pemetaan indeks kepekaan lingkungan terhadap

advertisement
AMAL FATULLAH RANDY. Pemetnan Indeks Kepekaan Lingkungan
Terhadap Tumpahan Minyak di Pesisir Pulau Pramuka, Panggang, Semak
Daun dan Karang Congkak, Kepnlauan Seribu, Jakarta. Dibimbing oleh
JONSON LUMBAN GAOL dan SUAMSUL BAHRI AGUS.
Pemanfaatan sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil yang tinggi dan tidak
ramah lingkungan dapat menimbulkan sejumlah dampak negatif terhadap kondisi
ekosistem pesisir seperti terumbu karang, hutan bakau, padang lamun dan
lingkungan pesisir sekitarnya. Dampak negatif ini dapat disebabkan oleh
pencemaran akibat adanya tumpahan minyak. Salab satu solusi untuk mengurangi
dampak pencemaran tumpahan minyak adalah dengan memetakan tingkat
kepekaan lingkungannya. Tujuan penelitian ini adalah memetakan Indeks
Kepekaan Lingkungan (IKL) terhadap tumpahan minyak di wilayah pesisir.
Penelitian dilakukan dalam tiga tahap yaitu pengolahan ciha dan penyusunan
basis data awal yang dilakukan pada bulan April 2008, survei lapang untuk
pengamatan ekosistem pesisir dilakukan pada bulan Mei bingga Juni 2008 di
perairan Pulau Pramuka, Panggang, Semak Daun hingga Karang Congkak, dan
analisis spasial IKL dilakukan pada bulan November hingga Januari 2009 di
Laboratorium Penginderaan Jauh dan SIG Kelautan, ITK-IPB.
Pengolahan data citra satelit meliputi proses pelnotongan citra (cropping),
koreksi geometrik, koreksi radiometrik, penajaman citra (image enhancemenQ dan
Masifikasi citra satelit. Penajaman citra dengan algoritma Lyzenga dan metode
klasifikasi unsupervised digunakan untuk mengetahui substrat dasar perairan di
lokasi penelitian. Tahap selanjutnya, hasil interpretasi citra dan data survei lapang
dijadikan sebagai dasar penentuan kawasan pesisir yang peka terhadap tumpahan
minyak berdasarkan parameter IKL. Parameter yang digunakan untuk meliputi
ekologi perairan, karakteristik pantai, jarak pemukiman dari perairan dan kawasan
bernilai penting. Parameter IKL tersebut dianalisis secara spasial dengan metode
Cell Base Modelling sehingga menghasilkan empat peta tematik berbasis raster.
Peta-peta tematik tersebut dilakukan raster overlay sehingga menghasilkan peta
IKL wilayah pesisir.
Hasil analisis spasial data raster untuk pemetaan IKL di wilayah perairan
Pulau Pramuka, Panggang, Semak Daun clan Karang Congkak, Kepulauan Seribu
diperoleh kisaran nilai kepekaan dari IKL I (tidak peka) hingga V (sangat peka).
Berdasarkan Gambar I I, setiap kriteria IKL memiliki warna yang berbeda begitu
juga dengan luasan wilayahnya (Tabel 5). Luas total wilayah daerah kajian IKL
ini seluas 1518, 82 Ha. Tingkat kepekaan I (tidak peka) seluas 410,48 Ha disusui
tingkat kepekaan I1 (kurang peka) seluas 357,48 Ha, tingkat I11 seluas 282,67 Ha,
selanjutnya adalah tingkat kepekaan IV (peka) seluas 109,61 Ha dan yang terakhir
adalah tingkat kepekaan V (sangat pelta) seluas 358,57 Ha.
PEMETAAN INDEKS KEPEKAAN LINGKUNGAN
TERHADAP TUMPAHAN
YAK DI PESISIR PULAU
PRAMUKA, PANGGANG, SEMAK DAUN DAN KARANG
CONGKAK, KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleb gelar Sarjana Perikanan
pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Institut Pertanian Bogor
Oleh:
Amal Fatullah Randy
064104038
PROGRAM STUD1 ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN
NAN DAN ILMU KELAUTAN
PAKULTAS PE
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009
OHak cipta milik Amal Fatullah Randy, tahun 2009
Hak cipla dilindungi
Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari
Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam
bentuk apapun, baik cetak, fotokopi, microfilm, dan sebagainya
Judul
: PEMETAAN INDEKS KEPEKAAN LINGKUNGAN
Nama
NRP
TEREADAP TUMPAHAN MINYAK DI PESISIR
PULAU PRAMUKA, PANGGANG, SEMAK DAUN
DAN KARANG CONGKAK, KEPULAUAN SERIBU,
JAKARTA.
:Amal Fatullah Randy
: C64104038
Disetujui,
Pembimbing I
Pembimbing I1
NIP. 132 $11 912
I
Mengetahui,
Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Tanggal lulus: 6 Mei 2009
KATA PENGANTAR
Penulis mengucapkan puji syukur pada Allah SWT atas segala rahmat dan
hidayah-Nya sehingga skripsi berjudul "Pemetaan Indeks Kepekaan
Lingkungan Terhadap Tumpahan Minyak di Pesisir Pulau Pramuka,
Panggang, Semak Daun dan Karang Congkak, Kepulauan Seribu, Jakarta",
dapat terselesaikan dengan baik.
Penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginyakepada:
1. Bapak Dr. Ir. Jonson Lumban Gaol, M.Si dan Bapak Syamsul Bahri Agus,
S.Pi, M.Si selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan banyak
pengetahuan, biinbingan, dan arahan selarna proses penulisan skripsi.
2. Bapak Dr. Ir. Bisman Nababan, M.Sc sebagai dosen penguji dan Bapak
Dr. Ir. Henry M. Manik, M.T selaku komisi pendidikan dari Program Studi
Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan. Terima kasih atas saran dan
kritik yang diberikan untuk hasil penelitian yang lebih baik.
3. Bapak Dr. Ir. Vincentius P. Siregar, DEA selaku ketua Tim Riset Intensif
Dasar 2008 yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk turut
serta dalam kegiatan penelitian.
4. Kedua orang tua tercinta Bapak Amat Amin Rufat, Ibu Rusilowati, kakak
dan adik yang luar biasa. Terima kasih atas limpahan doa dan kasih
sayang yang diberikan.
5. Alfina Khaira dan Keluarga Sarkim atas dukungan doa dan semangat
dalam penyelesaian skripsi ini.
6 . Yudha Bayu Nursalam, Dion Alan Nugraha, Asep Ma'mun dan Patrick
Adi Nugroho, sahabat dalam suka dan duka.
7. Teman-teman ITK 4 1 atas persahabatan yang indah, penuh dengan
pelajaran dan hikrnah, selama menempuh masa kuliah.
8. Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya penelitian dan
penulisan skripsi ini
Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.
Bogor, 6 Mei 2009
Amal Fatullah Randy
DAFTAR IS1
Halaman
DAFTAR TABEL ...............................................................................
xi
DAFTAR GAMBAR ................................................................................
xii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ xiii
.
1 PENDAHULUAN................................................................................
1
1.1. Latar belakang .....................................:.................................... 1
1.2. Tujuan ............................................................................................ 3
.
2 TINJAUAN PUSTAKA
......................
..
2.1. Ekosistem pesisir .............................................................................
2.1.1. Terumbu karang ............................ ......
............................
2.1.2. Padang lamun ........................................................................
2.3. Dampak pencemaran minyak terhadap sumber daya perikanan .....
2.4. Pemetaan Indeks Kepekaan Lingkungan (IKL) di ekosistem
pesisir terhadap tumpahan minyak ..................................................
2.5. Sistem Informasi Geografis (SIG) ...................................................
2.5.1. Definisi SIG
2.5.2. Peranan dan manfaat SIG.................................................
2.5.3. Komponen SIG .....................................................................
2.5.4. Jenis data SIG........................................................................
2.5.5. Struktur data raster dan analisis Cell Base Modelling ..........
2.6. Penginderaan jauh
2.6.1. Definisi dan
2.6.2. Citra satelit Formosat-2 .........................................................
.
3 METODOLOGI ..........................
.
.
................................................
3.1. Waktu dan lokasi penelitian ......................................................
3.2. Alat .....................
3.3. Jenis dan sumber
. . data ...................................................................
3.4. Metode penelltian ....................
.
...................................................
..
3.5. Analisis data citra satelit............................................................
3.5.1. Cropping ...........................
.. ..............................................
3.5.2. Koreksi geometrik ............................................................
3.5.3. Koreksi radiometrik ..............................................................
3.5.4. Penajaman. citra
. .....................................................................
3.5.5. Klasifikasi citra ................................................................
3.6. Matriks kesesuaian untuk pemetaan IKL ..................... .
.
............ 32
35
3.7. Analisis spasial untuk pemetaan IKL .........................................
.
4 HASIL DAN PEIWBAHASAN.............................................................38
4.1. Analisis spasial untuk substrat dasar perairan ................................. 38
4.2. Analisis spasial untuk jarak pemukiman dari perairan .................... 44
4.3. Analisis spasial untuk karakteristik pantai .................................
46
4.4. Analisis spasial untuk kawasan bernilai penting ............................. 47
4.5. Analisis Indeks Kepekaan Lingkungan ...........................................51
.
5 K E S W U L A N DAN SARAN.............................................................
56
5.1. Kesimpulan......................................................................................
56
5.2.Saran .....................
.
.
....................................................................
57
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................
58
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Karakteristik satelit Formosat-2 ..............................................................
22
2 . Kategori bentuk pertumbuhan (lifeform) karang ...................................
27
3. Matriks kesesuaian untuk pemetaan IKL di pesisir ................................
33
4 . Matriks kesesuaian untuk pemetaan IKL di pesisir (hasil modifikasi) ... 33
5. Luas wilayah IKL berdasarkan kriteria kepekaan lingkungan
perairan Pulau Pramuka. Panggang. Semak Daun dan Karang
Congkak. Kepulauan Seribu. Jakarta ..........................
.
....................... 52
DAFTAR GARlSAR
Halaman
1. Penginderaanjauh dengan menggunakan energi elektromagnetik
dan alat yang digunakan dalam perolehan serta analisis data sumber
daya alam (Sutanto, 1992) ....................... .
.
..................................20
2. Peta lokasi penelitian IKL perairan Pulau Pramuka, Panggang,
Semak Daun dan Karang Congkak, Kepulauan Seribu, Jakarta ............. 24
3. Peta komposit RGB 421 perairan Pulau Pramuka, Panggang,
Semak Dam dan Karang Congkak, Kepulauan Seribu, Jakarta .............
38
4. Peta penajaman citra dengan algoritma Lyzenga perairan
Pulau Pramuka, Panggang, Semak Daun dan Karang Congkak,
Kepulauan Seribu, Jakarta....................................................................... 39
5. Histogram hasil penerapan algortima Lyzenga ..................................
40
6. Peta klasifikasi ekologi perairan Pulau Pramuka, Panggang,
Semak Daun dan Karang Congkak, Kepulauan Seribu, Jakarta ............. 41
7. Histogram persen penutupan substrat dasar (%) di 15 stasiun
pengamatan substrat dasar perairan ........................................................ 42
8.Peta buffer jarak pemukiman dari perairan Pulau Pramuka,
Panggang Semak Daun dan Karang Congkak, Kepulauan,
45
Seribu, Jakarta .........................................................................................
9. Peta karakteristik pantai perairan Pulau Pramuka, Panggang,
Semak Daun dan Karang Congkak, Kepulauan Seribu, Jakarta ............. 46
10. Peta kawasan bernilai penting perairan Pulau Pramuka, Panggang,
Semak Daun dan Karang Congkak, Kepulauan Seribu, Jakarta ............. 49
11. Peta Indeks Kepekaan Lingkungan perairan Pulau Pramuka,
Panggang Semak Daun dan Karang Congkak, Kepulauan Seribu,
52
Jakarta .....................................................................................................
DAFTAR LAMP
Halaman
1. Hasil rata-rata nilai digital setiap training area karang dan contoh
perhitungan koefisisen attenuasi (KUKj) dalam proses algoritma
2. Data persen penutupan substrat dasar perairan Pulau Pramuka,
Panggang, Semak Daun dan karang Congkak, Kepulauan Seribu,
Jakarta .....................................................................................................64
3. Data kerapatan lamun hasil survei lapang TERANGI tahun 2007 ......... 65
..
4. Dokumentasi penelltlan .......................................................................
68
1.1.
Latar Belakang
Perairan Indonesia memiliki peran yang penting bagi kehidupan
penduduknya. Keanekaragaman hayati dan potensi sumber daya perikanan yang
tinggi menjadi sumber makanan yang kaya akan protein. Selain itu perairan juga
dapat dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi, agroindnstri, eksploitasi minyak,
sarana transportasi dan pelabuhan perikanan.
Pemanfaatan dan eksplorasi sumber daya yang tidak diimbangi oleh upaya
konservasi akan menyebabkan ancaman yang sangat serius bagi keberlanjutan
sumber daya. Limbah antrophogenik dan tumpahan minyak di laut merupakan
sumber utama yang mengancam kelestarian sumber daya. Tumpahan minyak ini
dapat terjadi karena kebocoran pipa minyak, tabrakan kapal tanker, ballasf water,
kegiatan eksploitasi minyak di lepas pantai, dan kegiatan bongkar muat minyak.
Salah satu wilayah di Indonesia yang secara berkala terkena dampak
tumpahan minyak adalah Kepulauan Seribu. Wilayah Kepulauan Seribu
merupakan kawasan Taman Nasional Laut. Wilayah ini secara reguler terkena
dampak pencemaran minyak dua kali dalam setahun, yaitu antara bulan
Desember-Januari, dan antara bulan April-Mei. Pencemaran akibat tumpahan
minyak (oilspill) ini paling besar terjadi pada bulan Oktober 2004 yang melanda
Pulau Pramuka, Pulau K a ~ y adan Pulau Panggang. Jenis minyak diperkirakan
minyak mentah (crude oil). Sumber pencemaran minyak diduga berasal dari
industri minyak yang berlokasi di Barat Laut Kepulauan Seribu. Besaran
pencemaran seperti hamparan lapangan dengan luas sekitar 1 km2 dan seperti alur
sungai sepanjang sekitar 3 km, dengan ketebalan sekitar 3-7 cm (Taman Nasional
Kepulauan Seribu, 2004 in Ali et al., 2006).
Dampak negatif dari tumpahan minyak dan limbah antrophogenik ini
antara lain adalah rusaknya ekosistem pesisir seperti terumbu karang, hutan bakau
dan padang lamun yang merupakan sumber nutrien utama, feeding, spawning dan
nursery ground bagi ikan, rusaknya lokasi-lokasi budidaya perikanan, matinya
ikan di perairan di daerah tangkapan dan lain-lain. Salah satu usaha untuk
mengurangi dampak pencemaran tumpahan minyak adalah dengan memetakan
tingkat kerentanan lingkungannya.
Pemetaan IKL adalah sistem klasifikasi dan rangking kepekaanlkerentanan
suatu ekosistem pesisir dari ancaman tumpahan minyak yang menjadi komponen
utama dalam program rencana pembangunan kelautan clan pesisir berbasis
lingkungan. Setiap wilayah pesisir mempunyai tingkat kerentanan yang berbeda
terhadap gangguan lingkungan yang diterima, baik dari faktor alam maupun
akibat aktivitas manusia. Pemetaan IKL dapat dilakukan melalui data lingkungan
hasil pengukuran insitu maupun data penginderaan jauh yang diintegrasikan
dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Peinetaan IKL ini juga dapat
digunakan untuk membuat zona-zona tingkat kerentanan terhadap tumpahan
minyak di wilayah pulau-pulau kecil. Zonasi tingkat kerentanan ini dapat
dijadikan sebagai acuan untuk menghitung klaiin ganti rugi atau untuk menyusun
berbagai kebijakan yang berhubungan dengan rencana pengelolaan wilayah
pesisir.
1.2.
Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah memetakan Indeks Kepekaan
Lingkungan terhadap tumpahan minyak di pesisir Pulau Pramuka, Pulau
Panggang, Semak Daun dan Karang Congkak, Kepulauan Seribu, Jakarta.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Ekosistem pesisir
Ekosistem pesisir adalah suatu sistem lingkungan perairan yang
merupakan tempat berlangsungnya hubungan timbal balik antara jasad hidup
perairan (komponen biotik) dengan lingkungan fisik perairan (komponen abiotik)
termasuk antar komponen biotik itu sendiri. Wilayah daratan lingkungan ini
mencakup daerah yang masih terkena pengaruh percikan air laut atau pasang surut
dan wilayah perairan meliputi daerah paparan benua. Daerah pesisir ini memiliki
potensi sumberdaya alam daratan yang sangat terbatas, tetapi sebaliknya
dikaruniai sumberdaya kelautan dan jasa lingkungan yang sangat melimpah. Hal
ini merupakan aset yang strategis untuk dikembangkan sebagai basis kegiatan
ekonomi berdasarkan pemanfaatan ekosistem sumberdaya alam dan jasa-jasa
lingkungannya (Dahuri, 1998).
Berdasarkan sifatnya, ekosistem pesisir dapat bersifat alami (natural) atau
buatan (man made). Ekosistem alaini yang terdapat di wilayah pesisir antara lain
terumbu karang, hutan mangrove, padang lamun, pantai berpasir, pantai berbatu.
Ekosistem pesisir tersebut tergenang air secara terus menerus dan juga ada yang
hanya sesaat. Ekosistem buatan antara lain adalah tambak, sawah pasang surut,
kawasan pariwisata, kawasan industri dan kawasan peinuhman (Dahuri, 2003).
2.1.1.
Terumbu karang
Menurut Nybakken (1992) teruinbu adalah endapan-endapan masf yang
penting dari kalsium karbonat terutama yang dihasilkan oleh karang (filum
Cnidaria, kelas Anthozoa, ordo Madreporia = Scleractinia) dengan sedikit
4
tambahan dari alga berkapur dan organisme-organisme lain yang mengeluarkan
kalsium karbonat. Meskipun karang dite~nukandi lautan suluruh dunia, baik di
perairan kutub maupun perairan ugahari seperti yang ada di daerah tropik, tetapi
hanya di daerah tropik terumbu dapat berkembang. Hal ini disebabkan oleh
adanya dua kelompok karang yang berbeda, yaitu karang hermatipik dan karang
ahermatipik.
Karang hermatipik dapat menghasilkan terumbu sedangkan ahermatipik
tidak. Karang ahermatipik tersebar di seluruh dunia, tetapi karang hermatipik
hanya ditemukan di wilayah tropik. Perbedaan yang mencolok dari karang ini
adalah bahwa di dalam jaringan karang hermatipik terdapat sel-sel tumbuhan yang
bersimbiosis (hidup bersama) yang dinamakan zooxanthellae, sedangkan karang
ahwmatipik tidak bersimbiosis dengan zooxanlhellae.
Menurut Nybakken (1992) terumbu karang hanya hidup pada perairan
yang dibatasi permukaan isoterm 20°C. Perkembangan terumbu karang paling
optimal terjadi di perairan dengan suhu rata-rata tahunan berkisar 25-29 "C.
Namun terumbu karang dapat mentoleransi suhu sampai selatar 36-40 "C.
Tennnbu karang juga dibatasi oleh salinitas. Karang hermatipik adalah organisme
karang lautan sejati dan hanya dapat bertahan pada kadar salinitas air laut yang
normal (32%0- 35%0).
Faktor lain yang membatasi perkembangan terumbu karang adalab
kedalaman. Terumbu karang tidak dapat berkembang di perairan yang lebih
dalam dari 50-70 meter. Pada umumnya terumbu tumbuh kurang lebih pada
kedalaman 25 meter. Alasan untuk pembatasan kedalaman berhubungan dengan
kebutuhan karang hermatipik akan cahaya. Cahaya yang cukup hams tersedia
agar proses fotosintesis oleh zooxanthellae simbiotik dalam jaringan karang dapat
terlaksana. Tanpa cahaya yang cukup, laju fotosintesis akan berkurang dan
bersama dengan itu kemampuan karang untuk menghasilkan kalsium karbonat dan
membentuk terumbu akan berkurang pula. Kondisi yang paling baik untuk
pertumbuhan terumbu karang adalah pada kedalaman antara 3-10 meter, pada
kedalaman antara 10-15 meter merupakan daerah transisi. Daerah yang kurang
optimal untuk pertumbuhan terumbu karang adalah pada kedalaman antara 15-20
meter.
Pada umumnya terumbu karang lebih berkembang pada daerah yang
mengalami gelombang besar. Koloni karang dengan kerangka-kerangka yang
padat dan massive dari kalsium karbonat (CaCO3) tidak akan rusak oleh
gelombang yang kuat. Pada saat yang saina gelombang-gelombang itu
memberikan sumber air yang segar, memberikan oksigen dalam air laut d m
menghalangi pengendapan pada koloni. Gelombang juga membawa nutrien dan
unsur hara serta plankton yang diperlukan oleh koloni karang. Tetapi jika
hempasan gelombang terlalu h a t maka akan merusak struktur dari karang itu
sendiri.
Endapan memiliki pengaruh negatif terhadap perkembangan terumbu
karang. Karang hermatipik tidak dapat bertahan dengan adanya endapan yang
berat yang menutupi dan menyumbat stnktur pemberian makanannya. Endapan
dalam air juga mempunyai akibat sampingan yang negatif yaitu mengurangi
cahaya yang dibutuhkan untuk fotosintesis oleh zooxanthellae dalam jaringan
karang. Akibatnya, perkembangan terumbu karang berkurang atau menghilang
dari daerah-daerah pengendapannya.
Terumbu karang mempunyai beberapa fungsi antara lain sebagai berikut
(Suharsono, 1996):
1. Gudang keanekaragaman hayati laut.
2. Tempat mencari makan weeding ground), berpijah (spawning ground),
daerah asuhan (nursery ground) dan tempat berlindung hewan laut
lainnya.
3. Tempat berlangsung siklus biologi kimiawi dan fisik secara global dan
mempunyai tingkat produktivitas yang tinggi.
4. Sumber bahan makanan yang dapat dikonsumsi secara langsung maupun
tidak langsung oleh masyarakat.
5. Sebagai pelindung pantai dari hempasan ombak yang menyebabkan abrasi.
6 . Mempunyai nilai yang penting sebagai pelindung dan penyedia bagi
perikanan pantai termasuk di dalamnya sebagai tempat budidaya hasil laut.
7. Sebagai bahan bangunan dan untuk membuat ornament (hiasan) aquarium.
8. Sebagai kawasan Taman Nasional.
9. Sebagai daerah rekreasi, sarana penelitian dan pendidikan.
2.1.2. Padang lamun
Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (angiospermae) yang sudah
sepenuhnya menyesuiakan diri hidup terbenam di dalam laut. Tumbuhan ini
mempunyai beberapa sifat yang memungkinkannya hidup di lingkungan laut,
yaitu:
1. Mampu hidup di media air asin.
2. Mampu berfungsi normal dalam keadaan terbenam.
3. Mempunyai sistem perakaran jangkar yang berkembang baik.
4. Mampu melaksanakan penyerbukan dan daur generatif daiam keadaan
terbenam @en Hartog, 1970 in Dahuri, 2003)
Lamun memiliki perbedaan yang nyata dengan tumbuhan yang hidup
terbenam dalam laut lainnya, seperti rumput laut (keaweeds). Tanaman lamun
memiliki bunga, dan buah yang kemudian berkembang menjadi benih. Lamun
juga memiliki sistem perakaran yang nyata, dedaunan, sistem transportasi internal
untuk gas dan nutrien serta stomata yang berfungsi dalam pertukaran gas. Lamun
tumbuh subur terutama di daerah terbuka pasang surut dan perairan pantai atau
goba yang dasarnya berupa lumpur, pasir, kerikil dan patahan karang mati sampai
dengan kedalaman hingga lima meter.
Menurut Dahuri (2003) parameter lingkungan utama yang ~nempengaruhi
distribusi dan pertumbuhan dan ekosistem padang lamun adalah:
1. Kecerahan: lamun membutuhkan intensitas cahaya yang tinggi untuk
melaksanakan proses fotosintesis.
2. Suhu: kisaran suhu optimal bagi lamun adalah 28-30 "C. Kemampuan
proses fotosintesis akan menurun dengan tajam apabila suhu perairan
berada pada diluar kisaran optimal tersebut.
3. Salinitas: nilai salinitas opti~numuntuk spesies lamun adalah 35 9/00. Salah
satu faktor yang menyebabkan kerusakan ekosistem padang lamun adalah
meningkatnya salinitas yang disebabkan oleh berkurangnya suplai air
tawar dan sungai.
4. Substrat: padang lamun hidup pada berbagai tipe substrat. Kedalaman
substrat berfungsi dalam ~nenjagastabilitas sedimen yang mencakup dua
hal, yaitu perlindungan tanaman dari arus air laut, dan tempat pengolahan
serta pemasok nutrien. Kedalanan sedimen yang cukup merupakan
kebutuhan utama untuk pertumbuhan dan perkembangan habitat lamun.
5. Kecepatan arus perairan: produktivitas lamun juga dipengaruhi oleh
kecepatan arus perairan. Pada saat kecepatan arus sekitar 0,5 mls, jenis
turtle grass (Tlzalassia testudinum) mempunyai kemampuan maksimal
untuk tumbuh.
2.1.3. Hutan rnangrove
Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis dan
subtropis yang didominasi oleh beberapa jenis pohon-pohon yang khas atau
semak-semak yang memiliki kemampuan tumbuh dan berkembang pada daerah
pasang surut pantai berlumpur. Habitat mangrove memiliki beberapa zonasi,
diantaranya adalah daerah yang paling dekat dengan laut, dengan substrat agak
berpasir, sering ditumbuhi oleh Avicenia Spp. Pada u m m y a zona ini berasosiasi
dengan Sonneratia Spp. yang tumbuh pada lumpur dalam yang kaya bahan
organik. Habitat hutan mangrove yang lebih ke arah darat umumnya didominasi
oleh Rhizophora Spp. Zona ini juga dapat dijumpai Bruguiera Spp dan
Xilocarpus Spp. Zona berikutnya didominasi oleh Bruguiera Spp. Zona transisi
antara hutan mangrove dengan hutan daratan rendah biasa ditumbuhi oleh Nypa
fiuticans, dan beberapa jenis spesies palem lainnya. Hutan mangrove dapat
berfungsi sebagai peredam gelombang, angin badai, pelindung dari abrasi,
penahan lumpur dan penahan sediinen serta daerah asuhan, daerah mencari
makanan, dan daerah pemijahan berbagai jenis ikan, udang, dan biota laut lainnya
(Nybakken, 1992).
2.1.4.
Pantai
Pantai adalah bagian dari zona intertidal ekosistem pesisir. Zona intertidal
merupakan daerah terkecil dari semua daerah yang terdapat di samudra dunia.
Zona ini merupakan pinggiran yang sempit sekali, hanya beberapa meter luasnya,
terletak diantara air tinggi dan air rendah. Luas daerah ini sangat terbatas, namun
disini terdapat variasi faktor lingkungan yang terbesar dibandingkan dengan
daerah bahari lainnya. Variasi ini dapat terjadi pada daerah yang hanya berbeda
jarak beberapa sentimeter saja. Pantai merupakan perluasan dari lingkungan
bahari dan dihuni oleh organisme yang hampir semuanya merupakan organisme
bahari. Tengah waktu daerah ini merupakan daratan, fauna dan flora darat tidak
memasuki daerah tersebut, kecuali pada bagian yang paling pinggir (Nybakken,
1992).
Menurut Nybakken (1992) pantai terbagi menjadi tiga tipe yaitu pantai
berbatu, pantai berpasir dan pantai berlumpur. Pantai berbatu tersusun dari bahanbahan yang keras, merupakan daerah yang paling padat makroorganismenya dan
mempunyai keragaman terbesar baik untuk spesies hewan maupun tumbuhan.
Pantai pasir intertidal umum terdapat di seluruh dunia dan lebih terkenal dari pada
pantai berbatu karena pantai pasir ini merupakan tempat yang dipilih untuk
melakukan berbagai aktivitas rekreasi. Pantai berpasir tidak dihuni oleh
kehidupan makroskopik Organisme tentu saja tidak tarnpak karena faktor-faktor
lingkungan yang beraksi di pantai ini membentuk kondisi dimana seluruh
organisme mengubur dirinya dalam substrat. Pantai berlumpur merupakan pantai
yang lebih terlindung dari gerakan ombak, memiliki butiran yang lebih halus dan
mengakumulasi lebih banyak bahan organik sehingga menjadi berlumpur.
2.2.
Dampak pencemaran minyak terhadap ekosistem pesisir
Pada umumnya, pencemaran minyak di laut disebabkan oleh tumpahan
minyak mentah dari tempat-tempat pengeboran minyak lepas pantai atau berasal
dari kecelekaan kapal tangki. Minyak mentah yang ada di laut biasanya terapung
walaupun beberapa komponen mungkin tenggelam. Apabila jauh dari daratan,
minyak-minyak yang terapung tersebut mungkin sedikit sekali pengaruhnya
terhadap sebagian besar jasad hidupplanktonik dan nektonik.
Pencemaran minyak juga dapat menyebabkan dampak negatif terhadap
ekosistem pesisir. Minyak melapisi wilayah subtidal dan intertidal yang dangkal
serta merugikan komunitas didalamnya. Pada mulanya, kerusakan inendekati
sempurna, lambat laun akan pulih kembali. Pencemaran minyak di wilayah
pesisir berdampak lebih berat dibandingkan dengan pencemaran di laut terbuka.
Hal ini disebabkan karena terdapat berbagai macam sumber daya alam seperti
ekosistem terumbu karang, padang lamun, hutan mangrove dan organisme yang
berinteraksi di dalamnya (Nybakken, 1992).
Terumbu karang sangat sensitif terhadap tumpahan minyak karena
merupakan ekosistem yang dipengaruhi oleh fraksi hidrokarbon yang pecah dan
berada di perairan. Kemampuan minyak merusak binatang karang tergantung
pada tipe terumbu karang, zonasi dan kegiatan pasang surut (Fakultas Perikanan
IPB, 1994). Minyak adalah racun untuk berbagai spesies hewan dan tumbuhan
yang berasosiasi dengan terumbu karang serta mempengaruhi pemulihan kondisi
terumbu karang (misalnya Acropora Spp., Montipora Spp., Pollicipora Spp.) yang
memakan waktu beberapa tahun (Mathias dan Langham in Dahuri, 2000). Potensi
dari dampak negatif tumpahan minyak ini juga mempengaruhi produktivitas
primer terumbu karang, kelimpahan ikan hias, potensi pariwisata dan
perlindungan wilayah pesisir dari gelombang.
Padang lamun merupakan ekosistem penting sebagai habitat invertebrata,
ikan dan beberapa mamalia laut. Walaupun dampak dari tumpahan minyak
memiliki pengaruh yang relatif kecil, tetapi pecahan dari fraksi petroleum dapat
memberikan pengamh secara langsung pada lamun (Dahuri, 2000). Padang
lamun hidup di daerah subtidal yang biasanya tidak dipengaruhi langsung oleh
tumpahan minyak. Pencemaran minyak yang terjadi pada padang lamun dapat
menggangu kegiatan makan dan bertelur beberapa jenis ikan dan biota laut
lainnya yang berhabitat di daerah tersebut. Banyaknya butiran minyak yang tetap
tertinggal di padang lamun mempunyai potensi besar bagi terjadinya bioakumulasi
minyak dalam jaringan tubuh biota (Fakultas Perikanan IPB, 1994).
Pencemaran minyak terhadap hutan mangrove berdampak pada penutupan
akar-akar tunjang dan akar nafas (pneumatophor), sehingga menghalangi transfer
oksigen dan mematikan pohon. Lentisel, yang terdapat dalampneumatophor,
berfungsi dalam pertukaran gas (CO*dan 0 2 ) akan tertutup oleh minyak, sehingga
tingkat oksigen dalam ruang akar nafas akan turun hingga 1-2% dalam waktu dua
hari (Baker, 1991). Pembentukan benih mangrove dari jenis Bruguiera dan
Rhizopora akan terhambat pada substrat dasar, serta sejumlah besar minyak akan
tertinggal, mengendap di sedimen dan akan bersifat toksik. Apabila biji atau bibit
terlapisi minyak akan menyebabkan rusaknya proses germinasi (Clark, 1986 in
Barkey, 2005). Menurut Baker (1991) semai tidak tumbuh sampai hampir 6 bulan
di daerah yang terkena minyak. Epifauna seperti tiram dan biota lainnya yang
hidup di akar-akar bakau yang terbuka akan binasa dan tidak menetap lagi pada
akar-akar pohon bakau yang mati. Oleh sebab itu pemulihan hutan mangrove
membutuhkan waktu puluhan tahun.
2.3.
Dampak pencemaran minyak terhadap sumber daya perikanan
Sloan (1993) mengemukakan bahwa minyak dapat berdampak langsung
terhadap ikan yang berupa pengaruh racun secara langsung Cjangka pendek),
pengaruh fisik (mekanis) dan kontaminasi kronis (jangka panjang). Pengaruh akut
secara langsung mencakup kematian, menjadi lemah karena adanya gangguan
sistem saraf pusat, pengaturan tekanan osmosis tidak berfungsi dan metabolisme
terganggu. Gangguan pada sistem saraf pusat dapat menyebabkan kematian
secara langsung atau mematikan secara tidak langsung. Perubahan tingkah laku
yang menyebabkan ikan tidak mampu lagi inenghindar dari predator atau
melakukan fhgsi-fungsi vital lainnya. Selain itu minyak dapat memperlambat
pertumbuhan, penetasan lebih dini, perubahan pada proses pertumbuhan dan
proses genetis. Ikan inuda lebih rentan terhadap minyak karena ikan tersebut
hidup lebih dekat dengan permukaan air.
Menurut International Organimtion MaritimeIIMO (2000) dampak dari
tumpahan minyak terhadap stok ikan aka11terlihat dalam jangka waktu 2 tahun
atau lebih. Faktor yang mempengaruhi terperangkapnya ikan di suatu wilayah
yang terkena tumpahan minyak meliputi kemampuan ikan dewasa menghindar
dari tumpahan minyak, kemampuan ikan dewasa dan juvenil untuk mendiami
kembali wilayah yang terkena tumpahan minyak setelah tumpahan minyak hilang,
penyebaran dan transport telur ikan serta larva dari area yang berdekatan.
Dampak lainnya berkaitan dengan kegiatan perikanan di wilayah yang terkena
tumpahan minyak. Pelabuhan perikanan tidak dapat digunakan atau tertutup
untuk mencegah pencemaran tumpahan niinyak. Kapal clan alat tangkap tercemar
oleh minyak. Minyak yang terserap atau terdapat pada ikan akan menghilangkan
kepercayaan konsumen terhadap kualitas hasil tangkapan laut dalam waktu yang
lama. Pencemaran miny ak juga dapat mengakibatkan gangguan kesehatan bagi
nelayan.
2.4.
Pemetaan Indeks Kepekaan Lingkungan (m)
di ekosistem pesisir
terhadap tumpahan minyak
Indeks Kepekaan Lingkungan adalah gambaran nilai-nilai biologi, sosial-
ekonomi dan sosial-budaya pada suatu wilayah pesisir dan laut tertentu yang
digunakan sebagai prioritas respon terhadap tumpahan minyak. Perkeinbangan
pemetaan IKL untuk ekosistem wilayah pesisir dan laut telah disusun di banyak
Negara sejak beberapa tahun, tetapi belum ada suatu metodologi yang baku.
Indeks Kepekaan Lingkungan yang telah disusun hanya berdasarkan nilai biologi
atau kepekaan ekologi pada habitat pesisir dan laut. Tingkat kepekaan suatu
ekosistem pesisir dan laut terhadap tumpahan minyak tidak hanya berpengaruh
pada faktor ekologi, tetapi juga sosial-ekonomi, sosial-budaya bahkan politik.
Tingkat kerentanan (vulnerability rating) suatu ekosistem terhadap
dampak kegiatan pembangunan bergantung pada respon ekosistem tersebut
terhadap peluang terjadinya dampak atas ekosistem tersebut. Respon ekosistem
pesisir terhadap suatu dampak ada yang sangat peka (sensitive) sampai yang tidak
peka, bergantung pada karakteristik biologi dan ekologi dari ekosistem setempat.
Peka dalam hal ini artinya jika ekosistem tersebut terkena suatu dampak, maka
ekosistem tersebut akan mudah rusak dan sukar untuk kembali pulih seperti
keadaan sebelumnya (Barkey, 2005).
Penelitian-penelitian mengenai tingkat kepekaan lingkungan dalam
berbagai bidang kajian telah banyak dilakukan, antara lain oleh Ali et a1 (2006)
menyusun model spasial untuk diaplikasikan dalam penentuan zona tingkat
kerentanan lingkungan. Wilayah studi adalah pulau Pramuka, pulau Panggang
dan pulau Pramuka, Kepulauan Seribu yang sering terkena tumpahan minyak.
Konsep model spasial yang digunakan adalah proses tumpang susun masingmasing parameter fisik dinamika pesisir dimana setiap data spasial parameter
fisiknya diperoleh dari citra SPOTS, peta batimetri dan informasi tinggi dan
perioda gelombang. Peringkat setiap parameter fisik ditentukan dari hasil kajian
analitik gelombang, arus pasut, batimetri dan arus menyusur pantai. Hasil
akhimya adalah peta zonasi tingkat kerentananan lingkungan yang dibagi menjadi
tiga kelas yaitu agak rentan, rentan dan sangat rentan.
Barkey (2005) memetakan IKL wilayah pesisir Kabupaten Tuban, Jawa
Timur. Pemetaan ini dilakukan bersamaan dengan adanya rencana pemasangan
jalur pipa darat hingga laut dari lapangan minyak Banyu Urip di Kabupaten
Bojonegoro ke fasilitas pantai di Kecamatan Palang Kabupaten Tuban. Daerah
pesisir Kabupaten Tuban merupakan daerah yang potensial terkena dampak
pencemaran minyak.
Pemetaan IKL juga dilakukan di negara-negara maju seperti India, Jepang
dan Amerika Serikat. Saxena et a1 (2002) dari Universitas Osmania, Hyderabad,
India memetakan IKL melalui integrasi penginderaan jauh dengan SIG di pesisir
Barat India. Teluk Kakinada merupakan daerah estuari, memiliki green-belt
mangrove yang terdiri dari 15 spesies mangrove, 8 famili dan 10 genus. Sumber
data citra yang digunakan adalah citra satelit IRS ID (LISS-111). Gas alam dan
petrolium yang terkandung dalam teluk Kakinada mengakibatkan ancaman yang
cukup serius bagi lingkungan. Ancaman terhadap kerusakan lingkungan juga
berasal dari aktifitas penduduk seperti pemukiman, industri dan tempat rekreasi di
pinggiran teluk Kakinada sehingga diperlukan tindakanpreventifdengan
memetakan IKL. Penilaian IKL berdasarkan parameter fenomena pasang surut
dan energi gelombang, kemiringan garis pantai, dan produktivitas sumberdaya
alam.
Beberapa penelititan mengenai IKL sebelumnya, tennasuk juga tiga
contoh aplikasi di atas, telah menggabungkan faktor ekologi, biofisik perairan dan
faktor sosial. Walaupun demikian, belum dipertimbangkan faktor lain yang
mempunyai pengaruh ataupun dampak buruk terhadap adanya pencemaran
minyak pada perairan sekitar kawasan pesisir pantai. Faktor-faktor tersebut
adalah karakteristik fisik pantai dan tempat-tempat yang bemilai penting bagi
manusia.
2.5.
Sistem Informasi Geografis (SIG)
2.5.1. Definisi SIG
Sistein Informasi Geografis adalah sistem komputer untuk memasukkan
(capturing), menyimpan, memeriksa, mengintegrasikan, memanipulasi,
menganalisis, dan menampilkan, data-data yang berhubungan dengan posisi-posisi
di pennukaan bumi (Rice, 2000 in Prahasta, 2001). SIG adalah sistem yang
berbasiskan komputer yang digunakan untuk menyimpan dan memanipulasi
informasi-informasi geografis. SIG adalah sistem yang dirancang untuk
menyimpulkan, menyimpan dan menganalisis objek-objek dan fenomena dimana
lokasi geografis merupakan karakteristik yang penting atau kntis untuk dianalisis
(Aronoff, 1989)
2.5.2. Peranan dan manfaat SIG
Penggunaan SIG pada pengelolaan sumber daya alam sangat dianjurkan
dan telah dikembangkan untuk berbagai tipe sumber daya alam yang ada.
Keuntungan pengunaan SIG pada perencanaan dan pengelolaan sumber daya alam
antara lain adalah mampu mengintegrasikan data dari berbagai fonnat data
(grafik, teks, digital, dan analog) dari berbagai sumber, kemampuan yang baik
ddam pertukaran data diantara berbagai macam disiplin ilmu dan lembaga terkait.
Penggunaan SIG juga dapat memproses dan menganalisis data lebih efisien dan
efektif dari pada dikerjakkan secara manual. SIG ineinberikan kemudahan dalam
permodelan, pengujian dan perbandingan beberapa altematif kegiatan sebeluin
dilakukan aplikas (Prahasta, 2001).
2.5.3. Komponen SIG
Sistem Informasi Geografis meinbutuhkan beberapa komponen dalam
pengoperasian data spasial maupun atribut geografis bumi. Komponen sistein
komputer, meliputi perangkat PC dan operating sytem ( 0 s ) yang dapat
menjalankan SIG. OSyang digunakan berbasis Windows untuk PC. Perangkat
tambahannya adalah monitor dan printer untuk interpretasi peta.
Perangkat lunak SIG terdiri dari program-progam yang dapat
mengendalikan Hardware dalam mengintegrasikan data. Pada umumnya menu
yang digunakan dalam pengolahan SIG adalah menu grafis dan perintah-perintah
garis. Perangkat lunak dan perangkat keras hams diimbangi dengan tujuan yang
jelas dalam menggunakan SIG. Untuk itu diperlukan sistem managemen.
Managemen ini meliputi sistem managemen data, segala sesuatu yang dibutuhkan
untuk menunjang SIG. Suatu proyek SIG dapat berhasil jika dikelola dengan
baik. Managemen ini membutuhkan keahlian, basis data dan struktur organisasi
yang bagus (Chang, 2004).
2.5.4. Jenis data SIG
SIG menggunakan dua jenis data, yaitu:
1). Data spasial
Jenis data yang mempresentasikan aspek-aspek keruangan dari fenomena yang
bersangkutan. Setiap data spasial dalam SIG mengacu ke dalarn bentuk lapisan
data atau bidang data. Setiap lapisan terdiri dari tiga tipe segrnen data (entity)
antara lain: titik (point), garis (line), ruang (polygon) (Prahasta, 2001).
2). Data Atribut atau data Non-Spasial
Jenis data yang mempresentasikan aspek-aspek deskriptif dari fenomena yang
dimodelkannya (Prahasta, 2001). Aspek deskriptif ini mencakup items dan
properties dari fenomena yang bersangkutan hingga diinensi waktunya.
2.5.5. Struktur data raster dan analisis Cell Base Modelling
Model data raster menampilkan, menempatkan, dan menyimpan data
spasial dengan menggunakan struktur matriks atau piksel-piksel yang membentuk
grid. Setiap piksel atau sel ini memiliki atribut tersendiri termasuk koordinatnya
yang unik di sudut grid (pojok), di pusat grid, atau di tempat yang lainnya.
Akurasi model data ini sangat bergantung pada resolusi atau ukuran piksel (grid
cell) di permukaan bumi. Entity spasial raster disimpan dalam layer yang secara
fungsionalitas direlasikan dengan unsur-unsur petanya (Prahasta, 2001).
Salah satu analisis spasial dalam SIG yang dapat digunakan untuk
memodelkan keadaan di alam adalah Cell Base Modeling (ESRI, 2002 in Pasek,
2007). Ada dua model yang dikenal dalam analisis spasial, yaitu representation
models adalah model yang merepresentasikan objewkenampakan di alam seperti
bangunan dan hutan. Process Models adalah model yang menggambarkan
interaksi dari objek bumi yang terdapat dalam Representation Models. Beberapa
tipe dari process models antara lain :
1). Suitability Modelling, analisis spasial ini bertujuan untuk menentukan lokasi
yang paling optimum.
2 ) Distance Models, analisis ini bertujuan untuk menentukan jarak yang paling
efisien dari suatu lokasi ke lokasi yang lain.
3). Hidrologic Modelling, aplikasi analisis ini adalah untuk menentukan arah
aliran air di suatu lokasi.
4). Surface Modelling, salah satu aplikasi analisis ini adalah untuk mengkaji
tingkat penyebaran polusi di suatu lokasi.
Keseluruhan model tersebut akan lebih efisisen bila dilakukan pada data
raster, selanjutnya analisis spasial pada data raster tersebut disebut Cell Base
Modelling karena metode ini bekerja berdasarkan sel atau piksel (ESRI, 2002).
2.6.
Penginderaan jauh
2.6.1. Definisi dan konsep dasar penginderaan jauh
Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi
tentang suatu obyek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh
dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan obyek, daerah atau fenomena
yang dikaji (Lillesand dan Kiefer, 1998). Lindgren (1985) in Sutanto (1992)
penginderaan jauh adalah berbagai teknik yang dikembangkan untuk perolehan
dan analisis informasi tentang bumi khususnya radiasi elektromagnetik yang
dipantulkan atau dipancarkan dari permukaan bumi.
Berdasarkan Gambar 1 tentang sistem penginderaan jauh, sensor dipasang
pada wahana berupa pesawat terbang, satelit, pesawat ulang-alik atau wahana lain.
Obyek yang di indera adalah permukaan bumi. Sensor memiliki karakteristik
spektral dan karakteristik spasial. Karakteristik spektral berhubungan dengan
lehar band dimana suatu sensor mempunyai lebar band yang lebih kecil dari
sensor yang lain maka sensor tersebut mempunyai resolusi spektral yang lebih
tinggi.
Sumber : Sutanto (1992)
Gambar 1. Penginderaanjauh dengan energi elektromegnetik dan alat yang
digunakan dalam proses perolehan serta analisis data sumber daya
al& (Sutanto, 1992). -
Secara umum proses dan elemen yang terkait di dalam sistem
penginderaan jauh sangat berhubungan untuk surnber daya alam. Hal ini meliputi
dua proses utama yaitu pengumpulan data dan analisis data. Elemen proses
pengumpulan data meliputi sumber energi, perjalanan energi melalui atmosfer,
interaksi antara energi dengan kenampakan di muka bwni dan wahana sensor.
Proses analisis data meliputi pengujian data dengan menggunakan alat interpretasi
dan alat pengamatan untuk menganalisis data piktorial untuk menganalisis data
sensor numerik (Sutanto, 1992).
2.6.2. Citra satelit Formosat-2
Satelit Formosat-2 merupakan satelit resolusi tinggi yang diluncurkan pada
tanggal 20 Mei 2004 di bawah operasional National Space Organization of
Taiwan. Formosat-2 memiliki orbit yang sangat spesifik sehingga dapat merekam
citra permukaan bumi setiap hari (Orbit Geosyncrhonous) dengan sistem
pencahayaan dari sun-syncrhonous orbit dan sudut penyapuan area1AFOV
(angular field of view) yang sama.
Resolusi spasial dari Formosat-2 adalah 8 meter untuk kana1 multispektral
( b h , hijau, merah dan infia merah) sedangkan untuk yang monospekhal
(panchromatic) memiliki resolusi spasial2 meter dengan luasan cakupan 24 x 24
km2. Satelit ini memiliki resolusi temporal satu hari dan merekam data pada
pukul09. 30 waktu setempat setiap harinya (http:l/www. spotiinare.
friweblenl2294-~nyljormosat-2). Karakteristik satelit Formosat-2 dapat dilihat
pada Tabel. 1
Tabel 1. Karakteristik satelit Formosat-2
Sumber : httv:ilwww. svotirnage. fdwebieni2294-~nvFormosat-2
3. METODOLOGI
3.1.
Waktu dan lokasi penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah
pengolahan citra dan penyusunan basis data awal yang dilakukan pada bulan April
2008. Tahap kedua adalah survei lapang untuk pengamatan ekosistem pesisir
dilakukan pada bulan Mei hingga Juni 2008 dan tahap terakhir adalah pengolahan
data akhir (analisis spasial IKL) dilakukan pada bulan November hingga Januari
2009 di Laboratorium Penginderaan Jauh dan SIG Kelautan, Departemen Ilmu
dan Teknologi Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Lokasi penelitian terletak di perairan Pulau Pramuka, Pulau Panggang,
Pulau Semak Daun (Karang Lebar) hingga Karang Congkak. Pulau-pulau
tersebut termasuk dalam kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKS).
Peta lokasi penelitian selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 2.
3.2.
Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Seperangkat komputer dengan OS WindowsXP Professional dan perangkat
lunak untuk imageprocessing dan spatial analysis.
2. Global Positioning System (GPS).
3. Peralatan selam.
4. Peralatan tulis bawah air dan roll meter.
5. Kamera dan video underwater.
6. Transek kuadrat ukuran I x 1 meter.
7. Perahu motor.
Gambar 2. Peta lokasi penelitian IKL perairan Pulau Pramuka, Panggang, Semak
daun dan Karang congkak, Kepulauan Seribu, Jakarta.
3.3.
Jenis dan sumber data
Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data atribut
sebagai data primer dan data spasial sebagai data sekunder. Data atribut
merupakan informasi sumberdaya pesisir yang terdapat pada data spasial. Data
ini diperoleh dari hasil pengukuran di lapangan (ground check) di sepanjang
wilayah pesisir Pulau Pramuka, Panggang, Semak Daun (Karang Lebar) dan
Karang Congkak. Jenis data atribut antara lain adalah:
1. Data karakteristik pantai, meliputi kelandaian, jenis pantai dan manfaat
ekologinya.
2. Data ekologi perairan, meliputi data penutupan terumbu karang dan lamun.
3. Data penggunaan lahan pada kawasan pesisir dan kawasan bemilai penting
seperti daerah pembenihan mangrove, budidaya laut (Keramba Jaring Apung),
dan daerah resort wisata.
Data spasial yang digunakan dalam penelititan ini adalah:
1. Citra Formosat-2 2007full scene daerah Kepulauan Seribu dengan jadwal
akuisisi 29 Agustus 2007 yang diperoleh dari bagian PTISDA, Badan Pusat
Pengkajian Teknologi (BPPT).
2. Peta Lingkungan perairan pulau Pramuka, Panggang dan Semak Daun skala
1 : 50.000 yang diperoleh dari Bakosurtanal.
3.4.
Metode penelitian
Penelitian dimulai dengan tahap persiapan, meliputi pengolahan citra awal
dan pengumpulan basis data sebelum dilakukan pengamatan data biofisik (survey
lapang). Tahap ini dilakukan untuk menghasilkan citra yang sesuai dengan
keadaan aslinya. Hasil interpretasi citra ini digunakan sebagai salah satu acuan
dalam menentukan titik pengamatan pada saat survey lapang di lokasi penelitian.
Penentuan koordinat titik stasiun dilakukan dengan GPS sebagai area yang
mewakili daerah penelitian secara keseluruhan.
Tahap selanjutnya adalah survei lapang. Ada beberapa kegiatan yang
dilakukan dalam survei lapang, di antaranya adalah pengambilan data substrat
dasar perairan seperti ekosistem terumbu karang, pengamatan karakteristik pantai
di lokasi pengamatan dan kawasan bemilai penting bagi manusia.
Pengamatan ekosistem terumbu karang dilakukan dalam 33 stasiun
pengamatan dengan menggunakan dua metode yaitu Line Intercept Transect (LIT)
sejumlah 15 stasiun dan Rapid ReefAssesment (RRA) sejumlah 18 stasiun.
Pengambilan data karang dilakukan pada kedalaman 3 meter. Kedaarnan ini
mewakdi kondisi karang di perairan dangkal. Menurut Jackson et al., (1989) in
Sloan (1993), perairan Panama terjadi penurunan persen penutupan karang hingga
76% akibat adanya tumpahan minyak pada kedala~nankurang lebih 3 meter.
Line Intersept Transect adalah metode transek garis menyinggung.
Pertama-tama meteran sebagai LIT dibentangkan sepanjang 50 meter, jeda tiap 10
meter, sehingga terdapat tiga kali ulangan setiap kedalaman dalam satu stasiun.
Sarnpel diambil di beberapa lokasi yang mewakili semua kategori penutupan yang
nampak secara visual dari citra dengan transek kuadrat berukuran 1x1 meter.
Data karang dicatat sesuai dengan kategori bentuk pertumbuhannya (lifeform)
dengan tetap menyelam perlahan. English et al.,(1997) mendeskripsikan lifeform
karang dalam bermacam-macam kategori yang disajikan dalam Tabel 2.
Data lfeform karang ini kemudian dihitung persen penutupan karangnya
dengan formula berdasarkan hasil kajian dari English et a1.,(1997):
dimana : Li = persentase penutupan biota karang ke-i; ni = panjang total kelompok
biota karang ke-i; dan L = panjang total transek garis
Metode RRA adalah metode pengamatan biofisik ekosistem terumbu
karang dengan teknik visual berdasarkan time swimming (kayuhan kaki).
Pengamat melakukanJin swimming dengan mengamati dan mencatat persen
penutupan karang berdasarkan lfe form-nya. Jarak dan lamanya pencatatan
pengamat tergantung pada kebutuhan (Manuputty et al., 2006).
Sumber: English et a1.,(1997)
Data mangrove dalam penelitian ini menggunakan data sekunder dari
Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu (BTNKS). Hal ini berhubungan dengan
kondisi dan kerapatan mangrove yang terdapat di lokasi penelitian termasuk
kategori rendah sehingga tidak dilakukan pengambilan data secara langsung.
Kondisi mangrove dl Pulau Pramuka, Panggang dan Semak Daun masih dalam
tahap pembibitan mangrove dan juga merupakan mangrove buatan.
Pengamatan data karakteristik pantai meliputi jenis pantai dan manfaat
ekologinya. Pengamatan ini dilakukan pada 5 stasiun pengamatan (Pulau
Pramuka, Panggang, Karya, Semak Daun dan Congkak). Setiap stasiun terdiri
dari tiga lokasi pengamatan. Jenis pantai ditentukan dengan metode pengamatan
secara visual. Data manfaat dan kegunaan pantai didapatkan dari hasil wawancara
penduduk setempat.
Pengamatan data survey lapang lainnya adalah kawasan bernilai penting di
lokasi penelitian. Kawasan bernilai penting diantaranya adalah daerah resort
wisata, penghijauan, daerah perikanan tangkap dan budidaya laut seperti keramba
jaring apung dan pelabuhan.
3.5.
Anatisis data citra satelit
Citra satelit Formosat-2 dalam penelitian ini digunakan untuk menyajikan
informasi nil mengenai objek dl permukaan, khususnya informasi spasial
ekosistem pesisir untuk pemetaan LKL. Pemrosesan citra satelit (image
proccessing) merupakan bagian penting dari keseluruhan rangkaian penggunaan
data remote sensing. Imageproccessing merupakan suatu teknik pengolahan data
berbasis raster. Program yang digunakan adalah ER Mapper 7.0 untuk mengoiah
dan menampilkan materi substrat dasar perairan. Data yag dihasilkan berupa data
yang siap untuk dianalisis secara spasial untuk berbagai keperluan.
Pengolahan data citra satelit meliputi proses pemotongan citra agar sesuai
dengan cakupan daerah penelitian (Cropping), koreksi geometrik, koreksi
radiometrik, komposit dan penajaman citra (image enhancement) dan klasifikasi
citra satelit.
3.5.1. Cropping
Perekaman daerah oleh sensor satelit mencakup daerah rekarnan yang
sesuai dengan luasan sapuan dan resolusi spasial dari sensor yang digunakan, oleh
karena itu perlu adanya pemotongan data citra (cropping) yang bertujuan untuk
membatasi daerah sapuan sensor sesuai dengan daerah kajianlArea of Interest
(AOI) sehingga mempemudah dalam proses interpretasi citra.
3.5.2. Koreksi geometrik
Data yang ditransmisikan dari satelit ke bumi akan mengalami gangguan
(distorsi) geometrik yang terjadi karena adanya pegeseranpixel dari letak
sebenarnya. Distorsi ini disebabkan oleh kurang sempurnanya sistem kerja Scan
Deflection System, ketidakstabilan sensor dan satelit. Untuk itu, koreksi
geometrik dilakukan untuk mengurangi distorsi-distorsi tersebut. Menurut
Prahasta (2008) koreksi geometrik ada dua tahap, tahap pertama adalah
transformasi koordinat. Proses ini dilakukan dengan menggunakan bantuan
Ground Control Point (GCP). Ground Control Point adalah suatu kenampakan
geografis yang unik dan stabil, sifat geometrik dan radiometriknya serta lokasinya
dapat diketahui dengan tepat. Tahap kedua resampling yaitu proses penentuan
kembali nilaipixel sehubungan dengan koordinat baru.
3.5.3. Koreksi radiometrik
Menurut Prahasta (2008) efek hamburan di atmosfer yang disebabkan oleh
molekul-molekul air merupakan masalah bagi citra yang hams dihilangkan atau
diminimalkan untuk menghindari bias pada tiap kanal spektral. Koreksi ini
dilakukan dengan cara mengurangi nilai-nilai piksel band-band yang
bersangkutan dengan nilai digital piksel airnya Untuk mendapatkan efek visual
yang kurang lebih sama, dapat dilakukan peregangan histogramnya (Histogram
stretching) sampai batas maksimurn (0-255).
3.5.4. Penajaman citra
Penajaman citra pada analisis terumbu karang merupakan kombinasi dari
tiga kanal cahaya tampak (RGB), yaitu gabungan dari kanal 4(NIR), 2(hijau),
l(biru) dari citra Formosat. Penggambaran informasi karakteristik dasar perairan
dangkal digunakan model algoritma yang berasal dari penurunan persamaan
'Standard Exponential Attenuation Model ' oleh Green et a1 (2000). Algoritma
tersebut menggunakan band 1 dan band 2 dari citra Landsat 7ETM. Citra
Formosat-2 merniliki karakteristik panjang gelombang band 1 dan band 2 yang
sama dengan citra Landsat 7ETM, sehingga dapat juga digunakan untuk
algoritma Lyzenga. Dasar penggunaan band 1 dan 2 yaitu karena kedua band ini
memiliki penetrasi yang baik ke dalam kolom air. Algoritma tersebut yaitu:
a=
(varB1- var B2)
(2covBl* B2)
Dimana: Y = Citra hasil ekstraksi dasar perairan; T M =Band I dari Formosat-2;
TMZ =Band 2 dari Landsat 7 E T M ;ki/& = koefisien atenuasi, B1= kanal
biru, B2 = kanal hijau.
2.4.1. Klasifikasi citra
Klasifikas citra (pada citra digital) merupakan suatu proses penyusunan
dan pengelompokan semua piksel (yang terdapat dalam band citra yang
bersangkutan) ke dalarn beberapa kelas berdasarkan suatu kriteria atau kategori
objek, sehingga menghasilkan peta tematik dalam bentuk raster. Proses
klasifikasi dibagi menjadi dua yaitu klasifikasi terbimbing (supervised
classrfication) dan klasifikasi tidak terbimbing (unsupervised classrfication).
Proses klasifikasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah klasifikasi
unsupervised. Klasifikasi unsupervised dilakukan dengan asumsi bahwa citra
daerah penelitian terdiri dari beberapa band citra. Pada klasifikasi ini salah satu
menu program ER Mapper 7.0 akan mencari kelompok-kelompok (clusters)
properties spektral piksel-piksel yang bersifat alamiah. Program ini akan
menandai setiap piksel ke dalam sebuah kelas berdasarkan parameter-parameter
pengelompokan awal yang didefinisikan oleh peneliti (Prahasta, 2008). Peneliti
menggunakan 40 kelas dalam pengklasifikasian citra yang selanjutnya dikelaskan
dang menjadi 7 kelas yaitu karang hidup, karang mati, lamun, pasir, lagoon,
perairan dalam, dangkal dan daratan. Pembagian kelas ini memberikan gambaran
lebih detail mengenai kondisi ekosistem pesisir dan perairan di lokasi penelitian
3.6.
Matriks kesesuaian untuk pemetaan IKL,
Penentuan nilai (skor) yang digunakan dalam matriks untuk pemetaan IKL
mengacu pada nilai yang telah diterapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup
(KLH) bekerja sama dengan Canadian International Development Agency
(CIDA) dan juga telah diterapkan untuk Negara Amerika Serikat serta wilayah
Asia Timur (Tabel 3). Parameter-parameter yang digunakan antara lain:
parameter ekosistem terumbu karang, karakteristik pantai, tingkat kerapatan
mangrove dan kawasan bernilai penting bagi penduduk setempat. Matriks
tersebut belurn memiliki bobot untuk setiap parameter, sehingga dalam proses
analisis spasialnya dapat diasumsikan bahwa setiap parameter memiliki tingkat
kepekaan lingkungan yang sama terhadap tumpahan minyak.
Berdasarkan kondisi tersebut, maka dalam penggunaan matnks kesesuaian
selanjutnya dilakukan modifikasi untuk beberapa parameter mulai dari
menentukan parameter-parameter yang berpengaruh pada daerah yang peka
terhadap tumpahan minyak hingga pemberian bobot untuk setiap parameter.
Pembobotan setiap parameter berdasarkan pada dominasi pengaruh parameter
tersebut dalam zona kepekaan lingkungan, sehingga dapat diketahui parameter
yang sangat berpengaruh dalam penentuan wilayah pesisir yang peka terhadap
tumpahan minyak. Pemberian scoring dilakukan untuk menilai faktor pembatas
pada setiap parameter.
Sumber: KLHICIDA (1984) in Sloan (1983).
Tabel 4. Matriks kesesuaian untuk pemetaan IKL di pesisir (hasil modifikasi)
Sumber: Modifikasi dari KLWCIDA (1984) in Sloan (1983) dan konsultasi dengan pembimbing.
Parameter-parameter yang digunakan dalam pemetaan IKL ini melibatkan
faktor ekologi perairan, karakteristik pantai, jarak pemukiman dari perairan dan
kawasan bernilai penting (Tabel 4). Parameter ekosistem terumbu karang pada
matriks IKL dari KLH berubah menjadi parameter ekologi perairan. Ekosistem
terumbu karang merupakan parameter biologi sehingga, dalam SIG, parameter
tersebut tidak dapat dispasialkan menurut persen penutupannya dengan hanya
berdasarkan data suwei lapang. Parameter ekologi perairan juga mencakup
kondisi substrat dasar perairan (karang hidup, karang mati, lamun, pasir) dan
ekologi perairan lainya seperti gobah (lagoon). Berdasarkan survei lapang di
lokasi penelitian terdapat beberapa lagoon. Minyak yang tumpah di daerah
lagoon akan terperangkap dan mempengaruhi kegiatan perikanan budidaya
kerambajaring apung yang ada di lokasi penelitian.
Parameter jarak pemukiman dari perairan ditambahkan dalam matriks IKL
karena dampak yang diterima jika terjadi tumpahan minyak. Peneliti
inengasumsikan jarak radius 500 meter merupakan daerah yang sangat peka
terhadap tuinpahan minyak karena merupakan pusat aktifitas sosial ekonomi
penduduk setempat seperti perikanan budidaya dan tempat wisata pantai.
Parameter ini inendapatkan bobot yang terkecil karena dampak pencemaran
minyak yang diterima tidak berpengaruh langsung terhadap penduduk setempat,
lain halnya dengan parameter ekologi perairan. Ekologi perairan mendapatkan
bobot yang tertinggi disebabkan dampak pencemaran yang diterima sangat
mempengaruhi kondisi ekosistem yang ada di perairan tersebut jika terjadi
tumpahan minyak.
3.7.
Analisis spasial untuk pemetaan IKL
Data spasial dikelompokkan menjadi dua macam layer, yaitu layer dasar
(base map) dan layer tematik. Base map seperti layer ekologi perairan dihasilkan
dari proses analisis hasil klasifikasi terhadap data citra satelit pada tahap
sebelumnya. Layer tematik terdiri dari layer karakteristik pantai, jarak
pemukiman dari perairan dan kawasan bernilai penting. Layer tematik ini
dihasilkan dari analisis spasial (point, line danpolygon) yang merupakan hasil
input data survey lapang maupun data sekunder. Layer-layer yang telah diinput
tadi kemudian diedit luasannya sesuai dengan daerah kajianIAO1. Tahap
selanjutnya adalah input data atribut yang bertujuan untuk memberikan
keterangan pada masing-masing layer dan menghasilkan basis data spasial yang
mewakili fenomena alam. Proses input data atribut hams diperhatikan hal-ha1
sebagai berikut: nama atribut, jenis atribut, jumlah space atau ruang yang
diperlukan untuk setiap atribut.
Analisis spasial yang digunakan untuk pemetaan IKL berdasarkan metode
Cell BasedModeling, baik untuk pengkelasan maupun untuk overlay setiap
parameter yang telah diperoleh dari pengukuran lapangan maupun ekstraksi citra
satelit. Setelah seluruh parameter dikelaskan, maka metode overlay dengan
pembobotan (weight overlay) dilakukan pada semua layer tematik dan base map.
Seluruh parameter yang dilibatkan memiliki format data grid (raster) sehingga
metode overlay-nya disebut Raster Overlay.
Kriteria matriks kesesuaian untuk pemetaan IKL dapat dilihat pada Tabel
4. Seluruh bobot dan skor pada keseluruhan kriteria kepekaan lingkungan akan
diproses melalui sofiware yang digunakan dan akan dihasilkan klasifikasi zona
kepekaan lingkungan terhadap tumpahan minyak. Zona yang dimaksud dalam ha1
ini adalah zona sangat peka dengan kode-5, zona yang peka dengan kode-4, zona
sedang dengan kode-3, zona kurang peka dengan kode-2 dan zona tidak peka
dengan kode-I. Setiap zona akan memiiiki kisaran nilai IKL,. Nilai tiap kelas
didasarkan pada perhitungan dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan : N = Total bobot nilai
Bi = Bobot pada tiap ktiteria
Si = Skor pada tiap criteria
Selang tiap-tiap kelas diperoleh dari jumlah perkalian nilai maksimum tiap
bobot dan skor dikurangi jumlah perkalian nilai minimumnya yang kelnudian
dibagi menjadi jumlah kelas (lima), yang dituliskan dengan rumus sebagai
berikut:
Dari perhitungan diperoleh selang kelas sebesar 0,8000 dengan nilai
N-minimum sebesar 1 dan N-maksimum sebesar 5. Nilai kelas S1 (tidak peka)
didapatkan dari skor total kelas S1 (1) ditambah dengan 0,8000. Nilai kelas S2
(kurang peka) didapatkan dari selang maksimum S1 (1,8000) ditambah dengan
0,8000. Nilai kelas S3 (sedang) didapatkan dari selang maksimum S2 (2,6000)
ditambah 0,8000. Nilai kelas S4 (peka) didapatkan dari selang maksimum S3
(3,4000) ditambah 0,8000. Nilai kelas S5 (sangat peka) didapatkan dari selang
maksimum S4 (4,2000) ditambah 0,8000.
Download