12 bab ii efektivitas pendekatan relaksasi melalui musik

advertisement
BAB II
EFEKTIVITAS PENDEKATAN RELAKSASI MELALUI MUSIK
INSTRUMENTAL BERIRAMA TENANG UNTUK MENINGKATKAN
KONSENTRASI ANAK ADHD)
A. Anak ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)
1. Pengertian
Gangguan Pemusatan Perhatian sering juga disebut sebagai Attention Deficit
Hyperactive Disorders (ADHD). Gangguan ini ditandai dengan adanya ketidakmampuan
anak untuk memusatkan perhatiannya pada sesuatu yang dihadapi, sehingga rentang
perhatiannya sangat singkat waktunya dibandingkan anak lain yang seusia, Biasanya
disertai dengan gejala hiperaktif dan tingkah laku yang impulsif. Kelainan ini dapat
mengganggu perkembangan anak dalam hal kognitif, perilaku, sosialisasi maupun
komunikasi.
Secara umum menurut Zaviera F,(2007 : 1) ADHD didefinidikan sebagai “Suatu
kondisi yang memperlihatkan gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas” atau
dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan istilah GPPH, kondisi ini juga disebut
sebagai gangguan hiperkinetik. Gangguan hiperkinetik adalah gangguan pada anak yang
timbul pada masa perkembangan dini (sebelum berusia 7 tahun) dengan ciri utama tidak
mampu memusatkan perhatian, hiperaktif, dan impulsife. Definisi lain mengenai ADHD
menurut Widodo Judarwanto dalam sebuah situs internet www.medikaholistik.com
mengemukakan bahwa :
ADHD merupakan kelompok dengan derajat sedang yang menjadikan fokus perhatian
anak mudah teralihkan. Perhatiannya hanya mampu bertahan beberapa saat saja dan
disertai hiperaktifitas, dimana definisi dari hiperaktifitas itu sendiri merupakan suatu
peningkatan aktifitas motorik hingga pada tingkatan tertentu yang menyebabkan
gangguan perilaku yang terjadi, setidaknya pada dua tempat dan suasana yang berbeda.
Aktifitas anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan yang ditandai dengan gangguan
perasaan gelisah, selalu menggerak-gerakkan jari-jari tangan, kaki, pensil, tidak dapat
12
13
duduk dengan tenang dan selalu meninggalkan tempat duduknya meskipun pada saat
dimana dia seharusnya duduk dengan tenang.
Dari kedua definisi di atas bahwa anak ADHD mempunyai hambatan dalam
pemusatan perhatian yang ditandai dengan durasi perhatian pada suatu objek tidak
mampu bertahan lama pada umumnya anak ADHD dapat mempertahankan perhatiannya
kurang dari lima menit. Untuk mengetahui lebih jelasnya tentang anak ADHD dapat
dilihat pada DSM IV (1994) menurut para ahli Asosiasi Psikiatri Amerika (APA) sebagai
berikut :
Tabel 2.1
Kriteria DSM – VI (Diagnostic and Statistical of Mental Disorder ke IV) untuk anak
ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)
A1. Kurang Perhatian
Pada kriteria ini, penderita ADHD paling sedikit mengalami enam atau lebih dari
gejala-gejala berikutnya, dan berlangsung selama paling sedikit 6 bulan sampai
suatu tingkatan yang maladaptif dan tidak konsisten dengan tingkat
perkembangan.
a. Seringkali gagal memerhatikan baik-baik terhadap sesuatu yang detail atau
membuat kesalahan yang sembrono dalam pekerjaan sekolah dan kegiatankegiatan lainnya,
b. Seringkali mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian terhadap tugastugas atau kegiatan bermain,
c. Seringkali tidak mendengarkan jika diajak bicara secara langsung,
d. Seringkali tidak mengikuti baik-baik intruksi dan gagal dalam menyelesaikan
pekerjaan sekolah, pekerjaan, atau tugas di tempat kerja (bukan disebabkan
karena perilaku melawan atau kegagalan untuk mengerti intruksi),
e. Seringkali mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas dan kegiatan
f. Seringkali kehilangan barang/benda penting untuk tugas-tugas dan kegiatan
misanya kehilangan permainan; kehilangan tugas sekolah; kehilangan pensil,
buku, dan alat tulis lainnya,
g. Seringkali menghindari, tidak menyukai atau enggan untuk melaksanakan
tugas-tugas yang membutuhkan usaha mental yang didukung, seperti
menyelesaikan pekerjaan sekolah atau pekerjaan rumah,
h. Seringkali bingung/terganggu oleh rangsangan dari luar, dan
i. Seringkali lekas lupa dalam menyelesaikan kegiatan sehari-hari.
A2. Hiperaktivitas Impulsivitas
Paling sedikit enam atau lebih dari gejala-gejala hiperaktivitas impulsivitas
berikutnya bertahan selama paling sedikit 6 bulan samapai dengan tingkatan yang
maladaptif dan tidak dengan tingkat perkembangan.
Hiperaktivitas
a. Seringkali gelisah dengan tangan atau kaki mereka, dan sering menggeliat di
kursi,
b. Sering meninggalkan tempat duduk di dalam kelas atau dalam situasi lainnya
14
di mana diharapkan agar anak tetap duduk,
c. Sering berlarian atau naik-naik secara berlebihan dalam situasi di mana hal ini
tidak tepat. (pada masa remaja atau dewasa terbatas pada perasaan gelisah
yang subjektif),
d. Sering mengalami kesulitan dalam bermain atau terlibat dalam kegiatan
senggang secara tenang,
e. Sering `bergerak` atau bertindak seolah-olah dikehendaki oleh motor`, dan
f. Sering berbicara berlebihan.
Impulsivitas
a. Mereka sering memberi jawaban sebelum pertanyaan selesai,
b. Mereka sering mengalami kesulitan menanti giliran,
c. Mereka sering menginterupsi atau mengganggu orang lain, misalnya
memotong pembicaraan atau permainan.
B. Beberapa gejala hiperaktivitas impulsivitas atau kurang perhatian yang
menyebabkan gangguan muncul sebelum anak berusia 7 tahun
C. Ada suatu gangguan di dua atau lebih setting/situasi.
D. Harus ada gangguan yang secara klinis, signifikan di dalam fungsi sosial akademik,
atau pekerjaan.
E. Gejala-gejala tidak terjadi selama berlakunya PDD, skizofrenia, atau gangguan
psikotik lainnya, dan tidak dijelaskan dengan lebih baik oleh gangguan mental
lainnya.
Dalam kriteria DSM – IV ini dapat melihat dengan mudah kriteria anak yang
mengalami ADHD, selain mempunyai kriteria-kriteria anak ADHD juga mempnyai gejala
perilaku yang berbeda dari satu anak dengan anak yang lainnya, hal tesebut dikemukakan
oleh Aldenkamp dkk, dalam Maria Van Tiel, J (2008 : 236) seorang mantan pengajar
tetap fakultas pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia yang mengemukakan
bahwa :
Dalam kehidupan sehari-hari anak penyandang ADHD mempunyai gejala perilaku
yang berbeda dari anak satu ke anak yang lainnya, namun gangguan primer yang
terjadi pada semua penyandang menurutnya adalah terjadinya gangguan system
Inhibisi (sistem rem) yaitu berupa gangguan untuk membedakan mana rangsangan
yang baik atau relevan dan memang diperlukan, dengan rangsangan yang tidak
diperlukan.
Maksud dari pernyataan tersebut adalah bahwa anak – anak penyandang ADHD
tidak bisa melakukan seleksi terhadap rangsangan yang masuk misalnya, ketika anak
ADHD berada dalam suasana keramaian dan sedang diajak bicara biasanya mereka tidak
15
dapat menyeleksi suara mana yang perlu ditangkap, dan mana yang menjadi latar
belakang dan tidak perlu didengarkan.
Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa ADHD (Attention Deficit
Hyperactive Disorders) merupakan suatu gangguan yang memiliki 3 gejala utama yang
nampak pada perilaku seorang anak, diantaranya adalah inatensi, hiperktifitas dan
impulsivitas, dimana ciri-ciri dari gejala inatensi dapat ditunjukkan dengan kurang
mampunya seorang anak untuk berkonsentrasi terhadap sesuatu sehingga mengakibatkan
perhatian anak mudah teralihkan dari satu hal ke hal yang lain, sedangkan ciri-ciri dari
gejala hiperktifitas dan impulsivitas ditandai dengan perilaku anak yang tidak bisa diam,
selalu berlari kesana-kemari tanpa tujuan, tidak dapat duduk dengan tenang, tidak sabar,
menyerang dan terburu-buru.
2. Karakteristik
Berbicara mengenai karakteristik anak Attention Deficit Hyperactive Disorders
(ADHD) sebenarnya secara fisik tidak jauh berbeda dengan anak-anak lain pada
umumnya akan tetapi jika dilihat secara psikis terlihat jelas perbedaan yang jauh dari
anak-anak pada umumnya. Perbedaan tersebut dapat kita lihat dari karakteristik yang
dimilikinya. Karakteristik anak dengan Attention Deficit Hyperactive Disorders (ADHD)
menurut Osman, B.B (1997) dalam Taboer, A.M dan Komala, L.T (2002:4) adalah
sebagai berikut :
A. Perhatian
1. Kegagalan dalam memperhatikan objek yang detail
2. Kegagalan dalam memberikan perhatian dalam mengerjakan tugas
3. Terlihat seperti tidak mendengarkan ketika orang lain bicara dengannya
4. Kesulitan dalam mengorganisasikan sesuatu
5. Tidak mengikuti intruksi dalam mengerjakan tugas
6. Hampir selalu menolak tugas-tugas yang diberikan
7. Selalu gelisah
8. Selalu kehilangan benda-benda penting yang dibawanya
9. Mudah terganggu oleh stimuli-stimuli
16
B. Hiperaktivitas
1. Selalu meninggalkan tempat duduk
2. Suka berlari –lari atau memanjat tanpa maksud tertentu
3. Suka berbicara yang berlainan dari konteks pada saat itu
4. Kesulitan dalam aktivitas bermain
C. Impulsifitas
1. Selalu menjawab ketika pertanyaan belum selesai
2. Kesulitan dalam menunggu giliran
3. Suka mengganggu
Karakteristik tentang anak ADHD menurut Osman, B.B (1997) dalam Taboer,
A.M dan Komala, L.T (2002:4) ini membagi karakteristik anak ADHD menjadi 3 bagian
yakni hambatan perhatian, hiperaktifitas dan impulsifitas. Dari ketiga karakteristik
tersebut anak ADHD dapat menyandang satu bagian hambatan dan dapat pula meyandang
2 hambatan atau tipe gabungan.
3. Perilaku Anak ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorders)
Anak yang mengalami ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorders)
mempunyai perilaku yang berbeda dari perilaku anak pada umumnya. Biasanya anak
ADHD menunjukkan perilaku yang berlebihan disertai kurangnya kemampuan dalam
memfokuskan perhatiannya pada suatu hal yang ditunjukkan.
Menurut seorang mantan pengajar tetap fakultas pascasarjana Universitas
Pendidikan Indonesia Maria, Van Tiel, J,. (2008:238) menerangkan bahwa terdapat
beberapa tipe atau pengelompokan perilaku yang biasanya digunakan oleh kelompok
neorolog dan psikiater anak di Belanda, diantaranya sebagai berikut :
a. Tipe 1 : ADHD yang diikuti dengan masalah gejala perilaku kematangan
(keterlambatan perkembangan psikomotor, keterlambatan perkembangan bahasa dan
bicara, dsb). Pada tipe ini masalah utama yang tampak adalah adanya masalah
gangguan perhatian sehingga anak ADHD dengan tipe ini sulit untuk berkonsentrasi
dengan baik.
b. Tipe 2 : ADHD dimana gangguan yang paling menonjol adalah munculnya perilaku
hiperktivitas impulsivitas.
c. Tipe 3 : ADHD dengan gejala –gejala perilaku yang parah seperti gangguan
perhatian dan juga hiperaktivitas dengan komorbiditas pada bentuk gangguan fungsi
kognitif.
d. Tipe 4 : ADHD dengan conduct disorder (gangguan perilaku yang sangat parah
dalam bentuk agresivitas, perilaku bermasalah dan anti social) yang juga diikuti
17
dengan bentuk perilaku oposan (Opositional deviant disorder), gejala utama-nya
dalam bentuk impulsivitas dan hiperexcibilitas.
Dari penjelasan di atas, maka peneliti dapat dengan mudah menetapkan perilaku
subjek
berdasarkan tipe perilaku anak ADHD tersebut, dimana subjek yang diteliti
cenderung memiliki perilaku dengan tipe 1.
4. Masalah Psikologis Anak ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorders)
Selain
permaslahan-permasalahan
Anak
ADHD
yang
telah
dipaparkan
sebelumnya anak ADHD juga mengalami masalah-masalah psikologis, sebagaimana
menurut Mulyono R (2007 : 2) bahwa “Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas
(GPPH) atau biasa disebut Attention Deficiet hyperactive Disorder (ADHD) ini
menimbulkan banyaknya masalah yang akan mempersulit keadaan, seperti gangguan
belajar, problem sosialisasi, maupun rendahnya harga diri anak tersebut”. Semua ini
membutuhkan perhatian yang sungguh-sungguh secara individual dengan tatalaksana
yang terpadu.
Apabila dirinci lebih detail, masalah-masalah psikologis yang dialami anak
ADHD dapat dikelompokan, yaitu yang bersifat primer dan sekunder.
a. Masalah yang bersifat primer
Yaitu masalah yang berhubungan dengan fungsi kognisi seperti perceptual kognitif
yang mencakup persepsi, penglihatan, pendengaran, visual motorik, daya ingat, dan
kemampuan berpikir, seperti susunan berpikir, sehingga sulit merencanakan,
mengorganisasikan sesuatu, memanipulasi atau menggunakan konsep-konsep dan
symbol.
b. Masalah yang bersifat sekunder
Yakni masalah-masalah yang merupakan kelanjutan dari masalah primer, yang
seringkali menyebabkan seorang anak didiagnosa ADHD karena mengalami :
18
1) Kesulitan dalam bidang pendidikan (Skolastik) seperti kesulitan membaca,
berhitung, menulis atau mengingat. Kesulitan dalam bidang ini menyebabkan
anak sering ditegur oleh pihak lingkungan (orang tua, guru) karena prestasi yang
dicapai anak kurang. Hal ini menyebabkan anak cemas, rendah diri, dan tidak
jarang menampilkan perilaku agresif sehingga sulit berhubungan dengan orang
lain.
2) Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal)
3) Perkembangan dalam bicara dan bahasa, seperti sulit mengekspresikan ide secara
sistematis dan jelas dan sulit memecahkan persoalan-persoalan secara verbal.
4) Kesulitan dalam penyesuaian diri dengan lingkungan
5) Permasalahan dalam motorik, seperti integrasi sensori dan motorik, gerakangerakan motorik yang kaku, atau bergerak terus menerus.
6) Masalah dalam meregulasi emosi
7) Toleransi terhadap frustrasi rendah
8) Kesulitan dalam motivasi. Upaya seringkali tidak menetap dan tidak konsisten,
terlihat dari hasil upaya-nya yang baik, namun juga seingkali di bawah rata-rata
kurang.
B. Konsentrasi Anak ADHD
Sebelum membahas tentang kemampuan konsentrasi anak ADHD, ada baiknya
kita mengetahui terlebih dahulu pengertian konsentrasi dari beberapa para ahli. Menurut
Jenifer, D,. dalam Zaviera (2007 : 15) konsentrasi adalah “kecakapan yang bisa diajarkan
oleh para orang tua dan guru, begitu konsentrasi dipelajari dengan demikian anak dapat
menerapkannya dengan baik” Dengan demikian konsentrasi adalah suatu kecakapan
untuk memusatkan perhatian pada suatu objek, untuk memahami tentang objek tersebut.
19
Menurut Baihaqi M, dkk (2005 : 1) mengemukakan bahwa konsentrasi sering juga
disebut dengan perhatian yang dapat diartikan sebagai pemusatan tenaga psikis yang
tertuju pada suatu objek. Perhatian/ konsentrasi berkaitan dengan kesadaran (awareness)
dan ingatan (memory).
Konsentrasi sangat penting dalam kehidupan setiap manusia, dimana hakikat dari
konsentrasi itu sendiri merupakan suatu kegiatan dalam memusatan perhatian (pikiran)
atau tingkat perhatian yang tinggi terhadap suatu hal, atau dapat dikatakan juga individu
yang memusatkan perhatiannya pada objek tertentu. Jadi konsentrasi adalah memusatkan
pikiran untuk fokus pada sasaran yang diinginkan. (www.com.kenapa konsentrasi
penting. E-psikologi yahoo@com).
Kemampuan kita dalam berkonsentrasi akan mempengaruhi kecepatan dalam
menangkap materi yang kita butuhkan. Seorang siswa yang mempunyai kemampuan baik
dalam berkonsentrasi akan lebih cepat menangkap materi yang disampaikan guru pada
proses pembelajaran dari pada siswa yang mempunyai kemampuan konsentrasi kurang
baik. Gangguan konsentrasi adalah cepat bosan terhadap sesuatu aktifitas (kecuali
menonton televisi atau baca komik), malas belajar, tidak teliti, terburu-buru sering
kehilangan barang.
Selain itu konsentrasi adalah “suatu proses untuk memahami dan menguasai
pikiran-perasaan terhadap suatu peristiwa sehingga tidak lagi menanggapi dengan kacau,
dengan kata lain konsentrasi adalah sebuah upaya keras untuk memusatkan perhatian
pada sesuatu” (www.mail-archive.com/[email protected])
Sedangkan menurut kamus besar Bahasa Indonesia edisi ke-3 Departemen
Pendidikan Nasional menerangakan bahwa konsentrasi adalah “pemusatan perhatian atau
pikiran pada suatu hal dan konsentrasi juga dapat diartikan sebagai pemusatan tenaga,
kekuatan di suatu tempat”.
20
Selanjutnya menurut Baihaqi M, dkk (2005 : 37) konsentrasi dapat dibedakan
menjadi barmacam-macam :
1. Berdasarkan intensitasnya,
Yaitu banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai suatu aktivitas atau pengalaman
batin, maka dibedakan menjadi perhatian intensif dan perhatian tidak intensif.
2. Bardasarkan cara munculnya,
Perhatian dapat dibedakan menjadi perhatian spontan (tak sekehendak atau tak
sengaja) dan perhatian sekehendak (perhatian disengaja/perhatian reflektif).
3. Berdasarkan luasnya objek yang dikenai perhatian,
Perhatian dapat dibedakan menjadi perhatian terpencar (distributive) dan perhatian
memusat (konsentratif)
Sehubungan dengan penjelasan diatas, menurut Baihaqi M, dkk (2005 : 43)
gangguan perhatian/ konsentrasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu :
1. Distraktibilitas, yaitu ketidakmampuan mengarahkan perhatian dirinya, perhatiannya
mudah teralihkan pada rangsang atau stimuli yang tidak berarti. Atau
ketidakmampuan mempertahankan perhatian, berpindah dari satu topic ke topic lain
hanya dengan provokasi minimal
2. Aprosexia, yaitu ketidaksanggupan untuk memperhatikan secara tekun dalam waktu
yang singkat terhadap suatu situasi, dengan tidak memandang pentingnya situasi
3. Hiperprosexia, yaitu konsentrasi yang berlebih-lebihan, sehingga lapangan persepsi
menjadi sangat sempit.
Perhatian/ konsentrasi berhubungan dengan kesadaran, penginderaan, objek,
suasana, kebutuhan, minat, profesi, dan sebagainya. Agar proses perhatian dapat
berlangsung baik, menurut Baihaqi M, dkk (2005 : 50) paling tidak harus memenuhi tiga
syarat utama, yaitu “Semua rangsang yang tidak termasuk objek perhatian harus
disingkirkan, jiwa harus dibatasi atau kesadaran harus dipersempit, Objek perhatian harus
berhubungan dengan subjek yang melakukan perhatian, alat-alat penerima rangsang harus
berfungsi dengan baik”.
Dan mengenai durasi perhatian menurut Baihaqi M, dkk (2005 : 65)
mengemukakan bahwa :
Dalam keadaan wajar, perhatian hadir dalam intensitas yang cukup kuat dan
terkendali, serta belangsung dalam durasi yang lama atau sebentar tergantung
pada kehendak. Dalam keadaan abnormal, sifatnya bisa lemah dan bisa kuat. Pada
orang yang perhatiannya lemah, disebut vigilitasnya tinggi, vigilitas adalah mudah
tidaknya perhatian dialihkan. Semakin mudah teralihkan berarti vigilitasnya
21
semakin tinggi. Sedangkan pada pada orang yang tidak sanggup memperhatikan
atau berkonsentrasi dalam waktu yang lama, disebut memiliki tenasitasnya
rendah. Tenasitas adalah kesangguapan untuk mengarahkan perhatian terhadap
suatu masalah atau objek dalam jangka waktu yang relative lama.
Dari kajian mengenai gangguan konsentrasi dapat diketahui secara jelas bahwa
anak dengan gangguan ADHD mengalami gangguan konsentrasi jenis distraktibilitas
yang ditandai dengan konsentrasinya mudah teralihkan pada rangsang atau stimuli yang
tidak berarti atau tidak dapat mempertahankan konsentrasi dalam durasi yang lama, dapat
mudah berpindah dari satu topik ke topik lain hanya dengan provokasi minimal. Dengan
kata lain, anak ADHD memiliki tenasitas yang rendah jadi anak dengan gangguan ADHD
tidak dapat berkonsentrasi dalam waktu yang lama hal tersebut disebabkan oleh sifat
hiperaktifitas yang ditandai dengan tidak bisa diam dalam waktu lama dan mudah
teralihkan perhatiannya kepada hal lain.
Pernyataan tersebut dipertegas oleh Zaivera, F,. (2007:27), yang menyatakan
bahwa kemampuan konsentrasi anak ADHD dapat ditandai dengan : “(1) sering sulit
memusatkan perhatian secara terus menerus dalam suatu aktivitas, (2) sering tampak tidak
mendengarkan kalau diajak bicara, (3) sering tidak mengikuti intruksi dan gagal
menyelesaikan tugas, (4) sering sulit mengatur kegiatan maupun tugas, (5) sering mudah
beralih perhatian oleh rangsangan dari luar, (6) sering lupa dalam mengerjakan kegiatan
sehari-hari”.
C. Relaksasi Musik
Kata relaksasi menurut (Echols, J, M., dan Shadily, H., 2000 : 475)
mengemukakan bahwa “relaksasi ditulis dengan kata relaxation yang berarti
menenangkan”. Sedangkan menurut seorang guru sekaligus psikolog yang ahli dalam
relaksasi, Rickard, j. (2000 : 3) mengemukakan bahwa : “Relaksasi merupakan suatu
proses aktivitas yang berguna dan dapat dinikmati sepanjang hidup jika diaplikasikan
22
dengan benar”. Selain itu pendekatan relaksasi itu sendiri mempunyai tujuan dasar yang
dapat digunakan untuk :
1. Meningkatkan keterampilan siswa sehingga mereka dapat memberikan tanggapan
secara positif terhadap permintaan di lingkungan mereka
2. Membentuk kesadaran siswa dan memberikan pengertian akan tubuh mereka yang
mengagumkan dan bagaimana cara memanfaatkannya
3. Mengajarkan para siswa bagaimana membuat keseluruhan
Dalam hal ini pada pelaksanaannya pendekatan relaksasi tentu tidak akan berjalan
dengan baik jika tidak didukung oleh beberapa faktor yang mendukung seperti ruangan
yang nyaman dan pemilihan irama yang tenang. Oleh karena itu pemilihan musik untuk
mendukung proses kelancaran relaksasi menjadi hal yang sangat penting, karena fungsi
dari musik itu sendri menurut AT Mahmud (1994) dalam Astati (2001 : 9) adalah : “
Bagian dari kehidupan dan perkembangan jiwa manusia”.
Dari pernyataan di atas lahirlah sebuah pendekatan relaksasi musik yang dapat
diartikan suatu proses yang berguna untuk membuat tubuh menjadi tenang dengan
menggunakan musik sebagai medianya hal ini dipertegas oleh teori dari Ortiz JM (2004 :
18), dalam bukunya yang berjudul “Menumbuhkan anak-anak yang bahagia, cerdas,
percaya diri dengan musik” yang menyatakan bahwa relaksasi dengan menggunakan
musik adalah sebuah proses memusatkan perhatian pada lagu, pernapasan yang
membantu konsentrasi, dan menirukan melodi yang membantu mengalihkan perhatian,
pikiran dari masalah yang sedang dihadapi, sebagai tambahan, penyelarasan pernapasan
dengan tempo lagu tersebut akan segera membantu masuk kedalam perasaan yang lebih
tenang dan rileks.
Relaksasi musik ini juga sering dikatakan sebagai penyaluran musikal, dalam
konteks ini bisa digambarkan sebagai proses dimana secara perlahan kita mengalihkan
23
orientasi pikiran atau tubuh kita kea rah yang lebih kita inginkan. Misalnya, seorang yang
sedang gelisah akan diredam dan dibawa ke tahap yang lebih tenang dan terkontrol.
D. Peranan Pendekatan Relaksasi melalui Musik untuk Meningkatkan Konsentrasi
Anak ADHD
Sebagian besar anak ADHD memiliki kesulitan berkonsentrasi dalam melakukan
suatu kegiatan baik dalam kegiatan belajar maupun bermain, ia tidak dapat berkonsentrasi
lebih dari lima menit dan mudah beralih perhatian kepada hal lain. Selain itu anak ADHD
cenderung mengalami kesulitan untuk tenang mereka tidak dapat duduk diam, seringkali
bergerak tanpa lelah dan tanpa tujuan yang jelas, sehingga mereka seringkali mengalami
kegagalan dalam kegiatan belajar di sekolah.
Hambatan anak ADHD dalam berkonsentrasi dipengaruhi oleh ketenangan pikiran
dan kondisi latar/ tempat ia berada untuk melakukan konsentrasi, oleh karena itu untuk
melakukan proses konsentrasi diperlukan ketenangan dan situasi tenang yang dapat
dilatih atau dibentuk dengan pendekatan relaksasi melalui music instrumental berirama
tenang.
Pendekatan relaksasi melalui musik instrumental berirama tenang ini merupakan
suatu upaya membantu membuat tubuh tenang dan tentram dengan musik berirama
tenang dan lembut yang membantu anak tenang pula juga sebagai penarik perhatian anak
agar terfokus dan terbawa suasana atau irama musik, terlebih jika musik yang
diperdengarkan musik kesukaan subyek. Hal ini akan menurunkan aktivitas fisiknya
sementara daya konsentrasinya meningkat. Dan menurut hasil penelitian sebelumnya
yang berjudul “Efektivitas Musik Barok Sebagai Musik Latar Dalam Pembelajaran Anak
Dengan Gangguan Perhatian” (2002 : 68) menyatakan bahwa musik sangat efektif
24
digunakan sebagai musik latar dalam pembelajaran anak dengan gangguan perhatian,
yang ditandai dengan anak dapat mengikuti setiap pelajaran yang disampaikan oleh guru.
Mengenai peranan pendekatan relaksasi musik untuk meningkatkan konsentrasi
anak ADHD ini juga diperkuat oleh teori-teori yang dikemukakan oleh beberapa ahli
diantaranya adalah menurut Aristoteles yang menyatakan bahwa musik mempunyai
kemampuan mendamaikan hati yang gundah dan mempunyai terapi rekreatif, pernyataan
itu juga diprinci oleh hasil penelitian Don CHampbell yang membuktikan bahwa musik
dapat menstimulasi otak. Musik yang lembut dapat membuat tenang, salah satu musik
yang diteliti adalah
musik Mozart yang terbukti dapat mengembangkan kemampuan
bicara, memperbaiki gerakan tubuh dan mengembangkan otak kiri yang mengasah
kemampuan berpikir secara logika dan musik Mozart dapat menguatkan daya ingat lebih
cepat 3 bulan pada bayi. Anak TK dapat lebih cerdas 34% bila diajarkan piano dari pada
ketika diajarkan komputer (setelah belajar piano anak meningkat IQ 46%) mendengarkan
musik klasik 30 menit sehari dapat meningkatkan kemampuan motorik & kreatifitas
berpikir, penelitian ini telah membuktikan musik dapat : Menstimulasi otak kanan,
meningkatkan kreatifitas berpikir, Mengurangi stress dan tekanan, Memelihara pikiran,
tubuh dan jiwa,
Menstabilkan detak jantung, tekanan darah dan temperatur tubuh,
menstimulasi gerakan tubuh, membuat tubuh menjadi rileks, Memaksimalkan kinerja
otak, lebih mudah menyerap informasi (pelajaran) dan meningkatkan kreativitas,
meningkatkan perasaan senang dan mengatasi rasa bosan dalam belajar atau bekerja.
Dalam penerapanya menurut hasil penelitian Don CHampbell bahwa relaksasi musik
dapat digunakan saat melakukan aktivitas seperti bekerja, belajar dan mengerjakan tugas
selain itu juga relaksasi musik dapat digunakan ketika tidak melakukan aktivitas
beristirahat, duduk bahkan ketika sedang tidur music dapat memasuki alam bawah sadar
dan ketika terbangun dari tidur otak menjadi tenang.
25
Dalam buku yang berjudul “Menumbuhkan anak-anak yang bahagia, cerdas,
percaya diri dengan musik” oleh Ortiz JM (2004 : 45), menyatakan bahwa proses
mendengarkan musik, menciptakan musik dan mengembangkan suara memberikan
banyak manfaat bagi anak-anak preverbal dan verbal diantaranya :
1. Meningkatkan keterampilan mendengarkan.
2. Mengajarkan cara untuk menginterpretasikan keadaan emosional seseorang (misalnya
sedih, bahagia, santai, gembira) lewat beberapa kualitas vokal seperti tinggi
rendahnya nada, kualitas suara dan volume.
3. Mempertajam kemampuan memusatkan perhatian dan memperhatikan
4. Meningkatkan rasa nyaman dengan perilaku yang terorganisir, bertujuan dan
terkendali.
5. Meningkatkan konsentrasi
6. Membantu mengembangkan ingatan pendengaran dan pembedaan suara.
Dari pernyataan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa musik dapat membantu
meningkatkan konsentrasi, dan jika musik ini diterapkan dalam sebuah pendekatan
relaksasi untuk anak dengan gangguan ADHD bisa dikatakan sangat cocok, hal itu
dikarenakan musik dapat meningkatkan rasa nyaman dengan perilaku terorganisir,
bertujuan dan terkendali yang itu semua sangat dibutuhkan atau sebagai syarat untuk
melakukan sebuah proses konsentrasi. Selain untuk mengembangkan aspek konsentrasi
pada anak ADHD pendekatan relaksasi musik ini juga dapat berperan dalam
mengorganisir kegiatan atau gerakan sehari-hari yang kacau dalam artian tanpa tujuan
yang jelas menjadi baik bertujuan.
Selain itu pendekatan relasasi musik juga dapat menjadi alternatife untuk
menangani stress, pencegahan bahkan musik dapat digunakan sebagai suplemen
multivitamin alternative sehari-hari.
26
E. Kerangka Berfikir
Untuk lebih memahami secara jelas mengenai kerangka berpikir dari penelitian
ini, maka penyusun menggambarkan dalam bentuk bagan seperti dibawah ini :
Gangguan
konsentrasi
anak ADHD
Pendekatan
relasasi
melalui
musik
berirama
tenang
Peningkatan
konsentrasi
anak ADHD
Tabel 2.2
Kerangka Berpikir
Seperti yang telah diketahui sebelumnya, bahwa anak ADHD memiliki gangguan
konsentrasi jenis distraktibilitas yang ditandai dengan konsentrasinya mudah teralihkan
pada rangsang atau stimuli yang tidak berarti atau tidak dapat mempertahankan
konsentrasi dalam durasi yang lama, dapat mudah berpindah dari satu topik ke topik lain
hanya dengan provokasi minimal. Dengan kata lain, anak ADHD memiliki tenasitas yang
rendah jadi anak dengan gangguan ADHD tidak dapat berkonsentrasi dalam waktu yang
lama hal tersebut disebabkan oleh sifat hiperaktifitas yang ditandai dengan tidak bisa
diam dalam waktu lama dan mudah teralihkan perhatiannya kepada hal lain.
Pernyataan tersebut dipertegas oleh Zaivera, F,. (2007:27), yang menyatakan
bahwa “kemampuan konsentrasi anak ADHD dapat ditandai dengan (1) sering sulit
memusatkan perhatian secara terus menerus dalam suatu aktivitas, (2) sering tampak tidak
mendengarkan kalau diajak bicara, (3) sering tidak mengikuti intruksi dan gagal
menyelesaikan tugas, (4) sering sulit mengatur kegiatan maupun tugas, (5) sering mudah
beralih perhatian oleh rangsangan dari luar, (6) sering lupa dalam mengerjakan kegiatan
sehari-hari”.
27
Dari pernyataan di atas maka dapat disimpulkan bahwa perlu adanya suatu upaya
yang diharapkan dapat membatu mengatasi permasalahan konsentrasi yang dialami
subyek, dengan menawarkan suatu alat bantu berupa pendekatan relaksasi melalui musik,
dimana pendekatan relaksasi melalui musik ini merupakan suatu upaya untuk membantu
membuat tubuh individu menjadi tenang dan tentram dengan menggunakan musik
sebagai mediannya. Pendekatan relaksasi musik dalam meningkatkan konsentrasi anak
ADHD dapat memberikan banyak manfaat diantaranya :
1. Meningkatkan keterampilan mendengarkan.
2. Mengajarkan cara untuk menginterpretasikan keadaan emosional seseorang (misalnya
sedih, bahagia, santai, gembira) lewat beberapa kualitas vokal seperti tinggi
rendahnya nada, kualitas suara dan volume.
3. Mempertajam kemampuan memusatkan perhatian dan memperhatikan
4. Meningkatkan rasa nyaman dengan perilaku yang terorganisir, bertujuan dan
terkendali.
5. Meningkatkan konsentrasi
6. Membantu mengembangkan ingatan pendengaran dan pembedaan suara.
Selain itu musik dapat meningkatkan rasa nyaman, tenang dengan perilaku
terorganisir, bertujuan dan terkendali yang itu semua sangat dibutuhkan atau sebagai
syarat untuk melakukan sebuah proses konsentrasi.
Untuk itu, berdasarkan kelebihan atau kegunaan yang ditawarkan pendekatan
relaksasi melalui musik berirama tenang ini, dan menghubungkan dengan permasalahan
yang muncul pada subyek. Maka penggunan pendekatan relaksasi melalui musik ini
dipandang
efektif
konsentrasinya.
untuk
diterapkan
pada
anak
ADHD
untuk
meningkatkan
Download