perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user

advertisement
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
110
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat dikemukakan
kesimpulan sebagai berikut :
1. Upaya Pihak Terkait Dalam Penerbitan Sukuk Korporasi Ijarah Agar
Sukuk Tidak Bertentangan Dengan Prinsip Syariah
Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014,
diterbitkan dengan menggunakan skema Ijarah. Dalam menerbitkan sukuk
Ijarah tersebut, wajib diterbitkan menggunakan akad syariah. Dalam
penerbitan sukuk Ijarah ini, Emiten dan Wali Amanat membuat dan
menandatangani akad-akad syariah yaitu akad Ijarah dan akad Wakalah
yang keduanya telah diperiksa oleh Tim Ahli Syariah dan telah memenuhi
prinsip-prinsip syariah baik yang ditentukan dalam peraturan perundangundangan dan fatwa DSN-MUI. Selain itu prinsip syariah pada penerbitan
sukuk ialah kegiatan usaha Emiten yang tidak diharamkan dan mempunyai
nilai ekonomis, dalam hal ini kegiatan usaha Emiten telah memenuhi
persyaratan tersebut. Selanjutnya penggunaan dana yang disyaratkan
hanya untuk penggunaan yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah
juga telah direalisasikan dengan benar oleh Emiten walaupun terdapat isi
perjanjian perwaliamanatan yang merencanakan penggunaan dana hasil
penawaran umum untuk melaksanakan opsi beli atas obligasi dollar.
Upaya-upaya para pihak agar sukuk sesuai prinsip syariah lainnya
adalah memiliki pejabat atau penanggungjawab yang mengerti prinsipprinsip syariah, Wali Amanat telah mematuhi hal tersebut dengan telah
memiliki penanggungjawab yang mengerti penerapan prinsip-prinsip
syariah yang telah disertifikasi oleh DSN-MUI sedangkan Emiten meminta
DSN-MUI untuk menunjuk Tim ahli syariah untuk mengawasi dari proses
emisi sukuk hingga berakhirnya emisi.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
111
Dalam menerbitkan sukuk Ijarah juga wajib memperoleh opini
kesesuaian dari DSN-MUI, hal tersebut juga telah dipatuhi oleh Emiten.
Terbitnya opini syariah tersebut setelah tim ahli syariah membaca dan
mempelajari beberapa perjanjian yang terkait penerbitan sukuk ijarah
tersebut antara lain perjanjian perwaliamanatan, akad ijarah, akad wakalah
dan obyek ijarah.
2. Bentuk-Bentuk Perlindungan hukum Terhadap Kepatuhan Penerapan
Prinsip-Prinsip Syariah Bagi Investor Pada Penerbitan Sukuk Ijarah
Perlindungan hukum bagi Investor pemegang sukuk dalam hal
kepatuhan prinsip-prinsip syariah terdiri dari beberapa bentuk, yaitu :
a.
Wali Amanat dalam melindungi para pemegang sukuk terhadap
kepatuhan penerapan prinsip-prinsip syariah, dimulai dari masa
sebelum emisi sukuk yaitu dengan mempelajari data-data historis
Emiten, pada masa proses emisi sukuk yaitu dengan perumusan
perjanjian perwaliamanatan, akad-akad syariah kemudia pada masa
setelah emisi sukuk yaitu mengawasi Emiten dalam hal kegiatan
usaha dan pemenuhan kewajiban-kewajiban serta melaksanakan
perjanjian perwaliamanatan.
b.
Perjanjian Perwaliamanatan, dalam hal mematuhi penerapan
prinsip-prinsip syariah, semua yang diatur dalam fatwa-fatwa yang
diterbitkan
oleh
BAPEPAM-LK
DSN-MUI
(sekarang
maupun
Otoritas
Jasa
Peraturan-peraturan
Keuangan)
telah
diterapkan dalam Perjanjian Perwaliamanatan tersebut. Perjanjian
perwaliamanatan juga telah dirumuskan dengan baik sehingga
benar-benar memberikan perlindungan yang maksimal kepada
Investor pemegang sukuk.
c.
Rapat Umum Pemegang Sukuk Ijarah, RUPSI diadakan apabila
ada keputusan yang mau diambil terkait perubahan perjanjian
perwaliamanatan, atau adanya indikasi kelalaian yang dilakukan
oleh Emiten atau Wali Amanat. Investor sebagai pemilik suara
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
112
dalam RUPSI dapat menyampaikan aspirasi atau kehendaknya
terkait
penerbitan
sukuk
Ijarah
tersebut
demi
menjaga
kepentingannya.
d.
Tanggungjawab Emiten Apabila Sukuk Batal Demi Hukum, perlu
adanya
ruang untuk
menggugat
Emiten
yang
melakukan
pelanggaran kesyariahan akan sangat melindungi investor, karena
selama ini masih belum jelas apakah Emiten yang melakukan
pelanggaran kesyariahan yang menyebabkan sukuk batal demi
hukum dapat digugat oleh Investor melalui Wali Amanat atau tidak
padahal Investor kehilangan pendapatan tetap yang didapat dari
cicilan imbalan ijarah.
e.
Peran Otoritas Jasa Keuangan, OJK memiliki kewenangan yang
luar biasa, kewajiban dalam mengawasi, mengatur dan membina
setiap
pihak
yang
melakukan
kegiatan
di
pasar
modal.
Kewenangan dan kewajiban tersebut pada hakikatnya adalah demi
perlindungan pemodal dan dalam jangka panjang melindungi
perekonomian
negara.
Bentuk-bentuk
perlindungan
tersebut
meliputi perlindungan preventif dalam bentuk aturan, pedoman,
bimbingan dan arahan, dan bentuk perlindungan represif dalam
bentuk pemeriksaan, penyidikan, dan pengenaan sanksi bagi pihak
yang melanggar perjanjian yang dapat menyebabkan sukuk menjadi
batal demi hukum.
B. Implikasi
1. Dengan telah terpenuhinya prinsip-prinsip syariah sebagaimana yang
diupayakan oleh pihak-pihak terkait dalam penerbitan sukuk maka
sukuk Ijarah berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 maka
merupakan instrumen investasi yang aman bagi umat muslim yang
selama ini masih diragukan kesyariahannya. Hal tersebut makin
menguatkan kesyariahan dari sebuah produk investasi sukuk sehingga
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
113
akan menarik Investor muslim untuk berinvestasi pada sukuk,
khususnya sukuk korporasi. Selama ini keraguan akan kesyariahan dari
suatu produk investasi pasar modal berdasarkan prinsip syariah masih
menjadi keresahan dikalangan masyarakat apakah telah sesuai dengan
hukum Islam atau belum.
2. Perlindungan hukum dalam melindungi para Investor agar tetap
dipatuhinya prinsip syariah sudah sangat jelas sehingga para calon
Investor yang ingin menginvestasikan hartanyanya tidak perlu raguragu lagi apakah mendapatkan perlindungan hukum yang baik atau
tidak. Dengan luasnya tugas, fungsi, dan tanggungjawab Wali Amanat,
Perjanjian perwaliamanatan yang sangat seimbang, peran Otoritas Jasa
Keuangan sebagai pengawas tersebut sudah dapat melindungi para
pemegang sukuk dari risiko ketidakpatuhan terhadap prinsip-prinsip
syariah pada penerbitan sukuk.
3. Saran
1. Bagi Emiten : Dengan berkembang begitu pesatnya sukuk pada saat ini
dan tidak stabilnya ekonomi di Indonesia, agar Emiten selalu terus
mematuhi prinsip-prinsip syariah, dikarenakan banyaknya faktor yang
bisa membuat Emiten tidak mematuhi prinsip syariah seperti faktor
keadaan pasar maupun orientasi keuntungan semata.
2. Bagi Pemerintah : Agar Pemerintah juga melakukan edukasi kepada
para calon pemegang sukuk agar mengetahui prinsip-prinsip syariah di
pasar modal. Karena pada praktiknya, para pemegang sukuk menerima
begitu saja penawaran yang dilakukan oleh Emiten melalui prospektus.
Apabila calon pemegang sukuk setuju, maka calon tersebut
membelinya, namun apabila tidak setuju, calon pemegang sukuk tidak
akan membelinya. Disinilah pentingnya letak edukasi kepada para
pemegang sukuk, agar sukuk terus diminati oleh Investor. Karena tidak
sedikit masyarakat yang ingin membeli sukuk karena ingin kaffah
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
114
sebagai seorang muslim dibandingkan hanya demi keuntungan semata.
Selain itu perlunya dibuat regulasi perundang-undangan yang lebih
baik agar khususnya mengenai apabila sukuk batal demi hukum agar
Investor tidak merasa dirugikan.
3. Bagi Masyarakat : Sarana perlindungan hukum terhadap investor
sebenarnya menurut ketentuan hukum yang berlaku diperoleh dari
Wali Amanat, Otoritas Jasa Keuangan dan regulasi terkait. Investor
seharusnya tidak sebatas menyandarkan kepada pihak-pihak yang
terkait dan/atau regulasi yang diharapkan dapat melindunginya secara
hukum namun seharusnya benar-benar mempelajari prospektus dan
perjanjian perwaliamanatan.
commit to user
Download