengkakan.
Pemberian obat anti sakit dan anti radang bisa diberikan atas petunjuk dokter.
Menurut Hardianto wibowo (1995:26) perawatan yang dapat diakukan adalah
sebagai berikut:
A. Sprain/strain tingkat satu (First degree)
Tidak perlu pertolongan/ pengobatan, cedera pada tingkat ini cukut diberikan
istirahat saja karena akan sembuh dengan sendirinya.
73
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
B. Sprain/strain tingkat dua (Second degree)
Kita harus memberi pertolongan dengan metode RICE. Disamping itu kita
harus memberikan tindakan imobilisasi (suatu tindakan yang diberikan agar
bagian yang cedera tidak dapat digerakan) dengan cara balut tekan, spalk
maupun gibs.
C. Sprain/strain tingkat tiga (Third degree)
Tetap melakukan metode RICE sesuai dengan urutanya kemudian dikirim
kerumah sakit untuk dijahit/ disambung kembali.
Beberapa jurnal kedokteran olahraga dari American Journal of Sports
Medicine telah mengungkap bahwa obat anti nyeri dan anti radang dapat
membantu pasien untuk segera kembali menggunakan bagian tubuh yang cedera
sehingga dapat mengurangi bengkak/edema. Hanya saja patut diketahui bahwa
tidak semua anti nyeri memiliki efek yang baik. Anti nyeri yang disarankan untuk
dikonsumsi tanpa memiliki efek samping yang buruk untuk penyembuhan cedera
ligamen antara lain adalah piroxicam, meloxicam, dan ibuprofen.
4.4 Macam-macam Sport Injury
4.4.1 Bursitis dan Tendonitis
Bursitis adalah inflamasi bursa sac. Bursa sac
berlokasi diantara tulang dnegan kulit. Dapat
terjadi kulit yang bergesekan dengan ujung runcing
tulang pada tubuh seperti di lutut, pundak, dan
siku. Ketika bursa sac menjadi teritisasi, ini akan
menyebabkan nyeri dan tidak nyaman di dekat
sendi. Tendonitis adalah radang atau iritasi tendon.
Etiologi
: Bursitis dan tendonitis dapat disebabkan aktivitas yang ekstrim,
berlangsung lama, atau tekanan berulang-ulang pada bursa sac atau
tendon. Bursa sac atau tendon dapat menjadi radang dan ditemukan
terbanyak pada sendi (pundak, pinggang, lutut, pergelangan tangan, siku,
dll).
Gejala
: Nyeri, tidak nyaman, kaku dan mungkin bangkak pada daerah yang
terkena
74
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Terapi
:
1. R.I.C.E (rest ice compression elevation)
2. Meregangkan dengan lembut dan merilekskan area, konsultasi
dengan profesional
3. Jika nyeri maish terasa, segera konsul ke ahli kesehatan
4.4.2 Cedera ACL
ACL (Anterior Cruciate Ligament) adalah
satu diantara empat ligamen besar yang penting
untuk stabilitas sendi lutut. Cedera ACL terjadi
ketika ligamen robek
Etiologi
: Robekan ACL umumnya disebaban
olahraga yang memerlukan putaran
atau mulai dan berhenti, seperti
sepak
dengan
bola, basket,
robek
ski. Pasien
ACL
biasanya
complain trauma tiba tiba dengan lutut bengkok.
Gejala
: Nyeri, bengkak, atau suara letukan pada lutut dan sendi lutut tidak
stabil
Terapi
:
1. Memberi es pada lutut untuk merekdakan pembengkakan, selam minimal 20
menit, 2-3 kali sehari
2. Mengistirahatkan sampai bengkak hilang
3. Mulai terapi fisik untuk mengembalikan rentang gerak sebisa mungkin
4. Tindakan operasi sering digunakan untuk memperbaiki kerusakan
4.4.3 Shin Splint
Periosteum adalah lapisan pada tulang. Shin splint
adalah radang karena kerusakan otot di sepanjang
tulang kering karena beban yang berlebihan
Penyebab
: Orang yang bermain olahraga yang
memerlukan
banyak
berlari,
aktivitas
berulang-ulang pada permukaan keras, dan
75
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
banyak kegiatan mulai-berhenti dapat menyebabkan cedera ini. Atau
karena penggunaan otot kaki yang berlebihan.
Gejala
: Nyeri, tidak nyaman, radang dan bengkak. Nyeri ditandai di awal
olahraga dan setelah istirahat.
Terapi
:
1. Istirahat. Hindari penggunaan berlebihan
2. Memberikan es pada daerah cedera untuk mengurangi pembengkakan.
3. Meregangkan dengan lembut dan merilekskan area, konsultasi dengan
profesional.
4. Jika nyeri maish ada, segera konsultasi ahli kesehatan
4.4.4. Tennis elbow (siku tenis)
Tennis elbow (atau epikondilitis lateral)
adalah radang pada tendon yang melekat pada
siku
Penyebab
:
Penyebab
umumnya
adalah
penggunaan berlebihan otot lengan.
Orang yang berolahraga banyak
menggunakan lengan seperti tenis,
golf lebih mudah terkena kondisi ini
Gejala
: Nyeri dan tidak nyaman pada ujung
runcing tulang siku, saat menggerakkan lengan. Nyeri biasanya terjadi
ketika menggarakkan atau meemeras sesuatu. Namun, nyeri tetap ada
walaupun sudah istirahat
Terapi
:
1. Menghindari kegiatan yang memnyebabkan nyeri dan tidak nyaman.
Modifikasi gerakan untuk menghindari rasa tidaknyaman, menggunakan
splint siku dapat memabtu meringankan nyeri dan dapat merilekskan
tendon.
2. Memberi es pada siku untuk meredakan bengkak dan nyeri.
3. Meregangkan dengan lembut dan merilekskan area, otot dan tendon siku
lengan dan pergelangan tangan
4. Jika nyeri maish ada 6-12 minggu, tindakan operasi mungkin diperlukan
76
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4.5 Hal-hal yang harus dihindari pada cedera olahraga:
4.5.1 Heat (panas)
1. Pemanasan dapat meningkatkan perdarahan di lokasi tersebut
2. Hindari mandi air panas, sauna, air botol paas dan kantong air panas
4.5.2 Alkohol
Alkohol meningkatkan perdarahan dan pembengkakan pada daerah luka dan
menunda kesembuhan
4.5.3 Running (berlari)
1. Berlari atau aktivitas lain dapat menyebabkan kerusakan lebih parah.
2. Tidak melanjutkan aktivitas olahraga hingga 72 jam setelah trauma, atau
sampai tenaga kesehatan profesional mengizinkan untuk beraktivitaas lagi
4.5.4 Massage (pemijatan)
1. Pemijatan dapat meningkatkan perdarahan dan pembengkakan dan harus
dihindari selama 72 jam setelah trauma.
2. Jika trauma dipijat dalam 72 jam pertama, maka dapat memperlama
kesembuhan
REFERENSI
1. Anonim. 2002. Managing Your Sports Injury Article. Acc SportSmart
77
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
RESUSITASI CAIRAN
1. Fisiologi Keseimbangan Cairn Tubuh
Sebagai komponen terbesar dari tubuh manusia, air dapat diperoleh dari makanan dan
minuman. Kandungan air pada saat bayi baru lahir adalah sekitar 75% berat badan,
sedangkan pria dewasa 60% dan wanita dewasa 50%. Sisanya adalah protein, lemak,
karbohidrat, dan lain-lain. Dengan demikian persentase cairan di dalam tubuh selalu
berubah sesuai dengan usia dan komposisi tubuh.
Usia
Kilogram berat (%)
Bayi prematur
80
3 bulan
70
6 bulan
60
1-2 tahun
59
11-16 tahun
58
Dewasa
58-60
Dewasa dengan obesitas
40-50
Dewasa kurus
70-75
Tabel 1.Persentase Cairan di Dalam Tubuh Sesuai dengan Usia
Cairan tubuh berada dalam dua kompartemen besar yaitu intraseluler dan
ekstraseluler. Cairan intraseluler adalah sekitar 2/3 total cairan tubuh atau 40% berat
badan, sedangkan cairan ekstraseluler adalah sekitar 1/3 total cairan tubuh atau 20 %
berat badan. Untuk selanjutnya, cairan ekstraseluler dibagi lagi menjadi plasma dan
cairan interstisial. Elektrolit utama kompartemen intraseluler adalah kalium (K+),
sedangkan ekstraseluler adalah (Na+), klorida (Cl-), dan bikarbonat (HCO3-).
Kompartemen cairan ini bersifat dinamis yang dipisahkan oleh membran sel yang sangat
selektif.
Pergerakan cairan berlangsung mengikuti gradien difusi yang difasilitasi pula oleh
transporter atau pompa seluler. Perbedaan gradien ini membentuk tekanan osmotik yaitu
tekanan yang dibutuhkan untuk mencegah perpindahan cairan melalui membran
semipermeabel ke cairan dengan konsentrasi yang lebih tinggi. Adapun tekanan osmotik
plasma adalah 285 ± 5 mOsm/L.
78
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Pergerakan antara cairan intraseluler dan ekstraseluler ini memenuhi hukum Starling
yaitu: Pergerakan cairan = Kx [(Pc-Pi) –(II c-II i)]
K= koofisien filtrasi kapiler,
Pc=tekanan hidrostatik kapiler,
Pi=tekanan hidrostatik interstisial,
IIc =tekanan onkotik kapiler,
II i = tekanan onkotik interstisial.
Saat cairan keluar dari kapiler, tekanan hidrostatik dalam kapiler akan menurun,
sedangkan tekanan onkotik akan meningkat. Peningkatan tekanan onkotik ini akan
menyebabkan reabsorpsi cairan ke dalam lumen kapiler. Oleh karena itu, 90% cairan
yang semulanya masuk ke interstisial akan kembali ke intravaskular, sisanya akan
kembali melalui sistem limfatik.
Volume sirkulasi cairan yang efektif dipengaruhi oleh:
1. saraf simpatis melalui baroreseptor,
2. katekolamin,
3. sistem renin-angiostensin-aldosteron,
4. ADH (anti diuretic hormone)
Kebutuhan harian air adalah 50 ml/kgBB, natrium 2 mEq/kgBB, kalium 1 mEq/
kgBB. Ekskresi air hampir selalu disertai dengan ekskresi natrium baik melalui urin,
tinja, atau keringat. Oleh karena itu, terapi kekurangan air (dehidrasi) selalu diberikan
cairan infuse yang mengandung natrium. Selanjutnya, kadar kalium dalam plasma hanya
2% dari total kalium di dalam tubuh.
Gambar 5. Perbandingan cairan-cairan tubuh
79
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2. TEKNIK RESUSITASI CAIRAN
80
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3. JENIS CAIRAN INTRAVENA
Cairan intravena terdiri dari tiga jenis, yaitu:
3.1 Cairan kristaloid
Cairan yang mengandung zat dengan berat molekul rendah (<8000 Dalton) dengan
atau tanpa glukosa. Contoh kristaloid adalah ringer laktat, normal saline. Cairan ini
memiliki sifat tekanan onkotik rendah sehingga cepat terdistribusi ke seluruh ruang
ekstraseluler.
3.2 Cairan koloid
Cairan yang mengandung zat dengan berat molekul tinggi (>8000 Dalton) misalnya
albumin, HES, dekstran. Cairan ini memiliki sifat tekanan onkotik tinggi sehingga
sebagian besar akan tetap tinggal di ruang intravaskular.
3.3 Cairan khusus
Dapat digunakan untuk koreksi atau indikasi khusus, misalnya NaCl 3% kasus
hiponatremia simtomatik berat, Biknat untuk asidosis, manitol untuk edema otak.
3.3.1 Kristaloid
1. Ringer laktat
Ringer laktat merupakan cairan yang umum digunakan dalam
replacement therapy untuk syok hipovolemik, diare, trauma, dan luka bakar.
Ringer laktat merupakan cairan paling fisiologis jika dibutuhkan volume yang
besar. Laktat dalam RL dimetabolisme oleh hati menjadi bikarbonat untuk
memperbaiki asidosis metabolik. RL tidak cukup untuk rumatan pada
hipokalemia. Jika digunakan sebagai rumatan, RL harus ditambah glukosa
untuk mencegah ketosis.
2. Ringer
Komposisi Ringer mendekati RL, namun kadar ion kloridanya teralu
tinggi sehingga dalam jumlah besar menimbulkan asidosis dilusional dan
asidosis hiperkloremia. Ringer tidak mengandung laktat sehingga tidak
diindikasikan untuk memperbaiki asidosis.
3. Normal saline
Normal saline (NaCl 0,9%) digunakan sebagai cairan resusitasi pada
kasus kadar ion natrium rendah, alkalosis, retensi kalium, pilihan untuk kasus
trauma kepala, dan mengencerkan sel darah merah sebelum transfusi. Cairan
NS tidak mengandung ion bikarbonat dan kalium. Kadar ion natrium dan
81
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
klorida relatif tinggi sehingga dapat terjadi asidosis hiperkloremia, asidosis
dilusional, dan hipernatremia.
4. Dekstrosa
Sediaan dekstrosa ada yang 5% dan 10%. Dekstrosa 5% dalam air
(D5W) digunakan untuk mengganti kekurangan air dan cairan rumatan untuk
pasien dengan restriksi natrium. Dekstrosa 5% tidak boleh diberikan pada
pasien trauma kapitis, karena dekstrosa dan air dapat berpindah secara bebas
ke dalam sel otak. Sekali berada dalam sel otak, dekstrosa dimetabolisme
dengan sisa air, menyebabkan edema otak.
Tabel 2. Komposisi Cairan Kristaloid
82
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3.3.2 Koloid
1. Albumin
Albumin 5% digunakan ketika kristaloid gagal mempertahankan volume
plasma untuk beberapa saat. Albumin digunakan ketika terdapat kebocoran
atau kekurangan protein dari celah vaskular, misalnya peritonitis atau luka
bakar ekstensif.
2. Produk darah
Terutama digunakan jika ada perdarahan.
3. Fraksi protein plasma
4. Koloid sintetik (dextran)
Dextran meningkatkan aliran darah melalui mikrosirkulasi, dengan menurukan
viskositas darah. Dextran juga memiliki efek antiplatelet.
Koloid
Kristaloid
1. Molekul besar
4.5 Molekul kecil
2. Tidak larut sempurna
4.6 Larut sempurna
3. Mikroemboli
4.7 Membuat sumbatan
4. Tahan 4-6 jam dalam IV
4.8 Tahan 2-3 jam dalam IV
5. Cepat
meningkat
dalam
sirkulasi
4.9 Lambat
4.10 Elektrolit/ karbohidrat
6. Protein mahal
7. Jumlah
koloid
4.11 Murah
sebanding
dengan volume darah yang
hilang
4.12 Jumlah kristaloid 3-4 kali vol
darah yang hilang
4.13 Menimbulkan
8. Dapat
menimbulkan
anafilaksis
sehingga
dinding
dada
menurun
9. Koagulopati
10. Albumin
ekspansibilitas
edema
bisa
4.14 Jarak
memperberat
depresi miokard pada pasien
sehingga
kapiler-sel
oksigenasi
bertambah
jaringan
terganggu
syok
Tabel 3. Perbandingan Koloid dan Kristaloid
83
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4. INDIKASI TERAPI CAIRAN
Apabila homeostasis cairan terganggu, maka akan terjadi pergerakan cairan dari
interstisial menuju intravaskular seperti dalam dehidrasi dan penyebab turunnya tekanan
darah lainnya. Sebaliknya, kelebihan cairan atau hipoalbuminemia akan menyebabkan
pergerakan cairan dari intravaskular menuju interstisial.
Untuk menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, maka diperlukan terapi rumatan
cairan. Rumatan cairan dan elektrolit mempertimbangkan cairan yang hilang dari rerata
insensible losses, rerata metabolisme dan pengeluaran energi, rerata hilangnya cairan dari
urin dan lainnya, dan anggapan bahwa fungsi ginjal normal.
Perdarahan
Tiap 1 mL darah yang hilang digantikan dengan 3 mL
cairan kristaloid isotonis seimbang atau 1 mL cairan
koloid/darah
Third space losses
Digantikan dengan cairan kristaloid isotonis seimbang
(contoh: Ringer Laktat)
Keringat berlebihan
Digantikan dengan D5W ¼ NS dengan 5 mEq KCl/L
Gastric and colonic losses
Digantikan dengan D5W ½ NS dengan 30 mEq KCl/L
Bile, pancreas, and small
Digantikan dengan cairan kristaloid isotonis
bowel losses
seimbang (contoh: Ringer Laktat)
Tabel 4. Indikasi terapi penggantian cairan
Dalam menentukan banyaknya cairan yang hilang dapat melalui:
1. Berat badan merupakan informasi penting dalam terapi penggantian cairan.
Perubahan berat badan yang cepat menunjukkan perubahan total cairan tubuh.
2. Riwayat kehilangan cairan melalui muntah, diare, urin yang harus dipertajam
mengenai frekuensi dan volumenya.
3. Pemeriksaan fisik berupa status mental, tekanan darah, frekuensi nadi,
membran mukosa, turgor kulit, dan warna kulit.
4. Pemeriksaan laboratorium dilihat dari kimia serum, hematokrit, dan analisis
urin.
84
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Sebagai contoh, terapi penggantian cairan diberikan pula pada pasien syok yang
ditandai dengan hipoperfusi multi organ dan hipoksia jaringan. Adapun tanda-tanda syok
adalah mean arterial pressure yang menurun, takikardia, takipneu, perubahan status
mental, akral dingin, oliguri, dan asidosis laktat. Penyebab syok adalah penurunan curah
jantung (cardiac output), penurunan resistensi vaskular sistemik, atau keduanya. Untuk
selanjutnya, syok dikategorikan menjadi hipovolemik, kardiogenik, dan curah jantung
yang tinggi/ resistensi vaskular sistemik yang menurun seperti pada syok septik. Syok
hipovolemik sendiri ditandai dengan akral dingin dan capillary refill yang lambat.
5. MAINTENANCE FLUID
The Holliday-Segard nomogram memperkirakan kehilangan cairan setiap harinya,
dan kebutuhan cairan harinya seperti berikut :
1.
100 ml/kg pada 10 kg pertama berat badan
2.
50 ml/kg pada 10 kg kedua berat badan
3.
20 ml/kg pada sisa berat badan selanjutnya
Formula hitungan :
85
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Untuk kemudahan, pada 24 jam dibagi perjamnya menjadi
1. 100 ml/kg/24 jam = 4 ml/kg/jam pada 10 kg pertama berat badan
2. 50 ml/kg/24 jam = 2 ml/kg/jam pada 10 kg kedua berat badan
3. 20 ml/kg/24 jam = 1 ml/kg/jam pada sisa berat badan selanjutnya
Contoh : pada orang berat badan 40 kg, cairan maintenance menjadi :
4. 40 ml/jam + 20 ml/jam + 20 ml/jam = 80 ml/jam
REFERENSI
1. Powel, jeremy. 2011. British Consensus Guidelines on Intravenous Fluid Therapy f
or Adult Surgical Patients. BAPEN.
86
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
SYOK
1. DEFINISI
Syok (renjatan) dapat diartikan sebagai keadaan terdapatnya pengurangan yang sangat
besar dan tersebar luas pada kemampuan pengangkutan oksigen serta unsur unsur gizi
lainya secara efektif ke berbagai jaringan sehingga timbul cedera seluler yang mula mula
reversible dan kemudian apabila syok berlangsung lama menjadi irreversible. Selain itu
syok merupakan suatu kelainan progresif yang menyebabkan kematian bila masalahmasalh yang mendasarinya tidak dikoreksi. Yang menjadi masalah yang mendasari bias
seperti kehilangan banyak darah/exsanguinations, trauma atau luka bakar yang luas,
infark miokard, emboli paru, dan sepsis. Tanpa memandang sebabnya, syok ditandai oleh
hipoperfusi sistemik jaringan; yang bisa disebabkan oleh curah jantung yang berkurang
atau oleh berkurangnya volume darah efektif yang beredar. Akibatnya adalah menjadi
gangguan perfusi jaringan dan hipoksia.
2. KLASIFIKASI SYOK
Bentuk bentuk syok yang paling sering dijumpai dapat dikelompokkan menjadi tiga
golongan kelainan, berikut :
2.1 Syok kardiogenik, disebabkan oleh curah jantung yang rendah akibat kegagalan pompa
jantung. Penyebabnya bisa berupa karena :
1.Kerusakan otot jantung (infark), akibat dari depresi berat kinerja jantung sistolik.
Tekanan arteri sistolik <80 mmHg, indeks jantung berkurang dibawah 1,8L/menit/m2.
2. Aritmia ventrikel, dimana tekanan pengisian ventrikel kiri meningkat umumnya
diatas 18mmHg.
3. Tekanan dari luar (tamponade jantung).
4. Aliran darah yang tersumbat (misalnya, emboli paru). Dapat terlihat jelas atau tidak.
Gejala yang tampak pasien sering terlihat tak berdaya , pengeluaran urin berkurang
dari 20mL/jam, ekstremitas dingin dan sianotik.
2.2 Syok hipovolemik, disebabkan oleh curah jantung yang rendah akibat hilangnya
volume darah atau plasma (misalnya, akibat perdarahan atau kehilangan cairan pada
luka bakar luas.
2.3 Syok septik, termasuk dalam syok distributif disebabkan oleh vasodilatasi arteri dan
pengumpulan darah pada vena yang berpangkal dari respon imun sistemik terhadap
infeksi mikroba.
87
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Selain itu kadang kadang syok bias disebabkan oleh hilangnya tonus pembulu darah
yang berkaitan dengan anestesi atau trauma medulla spinalisa (syok neurogenik). Syok
anafilaktik disebabkan oleh vasodilatasi sistemik dan meningkatnya permeabilitas pembulu
darah yang dipicu oleh reaksi hipersensitivitas yang diperantarai oleh suatu immunoglobulinE. Syok neurogenik dan syok anafilaktik termasuk dalam golongan syok distributive bersama
dengan syok septic.
3. PATOGENESIS
Beberapa karakteristik pathogenesis syok sama tanpa memperhatikan penyebab yang
mendasari. Jalur akhir dari syok adalah kematian sel. Begitu sejumlah besar sel dari organ
vital telah mencapai stadium ini, syok menjadi irreversible, dan kematian terjadi
meskipun telah dilakukan koreksi terhadap penyebab/masalah yang mendasarinya.
Mekanisme pathogenesis yang menyebabkan kematian sel tidak sepenuhnya dipahami.
Syok umumnya cenderung berkembang melalui tiga tahap umum, kecuali bila
kelainan yang ada sangat massif dan mematikan dengan cepat (misalnya, hilangnya
darah/exsanguinations dari suatu aneurisme aorta yang ruptur). Tahap tahap ini telah
diketahi dengan lebih jelas pada syok hipovolemik namun juga dapat dipakai secara
umum pada syok bentuk lain :
1. Tahap awal non-progresif, yaitu saat mekanisme kompensasi reflex diaktifkan
dan perfusi organ organ vital dipertahankan. Pada tahap ini berbagai mekanisme
neurohumoral bekerja membantu mempertahankan curah jantung dan tekanan
darah. Mekanisme ini meliputi reflex baroreseptor , pelepasan katekolamin dan
hormone antidiuretik, pengaktifan jalur rennin-angiostensin-aldosteron, dan
rangsangan simpatis umum.
2. Tahap progresif, ditandai oleh hipoperfusi jaringan dan mulainya sirkulasi yang
memberuk dan gangguan metabolism, termasuk asidosis. Tahap ini terjadi karna
penyebab yang mendasari timbulnya syok tidak dikoreksi. Sejalan dengan hipoksia
jaringan yang meluas, organ organ vital terpengaruh dan mulai mengalami
kegagalan organ.
3. Tahap irreversible, yaitu saat jejas sel dan jaringan sangat berat sehingga
walaupun defek hemodinamik diperbaiki , tidak memungkinkan pasien selamat.
Jejas sel yang meluas tergambarkan dari kebocoran enzim
lisosomal, yang
memperburuk keadaan syok. Fungsi kontraktil otot jantung memburuk , antara lain
oleh karena meningkatnya pembentukan nitrat oksida. Pada tahap ini dimana
88
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
kegagalan organ yang terjadi walaupun diberikan pengobatan yang terbaik,
biasanya proses akan terus berlanjut hingga berakhir pada kematian.
4. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis yang timbul dibagi menjadi 2 yakni secara umum yang sama terjadi
pada semua syok dan secara khusus yang spesifik terhadap tipe syok.
1. Secara umum, Syok selalu ditandai oleh hipotensi yang pada orang dewasa pada
umumnya merujuk pada tekanan arteri rata-rata kurang dari 60 mmHg. Manifestasi
umum yang lain berupa takikardi, oligouria, sensorium berkabut dan dingin,
ekstremitas berburik menunjukan aliran darah ke kulit berkurang. Asidosis
metabolic, sering disebabkan karena kadar adam laktat darah meningkat,
menunjukan aliran darah kebanyak jaringan yang tidak adekuat berkepanjangan.
2. Secara khusus, pada pasien syok kardiogenik mempunyai gejala dan tanda
penyakit jantung, termasuk peningkatan tekanan pengisian katup , irama gallops,
dan tanda gagal jantung yang akut lainnya. Pada pasie syok hipovolemik sering
mempunyai riwayat pendarahan saluran makanan atau perdarahan dari tempat lain
atau tanda kehilangan volume besar jelas melalui diare dan/atau muntah. Pada
pasien syok septic keadaan tidak ada neutropenia berat, bias terdapat tanda infeksi
local (pneumonitis, pielonefritis atau abses abdomen) serta demam dan menggigil.
5. DIAGNOSIS
5.1 Syok membakat (Impending shock)
1. Penurunan atau perubahan kesadaran
2. Hipotensi, pada orang dewasa tekanan darah sistolik di bawah 90 mmHg. Bila
terdapat keraguan (pasien hipertensi), amati tanda vital ortostatik.
3. Tanda vital ortostatik (terutama pada syok hipovolemik), yaitu perbedaan
tekanan darah dan atau frekuensi nadi pada posisi telentang dengan posisi duduk
atau berdiri sebesar 10 mmHg dan atau di atas 15 kali/menit. Fenomena ini
merupakan indikasi kuat kekurangan volume cairan intra vaskular ringan sampai
sedang.
4. Hipotensi perifer. Kulit teraba dingin, lembab, dan isi nadi lemah.
89
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
5.2 Tingkat syok
1. Syok ringan; kehilangan volume darah dibawah 20% dari volume total.
Hipoperfusi hanya terjadi pada organ non vital seperti kulit, jaringan lemak, otot
rangka, dan tulang. Gambaran klinik perasaan dingin, hipotensi postural,
takikardi, pucat, kulit lembab, kolaps vena-vena leher, dan urin yang pekat.
Kesadaran masih normal, diuresis mungkin berkurang sedikit dan belum terjadi
asidosis metabolik.
2. Syok sedang; kehilangan 20% sampai 40% dari volume darah total. Hipoperfusi
merambat ke organ non vital seperti hati, usus dan ginjal, kecuali jantung dan
otak. Gambaran klinik haus, hipotensi telentang, takikardi, liguria atau anuria,
dan asidosis metabolik. Kesadaran relatif normal.
3. Syok berat; kehilangan lebih dari 40% dari volem darah total. Hipoperfusi
terjadi juga pada janberattung atau otak. Gambaran klinik; penurunan kesadaran
(agitasi atau delirium), hipotensi, takikardia, nafas cepat dan dalam, oliguria,
asidosis metabolik.
6. PENATALAKSANAAN
Secara umum , tujuan penanganan syok adalah :
1. Mempertahankan tekanan arterial rerata (mean) diatas 60 mmHg (pada orang
dewasa normal) untuk menjamin perfusi yang memadai pada organ-organ vital.
2. Mempertahankan aliran darah pada organ organ yang paling sering mengalami
kerusakan syok, misalnya ginjal, hepar, SSP dan paru paru.
3. Mempertahank kadar laktat darah arterial dibawah 22 mmol/L. (karena
pengukuran kadar laktat bisasanya tidak tersedia secara “on line”, tujuan ini harus
sering dinilai secara retrospektif.
Bentuk bentuk syok yang spesifik memerlukan terapi yang ditujukan kepada proses
yang mendasarinya.
6.1 Terapi umum
6.1.1 Letakkan pasien pada posisi telentang kaki lebih tinggi agar aliran darah otak
maksimal. Gunakan selimut untuk mengurangi pengeluaran panas tubuh.
6.1.2 Periksa adanya gangguan respirasi. Dagu ditarik kebelakang supaya posisi kepala
menengadah dan jalan nafas bebas, beri O2, kalau perlu diberi nafas buatan.
90
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
6.1.3 Pasang segera infus cairan kristaloid dengan kanul yang besar (18, 16)
6.1.4 Lakukan pemeriksaan fisik yang lengkap termasuk kepala dan punggung. Bila
tekanan darah dan kesadaran relatif normal pada posis telentang, coba periksa
dengan posisi duduk atau berdiri.
6.1.5 Keluarkan darah dari kanul intravena untuk pemeriksaan laboratorium : darah
lengkap, penentuan golongan darah, analisis gas darah elektrolit. Sampel darah
sebaiknya diambil sebelum terapi cairan dilakukan.
6.1.6 Pada syok hipovolemik, kanulasi dilakukan pada v.safena magna atau v.basilika
dengan kateter nomor 16 perkutaneus atau vena seksi. Dengan memakai kateter
yang panjang untuk kanulasi v.basilika dapat sekaligus untuk mengukur tekanan
vena sentral (TVS).
6.1.7 Pada kecurigaan syok kardiogenik, kanulasi vena perkutan pada salah satu vena
ekstrimitas atas atau vena besar leher dilakukan dengan kateter nomor 18-20.
6.1.8 Peubahan nilai PaCO2, PaO2, HCO3, dan PH oada analisis gas darah dapat
dipakai sebagai indikator beratnya gangguan fungsi kardiorespirasi, derajat
asidosis metabolik, dan hipoperfusi jaringan.
6.1.9 Beri oksigen sebanyak 5-10 L/menit dengan kanul nasal atau sungkup muka dan
sesuaikan kebutuhan oksigen PaO2. Pertahankan PaO2 tetap di atas 70 mmHg.
6.1.10 Beri natrium bikarbonat 1 atau 2 ampul bersama cairan infus elektrolit untuk
mempertahankan nilai Ph tetap di atas 7,1, walaupn koreksi asidosis metabolik
yang terbaik pada syok adalah memulihkan sirkulasi dan perfusi jaringan.
6.1.11 Terapi medikamentosa segera
1.
Adrenalin dapat diberikan jika terdapat kolaps kardivaskuler berat (tensi/nadi
hampir tidak teraba) dengan dosis 0,5-1 mg larutan 1 : 1000 intra muskuler
atau 0,1-0,2 mg larutan 1 : 1000 dalam pengenceran denan 9 ml NaCl 0,9 %
intra vena. Adrenalin jangan dicampur dengan natrium bikarbonat karena
adrenalin dapat menyebabkan inaktivasi larutan basa.
2.
Infus cepat dengan Ringer‟s laktat (50 ml/menit) terutama pada syok
hipovolemik. Dapat dikombinasi dengan cairan koloid (dextran L).
3.
Vasopresor diberikan pada syok kardiogenik yang tidak menunjukkan
perbaikan dengan terapi cairan. Dopamin dapat diberikan dengan dosis 2,5
Ug/kg/menit (larutkan dopamin 200 mg dalam 500 ml cairan dekstrosa 5%.
Setiap ml larutan mengandung 400 Ug dopamin). Dosis dopamin secara
91
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
bertahap dapat ditingkatkan hingga 10-20 Ug/kg/menit. Pemberian vasopresor
pada hipovolemia sedang sampai berat tidak bermanfaat.
6.1.12 Pantau irama jantung dan buat rekaman EKG (terutama syok kardiogenik). Syok
adalah salah satu predisposisi aritmia karena sering disertai gangguan
keseimbangan elektrolit, asam dan basa.
6.1.13 Pantau diuresis dan pemeriksaan analisis urin.
6.1.14 Pemeriksaan foto toraks umumnya bergantung pada penyebab dan tingkat
kegawatan syok. Semua pasien syok harus dirujuk ke rumah sakit, terutama untuk
perawatan intensif
REFERENSI
1. Anderson SP, Wilson LM. Patofisiologi konsep klinis proses-prose penyaki jlid 1, ed
4.1995. Jakarta: EGC.
2. Anthony S. Fauci, 2008. Harrison’s Internal Medicine, 17th Edition, USA,
McGraw – Hill, page 218 – 223.
3. Kumar V, Cotran RS, Robbins SL. Buku ajar patologi. 7 nd ed , Vol. 1. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2007 : 90-93
4. Mansjoer, Arif, dkk. Kapita Selekta Kedokteran, jilid 1, ed 3. 2001. Jakarta: Media
Aesculapius.
5. Muhiman, Muhardi, dkk. Anestesiologi. 2004. Jakarta: Bagian anestesiologi dan terapi
intensif FKUI.
6. Sudoyo, Aru W., dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid 1, Ed 4. Jakarta: Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. 2007.
92
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
TRAUMA LINGKUNGAN
1. MOUNTAIN SICKNESS
Penyakit di daerah ketinggian dibagi menjadi 3 sindrom yaitu : acute mountain
sickness (AMS), high altitude cerebral edema (HACE), and high altitude pulmonary
edema (HAPE).
1.1 Akut Mountain Sickness (AMS)
AMS adalah bentuk paling umum dari penyakit daerah ketinggian yang paling
berpengaruh pada 25% dari semua pendaki yang berada di atas ketinggian 8000 kaki
atau (2500 m). Gejala utama dari AMS adalah
sakit kepala, disertai dengan kelelahan, napas
tersengal- sengal, pucat (kebiruan pada bibir
dan kuku), kehilangan nafsu makan, mual,
dan kadang- kadang muntah. Onset sakit
kepala biasanya 2- 12 jam setelah tiba di
ketinggian yang lebih tinggi.
1.1.1
Gejala :
Gejala yang timbul bergantng pada kecepatan
mendaki dan tenaga yang dikerahkan saat
mendaki. Gejala yang timbul mulai dari ringan
sampai mengancam jiwa. Keadaan ini bisa
berakibat pada sistem syaraf, paru – paru, otot,
dan jantung.
Gejalan ringan – sedang :
1. Sulit tidur
2. Pusing
3. Kelelahan
4. Sakit kepala
5. Kehilangan nafsu makan
6. Mual atau muntah
7. Denyut jantung cepat
8. Napas pendek dan sulit
93
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Gejala pada keadaan yang lebih berat :
1. Warna kebiruan pada kulit (sianosis)
2. Dada terasa sesak
3. Kebingungan
4. Batuk (dapat disetertai darah)
5. Kesadaran menurun
6. Kulit pucat
7. Sempoyongan
8. Sesak napas saat istirahat
1.1.2 Pemeriksaan dan Penanganan
Diagnosis AMS termasuk dehidrasi, kelelahan, hipoglikemia, hipotermia, atau
hiponatremia. Pendaki dengan AMS dapat turun ke daerah dengan ketinggian ≥
1.000 ft (300 m), dan gejaladengan cepat akan mereda. Atau, dengan memberikan
oksigen tambahan pada 2 L per menit akan meredakan sakit kepala dengan cepat.
Pendaki dengan AMS juga dapat dengan aman etap di ketinggian mereka saat ini dan
mengobati gejalanya dengan analgesik ( aspirin, ibuprofen atau lainnya NSAID)
untuk sakit kepala. Promethazine (25-50 mg) berguna untuk pengobatan mual dan
muntah. Steroid, khususnya deksametason, yang efektif dalam mengurangi gejala.
Dapat juga diberikan acetazolamide, yang akan mempercepat aklimatisasi,
tetapi lebih baik untuk profilaksis daripada pengobatan. Asetazolamide, sebuah
anhydrase inhibitor karbonat, harus diberikan dalam dosis 240 mg dua kali sehari
selama 3-5 hari. Ini membantu dan mempercepat aklimatisasi. Jika gejala semakin
memburuk pendaki yang beristirahat di ketinggian yang sama, harus turun.
Disarankan untuk bernafas lebih cepat dan lebih dalam serta berjalan pelanpelan,ambil istirahat setiap langkah untuk mengurangi kebutuhan oksigen.
1.1.3 Pencegahan Kematian akibat AMS
Pendaki umumnya harus mengetahui tentang penyakit di daerah ketinggian,
hal ini bertujuan tidak untuk mencegah terjadinya kematian. Meskipun kematian
akibat AMS jarang terjadi akibat timbulnya gejala dan perjalanan klinis yang cukup
lambat. Tiga hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kematian akibat
AMS yaitu :
94
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1. Mengetahui gejala awal dari penyakit ketinggian, dan bersedia untuk
mengakui ketika mereka terserang AMS ( jangan memaksakan tetap naik)
2. Jangan pernah tidur pada ketinggian yang lebih tinggi ketika mengalami
gejala penyakit AMS, tidak peduli seberapa kecil mereka tampak
menunjukkan gejalanya.
3. Turun jika gejala menjadi lebih buruk saat beristirahat pada ketinggian
yang sama.
1.2 HAPE (High Altitude Pulmonay Oedema)
Merupakan keadaan dimana terjadi pasokan cairan didalam paru – paru yang
mencegah ruang untuk oksigen masuk dalam setiap napas dan bisa menyebabkan sesak
napas. Keadaan sesak napas ini bukanlah hal wajar yang terjadi pada saat berada diatas
ketinggian. Dan harus selalu dijadikan tanda sebagai awal terjadinya HAPE. HAPE juga
menyebabkan demam dan batuk dengan cairan (ludah) berbuih. HAPE dan HACE
sering terjadi bersamaan.
1.3 HACE (High Altitude Cerebral Oedema)
Sebagai bentuk parah/berat dari Acute Mountain Sickness, merupakan keadaan dimana
terdapat cairan yang mengisi otak. Dapat menyebabkan kebingungan, kecanggungan,
dan berbicara gagap. Tanda awalnya adalah timbulnya rasa malas dan mudah marah.
Hal terjadi sebelum kematian biasanya penurunan kesadaran dan atau mengantuk.
Tabel Dosis obat yang direkomendasikan untuk mencegah dan mengobati
Penyakit di daerah ketinggian
MEDICATION
Acetazolamide
INDICATION ROUTE
AMS, HACE Oral
prevention
DOSE
125 mg twice a day; 250 mg
twice a day if >100 kg.
Pediatric: 2.5 mg/kg every 12 h
AMS
treatment1
250 mg twice a day Pediatric:
2.5 mg/kg every 12 h
Oral
95
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Dexamethasone
Nifedipine
Tadalafil
Sildenafil
Salmeterol
AMS, HACE Oral
prevention
2 mg every 6 h or 4 mg every 12
h Pediatric: should not be used
for prophylaxis
AMS, HACE Oral, IV, IM
treatment
AMS: 4 mg every 6 h HACE: 8
mg once, then 4 mg every 6 h
Pediatric: 0.15 mg/kg/dose
every 6 h up to 4 mg
HAPE
prevention
Oral
30 mg SR version every 12 h, or
20 mg SR version every 8 h
HAPE
treatment
Oral
30 mg SR version every 12 h, or
20 mg SR version every 8 h
HAPE
prevention
HAPE
prevention
HAPE
prevention
Oral
10 mg bid
Oral
50 mg every 8 h
Inhaled
125 μg bid2
REFERENSI
1. Hackett PH, Rennie D, Levine HD. 1976. The incidence, importance, and
prophylaxis of acute mountain sickness. Lancet.
(http://wwwnc.cdc.gov/travel/yellowbook/2014/chapter-2-the-pre-travelconsultation/altitude-illness)
2. Heller,
Jacob
L.
2015.
Acute
Mountain
Sickness.
(https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000133.htm diakses pada 20
Desember 2015)
3. J. Paralikar Dr. Swapnil. Department of Physiology, Medical College, Baroda,
India. Occupational Health Consultant, Baroda Textile Effects Limited, Baroda,
India. Dr. Swapnil J. Paralikar, 18, Taksh Bungalows, Near Shobhana Nagar,
Vasna Road, Baroda - 390 021, India. E-mail:[email protected]
(http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2923424/)
96
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2. HYPOTHERMIA
Terlalu lama kedinginan, khususnya dalam cuaca berangin dan hujan, dapat
menyebabkan mekanisme pemanasan tubuh terganggu sehingga menyebabkan
penyakit kronis. Hipotermia terjadi ketika suhu tubuh seseorang turun di bawah 35 ° C
(95 ° F). Suhu tubuh normal adalah sekitar 37 ° C (98,6 ° F). Hipotermia dapat dengan
cepat dan dapat mengancam jiwa sehingga harus diperlakukan sebagai darurat medis.
Kondisi hipotermia biasanya disebabkan oleh berada di lingkungan yang dingin dan
dapat dipicu oleh kombinasi dari hal –hal yang terjadi dilingkungan tersebut dalam
kondisi dingin untuk waktu yang lama. Orang yang sangat berisiko adalah mereka
yang sudah lanjut usia atau sakit dan tidak dapat bergerak dengan mudah untuk
menghasilkan panas. Bayi juga lebih rentan untuk terkena hipotermia karena
kemampuan tubuh mereka 'untuk mengatur suhu mereka belum sepenuhnya
dikembangkan. Orang-orang yang menghabiskan banyak waktu di luar dalam kondisi
cuaca dingin, seperti pendaki dan pemain ski, juga pada merupakan faktor risiko
terkena hipotermia.
2.1 Gejala dan Tanda
Tanda-tanda hipotermia bervariasi tergantung pada seberapa rendah suhu seseorang
telah menurun.
2.1.1
Hipotermia ringan
Jika seseorang memiliki hipotermia ringan (umumnya dengan suhu tubuh 3235 ˚ C), gejala tidak selalu jelas, tetapi mereka dapat mencakup:
1. Menggigil konstan
2. Kelelahan
3. Energi menurun
4. Kulit dingin atau pucat
5. Bernapas cepat (hiperventilasi)
2.1.2 Hipotermia moderat
Sedang kasus hipotermia (umumnya dengan suhu tubuh 28-32 ˚ C) dapat
mencakup gejala seperti:
1. Tidak mampu untuk berpikir atau memperhatikan
2. Kebingungan
3. Hilangnya pertimbangan dan penalaran (seseorang dengan hipotermia dapat
memutuskan untuk menghapus pakaian meskipun sangat dingin)
97
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4. Kesulitan bergerak di sekitar
5. Hilangnya koordinasi
6. Kantuk
7. Bicara cadel
8. Lambat, pernapasan dangkal (hipoventilasi)
Orang dengan suhu tubuh 320C atau lebih rendah biasanya akan berhenti
menggigil sepenuhnya. Ini adalah tanda bahwa kondisi mereka memburuk dan
bantuan medis darurat diperlukan.
2.1.3 Hipotermia parah ( Hipotermia Akut)
Gejala-gejala hipotermia berat (suhu tubuh di bawah 28 ˚ C) dapat meliputi:
1. Ketidaksadaran
2. Dangkal atau tidak bernapas
3. Lemah, tidak teratur atau tidak pulsa
4. Pupil melebar
2.1.4 Hipotermia pada bayi
1. Kulit merah terang dan dingin
2. Sangat rendahnya energi
3. Tangisan yang lemah
2.2 Penanganan
1. Tangani pasien dengan yakin
Batasi pergerakan pasien, hanya bila diperlukan untuk bergerak. Hindari pemijatan
dan penggosokan pasien. Pergerakkan yang terlalu banyak dan kuat akan memicu
terjadinya henti jantung.
2. Pindahkan korban ke tempat yang lebih hangat
Bila memungkinkan ke tempat yang kering juga. Bila tidak memungkinkan untuk
memindahkan pasien, hindari tubuh pasien dari dingin dan angin sebisa mungkin.
3. Lepaskan pakaian yang basah
4. Bungkus tubuh korban dengan selimut hangat
Gunakan selimut atau mantel yang hangat dan kering untuk menghangatkan
korban. Tutupi kepala dan seluruh tubuh korban kecuali muka, biarkan wajah korban
terbuka.
98
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
5. Hindari tubuh korban dari tanah/lantai yang dingin
Bila berada diluar, baringkan korban dengan selimut atau appaun ynag memiliki
permukaan hangat yang menjadi alas punggung korban.
6. Pantau Pernapasan
Pada hipotermia berat dapat menimbulkan penurunan kesadaran/pingsan tanpa
tanda – tanda yang jelas dari denyut nadi dan pernapasan. Bila pernapasan berhenti
atau sangat lemah dan dangkal, segera lakukan CPR bila sudah terlatih.
7. Berbagi kehangatan tubuh
Untuk menghangatkan tubuh seseorang yang hipotermi dapat dilakukan cara
dengan melepaskan pakaian dan berbaring disebelah korban, lalu buat kontak antar
kulit dan selimuti tubuh penolong dan korban dengan selimut kering.
8. Berikan minuman yang menghangatkan
Bila korban sadar dan mampu menelan, berikan minuman hangat, non alkohol, dan
minuman non kafein untuk membantu menghangatkan tubuh.
9. Berikan kompres hangat dan kering
Gunakan kantung plastik berisi air hangat untuk membantu korban untuk
menghangatkan diri. Jangan berikan kompres hangat pada ekstremitas. Panas yang
diberikan pada ekstremitas akan membuat darah yang dingin kembali ke jantung, paru
– paru, dan otak dan dapat menyebabkan suhu inti tubuh menurun serta berakibat fatal.
10. Jangan langsung terpapar panas
Jangan gunakan air panas atau lampu pemanas untuk menghangatkan korban.
Suhu panas yang ekstrim justru dapat merusak kulit atau bahkan lebih parah,
menyebabkan detak jantung yang tidak teratur ,bisa menyebabkan henti jantung.
11. Obat Terapi
Ketika seorang dengan hipotermia, sasaran organ kardiovaskular akan merespon
minimal untuk sebagian besar obat-obatan. Selain itu, dosis yang kumulatif dapat
menyebabkan keracunan selama proses rewarming karena terjadi peningkatan
mengikat obat untuk protein, metabolisme terganggu dan ekskresi. Sebagai contoh,
pemberian dosis berulang digoxin atau insulin tidak akan efektif saat pasien
hipotermia, dan obat residual berpotensi beracun selama proses rewarming. Tekanan
arteri rata-rata minimal 60 mmHg harus tercapai. Jika hipotensi tidak merespon
kristaloid / koloid infus dan rewarming, dopamin dosis rendah (2 sampai 5g / kg per
min) dapat diberikan.
99
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
REFERENSI
1. Danzl DF. Hypothermia and frostbite. In: Fauci AS, Harrison TR. 2008 . Harrison's
Principles of Internal Medicine. 17th ed. McGraw Hill : New York, NY.
http://www.emergency.cdc.gov/disasters/winter/staysafe/hypothermia.asp
2. Hayward, J.S. et al. Accidental Hypothermia: An Experimental Study of Inhalation
Rewarming. Aviation Space Environmental Medicine. 46(10):1236-1240, and personal
communication. (http://www.hypothermia.org/hypothermia.htm)
3. Mayo Clinic. 2014. Hypothermia: Treatment.(http://www.mayoclinic.org/diseasesconditions/hypothermia/basics/treatment/con-20020453 diakses 20 Desember 2015 jam
01.47 WIB)
4. Mayo Clinic. 2014. Hypothermia: Symptoms. (http://www.mayoclinic.org/diseasesconditions/hypothermia/basics/symptoms/con-20020453 diakses pada 19 Desember 2015
DAN NHS.
5. Symptoms
of
Hypothermia.http://www.nhs.uk/Conditions/Hypothermia/Pages/
Symptoms.aspx diakses pada 19 Desember 2015.
100
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3. HEAT STROKE
Heat stroke adalah kondisi mengancam jiwa dimana
suhu tubuh mencapai lebih dari 40°C atau lebih. Heat
stroke dapat disebabkan karena kenaikan suhu
lingkungan, atau aktivitas yang dapat meningkatkan
suhu tubuh. Heat stroke dikategorikan sebagai
exertional atau nonexertional. Exertional heat stroke
biasanya terjadi pada atlet yang biasanya melakukan
kegiatan olahraga pada suhu kamar dan / atau
kelembaban yang lebih tinggi dari normal sehingga
terjadi
kelebiham
produksi
panas.
Sedangkan,
nonexertional atau classic heat stroke biasanya terjadi
pada anak atau orang tua pada iklim yang sangat panas.
Heat stroke bisa terjadi secara tiba – tiba tanpa peringatan. Jika sistem pendingin
tubuh gagal maka suhu tubuh meningkat secara cepat. Heat stroke adalah kedaruratan
medis akut yang disebabkan oleh kegagalan mekanisme pengaturan panas tubuh.
Biasanya terjadi selama keadaan panas, terutama ketika diikuti oleh kelembaban yang
tinggi.
Heat stroke membutuhkan penanganan emergensi. Heatsroke yang tidak ditangani
dapat mempercepat kerusakan pada otak, jantung, ginjal, dan otot – otot. Kerusakan akan
terjadi lebih buruk pada penanganan yang lebih lama tertunda, dan meningkatkan resiko
komplikasi yang serius atau kematian
3.1
Penyebab
1. Heatstroke terjadi karena paparan panas dari lingkungan dan aktivitas berat
2. Pemakaian pakaian yang berlebih (terlalu tebal)
3. Minum minuman beralkohoL
4. Dehidrasi
3.2
Gejala
1. Kenaikan suhu sampai 40°C atau lebih (tanda utama)
2. Tidak berkeringat. Jika heat stroke disebabkan oleh karena suhu lingkungan yang
sangat panas maka kulit akan cenderung terasa panas dan kering saat disentuh.
Bila disebabkan oleh karena aktivitas yang berlebihan makan kulit akan terasa
lembab.
101
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3. Kemerahan pada kulit
4. Nafas menjadi cepat dan terasa berat
5. Denyut jantung semakin cepat
6. Nadi menjadi cepat
7. Pupil dilatasi
8. Sakit kepala seperti ditusuk tuduk
9. Gejala saraf lain seperti : kejang, tidak sadar, halusinasi, delirium, kebingungan
3.3
Pencegahan
1. Tetap berada di dalam ruangan yang sejuk
2. Minum air putih dalam jumlah yang cukup sebelum melakukan aktivitas di luar
ruangan.
3. Kurangi minuman seperti : teh ,kopi, alkohol dan yang dapat memicu dehidrasi .
4. Memakai pakaian yang ringan, longgar, berwarna cerah , berbahan katun dan
dapat menyerap keringat serta panas tubuh.
5. Melindungi diri dari matahari dengan menggunakan payung atau topi saat berada
di luar ruangan.
6. Jangan berada di luar ruangan pada saat matahari sedang sangat terik (antara jam
10 pagi sampai jam 4 sore) sebisa mungkin.
7. Jika melakukan aktivitas di luar ruangan, usahakan untuk sering minum setiap 15
sampai 20 menit sekali walaupun tidak merasa haus.
8. Jangan tinggal atau meninggalkan seseorang dalam mobil yang diparkir dengan
kondisi tertutup saat cuaca panas.
9. Jangan berolah raga keras saat kondisi cuaca panas. Sebagai penggantinya,
lakukan olah raga saat pagi atau sore hari.
10. Minum air yang banyak terutama jika urine berwarna kuning tua untuk
menggantikan cairan yang hilang lewat keringat. Minumlah air atau air garam jika
anda berkeringat banyak (campurkan 1 sendok teh garam pada ¼ liter air (quart
water)) . Dapat juga dengan minum cairan olah raga yang sudah tersedia dalam
kemasan.
11. Jika merasakan sangat panas, usahakan untuk mendinginkan dengan cara
membuka jendela atau memakai kipas angin maupun AC.
12. Kurangi berlama-lama di hot tube atau heated whirlpool (<15 menit). Jangan
berendam jika hanya sendirian
102
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3.4
Penatalaksanaan
1. Memastikan korban mengalami heat stroke
2. Memindahkan korban ke tempat sejuk dan berventilasi baik , gunakan kipas angin
dan pakeannditanggalkan.
3. Mengguyur korban dengan air dingin di seluruh tubuh
4. Massage kulit untuk mengatasi efek vasokonstriksi dari air dingin dan
mempercepat aliran darah.
5. Memeriksa suhu rektal tiap 10 menit jangan sampai kurang dari 38,5oC (untuk
pertimbangan etis bisa dilakukan di sublingual). Axilla<sublingual<rektal. Berati
sublingual suhunya jangan sampai kurang 38oC.
6. Memperhatikan penderita jangan sampai relaps (kambuh).
7. Obat-obatan jika perlu : infus cairan. Sedatif hanya diberikan bila kejang terusmenerus,misalnya Diazepam 10-20 mg iv. Dapat dilakukan 3x dengan selang
waktu 30-60 menit suntikan sebelumnya.Jangan berikan morfin atau epinefrin
REFERENSI
1.
Casa Douglas J, PhD, ATC, FACSM et all . 2007. Validity of Devices That Assess
Body Temperature During Outdoor Exercise in the Heat. USA : National Athletic
Trainers‟ Association
2.
Glazer James L. M.D. 2005. Management of Heatstroke and Heat Exhaustion.
Maine Medical Center: Portland, Maine Am Fam Physician
3.
Mayo
Clinic.
2014.
Heatsrtoke:
Treatment.
(Online)
http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/heat-stroke/basics diakses pada 19
Desember 2015)
4.
www.journalofathletictraining.org
103
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4. FROSTBITE
Frostbite terjadi ketika suhu jaringan turun di bawah jaringan (dibawah 0,55oC/ 31 F).
Ketika bagian dari tubuh, seperti lengan, tangan, kaki, atau kaki, memiliki kerusakan
jaringan akibat terkena cuaca dingin atau air, ini disebut frostbite. Frostbite merupakan
suatu kondisi darurat medis. Terjadi pembentukan kristal es kemudian mendistorsi dan
menghancurkan bentuk sel. Setelah endotelium pembuluh darah rusak, berlangsung cepat
trombosis mikrovaskular kemudian terjadi iskemia sehingga mulai kolaps, terjadi
peningkatan meningkatkan tekanan jaringan, dan edema terbentuk. Frostbite dapat
menyebabkan gangren dan hilangnya bagian tubuh yang terkena .
4.1 Tanda dan Gejala Frostbite Ringan sampai Sedang
1. Kulit kemerahan yang terasa dingin untuk
disentuh
2. Merasa "kesemutan " atau mati rasa
3. Pembengkakan ringan
4. Nyeri,
sering
parah,
selama
proses
rewarming
4.2 Tanda dan Gejala Frostbite Parah
1. Kulit pucat atau lilin yang terasa dingin atau wooden
2. Mati rasa dari daerah membeku, yang dapat bertahan bahkan setelah rewarming
3. Melepuh
4. Pembengkakan meluas
5. Scabs Hitam ( ini sering terbentuk setelah cedera itu sendiri )
6. Kerusakan pada jaringan di bawah kulit membeku, termasuk otot, tendon, tulang
rawan, sendi, dan tulang
4.3 Penanganan
1. Pindahkan individu ke lingkungan yang hangat
2. Melepaskan pakaian yang basah dan menjaga supaya tetap kering
3. Berikan orang minuman hangat saat sadar
4. Lepaskan perhiasan dari daerah radang dingin
104
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
5. Jangan menggosok, pijat, atau merendam bagian tubuh yang membeku (karena
mungkin tidak mengenali seberapa besar cedera daerah sampai setelah itu telah
rewarmed).
6. Balut dengan perban kering dapat diterapkan pada daerah frostbite untuk
melindunginya.
4.4 Pencegahan
1. Batasi waktu anda di luar ketika cuaca dingin
2. Jika harus berada di luar ruangan, pastikan memakai lapisan pakaian hangat dan
kering. Disarankan untuk memakai sarung tangan, dan tutupan kepala karena
lebih dari 20 % dari panas tubuh hilang melalui kepala serta alas kaki yang tahan
air.
3. Lepaskan pakaian basah sesegera mungkin
4. Saat dalam dingin, jangan gunakan alkohol atau zat lain, karena alkohol dapat
meningkatkan kehilangan panas.
5. Jangan gunakan produk tembakau di lingkungan dingin karena tembakau dapat
meningkatkan kehilangan panas dari tubuh dan menurunkan sirkulasi
REFERENSI
1. Danzl DF. Hypothermia and frostbite. In: Fauci AS, Harrison TR. 2008 . Harrison's
Principles of Internal Medicine. 17th ed. McGraw Hill : New York, NY.
2. Janet M. Torpy, MD. 2011. Frostbite. American College of Emergency Physicians,
National Library of Medicine, National Institutes of Health, Arctic Health, University of
Maryland Medical Center : JAMA (Journal of the American Medical Association)
3. Medscape. 2015. Frostbite. (Online) http://emedicine.medscape.com/article/926249overview. diakses pada 19 Desember 2015 .
4. Stephen,
Robert
L.
2015.
Hypothermia
and
Frostbite.
(Online)
http://www.slremeducation.org/wp-content/uploads/2015/06/Chapter-131.-Hypothermiaand-Frostbite.pdf diakses pada 19 Desember 2015.
105
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
5. LUKA BAKAR
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan
kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi. Luka
bakar merupakan suatu jenis trauma dengan morbiditas dan mortalitas tinggi.
Luka Bakar adalah luka yang terjadi akibat sentuhan permukaan tubuh dengan benda –
benda yang menghasilkan panas (api secara langsung maupun tidak langsung, pajanan
suhu tinggi dari matahari, listrik, maupun bahan kimia, air dan lain – lain) atau zat – zat
yang bersifat membakar (asam kuat, basa kuat).
Kulit merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh. seluruh kulit beratnya 16%
berat tubuh. kulit tipis terletak pada kelopak mata, penis, labium minus, dan kulit bagian
medial lengan atas. sedangkan kulit tebal terdapat pada telapak tangan, telapak kaki,
punggung, bahu, dan bokong.
Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. pembuluh darah
kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas meninggi. sel darah yang ada di
dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia. meningkatnya permeabilitas
menyebabkan oedem dan enimbulkan bula yang banyak elektrolit. hal itu menyebabkan
berkurangnya volume cairan intravaskuler. bila luas luka bakar kurang dari 20%,
biasanya mekanisme kompensasi tubuh masih bisa mengatasinya, tetapi bila lebih dari
20% akan terjadi syok hipovolemik dengan gejala yang khas seperti gelisah, pucat,
dingin, berkeringat, nadi kecil, dan cepat, tekanan darah menurun, dan produksi urin
berkurang. Pembengkakan terjadi pelan – pelan, maksimal teradi setelah delapan jam.
Pada kebakaran dalam ruang tertutup atau bila luka terjadi di wajah, dapat terjadi
kerusakan mukosa jalan napas karena gas, asap, atau uap panas yang menghisap. Oedem
laring yang ditimbulkannya dapat menyebabkan hambatan jalan napas dengan gejala
sesak napas, takipnea, stridor, suara serak dan dahak berwarna gelap akibat jelaga. dapat
juga keracuman gas CO dan gas beracun lainnya. Karbon monoksida akan mengikat
haemoglobin dengan kuat sehingga haemoglobin tak mampu lagi mengikat oksigen.
Tanda keracunan ringan adalah lemas, bingung, pusing, mula dan muntah. pada
keracunan yang berat terjadi koma. Bila lebih dari 60% haemoglobin terikat CO,
penderita dapat meninggal. Setelah 12 – 24 jam, permeabiitas kapiler mulai membaik,
dan mobilisasi serta penyerapan kembali cairan edema ke pembuluh darah. ini ditandai
dengan meningkatnya diuresis.
106
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
5.1 DERAJAT LUKA BAKAR
5.1.1 Luka Bakar Grade I
1. Disebut juga luka bakar superfisial
2. Mengenai lapisan luar epidermis, tetapi tidak sampai mengenai daerah dermis.
3. Sering disebut sebagai epidermal burn.
4. Kulit tampak kemerahan, sedikit oedem, dan terasa nyeri.
5. Pada hari keempat akan terjadi deskuamasi epitel (peeling).
Gambar E.1. Luka bakar derajat I
5.1.2 Luka Bakar Grade II
1. Superficial Partial Thickness
A. Luka bakar meliputi epidermis dan lapisan atas dari dermis
B. Kulit tampak kemerahan, oedem dan rasa nyeri lebih berat daripada luka bakar
grade I
C. Bula yang muncul beberapa jam setelah terkena luka
D. Bila buka disingkirkan akan terlihat luka berwarna merah muda yang basah
E. Luka sangat sensitif dan akan menjadi lebih pucat bila terkena tekanan
F. Akan sembuh dengan sendirinya dalam 3 minggu (bila tidak terkena infeksi),
tapi warna kulit tidak akan sama seperti sebelumnya.
107
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Gambar E.2. Luka bakar derajat II
2. Deep Partial Thickness
A. Luka bakar meliputi epidermis dan lapisan dalam dari dermis
B. Disertai juga dengan bula
C. Permukaan berbecak merah muda dan putih karena variasi dari vaskularsasi
pembuluh darah (bagian yang putih hanya sedikit pembuluh darah dan yang
merah muda mempunyai beberapa aliran darah)
D. Luka akan sembuh dalam 3 – 9 minggu.
5.1.3 Luka Bakar Grade III
1. Menyebabkan kerusakan jaringan yang permanen
2. Rasa sakit kadang tidak terlalu terasa karena ujung – ujung saraf dan
pembuluh darah sudah hancur.
3. Luka bakar meliputi kulit, lemak subkutis smaapi mengenai otot dan tulang.
Gambar E.3. Luka bakar derajat III
108
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
5.2 MENGHITUNG LUAS LUKA BAKAR
Untuk luka bakar luar, perkirakan presentasi daerah yang terkena. Untuk orang
dewasa digunakan rule of nine. Setiap bagian yang dsebut dibawah ini mempunyai luas
9% dari luas permukan tubuh : thorax bagian depan, thorax bagian belakang, abdomen
bagian depan, abdomen bagian beakang, setiap lengan, bagian depan setiap tungkai,
bagian belakang setiap tungkai, kepala dan leher. Daerah perineum mempunyai luas
1%. Pada anak – anak, daerah kepala proporsinya lebih besar. Pengukuran lain yang
dipakai adalah telapak tangan, diana daerah seluas telapak tangan mewakili 1% luas
permukaan tubuh.
5.3 PERTOLONGAN PERTAMA PADA PASIEN LUKA BAKAR
1. Segera hindari sumber api dan mematikan api pada tubuh untuk menghentikan
pasokan oksigen pada api yang menyala.
2. Singkirkan baju, perhiasan, dan benda – benda lain yang membuat efek torniket,
karena jaringan yang terkena luka bakar akan menjadi oedem
3. Setelah sumber panas dihilangkan, rendam daerah luka bakar dalam air atau
menyiramnya dengan air mengalir sekurang – kurangnya lima belas menit.
109
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4. Dinginkan daerah yang terbakar dan mempertahankan suhu dingin ini pada jam
pertama sehingga kerusakan lebih dangkal dan diperkecil.
5. Tapi pendinginan tidak dapat dilakukan bila luka bakar lebih luas karena bahay
terjadinya hipotermia. Es tidak seharusnya diberikan langsung pada luka bakar
apapun.
Beberapa pertimbangan lain dalam menangani pasien dengan luka bakar, yaitu:
1. Pembersihan dan perawatan luka (wound debridement) dan pemberian
antibiotik berspektrum luas untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder yang
dapat berakhir menjadi sepsis nantinya.
2. Pemberian tetanus toxoid (TT) dan serum anti-tetanus (ATS) untuk mencegah
infeksi tetanus.
3. Pemberian analgesik opioid yang dititrasi untuk menghindari timbulnya syok
neurogenik.
4. Pemasangan kateter urin untuk meninjau fungsi ginjal dan keberhasilan terapi
pengganti cairan (1 ml/ kgBB/ jam).
5. Terapi nutrisi, dalam hal ini diet tinggi kalori dan tinggi protein guna
mendukung kebutuhan kalori dan pembentukkan kembali jaringan yang telah
rusak sebelumnya.
6. Rehabilitasi dan fisioterapi yang ditujukkan untuk mengembalikan fungsi
sensorik, motorik dan mencegah terjadinya kontrakktur.
7. Pemeriksaan laboratorium, seperti pemeriksaan darah rutin, faal ginjal, faat
hati, pemeriksaan elektrolit dan analisa gas darah untuk mengevaluasi kembali
pasien.
5.4 EVALUASI AWAL
Prinsip penanganan luka bakar sama seperti penanganan luka akibat trauma lain. Saat
menilai “airway” perhatikan apakah terdapat luka bakar inhalasi. biasanya ditemukan
sputum karbonat, rambut atau bulu hidung yang gososng. Luka bakar pada wajah,
oedema oropharyngeal, perubahan suara, perubahan status mental. Bila benar terdapat
luka bakar inhalasi lakukan intubasi endotracheal, kemudian beri oksigen melalu mask
face atau endotracheal tube. Luka bakar biasanya berhubungan dengan luka lain.
Anamnesis secara singkat dan cepat arus dilakukan pertama kali untuk menentukan
mekanisme dan waktu terjadinya trauma.
110
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
REFERENSI
1. Dobson, Michael B. 1994. Penuntun Praktis Anastesi. Jakarta : EGC
2. Jerome FX Naradzay. http://www. emedicine. com/med/Burns, Thermal. dan
Mayo Clinic
3. Palang Merah Indonesia. Prinsip Penanganan Luka Bakar
4. St. John Ambulance. First Aid: First on The Scene: Activity Book, Chapter 19
5. Staff. Burns First Aid. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus
6. Wim de Jong. 2005. Luka Bakar: Bukua Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC
7. David, S. 2008. Anatomi Fisiologi Kulit dan Penyembuhan Luka Dalam.
8. Becker, James M. Essentials of Surgery Edisi 1. Philadelphia: Saunders Elsevier
111
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
ENVENOMASI
1. DEFINISI
Menurut arti bahasa, envenomasi adalah keracunan akibat bisa. Kasus envenomasi ini
merupakan kasus kegawatdaruratan yang perlu penanganan secara cepat dan tepat.
Envenomasi adalah proses dimana racun disuntikkan dengan gigitan (atau sengatan) dari
hewan berbisa. Racun adalah zat atau senyawa yang masuk ke dalam tubuh dengan
berbagai cara yang menghambat respons pada sistem biologis dan dapat menyebabkan
gangguan kesehatan, penyakit, bahkan kematian. Kebanyakan racun ditransmisikan
melalui gigitan pada kulit korban, tetapi beberapa racun ada yang diterapkan secara
eksternal, terutama untuk jaringan yang sensitif seperti jaringan yang mengelilingi mata.
2. JENIS-JENIS ENVENOMASI
2.1 Mamalia Beracun
Gigitan mamalia ke manusia biasanya menimbulkan edema lokal, luka dengan nyeri
ringan, dan sedikit menimbulkan efek sistemik. Beberapa contohnya antara lain :
1. The short-tailed shrew, ditemukan di Amerika Utara
2. The solenodon, ditemukan di Amerika Tengah
3. The platypus, ditemukan di Australia dengan racun dihasilkan oleh kelenjar di
dasar kaki belakang.
2.2 Hewan Laut
1. Jellyfish/ubur-ubur : The Box Jellyfish Irukandji
2. Bluebottles
3. The Blue-Ringed Octopus / gurita
4. Sea Snakes
5. Fish stings, Stingray Barbs
2.3 Gigitan Hewan Tersangka Rabies
Rabies merupakan penyakit endemik di Afrika dan Asia. Penyakit ini merupakan
penyakit akibat virus yang berasal dari hewan yang dapat menimbulkan kematian,
ditransmisikan ke manusia melalui kontak (umumnya gigitan dan cakaran) dengan
hewan terinfeksi.
2.3.1 Agen penyebab
: Lyssaviruses of the Rhabdoviridae family.
112
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2.3.2 Host
: Canidae, termasuk anjing, rubah, anjing hutan, serigala, kucing,
sigung, raccoons, kelelawar vampire dan musang.
2.3.3 Patogenesis
:
1. Penularan melalui luka gigitan dan lecet akibat cakaran hewan penderita
rabies.
2. Virus akan mengikatkan pada Ach-reseptor pada sel neuron sampai ke
daerah axon.
3. Terjadi perpindahan infeksi pasif asam inti virus seara centripetal di dalam
axon menuju ke central nervus system.
4. Replikasi virus ini akan menyebabkan depresi, coma bahkan kematian.
2.3.4 Terdapat dua bentuk epizootic rabies yaitu urban rabies yang terjadi pada jenis
mamalia pet animal dan sylvatic rabies yang terjadi pada jenis mamalia liar .
2.3.5 Klinis
:
1. Masa inkubasi
: 1 minggu hingga lebih, umumnya 1 bulan
2. Fase prodormal
: malaise, anorexia,sakit kepala, nausea, vomit, sakit
tenggorokan dan demam.
3. Fase sensorik
: sensasi abnormal di sekitar tempat infeksi
4. Fase eksitasi
: ketegangan, ketakutan, hyperlacrimasi, dilatasi pupil,
keringat berlebihan, halusinasi, kaku otot, keinginan
melawan,
dysphagia
sehingga
hypersalivasi
dan
hydrophobia.
5. Fase kematian
: akibat paralisa otot pernafasan.
2.3.6 Penanganan Awal
Pada manusia yang tergigit hewan di daerah tertular rabies perlu diwaspadai.
Luka gigitan harus sesegera mungkin dicuci dengan detergen selama 5 – 10 menit
di bawah air yang mengalir sebagai upaya untuk merusak envelope dari virus
rabies. Selanjutnya diberi alcohol 70% atau iodium tincture. Luka sebaiknya tidak
dijahit, bila harus dijahit maka dilakukan setelah diberi local antiserum dan jahitan
tidak boleh terlalu erat sehingga menghalangi pendarahan atau drainase.
113
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2.3.7 Penanganan lanjutan
1. Anti-rabies imunoglobulin secara berangsur-angsur ke dalam luka dan
dengan infiltrasi di sekitar luka;
2. Menunda penjahitan luka; jika penjahitan diperlukan, pastikan bahwa
imunoglobulin telah diterapkan secara lokal
3. Di tempat yang ditentukan, mulai pengobatan anti-tetanus dan terapi
antimikroba dan obat-obatan untuk mengendalikan infeksi selain rabies
WHO Recommendations on Rabies Post-Exposure Treatment and the Correct
Technique of Intradermal immunization against Rabies
114
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2.3.8 Pencegahan
Pencegahan imunologis terhadap rabies pada manusia adalah dengan
memberikan Human Rabies Immunoglobulin (HRIG) secepat mungkin setelah
terpajan untuk menetralisir virus pada luka gigitan, dengan dosis tunggal 20IU/kg
BB, setengahnya diinjeksikan ke dalam dan di sekitar luka dan setengahnya
diberikan IM.
Selanjutnya diberikan vaksin pada tempat yang berbeda untuk mendapatkan
imunitas aktif dengan HDCV atau RVA dalam 5 dosis0,5 atau 1,0 cc IM pada
daerah deltoid. Dosis pertama diberikan segera setelah gigitan (pada saat yang
sama diberikan dosis tunggal HRIG) dan dosis selanjutnya pada hari ke 3, 7, 14
dan 28 setelah dosis pertama
2.4 Gigitan Ular Berbisa
2.4.1 Ciri-ciri ular tidak berbisa
1. Bentuk kepala
: segiempat panjang
2. Gigi taring
: kecil
3. Bekas gigitan
: luka halus berbentuk lengkungan
2.4.2 Ciri-ciri ular berbisa
1. Bentuk kepala
: segitiga
2. Gigi taring
: dua besar di rahang atas
3. Bekas gigitan
: dua luka gigitan utama akibat gigi taring
Gambar 8.1. Perbedaan ular berbisa dengan ular yang tidak berbisa
115
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2.4.3 Gejala klinis
1. Gigitan Elapidae
a. Semburan kobra pada mata dapat menimbulkan rasa
sakit yang berdenyut, kaku pada kelopak mata,
bengkak di sekitar mulut.
b. Gambaran sakit yang berat, melepuh, dan kulit yang
rusak.
c. Setelah digigit ular
15 menit : muncul gejala sistemik.
10 jam
: paralisis urat-urat di wajah, bibir, lidah,
tenggorokan, sehingga sukar bicara, susah menelan,
otot lemas, kelopak mata menurun, sakit kepala, kulit
dingin, muntah, pandangan kabur, mati rasa di sekitar
mulut. Kematian dapat terjadi dalam 24 jam
2. Gigitan Viperidae
a. Gejala lokal timbul dalam 15 menit, atau setelah
beberapa jam berupa bengkak di dekat gigitan
yang menyebar ke seluruh anggota badan.
b. Gejala sistemik muncul setelah 5 menit atau
setelah beberapa jam.
c. Keracunan berat ditandai dengan pembengkakan
di atas siku dan lutut dalam waktu 2 jam atau
ditandai dengan perdarahan hebat.
116
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3. Gigitan Hydropiidae (ular laut)
a. Segera timbul sakit kepala, lidah terasa
tebal, berkeringat, dan muntah.
b. Setelah 30 menit sampai beberapa jam
biasanya
timbul
kaku
dan
nyeri
menyeluruh, dilatasi pupil, spasme otot
rahang, paralisis otot, mioglobulinuria
yang ditandai dengan urin warna coklat
gelap (ini penting untuk diagnosis), ginjal
rusak, henti jantung.
4. Gigitan Rattlesnake dan Crotalidae
a. Gejala lokal: ditemukan tanda gigitan
taring, pembengkakan, ekimosis, nyeri di
daerah gigitan, semua ini indikasi perlunya
pemberian polivalen crotalidae antivenin.
b. Anemia, hipotensi, trombositopeni
117
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Gambar 8.2. Kumpulan gejala gigitan ular berbisa
118
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3. PENATALAKSANAAN
3.1 Pertolongan pertama (First Aid)
3.1.1 Cek ABC (airway, brething, circulation)
3.1.2 Tenangkan korban yang cemas
3.1.3 Inspeksi area gigitan : cari tanda gigitan taring (fang marks), edema, eritema, nyeri
lokal, perdarahan, memar, dan nekrosis jaringan (terutama akibat gigitan ular dari
famili Viperidae)
3.1.4 Buka semua cincin, perhiasan, jam tangan dan benda apapun yang ketat yang
menghambat aliran darah
3.1.5 Lakukan Pressure Bandage Immobilisation (PBI)
1. tujuan : mencegah pergerakan dan kontraksi otot yang dapat meningkatkan
penyebaran bisa ke dalam aliran darah dan getah bening
2. Teknik
:
A. Bersihkan area gigitan dengan cairan faal atau air steril
B. Gunakan perban kasar elastis (lebar ± 10-15 cm), lakukan
pembebatan di area gigitan mulai dari distal (jari kaki) ke bagian
proksimal sampai menutupi seluruh tungkai.
C. Periksa neurovaskularisasi pada bagian yang dibebat untuk
menghindari hambatan aliran darah.
D. Posisikan daerah yang tergigit tetap berada di bawah jantung untuk
mengurangi aliran bisa
E. Jangan lepas perban sebelum ke tempat pelayanan medis.
F. Jaga stabilitas jalan nafas, fungsi pernafasan, sirkulasi
3.1.6 Lakukan resusitasi bila ditemukan hipotensi berat dan shock, shock perdarahan,
kelumpuhan saraf pernafasan, nekrosis lokal, dan kondisi buruk lainnya
3.1.7 Segera bawa korban ke Rumah sakit secepatnya dengan aman
3.1.8 Yang harus dihindari :
1. NO suction dan NO incisions
2. NO ice directly on wound
3. NO tourniquets
4. NO alcohol on wound
5. NO electric shock or „folk remedies‟
6. NO antihistamin dan kortikosteroid
119
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
120
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3.2 Perawatan di rumah sakit
3.2.1 Pengobatan syok/gagal napas
Atasi syok jika timbul.Paralisis otot pernapasan dapat berlangsung beberapa
hari dan hal ini memerlukan intubasi (lihat buku panduan pelatihan APRC/APLS
dari UKK PGD-IDAI) dan ventilasi mekanik (lihat buku panduan pelatihan
Ventilasi Mekanik pada Anak dari UKK PGD-IDAI) hingga fungsi pernapasan
normal kembali; atau ventilasi manual (dengan masker atau pipa endotrakeal dan
kantung (Jackson Rees) yang dilakukan oleh staf dan atau keluarga sementara
menunggu rujukan ke rumah sakit rujukan yang lebih tinggi terdekat. Perhatikan
keamanan fiksasi pipa endotrakeal. Sebagai alternatif lain adalah trakeostomi
elektif.
3.2.2 Antibisa
Jika didapatkan gejala sistemik atau lokal yang hebat (pembengkakan pada
lebih dari setengah ekstremitas atau nekrosis berat) berikan antibisa jika tersedia.
Siapkan epinefrin SK atau IM bila syok dan difenhidramin IM untuk
mengatasi reaksi alergi yang terjadi setelah pemberian antibisa ular (lihat di
bawah).Berikan antibisa polivalen. Ikuti langkah yang diberikan dalam brosur
antibisa. Dosis yang diberikan pada anak sama dengan dosis pada orang dewasa.
Larutkan antibisa 2-3 kali volume garam normal berikan secara intravena
selama 1 jam. Berikan lebih perlahan pada awalnya dan awasi kemung-kinan
terjadi reaksi anafilaksis atau efek samping yang seriusJika gatal atau timbul
urtikaria, gelisah, demam, batuk atau kesulitan bernapas, hentikan pemberian
antibisa dan berikan epinefrin 0.01 ml/kg larutan 1/1000 atau 0.1 ml/kg 1/10.000
SK. Difenhidramin 1.25 mg/kgBB/kali IM, bisa diberikan sampai 4 kali perhari
(maksimal 50 mg/kali atau 300 mg/hari).
Bila anak stabil, mulai kembali berikan antibisa perlahan melalui
infus.Tambahan antibisa harus diberikan setelah 6 jam jika terjadi gangguan
pembekuan darah berulang, atau setelah 1-2 jam, jika pasien terus mengalami
perdarahan atau menunjukkan tanda yang memburuk dari efek neurotoksik atau
kardiovaskular.
121
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Transfusi darah tidak diperlukan bila antibisa telah diberikan. Fungsi
pembekuan kembali normal setelah faktor pembekuan diproduksi oleh hati. Tanda
neurologi yang disebabkan antibisa bervariasi, tergantung jenis bisa.
Pemberian antibisa dapat diulangi bila tidak ada respons. Antikolinesterase
dapat memperbaiki gejala neurologi pada beberapa spesies ular (lihat buku standar
pediatri untuk penjelasan lebih lanjut).
3.2.3 Pengobatan lain
Pembedahan
Mintalah pendapat/pertimbangan bedah jika terjadi pembengkakan pada
ekstremitas, denyut nadi melemah/tidak teraba atau terjadi nekrosis lokal.
Tindakan bedah meliputi: Eksisi jaringan nekrosisInsisi selaput otot (fascia) untuk
menghilangkan limb compartments, jika perlu skin grafting, jika terjadi nekrosis
yang luas trakeostomi (atau intubasi endotrakeal) jika terjadi paralisis otot
pernapasan dan kesulitan menelan.
3.2.4 Perawatan penunjang
Berikan cairan secara oral atau dengan NGT sesuai dengan kebutuhan per hari.
Buat catatan cairan masuk dan keluar. Berikan obat pereda rasa sakit. Elevasi
ekstremitas jika bengkak. Berikan profilaksis antitetanus. Pengobatan antibiotik
tidak diperlukan kecuali terdapat nekrosis. Hindari pemberian suntikan
intramuskular. Pantau ketat segera setelah tiba di rumah sakit, kemudian tiap jam
selama 24 jam karena racun dapat berkembang dengan cepat.
122
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4. SENGATAN SERANGGA
Black Widow (latrodectus mactans)
 Tidak agresif- kecuali merasa sarang
telurnya terancam
 Gejala klinis :
- Gejala awal : seperti tercocok peniti
(pinprick sensation), sakit tumpul (dull ache)
- Gejala sistemik : kram beberapat otot,
berkeringat, vomitus, hipertensi
Arizona
Recluse
Spider:
(Loxosceles
arizonica)
 Hanya ditemukan di arizona, california,
texas dan mexico
 Gejala awal : asimptomatik
 Luka gigitan : red white & blue
Arizona Bark Scorpion (Centruroides
sculpturatus)
 Biasa ditemukan di USA
 Gejala awal : setelah gigitan tidak tampak
luka
 lakukan tap tes
 Gejala sistemik :
Agitasi, takikardi, penjalaran ke sekitar
mata, otot fasik, susah kontrol pernafasan
123
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Vespidae (wasps/ tawon)
 Alat sengatnya tidak mempunyai kaitkait, sehingga tidak tertinggal pada tubuh
ketika menyengat mangsanya.
 Setelah menyengat, tidak langsung mati
APIDAE (Bees/ LEBAH MADU)
 Alat sengatnya mempunyai kait-kait dan
tertingal pada tubuh mangsanya setelah
menyengat
 Setelah menyengat akan mati
 Racun yang dihasilkan mengandung:
melitten
menyebabkan
neurotoksiks,
sedangkan fosfolipase A dan Hyaluronidase
dapat menyebabkan hemolisis.
 Gejala : angio-oedem, nausea, dyspnoe,
oedem
pd
wajah,
koma
dan
dapat
meninggal; 80% bagi yang sangat sensitif
dapat meninggal
CHILOPODA
Gejala
:
merah
dan
bengkak
pada
ekstremitas, sensai terbakar, gatal, sakit
kepala, mual muntah, palpitasi
124
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Pengobatan sengatan serangga
4.1 Apidae (lebah madu)
1. bila jarumnya tertinggal di badan, jgn lgsg dicabut, tetapi tekanlah pelan-pelan
dengan pisau atau jari tangan sampai jarum lebah tersebut keluar.
2. Kemudian tempat sengatan dikompres dengan air dingin atau es; jk perlu berikan
kortikosteroid cream/ zalf
3. Bila ada gejala sistemik beri injeksi Adrenalin, Antihistamin dan kortikosteroid
4.2 Chilpoda
Reasuransi dan nyeri bantuan dalam bentuk kombinasi analgesik dan obat antiinflamasi nonsteroid dan antihistamin dan anxiolytics, jika dianggap aman dalam
setiap kasus tertentu. Ketinggian ekstremitas dan administrasi obat diuretic jika bahaya
sindrom kompartment muncul. Korban harus menerima vaksinasi tetanus toksoid dan
harus diamati selama 4 jam sebelum dibuang dari pengawasan medis.
125
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
INTOKSIKASI
Intoksikasi adalah kondisi yang terjadi akibat pemberian zat psikoaktif dan
menyebabkan gangguan pada tingkat kesadaran, kognisi, persepsi, penilaian, yang
berpengaruh pada fungsi lainnya. Intoksikasi merupakan salah salah satu kegawatdaruratan
medis yang sering terjadi dan dapat terjadi dimana saja. Baik itu di rumah, lingkungan kerja,
dan bahkan di pegunungan. Keracunan bukanlah hal yang dianggap remeh dikarenakan dapat
mengakibatkan kematian jika tidak ditangani dengan benar. Oleh karena itu, penanggulanan
keracunan harus diketahui oleh semua masyarakat. Khususnya pertolongan pertama dalam
mengatasi keracunan sebelum pertolongan lanjut dari dokter.
Gejala umum
Turunnya frekuensi nafas, pupil yang melebar (dilatasi), turunnya laju nafas, denyut
jantung menjadi lebih cepat atau lebih lambat, pusing, diare, cramp perut, keringat dingin,
halusinasi, air liur yang berlebihan (hipersalivasi), sianosis (kebiruan pada kulit), penurunan
kesadaran.
1. Intoksikasi Makanan
Keracunan pangan yang disebabkan oleh produk toksik bakteri patogen (baik itu toksin
maupun metabolit toksik) disebut intoksikasi. Bakteri tumbuh pada pangan dan
memproduksi toksin. Jika pangan ditelan, maka toksin tersebut yang akan menyebabkan
gejala, bukan bakterinya. Beberapa bakteri patogen yang dapat mengakibatkan keracunan
pangan melalui intoksikasi adalah:
1.1 Bacillus cereus
Bacillus cereus merupakan bakteri yang berbentuk batang dan tergolong bakteri
Gram-positif, bersifat aerobik, dan dapat membentuk endospora. lalu bereproduksi dan
menimbulkan toksin dalam usus atau telah tertelan toksin tersebut. Ada dua tipe toksin
yang dihasilkan oleh Bacillus cereus, yaitu toksin yang menyebabkan diare dan toksin
yang menyebabkan muntah (emesis)
1.1.1 Gejala :
1. Bila toksin penyebab diare (mencemari sayuran dan daging) : mula, nyeri
perut (seperti kram), diare berair, yang terjadi 8 – 16 jam setelah
mengkonsumsi makanan.
126
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2. Bila toksin penyebab muntah (mencemari pangan berbahan beras, kentang
tumbuk, mengandung pati, dan tunas sayuran) : gejala yang timbul lebih
parah dan akut serta berhubungan dengan saluran pencernaan bagian atas,
berupa mula dan muntah yang dimulai 1 – 6 jam setelah mengkonsumsi
makanan yang tercemar.
Tindakan pengendalian khusus : pengendalian suhu efektif untuk mencegah
pertunasan dan pertumbuhan spora. Bila tidak ada lemari pendingin, disarankan untuk
memasak pangan dalam jumlah yang sesuai untuk segera dikonsumsi. Toksin yang berkaitan
dengan sindrom muntah bersifat resisten terhadap panas dan pemanasan berulang, proses
penggorengan oangan juga tidak akan menghancurkan toksin tersebut.
1.2 Clostridium botulinum
Merupakan bakteri Gram-positif yang dpaat membentuk spora tahan panas,
bersifat anaerobik, dan tidak tahan asam tinggi. Toksin yang dihasilkan (botulinum)
bersifat neurotoksik (menyebabkan paralisis) dan toksin ini bersifat termolabil.
Pemanasan pangan sampai suhu 80oC selama 30 menit cukup untuk merusak toksin.
Sedangkan spora bersifat resisten terhadap suhu pemanasan normal dan dapat bertahan
hidup dalam pengeringan dan pembekuan.
1.2.1 Gejala :
Mual, muntah, pening, sakit kepala, pandangan berganda, tenggorokan dan
hidung terasa kering, nyeri perut, letih, lemah otot, paralisis, dan pada beberapa
kasus kematian. Gejala timbul dalam 12 – 36 jam setelah toksin tertelan. Masa
sakit berlangsung selama 2 – 14 hari.
1.2.2 Penanganan :
Tidak ada penanganan spesifik untuk keracunan ini, kecuali mengganti cairan
tubuh yang hilang.
1.2.3 Tindakan pengendalian khusus :
penerapan sterilisasi panas dan penggunaan nitrit pada daging yang
dipasteurisasi, memasak makanan kaleng dengan seksama (rebus dan aduk selama
15 menit), simpan makanan pada lemari pendingin, dan menghindari konsumsi
pangan kaleng yang kemasannya telah mengembung.
127
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.3 Staphilococcus aureus
Terdapat 23 spesies Staphlococcus, tetapi Staphilococcus aureus merupakan
bakteri yang paling banyak menyebabkan keracunan pangan. Bakteri ini berbentuk
kokus/bulat, tergolong dalam bakteri Gram-positif, bersifat aerobik fakultatif, dan
tidak membentuk spora. Toksin yang dihasilkan bakteri ini bersifat tahan panas
sehingga tidak mudah rusak pada suhu memasak normal. Bakteri bisa mati namun
toksin tetap tinggal dan toksin dapat mati bila dalam pendidihan minimal 30 menit.
Pangan yang tercemar merupakan pangan yang kaya protein, misalnya daging, ikan,
susu, dan daging unggas; produk pangan matang yang ditujukan dikonsumsi dalam
keadaan dingin, seperti salad, puding, dan sandwich; produk pangan yang terpapar
pada suhu hangat selama beberapa jam; pangan yang disimpan pada lemari pendingin
yang terlalu penuh atau yang suhunya kurang rendah; serta pangan yang tidak habis
dikonsumsi dan disimpan pada suhu ruang.
1.3.1 Gejala :
Dapat terjadi dalam jangka waktu 4 – 6 jam, berupa mual, muntah (lebih dari
24 jam), diare, hilang nafsu makan, kram perut yang hebat, distensi abdominal,
demam ringan. Pada beberapa kasus berat dapat timbul sakit kepala, kram otot,
dan perubahan tekanan darah.
1.3.2 Penanganan :
Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang akibat muntah atau diare.
Pengobatan antidiare biasanya tidak diperlukan.
1.3.3 Gejala Keracunan Pangan dan Penatalaksanaannya
1. Gejala :
A. Biasanya dimulai 2 – 6 jam setelah mengonsumsi pangan yang tercemar
(waktunya bisa lebih panjang atau pendek tergantung cemaran )
B. Mual dan muntah
C. Kram perut
D. Diare (bisa disertai darah)
E. Demam dan menggigil
F. Rasa lemah dan lelah
G. Sakit kepala
128
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2. Penatalaksanaan :
A. Bila muntah dan diare berlangsung kurang dari 24 jam bisa melakukan
perawatan dirumah
B. Mencegah dehidrasi (memberi minum)
C. Bila masih mual dan muntah sebaiknya tidak diberikan makanan padat
D. Hindari konsumsi alkohol, minuman berkafein, dan minuman gula
E. Penanganan lanjut bisa dibawa ke puskesmas atau rumah sakit
F. Bila diare dan tidak bisa minum, maka rehidrasi dilakukan secara
intarvena.
G. Bila yang keracunan adalah bayi, anak kecil, orang lanjut usia, wanita
hamil, dan orang yang mengalami gangguan sistem imun maka perlu
dibawa ke rumah sakit segera
H. Encerkan racun yang ada di lambung dengan : air, susu, atau norit.
I. Kosongkan lambung (racun tertelan sebelum 4 jam) dengan cara :
i. Dimuntahkan :
Bisa
dilakukan
dengan
cara
mekanik
(menekan reflek muntah di tenggorokan)
ii. Kontraindikasi : Cara ini tidak boleh dilakukan pada keracunan
zat korosif (asam/basa kuat, minyak tanah,
bensin), kesadaran menurun dan penderita
kejang.
J. Bilas lambung :
i. Pasien telungkup, kepala dan bahu lebih rendah.
ii. Bilas dengan : air, larutan norit, Natrium bicarbonat 5 %
, atau asam asetat 5 %.
iii. Pembilasan sampai 20 kali, rata-rata volume 250 cc.
iv. Kontraindikasi : keracunan zat korosif & kejang.
K. Bilas Usus Besar : bilas dengan pencahar, diuretik
129
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3. Intoksikasi Zat Kimia
3.1 Faktor yang mempengaruhi intoksikasi zat kimia :
1. Tingkat pengetahuan pengguna
2. Sikap/perilaku pengguna
3. Penggunaan APD (Alat Pelindung Diri)
4. Kurangnya informasi mengenai resiko penggunaan zat kimia
5. Keracunan Asam / Basa Kuat
(Asam Klorida, Asam Sulfat, Asam Cuka Pekat, Natrium Hidroksida, Kalium
Hidroksida).
A. Dapat mengenai kulit, mata atau ditelan.
B. Gejala : nyeri perut, muntah dan diare.
C. Tindakan :
i. Keracunan pada mata : Posisi kepala ditengadahkan dan miring ke sisi
mata yang terkena atau terburuk kondisinya. Buka kelopak mata perlahan dan
aliri dengan aquades atau NaCl 0,9% secara perlahan samapai zat racunnya
diperkirakan sudah hilang (hindari bekas larutan pencucian mengenai wajah
atau mata lainnya) selanjutnya tutup mata dengan kassa steril.
ii. Keracunan ditelan / tertelan :
a. Asam kuat dinetralisir dengan antasida
b. Basa kuat dinetralisir dengan sari buah atau cuka
c. Jangan bilas lambung atau tindakan emesis
d. Beri antibiotik dan antiinflamasi.
iii. Keracunan formalin : Bilas lambung dengan larutan amonia 0,2 %,
kemudian diberi minum norit / air susu.
iv. Keracunan insektisida : Berikan pencahar, bilas lambung
v. Keracunan senyawa hidrokarbon : Jangan dimuntahkan, beri pencahar,
bilas lambung.
vi. Keracunan karbon mono-oksida : Berikan oksigen
130
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
REFERENSI
1. Aggarwal Praveen, Handa Rohini. Acute Poisoning – Management
Guidelines. New Delhi : India Institute of Medical Sciences, Ansari Nagar
2. Djoko, Widodo. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1. Jakarta:
Interna Publishing
3. Hoving D.J Van. 2011. Emergency management of acute poisoning.
Tygerberg, South Africa : African Journal of Emergency Medicine
(http://www.afjem.org/article/S2211-419X(11)00042-5/fulltext)
4. Sentra Informasi Keracunan Nasional Badan POM RI. 2014. Keracunan
Pangan
Akibat
Bakteri
Patogen.
(Online)
http://ik.pom.go.id/v2014/artikel/Keracunan-Pangan-Akibat-BakteriPatogen3.pdf. diakses pada 19 Desember 2015
131
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
BASIC SURGICAL SKILL
1. PENGERTIAN
Merupakan ilmu dasar bedah untuk menangani pasien yang mengalami trauma
minor atau lesi minor. Ilmu ini bisa diperoleh melalui pelatihan medical personnel,
termasuk kegawatdaruratan medis guna memperlengkapi tenaga medis
2. ALAT DAN BAHAN
Dalam pembedahan sering diperlukan alat medis atau peralatan pembantu yang
harus masuk ke daerah sekitar lapangan pembedahan. Alat - alat ini harus mengalami
desinfeksi terlebih dahulu sebelum dibawa ke kawasan pembedahan. Alat yang akan
langsung dipakai untuk pembedahan dan bersinggungan dengan lapangan pembedahan
harus disterilkan dengan cara yang telah dijelaskan di atas. Alat - alat bedah ini harus
tetap berada dalam daerah ruang pembedahan agar tidak terjadi infeksi silang, dan pada
setiap akhir dari pembedahan, harus selalu didesinfeksi atau disterilkan segera setelah
dipakai dan sesuai dengan pemakaiannya. Alat yang bergerak bebas keluar masuk karena
harus dipakai bersama dibatasi hanya sampai daerah di luar kawasan kain steril, yaitu
sekitar meja bedah dan di tempat ahli anastesi bekerja.
Peralatan bedah adalah alat- alat yang dirancang untuk digunakan pada kegiatan
pembedahan. Dari semua peralatan bedah yang dibutuhkan untuk suatu tindakan
pembedahan, yang paling terpenting adalah peralatan bedah yang steril dan benang.
Masing - masing dari peralatan tersebut memiliki fungsi tersendiri.
2.1 Jenis - Jenis Peralatan Bedah Minor
2.1.1 Nald vooder/Needle Holder/Nald Heacting
Gunanya adalah untuk memegang jarum jahit (nald heacting) dan sebagai
penyimpul benang.
132
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2.1.2 Gunting
1.
Gunting Diseksi (disecting scissor) dua jenis yaitu, lurus dan bengkok.
Ujungnya biasanga runcing. Terdapat dua tipe yang sering digunakan yaitu
tipe Moyo dan tipe Metzenbaum.
2.
Gunting Benang ada dua macam gunting benang yaitu bengkok dan lurus,
kegunaannya adalah memotong benang operasi, merapikan luka.
3.
Gunting Pembalut/Perban kegunaannya adalah untuk menggunting plester
dan pembalut.
2.1.3 Pisau Bedah
Pisau bedah terdiri dari dua bagian yaitu gagang dan mata pisau
(mess/bistouri/blade). Kegunaanya adalah untuk menyayat berbagai organ atau
bagian tubuh manusia. Mata pisau disesuaikan dengan bagian tubuh yang akan
disayat.
2.1.4 Klem (Clamp)
1.
Klem Arteri Pean
Ada dua jenis yang lurus dan bengkok. Kegunaanya adalah untuk
hemostatis untuk jaringan tipis dan lunak.
133
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2.
Klem Kocher
Ada dua jenis bengkok dan lurus. Sifatnya mempunyai gigi pada ujungnya
seperti pinset sirugis. Kegunaannya adalah untuk menjepit jaringan agar tidk
meleset dari klem, dan hal ini dimungkinkan dengan adanya gigi ada ujung
klem. Tidak ditujukan untuk hemostasis
3.
Klem Allis
Penggunaan klem ini adalah untuk menjepit jaringan yang halus dan
menjepit tumor kecil.
134
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4.
Klem Babcock
Penggunaanya adalah menjepit dock atau kain operasi serta tumor yang
agak besar dan rapuh.
2.1.5 Retraktor (Wound Hook)
1.
Retraktor langenbeck penggunaannya adalah untuk menguakan luka.
2.
Retraktor Volkman penggunaannya adalah untuk menguakan luka,
pemakaian retractor (ukurannya) disesuaikan dengan lebar luka. Ada yang
mempunyai 2 gigi, 3 gigi dan 4 gigi. Dua gigi untuk luka kecil, 4 gigi untuk
luka besar. Terdapat juga retractor bergigi tumpul.
135
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2.1.6 Pinset
1.
Pinset Sirugis
Penggunaannya adalah untuk menjepit jaringan pada waktu diseksi dan
penjahitan luka, memberi tanda pada kulit sebelum memulai insisi.
2.
Pinset Anatomis
Penggunaannya adalah untuk menjepit kassa sewaktu menekan luka,
menjepit jaringan yang tipis dan lunak.
3.
Pinset Splinter
Penggunaannya adalah untuk mengadaptasi tepi-tepi luka ( mencegah
overlapping).
136
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2.1.7 Deschamps Aneurysm Needle
Penggunaannya adalah untuk mengikat pembuluh darah besar.
2.1.8 Wound Curet
Penggunaannya dalah untuk mengeruk luka kotor, mengeruk ulkus kronis.
2.1.9 Sonde (Probe)
Penggunaannya adalah untuk penuntun pisau saat melakukan eksplorasi, dan
mengetahui kedalam luka.
137
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2.1.10 Korentang
Penggunaannya adalah untuk mengambil instrumen steril, mengambil kassa, jas
operasi, doek, dan laken steril.
2.1.11 Jarum bedah
Jarum bedah disebut juga jarum hecthing (Suturu needles atau surgical
needles) digunkana untuk menjahit luka, umumnya luka operasi. Pada umumnya
terbuat dari logam (stainless steel).
Biasanya jarum-jarum bedah dijual tersendiri, lepas dari benang badahnya.
Tapi sekarang banyak dijual jarum-jarum bedah berikut benangnya dalam
kemasan satu-satu. Jarum yang demikian disebut atroumatic needle, karena
menimbulkan trauma, sebab benang tersebut langsung dijepit kedalam ujung
jarum yang satunya lagi.
Klasifikasi
Pemilihan jarum bedah antara lain : jarum yang digunakan agar berperan aktif
dalam penyembuhan luka dan tidak merubah atau merusak jaringan tubuh.
Bentuk, ukuran, dan rancangan jarum dipilih yang sesuai dengan prosedur
operasi. Struktur jarum bedah.
138
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Bagian – bagian dari jarum bedah, terdiri atas:
1. Ujung jarum ( point of needle )
2. Badan / Batang ( body / shat needle )
3. Mata jarum ( eye needle )
Ujung Jarum Bedah
1. Taper. Ujung jarum taper dengan batang bulat atau empat persegi cocok
digunakan untuk menjahit daerah aponeurosis, otot, saraf, peritoneum,
pembuluh darah, katup.
2. Blunt. blunt point dan batang gepeng cocok digunakan untuk menjahit daerah
usus besar, ginjal, limpa, hati
139
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3. Triangular. Ujung segitiga dengan batang gepeng atau empat persegi. Bisa
dipakai untuk menjahit daerah kulit, fascia, ligamen, dan tendon.
4.
Tapercut. Ujung jarum berbentuk segitiga yang lebih kecil dengan batang
gepeng, bisa digunakan untuk menjahit fascia, ligaments, uterus, rongga
mulut, dan sebagainya.
2.1.12 Benang bedah
Ada tiga hal yang menentukan pemilihan jenis benang jahit, yaitu jenis
bahannya,kemampuan tubuh untuk menyerapnya dan susunan filamentnya.
Benang yang dapat diserap melalui reaksi enzimatik pada cairan tubuh kini
banyak dipakai. Penyerapan benang oleh jaringan dapat berlangsung antara tiga
hari sampai tiga bulan tergantung jenis benang dan kondisi jaringan yang dijahit.
Menurut bahan asalnya, benang dibagi dalam benang yang terbuat dari usus
domba meskipun namanya catgut dan dibedakan dalam catgut murni yang tanpa
140
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
campuran dan catgat kromik yang bahannya bercampur larutan asam kromat.
Catgut murni diserap cepat, kira kira dalam waktu satu minggu sedangkan catgut
kromik diserap lebih lama kira kira 2-3 minggu. Disamping itu ada benang yang
terbuat dari bahan sintetik, baik dari asam poliglikolik maupun dari poliglaktin910 yang inert dan memiliki daya tegang yang besar.
Benang ini dalam dipakai pada semua jaringan termasuk kulit. Benang yang
dapat diserap menimbulkan reaksi jaringan setempat yang dapat menyebabkan
fistel benang atau infiltrate jaringan yang mungkin ditandai adanya indurasi.
Benang yang tidak dapat diserap oleh tubuh terbuat umumnya dari bahan yang
tidak menimbulkan reasksi jaringan karena bukan merupakan bahan biologik.
Benang ini dapat berasal dari sutera yang sangat kuat dan liat, dari kapas yang
kurang kuat dan mudah terurai, dan dari polyester yang merupkan bahan sintetik
yang kuat dan biasanya dilapisi teflon. Selain itu terdapat juga benang nailon yang
berdaya tegang besar, yang terbuat dari polipropilen yang terdiri atas bahan yang
sangat inert dan baja yang terbuat dari baja tahan karat. Karena tidak dapat diserap
maka benang akan tetap berada di jaringan tubuh. Benang jenis ini biasanya di
gunakan pada jaringan yang sukar sembuh. Bila terjadi infeksi akan terbentuk
fistel yang baru dapat sembuh setelah benang yang bersifat benda asing
dikeluarkan.
Benang alami terbuat dari sutera atau kapas. Kedua bahan alami ini dapat
bereaksi dengan jaringan tubuh meskipun minimal karena mengandung juga
bahan kimia alami. Daya tegangnya cukup dan dapat diperkuat bila dibasahi
terlebih dahulu dengan larutan garam sebelum digunakan. Bahan sintetik terbuat
dari polyester, nailon atau polipropilen yang umumnya dilapisi oleh bahan pelapis
Teflon atau Dacron.
Dengan lapisan ini, permukaannya lebih mulus sehingga tidak mudah
bergulung atau terurai. Benang mempunyai daya tegang yang besar dan dipakai
untuk jaringan yang memerlukan kekuatan penyatuan yang besar. Menurut bentuk
untaian seratnya, benang dapat berupa monofilament bila hanya terdiri dari satu
serat saja, dan polifilamen bila terdiri atas banyak serat yang diuntai menjadi satu.
Cara menguntainya dapat sejajar dibantu bahan pelapis atau di untai bersilang
sehingga penampangnya lebih bulat, lebih lentur dan tidak mudah bergulung.
141
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Benang baja dapat berbentuk monofilament atau polifilamen, sering dipakai pada
sternum setelah torakotomi, jika terkontaminasi mudah terjadi infeksi.
2.1.13 Seide (silk/sutera)
Bersifat tidak licin seperti sutera biasa karena sudah dikombinasi dengan
perekat, tidak diserap tubuh. Pada penggunaan disebelah luar maka benang harus
dibuka kembali.
Warna : hitam dan putih
Ukuran : 5,0-3
Kegunaan : menjahit kulit, mengikat pembuluh arteri (arteri besar) dan
sebagai teugel (kendali)
2.1.14 Plain catgut
Diserap tubuh dalam waktu 7-10 hari
Warna : putih dan kekuningan
Ukuran : 5,0-3
Kegunaan : untuk mengikat sumber perdarahan kecil, menjahit subkutis dan
dapat pula dipergunakan untuk menjahit kulit terutama daerah longgar
(perut, wajah) yang tak banyak bergerak dan luas lukanya kecil. Plain catgut
harus disimpul paling sedikit 3 kali, karena dalam tubuh akan mengembang.
2.1.15 Chromic catgut
Berbeda dengan plain catgut, sebelum dipintal ditambahkan krom, sehinggan
menjadi lebih keras dan diserap lebih lama 20-40 hari.
Warna : coklat dan kebiruan
Ukuran : 3,0-3
Kegunaan : penjahitan luka yang dianggap belum merapat dalam waktu
10 hari, untuk menjahit tendo untuk penderita yang tidak kooperatif dan
bila mobilisasi harus segera dilakukan.
2.1.16 Ethilon
Benang sintetis dalam kemasan atraumatis (benang langsung bersatu dengan
jarum jahit) dan terbuat dari nilon lebih kuat dari seide atau catgut. Tidak diserap
tubuh, tidak menimbulkan iritasi pada kulit dan jaringan tubuh lain
Warna : biru dan hitam
Ukuran : 10,0-1,0
142
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Penggunaan : bedah plastic, ukuran yang lebih besar sering digunakan
pada kulit, nomor yang kecil digunakan pada bedah mata.
2.1.17 Ethibond
Benang sintetis(polytetra methylene adipate). Kemasan atraumatis. Bersifat
lembut, kuat, reaksi terhadap tubuh minimum, tidak terserap.
Warna : hiaju dan putih
Ukuran : 7,0-2
Penggunaan : kardiovaskular dan urologi
2.1.18 Vitalene
Benang sintetis (polimer profilen), sangat kuat lembut, tidak diserap. Kemasan
atraumatis.
Warna : biru
Ukuran : 10,0-1
Kegunaan : bedah mikro terutama untuk pembuluh darah dan jantung, bedah
mata, bedah plastik, menjahit kulit.
2.1.19 Vicryl
Benang sintetis kemasan atraumatis. Diserap tubuh tidak menimbulkan reaksi
jaringan. Dalam subkuitis bertahan 3 minggu, dalam otot bertahan 3 bulan.
Warna : ungu
Ukuran : 10,0-1
Penggunaan : bedah mata, ortopedi, urologi dan bedah plastic
2.1.20 Supramid
Benang sintetis dalam kemasan atraumatis. Tidak diserap.
Warna : hitam dan putih
Kegunaan : penjahitan kutis dan subkutis.
2.1.21 Linen
Dari serat kapas alam, cukup kuat, mudah disimpul, tidak diserap, reaksi tubuh
minimum.
Warna : putih
Ukuran : 4,0-0
Penggunaan : menjahit usus halus dan kulit, terutama kulit wajah.
143
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2.1.22 Steel wire
Merupakan benang logam terbuat dari polifilamen baja tahan karat. Sangat
kuat tidak korosif, dan reaksi terhadap tubuh minimum. Mudah disimpul.
Warna : putih metalik ,kemasan atraumatuk
Ukuran : 6,0-2
Kegunaan : menjahit tendo
1. Ukuran benang
Ukuran benang dinyatakan dalam satuan baku eropa atau dalam satuan metric.
Ukuran terkecil standar eropa adalah 11,0 dan terbesar adalah ukuran 7. Ukuran
benang merupakan salah satu factor yang menentukan kekuatan jahitan. Oleh
karena itu pemilihan ukuran benang untuk menjahit luka bedah bergantung pada
jaringan apa yang dijahit dan dengan pertimbangan factor kosmetik. Sedangkan
kekuatan jahitan ditentukan oleh jumlah jahitan, jarak jahitan, dan jenis
benangnya. Pada wajah digunakan ukuran yang kecil (5,0 atau 6,0).
Spesifikasi material benang bedah :
A. Steril, harus steril sewaktu digunakan.
B. Diketahui kekuatan untuk memegang jaringan ( tensil strength ) yang
sesuai jenis material benang.
C. Diketahui massa penyerapan ( absorption rate ) yaitu lamanya benang
habis diserap tubuh.
D. Simpul aman, diketahui jumlah minimal tali simpul yang aman untuk
setiap
jenis
benang,
artinya
tetap
tersimpul
selama
proses
penyembuhan luka.
E. Mudah untuk digunakan.
F. Dapat digunakan untuk segala jenis operasi.
G. Reaksi/trauma jaringan yang minimal, diameter benang bedah yang
dianjurkan dipergunakan adalah ukuran terkecil yang paling aman
untuk setiap jenis jaringan yang dijahit, massa material benang dan
reaksi jaringan sekecil mungkin.
144
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2. Ukuran benang bedah disepakati adalah sebagai berikut :
A. Ukuran terbesar adalah 1 dan ukuran terkecil adalah 11-0 atau 12-0.
B. Ukuran dimulai dari nomor 1 dan ukuran bertambah besar dengan
bertambah 1, sedangkan apabila ukuran bertambah kecil maka ditambah 0.
C. Ukuran benang system Eropa ( metric gauge ) adalah metric 0,1 ( 0,010
– 0,019 mm ) sampai metric 10 ( 1,00 – 1,09 ).
D. Ukuran benang system Amerika ( imperial gauge ) ukuran 11-0 ( 0,010
– 0,019 ) sampai ukuran 7 ( 1,00 – 1,09 ).
E.
Dalam kemasan selain dicantumkan diameter juga panjang benang
dalam cm.
3. Klasifikasi benang bedah
Berdasarkan keberadaannya didalam tubuh pasien dibagi atas :
A. Diserap ( absorbable sutures ) : Merupakan jenis benang yang materialnya
dibuat
dari jaringan collagen mamalia sehat atau dari sintetik polimer.
Material di dalam tubuh akan diserap yang lamanya bervariasi, sehingga
tidak ada benda asing yang tertinggal di dalam tubuh.
B. Tidak diserap ( non ansorbable sutures ) : Merupakan benang yang dibuat
dari material yang tahan terhadap enzim penyerapan dan tetap berada
dalam tubuh atau jaringan tanpa reaksi penolakan selama bertahun – tahun.
Kelebihan dari benang ini adalah dapat memegang jaringan secara
permanen. Kekurangan dari benang ini adalah benang ini menjadi benda
asing yang tertinggal didalam tubuh dan kemungkinan akan menjadi fistel.
Berdasarkan materi / bahan, dibagi atas
A. Bahan alami, dibagi atas :
i. Diserap (absorbable) : Dibuat dari collagen yang berasal dari
lapisan sub. Mukosa usus domba dan serabut collagen tendon flexor
sapi. Contoh : Surgical catgut plain : Berasal dari lapisan sub.
Mukosa usus domba dan serabut collagen tendon flexor sapi tanpa
campuran.
145
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
ii. Tidak diserap (non ansorbable sutures) : Jenis ini terbuat dari
linen, ulat sutra (silk) seperti surgical silk, virgin silk dan dari kapas
(cotton) seperti surgical cotton. Ada juga yang terbuat dari logam
sehingga mempunyai tensil strength yang sangat kuat, contoh :
metalik sutures (stainless steel).
B. Bahan sintetis (buatan), dibagi atas :
i. Diserap (absorbable) : Terbuat dari sintetik polimer, sehingga
mudah diserap oleh tubuh secara hidrolisis dan waktu penyerapan
oleh tubuh mudah diprediksi, contoh : Polyglactin 910, Polylactin
910 polylastctin 370 dan calcium state (Coated Vicryl®), Polylactin
910 polylastctin 370 dan calcium state (Vicryl Rapide®),
Poliglikolik.
ii. Tidak diserap (non absorbable) : Terbuat dari bahan buatan
(sintetis) dan dibuat sedemikian rupa sehingga reaksi jaringan yang
timbul sangat kecil,
contoh : Polypropamide (Ethilon®),
Polypropylene (Prolene®)
Berdasarkan penampang benang, dibagi atas :
A. Monofilamen (satu helai), terbuat dari satu lembar benang, tidak
meneyerap cairan (non capilarity). Keuntungan : Kelebihan dari jenis
ini adalah permukaan benang rata dan halus, tidak memungkinkan
terjadinya nodus infeksi dan tidak menjadi tempat tumbuhnya mikroba.
Kelemahan : Kelemahannya adalah memerlukan penanganan simpul
yang khusus karena relatif cukup kaku dan tidak sekuat multifilament.
Contoh : Catgut, PDS, dan Prolene
B. Multifilamen , Terbuat dari bebeapa filament atau lembar bahan benang
yang dipilih menjadi satu. Keuntungan : Kelebihan jenis ini adalah
benang lebih kuat dari monofilament, lembut dan teratur serta mudah
digunakan. Kerugian : Kelemahannya adalah karena ada rongga maka
dapat menjadi tempat menempelnya mokroba dan sedikit tersendat pada
saat melalui jaringan. Contoh : Vicryl, Silk, Ethibond
146
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Pemilihan material benang bedah oleh para ahli bedah didasarkan atas :
1.
Karakteristik biologi dari material dalam jaringan yaitu diserap atau tidak
diserap dan bersifat capilarity atau non capilarity.
2.
karakteristik dan penyembuhan jaringan.
3.
Lokasi dan panjang dari sayatan yang menjadi pertimbangan kosmetik.
4.
Ada tidaknya infeksi, kontaminasi dan drainese. Pertimbangan ini
mengingat kemungkinan benang akan menjadi pembentukan jaringan
granulasi dan proses yang menjadi rongga ( sinus ) atau menjadi inti
pengerasan yang kemungkinan berbentuk batu apabila dipakai pada operasi
kandung kemih atau kandung empedu.
5.
Problem pasien seperti
kegemukan, debil, umur penyakit lain yang
mengganggu proses penyembuhan yang lebih lama sehingga memerlukan
penguatan yang lebih lama.
6.
Karakteristik fisik dari material benang untuk menembus jaringan,
pengikatan simpul dan juga alasan khusus tiap ahli bedah.
3. TEKNIK ASEPSIS DAN ANTISEPSIS
Sterilisasi adalah penghancuran atau pemusnahan terhadap semua mikroorganisme.
Asepsis adalah prinsip bedah untuk
mempertahankan keadaan bebas kuman. Keadaan asepsis merupakan syarat mutlak dalam
tindakan bedah. Antisepsis adalah cara dan tindakan yang diperlukan untuk mencapai
keadaan bebas kuman patogen.
Tujuan tindakan asepsis dalam pembedahan adalah untuk mencegah masuknya bakteri
pada luka pembedahan. Pencapaian tingkat asepsis dimulai dengan mensterilkan alat-alat,
jubah operasi, sarung tangan, benang bedah, dan kasa pembalut yang kontak dengan luka
operasi. Kemudian, lakukan desinfeksi pada kulit tempat pembedahan dengan menggunakan
sediaan antiseptik.
Cara sterilisasi
Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara :
1. Tanpa tekanan berupa pemanasan basah, pemanasan kering dan ‘flamber’.
2. Dengan tekanan yaitu dengan menggunakan system otoklaf
147
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4. Secara Kimiawi : Cara sterilisasi kimiawi dilakukan dengan menggunakan tablet
formalin, gas etilen oksida, larutan aniseptik.
5. Radiasi yaitu dengan menggunakan sinar X dan sinar UV. Radiasi, digunakan unuk
mensterilkan tabung suntik plastic, sarung tangan, kateter, infus set, selang sonde dan
kamar operasi.
6. Pemanasan basah dengan temperature > 100 C selama 15-30 menit. Alat-alat yang
direbus harus dalam keadaan bersih dan seluruh alat harus terendam dalam air. Cara
ini dignakan untuk mensterilkan: instrument operasi terutama yang terbuat dari logam,
kateter karet dan logam, alat –alat dari plastik atau kaca tahan panas, kain kasa dan
tuffer yang akan digunakan.
7. Pemanasan kering, pemanasan kering dilakukan tanpa pengaturan tekanan udara
secara khusus. Disini digunakan oven, temperature 170 C (160-180C) dalam waktu 12 jam. Cara ini dignakan untuk mensterilkan alat bedah ( pisau dan gunting dibungkus
kain agar tidak tumpul), kaca tahan panas(pyrex), kasa ,doek,laken, jas operasi.
8. Flamber berarti membakar dengan spritus atau alkohol 96%. Bahan bakar harus cukup
untuk member nyala minimum selama 5 menit. Cara ini mudah dikerjakan, cepat dan
cocok dalam keadaan darurat, dan sterilitasnya terjamin. Alat yang dibakar harus
dalam keadaan bersih dan kering dan tempat membakar sebaiknya alumunium atau
wadah yang terbuat dari logam tahan karat. Cara ini jangan sering digunakan pada alat
dari logam karena alat akan berubah warna dan rusak, gunting dan pisau juga akan
mudah tumpul.
9. Autoclave dilakukan dengan memasak dengan uap bertekanan 750 mmHg dan
temperature 120 C. waktu dapat dipersingkat dengan menaikkan tekanan atau
temperature. Dengan cara ini dalam tempo 13 menit spora dan bakteri akan mati.
Digunakan unuk mensterilkan kain kasa, doek, laken operasi dan jas operasi. Dipakai
untuk mensterilkan sarung tangan operasi, kateter balon, kasa dan pembalut.
Autoclave
148
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
10. Gas etilen oksida , cairan ini dapat membunuh spora, bakteri serta virus dan jamur
pathogen. Sifatnya toksik dan mudah terbakar. Cara ini baik untk alat tak tahan panas.
Dipakai untuk mensterilkan alat endoskopi, alat yang terbuat dari karet, gunting dan
mata pisau operasi.
11. Larutan antiseptik dilakukan dengan cara membilas atau merendam alat-alat dengan
lartan terebut. Larutan antiseptik digunakan untuk mensterilkan alat bedah, alat-alat
yang tajam, kateter dan korentang.
4. TEKNIK ANASTESI LOKAL
Dilakukan penyuntikan di sekitar area operasi. Suntikan dilakukan di daerah subkutis.
Teknik yang berkembang saat ini adalah field block, yaitu menginfiltrasi suatu area
dengan target operasi ditengahnya. Setelah seluruh pinggir area diinfiltrasi, area tepat
diatas insisi diinfiltrasi lagi. Jika daerah yang akan dioperasi cukup besar, kemungkinan
dierlukan infiltrasi pada beberapa tempatagar area yang diinfiltrasi menjadi luas.
Kedalaman infiltrasi tergantung dari jenis luka.
4.1 Teknik
1. Masukan jarum di salah satu sudut luka
2.
Arahkan jarum ke area kanan luka, lakukan aspirasi (pastikan tidak terkena
pembuluh darah), jarum dicabut tetapi tidak sampai lepas dari kulit sambil obat
dikeluarkan.
3.
Kemudian jarum dibelokkan ke arah kiri luka, aspirasi, jarum dicabut sambil obat
dikeluarkan.
4. Lakukan anestesi dengan teknik yang sama pada sudut luka sebelahnya, sehingga
tampak pada gambar.
5. Cek anestesi dengan menjepitkan pinset
149
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4.2 Komplikasi tindakan anestesi
1. Hematom : terjadi karena pecahnya pembuluh darah ketika anestesi, yang kemudian
darah berkumpul di submukosa sehingga menimbulkan benjolan. Jika terjadi
hematom, kita evaluasi beberapa saat apakah henatom itu terus membesar atau
teta.jika terus membesar, kita harus berusaha mencari pembuluh darah yang pecah
dan mengikatnya kemudian membuang bekuan darah yanng berkumpul. Tetapi jika
hematom tidak membesar, hanya diperlukan membuang masa hematom nya saja.
2. Oedem : disebabkan terlalu banyak obat anestesi yang diberikan sehingga obat
tersebut berkumpul di jaringan ikat longgar mukosa dan sub mukosa. Hal ini akan
mempersulit ketika melakukan penjaitan. Udem akibat anestesi ini diabsorbsi dalam
24 jam.
3. Shock anafilatik
4.3 Kontraindikasi :
1. Alergi atau hipersensitivitas terhadap obat anestesi lokal yang telah diketahui.
Kejadian ini mungkin disebabkan oleh kelebihan dosis atau suntikan intravaskular.
2. Kurangnya tenaga terampil yang mampu mengatasi atau mendukung teknik tertentu.
3. Kurangnya prasarana resusitasi.
4. Tidak tersedianya alat injeksi yang steril.
5. Infeksi lokal atau iskemik pada tempat suntikan.
6. Pembedahan luas yang membutuhkan dosis toksis anestesi lokal.
7. Distorsi anotomik atau pembentukan sikatriks.
8. Risiko hematoma pada tempat-tempat tertentu.
9. Pasien yang sedang menjalani terapi sistemik dengan antikoagulan.
10. Jika dibutuhkan anestesi segera atau tidak cukup waktu bagi anestesi lokal untuk
bekerja dengan sempurna.
11. Kurangnya kerja sama atau tidak adanya persetujuan dari pihak penderita.
150
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
5. TEKNIK JAHIT SEDERHANA (SIMPLE SUTURE)
5.1
Simple Interupted Suture
Indikasi : pada semua luka
Kontraindikasi : tidak ada
Teknik penjaitan dilakukan sebagai berikut :
1. Lakukan pembersihan luka dengan NaCl 0,9%
2. Lakukan antiseptik luka menggunakan cairan antiseptik dengan cara
sentrifugal (dari arah dalam keluar)
3. Lakukan pemasangan doek bolong steril
4. Lakukan anestesi infiltrasi/field block
5. Jarum disuntikan pada kulit sisi pertama dengan sudut sekitar 90 derajat
sekitar 1 cm dari ujung luka, masuk subkutan kemudian dilanjutkan dengan
menusukan jarum sekitar 1 cm dari ujung luka pada kulit sisi lainnya.
6. Perlu diingat lebar dan kedalaman jaringan kulit dan subkutan diusahakan
agar tepi luka yang dijahit dapat mendekat dengan posisi membuka ke arah
luar ( everted).
7. Jarak antara jahita satu dengan jahitan lainnya kurang lebih 1 cm.
8. Benang dapat dipegang, jarum tidak boleh dipegang dengan tangan.
Gunakan pinset untuk memegang jarum.
9. Kemudian dibuat simpul dan geser simpul ke tepi luka (simpul tidak berada
diatas luka), lakukan 2-3 kali simpul agar jahitankuat, simpul pertama
menentukan kekuatan ikatan. Buatlah simpul yang dapat mendekatkan luka,
tidak terlalu kencang dan tidak pula terlalu kendor.
10. Potong sisa benang 1,5-2 cm diatas simpul (bila benang absorable maka
benang dipotong tepat di atas simpul) dengan teknik memiringkanguntung
guna menghindari terpotongnya jaringan.
11. Rapihkan
jahitan,
perhatikan
eversi
luka,
gunakan
pinset
untuk
mengeversikan luka jahitan bila dibutuhkan
12. Bersihkan sisa perdarahan bila ada,beri antiseptik dan tutup luka dengan
menggunakan kasa.
151
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
5.2 Jahitan Matras
1. Jahitan Matras Horisontal
Jahitan dengan melakukan penusukan seperti simpul, sebelum disimpul dilanjutkan
dengan penusukan sejajar sejauh 1 cm dari tusukan pertama. Memberikan hasil
jahitan yang kuat.
2. Jahitan Matras Modifikasi
Modifikasi dari matras horizontal tetapi menjahit daerah luka seberangnya pada
daerah subkutannya.
152
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3. Jahitan Matras Vertikal
Jahitan dengan menjahit secara mendalam di bawah luka kemudian dilanjutkan
dengan menjahit tepi-tepi luka. Biasanya menghasilkan penyembuhan luka yang
cepat karena didekatkannya tepi-tepi luka oleh jahitan ini.
4. Jahitan Kontinyu
Simpul hanya pada ujung-ujung jahitan, jadi hanya dua simpul. Bila salah satu
simpul terbuka, maka jahitan akan terbuka seluruhnya. Jahitan ini jarang dipakai
untuk menjahit kulit.
5. Jahitan Jelujur Sederhana (Continous Over and Over)
Jahitan ini sangat sederhana, sama dengan kita menjelujur baju. Biasanya
menghasilkan hasil kosmetik yang baik, tidak disarankan penggunaannya pada
jaringan ikat yang longgar.
153
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
6. Jahitan Jelujur Feston (Interlocking Suture)
Jahitan kontinyu dengan mengaitkan benang pada jahitan sebelumnya, biasa sering
dipakai pada jahitan peritoneum. Merupakan variasi jahitan jelujur biasa.
7. Jahitan Intradermal
Memberikan hasil kosmetik yang paling bagus (hanya berupa satu garis saja).
Dilakukan jahitan jelujur pada jaringan lemak tepat di bawah dermis.
154
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
6. TEKNIK SIMPUL SEDERHANA (KNOTYING)
Dalam pembuatan simpul jahitan, simpul jahitan yang akan dilatih yaitu simpul square
knot atau reef knot. Setelah penjahitan kulit selesai dikerjakan lakukan evaluasi pada
jahitan kemudian luka ditutup dengan kasa. Pasien perlu diberikan edukasi yang meliputi
diet, perawatan luka seperti luka tidak boleh terkena air dan tidak boleh kotor, serta kapan
pasien kembali ke dokter untuk kontrol serta pengangkatan jahitan. Pengangkatan jahitan
rata-rata dilakukan pada hari ke 7 s.d 11 kecuali untuk wajah pada hari ke 4-5 karena
pada daerah wajah memiliki vaskularisasi yang baik, bahkan apabila terlalu lama bekas
jahitan akan menyebabkan kosmetik yang kurang baik. Apabila pemberian obat
diperlukan maka jangan lupa untuk memberi penjelasan tentang dosis obat, cara pakai
obat, dan efek samping yang mungkin ditimbulkan oleh obat.
Melepas jahitan setelah luka sampai pada waktu pengambilan jahitan :
1. Sebelumnya area jahitan dibersihkan secara aseptik
2. Kait simpul jahitan dengan forceps dan tarik simpul sedikit terangkat, guntinglah
benang di bawah simpul sedekat mungkin dari kulit dengan posisi pronasi 450 .
3. Tariklah benang kearah yang berlawanan dengan letak simpul, agar benang yang
di luar tidak masuk ke dalam jaringan.
4. Lakukan dressing pada luka
REFERENSI
1.
Doherty, GM. 2006. Current Surgical Diagnosis and Treatment. USA : McGraw Hill.
2.
Ethicon Inc. 1994. Wound Closeure Manual. Johnson and Johnson Company.
3.
Karakata S, Bachsinar B. 1995. Bedah Minor. Jakarta : Hipokrates.
4.
Reksoprodjo, S. 2000. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta : Binarupa Aksara.
155
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
KOMPETENSI UTAMA
MATRA MEDIS NON-EMERGENCY
ANAMNESIS DAN PEMERIKSAAN FISIK
1. ANAMNESIS
1.1 Definisi
Menurut asal katanya, anamnesis merupakan sebuah percakapan untuk mengingat
kembali riwayat penyakit pasien khususnya berdasarkan ingatan pasien. Anamnesis atau
wawancara menjadi langkah pertama dalam tata cara kerja yang harus ditempuh untuk
membuat diagnosis. Mengumpulkan riwayat penyakit yang lengkap merupakan langkah
penting untuk mengerti dan memahami penyakit yang sedang dihadapi penderita.
Langkah tersebut perlu ditempuh untuk menegakkan diagnosis, tetapi mempunyai arti
yang berbeda-beda dalam proses diagnostik
Pada tingkat yang paling dasar, percakapan dengan pasien ini memiliki tiga tujuan,
yaitu menciptakan hubungan yang saling percaya dan mendukung (sambung rasa
dokter-pasien), mengumpulkan informasi, dan menyampaikan informasi. Informasi
yang dimaksud adalah data medis organobiologis, psikososial serta lingkungan pasien.
Informasi yang didapat dari wawancara dengan pasien biasanya akan memberikan
kontribusi yang lebih untuk suatu pemecahan masalah daripada informasi yang didapat
dari pemeriksaan jasmani atau uji diagnostik.
1.2 Jenis anamnesis
Pada umumnya, terdapat 2 jenis anamnesis yaitu autoanamnesis dan alloanamnesis.
Autoanamnesis merupakan anamnesis terhadap pasien itu sendiri.
Namun pada beberapa kondisi metode autoanamnesis ini tidak dapat menghimpun
informasi yang dibutuhkan. Sehingga anamnesis dilakukan melalui bantuan orang lain
misalnya keluarga/relasi terdekat atau yang membawa pasien tersebut ke rumah sakit.
Anamnesis yang didapat dari informasi orang lain ini disebut alloanamnesis.
156
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Alloanamnesis dapat dikerjakan pada keadaan sebagai berikut:
1. Pasien dengan penurunan atau perubahan kesadaran.
2. Pasien bayi, anak-anak atau orang sangat tua
3. Untuk konfirmasi auto anamnesis
1.3 Teknik anamnesis :
1.3.1 Teknik wawancara yang terampil
1. Dengarkan secara aktif
A. Penuh perhatian saat mendengarkan keluhan pasien
B. Waspada terhadapt status emosional pasien
C. Gunakan keterampilan verbal dan nonverbal untuk mendorong pasien
mengembangkan pembicaraannya
2. Ajukan pertanyaan yang adaptif
A. Arahkan pertanyaan  dari hal yang umum ke khusus
B. Ajukan pertanyaan untuk memicu respons yang bisa diukur
C. Ajukan pertanyaan satu demi satu
D. Berikan pertanyaan dengan lebih dari satu pilihan jawaban
E. Mintalah penjelasan lebih lanjut dari apa yang disampaikan pasien
3. Komunikasi nonverbal
A. Perhatikan kontak mata, ekspresi wajah, postur tubuh, posisi serta
gerakan
kepala
seperti
menggeleng
atau
mengangguk,
jarak
interpersonal, dan posisi lengan atau tungkai seperti disilangkan, netral
atau terbuka.
B. Bergeraklah mendekati pasien atau terlibat dalam kontak fisik untuk
menyampaikan rasa empati kepada pasien
4. FasilitasiDorong pasien agar berbicara lebih banyak dengan memfasilitasinya
melalui postur, gerakan, atau kata-kata kita.
5. Mengulangi perkataan
6. Respons yang empatik dengan mengenali perasaannya terlebih dahulu
7. Pengesahan dengan mempercayai dan mengakui pengalaman emosionalnya
8. Menentramkan perasaan
9. Resume
10. Menekankan peralihan
157
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.3.2 Keluhan utama
Keluhan utama adalah keluhan terpenting yang membawa pasien meminta
pertolongan dokter atau petugas kesehatan lainnya. Keluhan utama dapat berupa
nyeri, gejala tidak enak (seperti kelelahan), kehilangan fungsi normal atau
keluhan kejiwaan (seperti cemas, depresi), yang tidak harus merupakan masalah
sebenarnya.
1.3.3 Anamnesis terpimpin
Sebagai tahapan diagnosis, seorang klinisi akan berusaha melakukan
wawancara dengan memusatkan pada persoalan-persoalan yang menjadi keluhan
utama pasien. Pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan kepada suatu diagnosa
penyakit tertentu ini disebut Anamnesis Terpimpin. Anamnesis ini berpedoman
pada empat pokok pemikiran (The Fundamental Four), yaitu :
1. Riwayat Penyakit Sekarang (RPS)
2. Riwayat Penyakit Dahulu (RPD)
3. Riwayat Kesehatan Keluarga
4. Riwayat Sosial dan Ekonomi
Sedangkan untuk menggali tentang RPS dalam anamnesis ini diperlukan data
tentang tujuh butir mutiara anamnesis (The Sacred Seven), yaitu :
1. Lokasi dan penjalaran
Lokasi secara tepat, dalam atau superfisial, terlokalisir atau difus
2. Onset / awitan dan kronologis
Onset, durasi, periodisitas, frekuensi
3. Kuantitas keluhan
Tipe onset, intensitas/keparahan menggunakan skala tertentu, disabilitas.
4. Kualitas keluhan/ sifat sakit
5. Faktor-faktor yang memperberat
6. Faktor-faktor yang memperingan
7. Gejala klinik yang menyertai
158
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.3.4 Anamnesis Sistematis/ Anamnesis Sistem
Setelah melakukan anamnesa terpimpin, untuk melakukan penyaringan
terhadap gejala lain atau penyakit yang belum dikemukakan oleh pasien yang
mungkin tidak dikeluhkan karena tertutupi oleh gejala yang lebih berat lainnya,
maka dialkukan anamnesa secara sistematis berdasarkan organ atau sistem organ.
Jika tidak ada keluhan, ditulis negatif, tanpa tambahan lain. Bila ada keluhan,
perlu dibuat deskripsinya secara lengkap.
Tabel 1. Komponen Anamnesis
Komponen dari Anamnesis
Identifikasi
Waktu pengambilan data pasien.
Identitas, misalnya nama pasien, usia, jenis kelamin,
pekerjaan, alamat, status perkawinan
Sumber data, biasanya pasien sendiri, namun dapat pula
berasal dari anggota keluarga, teman, surat rujukan atau
rekam medis
Reliabilitas (Keandalan)
Tingkat dapat dipercaya bervariasi, tergantung daridaya ingat
pasien,
kepercayaan pasien kepada dokter dan mood.
Keluhan Utama
Gangguan
terpenting
yang
dirasakan
pasien
sehingga
membawa pasien datang mencari pertolongan. Sebaiknya
disertai data lamanya keluhan tersebut
Riwayat Penyakit Sekarang
Penjelasan
dari
keluhan
utama,
mendeskripsikan
perkembangan gejala dari keluhan utama tersebut. Dimulai saat
pertama kali pasien merasakan keluhan itu,
yang merupakan akhir masa sehat.
Menemukan adanya gejala penyerta dan mendeskripsikannya
Mencari hubungan antara keluhan-keluhan dengan faktor
atau suasana psikologis dan emosional pasien
Termasuk pikiran dan perasaan pasien tentang penyakitnya
Termasuk obat-obatan yang digunakan, riwayat alergi,
riwayat merokok, riwayat konsumsi alkohol
Riwayat Penyakit Dahulu
Keterangan terperinci dari semua penyakit yang pernah
159
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
dialami dan sedapat mungkin dituliskan menurut urutan
waktu
Penyakit yang diderita sewaktu kecil
Penyakit
yang
diderita
sesudah
dewasa
beserta
waktukejadiannya. Riwayat alergi dan riwayat operasi.
Riwayat
pemeliharaan
kesehatan,
seperti
imunisasi,
screening test, pengaturan pola hidup.
Riwayat Keluarga
Riwayat mengenai ayah, ibu, saudara laki-laki, saudara
perempuan pasien, dituliskan tentang umur dan keadaan
kesehatan masing-masing bila masih hidup, atau umur waktu
meninggal dan sebabnya. Gambarkan bagan keluarga yang
berhubungan dengan keadaan ini.
Tuliskan hal-hal yang berhubungan dengan peranan hereditas
atau kontak di antara anggota keluarga yang dekat atau yang
agak dekat. Ada atau tidaknya penyakit spesifik dalam
keluarga, misalnya hipertensi, penyakit koroner, dan lain
sebagainya
Riwayat Pribadi,
Jelaskan tingkat pendidikan, status psikis, sosial ekonomi dan
Psikologis, Sosial
pola hidup
Ekonomi dan Budaya
Anamnesis sistem
Tuliskan semua keluhan dan kelainan patologik yang bukan
bagian dari penyakit sekarang dan yang belum ditulis dalam
bab penyakit-penyakit dahulu.
REFERENSI
1. Burnside-Mc Glynn, 1995. Adams Diagnosis Fisik, EGC, Jakarta.
2. DeGowin, RL. and Brown, DD. 2000. .Diagnostic Examination.7th ed. New York.
MacGraw-Hill.1-36.
3. Fletcher SW.2000. Clinical decision making: approach to the patient, In: Goldman:
Cecil Textbook of Medicine, 21st ed., London. W. B. Saunders Company, 78-9.
160
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2. PEMERIKSAAN FISIK
2.1 Definisi
Pemeriksaan fisik umum merupakan pemeriksaan awal yang dilakukan di saat pertama
kali seorang dokter melakukan pemeriksaan fisik pada seorang pasien.
2.2 Keadaan Umum
General assessment atau penilaian umum (atau general survey) adalah penilaian
terhadap pasien secara utuh dan cepat, mencakup fisik pasien, sikap, mobilitas dan
beberapa parameter fisik (misalnya tinggi, berat badan dan tanda-tanda vital). Penilaian
umum memberikan gambaran/kesan mengenai status kesehatan pasien.
2.2.1 Tampak Fisik, Sikap dan Mobilitas
Menilai kesan pasien dilihat dari karakteristik:
1. Umur
Ciri-ciri wajah pasien dan struktur tubuh harus sesuai dengan keterangan umur
yang dinyatakan oleh pasien.
2. Warna kulit
Warna kulit pasien harus rata dan pigmentasi harus konsisten dengan latar
belakang genetik pasien. Perubahan sianosis dapat mudah diamati pada bibir dan
rongga mulut, sedangkan pallor (kulit pucat) dan jaundice (kulit menjadi
kuning) mudah dideteksi dari warna jari kuku dan konjungtiva mata. Indikasi :
A. Sianosis
: nafas pendek/shortness of breath (kesulitan bernafas)
penyakit paru-paru, gagal jantung, atau tercekik
B. Pallor
: penyakit anemia, syok, kanker
C. Jaundice
: penyakit hati atau saluran empedu yang tersumbat oleh
batu empedu.
3. Wajah
Gerakan wajah harus simetris, dan ekspresi wajah harus sesuai dengan perkataan
pasien. Ekspresi wajah yang tidak sesuai dengan perkataan dapat merupakan
indikasi adanya penyakit kejiwaan. Indikasi :
A. Paralisis salah satu sisi wajah : stroke atau trauma fisik, Bells Palsy
B. Wajah yang datar atau tidak menunjukkan emosi pada wajah : penyakit
parkinson dan depresi
161
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4. Tingkat kesadaran
Pasien harus waspada dan sadar akan waktu, tempat dan orang.
A. Penilaian Kualitas Tingkat Kesadaran
Compos mentis : Baik/sempurna
Apatis
: Perhatian berkurang
Somnolens
: Mudah tertidur walaupun sedang diajak berbicara
Sopor/Delirium : Dengan rangsangan kuat masih memberi respon
gerakan
Sopor comatous : Hanya tinggal reflek kornea
Coma
: Tidak memberi respon sama sekali
B. Penilaian Kuantitatif Tingkat Kesadaran
Aspek
Eye
Mata
Verbal
Motorik
Keterangan
/ - Spontan membuka mata
Nilai
4
- Membuka mata dengan perintah (suara)
3
- Membuka mata dengan rangsang nyeri
2
- Tidak membuka mata dengan rangsang apapun
1
- Berorientasi baik
5
- Bingung (bisa membentuk kalimat tapi arti keseluruhan kacau)
4
- Bisa membentuk kata tapi tidak bisa membentuk kalimat
3
- Bisa mengeluarkan suara yang tidak memiliki arti
2
- Tidak bersuara/ unrespon
1
- Menurut perintah
6
- Dapat melokalisir rangsang nyeri
5
- Menolak rangsangan nyeri pada anggota gerak (withdrawal)
4
- Menjauhi rangsang nyeri
3
- Ekstensi spontan
2
- Tak ada gerakan
1
162
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
C. Kriteria :
i. Compos Mentis
: 15
ii. Coma
: No eye opening, no ability to follow commands,
no word verbalizations (3-8)
iii. Severe Head Injury----GCS score of 8 or less
iv. Moderate Head Injury----GCS score of 9 to 12
v. Mild Head Injury----GCS score of 13 to 15
5. Tanda-tanda distress akut
Tanda distress pernafasan : nafas pendek, wheezing atau menggunakan otototot aksesori untuk membantu bernafas. Tanda distress emosi : rasa gelisah,
tegang, mudah terkejut dan/atau menangis.
6. Nutrisi
Berat badan pasien harus sesuai dengan tinggi badannya, dan lemak tubuh
harus terdistribusi merata.
Pinggang pasien lebih besar daripada pinggul : penyakit obesitas (misalnya
diabetes, hipertensi, penyakit arteri koroner).
Pasien tampak kakhektik, atau sangat kurus dengan mata cekung dan pipi tirus
: penyakit wasting kronik (misalnya kanker, starvasi, dehidrasi).
7. Struktur tubuh
Kedua sisi tubuh pasien harus terlihat dan bergerak sama.
Gambar 1. Abnormal spinal curvatures: kyphosis, lordosis, and scoliosis
163
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
8. Pakaian dan penampilan
Pakaian pasien harus sesuai dengan cuaca, bersih, dan pas. Pasien harus
kelihatan bersih dan berpenampilan sesuai usia, jenis kelamin, pekerjaan,
golongan sosial ekonomi dan latar belakang budayanya.
9. Sikap
Pasien harus mau bekerjasama/kooperatif dan berinteraksi dengan baik.
Berbicara jelas dan dapat dimengerti, dengan pilihan kata yang sesuai dengan
tingkat pendidikan dan budayanya.
10. Mobilitas/gerakan
Cara berjalan pasien harus lancar, tetap dan seimbang dan kaki sesuai lebar
bahu.
2.2.2 Tanda-tanda vital
Pengukuran tanda-tanda vital memberikan informasi yang berharga terutama
mengenai status kesehatn pasien secara umum. Tanda-tanda vital meliputi :
temperatur/suhu tubuh, denyut nadi, laju pernafasan/respirasi, dan tekanan darah.
1. Temperatur/Suhu Tubuh
Pengukuran suhu tubuh merupakan bagian rutin pada hampir semua penilaian
klinis, karena dapat menggambarkan tingkat keparahan penyakit (misalnya,
infeksi). Rentang suhu tubuh normal untuk dewasa adalah 36,4-37,2°C (97,5 –
99,0 °F). Suhu tubuh normal dapat dipengaruhi oleh ritme biologis, hormonhormon, olahraga dan usia.
A. Rute Oral
Rute ini merupakan rute pengukuran suhu tubuh yang akurat dan mudah
dilakukan pada pasien yang sadar. Temperatur tubuh pada dewasa yang
diukur melalui rute oral adalah 37°C (98,6 °F). Namun, pengukuran suhu
oral tidak dianjurkan pada kondisi pasien tidak sadar, gelisah, atau tidak
dapat menutup mulutnya. Untuk mengukur suhu oral menggunakan
termometer kaca :
i. Guncangkan termometer sampai air raksa turun hingga 35°C (96°F) atau
kurang.
164
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
ii. Letakkan ujung termometer di bawah lidah, dan minta pasien untuk
merapatkan kedua bibirnya.
iii. Tunggu selama 3-5 menit, kemudian baca hasilnya pada termometer
B. Rute Rektal
Rute rektal merupakan cara paling akurat untuk mengukur temperatur
tubuh. Dengan cara ini, suhu tubuh dewasa yang terukur normalnya adalah
37,5°C (99,5 °F) ; 0,5°C (1°F) lebih tinggi daripada rute oral. Rute rektal
merupakan rute pilihan untuk pasien bayi, pasien yang bingung, koma, atau
tidak dapat menutup mulut karena intubasi, mandibulanya dikawat, bedah
facial, dan sebagainya. Untuk mengukur suhu rektal :
i. Minta pasien berbaring miring dengan sendi paha difleksikan
ii. Lumasi ujung termometer dan masukkan sedalam 3-4 cm ke dalam
saluran anus dengan arah menuu umbilikus .
iii. Cabut ujung termometer setelah didiamkan selama 3 menit, kemudian
baca hasil pengukuran.
C. Rute Axilla
Rute axilla digunakan hanya jika rute oraldan rectal tidak dapat dilakukan.
Suhu tubuh dewasa yang diukur melalui rute axilla adalah 36,5°C (97,7°F),
yang berarti 0,5°C lebih renadah daripada rute oral. Untuk mengukur suhu
axilla :
i. Letakkan termometer di ketiak di tengah axilla.
ii. Termometer dijepit di bawah lengan pasien.
iii. Lipat lengan pasien ke dadanya agar termometer tetap di tempatnya.
iv. Biarkan termometer selama 5 menit padaanak-anak dan 10 menit pada
pasien dewasa.
D. Rute Timpani
Termometer untuk rute timpani mempunyai ujung probe yang diletakkan ke
dalam telinga. Termometer ini memiliki sensor inframerah yang mendeteksi
suhu darah yang mengalir melalui gendang telinga. Metode ini tidak invasif,
cepat dan efisien. Untuk mengukur suhu tubuh melalui rute timpani ini:
165
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
i. Pasang penutup disposable yang baru pada ujung probe
ii. Letakkan probe ke dalam kanal telinga pasien
iii. Hati-hati jangan memaksa probe dan jangan menutup kanal.
iv. Hidupkan alat dengan memencet tombol.
v. Baca angka yang muncul dalam 2-3 detik.
2. Denyut Nadi
Denyut nadi ini dapat diraba/palpasi untuk menilai kecepatan jantung, ritme dan
fungsinya. Karena mudah diakses, nadi pada radial tangan adalah metode yang
paling banyak digunakan untuk mengukur kecepatan jantung; dipalpasi melalui
arteri tangan (radial) pada pergelangan tangan anterior. Selain kecepatan denyut
nadi, ritme denyut nadi juga harus dievaluasi. Normalnya, ritme nadi adalah tetap
dan rata. Jika ritme tidak teratur, disebut aritmia.
Tabel 1. Kecepatan jantung normal untuk berbagai kelompok usia
Usia
Kecepaatan jantung (BPM)
Bayi baru lahir (newborn)
70‐170
1‐6 tahun
75‐160
6‐12 tahun
80‐120
Dewasa
60‐100
Usia Lanjut
60‐100
Atlet yang terkondisi baik
50‐100
3. Kecepatan Pernapasan (Respiratory Rate/ RR)
Inspeksi dilakukan untuk mengevaluasi kecepatan pernafasan pasien. Untuk
mengukur kecepatan pernafasan:
A. Jaga agar posisi pasien tetap selama melakukan pengukuran kecepatan
pernafasan
B. Amati dada atau abdomen pasien selama respirasi
C. Hitung jumlah pernafasan (inhalasi dan ekshalasi dihitung sebagai satu
pernafasan) dalam 30 detik, dan jika ritme teratur, jumlah yang dihitung
dikalikan 2.
D. Jika ritme tidak teratur, hitung jumlah nafas dalam 1 menit.
E. Catat nilai sebagai respirasi per menit (rpm).
166
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Tabel 2. Kecepatan pernafasan normal untuk berbagai kelompok usia
Usia
Pernapasan (rpm)
2‐6 tahun
21‐30
6‐10 tahun
20‐26
12‐14 tahun
18‐22
Dewasa
12‐20
Lanjut usia
12‐20
4. Tekanan Darah
Tekanan darah adalah kekuatan darah ketika mendorong dinding arteri.
Tekanan darah tergantung pada luaran kardiak, volume darah yang diejeksi oleh
ventrikel permenit, dan tahanan pembuluh darah perifer.
Tekanan darah mempunyai dua komponen: sitolik dan diastolik. Tekanan
darah sistolik menggambarkan tekanan maksimum pada arteri ketika kontraksi
ventrikel kiri (atau sistol), dan diatur oleh volume stroke (atau volume darah
yang dipompa keluar pada setiap denyut jantung). Tekanan darah diastolik
adalah tekanan saat istirahat yaitu tekanan dari darah antar kontraksi ventrikel.
Tabel 3. Klasifikasi Tekanan Darah untuk Dewasa usia >18 tahun
Kategori
Tekanan
Darah Tekanan
Darah
Sistolik (mmHg)
Diastolik (mmHg)
Normal
<120
<80
Prehipertensi
120‐139
80‐89
Stage 1
140‐159
90‐99
Stage 2
>160
>100
Hipertensi
167
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Tabel 4. Modifikasi Gaya Hidup dalam Penatalaksanaan Hipertensi
Modifikasi
Rekomendasi
Tindak Perkiraan
Lanjut
Tekanan
Penurunan
Darah
Sistolik
(rentang)
Menurunkan berat badan
Menjaga berat badan normal 5‐20 mmHg/10 kg
(BMI 18,5‐24,9 kg/m2)
Menggunakan
turunnya berat badan
perencanaan Mengkonsumsi buah‐buahan, 8‐14 mmHg
diet makan DASH
sayuran dan produk susu
rendah lemak
Mengurangi
konsumsi Asupan natrium tidak lebih 2‐8 mmHg
natrium dari makanan
dari 100
mmol/hari (2,4 g natrium
atau 6 g NaCl)
Aktivitas fisik
Aktivitas fisik aerobik teratur 4‐9 mmHg
misalnya jalan cepat (paling
sedikit 30 menit per hari,
hampir setiap hari)
Membatasi konsumsi alkohol
Alcohol tidak lebih dari 2 2‐4 mmHg
kali minum per hari untuk
laki‐laki dan tidak lebih dari
1 kali minum sehari untuk
perempuan dan individu yang
ringan berat badannya.
168
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2.2.3 Pemeriksaan Regional
1. Kulit
Inspeksi
A. Perhatikan warna kulit (palor, sianosis, kemerahan, kekuningan)
B. Lesi & trauma : perhatikan lokasi, distribusi, susunan, tipe, dan warnanya
Palpasi
A. Tugor (hidrasi)
B. Kelembaban
C. Suhu (hangat / dingin)
D. Tekstur (kasar / halus)
E. Ketebalan (tebal /tipis)
F. Mobilitas dan edema
2. Kepala
Lakukan pemeriksaan inspeksi dan palpasi pada :
A. Rambut (kuantitas, penyebaran, tekstur)
B. Kulit kepala(Benjolan / lesi)
C. Tulang tenggorak (ukuran) : hidrosefalus, normosefalus, dan lain – lain.
D. Wajah (simetris & ekspresi wajah): paralisis wajah, emosi, edema dsb
3. Mata
A. Uji ketajaman penglihatan (visus) dan skrining lapang pandang Lakukan
pemeriksaan pada setiap mata kiri dan kanan satu persatu menggunakan
optotype snellen yang dipasang pada jarak 6 meter dari penderita.
B. Posisi dan kesejajaran mata : simetris kanan & kiri. Nilai adanya strabismus
(juling) tidak.
C. Observasi kelopak mata: lagophtalmus (tidak mampu menutup mata dg
sempurna), ptosis (tidak bisa membuka kelopak mata).
D. Inspeksi sklera, konjungtiva, kornea, iris, dan lensa
E. Bandingkan kedua pupil dan lakukan tes reaksi terhadap cahaya (langsung
dan tidak langsung).
F. Dengan oftalmoskop, lakukan inspeksi fundus okuli
169
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4. Telinga
Inspeksi aurikel, kanalis auditorius, dan membran timpani :
Periksa ketajaman pendengaran. Jika ketajaman berkurang, periksa lateralisasi
(tes Weber) dan bandingkan hantaran udara dengan hantaran tulang (tes Rinne)
5. Hidung dan Sinus
A. Lakukan pemeriksaan pada hidung bagian luar
B. Inspeksi mukosa nasalis, septum nasalis, dan konkha nasalis menggunakan
senter dan spekulum nasal
C. Palpasi : memeriksa nyeri tekan pada sinus frontalis dan maksilaris
6. Tenggorok (mulut dan faring)
Inspeksi : bibir, mukosa oral, gusi, gigi, lidah, palatum, tonsil, dan faring
7. Leher
Inspeksi dan palpasi kelenjar limfe servikal dan kelenjar tiroid: massa atau
pulsasi abnormal pada leher.
Palpasi : adanya deviasi trakea/ tidak
Observasi untuk mengamati suara dan usaha pasien dalam bernafas
8. Punggung
Inspeksi dan palpasi tulang belakang dan otot punggung
9. Toraks anterior dan posterior serta paru
Inspeksi dan palpasi tulang belakang serta otot punggung sebelah atas.
10. Dada
A. Lakukan inspeksi : simetri, keterlambatan gerak dinding dada
B. Palpasi secara menyeluruh
C. Perkusi untuk menilai ketinggian suara pekak diafragma
D. Auskultasi : identifikasi bunyi normal dan tambahan
11. Payudara, Aksila, dan Nodus Epitroklearis
A. Pada wanita, inspeksi payudara dengan kedua lengan dilemaskan, kemudian
diangkat dan selanjutnya dengan kedua tangan ditaruh di pinggang.
B. Palpasi payudara : benjolan, neri tekan, tekstur massa
C. Pada laki-laki atau wanita, inspeksi aksila dan palpasi kelenjar limfe (nodus)
aksilaris serta nodus epitroklearis
170
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
12. Sistem kardiovaskular
A. Pengukuran JVP
B. Tinggikan kepala pasien hingga 300 untuk melakukan observasi pulsasi vena
jugularis dan ukur tekanan vena jugularis terhadap angulus sterni
C. Inspeksi : bentuk dada dan iktus kordis
D. Palpasi
i. Letak iktus kordis pada 3 posisi (terlentang/supinasi, left lateral decubitus,
duduk condong ke depan). Kemudian laporkan lokasi, diameter,
amplitudo, dan durasi ulsasi iktus kordis.
ii. Mencari adanya thrill (getaran karena bising jantung)
E. Perkusi
Menentukan batas redam kiri jantung dan kanan jantung
F. Auskultasi
i. Dengarkan bunyi jantung pada daerah apeks kordis dan margo sternalis
inferior dengan mengunakan stetoskop bell.
ii. Dengarkan bunyi jantung pada setiap daerah auskultatorik dengan
stetoskop membran.
iii. Dengarkan : bunyi jantung pertama dan kedua, bunyi jantung tambahan,
bising jantung, dan splitting
13. Abdomen
A. Inspeksi (Pasien dalam posisi terlentang) : bentuk, massa, lesi
B. Palpasi
Palpasi ringan
: menilai lesi pada permukaan atau dalam otot,
membuat pasien relaks sebelum melakukan palpasi
medium dan dalam.
Palpasi medium
: menilai lesi medieval pada peritoneum , massa, nyeri
tekan.
Palpasi dalam
: menilai organ dalam rongga tubuh (hepar, ginjal dan
lien)
dan dapat dilakukan dengan satu atau dua
tangan
C. Perkusi
: hepar, lien, dan daerah posterior pada sudut
kostovertebralis (curiga infeksi ginjal)
D. Auskultasi secara menyeluruh
171
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
14. Ekstremitas Bawah
A. Pasien berbaring
i. Sistem vaskuler perifer
a. Inspeksi : edema, perubahan warna kulit atau ulkus
b. Palpasi : denyut nadi femoralis, nadi poplitea, kelenjar limfe
inguinalis, gejala pitting edema
ii. Sistem Muskuloskeletal
a. Inspeksi : deformitas atau pembengkakan sendi
b. Palpasi sendi dan tindakan manuverPeriksa range of movement
(ROM) : keterbatasan gerak
iii. Sistem saraf
a. Periksa untuk menilai massa, tonus, dan kekuatan otot
b. Pemeriksaan sensorik dan refleks (fisiologis dan patologis)
B. Pasien berdiri
i. Sistem vaskular perifer
Inspeksi vena varikosa
ii. Sistem muskuloskeletal
Pemeriksaan untuk menilai kelurusan tulang belakang dan ROM,
kelurusan tungkai dan kedua kaki.
iii. Genitalia dan hernia pada laki-laki
Periksa penis serta isi skrotum untuk mencari hernia.
iv. Sistem saraf
a. Amati cara pasien berjalan dan kemampuan berjalan dengan
telapak kaki, berjinjit pada ujung jari kaki, berjalan dengan tumit,
melompat di tempat, dan menekuk lutut
b. Lakukan tes Romberg
15. Sistem saraf
A. Status mental
B. Nervus kranialis
C. Sistem motorik
i. Massa otot, tonus, dan kekuatan otot
ii. Fungsi serebellum : gerakan silih berganti yang cepat, point-to-point
movements, finger-to-nose, dan lain – lain.
172
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
D. Sistem sensorik
i. Tes nyeri, suhu, sentuhan lembut, vibrasi, dan diskriminasi.
ii. Bandingkan sisi kanan dan kiri serta proksimal dengan distal pada
tungkai.
E. Refleks : refleks fisiologis dan patologis
16. Pemeriksaan tambahan
A. Rectal toucher pada pria
i. Inspeksi daerah sakrokoksigeal dan perianal
ii. Palpasi anus, rektum dan prostat
B. Genitalia dan rektum pada wanita
i. Periksa genitalia eksterna, vagina, dan serviks
ii. Lakukan Pap smear, rektovagina, dan rektum
iii. Palpasi uterus dan adneksa
3. Pengisian Medial Record
Menurut Permenkes RI No269/Menkes/PER/III/2008, medical record atau rekam
medis kesehatan adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas
pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan pelayanan lain yang telah diberikan
kepada pasien.
3.1 Manfaat:
3.1.1 Pengobatan Pasien
Rekam medis bermanfaat sebagai dasar dan petunjuk untuk merencanakan dan
menganalisis penyakit serta merencanakan pengobatan, perawatan dan tindakan
medis yang harus diberikan kepada pasien.
3.1.2 Peningkatan Kualitas Pelayanan
Membuat rekam medis bagi penyelenggaraan praktik kedokteran dengan jelas
dan lengkap akan meningkatkan kualitas pelayanan untuk melindungi tenaga
medis dan untuk pencapaian kesehatan masyarakat yang optimal.
3.1.3 Pendidikan dan Penelitian
Rekam medis yang merupakan informasi perkembangan kronologis penyakit,
pelayanan medis, pengobatan dan tindakan medis, bermanfaat untuk bahan
173
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
informasi bagi perkembangan pengajaran dan penelitian di bidang profesi
kedokteran dan kedokteran gigi.
3.1.4 Pembiayaan
Berkas rekam medis dapat dijadikan petunjuk dan bahan untuk menetapkan
pembiayaan dalam pelayanan kesehatan pada sarana kesehatan. Catatan tersebut
dapat dipakai sebagai bukti pembiayaan kepada pasien.
3.1.5 Statistik Kesehatan
Rekam medis dapat digunakan sebagai bahan statistik kesehatan, khususnya
untuk mempelajari perkembangan kesehatan masyarakat dan untuk menentukan
jumlah penderita pada penyakit-penyakit tertentu.
3.1.6 Pembuktian Masalah Hukum, Disiplin dan Etik
Rekam medis merupakan alat bukti tertulis utama, sehingga bermanfaat dalam
penyelesaian masalah hukum, disiplin dan etik.
3.2 Isi Rekam Medis
3.2.1 Rekam Medis Pasien Rawat Jalan
Isi rekam medis sekurang-kurangnya memuat catatan/dokumen tentang :
1. Identitas pasien
2. Pemeriksaan fisik
3. Diagnosis/masalah
4. Tindakan/pengobatan
5. Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien
3.2.2 Rekam Medis Pasien Rawat Inap
Rekam medis untuk pasien rawat inap sekurang-kurangnya memuat :
1. Identitas pasien
2. Pemeriksaan
3. Diagnosis/masalah
4. Persetujuan tindakan medis (bila ada)
5. Tindakan/pengobatan
6. Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien
3.3 Jenis Rekam Medis
1. Rekam medis konvensional
2. Rekam medis elektronik
174
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3.4 Pengisian Rekam medis secara umum
Pengisian rekam medis pasien harus lengkap dan akurat.
3.4.1 Pada identitas harus diisi lengkap meliputi :
1. Nama
2. Jenis kelamin
3. Tempat tanggal lahir
4. Umur
5. Alamat
6. Pekerjaan
7. Pendidikan
8. Golongan darah
9. Status pernikahan
10. Nama orang tua
11. Pekerjaan orang tua
12. Nama suami/istri
3.4.2 Pada anamnesis dituliskan :
1. Keluhan utama
2. RPS
3. RPD
4. Pada pasien bayi/anak ditambah :
A. Riwayat kehamilan ibu dan persalinan
B. Status imunisasi
C. Pohon keluarga
D. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan pasien
E. Riwayat pemberian makanan
3.4.3 Pada pemeriksaan fisik dituliskan :
1. Kesan umum
2. Tanda vital
3. Inspeksi
4. Palpasi
5. Perkusi
6. Auskultasi
7. Untuk pasien anak ditambah status gizi
175
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3.4.4 Diagnosis/masalah
3.4.5 Rencana penatalaksanaan atas masalah pasien, pengobatan, atau tindakan
3.4.6 Pemeriksaan laboratorium
Penulisan rekam medis harus sesuai dengan tata cara penulisan rekam medis yaitu
:
1. Ditulis secara lengkap dan menyeluruh
2. Ada nama, waktu, dan tandatangan dokter atau tenaga kesehatan yang
melakukan pelayanan kesehatan, PIN (pada rekam medis elektronik).
3. Tidak boleh diganti/ dihapus.
4. Bila keliru harus dicoret dan kemudian dibenarkan dan diberi paraf
REFERENSI
1. Bickley, Lynn S, Peter. 2002. Buku Ajar Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan.
EGC. Jakarta
2. Anderson FD, Maloney JP. Taking blood pressurecorrectly: it's no off-the-cuff matter.
Nursing 1994;24:34-39.
3. American Pharmaceutical Association Comprehensive Weight Management Protocol
Panel. APhA drug treatment protocols: comprehensive weight management in adults.
J Am Pharm Assoc 2001;41:25-31.
4. Hidayat, Syamsu. 2006. Manual Rekam Medis. Konsil Kedokteran Indonesia.
Jakarta
5. Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of
High Blood Pressure. The Seventh Report of the Joint National Committee on
Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC-VII).
NIH publication 03-5233. Bethesda, 2003.
6. National Heart, Lung, and Blood Institute. Clinical Guidelines on the
Identification, Evaluation, and Treatment of Overweight and Obesi ty in Adul ts.
NIH publication 98-4083. Bethesda, 1998.
7. Teasdale G, Jennett B. Assessment of coma and impaired consciousness. Lancet
1974; 81-84.
8. The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection,
Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC‐VII). NIH Publication
03‐5233. Bethesda, 2003
176
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
FARMAKOLOGI PRAKTIS
1.
AINS (Anti Inflamasi Non Steroid)
Inflamasi adalah nama lain dari radang, dimana ditandai dengan tanda: merah, panas,
bengkak, nyeri, dan gagalnya fungsi. Obat ini diberikan untuk mengatasi radang dengan
ciri-ciri diatas.Obat AINS menghambat suatu enzim bernama siklooksigenase (COX 1
dan COX2), yang nantinya mengubah asam arakidonat menjadi ProstaglandinE2. COX 1
mempunyai fungsi yang baik yaitu proteksi lambung, namun COX 2 untuk peradangan.
AINS ada yang menghambat COX 2 saja dan ada yang sekaligus, sehingga obat AINS ini
mempunyai efek samping terhadap Lambung (iritasi lambung)
Berikut pembagian obat AINS:
1.1 Meloxicam 7,5 mg
Keterangan:
Meloxicam merupakan AINS derivate asam enolat yang bekerja dengan cara
menghambat biosintesis prostaglandin yang merupakan mediator inflamasi melalui
penghambatan COX 2 sehingga proses inflamasi dapat dihambat tanpa efek samping
terhadap ginjal dan GIT.
Dosis :
1. Pada OA: 7,5 mg 1x1 hari, jika diperlukan dapat ditingkatkan 15mg 1 hari
2. Pada RA: 15 mg 1x 1 hari, dapat dikurangi menjadi 7,5 mg/hari tergantung
respon klinis.
Untuk pasien resiko tinggi dan gagal ginjal diberi dosis awal 7,5 mg 1x1 hari
Indikasi
: OA dan RA
Efek samping :
1. Gangguan GI: sakit perut, konstipasi, diare, dyspepsia, flatus, mual, muntah.
2. Seluruh tubuh: edema, nyeri
3. SSP: pusing, sakit kepala
4. Hematologi: anemia
5. Muskuloskeletal: arthralgia, back pain
6. Psikiatri: insomnia
7. Pernafasan: batuk, infeksi saluran nafas
8. Kulit: pruritus, rash
9. Saluran kemih : peningkatan miksi, infeksi saluran kemih.
177
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.2 Natrium Diklofenak 25 mg
Keterangan
:
Mempunyai efek alnalgesik dan antipiretik. Menghambat aktivitas siklooksigenase
melalui pengurangan produksi prostaglandin oleh jaringan.
Indikasi :
Pengobatan akut dan kronis gejala rheumatoid artiritis, osteoarthritis, dan ankilosing
spondylitis.
Dosis
:
Dewasa 75-150 mg sehari: 2-3 kali dosis terbagi sebelum makan.
Efek samping
1. GIT
: perdarahan git, tukak lambung, usus, perforasi pasien tukak lambung
dan usus.
2. SSP
: pusing, sakit kepala, mycolonix, encephalopathy, mual,muntah kejang
3. Lokal
: rasa nyeri, terbakar pada tempat injeksi, pada kejadian yang terbatas
abses dan nekrosis local
Kejadian terbatas: reaksi kulit yang parah (erythema multiforme, steve Johnson
syndrome, lyell.s syndrome, reaksi bolus), dan fotosensitivitas
1.3 Piroxicam
Dosis:
Sediaan 10 mg dan 20 mg
Dewasa: RA, OA, Spondilitis: dosis awal 20 mg dalam dosis tunggal. Dosis
pemeliharaan 20 mg sehari.
Gout akut: mula mula 40 mg sehari dosis tunggal, diikuti 4-6 hari berikutnya 40mg
dosis tunggal atau terbagi.
Gang. Musculoskeletal akut: 40 mg sebagai dosis tunggal atau terbagi selama 2 hari,
selanjutnya 20 mg 7-14 hari.
Keterangan
Antiinflamasi, analgetik dan antipiretik. Diperkirakan dapat menghambat biosintesis
prostaglandin melalui penghambatan yang reversible terhadap enzim siklooksigenase.
178
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Indikasi
Terapi simptomatik rematoid artritis, osteoarthritis, ankilosing spondylitis, gangguan
musculoskeletal akut, dan gout akut.
Efek Samping
Gangguan GIT: stomatitis, anoreksia, distress epigastricum, mual, konstipasi, stomach
discomfort, nyeri abdomen.
Edema, pusing ,sakit kepala, ruam kulit, pruritis, penurunan hemoglobin dan
hematokrit.
1.4 Asam Mefenamat
Dosis: 500 mg.
Dewasa dan anak >14 thn: dosis awal 500 mg, selanjutnya 250 mg tiap 6 jam. Sesuai
kebutuhan setelah makan.
Keterangan
Merupakan senyawa turunan asam antranilat dengan efek Analgesi, Antiinflamasi yang
bekerja
menghambat
aktivitas
enzim
siklooksigenase,
sehingga
menurunkan
pembentukan prekursos prostaglandin dan tromboksan dan asam arakhidonat, secara
kompetitif menghambat ikatan prostaglandin dengan reseptornya.
Indikasi
Menurunkan rasa nyeri ringan sampai sedang, pengobatan tidak lebih dari 1 minggu.
Efek Samping
Permasalahan GIT (diare,mual,muntah,nyeri perut,konstipasi), hemolitis, sakit kepala,
vertigo, pusing. Perhatian untuk penderita tukak saluran cerna, anak dibawah 14 tahun,
wanita hamil, gangguan fungsi ginjal.
1.5 Paracetamol
Dosis
Sediaan Paracetamol 500 mg
Dewasa: 3dd1 1-2 kaplet
Anak-anak: 3dd1 ¨ù-1 kalpet
Keterangan
Analgetik antipiretik yang cepat diabsorbsi tanpa menimbulkan iritasi lambung,
konstipasi.
179
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Indikasi
Untuk menyembuhkan demam dan berbagai nyeri pada: sakit kepala, otot, sendi, gigi,
influenza, nyeri haid, demam, nyeri karena peradangan.
Efek Samping
Reaksi alergi: urtikaria/eritem, mual, muntah.
2. OBAT MAAG
2.1 Antasida
Dewasa: maag= diminum saat perut kosong dapat mengurangi nyeri 20-60 menit
Guna: Merupakan basa basa lemah untuk menetralkan asam lambung, sehingg dapat
meningkatkan pH. Dipakai pada tukak lambung usus dengan rasa terbakar pada hati,
maag, dan refluks gastroesofagus (kondisi dimana HCl dapat naik ke atas lambung).
Beberapa obat mempunyai fungsi melindungi permukaan antacid.
2.2.AH-2: Cimetidine
Reseptor histamin terdiri dari histamin 1, 2, 3.Histamin 1 baca di anti alergi. Reseptor
Histamin 2 yang diisi oleh histamin dapat menyebabkan peningkatan asam lambung dan
pepsin naik karena dapat memperbanyak pengeluaran HCl melalui protein kinase.
Dosis sediaan: 400mg
Dewasa: maag= 1 kali sehari setelah makan malam
Guna: Menghambat reseptor histamine H2 di lambung yang memicu produksi asam
klorida, sehingga PH lambung meningkat menjadi 6-7. Dipakai sebagai obat maag,
tukak lambung dan usus.
Efek Samping: diare (sementara), nyeri otot, pusing-pusing, reaksi kulit.
2.3 PPI: Omeprazole
Dosis Sediaan 20 mg
Dewasa: 20 mg atau 40 mg sekali sehari.
Guna: Menyebabkan penghambatan asam lambung, dipakai pada maag yang tidak
mempan obat AH-2 (cimetidine) atau maag kronis.
Efek Samping: Jangka panjang perlu diperhatikan pertumbuhan bakteri berlebihan di sel
cerna (karena fungsi asam lambung/HCl untuk membunuh bakteri)
180
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3. OBAT DIARE
3.1 Loperamide
Dosis Sediaan 2 mg.
Dewasa: 4 mg (2tablet dulu) baru diikut 2 mg berikutnya setelah BAB. Maksimal 8
tablet 1 hari
Guna: Mengurangi gerak peristaltic usus sehingga mengurangi motilitas/pergerakan dan
menormalisasikan sel-sel yang hipersekresi. Baik untuk diare akut dan diare wisatawan
tanpa darah dan tidak demam
Efek Samping: mual,muntah, pusing, mulut kering, kemerahan kulit
3.2 Attapulgite
Dewasa: 1,2-1,5 gram setiap BAB. Maksimal 9 gram sehari
Guna: Mengabsorbsi kuman, racun yang menyebabkan diare, mengurangi kehilangan
cairan tubuh, mengurangi frekuensi diare, dan memperpadat konsistensi feses
Efek Samping: sembelit
4. MUAL MUNTAH
4.1 Metoclorpramid
Sediaan: 1 tablet 10 mg
Dewasa: 3xsehari 5-10 mg
Guna
: Memperkuat pergerakan dan pengosongan lambung (berdasarkan stimulasi
saraf kolinergis, khasiat dopamine di pusat dan perifer), serta kerja langsung otot polos.
Antiemetis/anti mual muntah karena blockade dopamine di CTZ
Dipakai pada semua jenis mual/muntah, kecuali oleh mabok jalan/mabuk darat
Efek samping: mengantuk dan gelisah
4.2 Domperidone
Sediaan: 1 tablet 10 mg
Dewasa: 3xsehari 10-20 mg sebelum makan
Guna: memperkuat pergerakan dan pengosongan lambung. Antiemetis/anti mual
muntah karena blockade dopamine di CTZ.
Dipakai untuk mual muntah selain mabuk darat, mis: pada kemoterapi dan migraine,
dan kondisi dimana asam lambung dapat kembali ke esophagus.
Efek samping: alergi, kaku otot usus
181
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4.3 Dimenhidrinat
Sering dikenal dengan nama antimo. Merupakan jenis anti histamine 1 (baca dibawah)
Dewasa: sebelum perjalanan 50-100mg satu kali.
Guna
: - Mabuk jalan dan muntah karena kehamilan
Efek samping: mengantuk berat
5. ANTI ALERGI
Anti Histamin I: Mengantagonis histamin dengan memblok reseptor H1 yang
terdapat di otot pembuluh, bronkus, saluran cerna, kandung kemih, rahim, dan kapiler.
Efek histamin adalah: kontraksi otot polos bronkus, usus rahim; memperlebar pembuluh
darah (dapat menyebabkan penurunan tekanan darah); permeabilitas kapiler meningkat
(akibatnya udem/bengkak/bentol pada kulit); pengeluaran berlebihan ingus, air mata,
ludah; stimulasi ujung saraf sehingga merah dan gatal-gatal.
Bagaikan kursi (reseptor) yang dapat ditempati manusia (bagaikan histamin atau
antihistamin), kerja histamin dan anti histamin adalah saling berebut kursi (reseptor).
Tidak dapat menghindarkan timbulnya reaksi alergi, sehingga baiknya digunakan
sebelum paparan alergen (misalnya alergi udang, sehingga makan antihistamin dahulu
sebelum makan udang).
5.1 Obat anti histamine 1 generasi 1: obat ini menyebabkan mengantuk
5.1.1 CTM
Sediaan 4mg
Dewasa: 3x1 sehari. Tidak melebihi 24 mg satu hari
Guna: - Reaksi alergi misalnya rhinitis allergic (bersin karena alergi), dapat
menjadi tambahan pada obat batuk
Efek samping: mengantuk
5.2 Obat anti histamine 1 generasi 2: tidak sedative dan waktu kerja obat lebih panjang
5.2.1 Cetirizine dan loratadine
Sediaan 10 mg
Dewasa: 1 x 10 mg per HARI
Guna: Penggunaan pada reaksi alergi. Pada rhinitis(bersin karena alergi), gatalgatal/biduran (urtikaria)
Efek samping: sakit kepala, bibir kering
182
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
6. OBAT ASMA
Pada asma terjadi hal-hal berikut:
1. Inflamasi/radang saluran pernafasan : terjadinya pengeluaran berlebihan lendir,
penebalan otot polos.
2. Obstruksi/terhalangnya pengeluaran nafas: terjadi karena bengkaknya saluran
pernafasan, konstriksi otot sal.pernafasan, pembentukan lendir. Hal ini
menyebabkan kesulitan mengeluarkan nafas (ekspirasi)
3. Hyperresponsive/reaksi berlebihan bronkus
Obat pada asma terdiri dari obat pereda cepat (quick reliever) dan controller.
6.1 Quick Reliever:
6.1.1 Salbutamol (Beta 2 agonis)
Sediaan 2 dan 4 mg
Bekerja pada reseptor B2 (banyak di trakea dan bronkus) yang menyebabkan
pengubahan ATP menjadi cAMP sehingga menyebabkan bronkodilatasi atau
pelebaran otot bronkus yang baik untuk asma (baca penyebab asma di atas)
Dosis: 2-4 mg pada spasme akut. Maksimal 32 mg/hari
Guna: Penggunaan pada reaksi asma. Dapat berupa inhaler dan berfungsi untuk
pereda asma yang mempunyai efek cepat
6.1.2 Aminofilin (meltilxantin)
Bekerja dengan merelaksasi otot paru dan bronkus dan menyebabkan paru kurang
sensitive terhadap allergen.
Guna: Penggunaan pada reaksi asma
7. OBAT FLU BATUK
7.1 Flutamol (PCT, Fenil Propanolamin HCL,CTM, Gliseril Guaiakolat)
Dosis
Sediaan: PCT (500 mg), Fenil propanolamin HCl 15 mg, CTM 2 mg, Gliseril
Guaiakolat 50 mg
Dewasa: 1 kaplet. 3-4x sehari
Anak 6-12 tahun L ¨ö kaplet, 3x sehari
183
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Indikasi
Analgesik
antipiretik/pereda
nyeri
dan
penurun
suhu
tubuh
(PCT),
ekspektoran/perangsang pengeluaran dahak (GG), antihistamin/untuk meredakan
rangsangan batuk/gatal (CTM), dekongestan hidung/penyempit pembuluh darah dan
hipersekresi (Fenilpropanolamin HCL). Untuk meringankan gejala flu: demam, sakit
kepala, hidung tersumbat, dan bersin bersin disertai batuk
Efek Samping
Mengantuk, gang pencernaan, gang psikomotor, takikardi, aritmia, mulut kering,
palpitasi, retensi urin.Jangka panjang dan dosis besar menyebabkan kerusakan hati.
8. KORTIKOSTEROID
8.1 Dexametason
Sediaan: 0.5 mg. Dosis tergantung kebutuhan/berat ringannya penyakit.
Untuk alergi: Dewasa : Awal, 0,75-9 mg/hari, terbagi dalam 2-4 dosis.
Indikasi Obat anti inflamasi (radang) yang kuat dan anti allergi (asma bronkial,
dermatitis atopik, alergi obat, rinitis alergi)
Efek Samping
Bila berkepanjangan dapat mengakibatkan efek katabolik steroid seperti kehabisan
protein, osteoporosis dan penghambatan pertumbuhan anak dll.
8.2 Metilprednisolon
Sediaan: 4 mg.
Dewasa, tergantung penyakit: 4-48 mg.
Keterangan
Glukokrtikoid turunan prednisolone dengan efek kerja dan penggunaan yang sama
seperti senyawa induknya. Tidak mempunyai aktifitas retensi natrium.
Indikasi
Peradangan kulit dan saluran nafas tertentu, penyakit hematologik, hiperkalsemia terkait
kanker, abnormalitas fungsi adrenokortikal, penyakit kolagen, alergi.
Efek Samping
Pemberian jangka panjang/dosis besar pada gangguan elektrolit dan cairan tubuh, lemah
otot, resistensi terhadap infeksi menurun, gangguan penyembuhan luka, meningkatnya
tekanan darah, katarak, gangguan pertumbuhan pada anak.
184
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
9. ANTIBIOTIK
9.1 Amoxicilin 500 mg
Keterangan: Turunan penisilin semi sintetik dan stabil dalam suasana asam lambung.
Amox diabsorbsi cepat dan baik pada saluran pencernaan tidak bergantung ada/tidaknya
makanan.Amox aktif terhadap organisme gram positif dan negative.
Indikasi:
1. Infeksi kulit dan jaringan lunak : Stafilokokus bukan penghasil penisilinase,
Streptokokus, E coli.
2. Infeksi saluran nafas: H Influenza, Streptokokus pneumoni, Stafilokokus bukan
penghasil penisilinase, E. Coli.
3. Infeksi saluran genitourinary: E coli, P mirabilis, Streptokokus faecalis.
4. Gonorrhea: N gonorrhea
Dosis: Dewasa dan anak bb >20kg: 250-500 mg tiap 8 jam
Efek samping :
1. Reaksi kepekaan: Erythema maculopapular rashes, urtikaria, serum sickness
2. Reaksi kepekaan seperti anafilaksis
3. Gangguan sal pencernaan: mual, muntah, diare
4. Reaksi hematologi
9.2 Cefadroxil 500 mg
Keterangan: Merupakan antibiotic semisintetik golongan Cephalosporin yang bersifat
bakterisid terhadap mikroorganisme gram positif dan gram negatif. Bekerja
menghambat pembentukan dinding sel mikroorganisme.
Dosis dewasa: sehari 1-2 g
Anak-anak : sehari 25-50 mg/kg berat badan, dibagi dalam 2 dosis.
Pengobatan 2-3 hari sampai setelah gejala infeksi hilang
Indikasi:
Infeksi sedang dan berat:
1. Infeksi saluran nafas atas dan bawah
2. Infeksi kulit dan jaringan lunak
3. Infeksi traktus genitouria
4. Osteomielitis dan artritis septik
Efek samping : Diare, mual, muntah, gatal, angioedema, pseudomembran colitis
185
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
10. OBAT ANTI HIPERTENSI
10.1 Captopril
Indikasi: Penghambat ACE efektif untuk hipertensi ringan, sedang, berat, hipertensi,
gagal jantung kongestif
Dosis: 25-100mg/2x pemberian/hari
Kontraindikasi: Hamil trimester 2 dan 3
Efek Samping: Batuk kering, rash, disgeusa
10.2 HCT
Indikasi: Hipertensi dengan fungsi ginjal normal
Dosis: 12,5-25mg/1x pemberian/hari
Efek Samping: Hipokalemi meningkatkan efek toksin, obat digitalis, hiper Ca,
hiperglikemia, urisemia, hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia
10.3 Nifedipine
Dosis: 15-30 mg/3x pemberian/hari
Efek samping: Hipotensi, reflek simpatis kuat, ex: takikardia, palpitasi
10.4 Furosemid
Indikasi: Lebih efektif daripada Tiazid (HCT) untuk hipertensi dengan gangguan fungsi
ginjal atau gagal jantung
Dosis: 20 (1x) . 80mg/2x pemberian/hari
Efek Samping: Hipokalemi meningkatkan efek toksin, obat digitalis, hiper Ca,
hiperglikemia, urisemia, hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia
11. CARA PENULISAN RESEP OBAT
Berikut beberapa singkatan dalam resep :
a.c (ante coenam)
= sebelum makan
p.c (post coenam)
= setelah makan
a.j (ante jentaculum)
= sebelum makan pagi
p.r.n (pro renatera)
= jika perlu
ad libit (ad libitum)
= sesuka hati
pulv (pulveratus)
= diserbukkan
186
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
im
= intramuskular
iv
= intravena
ue (usus externus)
= pemakaian luar
ui (usus internus)
= pemakaian dalam
sc
= sub cutan
col. Or (colutio oris)
= kumur-kumur
sup.
= supositoria
Contoh Cara Penulisan dan Baca Resep
Kasus : “pasien dengan keluhan panas batuk berdahak, pilek, sudah 3 hari”
Dx/Diagnosis : common cold
R/ Amoxicillin tab No X
ʃ3 dd tab I
R/ GG tab No X
ʃ3 dd tab I
R/ CTM tab No X
ʃ3 dd tab I
R/ Vit C tab No X
ʃ3 dd tab I
Cara baca :
Ambil amoxicillin, GG, CTM, Vit C masing-masing 10 tablet, diberikan 3x1/hari
Ket : R/ = recipe (ambillah)
Tab = tablet
Dd = de die (sehari)
Catatan : setiap menulis resep obat digarisbawahi dan diberi paraf.
Cara baca resep yang lain :
R/ Allopurinol tab 100 mg No X
ʃ1-1-1
Artinya : Allopurinol bentuk : tablet, dosis : 100 mg. Jumlah : 10 tablet, diminum 3x sehari
masing-masing 1 tablet.
187
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
R/ Hct 25 mg tab No X
ʃ 1-0-0
Artinya :Hidrocloritiazid dosis 25 mg, jumlah 10 tablet, diminum 1x pada pagi hari.
R/ Paracetamol syrup 60ml flac No I
ʃ 3 dd Cth 1
Kalau kodenya
Ket :
C :Cochlear (cobarium) = sendok makan
Cth : Cochlear thease = sendok teh
Flac : flacon
R/ Amox
Pct
GG
1
1
2
1
2
2
Vit C 1 2
Saccarom lastic QS
Mfl pulv dtd No IX
ʃ 3 dd pulv I
Ket :kita buat puyernya masing-masing sejumlah ¨ö x 9 = 3 tablet. Saccarom lactis adalah
suatu pemanis.
mfla : misce fag lege artis : campur dan buat menurut cara semestinya
dtd : de tales doses : berikan sebanyak dosis tersebut
11.1 Obat Tetes
R/ erlamycetin ED flac No I
ʃ 3 dd gtt 1-2 ODS
Cara baca :1 flacon erlamycetin 1-2 tetes, 3x sehari pada mata/ telinga kanan-kiri
tergantung bagian mana yang sakit.
11.2 Obat Luar
R/ 2-4 zalf tube I
ʃ Ue
R/ Hidrocortison 1% cream tube I
ʃ Ue
Ket :Ue = Usus Externus
188
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
11.3 Obat Diare
R/ medocair/ Diatab tab X
ʃ 2-1-1
Catatan :
untuk obat diare 2-1-1 bukan dibaca 2 pagi, siang dan malam 1
Maksud dari resep ini adalah setelah pasien menerima obat, diare
pertama setelah itu diberi minum obat sebanyak 2 tablet. Kemudian
untuk diare berikutnya cukup 1 tablet dan kalau diare sudah berhenti
dihentikan penggunaannya untuk menghindari sembelit.
11.4 Resep Injeksi
R/ ectacobalamin inj 1 cc
ʃ Imm
Ket : Imm : in monum medici : berikan ke tangan dokter
Inj : injection : suntik
189
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
KASUS-KASUS MEDIS NON EMERGENCY
1. Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA)
1.1 Definisi
Merupakan Infeksi pada bagian saluran pernafasan atas; yaitu hidung, sinus dan
faring. Sehingga ISPA ini terdiri dari rinitis, sinusitis, epiglotitis, laringitis, faringitis
dan juga common cold. Infeksi ini dapat diakibatkan oleh virus, mikroba maupun fungi.
1.2 Gejala dan Tanda
Pada infeksi yang disebabkan virus, umumnya ditemukan keadaan sebagai berikut
(contoh viral nasopharyngitis):
1. Eritema mukosa hidung dan edema
2. Nasal discharge: discharge yang banyak lebih khas pada infeksi virus, sekresi
yang pada awalnya jernih biasanya menjadi putih berawan, kuning, atau hijau
selama beberapa hari.
3. Napas berbau busuk
4. Demam: jarang pada orang dewasa, tetapi mungkin ada pada anak-anak dengan
infeksi rhinoviral.
Sedangkan pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri, ciri-cirinya sebagai berikut
(contoh Group A streptococcal pharyngitis):
1. Eritema, pembengkakan, atau eksudat tonsil atau faring
2. Suhu 38,3 ° C (100,9 ° F) atau lebih tinggi
3. Pembesaran nodus cervicalis anterior (≥ 1 cm)
4. Tidak adanya konjungtivitis, batuk, dan rhinorrhea; yang merupakan gejala
dari ISPA yang disebabkan virus
1.3 Penyakit
1.3.1 Sinusitis
Dalam wajah kita terdapat suatu rongga yang disebut dengan para-nasal sinus.
Terdapat 4 pasang sinus; sinus maxillary, ethmoid, sphenoid, frontal. Sinus ini
memiliki lapisan mukosa, jika lapisan ini terinfeksi maka produksi mukosa akan
meningkat, sehingga sinus ini akan dipenuhi oleh mukosa. Pengeluaran mukosa
berlebihan ini melalui nasal cavity. Terkadang inflamasi karena infeksi tersebut
190
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
akan mengakibatkan obstruksi saluran menuju nasal cavity, sehingga mukosa
akan menumpuk di sinus, sehingga akan mengakibatkan sakit kepal.
Sinus juga berfungsi untuk resonansi suara. Sehingga, jika sinus terpenuhi
oleh mukosa maka resonansi suara ketika orang berbicara akan berbeda. Maka
orang yang terkena sinusitis akan memiliki suara yang berbeda dengan biasanya.
1.3.2 Epiglotitis
Epiglotis merupakan suatu tulang rawan yang tertutup lapisan epitel, dimana
epiglotis ini tertempel di bagian anterior tulang rawan tiroid.
Epiglotis ini
berfungsi untuk menghindari makanan masuk ke dalam saluran nafas. Ketika
makanan masuk maka faring dan laring akan naik dan epiglotis menutupi saluran
nafas sementara.
Ketika epiglotis terinfeksi maka akan ada bahaya obstruksi saluran nafas.
Infeksi sebagian besar diakibatkan oleh bakteri Haemophilus influenzae.
Biasanya terjadi pada anak-anak karena ukuran saluran nafasnya lebih kecil,
sehingga lebih mudah mengalami obstruksi. Pada kasus ini sangat dihindari untuk
menekan lidah untuk melihat obstruksi, karena akan memperparah obstruksi.
Bunyi yang diakibatkan oleh obstruksi ini adalah stridor.
1.3.3 Laringitis
Merupakan kondisi inflamasi dari laring, dimana paling sering terjadi karena
suatu infeksi atau pun akibat dari suatu iritan seperti asap rokok. Inflamasi dari
laring dapat mengakibatkan perubahan suara pada pasien, karena inflamasi ini
dapat menghambat pita suara dalam bergetar secara bebas.
1.4 Prinsip Penatalaksanaan Awal
Kebanyakan infeksi saluran pernapasan atas dapat didiagnosis dan diobati sendiri di
rumah oleh kebanyakan orang pada umumnya. Terapi simtomatis merupakan andalan
pengobatan ISPA pada orang dewasa dengan sistem imun yang baik, meskipun terapi
antimikroba atau antiviral yang tepat dibutuhkan pada pasien tertentu.
2. Common Cold
Umumnya sama dengan prinsip pada ISPA.
191
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3. Cephalgia
Rasa nyeri atau rasa tidak mengenakkan pada daerah atas kepala memanjang dari
orbital sampai ke daerah belakang kepala (area oksipital dan sebagian daerah tengkuk).
Klasifikasi ini secara garis besar membagi nyeri kepala menjadi dua yaitu nyeri kepala
primer dan nyeri kepala sekunder.
Nyeri kepala primer kemudian dibagi menjadi empat kategori yaitu:
1. Migraine
2. Nyeri kepala tipe tegang
3. Nyeri kepala cluster – trigerminal
4. Nyeri kepala primer lainnya.
Nyeri kepala sekunder
1. Nyeri kepala pasca trauma
2. Nyeri kepala organik
3. Perdarahan subaracnoid, neuralgia trigeminus.
4. Penyakit sistemik
5. Sesudah pungsi lumbal
3.1 Gejala dan Tanda
3.1.1 Migren
Migren adalah gejala kompleks yang mempunyai karakteristik pada waktu
tertentu dan serangan sakit kepala berat yang terjadi berulang-ulang. Penyebab
migren tidak diketahui jelas, tetapi ini dapat disebabkan oleh gangguan vaskuler
primer yang biasanya banyak terjadi pada wanita dan mempunyai kecenderungan
kuat dalam keluarga.
Tanda dan gejala adanya migren pada serebral merupakan hasil dari derajat
iskhemia kortikal yang bervariasi. Serangan dimulai dengan vasokonstriksi arteri
kulit kepala dam pembuluh darah retina dan serebral. Pembuluh darah intra dan
ekstrakranial
mengalami
dilatasi,
yang
menyebabkan
nyeri
dan
ketidaknyamanan.
192
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3.1.2 Cluster Headache
Cluster Headache adalah bentuk sakit kepal vaskuler lainnya yang sering
terjadi pada pria. Serangan datang dalam bentuk yang menumpuk atau
berkelompok, dengan nyeri yang menyiksa didaerah mata dan menyebar
kedaerah wajah dan temporal. Nyeri diikuti mata berair dan sumbatan hidung.
Serangan berakhir dari 15 menit sampai 2 jam yang menguat dan menurun
kekuatannya.
Tipe sakit kepala ini dikaitkan dengan dilatasi didaerah dan sekitar arteri
ekstrakranualis, yang ditimbulkan oleh alkohol, nitrit, vasodilator dan histamin.
Sakit kepala ini berespon terhadap klorpromazin.
3.1.3 Tension Headache
Stress fisik dan emosional dapat menyebabkan kontraksi pada otot-otot leher
dan kulit kepala, yang menyebabkan sakit kepala karena tegang. Karakteristik
dari sakit kepala ini perasaan ada tekanan pada dahi, pelipis, atau belakang leher.
Hal ini sering tergambar sebagai “beban berat yang menutupi kepala”. Sakit
kepala ini cenderung kronik daripada berat. Pasien membutuhkan ketenangan
hati, dan biasanya keadaan ini merupakan ketakutan yang tidak terucapkan.
Bantuan simtomatik mungkin diberikan untuk memanaskan pada lokasi, memijat,
analgetik, antidepresan dan obat relaksan otot.
3.2 Prinsip Penatalaksanaan Awal
3.2.1 Analgetikum, misalnya :
1. Asam salisilat 500 mg tablet, dosis 150 mg/hari.
2. Metampiron 500 mg tablet, dosis 1500 mg/hari.
3. Asam mefenamat 250 – 500 mg tablet, dosis 750 – 1500 mg/hari.
3.2.2 Penenang / ansiolitik, misalnya :
1. Klordiasepoksid 5 mg tablet, dosis 15-30 mg/hari.
2. Klobazepam 10 mg tablet, dosis 20 – 30 mg/hari.
3. Lorazepam 1-2 mg tablet, dosis 3 – 6 mg/hari.
3.2.3 Antidepresan, misalnya :
1.Maprotiline 25, 50, 70 mg tablet, dosis 25 – 75 mg/hari.
2. Amineptine 100 mg tablet, dosis 200 mg/hari.
3. Anestesia / analgetik lokal misalnya injeksi prokain.
193
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4. Epigastric Pain Syndrome
Nyeri epigastrik mengacu pada reaksi abdominal tertentu yang berhubungan dengan
beberapa gangguan pada epigastrium. Nyeri timbul secara teratur ketika regio epigastrik
mengalami kerusakan. Kerusakan ini dapat terlihat dari aktivitas diaphragma. Rektus
abdominus menimbulkan penonjolan pada dinding abdomen bagian atas. Rasa sakit
tersebut dapat bervariasi dari mulai yang ringan sampai yang berat.
4.1 Gejala dan Tanda
Nyeri epigastrik bervariasi tergantung penyebabnya. Berikut beberapa contoh
penyebab yang dapat menjadi manifestasi dari nyeri epigastrik.
1. Oesophageal Diseases: Kelainan ini merupakan yang umum ditemui namum
memerlukan saran medis bila terdapat gejala regurgitasi, rasa tidak nyaman
pada daerah retro-sternal, dan rasa mulas muncul. Pada refluks terdapat nyeri
dada, sakit tenggorokan, suara serak, batuk kronis, sensasi membengkak di
tenggorokan dan asma.
2. Ulcer Gastric dan Duodenal: Peptic ulcer ditandai dengan adanya
pembentukan ulcer pada dinding duodenal.
3. Hepatobiliary Disorder : Pada kasus ini, terbentuk kristal solid di kandung
empedu yang mempengaruhi cairan empedu, hati dan empedu.
4. Pancreatitis : Inflamasi pankreas yang menyebabkan nyeri pada epigastrium.
194
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4.2 Prinsip Penatalaksaan Awal
Berikut ini adalah obat yang umumnya dipakai untuk nyeri epigastrium yang normal:
1. Cimetidine: dipakai pada ulkus peptikum dengan menghambat produksi asam
lambung. Cimetidine adalah antagonis histamin H2-reseptor yang dipakai oleh
pasien untuk rasa nyeri yang seperti terbakar.
2. Antasida: zat untuk menyeimbangkan keasaman lambung. Natrium bikarbonat
pada obat ini terutama digunakan untuk mencegah maag atau refluks asam.
3. Ranitidin: Ini adalah salah satu pesaing H2-reseptor histamin yang
menghambat produksi asam lambung. Hal ini biasanya digunakan untuk ulkus
peptikum paten dan penyakit gastro-esofagus-refleks (GERD).
4. Ibuprofen: Ini termasuk dalam obat anti-inflamasi non-steroid yang biasanya
memainkan peran penting dalam mengobati demam, pembengkakan dan nyeri.
Obat ini memiliki efek anti-platelet ringan dan juga bertindak sebagai
vasokonstriktor.
5. Diare
Diare adalah peningkatan massa tinja, bertambahnya frekuensi buang air besar atau
fluiditas (tingkat keenceran) tinja yang lebih tinggi. Diare dapat disebabkan oleh
beberapa hal yaitu karena adanya infeksi enteral dan parenteral, imuninodefisiensi, terapi,
maupun karena tindakan tertentu lainnya. Infeksi enteral dapat disebabkan oleh bakteri,
virus, protozoa, dan cacing. Sedangkan infeksi parenteral dapat disebabkan oleh karena
intoksisitas makanan, alergi dan malabsorbsi.
5.1 Gejala dan Tanda menurut Guandallini (2013):
1. Dehidrasi : lesu, kesadaran menurun, membran mukosa kering, mata cekung,
berkurangnya air mata, turgor kulit buruk, perlambatan pengisian kapiler
2. Gagal tumbuh dan kekurangan gizi : berkurangnya massa otot/lemak atau
edema perifer
3. Nyeri perut / kram
4. Borborygmi
5. Eritema perianal
195
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
5.2 Prinsip Penatalaksaan Awal
Untuk penatalaksanaan diare akut pada orang dewasa karena infeksi terdiri atas:
1. Rehidrasi, terdapat empat hal penting yang perlu diperhatikan yaitu: jenis,
jumlah, jalan masuk atau cara dan jadwal pemberian cairan.
2. Identifikasi penyebab diare akut karena infeksi, tentukan jenis diare koleriform
atau disentriform dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan penunjang yang
terarah.
3. Terapi simtomatis, dengan pemberian obat antidiare diberikan sangat hati-hati
atas pertimbangan rasional.
4. Terapi definitif, edukasi yang jelas sangat penting sebagai langkah
pencegahan; higiene perorangan, sanitasi lingkungan dan imunisasi melalui
vaksinasi sangat berarti selain terapi farmakologi.
Sedangkan pada diare kronis penatalaksanaan terdiri dari penatalaksanaan
simtomatis dan kausal. Sebenarnya sebagian besar sama dengan penatalaksanaan
pada diare akut, namun diperlukan bebrapa tambahan yang bersifat simtomatis.
Penatalaksanaan simtomatis terdiri dari rehidrasi, pemberian antispasmodik,
antikolinergik, obat antidiare, antiemetik, vitamin dan mineral, obat ekstrak enzim
pankreas, alumunium hidroksida, fenotiazin dan asam nikotinat. Sedangkan untuk
pengobatan kausal diberikan pada infeksi maupun noninfeksi. Pada diare yang
disebabkan karena infeksi, obat diberikan berdasarkan etiologinya.
6. Disentri
Disentri merupakan peradangan pada usus besar yang ditandai dengan sakit perut dan
buang air besar yang encer secara terus menerus (diare) yang bercampur lendir dan darah.
Berdasarkan penyebabnya disentri dapat dibedakan menjadi dua yaitu disentri amuba dan
disentri basiler. Penyebab yang paling umum yaitu adanya infeksi parasit Entamoeba
histolytica yang menyebabkan disentri amuba dan infeksi bakteri golongan Shigella yang
menjadi penyebab disentri basiler.
6.1 Gejala dan Tanda
6.1.1 Parasit Entamoeba hystolytica hidup dalam usus besar, parasit tersebut
mempunyai dua bentuk, yaitu bentuk yang bergerak dan bentuk yang tidak
bergerak. Parasit yang berbentuk tidak bergerak tidak menimbulkan gejala,
sedangkan bentuk yang bergerak bila menyerang dinding usus penderita dapat
196
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
menyebabkan mulas, perut kembung, suhu tubuh meningkat, serta diare yang
mengandung darah dan bercampur lendir, namun diarenya tidak terlalu sering.
6.1.2 Disentri basiler biasanya menyerang secara tiba – tiba sekitar dua hari setelah
kemasukan kuman/bakteri Shigella. Gejalanya yaitu demam, mual dan muntahmuntah, diare dan tidak napsu makan. Bila tidak segera diatasi, dua atau tiga hari
kemudian keluar darah, lendir atau nanah dalam feses penderita. Pada disentri
basiler, penderita mengalami diare yang hebat yaitu mengeluarkan feses yang
encer hingga 20-30 kali sehari sehingga menjadi lemas, kurus dan mata cekung
karena kekurangan cairan tubuh (dehidrasi). Hal tersebut tidak bisa dianggap
remeh, karena bila tidak segera diatasi dehidrasi dapat mengakibatkan kematian.
Gejala lainnya yaitu perut terasa nyeri dan mengejang.
6.2 Prinsip Penatalaksanaan Awal
6.2.1 Rehidrasi
Dalam keadaan darurat, dehidrasi yang ringan dapat diatasi dengan pemberian
cairan elektrolit (oralit) untuk mengganti cairan yang hilang akibat diare dan
muntah-muntah. Apabila dehidrasi cukup berat, setelah diberi oralit atau larutan
campuran gula dan garam sebagai pertolongan pertama, sebaiknya penderita di
bawa ke rumah sakit untuk diberikan perawatan.
Obat yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi disentri dan diare
diantaranya mempunyai efek sebagai adstringent (pengelat) yaitu dapat
mengerutkan selaput lendir usus sehingga mengurangi pengeluaran cairan diare
dan disentri, selain itu juga mempunyai efek sebagai antiradang, dan antibakteri.
7. Konjungtivitis
Konjunctivitis (konjungtivitis, pink eye) merupakan peradangan pada konjungtiva
(lapisan luar mata dan lapisan dalam kelopak mata) yang disebabkan oleh mikroorganisme (virus, bakteri, jamur, chlamidia), alergi, iritasi bahan-bahan kimia.
7.1 Klasifikasi dan Etiologi
1. Konjungtivitis Bakteri
2. Konjungtivitis Bakteri Hiperakut
3. Konjungtivitis Viral
4. Konjungtivitis Alergi
197
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
5. Konjungtivitis blenore, konjungtivitis purulen (bernanah pada bayi dan
konjungtivitis gonore)
7.2 Gejala dan Tanda
7.2.1 Konjungtivitis Bakteri
Gejalanya, dilatasi pembuluh darah, edema konjungtiva ringan, epifora dan
rabas pada awalnya encer akibat epifora tetapi secara bertahap menjadi lebih tebal
atau mukus dan berkembang menjadi purulen yang menyebabkan kelopak mata
menyatu dalam posisi tertutup terutama saat bangun tidur pagi hari. Eksudasi
lebih berlimpah pada konjungtivitis jenis ini. Dapat ditemukan kerusakan kecil
pada epitel kornea.
7.2.2 Konjungtivitis Bakteri Hiperakut
Sering disertai urethritis. Infeksi mata menunjukkan sekret purulen yang masif.
Gejala lain meliputi mata merah, iritasi, dan nyeri palpasi. Biasanya terdapat
kemosis, kelopak mata bengkak, dan adenopati preaurikuler yang nyeri.
Diplokokus gram negatif dapat diidentifikasi dengan pewarnaan Gram pada
sekret. Pasien biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit untuk terapi topikal
dan sistemik.
7.2.3 Konjungtivitis Alergi
Mata gatal, panas, mata berair, mata merah, kelopak mata bengkak, pada anak
biasanya disertai riwayat atopi lainnya seperti rhinitis alergi, eksema, atau asma.
Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan sel eosinofil, sel plasma, limfosit dan
basofil.
7.2.4 Konjungtivitis Viral
Gejalanya : Pembesaran kelenjar limfe preaurikular, fotofobia ,sensasi adanya
benda asing pada mata. Epifora , kemerahan dan bisa terjadi nyeri periorbital.
Konjungtivitis dapat disertai adenopati, demam, faringitis, ISPA
7.2.5 Konjungtivitis gonore
Tanda – tanda gonore adalah sebagai berikut:
1. Ditularkan dari ibu yang menderita penyakit GO
2. Merupakan penyebab utama oftalmia neonatorum
3. Memberikan sekret purulen padat sekret yang kental
4. Terlihat setelah lahir atau masa inkubasi antara 12 jam hingga 5 hari
5. Perdarahan subkonjungtiva dan kemot
198
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
7.3 Prinsip Penatalaksanaan Awal
7.3.1 Konjungtivitis Bakteri
Sebelum ada hasil pemeriksaan mikrobiologi, dapat diberikan antibiotik
tunggal, selama 3-5 hari. Kemudian bila tidak memberikan hasil yang baik,
dihentikan dan menunggu hasil pemeriksaan. Bila tidak ditemukan kuman dalam
sediaan langsung, diberikan tetes mata disertai antibiotik spektrum obat salep luas
tiap jam mata untuk tidur atau salep mata 4–5x/sehari.
7.3.2 Konjungtivitis Bakteri Hiperakut
Pasien biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit untuk terapi topikal dan
sistemik. Sekret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air bersih atau dengan
garam fisiologik setiap ¼ jam. Kemudian diberi salep penisilin setiap ¼ jam.
Penisilin tetes mata dapat diberikan dalam bentuk larutan penisilin G 10.000 –
20.000 unit /ml setiap 1 menit sampai 30 menit. Kemudian salep diberikan setiap
5 menit selama 30 menit. Disusul pemberian salep penisilin setiap 1 jam selama 3
hari. Antibiotika sistemik diberikan sesuai dengan pengobatan gonokokus.
Pengobatan diberhentikan bila pada pemeriksaan mikroskopik yang dibuat setiap
hari menghasilkan 3 kali berturut – turut negatif.
7.3.3 Konjungtivitis alergi
Penatalaksanaan berupa kompres dingin dan menghindarkan penyebab
pencetus
penyakit.
Biasanya
diberikan
obat
Antihistamin
atau
bahan
vasokonstriktor dan pemberian astringen, sodium kromolin, steroid topikal dosis
rendah. Rasa sakit dapat dikurangi dengan membuang kerak-kerak dikelopak mata
dengan mengusap pelan-pelan dengan salin (garam fisiologis). Pemakaian
pelindung seluloid pada mata yang sakit tidak dianjurkan karena akan
memberikan lingkungan yang baik bagi mikroorganisme.
7.3.4 Konjungtivitis viral
Pemberian antihistamin/dekongestan topikal. Kompres hangat atau dingin
dapat membantu memperbaiki gejala.
7.3.5 Konjungtivitis gonore
Penatalaksanaan pada konjungtivitis gonore berupa pemberian penisilin topikal
mata dibersihkan dari sekret. Pencegahan merupakan cara yang lebih aman yaitu
dengan membersihkan mata bayi segera setelah lahir dengan memberikan salep
kloramfenikol.
199
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
8. Malaria
Malaria adalah penyakit yang berpotensi mengancam nyawa yang disebabkan oleh
infeksi protozoa Plasmodium yang ditransmisikan oleh nyamuk Anopheles betina
infektif. Infeksi Plasmodium falciparum membawa prognosis yang buruk dengan angka
kematian yang tinggi jika tidak diobati, tetapi memiliki prognosis yang sangat baik jika
didiagnosis dini dan diobati dengan tepat.
8.1 Gejala dan Tanda
Pasien dengan malaria biasanya menunjukkan gejala beberapa minggu setelah infeksi,
meskipun simtomatologi dan masa inkubasinya dapat bervariasi, tergantung pada
faktor-faktor host dan spesies penyebab. Gejala klinis meliputi:
1. Sakit kepala (tercantum dalam hampir semua pasien dengan malaria)
2. Batuk
3. Kelelahan
4. Rasa tidak enak
5. Menggigil
6. Arthralgia
7. Mialgia
8. Paroxysm fever, menggigil, dan berkeringat (setiap 48 atau 72 jam, tergantung
pada spesies)
Gejala yang kurang umum adalah sebagai berikut:
1. Anorexia dan lesu
2. Mual dan muntah
3. Diare
4. Penyakit kuning
Kebanyakan pasien dengan malaria tidak memiliki temuan fisik spesifik, tetapi
splenomegali dapat terjadi.
8.2 Prinsip Penatalaksanaan Awal
Terapi bergantung dari spesies penyebab infeksi seperti berikut: Plasmodium
falciparum, P vivax, P ovale, P malariae, P knowlesi. Rekomendasi umum untuk
pengobatan farmakologis malaria adalah sebagai berikut :
200
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1. Malaria P falciparum: terapi Kinin berbasis adalah dengan kinin sulfat ditambah
doxycycline atau klindamisin atau pirimetamin - sulfadoksin, terapi alternatif
adalah artemeter - lumefantrine, atovakuon - proguanil, atau mefloquine.
2. Malaria P vivax, P ovale: Chloroquine ditambah primaquine
3. Malaria P malariae: Chloroquine
4. Malaria P knowlesi: sama seperti malaria P falciparum
9. Demam Berdarah Dengue
Demam berdarah dengue adalah infeksi yang berat dan berpotensi mematikan, yang
disebarkan melalui nyamuk, terutama spesies Aedes aegypti.
9.1 Gejala dan Tanda
Gejala awal dari DBD mirip dengan demam dengue. Namun setelah beberapa hari,
pasien menjadi lebih lemas, berkeringat, dan dapat diikuti dengan keadaan seperti
shock. Perdarahan tampak seperti titik kecil darah di kulit (petechiae).
Gejala awal meliputi:
1. Penurunan nafsu makan
2. Demam
3. Sakit kepala
4. Nyeri sendi atau otot
5. Malaise
6. Muntah
Gejala fase akut meliputi
1. Lemas yang diikuti dengan ekimosis, petechiae, ruam, memburuknya gejala awal.
2. Keadaan seperti shock: berkeringat, akral-akral dingin
9.2 Prinsip Penatalaksanaan Awal
Karena DBD disebabkan oleh virus yang belum diketahui pasti vaksin ataupun
obatnya, maka penatalaksanaannya berdasarkan gejala, seperti sebagai berikut:
1. Transfusi darah segar atau platelet bisa mengatasi masalah perdarahan
2. Pemberian
cairan
dan
elektrolit
secara
intravena
dapat
mengatasi
ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh.
3. Terapi rehidrasi secara intravena juga untuk mengatasi dehidrasi.
4. Terapi oksigen mungkin dibutuhkan untuk mengatasi rendahnya oksigen darah.
5. Perawatan suportif di sarana kesehatan yang menunjang
201
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
10. Demam Thypoid
Demam tifoid adalah penyakit infeksi sistemik akut usus halus yang disebabkan
infeksi Salmonella typhi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang
sudah terkontaminasi oleh feses dan urin dari orang yang terinfeksi kuman salmonella.
Tifoid disebut juga paratyphoid fever, enteric fever, typhus dan para typhus abdominalis.
10.1 Gejala dan Tanda
Pada minggu pertama gejala klinis penyakit ini ditemukan keluhan dan gejala serupa
dengan penyakit infeksi akut pada umumnya yaitu demam, nyeri kepala, pusing, nyeri
otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi, atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk,
dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan suhu badan meningkat (38.840.50C). Sifat demam adalah meningkat perlahan-perlahan dan terutama sore hingga
malam hari.
Dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam, bradikardia
relatif, lidah yang berselaput (lidah kotor), hepatomegali, splenomegali, meterioismus,
gangguan mental berupa somnolen, stupor, koma, delirium, atau psikosis. Gejala-gejala
lain berupa tubuh menggigil, batuk, sakit tenggorokan. Roseolae jarang ditemukan pada
orang Indonesia.
10.2 Prinsip Pengobatan Awal
Pengobatan penderita demam tifoid di terdiri dari pengobatan suportif meliputi
istirahat, diet, dan medikamentosa. Istirahat bertujuan untuk mencegah komplikasi dan
mempercepat penyembuhan. Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari
bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari. Mobilisasi dilakukan bertahap, sesuai
dengan pulihnya kekuatan pasien.
Antibiotika, seperti ampicillin, kloramfenikol, trimethoprim-sulfamethoxazole, dan
ciprofloxacin sering digunakan untuk merawat demam tifoid di negara-negara barat.
Bila tak terawat, demam tifoid dapat berlangsung selama tiga minggu sampai sebulan.
Kematian terjadi antara 10% dan 30% dari kasus yang tidak terawat. Vaksin untuk
demam tifoid tersedia dan dianjurkan untuk orang yang melakukan perjalanan ke daerah
endemik (terutama di Asia, Afrika, dan Amerika Latin).
202
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
11. Dermatitis
Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respon terhadap
pengaruh faktor eksogen (bahan kimia, fisik (sinar matahari dan suhu), mikroorganisme
(bakteri dan jamur) dan atau faktor endogen yang menimbulkan kelainan klinis berupa
efloresensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuama, likenifikasi) dan keluhan
gatal.
11.1 Klasifikasi dari dermatitis
1. Dermatitis kontak iritan
2. Dermatitis kontak alergik
3. Dermatitis atopik
4. Dermatitis stasis
5. Neurodermatitis sirkumskripta
6. Dermatitis numularis
7. Dermatitis autosensitisasi
11.2 Gejala dan Tanda
11.2.1 Dermatitis Kontak Iritan
Dermatitis yang disebabkan oleh bahan/substansi yang menempel pada kulit
reaksi peradangan kulit non imunologik, jadi kerusakan kulit terjadi langsung
tanpa didahului proses sensitisasi.
Gejala klinis
Kelainan kulit yang terjadi beragam tergantung pada sifat iritan. Predileksi yang
terjadi pada kedua tangan, kaki dan daerah yang terpajan.
DKI Akut
1. Penyebab luka bakar oleh bahan kimia, iritan kuat : asam dan basa kuat
(NaOH, KOH).
2. Ketika terjadi menyebabkan reaksi segera timbul.
3. Kulit terasa pedih, panas, dan rasa terbakar, kelainan yang terjadi
eritema,edema dan bila mungkin juga nekrosis sedangkan pinggiran kulit
berbatas tegas dan asimetris.
DKI Subakut
1. Gambaran klinis dan gejala sama dengan DKI Akut tetapi baru muncul 8
sampai 24 jam atau lebih setelah kontak. Contoh bahan iritan: podofilin,
antralin,asam hidrofluorat,etilen.
203
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2. Jadi setelah kontak terjadi tidak langsung menyebabkan reaksi karena
semua itu tergantung faktor yang mempengaruhi, apakah konsentrasinya
lebih rendah atau tergantung faktor indivindu itu sendiri seperti ketebalan
kulit. Contohnya : penderita kontak dengan bahan iritan dan merasa
pedih esok harinya, awalnya eritema setelah itu sorenya menjadi vesikel
dan nekrosis.
DKI Kronis
1. Dermatitis yang paling sering terjadi.
2. Penyebabnya adalah kontak berulang-ulang dengan iritan lemah tetapi
DKI Kronis dapat terjadi karena bekerja sama dengan berbagai faktor.
Misalnya faktor kekerapan yang mempengaruhi.
3. Kulit kering, eritema, skuama, lambat laun hiperkeratosis, dan
likenifikasi, dan difus.
4. Bila kontak berlangsung akhirnya kulit dapat retak seperti luka iris
(fisur). Contoh : tukang cuci , keluhan penderita umumnya gatal dan
nyeri karena fisur tetapi ada juga yang hanya merasa kulit kering tanpa
eritema.
Penatalaksanaan
Memakai alat pelindung ditempat kerja dan menghindari pajanan bahan iritan.
Bila DKI sembuh tanpa pengobatan topikal berikan pelembab.
Sistemik  antihistamin, antibiotik, kortikosteroid (luas), roborantia
Topikal  jika basah kompres terbuka dengan sol KmnO4, jika kering dengan
salep kortikosteroid.
11.2.2 Dermatitis kontak Alergik
Gejala Klinis
Gatal. Pada keadaan akut, dimulai dengan bercak eritematosa yang berbatas jelas,
lalu diikuti dengan edema, papulovesikel, vesikel atau bula. Vesikel atau bula
dapat pecah dan menimbulkan erosi dan eksudasi. Pada keadaan kronis terlihat
kulit kering, berskuama, papul, likenifikasi dan mungkin juga fisur, batasnya tidak
jelas.
204
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Penatalaksanaan
1. Non farmakologi:
Upaya pencegahan terulangnya kontak kembali dengan allergen penyebab dan
menekan kelainan kulit yang timbul.
2. Farmakologi:
Kortikosteroid dapat diberikan dalam jangka pendek untuk mengatasi
peradangan pada DKA akut yang ditandai dengan eritema, edema, vesikel atau
bula, serta eksudatif. Misalnya dengan prednisone 30mg/hari. Umumnya
kelainan kulit akan mereda setelah beberapa hari. Kelainan kulit cukup
dikompres dengan larutan garam faal atau larutan air salisil 1:1000. Untuk
DKA ringan atau akut yang telah mereda (setelah diberikan kortikosteroid
sistemik) cukup diberikan kortikosteroid atau makrolaktam (pimecrolimus atau
tacrolimus) secara topical.
11.2.3 Dermatitis Atopik
Dermatitis atopik ialah keadaan peradangan kulit kronis dan residif, disertai
gatal, yang umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak, sering
berhubungan dengan peningkatan kadar igE dalam seru dan riwayat atopi pada
keluarga.
Gejala klinis
Kulit kering, pucat/redup, kadar lipid kurang, evaporasi meningkat, jari tangan
terasa dingin, cemas, egois, frustasi
Gejala utama
Pruritus biasanya hilang timbul dan biasanya pruritus hebat pada malam hari. Jika
penderita menggaruk biasanya menjadi papul, likenifikasi, eritema, erosi,
ekskoriasi, eksudasi, dan krusta.
Penatalaksanaan :
1. Umum
Menyingkirkan faktor yang memperberat atau memicu pasien untuk
menggaruk. Mandi dengan pembersih yang mengandung pelembab.
2. Pengobatan topikal
Umumnya kulit penderita dermatitis atopik ini relatif kering, sehingga
menyebabkan mikroorganisme lebih mudah masuk kedalam tubuh melalui
205
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
kulit tersebut. Penanganannya dengan cara memberikan pelembab krim
hidrofilik urea 10% dan kortison 1% atau setelah mandi, kulit dilap hingga
kering dan kemudian memakai emolien.
Pemakaian dosis pada bayi untuk pengobatan topikal yaitu salep steroid
potensi rendah (hidrokortison 1-2,5%), untuk remaja dan dewasa digunakan
salep steroid potensi tengah. Bila penyakit sudah terkontrol, gunakan
pemakaian intermitten 2 kali seminggu agar tidak cepat kambuh, dan gunakan
salep potensi paling rendah.
3. Sistemik
Bisa menggunakan kortikosteroid untuk mengendalikan eksaserbasi akut, dan
gunakan secara berselang atau bertahap agar tidak menimbulkan efek
samping berlebih. Antihistamin juga digunakan untuk mengurangi rasa gatal.
4. Terapi sinar
Bisa menggunakan terapi sinar UVA dan UVB, biasanya digunakan untuk
dermatitis atopik yang berat dan luas.
11.2.4 Dermatitis stasis
Dermatitis statis adalah dermatitis sekunder akibat insufisiensi kronik vena
(hipertensi vena) tungkai bawah.
Gambaran klinis
Tekanan vena meningkat pada tunkai bawah menyebabkan pelebaran vena,
varises, edema. Kemudian lama-kelamaan kulit akan berwarna merah kehitaman
dan timbul purpura (karena ekstravasasi sel darah merah kedalam dermis).
Kelainan dimulai dipermukaan tungkai bawah bagian medial lateral. Meluas
hingga kebawah lutut. Terjadi eritema, skuama, kadang eksudasi, dan gatal. Jika
lama kelamaan, kulit menjadi tebal dan fibrotik 1/3 tungkai bawah.
Pengobatan :
1. Untuk edema : tungkai dinaikan pada saat tidur atau duduk. Diangkat keatas
permukan jantung selama 30 menit.
2. Memakai kaos kaki penyangga varises atau pembalut elastis.
3. Eksudat dikompres dan setelah kering diberi krim kortikosteroid.
4. Antibiotik sistemik untuk infeksi sekunder
206
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
REFERENSI
1. Bourke, et al. 2009. Guidelines For The Management of Contact Dermatitis: an update.
Tersedia
dalam
:
http://www.bad.org.uk/portals/_bad/guidelines/clinical%20guidelines/contact%20derma
titis%20bjd%20guidelines%20may%202009.pdf. Diakses pada tanggal 10 Februari
2014
2. Chaitanya,
G.
2013.
Epigastric
Pain
-
Location,
Causes
and
Treatment.
http://emedicalhub.hubpages.com/hub/Epigastric-Pain. (diakses pada 15 Februari 2014)
3. Djuanda, Adhi. 2011. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
4. Dorland, W. 2002. Kamus Kedokteran DORLAND. Edisi 29. Jakarta: EGC.
5. Guandallini,
S.
2013.
Diarrhea.
http://emedicine.medscape.com/article/928598-
overview. (diakses pada 8 Februari 2014)
6. Harsono, 2009. Kapita Selekta Neurologi. Edisi II. Yogyakarta: Gadjahmada University
Press.
7. Harsono, 2011. Buku Ajar Neurologi Klinis. Edisi V. Yogyakarta: Gadjahmada
University Press.
8. Ilyas, S, Yulianti, SR. 2012. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Keempat. Jakarta: Badan
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
9. Mansjoer, et al. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius.
10. Meneghetti,
A.
2013.
Upper
Respiratory
Tract
Infection.
http://emedicine.medscape.com/article/302460-overview. (diakses pada 31 Januari
2014)
11. PAPDI. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit
Dalam FKUI.
12. Perez-Jorge,
E.
2013.
Malaria.
http://emedicine.medscape.com/article/221134-
overview. (diakses pada 8 Februari 2014)
13. Ramaiah, S. 2007. All You Wanted To Know About Diare. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu
Popular
14. Riordan-Eva, P., Whitcher, J.P., 2009. Oftalmologi Umum Vaughan & Asbury. Edisi
17. Jakarta: EGC.
15. Suryadi, et al. 2006. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta: Percetakan Penebar
Swadaya
207
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
16. Vyas,
J.
2012.
Dengue
Hemorrhagic
Fever.
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001373.htm. (diakses pada 8 Februari
2014)
17. Widjaja. 2007. Penyakit
Tropis, Epidemiologi, Penularan, Pencegahan Dan
Pemberantasannya. Jakarta: Erlangga
18. Widodo, djoko. 2006. Demam Tifoid. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Edisi 4.
Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
208
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
KOMPETENSI TAMBAHAN
MATRA PENUNJANG
NAVIGASI DARAT
PENDAHULUAN
Tersesat dalam jangka waktu yang panjang bukanlah hal yang menyenangkan.
Navigasi yang baik adalah keahlian dalam membaca peta, dan menginterpretasikannya
sehingga peta dapat menunjukkan dimana posisi anda dan ke mana tujuan anda, juga banyak
jalurnya. Tips untuk navigasi yang baik, pertama, letakkan peta anda di tangan atau di tempat
yang mudah diambil, kedua, sering-sering mengacu pada peta terutama pada saat istirahat,
pada saat melewati sungai, dinding, atau jalan setapak dan periksa pada peta anda. apabila
anda tidak yakin dengan posisi anda sekarang, jangan terburu-buru, cobalah tentukan posisi
anda sebelumnya lalu cocokkan pada peta (bukan sebaliknya), kalkulasikan waktu dan jarak
yang sudah ditempuh dan perkirakan di mana posisi anda sekarang.
Kata “Navigasi” kita kenal dalam penerbangan ataupun pelayaran, adapun kata
“Darat” hanya membedakan dalam pemakaiannya di medan, sebab ada berbagai macam
navigasi, diantaranya adalah :
i. Navigasi Darat
ii. Navigasi Laut,
iii. Navigasi Udara
iv. Navigasi Sungai
v. Navigasi Rawa
vi. Navigasi Gurun Pasir
Navigasi darat adalah Tehnik menentukan posisi (kedudukan) serta arah perjalanan baik
di peta maupun di medan sebenarnya.
Adapun pemahaman navigasi adalah suatu kemampuan atau daya rekam dan membaca
peta dengan bentang bumi pada suatu daerah yang sedang atau akan kita tempuh dengan
bantuan peralatan navigasi.
209
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
PERALATAN NAVIGASI DARAT
1. Alat-alat tulis
a. Buku tulis
b. Pensil, rautan dan penghapus.
c. Bolpoin 4 warna : hitam, hijau, merah, biru.
d. Penggaris: segitiga, busur derajat
2. Peta Topografi
Peta Topografi berasal dari bahasa yunani, Topos berarti tempat atau lapangan,
Graphos berarti gambaran atau catatan. Peta topografi yaitu peta yang menggambarkan suatu
tempat di permukaan fisik bumi yang dinyatakan dengan garis-garis ketinggian atau garis
kontur dan disertai berbagai keterangan secara rinci mengenai daerah yang terpetakan.
Karakteristik unik yang membedakan peta topografi dari jenis peta lainnya adalah peta ini
menunjukkan kontur topografi atau bentuk tanah di samping fitur lainnya seperti jalan,
sungai, danau, dll. Karena peta topografi menunjukkan kontur bentuk tanah, maka peta jenis
ini merupakan jenis peta yang paling cocok untuk kegiatan outdoor dari peta kebanyakan.
3. Kompas
Kompas adalah alat penunjuk arah. Karena sifat kemagnetikannya, jarum kompas
akan selalu menunjukkan arah utara-selatan, tapi arah utara yang ditunjukkan oleh jarum
kompas tersebut adalah arah utara magnetis bumi.
4. Busur Derajat
Pada pemakaiannya, busur derajat sudah jarang digunakan karena sekarang ada alat
yang namanya protactor, rumer yang fungsinya sama dan di dalamnya ada pembagian karvak
dalam beberapa skala peta.
5. Curvimeter
Curvimeter adalah alat untuk menghitung jarak horizontal pada route lintasan yang
berkelok-kelok di peta.
210
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
6. Altimeter
Altimeter adalah alat pengukur ketinggian yang bisa membantu pengguna
menunjukkan posisi dengan melihat garis ketinggian (kontur) pada peta topografi yang sedang
kita gunakan. Pada medan gunung yang tinggi, kompas sering tidak digunakan, dan altimeter
akan lebih bermanfaat. Dengan melewati pegunungan yang sudah kita kenal maka kita dapat
mengetahui posisi (ketinggian) di peta. Namun yang harus kita lakukan sebelum altimeter kita
gunakan harus di kalibrasi dengan benar.
7. Pedometer
Pedometer adalah alat untuk mengukur langkah kaki, namun alat yang letaknya di
pinggang ini jarang digunakan atau sebatas pelengkap saja.
8. Protaktor dan rumerator
Adalah alat untuk membatu menunjukan satuan koordinat dipeta berbagai skala, baik
Co.Gride maupun Co.Geografis, dan juga bisa pengganyi busur derajat
PENGERTIAN PETA
Peta adalah representasi grafis dari bagian permukaan bumi yang ditarik ke skala,
seperti yang terlihat dari atas. Menggunakan warna, simbol, dan label untuk mewakili fitur
yang ditemukan pada permukaan bumi. Representasi yang ideal akan terwujud jika setiap fitur
dari daerah yang dipetakan dapat ditunjukkan dalam bentuk yang benar. Untuk dapat
dimengerti, peta harus diwakili dengan tanda konvensional dan simbol. Pada peta skala
1:250.000, simbol yang ditentukan untuk membangun mencakup areal seluas 500 meter
persegi di atas tanah, sebuah simbol jalan adalah setara dengan lebar jalan sekitar 520 kaki di
tanah, simbol untuk rel kereta api tunggal adalah setara dengan rel kereta api sekitar 1.000
kaki pada tanah.
211
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
PETA TOPOGRAFI
1.2
Judul Peta
Judul peta terdapat pada atas tengah peta dan di tulis dengan huruf besar sekaligus
sebagai penunjuk arah utara peta.
1.3
Nomor peta.
Nomor Peta terdapat pada bagian pojok kanan atas peta, nomor peta dimaksudkan
untuk menujukkan kedudukan peta tersebut di wilayah Indonesia selain sebagai nomor
registrasi dari badan pembuat peta, nomor peta juga berguna sebagai petunjuk bila kita
memerlukan peta daerah lain disekitar daerah yang terpetakan, dan biasanya dibagian bawah
peta juga dicantukan indek nomer yang mencantumkan nmer-nomer peta yang ada di
sekeliling peta tersebut.
212
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.4
Tahun peta
Terdapat pada bagian bawah sebelah kiri atau kanan dan di situ juga di sebutkan nama
badan atau instansi pembuatnya.jadi bisa di jadikan acuan,semakin besar tahun
pembuatannya,maka semakin akurat juga data yang di sajikan oleh peta tersebut.
1.5
Skala peta
Disebut juga KEDAR PETA adalah perbandingan antara jarak dua titik di peta dengan
jarak darat / horizontal dua titik di lapangan dalam satuan yang sama. Ini untuk menentukan
jarak antara obyek atau lokasi pada peta, ukuran area tertutup, dan bagaimana skala dapat
mempengaruhi jumlah detail yang ditampilkan.
Menurut kategorinya, skala peta dibagi ke dalam tiga kategori. Yaitu skala kecil, menengah
dan besar
1.5.2 Kecil. Peta dengan skala 1:1.000.000 dan lebih kecil digunakan untuk
perencanaan umum dan untuk studi strategis (peta bawah pada Gambar 2-1).
Peta skala kecil standar memiliki skala 1:1.000.000. Peta ini meliputi area yang
sangat besar dengan mengorbankan detail.
1.5.3 Menengah. Peta dengan skala lebih besar dari 1:1.000.000 tetapi lebih kecil dari
1:75,000 digunakan untuk perencanaan operasional (peta tengah pada Gambar 21). Peta ini mengandung detail dengan jumlah sedang. Peta skala menengah
standar memiliki skala 1:250.000. Ada juga peta dengan skala 1:100.000.
213
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.5.4 Besar. Peta dengan skala 1:75,000 dan lebih besar digunakan untuk perencanaan
taktis, administrasi, dan logistik (peta atas pada Gambar 2-1). Peta jenis inilah
yang sering ditemukan dan digunakan pihak militer. Peta skala besar standar
1:50.000, namun banyak daerah telah dipetakan dengan skala 1:25.000.
Skala angka
Contoh 1 : 25.000
Berarati jarak 1 cm pada peta = 25.000cm (250m) jarak horizontal di medan sebenarnya.
1 : 50.000
berarti jarak 1 cm di peta = 50.000 cm (500m) jarak horizontal di medan sebenarnya.
Rumus : Skala peta
=
jarak di peta
jarak horizontal di medan
SP =
JP
JM
Contoh soal .
Di ketahui : skala peta 1: 50.000
Jarak peta = 2 cm
Di Tanya : berapa jarak mendatar pada medan?
Jawab :
Skala peta = jarak peta
Jarak mendatar
___1__ 2 cm
50000 = jm
jadi jarak di medan (JM) = 50.000 x 2 cm = 100000 cm
= 1000 m = 1 km
Skala garis atau kedar grafis.
Skala garis adalah adalah garis yang dibagi dalam sejumlah perbandingan satuan pengukuran.
Mengukur jarak di peta dengan mistar,tali,akar atau apa saja lalu di ukur pada skala garis atau
kedar grafis .
Berarti tiap bagian sepanjang blok garis mewakili 1 km jarak horizontal sebenarnya.
214
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Tidak semua benda di medan di gambarkan sesuai dengan skala peta, misalnya jembatan,
lebar sungai, tadah hujan ( kecil), mata air, bangunan, lebar jalan, lebar rel kereta api, dan
sebagainya.
Contoh
Skala 1: 50.000 berarti tiap bagian sepanjang blok garis panjang di sebelah kanan titik 0
adalah 1 km jarak horizontal sebenarnya. tiap blok garis pendek di sebelah kiri titik 0 adalah
pembagian lebih kecil dari balok panjang (per- 100 m).
Tanpa harus menghitung, untuk keperluan praktis, kita dapat mengetahui suatu jarak
horizontal menggunakan skala garis dengan metode kertas salin.
1) Letakkan pada peta, sepotong kertas yang menghubungkan A-B
2) Tandai pada kertas salin : A dan B
3) Pindahkan dan letakkan kertas secara berhimpit pada diagram skala garis.
4) Ketahui jarak A-B dengan melihat angka blok garis pada diagram skala garis (3,5 km,pada
gambar).
1.6.
Arah peta
Yang di maksud arah peta adalah arah utara pada peta. Telah di singgung di atas pada judul
peta,dan bisa kita lihat dengan memperhatikan arah / posisi pada tulisan – tulisan di peta.
Misalnya : nama – nama daerah, nama- nama gunung,tetapi tidak mengacu nama- nama
sungai, sebab penulisan nama sungai menurut arah aliran sungai itu sendiri.
Yang perlu di perhatikan adalah arah Utara Peta / UP ( Utara Grid / UG = Grid North / GN ),
yang di lambangkan dengan huruf Y (sumbu Y).
Ada tiga macam arah Utara:
1.6.1 Utara peta / grid north.
1.6.2 Utara sebenarnya / true north.
1.6.3 Utara magnetis / magnetic north.
215
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Utara sebenarnya (US) adalah arah yang menunjukkan kutub utara bumi (utara
geografis).di lambangkan dengan symbol binatang,karena utara segaris dengan binatang
(kutub) utara,msks di kenal pula sebagai utara astronomis.
Utara magnetis (UM) adalah arah yang menunjukkan kutub utara magnetis bumi.di
lambangkan dengan jarum atau mata panah.kutub utara magnetis bumi letaknya tidak
bertepatan dengan kutub utara bumi,kira-kira di utara kanada, sebelah tenggara dari kutub
utara bumi,di samudra arktik.karena pengaruh rotasi bumi.letak kutub magnetis bumi ber
geser dari tahun ke tahun (sekitar 25 mil per tahun).
Utara magnetis adalah arah utara yang di tunjukkan oleh jarum magnetis kompas,
biasanya di sebut dengan utara kompas (UK).
Untuk keperluan praktis ,utara peta, utara sebenarnya, dan utara magnetis dapat di
anggap sama. Untuk keperluan yang lebih menuntut ketelitian, perlu di perhitungkan adanya
ikhtilaf peta, ikhtilaf magnetis, variasi magnetis. Hubungan antara US, UM, UG, dan variasi
magnetis akan di pelajari setelah pengetahuan dasar ini di pahami dengan baik.
1.7.
Jenis Peta
Peta pilihan untuk navigator adalah peta topografi skala 1:50.000. Ketika beroperasi di
tempat-tempat asing, kita mungkin menemukan bahwa produk-produk peta belum diproduksi
untuk mencakup daerah tertentu pada lokasi operasi kita, atau mungkin tidak tersedia untuk
unit kita ketika kita membutuhkannya. Oleh karena itu, kita harus siap untuk menggunakan
peta yang diproduksi oleh pemerintah asing yang mungkin tidak memenuhi standar untuk
akurasi yang ditetapkan. Peta-peta ini sering menggunakan simbol-simbol yang mirip dengan
yang ditemukan pada peta produksi negara kita tetapi memiliki makna sangat berbeda.
216
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.7.1 Planimetrik Peta. Peta ini hanya menyajikan posisi horizontal untuk fitur yang
diwakili. Berbeda dari peta topografi, peta ini biasanya diwakili oleh garis kontur.
Terkadang, peta jenis ini disebut juga peta garis.
1.7.2 Peta Topografi. Ini adalah peta yang menggambarkan fitur medan dengan cara
yang terukur (biasanya melalui penggunaan garis kontur), serta posisi horisontal
untuk fitur yang diwakili. Posisi vertikal, atau bantuan, biasanya diwakili oleh
garis kontur pada peta topografi militer. Pada peta yang menunjukkan relief,
ketinggian dan kontur diukur dari bidang daerah ukur vertikal tertentu, biasanya
permukaan laut. Gambar 3-1 menunjukkan peta topografi yang khas.
1.7.3 Peta yg dibuat dengan potret. Ini adalah reproduksi dari foto udara yang di
atasnya diberi grid baris, data marginal, nama tempat, nomor rute, level penting,
batas-batas, dan skala perkiraan dan arah.
1.7.4 Peta Operasi Bersama. Peta ini didasarkan pada format standar 1:250.000 peta
topografi skala menengah militer, tetapi peta ini berisi informasi tambahan yang
diperlukan dalam operasi udara dan darat secara bersamaan (Gambar 2-2).
Sepanjang tepi utara dan timur detail, grafis melampaui lembar peta standar untuk
memberikan informasi tumpang tindih dengan lembar yang berdekatan. Peta ini
baik untuk digunakan dalam format darat dan udara. Setiap versi diidentifikasi
dalam margin yang lebih rendah sebagai grafis operasi bersama (udara atau darat).
Terdapat informasi topografi identik pada keduanya, tapi versi darat menunjukkan
elevasi dan kontur dalam meter dan versi udara menunjukkan elevasi dan kontur
dengan kaki (feet). Layer (elevasi), pewarnaan dan bayangan ditambahkan sebagai
bantuan untuk bahan interpolasi. Kedua versi menekankan fasilitas airlanding
(ditampilkan dalam warna ungu), tapi versi udara memiliki simbol tambahan untuk
mengidentifikasi bantuan dan rintangan untuk navigasi udara.
1.7.5 Photo Mozaik. Ini adalah bagian foto udara yang biasa disebut mozaik dalam
penggunaan topografi. Mosaik berguna sekali ketika waktu tidak memungkinkan
penyusunan peta yang lebih akurat. Ketepatan mozaik tergantung pada metode
yang digunakan dalam persiapan dan mungkin berbeda dari sekadar efek gambar
yang baik dari sebuah peta planimetrik.
1.7.6 Terrain Model. Ini adalah model skala fitur yang menunjukkan medan, dan dalam
skala besar model menunjukkan bentuk industri dan budaya. Peta ini menyediakan
217
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
sarana untuk memvisualisasikan daratan untuk tujuan perencanaan, indoktrinasi
dan untuk briefing.
1.7.7 Peta Kota Militer. Peta ini termasuk peta topografi (biasanya pada skala
1:12.550, kadang-kadang sampai 1:5.000), yang menunjukkan rincian kota.
Didalamnya terdapat hal terperinci seperti jalan-jalan, nama jalan, bangunan
penting, dan elemen lain dari lansekap kota penting untuk navigasi dan operasi
militer di medan perkotaan. Skala dari sebuah peta kota militer tergantung pada
pentingnya dan ukuran kota, kepadatan detail, dan informasi intelijen yang
tersedia.
1.7.8 Peta Khusus. Ini adalah peta untuk tujuan khusus, seperti mobilitas, komunikasi,
dan peta penyerangan. Peta ini biasanya di cetak di dalam skala lebih kecil dari
1:100.000 tetapi lebih besar dari 1:1.000.000. Peta tujuan khusus adalah salah satu
jenis peta yang telah dirancang atau dimodifikasi untuk memberikan informasi
yang tidak tercakup di peta standar. Beberapa subyek yang dibahas adalah:
1. Medan.
2. Karakteristik Drainase.
3. Vegetasi.
4. Iklim.
5. Pesisir dan pantai pendaratan.
6. Jalan dan jembatan.
7. Rel kereta api.
8. Lapangan udara.
9. Daerah perkotaan.
10. Tenaga listrik.
11. Lokasi bahan bakar.
12. Sumber daya air permukaan.
13. Sumber daya air tanah.
14. Daerah industri.
15. Jalur lintasan.
16. Kesesuaian untuk pembangunan lapangan terbang.
17. Operasi penerjunan pasukan.
218
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.8.
Garis ketinggian / garis kontur.
Garis kontur adalah garis khayal yang berkelok-kelok tak beraturan dan tertutup
,menghubungkan beberapa titik yang mempunyai ketinggian sama dari permukaan air laut.
Pada medan sebenarnya, permukaan bumi merupakan suatu bidang yang tidak rata.hal ini di
sebabakan karena ada : gunung, lembah, jurang, sungai, laut, tebing dan lainnya.
Ketidak rataan ini di sebut RELIEF yang jika pada peta di sebut dengan KONTUR yang dapat
memberikan gambaran tentang ketidak rataan suatu medan diatas peta dan sekaligus kita
dapat membayangkan bentuk medan yang sebenarnya.
1.8.1. Sifat / ciri – ciri garis kontur :
1. Tidak pernah terputus / selalu tertutup.
2. Tidak pernah ber cabang.
3. Tidak pernah berpotongan,kecuali bila menggambarkan lereng terjal yang vertikal
atau menonjol (over hang).
4. Garis kontur dengan ketinggian yang lebih rendah selalu mengelilingi garis kontur
dengan ketinggian yang lebih tinggi,kecuali pada kawah atau danau.
Beda ketinggian antara dua garis kontur adalah tetap / sama walaupun kerapatan kedua garis
kontur itu berubah-ubah.
A. Daerah datar mempunyai garis kontur jarang-jarang, sedangkan daerah terjal / curam
mempunyai garis kontur yang rapat / berdekatan.
B. Punggungan gunung / bukit terlihat di peta sebagai rangkaian kontur berbentuk huruf
“U” yang ujungnya melengkung menjauhi puncak.
C. Lembah terlihat di peta sebagi rangkaian kontur berbentuk huruf “V” yang ujung nya
tajam dan menjorok ke arah puncak.
D. Angka (harga kontur / kontur tebal) yang tertera pada garis kontur selalu mengarah ke
daerah yang lebih tinggi.
E. Garis ketinggian yang menyatakan setengah ketinggian dari dua garis kontur yang
berurutan , di gambarkan dengan garis putus-putus.
F. Garis putus-putus tegak menyatakan daerah kawah atau danau
G. Peta keluaran Bakosurtanal (1: 50.000)membuat garis kontur tebal untuk kelipatan 250
meter atau selang 10 garis kontur.(250,500,750,1000,1250 meter dst)
H. Peta keluaran AMS ( 1: 50.000) membuat garis kontur tebal untuk kelipatan 100 meter
atau selang 4garis kontur(100,200,300,….500 meter dst)
219
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
I. Peta keluaran direktorat geologi bandung tidak seragam ketentuan ketebalan garis
konturnya,jadi tidak ada ketentuan khusus dan seragam untuk penentuan garis kontur
tebal.
J. Gambar Kontur
220
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.8.2. Interval kontur.
Perbedaan tinggi antara dua garis kontur yang berurutan.
Mencari interval kontur adalah setengah dari bilangan angka ribuan pada skala peta
atau satu per dua ribu kali skala peta yang dinyatakan dalam meter.
Contoh : skala 1 : 50.000
Maka interval konturnya = ½ x 50 meter = 25 meter
Atau 1/2000 x 50.000 meter = 25 meter.
1.9.
Koordinat peta
Koordinat adalah kedudukan suatu titik (lokasi / posisi ) pada peta. Koordinat di
tentukan dengan menggunakan system sumbu X Y, yaitu garis-garis yang saling berpotongan
tegak lurus.Sistem koordinat yang resmi di pakai pada peta ada dua yaitu :
1.9.1. Koordinat Geografis (Geographical Coordinate).
Sumbu yang di gunakan adalah garis bujur( bujur barat dan bujur timur) yang tegak
lurus terhadap katulistiwa, dan garis lintang ( lintang utara dan lintang selatan) yang sejajar
dengan katulistiwa.koordinat geografis di nyatakan dalam satuan derajat (◦), menit („), dan
detik (“).
1.9.2. Koordinat Grid (Grid Coordinate).
Dalam koordinat grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak terhadap
suatu titik acuan (datum). Koordinat grid yang lazim di pakai di peta adalah koordinat grid
UTM (Universal Transverse Mercator).sumbu yang di gunakan adalah sumbu X dan Y.
Garis horizontal di beri nomor urut dari barat ke timur / kiri ke kanan (sumbu X).
221
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Garis vertical di beri nomor urut dari selatan ke utara / bawah ke atas ( sumbu Y).
Sistem koordinat grid mengenal penomoran : 4, 6, 8, dan 14 angka. Untuk daerah yang luas di
pakai penomoran 4 atau 6 angka, dan untuk daerah yang lebih sempit / detail dengan
penomoran 8 atau 14 angka.
Koordinat grid 14 angka, terdiri dari 7 angka absis (X) dan 7 angka ordinat (y).
Untuk penulisan koordinat lebih sedikit digit bisa dari koordinat digit yang lebih banyak.
Gambar.
1.10. Legenda peta.
Legenda peta biasanya di sertakan pada bagian bawah peta, ada juga yang meletakkan
di sebelah kanan peta. Legenda ini memuat arti dan symbol, warna dan keterangan yang di
pakai pada peta tersebut. Untuk kepentingan navigasi darat simbol-simbol yang penting
diketahui antara lain : jalan setapak, jalan raya, sungai, pemukiman, puncak, dan sebagainya
222
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
MEMBACA PETA
Yang terpenting dalam bernavigasi adalah kemampuan untuk menginterpretasikan
peta, yaitu kemampuan membaca peta dan membayangkan keadaan medan yang sebenarnya.
Oleh karena itu kita harus benar-benar paham :
sifat-sifat garis kontur (sudah di bahas di depan)
Ketinggian tempat
Menentukan ketinggian suatu tempat dapat di lakukan dengan dua cara :
1. Lihat interval kontur peta, lalu hitung ketinggian tempat yang ingin di ketahui.
Memang ada rumus umum : interval kontur = 1/2000 skal peta. Tetapi rumus ini tidak
selalu benar, sebab beberapa peta topografi keluaran direktorat geologi bandung
aslinya berskala 1 : 50.000 (interval kontur 25 meter), tetapi kemudian di perbesar
menjadi ber skala 1 : 25.000 dengan interval kontur tetap 25 meter. Dalam suatu misi
SAR gunung hutan misalnya , sering suatu peta di perbesar dengan cara di foto kopi.
Untuk ini, interval kontur peta tersebut harus tetap di tulis atau di sertakan keterangan
di foto kopi berapa persen.
2. Bila ketinggian kontur tidak di cantumkan, maka kita harus menghitung ketinggian
suatu tempat dengan mencari 2 titik berdekatan yang harga ketinggiannya tercantum.
a. Hitung selisih ketinggian antara kedua titik tersebut. Hitung berapa kontur yang
terdapat antar kebuanya (jangan menghitung kontur yang sama harganya bila
kedua titik terpisah oleh lembah)
b. Dengan mengetahui selisih ketinggian dua titik tersebut dan mengetahui juga
jumlah kontur yang terdapat, dapat di hitung berapa interval konturnya ( harus
merupakan bilangan bulat)
c. Lihat kontur terdekat dengan salah satu titk ketinggian (bila kontur terdekat itu
berada di atas titik, maka harga kontur itu lebih besar dari titik ketinggian. Bila
kontur berada di bagian bawah, harganya lebih kecil). Hitung harga kontur
terdekat itu yang harus merupakan kelipatan dari harga interval kontur yang telah
di ketahui di atas. Lakukan perhitungan di atas beberapa kali sampai yakin harga
yang di dapat untuk setiap kontur benar. Cantumkan harga beberapa kontur pada
peta anda agar mudah mengingatnya.
223
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Titik Triangulasi
Selain dari garis-garis kontur, kita dapat juga mengetahui tinggi suatu temapt
dengan pertolongan titik ketinggian. Titik ketinggian ini biasanya di sebutdengan titik
triangulasi. Yaitu suatu titik atau benda berupa pilar/tonggak/patok yang menyatakan
tinggi relative suatu tempat dari permukaan laut. Titik triangulasi di gunakan oleh
jawatan- jawatan topografi untuk menentukan ketinggian suatu temapat dalam
pengukuran ilmu pasti pada waktu pembuatan peta. Di lapangan, pilar ini berupa tugu
dan terdapat keteranga.
Macam titik triangulasi, yaitu primer (P), sekunder (s), tertier (T), kuartier (Q), da titik
antara (TP).
Contoh titk triangulasi : Δp.140/ 78
Artinya : pilar tipe primer (P), pilar ke- 140, pada ketinggian 78 meter diatas
permukaan laut (dpl).
Dengan mengetahui ketinggian tugu tersebut di lapangan. Pilar triangulasi dapat di
jadikan patokan untuk mengalibrasi altimeter.
Mengenal tanda medan
Di samping tanda pengenal yang terdapat pada legenda peta topografi kita bisa
menggunakan bentuk-bentuk atau bentang alam yang menyolok di lapangan dan mudah di
kenali di peta, yang akan kita sebut sebagai tanda medan. beberapa tanda medan dapat anda
“baca” dari peta sebelum anda berangkat ke lokasi, tetapi kemudian harus anda cari di lokasi.
1. Puncak gunung atau bukit, punggungan gunung , lembah antara dua puncak , dan
bentuk-bentuk tonjolan lain yang menyolok.
2. Lembah yang curam, sungai, pertemuan anak sungai, kelokan sungai, tebing-tebing
di tepi sungai.
3. Belokan jalan, jembatan (potongan sungai dengan jalan). Ujung desa, simpang jalan.
4. Bila berada di pantai, muara sungai dapat menjadi tanda medan yang sangat
jelas.begitu juga tanjung yang menjorok ke laut, teluk-teluk yang menyolok,pulaupulau kecil, delta, dan sebagainya.
5. Di daerah dataran atau rawa-rawa biasanya sukar mendapat tonjolan permukaan
bumi atau bukit-bukit yang dapat di pakai sebagai tanda medan. pergunakan belokanbelokan sungai. Cabang-cabang sungai, muara-muara sungai kecil.
224
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
6. Dalam penyusuran di sungai, kelokan tajam, cabang sungai, tebing-tebing, delta, dan
sebagainya, dapat di jadikan sebagai tanda medan. Pengertian tanda ini mutlak perlu
dikuasainya. Akan selalu di gunakan pada uraian selanjutnya tentang teknik peta
kompas.
Teknik Contouring
Contouring dapat diartikan dengan salah satu penerapan ilmu medan peta yaitu
menempuh perjalanan tanpa menggunakan kompas. Dalam melakukan teknik contouring
dituntut untuk lebih teliti dalam pengamatan medan. Karena jika kita sudah salah
menentukan posisi dengan contouring maka akan mempersulit perjalanan kita dan
mungkin akan tersesat.
Jika kita di lapangan dengan membawa peta maka teknik contouring dapat dilakukan,
dengan mengamati bentukan dengan acuan arah KAKIBATAS (kanan, kiri, bawah, atas).
Tanda-tanda medan yang dapat digunakan adalah:
- Puncak-puncak bukit
- Bentukan sungi
- Punggungan bukit dan terjal/landainya bukit
- Dan lain lain
2.
KOMPAS
Kompas merupakan salah satu peralatan navigasi utama untuk di gunakan bersamaan
dengan peta. Sebuah peta tidak akan memiliki nilai lebih jika tidak ada kompas. Dengan
adanya kompas kita dapat mengetahui arah gerakan, azimuth magnetik suatu point dll.
Berbagai jenis kompas:
2.1.Kompas lensatik merupakan jenis kompas yang simpel dan sering kita temui. terdiri
dari 3 bagian : cover, base dan lensa.
225
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Cover atau penutup kompas berguna untuk melindungi jarum magnetik dan piringan azimuth
saat tidak digunakan. Di bagian tengahnya terdapat kawat bidik untuk membidik point
atau titik.
Base atau tubuh kompas memiliki bagian sebagai berikut:
- Cakra angka atau piringan azimuth / floating dial bertumpu pada suatu poros, sehingga
dapat berputar bebas saat berotasi.
- Pelindung piringan azimuth adalah kaca atau plastik bening yang memiliki garis indek
tetap berwana hitam.
- Cincin gerigi pada saat diputar akan berbunyi klik, dan tiap klik menandakan rotasi
sebanyak 3°, total ada 120 klik dalam satu lingkaran penuh.
Lensa digunakan untuk membaca azimuth dan memiliki celah bidik yang digunakan
bersamaan dengan kawat bidik pada cover. Celah bidik ini juga digunakan untuk
mengunci piringan azimuth agar tidak bergerak saat ditutup. Celah bidik harus dibuka
lebih dari 45° agar piringan azimuth bergerak bebas.
2.2.Kompas Prima
2.3.Kompas Silva
226
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Kalibrasi Kompas
Sebelum menggunakan kompas, kita harus terlebih dahulu memastikan kompas berfungsi
dengan benar dan akurat, untuk itu kita harus memerhatikan beberapa hal:
1. Set semua kompas yang akan dipakai (seragamkan dengan kompas yang standar). Untuk
checking yang paling mudah yaitu kita pergi ke titik triangulasi, dengan catatan daerah
tersebut telah kita ketahui SPM-nya (missal 0o00‟00”). Plot salah satu tanda medan yang
terlihat jelas dari triangulasi dan juga terdapat di peta, catat besar sudut petanya, missal
50‟. Pada kompas standar, besar sudut kompas bila kita membidik tanda medan tersebut
dari titik triangulasi juga harus sebesar 50‟. (Catatan: cara kita membidik dan plotting
sudah benar).
2. Perhatikan angka-angka pembagian derajat yang terdapat pada piringan kompas (untuk
keseragaman sebaiknya menggunakan kompas dengan pembagian derajat 6400, maka di
lapangan kita harus menghitung lagi.
Teknik Penggunaan Kompas
1. Teknik Centerhold. Pertama, kompas dibuka secara penuh hingga tutup
membentuk suatu bidang datar dengan base. Kemudian buka lensa (rear-sight) secara
maksimal, biarkan link mengapung dengan bebas. Berikutnya, tempatkan ibu jari pada
cincin, membentuk suatu dasar yang baik beserta jari kelingking dan manis, sedangkan
jari telunjuk diletakkan sepanjang sisi kompas. Tempatkan ibu jari dari tangan lain
antara lensa dan bezel-ring, jari telunjuk sepanjang sisi lain dari kompas, dan jari yang
sisanya di sekitar jari dari tangan lain. Tarik siku kearah badan, ini akan memposisikan
kompas di antara dagu dan pinggang.
Untuk mengukur azimuth, secara sederhana, putar seluruh badan kearah obyek, tutup
kompas akan menunjuk langsung ke obyek tersebut. Ketika sedang menunjuk obyek,
perhatikan dan baca azimuth, sesuaikan garis index. Teknik ini lebih disukai karena
lebih mudah, cocok pada semua kondisi jarak penglihatan, dan dapat digunakan tanpa
harus melepas kacamata.
227
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2. Teknik Compass-To-Cheek. Buka tutup kompas hingga posisi vertical; kemudian
buka pula rear-sight agak condong ke depan (45o). sejajarkan rear-sight slot dan
front-sight dengan obyek yang diinginkan. Kemudian mengerling dan perhatikan skala
yang ditunjukkan oleh link untuk membaca azimuth. Teknik ini sangat baik digunakan
dalam membidik obyek, dan merupakan teknik terbaik untuk tujuan ini.
3.
Teknik Passing Kompas (point to point)
Teknik ini sering digunakan dalam melakukan sebuah operasi SAR. Teknik ini lebih
mudah dilakukan pada medan yang landai dan luas, digunakan pula untuk mengatasi
rintangan yang menghalangi perjalan kita, misal sungai atau jarang.
Cara melakukan passing kompas adalah:
3.1.Tentukan titik (lokasi) yang menjadi tujuan kita, pada peta.
3.2.Hitung sudut peta dengan kompas dari titik awal kita menuju titik tujuan dan
tentukan pula back azimuth nya.
3.3.Kunci arah kompas.
3.4.Perintahkan satu atau dua orang rekan kita untuk menuju arah bidikan kompas
sebatas pandangan mata.
3.5.Kemudian anda bergerak ke depan rekan anda dan melakukan hal yang sama
dengan point ketiga.
3.6.Posisi jarum kompas harus selalu berimpit dengan N dan S (Utara dan Selatan)
(dalam keadaan terkunci) Teknik ini sering digunakan untuk mengatasi rintangan
yang menghalangi perjalanan kita, misal jurang, sungai, dll. Yang utama adalah
menentukan arah bidikan dan mengirimkan rekan sebagai pionir pencari jalan,
dengan catatan tidak terlepas dari jangkauan mata dan segera menempati arah
bidikan kompas.
228
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Selain itu, kadang lintasan yang akan kita lalui terhalang oleh rintangan, seperti tebing,
rawa, atau danau, dsb, sehingga kita tidak dapat melewatinya, maka cara mengatasinya
adalah:
A. Pada awal rintangan, misal titik A, perjalanan dibelokkan ke kanan atau ke kiri
dengan sudut kompas baru yaitu sudut kompas awal ditambah atau dikurangi 90o.
B. Ikuti arah lintasan yang baru hingga melewati lebarnya rintangan, misallnya pada
titik B, jarak yang dilalui haruslah dihitung, misal dalam X langkah.
C. Dari titik B, arah lintasan dikembalikan kea rah sudut kompas awal dan berjalan
sampai rintangan terlewati, misalnya titik C.
D. Dari titik C, sudut awal kompas dikurangi ± 90o dan berjalan dengan X langkah
sampai ke titik misalnya D.
E. Dari titik D, arah lintasan dikembalikan ke sudut semula, maka kita sudah kembali
pada jalur kita semula.
Teknik Mengunci Kompas
Kompas Siang Hari
a. Kompas diletakkan pada telapak tangan
b. Putar hingga azimuth obyek yang diinginkan didapatkan, sesuaikan dengan garis
index. Pertahankan posisi azimuth
c. Putar bezel-ring sampai garis pengunci disejajarkan dengan panah (arah utara).
Ketika semuanya telah segaris, berarti kompas telah dikunci.
d. Untuk mengikuti suatu azimuth, gunakan teknik centerhold kemudian putar badan
hingga arah utara segaris dengan garis pengunci. Kemudian buat bidang segaris
antara obyek dengan kawat bidik, lalu kunci kompas pada azimuth yang diinginkan.
Jarak penglihatan terbatas (kompas malam hari)
a. Putar bezel-ring hingga mencapai garis pengunci, sesuaikan dengan garis index.
b. Azimuth yang diinginkan dibagi dengan angka tiga, hasil bagi merupakan jumlah
klik yang digunakan pada saat memutar bezel-ring.
c. Putar bezel-ring berdasarkan klik. Jika azimuth yang diinginkan lebih kecil dari
180o, maka bezel-ring diputar berlawanan dengan arah jarum jam. Sebagai contoh,
azimuth yang diinginkan 51o, maka 51o:3=17 klik berlawanan arah jarum jam.
Jika azimuth yang diinginkan lebih besar dari 180o, maka diperkurangkan dengan
229
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
160o kemudian dibagi dengan 3 untuk memperoleh banyaknya klik. Bezel-ring
diputar searah dengan jarum jam. Sebagai contoh, azimuth yang diinginkan adalah
330o, 360o – 330o=30, 30o=10 klik searah jarum jam.
d. Kunci kompas dan gunakan teknik centerhold
e. Ketika kompas akan digunakan pada malam hari, jika memungkinkan azimuth
awal haruslah diset selagi masih tersedia cahaya. Dengan azimuth awal sebagai
dasar, azimuth lain dapat ditentukan dengan mengalikan jumlah klik bezel-ring
dengan angka tiga.
* Azimuth dan Back-azimuth
Azimuth adalah sudut yang terbentuk karena penyimpangan dari arah utara peta,
besarnya azimuth / sudut dinyatakan dengan derajat (  ) dan sudut dihitung sesuai
arah jarum jam. Cara mengukur sudut peta.
1. Tempatkan 0 selalu di utara.
2. Tempatkan gromet (bagian tengah busur) pada titik yang akan diukur besaran
sudutnya.
3. Yakinkan garis dapat dibaca berada pada angka yang tertera di busur derajat.
4. Besarnya sudut adalah sesuai nilai angka yang dilalui garis.
Back azimuth adalah sudut balik dari suatu arah, dimana nilai sudutnya diperoleh jika:
1. Arah kurang dari 1800 maka back azimuthnya adalah (arah + 1800 = Back azimuth).
2. Arah lebih dari 1800 maka back azimuthnya adalah (arah – 1800 = Back azimuth)
230
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3.
ORIENTASI MEDAN
3.1 Mengenal Tanda Medan
Disamping legenda sebagai pengenal tanda medan, bentukan-bentukan alam yang
cukup mencolok dan mudah dikenal dapat kita pergunakan juga sebagai tanda medan.
Tand medan harus kita ketahui dan kita cocokan pada peta sebelum kita memulai
pengembaraan.
Tanda medan yang cukup mudah untuk diamati dapat berupa:
1. Puncakan gunung atau bukit dan bentukan-bentukan tonjolan lain yang cukup
ekstrim
2. Punggungan merupakan rangkaian kontur yang menyeruipai huruf V menjorok
mendekati puncak
3. Saddle, daerah pertemuan 2 ketinggian
4. Belokan kujalan sungai jembatan ujung jalan
5. Garis batas pantai muara sungai, tanjung, dan teluk yang mudah kita kenali
Masih banyak tanda medan yang dapat kita kenali dan kita cocokan dengan keadaan di
alamnya. Jam terbang akan sangat menambah pengetahuan tentang tanda medan ini.
3.2. Orientasi Medan Dengan Kompas
Untuk mengetahui posisi kita saat berada di alam bebas, yang penting untuk
melakukan penentuan arah mata angina (U,S,B dan T), lalu menentukan arah utara
peta. Setelah itu menentukan posisi kita dengan pasti. Ada 2 cara yang dapat
digunakan untuk menentukan posisi kita, yaitu:
3.2.1 Resection
Resection merupakan cara untuk mengetahui posisi kita di peta. Langkah-langkah
melakukan resection:
1. Dengan menggunakan busur derajat dan penggaris, buatlah garis dari titik
sasaran dengan acuan besar sudut peta.).
2. Lakukan hal yang sama dengan titik kedua, missal Y. Bila kita melakukannya
benar maka akan didapatkan titik perpotongan antara kedua garis tersebut.
3. Titik perpotongan itulah posisi kita di peta.
231
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3.2.2 Intersection
Intersection merupakan cara menentukan posisi orang lain/tempat lain pada peta,
langkahnya adalah:
1. Lihatlah dan perhatikan tanda medan yang mudah dikenal di lapangan, seperti
puncak bukit, pegunungan, tikungan potong, sungai ataupun tebing.
2. Lakukan orientasi (sesuai dengan bentang alam), kemudian cocokkan dengan
peta. Bidikkan kompas dari posisi anda berdiri (letaknya sudah pasti diketahui
di medan dan di peta) ke sasaran bidik (obyek). Misal tempat anda berdiri
adalah X, dengan hasil bidikan 130o terhadap sasaran. Maka sudut peta adalah
130o (azimuth).
3. Dengan menggunakan busur derajat dan penggaris, buatlah garis dari titik
sasaran dengan acuan besar sudut peta.
4. Lakukan hal yang sama di tempat kedua, missal Y. Bila kita melakukannya
dengan benar maka akan didapatkan titik perpotongan antara kedua garis
tersebut (usahakan selisih sudut antara X dan Y antara 30o-150o).
5. Titik perpotongan itulah posisi kita di peta.
Intersection bisa dilakukan bila sasaran bidik dapat kita melihat dari dua tempat yang
berbeda, dengan jelas.
232
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3.3 Orientasi Medan Tanpa Peta dan Kompas
Bila kita berada di alam bebas tanpa membawa peta dan kompas, kita dapat
menggunakan tanda-tanda alam untuk menunjukkan arah perjalanan kita, diantaranya
adalah:
1. Matahari hanya dapat digunakan pada siang hari, yaitu mengetahui arah barat dan
timur.
2. Bintang pada malam hari dapat menggunakan bintang untuk mengetahui arah
perjalanan kita, antara lain:
Bintang Pari menunjukkan arah selatan
Bintang Orion menunjukkan arah timur dan barat
3. Kuburan Islam menghadap ke utara.
4. Masjid menghadap kiblat, untuk wilayah Indonesia mengarah ke sekitar barat laut.
5. Bagian pohon yang berlumut tebal menunjukan arah timur, karena pada pagi hari
sinar matahari belum terik.
REFERENSI
1. Navigasi Darat BASARNAS
2. Materi Navigasi Darat Basarnas Seminar Nasional Baksos Nasional PTBMMKI
2014
3. Booklet Musyawarah Nasional XI Jambore Nasional XVII
4. Aidi,Laili.2009.Pengenalan
Dasar
Navigasi
Darat.ASTACALA
PMPA
ITTELKOM Jungle Rescue – SAR Jayapura
http://sarjayapura.com/2012/02/jungle-rescue/
233
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
KOMUNIKASI LAPANGAN
PENDAHULUAN
Dalam keadaan survival jiwa anda tergantung pada 4 hal yaitu : perlindungan dari
cuaca (dingin, hujan, panas), makanan, air dan regu pencari. Juga dalam kegiatan operasi,
seperti operasi SAR, pendakian dalam regu, pertolongan bencana alam, komunikasi
memegang peranan penting dalam operasi tersebut. Kemampuan berkomunikasi dengan orang
lain sangat vital untuk dikuasai dalam berkegiatan di alam terbuka. Hal ini akan sangat terasa
apabila kita berada dalam kondisi survival dimana kita harus mampu memberikan isyarat
untuk memberitahukan atau meminta pertolongan pada seorang yang mungkin dapat
memberikan pertolongan pada kita. Komunikasi dengan sarana radio dua arah (HT)
Kita sering melihat banyak anggota Polisi, TNI, Pemadam, SAR dan instansi lain
menggunakan radio dua arah yang lebih dikenal dengan nama "HT". Masyarakat umum juga
saat ini mulai banyak yang memanfaatkan HT tersebut untuk berbagai kegiatan. Bagaimana
penggunaan alat tersebut?
JENIS KOMUNIKASI LAPANGAN
1. Semaphore
Semaphore adalah isyarat praktis dalam penyampaian pesan dengan menggunakan
sepasang bendera. Biasanya digunakan untuk penyampaian pesan jarak jauh tetapi
masih dapat ditangkap oleh mata manusia. Komunikasi ini biasanya digunakan dalam
keadaan gawat darurat.
234
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Huruf A berlaku juga untuk angka 1, huruf B berlaku juga untuk angka 2,
huruf C berlaku juga untuk angka 3, dan seterusnya.
Isyarat yang umum digunakan :
1.1. tanda panggilan : U R (beberapa kali)
1.2. tanda selesai : A R (beberapa kali)
1.3. tanda siap menerima : K
1.4. tanda belum siap menerima : Q (pengirim diminta menunggu)
1.5. tanda satu kata dimengerti : C
1.6. tanda minta diulangi : I M I
1.7. tanda berita dapat diterima : R
1.8. tanda pemisah kata: bendera kanan diputer searah jarum jam
1.9. tanda satu huruf salah : E 8 kali, kemudian semua kata diulangi
1.10.tanda angka dipakai sebelum pengiriman dan setelah pengiriman selesai
diakhiri dengan huruf J
2. Morse
Morse adalah suatu bentuk isyarat komunikasi berupa kode kombinasi panjang dan
pendek yang mewakili semua huruf, angka, dan tanda baca. Komunikasi ini juga dapat
digunakan dalam keadaan gawat darurat. Alat-alat yang biasa digunakan dalam
komunikasi morse adalah :
2.1 Peluit Isyarat yang digunakan dalam menggunakan peluit adalah dengan
menggunakan panjang-pendek suara tiupan.
2.2 Cahaya Biasanya menggunakan cahaya sorot (senter) yang ditutup dengan kain
berwarna merah/jingga karena intensitas cahayanya paling dapat diterima
dengan baik oleh mata manusia. Isyarat yang digunakan dengan menggunakan
panjang – pendek sinar cahaya.
235
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Tanda Baca :
Tanda . direpresentasikan dengan .-.-.Tanda , direpresentasikan dengan –..–
Tanda : direpresentasikan dengan —…
Tanda - direpresentasikan dengan -….Tanda / direpresentasikan dengan -..-.
3. Komunikasi radio
236
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Komunikasi radio adalah cara berkomunikasi yang paling efisien di dalam
komunikasi lapangan. Secara umum radio dapat diartikan sebagai hubungan jarak jauh
dengan menggunakan peralatan elektronik, misalnya pesawat SSB (Single Side Band),
walkie talkie, pesawat CB, dan jenis-jenis pemancar/penerima lainnya.
Komunikasi radio dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu:
3.1 Telephony: AM (Amplitudo Modulation), FM (Frequency Modulation), A3J (SSB)
3.2 Telegraphy, kode morse.
Alat yang paling sering digunakan di dalam kegiatan alam bebas untuk berkomunikasi
jarak jauh melalui radio adalah TRX (Transceiver) yang berarti Transmitter (TX) dan
Receiver (RX). Alat ini adalah alat komunikasi dua arah yang digunakan secara
bergantian. Artinya apabila pemancar yang bekerja, maka penerimanya mati dan
sebaliknya.
Bagian pokok dari radio:
i. Antena
ii. Receiver (Penerima) dan Transmitter (Pemancar)
iii. Power Supply
iv. Mike
v. Speaker dan Volume
vi. S-Meter (Signal Meter)
vii. Chanenel/Frekuensi
4. Komunikasi Darurat
Anda dengan api dan asap cara yang paling sederhana untuk memberitahukan
letak posisi kita adalah dengan membuat api dan asap, agar mudah terlihat dari
kejauhan. Untuk malam hari dapat membuat api yang besar agar mudah terlihat pada
kegelapan. Untuk membuat api yang besar dapat menggunakan daun, ranting dan
dahan-dahan kering tetapi harus dijaga agar api tidak menimbulkan kebakaran hutan.
Untuk siang hari dapat membuat asap tebal yang mengepul. Untuk daerah yang
berhutan lebat dan hujan, asap tebal putih akan lebih mudah terlihat. Untuk membuat
asap hitam, gunakan bensin, oli, kain yang dicelupkan ke dalam minyak tanah,
potongan karet atau plastik. Untuk asap putih gunakan daun-daun yang masih hijau ,
lumut, ranting, atau percikan air ke dalam api. Namun ada juga cara untuk
memberitahukan posisi kita yaitu dengan asap yang telah dikemas dalam kaleng yang
237
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
disebut smoke. Berikut merupakan warna Isyarat dari asap beserta artinya: Asap
jingga: Saya sedang dalam bahaya dan memerlukan pertolongan segera.
Cermin Survival
Cermin ini berbentuk segi empat yang memiliki sermin dikedua belah sisinya.
Mempunyai 2 lubang; satu ditengah dan satu lainya di sudut. Cermin ini sangat efektif
dalam menarik perhatian.
Kain sebagai kode darat ke udara tanda ini digunakan untuk memberikan
isyarat dari darat ke udara. Biasanya menggunakan kain yang berwarna kontras
dengan medan di sekitarnya.
Gelombang radio secara umum dapat dibagi ke dalam 2 kelompok, yaitu:
a. Gelombang radio yang dapat menembus lapisan benda-benda (tembok, besi, kayu)
yaitu LF (Low Frequency) dan HF (High Frequency).
b. Gelombang radio yang tidak dapat menembus lapisan benda-benda di atas, yaitu
gelombang kategori VHF (Very High Frequency) dan UHF (Ultra High
Frequency).
FASILITAS KOMUNIKASI SAAT DARURAT
1.
Point to Point / Direct
Dari radio langsung ke radio lainnya
2. Repeater
Dari radio menuju repeater/radio pancar ulang untuk menjangkau radio dalam cakupan
wilayah yang lebih luas
3. Repeater to Repeater
238
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4. Internet Radio Gateway
5. Komunikasi Lewat Satelit
6. APRS (Automatic Packet Reporting System)
APRS (Automatic Packet Reporting System)
Komponen inti dari APRS sendiri adalah suatu alat yang bernama TNC (Terminal
Node Controler). Dengan menghubungkan perangkat radio kita dengan TNC dan GPS, maka
kita telah membangun APRS kita sendiri.
APRS digunakan untuk mencari data atau informasi di lapangan. Jadi setiap ada data
baru yang diperoleh di lapangan, tim dapat langsung melaporkan data k epos komando.
Fungsi APRS:
1. Sebagai tracker 1 arah
Untuk membangun APRS dengan fungsi sebagai tracker 1 arah, peralatan yang
dibutuhkan adalah: (i) radio, (ii) TNC, dan (iii) GPS tanpa layar
2. Sebagai tracker 2 arah
Untuk membangun APRS dengan fungsi sebagai tracker 2 arah, peralatan yang
dibutuhkan adalah: (i) radio, (ii) TNC, dan (iii) GPS dengan layar.
3. Sebagai alat penerima/pengirim pesan text
4. Sebagai alat untuk manajemen informasi
239
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
TIPS BAGI USER HT
A. Kenali dan pahami penggunanaan tiap jenis radio, karena :
i. Setiap merek berciri khas berbeda terutama dari segi modelnya.
ii. Setiap merek punya dua model yaitu manual dan digital
B. Cek kelengkapan dan kelayakan radio, dengan cara :
i. Cek bagian-bagian radio, a.l; tombol, antenna, konektor, kabel (apabila
memakai mount antenna).
ii. Pastikan kondisi baterai full, siapkan juga baterai cadangan dan batterry
charger (utk pemakaian lama), perhatikan pula charging duration.
C. Kuasai bahasa standar komunikasi ; International Alphabetic dan Local
Alphabetic. Lihat lampiran
D. Kuasai kode-kode komunikasi (Sandi Perhubungan Mobilisasi). Lihat lampiran
Kenali kode-kode penting untuk akses informasi yang berharga baik dalam hal
keamanan maupun keselamatan.
E. Perhatikan
dan
kuasai
teknik
calling/dialing
dengan
sesama
user.
Setelah selesai, cek kembali alat sebelum disimpan.
ETIKA BERKOMUNIKASI
1. Komunikasi Point to Point
1.1 Memantau dahulu/memonitor pada frekwensi/kanal yang diinginkan.
1.2 Wajib menyebutkan CALLSIGN dan tempat/posisi memancar.
1.3 Menyebutkan callsign dan mengucapkan kata ganti pada akhir pembicaraan.
1.4 Memberikan kesempatan/prioritas pada penyampai berita-berita yang penting.
1.5 Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
1.6 Mengatur jalur/kanal apabila muncul pertama kali di kanal/frekwensi.
1.7 Apabila jalur kanal sibuk sementara butuh komunikasi agak panjang dengan
seseorang, sebaiknya bergeser (tidak memonopoli kanal/jalur/frekwensi).
1.8 Menggunakan kode TEN (10), kode eight (8) pada RAPI atau kode “Q” pada
pada ORARI untuk efisiensi komunikasi.
1.9 Membiasakan menulis di log book, dicatat dengan siapa berkomunikasi dan
kapan/tanggal dan waktu komunikasi dilakukan.
1.10
Menggunakan nama panggilan.
1.11
Di larang menjadi net pengendali apabila sedang dalam stasiun gerak.
240
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2. Komunikasi Melalui Repeater/Pancar ulang
2.1 Radio Pancar Ulang (RPU) adalah stasiun radio yang digunakan untuk
memancar ulangkan pesan melalui pesawat yang jangkauanya lebih luas.
2.2 Monitor dahulu selama 3-5 menit.
2.3 Memperhatikan siapa yang sedang berkomunikasi.
2.4 Memperhatikan apa yang sedang dikomunikasikan.
2.5 Masuk pada spasi atau interval (tidak perlu menggunakan kata break atau
contact), dengan menyebutkan callsign dan apabila ingin berkomunikasi /
memanggil komunikasi langsung memanggil dengan menyebut orang yang di
panggil dan tidak perlu tergesa-gesa, komunikasikan dengan kata-kata yang
jelas dan mudah dimengerti/difahami.
2.6 Apabila ada hal yang bersifat darurat/emergency silahkan gunakan interupsi
pada spasi/interval.
2.7 Jangan memonopoli frekwensi dengan berkomunikasi hanya dengan satu
orang, dan selalu memberikan kesempatan kepada orang lain yang mau
menggunakan pancar ulang.
2.8 Membiasakan mengucapkan kata ganti pada akhir pembicaraan.
2.9 Memberikan kesempatan kepada pengguna dilapangan.
2.10
Mengutamakan / memberikan kesempatan pada pembawa berita yang
bersifat emergency / darurat.
3. Penggunaan Kata INTERUPSI
3.1 Apabila mau memotong / menyela pembicaraan disebabkan ada sesuatu
informasi yang penting, gunakan pada saat jeda komunikasi atau spasi,
kemudian masuk dengan menyebutkan Callsign.
3.2 Monitor/menunggu sampai di sebutkan callsign atau sampai sudah
dipersilahkan menggunakan jalur
Beberapa cara komunikasi lapangan antara lain :
1. Asap dan api
2. Semaphore
3. Morse
4. Sinar lampu
241
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
5. Cermin survival
6. Bendera flare atau sign pistol atau pyrotehnik
7. Kode – kode keadaan darurat
8. Kain di tanah
9. Gerakan badan
10. Gerakan pesawat
LAMPIRAN :
KODE ALPHABETIC
KODE
LOKAL
INTERNASIONAL
A
AMBON
ALPHA
B
BANDUNG
BETA
C
CEPU
CHARLIE
D
DEMAK
DELTA
E
ENDE
ECHO
F
FLORES
FOXROT
G
GARUT
GOLF
H
HALONG/HONGKONG
HOTEL
I
IRIAN
INDIA
J
JAKARTA
JULIET
K
KENDAL
KILO
L
LOMBOK
LIMA
M
MEDAN
MIKE (baca: MAIK)
N
NAMLEA
NOVEMBER
O
OPAK
OSCAR
P
PATI
PAPA
Q
QUIBEC
QUIBEC
R
REMBANG
ROMEO
S
SOLO
SIERA
T
TIMUR/TEGAL
TANGO (baca: TENGGO)
U
UMAR
UNIFORM
V
VICTOR
VICTOR
242
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
W
WILIS
WHISKY
X
X-RAY
X-RAY
Y
YOGYA
YANGKE (baca: YENKI)
Z
ZULLU
ZULLU
SANDI UNTUK KOMUNIKASI PERHUBUNGAN MOBILISASI
KODE KETERANGAN
1-1
Hubungan pusat melalui telepon
1 - 1S Hubungan pusat melalui telepon, segera
1-2
Pribadi menghadap ke pusat
1 - 2S Pribadi menghadap ke pusat, segera
1-3
Temui pelapor, dan minta keterangan yang lengkap
3-1
Diminta kartu Keterangan Penduduk/Identitas
3-2
Diminta kartu mengenai Surat Tanda Nomor Kendaraan
3-3
Diminta Surat Izin Mengemudi
3 - 3M Kecelakaan Lalu Lintas, kerugian materiil
3 - 3L Kecelakaan Lalu Lintas, korban luka
3 - 3K Kecelakaan Lalu Lintas, kerusakan materiil, korban meninggal
3-4
Kecelakaan Lalu Lintas, tersangka melarikan diri
3-5
Kecelakaan Lalu Lintas, korban meninggal, tersanngka melarikan diri
4-1
Kerusakan di …..
6-5
Ada kebakaran di …..
7-1
Ambulan segera diperlukan
7-2
Ambulan segera dikirim
7-3
Ambulan segera ditambah
7-4
Mobil Derek segera diperlukan
7-5
Mobil Derek segera dikirim ke …..
7-6
Barisan Pemadam Kebakaran agar segera ditambah
7-7
Barisan Pemadam Kebakaran sudah dikirim
7-8
Agar juru potret segera didatangkan
7-9
Juru potret sudah dikirim
243
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
8-1
Pemancar diterima lemah/kurang baik
8-2
Pemancar/pesawat diterima dengan baik
8-3
Penerimaan kurang jelas agar menggunakan penghubung lain
8-4
Bagaimana penerimaan daya pancar
8-5
Berhenti memancar, kecuali keadaan darurat
8-6
Mengerti
8 - . 7 Teruskan berita ini kepada …..
8-8
Sedang sibuk dan tidak ada di tempat
8-9
Apakah saudara dapat berhubungan dengan …..
8 - 10 Pesawat dipadamkan selanjutnya berhubungan dengan telepon
8 - 11 Kembali ke udara
8 - 12 Segera diulangi penerimaan terganggu
8 - 13 Siap melaksanakan tugas selanjutnya
8 - 14 Laporan terlalu cepat, berbicara agak lambat
8 - 15 Minta informasi keadaan cuaca
8 - 16 Minta waktu (jam) yang tepat (jam berapa)
9-1
Tugas pengawal
9-2
Tugas mengawal Tamu VIP
9-3
Tugas mengawal Presiden
10 - 1 Selesaikan secepat mungkin
10 - 2 Saudara berada di mana/saya berada di …..
10 - 3 Berita/perintah terakhir dihapus
10 - 4 Berita ini tidak untuk umum
10 - 5 Untuk diumumkan kepada semua jajaran
10 - 6 Untuk diumumkan kepada semua anggota
10 - 7 Tidak sesuai dengan peraturan/perintah dilarang
10 - 8 Menuju ke …..
244
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
TARUNA = Berita
Asap dan Api :
Warna Isyarat
Arti
Asap jingga
Saya sedang dalam bahaya dan memerlukan pertolongan
segera.
Asap merah
Oleh kapal selam I, sedang mencoba untuk timbul secara
darurat.
Asap
jingga
2
kali Oleh pesawat terbang SAR I,
dengan selang beberapa
saya telah melihat survivor
detik
Putih 2 kali & kuning 2 Oleh kapal selam,
kali dengan selang 3 Saya sedang timbul
detik
Hembusan asap hitam Oleh kapal,
atau putih berturut-turut Rubah haluan anda untuk menghindari daerah terlarang
antara 10 detik
Bendera :
Prosedur :
1. Prosedur isyarat bendera diambil dari buku isyarat internasional
2. Isyarat yang penting dalam lalu lintas berita SAR
2.1. JA : saya mengalami tabrakan
2.2. DO : saya hanyut, minta bantuan segera
2.3. AT : saya kandas, minta bantuan segera
2.4. DQ : saya mengalami kebakaran, minta bantuan segera
2.5. LV : saya kehabisan bahan bakar
2.6. DV: saya mengalami kebocoran, minta bantuan segera
2.7. FM: saya tenggelam, kirm bantuan segera untuk menolong penumpang dan
anak buah kapal
2.8. VC : isyarat anda dimengerti dan bantuan sedang menuju tempat anda
2.9. DN : saya datang untuk memberikan bantuan
245
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Flare atau Sign Pistol atau Piroteknik
Warna Isyarat
Arti
Merah 1 kali atau berulang 
Saya sedang dalam bahaya, ualng, minta bantuan segera.

Oleh kapal selam : Akan timbul secara darurat, hati-hati.

Oleh para rescue : Tidak mungkin untuk meneruskan
rencana
Merah 2 kali

Oleh para rescue : Korban luka-luka, memerlukan dokter
dan para medis
Merah 1 kali, hijau 1 kali

Oleh para rescue : Pesawat radio tidak bekerja, berikan
penggantinya
Hijau 1 kali

Oleh pesawat terbang : Minta izin untuk mendarat (
digunakan di dekat lapangan udara )
Hijau 2 kali

Oleh kapal selam : Telah menembakkan torpedo latihan

Oleh para rescue : Laporan awal, semua berjalan baik

Oleh para rescue : Survivor telah siap untuk diambil
sesuai perjanjian

Oleh pesawat terbang SAR atau kapal SAR : Saya telah
melihat survivor
Hijau 1 kali, tiap 5 hingga 
Oleh pesawat terbang SAR atau kapal SAR : Agar ABK
10 menit
(krew) yang dalam keadaan bahaya membuat isyarat piro
merah. ( interval dikurangi separuhnya bila isyarat piro
merah telah kelihatan )
Hijau berkali-kali

Oleh pesawat terbang : Saya punya berita penting untuk
dikirim
Putih 1 kali

Oleh pesawat terbang : Kapal selam ada di bawah saya

Oleh kapal laut : Orang jatuh ke laut

Oleh para rescue : Siap untuk menerima alat untuk
mengapung atau acrokit
Putih 2 kali

Oleh para rescue : Siap untuk menerima pemberian
peralatan MA-1
246
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Putih 2 kali dengan selang 
Oleh kapal selam : Saya sedang timbul, hati-hati
waktu 3 menit
Putih
berturut-turut 
dengan selang waktu 10
Oleh pesawat terbang atau kapal : Ubah haluan anda
untuk menghindari daerah ini
menit

Putih berulang-ulang
Oleh pesawat terbang : Saya dalam kesulitan dan harus
menghindar
Putih 1 kali, hijau 1 kali

Oleh para rescue : Siap untuk menerima pemberian
peralatan sekoci penolong
Putih 1 kali, merah 1 kali

Oleh para rescue : Alat pengapung rusak, drop
penggantinya
Putih 2 kali, hijau 1 kali

Oleh pesawat terbang SAR : Rescue berhasil baik
Putih 2 kali, merah 1 kali

Oleh pesawat terbang SAR : Rescue tidak berhasil
Kuning 1 kali

Oleh kapal selam : Akan naik hingga kedalaman
periscope
Isyarat kain di tanah yang bekerja sama dengand pesawat terbang
Isyarat oleh unsur darat atau tim SAR
Isyarat
Arti
Dibagi menjadi dua kelompok dan setiap kelompok menuju kea
rah tanda panah
Informasi yang diterima bahwa pesawat ke arah ini
Semua personil telah ditemukan
H
Hanya ditemukan sebagian personel saja
NN
Tidak ditemukan apa-apa, pencarian akan dilanjutkan
XX
Tidak mungkin meneruskan, akan kembali ke pangkalan
LLL
Operasi selesai, akan kembali ke pangkalan
247
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Isyarat oleh unsur darat atau tim SAR dan survivor
Isyarat
Arti
I
Memerlukan dokter, luka parah
II
Memerlukan suplay obat-obatan
LL
Semua baik
W
Memerlukan ahli mesin
Pesawat rusak berat
I>
Akan mencoba lepas landas
Kemungkinan akan mendarat di sini
REFERENSI
1. International Telecommunication and Amateur Union
2. ORARI / Organisasi Amatir Radio Indonesia
3. RAPI / Radio Antar Peduduk Indonesia
4. World Conference on International Telecommunications 2012". Itu.int. Retrieved 12
October 2012.
5. "International Telecommunication Regulations" (PDF). Retrieved 12 October 2012.
6.
Internet Society. International Telecommunication Regulations
7. Peraturan kepala badan nasional penanggulangan bencana nomor 06 tahun 2013
tentang pedoman radio komunikasi kebencanaan
8. http://www.basarnas.go.id/index.php/halaman/47/sistem-komunikasi-sar
9. Materi Navrat & Komlap Seminar Nasinal Bakti Sosial Nasional 2014
10. Basarnas – Sistem Komunikasi SAR
11. http://www.basarnas.go.id/index.php/halaman/47/sistem-komunikasi-sar
12. APRS (Automatic Packet Reporting System) Untuk Penanggulangan Bencana –
Syafraufgisqu.2013
248
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
EVAKUASI MEDIS DARAT
PENGERTIAN
Evakuasi medis adalah proses pemindahan pasien yang terluka atau sakit dari lokasi kejadian
menuju rumah sakit terdekat.
Beberapa hal yang harus dipersiapkan daam merencanakan evakuasi
1. Mempersiapkan tim bantuan medis
2. Data
Perlu adanya infomasi mengenai suatu bencana seperti
2.1.Kronologis
2.2.Jumlah korban
2.3.Jumlah kerusakan
2.4.Upaya penanggulangan yang sudah dilakukan
2.5.Akses ke lokasi
2.6.Pelayanan darurat yang dibutuhkan
PRINSIP DASAR
Prinsip utama dari evakuasi medis darat :
1. Don’t further harm
2. Don’t move causality unless absolutely necessary
3. Don’t endanger yourself
4. Explain clearly
5. One command
SYARAT-SYARAT EMD
Syarat-syarat sebelum melakukan evakuasi medis darat adalah dengan melakukan stabilisas,
yaitu suatu tindakan yang dilakukan agar korban menjadi stabil. Hal tersebut meliputi :
1. Memastikan keadaan umum korban serta respon yang diberikan
2. Memastikaan tidak adanya gangguan pernafasan
3. Nadi korban teratur
4. Perdarahan telah dihentikan
5. Luka telah di balut
6. Bila terjadi patah tulang telah di immobiloisasi, misalnya dengan di bidai
249
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Sebelum melakukan Evakuasi, kita harus menyiapkan:
1. Peralatan Pendukung Evakuasi Dasar
Penolong dalam evakuasi harus menyiapkan alat pelindung diri seperti sarung tangan,
masker, dan kacamata pelindung.
2. Peralatan Dasar Perawatan
Korban evakuasi harus ditangani segera, sehingga sebagai penolong maka alat-alat
seperti tandu, tali, oksigen, neck colar, dan P3K sangat diperlukan.
3. Peralatan Akses Korban Terperangkap
Korban evakuasi yang terperangkap pada suatu tempat harus segera dipindahkan, oleh
karena itu peralatan seperti rantai, kait, dan bor diperlukan untuk membuka akses jalan
missal pada gedung tertutup, gua, atau lereng.
4. Memilih lintasan
Bila kita melakukan evakuasi di daerah yang sulit dilalui, maka kita harus memilih
lintasan yang paling ringan dengan memperhitungkan peralatan dan personil yang
tersedia. Sebelum evakuasi dimulai harus di lakukan penelitian dan pembersihan jalur
yang akan dilalui oleh tim survey. Bisa juga dengan kendaraan seperti helicopter untuk
memantau area dari atas.
Aturan-aturan dalam melakukan evakuasi
1. Aturan Dasar Pengangkatan
Pengangkutan korban yang tidak melihat keadaan korban dapat memperparah dan
mencelakai korban, sehingga dalam pengangkatan korban terdapat aturan-aturan dasar
sehingga posisi kita sebagai penolong nyaman dan tidak melukai korban atau diri
sendiri.
1.1 Rencanakan gerakan
1.2 Gunakan kaki, bukan punggung. Tempatkan posisi kaki senyaman mungkin,
salah satu kaki ke depan guna menjaga keseimbangan.
1.3 Bawa beban berat sedekat mungkin dengan tubuh
1.4 Atur gerakan dengan kompak
1.5 Jika kehilangan keseimbangan/pegangan, letakkan korban, atur posisi kembali,
lalu mulai kembali mengangkat.
250
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2. Hal-hal yang harus diperhatikan jika membawa korban dengan tandu
2.1. Tandu diperiksa dari kerusakan, dicoba apa mampuo menahan berat korban.
2.2. Korban tidak sadar yang dibawa ke tenpat jauh, sebaiknya selalu diikat.
2.3. Penoloang yang palign berpengalaman, memberi komando untuk tiap gerakan.
2.4. Kaki korban selalu di depan, kecuali pada keadaan :
2.4.1. Korban cedera tungkai berat menuruni tangga / turun di tempet miring.
2.4.2. Korban hipotermia, menuruni tangga / turun di tempat miring.
2.4.3. Korban dengan stroke / kompresi otak tidak boleh diangkat dengan kepala
lebih rendah dari kaki.
TEKNIK EVAKUASI
1. Evakuasi tanpa menggunakan alat bantu
Dengan satu penolong
1.1 Human crutch
Kondisi pasien sadar dan dapat berjalan dengan dipapah.
A. Dapat dikerjakan dengan 1 atau 2 penolong.
B. Teknik: penolong berdiri disamping bagian yang sakit
(kecuali pada cedera ekstremitas atas), lingakarkan tangan
penolong pada pinggang korban, kalungkan lengan korban
pada leher penolong, lalu genggang pergelangan tangan
korban dengan tangan lain, setelah itu berjalan secara
perlahan mengikuti langhkah korban.
1.2 Cradle method
A. Kondisi pasien sadar.
B. Dapat dilakukan dengan satu atau dua penolong
C. Berat badan korban lebih ringan dari berat penolong.
D. Perhatikan bila ada cedera spinal.
E. Teknik: penolong jongkok atau melutut disamping
anak/korban, satu lengan ditempatkan di bawah paha
korban dan lengen alinnya melingkari punggung. Korban
dipegang dengan mantap dan didekapkan ke tubuh,
penolong berdiri dengan meluruskan lutut dan pinggul.
251
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.3 Pick a bag
A. Korban dalam keadaan sadar.
B. Berat badan korban lebih ringan dari penolong
C. Teknik: penolong berjongkok membelakangi korban,
minta korban untuk mengalungkan lengannya ke
leher penolong. Angakt korban secara perlahan,
tangan penolong menyangga korban pada paha.
Usahakan agar punggung penolong tetap lurus.
1.4 Fireman lift
A. Digunakan untuk pasien sadar maupun tidak sadar, dengan syarat tidak
terdapat cedera pada servikal, dan fraktur pada ekstremitas ataupun vertebrae.
B. Berat badan korban lebih ringan dari penolong.
1.5 One rescuer drag
A. Digunakan untuk korban sadar maupun tidak sadar.
B. Lantai dalam kondisi licin dan bebas hambatan.
C. Tidak untuk pasien cedera servikal maupun fraktur pada ektremitas atas serta
scapulae.
252
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.6 Pack-strap carry
A. Untuk korban yang cukup berat denga jarak yang cukup jauh.
B. Tidak digunakan untuk korban cedera thorax, servikal, vertebrae, dan lengan
Dengan dua atau lebih penolong
1.1 Human crutch dengan dua penolong
253
KURIKULUM PTBMMKI
STAF PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2.2.Fore-and-aft carry
A. Dilakuakn oleh dua penolong dari depan dan belakang korban.
B. Tidak dilakukan pada korban dengan cedera bahu atau tangan.
C. Teknik: dudukkan korban, penolong satu berada di antara kedua paha korban
menghadap depan memegang bawah lutut korban, penolong kedua berada di
belakang memegang korban dari ketiak. Mengangkat korban bergiliran dari
penolong di belakang diikuti penolong di depan dengan jeda sementara.
2.3.Cradle method dengan dua penolong
2.4.Two-handed seat
A. Korban sadar
B. Dilakukan dengan dua penolong
C. Teknik:
kedua
penolong
berjongkok
berhadapan
dengan
tangan
menyilangmembentuk kotak untuk dudukan korban. Tangan korban memeluk
leher penolong dari belakang.
254
2. Dengan menggunakan alat bantu
2.3 Chair carry
A. Alat mudah ditemukan dimana saja.
B. Bukan kursi plastik maupun kersi lipat.
C. Memindahkan korban dengan kursi.
D. Hati-hati bila ada cedera spinal.
E. Perkirakan beban yang daoat dibawa oleh
kursi.
2.4 Drag method
A. Digunakan untuk korban sadar maupun tidak sadar.
B. Lantai dalam kondisi licin dan bebas hambatan.
C. Tidak untuk pasien cedera servikal dan fraktur pada ektremitas atas serta scapulae.
D. Teknik: dengan menyerak korban dengan memberi alas terlbih dahulu dengan
matras atau kain tebak untuk mengurangi gesekan.
3. Dengan menggunakan tandu
3.1. Digunakan terutama pada korban-korban yang tidak sadar atau fraktur pada
ektrmitas bawah, terutama pada korban cedera servikal.
3.2. Curiga korban dengan curiga cedera spinal:
A. Korban jatuh dari ketinggian dan kecelakaan kecepatan tinggi
B. Terdapat cedera supraclavicula
C. Pernapasan paradoksal
D. Keluimpuhan anggota gerah
E. Terdapar multiple trauma
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3.3. Ciri-ciri pasien cedera servikal
A. Pasien tidak sadar
B. Keluar darah dari lelinghan dan hidung
C. Luka jejas di sekitar bahu / clavicula
D. Pernafasan tidak teratur
3.4.Lakukan teknik berikut jika dicurigai terdapat trauma spinal.
3.4.1. Inline immbilization
Posisi leher dan batang badan harus segaris
Amankan leher dengen neck collar atau yang sejenis (sandal bag)
Jika tidak tesedia, ammankan dengan dipenggang
256
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3.4.2. Pindahkan dengan log roll
Untuk memeriksa bagian bawah korban.
Untuk meposisikan krban sebelum pindah ke stretcher.
Dikerjakan oleh sekurang-kurangnya tiga penolong
3.4.3. Gunakan scoop stretcher atau spine board untuk memindahkan korban
3.5. Langkah-langkah dalam mengangkat tandu
3.5.1. Seorang pengangkat berdiri di keempat ujung tandu. Jika ada tiga
orang, dua berdiri dekat kepala dan satu kaki.
3.5.2. Semua penganghkat jongkok dan memegang mengikuti aba-aba,
bangkit serentak dan berdiri memegang tandu secara rata.
3.5.3. Aba-aba selanjutnya semua pengangkat melangkahkan kaki sebelah
dalam dengan lanhgkah pendek.
3.5.4. Untuk menurunkan korban, para pengangkat berhenti kalau ada abaaba. Pada aba-aba berikutnya semua jongkok dan meletakkan tanduhati-hati.
Setelah melakukan evakuasi, monitoring dan evaluasi perlu diadakan guna memantau
pelaksaan dan menilai hasil dari pelaksanaan upaya penanganan darurat bencana yang
dilakukan.
REFERENSI
1. Seminar Materi Pertolongan Pertama Latihan oleh BASARNAS
257
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
EVAKUASI MEDIS PERAIRAN
PRINSIP DASAR
Untuk evakuasi korban dalam air diperlukan teknik penyelamatan. Teknik penyelamatan yang
digunakan berprinsip pada ketenangan dalam bertindak, sehingga dapat memilih cara
penanganan yang tepat. Prinsip penyelamatan di air adalah untuk menolong tanpa menambah
korban baru dan menolong tanpa menyebabkan timbulnya cedera fatal.
Beberapa hal yang harus selalu diingat, diketahui dan dilaksanakan oleh seorang penolong,
yaitu:
1.
Penolong harus terlebih dahulu mengamankan diri sendiri sebelum memberikan
pertolongan kepada korban. Karena biasanya korban tenggelam akan mengalami
kepanikan dan cenderung akan menggapai, memegang atau merangkul benda-benda
disekitarnya serta meronta-ronta guna menyelamatkan dirinya. Hal ini sangat
berbahaya jika si penolong tidak siap dengan kondisi tesebut.
2.
Penolong ketika menjumpai korban tenggelam sebaiknya segera mencari bantuan
terdekat, sambil terus berusaha untuk mengamati kondisi korban.
3.
Penolong tidak berusaha untuk memberikan pertolongan pertama di air, karena itu
sangat berbahaya tapi memberikannya setelah sampai ditempat yang aman di darat.
Teknik mempertahankan dan menyelamatkan diri:
1. Water trappen
Saat jatuh ke dalam air, hal yang pertama dilakukan adalah melakukan gerakan
menginjak-injak air atau seperti mengayuh sepeda (water trappen). Hal tersebut
dilakukan guna menjaga agar kepala tidak masuk ke dalam air yang dapat
menyebabkan kesulitan bernapas. Jangan berusahan untuk menginjak dasar air karena
akan menambah ketakutan dan kepanikan.
2. Melepaskan pakaian
Pakaian yang terkena air akan menjadi lebih berat dan dapat mengganggu gerak dalam
mempertahankan diri. Untuk mengurangi beban tubuh, sebaiknya pakaian dilepaskan.
Akan tetapi lihat kondisi air terlebih dahulu. Jika kondisi air terlalu dingin, maka
pakaian bisa membantu mempertahankan suhu tubuh meskipun beban tubuh menjadi
lebih besar.
258
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3. Mengurangi minum air
Apabila terjatuh di laut, hindari minum air laut, air seni, air perasan binatang laut
ataupun membasahi bibir dengan air laut. Air yang paling aman adalah air hujan. Jika
persediaan air tawar yang dimiliki sedikit, jumlah air yang diminum kurang lebih 100
cc per hari.
4. Berpegang pada benda mengapung
Jika tidak ada pelampung atau batang kayu yang dapat digunakan untuk bertahan,
pakaian dapat dibuat menjadi pelampung. Berikut cara membuatnya:
4.1.Pelampung dari celana panjang
Celana yang telah dilepaskan diikatkan pada kedua bagian kaki, dapat diikat satu
per satu maupun diikat menjadi satu serta kancingkan bagian pinggang. Untuk
membuat celana benar-benar menjadi sebuah pelampung, celana harus diisi udara
dengan cara meniup dari dalam air ataupun dengan mengibaskan celana ke arah
udara dengan bagian pinggang menghadap ke bawah. Setelah celana terpenuhi oleh
udara, celana dapat didekap ataupun dikalungkan di Ieher. Untuk mempertahankan
bentuk pelampung celana, lakukan peniupan ulang setiap beberapa selang waktu.
4.2.Pelampung dari kemeja
Untuk kemeja dapat dibuat dengan cara mengancingkan bagian leher pada leher
dan mengikat ujung-ujung lengannya serta menghadapkan bagian kancing baju
pada tubuh. Kemeja akan berfungsing apabila sudah berisi udara, untuk mengisi
udara, kibaskan bagian pinggang kemeja ke luar udara dan tarik ke dalam air
kemudian pegang bagian pinggang kemeja dengan erat. Apabila telah habis
udaranya dapat dilakukan pengisian ulang dengan cara yang sama. Penggunaan
pelampung kemeja dengan posisi telentang.
4.3.Pelampung dari rok
Pembuatan pelampung dengan menggunakan rok dengan tetap menggugunakan rok
dan pegang bagian bawah dengan kedua tangan lalu kibaskan rok untuk mengisi
udara setelah itu rapatkan bagian bawah rok pada tubuh. Berenanglah dalam
keadaan terlentang dengan bantuan pelampung rok.
259
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Beberapa hal yang harus diketahui ketika melakukan pertolongan diri sendiri :
1. Daya apung
Daya apung dibagi menjadi tiga, yaitu daya apung positif atau tubuh berada di
permukaan, daya apung negatif atau tubuh tenggelam dan di antara keduanya.
2. Mengambang
Mengambang adalah usaha mengambangkan tubuh tanpa melakukan gerakan, tekanan
air akan mendorong tubuh ke atas dengan sendirinya. Biasanya untuk beristirahat di
antara uapaya penyelamatan.
3. Treading
Treading adalah usaha berenang mengambang secara vertikal, kepala berada di atas
permukaan air dan biasanya untuk mengetahui arah penyelamatan.
4. Berenang
Ada empat gaya renang yang harus dikuasai seorang relawan, yaitu gaya bebas, gaya
punggung, gaya dada dan gaya kupu-kupu.
5. Menggunakan pelampung
Pelampung berfungsi menjaga hidung dan mulut agar tetap berada di atas air,
digunakan dengan cara dipegang atau disandar ke bawah lengan dan pelampung
sendiri tidak untuk dinaiki.
JENIS-JENIS EVAKUASI MEDIS PERAIRAN
Teknik-teknik menolong korban dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Penyelamatan dari darat :
1.1 Tanpa alat
Apabila korban dapat dijangkau dengan raihan tangan atau dengan jangkauan kaki
yang terjulur yang dapat diraih oleh korban, tidak perlu alat bantu. Hal yang perlu
diperhatikan adalah penolong harus memperhatikan keselamatan diri agar tidak
menjadi korban berikutnya.
260
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.2 Dengan alat
1.2.1 Handuk/kayu/tongkat
Penggunaan alat bantu ini disesuaikan dengan jarak korban dengan tepi dan
menjadi lebih aman apabila penolong tidak dapat berenang karena bantuan
handuk/kayu/tongkat
dilakukan
tanpa
harus
bersentuhan
dengan
air.
Handuk/kayu/tongkat diarahkan ke arah korban sedapat mungkin diarahkan
bagian tangan sehingga korban dapat meraih handuk/kayu yang diberikan.
1.2.2 Ban pelampung (ringbuoy)
Ban pelampung digunakan untuk korban yang berada lebih jauh ke tengah. Ban
pelampung diikatkan pada seutas tali yang digunakan untuk menarik korban
yang telah berpegang pada ban pelampung. Panggil korban terlebih dahulu
sebelum melempar. Hal ini berfungsi supaya korban melihat benda dan arah
lemparan kita. Ban pelampung dilemparkan ke belakang korban secara
perlahan, ban pelampung ditarik hingga korban tersangkut seperti ikan
terperangap jala. Tersangkutnya korban pada ban pelampung membuat korban
berusaha meraih ban pelampung dan setelah korban berpegangan maka tariklah
dengan perlahan hingga mencapai tepi.
2. Penyelamatan langsung (turun ke air)
Apabila korban berada jauh di tengah perairan. Penyelamatan ini dilakukan oleh orang
yang mahir berenang sehingga keselematan korban dan penolong dapat terjaga.
Sebelum melakukan pertolongan sebaiknya penolong melakukan komunikasi dengan
korban unmk mengurangi kepanikan. Korban yang berada dalam keadaan panik dapat
membuat penolong ikut celaka karena dipegang terlalu erat hingga tidak dapat
bergerak. Metode yang harus dikuasai terlebih dahulu adalah melepaskan diri dari
pelukan korban agar dapat memberikan pertolongan lebih lanjut.
261
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Teknik Melepaskan Diri
1. Korban memegang dari arah belakang
Rapatkan dagu pada dada, pegang bagian lengan atas korban, dan dorong tubuh ke
dalam air sehingga menjauh dari korban. Setelah terlepas berputarlah dan muncul
kepermukaan dan berhadapan dengan korban kemudian memberikan pelampung
yang dibawa.
2. Korban memegang dari arah depan
Rapat dagu pada dada, pegang bagian lengan atau tubuh korban dan dorong tubuh
ke dalam air sehingga menjauh dari korban. Keluarlah kepermukaan dan
memberikan pertolongan lanjut dengan memberikan pelampung pada korban.
Setelah korban menggunakan pelampung, korban dapat dibawa ke tepi dengan cara
ditarik oleh penolong yang berenang ke tepi. Apabila penolong tidak menggunakan
pelampung, penolong dapat langsung menarik korban dengan tangan ataupun
mendorong korban ke arah tepi.
Teknik membawa korban:
1. Tanpa alat
Prinsipnya yaitu:
i. CEPAT
ii. MULUT KORBAN TETAP DI ATAS AIR
iii. PENOLONG MENGONTROLGERAKAN KORBAN
iv. PENOLONG DPT BERGERAK BEBAS
v. DIBUTUHKAN STAMINA dan KEKUATAN
1.1 The hip carry rescue
Membawa korban dengan menggunakan gaya dada terbalik serta kedua tangan
memegangi korban. Cara memegang korban yaitu menyilangkan salah satu
tangan dari bawah lengan dan menyilang di depan dada korban dan dikaitkan
pada tangan satunya. Posisi kepala berada di bahu tempat tangan penolong yang
digunakan untuk menyilang. Keadaan korban harus diperhatikan agar wajah
terutama hidung dan mulut tidak terkena riak air.
262
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.2 Armpit tow
Menolong korban yang masih dalam keadaan sadar tetapi tidak mampu lagi
untuk berenang ke tepi sehingga membutuhkan pertolongan untuk dapat
mencapai tepi. Penolong memegang lengan korban secara berlawanan dengan
tangan penolong yang akan membantu. Apabila peolong memegang dengan
tangan kanan, lengan kiri korbanlah yang dipegang tepatnya di pangkal lengan.
Posisi korban dalam keadaan terlentang dan penolong menarik korban dengan
berenang menggunakan gaya dada.
1.3 Wrist tow
Menolong korban yang masih dalam keadaan sadar tetapi tidak mampu lagi
untuk berenang ke tepi sehingga membutuhkan pertolongan untuk dapat
mencapai tepi. Penolong memegang pada bagian perbanan tangan dengan posisi
bagian dalam tangan korban menghadap ke atas kemudian penolong memegang
tangan korban dengan mengaitkan ibu jari dan jari telunjuk atau jari tengah di
perbanan tangan korban. Apabila tangan kanan korban yang dipegang, tangan
kanan penolonglah yang digunakan untuk menarik korban. Kemudian, penolong
membawa korban dengan menggunakan gaya dada dan hanya dengan bantuan
satu tangan saja.
263
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.4 Tired swimmer tow
Teknik ini digunakan untuk menolong korban yang kelelahan di tengah perairan
dan tidak sanggup untuk menepi, teknik ini digunakan pada korban yang masih
dapat diajak komunikasi. Penolong berenang dengan gaya dada seperti biasa
dan korban didorong ke tepi. Posisi korban telentang dengan kedua kaki
disangkutkan pada pinggang penolong dan kedua tangan berpegang pada bahu
penolong.
2. Dengan alat
2.1 Tube rescue
Tube rescue adalah alat pelampung yang terbuat dari bahan yang elastis dengan
kedua ujungnya memiliki kaitan untuk mengunci saat membawa korban. Alat
ini digunakan melingkari badan korban. Kait pada tube diletakkan pada
punggung sehingga posisi korban dalam keadaan telentang. Penolong berenang
ke tepi dengan menggunakan gaya crawl. Apabila korban dalam keadaan panik,
korban didekati dengan memberikan tube terlebih dahulu setelah korban
berpegang kemudian ikat badan korban dengan tube kemudian ditarik. Korban
yang telah tidak sadar segera lingkarkan tube pada korban dan telentangkan
korban dan segera memberi napas buatan sebisa mungkin untuk membuka jalan
pernapasan setelah itu bawa korban ke tepi.
264
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2.2 Board rescue
Board rescue adalah alat yang menyerupai papan selancar. Papan ini digunakan
untuk mengangkut korban baik yang kelelahan maupun yang dalam keadaan
tidak sadar. Cara mengendarai board rescue adalah dengan posisi bersimpuh
pada atas papan dan mengayuh dengan kedua tangan secara bersamaan, untuk
melakukan pengereman dengan cara menurunkan kaki dan secara bersamaan
mengambil posisi duduk dengan kedua kaki berada pada sisi yang berlainan.
Cara yang kedua dengan posisi telungkup di atas papan dan mengayuh dengan
satu
tangan
bergantian
seperti
gerakan
tangan
gaya
crawl,
untuk
menghentikannya dengan mengayuhkan tangan ke arah depan secara bersamasama. Setelah sampai di tempat korban, yang dilakukan adalah mengangkat
korban ke atas papan.
Cara mengangkat korban sadar, menghentikan papan dengan posisi korban
berada di sebelah kanan papan. Kemudian, korban berusaha sendiri untuk naik
ke atas papan dan penolong membantu serta mengimbangi agar papan tidak
terbalik. Setelah berada di atas papan posisi korban tertelungkup dan penolong
juga dalam posisi yang sama kemudian bersama-sama mengayuh board rescue.
Apabila korban dalam keadaan tidak sadar, penolong menghentikan papan
dengan bagian kiri papan yang mendekat dengan korban. Raih tangan kiri
korban dan letakkan pada tepi papan kemudian papan diputar sebanyak dua kali
sehingga korban berada di atas papan dan benarkan posisi korban untuk dapat
dibawa ke tepi. Bantuan napas buatan juga dapat diberikan sebelum membawa
korban ke atas papan dengan meletakkan kepala korban pada tepi papan dan
kaki penolong turun dari sisi yang berbeda, setelah jalan pernapasan terbuka
kemudian korban dinaikkan ke papan.
Cara masuk ke air yang aman dan perlu diperhatikan oleh penolong :
1. Slide in entry
Digunakan jika relawan tidak mengetahui kondisi perairan maupun kedalamannya.
Cara ini paling aman dilakukan. Langkah-langkahnya adalah membuat posisi seaman
mungkin di tepi air, memasukkan salah satu kaki ke air, merasakan pijakan kaki
apakah berbahaya atau tidak, menjatuhkan badan dan digunakan untuk menahan berat
badan.
265
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2. Step in
Digunakan jika air jernih, kedalaman diketahui dan tidak ada benda-benda yang
membahayakan dalam di dalam air. Langkah-langkahnya adalah melihat arah tujuan di
air, melangkah dengan hati-hati pada tepian air, ketika sudah masuk ke air, pastikan
lutut dan kaki menekuk atau kaki menyentuh bokong.
3. Compact jump
Digunakan untuk mencapai kedalaman yang lebih dari dua meter. Langkahlangkahnya adalah meletakkan kedua tangan menyilang pada dada, melangkah ke
tepian air dengan kedua kaki dalam posisi lurus, gerakan tubuh vertikal dan memakai
pelindung sesuai kebutuhan, setelah dalam air pengereman dapat dilakukan dengan
tangan dan kaki.
4. Straddle entry
Digunakan jika masuk ke air yang dalam dari ketinggian rendah dan korban dapat
terlihat. Teknik ini tidak digunakan pada ketinggian lebih dari satu meter atau pada
perairan dangkal. Langkah-langkahnya adalah mengambil jarak yang cukup dari
tepian, melakukan loncatan dengan satu kaki lurus dan kaki lainnya agak menekuk,
posisi tangan lurus ke samping dan ke depan serta pandangan juga lurus ke dapan.
Berikutnya setelah masuk ke dalam air, melakukan gerakan menekan tangan ke bawah
dan menggerakan kaki seperti gunting dan menjaga agar kepala tetap di atas air.
5. Shallow dive
Digunakan pada perairan yang jernih, kedalaman air dapat diketahui dan keadaan di
bawah air dapat dilihat.
266
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Perlengkapan pertolongan di air :
1. Perahu
Perahu pertolongan di air harus tahan benturan dan abrasi, biasanya terbuat dari
campuran sintetis nylon, karet sintetis, PVC, neophrene, dan hipalon. Perahu juga
harus mudah dikendalikan.
2. Pompa
Berfungsi memasukkan udara ke dalam perahu, yang bisa terdiri dari dari pompa
tangan dan pampa kaki.
3. Repair Kit
Terdiri dari lem, benang, nylon, jarum jahit dan bahan penambal
4. Tali penyelamat
Berfungsi untuk penyelamatan, juga berguna untuk linning dan scouting. Tali yang
digunakan ter buat dari bahan nylon berwarna mencilok agar dapat dilihat oleh korban.
5. Kantung kedap air
Berfungsi untuk menyimpan kamera, obat-obatan, makanan dan benda-benda lain agar
tidak basah.
6. Carabiner
Alat yang terbuat dari alumunium alloy, berfungsi untuk menghubungkan satu alat
dengan lainnya, misalnya throw bag dengan D–ring atau cincin yang ada di samping
perahu.
267
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
7. Dayung
Berfungsi untuk manuver, mengarahakan, menambah dan mengurangi kecepatan
perahu.
8. Helm
Berfungsi untuk melindungi kepala dari benturan yangterbuat dari bahan yang kuat
tapi ringan dengan lubang-lubang kecil di atasnya.
9. Jaket pelampung
Berfungsi untuk mengapungkan tubuh dan melindungi bagian tubuh dari benturan
10. P3K
Obat-obatan dann peralatan perawatan yang harus disesuaikan dengan kondisi medan,
cuaca dan waktu tempuh menuju korban.
11. Peluit
Untuk membantu memberikan kode bahaya tertentu
12. Rescue Sled Inflatable Litter
Digunakan untuk mengevakuasi korban
13. Floatation Colar
Alat tambahan evakuasi dengan menambahkan basket strethcer agar dapat mengapung
14. Ring Buoy
Alat penyelamat korban tenggelam yang digunakan dengan cara melalmparkannya ke
korban agar dipegang.
15. Perlatan selam
Peralatan selammini bisa terdiri dari snorkel, baju selam, tabung oksigen dan lain
sebagainya.
268
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
16. Sea view under water viewer
Alat untuk melihat keadaan di bawah air
Tipe jaket pelampung dibagi menjadi lima, yaitu :
1. Tipe I atau off shore life jacket
Digunakan pada korban di air dengan posisi korban dapat dari depan maupun dari
belakangpenolong dan mempunyai daya apung 20 ton. Merupakan jaket penyelamat
yang abik agar tetap mengapung pada air yang bergelombang apabila pertolongan datang
terlambat. Biasanya dapat ditemukan pada kapal-kapal komersial.
2. Tipe II atau near shore buoyant vest
Hampir sama dengan tipe I, tetapi mempunyai ukuran yang lebih besar, mempunyai daya
apung 15,5 ton dan digunakan pada air yang tenang.
3. Tipe III atau floatation aid
Merupakan pelampung yang paling nyaman dan memiliki banyak ukuran, daya apung
15, 5 ton dan dengan posisi wajah di atas.
4. Tipe IV atau throwable device
Penggunaannya dengan melemparkan pada korban, berbentuk seperti cincin yang dapat
mengapung dengan tali untuk menarik. Pemakaiannya dengan mendekatkan ke dada,
jaket pelampung ini sangat penting dalam keadaan darurat.
5. Tipe V atau special use devices
Dirancang untuk aktivitas tertentu, petunjuk penggunaanya biasanya terdapat pada label
di pelampung
REFERENSI
1. Danardi,
Wasti.
Teknik
penyelamatan
di
air.
2006.
http://journal.uny.ac.id/index.php/medifora/article/viewFile/4757/4116 .
269
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
SURVIVAL
1. PENGERTIAN
Yang dimaksud dengan survival adalah kelangsungan hidup seseorang dimana
seseorang itu tidak mendapatkan/menerima fasilitas/pelayanan yang sempurna/semestinya
secara teratur karena adanya pengaruh atau masalah yang timbul pada waktu itu. Dengan
demikian kelangsungan hidup seseorang itu sangat tergantung pada kemampuan dirinya
sendiri untuk mempertahankan hidupnya. Survival secara umum diartikan sebagai
kemampuan untuk mempertahankan hidup dalam keadaan kritis/marjinal. Kemampuan
mempertahankan diri tergantung pada sikap mental, emosional, pengetahuan dan
keterampilan. Sedangkan orang yang sedang berusaha untuk mempertahankan hidupnya dari
keadaan yang sangat kritis atau orang yang sedang melaksanakan survival disebut survivor.
2. KONDISI, BAHAYA DAN MEDAN YANG DIHADAPI
Kondisi yang dihadapi seorang survivor antara lain :
1. Phisikologis
: panik, takut, cemas, kesepian, bingung, tertekan, bosan dll.
2. Fisiologis
: sakit, lapar, haus, luka dll.
3. Lingkungan
: panas, dingin, kering, hujan, angin dll.
Sedangkan faktor yang menyebabkan seorang gagal dalam bersurvival antara lain :
1. Rasa kesunyian.
2. Rasa putus asa atau perasaan sudah tidak ada harapan lagi.
3. Rasa jemu terhadap lingkungan/situasi.
4. Kebutuhan jasmani seperti rasa lapar, haus dll yang dapat menipu diri sendiri sehingga
mental menjadi lemah.
Namun secara umum bahaya bergiat di alam bebas dapat dibedakan menjadi :
1. Bahaya yang berasal dari dalam diri kita sendiri (subjective danger).
Subjective danger dapat terjadi karena persiapan kita yang asal-asalan, ketelodoran,
pengetahuan yang minimal dan lain sebagainya. Berdasarkan itulah kita prediksi dan
kita antisipasi dengan melalui persiapan perjalanan yang lebih baik (manajamen
ekspidisi).
270
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2. Bahaya yang berasal dari luar/lingkungan (Objective Danger).
Objective danger lebih banyak terjadi karena faktor alam yang kita hadapi semisal
cuaca, binatang buas dan sebagainya.
Berdasarkan medan yang dihadapi, survival dapat dibedakan menjadi :
1. Survival di hutan (jungle survival).
2. Survival di laut (sea survival).
3. Survival di padang pasir (desert survival).
4. Survival di kutub (artic/antartic survival).
5. Survival di perkotaan (urban survival).
6. Survival di bahaya nuklir (nuclear survival).
Menurut tindakan yang dilakukan ketika kita melakukan survival, kegiatan survival dapat
dibedakan menjadi :
1. Survival menetap (static survival).
2. Survival bergerak (dynamic survival).
Untuk memilih bentuk mana yang akan kita tempuh diantaranya dapat mempertimbangkan
beberapa faktor antara lain kondisi fisik, persedian bahan makanan, ada tidaknya peralatan
maupun tempat perlindungan (shelter), ada tidaknya perlengkapan pendukung seperti alat
masak, alat komunikasi, peta, kompas, survival kit dan lain sebagainya. Pilihan kita untuk
menentukan apakah akan menetap atau bergerak akan berpengaruh terhadap lama tidaknya
kita mengalami kondisi survival.
3. MODAL DASAR SURVIVAL
Modal dasar menghadapi survival adalah :
1. Semangat mempertahankan hidup.
Hal ini menjadi aspek yang penting karena tanpa adanya semangat yang tinggi maka
kemungkinan lebih jauh untuk bertahan dalam kondisi yang kritis akan semakin kecil.
2. Kesiapan diri.
Kesiapan baik fisik, mental dan juga keterampilan serta pengetahuan yang terkait dengan
kondisi survival seperti : peta dan kompas, ilmu medan, botani dan zoologi praktis, PPPK dsb.
271
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3. Alat pendukung.
Jumlah dan jenis peralatan yang dipersiapkan sebelumnya menjadi faktor yang cukup tinggi
dalam usaha mempertahankan hidup.
Yang dimaksud dengan pengertian diatas adalah sikap mental yang tercermin seperti dalam
buku KOMANDO PERAJURIT yaitu sebuah buku pegangan bagi para anggota TNI yang
akan terjun di lapangan baik di medan hutan atau perkotaan. Dalam buku itu dijelaskan :
S : Sadarilah sungguh-sungguh situasimu.
U : Untuk malang tergantung ketenanganmu.
R : Rasa takut dan panik harus kau kuasai.
V : Vacuum/kosong, isilah dengan segera.
I : Ingatlah dimana kau berada.
V : Viva/hidup, hargailah dia.
A : Adat istiadat setempat patut ditiru.
L : Latihlah dirimu dan belajarlah selalu.
Selanjutnya perlu patokan untuk bertindak yang mengikuti hal-hal sebagai berikut :
S : Stop and Sitting
(berhenti dan duduk, beristirahat, menenangkan diri, jangan panik).
T : Thinking
(berpikir secara tenang, gunakan akal, sadari kondisi anda).
O : Observe
(amati keadaan lingkungan, tentukan arah).
P : Planning
(buat rencana, dan pikir konsekuensinya).
Atau :
1. Berpikir.
2. Rencanakan selanjutnya.
3. Perhitungkan dengan matang.
4. Evaluasi sebelum dikerjakan.
5. Bertindak/kerjakan sesuai patokan/pengetahuan.
272
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4. KEBUTUHAN UTAMA DALAM SURVIVAL
Kebutuhan utama dalam survival adalah :
1. Tali temali.
2. Memanfaatkan peralatan yang dibawa dan yang ada di alam.
3. Peta dan kompas.
4. Menguasai tanda-tanda alam.
5. PPPK.
5. TEKNIK SURVIVAL (SURVIVAL TECHNIQUES)
Setidaknya terdapat 5 hal yang harus diusahakan pemenuhannya selama melakukan tindakan
survival, meliputi :
B : Bivac (bivouac)/shelter.
A : Air (water).
J : Jerat (trapping).
A : Api (fire).
K : Komunikasi (communications).
6. BIVAK (BIVOUAC)/SHELTER
Bivak artinya bermalam di alam terbuka. Bivak, dimaksudkan sebagai tempat
perlindungan yang aman dan nyaman untuk melindungi diri dari faktor-faktor lingkungan
dan alam yang ekstrim seperti halnya panas, dingin, angin, binatang buas, dan
sebagainya. Jadi kesimpulannya bivak adalah tempat perlindungan (shelter).
Hal ini dilakukan karena dalam keadaan darurat saat dimana anda belum dapat
menentukan kapan anda dapat keluar dari keadaan yang tidak menentu tersebut, maka
anda harus senantiasa menjaga dan memelihara kondisi badan anda, salah satunya adalah
dengan cara melindungi tubuh anda. Kondisi fisik anda akan menurun sebesar 80% pada
24 jam pertama bila anda terluka, sedang bila anda tidak terluka penurunan kondisi fisik
mulai berkurang pada 3 hari pertama.
Membuat bivak/shelter dapat menggunakan peralatan yang kita bawa atau bahan yang
tersedia di alam. Yang perlu diperhatikan dalam membuat bivak/shelter adalah :
6.1 Pilihlah lokasi atau kondisi medan yang baik, rata (punggungan, lembah, basah,
kering, terbuka, tertutup dan lain sebagainya).
6.2 Fasilitas alam yang menunjang (pohon, daun, lubang dll).
273
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
6.3 Jangan dibuat di daerah terbuka (puncak) karena angin bertiup sangat kencang.
6.4 Jangan dibuat di daerah yang kemungkinan aliran air jika hujan.
6.5 Jangan dibuat di tepi sungai, gua, pinggir tebing, yang mudah longsor dan di dasar
sungai yang kering.
6.6 Jangan dibuat di bawah lembah karena cuaca di bawah lembah pada malam hari
sangat dingin (frose).
6.7 Periksalah bahan-bahan yang anda miliki dan amatilah lingkungan di sekitar
tempat yang anda rencanakan untuk bivak/shelter.
Materi bivak/shelter, dalam membuat bivak/shelter ada beberapa macam bahan yang
dapat dipakai, dibagi atas :
1. Bahan dari alam (pohon (yang utuh maupun tumbang), daun-daunan, gua dan lubang).
2. Bahan yang kita bawa (ponco, jas hujan, lembaran plastik, ransel, tali, golok, pisau)
3. Kombinasi.
7. AIR (WATER)
Dalam keadaan survival, air merupakan salah satu prioritas dalam survival. Manusia
dapat bertahan hidup tanpa air sama sekali adalah dalam waktu 2 sampai 5 hari pada
keadaan tidak terluka sedangkan dengan air saja tanpa makanan manusia dapat bertahan
hidup sampai kurang lebih 3 minggu (wallahualam bisawab).
Dalam hutan tropis seperti di negara kita air dibedakan menjadi :
7.1 Air yang dapat diminum langsung.
Syaratnya adalah air tersebut tidak berwarna dan berbau seperti air hujan. Atau jika
tidak didapat sumber dapat dicari dari tumbuhan/tanaman yang tidak beracun.
7.2 Air tercemar yang dengan proses sederhana/dimurnikan terlebih dahulu dapat
diminum, seperti :
A. Air yang tergenang
B. Air berlumpur
C. Air sungai besar, dan
D. Air yang didapat dari menggali pasir
274
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
7.2.1 Air tercemar yang membutuhkan proses rumit seperti :
Air belerang
Air limbah pabrik
Air rawa dengan tingkat keasaman tinggi, dan sebagainya.
7.3 Berikut beberapa cara untuk mendapatkan air :
7.3.1 Pada tanaman
A. Pada tanaman yang berbatang lunak seperti batang randu muda, bila batang
bagian atas akan keluar air.
B. Pada tanaman beruas dan menjalar seperti rotan muda dan tebu dengan car
memotongnya.
C. Pada pohon bambu yang masih muda.
D. Pada pelepah enau dan nipah.
E. Pada bunga kantong semar.
F. Pada pohon pisang, dan
G. Pada tanaman merambat seperti lumut.
7.3.2 Tanah batu
A. Tanah kapur lebih banyak mata airnya, karena kapur mudah dilarutkan
sehingga mudah dibentuk saluran air.
B. Sepanjang dinding lembah yang memotong lapisan berpori.
C. Pada daerah granit, carilah bukit berumput paling hijau, kemudian gali dasar
daerah yang mempunyai rumput paling hijau tersebut.
7.3.3 Tanah gembur
A. Carilah daerah lembah, karena permukaan air dekat dengan permukaan tanah.
B. Di tanah gembur ini air mudah didapat.
7.3.4 Sepanjang pantai
A. Galilah pasir ditempat yang kelihatan lembab. Dan ingat kita tidak menemukan
air tawar, inipun dapat disaring dengan pasir.
7.3.5 Tanah tandus
A. Melihat arah terbang burung dan hinggap, dimana kemungkinan kita akan
menemukan air.
B. Beberapa tumbuhan tertentu, dapat menentukan tempat air.
C. Tempat binatang mengais, indikator ada kantong air.
D. Jalan terakhir dengan mengumpulkan embun.
275
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
7.3.6 Di pegunungan
A. Menggali bekas aliran sungai.
B. Lumut diperas.
C. Tumbuhan basah lainnya.
7.3.7 Dengan mengikuti jejak hewan
Dengan mengikuti jejak hewan menyusui kita dapat juga menemukan sumber
air karena mereka berkecenderungan menuju sumber air pada pagi dan sore
hari.
8. MAKANAN (FOOD)
Makanan sangat dibutuhkan sebagai penunjang perlindungan tubuh dari dalam. Sebab
makanan dibutuhkan untuk menambah kalori yang memberikan tenaga pada otot dan
mengganti sel-sel dan jaringan yang telah rusak.
Baik tumbuhan atau hewan, hampir semua dapat dimakan. Tergantung adaptasi tubuh
kita. Baik berupa akar (umbi), daun, buah dan sebagainya. Makanan dapat diperoleh dari
beberapa sumber antara lain :
1. Sumber makanan dari hewan.
Makanan yang bersumber dari hewani adalah makanan yang banyak mengandung
lemak dan protein.
2. Sumber makanan dari tumbuhan.
Makanan yang didapat dari tumbuhan akan memberikan anda karbohidrat selain itu
tumbuhan yang mempunyai serat dapat membantu anda dalam memperlancar
pencernaan. Makanan yang anda makan pada saat anda berada dalam kondisi survival
haruslah terdiri dari berbagai jenis ini untuk menghindari keracunan dari makanan
yang anda makan bila berlebihan, dan perlu adanya variasi makanan untuk
kebosanan.
Selain itu dapat anda kenal jenis tumbuhan dan hewan yang harus anda jauhi karena
beracun, berbisa atau dapat mengancam keselamatan jiwa anda. Hal ini banyak gunanya
bagi setiap kegiatan yang berlangsung di alam bebas.
Bila kita ragu-ragu atau tidak mengenal tumbuh-tumbuhan dengan pasti, maka yang perlu
diperhatikan :
276
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
A. Menghindari tumbuhan yang berwarna mencolok.
B. Dicoba dahulu dengan mencicipi atau mengoleskan pada tangan, tunggu beberapa
menit. Bila teras gatal atau menyengat, jangan dimakan. Tetapi semua tergantung
dari fisik tiap orang yang mencoba.
C. Jangan memakan satu jenis tumbuhan terlalu banyak. Usahakan agar banyak
memakan tumbuhan lain sedikit-sedikit.
D. Perhatikan dengan seksama keadaan sekitar tumbuhan itu, apakah ada bekas
gigitan, rengutan atau jejak hewan. Bila indikator ini berarti dapat dimakan
E. Hindarkan makan jamur apapun bila kita awam masalah ini.
F. Hewan, sama juga dengan tumbuhan, tergantung tega, jijik atau suka. Untuk ular,
potonglah sejengkal dari arah kepala dan ekor gunanya untuk menghindari bisa.
Untuk mengetahui tumbuhan yang dapat dimakan (prinsipnya) :
A. Bila kita kenal atau atas petunjuk penduduk setempat.
B. Tumbuhan yang dapat dimakan binatang, khususnya binatang menyusui. Beracun
atau tidak, dicoba atau dicicipi atau getahnya dioleskan di tangan, gatal atau tidak
seperti tersebut diatas.
Prinsip mengenal tumbuhan beracun :
A. Buah dengan warna mencolok.
B. Getah yang berwarna putih susu, kemerahan, kehitaman biasanya membuat gatal
(pada batangnya).
C. Umumnya daun yang permukaannya berbulu.
D. Ketika dimakan menimbulkan rasa panas atau pahit.
9. JERAT (TRAPPING)
Jerat merupakan kemampuan kita untuk mencari dan atau memanfaatkan sarana yang kita
bawa maupun kita temukan untuk membuat suatu bentuk tertentu yang dapat mendukung
kegiatan survival. Bentuk dimaksud dapat berupa bentuk bangunan pioneering maupun jerat
dan atau jebakan guna mencari bahan makanan atau menuju ke tempat yang diperkirakan
merupakan lokasi yang lebih baik (evakuasi), atau menuju ke arah pertolongan. Hal ini
tergantung pada kemampuan kita untuk menemukan bahan baik yang berupa kayu maupun
tali atau bahan pendukung lain.
277
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Bahan-bahan untuk membuat jerat biasanya dari tali yang anda miliki, jenis-jenis jerat
yang umum digunakan di hutan-hutan Indonesia adalah jerat kelinci, jerat burung, dan jerat
binatang-binatang kecil.
10. API (FIRE)
Api fungsinya adalah sebagai penghangat tubuh anda selain itu dapat meningkatkan
faktor phisikologis baik itu dari segi mental maupun emosi, api dapat juga digunakan sebagai
tanda-tanda/kode dan fungsi lainnya adalah untuk memasak makanan dan minuman.
Berdasarkan hal itu dapat dimaklumi jika seorang survivor sebelum melakukan kegiatan
lain menyalakan api untuk meningkatkan semangatnya. Fungsi lain api diantaranya :
i. Alat penerangan
ii. Memasak makanan dan minuman
iii. Mengusir binatang
iv. Membuat tanda atau kode (alat komunikasi)
Hal yang perlu diperhatikan dalam membuat api ialah jangan membuat api terlalu besar,
tapi buatlah api kecil beberapa buah, hal ini akan memberikan panas yang lebih baik
dibandingkan dengan sebuah api yang besar dan api yang kecil mudah dikendalikan.
11. KOMUNIKASI (COMMUNICATION)
Hal ini terkait dengan kemampuan survivor untuk mengkomunikasikan keberadaanya
kepada lingkungan maupun pihak lain guna usaha pertolongan lebih lanjut. Hal ini bisa jadi
terkait dengan pemanfaatan peralatan yang kita bawa maupun dengan mempergunakan media
yang telah tersedia di alam. Komunikasi dimaksud diantaranya dapat dilakukan dengan
membuat tanda jejak yang teratur disepanjang rute yang ditempuh, memanfaatkan alat
komunikasi yang ada seperti peluit, HT, cermin survival, panel, morse, semaphore, teriakan
atau dengan membuat isyarat asap.
278
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
12. PERLENGKAPAN SURVIVAL (SURVIVAL KIT)
Perlengkapan survival (survival kit) adalah perlengkapan untuk membantu anda sewaktu
berada pada keadaan survival. Sebelum anda melakukan suatu perjalanan sebaiknya anda
mempersiapkan seperangkat peralatan survival dalam bentuk yang sangat sederhana.
Contoh daftar perlengkapan survival (survival kit) (standar Special Air Service (SAS)
Inggris) adalah :
1. Korek api (disimpan dalam tabung film)
2. Lilin
3. Gergaji fleksibel
4. Kaca cembung (membuat api dengan matahari)
5. Jarum jahit dan benang (disimpan di dalam suatu wadah, contoh di dalam tabung film)
6. Mata kail dan knur
7. Kompas
8. Peta light (lampu kristal yang dapat menyala sendiri ¡V di Indonesia alat ini masih
jarang bahkan tidak ada sama sekali)
9. Kawat baja panjang 60 ¡V 90 cm (untuk menjerat binatang, pengikat dll)
10. Perlengkapan PPPK (medical kit)
11. Pisau bedah
12. Plester biasa dan kupu-kupu
13. Kondom atau pembalut wanita (untuk tempat air)
14. Kaleng semir isi tembakau
Dalam prakteknya, peralatan yang dibawa dapat disesuaikan dengan kemampuan.
13. PERKIRAAN CUACA, BOTANI DAN ZOOLOGI PRAKTIS
Materi tentang perkiraan cuaca, botani dan zoologi praktis merupakan materi tambahan
yang bukan bagian dari materi survival. Tetapi dalam melaksanakan survival seorang survivor
harus mengetahui tentang materi tambahan ini yaitu perkiraan cuaca, botani dan zoologi
praktis
untuk
memutuskan
tindakan
apa
yang
dilakukan
selanjutnya
selain
mempertimbangkan fisik, persediaan bahan makanan, ada tidaknya peralatan maupun tempat
perlindungan (shelter), ada tidaknya perlengkapan pendukung seperti alat masak, alat
komunikasi, peta, kompas, survival kit dan lain sebagainya.
279
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
A. PERKIRAAN CUACA
Cuaca ialah keadaan hawa/udara disuatu tempat pada suatu saat tertentu dan tidak
berlangsung lama. Dengan perkataan lain : cuaca sebentar-sebentar dapat berubah,
sedang iklim lebih tetap dalam jangka waktu yang lebih lama.
Untuk mengetahui cuaca hari ini maka diperlukan pengamatan dipagi hari. Yang mana
cara ini sering dipraktekkan oleh para penggembala ternak untuk meramal cuaca hari ini.
Beberapa cara memperkirakan cuaca adalah :
1. Merah pada malam hari
: cuaca baik
2. Merah pada pagi hari
: akan turun hujan
3. Kuning pada waktu matahari terbenam
: berarti angin
4. Kuning pucat waktu matahari terbenam
: berarti hujan
5. Embun dan kabut pada pagi hari
: cuaca baik
6. Matahari terbit dari awan yang rendah
: cuaca baik
7. Matahari terbit dari awan yang tinggi
: berarti hujan
8. Awan halus
: cuaca baik
9. Awan terbatas terang
: berarti angin
10. Awan bergerigi
: berarti angin kuat
11. Awan menggumpal/mengumpul
: akan turun hujan
12. Asap menjulang tinggi
: cuaca cerah
13. Asap langsung menyebar
: akan turun hujan
14. Burung-burung pada berterbangan dengan cepat
: akan turun hujan
B. BOTANI PRAKTIS
Secara garis besar tumbuhan dalam materi ini dibedakan atas dua bagian yaitu :
1. Tumbuhan yang berguna (dapat dimakan, dipakai sebagai obat, mengandung air)
2. Tumbuhan yang berbahaya (beracun)
3. Tumbuhan Yang Dapat Dimakan
Bagian tumbuhan yang dapat dimakan dan memberikan energi cukup adalah umbi,
baik umbi batang, maupun umbi akar, setelah itu baru buah, biji dan daun.
Ciri tumbuhan yang dapat dimakan :
a. Bagian tumbuhan yang masih muda
b. Tumbuhan yang tidak mengandung getah
280
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
c. Tumbuhan yang tidak berbulu
d. Tumbuhan yang berbau kurang sedap
e. Tumbuhan yang dimakan oleh mamalia
Langkah-langkah yang perlu diperhatikan apabila akan memakan tumbuhan :
a. Makan tumbuhan yang sudah dikenal
b. Makan jangan satu jenis tanaman saja
c. Sebaiknya jangan makan tumbuhan yang buahnya berwarna ungu, karena
dikhawatirkan mengandung racun alkaloid
d. Cara memakan buah-buahan yang belum anda kenal adalah dengan mengoleskan
sedikit ke bibir dan ditunggu reaksinya, bila tidak ada rasa aneh (panas, pahit)
berarti cukup aman
e. Yang paling enak adalah dengan terlebih dahulu memasak bagian tumbuhan
yang akan dimakan
Contoh tumbuhan yang dapat dimakan :
i. Umbi di dalam tanah : jenis dari talas kentang bengkuang, paku tanah
ii. Bagian batangnya : umbut muda pisang sagu empulur batangnya, begonia
iii. Buah : kismis kelapa, arbei hutan, konyal
iv. Biji : padi jagung, biji rumput teki, biji saninten yang sudah tua
v. Bunga : turi, pisang
vi. Daun : rasamala, melinjo, babadotan, tespong, antanan.
1. Tumbuhan Obat
Tumbuhan obat dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu :
a. Tumbuhan obat yang dapat dimakan/diminum
b. Tumbuhan obat luar
Adapun tumbuhan yang dapat dipergunakan sebagai obat luar maupun yang dapat
dimakan/diminum adalah :
1.1 Tumbuhan obat yang dapat dimakan/diminum
1.1.1. Bratawali (anamitra cocculus) tumbuhannya merayap terdapat di hutan atau di
kampung. Batangnya direbus rasanya pahit, kegunaannya anti demam, anti
malaria, pembersih luka, menambah nafsu makan.
281
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.1.2. Keji beling/ngokilo (strobilatus) semak dan di hutan ambil daunnya dimasak
untuk obat pinggang dan infeksi/keracunan pada pencernaan.
1.1.3. Sembung/sembung manis (blumen balsmifira) jenis rumput-rumputan terdapat di
padang rumput, yang banyak anginnya daunnya diseduh dengan air panas, dapat
dipergunakan untuk sakit panas, sakit perut.
1.2 Tumbuhan obat luar, untuk luka
1.2.1 Getah pohon kamboja, untuk menghilangkan bengkak, gosok getah pada
bagian tubuh yang bengkak, biarkan 24 jam bersihkan dengan minyak kelapa
kemudian dengan air hangat, juga untuk terkilir.
1.2.2 Air godokan bratawali untuk mencuci luka, juga air batang randu/kapuk hutan.
1.2.3 Daun sambiloto ditumbuk halus atau daun ploso yang juga ditumbuk untuk anti
gigitan kalajengking.
1.2.4 Kirinyuh.
2. Tumbuhan Beracun
2.1. Getah pohon paku putih dapat menyebabkan kebutaan.
2.2. Getah pohon ranggas, ingas/semplop sangat berbahaya karena merusak
jaringan.Getah jambu monyet, menyebabkan gatal-gatal
2.3. Buah aren mentah juga dapat menyebabkan gatal-gatal
2.4. Kecubung, beracun dan memabukkan bila dimakan.
2.5. Rarawean, dapat menyebabkan gatal-gatal dan pedih.
2.6. Daun pulus, juga dapat menyebabkan sangat gatal dan panas.
3. Tumbuhan Berguna Lainnya
3.1. Tumbuhan penyimpan air : tumbuhan beruas (bambu, rotan), tumbuhan
merambat, kantong semar, kaktus.
3.2. Tumbuhan pembuat atap perlindungan : daun nipah, aren, sagu.
3.3. Indikator air bersih : tespong, selada air.
282
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Bila di hutan anda menemukan jamur sebaiknya jangan dimakan, karena sulit untuk
membedakan mana jamur yang bisa dimakan, mana yang beracun, kecuali yang sudah
ahli. Juga kadar kalori jamur sangat rendah, karena tubuh jamur banyak mengandung air.
Pedoman umum yang dipergunakan untuk menentukan jamur yang dapat dimakan,
seperti tidak berwarna mencolok, tidak bercahaya, tidak memiliki gelang pada
tangkainya, tidak berbau memuakkan, tidak memberi efek warna hitam bila disentuhkan
ke benda perak.
Pedoman seperti ini sebenarnya sangat menyesatkan dan berbahaya. Banyak jamur yang
mempunyai ciri-ciri seperti di atas justru beracun. Contohnya :
Amanita Phallorder berwarna putih kecoklatan, tidak mempunyai gelang, justru
memiliki racun mematikan manusia.
Amanita Verna dan Amanita Virosa berwarna putih bersih memiliki racun yang
dapat mematikan. Ketiga jamur ini bila dimakan, selama 30 menit kemudian akan
menyebabkan perut sakit sekali. Bila tidak dirawat segera, 6 atau 8 jam kemudian
akan mati.
C. ZOOLOGI PRAKTIS
Sebagian besar hewan, pada prinsipnya dapat dimakan. Kesulitan adalah bagaimana
cara mendapatkannya. Untuk itu diperlukan pengetahuan tentang habitat, dan tingkah
laku binatang tersebut. Untuk menangkap hewan diperlukan sebuah keberanian untuk
mengambil keputusan. Misalnya : binatang selalu mencari air untuk keperluan sehariharinya. Tetapi bila anda ingin mendapatkan bermacam hewan harus menuju sumber air.
Dalam hal ini anda akan dihadapkan pada suatu masalah. Bila didekat sumber air banyak
hewannya berarti juga banyak hewan yang berbahaya bagi anda.
1. Habitat Hewan
Habitat dapat diartikan sebagai tempat dimana suatu mahluk hidup (hewan) bisa
tinggal/banyak dijumpai. Seperti misalnya : ikan banyak di air (sungai,danau, laut)
tidak pernah anda menemukan ikan yang ada di puncak pohon, kecuali yang dibawa
oleh burung bangau ke atas pohon. Habitat yang paling banyak jenis hewannya adalah
pantai dan laut dangkal. Semakin tinggi permukaan tanah, jenis hewan yang ada
semakin sedikit. Jadi bila tersesat di gunung dan ingin mencari makanan (hewan)
jangan terus naik ke puncak gunung, lebih baik turun, kemungkinan menemukan
berbagai jenis hewan adalah besar.
283
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2. Perilaku Hewan
Perilaku setiap jenis hewan adalah khas. Kapan anda mudah menangkap suatu hewan,
kapan harus menghindarinya. Pada musim kawin, hewan-hewan biasanya kurang
peka terhadap sekelilingnya. Burung-burung pindah dari daerah dingin ke daerah
panas. Ikan salem atau belut yang berpindah tempat di sungai dan laut untuk bertelur.
Ular yang menjaga telur/anaknya biasanya tambah ganas.
3. Binatang Berbahaya
3.1 Nyamuk : di daerah malaria
3.2 Lalat dayak/lalat kerbau (besarnya 2 kali lalat biasanya). Terdapat di hutan
Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya. Bekas gigitannya bengkak dan gatal, bisa
infeksi.
3.3 Tawon/lebah : berbahaya jika disengat dalam jumlah besar bisa mematikan.
3.4 Kelabang (sentipoda), kalajengking. Bekas sengatannya sakit, bengkak.
Mengurangi rasa sakitnya dengan amoniak, tembakau, daun sembiloto.
“Pada dasarnya survival lebih merupakan sikap mental daripada penguasaan
pengetahuan. Meskipun demikian tidak berarti bahwa pengetahuan dapat
diabaikan”.
284
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
REFERENSI
1. ODK dan Diklat. Gerakan Pramuka Gudep BL. 11. 033 ¡V 11. 034 Racana Raden Puteri Silamaya. Lampung. Oktober 2000.
2. Praktek Kerja Lapangan (PKL). PT Gula Putih Mataram. Lampung. Juli ¡V Agustus
2002.
3. Pendidikan Dasar Ilmu Hutan dan Gunung. Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas
Teknik Universitas Diponegoro. Semarang dan Solo. September 2002.
4. Orientasi Pengenalan dan Pendidikan Lingkungan. Community Involvement in
Urban Development (CIUD). Yogyakarta. Oktober 2002.
5. Green Mapper Training (Pelatihan Pembuatan Peta Hijau) . Bapedalda DIY,
Yayasan Dian Desa, Kapijja 21 dan CIUD. Yogyakarta. Januari 2003.
6. Raimuna Nasional 2003. Gerakan Pramuka. Yogyakarta. Juli 2003.
7. Pengembangan Green Map Sebagai Media Pendidikan Lingkungan. Community
Involvement in Urban Development (CIUD). Yogyakarta. Desember 2003.
285
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
EXPLORE SEARCH AND RESCUE
PENDAHULUAN
Definisi SAR adalah pencarian dan pemberian pertolongan yang meliputi usaha dan
kegiatan mencari, menyelamatkan, memberikan pertolongan terhadap orang dan material
yang hilang atau menghadapi bahaya.
Untuk kegiatan SAR di Indonesia, ruang lingkup tugasnya dijelaskan berdasarkan
Keppres SAR di Indonesia, ruang lingkup tugasnya dijelaskan berdasarkan Keppres no. II
tahun 1972 meliputi musibah penerbangan dan pelayaran. Dalam perkembangannya
kemudian mencakup juga penanganan musibah akibat bencana alam (atas permintaan
Bakornas PBA), dan kini termasuk juga untuk mengamati musibah-musibah rekreasi. Kedua
hal yang terakhir itu sebetulnya tidak termasuk lingkup tugas-tugas SAR.
1. Pengertian Umum SAR
1.1 Definisi SAR :
SAR adalah employment (pekerjaan) dari personil yang terlatih dan fasilitasfasilitas, guna menolong jiwa manusia dan sesuatu yang berharga dengan cara yang
seefisien mungkin dengan mencapai hasil yang semaksimal.
1.2 SAR Militer :
Yang dimaksud dengan SAR militer adalah dimana survivornya terdiri dari
personil militer sebagai akibat dari organisasi-organisasi dan pertempuran. Tapi bila
survivor itu (walaupun orang militer) hilang pada suatu pendakian, maka ini
merupakan SAR biasa.
1.3 Objek SAR:
Yang disebut dengan objek SAR adalah suatu yang dalam keadaan terpencil
dan terisolasi. Objek SAR ini juga disebut ‘Missing Target’. Dalam makalah ini
akan dijabarkan tahapan pelaksanaan suatu operasi exploler search and rescue yang
di Indonesia mungkin dikenal dengan istilah SAR Gunung Hutan. Metode yang
dipakai pada SAR tidaklah terlalu berbeda dengan praktek SAR yang telah
dilakukan sebelumnya hanya telah dilakukan penyempurnaan teknis sesuai dengan
medan gunung hutan yang dihadapi oleh tim SAR.
286
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.4 ORGANISASI SAR
Organisasi Operasi SAR:
1. SC (SAR coordinator)
:
biasanya pejabat mempunyai wewenang dalam penyediaan fasilitas.
2. SMC (SAR Mission coordinator)
:
harus orang yang mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam
mementukan MPP (Most Probable Position), menentukan pencarian, strategi
pencarian (berapa unit, teknik, dan fasilitasnya).
3. OSC (On scane commander)
:
tidak mutlak ada, tapi juga lebih dari satu, tergantung wilayah komunikasi, dan
kesulitan jangkuannya.
4. SRU (Search and Rescue Unit)
2. Prinsip Operasi Pencarian
2.1 Pengendalian
Kewenangan BASARNAS
2.2 Informasi
2.2.1
Informasi sebelum pelaksanaan (pre search information)
A. Tentang subjek yang hilang
B. Keadaan cuaca dan prakiraan cuaca
C. Daerah pencarian
D. Personil dan sumberdaya yang tersedia.
2.2.2 Informasi selama oprasi pencarian
A. Dari tim – tim pencari di lapangan
B. Dari masyarakat sekitar kejadian walaupun belum dapat dipastikan
akurasinya.
C. Dari sumber lain yang dapat dipercaya (ATC, Polisi, teman korban, dll)
2.3 Komunikasi
Sistem komunikasi yang effisien sangat penting dalam pengendalian dan
sebagai saluran informasi.
287
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2.4 Mobilitas
Mobilitas merupakan hal pokok dalam pelaksanaan pencarian (reconnaisance
search). Mobilitas tinggi dari setiap personil di lapangan sangat berpengaruh terhadap
kemungkinan cepatnya korban ditemukan.
2.5 Fleksibilitas
Rencana operasi SAR harus flexibel , setiap menerima informasi baru mungkin
dibutuhkan perubahan operasi pencarian di daerah lain diluar daerah pencarian yang
telah direncanakan.
2.6 Personil
Secara ideal personil – personil yang digunakan dalam operasi SAR di darat
adalah personil yang terlatih dalam bergerak di medan gunung dan hutan, memiliki
disiplin tinggi serta memiliki teknik dan pengetahuan tentang operasi pencarian.
SYARAT-SYARAT PENGGUNAAN ESAR
Manajemen Operasi SAR
Tahapan SAR
Untuk mempermudah problem operasional SAR, Suatu kegiatan operasi SAR dibagi
dalam tahapan sbb :
1. Awareness Stage (Tahap Kekhawatiran)
Kekhawatiran bahwa suatu keadaan darurat mungkin akan muncul. Termasuk
didalamnya penerimaan informasi keadaan darurat dari seseorang atau organisasi.
2. Initial Action Stage (Tahap Kesiapan)
Aksi persiapan diambil untuk menyiagakan fasilitas SAR dan mendapatkan
informasi yang lebih jelas. Termasuk didalamnya :
Mengevaluasi dan mengklasifikasikan informasi yang didapat.
Menyiapkan fasilitas SAR.
Pencarian awal dengan komunikasi.
Pada kasus yang gawat, dilaksanakan aksi secepatnya setelah tahapan tersebut
bila keadaan mengharuskan.
288
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Planning Stage (Tahap Perencanaan)
Suatu pengembangan perencanaan yang efektif, dimana termasuk didalamnya:
1. Perencanaan pencarian dan penentuan lokasi pencarian.
2. Perencanaan pertolongan dan evakuasi.
Kedua hal tersebut dapat terperinci :
2.1 Menentukan posisi paling mungkin.
2.2 Luas search area.
2.3 Tipe pola pencarian.
2.4 Perencanaan pencarian optimum.
2.5 Perencanaan pencarian yang dapat dicapai.
2.6 Memilih metode petolongan yang terbaik.
2.7 Perencanaan pertolongan optimum.
2.8 Perencanaan pertolongan yang dapat dicapai.
2.9 Memilih titik pembebasan yang aman bagi korban.
2.10
Memilih fasilitas kesehatan yang memuaskan bagi korban yang cedera.
Operatio Stage (Tahap Operasi)
Termasuk didalamnya :
1. Fasilitas SAR bergerak / berangkat kelokasi kejadian.
2. Melakukan pencarian.
3. Membantu pesawat / kapal yang mendapat gangguan / kecelakaan.
4. Memberi perawatan gawat darurat pada korban yang membutuhkan.
5. Membebaskan korban yang cedera kepada perawatan kesehatan yang
memuaskan.
Dalam opearasi dilakukan :
1. Memberikan briefing kepada pasukan pelaksana.
2. Mengirim / memberangkatkan fasilitas SAR.
3. Melakukan / melaksanakan operasi di lokasi kejadian.
4. Melakukan penggantian/penjadwalan pasukan pelaksana di lokasi kejadian.
5. Memberikan perawatan gawat darurat kepada para korban.
6. Membebaskan korban yang cedera dan mengalami penderitaan fasilitas yang
memuaskan.
7. Melaksanakan debriefing pasukan pelaksana.
289
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Mission Conclusion Stage (Tahap Konklusi Misi)
Tahap konklusi misi SAR adalah gerakan dari seluruh fasilitas SAR yang digunakan
dari suatu titik pembebasan yang aman ke lokasi semula darinya.
Termasuk didalamnya :
1. Kembali kepangkalan pencarian (base camp)
2. Debriefing terakhir
3. Mengisi bahan bakar kembali
4. Memuat / mengatur kembali perlengkapan yang dibawa
5. Menyiapkan awak pasukan pelaksana yang akan kembali
6. Membuat dokumentasi operasi SAR
7. Kembali ke pangkalan semula masing-masing
1. Manajemen Operasi SAR Darat
1.1 SAR system
Terdiri dari 5 komponen pendukung :
Organisasi :
Merupakan struktur organisasi SAR, meliputi aspek pengerahan
koordinasi, komando dan pengendalian, kewenangan, tanggung jawab untuk
penanganan suatu musibah.
Fasilitas :
Adalah komponen berupa unsur, peralatan, perlengkapan serta fasilitas
pendukung lainnya yang dapat digunakan dalam operasi misi SAR.
Komunikasi :
Adalah komponen berupa penyelenggaraan komunikasi sebagai sarana
untuk melakukan fungsi deteksi terjadinya musibah, fungsi komando, dan
pengendalian operasi, serta membina kerja sama/ koordinasi selama operasi SAR
berlangsung.
Emergency Care (Perawatan Gawat Darurat)
Adalah komponen berupa penyediaan fasilitas perawatan gawat darurat
yang bersifat sementara, termasuk memberikan dokter terhadap korban ditempat
kejadian musibah sampai ketempat penampungan / fasilitas yang lebih memadai.
290
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Dokumentasi
Adalah komponen berupa pendataan laporan dari kegiatan, analisa serta
data-data kemampuan yang akan menunjang efisiensi pelaksanaan operasi SAR
serta untuk perbaikan / pengembangan kegiatan – kegiatan misi SAR yang akan
datang.
1.2 Pengumpulan informasi
Tahap proses informasi :
1.
Pengumpulan
2.
Pemilahan
3.
Evaluasi
4.
Penyebaran
1.3 Apresiasi pencarian
Pengujian dari semua faktor yang terdapat dalam satu keadaan, secara berturut –
turt untuk menentukan kemungkinan cara bertindak.
Fase – fase dalam pelaksanaan apresiasi :
1. Penentuan sasaran
2. Menguji faktor – faktor yang relevan
3. Merumuskan cara –cara bertindak
4. Memilih yang terbaik
5. Menyusun perencanaan sasaran
2 Penilaian dan perencanaan operasi
2.1 Prinsip – prinsip perencanaan
2.1.1 Rencana harus sederhaa
2.1.2 Pastikan bahwa rencana tersebut berkait langsung dengan sasaran
2.1.3 Pastikan bahwa rencana tersebut didasarkan atas analisa deduksi yang
logis.
2.2 Penilaian
2.2.1 Jangka waktu bertahan hidup atau Time Frame For Survival (TFFS)
orang hilang
2.2.2 Periode mobilitas orang hilang
291
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2.2.3 Daerah pencarian
2.2.4 Jumlah waktu di daerah pencarian
3 Daerah pencarian
Penentuan daerah pencarian dihitung berdasarkan ploting jarak perjalanan
korban dari titik terakhir dijumpai atau dilihat, dalam bentuk gari lurus, yang
merupakan jari – jari lingkaran yang diplot di peta.
Daerah pencarian terbagi atas dua kategori
3.1 Possible search area
3.1.1 Perhitungan radius possible search area menggunakan perhitungan
matematika sederhana yaitu : waktu x kecepatan (T x V). Hasil
perhitungan tersebut merupakan radius dari titik terakhir korban dilihat.
3.1.2 Untuk menghitung possible search area, harus dihitung lingkaran,
dengan rumus ( )
3.1.3 Possible search area biasanya didapat dalam ukuran yang cukup besar.
Catatan : r = Dihitung dari hari sebeum operasi pencarian – hari selama
operasi pencarian.
= 3,14.
3.2 Probable search area
3.2.1 Berpatokan pada possible search area dengan faktor – faktor yang harus
diperhatikan mengenai korban juga dengan menghitung keadaan medan.
3.2.2 Pengetahuan tentang keadaan daerah setempat memegang, peranan
penting dalam peniaian probable search area
3.2.3 Probable search area dapat berbentuk bagian dari possible search area.
4 Perintah, briefing, dan debrifing
5 Pengakhiran tugas operasi
292
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
TEKNIK PENGGUNAAN E-SAR
1. Preliminary Mode
Cara/tehnik pendahuluan dengan mencari atau mengumpulkan data dan
informasi subjek mulai dati tim pencari dimintakan bantuannya sampai
kedatangannya ke lokasi. Terbentuknya formasi rencana pencarian awal,
pernitungan dan perkiraan posisi subjek yang hilang.
2. Confinment Mode
Cara/tehnik membuat garis batas untuk mengurung subjek yang hilang agar
tetap berada dalam area pencarian.
Kapan digunakan :
a. Pada awal operasi pencarian
b. Bila salah perhitungan, maka subjek akan bergerak lebih jauh
Metode yang digunakan :
2.1 Trail block
Tim kecil dengan kemampuan handal diberi tugas menutup semua
jalan setapak. Tugasnya mencatat setiap orang yang masuk dan keluar area
pencarian.
Catatan : Tempat tidak boleh kosong
2.2 Road block
Tim pencari bertugas menutup jalan utama yang diperkirakan
kemungkinan subjek akan melalui jalan tersebut. Tugasanya mencatat setiap
orang yang keluar masuk area pencarian, biasanya tugas ini dikerjakan oleh
kelompok hobby ( seperti : penggemar jeep, harley, dll).
2.3.Look out
Tim pencari ditempatkan pada posisi yang dapat mengamati daerah
yang cukup luas atau extrim sehingga dapat melihat jauh dan berusaha
memancing atau menarik subje untuk mendekat.
Cara menarik perhatian subjek :
Membuat asap, bunyi – bunyian, lampu, dll
293
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2.4.Camp in
Tim pencari ditempatkan di cabang pertemuan jalan setapak atau
pertemuan sungai yang memungkinkan tempat tersebut jadi perhatian subjek
untuk ke lokasi tersebut.
2.5.Track traps
Tim pencari yang bertugas menjebak subjek dengan memperhatikan
jejak – jejak yang dilaluinya dan melakukan pengecekan secara periodik.
2.6.String line
Tim pencari membuat bentang tali untuk menarik perhatian subjek. Tehnik
ini umumnya digunakn pada daerah berpohon lebat dan bersemak
3. Detection Mode :
Cara/ tehnik dengan memeriksa tempat – tempat yang dicurigai bila dirasa
perlu maka pencarian dapat dilakukan dengan cara penyapuan diperhitungkan
untuk menemukan subjek atau barang ceceran subjek.
Metode ini terbagi menjadi :
3.1 Tipe I
3.1.1 Pencarian dengan memeriksa area yang diduga terdapat subjek
3.1.2 Pencarian dilakukan tergesa – gesa
3.1.3 Hasil penyelidikan untuk rencana pencarian selanjutnya.
Kapan digunakan :
1. Pada awal operasi pencarian
2. Setiap saat untuk memeriksa area yang diakini belum tersapu serta untuk
pemeriksaan ulang.
3. Metode yang digunakan dengan mobilisasi tinggi mengecek : jalan
setapak, sungai, daerah/ medan yang sulit, dll.
294
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3.2 Tipe II
3.2.1 Pencarian dilakukan dengan cepat dan sistematis pada daerah yang luas
dengan personil terbatas.
3.2.2 Tehnik
pencarian
dengan
penyapuan
yang
akan
menghasilkan
kemungkinan ketamu subjek atau ceceran cukup tinggi.
Kapan digunakan :
1. Pada awal operasi pencarian
2. Pada situasi search area yang luas dan tidak ada daerah khusus yang
bisa di identifikasi.
3.3 Tipe III
3.3.1 Pencarian dilakukan dengan cermat dan sistematis serta ketat pada daerah
pencarian yang kecil dengan personil memadai
3.3.2 Tehnik
pencarian
dengan
penyapuan
yangakan
menghasilkan
kemungkinan subjek cukup tinggi.
Kapan digunakan :
A. Bila metode tipe II sudah dilakukan
B. Search area terbatas tim pencari mencukupi
C. Penemuan bukti – bukti yang pasti.
4. Tracking Mode
Cara/ tehnik dengan mengikuti jejak atau barang yang tercecer yang
ditinggalkan subjek.
5. Evacuation Mode
Cara/ tehnik pemberian perawatan kepada korban dan membawanya ke
tempat yang memungkinkan untuk perawatan lebih lanjut.
Dari kelima metode itu, anggota regu ‘Exploler search and Rescue (ESAR)
team umumnya akan banyak terlihat pada confinement, detection, dan evacuation.
295
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Sikap Mental Selama Pencarian
i. Melihat kebelakang kita
ii. Pencarian menemukan tanda-tanda jejak
iii. Efisiensi dan ketelitian (behubungan dengan spasi)
iv. Pencarian malam (sebaiknya dihindarkan karena gelap dan resikonya
lebih besar).
Rescue (Menyelamatkan)
Pada tahap ini sebenarnya merupakan tugas dari kelompok rescue, bukan
merupakan tugas dari kelompok search, tetapi biasanya kelompok search ini
dibebani tugas dari kelompok rescue.
yang harus dilakukan pada tahapan ini ialah :
a. Dari SAR Mission coordination (SMC) akan diberi waktu evakuasi.
b. Bila mendengar bunyi helicopter maka segera beri tanda hubungan darat
udara dengan ‘morse’ atau ‘asap’ / panel orange.
c. Pada waktu helicopter akan mendarat seluruh anggota tidak boleh berada
ditempat leanding.
Pindahkan penderita / korban ke helicopter dengan prioritas sbb:
1. Korban paling berat.
2. Korban yang ringan.
3. Korban yang sudah tewas.
Selesainya sebuah misi SAR adalah bila telah dinyatakan oleh SMC. Operasi SAR tidak
berakhir sampai dengan ditemukannya korban tapi sampai korban diselamatkan. Operasi
pertolongan atau penyelamatan (rescue operation) ini mungkin dapat terjadi bersamaan
dengan operasi pencarian (search operation) yang belum berakhir.
KESIMPULAN
Bantuan dalam operasi SAR bukan hanya melakukan tugas untuk lapangan. Akhir
kata bagi mereka yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan SAR dapat mulai dengan
melengkapi pengetahuan / ketrampilan dalam bidang SAR dan menunjang lainnya sesuai
dengan kondisi Indonesia.
296
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
REFERENSI
1. Balai Pendidikan dan Pelatihan Badan SAR Nasional., 2015, Pelatihan Jungle Rescue
Bagi Potensi SAR di Gunung Promasan Ungaran, BASARNAS, Jakarta Pusat.
297
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
KOMPETENSI TAMBAHAN
MATRA MANAJEMEN
DISASTER MANAGEMENT
1. PENGERTIAN BENCANA
Bencana merupakan suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh
alam, manusia dan/atau oleh keduanya yang mengakibatkan korban penderitaan manusia,
kerugian harta benda, kerusakan lingkungan, kerusakan sarana prasarana dan fasilitas
umum serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat.
2. PRINSIP
2.1 Prinsip Penanggulangan Bencana
1. Cepat dan tepat
2. Prioritas
3. Koordinasi dan keterpaduan
4. Berdaya guna dan berhasil guna
5. Transparansi dan akuntabilitas
6. Kemitraan
7. Pemberdayaan
8.
Nondiskriminatif
3. ORGANISASI PENANGGULANGAN BENCANA
Kelembagaan dapat ditinjau dari sisi formal dan non formal. Secara formal, Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merupakan focal point lembaga pemerintah di
tingkat pusat. Sementara itu, focal point penanggulangan bencana di tingkat provinsi dan
kabupaten/kota adalah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Dari sisi non
formal, forum-forum baik di tingkat nasional dan lokal dibentuk untuk memperkuat
penyelenggaran penanggulangan bencana di Indonesia. Di tingkat nasional, terbentuk
Platform Nasional (Planas) yang terdiri unsur masyarakat sipil, dunia usaha, perguruan
tinggi, media dan lembaga internasional.
298
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4. MANAJEMEN KEGAWATDARURATAN
Penilaian awal korban cedera kritis akibat cedera multipel merupakan tugas yang
menentang dan tiap menit bisa berarti hidup atau mati. Sistem Pelayanan Tanggap
Darurat ditujukan untuk mencegah kematian dini karena trauma yang bisa terjadi dalam
beberapa menit hingga beberapa jam sejak cedera (kematian segera karena trauma,
immediate, terjadi saat trauma. Perawatan kritis, intensif, ditujuan untuk menghambat
kematian kemudian, late, karena trauma yang terjadi dalam beberapa hari hingga
beberapa minggu setelah trauma).
299
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Menunjuk petugas RHA (Rapid Health Assessment) merupakan pertugas yang
meniai keadaan secara cepat dengan mengumpulkan data medis, epidmiologis, dan
kesling, mengnalisisnya seta menyimpulkannya, Gunanya untuk mengajukan permintaan
jumlah dan jenis bantuan ke instansi terkait. Menunjuk petugas pelaksanan kegiatan di
lapangan dengan lokasi kerja masing – masing :
4. Komando/komunikasi/logistik: biasanya pada satu lokasi
5. Ekstrikasi
6. Triase
7. Tindakan
8. Transportasi
Dalam situasi bencana sudah pasti akan timbul korban, dari yang ringan sampai
yang berat bahkan meninggal dunia. Kondisi tersebut masih ditambah dengan jumlah
korban yang seringkali melebihi kondisi sehari-hari. Keadaan tersebut akan mudah
menimbulkan kepanikan dan kekacauan dalam penanganan korban di rumah sakit.
Pimpinan bertanggung jawab untuk mengelola sumber daya yang dimilikinya untuk
diatur dan dikoordinasikan.
Disinilah diperlukan pengorganisasian yang tepat dari semua unsur yang ada di
dinas kesehatan. Dengan pengorganisasian yang efektif dan efisien maka penanganan
korban dapat dilakukan dengan lebih tertata. Inilah yang sering disebut “order with in
chaos”.
Prinsip-prinsip pengorganisasian adalah kekacauan tidak dapat dihindarkan untuk
selalu terjadi dalam fase awal setiap kejadian bencana atau kecelakaan. Setiap rencana
operasional penanganan bencana harus berusaha untuk memendekkan fase awal yang
“chaotic” atau kacau ini. Dasar Pemikiran yaitu :
1. Rencana pengorganisasian untuk penanganan bencana harus berdasarkan pada
struktur organisasi yang sudah ada.
2. Kemungkinan kegagalan akan besar apabila dibuat struktur organisasi baru yang
berbeda.
3. Buatlah rencana yang sesederhana mungkin tapi tetap komprehensif.
4. Selalu tanamkan didalam benak kita bahwa:
“Catatan
perencanaan
yang
menyeluruh
bagus
untuk
persiapan
dan
training/pelatihan, namun dalam kasus kegawatdaruratan hanya checklist yang
akan bermanfaat/membantu”
300
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
5. ALUR KOMUNIKASI DAN KOORDINASI PENANGGULANGAN BENCANA
5.1 Informasi saat bencana
5.1.1 Bagan alur penyampaian informasi langsung
Infromasi awal tentang krisis pada saat kejadian bencana dar lokasi bencana
langsung dikirim ke dinkes kab/kota atau provinsi, maupun PPK Setjen Depkes
dengan menggunakan saranan komunikasi yang paling memungkinkan pada saat
itu. Informasi dapat disampaikan oleh masyarakat, unit pelayanan kesehatan dan
lain – lain. Unit penerimaan informasi harus melakukan konfirmasi.
301
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
5.1.2 Alur penyampaian informasi penilaian kebutuhan cepat secara berjenjang
Informasi penilaian kebutuhan cepat disampaikan secara berjenjang mulai dari
institusi kesehatan di lokasi bencana ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,
kemudian diteruskan ke Dinas Kesehatan Provinsi, dari Provinsi ke Depkes
melalui PPK dan di laporkan ke Menteri Kesehatan. Alur informasi bisa dilihat
pada bagan berikut :
302
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
5.1.3 Alur penyampaian informasi perkembangan PK-AB
Informasi perkembangn disampaikan secara berjenjangan mulai dari institusi
kesehatan di lokasi bencana ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, kemudian
diteruskan ke Dinas Kesehatan Provinsi, dari Provinsi ke Depkes melalui PPK dan
dilaporkan ke Menteri Kesehatan. Alur informasi bisa dilihat pada bagan berikut :
1. Tingkat Puskesmas
A. Menyampaikan infromasi pra bencana ke Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.
B. Menyampaikan informasi rujuka ke RS Kabupaten/Kota bila perlu.
C. Menyampaikan informasi perkembangan bencana ke Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota
303
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2. Tingkat Kabupaten/Kota
A. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menyampaikan informasi awal
bencana ke Dinas Kesehatan Provinsi.
B. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melakukan penilaian kebutuhan
pelayanan di lokasi bencana.
C. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menyampaikan laporan hasil
penilaian kebutuhan pelayanan ke Dinas Kesehatan Provinsi dan
memberi respon ke Puskesmas dan RS Kabupaten/Kota.
D. Dinas
Kesehatan
Kabupaten/Kota
menyampaikan
informasi
perkembangan bencana ke Dinas Kesehatan Provinsi.
E.
RS
Kabupaten/Kota
menyampaikan
informasi
rujukan
dan
perkembangannya ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan RS
Provinsi bila diperlukan.
3. Tingkat Provinsi
A. Dinas Kesehatan Provinsi menyampaikan bahwa informasi awal
kejadian dan perkembangannya ke Depkes melalui PPK.
B. Dinas Kesehatan Provinsi melakukan kajian terhadap laporan hasil
penilaian kebutuhan pelayanan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.
C. Dinas Kesehatan Provinsi menyampaikan laporan hasil kajian ke PPK
dan memberi respon ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan RS
Provinsi.
D. RS Provinsi menyampaikan informasi rujukan da perkembangannya ke
Dinas Kesehatan Provinsi dan RS Rujukan Nasional bila diperlukan.
4. Tingkat Pusat
A. PPK menyampaikan informasi awal kejadian, hasil kajian penilaian
kebutuhan pelayanan dan perkembangannya ke Sekretari Jendral
Depkes, Pejabat Eselon I dan Eselon II terkait serta tembusan ke
Mentei Kesehatan.
B. PPK melakukan kajian terhadap laporan hasil penilaian kebtuhan
pelayanan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi.
C. Rumah Sakit Umum Pusat Nasional menyampaikan informasi rujukan
dan perkembangannya ke PPK bila dipelrukan.
304
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
D. PPK berserta unit terkait di lingkungan Depkes merespons kebutuhan
pelayanan kesehatan yang diperlukan.
5.2 Penyampaian
Informasi yang diperoleh dapat disampaikan dengan menggunakan :
1. Kurir
2. Radio Komunikasi
3. Telepon
4. Faksimili
5. E-mail
6. SMS
6. RESPON BENCANA
6.1 Pre Penanganan Bencana
6.1.1 Preventif
Serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan
risiko bencana, baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan
pihak yang terancam bencana (UU no. 24/2007). Upaya tidak mempertemukan
bahaya dengan kerentanan/kapasitas. Upaya yang dilakukan untuk mencegah
terjadinya bencana (jika mungkin dengan meniadakan bahaya).
Misalnya :
1. Melarang pembakaran hutan dalam perladangan
2. Melarang penambangan batu di daerah yang curam.
Contoh kegiatan :
1. Membuat Peta Daerah Bencana
2. Mengadakan dan mengaktifkan isyarat-isyarat tanda bahaya
3. Menyusun Rencana Umum Tata Ruang
4. Menyusun Perda mengenai syarat keamanan, bangunan, pengendalian
limbah dsb.
5. Mengadakan peralatan/perlengkapan Ops. PB
6. Membuat Protap, Juklak, Juknis PB.
7. Perbaikan kerusakan lingkungan.
305
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
6.1.2 Mitigasi
Serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui :
1. Pembangunan fisik maupun
2. Penyadaran dan
3. Peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (UU24/2007)
Upaya yang dilakukan untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh
bencana Bentuk mitigasi :
1. Mitigasi struktural (membuat chekdam, bendungan, tanggul sungai, rumah
tahan gempa, dll.)
2. Mitigasi non-struktural (peraturan perundang-undangan, pelatihan, dll.)
Contoh mitigasi :
1. Menegakkan peraturan yg telah ditetapkan
2. Memasang tanda-tanda bahaya/larangan
3. Membangun Pos-pos pengamanan, pengawasan/pengintaian
4. Membangun sarana pengaman bahaya dan memperbaiki sarana kritis
(tanggul, dam, sudetan dll)
5. Pelatihan Kebencanaan
6.1.3 Kesiapsiagaan
Serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui
pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna (UU
24/2007). Ada 9 kegiatan dalam komponen kesiapsiagaan:
A.
Penilaian Risiko (risk assessment)
B.
Perencanaan siaga (contingency planning)
C.
Mobilisasi sumberdaya (resource mobilization)
D.
Pendidikan dan Pelatihan (training & education)
E.
Koordinasi (coordination)
F.
Manajemen Darurat (response mechanism)
G.
Peringatan Dini (early warning)
H.
Manajemen Informasi (information systems)
I.
Gladi / Simulasi (drilling/simulation)
Misalnya: Penyiapan sarana komunikasi, pos komando, penyiapan lokasi
evakuasi, Rencana Kontinjensi, dan sosialisasi peraturan / pedoman
penanggulangan bencana.
306
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
6.2 Penanganan Lapangan
6.2.1 Manajemen Koordinasi Lapangan
Penanggulangan masalah kesehatan di lapangan yaitu penanggulangan di
lokasi mulai dari tingkat kecamatan sampai pada tingkat kabupaten/kota dengan
memperhatikan aspek koordinasi dan kepemimpinan yang didukung oleh
sumberdaya internal dan bantuan dari luar. Koordinasi adalah upaya
menyatupadukan berbagai sumber daya dan kegiatan organisasi menjadi suatu
kekuatan sinergis, agar dapat melakukan penanggulangan masalah kesehatan
masyarakat akibat kedaruratan dan bencana secara menyeluruh dan terpadu
sehingga dapat tercapai sasaran yang direncanakan secara efektif serta harmonis.
Upaya menciptakan koordinasi yang baik merupakan salah satu aspek
kesiapsiagaan Penanggulangan Masalah Kesehatan.
Koordinasi penanggulangan masalah kesehatan ini meliputi koordinasi internal
berupa kerja sama lintas program dari sumber daya yang berbeda (Pemerintah,
Ornop, LSM, Swasta dan masyarakat) di daerah rawan bencana. Program tersebut
antara lain mengintregasikan upaya penilaian kebutuhan kesehatan akibat
bencana; pelayanan kesehatan dasar dan spesialistik; perbaikan gizi darurat;
imunisasi, pengedalian vektor, sanitasai dan dampak lingkungan; penyuluhan
kesehatan; bantuan logistik kesehatan dan lain-lain. Koordinasi internal ini
mengoptimalkan kegiatan organisasi pemerintah, non pemerintah, LSM, dan lainlain yang mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sama.
1. Kerangka Konsep Koordinasi
307
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Koordinasi memerlukan :
A. Manajemen penanggulangan masalah kesehatan yang baik.
B. Adanya tujuan, peran dan tanggung jawab yang jelas dari organisasi.
C. Sumber daya dan waktu yang akan membuat koordinasi berjalan.
D. Jalannya koordinasi berdasarkan adanya informasi dari berbagai
tingkatan sumber informasi yang berbeda.
Untuk memperoleh efektifitas dan optimalisasi sumber daya PMK diperlukan
persyaratan tertentu antara lain:
A. Komunikasi berbagai arah dari berbagai pihak yang dikoordinasikan.
B. Kepemimpinan dan motivasi yang kuat disaat krisis.
C. Kerjasama dan kemitraaan antara berbagai pihak.
D. Koordinasi yang harmonis.
Keempat syarat tersebut dipadukan untuk menyusun :
A. Perencanaan
B. Pengorganisasian
C. Pengendalian
D. Evaluasi Penanggulangan Masalah Kesehatan.
2. Sistem Koordinasi Penanggulangan Masalah Kesehatan
Komponen
A. Badan atau media untuk berkoordinasi
B. Unit atau pihak yang dikoordinasikan
C. Pertemuan reguler
D. Tugas pokok dan tanggung jawab yang jelas
E. Informasi dan laporan
F. Kerjasama pelayanan dan sarana
G. Aturan (Code of conduct) organisasi yang jelas
308
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3. Koordinasi Pada Saat Kedaruratan Bencana
309
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4. Manajemen Penanggulangan Bencana di Lapangan (Tingkat Kabupaten/Kota)
Penanggulangan korban bencana di lapangan pada prinsipnya harus tetap
memperhatikan factor safety/ keselamatan bagi penolongnya, setelah itu baru
prosedur dilapangan yang memerlukan kecepatan dan ketepatan penanganan,
secara umum pada tahap tanggap darurat dikelompokkan menjadi kegiatan
sebagai berikut :
A. Pencarian korban (Search)
B. Penyelamatan korban (Rescue)
C. Pertolongan pertama (Live saving)
D. Stabilisasi korban
E. Evakuasi dan rujukan
Upaya ini ditujukan untuk menyelamatkan korban semaksimal mungkin guna
menekan angka morbiditas dan mortalitas. Hal dipengaruhi oleh jumlah korban,
keadaan korban, geografi, lokasi, fasilitas yang tersedia di lokasi dan sumberdaya
yang ada. Faktor lain yang juga mempengaruhi adalah : organisasi dilapangan,
komunikasi, dokumen dan tata kerja.
5. Koordinasi Pasca Kedaruratan/Bencana
Koordinasi dan pengendalian di lapangan pasca kerawanan bencana.
Koordinasi dan pengendalian merupakan hal yang sangat diperlukan dalam
penanggulangan dilapangan, karena dengan koordinasi yang baik diharapkan
menghasilkan output/ keluaran yang maksimal sesuai sumber daya yang ada
meminimalkan kesenjangan dan kekurangan dalam pelayanan, adanya kesesuaian
pembagian tanggung jawab demi keseragaman langkah dan tercapainya standard
penanggulangan bencana dilapangan yang diharapkan. Koordinasi yang baik akan
menghasilkan keselarasan dan kerjasama yang efektif dari organisasi-organisasi
yang terlibat penanggulangan bencana di lapangan.
Dalam hal ini perlu diperhatikan penempatan struktur organisasi yang tepat
sesuai dengan tingkat penanggulanganbencana yang berbeda, serta adanya
kejelasan tugas, tanggung jawab dan otoritas dari masing-masing komponen/
organisasi yang terus menerus dilakukan secara lintas program dan lintas sektor
mulai saat persiapan, saat terjadinya bencana dan pasca bencana. Kegiatan
310
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
pemantauan dan mobilisasi sumber daya dalam penanggulangan bencana di
lapangan pada prinsipnya adalah :
A. Melaksanakan penilaian kebutuhan dan dampak keselamatan secara
cepat (Rapid Health Assesment) sebagai dasar untuk pemantauan dan
penyusunan program mobilisasi bantuan.
B. Melaksanakan skalasi pelayanan dan mobilisasi organisasi yang terkait
dalam
penanggulangan
masalah
akibat
bencana
dilapangan,
mempersiapkan sarana pendukung guna memaksimalkan pelayanan.
C. Melakukan mobilisasi tim pelayanan ke lokasi bencana (On site)
beserta tim surveilas yang terus mengamati keadaan lingkungan dan
kecenderungan perubahan-perubahan yang terjadi.
Kendala koordinasi :
A. Gangguan aksesibilitas
B. Gangguan keamanan
C. Pertimbangan politik
D. Keengganan untuk mengamati tujuan
Masalah khusus koordinasi :
A.
Penundaan inisiatif
B.
Keikutsertaan pemerintah sangat minim dengan pertimbangan :
tidak prioritas, adanya konflik pemerintah dengan pihak lain,
badan internasional tidak sepaham dengan pemerintah, dan
perbedaan tujuan karena adanya konflik internal dalam sektor
pemerintah.
C.
Pembagian tugas tidak berjalan
D.
Kerangka waktu tidak disepakati
E.
Pengalihan tugas
6.2.2 Pembuatan Posko, RS Lapangan, dan Ambulance Protokol
1. Pembuatan Posko
Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya
yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya
bencana, kegiatan pencegahan bencana, tangap darurat, dan rehabilitasi, serta
rekonstruksi. Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang
311
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak
buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi
korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan
pengungsi, serta pemulihan prasarana dan sarana. Masa tanggap darurat
bencana adalah jangka waktu tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah atau
pemerintah daerah.
Pos Komando Kedaruratan adalah pos komando yang dibentuk pada
saat keadaan darurat yang meliputi tahap siaga darurat, tahap tanggap darurat
dan transisi dari tahap tanggap darurat ke tahap pemulihan yang dapat berupa
pos komando tanggap darurat dan atau pos komando lapangan dan pos
pendukung yang merupakan satu kesatuan sistem penanganan darurat. Pos
Komando Tanggap Darurat Bencana adalah institusi yang berfungsi sebagai
pusat komando operasi tanggap darurat bencana, untuk mengkoordinasikan,
mengendalikan, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan tanggap darurat
bencana. Pos Komando Lapangan Tanggap Darurat Bencana merupakan
institusi yang bertugas melakukan penanganan tanggap darurat bencana secara
langsung di lokasi bencana.
Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Nasional berkedudukan di ibu
kota negara, Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Provinsi berkedudukan
di ibu kota provinsi, Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Kabupaten/Kota
berkedudukan di ibukota kabupaten/kota atau di tempat lain sesuai kondisi
yang ada. Pada bencana skala nasional dapat dibentuk Pos Komando Tanggap
Darurat Aju di provinsi dan pada bencana skala provinsi dapat dibentuk Pos
Komando Tanggap Darurat Aju di kabupaten/kota yang terkena bencana.
Jangka waktu keberadaan pos komando tanggap darurat bencana bersifat
sementara selama masa tanggap darurat dan beroperasi selama 24 (dua puluh
empat) jam setiap hari serta dapat diperpanjang atau diperpendek waktunya
sesuai dengan pelaksanaan tanggap darurat.
A. Persyaratan Lokasi
i. Pos Komando Tanggap Darurat Bencana dapat menempati bangunan
atau tenda.
ii. Bangunan atau tenda pos komando tanggap darurat bencana menempati
lokasi yang strategis dengan kriteria:
312
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
a.
Mudah diakses oleh berbagai pihak yang terlibat dalam kegiatan
tanggap darurat bencana.
b.
Aman dan terbebas dari ancaman bencana.
c.
Memiliki lahan parkir yang memadai. d. luas lahan sekurangkurangnya 500 m2.
B. Pembentukan Pos Komando (Posko)
Pembentukan Pos Komando Tanggap Darurat Bencana, dapat
dilakukan pada tahap siaga darurat untuk jenis bencana yang terjadi
secara berangsur-angsur, seperti banjir dan gunung meletus, atau segera
setelah dinyatakan status bencana untuk jenis bencana yang terjadi secara
tiba-tiba, seperti tanah longsor, gempa dan tsunami.
Untuk
jenis
bencana
yang
terjadi
secara
berangsur-angsur,
pembentukan Pos Komando Tanggap Darurat Bencana dengan cara
meningkatkan status Pusat Pengendali Operasi Wilayah Provinsi/
Kabupaten/Kota. Sedangkan untuk jenis bencana yang terjadi secara tibatiba, proses pembentukan pos komando tanggap darurat bencana,
dilakukan melalui 4 (empat) tahapan yang harus dilaksanakan secara
keseluruhan menjadi satu rangkaian sistem komando yang terpadu, yaitu:
C. Informasi Kejadian Awal Bencana Informasi
Awal data kejadian bencana dapat diperoleh melalui berbagai sumber
antara lain laporan instansi/lembaga terkait, media massa, masyarakat,
dan internet. Kebenaran informasi tersebut diatas perlu dikonfirmasi
dengan pertanyaan apa, kapan, dimana, bagaimana, berapa, penyebab,
akibat yang ditimbulkan dan upaya yang telah dilakukan serta kebutuhan
yang mendesak.
D. Penugasan Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana
i. Dari informasi kejadian awal yang diperoleh, BPBD/SATLAK PB dan
atau
BNPB
menugaskan
BNPB/BPBD/SATLAK
PB)
Tim
Reaksi
Cepat
(TRC
tanggap
darurat
bencana,
untuk
melaksanakan tugas pengkajian secara cepat dan tepat, serta
313
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
memberikan dukungan pendampingan dalam rangka kegiatan tanggap
darurat.
ii. Hasil pelaksanaan tugas TRC BNPB/BPBD/SATLAK PB tanggap
darurat dan masukan dari berbagai instansi/lembaga terkait merupakan
bahan pertimbangan bagi:
a.
Kepala
BPBD/SATLAK
mengusulkan
kepada
PB
Kabupaten/Kota
Bupati/Walikota
dalam
untuk
rangka
menetapkan status/tingkat bencana skala kabupaten/kota.
b.
Kepala BPBD Provinsi untuk mengusulkan kepada Gubernur
dalam rangka menetapkan status/tingkat bencana skala provinsi.
c.
Kepala BNPB untuk mengusulkan kepada Presiden RI dalam
rangka menetapkan status/tingkat bencana skala nasional.
E. Penetapan Status/Tingkat Bencana
i. Berdasarkan usul sesuai butir 2b di atas maka :
a.
Bupati/Walikota menetapkan status/tingkat bencana skala
kabupaten/kota.
b.
Gubernur menetapkan status/tingkat bencana skala provinsi.
c.
Presiden RI menetapkan status/tingkat bencana skala nasional.
ii. Tindak lanjut dari penetapan status/tingkat bencana tersebut, maka
Kepala BNPB/BPBD Provinsi/BPBD/SATLAK PB Kabupaten/Kota
sesuai dengan kewenangannya dapat menunjuk seorang pejabat sebagai
komandan tanggap darurat bencana sesuai status/tingkat bencana skala
nasional/daerah.
F. Pembentukan Pos Komando Tanggap Darurat Bencana
Presiden/Gubernur/Bupati/Walikota atas usul Kepala BNPB/ BPBD
Provinsi/BPBD/SATLAK
PB
Kabupaten/Kota
sesuai
status/tingkat
bencana dan tingkat kewenangannya :
i. Mengeluarkan Surat Keputusan pembentukan Pos Komando Tanggap
Darurat Bencana.
ii. Melaksanakan mobilisasi sumberdaya manusia, peralatan dan logistik
serta dana dari instansi/lembaga terkait dan/atau masyarakat.
314
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
iii. Meresmikan pembentukan Pos Komando Tanggap Darurat Bencana.
iv. Bilamana pemerintah kabupaten/kota atau provinsi tidak ada BPBD,
maka yang melaksanakan pembentukan Pos Komando Tanggap
Darurat adalah instansi/ Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang
menangani bencana.
2. Rumah Sakit Lapangan
A. Persiapan Pendirian Rumas Sakit Lapang
Sebelum menggerakkan RS lapangan kita perlu mengirimkan tim aju yang
mempunyai pengalaman dan kemampuan dalam pengelolaan RS lapangan.
Jumlah tim aju yang dikirim minimal 3 (tiga) orang terdiri dari tenaga teknis yang
mempunyai pengalaman dalam membangun RS lapangan, tenaga medis dan
sanitarian. Tim aju bertugas untuk melakukan penilaian mengenai lokasi pendirian
tenda dan peralatannya. Penilaian oleh tim aju tersebut penting untuk memastikan
bahwa RS lapangan yang akan didirikan memang didasarkan pada kebutuhan,
berada di tempat yang aman, memiliki akses yang mudah dijangkau, dan sumber
air dan listrik yang masih dimiliki paska terjadinya bencana.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan penilaian untuk
pendirian RS lapangan di lokasi bencana, antara lain:
i.
Keamanan. Lokasi pendirian RS lapangan harus berada di wilayah yang
aman dari bencana susulan, misalnya, tidak berpotensi terkena gempa
susulan atau banjir susulan. Jika bencana berkaitan dengan konflik maka
lokasi RS lapangan harus berada di wilayah yang netral dan mendapat
jaminan keamanan dari kedua pihak yang bertikai.
ii. Akses. Dalam penetapan lokasi pendirian RS lapangan, kita harus
memperhitungkan kemudahan akses bagi petugas dan pasien, juga untuk
mobilisasi logistik.
iii. Infrastruktur. Apakah terdapat bangunan yang masih layak dan aman
dipergunakan sebagai bagian dari RS lapangan. Jika tidak, apakah ada
lahan dengan permukaan datar dan keras yang dapat digunakan untuk
pendirian RS lapangan. Apakah tersedia prasarana seperti sumber air
bersih dan listrik yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan operasional RS
315
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
lapangan. Selain itu, perlu pula dipertimbangkan ketersediaan bahan bakar
untuk menghidupkan genset dan kebutuhan operasional lain.
iv. Sistem komunikasi. Apakah tersedia sistem komunikasi di lokasi
pendirian RS lapangan atau apakah diperlukan sistem komunikasi yang
independen bagi RS lapangan. Faktor komunikasi memegang peranan
penting baik untuk keperluan internal rumah sakit maupun untuk
hubungan eksternal terkait dengan pelaporan, koordinasi dan mobilisasi
tenaga dan logistik, dsb.
Pendirian RS lapangan memerlukan dukungan dari berbagai aspek
dengan kata lain sumber daya. Sumber daya (y.i., tenaga kesehatan dan nonkesehatan, sarana, prasarana, dan peralatan) yang diperlukan di dalam
pendirian RS lapangan dilakukan oleh daerah yang akan mengirimkan tim RS
Lapangan.
Pendirian RS lapangan memerlukan tenaga yang sudah terlatih dalam
hal operasionalisasi RS lapangan, yang terdiri dari tenaga medis dan nonmedis yang akan menjadi tim inti RS lapangan. Tim inti harus dipersiapkan
sejak awal dan terdiri dari unsur manajerial, klinisi, keperawatan, penunjang
medis, sarana, dan prasarana, biasanya merupakan tim yang melekat pada
sistem RS atau dibentuk oleh suatu institusi atau badan dengan melibatkan
berbagai unsur. Tenaga medis RS lapangan dibutuhkan untuk memberikan
pelayanan kesehatan yang memang menjadi tujuan pendirian RS lapangan.
Contoh tenaga medis yang terlibat, antara lain:
1. dokter umum
2. dokter spesialis bedah
3. dokter spesialis bedah tulang
4. dokter anestesi
5. dokter penyakit dalam
6. dokter spesialis kandungan
7. dokter spesialis anak
8. dokter spesialis jiwa 24
9. perawat mahir (gawat darurat, kamar bedah, intensif, rawat bedah)
10. perawat anestesi
316
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
11. perawat umum
12. radiografer
13. tenaga analisis laboratorium
14. apoteker dan asisten apoteker
15. ahli gizi/dietisien
16. tenaga rekam medis
17. tenaga elektro medik, dan
18. tenaga sanitarian
Selain tenaga medis, tenaga non-medis juga diperlukan untuk mendukung
kelancaran operasionalisasi RS lapangan. Tenaga non-medis yang terlibat,
antara lain:
1. pengemudi/supir
2. juru masak
3. tenaga administrasi
4. tenaga laundry
5. tenaga teknisi listrik dan mesin
6. tenaga pembantu umum (untuk tenaga gudang, kebersihan, dll.)
7. tenaga keamanan
Beberapa pendekatan yang dapat dijadikan pertimbangan untuk melakukan
perhitungan kebutuhan obat dalam situasi bencana, yaitu:
1.
Melihat jenis bencana yang terjadi, misalnya bencana banjir, bencana
gunung meletus, bencana kebakaran hutan, bencana kebakaran,
bencana akibat konflik (huruhara). Berdasarkan data tersebut, kita
dapat melakukan perhitungan yang relatif sesuai dengan kebutuhan
selain jenis obat yang disediakan juga dapat mendekati kebutuhan
nyata.
2.
Mendata jumlah pengungsi, berikut usia dan jenis kelaminnya
3.
Pedoman pengobatan yang umum digunakan. Dalam hal ini sebaiknya
merujuk pada Pedoman Pengobatan yang diterbitkan oleh Depkes.
317
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Agar penyediaan obat dan perbekalan kesehatan dapat membantu pelaksanaan
pelayanan kesehatan pada saat kejadian bencana, jenis obat dan perbekalan
kesehatan harus sesuai dengan jenis penyakit dan pedoman pengobatan yang
berlaku. (DOEN, Formularium Rumah Sakit, Standar terapi rumah sakit.)
Perlengkapan RS lapangan harus memenuhi standar pelayanan,
persyaratan mutu, keamanan, keselamatan, kemanfaatan, dan layak pakai.
Perlengkapan tersebut dapat mencakup alat medis, penunjang medis, dan alat
non-medis.
318
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
B. Pendirian Rumah Sakit Lapangan
Pendirian Rumah Sakit Lapangan (RS lapangan) di daerah bencana
dapat dilakukan dengan memperhatikan sarana dan fasilitas pendukung
yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung operasionalisasi RS lapangan
seperti bangunan, listrik, air, dan MCK atau dengan mendirikan tenda di
ruang terbuka. Tahapan dalam pendirian RS lapangan, antara lain:
i. Menetapkan tata letak (site plan) RS lapangan berdasarkan
prioritas.
ii. Menyiapkan lokasi atau lahan untuk pendirian tenda serta
sarana dan fasilitas pendukung yang akan digunakan.
iii. Mempersiapkan sistem drainase untuk menghindari genangan
air.
iv. Membersihkan permukaan lokasi pendirian tenda dari benda
tajam yang dapat merusak tenda, dan apabila permukaan tanah
tidak datar harus diratakan dahulu.
v. Menyiapkan
pembatas
(pagar)
sebagai
pengaman
dan
menetapkan satu pintu masuk dan satu pintu keluar untuk
membatasi keluar masuk orang yang tidak berkepentingan.
vi. Mendirikan tenda berikut secara berurutan sesuai prioritas.
Berikut merupakan macam – macam tenda yang didirikan pada rumah sakit
lapangan :
i. Tenda Gudang
ii. Tenda Unit Gawat Darurat (UGD)
iii. Tenda Bedah
iv. Tenda Perawatan
v. Tenda Intensive Care Uni (ICU)
vi. Tenda Farmasi
vii. Tenda Personel dan Administrasi
viii. Tenda Laundry dan Sterilisasi
ix. Tenda X-Ray
x. Tenda Processing Film
319
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Berikut merupakan macam – macam prasarana yang diperlukan di rumah sakit
lapangan sebagai penunjang :
i. Alat – alat Kesehatan
ii. Prasarana Radio Komunikas
iii. Pengbangkit Daya Listrik (Generator Set)
iv. Prasarana Penerangan
v. Prasarana Air Bersih
vi. Prasarana Pembuangan Limbah
vii. Prasarana Laundry dan Sterilisasi
viii. Prasarana Pelayanan Gizi (Dapur Umum)
ix. Prasarana Toilet dan Kamar Mandi
3. Ambulance Protocol
A. Macam Lampu Rotator
Ada 3 macam lampu rotator yang diijinkan penggunaannya di
Indonesia. Hal ini sesuai dengan UU no. 22 tentang lalu lintas dan
angkutan jalan, pasal 59 ayat 5 yang berbunyi: Penggunaan lampu isyarat
dan sirene sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sebagai
berikut:
i. Lampu isyarat warna biru dan sirene digunakan untuk mobil petugas
Kepolisian Negara Republik Indonesia;
ii. Lampu isyarat warna merah dan sirene digunakan untuk mobil tahanan,
pengawalan
Tentara
Nasional
Indonesia,
pemadam
kebakaran,
ambulans, palang merah, dan jenazah; dan
ii. Lampu isyarat warna kuning tanpa sirene digunakan untuk mobil
patroli jalan tol, pengawasan sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan, perawatan dan pembersihan fasilitas umum, menderek
Kendaraan, dan angkutan barang khusus.
Namun, berdasarkan PPRI (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia) no. 44
tahun 1993 tentang kendaraan dan pengemudi, ambulans disebutkan sebagai
kendaraan yang diperbolehkan memakai lampu rotator berwarna biru.
320
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
PERATURAN
TAHUN
PEMERINTAH
REPUBLIK
1993TENTANGKENDARAAN
INDONESIANOMOR
DAN
44
PENGEMUDI
Pasal 66Lampu isyarat berwarna biru hanya boleh dipasang pada kendaraan
bermotor :
1. petugas penegak hukum tertentu;
2. dinas pemadam kebakaran;
3. penanggulangan bencana;
4. ambulans;
5. unit palang merah;
6. mobil jenazah.
Menanggapi peraturan tersebut, IKABI (Ikatan Ahli Bedah Indonesia)
merekomendasikan kepada karoseri untuk memasang lampu rotator merah dan
biru di tengah atas kendaraan. Jadi, untuk sementara mobil ambulans boleh
memakai lampu rotti bulat dan light bar merah-biru atau biru-biru.
B. Bunyi Sirine dan Artinya
Ambulans umumnya dilengkapi dengan 5 jenis suara sirine, yaitu yelp,
wail, phaser, hi-lo dan horn. Fungsi dari jenis suara ini pun berbedabeda. Wail digunakan ketika kendaraan berjalan di jalur yang lurus, yelp
digunakan ketika kendaraan berada di persimpangan, hi-lo digunakan
sebagai kombinasi untuk mendapatkan perhatian yang lebih efektif, dan
horn digunakan seperti klakson untuk memberikan peringatan lebih jika
suara-suara lainnya tidak mendapat perhatian pengguna jalan lain.
C. Tenaga Medis dan Peralatan di Ambulans
Sebelum mengetahui petugas-petugas atau tenaga medis yang bertugas
serta peralatan yang ada di ambulans, kita harus mengetahui terlebih
dahulu jenis-jenis ambulans. Jenis ambulans terdiri dari ambulans
transport, ambulans gawat darurat, ambulans rumah sakit lapangan, dan
ambulans pelayanan medis bergerak. Petugas atau tenaga medis dan
peralatan yang dibutuhkan disesuaikan dengan jenis ambulans.
321
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
i. Ambulans Transport
Tujuan Penggunaan :
Pengangkutan
penderita
yang
tidak
memerlukan
perawatan
khusus/tindakan darurat untuk menyelamatkan nyawa dan diperkirakan
tidak akan timbul kegawatan selama perjalanan.
Petugas :
Satu orang supir dengan kemampuan BHD (Bantuan Hidup Dasar) dan
berkomunikasi serta satu orang perawat dengan kemampuan PPGD
(pertolongan Pertama Gawat Darurat)
Peralatan :
a.
Tabung oksigen dengan peralatannya
b.
Alat penghisap cairan/lendir 12 volt DC
c.
Peralatan medis PPGD (tensimeter dengan manset anakdewasa, dll)
d.
Obat – obatan sederhana, cairan infus secukupnya
ii. Ambulans Gawat Darurat
Tujuan Penggunaan :
Pertolongan penderita gawat darurat pra rumah sakit, pengangkutan
penderita gawat darurat yang sudah distabilkan dari lokasi kejadian ke
tempat tindakan definitif atau ke rumah sakit, sebagai kendaraan
transport rujukan.
Petugas :
Satu orang pengemudi dengan kemampuan PPGD dan komuniasi, satu
orang perawat berkemampuan PPGD, dan satu orang dokter
berkemampuan PPGD atau ATLS/ACLS.
Peralatan :
Peralatan Rescue :
a. Lemari obat dan peralatan
b. Tanda pengenal dari bahan pemantul sinar
c. Peta wilayah setempat
d. Persyaratn lain menurut perundangan yang berlaku
e. Lemari es/freezer atau kotak pendingin
322
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Peralatan Medis :
a. Tabung oksigen dengan perlatan bagi dua orang
b. Peralatan medis PPGD
c. Alat resusitasi manual/automatic lengkap bagi dewasa dan
anak/bayi
d. Suction pump manual dan listrik 12 volt DC
e. Peralatan monitor jantung dan nafas
f. Alat monitor dan diagnostik
g. Peralatan defibrilator untuk anak dan dewasa
h. Minor surgery set
i. Obat – obatan gawat darurat dan cairan infus secukupnya
j.
Entonox atau gas anastesi
k. Kantung mayat
l. Sarung tangan disposable
m. Sepatu boot
iii. Ambulans Rumah Sakit Lapangan
Tujuan Penggunaan :
Merupakan gabungan ebebrapa ambulans gawat darurat dan ambulans
pelayanan medik beregrak. Sehari – hari berfungsi sebagai ambulans
gawat darurat.
Petugas :
Seorang pengemudi berkemampuan PPGD dan komunikasi, seorang
perawat berkemampuan PPGD atau BTLS/BCLS, dan seorang dokter
berkemampuan ATLS/ACLS.
Peralatan :
Peralatan Rescue :
a. Lemari obat dan peralatan
b. Tanda pengenal dari bahan pemantul sinar
c. Peta wilayah setempat dan detailnya
d. Persyaratan lain menurut perundangan yang berlaku
e. Lemari es/freezer atau kotak pendingin
323
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Peralatan Medis :
a. Tabung oksigen dengan peralatan bagi dua orang
b. Peralatan medis PPGD
c. Alat resusitasi manual/automatic lengkap bagi dewasa dan
anak/bayi
d. Suction pump manual dan listrik 12 volt DC
e. Peralatan monitor jantung dan nafas
f. Alat monitor dan diagnostik
g. Peralatan defibrilator untuk anak dan dewasa
h. Minor surgery set
i. Obat – obatan gawat darurat dan cairan infus secukupnya
j. Entonox atau gas anastesi
k. Kantung mayat
l. Sarung tangan disposable
m. Sepatu boot
iv. Ambulans Pelayanan Medik Bergerak
Tujuan Penggunaan :
Melaksanakan salah satu upaya pelayanan medik di lapangan.
Digunakan sebagai ambulans transport.
Petugas :
Seorang pengemudi berkemampuan PPGD dan komunikasi, Seorang
perawat berkempuan PPGD dengan jumlah sesuai kebutuhan, dan
paramedis lain sesuai kebutuhan serta dokter berkemampuan PPGD
atau ATLS/ACLS.
Peralatan :
Peralatan Rescue :
a. Peta wilayah setempat
b. Persyaratn lain menurut perundangan yang berlaku
c. Lemari es/freezer atau kotak pendingin
Peralatan Medis :
a. Tabung oksigen dengan peralatan
b. Peralatan medis PPGD
324
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
c. Alat resusitasi manual/automatic lengkap bagi dewasa dan
anak/bayi
d. Suction pump manual dan listrik 12 volt DC
e. Obat – obatan gawat darurat dan cairan infus secukupnya
f. Sarung tangan disposable
g. Sepatu boot
D. Peraturan Lain Khusus Ambulans
Sebagian besar undang-undang memperbolehkan pengemudi kendaraan
emergensi untuk :
i. Memarkir kendaraannya di manapun, selama tidak merusak hak milik
atau membahayakan nyawa orang lain.
ii. Melewati lampu merah dan tanda berhenti. Beberapa negara
mengharuskan pengemudi ambulans untuk berhenti terlebih dahulu saat
lampu merah, lalu melintas dengan hati-hati. Negara lain hanya
menginstruksikan pengemudi untuk memperlambat laju kendaraan dan
melintas dengan hati-hati.
iii. Mendahului kendaraan lain di daerah larangan mendahului setelah
memberi sinyal yang tepat, memastikan jalurnya aman, dan
menghindari hal-hal yang membahayakan nyawa dan harta benda.
iv. Mengabaikan peraturan yang mengatur arah jalur dan aturan berbelok
ke arah tertentu, setelah memberi sinyal dan peringatan yang tepat.
Dengan adanya pengecualian tentang beberapa peraturan lalin untuk
ambulans, bukan berarti ambulans bebas dikemudikan dengan kecepatan yang
ugal-ugalan. Ada batasan kecepatan yang diperbolehkan dalam mengemudi
ambulans, yaitu 60 km/jam ketika berangkat mengambil penderita dan
maksimum 40 km/jam ketika membawa pasien di dalamnya.
Hal ini dikarenakan kecepatan yang tinggi akan menyebabkan stress
pada pasien, terlebih lagi jika sirine dibunyikan. Dan perlu digaris bawahi, jika
ambulans membawa pasien dengan penyakit jantung, sirine TIDAK BOLEH
dibunyikan. Jadi, ambulans hanya diperbolehkan menyalakan lampu rotator
saja, karena dikhawatirkan stress akibat bunyi sirine akan berakibat fatal pada
pasien penyakit jantung.
325
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
6.2.2
Triage
Triage adalah proses khusus memilah dan memilih pasien berdasarkan
beratnya penyakit menentukan prioritas perawatan gawat medik serta prioritas
transportasi, artinya memilih berdasarkan prioritas dan penyebab ancaman hidup.
Triage merupakan suatu sistem yang digunakan dalam mengidentifikasi korban
dengan cedera yang mengancam jiwa untuk kemudian diberikan prioritas untuk
dirawat atau dievakuasi ke fasilitas kesehatan.
1. Tujuan Triage
A.
Identifikasi cepat korban yang memerlukan stabilisasi segera (lebih ke
perawatan yang dilakukan di lapangan).
B.
Identifikasi
korban
yang
hanya
dapat
diselamatkan
dengan
pembedahan.
C.
Untuk mengurangi jatuhnya korban jiwa dan kecacatan.
2. Prinsip Triage dan Tata Cara Melakukan Triage
Triage dilakukan berdasarkan observasi terhadap 3 hal, yaitu :
A. Pernapasan (respiratory)
B. Sirkulasi (perfusion)
C. Status mental (mental state)
Dalam pelaksanaannya biasanya dilakukan tag label triage yang
dipakai oleh petugas triage untuk mengidentifikasi dan mencatat kondisi untuk
tindakan medis terhadap korban.
3. Pengelompokan Triage Berdasarkan Tag Label
A. Prioritas 0 (hitam)
Pasien meninggal atau cedera parah yang jelas tidak mungkin untuk
diselamatkan
B. Prioritas 1 (merah)
Penderita cedera berat dan memerlukan penilaian cepat dan tindakan
medik atau transport segera untuk meyelamatkan hidupnya. Misalnya
penderta gagal nafas, henti jantung, luka bakar berat, perdarahan parah
dan cedera kepala berat.
C. Prioritas 2 (kuning)
Pasien memerlukan bantuan, namun dengan cedera dan tingkat yang
kurang berat dan dipastikan tidak akan mengancam jiwa dalam waktu
326
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
dekat. Misalnya cedera abdomen tanpa syok, luka bakar ringan, frakur
atau patah tulang tanpa syok, dan jenis – jenis penyakit lainnya.
D. Prioritas 3 (hijau)
Pasien dengan cedera minor dan tingkat penyakit yang tidak
membutuhkan pertolongan segera serta tidak mengancam nyawa dan
tidak menimbulkan kecacatan.
4. Klasifikasi Triage
A. Triage di tempat
Dilakukan ditempat korban ditemukan atau pada tempat penampungan, triage
ini dilakukan oleh tim pertolongan pertama sebelum korban dirujuk ke tempat
pelayanan medik lanjutan
B. Triage Medic
Dilakukan pada saat korban memasuki pos pelayanan medik lanjutan yang
bertujuan untuk menentukan tingkat perawatan dan tindakan pertolongan yang
dibutuhkan oleh korban.
C. Triage evakuasi
Triage ini ditunjukkan pada korban yang dapat dipindahkan pada rumah sakit
yang telah siap menerima korban, seperti bencana massal.
6.3 Pasca Penanganan Bencana
2.4.4. Kegiatan Pelayanan Kesehatan
Bencana yang disertai dengan pengungsian sering menimbulkan
berbagai masalah, terumata masalah kesehatan masyarakat yang besar. Dalam
sitausi bencana selalu terjadi kedaruratan semua aspek kehidupan. Terjadinya
kelumpuhan pemerintahan, rusaknya fasilitas umum, terganggunya sistem
komunikasi
dan
transportasi,
lumpuhnya
pelayanan
umum
yang
mengakibatkan terganggunya tatanan kehidupan masyarakat. Jatuhnya korban
jiwa, hilangnya harta benda, meningkatnya angka kesakitan merupakan
dampak dari adanya bencana.
Kebutuhan pelayanan kesehatan tiap – tiap penduduk rentan adalah
tidak sama karena mereka mempunyai karakteristik kebutuhan pelayanan
kesehatan yang berbeda. Pelayanan kesehatan pada bayi berbeda dengan
kebutuhan pelayanan kesehatan pada penduduk lansia. Sehingga perlu kiranya
327
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
untuk menggali informasi dari masyarakat mengenai kebutuhan pelayanan
kesehatan yang dharapkan oleh para penduduk rentan atau penduduk yang
beresiko tersebut berkenaan dengan dampak kesehatan pasca bencana.
Penggalian informasi, keinginan da saran dari kelompok penduduk
rentan adalah suatu proses pencarian informasi dan pemahaman yang
berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan
masalah manusia khusunya pada kelompok penduduk yang rentan dan
beresiko terkena penyakit dengan adanya bencana tersebut.
Tindakan penting yang dapat menolong mengurangi penderitaan
korban bencana adalah dengan memberikan perlindungan, keamanan, maupun
stabilisasi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara memenuhi kebutuhan
pengungsi dan melibatkan mereka dalam mengatur semua aspek kehidupannya
yang baru.
1. Mortalitas
Fasilitas kesehatan harus memiliki catatan kematian pasien termasuk
sebab kematiannya dan informasi demografi lain yang relevan.
2. Morbiditas
Fasilitas kesehatan yang menyediakan pelayanan kesehatan, termasuk
klinik untuk balita dan program pemberian makanan yang selektif, haruslah
memiliki catatan harian medis pasien yang menginformasikan nama, umur,
jenis kelamin, diagnosa klinis, hasil laboratorium, dan pengobatan.
3. Program Kesehatan Utama
Penyebab utama kematian dan penyakit yang paling sering muncul
dalam situasi darurat adalah campak, diare (termasuk kolera), infeksi
pernapasan, kurang gizi, dan malaria. Untuk itu, prioritas yang seharusnya
dimasukkan dalam program tanggapan darurat adalah :
A. Pengurangan dampak negatif dari penyakit – penyakit yang kerap
muncul dalam situasi darurat. Harus ada upaya untuk meringankan
(mitigasi) dari efek bencana yang mungkin dapat melibatkan kisaran
strategi kedokteran dan kesehatan pencegahan, termasuk imunisasi
untuk penyakit menular, perbaikan sanitasi, personal hiegene, bahaya
pembuangan limbah, kontrol vektor dan cacing, kontrol imigrasi dan
bea cukai, pendidikan dan peringatan dini masyarakat.
328
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
B. Kesehatan reproduksi perihal keselamatan ibu yang meliputi persalinan
dan antenatal care (ANC).
C. Meningkatkan kapasitas yang meliputi :
i. Pendidikan kesehatan
Pendidikan kesehatan hendaknya memberikan perhatian pada
pengelolaan limbah kotoran manusia, sampah, air bersih, dan
kebersihan pribadi.
ii. Pengelolaan logistik obat – obatan
iii. Pelayanan laboratorium
iv. Informasi sektor vital seperti :
a.
Persediaan air minum
b.
Persediaan kakus per orang
c.
Jumlah populasi dengan penampungan yan memadai
d.
Jumlah sabun yang disediakan untuk setiap orang per
bulannya
e.
Melaksanakan kontrol vektor
4. Makanan dan Gizi
Respon cepat yang diambil adalah :
A.
Memperkirakan keadaan kesehatan dan gizi secepat mungkin
B.
Menjamin tersedianya makanan, transportasi, penyimpanan,
minyak goreng, dan peralatan memasak.
C.
Mengatur program pemberian makanan bagi pengungsi
D.
Mengawasi jalannya program dan buat perubahan jika
diperlukan.
Pengawasan program pemberian pangan dapat dilakukan dengan cara :
A.
Pengawasan makanan, melihat kualitas dan kuantitas makanan,
serta mengawasi pendistribusian makanan.
B.
Membicarakan mutu makanan dengan pengungsi.
C.
Penilaian kebutuhan lainnya.
329
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
5. Air
Respon cepat yang diambil adalah :
A.
Menghitung kebutuhan dan kemungkinana suplai air
B.
Menilai kualitas dan kuantitas sumber air
C.
Menjaga sumber – sumber air yang ada dari polusi
D.
Membangun sumber – sumber air dan sistem penyimpanan serta
distribusi untuk menjamin air bersih yang cukup
E.
Menguji kualitas air
F.
Membentuk infrastruktur untuk operasi dan pemeliharaan air
G.
Jika sumber air lokal tidak bisa menyediakan air dalam jumlah
tertentu (minimum) dalam waktu cepat, para pengungsi
sebaiknya dipindahkan.
6. Kesehatan Lingkungan
Respon cepat yang diambil adalah :
A.
Mengumpulkan tinja pada satu tempat
dan mencegah
pencemaran terhadap sumber – sumber air.
B.
Menentukan tempat – tempat yang berpotensi untuk pembutan
sarana sanitasi
C.
Menentukan metode pembuangan tinja, sampah dan air limbah.
D.
Mengendalikan vektor yang mengancam kesehatan, seperti
nyamuk, lalat, kutu, binatang kecil, tikus, dan hama lainnya.
E.
Merencanakan tim sanitasi untuk membangun dan memelihara
prasarana.
F.
Mendirikan pelayanan pengendalian ancaman hama
G.
Membentuk sistem pemantauan untuk smeua pelayanan
kesehatan lingkungan
H.
Memasukkan kebersihan lingkungan sebagai bagian pendidikan
kesehatan
I.
Mengendalikan debu dengan cara menyiram jalan dan
membatasi lalu lintas
J.
Mengendalikan
air
limbah
dan
menyediakan
salutan
pembuangannya.
330
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
6.3.2
Trauma Healing
Pemulihan dari trauma membutuhkan waktu, berusaha meluangkan
waktu untuk diri anda, jangan terlalu memaksa proses penyembuhan dan
bersabarlah dalam melewati langkah – langkah pemulihan. Terkait dengan
penanganan trauma (trauma healing) terdapat metode sederhana antara lain:
A. Jangan mengisolasi diri. Usahakan untuk menjalani hubungan dengan
orang lain dan hindari mengabiskan waktu sendiri.
B. Mintalah bantuan kepada anggota keluarga, teman, konselor, atau
pemuka agaman yang bisa anda percaya. Bisa juga bergabung dengan
support group atau grup – grup dikusi yang khusus memberikan
dukungna untuk masalah trauma.
C. Lakukan aktivitas sehari – hari seperti berjalan kaki, tidur, makan,
bekerja dan berolah raga. Jangan lupa untuk membuat jadwal untuk
erelaksasi dan aktivitas sosial.
D. Kesehatan, banyaklah istirahat, berolah raga teratur, dan makan teratur.
Hindari alkohol dan obat terlarang. Alkohol dan obat terlarang dapat
memperburuk symptom trauma dan memperburuk perasaan – perasaan
depresi, kecemasan, dan isolasi.
E. Lakukan pelepasan emosi, jangan tahan tangisan, mengangislah samapi
puas. Pelepasan emosi secara fisik dapat membantu mengurangi beban.
F. Apabila masalah tidak juga menghilang dan korban merasa terbebani, itu
pertanda bahwa korban memerlukan bantuan profesional untuk
membantu menangani masalahnya.
331
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
REFERENSI
1. Depkes RI. Pedoman Koordinasi Penanggulangan Bencana Di Lapangan.
http://www.depkes.go.id/resources/download/penanganankrisis/pedoman_koordinasi_penanggulangan_bencana_di_lapangan.pdf
diakses pada 2 Januari 2016
2. Depkes RI. 2008. Pedoman Pengelolaan Rumah Sakit Lapangan Untuk
Bencana.
http://www.depkes.go.id/resources/download/penanganan-krisis/
pedoman_rumah_sakit_lapangan_untuk_bencana.pdf diakses pada 2 Januari
2016
3. ID
Medis.
2014.
Triase
Gawat
Darurat
Lengkap
PPGD.
http://www.idmedis.com/2014/03/triase-gawat-darurat-lengkap-ppgd.html
diakses pada 2 Januari 2016
4. BNPB. 2010. Pedoman Pembentukan Pos Komando Tanggap Darurat
Bencana. http://www.gitews.org/tsunamikit/en/E6/further_resources/national_
level/peraturan_kepala_BNPB/Perka%20BNPB%2014
2010_%20Pedoman%20Pembentukan%20Pos%20Komando%20Tanggap%20
Darurat%20Bencana.pdf diakses pada 2 Januari 2015
5. BNPB. Sistem Penanggulangan Bencana. http://www.bnpb.go.id/pengetahuanbencana/sistem-penanggulangan-bencana diakses pada 2 Januari 2016
6. PUSDIKLAT. Manajemen Bencana Jejaring Untuk Penanggulangan Bencana.
http://www.pusdiklataparaturkes.net/Downloads/Diklat%20Kepemimpinan/Pelatihan%20PKP%20
Kepala%20Dinkes/MODUL.4%20PKP%20KADINKES/B.%20Manajemen%
20Bencana/Pokok%20Bahasan%204%20Jejaring%20untuk%20Penanggulang
an%20Bencana/File%20Materi/PB44B1.PDF diakses pada 2 Januari 2016
7. FK
UNAND.
2013.
Manajemen
Bencana
Alam.
http://fk.unand.ac.id/images/SL_Blok_4.3_A.pdf diakses pada 2 Jnuari 2016
8. Siswantobp. Peran SOP Dalam Mitigasi dan Penanganan Bencana.
http://wiki.openstreetmap.org/w/images/7/73/Mitigasi-bencana.pdf
diakses
pada 2 Januari 2016
9. Wihayanti, Punik M, et al. 2010. Analisis Kebutuhan Pelayanan Kesehatan
Penduduk Rentan Pasca Bencana Erupsi Merapi di Desa Mranggen Kecamatan
Srumbing
Kabupaten
Magelang
Jawa
Tengah.
332
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
http://dppm.uii.ac.id/dokumen/proposal/merapi/RE_PUNIK_MUMPUNI.pdf
diakses pada 2 Januari 2016
10. Pusat Studi Kebijakan dan Sosial. Pengelolaan Kesehatan Masyarakat Dalam
Kondisi
Bencana.
http://johana.staff.ugm.ac.id/wp-
content/uploads/chpss_3.pdf diakses pada 2 Januari 2016
11. Khazanah.
2010.
Trauma
Healing.
http://kepri.kemenag.go.id/file/
file/Prospek06/vzht1386575650.pdf diakses pada 2 Januari 2016
12. Menkes RI. 2006. Pedoman Sistem Informasi Penanggulangan Krisi Akibat
Bencana.
http://dinkes.surabaya.go.id/portal/files/kepmenkes/
Kepmenkes%20064.pdf diakses pada 3 Januari 2016
333
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
MANAJEMEN OPERASIONAL LAPANGAN
1. PENDAHULUAN
Dalam kehidupan kita sehari-hari baik itu dijalani secara individu/personal maupun
secara berkelompok/berorganisasi membutuhkan rencana-rencana dalam mencapai tujuan.
Rencana telah disusun secara umum atau detail tanpa didukung kemampuan menajemen
(kemampuan menajerial seseorang/sekelompok orang) sulit untuk dilaksanakan dalam
perwujudan tujuan rencana tersebut, begitupun sebaliknya.
Berorganisasi membutuhkan menajemen yang jauh lebih kompleks agar tercapai
tujuan mereka. Kemampuan memanage dalam pelaksanaan, pengontrolan dan evaluasi
sebuah rencana yang telah disusun dengan baik menentukan hidup matinya organisasi.
Meskipun demikian langkah awal senantiasa dimulai dari bagaimana organisasi mampu
menyusun perencanaan.
2. PERENCANAAN
Perencanaan bisa didefinisikan sebagai melaksanakan proses penilaian keadaan,
menentukan tujuan jangka pendek, dan tujuan jangka panjang dan tindakan – tindakan
yang harus dilaksanakan untuk mencapainya.Sehingga perencanaan penting dilakukan baik
sebelum maupun sesudah keadaan yang tak terkendali. Dan perencanaan operasi harus
didasarkan pada kebutuhan yang terinci dan penilaian akan sumber daya.
Adapun klasifikasi Rencana, yaitu :
1. Rencana Operasi (Operation Planning)
2. Rencana Cadangan (Alternative Planning)
Kedua tipe rencana tersebut jika digabung maka disebut sebagai master planning,
sehingga dapat menciptakan kondisi terkendali dan mengantisipasi kondisi yang tak
terkendali. Kesimpulannya rencana operasi tanpa rencana cadangan akan terjebak dalam
keadaan yang tak terkendali, begitupun dengan rencana cadangan tanpa rencana opersi
akan menjadi jasad sebuah ide.
3. UNSUR-UNSUR RENCANA OPERASI
3.1 Nama Instansi
3.2 Nama Kegiatan
3.3 Waktu Pelaksanaan
334
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3.4 Jenis Kegiatan
3.5 Tempat Kegiatan
3.6 Tujuan
1. Tujuan Khusus
2. Tujuan Umum
3.7 Identifikasi dan Penetapan Sumber Daya
3.7.1 Man Power
1. Jumlah
2. Job description
3.7.2 Method
1. Internal
2. Eksternal
3.7.3 Material
1. Sarana transport
2. Peralatan medis dan obat – obatan
3. Perlengkapan medis tim dan pribadi
3.7.4 Money
1. Dana BPP
2. Dana pribadi
3.7.5 Rule
1. Etika tim medis (khusus RO tim medis)
2. Surat kesepakatan
3.7.6 Information
1. Keadaan medan
2. Iklim dan cuaca
3. Keadaan sosial budaya masyarakat
3.7.7 Time
1. Waktu (time schedule)
2. Tempat
3.8 Objek Sasaran
1. Panitia
2. Peserta
3. Masyarakat
335
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3.9 Target Kegiatan
Prinsip : SMART (Spesific, Measureable, Achieveable, Reality, Time Based)
3.10 Standar Keberhasilan
Prinsip : 4EP (Ekonomis, Etis, Efektif, Efisien, Produktif)
3.11 Skenario Lapangan
1. Time schedule tim
2. Rencana operasi lapangan
3.12 Alternative Planning
1. Sistematis
2. Realistis
4. AKSI DAN KONTROL
4.1 Rencana Operasi (Operating Planning)
Rencana operasi merupakan sebuah alat manajemen yang vital yang pembuatannya
haru didasarkan pada berbagai masalah, kebutuhan – kebutuhan, dan penilaian
ketersediaan sumber daya.
4.1.1 Membuat Rencana Operasi
Hal yang pertama dilakukan ialang ‘kenali masalah dengan pertanyaan’ lalu
diikuti dengan :
1. Menentukan prioritas program
2. Menentukan tujuan
3. Mengidentifikasi sumber daya yang tersedia
i. Men power (manusia: kemampuan, jumlah, dan psikologis)
ii. Material (sarana : peralatan dan perlengkapan)
iii. Method (metode/tata kerja)
iv. Money (pendanaan)
v. Rules (aturan, etika)
vi. Information (keadaan medan, iklim, cuaca, dll)
vii. Time (waktu)
4. Merinci tindakan – tindakan yang perlu diambil oleh mereka yang bertanggung
jawas atas berbagai sektor dalam operasi tersebut
336
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4.1.2 Tugas Rencana Operasi
1.
Mengevaluasi rencana – rencana yang sudah ada dan keterangan dalam
rencana cadangan.
2.
Melakukan penilaian atas masalah – masalah, berbagai kebutuhan,
mengidentifikasi kebutuhan – kebutuhan mendesak yang belum
terpenuhi.
3.
Tentukan tujuan keseluruhan.
4.
Perjelas asumsi – asumsi rencana operasi.
5.
Tentukan langkah – langkah kerja untuk mencapai tujuan keseluruhan.
6.
Menentukan tujuan dan langkah – langkah tindakan untuk mencapai
tujuan pada tingkat sektoral.
7.
Mengalokasikan tanggung jawab.
8.
Menentukan mekanisme – mekanisme kerja sama.
9.
Menentukan mekanisme pengaturan.
10.
Mencatat dan mensosialisasikan rencana, memantau kemajuan,
melakukan koreksi tindakan dan mengatur serta merevisi rencana.
4.1.3 Melaksanakan Tugas Rencana Operasi
1.
Senantiasa mempersiapkan diri atau tim bahwa ada kecenderungan
untuk menunda perencanaan operasi oleh karena ketiadaan informasi
(masih lebih baik keterbatasan informasi) dan karena kebutuhan akan
sumber daya yang mendesak yang dapat dipenuhi tanpa sebuah
rencana.
2.
Rencana cadangan harus menggunakan hasil rencana cadangan untuk
menghadapi keadaan yang kurang terkendali, dan menyiapkan rencana
operasinya. Pertimbangkan bahwa beberapa hal dalam rencana
cadangan akan dijelaskan seiring dengan perjalanan waktu.
3.
INGAT !
RENCANA
OPERASI
YANG
PALING
EFEKTIF
ADALAH YANG DIKEMBANGKAN OLEH ATAU DENGAN
MEREKA
YANG
AKAN
MELAKSANAKAN
RENCANA
TERSEBUT. Maksudnya adalah semua faktor yang mempengaruhi
rencana operasi harus diseimbangkan (mengutamakan isu-isu yang
penting) agar mudah menyusun rencana operasi dalam waktu singkat
337
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
sehingga tidak menjadi kadaluwarsa sebelum dilaksanakan dan tidak
bertele-tele agar mudah diperbaharui.
4.
INGAT ! RENCANA OPERASI MERUPAKAN SEBUAH PROSES.
Maksudnya adalah rencana operasi harus terus menerus diperbaharui
seiring perkembangan keadaan, pelaksanaan rencana harus dipantau
dan mengambil tindakan untuk mengoreksi hal-hal yang salah,
disesuaikan dan direvisi.
4.2 Rencana Cadangan (Alternative Planning)
Rencana cadangan merupakan proses perencanaan ke depan, dalam keadaan
yang penuh dengan ketidakpastian, keadaan dimana sudah disepakati berbagai skenario
dan tujuan, tindakan – tindakan menajerial dan teknis sudah terdefinisikan, dan sistem –
sistem tanggapan potensial sudah diatur pelaksanannya guna mencegah, atau
menanggapi keadaan tidak atau kurang terkendali.
Berdasarkan definisi diatas, maka hal yang penting untuk menganggap rencana
cadangan merupakan sebuah proses perencanaan seperti halnya rencana operasi, dimana
sekelompok orang atau organisasi untuk selalu bekerjasama terus menerus agar dapat
merumuskan tujuan – tujuan dan mendefinisikan tanggung jawab dan tindakan –
tindakan baik bersifat manajerial ataupun teknis sehingga dapat membentuk sebuh
sistem tanggapan potensial. Rencana cadangan membangun kapasitas organisasi dan
harus menjadi dasar bagi perencanaan operasi dan tanggapan terdahap kedaan yang
tidka atau kurang terkendali. Karena tanpa rencana cadangan sebelumnya, banyak
waktu yang terbuang untuk membuat rencana guna menanggapi keadaan yang tak
terkendali.
4.2.1 Waktu untuk merencankan sebuah rencana cadangan
Tidak ada aturan waktu untuk kapan memulai, kecuali bila tidka ada informasi
Langkah awal menyusun rencana cadangan
1. LAKUKAN! Penilaian Awal sebagai tanggapan terhadap „peringatan dini‟
yaitu langkah pengumpulan, analisa dan
penggunaan informasi untuk
lebih mendalami pemahaman mengenai keadaan terkini dan kemungkinankemungkinan yang akan terjadi, seperti angket, inspeksi visual, agenda acara,
pengalaman, dan lain – lain. Meskipun penilaian awal telah dilaksanakan,
JANGAN HENTIKAN PENILAIAN sebab penilaian susulan sangat erat
338
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
kaitannya dengan penilaian awal yang akan menjadi dasar untuk menyusun
rencana operasi.
2. Prinsipnya : PENILAIAN YANG LEBIH RINCI AKAN MENYUSUL
SEIRING PERKEMBANGAN KEADAAN DAN KEBUTUHAN AKAN
SUMBER DAYA; PENILAIAN TIDAK PERNAH BERHENTI.
3. JANGAN! T unda dalam menyusun rencana cadangan, karena tidak ada
peraturan kapan persisnya rencana cadangan dimulai di susun, kecuali
dalam
kondisi
“kegamangan”
atau
kebingungan
akibat ketiadaan
informasi. Makanya, “AMATLAH BAIK UNTUK MERENCANAKAN
YANG TIDAK PERLU DARIPADA TIDAK MERENCANAKAN HAL
YANG PERLU”
4. LAKUKAN! Pertemuan-pertemuan
sesering
mungkin
baik
itu
pertemuan besar ataupun kecil (bedasarkan peserta pertemuan) agar dapat
mencegah
rencana cadangan
yang
statis
yang
cenderung akan
kadaluwarsa dan menciptakan rasa aman yang semua. Dengan terus
menerus menelaah dan memperbaharui tolok ukur kesiapan perencanaan
secara berkala, maka tolok ukur kesiapan yang sudah dilaksanakan dapat
terus dipertahankan.
339
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
TEAM BUILDING
1. Pendahuluan
Karena
berbagai
kemajuan
teknologi,
kompetisi
global,
dan
ketahanan
ekonomi dalam masyarakat yang kompleks, banyak jabatan menuntut adanya kolaborasi
di antara manusia lintas departemen atau lintas keakhlian. Intinya, pikiran orang
banyak akan lebih baik ketimbang pikiran satu orang saja. Membangun sebuah tim
adalah suatu proses memilih, mengembangkan, memberikan kemudahan, dan melatih
sebuah kelompok kerja agar berhasil mencapai tujuan bersama. Di dalamnya mencakup
memotivasi
anggota-anggota agar merasa
bangga dalam
melaksanakan
tugas
kelompoknya. Pembangun tim (team builder) harus mampu memenuhi tuntutan tugas
(kualitas hasil, tepat waktu, dsb.) dan memenuhi kebutuhan anggota-anggota kelompok
(adil, tidak konflik, dsb).
Melalui kerjasama dan saling berbagi pengetahuan serta keterampilan, sebuah tim
seringkali mamapu menyelesaikan tugas secara efektif, ketimbang dilakukan oleh
seorang individu. Tim boleh jadi merupakan kelompok kerja yang reltif permanen,
namun juga bisa bersifat temporer yang bertugas untuk menyelesaikan sebuah proyek
tertentu. Tim yang relatif permanen biasanya dinamakan natural team work”, sedangkan
yang temporer banyak disebut “a cross-functional action team” – biasanya terdiri dari
orang – orang dari berbagai bagian atau departemen. Bentuk tim yang dianggap paling
maju ialah “self-directed”, karenanya tim semacam ini kurang memerlukan pengawasan,
dan memiliki otoritas penuh dalam penyelesaian tugas – tugasnya. Agar tim bisa bekerja
secara efektif dala mengenbangkan motivasi, kedekatan, dan produktivitas, banyak
organisasi yang memandang pembangunan tim merupakan salah atu aspek dari
pengenbangan organisasi.
2. Tujuan Tim
Tim dibangun dengan tujuan untuk membantu kelompok fungsional menjadi lebih
efektif. Karena rasa individualisme dan persaingan atar pribadi relatif tajam dalam
organisasi, maka tidak semua kelompok kerja dapat dikategorikan ke dalam suatu tim.
Secara spesifik, membangun sebuah tim artinya harus mengembangkan semangat, saling
percaya, kedekatan, komunikasi, dan produktivitas.
1. Semangat
: Muncul karena masing-masing anggota percaya bahwa
340
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
mereka memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas. Makin tinggi
tingkat kepercayaan mereka atas kemampuannya, makin besar pula motivasi
mereka untuk menyelesaikan tugas dengan baik.
2. Saling percaya
:
Rasa
saling
percaya
antar
sesama
anggota
merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh setiap anggota tim, agar tim
mampu bekerja secara efektif.
3. Kedekatan
: Kedekatan antar anggota merupakan perasaan yang
mampu menyatukan anggota secara sukarela. Suatu kelompok yang kohesif
adalah kelompok yang dimiliki oleh setiap anggotanya. Mereka mempunyai
tingkat loyalitas yang tinggi terhadap kelompoknya. Umumnya kelompok
yang kohesif akan lebih produktif.
4. Komunikasi
: Agar tim bisa berfungsi dengan baik, semua anggota harus
mempunyai kemampuan untuk mengembangkan hubungan antar pribadi
secara baik, bicara secara terbuka satu sama lain, memecahkan konflik
yang ada, dan secara bersama menghadapi masalah.
5. Produktivitas : Tim seyogianya dapat menyelesaikan tugas yang tidak
mungkin dilaksanakan perorangan. Melalui saling berbagi sumber daya,
keterampilan, pengetahuan, kepemimpinan, maka tim berpotensi sangat lebih
efektif daripada perorangan.
3. Proses Membangun Tim
Tidak ada satu cara khusus yang dipakai untuk membangun sebuah tim.
Tujuan untuk membangun tim yang bersemangat, memiliki kedekatan, saling percaya,
dan produktif dapat dilakukan dengan banyak cara.
Apapun caranya, hal yang penting diingat adalah tim itu sendiri harus
mengembangkan kemampuan mengidentifikasikan persoalan kerja mereka dan sekaligus
juga memecahkannya. Lima tahap atau langkah yang umumnya dilakukan dalam
membangun sebuah tim diuraikan di bawah ini.
1.1 Langkah 1 : Membentuk Struktur Tim
Setiap tim harus bekerja dengan suatu struktur yang memadai agar berdaya menangani
isu-isu berat dan memecahkan persoalan-persoalan yang rumit. Walau struktur bisa
berbeda antara perusahaan satu dengan lainnya, namun komponen yang umumnya ada
meliputi :
341
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1. Tim Pengarah, yang terdiri atas manajer-manajer tingkat atas, pimpinan
serikat kerja (kalau ada), manajer lini, penyelia, pimpinan tim, dan orang-orang
penting lainnya. Seperti seorang pilot, kelompok tersebut menetapkan
seperangkat tindaka,sebagai narasumber ,pemberi umpan balik atas kegiatan tim.
2. Perancang Tim, merupakan tim lintas sektoral yang mencakup anggotaanggota dari semua jenjang dan fungsi dalam organisasi. Anggotanya terdiri atas
para penyelia dan para manajer.
3. Pemimpin, merupakan unsur penting bagi keberhasilan tim. Pemilihan pemimpin
merupakan faktor penting, mereka harus yang bergaya partisipatif. Pemimpin tipe
X kurang tepat untuk diminta sebagai pemimpin tim.
4. Rapat-rapat, merupakan aktivitas yang terpenting. Agenda ini harus difasilitasi
dan dilakukan relatif sering. Pimpinan harus dilatih untuk mengelola proses rapat
dan proses terjadinya hubungan antar pribadi. Proses
rapat
antara
lain
mencakup perencanaan dan penggunaan agenda, mengelola jalannya rapat,
mendistribusikan notulen rapat, mengatur bahan dan waktu rapat. Saat rapat
berlangsung pimpinan rapat harus mampu meningkatkan partisipasi semua
anggota untuk mengeluarkan gagasannya, mengatasi pertentangan akibat adanya
perbedaan
pendapat,
menangani
anggota-anggota
yang
“sulit”, dan
menciptakan suasana rapat yang dinamis.
5. Proses konsultasi. Kehadiran pihak ketiga dalam upaya membimbing, mengajar,
membantu
menyelesaikan
konflik,
kadang
sangat
diperlukan.
Karena
sesungguhnya mereka bukan anggota tim, konsultan dapat memberikan
tantangan bagi anggota tim. Mereka bisa lebih obyektif dan bisa lebih bebas
bekerja dan berpendapat ketika membantu tim. Konsultan juga bisa membantu
membangun aturan- aturan dan cara-cara kerja. Mereka bisa diminta untuk
mendidik anggota tim dalam menggunakan peralatan, metode kerja, dan
memecahkan masalah agar tim bisa lebih produktif.
1.2 Langkah 2 : Mengumpulkan Infromasi
Membangun tim harus dimulai dengan penilaian diri anggota kelompok (selfassesment), untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan yang dimiliki oleh setiap
anggota. Pengembangan tim dapat ditetapkan berdasarkan data yang diperoleh dari
survai tentang sikap, wawancara dengan anggota tim, dan pengamatan atas diskusi342
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
diskusi kelompok. Cara-cara tersebut bermanfaat untuk menilai sejumlah hal, antara
lain iklim komunikasi, rasa saling percaya, motivasi, kemampuan memimpin,
pencapaian konsensus, dan nilai kelompok.
1.3 Langkah 3 : Membicarakan Kebutuhan
Informasi yang diperoleh dalam langkah II harus dirangkum dan diumpanbalikan kepada anggota tim. Tim harus mendiskusikannya secara terbuka, dan
mencoba menginterpretasikannya. Melalui proses ini akan ditemukan sejumlah
kebutuhan ; kekuatan yang ada harus dicoba dipertahankan dan dikembangkan
sedangkan kelemahan harus segera diatasi. Proses ini bisa berlangsung dalam
beberapa kali pertemuan guna menemukan hal-hal yang memang sangat dibutuhkan.
Proses ini sangat penting dalam upaya untuk menetapkan sendiri tujuan tim. Melalui
pemahaman atas kekuatan dan kelemahan diri sendiri, tim sudah dalam kondisi siaga
untuk mendiagnosis masalah dan menemukan jalan keluarnya.
1.4 Langkah 4 : Merencanakan Sasaran dan Menetapkan Cara Pencapaiannya
Begitu isu-isu diklarifikasikan, tim harus menetapkan tujuan dan misinya,
serta menetapkan prioritas kegiatan. Hal yang paling utama dilakukan oleh tim
adalah bekerja pada isu yang oleh anggota dianggap paling penting. Dengan
agenda yang ditetapkan sendiri, tim akan lebih komit pada proses pelaksanaan
dan pengembangannya. Kelompok harus mengembangkan skedul tentatif dan
rencana tindakan guna mencapai tujuan. Konsultan akan sangat membantu dengan
cara memberikan saran-saran tentang teknik atau kegiatan yang mungkin dilakukan
dalam upaya mencapai tujuan. Pengembang organisasi atau spesialis pelatihan harus
mengetahui jenis latihan, film, modul-modul, atau studi kasus, membantu kelompok
agar mengembangkan ketrampilan yang diperlukan bagi efektivitas kerja tim.
1.5 Langkah 5 : Mengembangkan Keterampilan
Sebagian besar proses “pembangunan tim” akan memusatkan kegiatannya pada
pengembangan ketrampilan yang diperlukan untuk menciptakan tim yang berkinerja
tinggi. Seperti halnya para atlit olah raga, setiap anggota tim harus belajar bermain,
bergerak, dan mempraktekan ketrampilan mereka. Beberapa jenis ketrampilan yang
sangat diperlukan dalam membangun tim yang baik adalah :
343
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.5.1 Kesadaran untuk mengembangkan kelompok
Harus disadari oleh semua anggota tim bahwa kemajuan suatu tim dilakukan
melalui tahapan – tahapan yang bisa diprediksi, yaitu fase orientasi, fase evaluasi,
dan fase kontrol. Fase orientasi ditandai oleh adanya ragu-raguan para anggota
kelompok akan peran mereka. Mereka kurang memahami apa yang harus mereka
lakukan selaku anggota tim.
Pada fase evaluasi, anggota cenderung mengalami konflik yang disebabkan
oleh kekurang-setujuan mereka terhadap cara-cara penyelesaian tugas. Dalam
fase ini kelompok bisa terpecah-pecah dalam beberapa koalisi. Dalam fase
kontrol, kelompok kembali bersatu, karena mereka mulai memahami satu sama
lainnya. Apa yang terjadi di atas merupakan gejala normal yang banyak terjadi.
Faktor kepemimpinan merupakan hal yang paling krusial dalam hal ini. Jika
pimpinannya baik
maka ketiga fase tersebut tidak berlangsung lama,
sehingga tim dapat segera bisa berfungsi.
1.5.2 Klarifikasi peran
Bahkan ketika tim sudah mulai bekerja, kadang mereka masih bingung
tentang apa yang harus mereka lakukan, dan juga siapa yang harus
melakukannya. Dalam upaya mencapai tugas-tugas kelompok, setiap anggota
harus memahami peran mereka masing-masing. Mereka harus tahu dengan baik
apa yang harus mereka kerjakan dan juga batas-batas kewenangannya.
Uraian jabatan formal seringkali tidak sesuai dengan harapan masing- masing
anggota, oleh karena itu pembagian peran sebaiknya dibicarakan bersama.
Dalam diskusi ini harus dibahas misi kelompok, kepada siapa kelompok harus
melaporkan hasil kerjanya?, kewenangan apa yang dipunyai kelompok?, siapa
yang menentukan pimpinan mereka?, apakah anggota kelompok setuju pada
pembagian pekerjaan?, dan apakah peran masing-masing anggota kelompok
tidak bertentangan atau tumpang tindih satu sama lainnya?.
Seperti
hanya
dengan
anggota
tim
olahraga,
kelompok
kerja
memerlukan pengetahuan tentang apa yang dimainkan oleh dirinya dan diri
anggota
lainnya.
Berdiskusi
dengan
tujuan
menjernihkan
atau
mengklarifikasikan peran masing-masing anggota merupakan agenda penting
memulai kerja dalam tim
344
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.5.3 Pemecahan masalah
Memahami bagaimana menggunakan teknik-teknik pemecahan masalah
merupakan hal penting yang menunjang keberhasilan kerja tim. Setiap anggota
tim harus bisa berpartisipasi menggunakan beberapa cara dasar dalam
memecahkan masalah di bawah ini :
1. Diagram Pareto, menggambarkan masalah-masalah yang dihadapi
oleh tim. Setiap “bar” menunjukan tingkat seringnya masalah tertentu
muncul, atau biaya yang diakibatkan oleh adanya masalah. Tim harus
berupaya untuk memecahkan masalah yang sering muncul atau yang
dampaknya paling merugikan.
2. Diagram Alur Kerja, menggambarkan langkah-langkah kerja yang
harus dilakukan mulai dari awal sampai dengan akhir. Dengan
mempelajari diagram tersebut setiap anggota dapat membayangkan proses
kerja tim secara keseluruhan.
3. Diagram Sebab-Akibat, biasanya juga disebut dengan nama diagram
“tulang ikan”. Di dalamnya tertera masalah utama dan secara
berurutan hal-hal lain yang diperirakan sebagai penyebab munculnya
masalah.
4. “Brainstorming”, setiap anggota kelompok diberi kesempatan untuk
mengembangkan gagasan-gagasan sebebas dan sebanyak mungkin. Setiap
gagasan dituliskan dalam “flip-chart”. Anggota tidak diperkenankan
untuk “membunuh” gagasan segila apapun. Melalui cara ini diharapkan
muncul pemikiran kreatif guna pemecahan masalah.
5. Rencana tindakan, memungkinkan apa yang telah diputuskan untuk
segera dilaksanakan. Peran dan tanggungjawab diberikan, laporan
diperlukan. Biasanya temuan-temuan dan rencana tindakan disajikan di
hadapan
manajemen
atau
panitia
pengarah
untuk
memperoleh
persetujuan, atau sebagai informasi dan komunikasi.
6. Bagan pertanggung-jawaban menggambarkan
kegiatan-kegiatan,
waktunya, tekniknya, dan orang yang melaksanakannya. Adanya
bagan ini semua anggota tim mengetahui secara rinci keseluruhan proses
kegiatan yang sedang berlangsung.
345
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.5.4 Konsensus dalam mengambil keputusan
Sebagian besar keputusan di tempat kerja dibuat oleh pihak yang memiliki
kekuasaan. Konsensus terjadi manakala semua anggota mengatakan : “Saya
sepakat dengan keputusan itu, walau tidak 100% setuju, namun saya sangat
mendukungnya”. Konsensus berbeda dengan demokratis. Keputusan yang
diambil secara demokratis mengandalkan pada suara terbanyak, artinya masih
ada anggota tim yang tidak setuju, yaitu minoritas. Pihak yang tidak setuju
biasanya tidak sungguh- sungguh bersedia melaksanakan hasil keputusan.
Dalam teknik pengambilan keputusan melalui konsensus yang sebenarnya,
keputusan diambil setelah semua anggota setuju. Melalui penambahan waktu
dan kesabaran, setiap anggota mengemukakan
secara panjang lebar
pendapatnya sehingga semua pihak mengerti. Konsensus tidak hanya
merupakan cara terbaik dalam pengambilan keputusan, namun juga berpotensi
memunculkan komitmen tinggi pada diri setiap anggota tim untuk
melaksanakannya. Kualitas keputusan melalui consensus memang sangat baik,
sehingga memudahkan pelaksanaannya karena semua yang mengambil
keputusan
sepakat
atas
apa
yang
telah
diputuskan.
Pengambilan keputusan secara konsensus tidaklah mudah, oleh karena itu
setiap anggota perlu memperoleh latihan guna memiliki ketrampilan yang
diperlukan. Studi kasus yang diikuti oleh analisis akan terlihat beberapa
perilaku : “Apakah anggota kelompok mendengar-kan gagasan-gagasan secara
obyektif?”, “Apakah setiap anggota kelompok telah diberikan kesempatan
bicara secara memadai?” ”Apakah ada pihak
yang mendominasi?”, “Apakah
kelompok mampu memecahkan pertentangan?”. Pengambilan
keputusan
secara konsensus harus dilakukan secara sistematis dan sabar. Tidak perlu
tergesa-gesa. Apabila kelompok
mencapai
konsensus,
tim
akan
dapat
bekerja secara maksimal.
Mengatasi konflik
Bukan hal yang aneh jika suatu kelompok yang terdiri atas orang-orang yang
berbeda latar belakang, berpotensi memunculkan konflik. Jika tim gagal menangani
konflik
dengan
semestinya
maka
akan
gagal
mencapai
tujuan.
Dengan
dikembangkannya ketrampilan mengelola konflik, maka walaupun terjadi konflik,
346
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
tim masih memperoleh manfaat daripadanya. Pandangan
yang
saling
bertentangan satu sama lain, jika dikelola dengan baik justru akan menciptakan
suatu keputusan yang lebih baik. Sebuah tim dapat mengembangkan kapasitas
menangani konflik melalui berbagai cara, misalnya diskusi terbuka tentang konflik
itu sendiri atau melalui diskusi yang tangguh yang penuh perdebatan dan
skeptisme.
Permainan peran (role playing), dan latihan-latihan membantu tim
mengembangkan
komunikasi
terbuka
yang
diperlukan
untuk
menyelesaikan konflik secara produktif. Tim yang berkinerja tinggi antara lain
dicirikan dengan adanya anggota-anggota yang kritis, namun masih saling
menghargai satu sama lainnya.
Evaluasi hasil
Sebagai suatu tim kerja yang senantiasa berfungsi, tim harus mengevaluasi
hasil kegiatannya guna mengetahui keberhasilan atau pun kegagalannya. Dalam
beberapa kasus, hasil dari adanya tim kerja dapat diukur berdasarkan kriteria baku
produktivitas atau keluaran. Jika produktivitas lebih baik daripada sebelumnya maka
dapat dikatakan tim tersebut efektif. Kesalahan yang makin berkurang, biaya
produksi makin kecil, tingkat turn over menurun, adalah beberapa tanda bahwa tim
bekerja secara efektif. Pemasok dan juga pelanggan yang menggunakan jasa tim
harus pula dijadikan sumber informasi keberhasilan atau kegagalan tim.
2. Ciri – Ciri Tim Yang Berkinerja Tinggi
1.
Seluruh anggota mempunya tekad menyelesaikan tujuan atau misi yang
dikembangkannya.
2.
Tim bekerja dalam lingkungan yang anggotanya saling terbuka dan percaya
satu sama lainnya.
3.
Seluruh anggota merasa memiliki tim, dan secara sukarela mereka
berpartisipasi di dalamnya.
4.
Anggota terdiri atas orang dengan pengalaman, gagasan, pandangan, yang
berbeda, dan perbedaan ini dihargai.
5.
Semua anggota tim secara terus menerus belajar dan memperbaiki dirinya.
Hal ini membantu meningkatkan kemampuan tim memecahkan persoalan
347
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
6.
Semua anggota tim mengerti peranan dan tanggung-jawabnya, saling
menghargai satu sama lainnya
7.
Keputusan diambil berdasarkan konsensus
8.
Setiap anggota tim berkomunikasi secara terbuka, langsung, dan saling
mendengarkan satu sama lainnya secara obyektif dan penuh kesabaran
9.
Tim dapat menangani konflik tanpa harus memunculkan permusuhan.
10.
Pimpinan
tim,
apakah
temporer
atau
tetap,
mempraktekan
gaya
kepemimpinan partisipatif.
348
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
KOMPETENSI TAMBAHAN
MATRA ORGANISASI
KEPEMIMPINAN DAN KEDIPIMPINAN
1. Kepemimpinan dan Kedipimpinan
1.2.Pengertian Kepemimpinan dan Kedipimpinan
Kepemimpinan (leadership) adalah proses memotivasi orang lain untuk mau
bekerja dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sumber lain berpendapat
bahwa kepemimpinan adalah suatu upaya merealisasikan tujuan perusahaan dengan
memadukan kebutuhan para individu untuk terus tumbuh berkembang dengan tujuan
organisasi. Perlu diketahui bahwa para individu merupakan anggota dari perusahaan.
Dan sumber lainnya mengatakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu kreasi yang
berkaitan dengan pemahaman dan penyelesaian atas permasalahan internal dan
eksternal organisasi.
Dari ketiga definisi tersebut dapat dinyatakan bahwa kepemimpinan merupakan
suatu upaya dari seorang pemimpin untuk dapat merealisasikan tujuan organisasi
melalui orang lain dengan cara memberikan motivasi agar orang lain tersebut mau
melaksanakannya, dan untuk itu diperlukan adanya keseimbangan antara kebutuhan
individu para pelaksana dengan tujuan perusahaan. Lingkup kepemimpinan tidak hanya
terbatas pada permasalahan internal organisasi, melainkan juga mencakup permasalahan
eksternal.
Dalam konteks penugasan audit, secara internal seorang ketua tim harus dapat
menggerakkan anggota tim sedemikian rupa sehingga tujuan audit dapat dicapai.
Seorang ketua tim harus dapat memahami kelebihan dan kekurangan anggota timnya,
sehingga dapat menentukan penugasan yang harus diberikan kepada setiap anggota tim.
Dilain pihak, secara ekternal seorang ketua tim harus dapat mempengaruhi audit agar
mau menjadi mitra kerjanya dan memperlancar ataupun membantu tugastugas ketua tim
dalam rangka mencapai tujuan audit. Untuk dapat mengatasi permasalahan internal dan
eksternal tersebut, ketua tim harus mempunyai kemampuan interpersonal serta teknik
349
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
komunikasi yang baik sehingga dapat memotivasi anggota tim dan mempengaruhi
auditee dengan baik.
Tujuan Kepemimpinan
Tugas memimpin adalah untuk mmeberikan informasi hubungan dan sumber
daya lain yang dibutuhan kepada para pengikut agar mereka bisa mencapai berbagai
tujuan mereka. Pemimpin yang efektif semestinya bisa menunjukkan jalan guna
membantu pengikut-pengikut mereka mendapatkan hal hal yang mereka butuhkan
demi pencapaian tujuan kerja dan mempermudah perjalanan serta menghilangkan
berbagai rintangannya.
Fungsi Kepemimpinan
Kedipimpinan. Staff (yang dipimpin), harus memahami konsep organisasi
secara gamblang, tidak sekedar di otak, namun juga harus meresapi hingga ke alam
bawah sadar. Rela dalam dipimpin adalah modal awal untuk menjadi pemimpin yang
kuat. Semua akan berbenturan dengan hukum timbal balik. Serta memang tidak ada
organisasi tanpa kepatuhan. Dan kepatuhan adalah milik staff, menjalankan perintah
yang telah disepakati dengan sunggu – sungguh. Kepatuhan terhadap perintah
pimpinan adalah bersifat mutlak selama tidak bertolak belakang dengan nilai – nilai
moral hukum yang ada di negara ini. Keniscayaan dalam sebuah gerombolan manusia,
ada yang memiliki kelebihan dan ada yang memiliki kekurangan. Sewajarnya harus
saling melengkapi, tidak saling menjatuhkan satu sama lain. Sikap dewasa adalah pada
350
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
saat mau menerima hasil – hasil yang telah disepakati bersama. Tentu dengan penuh
tanggung jawab serta kesungguhan agar gerak organisasi tidak terhambat dengan
adanya permasalahan – permasalahan internal organisasi.
2. Hal
Yang
Diperhatikan
Ketika
Memimpin
dan
Dipimpin
Dalam
Suatu
Kelompok/Organisasi
Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena unsur manusia
merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. Seperti dikemukakan di atas
bahwa yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari
para manajer, para supervisor, dan para pelaksana. Manusia memiliki karakteristik yang
berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing, yang bahkan saling berbeda dan
berakibat terjadi konflik. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam
organisasi, tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut
berada. Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana, namun ada
kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam.
Tanpa kepemimpinan yang baik, hal-hal yang telah ditetapkan dalam perencanaan
dan pengorganisasian tidak akan dapat direalisasikan. Kepemimpinan sangat diperlukan
agar semua sumber daya yang telah diorganisasikan dapat digerakkan untuk
merealisasikan tujuan organisasi. Domingo, dalam membahas kepemimpinan kualitas
(quality leadership) mengemukakan bahwa manajemen tingkat puncak harus kokoh
berinisiatif untuk mengedepankan pentingnya kepemimpinan kualitas. Pimpinan puncak
harus mendorong seluruh pegawai dan harus menjadi teladan. Segala pikiran dan
perkataannya harus merefleksikan filosofi kualitas yang diterapkan perusahaan.
Pimpinan puncak harus berpikir dan bertindak demi kualitas dalam segala situasi
dan bersedia mendengarkan siapa pun, bahkan dari seseorang yang berada di tingkat
paling bawah, yang mau menyumbangkan pendapatnya untuk peningkatan kualitas.
Domingo mengartikan kualitas sebagai “melakukan sesuatu yang benar secara benar
sejak awal” (“doing the right thing right the first time”). Domingo juga mengatakan
bahwa “menghendaki kualitas berarti berbuat baik untuk melayani konsumen”. Domingo
mengemukakan tiga hal dari tujuh belas dasar kepemimpinan yang diterapkan di General
Douglas McArthur, yaitu selalu mengemukakan pertanyaan-pertanyaan berikut dalam
setiap tindakannya, sebagai berikut:
351
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1. Apakah seluruh kekuatan yang ada pada saya telah saya arahkan untuk
mendorong, memberikan insentif, dan membebaskan dari kelemahan dan
kesalahan?
2. Apakah setiap perbuatan saya telah membuat bawahan saya mau mengikutinya?
3. Apakah saya secara konsisten dapat menjadi teladan dalam karakter, berpakaian,
sopan-santun?
Dari tiga hal yang dikemukakan Domingo tersebut dapat diketahui bahwa seorang
pemimpin harus selalu berorientasi pada keberhasilan kepemimpinannya. Seluruh
kekuatannya difokuskan pada upaya mendorong dan memotivasi bawahannya agar mau
melaksanakan kegiatan untuk mencapai tiujuan organisasi dan setiap langkah serta
penampilannya diharapkan menjadi suri teladan bagi bawahannya. Dengan demikian
pemimpin yang baik selalu memberikan pelayanan terbaik kepada bawahannya, bukan
sebaliknya, meminta dilayani oleh para bawahannya. Seorang pemimpin juga rela
mengorbankan kepentingan pribadinya untuk kemajuan para bawahannya, yang
sebenarnya hal ini juga untuk keberhasilan organisasinya.
2.1 Sikap Seorang Pemimpin Dalam Menghadapi Situasi
Seorang pemimpin kadang menghindari terjadinya konflik dalam lembaga yang
dipimpinnya. Tetapi perlu disadari bahwa konflik dalam suatu organisasi merupakan hal
yang tidak dapat dihindarkan. Dalam batas-batas tertentu konflik tidak selamanya
merugikan justru sangat bermanfaat bagi penciptaan perilaku yang efektif. Oleh sebab
itu perlu seni mengelola konflik, yaitu: membuat standard an penilaian, menentukan
masalah kontroversial dan konflik, menganalilsa situasi dan evaluasi terhadap konflik,
dan akhirnya pemimpin harus memilih tindakan yang tepat terhadap penyimpangan
yang menimbulkan konflik.
1. Pemecahan persoalan, sebagai anggapan dasar bahwa semua pihak mempunyai
keinginan untuk menanggulangi konflik, oleh sebab itu perlu dicari ukuran-ukuran
yang dapat memuaskan pihak yang terlibat dalam konfllik dan persoalan harus
selalu dilalui dua tahap penting yaitu proses penemuan gagasan dan proses
pematangannya.
2. Musyawarah, dalam musyawarah terlebih dahulu ditentukansecara jelas apa yang
menjadi persoalan. Kemudian kedua belah pihak yang sedang dalam pertikaian
mengadakan pembahasan untuk mendapatkan titik pertemuan. Pada waktu
352
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
musyawarah dapat dikembangkan suatu konsesus bahwa setelah terjadi
kesepakatan, masing-masing pihak harus mencegah terjadinya konflik.
3. Mencari lawan yang sama, dalam hal ini semua pihak diajak untuk lebih
bersatu,kaarena harus menghadapi pihak ketiga sebagai pihak yang dianggap
merupakan lawan dari kedua belah pihak yang bertikai.
4. Mensub organisasikan kepentingan dan tujuan pihak-pihak yang sedang konflik
kepada kepentingan dan tujuan yang lebih tinggi. Dalam strategi ini usaha
penanggulangan konflik dilakukan dengan menemukan kepentingan dan tujuan
pihak-pihak yang bertikai.
5. Peningkatan interaksi dan komunikasi, pihak-pihak yang berkonflik dapat
meningkatkan interaksi dan komunikasi mereka, pada suatu saat mereka juga akan
lebih mengerti dan menghargai dasar pemikiran dan perilaku pihak lain.
Penghargaan dalam hal ini penting sekali karena dapat mengurangi pandangan
buruk terhadap kelompok lain.
6. Latihan kepekaan, pihak-pihak yang berkonflik diajak masuk dalam satu
kelompok. Tiap kelompok diberi kesempatan menyatakan pendapatnya, termasuk
pendapat negative pihak lainnya. Untuk pihak yang dikritik diharapkan
mendengarkan lebih dahulu, kemudian dapat pula mengemukakan pendapatnya
sehingga dengan masing-masing mengeluarkan pendapatnya akan merasa puas.
7. Meminta bantuan kepada pihak ketiga, strategi ini bila terjadi konflik dalam suatu
kelompok, bantuan pimpinan kelompok sangat ditunggu. Bila terjadi konflik antar
kelompok dalam suatu organisasi bantuan pimpinan organisasi merupakan suatu
strategi diharapkan dapat menyelesaikannya. Selanjutnya mengetahui di bidang
apa terjadi pertikaian dengan konflik politik, konflik wewenang hukum. Ini
penting pihak ketiga yang kiranya dianggap tepat untuk menanggulangi akibat
negatif dari suatu konflik.
8. Koordinasi, koordinasi dapat menimbulkan konflik dan dapat juga menangani
konflik. Suatu usaha koordinasi dapat menjadi salah satu sumber konflik. Karena
melalui koordinasi seseorang dapat menjadi koordinator sedang yang lain
berperan sebagai yang dikoordinasikan. Pihak kedua dituntut perilaku untuk
melaksanakan perubahan tersebut dengan baik
353
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2.2 Sikap Kedipimpinan
2.2.1 Konsep Karakteristik Bawahan
Karakteristik bawahan adalah ciri-ciri kematangan, kemampuan, kebutuhan,
pengalaman, dan kepuasan yang dimiliki oleh pegawai di suatu organisasi,
khususnya organisasi pendidikan. Karakteristik bawahan sangat menentukan gaya
kepemimpinan yang akan diterapkan oleh pimpinan pendidikan. Misalnya saja
bawahan dengan kemampuan kerja tinggi lebih cocok diterapkan gaya
kepemimpinan suportif, sementara bawahan yang mempunyai kemampuan rendah
memerlukan bantuan, bimbingan, dan pengarahan dalam melaksanakan tugas
sehari-hari, sehingga cocok diterapkan gaya kepemimpinan direktif. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa karakteristik bawahan mempengaruhi gaya
kepemimpinan yang diterapkan pemimpin.
2.2.2 Komponen-Komponen Karakteristik Bawahan
Kemampuan bawahan dan karakteristik bawahan mencakup aspek-aspek
kematangan, lokus kontrol, kemampuan melaksanakan tugas, kebutuhan
berprestasi, pengalaman, kebutuhan untuk kejelasan, kepuasan, semangat kerja,
pengetahuan tentang pekerjaan, kebutuhan sosial, dan kesiapan menerima
tanggung jawab.
2.2.3 Hubungan antara Karakteristik Bawahan dan Gaya Kepemimpinan
Hasil penelitian Mathieu menemukan bahwa bawahan dengan kebutuhan
berprestasi rendah lebih suka kepemimpinan direktif (yang berorientasi pada
tugas), sementara bawahan dengan kebutuhan berprestasi tinggi menginginkan
kepemimpinan suportif. Dalam kaitannya dengan kebutuhan bawahan terhadap
kejelasan, bawahan yang memiliki kebutuhan terhadap kejelasan tinggi lebih
terpuaskan dengan kepemimpinan direktif, sementara bawahan dengan kebutuhan
terhadap kejelasan rendah terpuaskan oleh kepemimpinan yang suportif.
3. Mengelola Pikiran dan Membangun Sukses Bersama Kelompok/Organisasi
3.1 Ciri – Ciri Pemimpin Baik dan Ideal
3.1.1 Mereka terus belajar
Pemimpin yang berprinsip menganggap hidupnya sebagai proses belajar yang
tiada henti untuk mengembangkan lingkaran pengetahuan mereka. Di saat yang
sama, mereka juga menyadari betapa lingkaran ketidaktahuan mereka juga
354
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
membesar. Mereka terus belajar dari pengalaman. Mereka tidak segan mengikuti
pelatihan, mendengarkan orang lain, bertanya, ingin tahu, meningkatkan
ketrampilan dan minat baru.
3.1.2 Mereka berorientasi pada pelayanan
Pemimpin yang berprinsip melihat kehidupan ini sebagai misi, bukan karier.
Ukuran keberhasilan mereka adalah bagaimana mereka bisa menolong dan
melayani orang lain. Inti kepemimpinan yang berprinsip adalah kesediaan untuk
memikul beban orang lain..
3.1.3 Mereka memancarkan energi positif
Secara
fisik,
pemimpin
yang
berprinsip
memiliki
air
muka
yang
menyenangkan dan bahagia. Mereka optimis, positif, bergairah, antusias, penuh
harap, dan mempercayai. Mereka memancarkan energi positif yang akan
mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Dengan energi itu mereka selalu tampil
sebagai juru damai, penengah, untuk menghadapi dan membalikkan energi
destruktif menjadi positif.
3.1.4 Mereka mempercayai orang lain
Pemimpin yang berprinsip mempercayai orang lain. Mereka yakin orang lain
mempunyai potensi yang tak tampak. Namun tidak bereaksi secara berlebihan
terhadap kelemahan-kelemahan manusiawi. Mereka tidak merasa hebat saat
menemukan kelemahan orang lain. Ini membuat mereka tidak menjadi naif.
3.1.5 Mereka hidup seimbang
Pemimpin yang berprinsip bukan ekstrimis. Mereka tidak menerima atau
menolak sama sekali. Meraka sadar dan penuh pertimbangan dalam tindakannya.
Ini membuat diri mereka seimbang, tidak berlebihan, mampu menguasai diri, dan
bijak. Sebagai gambaran, mereka tidak gila kerja,tidak fanatik, tidak menjadi
budak rencana-rencana.
3.1.6 Mereka melihat hidup sebagai sebuah petualangan
Pemimpin yang berprinsip menikmati hidup. Mereka melihat hidup ini selalu
sebagai sesuatu yang baru. Mereka siap menghadapinya karena rasa aman mereka
datang dari dalam diri, bukan luar.Mereka menjadi penuh kehendak, inisiatif,
kreatif, berani, dinamis, dan cerdik. Karena berpegang pada prinsip, mereka tidak
mudah dipengaruhi namun fleksibel dalam
menghadapi hampir semua hal.
Mereka benar-benar menjalani kehidupan yang berkelimpahan.
355
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
3.1.7 Mereka sinergistik
Pemimpin yang berprinsip itu sinergistik. Mereka adalah katalis perubahan.
Setiap situasi yang dimasukinya selalu diupayakan menjadi lebih baik. Karena itu,
mereka selalu produktif dalam cara cara baru dan kreatif. Dalam bekerja mereka
menawarkan pemecahan sinergistik, pemecahan yang memperbaiki dan
memperkaya hasil, bukan sekedar kompromi dimana masing-masing pihak hanya
memberi dan menerima sedikit.
3.1.8 Mereka berlatih untuk memperbarui diri
Pemimpin yang berprinsip secara teratur melatih empat dimensi kepribadian
manusia: fisik, mental, emosi, dan spiritual. Mereka selalu memperbarui diri
secara bertahap. Dan ini membuat diri dan karakter mereka kuat, sehat dengan
keinginan untuk melayani yang sangat kuat pula.
Para peneliti di University of Michigan dengan tegas menganjurkan kepemimpinan
yang berorientasi anggota dalam perilaku mereka. Pemimpin yang berorientasi anggota terkait
dengan produktivitas kelompok yang lebih tinggi dan kepuasan kerja yang lebih baik.
Pemimpin
pemimpin
yang
berorientasi
produksi
cenderung
berhubungan
dengan
produktivitas kelompok yang rendah dan kepuasan pekerjaan yang lebih buruk.
1. Level 1. di mana seorang pemimpin hanya mengandalkan jabatannya saja. Sekalipun
level ini memiliki kelebihan, tetap saja ada sangat banyak kekurangan dari
kepemimpinan semacam ini. Saat pemimpin itu berhasil mengembangkan diri dan
mengatasi semua kekurangan yang ada, ia akan naik ke tahap selanjutnya.
2. Level 2. Di sini, pemimpin memperoleh perkenanan anggota timnya untuk
memimpin mereka dan para anggota tim itu mengikuti sang pemimpin karena
mereka ingin, bukan karena keharusan. Di level ini, suasana di tempat kerja menjadi
lebih
menyenangkan
dan
kerja
sama
meningkat.
Pemimipin yang terus menggunakan kesempatan dan kemampuannya untuk terus
mengembangkan diri akan mencapai tahan selanjutnya.
3. Level 3. Produktivitas. Karena produktivitas itu terukur dan tidak bisa dimanipulasi,
level ini akan membedakan mereka yang benar-benar bisa memimpin dengan mereka
yang hanya sekadar bersosialisasi. Saat seorang pemimpin benar-benar produktif, ia
akan menerima tantangan selanjutnya untuk naik ke tahap selanjutnya.
356
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
4. Level 4. Mengembangkan Orang Lain. Di level 4 orang-orang yang dimpimpin oleh
sang pemimpin ini berubah menjadi pemimpin dan mulai memimpin orang-orang
lainnya lagi.
5. Level 5. Puncak dari kepemimpinan. Pemimpin yang mencapai level ini biasanya
sudah sangat senior dan pengaruhnya melampaui batasan-batasan industrinya
Kedipimpinan. Setiap manusia pasti memiliki prinsip kesukaan yang sama, seperti
senang dibantu, disanjung, dan diajak kerjasama. Celah itu pasti ada, sehingga dalam
menghadapi seorang pemimpin dengan berbagai tipe, cukup perlu memenuhi prinsip –
prinsip pola komunikasi antar personal, maka BERES. Bisa jadi terkadangn ada
permasalahan /konflik dalam sebuah organisasi, hal tersebut wajar, namun gerak
organisasi tetap harus berjalan. Selama car memimpinnya tidak melewati batas wajar,
maka perlakukanlah secara wajar dengan best effort juga tentunya.
4. Komunikasi Efektif Seorang Pemimpin dan Seorang Yang Dipimpin
Komunikasi secara mudah dapat diartikan sebagai peristiwa dimana seseorang
menyampaikan informasi kepada orang lain. Sementara efektif artinya sesuai dengan
sasaran/niat maupun tujuan saat seseorang menyampaikan informasi atau pesannya.
Dengan demikian komunikasi efektif dapat diartikan secara bebas sebagai peristiwa
transfer informasi yang sesuai dengan tujuan. Oleh karena itu secara generik unsur-unsur
komunikasi terdiri dari Pengirim pesan (Sender), penerima pesan (receiver) dan pesan
(message) yang disampaikan. Agar komunikasi berlangsung secara efektif dibutuhkan
adanya interaksi yang baik antara unsur-unsur komunikasi yang meliputi beberapa proses
berikut ini :
1. Media (channel) yang tepat
2. Proses encoding, yaitu proses mental yang mengartikulasikan ide kedalam
pernyataan.
3. Proses Decoding, yaitu proses mental untuk memaknai informasi menjadi
pesan memory dan pemahaman.
4. Feedback (umpan balik), yaitu respon baik verbal maupun non verbal dari
lawan bicara.
357
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
5. Pengkondisian lingkungan yang meminimalisir noisy. Termasuk dalam
lingkungan ini adalah kondisi psiko-behavior dari komunikator maupun
kondisi lingkungan fisik di sekitarnya.
4.1 Etika Berkomunikasi
Etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat
dalam menjalani hidup ini. Etika membantu kita untuk mengambil keputusan tentang
tindakan apa yang mau kita lakukan dalam situasi tertentu dalam hidup kita seharihari.Serta membantu kita untuk membuat pilihan, pilihan nilai yang terjelma dalam
sikap dan perilaku kita yang sangat mewarnai dan menentukan makna kehidupan kita.
Etika minimal terdiri dari tiga pilar, yaitu pertama, sikap netral terhadap konsepsi
tentang ‘baik’. Konsepsi ini menghargai hak akan kemandirian moral. Kedua, prinsip
memghindar dari merugikan pihak lain.Prinsip ini berasal dari cara berpikir
konsekunsalis yang sangat peduli pada efek yang menimpa individu, bisa berupa
kerugian fisik atau psikologis. Ketiga, prinsip utuk menempatkan nilai yang sama pada
suara atau kepentingan setiap orang Tidak menjadikan orang lain sarana, tetapi tujuan
pada dirinya.
4.2 Hambatan dalam berkomunikasi
Ada beberapa hambatan yang berpotensi memperlambat atau menyimpangkan
komunikasi yang efektif dalam hal ini kita menyorot beberapa hambatan penting
tersebut :
1. Penyaringan
Penyaringan merujuk pada upaya pengirim yang dengan sengaja memanipulasi
informasi sehingga akan menjadi lebih nyaman bagi penerima. Sebagai contoh,
358
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
ketika seorang manajer mengatakan kepada atasannya hal hal yang menurutnya
ingin didengar oleh atasannya, ia sedang melakukan penyaringan informasi.
Dengan demikian komunikasi keatas pun menjadi terdistorsi.
2. Persepsi selektif
Penerima dalam proses komunikasi secara selektif melihat dan mendengar
berdasarkan kebutuhan moitvasi, pengalaman, latar belakang dan karakterisktik
pribadi mereka yang lain.
3. Kelebihan informasi
Suatu kondisi ketika informasi yang harus kita olah melebihi kapasitas
pemrosesan seorang individu.
4. Emosi apa yang tengah dirasakan oleh penerima ketika menerima suatu
komunikasi akan mempengaruhi cara dia menyampaikannya.
5. Bahasa
Kata-kata bisa memeiliki arti yang berbeda untuk orang yang berbeda. Umur,
pendidikan, dan latar belakang kultural adalah 3 variabel menonjol yang
memepengaruhi bahasa yang digunakna seseorang dan definisi yang ia berikan
pada kata-kata.
4.3 Ciri-ciri komunikator yang baik
Diperlukan persyaratan tertentu untuk para komunikator dalam sebuah program
komunikasi, baik dalam segi sosok kepribadian maupun dalam kinerja kerja. Dari segi
kepribadian, agar pesan yang disampaikan bisa diterima oleh khalayak maka seseorang
komunikator mempunyai hal berikut :
3. Memiliki kedekatan (proximility) dengan khalayak. Jarak seseorang dengan
sumber memengaruhi perhatiannya pada pesan tertentu. Semakin dekat jarak
semakin besar pula peluang untuk terpapar pesan itu. Hal ini terjadi dalam arti
jarak secara fisik ataupun secara sosial.
4. Mempunyai kesamaan dan daya tarik sosial dan fisik. Seorang komunikator
cenderung mendapat perhatian jika penampilan fisiknya secara keseluruhan
memiliki daya tarik (attractiveness) bagi audiens.
5. Kesamaan (similirity) merupakan faktor penting lainnya yang memengaruhi
penerimaan pesan oleh khalayak. Kesamaan ini antara lain meliputi gender,
pendidikan, umur, agama, latar belakang sosial, ras, hobi, dan kemampuan
359
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
bahasa. Kesamaan juga bisa meliputi masalah sikap dan orientasi terhadap
berbagai aspek seperti buku, musik, pakaian, pekerjaan, keluarga, dan
sebagainya.
6. Dikenal kredibilitasnya dan otoritasnya. Khalayak cenderung memerhatikan
dan mengingat pesan dari sumber yang mereka percaya sebagai orang yang
memiliki pengalaman dan atau pengetahuan yang luas. Menurut Ferguson, ada
dua faktor kredibilitas yang sangat penting untuk seorang sumber: dapat
dipercaya (trustworthiness) dan keahlian (expertise). Faktor-faktor lainnya
adalah tenang/sabar (compusere), dinamis, bisa bergaul (sociability), terbuka
(extroversion) dan memiliki kesamaan dengan audiens.
7. Pandai dalam cara penyampaian pesan. Gaya komunikator menyampaikan
(delivery) pesan juga menjadi faktor penting dalam proses penerimaan
informasi.
8. Dikenal status, kekuasaan dan kewenangannya. Status di sini menunjuk kepada
posisi atau ranking baik dalam struktur sosial maupun organisasi. Sedangkan
kekuasaan (power) dan kewenangan (authority) mengacu pada kemampuan
seseorang memberi ganjaran (reward) dan hukuman (punishment).
4.4 Pentingnya komunikasi efektif dalam peranan seorang pemimpin dan aktivis organisasi
Komunikasi dengan kepemimpinan sangat erat hubungannya. Seorang pemimpin
harus memiliki wawasan yang luas, jujur, bertanggung jawab, berani dalam mengambil
keputusan, dan ia juga harus mempunyai keahlian berkomunikasi yang sangat baik.
Karena komunikasi dapat menentukan berhasil atau tidaknya seorang pemimpin dalam
menjalankan tugasnya. Setiap pemimpin pasti memiliki bawahannya dimana
bawahannya tersebut akan mengeluarkan gagasan/ide yang akan dipaparkan. Sehingga
seorang pemimpin tersebut dapat mengambil keputusan berdasarkan gagasan/ide
tersebut. Keyakinan dan kepercayaan hanya dapat terbentuk apabila pemimpin
menyadari suatu lingkungan yang harmonis antara pimpinan dengan para bawahannya
yang dapat benar-benar berkomunikasi dengan baik yang sejalan dengan makna fungsi
komunikasi.
Dalam sebuah organisasi setiap orang yang terlibat di dalamnya ketika
melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, baik selaku pimpinan maupun para staff ,
agar semua pekerjaan dapat terlaksana dengan lancar dan harmonis untuk mencapai
360
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
tujuan bersama yang disepakati dan ditetapkan, maka unsur kerjasama harus senantiasa
tercipta dengan baik. Dengan terjadinya proses kerjasama maka unsur komunikasi pun
dengan sendirinya akan tercipta, karena apa pun bentuk instruksi, informasi dari
pimpinan , masukan, laporan dari bawahan ke pimpinan, antara sesama bawahan
senantiasa dilakukan melalui proses komunikasi.
4.5 Trik dalam menjalin hubungan dan kerja sama
Kemampuan mengembangkan hubungan baik dengan orang lain, bukanlah sesuatu
hal yang sulit. Namun kemampuan membina hubungan baik dengan orang lain dapat
dipelajari. Terdapat 15 pedoman membina hubungan baik dengan orang lain adalah
seperti berikut ini.
1. Tidak Mementingkan Diri Sendiri
Orang-orang yang perhatian utamanya dipusatkan pada diri mereka sendiri
dalam berhubungan dengan orang lain jarang yang bisa mengembangkan
hubungan baik yang baik.
2. Memberikan PerhatianSalah satu kunci hubungan yang baik dan keberhasilan
dalam hidup dinyatakan dalam satu ungkapan: "Orang banyak tidak akan peduli
seberapa jauh yang Anda ketahui hingga mereka tahu seberapa jauh Anda
peduli
3. Mengenali
Lebih JauhBanyak tahu tentang seseorang merupakan pertanda
positif bahwa dia mempunyai perhatian, dan ini akan menciptakan ikatan yang
positif dan langgeng.
4. Tidak Menganggap Remeh Nilai Seseorang dengan Siapa Berhubungan
Banyak orang yang ingin mendapat pengaruh besar, tapi kurang memahami
bagaimana caranya mempengaruhi. Temuilah setiap orang dengan sikap positif
dan harapkan agar setiap pertemuan menghasilkan sesuatu yang positif.
Layanilah setiap orang sama pentingnya, maka Anda tidak akan pernah
menganggap rendah siapapun.
5. Tidak Mengambil Keuntungan dari Orang Lain
Mengajukan din sendiri dengan mengorbankan orang lain hanya memberi kesan
seolah-olah kita sukses. Dalam jangka panjang, hal ini tidak hanya akan
merugikan Anda, tapi juga orang lain. Bilamana seseorang mengambil
361
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
keuntungan dari orang lain, berarti dia mengurangi kesempatan dirinya sendiri
untuk masa depannya
6. Meminta Nasehat atau Bantuan
Banyak orang yang senang bila memperoleh kesempatan untuk menunjukkan
keahliannya. Mereka pun akan merasa senang bila mereka membantu anda.
7. Membawalah Selalu "Sesuatu"
Hubungan yang paling baik adalah hubungan dimana kedua belah pihak saling
memberi dan menerima. Bila Anda ingin agar hubungan selalu positif, usahakan
untuk selalu membawa suatu hal yang positif pada saat bertemu dengan seorang
teman.
8. Menjaga Perasaan Orang lain
Meskipun keinginan kita untuk selalu rasional dan bersikap logis, bila ingin
sukses dalam hubungan dengan orang lain, bersabarlah dengan perasaan orang
lain. Anda akan berhubungan dengan orang lain dengan lebih berhasil dengan
memperhatikan emosinya daripada memperhatikan pikirannya.
9. Bersiap Memberikan Pelayanan Kepada Orang lain
Bila Anda mencari kesempatan untuk membantu orang lain, maka Anda akan
hidup lebih bahagia dan mampu mengembangkan banyak hubungan yang baik.
Pelayanan secara positif dapat menimbulkan hubungan yang positif pula.
10. Menjadi Seorang Pendengar yang Baik
Salah satu ciri khas dari orang yang mahir menciptakan hubungan adalah bahwa
dia mempunyai kemampuan mendengarkan dengan penuh perhatian selagi
orang lain berbicara.
11. Bicaralah dengan Kata-kata yang Sesuai dengan Minat Orang Lain
Strategi yang terbaik untuk digunakan bila memulai satu hubungan adalah
memfokuskan perhatian Anda pada apa yang disukai oleh orang lain tersebut.
Bila anda tanggap, biasanya Anda dapat belajar mengenai minat orang lain
dengan cepat
12. Membuatlah Orang Lain Merasa Penting
Membuat orang lain merasa penting adalah bagian dari seorang pemikir
positifTidak
ada
ruginya
bagi
kita
untuk
memuji
orang lain
dan
menghormatinya agar membuatnya merasa penting, bahkan ini akan
menciptakan hal-hal yang luar biasa bagi orang lain.
362
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
13. Menjadi Orang yang Dapat Dipercaya dan Konsisten
Ada beberapa hal yang dapat merusak suatu persahabatan dengan lebih cepat
atau lebih parah lagi bila seseorang mengingkari suatu kepercayaan. Ini terjadi
bila orang tidak konsisten, dimana bedanya kata dan perbuatan.
14. Menghindari Perdebatan
Perdebatan adalah usaha dengan paksa untuk merubah pendapat orang lain. Ini
selalu menghasilkan satu pihak "menang" dan lainnya "kalah". Pembicaraan
adalah pertukaran pikiran atau gagasan dengan tujuan mencapai pemecahan
terbaik bagi semua pihak yang terlibat
15. Menjadi Seorang Pengamat Manusia
Bila Anda benar-benar mampu mengerti manusia atau orang, mengetahui
ketakutan, harapan dan impian mereka, maka Anda akan memiliki kemampuan
untuk mengembangkan hubungan tersebut. Bicaralah dengan orang-orang
tersebut, dengarkanlah idaman Kati mereka.
Kedipimpinan. Menerjemahkan dan memahami informasi dari pemimpin.Hanya ada
dua penyebab hancurnya organisasi, yaitu : pemimpin yang tidak mampu menyampaikan
visi misinya, atau staff yang tidak mampu memahami bahasa pemimpinnya. Komunikasi
yang baik merupakan modal awal kesuksesan organisasi, sedang komunikasi yang buruk
merupakan awal dari sebuah kehancuran organisasi. Sehingga, informasi dari seorang
pemimpin harus dipahami dengan baik oleh staff – staffnya, agar didapat distribusi
informasi yang tidak mengalami kecacatan. Persering untuk melakukan konsolidasi dengan
pimpinan, karena semakin jarang bertemu, sekalipu informasi tetap jalan, maka akan
membuka peluang besar timbulnya missed communication.
Daftar Pustaka
1. TPAK
Tim.
2007.
Kepemimpinan.
http://pusdiklatwas.bpkp.go.id/namafile/
388/Kepemimpinan_Final_08.pdf diakses pada 3 Januari 2015
2. Soetopo, H. 2010. Kepemimpinan Pendidikan. Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan
Saliman, dalam artikel kepemimpinan yang berjudul kepemimpinan , konflik dan
strategi penanggulanganya. http://eprints.uny.ac.id. diakses pada 4 Januari 2016
363
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
PENDIDIKAN ORGANISASI NASIONAL PTBMMKI
1. Apa Itu PTBMMKI
Perhimpunan Tim Bantuan Medis Mahasiswa Kedokteran Indonesa (PTBMMKI)
merupakan suatu wadah berkumpulnya Tim Bantuan Medis (TBM), Mahasiswa Pecinta
Alam (MAPALA), dan UKM dari seluruh Fakultas Kedokteran di Indonesia yang
bergerak di bidang kegawatdaruratan medis serta kegiatan kemanusiaan.
1.1 Lambang PTBMMKI berbentuk lingkaran dengan tepi berwarna hitam.
1.2 Komponen di dalam lambang terdiri dari:
2. Tulisan
“PERHIMPUNAN
TIM
BANTUAN
MEDIS
MAHASISWA
KEDOKTERAN INDONESIA” dan “PTBMMKI”
3. Lambang Star of Life
4. Gambar sayap
5. Tongkat dengan dua ular
1.3 Ketentuan penulisan:
1. Menggunakan jenis huruf Times New Roman, kapital, tebal (bold) dan berwarna
hitam.
2. Tulisan
“PERHIMPUNAN
TIM
BANTUAN
MEDIS
MAHASISWA
KEDOKTERAN INDONESIA” ditulis melingkar mengikuti lingkaran dalam
lambang dengan potongan “INDONESIA” dengan seluruh huruf sebesar dengan
huruf pertama pada kalimat “PERHIMPUNAN TIM BANTUAN MEDIS
KEDOKTERAN”, berspasi antar huruf dan terletak di bawah.
3. Tulisan “PTBMMKI” terletak diantara tulisan “PERHIMPUNAN TIM BANTUAN
MEDIS MAHASISWA KEDOKTERAN” dengan lambang Star of Life.
364
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.4 Ketentuan lambang Star of Life:
1. Terletak tepat di tengah lingkaran
2. Berwarna orange
3. Berbentuk bintang dan jumlah tangan enam dengan ujung tumpul.
1.5 Ketentuan gambar sayap:
1. Terletak sejajar dengan tangan kedua dan ketiga dari lambang Star of Life
2. Bejumlah 2 (dua) buah, kanan dan kiri
3. Berwarna emas
1.6 Ketentuan tongkat dengan dua ular:
1. Terletak tepat di tengah lingkaran
2. Ular berwarna putih dengan tepi hitam
3. Tongkat berwarna hitam, ujung atas lebih lebar dari ujung bawah
4. Dua ular saling membelit dengan 3 (tiga) belitan.
1.7 Lambang Star of Life ditimpa oleh gambar sayap yang ditimpa oleh tongkat dengan dua
ular.
1.8 Struktur Organisasi
Struktur organisasi PTBMMKI adalah terdiri dari:
1. Dewan Perwakilan Organisasi (DPO)
2. Badan Pengurus Pusat (BPP)
3. Pengurus Wilayah (PW)
1.9 Dewan Perwakilan Organisasi (DPO)
Dewan Perwakilan Organisasi berisi tujuh orang perwakilan organisasi yang dulu
pernah menjabat sebagai Badan Pengurus Pusat, ketujuh orang DPO tersebut ialah :
1. Abdullah Azzam dari TBMM HUMERUS FK UII
2. Yenny Apriliya dari LAKESMA FK UB
3. Vandy P. Andilolo dari TBM AXIS FKIK UNTAD
4. Eduard Syaiful dari PMPTAD PAKIS RESCUE TEAM FK UNILA
5. Puti Alimah dari TBM Trisakti FK U SAKTI
6. Ade Putra Saalino dari TBM ISCHIADICUS FK UHO
7. Hardwiko Defityanto dari TBM Coronarius FK UNMAL
365
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.10 Badan Pengurus Pusat (BPP)
Badan Pengurus Pusat terbagi atas badan inti dan kepala staff setiap divisi. Berikut
daftar nama badan inti dan kepala staff PTBMMKI :
1.10.1 Ketua PTBMMKI
: Jonathan Grantomo dari FK BEM IKM FK UI
1.10.2 Wakil Ketua PTBMMKI
: Ade Triansyah Emsil dari TBM AXIS UNTAD
1.10.3 Sekretaris PTBMMKI
:
Fadhila Dea Safira dari TBM BEM IKM FK UI
Marwah Herliani dari TBM FK USU
1.10.4 Bendahara PTBMMKI
:
Gassani Amalia dari TBM BEM IKM FK UI
Hazrina Julia dari USMR
1.10.5 Kepala Staf Penanggunalangan Bencana :
Jihad Muhammad Jihad dari LAKESMA FK UB
Gambaran Tugas Divisi :
Tugas staf penanggulangan bencana yaitu melaporkan bencana, berkoordinasi
dengan Tim Reaksi Cepat dan Tim Medis di lokasi bencana serta mengkoordinir
penggalangan bantuan nasional PTBMMKI.
1.10.6 Kepala Staf Pendidikan dan Latihan :
Sekar Rahadisiwi dari TBM KPLA
Gambaran Tugas Divisi :
Tugas dari staf diklat adalah sebagai unit yang mewadahi anggota-anggota
PTBMMKI dalam hal peningkatan kualitas anggotanya dalam bentuk pendidikan
dan pelatihan yang diatur dalam kurikulum.
1.10.7 Kepala Staf Hubungan Luar :
Dara Lalita D dari TDM Yarsi
Gambaran Tugas Divisi :
Staf Hubungan Luar bergerak dalam ekternalisasi guna mewujudkan PTBMMKI
yang mandiri dan dikenal oleh instansi-instansi yang ada di Indonesia maupun
Mancanegara. Aplikasi nyata staff Hublu PTBMMKI adalah menjada terjalinnya
366
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
kerja sama antara PTBMMKI dengan Mitra terkait seperti BASARNAS, IDI,
BNPP, BNPB dan organisasi lainnya.
1.10.8 Kepala Staf Administrasi Organisasi :
Sutria Nirda S dari PMPTAD PAKIS RESCUE TEAM FK UNILA
Gambaran Tugas Divisi :
Staf Administrasi Organisasi memiliki tugas membantu sekretaris dalam
mengelola administrasi organisasi dan menyimpan arsip administrasi organisasi.
1.10.9 Kepala Staf Keuangan :
Dissa Yulianita S dari TBM Vertex
Gambaran Tugas Divisi :
Staf Keuangan bertugas dalam membantu bendahara mengelola keuangan dan
melaksanakan usaha-usaha pencarian dana.
1.10.10 Kepala Staf Informasi dan Komunikasi :
Destika Sari dari PMPTAD PAKIS RESCUE TEAM FK UNILA
Gambaran Tugas Divisi :
Staf Infokom memiliki wewenang dalam hal penyaluran informasi ke seluruh
anggota PTBMMKI, dan bertanggung jawab mewadahi komunikasi agar anggota
PTBMMKI serta menjadi jembatan penghubung antar TBM Unit, PTBMMKI dan
masyarakat.
1.11 Pengurus Wilayah
PTBMMKI terbagi atas 5 wilayah dengan masing – masing wilayah memiliki
struktur kepengurusan sendiri. Berikut adalah perwakilan setiap wilayah yang menjabat
sebagai koordinator wilayah :
1. Wilayah 1
: Deya F Gesmelly dari TBM FK USU
2. Wilayah 2 : Alya B Destiani dari TBM Trisakti
3. Wilayah 3
: Mega Elisa Hasyim dari PMPA Vagus FK UNS
4. Wilayah 4
: Anastasha P H dari TBM KPLA FK UNAIR
5. Wilayah 5
: Yudi Indrawan dari TBM Calamus Scriptorius FK UNLAM
367
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.11.1 Proker dan Keanggotaan Wilayah 1
Proker Wilayah 1
1. Perekrutan Pengurus Wilayah 1
2. Rapat koordinasi/kerja wilayah cawu 1
3. Latihan Gabungan, Seminar dan Bakti Sosial Wilayah I dan Pengenalan
Organisasi Wilayah (POW)
4. Follow Up TBM Peninjau dan Inisiasi Wilayah 1
5. Latihan Gabungan Unit dan Tenda Tensi Wilayah
6. Uang Kas Wilayah
7. Pengumpulan Database TBM Wilayah 1
8. Sosial Media Wilayah 1
9. Rakerwil Cawu II direct meeting
Anggotan Wilayah 1
Anggota Tetap
1. TBM FK USU PEMA FK USU
2. TBM FK UISU Medan
3. TBM FK UMSU
4. TBM FK Univ. Riau
5. Hipocrates Emergency Team FK Unand
6. An-Nahl Emergency Team FK UNBRAH
7. TBM Aset FK UNJA Jambi
8. TBM AVERROES PSPD Univ. Bengkulu
9. TBM Sriwijaya FK Unsri PalembangPMPATD PAKIS Rescue Team Univ.
Lampung
10. TBM Coronarius FK Malahayati
Anggota Peninjau
1. TBM Manuver FK UMP Palembang
Anggota Inisiasi
1. TBM Lambda FK Univ.Batam
2. TBM ISET FK Unimal Aceh
3. TBM FK Unsyah Kuala Univ. SyaKuala Aceh
4. TBM FK Methodis Sumatra Utara
5. TBM FK HKBP NOMENSEN
368
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
1.11.2 Proker dan Keanggotaan Wilayah 2
Proker Wilayah 2
1. Rapat koordinasi wilayah (RAKORWIL)
2. Family Gathering
3. Latihan Gabungan Wilayah (LATGABWIL)
4. Seminar wilayah dan Baksos Wilayah (SEMWIL BAKSOSWIL)
5. Rapat Koordinasi Siaga Banjir Jakarta-Bandung
6. Inisiasi Desa Binaan Wilayah 2
7. Musyawarah Wilayah 2
8. Tenda Tensi Wilayah 2
9. Buletin PTBMMKI Wilayah 2
Anggota Wilayah 2
Anggota Tetap
1. TBM Trisakti FK Universitas Trisakti
2. KBK Avicenna FK UPN “Veteran” Jakarta
3. UIN Syahid Medical Rescue FK UIN Jakarta
4. TBM Galenus FK Univ. Kristen Maranatha Bandung
5. TBM Chrestotes FK UPH Jakarta
6. TBM BEM IKM FK UI
7. TBM Medisar FK Univ. Atmajaya Jakarta
8. TBM UMRC FK Universitas Tarumanegara Jakarta
9. TBM Meridien FK Universitas Muhammadiyah Jakarta
10. Tim Darurat Medik FK Univ. Yarsi
1.11.3 Proker dan Keanggotaan Wilayah 3
Proker Wilayah 3
1. Rapat Koordinasi Wilayah
2. Medical Emergency Rescue
3. Latihan Gabungan Wilayah
4. Bakti Sosial Wilayah
5. Family Gathering
369
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Anggota Wilayah 3
Anggota Tetap
1. TBM ALERT FKIK UMY
2. TBMM Humerus FK UII
3. TBMM PANACEA FK UGM
4. PMPA VAGUS FK UNS
5. MAPADOKS FK UNISULA
6. MALADICA FK UNDIP
7. OSIPITAL FK UNSOED
8. TBMM Aorta FK UKDW
Anggota Peninjau:
1. TBM Gyrus FK UMS
2. TBMM CITO FK UNIMUS
Anggota Inisiasi :
1. TBM FK UMP
1.11.4 Proker dan Keanggotaan Wilayah 4
Proker Wilayah 4
1. Pembentukan Pengurus Wilayah 4
2. Rapat Koordinasi Wilayah 4
3. Seminar Wilayah dan Bakti Sosial Wilayah 4
4. Latihan Gabungan Wilayah 4
5. Tenda Tensi Wilayah 4
6. Pembinaan TBM Peninjau, TBM Inisiasi
Wilayah 4 dan Inisiasi
Pembentukam TBM Unit di Wilayah 4
7. Penindaklanjutan Social Media Account dan Sistem Komunikasi Wilayah 4
8. Database TBM Unit Wilayah 4
9. Database Fakultas Kedokteran Wlayah 4 yang belum memiliki TBM
10. Pendataan Kurikulum Anggota PTBMMKI
11. Gathering and Sharing Moment Anggota TBM Unit Wilayah 4
Anggota Wilayah 4
Anggota Tetap:
1. TBM KPLA FK Unair
370
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
2. TBMM Nurul Qolbi FK UMM
3. TBM Vertex Univ. Jember
4. Lakesma FK Univ. Brawijaya
5. TBM Janar Duta FK Univ. Udayana
6. TBM Bumi Gora FK Unram
Anggota Peninjau:
1. TBM RINJANI Univ. Islam Al Azhar
2. TBM Nusa Cendana
3. TBM Spine FK Univ. Wijaya Kusuma
4. MRT FK Univ Islam Malang
5. TBM FK Uiv HangTuah
6. TBM Baswaraprada Univ. Warmadewa
Anggota Inisiasi:
1. TBM KOMODO FK UNUSA
1.11.5 Proker dan Keanggotaan Wilayah 5
Proker Wilayah 5
1. RAKORWIL
2. Baksos Wilayah
3. Seminar Wilayah
4. Latihan Gabungan Wilayah
5. Pembuatan dan Pengaktifan Media Sosial PTBMMKI Wilayah 5
6. Inisiasi TBM Baru dan Follow Up TBM Peserta Peninjau Munas XIII
7. Pembuatan Rekening Bank Wilayah 5 dan Pengambilan iuran
8. Tenda Tensi
Anggota Wilayah 5
Anggota Tetap:
1. TBM Calcaneus FK Univ. Hasanudin
2. TBM 110 FK Univ. Muslim Indonesia
3. TBM Calamus Scriptorius FK Univ. Lambung Mangkurat
4. TBM Azygos FK Univ. Mulawarman
5. TBM Axis FK Univ. Tadulako
6. TBM Ischiadicus FK Univ. Halu Oleo
371
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
7. TBM Arteria FK Universitas Al Khairat
8. TBM FK Universitas Muhammadiyah Makassar
Anggota Peninjau:
1. TBM FK UNPATI
Anggota Inisasi:
1. TBM BORNEO FK UNTAN
2. FK UNPAR
3. FK UNSRAT
4. FK UNCEN
1.12 Kegiatan Nasional dan Wilayah PTBMMKI
1. Musyawarah Nasional
2. Jambore Nasional
3. Rapat Kerja Nasional
4. Seminar Nasional
5. Pendidikan Organisasi Nasional
6. Seminar Wilayah
7. Bakti Sosial Wilayah
8. Pendidikan Organisasi Wilayah
9. Latihan Gabungan Wilayah
2. Sejarah, Visi Misi, Latar Belakang PTBMMKI dan Ruang Lingkup Kerja PTBMMKI
(Penjabaran fungsional atau peran dari tiap divisi dari PTBMMKI)
2.1 Sejarah PTBMMKI
PTBMMKI terbentuk pada tanggal 19 September 1992 di Semarang oleh organisasi
kepecinta-alam mahasiswa di beberapa FK untuk menyatukan mahasiswa yang siap di
terjun di bencana sebagai tim bantuan medis (TBM). “TERHIMPUN DALAM
PERSAUDARAAN UNTUK KEMANUSIAAN”
2.2 Visi & Misi
Visi
Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat Indonesia terutama dalam bidang
kegawatdaruratan medis.
372
KURIKULUM PTBMMKI 2015/2016
STAF PENDIDIKAN DAN LATIHAN
PTBMMKI 2015/2016
Misi
Menjadikan PTBMMKI sebagai wadah koordinasi diantara organisasi tim bantuan
medis mahasiswa kedokteran se-Indonesia, dalam hal:
1. Mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi
2. Memberikan bantuan kepada korban bencana terutama di bidang kegawatdaruratan
medis
3. Penyaluran dan pengembangan minat, bakat dan ilmu bagi mahasiswa kedokteran
Indonesia terutama dalam bidang kegawatdaruratan medis.
2.3 Tujuan
1. Bantuan penanganan kesehatan kepada masyarakat dalam menanggulangi
bencana dan kecelakaan pra rumah sakit.
2. Pengabdian kepada masyarakat dalam ruang lingkup yaitu memberikan
penyuluhan kesehatan dan bantuan kesehatan kepada masyarakat terutama yang
berkaitan dengan kegawatdaruratan medis.
3. Penyaluran dan pengembangan minat mahasiswa kedokteran Indonesia dalam
bidang ilmu penunjang pemberian bantuan kesehatan, kepencintaalaman dan
lingkungan hidup dalam semangat persaudaraan.
373
Download