8 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Belajar a. Pengertian

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Belajar
a. Pengertian Belajar
Belajar merupakan aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam
interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan
dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu
bersifat relatif konstan dan berbekas (Winkel, 2005: 59). Makna dan hakikat
belajar menurut Yamin, Martinis, & Ansari (2009: 13) diartikan sebagai proses
membangun makna/pemahaman terhadap informasi dan pengalaman. Proses
membangun makna tersebut dapat dilakukan sendiri oleh siswa atau bersama
orang lain. Proses itu disaring dengan persepsi, pikiran (pengetahuan awal),
dan perasaan awal. Belajar bukanlah proses menyerap pengetahuan yang sudah
jadi bentukan guru, terbukti pada hasil ulangan para siswa yang berbeda-beda
padahal mendapat pengajaran yang sama, dan waktu yang sama.
Sardiman (2007: 20-21) membedakan pengertian belajar dalam arti luas
dan arti sempit. Belajar dalam arti luas adalah kegiatan psiko-fisik menuju ke
perkembangan pribadi seutuhnya. Belajar dalam arti sempit dimaksudkan
sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian
kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya. Kegiatan belajar
dilakukan untuk mencapai tujuan belajar, yaitu untuk mendapatkan
pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan, serta pembentukan sikap
(Sardiman, 2007: 26-28). Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang
kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri.
Sudjana (1996:5), “ Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya
perubahan pada diri seseorang, perubahan sebagai hasil proses belajar dapat
ditunjukkan dengan berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan,
pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, serta
8
9
perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar”.
Sesuai uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu
proses perubahan tingkah laku melalui tindakan dan perilaku siswa yang
kompleks dalam interaksi dengan lingkungannya berbentuk kemampuan baru
yang bersifat menetap dan diperoleh melalui latihan dan pengalaman.
b. Teori-Teori Belajar
Beberapa teori belajar yang telah disusun oleh para ahli antara lain yaitu
teori belajar Kontruktivis dan teori belajar Kognitif.
1) Teori belajar Kontruktivis
Belajar
merupakan
proses
mengkonstruksi
(membangun)
pengetahuan melalui interaksi dengan objek, fenomena, pengetahuan,
dan lingkungan. Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali
pengalaman sangat penting karena pengetahuan dibentuk oleh interaksi
dengan pengalaman-pengalaman tersebut. Kemampuan membandingkan
sangat penting untuk dapat menarik suatu sifat yang lebih umum dari
pengalaman-pengalaman khusus lalu dapat melihat kesamaan dan
perbedaannya untuk dapat membuat klasifikasi dan membangun suatu
pengetahuan. Kadang, seseorang lebih menyukai pengalaman tertentu
dari pada yang lain, dan disini akan muncul soal nilai dari pengetahuan
yang kita bentuk.
Paradigma konstruktivistik memandang siswa sebagai pribadi yang
sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Dalam
proses belajar konstruktivistik ini, guru tidak menstransfer pengetahuan
yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk
pengetahuannya
sendiri.
Peran
utama
dalam
kegiatan
belajar
konstruktivistik ini adalah aktivitas siswa dalam mengkonstruksi
pengetahuannya sendiri, sehingga siswa akanterbiasa dan terlatih untuk
berpikir sendiri, memecahkan masalah yang dihadapinya dengan
mandiri,
kritis,
kreatif
dan
mampu
mampertanggungjawabkan
pemikirannya secara rasional.
Keterkaitan teori belajar konstruktivisme dengan penelitian ini
10
yaitu terletak pada model pembelajaran kooperatif Teams Games
Tournaments
(TGT)
yang
memfokuskan
adanya
kerjasama
antarsiswa. Melalui diskusi dan permainan dalam kerjasama siswa
dapat membangun suatu pengetahuan baru atau pengetahuan yang
disampaikan guru dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah
dimilikinya.
2) Teori Vygotsky
Vygotsky menganggap bahwa interaksi sosial merupakan aspek
fundamental keberhasilan kognitif dan pertumbuhan intelektual. Teori
Vygotsky menekankan pada hakekat sosiokultural dalam pembelajaran
(the sosiocultural of learning), dimana siswa belajar melalui interaksi
dengan orang dewasa dan teman sebaya yang lebih mampu. Setiap fungsi
dalam perkembangan budaya anak muncul dua kali, yaitu pada tingkat
sosial, interaksi dengan yang lainnya (interpsychological), dan kemudian
pada tingkat individual, dalam diri anak (intrapsychological). Interaksi
sosial antara individu berpengaruh terhadap rasa senang, kemampuam
memori yang logis, dan pembentukan konsep pada pembelajaran
(Pritchard & Woollard, 2010: 14).
Dalam proses perkembangan kemampuan kognitif setiap anak
memiliki apa yang disebut zona perkembangan proksimal (zone of
proximal development). Zona perkembangan proksimal didefinisikan
sebagai jarak atau selisih antara tingkat perkembangan anak yang aktual
dengan tingkat perkembangan potensial yang lebih tinggi yang dapat
dicapai si anak jika ia mendapat bimbingan atau bantuan dari seseorang
yang lebih dewasa atau lebih berkompeten.
Ide kunci yang ditemukan dari gagasan pembelajaran sosial
Vygotsky yakni perancahan (scaffolding), yaitu memberikan sejumlah
bantuan kepada anak pada tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian
menguranginya dan memberi kesempatan kepada anak untuk mengambil
alih tanggung jawab saat mereka mampu (Pritchard & Woollard, 2010:
15).
11
Keterkaitan teori Vygotsky yang mendukung penelitian ini adalah
belajar dalam tim (dengan berdiskusi dan permainan) maka akan terjadi
aktivitas antara siswa dengan teman sebaya yang lebih mampu dengan
bimbingan guru, sehingga siswa dapat maju ke zone of proximal
development tempat pembelajaran baru terjadi. Prinsip scaffolding dapat
tercapai, dengan membantu siswa pada awal belajar untuk mencapai
pemahaman
dan
keterampilan,
kemudian
sedikit
demi
sedikit
mengurangi dukungan atau bantuan tersebut sampai akhirnya siswa dapat
belajar mandiri serta mampu untuk menyelesaikan masalah dalam
pembelajaran.
3) Teori belajar kognitif
Teori kognitif didasarkan pada asumsi bahwa kemampuan kognitif
merupakan sesuatu yang fundamental dan membimbing tingkah laku
anak. Teori belajar yang mendukung teori belajar kognitif adalah teori
belajar Ausubel, teori belajar Gagne, dan teori belajar Piaget.
a) Piaget
Menurut piaget, proses belajar harus disesuaikan dengan tahap
perkembangan kognitif yang dilalui siswa. Piaget menyatakan, setiap
individu melalui empat tingkat perkembangan intelektual, yaitu (1)
tahap sensori motor, terjadi pada anak umur 0-2 tahun yang mengatur
alam dengan indera-inderanya (sensori) dan dengan tindakan-tindakan
(motor), (2) tahap pra-operasional (2-7 tahun), anak belum mampu
melaksanakan operasi mental seperti menambah, mengurangi, dan
lain-lain, (3) tahap operasional, pada umur 7-12 tahun sebagai
permulaan berpikir rasional. Anak belum dapat berurusan dengan
materi abstrak seperti hipotesis. Pada tahap ini sifat egosentris
berubah menjadi sosiosentris dalam berkomunikasi, (4) tahap
operasional formal, pada umur 12 tahun ke atas, tahap ini anak sudah
mempunyai kemampuan berpikir abstrak (Muijs & Reynolds, 2008:
12-13).
Siswa SMA termasuk dalam tingkat operasional formal, yang
12
berarti dalam berfikir tidak dibatasi pada benda-benda atau peristiwaperistiwa yang konkret tetapi juga mempunyai kemampuan berfikir
abstrak. Oleh karena itu metode pembelajaran yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu Teams Games Tournaments, dimana siswa belajar
dengan berfikir sendiri dalam Game terlebih dahulu kemudian bekerja
sama memecahkan masalah dan memahami materi dalam kelompok
dengan cara berdiskusi dalam Tournament.
b) Gagne
Dalam teori Gagne, belajar dapat didefinisikan sebagai suatu
proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat
dari pengalaman. Ada lima bentuk belajar yang diungkapkan oleh
Gagne, yaitu: (1) belajar responden, (2) belajar kontinguitas, (3)
belajar operant, (4) belajar observasional, (5) belajar kognitif. Pada
belajar responden terjadi perubahan emosional yang paling primitiif,
terjadi perubahan perilaku diakibatkan dari perpasangan suatu
stimulus tak terkondisi dengan suatu stimulus terkondisi. Bentuk
belajar seperti ini dapat membantu kita memahami bagaimana siswa
dapat menyenangi dan tidak menyenangi sekolah atau bidang studi
tertentu. Bentuk belajar kontinguitas yaitu bagaimana dua peristiwa
dipasangkan dengan yang lain pada suatu waktu. Belajar operant
berarti
belajar
bahwa
konsekuensi-konsekuensi
perilaku
mempengaruhi apakah perilaku itu akan diulangi atau tidak, dan
berapa
besar
pengulangan
itu.
Belajar
observasional
berarti
pengalaman belajar sebagai hasil observasi manusia dan kejadiankejadian. Sedangkan belajar kognitif berarti kita dapat melihat dan
memahami peristiwa-peristiwa di sekitar kita dan dapat menyelami
pengertian (Dahar, 2011: 118-119).
Keterkaitan teori Gagne dalam penelitian ini yaitu untuk
mempelajari pengetahuan baru pada materi konsep materi dan
perubahannya diperlukan pemahaman pengetahuan sebelumnya.
13
Dengan model pembelajaran TGT siswa dapat mempelajari materi
konsep materi dan perubahannya dengan baik.
c) Ausubel
Belajar merupakan asimilasi yang bermakna bagi siswa. Materi
yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan
yang telah dimiliki siswa dalam bentuk struktur kognitif. Oleh karena
itu diperlukan suatu upaya untuk mengorganisasi isi atau materi
pelajaran
serta
penataan
kondisi
pembelajaran
agar
dapat
memudahkan proses asimilasi pengetahuan baru ke dalam struktur
kognitif orang yang belajar. Inti dari teori Ausubel tentang belajar
adalah belajar bermakna. Bagi Ausubel, belajar bermakna merupakan
suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan
yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang (Dahar, 2011: 94-96).
Dalam teori belajar kognitif, individu berpikir konsep-konsep
dari pengalaman untuk disimpan dalam ingatannya yang digunakan
dalam mengidentifikasi masalah yang ada dalam kelompok sehingga
siswa lebih mudah untuk memahami bahan belajar. Selain itu,
keterlibatan siswa secara aktif diperlukan agar proses belajar mengajar
dapat berjalan secara optimal. Sama halnya seperti metode
pembelajaran
Teams
Games
Tournaments
dimana
dalam
penerapannya mengharuskan siswa dengan berbagai macam karakter
individualnya bekerja dalam satu kelompok sehingga mereka aktif
membangun pengetahuan barunya dari pengalamannya.
Kaitan teori Ausubel dalam penelitian ini yaitu materi konsep
materi dan perubahannya erat kaitannya dengan lingkungan sekitar,
untuk itu siswa harus bisa menghubungkan pengetahuan baru
mengenai konsep materi dan perubahannya dengan pengetahuan
relevan yang terdapat pada struktur kognitif yang sudah dimiliki
siswa. Dalam pembelajaran TGT adanya diskusi dalam satu team
dapat membuat siswa terbiasa berargumen dan tercipta pembelajaran
yang bermakna.
14
c. Pembelajaran
Menurut Thobroni & Mustofa (2011: 18), pembelajaran memiliki
makna bahwa subjek belajar harus dibelajarkan bukan diajarkan. Subjek
belajar yaitu siswa atau disebut pembelajar yang menjadi pusat kegiatan
belajar. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.41 tahun 2007
tentang standar proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah
disebutkan: “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan
guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (2007: 17) pembelajaran berarti proses, cara,
perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
adalah suatu usaha terencana yang dilakukan oleh pembelajar untuk
membantu peserta didik mempermudah terjadinya proses belajar untuk
mencapai tujuan dalam diri peserta didik.
1) Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Cooperative learning merupakan suatu model pembelajaran
dimana siswa dalam sistem belajar dan bekerja dalam kelompokkelompok kecil secara kolaboratif, saling membantu satu sama lainnya
dalam mempelajari materi pembelajaran sehingga dapat merangsang
siswa lebih bergairah dalam belajar (Slavin, 2010: 4).
Nur (2005:1) mengemukakan pembelajaran kooperatif merupakan
teknik kelas praktis yang dapat digunakan setiap guru untuk membantu
siswanya belajar setiap mata pelajaran, mulai dari keterampilan dasar
sampai
pemecahan
masalah
yang
kompleks.
Lie
(2004:
31)
mengemukakan bahwa untuk mencapai hasil yang maksimal, terdapat
lima prinsip pembelajaran kooperatif yang harus diterapkan yaitu saling
ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka,
komunikasi antar anggota dan evaluasi proses kelompok. Saling
ketergantungan positif merupakan upaya untuk menciptakan kelompok
kerja yang efektif dan saling bekerjasama. Tanggung jawab perseorangan
dalam pembelajaran kooperatif sangat diperlukan dari setiap anggota
15
kelompok untuk mencapai kesuksesan bersama. Setiap kelompok harus
diberi kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi, sehingga
mengenal dan menerima satu sama lain dalam kegiatan tatap muka dan
interaksi antar pribadi. Komunikasi antar anggota memberikan dampak
agar setiap anggota kelompok mempunyai keahlian mendengarkan dan
berbicara. Evaluasi proses kerja kelompok mempunyai tujuan agar kerja
kelompok kedepannya
lebih efektif dan
efisien. Siswa dalam
pembelajaran kooperatif mempunyai tanggung jawab untuk tugasnya
apabila dilakukan dengan menganut unsur-unsur tersebut dengan
sempurna serta berpeluang mempunyai pengetahuan yang lain melalui
kelompok yang berbeda.
Pembelajaran kooperatif mempunyai banyak nilai diantaranya
adalah meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial, memudahkan
siswa melakukan penyesuaian sosial, terbentuknya nilai-nilai sosial dan
komitmen, menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois,
membangun persahabatan, meningkatkan rasa saling percaya kepada
sesama manusia, meningkatkan kemampuan memandang masalah situasi
dari berbagai perspektif, kesediaan menggunakan ide orang lain dan
kegemaran
berteman
tanpa
memandang
perbedaan
kemampuan
(Sugiyanto,2008: 41-42).
Menurut Akinbobola (2009: 1) bahwa “cooperative learning
strategy was the most effective in facilitating students' attitude towards
physics”. Dari pernyataan di atas menunjukkan pembelajaran kooperatif
efektif diterapkan dalam pembelajaran fisika, karena mata pelajaran
fisika mempunyai karakteristik yang hampir sama dengan kimia, yaitu
banyak mengandung konsep maka pembelajaran kooperatif juga dapat
diterapkan pada kimia.
2. Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT)
Pembelajaran metode Teams Games Tournament (TGT) adalah salah
satu metode dalam pembelajaran model kooperatif yang mudah diterapkan,
melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status,
16
melibatkan siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan serta
penguatan (reinforcement). Teams Games Tournament (TGT) merupakan tipe
pembelajaran kooperatif yang menggabungkan
kegiatan kelompok dengan
kompetensi kelompok (Slavin, 2010: 13).
Menurut Slavin (2010: 166) ada 5 Komponen utama metode
pembelajaran dalam Teams Games Tournament (TGT), yaitu:
1) Class-Presentation (presentasi kelas)
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas,
biasanya dilakukan dengan pembelajaran langsung namun pada penelitian
ini menggunakan VCD sebagai media penyaji materi pelajaran serta diskusi
yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar
memperhatikan dan memahami materi yang disajikan dengan media VCD,
karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok
dan pada saat game, karena skor game akan menentukan skor kelompok.
2) Teams (Kelompok)
Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 6 orang siswa yang anggotanya
heterogen dilihat dari hasil akademik, jenis, dan ras atau etnik. Fungsi
kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman
kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok
agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game dan turnamen. Pada
tahap ini siswa belajar bersama dengan anggota kelompoknya untuk
menyelesaikan tugas dan soal yang diberikan. Siswa diberikan kebebasan
untuk belajar bersama dan saling membantu dengan teman dalam kelompok
untuk mendalami materi pelajaran. Selama belajar kelompok, guru
berperan sebagai fasilitator dengan mengarahkan siswa yang mengalami
kesulitan dalam penyelesaian tugas, serta memandu berfungsinya kelompok
belajar.
Tim adalah fitur yang penting dalam Teams Games Tournament (TGT).
Pada tiap poinnya, yang ditekankan adalah membuat anggota tim
melakukan yang terbaik untuk tim, dan tim pun harus melakukan yang
terbaik untuk membantu tiap anggota kelompoknya. Tim ini memberikan
17
dukungan kelompok bagi kinerja akademik penting dalam pembelajaran,
dan itu adalah untuk memberikan perhatian dan respek yang mutual yang
penting untuk akibat yang dihasilkan seperti hubungan antar kelompok,
rasa harga diri, dan penerimaan terhadap siswa-siswa mainstream.
3) Game (Permainan)
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji
pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok.
Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana yang
relevan dengan materi pada saat presentasi kelas.
4) Tournament (Pertandingan)
Biasanya turnamen dilaksanakan pada akhir setelah guru melakukan
presentasi kelas dan kelompok telah melewati game. Bagian turnamen pada
penelitian ini menggunakan TTS dilakukan pertandingan individu antar
anggota kelompok. Mereka bertanding untuk menyumbangkan poin
tertinggi bagi kelompoknya. Poin dari perolehan setiap anggota kelompok
diakumulasikan dalam poin kelompok.
5) Teams Reward (Penghargaan kelompok)
Dalam pembelajaran kooperatif, penghargaan diberikan untuk kelompok,
bukan individu, sehingga keberhasilan kalompok ditentukan oleh
keberhasilan setiap anggotanya. Penghargaan kelompok diberikan atas
dasar rata-rata poin kelompok yang diperoleh dari game dan turnamen
dengan kriteria yang ditentukan. Guru kemudian mengumumkan kelompok
yang menang, masing-masing tim akan mendapat hadiah apabila rata-rata
skor memenuhi kriteria yang ditentukan.
3. Media
Kata media berasal dari bahasa Latin yaitu bentuk jamak dari kata
medium, yang secara harafiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah
perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.
Gagne (1977) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen
dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara
itu Briggs (1979) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat
18
menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Contoh antara lain
video, televisi, diagram, bahan cetakan, program komputer, dan pengajar.
Dari
batasan-batasan
diatas
dapat
disimpulkan
bahwa
media
pembelajaran adalah alat untuk mempermudah penyampaian pesan dari
pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran , perasaan, perhatian
dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi
dan fungsi utama media adalah alat komunikasi dan sumber informasi. Media
digunakan untuk mempermudah komunikasi dan proses belajar. Media
pembelajaran yang digabungkan dengan pengalaman langsung dapat
membantu siswa mempersatukan pengalaman sebelumnya dan memfasilitasi
belajar dari konsep yang abstrak.
Memilih media hendaknya tidak dilakukan secara sembarangan,
melainkan didasarkan atas kriteria tertentu. Kesalahan pada saat pemilihan,
baik pemilihan jenis media maupun pemilihan topik yang dimediakan, akan
membawa akibat panjang yang tidak diinginkan di kemudian hari. Banyak
pertanyaan
yang harus dijawab
sebelum
menentukan pilihan media
tertentu. Secara umum, kriteria yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan
media pembelajaran yaitu : Tujuan ,Sasaran didik, Karakteristik media yang
bersangkutan, Waktu, Biaya, Ketersediaan, Konteks penggunaan, Mutu Teknis.
1) Video Compact Disk (VCD)
Video CD pembelajaran adalah suatu media yang dirancang secara
sistematis dengan berpedoman kepada kurikulum yang berlaku dan dalam
pengembangannya mengaplikasikan prinsip-prinsip pembelajaran sehingga
program tersebut memungkinkan perserta didik mencerna materi pelajaran
secara lebih mudah dan menarik. Secara fisik VCD pembelajaran
merupakan program pembelajaran yang dikemas dalam kaset video atau CD
dan disajikan dengan menggunakan peralatan VCD player serta TV monitor
(Anna Merina: 2008).
Media
VCD
mempunyai
karakteristik
sangat
tepat
untuk
memperlihatkan data-data gambar sesuai teori atau materi. Media VCD juga
mempunyai beberapa kelebihan di antaranya:
19
a. Demonstrasi yang sulit bisa dipersiapkan dan direkam sebelumnya
sehingga pada waktu mengajar guru bisa memusatkan perhatian dan
penyajiannya.
b. Menghemat waktu dan bisa diputar ulang.
c. Bisa menyajikan lebih dekat objek yang sedang bergerak atau obyek
yang berbahaya.
d. Keras atau lemahnya suara bisa diatur sesuai keinginan.
e. Gambar bisa diamati dengan seksama.
Menurut Oemar Hamalik (1985: 134), nilai praktis dari VCD antara
lain:
a. Bersifat langsung dan nyata serta dapat menyajikan peristiwa yang
sebenarnya.
b. Memperluas tinjauan kelas.
c. Dapat menciptakan kembali peristiwa masa lampau.
d. Dapat mempertunjukkan banyak hal dan banyak segi yang beraneka
ragam.
e. Banyak menggunakan sumber-sumber masyarakat.
f. Menarik minat anak.
g. Dapat melatih guru, baik dalam pre-service maupun dalam inservice
training.
h. Masyarakat diajak berpartisipasi dalam rangka meningkatkan perhatian
terhadap sekolah.
i. Menghemat waktu dan dapat diputar berulang-ulang.
j. Gambarnya bisa dibekukan untuk diamati secara seksama.
k. Guru bisa mengontrol sepenuhnya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran
VCD merupakan salah satu media pembelajaran yang berbentuk VCD dan
dalam penggunaannya dibantu dengan peralatan lain (komputer atau TV)
yang bertujuan untuk memperlancar proses pembelajaran.
20
2) Teka-teki Silang (TTS)
Teka-teki silang berasal dari kata teka - teki dan silang. Teka- teki
dalam buku kamus besar Bahasa Indonesia berarti soal yang berupa kalimat
(cerita, gambar, dsb) sebagai permainan untuk pengasah pikiran atau
tebakan.
Kata
silang
berarti
bertumpuk
(palang-memalang),
berpapasan(berselisih jalan). Teka–teki silang merupakan salah satu sarana
untuk dapat mengetahui dan mengingat pengetahuan yang kita miliki untuk
kita tuangkan dalam jawaban atas pertanyaan yang ada, baik dalam baris
maupun kolom. Teka – teki silang sudah banyak dikenal oleh masyarakat
dan dimanfaatkan untuk mengisi waktu luang yang ada. (Suci Kurniawati,
2010: 13-14).
Teka-teki dapat digunakan sebagai strategi pembelajaran yang baik
dan menyenangkan tanpa kehilangan esensi belajar yang sedang
berlangsung. Dalam permainan TTS mempunyai kelebhan :
a) Memerlukan
kerja
sama
pada
kelompok
untuk
menyelesaikan
permainan;
b) Memerlukan pengetahuan yang cukup sebelum bermain, karena
berhubungan dengan keaktifan siswa untuk mencari jawaban dengan
cepat dan tepat sehingga tingkat berpikir yang diukur bisa pada tingkat
yang tinggi.
Dalam permainan TTS tidak mempunyai kekurangan bagi pemain
kelompok tersebut, namun tingkat berpikir yang diukur bisa tinggi
tergantung pada kemampuan pembuat soal.
4. Minat Belajar
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, minat berarti kecenderungan
hati yang tinggi terhadap sesuatu. Berdasarkan minat inilah seseorang akan
menentukan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Jika seseorang
tersebut mempunyai minat terhadap suatu hal, maka ia akan dengan ikhlas dan
senang hati melakukan hal tersebut. Namun jika tidak berminat, maka orang
21
tersebut tidak akan melakukanny. Minat merupakan sifat yang relatif menetap
pada diri seseorang. Minat berperan penting dalam kehidupan peserta didik dan
mempunyai dampak yang besar terhadap sikap dan perilaku. Siswa yang
berminat terhadap kegiatan belajar akan berusaha lebih keras dibandingkan
siswa yang kurang berminat.
Beberapa ahli telah merumuskan pengertian minat belajar, antara lain :
1) Slameto (2010) menyatakan minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa
ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.
2) Hilgrad dalam Slameto (2010: 57) memberi rumusan tentang minat yaitu
kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa
kegiatan.
3) Syah M (2011: 152) menyatakan bahwa minat (interest) berati
kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar
terhadap sesuatu.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan para ahli, dapat dikatakan
bahwa minat adalah kecenderungan seseorang terhadap suatu objek atau suatu
kegiatan yang digemari disertai dengan perasaan senang, adanya perhatian, dan
keaktifan berbuat. Minat pada dasarnya merupakan penerimaan akan suatu
hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri , semakin kuat atau
semakin dekat hubungan tersebut, semakin besar minatnya.
Jika terdapat siswa yang kurang berminat dalam belajar dapat diusahakan
agar mempunyai minat yang lebih besar dengan cara menjelaskan hal – hal
yang menarik dan berguna bagi kehidupannya serta berhubungan dengan citacita yang berkaitan dengan materi yang dipelajari. Minat dapat diekspresikan
melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai
suatu hal daripada yang lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui
partisipasi dalam suatu aktivitas. Siswa yang memiliki minat terhadap objek
tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap
objek tersebut. Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh kemudian.
Minat terhadap pelajaran mempengaruhi belajarnya selanjutnya serta
mempengaruhi minat-minat baru. Minat dapat dibangkitkan dengan cara
22
menghubungkan materi pelajaran dengan suatu berita sensasional yang sudah
diketahui kebanyakan siswa (Syah M, 2011: 152).
Berdasarkan pendapat ahli di atas, maka dapat dirumuskan aspek dasar
dari minat belajar yaitu kesukaan, ketertarikan, perhatian,dan keterlibatan yang
dapat dijabarkan menjadi indikator – indikator minat belajar sebagai berikut :
a) Gairah, yang meliputi kehadiran dalam pelajaran kimia dan kesenangan
dalam belajar kimia
b) Inisiatif, yang meliputi bertanya tentang materi kimia
c) Responsif, yang meliputi mempersiapkan pertanyaan untuk guru kimia
d) Kesegeraan, yang meliputi pekerjaan rumah kimia
e) Konsentrasi, yang meliputi kegiatan belajar mengajar kimia di kelas
f) Ketelitian, yang meliputi mengumpulkan pekerjaan kimia
g) Keuletan, yang meliputitugas kimia
h) Kerja keras, yang meliputi buku dan bahan pelajaran kimia
5. Prestasi Belajar
Menurut Haryati (2007:22), pada umumnya hasil belajar dapat
dikelompokkan menjadi tiga ranah yaitu; ranah kognitif, psikomotor, dan
afektif. Secara eksplisit ketiga ranah ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Setiap mata ajar selalu mengandung ketiga ranah tersebut, namun
penekanannya selalu berbeda. Mata ajar praktek lebih menekankan pada ranah
psikomotor, sedangkan mata ajar pemahaman konsep lebih menekankan pada
ranah kognitif. Namun kedua ranah tersebut mengandung ranah afektif.
a) Aspek kognitif
Aspek kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir termasuk di
dalamnya kemampuan memahami, menghapal, mengaplikasi, menganalisis,
mensintesis dan kemampuan mengevaluasi.
Bentuk tes kognitif diantaranya; (1) tes atau pertanyaan lisan dikelas,
(2) pilihan ganda, (3) uraian obyektif, (4) uraian non obyektif atau uraian
bebas, (5) jawaban atau isian singkat, (6) menjodohkan, (7) portopolio dan
(8) performans.
23
b) Aspek psikomotor
Menurut Singer dalam Haryati (2007:25) mata ajar yang termasuk
kelompok mata ajar psikomotor adalah mata ajar yang lebih berorientasi
pada gerakan dan menekankan pada reaksi fisik. Sedangkan menurut Mager
dalam Haryati (2007: 25) berpendapat bahwa mata ajar yang termasuk
dalam kelompok mata ajar psikomotor adalah mata ajar yang mencakup
gerakan fisik dan ketrampilan tangan.
Tidak jauh berbeda dengan penilaian kognitif, penilaian psikomotor
pun dimulai dengan pengukuran hasil belajar. Perbedaannya adalah
pengukuran hasil belajar ranah kognitif dilakukan dengan tes tertulis,
sedangkan pengukuran hasil belajar ranah psikomotor dilakukan dengan
melakukan tes unjuk kerja, lembar tugas atau lembar pengamatan.
c) Aspek afektif
Menurut Krathwohl dalam Haryati (2007: 36), bila ditelusuri hampir
semua tujuan kognitif mempunyai komponen afektif. Peringkat ranah afektif
menurut taksonomi Krathwohl ada lima, yaitu: receiving (attending),
responding, valuing, organiztion dan characterization.
Pada peringkat receiving/ attending (menerima), peserta didik
memiliki keinginan untuk memperhatikan suatu fenomena khusus
(stimulus). Responding (tanggapan) merupakan partisifasi aktif peserta
didik, yaitu sebagai bagian dari perilakunya. Valuing (menilai) melibatkan
penentuann nilai, keyakinan atau sikap yang menunjukkan derajat
internalisasi dan komitmen. Pada peringkat organization (organisasi) antara
nilai yang satu dengan nilai yang lain dikaitkan dan konflik antar nilai
diselesaikan, serta mulai membangun sistem nilai internal yangg konsisten.
Pada ranah afektif peringkat teringgi adalah characterization (karakterisasi)
nilai. Pada peringkat ini peserta didik memiliki sistem nilai yang
mengendalikan perilaku sampai pada suatu waktu tertentu hingga terbentuk
pola hidup (Haryati, 2007: 37 - 38).
24
Karakteristik ranah afektif yang penting diantaranya
(1)Sikap menurut Fishbein dan Ajzen (1975), yaitu suatu predisposisi yang
dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu
obyek, situasi, konsep dan orang.
(2)Menurut
Getzel
(1966),
minat
adalah
suatu
disposisi
yang
terorganisasikan melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk
memperoleh obyek khusus, aktivitas, pemahaman dan ketrampilan untuk
tujuan perhatian atau pencapaian.
(3)Konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu bersangkutan
terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimilikinya.
(4)Nilai menurut Tyler (1973), adalah suatu obyek, aktivitas atu ide yang
dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan
kepuasan.
(5)Moral secara bahasa berasal dari bahasa latin mores yang artinya tata
cara, adat kebiasaan sosial yang dianggap permanent sifatnya bagi
ketertiban dan kesejahteraan masyarakat.
Haryati (2007: 38)
6. Konsep Materi dan Perubahannya
1) Sifat Materi
Alam semesta terdiri dari dunia materi dan dunia energi. Materi
adalah penyusun segala macam benda, sedangkan energi adalah faktor
penyebab perubahan materi.
a) Sifat Fisika
Sifat fisika materi menyatakan keadaan fisis materi. Tergolong sifat
fisika yaitu wujud (titk didih, titik leleh), mass jenis, kalor jenis, indeks
bias,
daya
larut,
kekerasan,
kedapattempaan
(malleability),
kedapattarikan (ductility), warna, rasa dan bau.
b) Sifat Kimia
Sifat kimia materi menyangkut perubahan suatu materi menjadi
materi lain. Contoh sifat kimia dari kayu, yaitu mudah terbakar. Ketika
terbakar, kayu berubah menjadi gas dan abu.Sifat kimia dari besi, yaitu
25
mudah berkarat. Besi yang berkarat berubah menjadi materi lain yaitu
karat besi.
2) Perubahan Materi
a) Perubahan Fisika
Perubahan fisika adalah perubahan yang tidak menghasilkan materi
baru. Perubahan fisika hanya mengubah sifat fisika zat tetapi zat itu
sendiri tidak berubah. Contohnya, es yang mencair. Es yang mencair
tidak menghasilkan zat baru, es dan air adalah zat yang sama, yaitu air.
Es merupakan air dalam bentuk padat. Beberapa contoh lain dari
perubahan fisika adalah:
Kayu dibentuk menjadi meja, kursi, almari dan sebagainya.
Besi baja dibentuk menjadi kerangka jembatan, teralis, pisau dan
sebagainya.
Kapur barus yang menyublim.
Melarutnya gula atau garam dalam air.
Berikut ini kita akan nembahas dua jenis perubahan fisika, yaitu
perubahan wujud dan pelarutan.
Perubahan wujud
Pada pelajaran sains IPA di SMP tentu telah mempelajari tiga jenis
wujud zat, yaitu:
Padatan
Partikelnya tersusun rapat, dan relatif diam di tempatnya. Satusatunya gerakan pada partikel zat padat adalah getaran. Susunan partikel
yang demikian membuat zat padat mempunyai bentuk dan volume yang
tetap dan kompresibilitasnya sangat rendah (sangat sukar dimampatkan).
Cairan
Partikelnya masih tersusun rapat, tetapi masih dapat bergerak
terbatas. Oleh karena itu, zat cair mempunyai volume yang tertentu ,
tetapi bentuknya mengikuti bentuk wadahnya. Kompresibilitasnya zat
cair juga sangat rendah.
26
Gas
Partikelnya bergerak bebas, sehingga bentuk dan volumenya tidak
tetap. Gas mengisi ruangan yang ditempatinya secara homogen ( artinya
gas tersebar merata dalam ruang). Karena partikelnya yang tidak rapat,
maka gas mudah dikompresikan.
Dengan adanya tiga tingkat wujud zat, maka terdapat enam macam
perubahan wujud, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.9 berikut.
Gas
5
3
6
2
1
Cair
Padat
4
Gambar 2.9 Perubahan wujud: (1) mencair/meleleh (2) menguap (3) mengembun (4)
membeku (5) menyublim (6) deposisi
Perubahan
wujud
dapat
terjadi
karena
pemanasan
atau
pendinginan. Apabila suatu zat padat dipanaskan, maka suhunya akan
naik sampai mencapai suhu tertentu dimana zat padat itu mulai mencair.
Suhu tidak akan naik sampai seluruh padatan itu mencair. Jika
pemanasan dilanjutkan, suhu akan naik hingga mencapai suhu tertentu
dimana cairan itu mulai mendidih. Seperti halnya ketika mencair, suhu
tidak akan naik sampai semua cairan menguap. Suhu dimana zat padat
mencair disebut titik cair atau titik leleh, sedangkan suhu ketika zat cair
mendidih disebut titik didih. Hal yang sebaliknya akan terjadi jika suatu
uap didinginkan. Pada suhu tertentu uap akan mengembun dan pada suhu
yang lebih rendah lagi, akan membeku. Titk embun sama dengan titik
didih, sementara titik beku sama dengan titik leleh.
Berbagai macam zat padat, seperti iodine, kamper,dan karbon
dioksida padat (es kering = dry ice) tidak mencair ketika dipanaskan,
melainkan langsung menguap. Perubahan wujud seperti ini disebut
menyublim. Perubahan sebaliknya, yaitu dari uap menjadi padatan, juga
disebut menyublim atau deposisi.
27
Titik Cair dan Titik Didih
Wujud materi pada suhu kamar (25oC) bergantung pada titik beku dan
titk didihnya:
Berwujud padat jika titik lelehnya > 25oC (belum mencair)
Berwujud cair jika titik lelehnya < 25oC, dan titik didihnya > 25oC
(sudah mencair tetapi belum mendidih)
Berwujud gas jika titk didihnya < 25oC (sudah mendidih)
Padatan amorf, misalnya kaca, tidak memiliki titik leleh tertentu.
Apabila padatan amorf dipanaskan, mula-mula ia akan menjadi lembek
kemudian meleleh sementara suhunya terus bertambah. Contoh
lainpadatan amorf adalah plastik dan karet.
Pelarutan
Satu lagi contoh perubahan fisika, yaitu proses melarut. Ketika
suatu zat melarut, partikel-partikelnya menyebar sehingga tidak tampak
lagi. Namun demikian zat itu tidak berubah menjadi zat lain. Jika larutan
diuapkan, partikel zat terlarut akan mengumpul kembali dan diperoleh
zat semula. Jadi pelarutan termasuk perubahan fisika.
b) Perubahan Kimia
Perubahan kimia adalah perubahan yang menghasilkan materi baru,
misalnya perkaratan besi atau kertas yang terbakar.
Ciri-ciri Reaksi Kimia
Perubahan kimia kita sebut reaksi. Reaksi kimia terjadi ketika zatzat pereaksi dicampurkan dalam suatu wadah. Akan tetapi, tidak semua
pencampuran disertai dengan reaksi kimia. Ketika gula dicampur dengan
air, gula melarut tetapi tidak bereaksi. Lain halnya ketika logam
magnesium dicampur dengan asam klorida, magnesium tidak sekedar
larut tetapi bereaksi. Jika larutan diuapkan, kita tidak akan memperoleh
lagi logam magnesium, tetapi magnesium klorida. Kadang-kadang tidak
mudah untuk mengetahui terjadi-tidaknya reaksi kimia, akan tetapi, pada
umumnya reaksi kimia disertai suatu perubahan yang dapat diamati. Kita
28
akan membahas beberapa perubahan yang menyertai reaksi kimia
tersebut.
1. Perubahan warna
Memudarnya warna pakaian, perubahan warna daun dari hijau
menjadi
kuning,
kertas
koran
yang
menguning,
semuanya
menunjukkan telah terjadi suatu reaksi kimia.
2. Perubahan suhu
Reaksi kimia biasanya disertai pelepasan atau penyerapan kalor.
Reaksi yang membebaskan kalor kita sebut reaksi eksoterm,
sedangkan yang menyerap kalor kita sebut reaksi endoterm.
Misalnya, proses pelarutan dan pengembunan.
Contoh reaksi eksoterm:
Pembakaran
Petasan meledak
Contoh reaksi endoterm:
Perubahan beras menjadi nasi
Fotosintesis
3. Pembentukan endapan
Kelarutan zat dalam air sangat beragam, ada yang mudah larut,
ada pula yang sukar larut. Garam dan gula adalah contoh zat yang
mudah larut, kapur sedikit larut, sedangkan batu, pasir dan kayu
sangat sukar larut dalam air. Reaksi yang menghasilkan endapan
adalah reaksi-reaksi yang hasil reaksinya tergolong zat yang sukar
larut sehingga terbentuk endapan.
4. Pembentukan gas
Gas hasil reaksi dapat kita amati berupa gelembung yang keluar
dari campuran pereaksi.
a. Perubahan Kimia dalam Kehidupan Sehari-hari
1. Pembakaran (combustion)
2. Korosi
29
Pencegahan Korosi
Mengecat
Melumuri dengan Oli atau Gemuk
Disalut dengan Plastik
Tin Plating ( pelapisan dengan timah)
Galvanisasi (pelapisan dengan zink)
Cromium Plating (pelapisan dengan krom)
D. Penggolongan Materi
1. Zat Tunggal dan Campuran
Benda yang terdiri dari satu jenis materi saja disebut zat tunggal atau
zat (dalam bahasa Inggris disebut substance); sedangkan yang terdiri dari
dua jenis atau lebih materi kita sebut campuran.
Contoh zat tunggal: air, oksigen, garam, dan gula.
Contoh campuran: air laut (terdiri dari air dan berbagai macam ion
garam), tanah, dan udara.
2. Zat Tunggal: Unsur dan Senyawa
Zat tunggal yang dapat diuraikan disebut senyawa, sedangkan yang
tidak dapat diuraikan disebut unsur.
Contoh unsur : Oksigen dan Hidrogen.
Contoh senyawa
: Air dan garam.
a. Logam dan Nonlogam
No.
1.
Logam
Kecuali raksa, berwujud padat Ada yang berwujud padat,
pada keadaan kamar
2.
3.
Nonlogam
cair dan gas
Dapat tempa (malleable) dan Bersifat rapuh, tidak dapat
dapat tarik (ductile)
tempa dan tidak dapat tarik
Mengilap jika digosok
Kecuali
intan,
tidak
mengkilap walau digosok
4.
Dapat menghantarkan listrik Nonkonduktor (tidak dapat
dan panas
menghantarkan
listrik
dan
30
panas)
5.
6.
Titik leleh dan titik didih Titik leleh dan titik didih
umumnya tinggi
umumnya rendah
Massa jenis relative tinggi
Massa jenis relative rendah
Beberapa unsur menunjukkan sifat logam sekaligus nonlogam. Unsurunsur seperti itu digolongkan sebagai unsur metalloid. Contohnya adalah
boron dan silikon.
b. Senyawa
Senyawa adalah zat tunggal yang dapat diuraikan menjadi dua jenis
atau lebih zat yang lebih sederhana.
c. Partikel Unsur
Sebagian besar unsur mempunyai partikel berupa atom, kecuali
beberapa unsur nonlogam yang partikelnya berupa molekul. Molekul adalah
gabungan dari beberapa atom yang bersifat netral.
d. Partikel Senyawa
Senyawa yang partikelnya berupa molekul disebut senyawa molekul,
sedangkan yang partikelnya berupa ion disebut senyawa ion.
Contoh senyawa yang partikelnya berupa ion: garam dapur
Contoh senyawa yang partikelnya berupa molekul: air
3. Campuran: Larutan, Koloid, dan Suspensi
Campuran terdiri dari dua jenis zat atau lebih. Campuran dapat berupa
larutan, koloid, atau suspensi. Larutan merupakan campuran yang
homogen, tidak dapat dibedakan lagi antara pelarut dan terlarut, walaupun
menggunakan mikroskop ultra. Larutan bersifat stabil (tidak mengalami
sedimentasi) dan tidak dapat dipisahkan melalui penyaringan. Sebaliknya,
suspensi merupakan campuran heterogen, dapat dibedakan antara
komponen yang satu dengan yang lainnya tanpa mengguanakan mikroskop
ultra, suspensi tidak stabil tetapi lambat laun akan mengalami sedimentasi.
Suspensi dapat dipisahkan melalui penyaringan. Koloid adalah bentuk
campuran yang keadaannya antara larutan dan suspensi. Secra makroskopis
31
koloid tampak homogen, tetapi tampak heterogen jika diamati dengan
mikroskop ultra. Koloid pada umumnya stabil dan tidak dapat dipisahkan
melalui penyaringan.
Contoh:
Larutan
: Teh manis, air garam, alkohol 70%, dan udara bersih.
Koloid
: Air susu, santan, agar-agar, krim, asap dan kabut.
Suspensi : Campuran terigu dalam air, campuran serbuk pasir dengan air,
dan campuran serbuk teh dengan air.
(Purba M, 2006:16-49)
B. Kerangka Berfikir
Dalam proses pembelajaran, kualitas belajar siswa merupakan faktor
penting. Keberhasilan suatu proses pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor
penting, salah satunya adalah cara guru untuk merangsang atau menggunakan
pendekatan, metode, maupun media pengajaran yang tepat dan sesuai dengan
materi yang akan diajarkan. Penggunaan pendekatan, metode, dan media
pengajaran
yang
tepat
antara
lain
dengan
mempertimbangkan
tingkat
perkembangan siswa, tujuan pembelajaran, sarana dan prasarana yang ada, dan
sifat materi yang diajarkan.
Prestasi belajar siswa rendah merupakan salah satu indikasi bahwa
kebanyakan siswa belum memahami konsep-konsep dengan baik pada materi
yang diajarkan. Dalam hal ini sebagian besar pembelajaran yang dilakukan di
SMK Muhammadiyah 2 Sragen belum optimal, ini terlihat bahwa siswa tidak
terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran tersebut. Guru belum banyak
menggunakan inovasi media pembelajaran sehingga minat belajar siswa masih
rendah. Hal ini dapat diamati melalui kondisi kelas saat proses belajar mengajar.
Masih banyak siswa yang tidak memperhatikan pelajaran meskipun guru telah
mengupayakan diri mengelola kelas dengan baik.
Metode pembelajaran TGT adalah salah satu pembelajaran kooperatif
yang merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama
antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam TGT,
32
pembelajaran disampaikan dalam media permainan edukatif yang berkaitan
dengan materi Konsep Materi dan Perubahannya. Sehingga metode ini sangat
cocok untuk meningkatkan minat belajar siswa. Minat belajar siswa merupakan
aset berharga untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
Dari uraian di atas, diduga bahwa penggunaan metode kooperatif TGT
dapat meningkatkan kualitas belajar siswa yang mencakup minat dan prestasi
belajar. Skema kerangka berpikir dapat dilihat pada gambar 2.1:
Kondisi
Awal
Tindakan
Kondisi
Akhir
Guru
Belum menerapkan
metode kooperatif yang
banyak melibatkan siswa
dalam pelajaran
Menerapkan metode
kooperatif TGT dilengkapi
VCD dan TTS yang menarik
dan menyenangkan, serta
sesuai dengan materi yang
dipelajari
Diduga melalui
penerapan metode
kooperatif TGT dapat
meningkatkan minat
dan prestasi belajar
siswa
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir
Siswa
Minat dan prestasi
belajar rendah
Siklus I
Soal untuk games
dan tournament
tidak didiskusikan
terlebih dahulu
Siklus II
Soal untuk games
dan
tournament
didiskusikan
terlebih dahulu
33
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir, maka dapat diajukan
hipotesis sebagai berikut :
1. Penerapan metode pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT) dilengkapi
VCD dan TTS dapat meningkatkan minat belajar siswa SMK Muhammadiyah
2 Sragen pada materi Konsep Materi dan Perubahannya.
2. Penerapan metode pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT) dilengkapi
VCD dan TTS dapat meningkatkan prestasi
belajar siswa SMK
Muhammadiyah 2 Sragen pada materi Konsep Materi dan Perubahannya.
Download