35 pengaruh aktifitas fisik aerobik sesaat terhadap kadar glukosa

advertisement
35
PENGARUH AKTIFITAS FISIK AEROBIK SESAAT TERHADAP KADAR
GLUKOSA DARAH PUASA PADA MAHASISWA ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
Novita Sari Harahap1
1
Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Medan.
Abstrak.Aktifitas fisik memiliki peranan yang sangat penting dalam
mengendalikan kadar gula dalam darah, dimana saat melakukan aktifitas
fisik terjadi peningkatan pemakaian glukosa oleh otot yang aktif sehingga
secara langsung dapat menyebabkan penurunan glukosa darah. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh aktifitas aerobik
sesaat terhadap kadar glukosa darah puasa. Penelitian ini merupakan
Kuasi-eksperimental dengan rancangan pre-post-test group design. Subjek
penelitian sebanyak 10 orang diambil dengan menggunakan tehnik
purposive sampling. Kadar glukosa darah diukur sebelum dan setelah
aktifitas fisik aerobik. Analisis data menggunakan uji t- berpasangan untuk
mengetahui perbedaan sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil penelitian
menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan setelah
aktifitas fisik aerobik sesaat terhadap penurunan kadar glukosa darah
puasa (82,5±11,58 vs 70,0±7,05; p=0,023). Kesimpulannya yaitu aktivitas
fisik aerobik memiliki pengaruh terhadap penurunan kadar glukosa darah
puasa.
Kata Kunci : Aktifitas fisik aerobik, Glukosa darah
PENDAHULUAN
Kemajuan ekonomi yang pesat dan
pola hidup sehat yang kurang terkontrol
dapat menyebabkan munculnya berbagai
penyakit yang serius. Penyakit degeneratif
yang menonjol saat ini adalahpenyakit
jantung, hipertensi, dan diabetes melitus.
Peningkatan kadar glukosa di atas normal,
cenderung terjadi pada orang dengan
obesitas yang malas dan kurang beraktifitas,
sehingga menyebabkan otot kurang gerak
sehingga penimbunan lemak semakin
meningkat karena lemak tidak dijadikan
energi untuk pergerakan otot. Penimbunan
lemak dapat mengaktivasi sekresi mediator
kimia yaitu leptin. Leptin ini bersifat
merusak fungsi reseptor insulin dan
penurunan jumlah reseptor insulin.
Saat ini perhatian penyakit tidak
menular
semakin
meningkat
karena
frekuensi kejadiannya pada masyarakat
semakin meningkat. Dari sepuluh penyebab
utama kematian, dua diantaranya adalah
penyakit tidak menular, yaitu penyakit
kardiovaskuler dan diabetes mellitus.
Keadaan ini terjadi di dunia, baik di negara
maju maupun di negara dengan ekonomi
rendah dan menengah.
Aktifitas fisik memiliki peranan yang
sangat penting dalam mengendalikan kadar
gula dalam darah, dimana saat melakukan
aktifitas fisik terjadi peningkatan pemakaian
glukosa oleh otot yang aktif sehingga secara
langsung dapat menyebabkan penurunan
glukosa darah. Selain itu dengan aktifitas
fisik dapat menurunkan berat badan,
meningkatkan fungsi kardiovaskuler dan
respirasi,
menurunkan
LDL
dan
meningkatkan HDL sehingga mencegah
penyakit jantung koroner apabila latihan
fisik ini. dilakukan secara benar dan teratur.
Aktifitas fisik sub maksimal, dimana
glukosa merupakan sumber energi yang
dominan. Pada aktifitas fisik aerobik
36
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian
eksperimental dengan pretest dan posttest
design. Penelitian dilakukan di Lapangan
Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas
Negeri Medan dan Laboratorium Kesehatan
Daerah Sumatera Utara selama bulan April
2017. Subjek penelitian adalah 10
mahasiswa Ilmu Keolahragaan Universitas
Negeri Medan yang dipilih dengan
menggunakan metode purposive sampling.
Sebelum pengumpulan data, peneliti
menjelaskan kepada calon responden
tentang tujuan dan manfaat penelitian.
Kemudian meminta persetujuan dari calon
responden untuk menjadi responden dengan
menandatangani
lembar
persetujuan
informed consent.
Para responden diambil darahnya
melalui vena mediana cubiti untuk
mengetahui kadar glukosa darah puasa (data
pre test) sebelum melakukan aktifitas fisik
aerobik. Satu jam kemudian, subjek
penelitian melakukan aktivitas fisik aerobik
yaitu naik turun bangku (Harvard Step Test).
Data yang didapat dianalisis sesuai untuk
data parametrik dengan program SPSS V
22.0 for windows dengan tingkat signifikan
p≤0,05. Uji yang dilakukan analisis bivariat
yaitu uji t-berpasangan untuk mengetahui
perbedaan kadar glukosa darah puasa
sebelum dan setelah aktifitas fisik aerobik,
yang didahului dengan uji normalitas
Kolmogorov-Smirnov.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengukuran kadar
glukosa darah puasa sebelum aktifitas fisik
aerobik pada 10 subjek penelitian,
didapatkan rerata kadar glukosa darah puasa
sebesar 82,5 mg%. Kadar gula darah puasa
tertinggi didapatkan sebesar 100 mg% dan
terendah sebesar 68 mg%. Standar deviasi
dari kadar glukosa darah puasa sebelum
aktifitas fisik aerobik adalah sebesar 11,58
mg%, seperti tercantum pada tabel 1.
Sesaat
setelah
aktifitas
fisik,
pengukuran kembali dilakukan terhadap 10
subjek penelitian dan didapatkan hasil rerata
kadar glukosa darah puasa setelah
melakukan aktifitas fisik aerobik sesaat
sebesar 70,0 mg% dengan standar deviasi
sebesar 7,05. Kadar glukosa darah puasa
terendah yang diperoleh sebesar 60 mg%
dan kadar maksimum sebesar 81 mg%,
seperti tercantum pada tabel 1.
Tabel 1. Kadar rerata Gula Darah
Puasa sebelum dan sesudah aktifitas
aerobik sesaat
N
Mean±SD
Sebelumaktifitasaerobik
10
82,5±11,58
Setelahaktifitasaerobik
10
70,0±7,05
p
0,023*
Keterangan:
* = signifikan ( p≤0,05), N= jumlah
sampel, SD : simpangan baku,
Hasil uji statistik dengan uji tberpasangan didapatkan p-value sebesar
0,023 yang berarti terdapat perbedaan yang
signifikan kadar glukosa darah puasa
sebelum dan setelah aktifitas fisik aerobik
sesaat. Hal ini ditunjukkan dengan adanya
penurunan yang signifikan terhadap kadar
glukosa darah puasa sesudah aktifitas fisik
sesaat.
100
KGD (mg%)
intensitas sedang post absorbsi terjadi
keseimbangan antara peningkatan utilisasi
glukosa dan produksi glukosa. Penurunan
kadar glukosa darah berhubungan dengan
peningkatan glukosa transporter karena
simulasi oleh hormon insulin.
Jenis olah raga yang dianjurkan pada
penderita DM adalah olahraga aerobik yang
bertujuan untuk meningkatkan kesehatan
dan
kebugaran
tubuh
khususnya
meningkatkan
fungsi
dan
efisiensi
metabolisme tubuh.
Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui adanya pengaruh aktifitas
aerobik sesaat terhadap kadar glukosa darah
puasa.
80
60
40
20
0
KGD Puasa sebelum KGD Puasa sesudah
Gambar 1. Perbandingan kadar rerata Gula
Darah Puasa sebelumdan sesudah aktifitas
aerobik sesaat
37
PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
rata-rata kadar glukosa darah puasa sebelum
melakukan aktifitas fisik sebesar 82.5±11,58
mg%, kemudian setelah dilakukan aktifitas
fisik aerobik sesaat terjadi penurunan ratarata kadar glukosa darah puasa sebesar
70,0±7,05 mg% (Tabel 1). Berdasarkan uji tberpasangan diperoleh nilai p=0,023
(p<0,05) berarti menyatakan adanya
pengaruh yang signifikan, aktifitas fisik
sesaat terhadap penurunan kadar glukosa
darah puasa. Hasil penelitian ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh
Henriksen (2002), Fatoni (2005) dan Guelfi
(2007), bahwa aktifitas fisik aerobik dapat
secara signifikan menurunkan kadar glukosa
darah.
Pengaruh aktifitas fisik terhadap
penurunan kadar gula darah yaitu pada otototot yang aktif bergerak tidak diperlukan
insulin untuk memasukan glukosa ke dalam
sel karena pada terhadap insulin sehingga
asupan glukosa yang dibawa glukosa
transporter ke dalam sel meningkat.
Aktifitas fisik ini pula yang kemudian
menurunkan kadar glukosa puasa pada
sampel yang diperiksa. Hal tersebut berarti
bahwa semakin giat melakukan aktifitas
akan semakin banyak mengeluarkan kalori
dan cenderung dapat mengendalikan glukosa
darah dalam batas normal. Karena glukosa
yang ada dalam darah hasil dari proses
pemecahan senyawa karbohidrat mampu
digunakan secara maksimal dalam proses
metabolisme yang dilakukan oleh sel-sel
otot guna untuk mencukupi kebutuhan kalori
dalam beraktivitas.
Penurunan kadar glukosa darah puasa
terjadi karena saat aktifitas fisik aerobik
berlangsung, glukosa yang berasal dari
glikogen yang berada di otototot akan
dipakai sebagai sumber tenaga. Sumber
tenaga atau energi diperlukan untuk proses
fisiologis yang berlangsung dalam sel-sel
tubuh. Proses ini meliputi kontraksi otot,
pembentukan dan penghantaran impuls
syaraf, sekresi kelenjar, dan berbagai reaksi
sintesis dan degradasi. Latihan fisik yang
lebih dari 20 menit menyebabkan sumber
tenaga dari glikogen otot berkurang karena
terus dipakai, selanjutnya akan terjadi
pemakaian
glukosa
darah
untuk
menggantikan glikogen otot.
Aktifitas
fisik
dapat
menjaga
kebugaran, menurunkan berat badan dan
memperbaiki sensitifitas insulin, sehingga
akan memperbaiki kendali gula darah.
Latihan fisik teratur 3-5 kali seminggu
selama kurang lebih 30-60 menit) akan
membuat otot – otot aktif bergerak. Otototot yang aktif akan memperbaiki sirkulasi
insulin dengan cara meningkatkan dilatasi
sel dan pembuluh darah sehingga membantu
masuknya gula ke dalam sel.
Hormon insulin dan glukagon bekerja
secara antagonis untuk mempertahankan
kadar glukosa dalam darah yang konstan,
yaitu sekitar 80-100 mg/dl bagi dewasa dan
80-90 mg/dl bagi anak, walaupun pasokan
makanan dan kebutuhan jaringan berubahubah sewaktu kita tidur, makan, dan bekerja.
Selama olahraga, sel-sel otot menggunakan
banyak glukosa dan bahan bakar nutrien lain
dari biasanya untuk kegiatan kontraksi otot.
Kecepatan transportasi glukosa ke dalam
otot yang digunakan dapat meningkat
sampai 10 kali lipat selama aktivitas fisik.
Mekanisme yang bertanggung jawab
terhadap peningkatan pengambilan glukosa
oleh otot-otot yang bekerja masih belum
jelas. Pada banyak sel termasuk otot yang
sedang istirahat, difusiterfasilitasi glukosa
bergantung pada hormon insulin.
PENUTUP
Kesimpulan.Dari
hasil
penelitian,
didapatkan bahwa terdapat perbedaan
pengaruh yang signifikan antara sebelum
dan setelah aktifitas fisik aerobik sesaat
terhadap penurunan kadar glukosa darah
puasa.
DAFTAR PUSTAKA
Cranmer H, Shannon M. Blood glucose
levels: medical reference from
healthwise.Hypoglycemia
Diabetes
Health Center, 2009.
Dinata M. Langsing dengan aerobik.
Jakarta: Cerdas Jaya, 2007.
Foss, ML, Keteyian, SJ. Physiological basis
for exercise and sport. Mc.GrawHill Companies:New York, 2006.
Ganong, W.F. 2010. Review of medical
physiology,Ganong’s. 23 rd edition.
38
The McGraw-Hill Companies.Inc.
USA, 2010.
Guyton & Hall.Textbook of Medical
Physiology, 11th edition. Elsevier
Saunders, Philadelphia, Pensylvania,
2008.
Janssen I, Leblanc AG.Systematic review of
the health benefits of physical activity
and fitness in school-aged children
and youth. Int J Behav Nutr Phys Act;
2010.
Lukács, A., Barkai, L. Effect of aerobic and
anaerobic exercises on glycemic
control in type 1 diabetic youths.
World J Diabetes, 2015
Puji Indriyani, P., Heru Supriyatno, H.,
Agus Santoso, A. Pengaruh Latihan
Fisik; Senam Aerobik Terhadap
Penurunan Kadar Gula Darah Pada
Penderita Dm Tipe 2 Di Wilayah
Puskesmas Bukateja Purbalingga.
Media Ners, Vol 1, No 2, 2007.
Riyadi dan Sukarmin. Asuhan Keperawatan
pada Pasien dengan Gangguan
Eksokrin
dan
Endokrin
pada
Pankreas. Yogyakarta. Graha Ilmu,
2008.
Sherwood L. Fisiologi Manusia Dari Sel Ke
Sistem. Edisi 6. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta, 2014.
Widiyanto.Latihan Fisik dan Glukosa. FIK
UNY, 2007.
Willmore, JH and Costill, DL .Physiology of
sport and exercise. USA: Human
Kinetics, 2008.
World
Heath
Organization.Global
Recommendations
on
Physical
Activity
for
Health.
Geneva.
Switzerland: WHO Press, 2010.
Zinman B, Ruderman N, Campaigne BN,
Devlin JT, Schneider SH. Physical
activity/exercise
and
diabetes
mellitus. Diabetes Care ; 26 Suppl 1:
S73-S77, 2003.
Download