peningkatan keterampilan menulis teks prosedur dengan

advertisement
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS TEKS PROSEDUR
DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA AUDIOVISUAL SISWA KELAS
VIII SMP NEGERI 2 KEDIRI TAHUN PELAJARAN 2015/2016
LULUK ILMAKNUNAH
Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia
Abstrak: Berdasarkan hasil observasi awal pada siswa kelas VIII G
SMP Negeri 2 Kediri diketahui bahwa hasil belajar individu rendah
dan ketuntasan klasikal belum tercapai. Hal ini terjadi karena
pembelajaran kurang menarik masih dilakukan pembelajaran
konvensional. Perlu adanya upaya pembelajaran yang membuat siswa
senang dan antusias, untuk meningkatkan hasil belajar siswa
Pembelajaran yang diterapkan adalah pembelajaran menggunakan
media audivisual
Permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan (1)
Bagaimanakah proses peningkatan pembelajaran keterampilan
menulis teks prosedur siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kediri dengan
menggunakan media audiovisual (2) Bagaimanakah peningkatan hasil
pembelajaran keterampilan menulis teks prosedur siswa kelas VIII G
SMP Negeri 2 Kediri menggunakan media audiovisual?
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) berapa besar
proses peningkatan pembelajaran keterampilan menulis teks prosedur
siswa kelas VIII GSMP Negeri 2 Kediri dengan menggunakan media
audiovisual?(2) Bagaimanakah peningkatan hasil pembelajaran
keterampilan menulis teks prosedur siswa kelas VIII G SMP Negeri 2
Kediri menggunakan media audiovisual?
Jenis penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) dengan menggunakan 2 siklus. Tahapan pelaksanaan PTK
meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.
Istrumen yang digunakan berupa tes, lembar pengamatan, questioner.
Adapun analisis data dilakukan secara deskriptif.
Hasil penelitian penerapan pembelajaran keterampilan menulis teks
prosedur menggunakan media audiovisual terdapat peningkatan
aktivitas guru dalam proses pembelajaran teks prosedur dari segi
kinerja perencanaan dan kinerja pelaksanaan pada siklus I dinilai
pengamat cukup baik dan meningkat menjadi sangat baik di siklus II.
Analisis per indikator mulai persiapan perangkat pembelajaran,
persiapan ruang kelas, pemilihan media pembelajaran, semua baik,
kecuali penyiapan sarana sound sistem yang kurang maksimal di
siklus I.
Peningkatan hasil belajar ketrampilan menulis teks prosedur
menggunakan media audiovisual secara berurtan mulai siklus I, dan II
untuk nilai rata-rata kelas sebesar 79,4 meningkat menjadi 81,5 Hasil
NOSI Volume 4, Nomor 2, Agustus 2016__________________________________Halaman | 166
belajar yang dicapai telah memenuhi ketuntasan minimal 85% pada
siklus II. Secara berurutan siklus I, dan II 77%. dan 94,5% .
Peningkatan hasil belajar rata-rata kelas dari siklus I ke siklus II
sebesar 2.1 Peningkatan hasil belajar ketuntasan minimal dari siklus I
ke siklus II 17.5.%.
Kata-kata kunci: Hasil Belajar, Pembelajaran Menulis Teks
Prosedur dengan menggunakan Meda Audivisual.
PENDAHULUAN
Keterampilan
menulis
tergolong kegiatan berbahasa yang
dianggap sulit. Hal ini dikeluhkan
oleh berbagai pihak, baik guru, siswa
maupun mahasiswa. Keterampilan
menulis merupakan keterampilan
paling akhir dikuasai siswa. kegiatan
menulis merupakan kegiatan yang
kompleks. Kompleksitas menulis
terlihat dari beberapa aktivitas antara
lain
penyusunan
dan
pengorganisasian isi tulisannya serta
penuangan dalam formula ragam
bahasa tulis dan konvensi penulisan.
Dari pernyataan tersebut dapat
dijelaskan
bahwa
keterampilan
menulis selain kompleks juga
merupakan keterampilan paling sulit.
Tidak mengherankan apabila dalam
pembelajaran menulis, hasil belajar
siswa masih kurang, atau rendah.
Begitu juga dalam menulis teks
prosedur.
Kegiatan pembelajaran SMP di
kelas VIII
untuk bidang studi
Bahasa
Indonesia
dilaksanakan
selama enam jam pelajaran dalam
setiap minggu. Standar kompetensi
minimal yang harus dicapai setiap
siswa minimal 75 dan Kriteria
Ketuntasan Minimal 85%. Dalam
pembelajaran menulis teks prosedur
hasil belajar siswa masih rendah
artinya standar kompetensi minimal
belum dicapai oleh setiap siswa dan
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
belum memcapai 85%. Berdasarkan
data hasil belajar pada kegiatan pra
penelitian
pada
ulangan
hariantentang menulis teks prosedur
KD 4.2 kelas VIII G dengan siswa
berjumlah 36, yang memperoleh
nilai antara 60 – 74 sebanyak 18
siswa, 75 – 84 sebanyak 12 siswa,
dan 85 atau lebih sebanyak 6 siswa.
Prosentase KKM yang dicapai baru
sebesar 50 %. Hal ini masih jauh
dibawah ketuntasan minimal sebesar
85%.
Rendahnya hasil belajar siswa
tersebut disebabkan oleh beberapa
faktor, yaitu (1) siswa masih kesulitan
menuangkan kosa kata yang bersal
dari bahasa jawa ke dalam bahasa
Indonesia, (2) siswa kesulitan dalam
menentukan kata-kata yang cocok
untuk suatu aktivitas, (3) siswa masih
merasa
kesulitan
dalam
mengembangkan kalimat (4) siswa
kesulitan dalam menulis teks prosedur
yang tepat dan jelas karena tidak
terbiasa mengemukakan fakta dan
idenya dalam komunikasi tulis.
Kendala-kendala lain yang
dihadapi siswa dalam menulis teks
prosedur tersebut disebabkan oleh
dalam pembelajaran menulis teks
prosedur belum dilaksanakan secara
optimal,terutama dalam penggunaan
media pembelajaran. Pada saat
pembelajaran menulis teks prosedur,
siswa lebih banyak diberikan ceramah
tentang teori yang berkait dengan teks
prosedursedangkan praktik penulisan
kurang. Karena hanya menekankan
NOSI Volume 4, Nomor 2, Agustus 2016__________________________________Halaman | 167
pada metode ceramah, pembelajaran
menjadi
sangat
abstrak
yang
menyebabkan siswa menjadi sekedar
penerima informasi yang pasif.
Identifikasi Masalah
Permasalahan yang perlu segera
mendapat
pemecahan
dalam
pembelajaran menulis teks prosedur,
diantaranya minat dan motivasi siswa,
kreativitas guru dalam menggunakan
media pembelajaran, penilaian yang
masih bersifat teoritik, materi
pembelajaran yang dapat memberikan
nilai kebermanfaatan bagi siswa, serta
sumber belajar yang memadai.
Rumusan Masalah
1)
Bagaimanakah
peningkatan
hasil pembelajaran
keterampilan
menulis teks prosedursiswa kelas
VIII SMP Negeri 2 Kediri
menggunakan media audiovisual?
2)
Bagaimanakah
proses
peningkatan
pembelajaran
keterampilan menulis teks prosedur
siswa kelas VIII SMP Negeri 2
Kediri dengan menggunakan media
audiovisual?
Kegunaan Penelitian
Secara
praktis
penelitian
ini
diharapkan memberikan manfaat pada
pihak-pihak, antara lain guru, siswa,
penentu kebijakan, dan peneliti lain.
Bagi guru, hasil penelitian ini
dapat dijadikan sebagai input konkret
bagi
pengembangan
pola
pembelajaran
mulai
dari
merencanakan, melaksanakan, dan
mengevaluasi pembelajaran menulis
teks
prosedur
melalui
media
audiovisual.Selain itu juga dapat
dijadikan
sebagai
pedoman
memvariasikan
bentuk
kegiatan
pembelajaran yang berorientasi pada
aktivitas siswa.
Bagi
penentu
kebijakan
pendidikan dan pembelajaran, hasil
penelitian ini dapat dijadikan bahan
pertimbangan untuk menentukan
alternatif media pembelajaran dalam
rangka
mengimplementasikan
kurikulum 2013 dan buku teks bahasa
Indonesia SMP.
Bagi peneliti lain, hasil
penelitian ini dapat dijadikan salah
satu
perbandingan
guna
mengembangkan penelitian sejenis
dengan subjek, objek, dan sasaran
penelitian yang lebih luas.
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian diperlukan
suatu metode dan teknik penelitian
yang sesuai dengan masalah yang
diteliti sehingga hasil penelitian dapat
dipertanggungjawabkan.
Sebagai
uapaya pembuktian dan solusi dari
masalah yang ada dalam penelitian
ini, peneliti telah menentukan
penggunaan
metode
penelitian.
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode kualitatif
dengan
pendekatan
Penelitian
Tindakan Kelas (PTK).
Menurut Eliot (dalam Elfandi,
2012:12) Penelitian Tindakan Kelas
adalah kajian tentang situasi sosial
dengan maksud untuk meningkatkan
kualitas tindakan di dalamnya.
Kaitannya dengan penelitian ini yang
perlu ditingkatkan adalah kualitas
pembelajaran karena yang diteliti
adalah situasi sosial di dalam kelas,
bagaimana
guru
menyampaikan
materi pelajaran, bagaimana keadaaan
siswa dalam menerima pelajaran dan
bagaimana dampak keduanya setelah
dilakukan tindakan.
Penelitian Tindakan Kelas ini
termasuk
penelitian
kualitatif
eksperimen. Dikategorikan penelitian
NOSI Volume 4, Nomor 2, Agustus 2016__________________________________Halaman | 168
kualitatif karena pada saat data
dianalisis digunakan pendekatan
kualitaif, tanpa ada penghitungan
statistik. Dikatakan sebagai penelitian
eksperimen, karena penelitian ini
diawali dengan perencanaan, adanya
perlakuan terhadap subjek penelitian,
dengan menggunakan berbagai teknik
dan cara mengajar untuk mencapai
tujuan pembelajaran, dan adanya
evaluasi terhadap hasil yang dicapai
sesudah adanya perlakuan.
Karakteristik
rancangan
penelitian tindakan kelas yang
digunakan penelitian ini sebagai
berikut. Pertama, fokus penelitian
tindakan berupa alternatif tindakan
yang dapat digunakan dalam rangka
memecahkan
permasalahan
pembelajaran di kelas. Kegiatan
penelitian
dimulai
dari
studi
pendahuluan terhadap latar penelitian
yaitu siswa SMP kelas VIII, guru, dan
kegiatan belajar-mengajar menulis
teks prosedur. Dari studi pendahuluan
diperoleh
temuan
bahwa
pembelajaran menulis teks prosedur
di kelas VIII SMP Negeri 2 Kediri
belum dilaksanakan efektif, kurang
menarik bagi siswa, dan masih
mengandalkan teori ceramah. Dengan
kata lain, penelitian ini dilakukan
untuk mengubah keadaan, kenyataan,
dan harapan mengenai pembelajaran
menulis teks prosedur menjadi lebih
baik dan bermutu dengan cara
melakukan sejumlah tindakan yang
dipandang tepat. Dalam penelitian ini
alternatif tindakan yang diterapkan
yakni media audiovisual. Media ini
digunakan
untuk
memecahkan
persoalan peningkatan keterampilan
menulis teks prosedur siswa di kelas
VIII SMP Negeri 2 Kediri.
Kedua, penelitian ini bersifat
kolaboratif. Hal ini karena selama
penelitian berlangsung, peneliti yang
juga sebagai guru di kelas VIII G
SMP N 2 Kediri bekerjasama dengan
guru bahasa Indonesia di kelas VIII
SMP Negeri 2 Kediri yang lain dalam
hal perencanaan, pelaksanaan, dan
penilaian pembelajaran menulis teks
prosedur. Fungsi kolaborator
ini
hanyalah sebgai pembantu di dalam
Penelitian Tindakan Kelas ini bukan
sebagai alat yang begitu menentukan
terhadap pelaksanaan dan berhasilnya
tindakan penelitian.
Ketiga, bersifat siklis karena
dilaksanakan dengan alur siklus
berurutan (spiral) yang di dalamnya
mencakup tahapan-tahapan mulai dari
perencanaan, pelaksanaan tindakan,
pengamatan, sampai dengan refleksi.
Penelitian ini secara prosedural
dimulai dengan pengamatan awal
terhadap
situasi
dan
kondisi
pembelajaran menulis teks prosedurdi
kelas VIII SMP Negeri 2 Kediri.
Hasilnya dipergunakan sebagai bahan
untuk
menyusun
rencana
pembelajaran yang menggunakan
media
audiovisual.
Selanjutnya
dilakukan tindakan yang disertai
kegiatan observasi dan refleksi
terhadap aktivitas guru dan siswa
selama pembelajaran menulis teks
prosedur di dalam kelas berlangsung.
Penelitian Tindakan Kelas ini
menggunakan Model Spiral dari
Kemmis
dan
Taggart
(dalam
Wiriaatmadja 2005: 66).Penelitian
peningkatan kemampuan menulis teks
prosedur siswa melalui media
audiovisual dilakukan dalam beberapa
siklus.
Masing-masing
siklus
mencakup empat tahapan, yakni (1)
perencanaan,
(2)
pelaksanaan
tindakan, (3) pengamatan, dan (4)
refleksi.
Keseluruhan
tahapan
dilakukan secara simultan dari awal
NOSI Volume 4, Nomor 2, Agustus 2016__________________________________Halaman | 169
hingga akhir. Dengan demikian,
penelitian ini memiliki siklus yang
bersifat spiral mulai dari perencanaan,
melakukan tindakan, dan pengamatan
faktual, sampai dengan refleksi proses
dan hasil tindakan.
Langkah
awal
untuk
mengadakan
penelitian
adalah
mengadakan perencanaan awal untuk
membuat
rancangan
penelitian.
Rancangan penelitian itu dibuat
berdasarkan suatu tahapan sebelumya
yaitu pra penelitian yang meliputi
pengidentifikasian
masalah,
merumuskan
masalah,
dan
merumuskan hipotesa tindakan. Hasil
pra penelitian tersebut dianalisis dan
ditindak lanjuti dengan persiapan
awal
penelitian,
antara
lain
pendiskusian
pembuatanrencana
pelaksanaan pembelajaran dengan
kolaborator yang berorientasi pada
dua hal utama, yakni (a) standar
kompetensi, kompetensi dasar, dan
indikator pembelajaran menulis teks
prosedur siswa kelas VIII SMP
sebagaimana tercantum dalam silabus
bahasa Indonesia, dan (b) tahapantahapan pembelajaran dengan media
audiovisual. Selanjutnya pengurusan
adminisrasi pelaksanaan penelitian
Langkah
selanjutnya
pelaksanaan tindakan penelitian.
Pelaksanaan tindakan ini beriringan
dengan pelaksanaan pengamatan
penelitian(obseervasi). Dalamhal ini
peneliti dibantu oleh kolaborator
untukmengisi instrumen penelitian
sebagai bahan refleksi. Instrumen
penelitian
yang
disusun
dan
dimanfaatkan penelitian ini, antara
lain angket siswa untuk penelitian
awal, lembar soal, lembar observasi
aktivitas guru dan siswa, angket siswa
tentang pelaksanaan pembelajaran
teks prosedur, catatan lapangan,
lembar wawancara, dan lembar
penilaian telaah media audiovisual.
Pelaksanaan
tindakan
dilakukan
dalam siklus-siklus dengan acuan
utama hasil observasi dan refleksi
suatu
siklus
menjadi
bahan
pertimbangan penyusunan rencana
tindakan pada siklus berikutnya.
Rangkaian siklus berakhir jika
kemampuan menulis teks prosedur
siswa
telah
mencapai
tingkat
pencapaianminimal
yang
telah
ditetapkan,
yakni
75
untuk
kemampuan menulis individual dan
untuk rata-rata pencapaian kelas
adalah 85%.
HASIL PENELITIAN
Proses pembelajaran aktif,
inovatif,
kreatif,
efektif,
dan
menyenangkan (PAIKEM) lebih
menekankan pada usaha untuk
meningkatkan keaktivan /partisipasi
siswa dalam belajar. Peningkatan
keaktivan/partisipasi siswa dalam
belajar tesebut perlu dilakukan
dengan
menggunakan
berbagai
metode dan strategi pembelajaran
yang bervariasi sehingga tidak
membosankan
siswa.
Melalui
penggunaan berbagai metode dan
strategi pembelajaran tersebut dapat
menciptakan
berbagai
model
pembelajaran yang bervariasi dengan
media pembelajaran yang bervariasi
pula.
Pembelajaran menggunakan
media Audiovisual adalah salah satu
metode pembelajaran yang bernuansa
PAIKEM, Suasana pembelajaran
diciptakan
semenarik
dan
menyenangkan yang memungkinkan
siswa bebas dari rasa takut, dan
memiliki
kebebasan
untuk
mengemukakan
pemikiran
dan
pendapatnya.
Dengan
proses
NOSI Volume 4, Nomor 2, Agustus 2016__________________________________Halaman | 170
pembelajaran yang menarik dan
menyenangkan
tersebut,
secara
otomatis
akan
meningkatkan
partisipasi dan hasil belajar siswa.
Hasil penelitian ini sesuai
dengan hasil-hasil
penelitian
sebelumnya. Hasil penelitian Peni
Nurhidayati (2011) dengan judul
Penggunaan Media Audoovisual
untuk Meningkatkan Kemampuan
Menyimak Cerita Rakyat Siswa Kelas
V SDN 2 Singgah Pulung Kabupaten
Ponorogo Tahun Pelajaran 2010/2011
menunjukkan bahwa pembelajaran
menggunakan media audiovisual
dapat meningkatkan hasil belajar
siswa dari siswa yang tuntas semula
50% pada siklus I bisa tuntas 100%
pada siklus II. Terbukti pula bahwa
penggunaan media audiovisual dapat
meningkatkan
konsentrasi
konsentrasi siswa dalam menyimak,
meningkatkan kedisiplinan dan tertib
dalam mengikuti pembelajaran, dan
siswa menjadi aktif dalam mengikuti
pelajaran.,
Demikian juga hasil penelitian
Solehudin (2014) dengan judul
peningkatan Keterampilan Menyimak
Siswa Kelas VII SMP Plus
Darussalam Blokagung Banyuwangi
Tahun 2013/2014 Dengan Media
Audiovisual
menunjukkan bahwa
media
audiovisual
dapat
meningkatkan kemampuan menyimak
dari rata-rata kemampuan menyimak
67,18% pada siklus I bisa meningkat
menjadi 87,5%. Begitu juga keaktivan
siswa berangsur-angsur meningkat,
keberanian siswa juga meningkat.
Kreativitas siswa dan inisiatif siswa
juga meningkat. Dengan demikian
jelas, bahwa hasil yang ditemukan
dalam penelitian tindakan kelas ini
mendukung
terhadap
hasil-hasil
penelitian sebelumnya.
Rekapitulasi Aktivitas siswa
dalam pembelajaran teks prosedur
dengan
menggunakan
media
audiovisual penilaiannya didasarkan
atas instrumen pengamatan siswa.
aktivitas siswa selama pembelajaran
siklus I materi Teks Prosedur
menggunakan media audiovisual
mendapat niali 70 dari pengamat atau
kategori cukup baik.
Siswa
memperhatikan penjelasan dari guru,
dan antusias menyaksikan video
pembelajaran. Perilaku siswa aktif
dalam kegiatan belajar megajar,
terbukti ada siswa yang mengajukan
pertanyaan dan ada yang antusias
menjawab pertanyaan guru.. Namun
ada sebagian siswa yang melamun
dan mengobrol dengan temannya dan
sebagian kecil yang mengerjakan
dengan memainkan bolpoinnya atau
memukul mukul meja. .Sedangkan
pada siklus II Pengamat memberikan
nilai 90, atau kategori sangat baik
pada
aktivitas
siswa
selama
pembelajaran. Sudah tidak ada lagi
siswa yang ngobrol dengan temannya,
dan yang mengerjakan tugas dengan
bermain-main.
Berarti
ada
peningkatan aktivitas belajar siswa.
Hal ini membuktikan pendapat dari
Munadi (2013:127) yang menjelaskan
karakteristik media audiovisual salah
satunya adalah menumbuhkan minat
dan motivasi belajar.
Analisis kemampuan guru
dalam pembelajaran teks prosedur
menggunakan meidia audiovisual
penilaiannya
didasarkan
atas
instrumen pengamatan yang sudah
peneliti siapkan dan diamati oleh
kolaborator.
Berdasarkan
tabel
pengamatan aktivitas guru dalam
melaksanakan
pembelajaran
menggunakan media audio visual
pada siklus I mendapat nilai 67 atau
NOSI Volume 4, Nomor 2, Agustus 2016__________________________________Halaman | 171
kategori cukup baik. Ada beberapa
aktivitas guru yang dinilai kurang
atau tidak ada, yaitu tentang
penyiapan sarana yang kurang
maksimal, karena audio yang belum
menjangkau seluruh ruangan, guru
belum menyampaikan kegiatan dalam
kelompok,
kurang
menghargai
aktivitas perorangan dan pemakaian
waktu yang kurang baik. Sedangkan
pada siklus II aktivitas guru dinilai
oleh pengamat 87 atau kategori sangat
baik. Berarti ini ada peningkatan
kinerja guru dalam melaksanakan
KBM
menggunakan
media
audiovisual. Peningkatan tersebut
pada penyiapan saran dan prasarana
dan
penggunaan alokasi waktu.
Berarti sudah ada peningkatan
aktivitas guru dalam proses belajar
mengajar. Dengan demikian media
audiovisual merupakan suatu medium
yang efektif untuk membantu proses
pembelajaran baik pembelajaran
masal, individu, maupun kelompok.
Hal ini membuktikan pendapat dari
Daryanto (2010:86) bahwa video
merupakan bahan ajar non cetak yang
kaya informasi dan tuntas karena
dapat sampai ke hadapan siswa secara
langsung.
Instrumen
angket
siswa
pelaksanaan
pembelajaran
teks
prosedur
menggunakan
media
audiovisual digunakan sebagai dasar
menampung
tanggapan
siswa
pelaksanaan
Pembelajaran teks
prosedur
menggunakan
media
audiovisual pembelajaran di kelas.
Berdasarkan tabel diatas rata-rata
sebanyak 83,2 % yang menunjukan
respon yang positif
dengan
menjawab
ya
instumrn
yang
disiapkan. Siswa tersebut antusias
terhadap pelaksanaan pembelajaran
Teks Prosedur menggunakan media
audio visual. Hanya 12.72 % siswa
yang menjawab tidak terhadap
instrumen yang disediakan, dan
sissanya 5,5 % menjawab sedikit dan
5,5 % menjawab lumayan.
Analisis kelayakan media
audiovisual dalam pembelajaran teks
prosedur dengan menggunakan media
audiovisual penilaiannya didasarkan
atas instrumen pengamatan media
audiovisual.
Berdasarkan
tabel
pengamatan
audiovisual
yang
dilakukan oleh pengamat maka dapat
disimpulkan bahwa media Video
yang dipakai peneliti dalam proses
pembelajaran adalah baik, dalam hal
gambar, suara, kelayakan, kesesuaian
dengan
materi
pembeljran,
kebermanfaatan dibanding dengan
dana
yang
dibutuhkan
untuk
pembuatan video, aman dan layak
bagi siswa, disamping itu juga mudah
cara pengoperasiannya. Kekurangan
pada pembelajaran tersebut adalah
tidak disediakannya Hard Copy bagi
siswa dan tidak dapat diakses dari
media lain.
Dengan demikian penelitian
ini sejalan dengan pendapat Musfiqon
(2015:28) yang menjelaskan secara
lebih
utuh
bahwa
media
pembelajaran merupakan alat bantu
berupa fisik maupun nonfisik yang
sengaja digunakan sebagai perantara
antara guru dan siswa dalam
memahami materi pembelajaran agar
lebih efektif dan efisien, sehingga
materi pembelajaran lebih cepat
diterima siswa dengan utuh serta
menarik minat siswa untuk belajar
lebih lanjut. Pendek kata, media
merupakan alat bantu yang digunakan
guru dengan desain yang disesuaikan
untuk
meningkatkan
kualitas
pembelajaran.
NOSI Volume 4, Nomor 2, Agustus 2016__________________________________Halaman | 172
Rekapitulasi Ketuntasan Hasil
Belajar Siswa yang Berkaitan dengan
Keterampilan Menulis Teks Prosedur
menunjukkan Dari tabel diatas terlihat
bahwa siswa yang mendapat nilai 60
- 74 sebanyak 2 siswa atau sebesar
11,1%, siswa yang mendapat nilai 75
– 84 sebanyak 24 siswa atau sebesar
61,1% dan siswa yang mendapat nilai
85 lebih sebanyak 10 siswa atau
sebesar 27,8%. Jika dianalisis dengan
meninjau indikator ketercapaian yaitu
siswa dikatakan tuntas kalau bisa
memperoleh nilai KKM 75, maka
ketuntasan klasikal kelas 8G sudah
mencapai 94,5% . Ini menunjukkan
bahwa ada peningkatan hasil belajar
siswa pada materi menulis teks
prosedur dengan menggunakan media
audiovisual
Peningkatan hasil belajar
ketrampilan menulis teks prosedur
menggunakan media audiovisual
secara berurtan mulai siklus I, dan II
untuk nilai rata-rata kelas sebesar
79,4 meningkat menjadi 81,5 Hasil
belajar yang dicapai telah memenuhi
ketuntasan minimal 85% pada siklus
II. Secara berurutan siklus I, dan II
77%. dan 94,5% . Peningkatan hasil
belajar rata-rata kelas dari siklus I ke
siklus II sebesar 2.1 Peningkatan
hasil belajar ketuntasan minimal dari
siklus I ke siklus II 17.5.%.
Berdasarkan pengamatan yang
dilakukan oleh peneliti, kegiatan
pembelajaran yang dilakukan selama
penelitian sudah sesuai dengan
rencana penelitian. Siswa dapat
menyimak pemutaran video dengan
baik dan menuliskan langkah langkah
pembuatan nasi goreng dengan baik.
Dalam menyampaikan tugas-tugas
menulis teks prosedur, guru berhasil
membuat siswa paham sehingga
siswa dapat mengerjakan tugas
menulis teks prosedur dengan baik,
Setelah melihat tayagan video siswa
sangat
antusias
untuk
segera
menuliskan teks prosedur, Minat
mereka menjadi meningkat dibanding
sebelumnya. Hal itu terlihat pada
intensitas siswa dalam berpendapat,
dalam pembelajaran, dan konsentrasi
siswa yang meningkat pada saat
proses pembelajaran. Banyak diantara
mereka yang lebih serius menyimak
dan mengerjkan tugas. Hal ini dapat
menjadi
indikator
tentang
peningkatan minat siswa terhadap
ketrampilan menulis teks prosedur.
Hambatan yang dialami guru
dalam pelaksanaan pembelajaran
Teks Prosedur menggunakan media
audiovisual yaitu Penelitian ini
membutuhkan
persiapan
yang
matang.
Selain
perangkat
pembelajarannya beserta instrimen
penelitian tetapi juga penyiapan
media audiovisual berupa video
pembelajarannya,
Sarana
dan
prasarana di kelas harus memadai,
misal LCD , proyektor, sound, laptop
dan saluran listrik. Bila salah satu
sarana tersebut terkendala maka
kegiatan
belajar-mengajar
menggunakan video tidak akan
berjalan, Peneliti belum menguasai
operasional aplikasi Vidio, sehingga
dalam
memberikan
pengarahan
kepada pengambil dokumen kurang
tepat, dan jam mengajar penelitian
dengan jam mengajar pengamat untuk
mata pelajaran sejenis bersamaan.
Kelebihan yang dialami guru
dalam pembelajaran teks prosedur
menggunakan Audiovisual adalah
Waktu pembelajaran dapat digunakan
seefektif mungkin karena siswa
benar-benar melakukan kegiatan
pembelajaran dan menyelesaikan
tugas yang dibebankan kepada
NOSI Volume 4, Nomor 2, Agustus 2016__________________________________Halaman | 173
mereka sesuai dengan skenario
pembelajaran dan hasil belajar siswa
dapat meningkat dengan tayangan
video. Karena tayangan video lebih
melibatkan beberapa panca indera,
yang mengakibatkan kerja otak lebih
maksimal yng berimbas pada hasil
belajar yang lebih baik.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang
telah dipaparkan selamadua siklus,
hasil seluruh pembahasan serta
analisis yang telah dilakukan dapat
disimpulkan sebagai berikut: (1)
Proses peningkatan pembelajaran
keterampilan menulis teks prosedur
siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kediri
dengan
menggunakan
media
audiovisual meliputi 2 aspek, yaitu,
proses peningkatan aktivitas guru
dalam kegiatan belajar-mengajar dan
aktivitas siswa dalam kegiatan
belajar-mengajar. Aktivitas guru
dalam proses pembelajaran teks
prosedur
dari
segi
kinerja
perencanaan dan kinerja pelaksanaan
pada siklus I dinilai pengamat cukup
baik dan meningkat menjadi sangat
baik di siklus II.
Analisis per
indikator mulai persiapan perangkat
pembelajaran, persiapan ruang kelas,
pemilihan
media
pembelajaran,
semua baik, kecuali penyiapan sarana
sound sistem yang kurang maksimal
di siklus I. Hal itu sudah diatasi
dengan pindah kelas, mencari sound
yang kondisinya vit. Pada siklus I
praktek guru dalam pembelajaran saat
menyampaikan tujuan, memotivasi
siswa,
membentuk
kelompok,
menggunakan media, menyampaikan
materi pembelajaran, membantu
aktivitas siswa dalam kelompok, dan
menghargai upaya kelompok, dinilai
cukup baik, kecuali ada beberapa
pelaksanaan pembelajaran yang tidak
dilakukan guru, yaitu kegiatan
kelompok belum dijelaskan secara
rinci, dan kurang menghargai upaya
perorangan. Dalam menggunakan
waktu juga belum seperti yang
dituliskan dalam RPP. Namun
kendala diatas sudah diatasi pada
siklus II, kecuali dalam hal
penghargaan
kelompok
dan
perorangan.
Aktivitas
siswa
dalam
pembelajaran
Teks
prosedur
menggunakan media Audiovisual
pada siklus I dinilai pengamatan
cukup baik dan meningkat menjadi
sangat baik pada siklus II. Berarti ada
peningkatan
dalam
proses
pembelajaran.
Siswa
lebih
memperhatikan penjelasan guru,
antusias memperhatikan video yang
ditayangkan, suasana kelas aktif, ada
beberapa siswa yang bertanya, dan
menjawab pertanyaan guru. Tidak ada
siswa yang melamun, bertengkar atau
keluyuran. Hanya ada beberapa siswa
yang ngobrol dan sibuk dengan
aktivitasnya sendiri.
(2)
Peningkatan
hasil
belajar
ketrampilan menulis teks prosedur
menggunakan media audiovisual
secara berurtan mulai siklus I, dan II
untuk nilai rata-rata kelas sebesar79,4
meningkat menjadi 81,5. Hasilbelajar
yang dicapai telah memenuhi
ketuntasan minimal 85% pada siklus
II. Secara berurutan siklus I, dan II
77% dan 94,5%. Peningkatan hasil
belajar rata-rata kelas dari siklus I ke
siklus II sebesar 2.1 Peningkatan hasil
belajar ketuntasan minimal dari siklus
I ke siklus II 17.5.%.
Hambatan yang dialami guru
dalam penelitian ini dari faktor intern
secara garis besar ada tiga hal yaitu
kemauan,
kemampuan,
dan
NOSI Volume 4, Nomor 2, Agustus 2016__________________________________Halaman | 174
tersedianya waktu yang tidak
terkelola dengan baik. Faktor ekstern
yang menjadi hambatan dari guru
yang mengadakan penelitian antara
lain, jam pelajaran pengamat untuk
matapelajaran sejenis dengan jam
pelajaran
peneliti
pada
saat
mengadakan penelitian bersamaan
Kelebihan yang dialami guru
dalam pembelajaran teks prosedur
menggunakan media audiovisual,
mampu membuat siswa lebih
mengkonsentrasikan fikirannya pada
apa yang dialihat, jadi tidak hanya
berangan-angan saja tentang langkah
membuat sesuatu, sehingga mampu
meningkatkan ketrampilan menulis
siswa khususnya teks prosedur.
SARAN
Bagi Guru sebagai pengajar
dalam kegiatan belajar – mengajar,
berdasarkan kesimpulan di atas maka
peneliti menyarankan agar dalam
pembelajaran
Teks
prosedur
menggunakan media audiovisual.
Karena lebih faktual dari pada hanya
membaca teori dalam buku Hal ini
dapat dilihat dari peningkatan ratarata kelas dan tingkat ketuntasan
klasikal. Pembelajaran mengunakan
media audiovisual ini berbasis Iptek
karena
menggunakan
perangkat
laptop, LCD, sound, dan listrik
sebagai sumber utamanya. Oleh
karena itu guru harus terampil dalam
bidang Iptek. Selain itu media video
juga perlu dipersiapkan dengan
sungguh-sungguh karena guru harus
menyesuaikan antara video yang
ditayangkan
dengan
materi
pembelajarannya. Supaya lebih pas
dengan
materi
maka
video
pembelajaran harus membuat sendiri.
Hal itu membutuhkan tenaga ekstra
dan kemampuan dalam mengedit
videonya agar memperoleh hasil yang
maksimal.
Untuk
itu
kami
menyarankan agar para guru lebih
terampil dalam hal iptek agar bisa
lebih berkreasi dalam mengajar
menggunakan media video.
Bagi Penentu Kebijakan, melihat
peningkatan hasil belajar dalam
pembelajaran menulis teks prosedur
dengan
menggunakan
media
audiovisual, maka sepatutnya Penentu
Kebijakan dalam hal ini Kepala
Sekolah
melengkapi
sarana
pembelajaran
menggunakan
audiovisual di semua kelas, dankelas
yang sudah dilengkapi dengan sarana
tersebut mohon dicek kelayakan
sarananya. Jangan sampai sarananya
ada tetapi tidak bisa digunakan. Hal
itu menyebabkan kegiatan belajarmengajar yang sudah dipersiapkan
menggunakan audiovisual tidak bisa
berjaan lancar atau tidak bisa berjalan
sama sekali.
Bagi Peneliti Lain, penelitian dengan
menggunakan media audiovisual
dalam meningkatkan keterampilan
menulis teks prosedur, layak untuk
diteliti terus, karena proses belajar
mengajar terus berkembang seiring
dengan perkembangan jaman dengan
media pembelajaran yang bervariasi
pula.
Jadi
kelayakan
media
audiovisual masih perlu ditelaah.
DAFTAR RUJUKAN
ArsyadAshar.
2014.
Media
Pembelajaran. Jakarta: PT
Raja GrafindoPersada
Atar
Semi,
M.2007,
DasardasarKeterampilanMenulis.
Angkasa: Bandung.
Daryanto. 2010. Media Pembelajaran.
Bandung: Sarana Tutorial
Nuraini Sejahtera.
NOSI Volume 4, Nomor 2, Agustus 2016__________________________________Halaman | 175
Junaidi,
Mistar. 2006. Pedoman
Penulisan Tesis Program
Pasca Sarjana. Malang:
Pascasarjana Unisma.
Komaidi, Didik, 2008. Aku Bisa
Menulis membaca, Menulis,
Yogyakarta:Sabda Media
Kosasih, E. 2014. Jenis-jenis Teks:
dalam
Mata
Pelajaran
Bahasa
Indonesia
SMA/MA/SMK.
Bandung:
Yrama Widya.
Kusaeri. 2014. Penilaian Proses dan
Hasil Belajar Kurikulum
2013. Yogyakarta :
Ar-ruzz Media
Munadi, Yudhi. 2013, Media
Pembelajaran.
Jakarta
Selatan: Referensi
Musfiqon, HM, 2015, Pengembangan
Media
&
Sumber
Pembelajaran.
Jakarta:
Prestasi Pustaka Publiser
Nurgiantoro,
Burhan.
2001.
PenilaiandalamPengajaran
Bahasa
dan
Sastra.
Yogyakarta: BPFE.
Rokhiati,
Wiraatmadja.
2008.
MetodePenelitianPenelitianT
indakanKelas. Bandung, PT.
Rosdakarya
Suwandi,
Sarwiji,2008.
Bahasa
Indonesia
Bahasa
Kebanggaanku untuk SMP
dan MTS Kelas VIII: Jakarta
Pusat
Perbukuan
Departemen
Pendidikan
Nasional
Tarigan, Henry Guntur.2008. Menulis
Sebagai
Ketrampilan
Berbahasa.
Bandung:
Angkasa Bandung.
NOSI Volume 4, Nomor 2, Agustus 2016__________________________________Halaman | 176
Download