BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kualitas pendidikan tidak terlepas dari peran guru dalam melaksanakan
proses pembelajaran di kelas. Guru merupakan ujung tombak dalam sistem
pendidikan (Faturrahman dalam Komang dkk, 2013, hlm. 2 ). Hal tersebut
disebabkan guru memiliki tanggung jawab langsung dalam proses pembelajaran
di kelas dan sekaligus membimbing perkembangan pesarta didik dalam aspek
kepribadian dan sosial. Proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru didalam
kelas tersebut merupakan salah satu cara yang dapat mengembangkan dan
membina sikap siswa, baik sikap spiritual maupun sosial. Guru merupakan salah
satu tenaga kependidikan yang mempunyai peran sebagai faktor penentu
keberhasilan tujuan pendidikan, karena gurulah yang langsung bersinggungan
dengan pesarta didik, untuk memberikan bimbingan yang akan menghasilkan
tamatan yang diharapkan. Guru merupakan sumber daya manusia yang menjadi
perencana, pelaku, dan penentu tercapainya tujuan pendidikan. Guru merupakan
elemen kunci dalam sistem pendidikan, khususnya di sekolah. Oleh karena itu,
meningkatkan mutu pendidikan berarti juga meningkatkan mutu guru.
Meningkatkan mutu guru bukan hanya meningkatkan taraf kesejahteraannya,
tetapi juga meningkatkan kualitas keprofesionalannya. Semua komponen lainnya
tidak akan berarti apabila esensi pembelajaan yaitu interaksi guru dengan pesarta
didik tidak berkualitas. Semua komponen lain, terutama kurikulum akan “hidup”
apabila dilaksanakan oleh guru.
Oleh karena itu, agar proses pembelajaran dan bimbingan yang dilakukan
oleh guru dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan, seharusnya guru
menguasai kompetensi-kompetensi yang berkaitan dengan tugas dan tanggung
jawabnya. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74
Tahun 2008 tentang Guru pasal 3 ayat (2), dinyatakan bahwa kompetensi yang
harus dimiliki guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,
kompetensi sosial dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan
Nurul Fadilah, 2015
KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PEMBELAJARAN PPKN UNTUK PENCAPAIAN
KOMPETENSI SIKAP SPIRITUAL DAN SOSIAL PESERTA DIDIK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
2
profesi. Kutipan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005
tentang Guru dan Dosen pasal 10 ayat (1) disebutkan bahwa:
Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran
peserta didik. Yang dimaksud kompetensi kepribadian adalah kemampuan
kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta
menjadi teladan peserta didik. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru
untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan
peserta didik dan masyarakat sekitar. Kompetensi profesional adalah
kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.
Berdasarkan pengertian diatas, maka dalam proses pembelajaran peserta
didik lebih tepat mengarah pada kompetensi pedagogik guru. Secara pedagogik,
kompetensi guru-guru dalam mengelola pembelajaran perlu mendapat perhatian
serius. Hal ini penting karena pendidikan di Indonesia dinyatakan kurang berhasil
oleh sebagian masyarakat, dinilai kering dari aspek pedagogik, dan sekolah
terlihat lebih mekanis sehingga peserta didik cenderung kerdil karena tidak
mempunyai dunianya sendiri.
Kompetensi pedagogik guru sangat diperlukan dalam proses pembelajaran
di dalam kelas yang salah satunya adalah membentuk kepribadian yang baik bagi
peserta didik. Mulyasa (2011, hlm. 77) menyebutkan bahwa secara operasional,
kemampuan mengelola pembelajaran menyangkut tiga fungsi manajerial, yaitu
perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian. Menurut Mulyasa (2011, hlm. 75)
Kompetensi pedagogik guru meliputi:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
Pemahaman wawasan atau landasan pendidikan.
Pemahaman terhadap peserta didik.
Pengembangan kurikulum/silabus.
Perancangan pembelajaran.
Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis.
Pemanfaatan teknologi pembalajaran.
Evaluasi hasil belajar (EHB).
Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi
yang dimilikinya.
Guru
dituntut
untuk
memiliki
kemampuan
mendesain
program
pembelajarannya. Maka dari itu diperlukan guru yang kreatif, profesional, dan
menyenangkan, sehingga mampu menciptakan suasana pembelajaran yang
kondusif. Interstate New Teacher Assessement and Support Consortium
Nurul Fadilah, 2015
KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PEMBELAJARAN PPKN UNTUK PENCAPAIAN
KOMPETENSI SIKAP SPIRITUAL DAN SOSIAL PESERTA DIDIK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
3
(INTASC) (dalam Ilyas 2010, hlm. 56) Standar bagi seorang guru yaitu harus
memiliki pemahaman tentang: bidang ilmu, pengembangan potensi anak, berbagai
strategi
pembelajaran,
pengelolaan
kelas,
kemampuan
berkomunikasi,
perencanaan pembelajaran, penilaian hasil belajar, komitmen, dan menjalin
hubungan dengan berbagai pihak. Peran guru sangat menentukan proses
pembelajaran, guru yang dapat digugu dan ditiru adalah suatu profesi yang
mengutamakan intelektualitas, kepandaian, kecerdasan, keahlian komunikasi,
kebijaksanaan dan kesabaran tinggi. Hal ini berarti bahwa kemampuan profesional
guru dalam menciptakan pembelajaran yang berkualitas sangat menentukan
keberhasilan pendidikan secara keseluruhan.
Kompetensi pedagogik tersebut merupakan kemampuan yang wajib
dimiliki oleh seorang guru dalam melakukan tugasnya, karena rendahnya kualitas
guru merupakan salah satu masalah dalam dunia pendidikan. Kebanyakan guru
belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya
sebagaimana disebut dalam pasal 39 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu merencanakan
pembelajaran,
melaksanakan
pembelajaran,
menilai
hasil
pembelajaran,
melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan
melakukan pengabdian masyarakat. Namun kompetensi tersebut masih kurang
dilaksanakan dengan maksimal. Sebagaimana menurut (Djamas dalam Yasin,
2011, hlm. 158) Ini terjadi karena sebagian guru menampilkan citra yang kurang
profesional. Permasalahan tersebut apabila dibiarkan terus menerus maka
dikhawatirkan dapat menjadikan kualitas pendidikan di Indonesia menurun,
sehingga perlu perhatian dari berbagai pihak guna memperbaiki permasalahan
tersebut.
Guru-guru yang telah memiliki kompetensi dan kualitas yang baik,
diharapkan dapat menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik. Dengan
kualitas guru yang baik, diharapkan tidak ada lagi guru-guru yang hanya mengajar
pesarta didik, tetapi juga memberikan pembelajaran kepada pesarta didik. Untuk
itu guru sebagai agen pembelajaran dituntut untuk mampu menyelenggarakan
proses pembelajaran dengan sebaik-baiknya, dalam rangka pembangunan
Nurul Fadilah, 2015
KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PEMBELAJARAN PPKN UNTUK PENCAPAIAN
KOMPETENSI SIKAP SPIRITUAL DAN SOSIAL PESERTA DIDIK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
4
pendidikan. Guru yang berkualifikasi profesional, yaitu guru yang tahu secara
mendalam tentang apa yang diajarkan, cakap dalam cara mengajarkannya secara
efektif serta efisien, dan guru tersebut berkepribadian yang mantap (Samana,
1994, hlm. 21).
Guru yang merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan
pendidikan tidak lepas dari faktor lain yang mendukungnya, diantaranya yakni
kurikulum yang sedang berlaku. Pada saat ini terdapat dua kurikulum yang sedang
berlaku di negara Indonesia, yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
dan Kurikulum 2013. Dalam Kurikulum 2013 terdiri dari empat kompetensi inti,
yakni kompetensi sikap spiritual, kompetensi sikap sosial, kompetensi
pengetahuan, dan kompetensi keterampilan. Kompetensi-kompetensi tersebut
merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pelaksanaan pendidikan. Pencapain
kompetensi tersebut harus secara bersamaan, sehingga seorang guru tidak boleh
hanya mengutamakan salah satu kompetensi. Selain kompetensi pengetahuan dan
keterampilan, guru juga harus memperhatikan pencapaian kompetensi sikap
peserta didik.
Pada saat ini, sikap tersebut sangat sulit didapatkan pada peserta didik
yang umumnya telah menerima ilmu dan pengetahuan. Idealnya pendidikan harus
mampu memberikan pencerahan dan menumbuhkan sikap spiritual kepada siswa,
sehingga mereka mampu bersikap responsif terhadap segala persoalan yang
tengah dihadapi masyarakat dan bangsanya (Putu Ariantini, dkk, hlm. 2014).
Namun pada saat sekarang ini telihat dengan banyaknya contoh kasus yang terjadi
pada anak usia sekolah. Seperti masih terajadinya tawuran antar pelajar, banyak
pesarta didik yang menonton video porno, menganiaya sesama temannya, pesarta
didik masih banyak yang menyontek, dan lain sebagainya. Kejadian-kejadian
tersebut menunjukkan bahwa sikap spiritual dan sosialnya belum tertanam dengan
baik pada diri pesarta didik. Kompetensi sikap inilah yang menjadi tujuan utama
selain pengetahuan dan keterampilan pesarta didik. Hal inilah yang harus
diperhatikan oleh guru agar lebih memperhatikan lagi kompetensi sikap ini supaya
tercapai dengan baik. Kompetensi pengetahuan merupakan hal penting dalam
pendidikan, tetapi juga yang tidak boleh dilupakan yakni kompetensi sikap.
Nurul Fadilah, 2015
KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PEMBELAJARAN PPKN UNTUK PENCAPAIAN
KOMPETENSI SIKAP SPIRITUAL DAN SOSIAL PESERTA DIDIK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
5
Kompetensi sikap, baik sikap spiritual maupun sosial sangat dibutuhkan diri
pesarta didik dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial yang ada disekitarnya.
Dalam bersosialisasi dengan orang lain tidak cukup hanya menggunakan
pengetahuan semata, tetapi juga dengan kemampuan spiritual dan sosial.
Keberagaman latar belakang masyarakat di Indonesia dan tanpa terkecuali
peserta didik yang ada di sekolah, menuntut setiap kita khususnya peserta didik
untuk memiliki kompetensi sikap spiritual dan sosial. Kebaragaman masyarakat
ini
lebih memperbesar kemungkinan antara kita saling bersilang pendapat.
Dengan demikian, sikap spiritual dan sosial inilah yang dapat dijadikan modal
bagi kita untuk mengantisipasi terjadinya perpecahan. Begitu pula dalam
lingkungan sekolah, banyak diantara pesarta didik yang berasal dari latar belakang
keluarga yang berbeda, baik itu dari segi ekonomi, sosial maupun budaya.
Kumpulan pesarta didik yang mayoritas akan merasa menang atas pesarta didik
yang minoritas. Hal inilah yang membuat kompetensi sikap menjadi prioritas
penting dalam pendidikan, seperti yang tertuang dalam Kurikulum 2013.
Kompetensi sikap ini harus ditanamkan dalam diri peserta didik agar dapat
mengontrol setiap tingah laku, baik untuk diri sendiri maupun bagi orang lain.
Kompetensi sikap spiritual harus ditanamkan dalam diri peserta didik agar peserta
didik tersebut dapat menyadari dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang
Maha Esa. Sedangkan kompetensi sikap sosial perlu ditanamkan agar peserta
didik dapat bersosialisasi dan menjalin hubungan dengan orang lain di lingkungan
sekitarnya, hal ini dikarenakan pada dasarnya bahwa manusia adalah sebagai
makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri.
Kedudukan dan posisi PPKn dalam penelitian ini telihat dari bagaimana
upaya guru PPKn mendidik dan memberikan teladan kepada peserta didik agar
memiliki sikap yang baik guna menjadi warga negara yang baik pula. Menurut
(Numan Somantri dalam Wahab dan Sapriya, 2011, hlm. 311) melukiskan warga
negara yang baik adalah warga negara yang patriotik, toleran, setia terhadap
bangsa dan negara, beragama, demokratis..., Pancasila sejati. Seperti yang
dikemukakan (Wahab dan Sapriya, 2011, hlm. 313) “... diharapkan bahwa semua
dimensi kurikuler yang meliputi pengetahuan, keterampilan, sikap dan
Nurul Fadilah, 2015
KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PEMBELAJARAN PPKN UNTUK PENCAPAIAN
KOMPETENSI SIKAP SPIRITUAL DAN SOSIAL PESERTA DIDIK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
6
keterampilan sosial atau tindakan (action) dapat terjadi dalam proses
pembelajaran PKn”. Maka dari itu peran guru sangat dibutuhkan untuk
membentuk sikap peserta didik, terlebih kepada guru PPKn yang notabene
memiliki kewajiban untuk mendidik moral serta sikap peserta didik sesuai dengan
tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam pasal 3 Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
yakni bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab. Selain itu, sebagaimana tujuan Pendidikan
Kewarganegaraan yang terdapat dalam Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 37 ayat (1)
yakni “Pendidikan Kewarganegaraan dimaksudkan untuk membentuk peserta
didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangasaan dan cintan tanah air”.
Komitmen nasional tentang perlunya pendidikan karakter tertuang dalam
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.
Sampai saat ini Pendidikan Kewarganegaraan sudah menjadi bagian
inheren dari instrumentasi serta praksis pendidikan nasional untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa Indonesia melalui koridor “value-based education”. Jadi,
dengan adanya pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan hendaknya dapat
mempersiapkan para peserta didik untuk menjadi warga negara yang baik dan
cakap karakter, berakhlak mulia, cerdas, partisipatif, dan bertanggung jawab.
Pengetahuan dan keterampilan tidak cukup untuk menjadikan peserta didik dapat
berinteraksi dengan baik terhadap lingkungan disekitarnya. Maka dari itu, guru
haruslah memperhatikan pula kompetensi sikap peserta didik. Pengetahuan dan
Nurul Fadilah, 2015
KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PEMBELAJARAN PPKN UNTUK PENCAPAIAN
KOMPETENSI SIKAP SPIRITUAL DAN SOSIAL PESERTA DIDIK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
7
keterampilan saja tidak cukup dalam membentuk peserta didik yang baik, oleh
karena itu harus pula diupayakan dalam pencapaian kompetensi sikap
Karakteristik Kurikulum 2013 salah satuya adalah adanya keseimbangan
antara sikap, pengetahuan, dan keterampilan untuk membangun soft skills dan
hard skills peserta didik dari mulai jenjang SD, SMP, SMA/ SMK, dan Perguruan
Tinggi seperti yang diungkapkan Marzano (1985) dan Bruner (1960). Pada
jenjang SD ranah attitude harus lebih banyak atau lebih dominan dikenalkan,
diajarkan dan atau dicontohkan pada anak, kemudian diikuti ranah skill, dan
ranah knowledge lebih sedikit diajarkan pada anak. Hal ini berbanding terbalik
dengan membangun soft skills dan hard skills pada jenjang Perguruan Tinggi.
Pada Perguruan Tinggi ranah knowledge lebih dominan diajarkan dibandingkan
ranah skills dan attitude.
Tabel 1.1
Keseimbangan antara Sikap, Keterampilan dan Pengetahuan untuk
Membangun Soft Skills dan Hard Skills
PT
Knowledge
Skill
Attitude
SMA/SMK
Knowledge
Skill
Attitude
SMP
Knowledge
Skill
Attitude
SD
Knowledge
Skill
Attitude
Sumber: Marzano (1985), Bruner (1960) dalam Materi Diklat Guru Implementasi
Kurikulum 2013
Selanjutnya lebih diperjelas lagi dalam Permendikbud Nomor 57, 58, 59
Tahun 2014 tentang Kurikulum SD, SMP, dan SMA secara umum tujuan
matapelajaran PPKn pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah
mengembangkan seluruh potensi
peserta didik dalam seluruh dimensi
kewarganegraan, yakni (1) Sikap kewarganegaraan termasuk keteguhan,
komitmen, dan tanggungjawab kewarganegaraan (civic confidence, civic
Nurul Fadilah, 2015
KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PEMBELAJARAN PPKN UNTUK PENCAPAIAN
KOMPETENSI SIKAP SPIRITUAL DAN SOSIAL PESERTA DIDIK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
8
commitment, and civic responsibility); (2) Pengetahuan kewarganegaraan; (3)
Keterampilan
kewarganegaraan
kewarganegaraan (civic
termasuk
kecakapan
dan
partisipasi
competence and civic rsponsibility). Kemudian
berdasarkan Permendikbud tersebut, tujuan matapelajaran PPKn secara khusus
yaitu supaya siswa mampu:
1. menampilkna karakter yang mencerminkan penghayatan, pemahaman, dan
pengalaman nilai dan moral Pancasila secara personal dan sosial.
2. memiliki komitmen konstitusional yang ditopang oleh sikap positif dan
pemahaman utuh tentang Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
3. berpikir secara kritis, rasional dan kreatif serta memiliki semangat
kebangsaan serta cinta tanah air yang dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila,
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, semangat
Bhineka Tunggal Ika, dan komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia,
dan
4. berpartisipasi secara aktif, cerdas, dan bertanggung jawab sebagai anggota
masyarakat, tunas bangsa, dan warga negara sesuai dengan harkat dan
martabatnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang hidup
bersama dalam berbagai tantangan sosial budaya.
Tujuan matapelajaran Pendidikan Kewarganegaraan tersebut merupakan
tugas dan tanggungjawab yang harus dicapai oleh seorang guru. Dalam upaya
pencapaian tujuan tersebut diperlukan guru yang memiliki kompetensikompetensi dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Dengan memiliki
kompetensi-kompetensi guru, khususnya kompetensi pedagogik maka proses
pembelajaran di kelas dan pemahaman terahadap peserta didik dapat berjalan
dengan baik.
1.2 Identifikasi Dan Rumusan Masalah
Bertolak dari latar belakang masalah di atas, maka identifikasi masalah
dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Pada saat sekarang ini, tidak sedikit ditemukan guru-guru yang mengajar
hanya sekedarnya saja. Guru tidak mempersiapkan diri sebagai seorang guru
yang memang benar-benar dijadikan teladan bagi pesarta didiknya. Maka
dari itu,
seorang guru diharuskan memiliki kompetensi guna dijadikan
bekal dalam proses pembelajaran. Kompetensi guru tersebut merupakan
Nurul Fadilah, 2015
KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PEMBELAJARAN PPKN UNTUK PENCAPAIAN
KOMPETENSI SIKAP SPIRITUAL DAN SOSIAL PESERTA DIDIK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
9
modal utama yang harus ada pada setiap guru. Jadi, dapat dikatakan guru
yang profesional dituntut memiliki keempat kompetensi yang telah
ditetapkan. Dalam proses pembelajaran, salah satu kompetensi yang
harusnya dikuasai guru yakni kompetensi pedagogik.
2. Dalam proses pembelajaran, guru harus memiliki target yang harus dicapai.
Pencapaian tersebut terdiri dari berbagai aspek, mulai dari aspek kompetensi
pengetahuan, sikap dan keterampilan. Ketiga kompetensi tersebut
merupakan target yang benar-benar harus diperhatikan oleh seorang guru
dalam mengajar.
3. Kompetensi sikap peserta didik mendapat perhatian penting sejalan dengan
fungsi dan peran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan sebagai Value
Based Education.
4. Kompetensi sikap pesarta didik yang menjadi target utama seorang guru
adalah kompetensi sikap spiritual dan kompetensi sikap sosial. Kedua
kompetensi ini merupakan modal utama bagi setiap pesarta didik untuk
menjalankan kehidupannya, baik itu hubungan peserta didik dengan Tuhan
Yang Maha Esa maupun dengan sesama manusia dalam kehidupan
keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Berdasarkan uraian latar belakang dan identifikasi masalah, maka yang
menjadi rumusan masalah secara umum yaitu: “Bagaimana kompetensi
pedagogik guru dalam pembelajaran PPKn untuk pencapaian kompetensi
sikap spiritual dan sosial peserta didik?”. Agar penelitian ini lebih terfokus
pada pokok permasalahan, maka masalah umum tersebut dijabarkan dalam subsub masalah yang sekaligus menjadi pertanyaan peneliti yakni sebagai berikut:
1. Bagaimana kompetensi pedagogik guru dalam perencanaan pembelajaran
PPKn untuk pencapaian kompetensi sikap peserta didik?
2. Bagaimana kompetensi pedagogik guru dalam pelaksanaan pembelajaran
PPKn untuk pencapaian kompetensi sikap peserta didik?
3. Bagaimana kompetensi pedagogik guru dalam penilaian pembelajaran PPKn
untuk pencapaian kompetensi sikap peserta didik?
4. Bagaimana pencapaian kompetensi sikap peserta didik?
Nurul Fadilah, 2015
KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PEMBELAJARAN PPKN UNTUK PENCAPAIAN
KOMPETENSI SIKAP SPIRITUAL DAN SOSIAL PESERTA DIDIK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
10
5. Apa kendala dan upaya yang dilakukan guru PPKn dalam mencapai
kompetensi sikap peserta didik?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan umum dari penelitian
ini adalah untuk mendeskripsikan: “Kompetensi pedagogik guru dalam
pembelajaran PPKn untuk pencapaian kompetensi sikap spiritual dan sosial
peserta didik”.
1.3.2 Tujuan Khusus
Berdasarkan tujuan umum di atas, peneliti menyimpulkan tujuan khusus
dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan:
1. Kompetensi pedagogik guru dalam perencanaan pembelajaran PPKn untuk
pencapaian kompetensi sikap peserta didik.
2. Kompetensi pedagogik guru dalam pelaksanaan pembelajaran PPKn untuk
pencapaian kompetensi sikap peserta didik.
3. Kompetensi pedagogik guru dalam penilaian pembelajaran PPKn untuk
pencapaian kompetensi sikap peserta didik.
4. Pencapaian kompetensi sikap peserta didik.
5. Kendala dan upaya yang dilakukan guru PPKn dalam mencapai kompetensi
sikap peserta didik.
1.4 Manfaat/Signifikansi Penelitian
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat, baik dari segi
teori, segi kebijakan, segi praktik, maupun dari segi isu serta aksi sosial.
1. Manfaat/signifikansi dari segi teori
Memberikan manfaat secara teoritis, penelitian ini akan menggali dan
mengkaji tentang bagaimana kompetensi pedagogik guru dalam proses
pembelajaran PPKn.
2. Manfaat/signifikansi dari segi kebijakan
Nurul Fadilah, 2015
KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PEMBELAJARAN PPKN UNTUK PENCAPAIAN
KOMPETENSI SIKAP SPIRITUAL DAN SOSIAL PESERTA DIDIK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
11
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait
guna meningkatkan kualitas guru di Indonesia. Kompetensi pedagogik guru
ini sangat diperlukan dalam pembeljaran guna peningkatan kualitas
pendidikan.
3. Manfaat/signifikansi dari segi praktis
a. Memberikan masukan bagi guru, sebagai peningkatan kompetensi guru
terutama dalam pembelajaran PPKn
b. Memberikan masukan kepada kepala sekolah dalam merumuskan dan
meningkatkan mutu pembelajaran PPKn.
c. Para akademisi atau komunitas akademis, khususnya dalam bidang PPKn
untuk bahan masukan kearah pengembangan PPKn sebagai disiplin ilmu.
d. Bagi penulis, penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan
pemahaman betapa pentingnya kompetensi guru, khususnya kompetensi
pedagogik guru dalam pembelajaran PPKn.
4. Manfaat/signifikansi dari segi isu serta aksi sosial
Penelitian ini sangat bermanfaat bagi peneliti guna menambah wawasan
keilmuan peneliti dibidang kompetensi guru, khususnya kompetensi
pedagogik. Sehingga dalam melaksanakan pembelajaran di kelas, guru
dapat semaksimal mungkin memberikan pembelajaran demi tercapainya
tujuan pendidikan.
1.5 Strukrur Organisasi Tesis
Struktur penulisan tesis yang akan ditulis terdiri dari 5 bab, yakni:
Bab I membahas pendahuluan yang mendeskripsikan latar belakang
penelitian, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat/signifikansi
penelitian, dan struktur organisasi tesis.
Bab II membahas kajian pustaka yang meliputi; Kompetensi Pedagogik
Guru, Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Kompetensi
Sikap Spiritual dan Sosial, Penelitian Terdahulu, dan Paradigma Penelitian.
Nurul Fadilah, 2015
KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PEMBELAJARAN PPKN UNTUK PENCAPAIAN
KOMPETENSI SIKAP SPIRITUAL DAN SOSIAL PESERTA DIDIK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
12
Bab III membahas tentang metode penelitian. Adapun sub bab yang
dibahas dalam bab ini
mencakup desain penelitian, partisipan dan tempat
penelitian, pengumpulan data, analsis data, dan isu etik.
Bab IV membahas tentang temuan dan pembahasan. Pada bab ini dibahas
tentang gambaran umum lokasi penelitian, deskripsi hasil penelitian serta
pembahasan hasil penelitian.
Bab V membahas tentang kesimpulan dan rekomendasi. Pada bab ini
dibagi menjadi tiga sub bab yaitu:(1) simpulan; (2) implikasi dan (3) rekomendasi.
Nurul Fadilah, 2015
KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PEMBELAJARAN PPKN UNTUK PENCAPAIAN
KOMPETENSI SIKAP SPIRITUAL DAN SOSIAL PESERTA DIDIK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Download