7 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Konseptual 1. Kemampuan

advertisement
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Deskripsi Konseptual
1. Kemampuan Berpikir Kritis Matematis
Berpikir merupakan salah satu aktivitas mental yang tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan manusia selain itu, berpikir merupakan aktivitas
yang selalu dilakukan manusia bahkan ketika sedang tidur. Bagi otak,
berpikir dan menyelesaikan masalah merupakan pekerjaan paling penting,
bahkan dengan kemampuan yang tidak terbatas. Sehingga Berpikir
merupakan salah satu daya paling utama dan menjadi ciri khas yang
membedakan manusia dari hewan.
Menurut Suwarma (2009: 3) berpikir adalah suatu kegiatan mental
yang memperoleh pengetahuan, dan dalam proses belajar mengajar
kemampuan
berpikir
dapat
dikembangkan
dengan
memperkaya
pengalaman yang bermakna melalaui persoalan pemecahan masalah.
Sedangkan menurut Alvonco (2012) juga mengemukakan pendapatnya
bahwa berpikir adalah proses otak mengolah dan menterjemahkan
informasi (stimulus) yang masuk melalui panca indra dengan kebahagian
otak sadar atau bawah sadar yang menghasilkan arti dan sejumlah konsep.
Santrock (2014: 9) juga mengemukakan pendapatnya bahwa berpikir
adalah memanipulasi dan mengubah informasi dalam memori. Berpikir
sering dilakukan untuk membentuk konsep, alasan, berpikir kritis,
7
Deskripsi Kemampuan Berpikir..., Yani, fkip, 2017
8
membuat keputusan, berpikir kreatif dan memecahkan masalah. Sehingga
siswa dapat berfikir mengenai hal-hal konkret. Jika berpikir merupakan
bagian dari kegiatan yang selalu dilakukan otak untuk mengorganisasi
informasi guna mencapai suatu tujuan, maka berpikir kritis merupakan
bagian dari kegiatan berpikir yang juga dilakukan otak.
Dari uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa berpikir
adalah suatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak untuk mengubah
informasi dan mengolah informasi untuk mendapatkan suatu pengetahuan
dan membentuk suatu konsep, alasan, berpikir kritis, membuat keputusan,
berpikir kreatif dan memecahkan suatu masalah.
Menurut Santrock (2014: 11) bahwa berpikir kritis yaitu berpikir
reflektif, produktif dan mengevaluasi bukti, Sejalan dengan pendapat
Desmita (2010: 161) yang berpendapat bahwa pemikiran kritis merupakan
pemahaman atau refleksi terhadap permasalahan secara mendalam,
mempertahankan pikiran agar tetap terbuka bagi berbagai pendekatan dan
perspektif yang berbeda, tidak mempercayai begitu saja informasiinformasi yang datang dari berbagai sumber (lisan atau tulisan), dan
berpikir secara reflektif dan evaluatif. Berpikir kritis adalah suatu
kemampuan yang harus dikembangkan dalam pembelajaran disekolah
karena siswa di sekolah tidak hanya harus mengingat dan menyerap secara
pasif berbagai informasi baru, melainkan mereka perlu berbuat lebih
banyak bagaimana berpikir secara kritis dan memiliki kesadaran akan diri
dan lingkungan, maka dari itu pendidik di sekolah haruslah mampu
Deskripsi Kemampuan Berpikir..., Yani, fkip, 2017
9
membangun siswa untuk berpikir secara kritis. Menurut Sternber
(Desmita: 2010) berpendapat bahwa ada beberapa usulan untuk
mengembangkan pemikiran kritis pada anak yaitu (1) mengajarkan anak
menggunakan proses-proses berpikir yang benar; (2) mengembangkan
strategi-strategi pemecahan masalah; (3) meningkatkan gambaran mental
mereka; (4) memperluas landasan pengetahuan mereka; (5) memotivasi
anak untuk menggunakan ketrampilan-keterampilan berpikir yang baru
saja dipelajari. Selain itu Johnson (2007: 183) juga berpendapat berpikir
kritis merupakan sebuah proses yang terarah dan jelas yang digunakan
dalam kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil
keputusan, membujuk, menganalisis asumsi, dan melakukan penelitian
ilmiah.
Berpikir
kritis
adalah
sebuah
proses
sistematis
yang
memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengevaluasi keyakinan
dan pendapat mereka sendiri. Tujuan dari berpikir kritis adalah untuk
mencapai pemahaman yang mendalam, pemahaman yang mendalam yaitu
pemahaman yang membuat kita mengerti maksud di balik ide yang
mengarahkan hidup kita setiap hari.
Matematika sebagai suatu disiplin ilmu yang sangat jelas
mengandalkan proses berpikir, dipandang sangat baik untuk diajarkan
pada siswa karena didalamnya terkandung aspek-aspek yang secara
langsung menuntut siswa untuk berpikir secara kritis. Selain itu juga
dalam pembelajaran matematika proses berpikir itu merupakan suatu hal
yang penting karena matematika pada hakekatnya berkenaan dengan
Deskripsi Kemampuan Berpikir..., Yani, fkip, 2017
10
struktur dan ide abstrak yang disusun secara sistematis dan logis melalui
proses penalaran. Sering kali tujuan utama dari pembelajaran matematika
tidak lain untuk membiasakan agar siswa mampu berpikir logis, kritis dan
sistematis. Oleh karena itu, maka dalam mempelajari matematika kurang
tepat bila dilakukan dengan cara menghafal, namun matematika dapat
dipelajari dengan baik dengan cara mengerjakan latihan-latihan. Dalam
mengerjakan
latihan-latihan
tersebut
mulai
berpikir
bagaimana
menyelesaikan masalah tersebut dengan benar dan juga dengan proses
yang sistematis maka diperlukan sebuah kegiatan berpikir kritis. Apabila
dalam
pembelajaran
matematika
yang
dominan
mengandalkan
kemampuan daya pikir maka perlu membina kemampuan berpikir siswa
khususnya
berpikir
kritis
agar
mampu
mengatasi
permasalahan
pembelajaran matematika tersebut yang materinya cenderung bersifat
abstrak.
Menurut Ennis (1993: 180) “critical thinking is reasonable
reflective thinking focused on decending what to believe or do” yang
mempunyai makna bahwa berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan
(masuk akal) dan reflektif yang berfokus untuk memutuskan tentang apa
yang harus dipercaya atau dilakukan. Hal ini berarti didalam berpikir kritis
diarahkan kepada rumusan-rumusan yang memenuhi kriteria berpikir kritis
hal ini dilakukan agar dapat membuat suatu keputusan. Berpikir kritis
terdapat atas tiga tingkat yaitu analisis, sintesis, dan evaluasi.
Deskripsi Kemampuan Berpikir..., Yani, fkip, 2017
11
Selain itu terdapat dua belas indikator berpikir kritis yang
dikelompokkan dalam lima kemampuan berpikir yang diungkapkan oleh
Ennis (1985) yaitu (a) memberikan penjelasan dasar (elementary
clarification), (b) membangun ketrampilan dasar (basic support), (c)
membuat inferensi (inference), (d) membuat penjelasan lebih lanjut
(advanced clarification) dan (e) mengatur strategi dan taktik (strategies
and tactics). Kedua belas kemampuan tersebut adalah : (1) memfokuskan
sebuah pertanyaan. (2) menganalisis suatu argumen. (3) bertanya dan
menjawab pertanyaan klarifikasi dan pertanyaan yang menantang. (4)
mempertimbangkan kredibilitas suatu sumber. (5) mengobservasi dan
mempertimbangkan hasil observasi (pengamatan). (6) membuat dan
menilai secara umum ke khusus (deduksi), apakah pertanyaan tersebut
bersifat benar. (7) membuat dan menilai secara khusus ke umum (induksi),
apakah
pertanyaan
(mempertimbangkan
bersifat
nilai
benar.
(8)
keputusan.
membuat
(9)
dan
menegaskan
menilai
dan
mempertimbangankan ketentuan. (10) mengidentifikasi asumsi. (11)
memutuskan suatu tindakan. (12) menyusun, menyatukan, membuat dan
mempertahanka argumen yang baru.
Sedangkan Siegel (2003) memiliki pendapat sendiri mengenai
kemampuan berpikir kritis, menurutnya berpikir kritis merupakan sikap
berani memberikan pendapat yang berbeda dari yang lain, mengakui dan
menegaskan sebuah argumen berdasarkan aturan yang berlaku. Disini
ketika terdapat sebuah masalah, siswa terlebih dahulu mencari kebenaran
Deskripsi Kemampuan Berpikir..., Yani, fkip, 2017
12
informasi yang didapatnya, sehingga untuk menyelesaikan masalah
tersebut siswa berani menyampaikan pendapat yang berbeda apabila
pernyataan tersebut tidak sesuai. Kemudian ketika siswa dapat mengakui
sebuah argumen apabila ia telah menegaskan argumen tersebut sesuai
aturan yang berlaku.
Selain pendapat mengenai berpikir kritis Siegel (2003) juga
mengungkapkan bahwa terdapat beberapa kemampuan dalam berpikir
kritis yaitu : (1) kemampuan untuk memberikan pendapat yang baik saat
mengevaluasi dan menilai suatu argumen, hal itu dilakukan untuk menilai
berdasarkan pedoman darimana argumen tersebut di dapatkan, sehingga
mereka dapat meyakini, menilai dan mengambil tindakan yang baik.(2)
kemampuan untuk menilai berdasarkan pada pedoman, hal ini dilakukan
untuk membenarkan suatu argumen sehingga argumen dapat dipercaya.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut maka dapat disimpulakan bahwa
kemampuan berpikir kritis matematis adalah kemampuan seseorang untuk
mampu berfikir secara beralasan dan reflektif yang berfokus untuk
menganalisis, menilai dan mengevaluasi suatu argumen yang dapat
dipercaya kebenaranya untuk menyelesaikan atau memecahkan suatu
permasalahan matematika.
Ketika siswa berpikir kritis dalam matematika, mereka membuat
keputusan-keputusan yang beralasan atau pertimbangan tentang apa yang
dilakukan dan dipikirkan. Dengan kata lain, siswa mempertimbangkan
Deskripsi Kemampuan Berpikir..., Yani, fkip, 2017
13
kriteria terhadap keputusan yang bijaksana dan tidak menebak dengan
mudah atau menerapkan suatu rumus tanpa menilai relevansinya.
Berdasarkan pada uraian-uraian yang telah dikemukakan di atas
tentang kemampuan berpikir kritis, maka indikator yang digunakan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Siswa mampu memberikan argumen secara tepat.
Kemampuan siswa untuk memberikan suatu argumen atau
pendapat dengan berdasarkan dari mana argumen itu didapat, sehingga
siswa dapat meyakini kebenaran suatu argumen.
2. Siswa mampu untuk menganalisis suatu argumen berdasarkan
ketentuan.
Kemampuan siswa untuk merinci informasi yang ada ke dalam
bagian-bagian tahap penyelesaian sehingga bagian tersebut secara
keseluruhan dapat dipahami dengan mudah sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
3. Siswa mampu menilai dan mengevaluasi argumen berdasarkan
pedoman
Kemampuan siswa untuk membenarkan atau memberi sebuah
penegasan pada argumen tersebut sehingga argumen tersebut dapat
dipercaya.
2. Kepribadian
Kepribadian dapat didefinisikan sebagai gabungan emosi dan
tingkah laku yang membuat individu memiliki karakteristik tertentu untuk
Deskripsi Kemampuan Berpikir..., Yani, fkip, 2017
14
menghadapi kehidupan sehari-hari. Kepribadian individu relatif stabil dan
memungkinkan orang lain untuk memprediksi pola pikir atau tindakan
yang akan diambil. Menurut Feist (2014: 4) menyatakan bahwa
kepribadian adalah pola sifat dan karakteristik tertentu, yang relatif
permanen dan memberikan, baik konsisten maupun individualitas pada
perilaku seseorang. Sejalan dengan pendapat Santrock (2008) kepribadian
adalah pemikiran, emosi, dan perilaku khas seseorang dalam beradaptasi
dengan lingkungannya.
Menurut Yusuf (2011: 3) kepribadian merupakan terjemahan dari
bahasa inggris personality. Kata personality sendiri berasal dari bahasa
latin persona yang berarti topeng yang digunakan oleh para aktor dalam
suatu permainan atau pertunjukan. Dalam kehidupan sehari-hari kata
kepribadian digunakan untuk menggambarkan: (1) identitas diri, jati diri
seseorang, seperti: “ Saya seorang yang terbuka” atau “ Saya seorang
pendiam”, (2) kesan umum seseorang tentang diri anda atau orang lain,
seperti: “ Dia agresif” atau “ Dia jujur” dan (3) fungsi-fungsi kepribadian
yang sehat atau bermasalah, seperti: “Dia baik” atau “ Dia pendendam”.
Sedangkan menurut Dashiel (Yusuf, 2011: 3) mengemukakn bahwa
kepribadian sebagai gambaran total tentang tingkah laku individu yang
terorganisasi.
Menurut Allport (Yusuf, 2011: 4) kepribadian yaitu “ personality
is the dynamic organization within the individual of those psychophysical
systems that determine his unique adjustment to his environment” yang
Deskripsi Kemampuan Berpikir..., Yani, fkip, 2017
15
berarti kepribadian merupakan organisasi yang dinamis dalam diri
individu tentang sistem psikofisik yang menentukan penyesuaiannya yang
unik terhadap lingkungannya. Serta menurut Sudarsono (Yuwono,2010)
yang membedakan peserta didik yang satu dengan yang lainnya adalah
perbedaan tingkah laku. Perbedaan ini disebut kepribadian yang
menggambarkan tingkah laku secara deskriptif tanpa memberi nilai.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa kepribadian adalah gambaran tentang baik buruknya
tingkah laku, emosi, tindakan, pemikiran seseorang yang mencerminkan
dirinya sendiri dalam beradaptasi dengan lingkungannya sebagai suatu ciri
yang khas dalam dirinya.
3. Penggolongan Tipe Kepribadian
Menurut Keirsey (1984) kepribadian digolongkan menjadi 4 tipe
yaitu: guardian, artisan, rational, dan idealist. Menurut David Keirsey
penggolongan ini di dasarkan pada bagaimana seseorang memperoleh
energinya (extrovert dan introvert), bagaimana seseorang mengambil
informasi (sensing danintuitive), bagaimana seseorang membuat keputusan
(thinking danfeeling), dan bagaimana gaya dasar hidupnya (judging dan
perceiving). Tentunya masing-masing tipe kepribadian tersebut akan
mempunyai karakter yang berbeda dalam menyelesaikan masalah
matematika. Tipe kepribadiannya dinamakan sebagai The Keirsey
Temperatur Sorter (KTS) dengan tujuan untuk membantu manusia lebih
memahami dirinya sendiri.
Deskripsi Kemampuan Berpikir..., Yani, fkip, 2017
16
Seseorang yang lebih memilih untuk menjadi sumber energi dan
suka dengan dunia luar lebih ke arah extrovert, sedangkan orang yang
lebih suka menyendiri dan membangkitkan energi lebih ke arah introvert.
Perbedaan extrovert dari introvert adalah cara bersosialisasi. Extrovert
suka bergaul, menyukai interaksi sosial dan berfokus pada dunia luar.
Sedangkan introvert tidak suka bergaul dengan banyak orang, mampu
bekerja sendiri, fokus konsentrasi dan segala hal. Dalam istilah
kepribadian extrovert ditulis sebagai E dan introvert ditulis I.
Seseorang yang mempunyai sensing (S) mendeskripsikan dirinya
menjadi orang yang praktis, sedangkan orang yang mempunyai intuitive
(N) mendeskripsikan dirinya menjadi orang yang innovative. Sensing
berpegang teguh terhadap hal-hal yang nyata, praktis, realistis dan melihat
data apa adanya. Mereka menggunakan pedoman pengalaman, data
kongkrit serta fokus pada masa kini (apa yang bisa diperbaiki sekarang).
Sedangkan intuitive melihat informasi dengan menggunakan pola dan
hubungan, pemikir abstrak, konseptual serta melihat kemungkinan yang
akan terjadi, memilih cara yang unik dan berfokus pada masa depan (apa
yang mungkin dicapai pada masa mendatang).
Seseorang yang thinking (T), lebih bersikap adil dalam mengambil
keputusan. Mereka cenderung lebih menggunakan logika dan kekuatan
analisa untuk mengambil keputusan, kaku serta keras kepala. Mereka
menerapkan prinsip dengan konsisten dan bagus dalam melakukan analisa.
Deskripsi Kemampuan Berpikir..., Yani, fkip, 2017
17
Sedangkan feeling (F) lebih melibatkan perasaan, empati serta nilai-nilai
sosial yang dipercaya ketika mengambil keputusan.
Judging (J) adalah seseorang yang bertumpu pada rencana yang
sistematis, serta senantiasa berpikir dan bertindak teratur serta tidak suka
hal-hal yang mendadak dan di luar perencanaan. Mereka selalu ingin
mengikuti rencana tersebut. bagus dalam penjadwalan, penetapan struktur
dan perencanaan langkah demi langkah. Sedangkan perceiving (P) lebih
bersikap fleksibel dan bertindak secara bebas untuk melihat beragam
peluang yang muncul. Bagus dalam menghadapi perubahan dan situasi
mendadak.
Berdasarkan pada ke empat temperamen, akan diuraikan gaya
belajar pada masing-masing tipe kepribadian menurut Keirsey dan Bates
(Yuwono : 2010) yaitu sebagai berikut:
a. Tipe Guardian
Tipe guardian adalah tipe yang menyukai kelas dengan model
tradisional. Siswa dengan tipe ini menyukai pengajar yang dalam
menjelaskan materi secara terstruktur dan sangat jelas. Sebelum
mengerjakan tugas, tipe guardian menghendaki instruksi yang
mendetail, termasuk kegunaan dari tugas tersebut. selain itu tipe
guardian juga mempunyai kebiasaan yang baik dalam belajar yaitu
pada saat mengerjakan tugas secara tepat waktu dan teliti. Tipe ini
mempunyai ingatan yang kuat. Meskipun tidak selalu berpartisipasi
Deskripsi Kemampuan Berpikir..., Yani, fkip, 2017
18
dalam kelas diskusi, tetapi tipe ini menyukai saat tanya-jawab dengan
guru.
b. Tipe Artisan
Pada dasarnya tipe ini menyukai perubahan dan tidak tahan
terhadap kestabilan. Artisan selalu aktif dalam segala keadaan dan
selalu ingin menjadi perhatian dari semua orang, baik guru maupun
teman-temannya. Bentuk kelas yang disukai adalah kelas dengan
media presentasi, karena dengan demikian tipe ini dapat menunjukkan
kemampuannya. Artisan akan bekerja dengan keras apabila dirangsang
dengan suatu konteks. Segala sesuatunya ingin dikerjakan dan
diketahui secara cepat, bahkan sering cenderung terlalu tergesa-gesa.
Artisan akan cepat bosan, apabila pengajar tidak mempunyai teknik
yang berganti-ganti dalam mengajar.
c. Tipe Rational
Tipe rational menyukai penjelasan yang didasarkan pada
logika. Tipe ini memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Setelah diberikan
materi oleh guru, biasanya rational mencari tambahan materi melalui
membaca buku. Rational menyukai guru yang dapat memberikan tugas
tambahan secara individu setelah pemberian materi. Cara belajar yang
paling disukai adalah penemuan dan pemecahan masalah. Kelompok
ini cenderung mengabaikan materi yang dirasa tidak perlu atau
membuang waktu, oleh karenanya, dalam setiap pemberian materi,
Deskripsi Kemampuan Berpikir..., Yani, fkip, 2017
19
guru harus dapat meyakinkan kepentingan suatu materi terhadap
materi yang lain.
d. Tipe Idealist
Tipe idealist lebih menyukai untuk menyelesaikan tugas secara
pribadi dari pada diskusi kelompok. Tipe ini selalu ingin meningkatkan
kegunaan diri dan tipe ini dapat memandang persoalan dari berbagai
perspektif. Menyukai membaca, dan juga menyukai menulis. Oleh
karena itu, idealist kurang cocok dengan bentuk tes objektif, karena
tidak dapat mengungkap kemampuan dalam menulis. Kreativitas
menjadi bagian yang sangat penting bagi seorang idealist. Kelas besar
sangat mengganggu idealist dalam belajar, sebab lebih menyukai kelas
kecil dimana setiap anggotanya mengenal satu dengan yang lain.
Menurut Keirsey (1998: 12) mengelompokkan jenis-jenis tipe
kepribadian yaitu sebagai berikut:
Tabel 2.1 Jenis Pengelompokkan Tipe Kepribadian
Jenis Pengelompokan
Tipe Kepribadian
ESTJ, ISTJ, ESFJ, ISFJ
Guardian
ESTP, ISTP, ESFP, ISFP
Artisan
ENTJ, INTJ, ENTP, INTP
Rational
ENFJ, INFJ, ENFP, INFP
Idealist
Keterangan:
E = Extrovert (terbuka)
S = Sensing (pancaindra)
T = Thinking (berpikir)
J = Judging
(menilai)
I = Introvert
N = Intuitive
F = Feeling
P = Perceiving
(tertutup)
(intuisi)
(perasaan)
(mengamati)
Deskripsi Kemampuan Berpikir..., Yani, fkip, 2017
20
Berdasarkan uraian-uraian yang telah dijelaskan di atas , maka
indikator pengelompokan tipe kepribadian siswa yang digunakan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
Tabel 2.3 Indikator pengelompokan tipe kepribadian siswa
Jenis Pengelompokan
Tipe Kepribadian
ESTJ, ISTJ, ESFJ, ISFJ
Guardian
ESTP, ISTP, ESFP, ISFP
Artisan
ENTJ, INTJ, ENTP, INTP
Rational
ENFJ, INFJ, ENFP INFP
Idealist
4. Kajian Materi Kesebangunan dan Kekongruenan
Pokok bahasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kesebangunan dan kekongruenan berdasarkan kurikulum 2006 (KTSP) di
sekolah SMP semester ganjil.
SK: 1. Memahami kesebangunan bangun datar dan penggunaannya dalam
pemecahan masalah.
KD: 1.1. Mengidentifikasi bangun-bangun datar yang sebangun dan
kongruen.
Indikator 1.1.1 Mengidentifikasi dua bangun datar sebangun atau
kongruen
1.1.2 Mengidentifikasi
dua
segitiga
yang berkaitan
dengan sifat-sifat kesebangunan
1.1.3 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan
menghitung
luas
dari
bangun-bangun
yang
sebangun
Deskripsi Kemampuan Berpikir..., Yani, fkip, 2017
21
1.3. Menggunakan
konsep
kesebangunan
dalam
pemecahan
yang
melibatkan
masalah.
Indikator
1.3.1
Memecahkan
masalah
kesebangunan dalam kehidupan sehari-hari.
B. Penelitian Relevan
Penelitian yang berkaitan dengan berpikir kritis matematis ditinjau dari
tipe kepribadian David Keirsey telah dilakukan oleh beberapa peneliti
terdahulu. Peneliti yang berkaitan dengan berpikir kritis matematis
diantaranya adalah:
1. Ismaimuza (2011) menyatakan hasil penelitiannya adalah terdapat
penjenjangan kelompok dalam penelitian kemampuan berpikir kritis
matematis siswa jenjang kelompoknya yaitu kelompok tinggi, kelompok
sedang dan kelompok rendah dan presentase tiap kelompok berpikir kritis
tinggi adalah 87,50, sedang adalah 64,64 dan rendah adalah 48,85.
2. Hidayanti (2016) menyatakan hasil penelitiannya bahwa kemampuan
berpikir kritis siswa pada jenjang SMP tergolong rendah. Hal ini
dikarenakan siswa yang memenuhi masing-masing indikator kemampuan
berpikir kritis siswa masih dibawah 50%. Peneliti menggunakan 3
indikator yaitu indikator analisis, evaluasi dan inferensi, dan semua
indikator terlihat masih tergolong rendah. Presentasi indikator kemampuan
berpikir kritis adalah pada indikator analisis siswa tergolong rendah yaitu
sebanyak 23% siswa yang menganalis dengan baik, dan pada indikator
Deskripsi Kemampuan Berpikir..., Yani, fkip, 2017
22
evaluasi dan inferensi juga masih rendah karena 100% siswa tidak dapat
melakukan evaluasi dan inferensi.
Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah samasama memfokuskan pada kemampuan berpikir kritis siswa. Perbedaan
pada penelitian di atas yaitu memfokuskan pada penjenjangan dari
keseluruhan siswa dalam kemampuan berpikir kritis, sedangkan penelitian
ini memfokuskan kemampuan berpikir kritis matematis berdasarkan tipe
kepribadian David Keirsey.
Sedangkan penelitian yang berkaitan dengan tipe kepribadian
adalah sebagai berikut :
a. Yuwono (2010) menyatakan hasil penelitiannya adalah setiap siswa
berbeda-beda dalam memahami masalah matematika dilihat dari
masing-masing tipe kepribadiannya. Hal tersebut dapat diketahui yaitu
pada tipe guardian dan artisan siswa tidak dapat menuliskan apa yang
diketahui dan ditanyakan dalam soal sedangkan tipe rational dan
idealist mampu menuliskan apa yang ditanya dan diketahui dalam soal.
b. Dewiyani (2011) menyatakan hasil penelitiannya adalah karakter
maupun atribut soft skills setiap mahasiswa itu berbeda dan dapat
ditingkatkan melalui pengenalan terhadap profil proses berpikir
berdasarkan tipe kepribadiannya.
Persamaan penelitian tersebut adalah sama-sama meninjau dari tipe
kepribadian, yaitu tipe kepribadian guardian, artisan, rational dan idealist.
Perbedaan penelitian di atas adalah memfokuskan siswa dengan masing-
Deskripsi Kemampuan Berpikir..., Yani, fkip, 2017
23
masing tipe kepribadian, sedangkan penelitian ini focus kepada
kemampuan berpikir kritis matematis berdasarkan tipe kepribadiannya.
C. Kerangka pikir
Kerangka pikir bertujuan untuk memperoleh kejelasan mengenai
variabel-variabel yang akan diteliti. Variabel yang akan diteliti adalah
kemampuan berpikir kritis dan tipe kepribadian David Keirsey.
Berpikir adalah suatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak
untuk mengubah informasi dan mengolah informasi untuk mendapatkan suatu
pengetahuan dan membentuk suatu konsep, alasan, berpikir kritis, membuat
keputusan, berpikir kreatif dan memecahkan suatu masalah.
Berpikir kritis matematis adalah kemampuan seseorang untuk mampu
berfikir secara beralasan dan reflektif yang berfokus untuk menganalisis,
menilai dan mengevaluasi suatu argumen yang dapat dipercaya kebenaranya
untuk menyelesaikan atau memecahkan suatu permasalahan matematika.
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam
menguasai kemampuan berpikir kritis yaitu dengan memahami karakteristik
siswa. Salah satu karakterisitik siswa yang perlu diperhatikan dalam proses
pembelajaran yaitu berkenaan dengan tipe kepribadian siswa. Kepribadian
adalah gambaran tentang baik buruknya tingkah laku, emosi, tindakan,
pemikiran seseorang yang mencerminkan dirinya sendiri dalam beradaptasi
dengan lingkungannya sebagai sesuatu ciri yang khas dalam dirinya. Kirsey
menggolongkan tipe kepribadian menjadi 4 tipe, yaitu guardian, artisan
rational dan idealist.
Deskripsi Kemampuan Berpikir..., Yani, fkip, 2017
24
Tipe kepribadian antar siswa memliki ciri-ciri khusus dalam
pembelajaran, sehingga setiap siswa mempunyai tipe kepribadian yang
berbeda. Dari kepribadian yang berbeda dimungkinkan akan mengakibatkan
kemampuan berpikir kritis yang berbeda Mengingat bahawa tipe kepribadian
dan kemampuan berpikir kritis matematis siswa beragam, maka guru sebagai
seorang
pendidik
yang
berkualitas
harus
mampu
membuat
siswa
mengembangkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa dan guru dapat
memilih metode pembelajaran yang tepat. Sehingga siswa dapat terdorong dan
termotivasi untuk lebih aktif dalam berpikir kritis.
Maka dengan
termotivasinya siswa dalam belajar matematika maka kemungkinan besar
tingkat kemampuan berpikir kritis siswa akan jauh lebih baik lagi. Hal ini
mendorong peneliti untuk melakukan penelitian terhadap tipe kpribadian
siswa dan kemampuan berpikir kritis matematis guna mengetahui gambaran
kemampuan berpikir kritis matematis siswa ditinjau dari tipe kepribadian
David Keirsey.
Deskripsi Kemampuan Berpikir..., Yani, fkip, 2017
Download