1 BAB II LANDASAN TEORI Tinjauan Pustaka Pengaruh

advertisement
BAB II LANDASAN TEORI
Tinjauan Pustaka
Pengaruh Lingkungan terhadap Kelestarian Hutan
Hutan yang tumbuh dan berkembang tidak terlepas dari faktor-faktor yang
mempengaruhinya, terutama lingkungan. Menurut Polunin (1990) tumbuhan hanya
dapat hidup di tempat yang kondisinya sesuai. Tumbuhan dengan jenis yang berbeda
sering kali memiliki kebutuhan yang sama sekali berbeda, hal ini berarti bahwa
kondisi lingkungan setempat merupakan faktor utama dalam membatasi jenis
tumbuhan tertentu untuk hidup. Lingkungan adalah semua kondisi luar dan faktorfaktor yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan suatu tempat, faktor
lingkungan yang mempengaruhi komunitas hutan meliputi faktor biotik, faktor
abiotik dan juga aktivitas manusia. Faktor biotik dapat berupa pengaruh tumbuhan
lain, organisme mikrobia, binatang dan dan juga budaya yang biasanya menjadi
faktor penting dalam terjaganya atau rusaknya kawasan hutan. Tidak dapat
dipungkiri bahwa kasus kerusahakan hutan yang terjadi sampai sekarang ini
sebagian besar bersumber pada perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab dan
tidak perduli terhadap lingkungan sekitar (Keraf, 2006)
Faktor abiotik berpengaruh terhadap ketidak hadiran atau kehadiran,
kesuburan atau kelemahan dan keberhasilan atau kegagalan, sehingga lingkungan di
sekitar naungan pohon dapat mempengaruhi kehidupan organisme yang ada di
bawahnya (Polunin, 1990). Faktor-faktor abiotik yang mempengaruhi tumbuhan
diantaranya adalah cahaya, derajat keasaman (pH) tanah, suhu atau temperatur
kelembaban tanah dan curah hujan. Cahaya merupakan faktor esensial untuk
fotosintetis dan beberapa proses reproduksi, banyaknya cahaya pada suatu tempat
bergantung pada lamanya penyinaran, agihan waktu, intensitas cahaya dan kualitas
cahaya yang diterima (Polunin, 1990). Tumbuhan tanggap akan berbagai panjang
gelombang sinar, dimana laju fotosintetis bervareasi dengan panjang gelombang
yang berbeda (Odum, 1998). Cahaya merupakan faktor pembatas, jumlah cahaya
yang menembus melalui sudut hutan akan menentukan lapisan atau tingkatan hutan
yang terbentuk oleh pepohonannya, keadaan ini mencerminkan kebutuhan
1
2
tumbuhan terhadap cahaya yang berbeda-beda. Cahaya mempunyai pengaruh baik
lansung maupun tidak langsung, pengaruh pada metabolisme secara langsung
melalui fotosintetis serta secara tidak langsung melalui pertumbuhan dan
perkembangan. Cahaya juga memiliki peranan penting dalam penyebaran dan
pembungaan tumbuhan, kebutuhan cahaya untuk masing-masing jenis tumbuhan
berbeda-beda tergantung pada jenisnya (Fitter, 1992)
Pertumbuhan tumbuhan juga dipengaruhi pH tanah, tanah yang berada di
daerah beriklim basah memliki pH yang rendah, dengan berjalannya waktu tingkat
keasaman tanah tersebut semakin meningkat. Sebaliknya, tanah yang berada di
daerah yang beriklim kering memiliki pH yang tinggi, dikarenakan penyerapan
unsur-unsur basa oleh tanah tersebut. pH tanah hanya merupakan ukuran intensitas
keasaman, bukan kapasitas dan jumlah unsur hara (Darmawijaya, 1990 dalam
Wijayanto 2012). Menurut Krebs (1978), pH tanah merupakan faktor utama yang
mempengaruhi distribusi tumbuhan, untuk menciptakan pertumbuhan dan
reproduksi optimal dari tumbuhan diperlukan pH tertentu. pH yang dibutuhkan oleh
tumbuhan untuk dapat tumbuh dan bereproduksi secara optimal adalah 6,5,
dikarenakan pada pH ini dapat memberikan ketersediaan unsur hara yang besar
untuk pertumbuhan dan reproduksi tumbuhan. Nilai pH tanah mempengaruhi
ketersediaan N, P, K, Ca dan unsur-unsur lainnya. Tanah disebut asam apabila
pHnya kurang dari 7, netral bila sama dengan 7 dan basa bila lebih dari 7 (Buckman,
dan Brady, 1982 dalam Wijayanto, 2012)
Suhu atau temperatur sangat penting, karena suhu menentukan kecepatan
reaksi-reaksi dan kegiatan-kegiatan kimiawi yang mencakup kehidupan. Tumbuhan
yang beranekaragam teradaptasi secara berbeda-beda terhadap keadaan suhu
berdasarkan faktor pembatas masing-masing spesies terhadap suhu, demikian pula
untuk komponen-komponen fungsi fisiologinya, walaupun suhu dapat berubah
dengan variasi pada kondisi yang berbeda menurut keadaan tumbuhan (Polunin,
1990). Suhu merupakan faktor pembatas yang berpengaruh terhadap pertumbuhan
dan penyebaran hewan dan tumbuhan di suatu tempat.
Hujan merupakan salah satu fenomena alam yang terdapat dalam siklus
hidrologi dan sangat dipengaruhi iklim. Keberadaan hujan sangat penting dalam
kehidupan, karena dapat mencakupi kebutuhan air yang sangat dibutuhkan oleh
3
semua makhluk hidup. Curah hujan adalah jumlah air yang jatuh di permukaan
tanah datar selama periode tertentu yang diukur dengan satuan tinggi millimeter
(mm) di atas permukaan horizontal. Curah hujan memiliki peranan yang sangat
besar bagi tumbuhan, yaitu sebagai faktor penentu ketersediaan air bagi tumbuhan
yang berada di kawasan hutan. Ketersediaan air merupakan faktor utama yang
membatasi pertumbuhan dan produksi dari spesies-spesies penyusun vegetasi yang
berada di hutan (Ningsih dan Rosita, 2014).
Selain itu aktivitas manusia berupa interaksi dengan lingkungannya menjadi
faktor penting akan keberlangsungan kelestarian hutan. Permasalahan lingkungan
terjadi karena pandangan manusia yang keliru terhadap alam. Aktivitas manusia
seringkali beranggapan bahwa dirinya terpisah dari lingkungan yang ada di
sektiarnya, dan lingkungan tersebut merupakan alat dalam memenuhi kebutuhannya.
Sehingga banyak kerusakan hutan yang terjadi karena hal tersebut. Penyelamatan
lingkungan harus segera dilakukan dengan merubah pandangan manusia terhadap
lingkungan agar kelestarian hutan tetap terjaga bagia generasi berikutnya.
Hutan dan Komunitas Tumbuhan
Sebagian besar hutan yang ada di Indonesia termasuk dalam hutan tropik
basah, dan merupakan ekosistem spesifik dengan keterkaitan antar komponen
penyusunnya sebagai kesatuan yang utuh (Irwanto, 2007). Undang-Undang No. 41
Tahun 1999 tentang Kehutanan mendefinisikan hutan sebagai suatu kesatuan
ekosistem berupa hamparan lahan berisi suberdaya alam hayati yang didomunasi
jenis pepohonan dalam persekutuan dengan lingkungannya, yang satu dengan
lainnya tidak dapat dipisahkan.
Hutan sebagai
ekosistem harus dapat dipertahankan kualitas dan
kuantitasnya, dengan pendekatan konservasi dalam pengelolaan ekosistem hutan.
Pemanfaatan ekosistem hutan akan tetap dilaksanakan dengan mempertimbangkan
kehadiran keseluruhan fugsinya, pengelolaan hutan yang hanya mempertimbangkan
salah satu fungsi saja akan menyebabkan kerusakan hutan (Irwanto, 2006). Sistem
ekologi dalam ekosistem hutan merupakan sistem yang dinamis, yaitu suatu sistem
yang saling terkait dan saling membutuhkan antara vegetasi dan hewan. Persaingan
dan
kerjasama
terjadi
dalam
ekosistem
hutan,
seperti
naungan
pohon,
perkecambahan, tumbuhan yang merambat, epifit, lumut menutupi potongan kayu
4
dan kotoran, aktivitas hewan yang membantu proses perkembangan tumbuhan,
sumber makan dan perlindungan bagi satwa untuk melangsungkan kehidupannya
(Agustina, 2008)
Suatu organisme tidak dapat hidup menyendiri tetapi harus hidup bersamaan
dengan organisme sejenis atau dengan organisme yang lainnya. Kumpulan populasi
dari spesies yang berlainan, yang terdiri dari semua organisme yang menempati
daerah tertentu disebut dengan komunitas (Cammpbell, dkk., 2004). Interaksi
orgaisme dalam suatu komunitas yang hidup di suatu daerah atau habitat tertentu
disebut dengan komunitas biotik (Odum, 1998). Menurut Krebs (1978), komunitas
mempunyai beberapa komponen yang saling berkaitan, beberapa komponen tersebut
diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Keanekaragaman spesies, berkaitan dengan banyaknya jumlah spesies flora
maupun fauna dalam suatu komunitas.
b. Bentuk dan struktur pertumbuhan, berkaitan dengan tipe komunitas dan bentuk
penyususnan suatu komunitas.
c. Dominasi, berkaitan dengan banyaknya kehadiran suatu spesies dalam suatu
komunitas.
d. Rantai makanan, berkaitan dengan rantai makanan suatu spesies dalam suatu
komunitas yang dapat menentukan aliran energi dan siklus materi dari tanaman
keherbivora dan karnivora
e. Kemelimpahan relatif, berkaitan dengan perbandingan relatif dari spesies yang
berbeda dalam suatu komunitas.
Hutan memiliki beberapa sifat diantaranya adalah sebagai berikut
(Suparmoko, 1997):
a. Hutan merupakan tipe tumbuhan yang terluas distribusinya dan mempunyai
produktifitas biologis tertinggi.
b. Hutan terdapat faktor biotik diantaranya adalah tumbuhan dan hewan, serta
faktor abiotik diantaranya adalah sinar, air, panas, tanah dan sebagainya yang
bersama-sama membentuk struktur biologis dan fungsi kehidupan.
c. Regenerasi hutan sangat cepat dan kuat dibanding dengan sumber daya alam
lainnya, baik dibantu oleh manusia ataupun secara lami
5
d. Hutan dapat memperbaiki kondisi lingkungan dan ekologi serta meyediakan
bahan mentah bagi industri dan bangunan.
Fungsi hutan diantaranya adalah sebagai berikut (Suparmoko, 1997):
a. Mengatur tata air, mencegah dan membatasi banjir, erosi, serta memelihara
kesuburan tanah.
b. Menyediakan hasil hutan untuk keperluan masyarakat pada umumnya dan
khususnya untuk keperluan pembangunan industri dan ekspor sehingga
menunjang pembangunan ekonomi.
c. Melindungi suasana iklim dan memberi daya pengaruh yang baik.
d. Memberikan keindahan alam pada umumnya dan khususnya dalam bentuk cagar
alam suaka margasatwa, taman perburuan dan taman wisata, serta sebagai
laboratorium untuk ilmu pengetahuan, pendidikan dan pariwisata.
e. Merupakan salah satu unsur strategis pembangunan nasional.
Struktur dan Komposisi Vegetasi
Struktur komunitas tumbuhan didefinisikan sebagai distribusi spasial daun,
batang dan akar dari semua populasi yang hidup bersama dalam suatu stand.
Kenampakan struktur vegetasi pada dasarnya berhubungan dengan karakteristik
distribusi spasial biomasa (Indriyanto, 2008), secara garis besar struktur vegetasi
dibatasi oleh 3 komponen, yaitu:
a. Struktur vertikal, berupa susunan vertikal spesies-spesies tumbuhan dalam
lapisan-lapisan atau strata
b. Struktur horizontal, berupa distribusi spasial individu suatu spesies menurut pola
tertentu dibandingkan dengan spesies lain atau vegetasi secara keseluruhan.
c. Kemelimpahan tiap spesies tumbuhan yang ada, kemelimpahan dapat
dinyatakan secara kuantitatif dengan nilai kerapatan (Fachrul, 2008).
Hutan hujan tropis terkenal karena pelapisannya, ini berarti bahwa populasi
campuran di dalamnya disusun pada arah vertikal dengan jarak teratur secara
kontinyu. Pelapisan vertikal komunitas hutan mempunyai sebaran populasi hewan
yang hidup dalam hutan tersebut, baik untuk mencari makanan atau bertahan hidup
(Whitmore, 1975).
Komposisi ekologi tumbuhan adalah variasi jenis-jenis tumbuhan yang
menyusun suatu komunitas, setiap jenis yang ditemukan bisa memiliki jumlah
6
individu yang tidak sama. Komposisi suatu komunitas ditentukan olek seleksi
tumbuhan dan hewan yang kebetulan mencapai dan mampu hidup di tempat
tersebut, kegiatan anggota komunitas tersebut bergantung pada penyesuaian diri
setiap individu terhadap faktor-faktor fisik dan biologi yang ada di tempat tersebut.
Komposisi
merupakan
salah
satu
parameter
vegetasi
untuk
mengetahui
keanekaragaman jenis tumbuhan dalam suatu komunitas, komposisi tumbuhan bisa
berupa daftar floristik dari jenis tumbuhan yang ada dalam suatu komunitas
(Fachrul, 2008).
Keanekaragaman spesies berhubungan erat dengan kondisi lingkungan,
sepanjang gradient lingkungan kekayaan jenis dan keanekaraman spesies sangat
bervariasi. Apabila dalam suatu kawasan terdapat pengurangan kekayaan jenis,
maka keanekaragaman suatu spesies dalam kawasan tersebut cenderung berubah
(Barbour, et al., 1987)
Analisis Vegetasi
Vegetasi merupakan kumpulan berbagai tumbuhan yang hidup bersama di
suatu tempat. Mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat,
baik diantara sesama individu maupun dengan oeganisme lainnya yang menyusun
vegetasi tersebut, sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta
dinamis (Irwanto, 2007). Vegetasi, tanah dan iklim berhubungan erat pada tiap-tiap
tempat dan mempunyai keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan
berbeda dengan vegetasi di tempat lainnya, karena berbeda pula faktor
lingkungannya. Vegetasi hutan selalu berkembang sesuai dengan keadaan
habitatnya.
Vegetasi menurut Indriyanto (2008) merupakan asosiasi nyata dari semua
spesies tumbuhan yang ada di suatu habitat. Selain itu vegetasi terkait dengan
jumlah individu setiap spesies yang akan menyebabkan kelimpahan relatif suatu
spesies sehingga mempengaruhi fungsi suatu komunitas, distribusi individu antar
spesies dalam kamunitas, bahkan dapat mempengaruhi keseimbangan sistem dan
akhirnya berpengaruh pada kestabilan komunitas hutan.
Analisis vegetasi merupakan suatu cara untuk mempelajari komposisi jenis
dan struktur tumbuhan yang merupakan asosiasi konkret dari semua spesies
tumbuhan yang menempati suatu habitat tertentu (Indriyanto, 2008). Unsur struktur
7
vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk, untuk
keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter untuk menentukan
indeks nilai penting dari penyusun komunitas hutan tersebut. Perbedaan
keanekaragman spesies dalam komunitas tumbuhan menimbulkan perbedaan
struktur antara komunitas satu dengan lainnya, nilai keanekaragaman ditentukan
dengan menggunakan angka indeks diversitas dari Shanon-Wiener (Barbour, et al.,
1987), dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur
dan komposisi suatu komunitas tumbuhan.
Kearifan Lokal
Kearifan lokal terbagi dalam dua kata, yaitu kearifan (wisdom) yang berarti
kebijaksanaan dan lokal (lokal) yang berarti setempat. Sehingga makna dari kearifan
lokal adalah sikap, pandangan dan kemampuan suatu komunitas di dalam mengelola
lingkungan baik rohani maupun jasmani yang memberikan daya tahan dan daya
tumbuh bagi komunitas tersebut. Kearifan lokal dipandang sebagai teknologi baru
dalam melestarikan hutan, hal ini memiliki makna yang luas, karena mencakup
seluruh peralatan atau benda, metode, cara serta pengoprasian yang diciptakan oleh
elemen manusia berdasarkan ketrampilan dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
Kearifan lokal dalam prakteknya lebih kearah pengetahuan dibandingkan dengan
sains atau ilmu, karena adanya aspek pengalaman dan ketrampilan (Siswadi, et al.,
2011).
Kearifan lokal dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan yang bersifat
bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tetanam dan diikuti oleh anggota
masyarakatnya (Sartini, 2014). Pendapat lain mengatakan bahwa kearifan lokal
merupakan usaha manusia dengan menggunakan akal budinya untuk bertindak dan
bersikap terhadap sesuatu, objek atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu
(Ridwan, 2007). Pandangan ini didasarkan atas kesadaran masyarakat akan
pentingnya melestarikan alam supaya selalu mampu memenuhi kebutuhan hidup
masyarakat tersebut. Keberadaan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam
mempunyai prinsip konservasi, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Rasa hormat yang mendorong rasa keselarasan hubungan manusia dengan alam
sekitarnya, masyarakat tradisional lebih cenderung memandang dirinya sebagai
bagian dari alam itu sendiri
8
b. Rasa memiliki yang eksklusif atas suatu kawasan atau sumberdaya alam sebagai
hak kepemilikan bersama, sehingga mengikat semua warga untuk menjaga dan
mengamankan sumberdaya alam ini dari pihak luar.
c. Sistem pengetahuan masyarakat setempat yang memberi kemampuan pada
masyarakat untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapai dalam
memanfaatkan sumberdaya alam yang terbatas.
d. Daya adaptasi dalam pengunaan teknologi sederhana yang tepat guna dan hemat
sesuai dengan kondisi alam setempat.
e. Sistem alokasi dan penegakan aturan adat yang bisa mengamankan sumberdaya
alam milik bersama dari penggunaan berlebihan.
f. Mekanisme pemerataan hasil panen yang proposional atas sumberdaya milik
bersama agar dapat mencegah munculnya kesenjangan yang berlebihan di dalam
masyarakat
Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 33 merupakan landasan
konstitusional yang mewajibkan agar bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung
di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya untuk
kemakmuran rakyat. Sejalan dengan hal tersebut, maka penguasaan hutan oleh
Negara bukan berarti pemilikan, tetapi Negara memberikan wewenang kepada
pemerintah untuk mengatur dan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan
hutan, kawasan hutan dan hasil hutan termasuk menetapkan kawasan hutan dan atau
mengubah status kawasan hutan.
Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui
kegiatan perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman
jenis tumbuhan dan satwa berdasarkan ekosistemnya dan pemanfaatan secara lestari
sumber daya alam hayati dan ekosistemnya (Undang-Undang Nomor 05 Tahun
1990). Konservasi tradisional merupakan aturan-aturan yang berjalan dan berlaku di
dalam masyarakat secara tradisional mengenai pengelolaan dan pemanfaatan sumber
daya alam dan lingkungannya untuk tetap menjaga keberlanjutan nilai kualitas
lingkungan dan sumber daya alam. Masyarakat lokal memiliki cara pandang yang
lain dalam mengelola lingkungan sehingga tidak terjadi eksploitasi lingkunga terkait
dengan pemanfaatan sumber daya hutan secara lestari antara lain:
9
a. Kepercayaan dan/atau pantangan, misalnya manusia berkaitan erat dengan unsur
(tumbuhan, binatang dan faktor non-hayati lainnya) dalam proses alam, sehingga
harus memelihara keseimbangan lingkungan. Pantangan untuk menebang pohon
buah atau pohon penghasil madu yang masih produktif, binatang yang sedang
bunting atau memotong rotan terlalu rendah.
b. Etika dan aturan, misalnya menebang pohon hanya sesuai dengan kebutuhan dan
wajib melakukan penanaman kembali. Tidak boleh menangkap ikan dengan
meracuni dan atau menggunakan bom, serta mengutamakan berburu binatangbinatang yang menjadi hama ladang.
c. Teknik dan teknologi, misalnya membuat sekat bakar dan memperhatikan arah
angin saat berladang agar api tidak menjalar dan menghanguskan kebun atau
tanaman pertanian lainnya. Menentukan kesuburan tanah dengan menancapkan
bambu atau parang (untuk melihat kekeringan tanah), warna tanah, diameter
pohon dan warna tumbuhannya. Membuat berbagai perlengkapan atau alat
rumah tangga, pertanian, berburu binatang dari bagian-bagian kayu, bamboo dan
rotan.
Pola Adaptasi
Adaptasi masyarakat merupakan suatu bentuk penyesuaian diri yang
dilakukan masyarakat atau manusia dalam merespon terhadap perubahan lingkungan
maupun sosial (Marfai, 2012). Menurut Gerungan (2006) adaptasi juga merupakan
suatu proses untuk mencapai keseimbangan dengan lingkungan, secara luas
keseimbangan itu bisa dicapai dengan dua cara, yang pertama adalah adaptasi
autoplastis (auto yang artinya sendiri, dan plastis yang artinya bentuk), yaitu
masyarakat melakukan perubahan sesuai dengan lingkungan yang ada di sekitarnya,
masyarakat lebih bersifat pasif terhadap lingkungan sekitar. Dan yang kedua adalah
allopstatis (allo artinya yang lain, dan plastis artinya bentuk), yaitu masyarakat
lebih aktif untuk merubah lingkungan sesuai dengan keinginan dari masyarakat.
Adaptasi yang dilakukan masyarakat merupakan suatu proses dalam
memenuhi syarat-syarat dasar untuk tetap melangsungkan kehidupan, diantarnya
adalah sebagai berikut:
a. Syarat dasar alamiah biologi, (masyarakat harus makan dan minum)
10
b. Syarat dasar kejiwaan (masyarakat membutuhkan perasaan tenang yang jauh
dari perasaan takut dan gelisah)
c. Syarat
dasar
sosial
(manusia
membutuhkan
hubungan
untuk
dapat
melangsungkan keturuna, tidak merasa dikucilkan dan lain sebagainya)
Proses adaptasi berlangsung dalam suatu perjalanan waktu yang tidak dapat
diperhitungkan dengan tepat, kurun waktu tersebut bisa cepat, lambat atau justru
berakhir dengan kegagalan. Proses adaptasi tersebut juga terdapat pola-pola dalam
menyesuaikan diri dengan lingkungan, pola tersebut merupakan rangkaian unsurunsur yang sudah menetap ataupun mengalami perubahan mengenai suatu gejela
dan dapat dipakai sebagai contoh dalam menggambarkan atau mendiskripsikan
proses adaptasi dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam interaksi, tingkah laku
maupun dari masing-masing adat-istiadat kebudayaan yang ada (Suyono, 1985).
Pola adaptasi merupakan perilaku seseorang dalam merespon terhadap stress yang
meliputi dimensi fisik, perkembangan, emosional, intelektual, sosial dan spiritual
(Potter dan Perry, 2005). Manusia merupakan suatu sistem yang dapat
menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang mengalami perubahan.
Etika Lingkungan Hidup
Etika lingkungan berasal dari dua kata, yaitu etika dan lingkungan. Etika
berasal dari bahasa Yunani, yaitu “Ethos” yang berarti adat istiadat atau kebiasaan.
Etika diartiakan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas moral dan nilai dalam
masyarakat dalam menentukan perilaku manusia. Lingkungan adalah keadaan
sekitar yang mempengaruhi perkembangan dan tingkah laku makhluk hidup.
Menurut UU RI No. 04 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
Pengelolaan Lingkungan Hidup dan UU RI No. 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup dikatakan bahwa lingkungan hidup adalah kesatuan ruang
dengan semua benda, daya keadaan dan makhluk hidup, termasuk manusia dan
perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan peri kehidupan dan
kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Sehingga etika lingkungan
merupakan kebijakan moral manusia dalam berhubungan dengan lingkungan, agar
setiap kegiatan yang menyangkut lingkungan dipertimbangkan secara cermat
sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga.
11
Terdapat prinsip-prinsip dalam etika lingkungan hidup yang dipergunakan
sebagai pedoman, pegangan dan tuntunan bagi perilaku terhadap alam secara
langsung maupun perilaku terhadap sesama manusia yang berakibat tertentu
terhadap alam. Prinsip etika lingkungan terutama bertumpu pada dua unsur pokok
dari teori biosentrime dan ekosentrisme. Pertama, komunitas moral tidak hanya
dibatasi pada komunitas sosial, melainkan mencakup komunitas ekologis
seluruhnya. Kedua, hakikat manusia bukan hanya sebagai makhluk sosial,
melainkan juga makhluk ekologis. Kedua unsur tersebut mendasari dari prinsip etika
lingkungan yang ada, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Sikap hormat terhadap alam
Hormat terhadap alam merupakan suatu prinsip dasar bagi manusa
sebagai bagian dari alam semesta seluruhnya. Prinsip ini meyangkut sikap
hormat terhadap integrasi alam, dengan kata lain alam mempunyai hak untuk
dihormati, tidak saja karena kehidupan manusia bergantung kepada alam, tetapi
karena kenyataan bahwa manusia adalah bagian dari alam, manusia adalah
anggota komunitas ekologis.
b. Tanggung jawab
Prinsip ini menuntut manusia untuk mengambil prakarsa, usaha,
kebijakan dan tindakan bersama secara nyata untuk menjaga alam semesta
beserta isinya, dengan kata lain kelestarian dan kerusakan alam merupakan
tanggung jawab bersama seluruh umat manusia. Prinsip ini lebih bersifat
kolektif, bukan bersifat individu.
c. Solidaritas kosmis
Prinsip yang merasa bahwa manusia merupakan bagian dari alam dan di
dalamnya juga terdapat makhluk hidup. Prinsip ini mendorong manusia untuk
menjaga atau menyelamatkan lingkungan dari kerusakan, hal ini dikarenakan
alam dan semua kehidupan di dalamnya mempunyai nilai yang sama dengan
kehidupan manusia. Prinsip ini juga berfungsi sebagai pengendali moral yang
mengharmoniskan
lingkungannya.
perilaku
manusia
dengan
ekosistem
yang
ada
di
12
d. Kasih sayang dan kepedulian terhadap alam
Prinsip ini tidak didasarkan pada pertimbangan kepentingan pribadi,
tetapi semata-mata demi kepentingan alam. Semakin manusia peduli pada alam,
maka manusia akan semakin berkembang menjadi manusia yang memiliki
identitas yang kuat, karena alam memang sumber dari segala kehidupan, tidak
hanya dalam pengertian fisik, melainkan juga dalam pengertian mental dan
spiritual.
e. Tidak merugikan
Manusia merupakan bagian dari alam yang di dalamnya juga terdapat
makhluk hidup yang lain. Interaksi manusia di alam merupakan suatu kejadian
yang menghubungkan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Prinsip ini
menegaskan bahwa dalam interaksi antara manusia dan juga makhluk hidup
lainnya tidak ada tindakan yang merugikan eksistensi yang ada di dalam alam.
f. Hidup sederhana dan selaras dengan alam
Prinsip sederhana dan selaras dengan alam merupakan prinsip dasar
(fundamental), yaitu hidup dengan memanfaatkan alam sejauh yang dibutuhkan
dan juga hidup selaras dengan tuntutan alam itu sendiri. Manusia merupakan
bagian dari alam, sehingga pemanfaatan dari alam harus dilakukan secara
optimal atau sesuai dengan kebutuhan, tidak secara rakus, tidak perlu banyak
menimbun sehingga tidak ada eksploitasi alam tanpa batas.
g. Keadilan
Prinsip keadilan lebih menekankan pada akses yang sama bagi semua
kelompok dan anggota masyarakat dalam ikut menentukan kebijakan
pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian alam, dan juga bagaimana cara
menikmati pemanfaatan sumber daya alam atau alam semesta seluruhnya.
h. Demokrasi
Prinsip demokrasi sangat relevan dalam bidang lingkungan, terutama
dalam kaitan dengan pengambilan kebijakan dibidang lingkungan yang
menentukan baik buruknya, rusak tidaknya, tercemar tidaknya lingkungan
hidup. Prinsip keadilan merupakan prinsip moral politik yang menjadi garansi
bagi kebijakan yang pro lingkungan. Demokrasi menjamin bahwa pemerintah
wajib mempertanggung jawabkan kebijakannya di bidang lingkungan,
13
khususnya kebijakan yang merugikan lingkungan, bahkan demokrasipun
menjamin hak rakyat yang berbeda pendapat dengan pemerintah dan menggugat
setiap kebijakan publik yang berdampak merugikan lingkungan.
i. Integrasi moral
Prinsip ini menuntut pada pejabat publik agar memiliki sikap dan
perilaku moral yang terhormat serta memegang teguh prinsip-prinsip moral yang
mengamankan kepentingan publik. Prinsip ini juga berkaitan dengan
lingkungan, dikarenakan tanpa integrasi moral pejabat publik dapat menyalah
gunakan kekuasaannya untuk kepentingannya dan kelompoknya dengan
mengorbankan kepentingan masyarakat dan lingkungan. Hal ini berlaku baik
dalam kaitan dengan kebijakan publik yang berdampak pada rusaknya
lingkungan maupun dalam kaitan dengan pemberian izin yang mempunyai
dampak merugikan bagi lingkungan.
Asas Lingkungan
Ilmu lingkungan merupakan salah satu ilmu yang mengintegrasikan berbagai
ilmu atau aspek diantaranya adalah sosial, ekonomi, kesehatan, pertanian, yang
mempelajari hubungan antara jasad hidup (termasuk manusia) dengan lingkungan,
sehingga ilmu lingkungan adalah poros dari berbagai asas dan konsep berbagai ilmu
yang saling terkait satu sama lainnya untuk mengatasi permasalahan antara
hubungan jasad hidup dengan lingkungannya. Asas di dalam suatu ilmu pada
dasarnya merupakan landasan untuk menguraikan gejala atau fenomena dan situasi
yang lebih spesifik. Asas dapat terjadi melalui suatu penggunaan dan pengujian
metodologi secara terus menerus dan panjang, sehingga diakui kebenarannya oleh
ilmuan secara meluas, serta digunakan sebagai landasan yang kokoh dan kuat untuk
mendapatkan hasil, teori dan model seperti pada ilmu lingkungan. Asas-asas
tersebut sebenarnya merupakan suatu kesatuan yang saling terkait dan tidak dapat
dipisahkan satu dengan lainnya, sehingga penelitian mengenai Pola Adaptasi
Masyarakat Dusun Duren dan Sidorejo Desa Beji Kecamatan Ngawen Kabupaten
Gunungkidul D. I. Yogyakarta dalam Pelestarian Fungsi Hutan Wonosadi sesuai
dengan asas lingkungan, diantaranya yaitu:
a. Asas 6 (Individu dan spesies yang mempunyai lebih banyak keturunan dari pada
saingannya, cenderung berhasil mengalahkan saingannya).
14
Asas ini menjelaskan mengenai seleksi alam, artinya banyak faktor yang
mempengaruhi kelestarian hutan Wonosadi, diantaranya adalah faktor abiotik,
biotik dan juga aktivitas masyarakat yang ada di sekitarnya. Sehingga spesies
yang mampu beradaptasi dengan faktor-faktor tersebut akan mampu bertahan,
tetapi spesies yang tidak mampu beradaptasi dengan faktor-faktor tersebut akan
mati atau tersingkirkan.
b. Asas 7 (Kemantapan keanekaragaman suatu komunitas lebih tinggi di alam
lingkungan yang “mudah diramal”).
Kerusakan hutan sebagian besar terjadi dikarenakan adanya campur tangan
manusia, manusia dengan kepentingannya merubah fungsi hutan sebagai alat
untuk memperoleh kebutuhannya. Hutan Wonosadi merupakan warisa turuntemurun dari nenek moyang beserta kearifan lokal yang ada. Kearifan tersebut
masih dilaksanakan oleh masyarakat sekitar dalam berinteraksi dengan hutan
tanpa merusak atau mengabaikan lingkungan sekitarnya. Interaksi tersebut
menjadikan hubungan antara masyarakat sekitar dan juga hutan menjadi
harmonis dan selaras sehingga keanekaragaman hayatinya terjaga. Lingkungan
yang
stabil
merupakan
lingkungan
yang
mempunyai
jumlah
spesies
(keanekaragaman) yang banyak dan mampu beradaptasi terhadap lingkungan
tersebut, sedangkan lingkungan yang tidak stabil adalah lingkungan yang hanya
memiliki jumlah spesies (keanekaragaman) yang relatif sedikit.
c. Asas 11 (Sistem yang sudah mantap (dewasa) mengeksplotasi sistem yang
belum mantap (belum dewasa)).
Hutan Wonosadi terbagi dalam tiga kawasan, yaitu kawasan kehati, kawasan
hutan inti dan kawasan hutan penyangga. Kawasan hutan inti merupakan
kawasan inti dari hutan Wonosadi, sedangkan kawasan kehati dan hutan
penyangga merupakan kawasan yang dibuat oleh masyarakat sebagai upaya
untuk menjaga atau melindungi hutan inti. Kawasan hutan inti yang telah
dewasa dengan keanekaragaman hayati yang tinggi akan membagi atau
menyebarkan keanekaragman tersebut kepada kedua kawasan lainnya.
Penelitian yang Relevan
Penelitian mengenai pola adaptasi masyarakat dalam rangka pelestarian
hutan telah dilakukan oleh peneliti terdahulu, diantaranya yaitu:
15
1. Penelitian Sariffuddin dan Arwan (2014) yang berjudul Pola Adaptasi
Masyarakat Pesisir Genuk Kota Semarang. Tujuan dari penelitian tersebut
adalan untuk memahami pola adaptasi dan gaya hidup masyarakat dan pengaruh
didalam mengatur lingkungan pemukiman dengan area peisisir Genuk Kota
Semarang sebagai obyek penelitiaanya. Sasaran dari penelitian ini adalah untuk
memahami motivasi masyarakat berurbanisasi, untuk menjelaskan kondisi
lingkungan pemukiman dan untuk menjelaskan pengaruh kesejahteraan terhadap
pola adaptasi masyarakat. Metode penelitian yang dipergunakan adalah
deskriptif kualitatif dengan memanfaatkan hasil wawancara, studi pustaka,
penelitian terdahulu dan observasi lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan
adanya tiga kelas ekonomi masyarakat yang mempegaruhi pola adaptasi, yaitu
kelas bawah yang bekerja di sektor informal, kelas menengah yang bekerja
sebagai buruh industri dan kelas atas yang bekerja sebagai pengusaha dan
pegawai. Diketahui bahwa masyarakat kelas menengah berperan besar terhadap
permasalahan lingkungan dan lebih pada cara bertahan hidup dengan kondisi
lingkungan pemukimannya. Sedangkang masyarakat kelas menengah-atas
memberikan perhatian besar terhadap kualitas lingkungan dan mengubah
lingkungan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat, meskipun ada
perbedaan pola adaptasi berdasarkan kelas ekonomi masyarakat. Masyarakat
kelas mengenah menggangap bahwa permasalahan lingkungan merupakan
kesalahan proses perencanaan dan pembangunan.
2. Penelitian Patriana dan Arif (2013) tentang Pola Adaptasi Nelayan terhadap
Perubahan Iklim: Studi Kasus Nelayan Dusun Ciawitali, Desa Pamotan,
Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Tujuan dari penelitian
ini adalah mengidentifikasi dampak perubahan iklim pada aktivitas nelayan
perikanan tangkap dan menganalisis pola adaptasi dan strategi ekonomi yang
dilakukan oleh nelayan untuk mengatasi dampak ekonomi yang ditimbulkan
oleh perubahan iklim. Metode penelitian yang dipergunakan adalah kualitatif
eksploratif malalui wawancara mendalam, observasi atau pengamatan dan
diskusi kelompok terarah yang dilengkapi dengan studi literatur. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa perubahan iklim menyebabkan terjadinya perubahan
wilayah dan musim penangkapan ikan, meningkatya resiko melaut akibat
16
gelombang ekstrim dan angin kencang dan menghambat akses nelayan dalam
melaut akibat pendangkalan muara sungai dan gelombang besar; adaptasi yang
dilakukan oleh nelayan antara lain adalah adaptasi iklim melalui “mengejar
musim ikan”, adaptasi sumber daya pesisir, adaptasi alokasi sumber daya dalam
rumah tangga yang meliputi optimalisasi tenaga kerja dalam rumah tangga dan
pola nafkah ganda, dan keluar dari kegiatan perikanan.
Kerangka Pemikiran
Kearifan lokal di suatu daerah memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri
dibandingkan dengan daerah lainnya, begitu juga dengan masyarakat sekitar hutan
Wonosadi. Kearifan lokal tersebut berasal dari cerita asal usul hutan Wonosadi,
mitos, dan tradisi. Masyarakat dalam interaksinya dengan hutan selalu berpegang
teguh pada kearifan tersebut, sehingga pemanfaatan yang dilakukan oleh masyarakat
tidak menggangu atau merusak kawasan hutan sehingga hutan Wonosadi dapat
lestari.
Hutan Wonosadi juga pernah mengalami kondisi yang memprihatinkan,
tahun 1960-1965 masyarakat di sekitar hutan Wonosadi menebang dan menjarah
hutan untuk diambil kayunya, yang tersisa dari kejadian itu hanyalah lima pohon
munggur (Samanea saman) yang berada di pusat hutan Wonosadi. Dampak dari
kejadian tersebut adalah matinya sumber mata air, erosi, banjir krikil dan matinya
sumber kehidupan masyarakat. Kejadian tersebut menyadarkan masyarakat akan
pentingnya hutan serta kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhurnya,
sehingga masyarakat secara gotong royong mengadakan program penghijauan di
kawasan hutan Wonosadi untuk dapat mengembalikan fungsi hutan Wonosadi.
Adapatasi masyarakat dalam interaksinya dengan hutan berdasarkan kearifan
lokal dan kondisi kawasan hutan Wonosadi, baik biotik (flora dan satwa) maupun
abiotik (suhu tanah, kelembaban udara, intensitas cahaya, dan pH tanah)
memunculkan pola-pola yang dapat menggambarkan adaptasi masyarakat dalam
interaksinya dengan lingkungan, pola tersebut merupakan rangkaian unsur-unsur
yang sudah menetap ataupun mengalami perubahan mengenai suatu gejala dan dapat
dipakai sebagai contoh dalam menggambarkan atau mendiskripsikan proses adaptasi
tersebut. Oleh sebab itu penelitian mengenai Pola Adaptasi Masyarakat Desa Beji
dalam Pelestarian Fungsi Hutan Wonosadi perlu dikaji dan di teliti.
17
Gambar 1. Kerangka berfiki
Download