37 BAB II FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA SENGKETA

advertisement
37
BAB II
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA
SENGKETA SERTIPIKAT GANDA
A. Pengertian Sengketa
Pengertian sengketa dalam kamus Bahasa Indonesia adalah pertentangan atau
konflik. Konflik berarti adanya oposisi atau pertentangan antara orang-orang,
kelompok-kelompok, atau organisasi-organisasi terhadap satu obyek permasalahan.
Menurut Winardi, Pertentangan atau konflik yang terjadi antara individu-individu
atau kelompok-kelompok yang mempunyai hubungan atau kepentingan yang sama
atas suatu obyek kepemilikan, yang menimbulkan akibat hukum antara satu dengan
yang lain.
Pengertian sengketa pertanahan dirumuskan dalam Pasal 1 Peraturan Menteri
Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 tahun 1999 tentang Tata
Cara Penanganan Sengketa Pertanahan, selanjutnya disebut PMNA/KBPN 1/1999,
yaitu :
“ Perbedaan pendapat antara pihak yang berkepentingan mengenai keabsahan
suatu hak, pemberian hak atas tanah, pendaftaran hak atas tanah, termasuk
peralihan dan penerbitan tanda bukti haknya serta pihak yang berkepentingan
yang merasa mempunyai hubungan hukum dan pihak lain yang berkepentingan
terpengaruh oleh status hukum tanah tersebut.”
37
Universitas Sumatera Utara
38
Menurut Sarjita, sengketa pertanahan adalah :
“Perselisihan yang terjadi antara dua pihak atau lebih yang merasa atau dirugikan
pihak-pihak tersebut untuk penggunaan dan penguasaan hak atas tanahnya, yang
diselesaikan melalui musyawarah atau melalui pengadilan.”47
Sedangkan menurut Ali Achmad berpendapat :48
Sengketa adalah pertentangan antara dua pihak atau lebih yang berawal dari
persepsi yang berbeda tentang suatu kepentingan atau hak milik yang dapat
menimbulkan akibat hukum bagi keduanya.
Dari kedua pendapat diatas maka dapat dikatakan bahwa sengketa adalah
prilaku pertentangan antara dua orang atau lebih yang dapat menimbulkan suatu
akibat hukum dan karenanya dapat diberi sanksi hukum bagi salah satu diantara
keduanya. Kemudian sebagaimana defenisi sengketa diatas terdapat beberapa bentuk
sengketa yang sering dijumpai yakni :
1. Sengketa dibidang Ekonomi
2. Sengketa dibidang Pajak
3. Sengketa dibidang Internasional
4. Sengketa dibidang Pertanahan
47
Sarjita, Teknik dan Strategi Penyelesaian Sengketa Pertanahan, (Yogyakarta : Tugujogja
Pustaka, 2005), halaman 8.
48
Ali. Achmad Chomzah, Seri Hukum Pertanahan III Penyelesaian Sengketa Hak Atas
Tanah dan Seri Hukum Pertanahan IV Pengadaan Tanah Instansi Pemerintah, (Jakarta : Prestasi
Pustaka, 2003), halaman 14.
Universitas Sumatera Utara
39
Sebagaimana bentuk-bentuk sengketa yang dipaparkan diatas maka yang
menjadi pokok dalam pembahasan ini adalah sengketa dibidang pertanahan. Sengketa
dibidang pertanahan dapat didefenisikan menurut Irawan Surojo yakni :49
Sengketa tanah adalah merupakan konflik antara dua pihak atau lebih yang
mempunyai kepentingan berbeda terhadap satu atau beberapa obyek hak atas
tanah yang dapat mengakibatkan akibat hukum bagi keduanya.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas Edi Prajoto juga mengatakan bahwa :50
Sengketa tanah adalah merupakan konflik antara dua orang atau lebih yang sama
mempunyai kepentingan atas status hak obyek tanah antara satu atau beberapa
obyek tanah yang dapat mengakibatkan akibat hukum tertentu bagi para pihak.
Dari definisi diatas maka dapat dikatakan bahwa sengketa tanah adalah
merupakan konflik antara beberapa pihak yang mempunyai kepentingan yang sama
atas bidang-bidang tanah tertentu yang oleh karena kepentingan tersebut maka dapat
menimbulkan akibat hukum.
Dalam bidang pertanahan ada dikenal sengketa sertipikat ganda dimana pada
satu obyek tanah diterbitkan dua sertipikat, dimana hal ini dapat mengakibatkan
akibat hukum. Sengketa sertipikat ganda adalah bentuk kesalahan administratif oleh
pihak Badan Pertanahan Nasional (disingkat BPN) dalam hal melakukan pendataan/
49
Irawan Soerodjo, Kapasitas Hukum Atas Tanah di Indonesia, (Surabaya : Arkola, 2003),
halaman 12.
50
Edi Prajoto, Antinomi Norma Hukum Pembatalan Pemberian Hak Atas Tanah Oleh
Peradilan Tata Usaha Negara Dan Badan Pertanahan Nasional, (Bandung : CV. Utomo, 2006),
halaman 21.
Universitas Sumatera Utara
40
pendaftaran tanah pada satu obyek tanah yang mengakibatkan terjadinya penerbitan
sertipikat tanah yang bertindih sebagian atau keseluruhan tanah milik orang lain.
Adapun beberapa tipologi sengketa dibidang pertanahan yang marak menjadi
perhatian dewasa ini adalah :51
1. Pendudukan tanah perkebunan atau non perkebunan atau tanah kehutanan dan
atau tanah aset Negara/Pemerintah, yang dianggap tanah terlantar.
2. Tuntutan pengembalian tanah atas dasar ganti rugi yang belum selesai, mengenai
tanah-tanah perkebunan, non perkebunan, tanah bekas tanah partikelir, bekas
tanah hak barat, tanah kelebihan maksimum dan pengakuan hak ulayat.
3. Tumpang tindih status tanah atas dasar klaim bekas eigendom, tanah milik adat
dengan bukti girik, dan atau Verponding Indonesia, tanah obyek landreform dan
lain-lain.
4. Tumpang tindih putusan pengadilan mengenai sengketa tanah.
Timbulnya sengketa hukum mengenai tanah berawal dari pengaduan suatu
pihak (orang atau badan hukum) yang berisi keberatan-keberatan dan tuntutan hak
atas tanah baik terhadap status tanah, prioritas maupun kepemilikannya dengan
harapan dapat memperoleh penyelesaian secara administrasi sesuai dengan ketentuan
51
Dust Ningky, Aspek Penyelesaian Sengketa Sertipikat Ganda Atas Tanah Pasca Kerusuhan
Di Kec. Sirimau Kota Ambon, http://ppsgmmi.blogspot.com/2008/05/skripsi.html, tanggal 10 Januari
2011.
Universitas Sumatera Utara
41
peraturan yang berlaku.52 Sifat permasalahan dari suatu sengketa ada beberapa
macam:53
1. Masalah yang menyangkut prioritas untuk dapat ditetapkan sebagai pemegang
hak yang sah atas tanah yang berstatus hak atas tanah yang belum ada haknya.
2. Bantahan terhadap sesuatu alas hak/bukti perolehan yang digunakan sebagai dasar
pemberian hak.
3. Kekeliruan/kesalahan pemberian hak yang disebabkan penerapan peraturan yang
kurang/tidak benar.
4. Sengketa/masalah lain yang mengandung aspek-aspek sosial praktis (bersifat
strategis).
Jadi dilihat dari substansinya, maka sengketa pertanahan meliputi pokok
persoalan yang berkaitan dengan :
1. Peruntukan dan/atau penggunaan serta penguasaan hak atas tanah.
2. Keabsahan suatu hak atas tanah.
3. Prosedur pemberian hak atas tanah.
4. Pendaftaran hak atas tanah termasuk peralihan dan penerbitan tanda bukti haknya.
B. Sertipikat Hak Atas Tanah
1. Pengertian Sertipikat Tanah
Dalam Pasal 1 angka 20 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 yang
dimaksud sertipikat adalah :
52
Rusmadi Murad, Penyelesaian Sengketa Hukum Atas Tanah, (Bandung : Mandar Maju,
1991), halaman 22.
53
Ibid, halaman 23.
Universitas Sumatera Utara
42
“Surat tanda bukti hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) huruf c
UUPA untuk hak atas tanah, hak pengelolaan, tanah wakaf, hak milik atas satuan
rumah susun dan hak tanggungan yang masing-masing sudah dibukukan dalam
buku tanah yang bersangkutan.”
Buku Tanah adalah dokumen dalam bentuk daftar yang memuat data yuridis
dan data fisik suatu obyek pendaftaran tanah yang sudah ada haknya (Pasal 1 angka
19 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997). Menurut Ali Achmad Chomsah,
yang dimaksud dengan sertipikat adalah :54
“Surat tanda bukti hak yang terdiri salinan buku tanah dan surat ukur, diberi
sampul, dijilid menjadi satu, yang bentuknya ditetapkan oleh Menteri Negara
Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional.”
Surat Ukur adalah dokumen yang memuat data fisik suatu bidang tanah dalam
bentuk peta dan uraian (Pasal 1 angka 17 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun
1997). Peta Pendaftaran adalah peta yang menggambarkan bidang atau bidang-bidang
tanah untuk keperluan pembukuan tanah (pasal 1 angka 15 Peraturan Pemerintah
Nomor 24 Tahun 1997). Sertipikat diberikan bagi tanah-tanah yang sudah ada surat
ukurnya ataupun tanah-tanah yang sudah diselenggarakan Pengukuran Desa demi
Desa, karenanya sertipikat merupakan pembuktian yang kuat, baik subyek maupun
obyek ilmu hak atas tanah.
Menurut Bachtiar Effendie, sertipikat tanah adalah :
54
Ali Achmad Chomzah (b), Hukum Pertanahan Seri Hukum Pertanahan I-Pemberian Hak
Atas Tanah Negara dan Seri Hukum Pertanahan II-Sertipikat Dan Permasalahannya, (Jakarta,
Prestasi Pustaka, 2002), halaman 122.
Universitas Sumatera Utara
43
“Salinan dari buku tanah dan salinan dari surat ukur yang keduanya kemudian
dijilid menjadi satu serta diberi sampul yang bentuknya ditetapkan oleh Menteri
Negara.” 55
Mengenai jenis sertipikat Ali Achmad Chomsah berpendapat bahwa sampai
saat ini ada 3 jenis sertipikat, yaitu :56
1. Sertipikat hak atas tanah yang biasa disebut sertipikat.
2. Sertipikat hak atas tanah yang sebelum Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996
tentang Hak Tanggungan dikenal dengan Sertipikat Hypotheek dan Sertipikat
Credietverband. Setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996
tentang Hak Tanggungan, penyebutan sertipikat hyphoteek dan sertipikat
credietverband sudah tidak dipergunakan lagi yang ada penyebutannya adalah
Sertipikat Hak Tanggungan saja.
3. Sertipikat hak milik atas satuan rumah susun.
2. Kedudukan Sertipikat Tanah
Pasal 32 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 disebutkan bahwa :
1. Sertipikat merupakan tanda bukti hak yang berlaku, apabila data fisik dan data
yuridis tersebut sesuai dengan data yang ada dalam surat ukur dan buku tanah hak
yang bersangkutan.
2. Dalam hal ada suatu bidang tanah sudah diterbitkan sertipikat secara sah atas
nama orang atau badan hukum yang memperoleh tanah tersebut dengan itikad
55
Bachtiar Effendie, Pendaftaran Tanah Di Indonesia dan Peraturan Pelaksanaannya,
(Bandung : Alumni, 1993), halaman 25.
56
Ali Achmad Chomzah (b), ibid, halaman 125.
Universitas Sumatera Utara
44
baik dan secara nyata menguasainya, maka pihak lain yang merasa mempunyai
hak atas tanah itu tidak dapat menuntut pelaksanaan atas hak tersebut apabila
dalam 5 tahun sejak diterbitkannya sertipikat telah mengajukan keberatan secara
tertulis kepada pemegang hak sertipikat dan kepala kantor pertanahan yang
bersangkutan ataupun tidak mengajukan gugatan ke pengadilan melakukan
penguasaan atau penerbitan sertipikat tersebut.
Sedangkan dalam Pasal 19 ayat (2) huruf c UUPA disebutkan bahwa:
“pendaftaran tersebut dalam ayat 1 pasal ini meliputi pemberian surat-surat tanda
bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat.”
Jadi sertipikat dimaksud berlaku sebagai alat bukti yang kuat, bukan suatu alat
bukti yang mutlak dalam arti bahwa selama tidak dapat dibuktikan sebaliknya, data
fisik dan data yuridis yang tercantum didalamnya harus diterima sebagai keterangan
yang benar.
Sebagai alat bukti yang kuat maka sertipikat mempunyai manfaat sebagai
berikut :57
1. Menjamin kepastian hukum karena dapat melindungi pemilik sertipikat terhadap
gangguan pihak lain serta menghindarkan sengketa dengan pihak lain.
2. Mempermudah usaha memperoleh kredit dengan tanah bersertipikat sebagai
jaminan.
57
Maria S.W. Sumardjono (b), Puspita Serangkum Aneka Masalah Hukum Agraria,
(Yogyakarta: Andi Offset, 1982), halaman 26.
Universitas Sumatera Utara
45
3. Dengan adanya surat ukur dalam sertipikat maka luas tanah sudah pasti, sehingga
untuk penetapan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) akan lebih adil.
3. Bentuk-Bentuk Sertipikat Cacat Hukum
a. Sertipikat Palsu
Sertipikat disebut sertipikat palsu, apabila :58
a. Data pembuatan sertipikat adalah palsu atau dipalsukan.
b. Tandatangan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kotamadya dipalsukan.
c. Blanko yang dipergunakan untuk membuat sertipikatnya merupakan blanko yang
palsu/ bukan blanko yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional.
Sebuah sertipikat dinyatakan palsu atau tidak, dapat diketahui dari buku tanah
yang ada pada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota setempat, yaitu bahwa data yang
ada pada sertipikat tidak sesuai dengan data yang ada pada buku tanah.
Meskipun jumlah sertipikat palsu pada kenyataannya relatif tidak banyak,
namun dengan adanya sertipikat palsu dapat menimbulkan kerawanan-kerawanan
tersendiri dalam bidang pertanahan. Umumnya sertipikat palsu ini dibuat terhadap
tanah-tanah yang masih kosong dan mempunyai nilai tanah yang cukup tinggi, serta
terhadap tanah-tanah yang sertipikatnya masih mempergunakan blanko sertipikat
lama.59
Untuk memonitor setiap lembar sertipikat yang telah beredar tidaklah mudah,
sehingga masih saja adanya sertipikat palsu meskipun telah ada usaha-usaha
58
59
Ali Achmad Chomzah (b), ibid, halaman 136.
Ibid, halaman 137.
Universitas Sumatera Utara
46
pencegahannya. Upaya untuk mencegah timbulnya sertipikat palsu ini telah dilakukan
dengan:60
1. Blanko sertipikat dicetak sedemikian rupa dengan teknik pencetakan mutakhir
sehingga sulit dipalsukan dan di tunjang dengan pengelolaan yang tertib.
2. Meningkatkan tertib administrasi pertanahan.
3. Upaya-upaya lain untuk mencegah dan mendeteksi sertipikat palsu.
Apabila pada suatu ketika Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota mengetahui
adanya sertipikat palsu, sementara pihak Badan Pertanahan Nasional tidak
mempunyai wewenang untuk menyatakan bahwa sertipikat yang dimaksud adalah
palsu, maka sertipikat yang sebenarnya palsu tersebut, diteliti, kemudian distempel
dengan kata-kata : “Sertipikat ini bukan produk Badan Pertanahan Nasional”, dan
perlu dilaporkan kepada pihak kepolisian setempat untuk diadakan penelitian lebih
lanjut.61
b. Sertipikat Asli Tapi Palsu
Sertipikat asli tetapi palsu, yaitu sertipikat secara formal diterbitkan oleh
Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota setempat, tetapi surat-surat bukti kepemilikan
ataupun surat-surat lain yang dipergunakan sebagai dasar pembuatan dan penerbitan
sertipikat tersebut palsu.62
60
Eddy Ruchiyat, Politik Pertanahan Sebelum Dan Sesudah Berlakunya UUPA UU No.
5Tahun 1960, (Bandung : Alumni, 1995), halaman 185.
61
Ali Achmad Chomzah, ibid, halaman 138.
62
Ibid, halaman 138.
Universitas Sumatera Utara
47
Sertipikat semacam itu tentunya harus dibatalkan dan dinyatakan tidak
berlaku serta ditarik dari peredaran setelah dibuktikan melalui proses di Pengadilan
Negeri, bahwa surat keterangan yang merupakan dokumen yang mendasari
penerbitan sertipikat tersebut adalah palsu.
Termasuk kategori sertipikat asli tetapi palsu, yaitu sertipikat yang diterbitkan
ternyata didasari atas bukti-bukti surat keterangan atau dokumen yang kurang/tidak
lengkap.63 Upaya untuk mencegah terjadinya sertipikat asli tetapi palsu ini, yaitu
dengan meningkatkan kecepatan dan ketelitian aparat yang memproses pembuatan
dan penerbitan sertipikat.
c. Sertipikat Ganda
Sertipikat ganda atas tanah adalah sertipikat yang diterbitkan oleh Badan
Pertanahan Nasional (BPN) yang akibat adanya kesalahan pendataan pada saat
melakukan pengukuran dan pemetaan pada tanah, sehingga terbitlah sertipikat ganda
yang berdampak pada pendudukan tanah secara keseluruhan ataupun sebagaian tanah
milik orang lain.
Apabila ditinjau dari pengertian sertipikat itu sendiri maka sertipikat adalah
tanda bukti hak atas tanah, yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam rangka
penyelenggaraan pendaftaran tanah menurut ketentuan peraturan dan perundangundangan. Sertipikat hak atas tanah membuktikan bahwa seseorang atau suatu badan
hukum, mempunyai suatu hak atas bidang tanah tertentu.
63
Eddy Ruchiyat, ibid, halaman 131.
Universitas Sumatera Utara
48
Pada kenyataannya bahwa seseorang atau suatu badan hukum menguasai
secara fisik dan menggunakan tanah yang bersangkutan tidak serta merta langsung
membuktikan bahwa ia mempunyai hak atas tanah yang dimaksud. Adanya suratsurat jual beli, belum tentu membuktikan bahwa yang membeli benar-benar
mempunyai hak atas tanah yang dibelinya. Apalagi tidak ada bukti otentik bahwa
yang menjual memang berhak atas tanah yang dijualnya. Dalam konteks inilah terjadi
pendudukan tanah secara tidak sah melalui alat bukti berupa dokumen (sertipikat)
yang belum dapat dijamin kepastian hukumnya. Maksud gambaran diatas adalah
suatu peristiwa penerbitan sertipikat ganda atas tanah, yang mengakibatkan adanya
pemilikan bidang tanah atau pendudukan hak yang saling bertindihan satu dengan
yang lain. Sejalan dengan itu A.P. Parlindungan menyatakan :64
Yang dimaksud dengan sertipikat ganda adalah surat keterangan kepemilikan
(dokumen) dobel yang diterbitkan oleh Badan Hukum yang mengakibatkan
adanya pendudukan hak yang saling bertindihan antara satu bagian atas sebagian
yang lain.
Dari pendapat diatas maka dapat dikatakan bahwa sertipikat ganda adalah
surat keterangan kepemilikan yang diperoleh baik secara sah ataupun tidak sah yang
sewaktu-waktu dapat menimbulkan suatu akibat hukum (sengketa) bagi subyek hak
maupun obyek hak. Hal ini serupa dengan Kartasaputra yang menyatakan bahwa :
64
A.P. Parlindungan, Hilangnya Hak-hak Atas Tanah, (Bandung : CV. Mandar Maju, 1999),
halaman 113.
Universitas Sumatera Utara
49
Sertipikat dobel/ganda adalah surat tanda bukti kepemilikan hak atas tanah yang
diterbitkan oleh Lembaga Hukum (BPN) yang terbit diatas satu objek hak yang
bertindih antara satu objek tanah sebagian atau keseluruhan, yang dapat terjadi
suatu akibat hukum.65
Sertipikat ganda merupakan sertipikat-sertipikat yang menguraikan satu
bidang tanah yang sama dengan berlainan datanya. Hal semacam ini disebut pula
“Sertipikat Tumpang Tindih (overlapping)”, baik tumpang tindih seluruh bidang
maupun tumpang tindih sebagian dari tanah tersebut.66 Tidak termasuk dalam
kategori sertipikat ganda, yaitu :67
a. Sertipikat yang diterbitkan sebagai Pengganti Sertipikat yang hilang.
b. Sertipikat yang diterbitkan sebagai Pengganti Sertipikat yang rusak.
c. Sertipikat yang diterbitkan sebagai pengganti sertipikat yang dibatalkan. Hal ini
disebabkan karena sertipikat-sertipikat dimaksud diatas telah dinyatakan dan tidak
berlaku sebagai tanda bukti.
d. Sertipikat Hak Guna Bangunan diatas Hak Milik maupun diatas Hak Pengelolaan,
karena menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku, hal yang dimaksud
memang dimungkinkan.
65
Kartasaputra, Masalah Pertanahan di Indonesia, (Jakarta : Rineka Cipta, 2005), halaman
66
Ali Achmad Chomzah (b), Ibid, halaman 139.
Ibid, halaman 139.
120.
67
Universitas Sumatera Utara
50
Sertipikat ganda sering terjadi diwilayah-wilayah yang masih kosong, belum
dibangun dan didaerah perbatasan kota dimana untuk lokasi tersebut belum ada petapeta pendaftaran tanahnya.
Sertipikat ganda dapat terjadi karena beberapa hal sebagai berikut :68
a. Pada waktu dilakukan pengukuran ataupun penelitian dilapangan, pemohon
dengan sengaja atau tidak sengaja menunjukkan letak tanah dan batas-batas yang
salah.
b. Adanya surat bukti atau pengakuan hak dibelakang hari terbukti mengandung
ketidakbenaran, kepalsuan atau sudah tidak berlaku lagi.
c. Untuk wilayah yang bersangkutan belum tersedia Peta Pendaftaran Tanahnya.
d. Kasus penerbitan lebih dari satu sertipikat atas sebidang tanah dapat pula terjadi
atas tanah warisan. Latar belakang kasus tersebut adalah sengketa harta warisan
yaitu oleh pemilik sebelum meninggalnya telah dijual kepada pihak lain (tidak
diketahui oleh anak-anaknya) dan telah diterbitkan sertipikat atas nama pembeli,
dan kemudian para ahli warisnya mensertipikatkan tanah yang sama, sehingga
mengakibatkan terjadi sertipikat ganda, karena sertipikat terdahulu ternyata belum
dipetakan.69
Upaya untuk mencegah timbulnya sertipikat ganda yaitu melalui program
Pengadaan Peta Pendaftaran Tanah yang dilakukan oleh Badan Pertanahan Nasional.
Namun demikian dalam melaksanakan pengadaan peta pendaftaran tanah ini
68
69
Ibid, halaman 140-141.
Eddy Ruchiyat, ibid, halaman 131.
Universitas Sumatera Utara
51
memerlukan dana dan waktu, maka pengadaannya dilakukan secara bertahap melalui
pendekatan pengukuran desa demi desa, sebagai tercantum dalam ketentuan
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 tanggal 23 Maret 1961 tentang
Pendaftaran Tanah.
C. Faktor-faktor Penyebab Timbulnya Sengketa Sertipikat Ganda
Terjadinya sertipikat ganda dipengaruhi oleh beberapa faktor intern dan
ekstern.
Faktor intern antara lain:70
1. Tidak
dilaksanakannya
Undang-Undang
Pokok
Agraria
dan
peraturan
pelaksanaannya secara konsekuen dan bertanggungjawab disamping masih
adanya orang yang berbuat untuk memperoleh keuntungan pribadi.
2. Kurang berfungsinya aparat pengawas sehingga memberikan peluang kepada
aparat bawahannya untuk bertindak menyeleweng dalam arti tidak melaksanakan
tugas dan tanggung jawab sesuai sumpah jabatannya.
3. Ketidaktelitian pejabat Kantor Pertanahan dalam menerbitkan sertipikat tanah
yaitu dokumen-dokumen yang menjadi dasar bagi penerbitan sertipikat tidak
diteliti dengan seksama yang mungkin saja dokumen-dokumen tersebut belum
memenuhi persyaratan sebagaimana ditentukan oleh ketentuan perundangundangan yang berlaku.
70
Maria Emaculata Noviana Ira Hapsari, Tinjauan Yuridis Putusan No.
10/G/TUN/2002/PTUN.SMG (Studi Kasus Sertipikat Ganda/Overlapping di Kelurahan Tandang,
Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Tesis Pasca Sarjana Magister Kenotariatan Universitas
Diponegoro Semarang, 2006.
Universitas Sumatera Utara
52
Faktor ekstern antara lain:
1. Masyarakat masih kurang mengetahui undang-undang dan peraturan tentang
pertanahan khususnya tentang prosedur pembuatan sertipikat tanah.
2. Persediaan tanah tidak seimbang dengan jumlah peminat yang memerlukan tanah.
3. Pembangunan mengakibatkan kebutuhan akan tanah semakin meningkat
sedangkan persediaan tanah sangat terbatas sehingga mendorong peralihan fungsi
tanah dari tanah pertanian ke non pertanian, mengakibatkan harga tanah
melonjak.
Selain dari hal tersebut diatas, dapat juga dilihat faktor-faktor penyebab
terjadinya sertipikat ganda lainnya antara lain :
1. Peta Pendaftaran Belum terbentuk atau belum lengkap.
Sebelum adanya peta kadastar untuk pendaftaran tanah diterbitkanya alat
pembuktian sementara yang dikenal dengan sebutan sertipikat sementara.
Karenanya sertipikat sementara ini merupakan alat pembuktian mengenai macammacam hak dan siapa yang punya, sehingga tidak membuktikan mengenai luas
dan batas-batas tanah. Sertipikat sementara tersebut dapat menyebabkan sertipikat
ganda.
Disamping itu juga adanya kondisi penggambaran satu bidang tanah
menggunakan lebih dari satu peta pendaftaran yang menyebabkan data mengenai
letak bidang-bidang tanah terdaftar tidak jelas. Peta-peta yang digunakan dalam
rangka kegiatan pendaftaran tanah terdiri dari:
a. Peta Pendaftaran.
Universitas Sumatera Utara
53
b. Peta Pendaftaran sebagian hasil dari Prona, Sertipikat Masal dan Ajudikasi.
c. Peta Instansi Pajak Bumi dan Bangunan (SISMIOP).
d. Peta Tata Kota dari DTK.
e. Peta Desa.
Maksud peta disini adalah antar peta yang satu dengan peta yang lain tidak
ada keseragaman, dalam artian bidang tanah terlihat dalam satu peta belum
tentu bahkan tidak terlihat dalam peta yang lainnya. Sehingga hal ini sangat
memungkinkan timbulnya sengketa.
2. Manusia
Terjadi karena adanya:
a. Human error.
Adanya kesalahan dan ketidakhati-hatian yang disebabkan karena adanya
kecerobohan atau ketidak telitian dalam menerbitkan sertipikat tanah dari
petugas pendaftaran tanah. Artinya petugas kurang meneliti dengan seksama
dokumen-dokumen yang ada, sedangkan dokumen-dokumen tersebut tidak
memenuhi persyaratan sebagaimana ditentukan oleh perundang-undangan
yang berlaku.
b. Itikad tidak baik dari pemohon.
Adanya kesengajaan dari pemohon menunjukkan batas yang bukan menjadi
haknya dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan pribadi. Dalam hal ini
tugas Badan Pertanahan Nasional hanya melakukan pengukuran berdasarkan
penentuan batas yang ditunjukkan oleh pemohon yaitu dimana letak dan
Universitas Sumatera Utara
54
batas-batasnya dengan persetujuan tetangga yang berbatasan dengan tanah
tersebut (contradictoire deliminate).
Kedua hal tersebut dapat meyebabkan terjadinya tumpang tindih baik disengaja
maupun tidak sengaja yang mengakibatkan terjadinya sertipikat ganda.
3. Pemecahan atau Pemekaran Wilayah.
Terjadinya pemecahan atau pemekaran wilayah yang berakibat terjadinya
perubahan batas-batas wilayah.
5. Adanya Administrasi Yang Tidak Benar di Kelurahan.
Terjadi karena adanya surat bukti atau pengakuan hak yang dibuat oleh Lurah
ternyata terbukti mengandung ketidakbenaran, kepalsuan atau sudah tidak berlaku
lagi.
6. Adanya Perubahan Tata Ruang Oleh Pemerintah Kota.
Adanya tanah yang sudah disertipikatkan oleh BPN lalu terjadi Perubahan Tata
Ruang oleh Pemerintah Kota, sehingga timbul penguasaan-penguasaan baru
(undang-undang menyatakan setelah penguasaan 20 tahun dapat jadi tanah hak)
menyebabkan terjadinya sertipikat ganda.
Terjadinya sertipikat ganda disebabkan karena adanya kelemahan sistem
publikasi yang digunakan di Indonesia, yaitu sistem publikasi negatif yang
mengandung unsur positif seperti yang disebutkan dalam ketentuan Pasal 19 ayat (2)
huruf c UUPA yang menyatakan bahwa pemberian surat-surat tanda bukti hak yang
berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat. Dengan digunakannya kata-kata “kuat”,
maka dapat dilihat bahwa sistem publikasi yang digunakan adalah sistem publikasi
Universitas Sumatera Utara
55
negatif, sebab jika yang digunakan sistem publikasi positip, maka kata yang tepat
adalah mutlak, sehingga sertipikat hanya merupakan bukti yang kuat dan bukan
merupakan tanda bukti yang mutlak.
Kekuatan pembuktian sertipikat diatur juga dalam Pasal 32 ayat (1) Peraturan
Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, yang menyatakan
bahwa: “selama belum dibuktikan yang sebaliknya, data fisik dan data yuridis yang
dicantumkan dalam sertipikat harus diterima sebagai data yang benar, baik dalam
pembuatan hukum sehari-hari maupun dalam sengketa di Pengadilan, sepanjang data
tersebut sesuai dengan apa yang tercantum dalam surat ukur dan buku tanah yang
bersangkutan dan bahwa orang tidak dapat menuntut tanah yang sudah bersertipikat
atas nama orang atau badan hukum lain, jika selama 5 (lima) tahun sejak
dikeluarkannya sertipikat itu ia tidak mengajukan gugatan pada Pengadilan,
sedangkan tanah tersebut diperoleh orang atau badan hukum lain tersebut dengan
itikad baik dan secara fisik nyata dikuasai olehnya atau oleh orang lain atau badan
hukum yang mendapatkan persetujuannya”.
Dari rumusan pasal-pasal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa selama
tidak dapat dibuktikan sebaliknya data fisik dan data yuridis yang tercantum harus
diterima sebagai data yang benar selama data tersebut sesuai dengan data yang
tercantum dalam buku tanah dan surat ukur yang ada di Kantor Pertanahan, maka
sertipikat hak atas tanah masih dapat dicabut atau dibatalkan apabila ada pembuktian
sebaliknya yang menyatakan ketidakabsahan sertipikat tersebut, baik karena adanya
Universitas Sumatera Utara
56
putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap atau karena ada cacat hukum
administratif atas penerbitannya.
Jika dikaitkan dengan kasus Putusan No. 53/G.TUN/2005/PTUN-MDN, maka
Faktor-faktor Penyebab Terbitnya Sertipikat Ganda oleh Kantor Pertanahan Kota
Medan dapat dilihat :
Berdasarkan ketentuan Pasal 19 ayat (2) huruf c UUPA dan 31 serta Pasal
32 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, sertipikat sebagai surat tanda
bukti hak atas tanah seseorang yang didalamnya memuat data fisik dan data
yuridis yang telah di daftar dalam buku tanah, merupakan pegangan kepada
pemiliknya akan bukti-bukti haknya yang tertulis. Oleh karenanya dalam
penerbitan sertipikat hak atas tanah, setiap satu sertipikat hak atas tanah
diterbitkan untuk satu bidang tanah.
Namun dalam perkara Nomor : 53/G/TUN/2005/PTUN.MDN, sebidang
tanah seluas 435-M2 yang terletak di Kelurahan Helvetia Timur, Kecamatan
Medan Helvetia, Kota Medan telah dilakukan dua kali penerbitan Sertipikat Hak
Milik oleh Kantor Pertanahan Kota Medan, yaitu pada tanggal 01 Agustus 1998
diterbitkan Sertipikat Hak Milik No. 672 atas nama Firnan Fantas Asalan Siregar,
seluas 435-M2 terletak di Kelurahan Helvetia Timur, Kecamatan Medan Helvetia,
Kota Medan, dengan Register nomor AL.016169 0201.05.04.1.00672, yang tidak
pernah dilakukan pencabutan atas haknya. Kemudian pada tanggal 19 April 2000
diterbitkan lagi sertipikat Hak Milik No. 1172 atas nama Damaris Sinta Taruli,
data-datanya terlampir dalam putusan) seluruhnya seluas 435-M2, terletak di atas
tanah yang sama. Dengan demikian, telah terjadi tumpang tindih atau
penggandaan sertipikat terhadap seluruh bidang tanah yang secara yuridis
bertentangan dengan Undang-undang Peraturan Agraria (UUPA) dan Peraturan
Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
Terjadinya tumpah tindih sertipikat dalam perkara ini baru dapat diketahui
dan dibuktikan dengan adanya gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara, yaitu
pada saat dilakukannya pemeriksaan persiapan oleh Hakim Pengadilan Tata
Usaha Negara (PTUN), sesuai prosedur yang telah ditentukan dalam UndangUndang Nomor 5 tahun 1986 jo Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang
Pengadilan Tata Usaha Negara.
Dalam Peradilan Tata Usaha Negara sebelum dilakukan sidang
pemeriksaan terhadap pokok Perkara, terlebih dahulu diadakan pemeriksaan
persiapan secara tertutup oleh Hakim dan Hakim dalam PTUN berperan sangat
aktif yaitu sejak pemeriksaan persiapan hingga tahap pemeriksaan pokok perkara,
berbeda dengan peradilan Perdata, hakim bersikap pasif.
Universitas Sumatera Utara
57
Sesuai dengan ketentuan pasal 63 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
hakim wajib memberikan nasehat kepada penggugat untuk memperbaiki
gugatannya dan hakim juga dapat meminta penjelasan kepada Pejabat Tata Usaha
Negara yang bersangkutan.
Dalam pemeriksaan persiapan ketika Hakim meminta penjelasan dari
Kantor Pertanahan Kota Medan selaku Pejabat Tata Usaha Negara dalam perkara
ini, Kantor Pertanahan Kota Medan menyerahkan data-data Sertipikat Hak Milik
No 1172 yang di duga tumpang tindih / ganda dengan Sertipikat Hak Milik No.
672 atas nama Tuan Firman Fantas Asalan Siregar. Adapun kebenarannya baru
dapat diketahui pada saat dilakukannya pembuktian dan pemeriksaan ditempat
pada saat persidangan berlangsung.
Dari hasil pemeriksaan persidangan yang berlangsung, dapat diketahui
bahwa faktor penyebab terbitnya sertipikat ganda tersebut yaitu karena adanya
pemberian hak baru oleh Kantor Pertanahan Kota Medan pada tanggal 19 April
2000 dengan penerbitan Sertipikat Hak Milik No. 1172 di Kelurahan Helvetia
Timur, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan berdasarkan proses Ajudikasi,
yaitu kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka proses pendaftaran tanah untuk
pertama kali, meliputi pengumpulan dan penetapan kebenaran data fisik dan
yuridis mengenai satu atau beberapa obyek pendaftaran tanah untuk keperluan
pendaftarannya (Pasal 1 angka 8 PP 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah).
Sedangkan alasan Kantor Pertanahan Kota Medan menerbitkan sertipikat
Hak Milik tersebut adalah untuk melaksanakan ketentuan Pasal 30 ayat 1 dan
Pasal 31 ayat 1 PP 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, penerbitan
sertipikat untuk kepentingan pemegang hak harus sesuai data fisik dan data
yuridis.
Pengertian data fisik adalah keterangan mengenai letak, batas dan luas
bidang dan satuan rumah susun yang didaftar termasuk keterangan mengenai
adanya bangunan atau bagian bangunan diatasnya, sedangkan pengertian data
yuridis adalah keterangan mengenai status mengenai status hukum bidang tanah
dan satuan rumah susun yang didaftar, pemegang haknya dan pihak lain serta
beban-beban lain yang membebaninya (vide pasal 1 angka 6 dan 7 PP 24 tahun
1997) letak, batas dan luas bidang dan satuan rumah susun yang didaftar
termasuk keterangan mengenai adanya bangunan atau bagian bangunan diatasnya.
Pengertian data fisik adalah keterangan mengenai letak, batas dan luas bidang dan
satuan rumah susun yang didaftar termasuk keterangan mengenai adanya
bangunan atau bagian bangunan diatasnya, atau bagian wilayah suatu desa/
kelurahan dalam hal ini dilakukan diwilayah Kelurahan Helvetia Timur,
Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan.
Berdasarkan Pasal 15 ayat (1) PP 24 Tahun 1997, kegiatan pendaftaran
tanah secara sistematik dimulai dengan pembuatan peta dasar pendaftaran,
sedangkan dalam penjelasan pasal tersebut dijelaskan bahwa didalam wilayah
yang ditetapkan untuk dilaksanakan pendaftaran tanah secara sistematik mungkin
ada bidang tanah yang sudah terdaftar. Penyediaan peta dasar pendaftaran untuk
Universitas Sumatera Utara
58
pelaksanaan pendaftaran tanah secara sistematik tersebut selain digunakan untuk
pembuatan peta pendaftaran dalam pelaksanaan pendaftaran tanah secara
sistematik juga digunakan untuk memetakan bidang-bidang tanah yang sudah
terdaftar.
Dalam PP 10 Tahun 1961 pengukuran dan pemetaan dari suatu desa
secara lengkap belum pernah ada, sungguhpun sudah diperintahkan dalam Pasal 3
PP 10 Tahun 1961, sehingga sertipikatnya disebut sertipikat sementara karena
belum diukur desa demi desa, dan berdasarkan Pasal 17 PP 10 Tahun 1961 ini
sertipikat sementara mempunyai fungsi sebagai sertipikat dan mempunyai
kekuatan sebagai sertipikat. Dengan demikian maka jelaslah bahwa dengan
adanya Buku Tanah Hak Milik Nomor 672 atas nama Firman Fantas Asalan
Siregar tersebut bidang tanah seluas 435-M2 terletak di Kelurahan Helvetia
Timur, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan merupakan bidang tanah yang
sudah terdaftar.
Dalam hal ini tampak adanya pelanggaran yang dilakukan oleh Panitia
Ajudikasi dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya untuk memetakan Hak
Milik Nomor 672 atas nama Firman Fantas Asalan Siregar tersebut. Selain itu
berdasarkan Register nomor AL.016169 0201.05.04.1.00672, yang dikeluarkan
oleh Kantor Pertanahan Kota Medan, Kantor Pertanahan Kota Medan mengakui
adanya warkah yang memuat data yuridis sertipikat Hak Milik No. 672 tersebut,
dengan demikian jelaslah bahwa terdapat pelanggaran terhadap tugas dan
wewenang Panitia Ajudikasi, dalam proses penerbitan Sertipikat Hak Milik No.
1172, yaitu ketidakcermatan dan ketidak telitiannya dalam memeriksa dan
meneliti data-data fisik dan data yuridis baik secara langsung dilapangan maupun
dalam hal penyelidikan riwayat tanah dan penilaian kebenaran alat bukti
pemilikan atau penguasaan tanah melalui pengecekan warkah yang ada di Kantor
Pertanahan Kota Medan.
Universitas Sumatera Utara
Download