analisis resepsi masyarakat terhadap nilai

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Film adalah salah satu media hiburan yang ditayangkan melalui media
komunikasi massa, media ini sangat efektif untuk menyampaikan suatu pesan
kepada masyarakat, antara lain pesan-pesan hiburan, moral, sosial, politik dan
budaya. Media ini sangat efektif karena menyajikan suatu adegan dan proses
penyampaian pesan dalam bentuk audio dan visual, sehingga dengan mudah
bisa diterima oleh masyarakat, manfaat film sendiri seperti yang tecantum
dalam UU No.8 tahun 1992 mengenai Perfilman di dalam bab III pasal 5
menjelaskan bahwa film adalah media komunikasi massa pandang-dengar
mempunyai fungsi penerangan, pendidikan, pengembangan budaya bangsa,
hiburan, dan ekonomi. Dengan demikian bisa dilihat bahwa film adalah media
penyampaian pesan yang efektif kepada khalayak.
Banyak sutradara film yang berusaha mencoba menyampaikan
berbagai pesan di dalam sebuah film. Pesan dan isu mengenai agama dan
budaya menjadi salah satu pilihan utama, ini dipengaruhi oleh budaya
Indonesia yang beragam, menganut demokrasi dan kebebasan beragama di
dalam masyarakat, dengan empat agama yang diakui yaitu Islam, Kristen,
Budha, dan Konghucu, dengan dua agama dan ormas agama yang dominan
yaitu Kristen dan Islam, NU (Nahdlatul Ulama) dan Muhammadiyah, dan
berbagai budaya yang tersebar di seluruh nusantara.
1
2
Permasalahan budaya, keagamaan dan konflik antar umat beragama
menjadi topik yang hangat untuk diangkat di dalam sebuah film, akan tetapi
harus diingat pula bahwa film yang mengangkat tentang keagamaan dan
budaya sangat rentan terhadap pertentangan dan konflik, sutradara harus peka
dan melakukan riset yang mendalam agar film yang dibuat tidak
mendiskriminasikan salah satu pihak. Seringkali film yang mengangkat
tentang tema agama banyak menuai kecaman karena dinilai lebih condong
kedalam pluralisme agama. Pluralisme sendiri khususnya pluralisme agama
banyak ditentang oleh berbagai agama dan tokoh-tokoh agama. Pluralisme
agama atau religious pluralism sendiri adalah istilah khusus dalam kajian
agama-agama. Sebagai ”terminologi khusus”, istilah ini tidak dapat
dimaknai sembarangan,
„toleransi‟,
paskahlnya
„saling menghormati‟
disamakan dengan makna
(mutual
respect),
dan
istilah
sebagainya.
Pluralisme agama berarti semua agama adalah jalan yang sama-sama sah
menuju Tuhan yang sama (Husaini, 2010:1).
Jadi menurut penganut paham ini, semua agama adalah jalan
yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama. Atau mereka menyatakan
bahwa agama adalah persepsi manusia yang relatif terhadap Tuhan yang
mutlak, sehingga karena kerelatifannya maka setiap pemeluk agama tidak
boleh mengklaim atau meyakini, bahwa agamanya lebih benar atau lebih baik
dari agama lain, atau mengklaim bahwa hanya agamanya sendiri yang benar.
Penganut paham pluralisme juga mendukung paham sinkretisme, dimana
sinkrentisme
adalah
suatu
kecenderungan
pemikiran
yang berusaha
3
mencampurkan dan merekomendasi berbagai unsur yang berbeda-beda
(bahkan mungkin bertolak belakang) yang diseleksi dari berbagai agama dan
tradisi (Tohah, 2005:90).
Paham pluralisme ini diyakini muncul dari agama Yahudi, dimana
Yahudi meyakini agama mereka adalah agama yang pertama kali muncul dan
induk dari semua agama, Islam dan Kristen adalah agama yang tercipta dari
induk utama Yahudi, orang Yahudi beranggapan bahwa Tuhan dari semua
agama itu adalah sama. Ketika agama dipandang sebagai jalan yang samasama sah untuk menuju Tuhan siapapun dia, apapun nama dan sifatnya, maka
muncul kesimpulan bahwa untuk menuju Tuhan dapat ditempuh dengan jalan
apa saja. Syariat dianggap sebagai hal yang tidak penting, sekedar teknis/cara
untuk menuju Tuhan (aspek ekosentris), sedangkan yang penting adalah aspek
batin (eksonteris). Karena itu cara ibadah kepada Tuhan dianggap sebagai
masalah “teknis”, soal “cara”, yang secara eksoterik berbeda, akan tetapi
substansinya dianggap sama (Husaini, 2010:7).
Di dalam dunia perfilmman Indonesia mempunyai salah satu sutradara
fenomenal yaitu Hanung Bramantya, Setiawan Hanung Bramantya adalah
seorang sutradara asal Indonesia. Beberapa film karya nya memenangkan
penghargaan dalam Festival Film Indonesia, ia juga terpilih di dalam
penghargaan piala citra, sebagai sutradara terbaik dalam film Brownies yang
disutradarai
nya
(http://id.wikipedia.org/wiki/Hanung_Bramantyo
diakses
tanggal 10 Oktober 2012). Akhir-akhir ini Hanung Bramantya sangat tertarik
dengan film yang bertemakan keagamaan. Tiga karyanya yang bertemakan
4
agama yaitu Ayat-Ayat Cinta (2008), Perempuan Berkalung Sorban (2009),
Sang Pencerah (2010) dan yang menimbulkan perdebatan dan kontroversi ,
film nya yang berjudul ? (Tanda Tanya) (2011). Akan tetapi banyak yang
menganggap film yang disutradarainya lebih condong ke pluralisme agama.
Berbeda dengan film-film nya terdahulu, salah satu film yang
disutradarainya yang berjudul ”?” (Tanda Tanya), mendapat respon yang
berbeda di dalam masyarakat, film yang menggambarkan kehidupan dan
sosialisasi antar umat beragama ini sempat tayang di bioskop dan tidak lama
kemudian film ini dilarang beredar dan ditayangkan.
Banyak pertentangan terhadap film ini, antara lain konflik di dalam
masyarat dan mahasiswa, banyak demo-demo yang menolak dan mencekal
film ini. Sejumlah pengunjukrasa dari FPI (Front Pembela Islam) berunjukrasa
di depan di halaman Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Bandung menyikapi
penayangan Film " ? " (tanda tanya) garapan Hanung Bramantya, Jawa Barat.
Dalam pernyataan nya FPI menyatakan bahwa Film Tanda Tanya haram untuk
ditonton umat Islam karena berisi ajaran liberal yang difatwakan sesat oleh
MUI
(Majelis
Ulama
Indonesia)
(http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1305013218/tolak-film-tandatanya
akses pada tanggal 17 Oktober 2012 jam 07.00).
di
5
Gambar I.I Konflik protes film “?” (tanda tanya) oleh MUI (Majelis Ulama
Indonesia) di bandung.
(http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1305013218/tolak-film-tandatanya).
Belum banyak masyarakat yang mengetahui bagaimana sebenarnya isi
dan pesan sebenarnya di dalam film ini, dikarenakan film ini hanya sebatas
tayang di Bioskop dalam waktu yang pendek sebelum di cekal, akan tetapi
masyarakat sudah terlanjur berfikir negatif terhadap film “?” (Tanda Tanya)
dengan melihat bagaimana konflik yang terjadi di dalam masyarakat dan media
masa.
Hanung Bramantya dituduh mengkampanyekan Islam liberal dalam
film ini, akan tetapi Hanung tetap menerbitkan karyanya ini dalam bentuk
DVD dengan alasan animo masyarakat yang tinggi, banyaknya film Indonesia
yang tidak bermutu dan menganggap filmnya ini adalah salah satu film yang
mencerdaskan
(http://celebrity.okezone.com/red/2012/02/21/206/580027/hanung bramantyosaya-bukan-Islam-liberall diakses pada tanggal 11 Oktober 2012).
Latar belakang pembuatan film ini mengangkat tentang nilai toleransi
antar umat beragama, dimana film ini menggambarkan bagaimana tiga agama
yang berbeda, Islam, Kristen dan Konghucu yang saling berdampingan,
6
dimana di dalam film ini di gambarkan bagaimana kehidupan sosial, konflik
intern, bahkan konflik antar agama.
Film ”?” (Tanda Tanya) berkisah tentang tiga keluarga dengan afiliasi
berbeda, yang pertama keluarga Tan Kat Sun (Hengky Solaiman) yang
memiliki bisnis restoran Cina. Restaurant Tan Kat Sun menyajikan berbagai
menu masakan Cina, tanpa kecuali masakan dengan bahan utama daging Babi.
Untuk memperlihatkan nilai toleransi agama, restoran Tan Kat Sun
mempekerjakan seorang pegawai yang beragama muslim yaitu Menuk yang
juga sebagai pemeran utama dalam film ini.
Gambar I.II adegan menggambarkan sikap dan nilai toleransi
(Sumber : Mahaka Pictures Film ?)
Di dalam adegan selanjutnya ada pemuda muslim bernama Surya
(Agus Kuncoro) bekerja sebagai aktor yang kurang beruntung yang hanya
bermain sebagai peran figuran, dan untuk mencukupi kehidupanya sehari-hari
dia terpaksa membantu Rika (Endhita) untuk memerankan Yesus pada acara
pra Paskah. Rika sendiri adalah seorang janda yang memilih pindah agama
dikarenakan permasalahan perceraian dan poligami. Ia bercerai dengan
suaminya karena tidak rela dan kecewa dengan sang suami yang ingin
berpoligami. Walau Rika yang berpindah agama tetap memberi kebebasan
kepada anaknya untuk memeluk agama Islam, dimana Rika tetap membantu
7
dan mengajarkan mengaji kepada anaknya.
Gambar I.III Teaterikal penyaliban Pictures. Film “?”
(Sumber : Mahaka Pictures Film ?)
Film “?” (Tanda Tanya) ini sebenarnya mempunyai pesan dan tujuan
yang baik, banyak adegan yang mencerminkan sikap saling menghargai dan
menghormati. Akan tetapi menurut para pemuka agama film ini dianggap
lebih menggambarkan nilai-nilai pluralisme dibandingkan dengan sikap
toleransi. Isu mengenai pluralisme di Indonesia sangatlah kental, ini
dikarenakan negara Indonesia adalah negara yang menganut sistem multi
agama, memberikan kebebasan atau hak untuk memeluk agama menurut
keyakinan. Di Indonesia mempunyai tiga agama yang diakui yaitu Islam,
Kristen dan Konghucu. UUD 45 tercantum dalam Pasal 29 ayat 2 mengatur
tentang kebebasan atau hak untuk memeluk agama (kepercayaan).
Ada dua pandangan mengenai lahirnya pluralisme agama, yang
pertama muncul dari agama Yahudi dimana agama Yahudi berpendapat
berbagai agama yang ada di dunia adalah pecahan dari agama Yahudi,
dimana mereka meyakini bahwa Tuhan dari berbagai agama adalah sama
yaitu Yahwe Tuhan orang Yahudi (Coward, 1989 : 10). Kalau di lihat dari
8
pemahaman dari berbagai agama yang ada, keyakinan agama Yahudi ini
bertentangan dengan keyakinan agama yang lain, masing-masing agama
mempunyai pemahaman dan keyakinan bahwa Tuhan merekalah yang paling
benar. Pandangan yang kedua bahwa pluralisme agama merupakan upaya
peletakan landasan teoritis dalam teologi Kristen untuk berinteraksi toleran
dengan agama lain.
Pada gagasan ini pluralisme agama bisa dilihat salah satu dari elemen
gerakan reformasi pemikiran agama atau liberalisasi agama yang dilancarkan
oleh gereja Kristen pada abat ke-19. Walaupun agama Kristen juga
mempunyai doktrin bahwa no salvation outside cristianity (diluar Kristen
tidak ada keselamatan) (Thoha, 2005:20).
Komunikasi
yang
baik
adalah
dimana
komunikan
ingin
menyampaikan suatu pesan kepada penerima pesan dan mengharapkan
respon positif dari penerima pesan, akan tetapi khalayak sebagai penerima
pesan bukanlah penonton pasif yang hanya menerima pesan secara langsung,
khalayak memposisikan dirinya sebagai khalayak yang aktif, yaitu penonton
atau khalayak yang tidak dianggap sebagai penonton yang secara mentahmentah menerima dan memaknai serta memiliki pandangan yang sama
seperti apa yang dibentuk oleh film tersebut (Mc Quail, 1997:19).
Di dalam proses penerimaan khalayak atau reception khalayak,
wacana media diasumsikan melalui praktik wacana dan budaya khalayak nya,
pemahaman tentang kontroversi yang terjadi di dalam film ini dipengaruhi
oleh berbagai wacana dan budaya di dalam suatu lingkungan khalayak,
9
wacana dan budaya agama di dalam masyarakat berkembang secara luas dan
beragam sehingga menimbulkan pengertian dan pemahaman yang berbeda
antara khalayak satu dengan khalayak yang lain. Ini karena khalayak
sekarang memposisikan diri mereka sebagai khalayak aktif dimana mereka
mengolah kembali pesan yang diterima dan menyimpulkan dengan wacana
dan budaya-budaya yang mereka ketahui. Melihat dari perkembangan dan
pengetahuan khalayak efek media menjadi terbatas dimana khalayak mulai
bisa berfikir, menyimpulkan pesan, menyeleksi pesan dan mengetahui
kontradiksi pesan yang diterima.
Penelitian ini berfokus pada bagaimana penerimaan khalayak
terhadap penggambaran sikap toleransi antar umat beragama dan nilai dan
unsur pluralisme di dalam film “?” (Tanda Tanya) karya Hanung Bramantya,
dengan posisi penelitian ini ingin mengetahui penerimaan masyarakat tentang
nilai-nilai toleransi dan pluralisme agama dalam film “?” (Tanda Tanya),
peneliti memilih film “?” (Tanda Tanya) ini, dikarenakan film ini banyak
mengundang kecaman di dalam berbagai pihak antara lain aktifis dan ormas
agama. Banyak masyarakat yang belum mengetahui bagaimana sebenarnya
film ini dikarenakan hanya tayang di bioskop beberapa waktu dan dilarang
beredar, masyarakat terlanjur berfikir negatif terhadap film ini dengan konflik
dan permasalahan yang ada di dalam masyarakat. Sedangkan sebenarnya
film ini sendiri bertujuan untuk memberi pengertian bagaimana seharusnya
rasa toleransi dan saling menghargai menjadi sikap yang utama dalam
menjaga kerukunan antar umat beragama.
10
Inilah yang menjadi alasan peneliti untuk meneliti bagaimana
penerimaan khalayak khususnya mahasiswa Universitas Muhammadiyah
Surakarta dengan berbagai afiliasi setelah menonton dan menerima pesan
yang sebenarnya terhadap film ini.
Penelitian terdahulu yang mengambil metode reception analysis
adalah penelitian oleh Kandi Aryani Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP
Unair, Surabaya dengan judul
“Analisis Penerimaan Remaja Terhadap
Wacana Pornografi Dalam Situs-Situs Seks di Media Online” dengan tujuan
utama untuk mengetahui bagaimana pemahaman, sikap, dan perilaku remaja
terhadap situs-situs seks di media online. Dalam penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa dari penelitian ini remaja memaknai pornografi sebagai
segala sesuatu yang dapat merangsang dan membangkitkan nafsu seksual,
baik dalam bentuk gambar diam (still images) ataupun gambar bergerak
(moving images) serta dalam bentuk tulisan. Remaja memaknai pornografi
sebagai sesuatu yang mengumbar seksualitas dan merupakan bentuk
eksploitasi seksual terhadap organ/alat kelamin dan segala aktivitas seksual.
Penelitian terdahulu yang menyangkut tentang pluralisme agama
adalah penelitian oleh Nurjanah Tahun 2011 dari Universitas Negeri Malang
dengan judul “Pluralisme Agama di Batu (Studi Tentang Makna dan
Kerukunan Antar Umat Beragama di kota Batu)” dengan menggunakan
metode penelitian fenomenologi dengan tujuan utama untuk mengetahui
bagaimana makna pluralisme di kalangan elit agama-agama di kota batu,
bagaimana penyebab konflik antar umat beragama dan upaya menciptakan
11
kerukunan antar umat beragama. Dimana di dalam penelitian ini para elit
agama memaknai pluralisme berbeda-beda ada yang setuju dengan melihat
aspek antropologis dan sosiologis, dan yang tidak setuju dengan pluralisme
mereka memandang dari aspek teologis agama. Sedangkan
untuk
menciptakan kerukunan antar umat beragama, sesama pemeluk agama harus
saling terbuka dan saling menghargai.
Sedangkan penelitian selanjutnya tentang video dengan mengambil
metode semiotika yang juga menyinggung dengan penelitian yang diteliti
peneliti, yang diteliti oleh Arina Nurrohmah dari Universitas Muhammadiyah
Surakarta tahun 2011 dengan judul “Representasi simbol Zionisme Yahudi
Analisis Semiotika Komunikasi Tentang Representasi Simbol Zionisme
Yahudi di Video Klip Artis-Artis Republik Cinta Managemen Tahun 20042011”, penelitian ini menyimpulkan bahwa simbol-simbol sering dipakai di
dalam video klip artis-artis RCM yang intensitas kemunculan nya lebih
sering dibandingkan dengan saat grup band dewa masih mengusung nama
Dewa 19.
Melihat latar belakang di atas, memperlihatkan bukti bahwa
masyarakat dan umat beragama mempunyai pemahaman yang berbeda di
dalam memahami suatu pesan yang disampaikan baik di dalam media masa
ataupun di dalam pemahaman agamanya, terutama umat Islam yang menjadi
agama yang dominan di Indonesia. Hal-hal yang menyinggung dan sedikit
melenceng dari Agama Islam menjadi permasalahan serius dan tidak jarang
berujung pada perseteruan, terutama sejumlah ormas Islam yang ada.
12
Dengan melihat permasalahan diatas peneliti tertarik untuk meneliti
film ”?” (Tanda Tanya), dengan menggunakan metode reception anaysis,
yaitu metode yang digunakan untuk meneliti bagaimana penerimaan pesan
yang disampaikan kepada khalayak.
Dalam penelitian ini peneliti ingin mengetahui bagaimana sebenarnya
penerimaan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta terhadap film
”?” (Tanda Tanya) dari berbagai afiliasi. Selanjutnya, para objek ini disebut
informan. Para informan ini dipilih secara purposive sampling untuk
memperoleh data yang dibutuhkan. Untuk teknik pengambilan sampel
dilakukan dengan purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel
tidak secara acak, tetapi dipilih dengan sengaja pada informan yang
memenuhi kriteria sesuai dengan kebijaksanaan peneliti (Patton, 2002: 243).
Pemilihan informan dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah
Surakarta karena selain sebagai khalayak aktif, banyak mahasiswa dan ormas
mahasiswa yang juga mempermasalahkan film ini, akan tetapi mereka juga
belum tentu mengerti bagaimana sebenarnya pesan dan penggambaran di
dalam film ini. Ini dikarenakan mahasiswa cenderung mudah untuk di
profokasi dan di pengaruhi.
Inilah yang menjadi latar belakan peneliti untuk mengambil
mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta sebagai objek penelitian
untuk mengetahui bagaimana sebenarnya penerimaan pesan terhadap film
”?” (Tanda Tanya) dari berbagai afiliasi Informan yang yang berbeda di
dalam film ini, agar mendapatkan data yang seimbang untuk mengetahui
13
bagaimana sebenarnya penerimaan khalayak terhadap nilai-nilai toleransi dan
pluralisme agama di dalam film ”?” (Tanda Tanya), yang menimbulkan
konflik yang serius di dalam masyarakat.
Dari latar belakang di atas, maka dipilihlah judul untuk penelitian ini :
”Analisis Penerimaan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta
terhadap Nilai-Nilai Toleransi Antar Umat Beragama dan Pluralisme
Dalam Film ”?” (Tanda Tanya).
B. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana Penerimaan
Surakarta
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah
terhadap Nilai-Nilai Toleransi Antar Umat Beragama dan
Pluralisme Dalam Film ”?” (Tanda Tanya) ?
C. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian dengan judul
”Analisis Penerimaan
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta
terhadap Nilai-Nilai Toleransi Antar Umat Beragama dan Pluralisme Dalam
Film ”?” (Tanda Tanya)” adalah untuk mengetahui pemaknaan mahasiswa
Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan tiga afiliasi yang berbeda
dalam memaknai nilai dan pesan toleransi antar agama dan pluralisme dalam
film “?” (Tanda Tanya).
14
D. MANFAAT PENELITIAN
Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka diharapkan manfaat baik
teoritis maupun praktis dapat didapat dalam penelitian ini. Manfaat tersebut
meliputi :
1. Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran
pada ilmu komunikasi terutama pemahaman terhadap penerimaan
masyarakat dalam kajian media.
b. Dapat menambah khasanah keilmuan bagi peneliti sendiri dan
masyarakat pada umumnya dalam memahami analisis penerimaan
masyarakat dalam memahami suatu pesan yang disampaikan di dalam
film.
2. Manfaat Praktis
Memberikan pengetahuan terhadap mahasiswa untuk lebih cermat
dalam melihat dan memahami sikap dan pemahaman masyarakat di dalam
memahami suatu pesan.
E. TINJAUAN PUSTAKA
1. Kajian khalayak
Menurut Hadi (2008:2) khalayak menurut komunikasi massa
mempunyai dua pandangan arus besar (mainstream) yaitu :
a. Khalayak Pasif
15
Khalayak sebagai audience pasif adalah dimana khalayak hanya
bereaksi terhadap apa yang mereka lihat dan mereka dengar dari
media, khalayak tidak mengolah kembali dan mendiskusikan nya di
dalam publik untuk mencari makna yang lain. Media masa
menggunakan khalayak sebagai sasaran utama di dalam penyampaian
komunikasi massa. Efek yang ditimbulkan terhadap khalayak bersifat
langsung one step flow, dimana proses penyampaian pesan melalui
satu tahap yaitu media sebagai chanel komunikasi massa yang
diteruskan langsung kepada khalayak.
b. Khalayak Aktif
Khalayak aktif adalah dimana khalayak merupakan partisipan
aktif di dalam publik. Dimana publik merupakan masyarakat yang
terbentuk dari isu-isu di dalam masyarakat dan publik membahas isuisu yang mencuat di dalam masyarakat.
Dimana efek media terhadap pesan yang disampaikan menjadi
limited effect dimana khalayak sudah mempunyai kemampuan berfikir
untuk mengolah pesan yang disampaikan media. Khalayak bebas
menginterpretasikan pesan media sesuai dengan kemampuan yang
dimiliki khalayak dan juga dipengaruhi oleh kesenangan khalayak
terhadap pesan yang disampaikan, sehingga khalayak bebas memilih
dan menolak pesan yang disampaikan kepada mereka.
Pengertian khalayak dalam konsep penelitian sosial sangat
beragam, di dalam pengertian para peneliti khalayak adalah „penerima‟
16
dari urutan utama dalam komunikasi massa (sumber, saluran, penerima,
efek), ini juga digunakan untuk pengguna media di dalam memahami
dimana posisi mereka. Di dalam kajian khalayak konsep khalayak
menunjukan adanya sekelompok pendengar, atau penonton yang memiliki
perhatian, respektif, tetapi relatif pasif yang terkumpul di dalam latar yang
bersifat publik.
Dahulu khalayak sering dikaitkan dengan propaganda dimana
khalayak menjadi sasaran dalam mempengaruhi khalayak, dimana
khalayak adalah sasaran dari propagandis orang yang menyebarkan
propaganda, dimana propagandis mendominasi khalayak dan mengkontrol
pesan yang sampai kepada khalayak. Dimana obyek utama nya adalah
sumber dan konten pesan yang disampaikan kepada khalayak. Bagaimana
para
propagandis
mempengaruhi
khalayak
dengan
pesan
yang
disampaikan kepada khalayak yang bertujuan untuk mempengaruhi
khalayak sebagaimana apa yang dimaksudkan para propagandis atau
pelaku propaganda (Baran dan Davis, 2010:288).
Akan tetapi dengan berkembang nya media, pengalaman bermedia
menjadi pengalaman yang mengubah khalayak yang dulunya pasif
menjadi aktif di dalam bermedia. Seperti film yang menggambarkan
peperangan para polisi dan perampok, di suatu sisi pesan media ingin
menyampaikan hiburan kepada khalayak dengan menampilkan adeganadegan yang menantang kepada khalayak, disini khalayak diposisikan
pasif, akan tetapi disisi lain khalayak juga secara tidak langsung belajar
17
bagaimana cara berkelahi dan menggunakan senjata disini khalayak
diposisikan aktif dimana khalayak mengolah kembali pesan-pesan yang
disampaikan media.
Seiring dengan perkembangan zaman dan pengetahuan khalayak
yang semakin meningkat, dimana dahulu saat pertama kali kemunculan
media masa, khalayak cenderung digolongkan sebagai khalayak pasif,
yang mencerna pesan secara langsung dimana mereka bereaksi sesuai apa
yang mereka lihat dan mereka dengar, kini berubah menjadi khalayak
aktif, dimana khalayak mulai bisa berfikir maju memilih apa yang disukai
dan tidak disukai dan mengetahui bagaimana kontradiksi pesan media di
dalam lingkungan sekitarnya, khalayak berpartisipasi aktif dalam
membangun dan menginterpretasikan makna atas apa yang mereka baca,
dengar dan lihat sesuai dengan konteks budaya (Hadi, 2009:3).
Khalayak sendiri dapat dicirikan berbeda menurut berbagai latar
belakang yang beragam, antara lain dalam hal tempat, pesan, media, dan
waktu, sehingga terbentuk khalayak dengan kepentingan dan latar
belakang yang berbeda di dalam riset khalayak. Secara etimologis
Research berarti mencari. Pengertian umumnya adalah upaya mencari
data yang dapat diinterpretasikan menjadi informasi yang dibutuhkan
(Sari, 1993:28).
Salah satu metode penelitian terhadap khalayak yang efektif adalah
menggunakan reception analysis dimana di dalam metode penelitian ini
khalayak diposisikan sebagai khalayak aktif dimana analisis recepsi
18
mencoba memberikan sebuah makna atau pemahaman teks media (setak,
elektronik, internet) dengan memahami bagaimana karakter teks dibaca
dan dipahami oleh khalayak. Pengalaman, pemahaman, budaya dan
pengaruh-pengaruh lingkungan di dalam lingkungan menjadi pengaruh
utama di dalam memahami sebuah teks media (Hadi, 2008:2).
2. Komunikasi
a. Pengertian Komunikasi
Secara etimologis istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin
comunicatio, dan perkataan ini bersumber dari kata comunis. Asal kata
comunis berarti sama, dalam arti kata sama makna (Effendy, 2006: 3).
Komunikasi dapat berlangsung apabila di dalam proses komunikasi
antara orang yang terlibat mempunyai makna yang sama mengenai apa
yang sedang dikomunikasikan. Sehingga terjadi interaksi yang
komunikatif antara komunikator dan komunikan.
Dengan berkembangnya yang pesat proses komunikasi bisa
dilakukan dengan berbagai macam saluran, antara lain dengan
menggunakan media masa atau biasa disebut dengan komunikasi
bermedia. Komunikasi bermedia (mediated communication) adalah
komunikasi
yang
menggunakan
saluran
atau
sarana
untuk
meneruskan suatu pesan kepada komunikan yang jauh tempatnya,
dan/atau banyak jumlahnya (Effendi, 2006:9).
19
b. Komunikasi massa
Komunikasi
massa
adalah
proses
komunikasi
dengan
memanfaatkan media masa, jenis media masa sendiri beragam antara
lain koran, film, radio, dan televisi untuk menyampaikan pesan
kepada khalayak banyak yang bersifat homogen. Jadi komunikasi
massa bisa disimpulkan, proses komunikasi yang bertujuan untuk
menyampaikan pesan kepada khalayak banyak yang abstrak atau
homogen yaitu khalayak yang tidak nampak oleh komunikator dan
Feedback kepada komunikator bersifat tidak langsung bahkan tidak
terjadi Feedback (Effendy, 2002:50).
c. Ciri-Ciri Komunikasi massa
Komunikasi massa dapat dicirikan sebagai berikut :
1. Komunikan berjumlah banyak dan bersifat heterogen, dan anonim.
2. Sifat media masa menyalurkan pesan yang disampaikan secara
serempak
dan
cepat,
sehingga
khalayak
dengan
cepat
memperhatikan dan mencerna pesan yang disampaikan oleh media
masa.
3. Sifat pesan yang disampaikan bersifat umum, ini dikarenakan
media masa adalah media penyampaian pesan kepada khalayak
banyak bukan sekelompok orang saja.
4. Sifat komunikator di dalam komunikasi massa yaitu wartawan,
reporter, sutradara, penyiar radio atau penyiar televisi adalah
komunikator terlembagakan (institutionalized comunicator).
20
5. Sifat efek di dalam komunikasi massa terpengaruh oleh tujuan
komunikator
di
dalam
penyampaian
pesan,
pesan
yang
disampaikan bersifat two step flow of communication, pesan yang
disampaikan melalui beberapa tahap media dan opinion leader.
Akan tetapi pesan yang disampaikan akan berefek tertunda atau
tidak langsung.
Peneliti mencoba menerapkan proses komunikasi massa di
dalam subjek film, bagaimana film sebagai salah satu media masa
menyampaikan pesan kepada khalayak dan bagaimana efek yang
ditimbulkan di dalam khalayak terhadap pesan yang disampaikan di
dalam film tersebut (Effendy, 2002:51-54).
d. Komunikasi Bermedia
Proses komunikasi bermedia disebut juga komunikasi tidak
langsung, ini dikarenakan komunikasi bermedia menggunakan media
masa
sebagai
media
penyampaian
pesan,
sehingga
proses
komunikasi ini tidak menimbulkan arus balik secara langsung. Arus
balik secara tidak langsung ini akan menimbulkan efek-efek
komunikator tidak mengetahui tanggapan dari khalayak terhadap
pesan yang disampaikan.
Selain komunikator yang tidak bisa mengetahui tanggapan
khalayak, komunikator juga kurang memahami khalayak secara
keseluruhan, ini dikarenakan proses komunikasi massa dimana target
masa yang banyak dan juga bersifat heterogen. Permasalahan ini
21
akan menimbulkan berbagai permasalahan di dalam khalayak antara
lain kesalahpahaman pesan yang akan berujung dengan konflik di
dalam khalayak.
Komunikator harus peka dan mempunyai banyak pengetahuan
mengenai khalayak yang menjadi sasaran antara lain komunikator
harus mengetahui sifat-sifat komunikan yang akan dituju dan
mengetahui sifat-sifat media yang akan digunakan
(Effendi,
2006:10).
Peneliti mengamati proses komunikasi massa dengan media
film ini bahwa sutradara mencoba mengangkat permasalahan
keagamaan di dalam sebuah karya film dimana penggambaranpenggambaran konflik dan interaksi keagamaan, pluralitas dan
pluralisme agama lebih condong ke salah satu agama yang diangkat
di dalam film. Bahkan sutradara kurang memahami pesan yang akan
disampaikan kepada masyarakat, sehingga menimbulkan kontroversi
dan konflik di dalam khalayak.
3. Pluralisme Agama
Pluralisme Agama (Religious Pluralism) adalah istilah khusus
dalam kajian agama­agama. Sebagai „terminologi khusus‟, istilah ini
tidak
dapat
dimaknai sembarangan,
misalnya
disamakan
dengan
makna istilah „toleransi‟, „saling menghormati‟ (mutual respect), dan
sebagainya. Pluralisme agama berarti semua agama adalah jalan yang
sama-sama sah menuju Tuhan yang sama (Husaini, 2010:1).
22
Dalam kamus umum bahasa Indonesia, ”toleransi” berarti sifat atau
sikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian
(pendapat pandangan kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dsb) yang lain
atau bertentangan dengan pendiriannya sendiri: agama (ideologi, ras, dsb)
(Purwadarminta, 2010:1288). Contohnya adalah toleransi antar umat
beragama dimana masyarakat saling menghormati dan saling menghargai
satu sama lain. Sehingga terjalin kerukunan dan keserasian di dalam
kehidupan beragama.
Dalam pengertian toleransi menurut kamus Bahasa Indonesia jelas
berbeda jika ditelah lebih lanjut, dimana pluralisme tidak bisa diartikan
sama dengan toleransi beragama, seringkali masyarakat salah dalam
mengartikan. Dimana pluralisme agama lebih mengartikan bahwa semua
agama menuju pada tujuan yang sama dan menuju pada Tuhan yang sama.
Ini bertentangan dengan pengertian di dalam semua agama dimana setiap
agama mempuyai keyakinan bahwa mereka mempunyai satu Tuhan
sebagai pengayom dalam hidupnya.
Di dalam setiap agama sendiri mempunyai keyakinan sendirisendiri terhadap Tuhannya dan tidak bisa di bilang satu Tuhan untuk
semuanya/menuju Tuhan yang sama. Dalam pengertian tersebut sangatlah
bertentangan dengan pemahaman Tuhan di dalam setiap agama. Agama
Islam dalam Al-Qur‟an disebutkan bahwa Islam adalah Agama yang
rahmatan lil alamin dimana di katakan dalam Al-Qur‟an surat Ali ‟Imran
ayat 19.
23
Artinya : Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah
Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al
Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka,
karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa
yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah
sangat cepat hisab-Nya.
Dalam ayat diatas bisa dilihat bahwa dalam Agama Islam
mengajarkan bahwa agama yang paling benar dan diridhai oleh Allah
hanyalah Islam.
Di dalam agama Islam sendiri ada tokoh yang mempunyai
pandangan yang berbeda mengenai pluralisme agama. Salah satu tokoh itu
adalah Prof. Dr. Nurcholish Madjid atau yang lebih akrap dipanggil Cak
Nur, di dalam pemahamanya mengenai pluralisme, Cak Nur sangat
concren dan commited. Dimana Cak Nur kurang kurang lebih setuju
dengan paham ini akan tetapi ia menghendaki pengertian pluralisme ini
sejalan dengan Al-Qur‟an agar pengertian pluralisme tidak mempunyai arti
yang ambigu dan mempunyai titik temu. Dasar dari pemikiran Cak Nur ini
merujuk pada semangat humanistik di dalam Islam, bahwa Islam adalah
agama kemanusiaan (fitrah), dan merujuk pada misi Nabi Muhammad
SAW untuk mewujudkan rahmad bagi seluruh manusia (Achmad,
2001:45).
24
Dari pandangan pluralisme Islam menurut Cak Nur diatas, bahwa
Islam juga mempunyai pemaknaan positif terhadap pluralisme, akan tetapi
Islam merujuk pada Al-Qur‟an untuk memahami makna pluralisme.
Dimana menurut Cak Nur beranggapan semua agama menuju kepada satu
kebaikan, akan tetapi keyakinan untuk mempercayai Tuhan sebagai
sandaran di dalam kehidupan umat beragama merujuk pada keyakinan
masing-masing agama, ini merujuk pada sekalipun semua agama pada
intinya sama dan satu tetapi maninfestasi sosio kulturalnya secara historis
berbeda-beda (Achmad, 2001:45).
Pemikiran Cak Nur ini juga di dasarkan Al-Qur‟an Al-Ankabut
ayat 46 :
”Kamu janganlah berbantah-bantahan dengan para penganut kitab
suci (yang lain) melainkan dengan sesuatu (cara) yang lebih baik
(paskahlnya; sopan, tenggang rasa), terkecuali terhadap orang-orang yang
zalim dari mereka. Dan katakanlah, ”kami beriman dengan ajaran (kitab
suci) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada kamu.
Tuhanku dan Tuhan mu adalah satu, dan kita sama (semua) pasrah
(muslimun) kepada Nya”.
Walaupun sejarah awal dari pluralisme diyakini lahir dari agama
Kristen akan tetapi agama Kristen juga mempunyai doktrin ”no salvation
outside Cristianity” dimana dalam Agama Kristen Katolik mempunyai
pandangan sendiri mengenai bagaimana arti dari Pluralisme, dimana
Vatikan menerbitkan penjelasan „Dominus Jesus‟. Penjelasan ini,
25
selain menolak paham pluralisme agama, juga menegaskan kembali
bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya pengantar keselamatan
Ilahi dan tidak ada orang yang bisa ke Bapa selain melalui Yesus
(Husaini, 2010:13).
Walaupun di dalam Konghucu masalah pluralisme tidak
dijelaskan banyak akan tetapi dalam ayat yang kelima menyatakan
“Jangan inginkan apa yang tidak layak dan jangan lakukan apa yang tidak
patut.” Bahwa di dalam Agama Konghucu mengajak agar para
pemeluknya mengerjakan apa yang patut dalam dirinya dan di dalam
agamanya (Nurjanah, 2011:61).
4. Encoding-Decoding
Dalam teori encoding-decoding menjelaskan tentang proses
penyampaian pesan kepada khalayak dimana komunikasi sebagai proses,
dimana
pesan
tertentu
dikirim
dan
kemudian
diterima
dengan
menimbulkan efek tertentu di dalam khalayak, efek yang berbeda yang
timbul di dalam masyarakat ini di akibatkan karena masyarakat mengolah
kembali pesan yang disampaikan dengan faktor-faktor yang beragam.
Sebuah pesan tidak lagi dipahami dan di ibaratkan sebagai paket atau bola
yang dikirim ke penerima paket (Alasuutari, 1999:2).
26
Gagasan yang sebaliknya bahwa pesan dikodekan oleh komunikan
dan kemudian diterjemahkan oleh penerima, berarti isi pesan yang dikirim
dan diterima tidak selalu sama, dan penonton juga dapat mengkodekan
program dengan berbeda. Di dalam model komunikasi Stuart Hall dalam
bagannya:
Bagan I. Model Komunikasi Stuart Hal
(Storey, 2008:14)
Digambarkan bahwa sebuah pesan atau makna yang menyangkut
produksi makna dan pembentukan isi makna dilakukan oleh pembuat
makna di dalam penenelitian ini pembuat makna adalah sutradara Film
Tanda Tanya yang membuat makna pluralisme dan sikap toleransi umat
beragama di dalam sebuah film, dimana sang sutradara Hanung Bramantya
mengencodingkan makna pluralisme dan nilai toleransi beragama di dalam
wacana yang bermakna dan pada tahap ketiga ketika makna sudah
bermakna, makna ini bebas di kendalikan, dalam proses terakhir proses
decoding yang dilakukan oleh khalayak, dimana khalayak dalam proses
resepsi menerjemahkan ulang atau mengolah makna yang disampaikan
dengan mengacu pada pengalaman, sejarah, dan faktor yang lainnya di
27
dalam masyarakat di sekelilingnya. Jadi melalui sirkulasi wacana,
‟produksi‟ menjadi ‟reproduksi‟ untuk menjadi ‟produksi lagi (Storey,
2006:13).
Sebuah pesan dapat mempunyai berbagai makna sebagaimana
penerima pesan memaknai pesan yang diterimanya, dimana semua efek
tergantung pada interpretasi pesan media. Makna dari pesan tidak sekedar
ditransmisikan akan tetapi keduanya senantiasa diproduksi: pertama oleh
sang pelaku encoding
(pelaku media) dalam penelitian ini sutradara film
dan konten film, dari bahan mentah dari kehidupan sehari-hari oleh
khalayak kaitannya pada lokasinya pada wacana-wacana lainnya (Storey,
2006:14).
Dalam tulisannya yang dimuat dalam Cultural Transformation :
The Politics of Resistence (1983, dalam Marris dan Tornham 1999 : 474,
475), Morley mengemukakan tiga posisi hipotetis di dalam mana pembaca
teks (program acara) kemungkinan mengadopsi:
1. Dominant (atau ‘hegemonic’) reading : pembaca sejalan dengan
kode-kode
program
(yang
didalamnya
terkandung
nilai-
nilai,sikap,keyakinan dan asumsi) dan secara penuh menerima
makna yang disodorkan dan dikehendaki oleh si pembuat
program.
2. Negotiated reading : pembaca dalam batas-batas tertentu sejalan
dengan kode-kode program dan pada dasarnya menerima makna
yang
disodorkan
oleh
si
pembuat
program
namun
28
memodifikasikannya sedemikian rupa sehingga mencerminkan
posisi dan minat-minat pribadinya.
3. Oppositional (‘counter hegemonic’) reading: pembaca tidak
sejalan dengan kode-kode program dan menolak makna atau
pembacaan yang disodorkan, dan kemudian menentukan frame
alternatif sendiri di dalam menginterpretasikan pesan/program
(http://sinaukomunikasi.wordpress.com/page/4/
diakses
pada
tanggal 25 Januari 2013).
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode encoding dan
dencoding, karena metode penelitian ini adalah salah satu metode utama
yang di gunakan dalam penelitian reception analysis, dimana penelitian ini
peneliti ingin mencoba mencari sebuah makna atas
pemahaman teks
media (cetak, elektronik, internet) dengan memahami bagaimana karakter
teks media dibaca oleh khalayak. Individu yang menganalisis media
melalui kajian reception memfokuskan pada pengalaman dan pemirsaan
khalayak (penonton/pembaca), serta bagaimana makna diciptakan melalui
pengalaman tersebut.
Peneliti ingin menerapkan sistem komunikasi televisual yang
diterapkan Stuart Hall dimana proses produksi dengan berbagai latar
belakang yang dilakukan oleh sutradara yang membentuk pesan yang
bermakna/encode yang dilakukan oleh media yang dimana pesan yang
bermakna itu terbuka untuk dipahami/dianalisis ulang oleh khalayak dan
29
proses yang terakhir adalah dimana khalayak medecodingkan pesan
tersebut.
5. Reception Analysis
Teori reception analysis mempunyai pengertian bahwa faktor
kontekstual mempengaruhi cara khalayak memirsa atau membaca media,
misalnya film atau acara televisi (Hadi, 2009:2). Analisis ini merupakan
bagian khusus dari studi khalayak yang mencoba mengkaji secara
mendalam proses aktual dimana wacana media diasumsikan melalui
praktek wacana dan budaya khalayak nya, reception analysis muncul pada
tahun 1970 oleh Morley, teori ini memahami makna, hubungan antara isi
dan media masa dan khalayak. Di dalam penelitian ini khalayak dilihat
sebagai active interpreter, mengajukan bahwa teks-teks dan penerimanya
adalah elemen pelengkap dari satu objek penyelidikan yang dengan
demikian alamat baik diskursif dan aspek-aspek sosial komunikasi.
Analisis ini mengasumsikan bahwa tidak ada "efek" tanpa
"makna", dimana dalam hal ini masyarakat memaknai kembali pesan yang
disampaikan oleh media dan pemaknaan yang dilakukan khalayak akan
menimbulkan efek yang beragam, dan efek inilah yang menjadi tahap
akhir dari penelitian ini. Menurut Denis Mc Quail (1997), Reception
analysis menekankan pada penggunaan media sebagai refleksi dari
konteks sosial budaya dan sebagai proses dari pemberian makna terhadap
sebuah pengalaman dan produksi kultural, budaya dan pengalaman
30
bermedia di dalam lingkungan khalayak mempengaruhi proses penerimaan
khalayak terhadap pesan media.
Teori reception analysis mempunyai ciri utama berfokus pada isi,
di dalam mengartikan teks, untuk membaca teks kita harus dapat
menafsirkan lambang dan strukturnya. Dalam membaca suatu teks
khalayak tidak hanya mengartikan suatu teks tersebut akan tetapi juga
menafsirkan dalam struktur keseluruhan sehingga khalayak bisa memaknai
secara utuh (Baran dan Dafis, 2010:304).
Jadi khalayak melakukan penafsiran kembali untuk menemukan
pesan yang disimpulkan dengan pemahaman khalayak dengan berbagai
pengaruh di dalam lingkungan khalayak. Mempelajari secara mendalam
proses-proses yang sebenarnya melalui wacana media berasimilasi dengan
wacana dan praktek budaya penonton.
Salah satu standar untuk mengukur
menggunakan
reception
analysis,
memberikan sebuah makna atas
dimana
khalayak media adalah
analisis
ini
mencoba
pemahaman teks media (cetak,
elektronik, internet) dengan memahami bagaimana karakter teks media
dibaca oleh khalayak. Individu yang menganalisis media melalui kajian
reception memfokuskan pada pengalaman khalayak mengkonsumsi media
(penonton/pembaca), serta bagaimana
makna diciptakan melalui
pengalaman tersebut. Konsep teoritik terpenting dari reception analysis
adalah bahwa teks media penonton/pembaca atau program televisi
bukanlah makna yang melekat pada teks media tersebut, tetapi makna
31
diciptakan dalam interaksinya antara khalayak (penonton/pembaca) dan
teks. Dengan kata lain, makna diciptakan karena menonton atau membaca
dan memproses teks media (Hadi, 2008:2).
Di dalam teori ini khalayak diposisikan sebagai khalayak yang
aktif publik di mana khalayak merupakan partisipan aktif dalam publik.
Publik merupakan kelompok orang yang terbentuk atas isu tertentu dan
aktif mengambil bagian dalam diskusi atas isu-isu yang dikemukakan.
Khalayak yang memposisikan dirinya sebagai khalayak aktif
menggunakan media sebagai refleksi dari kebiasaan dan budaya yang ada
di lingkungan mereka tinggal, pengaruh budaya dan pengetahuan mereka
yang dipengaruhi lingkungan khalayak sangat mempengaruhi dimana
khalayak mengolah dan memahami pesan media. Menurut McQuail
(1997) reception analysis menekankan pada penggunaan media sebagai
refleksi dari konteks sosial budaya dan sebagai proses dari pemberian
makna melalui persepsi khalayak atas pengalaman dan produksi.
Pengalaman khalayak dan budaya yang diadaptasi khalayak satu
dengan yang lain berbeda-beda, sehingga dalam memaknai sebuah pesan
khalayak mempunyai berbagai perspektif pemaknaan di dalam diri
mereka, permasalahan sederhana yang dialami oleh pelaku media dalam
menyampaikan pesan melalui media masa adalah kurangnya pengetahuan
mereka terhadap budaya dan pemahaman masyarakat terhadap pesan yang
akan mereka sampaikan.
32
Pelaku media cenderung menggunakan pengetahuan umum mereka
di dalam membuat sebuah pesan yang akan disampaikan, sehingga efek
yang ditimbulkan pun akan beragam di dalam khalayak, pemaknaan yang
berbeda seringkali akan menimbulkan konflik di dalam khalayak, bahkan
bisa menimbulkan perubahan budaya di dalam masyarakat.
Di dalam analisis reception analysis terdapat tiga paradigma yaitu :
1. Reception analysis
Kelahiran studi penerimaan dalam penelitian komunikasi massa di
tahun
(1974) Stuart Hall Encoding dan Decoding dalam Wacana
Televisi, Dalam teori encoding-decoding menjelaskan tentang proses
penyampaian pesan kepada khalayak dimana komunikasi sebagai
proses, dimana pesan tertentu dikirim dan kemudian diterima dengan
menimbulkan efek tertentu di dalam khalayak, efek yang berbeda yang
timbul di dalam masyarakat ini di akibatkan karena masyarakat
mengolah kembali pesan yang disampaikan dengan faktor-faktor yang
beragam. Sebuah pesan tidak lagi dipahami dan di ibaratkan sebagai
paket atau bola yang dikirim ke penerima paket.
2. Audiance Ednografi
Dalam study Audience Ednografi ada tiga pedoman kepada paradigma
audiance Ednografi, Studi ini berkonsentrasi pada politik gender.
Yang pertama pada wacana di mana gender dibahas dalam isi media,
dan bagaimana khalayak menafsirkan dan memanfaatkan media yang
di konsumsi dengan afiliasi kehidupan sehari-hari dan pengalaman
33
khalayak dalam memahami pesan media. Yang kedua adalah dimana
berkembangnya teknologi media baru yang mempengaruhi konten
televisi dalam kehidupan sehari-hari yang empengaruhi keberadaan
gender. Dan yang ketiga adalah bagaimana penerimaan khalayak
terhadap pesan yang disampaikan terhadap kehidupan sehari-hari
dalam tahap ini adalah mengenai bagaimana efek media terhadap
kehidupan khalayak.
3. Pandangan Konstruksionis
Di dalam fase ini lebih menekankan pada pendekatan Konstruksionis.
Paradigma
ini
memberi
pemahaman
tentang
media
tentang
pengalaman posmoderenisme, dalam fase ini membahas mengenai apa
media itu dan penggunaan media oleh khalayak. Akan tetapi lebih
mengacu pada budaya bermedia, kususnya penggunaan media di
dalam kehidupan sehari-hari (Alasuutari, 1999:2-9).
F. METODOLOGI PENELITIAN
1. Jenis Penelitian
Penelitian khalayak dengan menggunakan metode reception
analysis ini menggunakan metode penelitian kualitatif, penelitian
reception analysis ini dilakukan untuk memfokuskan pada produksi, teks
dan konteks. Makna polisemi teks dan hubungannya dengan khalayak
dalam menginterpretasi teks dalam cara yang berbeda-beda menjadi titik
yang sangat krusial dalam studi reception. Karena dalam pemaknaan teks,
34
memori individu memberikan arti dalam mengkonstruksi dan memahami
teks media (Hadi, 2008:4).
Di dalam metode reception analysis terdapat poin penting yang
digunakan di dalam menjalankan metodologi ini, menurut Jensen
(1991:139) tiga elemen/tahapan dari metodologi ini yaitu collection or
generation of data centers on the audience side. Di dalam tahap ini data
yang dikumpulkan dari audience di dalam penelitian dengan metode
reception analysis, melalui berbagai metode pengambilan data yaitu
wawancara, obserfasi dan metode lainnya.
Reception analysis merujuk pada sebuah komparasi antara analisis
tekstual wacana media dan wacana khalayak, yang hasil menginterpretasi
merujuk pada konteks, seperti cultural setting dan context atas isi media
lain (Jensen dalam Hadi, 2003:139). Khalayak dilihat sebagai bagian dari
interpretive communitive yang selalu aktif dalam mempersepsi pesan dan
memproduksi makna, tidak hanya sekedar menjadi individu pasif yang
hanya menerima saja makna yang diproduksi oleh media massa (Mc
Quail, 1997:19).
2. Subjek penelitian
Penelitian ini dilakukan di Universitas Muhammadiyah Surakarta
dengan menggunakan informan mahasiswa Universitas Muhammadiyah
Surakarta,
peneliti
mengambil
informan
mahasiswa
Universitas
Muhammadiyah Surakarta dikarenakan universitas ini berbasis keilmuan
dan keagamaan, sehingga mahasiswa yang mempunyai berbagai latar
35
belakang sosial dan agama sedikit mengerti tentang Agama Islam yang
menjadi permasalahan dominan di dalam film “?” yang digunakan peneliti
sebagai subjek penelitian ini, sehingga mahasiswa sebagai informan biasa
mengerti masalah dan membantu pengayaan di dalam memahami film
yang menjadi acuan penelitian.
Adapun kriteria dalam menentukan informan adalah penonton
yang menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surakarta
dengan afiliasi sosial dan agama yang berbeda yaitu dengan afiliasi
mahasiswa aktifis IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), tidak
memiliki latar belakang keorganisasian atau netral dan mahasiswa yang
beragama Kristen. Ini dikarenakan di dalam film “?” ini mengangkat
tentang konflik sosial dan agama. Peneliti mengambil informan yang
berbeda-beda untuk mendapatkan data yang berimbang.
Langkah pertama yang dilakukan peneliti adalah melakukan
interview mendalam dengan informan, dengan berbagai faktor yang
mungkin mempengaruhi seperti bagaimana teks media yang dilihat atau
dibaca. Bagaimana pengalaman seseorang atas teks media dari perspektif
posisi subjek. Bagaimana makna teks media bagi kelompok umur tertentu,
termasuk dari faktor agama, faktor kaum minoritas, faktor sejarah, faktor
sosial dan budaya, faktor pendidikan, jenis kelamin, dan sebagainya.
Sumber lain yang bisa digunakan untuk mendukung analisis, disamping
tinjauan pustaka (konseptual teoritik) dan review literature, adalah dengan
membaca surat pembaca ke editor, kolom gosip, artikel surat kabar dan
36
majalah, iklan, press releases, dan bentuk publisitas lain yang mendukung
(Hadi, 2008:6).
Akan tetapi peneliti tidak menggunakan (FGD) Focus Group
Discussion dalam penelitian ini, ini dikarenakan untuk mendapatkan data
yang sebenarnya menurut nara sumber dengan pengetahuan yang mereka
miliki tanpa terpengaruh orang lain, ini dimaksudkan agar informan tidak
terpengaruh dengan pemikiran nara sumber lainnya.
3. Objek Penelitian
Peneliti menggunakan Objek penelitian film “?” (Tanda Tanya)
karya sutradara Hanung Bramantya sebagai pokok penelitian, dengan
mengacu pada permasalahan sikap dan nilai toleransi antar umat
beragama, pluralitas yang terjadi di Indonesia, dan isu nilai pluralisme
agama yang menjadi isu yang sangat sensitif yang terkandung di dalam
film ini.
4. Metode Analisis
Metode yang akan peneliti gunakan adalah reception analysis atau
audience analysis. Dimana di dalam analisis ini peneliti ingin meneliti
proses penerimaan khalayak terhadap pesan yang disampaikan di dalam
film “?” (Tanda Tanya) karya Hanung Bramantya, penerimaan khalayak
terhadap pesan toleransi antar umat beragama, dan isu-isu pesan
pluralisme agama yang terdapat di dalam film ini.
Peneliti menggunakan metode encoding-decoding Stuart Hall di
dalam melakukan penelitian berbasis penerimaan khalayak atau reception
37
analysis. Dimana peneliti ingin mengetahui bagaimana Hanung Bramantya
mengencodingkan film “?” (Tanda Tanya) dan selanjutnya bagaimana
khalayak mendecodingkan pesan yang disampaikan komunikator.
Peneliti mencoba mencari sebuah makna atas pemahaman teks
media (cetak, elektronik, internet) dengan memahami bagaimana karakter
teks media dibaca oleh khalayak. Individu yang menganalisis media
melalui kajian reception memfokuskan pada pengalaman dan pemirsaan
khalayak (penonton/pembaca), serta bagaimana makna diciptakan melalui
pengalaman tersebut.
5. Jenis dan Sumber Data
Dalam penelitian ini menggunakan 2 jenis sumber data, yaitu
primer dan sekunder :
a. Data Primer
Di dalam penelitian ini peneliti membutuhkan data primer,
yang berupa data wawancara dengan nara sumber yang sudah dipilih
dan diseleksi oleh peneliti, data diperoleh dari wawancara kepada
informan secara mendalam (in-depth interview). Dalam penelitian ini
peneliti melakukan wawancara dengan informan yang sudah menonton
film “?” (Tanda Tanya).
Wawancara adalah suatu cara pengumpulan data yang
digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari narasumber.
Wawancara dilakukan untuk memperoleh data secara langsung dari
38
narasumber dengan jumlah narasumber yang sedikit (Riduwan,
2010:74).
b. Data Sekunder
Selain data primer peneliti juga membutuhkan data sekunder,
yang meliputi buku-buku referensi yang mendukung penelitian,
penelitian-penelitian terdahulu, jurnal, arsip foto, rekaman, gambar
atau diagram, dan informasi yang mendukung lainnya.
6. Teknik Menentukan Informan
Peneliti menentukan informan yang ingin diteliti dengan dipilih
secara purposive sampling untuk memperoleh data yang dibutuhkan.
Untuk teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling,
yaitu teknik pengambilan sampel tidak secara acak, tetapi dipilih dengan
sengaja
pada
informan
yang memenuhi
kriteria
sesuai
dengan
kebijaksanaan peneliti (Patton, 2002: 243).
Informan tersebut adalah mahasiswa dengan afiliasi umum,
mengikuti organisasi IMM dan beragama Kristen. Dari afiliasi yang dipilih
ini diharapkan mendapatkan data yang beragam dan mendukung hasil
penelitian yang dilakukan.
7. Teknik Pengumpulan Data
Teknik data di dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan
metode survei yaitu penelitian yang dilakukan terhadap populasi besar
atau populasi kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data yang diambil
dari sampel populasi (Ridwan dalam Kerlinger, 2002:49). Di dalam tahap
39
survei dilakukan proses wawancara yang mendalam kepada narasumber
yang sudah di tentukan peneliti sebagai sampel populasi yang akan
dipelajari.
Sebelum melakukan wawancara mendalam, peneliti memberikan
film “?” (Tanda Tanya) yang menjadi objek penelitian. Ini bertujuan untuk
memberikan
gambaran
permasalahan
kepada
khalayak
sebelum
memberikan penerimaan mereka terhadap nilai-nila toleransi, pluralitas
dan pluralisme agama di dalam film “?” (Tanda Tanya) ini.
Sesudah memberikan film “?” (Tanda Tanya) kepada informan dan
para informan sudah menonton dan menyimpulkan, peneliti dalam tahap
selanjutnya melakukan wawancara yang mendalam terhadap informan
yang sudah ditentukan, dimana wawancara dilakukan dengan menitik
beratkan pada permasalahan yang diangkat oleh peneliti yaitu nilai-nilai
toleransi antar umat beragama, pluralitas dan isu-isu pluralisme agama
yang terkandung di dalam film “?” (Tanda Tanya).
Peneliti sengaja tidak memasukkan proses FGD (Focus Group
Discussion) di dalam penelitian ini, karena ditakutkan data yang dihasilkan
di dalam penelitian ini akan terpengaruh terhadap pemikiran informan
yang lainnya. Ini bertujuan agar data yang diberikan oleh informan adalah
data yang sebenarnya dari pemikiran informan. Serta melakukan studi
pustaka (literature research) melalui buku-buku, literatur, internet, dan
sumber-sumber lainnya.
40
8. Analisis Data
Menurut Bogdan & Biklen, analisis data kualitatif adalah upaya
yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan
data, memilah-milah nya menjadi satuan yang dapat dikelola,
mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa
yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat
diceritakan kepada orang lain (Moleong, 2008: 248)
Teknik analisis data yang akan peneliti lakukan adalah sebagai
berikut:
1.
Menyeleksi
Peneliti memilih dan melakukan wawancara kepada informan
yang sesuai dengan kriteria dari peneliti.
2.
Mengklasifikasi
Peneliti menetapkan posisi reception informan (accepting,
negotiated, oppositional dan aspek perbedaan latar belakang
mahasiswa dengan afiliasi umum, IMM (Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah) dan beragama Kristen
3.
Menganalisis
Selanjutnya peneliti menganalisis data wawancara yang sudah
didapat dan menentukan bagaimana penerimaan mahasiswa
berdasarkan afiliasi yang sudah ditentukan yaitu mahasiswa
dengan afiliasi umum, IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah)
dan beragama Kristen.
41
9. Alur Penelitian
Alur penelitian dari penelitian ini adalah melihat bagaimana
terjadinya konflik di dalam masyarakat terutama para elit agama/
organisasi agama yang disebabkan oleh beredar nya film “?” (Tanda
Tanya) yang disutradarai oleh Hanung Bramantya. Dimana film ini
diisukan mengandung isu SARA dan penyebaran ideologi pluralisme
agama yang dianggap sebagai ancaman bagi agama-agama yang menganut
paham kebenaran tunggal terhadap agama yang di yakini nya.
Unsur-unsur yang dipermasalahkan di dalam film ini meliputi
penghinaan dan penistaan agama, isu SARA, dan proses penyebaran
pesan-pesan dan ajaran-ajaran tentang pluralisme agama.
Melihat dari permasalahan di atas peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian ini dan mencari tahu bagaimana sebenarnya penerimaan
masyarakat dari berbagai sudut pandang sosial dan agama yang berbeda,
konflik yang paling menonjol di dalam media dimana kebanyakan
khalayak yang menentang dan mempermasalahkan film ini adalah dari
kaum elit agama/ para ORMAS (organisasi massa). Inilah yang menjadi
poin penting yang mendorong peneliti untuk meneliti film “?” (Tanda
Tanda Tanya) untuk mengetahui bagaimana sebenarnya penerimaan
khalayak terhadap pesan dan isi di dalam film ini.
42
Bagan II
Kerangka pemikiran
Film ? (Tanda Tanya)
Toleransi Agama
Konflik sosial,
budaya dan agama
Pluralisme Agama
1. Encoding
2. Decoding
Reception Analysis
Kesimpulan
”Analisis Penerimaan Mahasiswa Universitas
Muhammadiyahh Surakarta Terhadap NilaiNilai Toleransi Antar Umat Beragama dan
Pluralisme Dalam Film ”?” (Tanda Tanya)
Download