I. TINJAUAN PUSTAKA 1. Sarana Prasarana a. Pengertian Sarana

advertisement
I.
TINJAUAN PUSTAKA
1. Sarana Prasarana
a. Pengertian Sarana
Menurut Soepartono (2000:6) sarana olahraga adalah terjemahan dari facilities, yaitu
sesuatu yang dapat digunakan dan dimanfaatkan dalam pelaksanaan kegiatan olahraga
atau pendidikan jasmani, mudah dipindah, bahkan dibawa oleh pelaku atau siswa.
Contoh alat yang digunakan dalam pembelajaran jasmani yaitu: bola, raket, pemukul,
net, lembing, dan sebagainya.
Sarana pendidikan jasmani merupakan peralatan yang sangat membantu
Dalam proses belajar mengajar pendidikan jasmani. Sarana pendididkan jasmani pada
dasarnya merupakan segala sesuatu yang sifatnya tidak permanen, dapat dibawa
kemana-mana atau dipindahkan dari satu tempat ketempat lain. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (2001: 999) dijelaskan, “Sarana adalah segala sesuatu yang dipakai
sebagai alat dalam mencapai maksud dan tujuan”.
Menurut Ratal Wirjasantoso (1984: 157) alat-alat olahraga biasanya
dipakai dalam waktu relatif pendek misalnya: bola, raket, jarring, pemukul bola kasti,
dan sebagainya. Alat-alat olahraga biasanya tidak dapat bertahan dalam waktu yang
lama, alat akan rusak apabila sering di pakai dalan kegiatan pembelajaran pendidikan
jasmani, agar alat dapat bertahan lama harus dirawat dengan baik.
Sarana maupun alat merupakan benda yang dibutuhkan dalam pembelajaran olahraga,
dan alat tersebut sangat mudah dibawa sehingga sarana atau alat tersebut sangat
praktis dalam pelaksanaan pembelajaran. Alat olahraga merupakan hal yang mutlak
harus dimiliki oleh sekolah, tanpa ditunjang dengan hal ini pembelajaran pendidikan
jasmani tidak akan dapat berjalan dengan baik.
Soepartono (1999/2000) menyatakan istilah sarana olahraga adalah
terjemahan dari fasilitas yaitu sesuatu yang dapat digunakan dan dimanfaatkandalam
pelaksanaan proses pembelajaran pendidikan jasmani. Selanjutnya sarana juga dapat
diartikan segala sesuatu yang dapat digunakan dalam pembelajaran pendidikan
jasmani mudah dipindah bahkan mudah dibawa oleh pemakai. Sedangkan sarana
olahraga dapat dibedakan menjadi:
1. Peralatan ialah sesuatu yang digunakan. Contoh: peti loncat, palang tunggal, palang
sejajar, dan lain sebagainya.
2. Perlengkapan ialah:
a. Semua yang melengkapi kebutuhan prasarana. Misalnya: net, bendera untuk
tanda, garis batas.
b. Sesuatu yang dapat dimainkan atau dimanipulasi dengan tangan atau kaki.
Misalnya: bola, raket, pemukul.
Sedang menurut Sukintaka yang dimaksud alat adalah alat-alat olahraga adalah “ alat
yang digunakan dalam olahraga, misalnya bola untuk bermain basket, voli, sepak
bola.
Menurut Agus S. S (2004:4), sarana adalah sesuatu yang diperlukandalam
pembelajaran pendidikan jasmani, sehingga sangat penting dalam memberikan
motivasi peserta didik untuk selalu bergerak aktif, sehingga tujuan aktivitas
pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Perlu diperhatikan bahwa ada hal-hal yang
dapat membahayakan keselamatan di lapangan atau ruang bagi anak, yaitu
a. kursi (kursi wasit), tempat duduk yang sudah tidak stabil lagi
(sudah goyang)
b. lantai yang licin;
c. ventilasi dan suhu ruangan yang tidak nyaman;
d. saluran air bersih yang tidak berfungsi;
e. saluran air kotor yang macet;
f. reruntuhan atau sisa-sisa peralatan yang tidak terpakai yang berserakan dilantai
ruang senam atau di lapangan;
g. halaman atau lantai yang tidak rata, reruntuhan yang tersembunyi;
h. lubang-lubang di lapangan, permukaan lantai ruangan yang terbuat dari kayu yang
sudah rusak;
i. lapangan olahraga yang terlalu dekat dengan tempat rekreasi;
j. suasana lalu lintas yang tidak nyaman.
Dari beberapa pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa sarana adalah sarana
pendidikan jasmani merupakan perlengkapan
yang mendukung kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani yang sifatnya
dinamis dapat berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
b. Pengertian Prasarana
Menurut Agus S. Suryobroto (2004:16-18) prasarana adalah segala sesuatu yang
diperlukan dalam pembelajaran pendidikan jasmani, mudah dipindah (bisa semi
permanen). Contoh: matras, peti lompat, meja tenis meja, dll.
Perkakas biasanya tidak dipindahkan agar tidak mudah rusak, kecuali kalau tempatnya
terbatas, sehingga harus bongkar pasang. Prasarana dalam pembelajaran pendidikan
jasmani juga bisa bersifat permanen atau tidak bisa dipindah. Contoh: lapangan (sepak
bola, voli, basket, hoki, dll). Jadi prasarana dalam pembelajaran jasmani akan
mempermudah berlangsungnya proses pembelajaran. Persyaratan yang harus
dipertimbangkan dalam memilih sarana dan prasarana yaitu sebagai berikut.
a. Aman
Unsur keamanan merupakan unsur yang paling pokok dalam pembelajaran
pendidikan jasmani, artinya keamanan merupakan prioritas utama sebelum unsur
yang lain. Lapangan harus terhindar dari unsur bahaya, misalnya: licin, ada benda
runcing (batu tajam, pecahan kaca, paku, dan sebagainya).
b. Mudah dan murah
Sarana dan prasarana yang diperlukan dalam pembelajaran pendidikan jasmani agar
memenuhi persyaratan kemudahan dan kemurahan, maksudnya adalah sarana dan
prasarana tersebut mudah didapat, disiapkan, diadakan, dan jika membeli tidaklah
mahal harganya, namun juga tidak mudah rusak.
c. Menarik
Sarana dan prasarana yang baik jika menarik penggunaanya, artinya siswa senang
dalam menggunakannya bukan sebaliknya. Jangan sampai dengan adanya sarana dan
prasarana menjadikan siswa takut dalam melakukan aktivitas. Selain itu sebagai
seorang guru penjas harus dapat menciptakan sarana dan prasarana yang menarik
siswanya.
d. Memacu untuk bergerak
Dengan adanya sarana dan prasarana pendidikan jasmani, maka siswa akan terpacu
untuk bergerak. Hal ini karena sarana dan prasarana tersebut merupakan tantangan
bagi siswa. Dengan demikian diharapkan dalam penggunaan sarana dan prasarana
pendidikan jasmani dapat memacu siswa untuk bergerak.
e. Sesuai dengan kebutuhan
Dalam penggunaan sarana dan prasarana pendidikan jasmani hendaknya disesuaikan
dengan kebutuhan siswa atau penggunanya.
f. Sesuai dengan tujuan
Sarana dan prasarana hendaknya sesuai dengan tujuannya, maksudnya jika sarana
dan prasarana tersebut akan digunakan untuk mengukur kekuatan dan sesuai dengan
tujuan kekuatan tersebut, yaitu harus berkaitan dengan berat. Jika sarana dan
prasarana digunakan untuk mengukur keseimbangan, maka terkait dengan lebar
tumpuan dan tinggi tumpuan.
g. Tidak mudah rusak
Hendaknya sarana dan prasarana yang digunakan untuk pembelajaran pendidikan
jasmani tidak mudah rusak, meskipun harganya murah. Artinya jangan sampai sarana
pendidikan jasmani hanya dapat digunakan dalam satu atau dua kali pakai saja.
h. Sesuai dengan lingkungan
Sarana dan prasarana yang digunakan untuk pembelajaran pendidikan jasmani
hendaknya disesuaikan dengan situasi lingkungan sekolah.
Soepartono (2000: 5) menambahkan bahwa prasarana berarti segala sesuatu yang
merupakan penunjang terselenggaranya suatu proses (usaha atau pembangunan). Dalam
olahraga prasarana didefinisikan sebagai sesuatu yang mempermudah atau memperlancar
tugas dan memiliki sifat yang relatif permanen. Prasarana pendidikan jasmani pada
dasarnya merupakan sesuatu yang bersifat permanen. Kelangsungan proses belajar
mengajar pendidikan jasmani tidak terlepas dari tersedianya prasarana yang baik dan
memadai. Prasarana yang baik dan memadai maka proses pembelajaran pendidikan
jasmani dapat berjalan dengan baik. Menurut Depdiknas dalam Kamus Besar Bahasa
Iandonesia (2001: 893) bahwa, “prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan
penunjang utama terselenggaranya suatu proses usaha, pembangunan proyek dan lain
sebagainya”.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa
prasarana olahraga adalah segala sesuatu yang dibutuhkan dalam melakukan olahraga
yang sifatnya semi permanen (bisa dipindahkan tetapi sulit atau berat), bisa juga
permanen (tidak bisa dipindahkan). Keberadaan sarana dan prasarana sangat
mempengaruhi cepat lambatnya siswa dalam menguasai pembelajaran. Tanpa sarana dan
prasarana kegiatan pembelajaran tidak akan berjalan dengan optimal.
2. Fasilitas Pendidikan Jasmani Untuk Sekolah
Fasilitas olahraga di sekolah merupakan masalah di negara Indonesia.
Ditinjau dari kuantitasnya masih sangat terbatas dan tidak merata dan masih
terlalu jauh dari batas ideal minimal atau standart minimal. Untuk menuju
pendidikan yang berkualitas, maka fasilitas olahraga harus dipenuhi. Adapun yang
dimaksud dengan fasilitas menurut hasil Loka Karya Fasilitas Olahraga (1979: 18)
dijelaskan bahwa, “Fasilitas olahraga adalah semua lapangan dan bangunan beserta
perlengkapannya. Dalam hal ini fasilitas tersebut, macam dan jenisnya dapat berupa
lapangan terbuka/luar, lapangan tertutup, kolam renang dan perlengkapan fasilitas
olahraga”.
Pendapat tersebut menunjukkan bahwa, fasilitas olahraga merupakan
lapangan atau bangunan yang disertai dengan perlengkapan olahraga. Sebagai
contoh fasilitas sepakbola berupa lapangan sepakbola yang dilengkapi seperti
gawang, jala, bendera, bola dan lain sebagainya.
Keberadaan fasilitas dalam pendidikan jasmani sangat penting, bahkan
tidak dapat dipisahkan dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani.
Ketersediaan fasilitas olahraga yang ideal sesuai dengan standart, maka
pembelajaran pendidikan jasmani akan berjalan lancar sesuai dengan kurikulum. Namun
sebaliknya, fasilitas yang tidak sesuai maka pembelajaran tidak dapat berjalan
sebagaimana mestinya, sehingga pembelajaran tidak sesuai dengan kurikulum.
Fasilitas adalah sarana untuk melancarkan fungsi atau kemudahan.
Fasilitas secara umum adalah fasilitas yang disediakan untuk kepentingan umum seperti:
jalan raya,alat penerangan, dan lain-lainnya.Fasilitas olahraga di sekolah masih
merupakan masalah di negara indonesia. Ditinjau dari kuantitasnya masih sangat terbatas
dan tidak merata. Masih terlalu jauh dari batas ideal minimal atau standard minimal.
1.
Kelemahan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Menggunakan Sarana Prasarana
Stndart
a. Banyak Sekolah Tidak Mempunyai Lapangan
Seharusnya tiap sekolah mempunyai satu lapangan sepak bola, baru hamper semua
cabang olahraga yang ada di kurikulum dapat dilaksanakan. Hanya bulutangkis,
karena tidak boleh ada angin, harus didalam gedung dan lapangan basket harus
dilapangan khusus. Yang lain bola voli, dapat mendirikan net lapangan, senam bisa
mengeluarkan matras kelapangan, bola tangan juga dapat dan semua nomer atletik
dapat pula dilaksanakan dilapangan bola.
Namun kondisi sekolah sekarang hanya satu atau dua yang mempunyai lapangan
sepakbola. Kebanyakan hanya memiliki halaman yang tidak begitu luas. Karena
masih ada guru yang mengajar dengan peralatan dan ukuran yang sebenarnya, maka
banyak materi pendidikan jasmani yang mulai kelas 1 sampai 3 SMP tidak diajarkan.
Misalnya halaman sekolah hanya berukuran 1x25 m, cukup untuk satu lapangan voli
dan senam saja. Padahal dalam kurikulum seharusnya, satu cawu hanya dua kali
pelajaran voli. Dalam kondisi seperti ini yang pasti tidak dapat dilaksanakan dan tidak
pernah diajarkan adalah semua nomor atletik.
b. Kurang Memberikan Kebebasan Murid
Pendidikan jasmani dengan aturan cabang olahraga yang sebenarnya kurang
memberikan kebebasan pada murid. Karena ketrampilan murid belum baik dan harus
menggunakan alat ( missal bola ) ukuran orang dewasa, membuat suasana
pembelajaran kaku dan tidak lancar. Pada waktu bermain murid tidak dapat bebas
bergerak karena terikat oleh peraturan permainan.
Seharusnya guru jangan menggunakan alat dan lapangan ukuran sebenarnya. Apabila
muridnya belum mampu, sebenarnya terbuka kesempatan bagi guru pendidikan
jasmani untuk membuat sendiri peraturan dan alatnya sesuai dengan kebutuhan guru
untuk menyampaikan bahan pelajaran.
c. Tidak Semua Murid Mampu Menggunakan Fasilitas Ukuran Standar.
untuk praktek pendidikan jasmani tidak selalu mengguanakan secara keseluruhan
lapangan standar sebab tidak semua murid mampu menggunakannya. Sebenarnya
guru pendidikan jasmani tidak harus menuntut tersediannya peralatan untuk setiap
cabang olahraga dengan ukuran yang sebenarnya. Dan untuk pengadaan peralatan
tersebut lebih baik dibelikan bahan dan peralatan sederhana yang murah dan mungkin
sebagian bisa dibuat sendiri oleh guru. Peralatan olahraga yang sebenarnya,
disamping harganya mahal juga belum tentu murid mampu menggunakannya.
d. Tidak Sesuai Dengan Karakteristik Murid
Guru pendidikan jsmani seharusnya tidak mengajar tetapi membelajarkan. Artinya
guru mengusahakan agar muridnya mau dan senang belajar. Oleh karena itu guru
harus benar-benar memahami karakteristik muridnya. Murid SMP masih tergolong
anak-anak yang masih menyukai aktifitas bermain dan lomba-lomba yang
menyenangkan. Jadi jika fasilitasnya tidak sesuai dengan karakteristik murid,
sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan atau kondisi murid. Lapangan bisa
dipersempit, alat dan peraturan disederhanakan agar murid bisa melakukan aktifitas
dengan senang. Modifikasi sebenarnya hanya istilah saja, modifikasi bukan model
maupun metode tetapi mengacu pada berbagai ketrampilan mengajar yang di adaptasi
secara tepat selama proses pengajaran. Modfikasi adalah model yang didesain dan
disesuaikan dengan kondisi kelas yang menakankan pada kegembiraan dan pengayaan
perbendaharaan gerak agar sukses dalam mengembangkan ketrampilan.
e. Tujuan Pendidikan Jasmani Sulit Dicapai
Menurut penelitian penelitian Cholik Muhtar, 1995 menyebutkan bahwa dengan
menggunakan peralatan standart, waktu gerak efektif permurid rendah maka sulit
untuk meningkatkan keugran jasmani maupun merangsang pertumbuhan. Begitu pula
tujuan-tujuan pendidikan jasmani yang lain sulit untuk dicapai.
2. Pengembangan sarana prasarana yang ada disekolah
Peralatan olahraga yang sebenarnya ( ukuran standart ) justru sebagian besar tidak sesuai
dengan karakteristik dan perkembangan siswa. Minimnya sarana prasarana olahraga yang
tidak merata dan tidak sesuai dengan kondisi murid ini menuntut guru prndidikan jasmani
lebih kreatif. Guru harus bisa memodifikasi pembelajaran dengan memanfaatkan sarana
prasaran seadanya di sekolah atau alat buatan guru sendiri dinamakan pengajaran dengan
pendekatan modifikasi. Pendekatan modifikaasi adalah pendekatan yang didesain dan
disesuaikan dengan kondisi kelas yang menekankan pada kegembiraan dan pengayaan
perbendaharaan gerak agar sukses dalam mengembangkan ketrampilan. Oleh guru-guru
yang masih menggunakan model pembelajaran tradisional, pembelajaran modifikasi
dianggap tidak sesuai dengan kurikulum, karena mereka mengagnggap GBPP kurikiulum
pendidikan jasmani adalah satu-satunya terjemahan dari kurikulum.
3. Belajar Dan Pembelajaran
a. Pengertian belajar dan pembelajaran
Menurut Burton (2001:28), belajar adalah suatu proses perubahan tingkat laku
individu melalui interaksi dengan lingkungan. Dimana tingkah laku dalam arti luas
ditimbulkan atau di ubah melalui praktek atau latihan.
Menurut Husdarta dan Saputra(2002:2), belajar dimaknai dengan proses perubahan
tingkah laku sebagai akibat adanya interaksi antar individu dengan lingkungan.
Tingkah laku itu mencakup aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan. Pengetahuan
sikap dan keterampilan yang dimiliki oleh siswa dapat di ukur penampilannya.
Menurut Gagne dalam Widiastuti, belajar adalah suatu perubahan tingkah laku
manusia atau kemampuan yang dapat diperlihara yang bukan berasal dari proses
pertumbuhan.
Menurut pendapat Dimyati dan Mudjiono (1999:9), belajar dapat didefinisikan
sebagai suatu kegiatan yang komplek. Hasil belajar berupa kemampuan, setelah
belajar orang dapat memiliki pengetahuan, sikap, dan nilai. Jadi menurut pengertian
diatas berarti belajar merupakan seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat
stimulus (rangsangan) lingungan, melewati pengolahan, menjadi kapabilitas baru.
b. Prinsip-Prinsip Belajar Dan Pembelajaran
Banyak teori dan prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh para ahli yang satu dengan
para ahli yang lainnya yang memiliki persamaan dan perbedaanan. Dimyati dan
Mudjiono (1999:42-50), membagi prinsip-prinsip belajar dalam tujuh katagori, yaitu
sebagai berikut.
1. Perhatian dan Motivasi.
Menurut Gagne dan Berli (1984:335), perhatian mempunyai peranan yang sangat
penting dalam kegiatan belajar. Dari teori belajar pengolahan informasi terungkap
bahwa tanpa adanya perhatian tidak mungkin terjadi belajar. Sementara itu,
motivasi juga mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Gagne dan
Berli (1984:335), mengatakan motivasi adah tenaga yang menggerakkan dan
mengarahkan aktivitas seseorang.
2. Keaktifan.
Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan tidak juga dilimpahkan oleh
orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri.
3. Keterlibatan Langsung atau Berpengalaman.
Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekedar mengamati
secara langsung dalam perbuatan dan tanggung jawab terhadap hasil belajarnya.
4. Pengulangan.
Di dalam prinsip belajar pengulangan memiliki peranan penting, karena mata
pelajaran yang kita dapat perlu diadakan pengulangan-pengulangan supaya terjadi
kesempurnaan dalam belajar. Oleh karena itu prinsip pengulangan masi relevan
sebagai dasar pembelajaran dan dalam belajar masih tetap diperlukan latihan-
latihan atau pengulangan-pengulangan.
5. Tantangan.
Dalam situasi belajar siswa mengahadapi suatu tujuan yang ingin di capai tetapi
selalu terdapat hambatan dengan mempelajari bahan ajar, maka timbullah motif
untuk mengatasi hambatan itu. Agar pada anak timbul motif yang kuat untuk
mengatasi hambatan dengan baik, maka bahan belajar harus memiliki tantangan.
Tantangan yang di hadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untuk
mengatasinya. Bahan belajar yang baru mengandung masalah yang perlu
dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya.
6. Balikan atau Penguatan.
Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan
pada stimulus (rangsangan) dan respon (reaksi).
7. Perbedaan Individu.
Perbedaan individu ini pengaruh dari hasil cara belajar siswa, karena perbedaan
individu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran di sekolah.
c. Tujuan Belajar Dan Pembelajaran
Belajar merupakan suatu proses internal yang kompleks, yang terlibat dalam proses
internal tersebut adalah seluruh ranah-ranah afektif dan psikomotor. Sehingga proses
belajar yang mengaktualisasi (nyata) ranah-ranah tersebut tertuju pada bahan belajar.
Menurut Sardiman (1994:27), secara umum tujuan belajar dapat dibagi menjadi tiga
bagian, yaitu (1) untuk mendapatkan pengetahuan; (2) penanaman konsep dan
keterampilan; dan (3) pembentukan sikap.
d. Hasil Belajar
Setelah berahirnya suatu proses belajar dan pembelajaran maka siswa memproleh
suatu hasil belajar. Menurut Dimyanti (1994:3), Hasil belajar adalah hasil dari suatu
interaksi dari tindak belajar dan tindak mengajar. Diahiri dengan proses evaluasi hasil
belajar,dari sisi siswa,hasil belajar merupakan brahirnya penggal dan puncak proses
belajar sedangkan dari sisi guru hasil belajar merupakan suatu pencapaian tujuan
pengajaran.
Menurut Ahmadi (1984:35), hasil belajar adalah hasil yang dicapai dalam suatu usaha
dalam hal ini usaha belajar dalam perwujudan prestasi belajar siswa yang dapat dilihat
pada nilai setiap mengikuti tes.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (1994:35), hasil belajar dapat dibedakan menjadi
dampak pengajaran dan dampak penggiring. Dampak pengajaran adalah basil yang
dapat diukur seperti tertuang dalam nilai raport dan angka dalam ijazah. Sedangkan
dampak penggiring adalah terapan pengetahuan dan kemampuan dibidang lain yang
merupakan transfer belajar.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu
hasil yang didapat dari pengajaran yang tertuang dalam bentuk angka dalam raport
dan ijazah.
4. Pendidikan Jasmani
a. Pengertian Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu tujuan pembangunan nasional seperti yang tertera
dalam pembukaan UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk
mewujudkan tujuan tersebut, berbagai hal yang menunjang sistem pendidikan perlu
dikembangkan sebaik mungkin. Seperti yang tertuang pada UU RI No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual,
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan.
Melalui pendidikan pula berbagai aspek kehidupan yang menunjang pembentukan
manusia seutuhnya, dikembangkan melalui proses belajar dan pembelajaran.
Berbagai hambatan dalam proses belajar harus sejalan dan stabil agar kondisi belajar
yang kondusif tercipta sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai serta dapat mencapai
hasil yang maksimal.
b. Pengertian Pendidikan Jasmani
Menurut Nixon dan Cozens (1963:51), pendidikan jasmani didefinisikan sebagai fase
dari seluruh proses pendidikan yang berhubungan dengan aktifitas dan respon otot
yang giat dan berkaitan perubahan yang di hasilkan individu dari respons tersebut.
Menurut Dauer dan Pangrazi (1989:1), pendidikan jasmani merupakan fase dari
program pendidikan keseluruhan yang memberikan kontribusi, terutama melalui
pengalaman gerak, untuk pertumbuhan dan perkembangan secara utuh untuk tiap anak.
Pendidikan jasmani merupakan pendidikan yang melalui gerak dan harus dilaksanakan
dengan cara-cara yang tepat agar memiliki makna bagi anak.
Menurut Bucher (1979), pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari suatu
proses pendidikan secara keseluruhan, proses pendidikan fisik yang di pilih untuk
meningkatkan kemampuan organic, neuromuskuler, interperatif, social dan emosional.
Menurut Ateng (1993), bagian integral dari keseluruhan melalui berbagai kegiatan
jasmani yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan organic, neuromuskuler,
interperatif dan emosional.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan jasmani
adalah suatu proses pendidikan yang di lakukan secara sadar, untuk mengolah tubuh
dan untuk meningkatakan kemampuan organic, neuromuskuler, interperatif, social dan
emosional.
c. Tujuan Pendidikan Jasmani
1. Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan
pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas
jasmani dan olahraga yang terpilih.
2. Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang
lebih baik.
3. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar.
4. Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang
terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga
dan kesehatan.
5. Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama,
percaya diri dan demokratis.
6. Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain
dan lingkungan.
7. Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih
sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup
sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif.
d. Ruang Lingkup Pendidikan Jasmani
1. Permainan dan olahraga meliputi: olahraga tradisional, permainan.
eksplorasi
gerak, keterampilan lokomotor non-lokomotor,dan manipulatif, atletik, kasti,
rounders, kippers, sepak bola, bola basket, bola voli, tenis meja, tenis lapangan,
bulu tangkis, dan beladiri, serta aktivitas lainnya.
2. Aktivitas pengembangan meliputi: mekanika sikap tubuh, komponen kebugaran
jasmani, dan bentuk postur tubuh serta aktivitas lainnya.
3. Aktivitas senam meliputi: ketangkasan sederhana, ketangkasan tanpa alat,
ketangkasan dengan alat, dan senam lantai, serta aktivitas lainnya.
4. Aktivitas ritmik meliputi: gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan senam aerobic serta
aktivitas lainnya.
5. Aktivitas air meliputi: permainan di air, keselamatan air, keterampilan bergerak di
air, dan renang serta aktivitas lainnya.
6. Pendidikan luar kelas, meliputi: piknik/karyawisata, pengenalan lingkungan,
berkemah, menjelajah, dan mendaki gunung.
Kesehatan, meliputi penanaman budaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya yang
terkait dengan perawatan tubuh agar tetap sehat, merawat lingkungan yang sehat, memilih
makanan dan minuman yang sehat, mencegah dan merawat cidera, mengatur waktu istirahat yang
tepat dan berperan aktif dalam kegiatan P3K dan UKS. Aspek kesehatan merupakan aspek tersendiri,
dan secara implisit masuk ke dalam semua aspek.
Download