BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori Pengertian peningkatan

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teori
Pengertian peningkatan hasil belajar pada hasil belajar IPA dengan
mengunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe GI (Group Investigation)
adalah peningkatan yang dilakukan untuk mengukur kemampuan siswa
kembali pada hasil belajar yang belum bisa memenuhi KKM yang ditentukan
oleh guru di kelas.
2.1.1 Pengertian Pembelajaran IPA
IPA merupakan salah satu pelajaran wajib di Sekolah Dasar. Dengan
belajar IPA siswa akan dapat mempelajari diri sendiri dan alam sekitar.
Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pemahaman lagsung dan
kegiatan praktis untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu
menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA
diarahkan untuk “mencari tahu dan berbuat”sehingga dapat membantu siswa
untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.
Ilmu Pengetahuan Alam merupakan terjemahan kata – kata dalam Bahasa
Inggris yaitu natural science artinya Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Berhubungna dengan alam atau bersangkut paut dengan alam, science itu
pengertiannya dapat disebut sebagai ilmu tentang alam. Ilmu yang
mempelajari peristiwa – peristiwa yang terjadi di alam ini (Samatowa,
2010:3). IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara
sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan sistematis dan
IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa faktafakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu
proses penemuan (Sri Sulistyorini, 2007: 39).
Menurut Wahyana dalam Trianto (2010:136) bahwa IPA adalah
suatu kumpulan pengetahuan tersusun secara sistematis, dan dalam
penggunaannya secara umum terbatas pada gejala – gejala alam.
Perkembangannya tidak hanya ditandai oleh adanya kumpulan fakta, tetapi
7
8
oleh adanya metode ilmiah dan sikap ilmiah. Pada hakikatnya IPA dibangun
atas dasar produk ilmiah, proses ilmiah dan sikap ilmiah. Menurut Trianto
(2010:141) dalam bukunya Model Pembelajaran Terpadu dijelaskan bahwa
hakikat IPA adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala – gejala
melalui serangkaian proses yang dikenal dengan proses ilmiah yang dibangun
atas dasar sikap ilmiah dan hasilnya terwujud sebagai produk ilmiah yang
tersusun atas tiga komponen terpenting berupa konsep, prinsip dan teori yang
berlaku secara universal.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
hakikat IPA pada dasarnya adalah ilmu yang mempelajarai segala sesuatu
yang ada dialam yang dibangun atas dasar sikap ilmiah yang dipandang dari
segi proses, produk dan pengembangan sikap.
2.1.2 Tujuan Pembelajaran IPA di SD
Suatu tujuan pendidikan ditetapkan untuk menentukan arah dan
kegiatan pendidikan yang dilaksanakan. Menurut Johnson, D & Johnson, R.
(2003), tujuan pembelajaran IPA di sekolah dasar adalah membangun rasa
ingin tahu siswa, ketertarikan siswa tentang alam dan dirinya dan
menyediakan kesempatan untuk mempraktekan metode ilmiah serta
mengkomunikasikannya.
Tujuan pendidikan IPA di Indonesia dinyatakan dalam tujuan
kurikuler mata pelajaran IPA Sekolah Dasar yang dinyatakan dalam Peraturan
Menteri (PERMEN) No 22 tahun 2006 Tentang Standar Isi sebagai cakupan
kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi “kelompok mata
pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SD/MI/SDLB dimaksudkan
untuk mengenal, menyikapi dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan
teknologi, serta menanamkan kebiasaan berpikir dan perilaku ilmiah yang
kritis, kreatif dan mandiri.
Berdasarkan PERMEN No. 22 Tahun 2006, mata pelajaran IPA di
SD/MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
9
1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya.
2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang
bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang
adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan,
teknologi dan masyarakat.
4. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar,
memecahkan masalah, dan membuat keputusan.
5. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga
dan melestarikan lingkungan alam.
6. Meningkatkan
kesadaran
untuk
menghargai
alam
dan
segala
keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
7. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai
dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTS.
Maksud dari tujuan tersebut adalah agar siswa dapat memiliki
pengetahuan untuk mempelajari gejala alam, beberapa jenis perangkat
lingkungan yang dapat ditemukan melalui pengamatan, hal itu dilakukan agar
siswa tidak buta akan pengetahuan dasar mengenai IPA.
2.1.3 Pembelajaran IPA di SD
Kegiatan pembelajaran IPA mencakup pengembangan kemampuan
dalam mengajukan pertanyaan mencari jawaban memahami jawaban, dan
menyempurnakan jawaban tentang “apa”, “mengapa”, dan “bagaimana”
tentang gejala alam maupun karakteristik alam sekitar melalui cara-cara
sistematis yang akan diterapkan dalam lingkungan dan teknologi. Dalam
belajar IPA peserta didik diarahkan untuk membandingkan hasil prediksi
peserta didik dengan teori melalui eksperimen dengan menggunakan metode
ilmiah. Pendidikan IPA di sekolah diharapkan dapat menjadi wahana bagi
peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitarnya, serta
prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya dalam kehidupan
10
sehari-hari, yang didasarkan pada metode ilmiah. Pembelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) menekankan pada pengalaman langsung untuk
mengembangkan kompetensi agar peserta didik mampu memahami alam
sekitar melalui proses “mencari tahu” dan “berbuat”, hal ini akan membantu
peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.
Keterampilan dalam mencari tahu atau berbuat tersebut dinamakan dengan
keterampilan proses penyelidikan atau “enquiry skills” yang meliputi
mengamati, mengukur, menggolongkan, mengajukan pertanyaan, menyusun
hipotesis,
merencanakan
eksperimen
untuk
menjawab
pertanyaan,
mengklasifikasikan, mengolah, dan menganalisis data, menerapkan ide pada
situasi baru, menggunakan peralatan sederhana serta mengkomunikasikan
informasi dalam berbagai cara, yaitu dengan gambar, lisan, tulisan, dan
sebagainya. Melalui keterampilan proses dikembangkan sikap dan nilai yang
meliputi rasa ingin tahu, jujur, sabar, terbuka, tidak percaya tahyul, kritis,
tekun, ulet, cermat, disiplin, peduli terhadap lingkungan, memperhatikan
keselamatan kerja, dan bekerja sama dengan orang lain.
Pembelajaran IPA di sekolah sebaiknya, memberikan pengalaman
pada peserta didik untuk belajar menguji suatu pernyataan yang didapat dari
pengamatan terhadap kejadian sehari-hari, sehingga dari hasil pengujian
tersebut mereka dapat memperoleh jawaban sementara dari pengamatan yang
dilakukan. Adanya jawaban sementara yang dibuat dapat membantu peserta
didik untuk berpikir logis terhadap suatu bentuk peristiwa alam yang terjadi
karena pembelajaran IPA itu dapat membantu menjawab berbagai masalah
yang berkaitan dengan peristiwa alam yang terjadi (Trianto, 2010:151-153).
IPA di SD hendaknya membuka kesempatan untuk memupuk rasa ingin tahu
anak didik secara alamiah. Hal ini akan membantu mereka mengembangkan
kemampuan bertanya dan mencari jawaban atas berdasarkan bukti serta
mengembangkan cara berfikir ilmiah. Fokus program pengajaran IPA di SD
hendaknya ditunjukkan untuk memupuk minat dan pengembangan anak didik
terhadap dunia mereka dimana mereka hidup (Samatowa, 2010:2). Jadi
pembelajaran IPA di SD hendaknya membuka kesempatan kepada anak didik
11
untuk memperoleh pemahaman secara mendalam dan pengalaman secara
langsung untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar secara ilmiah.
2.2 Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah
siswa sebagai anggota kelompok kecil dengan tingkat kemampuan yang
berbeda, dalam menyelesaikan tugas kelompok setiap siswa anggota
kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami
materi pelajaran (Isjoni, 2009:14-15). Slavin (2009: 4) mengemukakan
pendapatnya bahwa pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam
metode pengajaran di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok
kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi
pelajaran. Hal ini bertujuan agar proses pembelajaran tidak didominasi oleh
satu orang, melainkan setiap anggota kelompok memiliki kewajiban dan
tanggung jawab yang sama dalam menyelesaikan masalah kelompoknya.
Sehingga
proses
pembelajaran
yang terjadi
dapat
berperan
dalam
mengaktifkan semua siswa dan lebih berpusat kepada siswa.
Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi
pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk
mencapai tujuan bersama (Eggen dan Kauchak dalam Trianto, 2007:42). Pada
pembelajaran kooperatif diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar
dapat bekerja sama dengan baik di dalam kelompoknya, seperti menjadi
pendengar yang baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan
atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan kepada temannya. Selama kerja
kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan. Tujuan
pembelajaran kooperatif sebagai berikut: 1) untuk meningkatkan partisipasi
siswa, 2) untuk memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan
dan membuat keputusan dalam kelompok, 3) memberikan kesempatan pada
siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar
belakangnya (Trianto, 2007:42).
12
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif oleh (Trianto, 2009:66-67)
adalah sebagaimana terlihat pada tabel berikut.
Tabel 2
Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Sintaks
Perilaku
Pembelajaran
Kooperatif
Fase 1
Fase 2
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa pelajaran
yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut.
Menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan
demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Mengorganisasikan
Fase 3
siswa
ke
dalam
kelompok-
kelompok belajar menjelaskan bagaimana
caranya membentuk kelompok belajar dan membantu
setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Membimbing kelompok bekerja dan belajar pada saat
Fase 4
mereka mengerjakan tugas mereka.
Mengevaluasi hasil belajar tentang
Fase 5
materi yang telah dipelajari atau masing-masing
kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase 6
Memberikan penghargaan baik upaya maupun hasil
belajar individu dan kelompok.
Berdasarkan enam fase sintaks pembelajaran kooperatif di atas,
maka pembelajaran dalam kooperatif dimulai dengan guru menginformasikan
tujuan-tujuan dari pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Fase ini
diikuti dengan penyajian informasi, sering dalam bentuk teks bukan verbal.
Kemudian dilanjutkan langkah-langkah di mana siswa di bawah bimbingan
guru bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan tugas-tugas yang saling
bergantung. Fase terakhir dari pembelajaran kooperatif meliputi penyajian
13
produk akhir kelompok atau mengetes apa yang telah dipelajari oleh siswa
dan pengenalan kelompok dan usaha-usaha individu.
2.3 Pembelajaran Kooperatif Tipe GI (Group Investigation)
2.3.1 Pengertian Kooperatif Tipe GI (Group Investigation)
Group
Investigation
merupakan
salah
satu
bentuk
model
pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas
siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari
melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa
dapat mencari melalui internet. Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik
dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui
investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang
baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok.
Model group investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan
kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat
mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran. Dalam model
pembelajaran group investigation terdapat tiga konsep utama, yaitu:
Penelitian atau enquiri, pengetahuan atau knowledge, dan dinamika kelompok
atau the dynamic of the learning group, (Udin S. Winaputra, 2001:75).
Penelitian di sini adalah proses dinamika siswa memberikan respon terhadap
masalah dan memecahkan masalah tersebut. Pengetahuan adalah pengalaman
belajar yang diperoleh siswa baik secara langsung maupun tidak langsung.
Sedangkan dinamika kelompok menunjukkan suasana yang menggambarkan
sekelompok saling berinteraksi yang melibatkan berbagai ide dan pendapat
serta saling bertukar pengalaman melaui proses saling beragumentasi.
Pembelajaran kooperatif tipe GI group investigation berawal dari
perspektif filosofis terhadap konsep belajar. Untuk dapat belajar, seseorang
harus memiliki pasangan atau teman. Sebuah gagasan john dewey tentang
pendidikan, bahwa kelas merupakan cermin masyarakat dan berfungsi
sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan di dunia nyata yang
bertujuan mengkaji masalah-masalah sosial dan antar pribadi. Menurut
14
depdiknas (2005:18) pada pembelajaran ini guru mengarahkan, membantu
para siswa menemukan informasi, dan berperan sebagai salah satu sumber
belajar, yang mampu menciptakan lingkungan sosial yang dicirikan oleh
lingkungan demokrasi dan proses ilmiah. Kelompok penyelidikan adalah
medium organisasi untuk mendorong dan membimbing keterlibatan siswa
dalam belajar. Siswa aktif berbagi dalam mempengaruhi sifat kejadian di
dalam kelas mereka. Dengan berkomunikasi secara bebas dan bekerja sama
dalam perencanaan dan melaksanakan dipilih topik mereka penyelidikan,
mereka dapat mencapai lebih dari mereka sebagai individu. Hasil akhir dari
kelompok kerja mencerminkan kontribusi masing-masing anggota, tetapi
intelektual lebih kaya dari kerja yang dilakukan sendiri oleh siswa yang sama.
2.3.2 Karakteristik Group Investigation
Pembelajaran kooperatif tipe GI Group Investigation memiliki beberapa
karakteristik, yaitu :
1. Tujuan kognitif untuk menginformasikan akademik tinggi dan
keterampilan inkuiri.
2. Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan anggota 4 atau 5 siswa
yang heterogen dan dapat dibentuk berdasarkan pertimbangan keakraban
persahabatan atau minat yang sama dalam topic tertentu.
3. Siswa terlibat langsung sejak perencanaan pembelajaran (menentukan
topik dan cara investigasi) hingga akhir pembelajaran (penyajian laporan).
4. Diutamakan keterlibatan pertukaran pemikiran para siswa.
5. Adanya sifat demokrasi dalam kooperatif (keputusan-keputusan yang
dikembangkan atau diperkuat oleh pengalaman kelompok dalam konteks
masalah yang diselidiki).
6. Guru dan murid memiliki status yang sama dalam mengatasi masalah
dengan peranan yang berbeda.
15
2.3.3 Tahap-Tahap Model Pembelajaran Kooperatif tipe GI (Group
Investigation).
Menurut Slavin (1995: 113-114) dalam implementasi teknik group
investigation dapat dilakukan melalui 6 (enam) tahap. Tahapan tersebut
adalah: 1) identifying the topic and organizing pupils into groups, 2) planning
the learning task, 3) carring out the investigation, 4) preparing a final report,
5) presenting the final report, and 6) evaluation. Dengan melihat tahapan
tersebut, maka pembelajaran dengan teknik group investigation berawal dari
mengidentifikasi
topik
dan
mengatur
murid
kedalam
kelompok,
merencanakan tugas yang akan dipelajari, melaksanakan investigasi,
menyiapkan laporan akhir, mempersentasikan laporan akhir dan berakhir
pada evaluasi.
Berdasarkan uraian pendapat Slavin, di atas dapat dijelaskan bahwa
dalam group investigation, para siswa bekerja melalaui enam tahapan.
Tahapan-tahapan ini dan komponen-komponennya dapat dijabarkan sebagai
berikut:
1. Mengidentifikasikan topik dan mengatur siswa ke dalam kelompok.
2. Para siswa meneliti beberapa sumber, mengusulkan sejumlah topik dan
mengkategorikan saran-saran.
3. Para siswa bergabung dengan kelompoknya untuk mempelajari topik yang
mereka pilih.
4. Komposisi kelompok didasarkan pada ketertarikan siswa dan harus
bersifat homogen.
5. Guru membantu dalam mengumpulkan informasi dan memfasilitasi siswa.
Merencanakan tugas yang akan dipelajari.
6. Para siswa merencanakan bersama mengenai apa yang akan dipelajari,
bagaiman memepelajarinya dan pembagian tugas.
a. Melaksanakan investigasi.
16
b. Para siswa mengumpulkan informasi, mengenai data dan membuat
kesimpulan.
c. Tiap anggota kelompok berkontribusi untuk usaha-usaha yang dilakukan
kelompoknya.
d. Para siswa saling bertukar, bediskusi, mengklasifikasi, dan mensintesis
semua gagasan.
7. Menyiapkan laporan akhir.
a. Anggota kelompok menentukan pesan-pesan esensial dari tugas mereka.
b. Anggota kelompok merencanakan apa yang mereka laporkan, dan
bagaiman mereka membuat pesentasinya.
c. Wakil-wakil kelompok membentuk panitia untuk mengkoordinasikan
rencana-rencana presentasi.
8. Mempresentasikan laporan akhir.
a. Presentasi yang dibuat untuk semua kelas dan berbagai macam bentuk.
b. Presentasi harus dapat melibatkan peseta secara aktif.
c. Para peserta mengevaluasi kejelasan dan penampilan presentasi
berdasarkan keriteria yang telah ditentukan sebelumnya.
9. Evaluasi
a. Para siswa saling meberikan umpan balik mengenai topik tersebut.
b. Guru dan murid berkolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran siswa.
c. Penilaian atas pembelajaran harus mengevaluasi pemikiran paling tinggi.
d. Pendekatan lain untuk mengevaluasi dapat dengan membuat para siswa
merekonstruksi proses investigasi yang telah mereka lakukan dan
memetakan langkah-langkah yang telah mereka terapkan dalam
pembelajaran mereka.
Pendapat tersebut mengandung pengertian bahwa dalam melaksanakan
tugas investigasi siswa dapat mengumpulkan informasi, menganalisis, dan
membuat simpulan, setiap anggota kelompok berkontribusi untuk usaha-usaha
yang dilakukan kelompoknya, dan saling bertukar pikiran, berdiskusi,
mengklarifikasi,
dan
mensintesis
semua
gagasan,
sedangkan
dalam
17
menyiapkan laporan akhir, aktifitas yang dilakukan siswa adalah anggota
kelompok menentukan pesan-pesan esensial dari pekerjaan mereka, anggota
kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan dan bagaimana
membuat persentase, wakil-wakil kelompok membentuk sebuah tim untuk
mengkoordinasikan rencana persentasi.
Dalam mempersentasikan laporan
akhir, persentase harus dapat melibatkan pendengarnya secara aktif dan
pendengar mengevaluasi berdasarkan keriteria yang telah ditentukan
sebelumnya, sedangakan pada tahap evaluasi, siswa saling memberikan umpan
balik, kolaborasi guru dan murid dalam mengevaluasi pembelajaran dan
penilaian atas pembelajaran harus mengevaluasi pemikiran yang paling tinggi.
2.3.4 Sintaks Model koperatif tipe (Group Investigation) :
a. Pengarahan,
b. Buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas,
c. Rencanakan pelaksanaan investigasi,
d. Tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas, misal
mengukur tinggi pohon,
e. Mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah, jenis dagangan dan
keuntungan di kantin sekolah, banyak guru dan staf sekolah),
f. Pengolahan data,
g. Penyajian data hasil investigasi,
h. Presentasi,
i. Kuis individual,
j. Buat skor perkembangan siswa,
k. Umumkan hasil kuis dan berikan reward.
Langkah-langkah pembelajaran Group Investigation di dalam kegiatan di
kelas menurut Istarani (2011: 86) adalah sebagai berikut:
1. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen.
2. Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok.
3. Guru memanggil ketua kelompok dan setiap kelompok mendapat tugas satu
materi atau tugas yang berbeda dari kelompok lain.
18
4. Masing-masing
kelompok membahas materi yang sudah ada secara
kooperatif dan bersifat penemuan.
5. Setelah selesai berdiskusi, juru bicara kelompok menyampaikan hasil
pembahasan kelompok.
6. Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberikan kesimpulan.
7. Evaluasi
8. Penutup.
Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif tipe GI
(Group Investigation).
Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif tipe GI (Group Investigation.)
Adapun kelebihan dari model pembelajaran ini adalah:
1. Dapat memadukan antara siswa
yang berbeda kemampuan melalui
kelompok heterogen.
2. Malatih siswa untuk meningkatkan kerjasama dalam kelompok.
3. Melatih siswa untuk memepertanggungjawabkan sebab ia diberi tugas untuk
diselesaikan dalam kelompok.
4. Siswa dilatih untuk menemukan hal-hal baru dari hasil investigasi kelompok
yang dilakukan.
5. Melatih siswa untuk mengeluarkan ide dan gagasan baru melalui penemuan
yang ditemukannya (Istarani ( 2010: 87).
Kekurangan
Model
Pembelajaran
Kooperatif
tipe
GI
(Group
Investigation)
Kekurangan dari model pembelajaran ini adalah;
1. Dalam berdiskusi sering kali yang aktif hanya sebagian siswa.
2. Adanya pertentangan diantara siswa yang sulit disatukan karena dalam
kelompok sering berbeda pendapat.
3. Sulit bagi siswa untuk menemukan hal yang baru sebab ia belum terbiasa
untuk melakukan hal itu.
4. Bahan yang tersedia untuk melakukan penemuan kurang lengkap.
19
Pengertian model group investigation sering kali disebut sebagai
model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks. Hal ini disebabkan
oleh model ini memadukan beberapa landasan pemikiran, yaitu berdasarkan
pandangan konstruktivistik, democratic teaching, dan kelompok belajar
kooperatif. Berdasarkan pandangan konstruktivistik, proses pembelajaran
dengan model group investigation memberikan kesempatan seluas-luasnya
kepada siswa untuk terlibat secara langsung dan aktif dalam proses
pembelajaran mulai dari perencanaan sampai cara mempelajari suatu topik
melalui investigasi. Democratic teaching adalah proses pembelajaran yang
dilandasi
oleh
nilai-nilai
demokrasi,
yaitu
penghargaan
terhadap
kemampuan, menjunjung keadilan, menerapkan persamaan kesempatan, dan
memperhatikan keberagaman peserta didik (Budimansyah, 2007: 7). Group
Investigation adalah kelompok kecil untuk menuntun dan mendorong siswa
dalam keterlibatan belajar. Model ini menuntut siswa untuk memiliki
kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan
proses kelompok (group process skills). Hasil akhir dari kelompok adalah
sumbangan ide dari tiap anggota serta pembelajaran kelompok yang lebih
mengasah kemampuan intelektual siswa dibandingkan belajar secara
individual. Maimunah, ( 2005: 21) mengemukakan group investigation
adalah strategi belajar kooperatif yang menempatkan siswa ke dalam
kelompok untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik. Dari
pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa model Group Investigation
mempunyai fokus utama untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik
atau objek khusus. Tujuan model pembelajaran group investigation paling
sedikit memiliki tiga tujuan yang saling terkait:
1. Group investigation membantu siswa untuk melakukan investigasi
terhadap suatu topik secara sistematis. hal ini mempunyai implikasi yang
positif terhadap pengembangan keterampilan penemuan dan membentu
mencapai tujuan.
20
2. Pemahaman secara mendalam terhadap suatu topik yang dilakukan
melaui investigasi.
3. Group investigation melatih siswa untuk bekaerja secara kooperatif
dalam memecahkan suatu masalah. dengan adanya kegiatan tersebut, siswa
dibekali keterampilan hidup (life skill) yang berharga dalam kehidupan
bermasyarakat. jadi guru menerapkan model pembelajaran Group
Investigation dapat mencapai tiga hal, yaitu dapat belajar dengan penemuan,
belajar isi dan belajar untuk bekerjas secara kooperatif.
langkah-langkah model pembelajaran group investigasi Sharan, Supandi,
2005: 6) mengemukakaan langkah-langkah pembelajaran pada model
pemelajaran Group Investigation sebagai berikut.
1. Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang heterogen.
2. Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok yang harus
dikerjakan.
3. Guru memanggil ketua-ketua kelompok untuk memanggil materi tugas
secara kooperatif dalam kelompoknya.
4. Masing-masing kelompok membahas materi tugas secara kooperatif
dalam kelompoknya.
5. Setelah selesai, masing-masing kelompok yang diwakili ketua kelompok
atau salah satu anggotanya menyampaikan hasil pembahasannya.
6. Kelompok lain dapat memberikan tanggapan terhadap hasil
pembahasannya.
7. Guru memberikan penjelasan singkat (klarifikasi) bila terjadi kesalahan
konsep dan memberikan kesimpulan.
8. Evaluasi.
Tahap-Tahap Pembelajaran Group Investigation pelaksanaan langkahlangkah pembelajaran di atas tentunya harus berdasarkan prinsip
pengelolaan atau reaksi dari metode pembelajaran kooperatif model Group
Investigation. Dimana di dalam kelas yang menerapakan model Group
21
Investigation, pengajar lebih berperan sebagai konselor, konsultan, dan
pemberi kritik yang bersahabat. Dalam kerangka ini pengajar membimbing
dan mengarahkan kelompok menjadi tiga tahap:
1. Tahap pemecahan masalah,
2. Tahap pengelolaan kelas,
3. Tahap pemaknaan secara perseorangan.
Tahap pemecahan masalah berkenaan dengan proses menjawab pertanyaan,
apa yang menjadi hakikat masalah, dan apa yang menjadi fokus masalah.
Tahap pengelolaan kelas berkenaan dengan proses menjawab pertanyaan,
informasi apa yang saja yang diperlukan, bagaimana mengorganisasikan
kelompok untuk memperoleh informasi itu. Sedangkan tahap pemaknaan
perseorangan berkenaan dengan proses pengkajian bagaimana kelompok
menghayati kesimpulan yang dibuatnya, dan apa yeng membedakan
seseorang sebagai hasil dari mengikuti proses tersebut. Winataputra, ( 2001:
37). Kerangka operasional model pembelajaran group investigation adalah
sebagai berikut:
1. Siswa dihadapkan dengan situasi bermasalah.
2. Siswa melakukan eksplorasi sebagai respon terhadap situasi yang
problematis.
3. Siswa
merumuskan
tugas-tugas
belajar
atau
learning
taks
dan
mengorganisasikan untuk membangun suatu proses penelitian.
4. Siswa melakukan kegiatan belajar individual dan kelompok.
5. Siswa menganalisis kemajuan dan proses yang dilakukan dalam proses
penelitian kelompok.
6. Melakukan proses pengulangan kegiatan atau recycle activities.
2.3.5 Hasil Belajar
Belajar dalam idealisme berarti kegiatan psiko-fisik-sosial menuju
ke perkembangan pribadi seutuhnya. Namun, realitas yang dipahami oleh
sebagian besar masyarakat tidaklah demikian. Belajar dianggapnya property
22
sekolah. Kegiatan belajar selalu dikaitkan dengan tugas-tugas sekolah.
Sebagian besar masyarakat menganggap belajar di sekolah adalah usaha
penguasaan materi ilmu pengetahuan. Gagne (dalam Agus Suprijono, 2009)
menyatakan, bahwa belajar adalah disposisi atau kemampuan yang dicapai
seseorang melalui aktivitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh
langsung dari proses pertumbuhan sesorang secara alamiah.Djamarah
(2000: 45), mengemukakan, bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa
raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya menyangkut
kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hamalik (2001: 159) hasil belajar
merupakan perubahan perilaku yang diperoleh
pembelajaran setelah
mengalami aktivitas belajar. hasil belajar menunjukkan kepada prestasi
belajar, sedangkan prestasi belajar itu merupakan indikator derajat
perubahan tingkah laku siswa.
Selanjutnya Sudjana (2010: 22) hasil belajar adalah kemampuan
yang dimiliki siswa setelah menerima kemampuan pengalaman belajar.
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui
kegiatan belajar. Perubahan-perubahan tersebut diantaranya dari segi
kemampuan berpikirnya, ketrampilannya sikap suatu objeknya. Maka hasil
belajar dapat tertuang dalam taksonomi Bloom, yakni dikelompokkan dalam
tiga ranah (domain) yaitu domain kognitif atau kemampuan berpikir,
domain afektif atau sikap, dan domain psikomotor atau keterampilan. Hasil
belajar ini sendiri terdiri dari beberapa aspek, sehubungan dengan ini Bloom
memberikan taksonomi sebagai berikut :
1. Ranah Kognitif
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak).
Segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah
kognitif. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam jenjang proses berpikir,
mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi.
Keenam jenjang dimaksud adalah:
a. Pengetahuan/hafalan/ingatan.
23
b. Pemahaman.
c. Penerapan (aplikasi).
d. Analisis (pengkajian)
e. Sintesis.
f. Evaluasi (penilaian)
2. Ranah Afektif
Ranah afektif adalah sikap ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai.
Ranah afektif ini dibagi ke dalam lima jenjang, yaitu:
1. Menerimaan atau memperhatikan (receiving atau attending).
2. Menanggapi (responding).
3. Menilai = menghargai (valuing).
4. Mengatur atau mengorganisasikan (organizing).
5. Karakteristik dengan suatu nilai atau komplek nilai
3. Ranah Psikomotor
Ranah psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan Keterampilan
(skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman
belajar tertentu. ”Belajar merupakan suatu proses dimana seseorang
berusaha untuk memperoleh suatu perubahan yang bagus atau meningkat
dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.
2.3.6 Pentingnya Hasil Belajar Dalam Pembelajaran IPA
Untuk mengetahui perkembangan sudah sampai dimana hasil yang
telah diperoleh peserta didik dalam belajar, maka harus dilakukan evaluasi
pada akhir pembelajaran. Untuk menentukan kemajuan yang harus dicapai
maka harus ada kriteria (patokan) yang mengacu pada tujuan yang telah
ditentukan sehingga dapat diketahui seberapa besar pengaruh strategi yang
digunakan terhadap keberhasilan peserta didik atau siswa.
Surakhmad dan Jemmars (1980 : 25) mengemukakan, bahwa
keberhasilan dalam belajar yang dilakukan oleh siswa bagi kebanyakan
orang berarti ulangan, ujian atau tes. Maksud ulangan tersebut ialah untuk
memperoleh suatu indek dalam menentukan keberhasilan siswa. Winkel
24
(1989:82) menyatakan, bahwa keberhasilan yang dicapai oleh siswa, yakni
adalah perstasi belajar siswa disekolah yang mewujudkan dalam bentuk
angka. Berdasarkan pernyataan menurut para ahli di atas tentang hasil
belajar, maka dapat diambil kesimpulan bahwa keberhasilan adalah hasil
prestasi belajar yang diperoleh oleh siswa yang dapat diukur dengan angka.
2.3.7 Pengukuran Hasil Belajar
Dilihat dari fungsinya, jenis penilaian ada beberapa macam menurut
Sudjana (2011:5) yaitu penilaian formatif, penilaian sumatif, penilaian
diagnostik, penilaian selektif dan penilaian penempatan. Dalam penelitian
ini penilaian yang dilakukan adalah penilaian formatif yaitu penilaian yang
dilaksanakan pada akhir program belajar-mengajar untuk melihat tingkat
keberhasilan proses belajar mengajar. Dari segi alatnya, penilaian hasil
belajar dapat dibedakan menjadi tes dan bukan tes (nontes). Tes ini ada yang
diberikan secara lisan (menuntut jawaban secara lisan) ada tes tulisan
(menuntut jawaban secara tulisan), dan ada tes tindakan (menuntut jawaban
dalam bentuk perbuatan). Soal-soal tes ada yang disusun dalam bentuk
objektif, ada juga yang dalam bentuk esai dan uraian. Sedangkan bukan tes
sebagai alat penilaian mencakup observasi, kuesioner, wawancara, skala,
dan lain-lain.
2.4
Penelitian yang Relevan
Utari (2012) peningkatan hasil belajar ilmu pengetahuan alam pokok
bahasan energi melalui pembelajaran Kooperatif tipe group investigation
pada siswa kelas 4 SD Negeri Madyo Gondo 03 Kecamatan Gablak
Kabupaten Magelang Semester II tahun pelajaran 2011/2012 menyatakan
bahwa peningkatan hasil belajar IPA dapat dilihat dari perolehan nilai siklus
I dan II. Siklus I dengan penerapan pembelajaran group investigation siswa
yang mencapai kriteria ketntasan minimal (KKM=60) sebanyak 26 siswa
(72,22%) dan yang belum mencapai KKM sebanyak 10 siswa (27,78%).
Nilai rata-rata adalah 73,05 sedangkan nilai tertinggi adalah 95 dan nilai
25
terendahnya adalah 30. Siklus II dengan penerapan pembelajaran group
investigation siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM=60)
sebanyak 34 siswa (94,44%) dan yang belum mencapai KKM sebanyak 2
siswa (5,56%). Nilai rata-ratanya adalah 80,28 sedangkan nilai tertinggi
adalah 100 dan nilai terendahnya adalah 40. Yumisnaini (2012) Efektivitas
Metode
Investigasi
Kelompok
(Group
Investigation)
Terhadap
Keterampilan Menulis Artikel Oleh Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Pancur
Batu Tahun Pembelajaran 2012/2013. Setelah dilakukan penelitian
diperoleh
kesimpulan
bahwa
kemampuan
menulis
artikel
yang
menggunakan model pembelajaran investigasi kelompok oleh siswa kelas xi
sma negeri 1 pancurbatu tahun pembelajaran 2012/2013 adalah baik dengan
nilai rata-rata 81,00. Kemampuan menulis artikel yang menggunakan
pembelajaran ekspositori oleh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Pancurbatu
tahun pembelajaran 2012/2013 adalah cukup dengan nilai rata-rata 68,67.
Selanjutnya penggunaan model pembelajaran investigasi kelompok efektif
diterapkan dalam meningkatkan kemampuan menulis artikel siswa kelas xi
sma negeri 1 pancurbatu tahun pembelajaran 2012/2013. Ini terlihat dari
hasil perhitungan uji t diperoleh nilai t hitung t≥ tabel (0,05), yakni 5,41 >
2,00.
Berdasarkan hasil Penelitian tersebut, maka peneliti juga ingin
menerapkan Model pembelajaran Kooperatif Tipe GI ((Group Investigation)
untuk meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas 4 SDN Polobogo 02
Kecamatan Getasan.
2.5
Kerangka Pikir
Aktivitas
Aktivitas
ini
siswa
merupakan
dapat menetukan
inti
dari
proses
pembelajaran.
berhasil atau tidakanya dari proses
pemebelajaran tersebut. Siswa diharapakan berpartisipasi aktif di dalam
kelas
saat proses
belajar
mengajar berlangsung.
Hal
ini
dapat
memudahakan mereka dalam menguasai materi yang diberikan guru.
Tujuan pembelajaran
sangat
erat dengan
strategi
atau metode
26
pembelajaran. Oleh karena itu penerapan metode pembelajaran yang
tepat akan mempengaruhi aktivitas dan hasil belajar siswa. Metode
pembelajaran yang tepat akan menciptakan proses pembelajaran yang
kondusif karena siswa terlibata langsung secara aktif dalam pembelajaran.
Pembelajairan tipe GI (Group Investigation) ini, diawalai dengan
guru menyajikan pembelajaran secara klasikal untuk garis besar materi
pelajaran. Siswa
tidak
hanya
memperoleh hasil belajar yang
ditunjuk
secara
individu
untuk
baik, tetapi mereka dituntut untuk
bertanggung jawab terhadap keberhasilan kelompoknya. Dalam belajar
kelompok
siswa
bekerja
secara kolaborasi
dengan
anggota
kelompoknya. Siswa yang lebih pintar memberi bantuan
kepada
teman-temanya untuk memahamai konsep-konsep yang dipelajari dan
setiap
angggota
kelompok
mempunyai
tanggung
jawab
akan
keberhasilan kelompoknya. Adanya interaksi antara anggota kelompok
secara
tidak
langsung
siswa menjadi lebih aktif dalam proses
pembelajaran dikelompoknya, sehingga dpat meningkatkan
belajar
siswa
dan
secara
tidak
langsung
aktivitas
dapat meningkatkan
pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan.
Berdasarkan uraian tersebut, dengan pelaksanaan pembelajaran
kooperatif tipe GI (Group Investigation) diharapkan dapat meningkatakan
hasil belajar IPA pada materi pokok belajar IPA di kelas IV SD Negeri
Polobogo 02 Semester GenapTahun pelajaran 2015/2016.
2.6
Hipotesis Tindakan
Pada kajian teori dan kerangka berfikir di atas, dapat di hipotesiskan
tindakan sebagai berikut : Melalui penggunaan model pembelajaran
kooperatif tipe Group Investigation dapat meningkatkan hasil belajar IPA
pada siswa kelas IV SDN Polobogo 02.
Download