Kebutuhan dan perilaku pencarian informasi petani

advertisement
2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Informasi
Teskey yang dikutip oleh Pendit (1992) membedakan antara data,
informasi, dan pengetahuan seperti berikut ini :
a. Data adalah hasil dari observasi langsung terhadap suatu kejadian atau
suatu keadaan; ia merupakan entitas (entity) yang dilengkapi dengan nilai
tertentu. Entitas ini merupakan perlambangan yang mewakili objek atau
konsep dalam dunia nyata. Misalnya, “temperatur” merupakan perlambangan
dari suatu keadaan tertentu dalam alam semesta. Sebuah data tentang
temperatur, misalnya adalah “air mendidih pada temperatur 100 derajat
celcius”. Data ini bisa disimpan dalam bentuk lebih kongkrit, misalnya dalam
bentuk tertulis, grafis, elektronik, dan sebagainya.
b. Informasi adalah kumpulan data yang terstruktur untuk memperlihatkan
adanya hubungan-hubungan entitas di atas. Jadi, misalnya “air mendidih
pada temperatur 100 derajat; bakteri kolera mati pada lingkungan
bertemperatur 100 derajat; maka “sebelum minum, masaklah air sampai
mendidih, agar terhindar dari kolera”, adalah satu informasi yang direkayasa
otak manusia ketika ia menemukan data tentang temperatur air dan tentang
bakteri kolera.
c. Pengetahuan adalah model yang digunakan manusia untuk memahami
dunia, dan yang dapat diubah-ubah oleh informasi yang diterima pikiran
manusia. Misalnya, pengetahuan manusia tentang kolera selama ini telah
diisi (dan diubah-ubah) sepanjang jaman oleh berbagai informasi tentang
penyakit itu dan cara pencegahannya.
Dalam dunia ilmu pengetahuan dan ilmu informasi, terjadi perubahan dalam
cara memandang informasi, yaitu paradigma kognitif dan paradigma fisik. Dalam
paradigma kognitif, informasi dipandang sebagai sesuatu yang subjektif,
individual dan tidak dapat disentuh, yang terjadi melalui proses konstruksi dalam
diri manusia. Kunci utama pada paradigma kognitif adalah individu pemakai.
Dalam hal ini, informasi merupakan sesuatu yang diciptakan (constructed or
created) oleh individu pemakai (Ellis, 1992). Paradigma fisik memandang
informasi sebagai suatu obyek, berada di luar manusia dan dapat disentuh
misalnya dalam bentuk buku, majalah, tesis dan bahan pustaka lainnya.
Paradigma fisik memfokuskan diri pada bentuk-bentuk nyata dalam suatu sistem
informasi. Informasi juga dikolaborasikan dalam kaitannya dengan fungsinya.
Beberapa fungsi informasi adalah mengurangi ketidakpastian, khususnya
sebagai
masukan
perencanaan
untuk
pemecahan
masalah,
pembuatan
keputusan,
dan peningkatan pengetahuan. Pada konsep ini informasi
berfungsi untuk menjelaskan suatu tugas dan mencapai tujuan (Dervin, 1992).
Dalam upaya memahami istilah informasi, beberapa ahli merumuskan
pengertian antara lain menurut Fabiosoff yang dikutip oleh Kaniki (1992) bahwa
informasi merupakan
sesuatu yang mengurangi ketidakpastian. McFadden
(1999) dan Davis (1999) yang dikutip oleh Kadir (2003) mendefinisikan informasi
sebagai data yang telah diproses sedemikian rupa sehingga meningkatkan
pengetahuan seseorang yang menggunakan data tersebut. Senada dengan itu,
Porat (1977) yang dikutip oleh Kurniadi (2004) mendefinisikan informasi sebagai
data
yang
diorganisir
dan
dikomunikasikan.
Kemudian
Kaniki
(1992)
merumuskan informasi sebagai ide, fakta, karya imajinatif pikiran, data yang
berpotensi untuk pengambilan keputusan, pemecahan masalah serta jawaban
atas pertanyaan yang dapat mengurangi ketidakpastian.
Definisi di atas lebih melihat informasi sebagai produk, benda kongkrit yang
berada di luar individu (eksternal). Pada paradigma fisik ini, komunikasi yang
terjadi dipandang sebagai proses transfer informasi dari pihak yang lebih
mengerti kepada pihak yang kurang mengerti. Informasi tersebut bersifat objektif.
Menurut Lien (1996), informasi obyektif yaitu bagian dari dunia informasi
yang diperlukan untuk suksesnya pencapaian tujuan pencari informasi, tidak
peduli apakah pencari informasi menyadarinya atau tidak.
Banyak penelitian komunikasi yang menggunakan paradigma fisik.
Misalnya, penelitian tentang respon petani terhadap informasi pada media cetak
atau elektronik, respon petani terhadap informasi yang disampaikan penyuluh.
Ada juga penelitian yang memandang informasi dari sudut pandang pengamat
(peneliti). Informasi dalam penelitiannya diartikan sebagai informasi yang objektif.
Penelitian Wijayanti (2003) tentang kebutuhan informasi petani tanaman hias
menampilkan informasi dari sudut pandang peneliti (observer). Informasi yang
dikaji adalah informasi objektif, yaitu informasi yang secara ideal harus
dimanfaatkan oleh petani, dipandang dari perspektif peneliti. Peneliti mengartikan
informasi sebagai data atau produk yang sudah tersedia di luar individu petani.
Penggalian kebutuhan informasi petani dilakukan dengan menyebar kuisioner
kepada100 orang responden. Analisis data dilakukan secara kuantitatif, dengan
8
mengukur tingkat kebutuhan informasi dengan memberi skor pada setiap
informasi. Misalnya, 1 = tidak dibutuhkan; 2 = agak dibutuhkan; 3 = dibutuhkan; 4
= sangat dibutuhkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan informasi
petani tanaman hias meliputi : informasi teknologi, permodalan, tempat usaha,
saprodi, dan pasar. Secara umum tingkat kelima kebutuhan petani akan
informasi tersebut berada dalam kategori tinggi.
Wiener mengartikan informasi sebagai sebuah sarana untuk mencapai
efektivitas dalam hidup, dan kita bersandar padanya untuk memperoleh
efektivitas tersebut. Kemudian Miller mendefinisikan informasi sebagai sebuah
kebutuhan, kebutuhan yang hadir pada saat kita dihadapkan pada suatu pilihan.
Semakin banyak pilihan yang hadir sebagai alternatif, semakin kuat pula
kebutuhan kita akan informasi. Definisi lainnya adalah dari Shannon, informasi
adalah sesuatu yang membuat pengetahuan kita berubah, yang secara logis
mensahkan perubahan, memperkuat atau menemukan hubungan yang ada pada
pengetahuan yang kita miliki (Kurniawan 2002).
Mengamati definisi-definisi di atas, informasi dipandang lebih berperan
sebagai sebuah komponen daripada sebuah produk dalam suatu perubahan.
Sebagai komponen, informasi akan menempatkan dirinya di tengah-tengah
proses informasi berada dalam posisi penggerak yang mendorong terjadinya
perubahan. Termasuk di sini bahwa informasi menjadi komponen perubahan
dalam kehidupan petani gurem pada lahan sawah tadah hujan.
Menurut Krikelas (1983) informasi adalah suatu rangsangan yang
menciptakan ketidakpastian, membuat seseorang sadar akan kebutuhan dan
menciptakan suatu perubahan dalam tingkat atas derajat tertentu. Sementara itu
menurut Pannen (1996) informasi adalah jawaban yang memberikan individu
jalan keluar dari permasalahan. Selanjutnya menurut Mangindaam dkk (1993)
dalam Hasyim (1999) informasi merupakan alat untuk membantu seseorang
mengatasi situasi problematik sehingga seseorang dapat kembali meneruskan
perjalanan kognitifnya. Sedangkan menurut Dervin (1992) informasi adalah
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada saat seseorang berada
dalam situasi problematika.
Definisi informasi tersebut mengartikan informasi sebagai sebuah jawaban
yang diperlukan individu di saat mengalami situasi bermasalah dalam melintasi
ruang dan waktu. Informasi pada definisi di sini dipandang dalam paradigma
kognitif yaitu sebagai sesuatu yang diciptakan dalam pikiran individu dan berada
9
di dalam individu (internal). Sehingga informasi tersebut bersifat subjektif, yaitu
bagian dari dunia informasi yang menurut si pencari informasi berguna baginya,
ada dalam status aktif yang menggerakkan proses berpikir si pemakai informasi.
Era paradigma pembangunan saat ini (empowerment : pemberdayaan)
menuntut lembaga pelayanan informasi (misalnya : lembaga penyuluhan, pusat
informasi pedesaan) dapat melayani kebutuhan informasi petani. Pada
paradigma ini, informasi harus digali dari perspektif petani bukan perspektif agen
pembangunan atau peneliti. Informasi yang dihasilkan pun benar-benar berasal
dari petani, bukan informasi yang sudah ditentukan oleh pihak luar. Ada proses
’dialog’ antara petani dengan agen pembangunan atau peneliti. Komunikasi yang
ada diartikan sebagai proses pertukaran informasi antar pelaku komunikasi.
Sebaiknya pendekatan yang dipakai tidak lagi berorientasi pada peneliti atau
sumber melainkan berorientasi kepada pemakai (petani). Untuk itu, penelitian ini
mencoba membantu lembaga-lembaga tersebut memperoleh masukan tentang
kebutuhan dan perilaku pencarian informasi petani gurem pada lahan sawah
tadah hujan di daerahnya. Penelitian ini akan berorientasi kepada pemakai
(petani).
Menurut Pannen (1996), asumsi dasar yang melandasi penelitian-penelitian
berorientasi kepada pemakai adalah :
a. Informasi adalah sesuatu alat berharga dan berguna bagi individu dalam
usahanya untuk bertahan hidup. Informasi berguna dan berharga karena
dapat mengurangi ketidakpastian yang dihadapi. Jika individu bergerak
dalam suatu ruang dan waktu, maka informasi mampu menjelaskan dan
memprediksi realitas dalam ruang dan waktu tersebut, sehingga individu
dapat terus bergerak dengan efektif.
b. Adanya ’universal truth’ tentang pemakai. Jika pemakai mempunyai atribut
sama, maka ia akan membutuhkan dan menggunakan informasi yang sama,
dan nilai informasi tersebut, juga akan sama bagi setiap pemakai. Dokter
akan memerlukan informasi yang sama dimanapun ia berada dan dalam
situasi apapun. Jika seseorang dokter memerlukan informasi x dan informasi
yang sama diberikan kepada dokter-dokter lain, maka informasi x tersebut
akan sama (obyektif).
c. Perbedaan antar pemakai, dan antara pemakai dengan sistem informasi
merupakan tujuan penelitian.
10
Dari beberapa definisi informasi di atas, informasi dalam penelitian ini
adalah informasi yang dipandang dari paradigma kognitif, yaitu jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan yang muncul di saat petani gurem berada dalam situasi
bermasalah, yang mengurangi ketidakpastian, diciptakan petani gurem dalam
pikirannya, bersifat subjektif, berguna dan berharga dalam usaha petani gurem
untuk memenuhi kebutuhan dasar yaitu bekerja baik menjalankan usahatani
maupun pekerjaan lain.
Pendekatan kognitif mempunyai nuansa yang berbeda dengan pendekatan
yang lainnya. Pendekatan kognitif menekankan bahwa individu (petani) yang
bergerak melintasi ruang dan waktu, kemudian mengalami kesenjangan, akan
berusaha menjembatani kesenjangan tersebut. Dalam usahanya tersebut,
individu selalu menggunakan dan menciptakan informasi. Individu juga
mempunyai kebebasan untuk menciptakan informasi tersebut dari segala
sesuatu yang ada di lingkungannya. Pendekatan kognitif berfokus pada
bagaimana seseorang menciptakan ’sense’, pada pemanfaatan informasi pada
situasi yang unik. Walaupun demikian, pendekatan kognitif tidak dimaksudkan
untuk menggantikan pendekatan lainnya. Lebih tepat jika dikatakan bahwa
pendekatan kognitif adalah untuk melengkapi pendekatan lainnya. Sehingga
penelitian ini akan melengkapi penelitian-penelitian sebelumnya.
2.2
Kebutuhan Informasi
Nicholas (2000) menjelaskan bahwa kebutuhan informasi muncul ketika
seseorang berkeinginan memenuhi satu atau lebih dari tiga kebutuhan dasar
manusia, yaitu kebutuhan fisiologis (makan, tempat tinggal, dan lainnya);
kebutuhan psikologis (kekuasaan,
rasa aman);
dan kebutuhan kognitif
(pendidikan, perencanaan). Meskipun bukan merupakan kebutuhan primer,
kebutuhan informasi merupakan hal yang penting karena keberhasilan
seseorang dalam memenuhi salah satu atau semua kebutuhan dasar
dipengaruhi oleh pemenuhan kebutuhan informasi.
Menurut Dictionary for Library and Information yang disusun oleh Reitz
(2004), kebutuhan informasi adalah kesenjangan dalam pengetahuan seseorang
yang dialami pada tingkat kesadaran tertentu sebagai ”pertanyaan” yang timbul
untuk mendapatkan jawaban. Krikelas (1983) mengartikan kebutuhan informasi
sebagai pengakuan seseorang atas adanya ketidakpastian dalam dirinya. Rasa
ketidakpastian ini mendorong seseorang untuk mencari informasi. Sedangkan
11
menurut Kuhlthau (1991) yang dikutip oleh Kurniadi (2004) mengatakan
kebutuhan informasi menjadi akibat munculnya kesenjangan pengetahuan yang
ada dalam diri seseorang dengan kebutuhan informasi yang diperlukan. Senada
dengan hal tersebut, Belkin yang dikutip oleh Dervin dan Nilan (1986)
mendefinisikan kebutuhan informasi sebagai suatu kondisi dan situasi yang
muncul ketika dalam diri seseorang terjadi kekosongan. Dalam kondisi seperti ini
seseorang tidak mempunyai cukup pengetahuan dan konsepsi yang sesuai atau
cocok untuk melakukan pekerjaan, penyelesaian masalah atau pemecahan
ketidakpastian.
Wersig yang dikutip oleh Pendit (1992) memunculkan teori bahwa
kebutuhan informasi dipicu oleh apa yang dinamakan sebagai a problematic
situation. Ini merupakan situasi yang terjadi dalam diri manusia yang dirasakan
tidak memadai oleh yang bersangkutan untuk mencapai tujuan tertentu dalam
hidupnya. Hal yang dimaksud dengan situasi problematik dalam penelitian ini
adalah situasi pada saat petani merasakan kekurangan informasi dalam rangka
melaksanakan kegiatan usahatani dan usaha lain dalam rangka tujuan
subsistensinya.
Menurut Line (1969) yang dikutip oleh Nicholas (2000) bahwa kebutuhan
informasi tampak ketika disadari terdapat informasi yang dibutuhkan oleh
seseorang. Belkin (1989) yang dikutip oleh Nicholas (2000) menjelaskan bahwa
kebutuhan informasi tumbuh ketika seseorang menyadari adanya kesenjangan
antara pengetahuan dengan keinginan untuk memecahkan masalah. Sementara
itu menurut Nicholas (2000) bahwa kebutuhan informasi adalah perlu agar
seseorang dapat bekerja secara efektif, efisien, nyaman dan bahagia. Hampir
semua orang tidak menyadari kebutuhan akan informasi setiap saat sampai
mereka mengalami masalah atau kesulitan atau di bawah tekanan. Kebutuhan
emosional dan kognitif pada kondisi ini harus dipenuhi atau sebagian dapat
dipenuhi dengan memperoleh dan menggunakan informasi.
Akar permasalahan dari perilaku pencarian informasi adalah konsep
kebutuhan informasi. Sebenarnya kebutuhan tersebut merupakan pengalaman
subjektif yang hanya ada di benak orang yang memerlukannya, yang karenanya
tidak dapat diketahui secara langsung oleh seseorang. Pengalaman akan
kebutuhan ini hanya dapat ditemukan melalui proses deduksi dari perilaku atau
melalui laporan dari orang yang melakukannya. Dalam rangka memenuhi
12
kebutuhan-kebutuhan tersebut, orang memerlukan informasi (Wilson dan
Christina 1996).
Selanjutnya model yang diperkenalkan Wilson ini berdasarkan pada dua
proposisi. Pertama adalah bahwa kebutuhan informasi bukanlah kebutuhan
utama atau primer tetapi merupakan kebutuhan sekunder yang timbul karena
keinginan untuk memenuhi kebutuhan primer atau kebutuhan dasarnya.
Proposisi kedua adalah bahwa dalam usahanya menemukan informasi untuk
memuaskan kebutuhannya, pencari informasi menghadapi kendala (barriers).
Kebutuhan informasi terdiri dari tiga macam. Pertama, kebutuhan informasi
yang tidak disadari (dormand needs atau unrecognised needs). Kebutuhan ini
dialami oleh mereka yang seringkali tidak mengetahui informasi apa yang
mereka butuhkan. Mereka tidak meyadari ada kesenjangan informasi. Mereka
juga tidak mengetahui bahwa informasi baru memberikan sesuatu tentang apa
yang telah mereka ketahui. Mereka akan menyadari ada kebutuhan informasi
tertentu jika mengalami masalah tertentu. Misalnya, seseorang tidak mengetahui
jika ia menderita suatu penyakit. Pengecekan kesehatan memberikan kesadaran
kepadanya untuk menjalani terapi kesehatan (berobat). Informasi tentang
pengobatan adalah informasi yang tidak disadari sebelum ia mengetahui tentang
gangguan kesehatannya. Kedua, kebutuhan informasi yang tidak diekspresikan
(unexpressed needs). Kebutuhan ini dialami oleh mereka yang sadar
membutuhkan informasi tertentu, tetapi tidak dapat atau tidak mau melakukan
sesuatu untuk memenuhinya. Ketiga, kebutuhan informasi yang diekspresikan
(expresed needs), yaitu kebutuhan yang disadari dan diupayakan dipenuhi oleh
mereka yang sadar akan kesenjangan antara pengetahuan dan keinginan
pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari (Nicholas 2000).
Jika kita mengidentifikasi kebutuhan informasi, maka perlu diperhatikan halhal berikut :(1) kebutuhan informasi adalah konsep yang relatif; (2) kebutuhan
informasi berubah setiap saat; (3) kebutuhan informasi berbeda-beda dari satu
orang dengan orang lain; (4) kebutuhan informasi tergantung dari lingkungan
dimana orang tersebut berada; (5) mengukur kebutuhan informasi adalah hal
yang sulit; (6) kebutuhan informasi sering sekali diperlukan dalam waktu yang
cepat; (7) kebutuhan informasi sering berubah setelah menerima beberapa
informasi (Chowdhury 2004).
Nicholas
(2000)
menguraikan
banyak
faktor
yang
mempengaruhi
kebutuhan informasi, yaitu (1) jenis pekerjaan; (2) latar belakang budaya atau
13
bangsa; (3) kepribadian; (4) tingkat kesadaran informasi/ pelatihan; (5) jenis
kelamin; (6) usia; (7) ketersediaan waktu individu, (8) akses yaitu sejauhmana
menelusur informasi secara internal atau eksternal; (9) sumberdaya atau
keuangan; (10) informasi yang berlebihan.
Kaniki (1992) menyampaikan bahwa kebutuhan informasi bervariasi
tergantung dari pengguna (user), waktu, tujuan, tempat, alternatif yang tersedia
dan sebagainya. Beberapa penelitian telah mengawali perilaku pencarian
informasi
sebagian
kelompok
pada
usaha
untuk
mengidentifikasi
dan
memprediksi kebutuhan informasinya.
Salah satu ahli yang telah melakukan penelitian tentang kebutuhan
informasi adalah Brenda Dervin dengan pendekatan sense making yang amat
terkenal
itu.
Sebagai
sebuah
pendekatan
penelitian,
sense-making
dikembangkan oleh Dervin dan kolega-koleganya lebih dari 36 tahun yang lalu
(sekitar tahun 1972). Sense-making adalah satu dari sekian pendekatan
penelitian yang banyak diterapkan dalam ilmu komunikasi sekaligus dapat
diterapkan dalam ilmu perpustakaan dan informasi. Sense-making sudah dipakai
untuk
mendapatkan
deskripsi
yang
jelas
tentang
kebutuhan
berdasarkan persepsi pemakai dalam berbagai kasus, seperti
informasi
kebutuhan
informasi pasien kanker, kebutuhan informasi pemakai perpustakaan, kebutuhan
informasi peneliti, dan kebutuhan informasi pemakai komputer. Selain itu,
pendekatan ini dapat digunakan untuk menggambarkan kendala dan bantuan
yang diinginkan dalam mencari informasi (Dervin, 1992).
Sebagai metode, sense-making digunakan untuk menelaah kebutuhan,
pencarian, penggunaan informasi dari sudut persepsi individu pemakai. Sensemaking mempunyai beberapa kelebihan, antara lain :
a. Metode ini memberikan kesempatan untuk dapat mengungkap kebutuhan
dan pencarian informasi seseorang sesuai yang ada dalam sense (pikiran)
seseorang.
b. Metode ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan sistem pelayanan
informasi yang sesuai dengan sense (pikiran) pengguna yang sebenarnya
(Dervin dan Nilan 1986; Pannen 1996)
Premis dasar metode sense-making (Dervin dan Nilan 1986; Pannen 1996)
adalah :
a. Individu pemakai harus diperlakukan sebagai individu yang unik (individuality)
14
b. Setiap individu pemakai bergerak melintasi ruang dan waktu yang unik
(situationality)
c. Informasi adalah sesuatu yang dapat membantu individu untuk make sense
terhadap situasinya (utility of information)
d. Ada pola umum yang dapat disimpulkan tentang persepsi orang terhadap
situasi yang dialaminya.
Penelitian kebutuhan informasi banyak diteliti oleh ilmuwan ilmu informasi
dan perpustakaan. Kurniadi (2004) dan Budiyanto (2000) meneliti kebutuhan dan
perilaku pencarian informasi peneliti bidang ilmu sosial dan kemanusiaan.
Handajani (2004) meneliti kebutuhan informasi pejabat fungsional di Pusat
Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara. Wijayanti (2000)
dan Hasyim (1999)meneliti kebutuhan dan perilaku pencaria informasi staf
pengajar (dosen).
Suryantini (2000) meneliti tentang kebutuhan informasi penyuluh pertanian
di Kabupaten Bogor. Desain penelitian yang digunakan adala survei yang bersifat
deskripsi korelasional, dengan mengambil sejumlah 60 orang dari 189 orang
penyuluh pertanian secara acak sebagai responden. Data penelitian disajikan
dalam tabel distribusi frekuensi.
Kebutuhan informasi dalam penelitian ini didefinisikan sebagai kesenjangan
(gap) antara pengetahuan yang dimiliki petani gurem dengan keinginan untuk
menyelesaikan masalah dalam upaya memenuhi kebutuhan dasar yaitu saat
bekerja baik menjalankan usahatani maupun pekerjaan lain, sebagai sebuah
pertanyaan yang memerlukan jawaban dan menimbulkan ketidakpastian.
2.3
Perilaku Pencarian Informasi
Alasan kebutuhan di atas menyebabkan petani melakukan tindakan untuk
mencari informasi. Tindakan inilah yang menyebabkan adanya perilaku
pencarian informasi. Perilaku adalah aspek yang dapat menggambarkan
”mengapa” hingga ”bagaimana” dan ”untuk apa” sesuatu dilakukan manusia
(Wersig, diacu dalam Kurniadi 2004).
Perilaku pencarian informasi dimulai dari adanya kesenjangan dalam diri
pencari informasi, yaitu antara pengetahuan yang dimiliki dengan kebutuhan
informasi yang diperlukan. Kesenjangan ini dirumuskan dalam bentuk Anomalous
State of Knowledge atau disingkat ASK (Belkin dan Vickery 1985, diacu dalam
Kurniadi 2004).
15
Perilaku pencarian informasi (information seeking behavior) merupakan
upaya menemukan informasi dengan tujuan tertentu sebagai akibat dari adanya
kebutuhan untuk memenuhi tujuan tertentu (Wilson 2000).
Menurut Pannen (1996), perilaku pencarian informasi merupakan perilaku
seseorang yang selalu terus bergerak berdasarkan lintas waktu dan ruang,
mencari informasi untuk menjawab segala tantangan yang dihadapi, menentukan
fakta, memecahkan masalah, menjawab pertanyaan dan memahami suatu
masalah. Perilaku pencarian informasi dimulai dari adanya kesenjangan dalam
diri pencari informasi, yaitu antara pengetahuan yang dimiliki dengan kebutuhan
informasi yang diperlukan.
Sedangkan menurut Krikelas (1983), perilaku pencarian informasi adalah
kegiatan seseorang yang dilakukan untuk mendapatkan informasi. Manusia akan
menunjukkan perilaku pencarian informasi untuk memenuhi kebutuhannya.
Perilaku
pencarian
informasi
dimulai
ketika
seseorang
merasa
bahwa
pengetahuan yang dimilikinya saat itu kurang dari pengetahuan yang
dibutuhkannya. Untuk memenuhi kebutuhannya tersebut seseorang mencari
informasi dengan menggunakan berbagai sumber informasi. Sejak seseorang
merasa membutuhkan informasi, pada saat itu sebenarnya pencari informasi
telah menunjukkan perilakunya. Perilaku merupakan salah satu dari perwujudan
sikap, baik yang nampak maupun tersembunyi.
Perilaku pencarian informasi dapat dilihat melalui pemilihan sumber
informasi. Sumber informasi terdiri dari sumber informasi internal dan sumber
eksternal. Sumber internal dapat berupa memori catatan pribadi, hasil
pengamatan. Sedangkan sumber eksternal adalah berupa sumber informasi
yang didapat dengan cara hubungan langsung dengan sumber informasi
terekam, tertulis, atau manusia lain (Krikelas 1983, diacu dalam Kurniadi 2004).
Dalam memilih sumber informasi, beberapa hal yang sering dijadikan
pertimbangan, antara lain : ketersediaan sumber informasi, kemudahan sumber
informasi diperoleh, kemudahan sumber informasi digunakan, dan biaya
pemanfaatan sumber informasi (Hasyim 1999).
Salah satu tujuan penelitian Iskandar (1999) yaitu mengetahui sumber
informasi teknologi yang digunakan oleh petani kentang di Kecamatan
Pengalengan Dati II Bandung. Dalam penelitiannya, Iskandar menggunakan
pendekatan positivistik dengan metode survei dengan menyebarkan kuisioner
kepada 90 responden petani kentang yang dipilih secara acak. Salah satu hasil
16
temuannya yaitu sumber informasi teknologi yang digunakan oleh petani kentang
meliputi teman sesama petani, tengkulak, petani maju, penyuluh pertanian,
pengurus koperasi.
Purnaningsih (1999) meneliti tentang pemanfaatan sumber informasi
usahatani sayuran oleh petani. Pendekatan yang digunakan yaitu positivistik
dengan menetapkan beberapa hipotesis untuk diuji secara korelasional. Hasil
penelitian menunjukkan sebagian besar respoden di Desa Cipendawa memilih
teman sebagai sumber informasi, sedangkan di Desa Sukatani memilih orang
tua/kerabat dan teman sebagai sumber informasi. Responden di Desa Sukatani
tidak memilih penyuluh dan pemasok barang sebagai sumber informasi.
Ma’mir (2001) juga meneliti perilaku petani sayuran dalam pemanfaatan
sumber informasi. Desain penelitian adalah survei terhadap 100 orang petani
sayuran. Data dianalisis secara kuantitatif dan beberapa hipotesis yang
ditetapkan diuji secara korelasional. Temuan penelitian ini antara lain tingkat
pemanfaatan sumber informasi agribisnis tanaman sayuran yang paling tinggi,
baik prosentase jumlah petani dan intensitas keterdedahan informasi tanaman
sayuran maupun pemanfaatan informasi adalah melalui saluran interpersonal
disusul kemudian media elektronik dan media cetak.
Penelitian perilaku komunikasi dan penggunaan sumber informasi juga
diteliti oleh Yusmasari (2003). Salah satu tujuan penelitiannya yaitu mengetahui
perilaku komunikasi masyarakat sekitar kawasan Mangrove yaitu di Desa
Pematang Pasir Kecamatan Ketapang Lampung Selatan berkaitan dengan
informasi manfaat dan pelestarian mangrove. Ia melakukan teknik wawancara
terstruktur, menyebar kuisioner, dan menguji korelasi antar vaiabel dengan
menetapkan
74
orang
petambak
sebagai
responden.
Hasil
penelitian
menunjukkan masyarakat di lokasi penelitian terdedah dengan sumber informasi
interpersonal, media cetak, dan media elektronik. Dalam hasilnya, penelitian
tersebut juga menyebutkan ada tiga kelompok masyarakat yaitu 1) masyarakat
dengan keterdedahan tinggi terhadap sumber informasi yaitu yang mencari dan
menerima informasi, 2) keterdedahan sedang yaitu yang hanya menerima
informasi, dan 3) keterdedahan rendah yaitu yang tidak keduanya baik mencari
maupun menerima informasi.
Kifli (2002) meneliti tentang perilaku komunikasi petani padi. Salah satu
tujuan penelitiannya yaitu menguraikan perilaku komunikasi petani padi di Desa
Kalibuaya Kecamatan Tegalsari Kabupaten Karawang dalam penerapan
17
usahatani tanaman pangan. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif
dengan uji korelasional. Salah satu hasil temuan menunjukkan sebagian besar
(88,7 persen) responden menggunakan Petugas Penyuluh Lapang (PPL)
sebagai sumber utama informasi.
Penelitian Sudradjat (1998) ”senada” dengan penelitian Kifli (2002).
Penelitiannya berjudul Perilaku Pemanfaatan Saluran Komunikasi dalam
Penerapan Teknologi PHT di Kalangan Petani Kabupaten Sukabumi. Salah satu
tujuan
penelitian
adalah
mengetahui
sejauhmana
pemanfaatan
saluran
komunikasi melalui SLPHT di Kabupaten Sukabumi. Desain penelitian yang
digunakan adalah survei terhadap 150 orang petani peserta SLPHT dan 90
orang pemandu (PHP, PPL, Petandu). Penelitian ini juga menguji hipotesishipotesis yang bersifat korelasional.
Penelitian perilaku komunikasi juga banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti
jaringan komunikasi seperti penelitian Ellyta (2006), Hanafi (2002), dan
Indraningsih (2002). Secara garis besar tujuan penelitian ketiga penelitian
tersebut yaitu mengetahui keragaan jaringan komunikasi (perilaku komunikasi
menemui sumber informasi berkaitan dengan masalah pertanian. Ketiga
penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan menetapkan hipotesishipotesis untuk diuji secara korelasional.
Marquis
dan
Allen
(1989),
mendefinisikan
penggunaan
informasi
(information use) sebagai perilaku. Data dikoleksi dengan berbagai perilaku
seperti bertanya pada seseorang, mengamati kejadian, melihat dokumendokumen. Dengan kata lain penggunaan informasi adalah perilaku pencarian
informasi yang memandu penggunaan informasi dalam rangka memenuhi
kebutuhan seseorang.
Terdapat beberapa pola perilaku pencarian informasi. Di antaranya adalah
pola yang ditemukan olah Carol Collier Kuhlthau. Kuhlthau (2004a;2004b)
menjelaskan bahwa ada tujuh kegiatan dalam model Proses Penelusuran
Informasi (Information Search Process / ISP), yaitu ; (1) inisiasi (initiation) adalah
merenungkan
penentuan
tugas,
masalah,
atau
proyek
kemudian
mengidentifikasi pertanyaan atau masalah yang akan ditelusuri jawabannya:
ketidakpastian; (2) seleksi (selection) yaitu menyeleksi topik tertentu, masalah
atau jawaban terhadap suatu pertanyaan:optimisme; (3) eksplorasi (exploration)
adalah menghadapi perasaan yang tidak konsisten dan tidak nyaman terhadap
suatu gagasan dan informasi:kebingungan;(4) formulasi (formulation) yaitu
18
menentukan suatu fokus perspektif terhadap informasi yang dihadapi:kejelasan;
(5) koleksi (collection) adalah mengumpulkan dan mendokumentasikan informasi
yang
telah
ditetapkan:keyakinan;
(6)
presentasi
(presentation)
yaitu
menghubungkan dan memperluas perspektif fokus untuk mempresentasikan
kepada khalayak apa yang telah dipelajari:memuaskan atau mengecewakan.
Sementara itu model perilaku pencarian informasi yang dikembangkan oleh
Ellis, Cox, dan Hall (1993), yaitu : (1) memulai (starting) : dilakukan oleh
pengguna yang mulai mencari informasi, misalnya menanyakan kepada sejawat
yang lebih ahli dalam hal informasi tersebut; (2) merangkaikan (chaining) :
mengikuti mata rantai atau mengaitkan daftar literatur yang ada pada rujukan inti,
meliputi mengaitkan ke belakang (backward chaining) dan mengaitkan ke depan
(forward chaining); (3) menelusur (browsing) : menelusur secara tidak langsung
atau semi terstruktur karena telah mengarah pada bidang yang diminati ; (4)
membeda-bedakan (differentiating): kegiatan membedakan sumber informasi
untuk menyaring informasi berdasarkan sifat kualitas rujukan, secara selektif
mengidentifikasi sumber informasi yang relevan; (5) mengawasi (monitoring):
memantau perkembangan yang terjadi terutama dalam bidang yang diminati
dengan cara mengikuti sumber secara teratur; (6) menyarikan (extracting):
menyaring informasi dari sumber informasi relevan; (7) memverifikasi (verifying):
melakukan pengecekan atau penilaian apakah informasi yang didapat telah
sesuai
dengan
yang
diinginkan
(pengecekan
akurasi
informasi);
(8)
menyelesaikan (ending): mengakhiri pencarian informasi.
Sedangkan model perilaku pencarian informasi yang lain diperkenalkan
oleh Wilson dan Christina (1996) yang disebut dengan a model of information
seeking behaviour. Model ini menekankan pada dua proposisi yaitu :(1)
kebutuhan informasi bukan merupakan kebutuhan utama atau primer namun
merupakan kebutuhan sekunder yang timbul karena keinginan untuk memenuhi
kebutuhan primer atau dasarnya; (2) dalam usaha menemukan informasi untuk
memuaskan kebutuhannya, pencari informasi menghadapi kendala (barriers).
Kemudian Wilson dan Christina (1996) menyebutkan kendala sebagai variabel
penghalang (intervening variables). Kendala tersebut adalah : kendala dari dalam
individu
(diri
environmental
sendiri),
hubungan
(lingkungan).
interpersonal
Kendala
individu
(antara
individu),
dan
merupakan
faktor
yang
menghambat pencarian informasi yang berasal dari dalam diri pencari informasi,
misalnya faktor sifat, pendidikan, dan status sosial ekonomi. Kendala
19
interpersonal timbul ketika individu berinteraksi dengan individu lain saat
melakukan pencarian informasi. Sedangkan kendala lingkungan berasal dari
lingkungan sekitar individu pencari informasi, misalnya fasilitas yang membatasi
akses informasi, alur pencarian informasi yang rumit, waktu yang lama dalam
mengakses informasi, situasi politik ekonomi, kebijakan pemerintah, dan
sebagainya.
Pada Gambar 1 terlihat model perilaku pencarian informasi
menurut Wilson (1981;1996) .
KONTEKS KEBUTUHAN
INFORMASI
PERILAKU PENCARIAN
INFORMASI
KENDALA
LINGKUNGAN
PERAN SOSIAL
Starting
Chaining
Browsing
Differentiating
Monitoring
Extracting
Verifying
Ending
INDIVIDU
Kebutuhan
fisiologis,
afektif, kognitif
(Ellis,Cox,and
Hall)
lingkungan
personal
interpersonal
Gambar 1 Model Perilaku Pencarian Informasi (Wilson dan Christina 1996)
Penelitian tentang perilaku pencarian informasi juga telah dikembangkan
oleh Dervin dengan pendekatan sense-making sejak 1972. Sense-making adalah
salah satu konsep dan metode yang dapat digunakan untuk merancang dan
mengevaluasi pelayanan jasa perpustakaan, dokumentasi, dan informasi
berdasarkan pendekatan kognitif. Pendekatan kognitif merupakan pendekatan
yang berlandaskan pada paradigma konstruktivisme. Kunci utama pendekatan
kognitif adalah individu pemakai. Dalam pendekatan kognitif, informasi adalah
sesuatu yang diciptakan oleh individu pemakai (Dervin 1992).
Menurut Dervin (1992), pendekatan kognitif mempunyai karakteristik (1)
Berfokus pada pemakai sebagai orang yang selalu mencipta dan aktif, (2)
Berorientasi pada situasi yang unik dari setiap individu pemakai, (3) Holistik
memandang
Mementingkan
kesenjangan
segala
proses
(gap),
sesuatu
kognisi
(permasalahan)
pemakai
kebutuhan,
dan
dari
dalam
berbagai
segi,
mendefinisikan
penggunaan
(4)
situasi,
informasi,
(5)
20
Mempertimbangkan pola umum yang terlihat dari beragam situasi yang unik dari
individu, (6) Bersifat lebih kualitatif.
Dalam pengertian umum, sense-making diartikan sebagai perilaku internal
maupun eksternal yang memungkinkan individu mengkonstruksi dan merancang
perjalanannya melintasi ruang dan waktu. Sense-making secara konseptual
merupakan seperangkat metode yang digunakan untuk mengkaji proses
penciptaan sense oleh individu-individu dalam perjalanan melintasi ruang dan
waktu. Perilaku penciptaan sense adalah perilaku komunikasi yang dapat
berlangsung pada semua tataran komunikasi (intrapersonal, interpersonal,
komunikasi massa, komunikasi antar budaya dan sosial). Perilaku pencarian dan
penggunaan informasi (information seeking and use behaviour) adalah inti dari
sense-making (Dervin, 1983).
Adapun beberapa asumsi dalam metode sense-making, antara lain :
a. Pada kenyataannya, sesuatu itu tidaklah lengkap tetapi lebih dipenuhi
dengan ketidaklengkapan atau ketidakberlanjutan (kesenjangan).
b. Kondisi ketidakberlanjutan tersebut karena sesuatu pada dasarnya tidak
berhubungan. Pada dasarnya, sesuatu itu selalu berubah. Situasi pada titik
ruang dan waktu tertentu adalah unik bagi yang mengalaminya.
c. Proses komunikasi diartikan sebagai pertukaran informasi antar pelaku
komunikasi, dan bukan sebagai transfer informasi dari orang yang lebih tahu
kepada orang yang belum tahu.
d. Penggunaan informasi dan sistem informasi oleh seseorang (human
information use) dipelajari dari perspektif yang diteliti (actor), bukan dari
perspektif peneliti.
e. Penggunaan
informasi dan sistem
informasi oleh
seseorang
harus
dikonseptualisasikan sebagai perilaku; pengambilan langkah-langkah yang
diambil seseorang untuk meng’konstruk’ sense yang sesuai dunia mereka.
f.
Penggunaan informasi oleh seseorang dikonseptualisasikan sebagai proses
yang dinamis.
g. Informasi bukanlah sesuatu yang bebas melainkan merupakan hasil dari
pengamatan manusia.
h. Informasi merupakan hal yang subjektif.
i.
Pencarian dan penggunaan informasi dipandang sebagai aktivitas seseorang
mengkonstruksi sense (Dervin, 1992).
21
Pendekatan yang digunakan oleh sense making adalah konstruktivisme.
Untuk itu, maka penelitian tidak didasarkan pada definisi komunikasi secara
tradisional, yaitu komunikasi diartikan sebagai transfer informasi dari orang yang
ahli ke yang kurang ahli. Oleh karena pendekatan tradisional tidak memfokuskan
pada perilaku ”mengkonstruksi” tetapi lebih kepada penggunaan sumber
informasi pada pekerjaan dan jaringan. Di sisi lain, sense making memfokuskan
pada bagaimana seseorang menggunakan pengamatan yang lain sebaik
pengamatan sendiri
untuk mengkonstruksi dan
menggunakannya
untuk
memandu perilaku (Dervin, 1992).
Ada tiga peubah dalam metode sense making, yaitu : situasi (situation),
kesenjangan (gap), dan penggunaan informasi (use). Situasi adalah konteks
ruang dan waktu pada saat sense (pikiran) seseorang dikonstruksi. Kesenjangan
sering diterjemahkan sebagai kebutuhan informasi atau secara operasional
adalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada saat seseorang melintasi
ruang dan waktu. Sementara itu uses menunjuk pada kondisi seseorang
menciptakan sense (pikiran) baru. Uses juga diartikan sebagai information use,
yaitu tindakan-tindakan fisik maupun mental yang dilakukan seseorang ketika
seseorang menggabungkan informasi yang ditemukannya dengan pengetahuan
dasar yang sudah ia miliki sebelumnya. Dengan kata lain, penggunaan informasi
adalah perilaku pencarian informasi yang memandu penggunaan informasi
dalam rangka memenuhi kebutuhan seseorang. Use juga sering diartikan
sebagai manfaat atau nilai informasi. Pada Gambar 2 terlihat model pendekatan
sense making dari Brenda Dervin, dan Gambar 3 memperlihatkan Metafor sensemaking dari Brenda Dervin.
SITUATION
GAP
USES
Gambar 2 Segitiga Sense Making (Dervin, 1992)
22
Gambar 3 Metafor Sense Making (Dervin 1992, diacu dalam Pannen 1996)
Menurut teori sense making, pada saat melintasi ruang dan waktu,
seseorang menghadapi situasi bermasalah. Situasi problematik ini terjadi karena
adanya kesenjangan. Kesenjangan adalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul
pada saat seseorang berada dalam situasi problematik. Kesenjangan inilah yang
disebut
dengan
kebutuhan
informasi.
Kebutuhan
informasi
mendorong
seseorang melakukan pencarian informasi sehingga kebutuhan informasinya
dapat terpenuhi dan seseorang dapat melanjutkan perjalanan melintasi ruang
dan waktu. Pencarian informasi yang dimaksud adalah upaya yang dilakukan
seseorang untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut
(Dervin 1992).
Strategi pencarian informasi dapat dibedakan menjadi strategi yang
berkaitan dengan diri sendiri dan strategi yang berkaitan dengan orang lain
(Mangindaan dkk 1993, diacu dalam Hasyim 1999). Strategi yang berkaitan
dengan diri sendiri adalah strategi yang banyak mengandalkan pada kemampuan
diri sendiri dalam upaya mendapatkan informasi, misalnya : membaca dan
belajar, berusaha sendiri, serta bertanya kepada diri sendiri. Strategi yang
berkaitan dengan orang lain adalah strategi yang melibatkan orang lain dalam
upaya mendapatkan informasi, misalnya bertanya kepada teman dan bertanya
kepada otoritas. Sementara itu, strategi pencarian informasi dapat pula
dibedakan menjadi strategi yang berkaitan dengan benda dan strategi yang
berkaitan dengan lembaga. Strategi yang berkaitan dengan benda adalah
23
strategi yang memanfaatkan benda dalam upaya mendapatkan informasi,
misalnya membaca koran/buku/brosur, melihat katalog, mencari pada koleksi
pribadi, dan merawak di pangkalan data. Strategi yang berkaitan lembaga adalah
strategi yang memanfaatkan lembaga dalam upaya mendapatkan informasi,
misalnya ke toko buku, perpustakaan atau lembaga informasi lainnya (Suwanto
1997, diacu dalam Hasyim 1999).
Dalam upaya mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan tersebut, menurut
Dervin (1983) dapat digunakan kategori 5W + 1H (who, what, when, where, why,
dan how). Pertanyaan dapat disebut berkategori who manakala pertanyaan
berkenaan dengan orang, what manakala pertanyaan berkenaan dengan benda,
when manakala pertanyaan berkenaan dengan waktu, where manakala
pertanyaan berkenaan dengan tempat, why manakala pertanyaan berkenaan
dengan
alasan,
dan
how
manakala
pertanyaan
berkenaan
dengan
cara/prosedur/ketrampilan. Di samping dapat dikagorikan berdasarkan kategori
5W + 1H tersebut, pertanyaan dapat pula dikategorikan berdasarkan fokus
pertanyaannya (entity focus).
Dari beberapa pendapat para ahli di atas, penelitian ini mengartikan
perilaku pencarian informasi sebagai perilaku atau strategi seseorang (petani)
dalam upaya mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul di
saat berada dalam situasi problematik, upaya pemenuhan kebutuhan informasi
untuk mengurangi kesenjangan, ketidakpastian, dan menambah pengetahuan
dalam dirinya pada upaya memenuhi kebutuhan dasar yaitu bekerja di usahatani
dan luar usahatani. Model perilaku pencarian informasi pada penelitian ini
mencoba menggabungkan model perilaku pencarian informasi dari Ellis et al,
pendekatan sense-making dari Brenda Dervin, dan Tom D Wilson.
2.4
Kendala dalam Pencarian Informasi
Hampir dapat dipastikan bahwa setiap orang akan mengalami suatu
kendala dalam pencarian informasi. Kendala tersebut disebabkan oleh faktor
internal dan atau faktor eksternal. Bagi setiap orang tingkat berat atau ringan
kendala tersebut berbeda-beda. Segala tindakan manusia didasarkan pada suatu
keadaan yang dipengaruhi oleh lingkungan, pengetahuan, situasi dan tujuan
yang ada pada diri manusia (Wersig, diacu dalam Pendit 1992).
Wilson dan Christina (1996) mengatakan bahwa dalam pencarian informasi
untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, petani akan menemui kendala. Kendala
24
tersebut dapat dikategorikan menjadi kendala dari dalam individu (diri sendiri),
hubungan interpersonal (antara individu), dan environmental (lingkungan).
Kendala individu merupakan faktor yang menghambat pencarian informasi yang
berasal dari dalam diri pencari informasi, misalnya faktor sifat, pendidikan, dan
status sosial ekonomi. Kendala interpersonal timbul ketika individu berinteraksi
dengan individu lain saat melakukan pencarian informasi. Sedangkan kendala
lingkungan berasal dari lingkungan sekitar individu pencari informasi, misalnya
fasilitas yang membatasi akses informasi, alur pencarian informasi yang rumit,
waktu yang lama dalam mengakses informasi, situasi politik ekonomi, kebijakan
pemerintah, dan sebagainya.
Kendala dalam pencarian informasi pada penelitian ini adalah kendalakendala baik dari dalam maupun luar diri petani gurem, yang ditemui ketika
individu petani gurem tersebut melakukan usaha pencarian informasi yang akan
dimanfaatkan untuk menyelesaikan permasalahan dalam memenuhi kebutuhan
dasarnya.
2.5
Petani Gurem pada Lahan Marjinal
Dari berbagai referensi dan literatur yang mengupas tentang kaum tani,
diperoleh keterangan bahwa petani di negara kita dapat digolongkan ke dalam
empat pengertian, yakni petani besar, petani kecil, petani gurem dan petani
buruh/buruh tani. Petani besar umumnya menggambarkan tentang sosok petani
yang umumnya memliki lahan sawah di atas satu hektar. Petani kecil
menggambarkan jati diri petani yang memiliki lahan antara 0,5 – satu hektar.
Petani gurem memiliki lahan antara 0,1 - 0,5 hektar, dan petani buruh adalah
mereka yang sama sekali tidak memiliki lahan sawah (Sastraatmadja 2009).
Berdasar Sensus Pertanian Tahun 2003 banyaknya rumah tangga petani
gurem (RTPG) meningkat cukup tajam yakni sekitar 9,4 juta RTPG menjadi 13,3
juta RTPG dalam periode 1993-2003. Sekitar tiga-per-empat dari jumlah RTPG
berada di Pulau Jawa (Winoto dan Hermanto S 2007). Hal ini menunjukkan
bahwa semakin banyak petani kecil yang menggantungkan hidupnya pada lahan
yang sempit.
Petani gurem di Indonesia secara umum memiliki karakteristik/ciri-ciri yang
cenderung memiliki kesamaan dengan petani di Afrika Tropis maupun Afrika
Tengah, antara lain : (1) termasuk petani miskin dan cenderung terpinggirkan; (2)
bersifat konvensional/subsisten dan turun temurun; (3) tingkat pendidikannya
25
rendah dan sulit mengadopsi inovasi baru; (4) memilih keselamatan dan terlalu
memperhitungkan resiko dari usaha taninya apabila menerapkan penggunaan
sarana produksi lain yang tidak menjadi kebiasaannya (Karen 2008).
Catatan panjang sejarah Indonesia, secara umum menunjukkan kondisi
petani kita yang serba suram. Petani selalu digambarkan sebagai kelompok
sosial yang lemah baik secara politik maupun ekonomi, tidak memiliki tanah yang
cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, sebagai penyakap tidak
memiliki posisi tawar di hadapan pemilik tanah, sebagai petani gurem yang
miskin seringkali ditindas atau diintimidasi untuk melepaskan hak atas tanahnya,
bahkan seringkali dipaksa untuk menanam komoditas tertentu sesuai kehendak
penguasa, dan masih banyak lagi gambaran buruk lainnya (Husodo 2004).
Dalam sebuah karyanya Scott (1981) The Moral Economy of the Peasant,
digambarkan bahwa bagaimanapun sesungguhnya petani ibarat orang yang
selamanya berdiri terendam dalam air sampai ke leher, sehingga ombak yang
kecil sekalipun sudah cukup menenggelamkannya. Menurutnya petani adalah
golongan orang-orang pasif. Mengapa pasif? Karena petani paling khawatir
terhadap perubahan. Dunia yang diangankan oleh petani adalah kestabilan.
Kestabilan adalah kepastian.
Secara dialektis Scott (1981) juga memberikan deskripsi bahwa persepsi
moral merupakan dasar dari setiap tindakan petani dalam aktivitasnya. Secara
moral petani tidak akan mengambil tindakan yang berbahaya, beresiko tinggi dan
mengancam tingkat subsistensi mereka.
kehidupan petani (peasant) adalah
masyarakat yang harmoni dan stabil. Komunitas petani ini adalah suatu
kelompok sosial yang memiliki kepentingan untuk menjaga kelangsungan
keterikatan antar individunya. Kaum ekonomi moral memandang kemanan
sebagai sesuatu yang paling penting mengingat bahwa petani miskin dan selalu
dekat dengan garis bahaya, sehingga penurunan sedikit saja terhadap produksi
dapat menimbulkan bencana besar bagi kelangsungan hidup rumahtangga
mereka. Perhatian besar terhadap subsistensi dan keamanan ini dinamakan
prinsip “dahulukan selamat” (“safety first”) yaitu para petani enggan mengambil
resiko (averse to risk) dan lebih memusatkan diri pada usaha menghindarkan
jatuhnya
produksi,
bukan kepada
usaha
memaksimumkan
keuntungan-
keuntungan harapan. Dalam pandangan ekonomi moral para petani itu anti
pasar, lebih menyukai pemilikan harta bersama daripada pemilikan pribadi, dan
tidak menyukai pembelian dan penjualan.
26
Di sisi lain, secara dialektis pula Popkin (1986) justru menunjukkan bahwa
bukan soal moral yang paling menentukan setiap tindakan petani melainkan
rasionalitas kerjanya. Dalam pandangan Popkin petani bukan tidak mau
mengambil resiko dalam segala tindakannya. Persepsi petani kerap kali justru
dipengaruhi oleh aspek-aspek spekulatif dan perhitungan untung rugi yang
sangat cerdik.
Antara Scott dan Popkin ada perbedaan cara pandang terhadap petani,
namun tidak disebutkan bahwa petani tidak membutuhkan informasi. Petani
sebagai manusia, seperti manusia lain, petani juga rasional, memiliki harapanharapan, keinginan-keinginan dan kemauan untuk hidup lebih baik. Petani juga
memiliki naluri untuk memenuhi kebutuhan hidup terutama kebutuhan dasar
(subsistensi) dan mempertahankan hidup. Untuk memenuhi kebutuhan hidup
tersebut, petani melakukan usaha atau upaya-upaya seperti berusaha tani atau
berusaha lain di luar pertanian. Dalam usaha tersebut petani akan mengalami
situasi problematik dan ada kesenjangan antara pengetahuan yang dimiliki
dengan
harapan-harapan
yang
akan
dicapai.
Kesenjangan
tersebut
menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban, inilah yang
disebut
dengan
kebutuhan
informasi.
Jadi,
sebagai
manusia,
petani
membutuhkan informasi untuk menggapai harapan-harapannya.
Dalam pembangunan, petani sebagai aktor sosial sebaiknya tidak hanya
dilihat sebagai objek pasif dari sebuah intervensi namun dianggap sebagai
partisipan aktif yang memproses informasi dan ikut membentuk strategi dalam
menghadapi berbagai aktor lokal dan institusi atau personel luar (Boot 1994,
diacu dalam Hidayaturrahman 2000), sehingga ketika melihat kebijakan
pemerintah (aras makro) yang berhubungan dengan petani sebagai pelaksana
lapangan (aras mikro) tidak harus terbatas pada intervensi dari atas, model top
down atau oleh pemerintah, agen-agen pembangunan tetapi harus juga melihat
pada aras mikro dimana petani sebagai aktor. Hal ini disebabkan kelompokkelompok lokal secara aktif merumuskan dan berusaha mewujudkan program
pembangunan hasil rencananya sendiri yang sering berbenturan dengan
kepentingan otoritas sentral dan agen-agen pembangunan (Long dan Ploeg
1989, diacu dalam Hidayaturrahman 2000).
27
Download