HUBUNGAN POLA KOMUNIKASI SEKSUAL DENGAN PERILAKU
SEKSUAL PRANIKAH REMAJA AKHIR YANG INDEKOS
Agitia Kurniati Asrila, Nila Anggreiny, Sartana
Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
e-mail: [email protected]
Abstract: The relationship between pattern of sexual communication with late
adolescent’s pre marriage sexual behavior. There are 100 respondents in this research.
Incidental sampling techniques were used to select the sample. Data collection utilized
the communication pattern of sexuality scale and the pre marriage sexual behavior scale.
Data was analyzed using Spearman Rank correlation. The results of the correlation
analysis show that there is a negative significant relationship between sex expressive and
pre marriage sexual behavior with a correlation coefficient of -0.195 (p < 0.05) and a
positive significant relationship between sex obsessive and pre marriage sexual behavior
with a correlation coefficient of 0.314 (p < 0.05). On the other side, this research shows
that there is no relationship between sex repressive and sex avoidance with pre marriage
sexual behavior.
Keywords: Sexual behavior, communication pattern, live in the boarding house, pre
marriage, late adolescent.
Abstrak: Hubungan antara pola komunikasi seksual dengan perilaku seksual
pranikah pada remaja akhir. Ada 100 responden yang terlibat dalam penelitian ini.
Pengambilan sampel dilakukan dengan tekhnik incidental sampling. Data dikumpulkan
dengan Skala Pola Komunikasi Seksual dan Skala Perilaku Seksual Pranikah. Teknik
analisa data yang digunakan adalah analisis korelasi Spearman Rank. Hasil analisis
korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara pola komunikasi sex
expressive dengan perilaku seksual pranikah dengan koefisien korelasi sebesar -0,195 (p <
0,005). Sebaliknya, hubungan antara pola komunikasi sex obsessive dengan perilaku
seksual pranikah positif dengan koefisien korelasi 0,314 (p < 0,05). Di sisi lain, penelitian
ini menunjukkan tidak adanya hubungan antara pola komunikasi sex repressive dan pola
komunikasi sex avoidance dengan perilaku seksual pranikah.
Kata kunci: Perilaku seksual, pola komunikasi, indekos, pranikah, remaja akhir.
104
105 | Jurnal RAP UNP, Vol. 6, No. 2, November 2015, hlm. 104-113
PENDAHULUAN
Masa remaja merupakan salah satu
tahap
perkembangan
dalam
sekarang ini, perilaku seksual pranikah pada
kehidupan individu. Hall (1904, dalam
remaja sudah sampai pada tahap yang
Santrock 2007) menyatakan masa remaja
mengkhawatirkan. Banyaknya remaja yang
sebagai periode sturm and drang. Istilah
melakukan seks pranikah tersebut terlihat
tersebut ia gunakan untuk menggambarkan
dari hasil survei yang dilakukan oleh
ketidakstabilan atau ketegangan emosi yang
Komnas Perlindungan Anak (KPA) pusat
mereka alami, sebagai akibat perubahan-
terhadap 4.500 remaja dari 33 provinsi di
perubahan fisik serta bekerjanya kelenjar-
Indonesia pada bulan Januari-Juni 2008.
kelenjar pada masa tersebut. Menurut
Berdasarkan survei tersebut diketahui bahwa
Santrock
tersebut
dari 4.500 remaja yang menjadi responden
menyebabkan remaja menjadi cenderung
penelitian ditemukan bahwa sebagian besar
sulit
responden
(2007)
mengontrol
penting
Menurut Sudibyo (BKKBN, 2014),
kondisi
dirinya
dan
mudah
pernah
melakukan
aktivitas
terpengaruh oleh situasi lingkungan serta
seksual pranikah. Hanya sekitar 6,3%
terlibat beragam jenis perilaku menyimpang.
responden yang tidak pernah melakukan
Pada masa remaja, secara biologis,
aktivitas seksual ciuman, petting, dan sex
organ-organ seksual individu juga sudah
oral.
Selain
itu,
penelitian
mencapai tahap kematangan. Oleh karena
menunjukkan bahwa lebih dari setengah
itu, dalam diri mereka mulai muncul adanya
remaja SMP dan SMU diketahui tidak
dorongan seksual serta ketertarikan dengan
perawan dan perjaka lagi (Jakarta Islamic
lawan jenis. Sebagai akibat dari keterbatasan
Center, 2012).
kemampuan remaja untuk mengendalikan
Secara
khusus,
ini
perilaku
juga
seksual
diri, munculnya dorongan seksual tersebut
pranikah pada remaja tersebut lebih sering
dapat mendorong mereka untuk terlibat pada
dilakukan oleh kelompok remaja akhir.
aktivitas seksual pranikah. Perilaku seksual
Remaja akhir adalah salah satu fase di dalam
pranikah adalah perilaku yang didasari oleh
periode masa remaja rentang usia antara 18-
hasrat seksual dengan sesama jenis atau
24 tahun (Andriati, 2009). Menurut Santrock
lawan jenis yang dilakukan sebelum adanya
(2007) kecenderungan
ikatan pernikahan resmi menurut hukum
karena pada masa remaja akhir dalam diri
maupun agama (Salisa, 2010). Perilaku
individu tumbuh minat untuk melakukan
tersebut bentuknya dapat berupa perilaku
eksperimen
berciuman, bersentuhan, bercumbu, atau
dalam hal seksualitas. Mereka juga memiliki
bersenggama (Reiss dalam Suliso, 2014).
minat untuk berpacaran yang lebih menonjol
dan
demikian terjadi
eksplorasi,
khususnya
Asrila, Hubungan Pola Komunikasi Seksual…| 106
daripada
mereka
remaja awal. Oleh karena itu,
cenderung
lebih
rentan
baik bagi remaja sendiri, keluarga, maupun
untuk
lingkungan sekitar. Ia dapat menyebabkan
mengekspresikan dorongan seksual dengan
remaja mengalami hamil pranikah, yang
hubungan lawan jenisnya dalam berbagai
kemudian
bentuk perilaku seksual.
bersangkutan melakukan pernikahan dini
menyebabkan
remaja
Fenomena perilaku seksual pranikah
atau putus sekolah. Hamil pranikah juga
pada remaja akhir tersebut terlihat pada hasil
dapat mendorong mereka melakukan aborsi
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
yang berbahaya bagi hidup remaja. Selain
2012
itu, melahirkan diusia muda juga memiliki
(SDKI12)
reproduksi
mengenai
pada
remaja.
kesehatan
Survei
yang
resiko yang sangat berbahaya.
melibatkan 8.419 remaja perempuan dan
Perilaku seks bebas pada remaja
10.980 laki-laki menemukan bahwa 2,7%
tersebut diduga juga turut memfasilitasi
remaja
melakukan
penularan HIV/AIDS. Setidaknya hal itu
hubungan seksual pranikah. Sementara itu,
terlihat dari meningkatnya kasus HIV/AIDS
remaja akhir dengan usia antara 20-24 tahun
di Sumatera Barat dalam kurun waktu tiga
yang pernah melakukan hubungan seksual
tahun terakhir. Pada tahun 2012 ada 814
pranikah jumlahnya mencapai 9,9% (Jurnas,
kasus, tahun 2013 meningkat menjadi 1.875
2014).
kasus, dan tahun 2014 meningkat menjadi
usia
15-19
pernah
Fenomena remaja akhir yang terlibat
perilaku
seksual
pranikah
tersebut
2.088 kasus. Di antara berbagai wilayah di
Sumatera Barat, Kota Padang merupakan
tampaknya juga menggejala di kota Padang.
wilayah
Hal itu terlihat pada data kasus perilaku
HIV/AIDS paling tinggi (Covesia, 2014;
seksual pranikah yang diperoleh peneliti dari
Haluan Padang, 2014).
laporan
Satuan
Polisi
Pamong
Praja
dengan
dengan
jumlah
kasus
Selain faktor perkembangan dan usia
(SatpolPP) kota Padang. Sepanjang tahun
sebagaimana
2014 ada 201 kasus perilaku seksual yang
perilaku seksual remaja juga dipengaruhi
dilakukan oleh remaja akhir dengan usia 18-
oleh beberapa faktor yang lain. Salah
24 tahun. Kasus yang dilakukan oleh mereka
satunya adalah pola komunikasi mengenai
yang berusia 24 tahun sebanyak 88 kasus.
seksual yang dikembangkan orang tua ketika
Sementara jumlah kasus perilaku seksual
berinteraksi
pranikah yang dilakukan oleh remaja di
komunikasi orang tua dan anak mengenai
bawah usia 18 tahun hanya 11 kasus.
masalah seksual adalah beberapa cara yang
Perilaku
seksual
pranikah
pada
remaja tersebut memiliki dampak serius,
dilakukan
dijelaskan
dengan
orang
tua
pertanyaan-pertanyaan
sebelumnya,
remaja.
Pola
dalam
merespon
yang
dirasakan
107 | Jurnal RAP UNP, Vol. 6, No. 2, November 2015, hlm. 104-113
mengenai seksualitas, dan mendiskusikan
mengenai seksualitas dapat membuat remaja
hal-hal yang berkaitan dengan konsep tubuh
memiliki sikap yang semakin permisif
(Ehrenberg, 1988, dalam Tennyson, 2000).
dalam pergaulan bebas dengan lawan jenis.
Menurut Sarwono (2013), adanya
Adanya sikap remaja permisif sebut menjadi
penilaian pada pembicaraan yang tabu atau
faktor resiko yang mendukung mereka untuk
terlarang
melakukan perilaku seksual pranikah.
di
keluarga
serta
kurangnya
informasi mengenai seks menjadi faktor
penyebab
terjadinya
perilaku
Pernyataan Sarwono dan dua hasil
seksual
penelitian tersebut menunjukkan belum
pranikah pada remaja akhir. Karena pada
finalnya penjelasan mengenai hubungan
hakekatnya, informasi mengenai seks serta
antara
terbukanya komunikasi merupakan sesuatu
seksual yang terapkan orang tua terhadap
yang penting untuk dilakukan orang tua
perilaku seksual remaja. Dalam arti, apakah
selama masa remaja.
komunikasi tersebut dapat memfasilitasi
Namun hasil kajian peneliti terhadap
dua penelitian lain menemukan adanya
temuan berbeda dengan pernyataan yang
dikemukakan
Sarwono
justru
mengenai
menghambat
masalah
anak
untuk
melakukan perilaku seksual pranikah.
Terkait
hal
itu,
Ehrenberg dan
Hasil
Ehrenberg (dalam Masters et al, 1994)
penelitian Liana (2007) menunjukkan bahwa
menyatakan ada pola komunikasi mengenai
komunikasi orang tua dan anak tentang
masalah seksual yang digunakan orang tua
seksualitas
hubungan
terhadap remaja. Pertama, pola komunikasi
terhadap perilaku seksual remaja. Bahwa
sex repressive, yakni orang tua memberi
ketika
sering
penjelasan kepada anak bahwa seks adalah
membicarakan masalah seksual, justru dapat
sesuatu yang kotor. Kedua, pola komunikasi
memicu dan meningkatkan rasa ingin tahu
sex avoidant, dimana orang tua merasa malu
remaja perihal seksualitas. Keinginan tahu
untuk memberi penjelasan kepada anak
tersebut selanjutnya justru dapat mendorong
mengenai seks. Ketiga, pola komunikasi sex
remaja menjadi lebih aktif melakukan usaha
obsessive, orang tua menunjukkan sikap dan
untuk memenuhi keingintahuannya, yang
aktivitas yang berkaitan dengan seks secara
salah satunya dengan melakukan perilaku
terbuka. Selanjutnya, pola komunikasi sex
seksual pranikah.
expressive,
tidak
orang
tua
tersebut.
atau
komunikasi
memiliki
dan
anak
Penelitian lain yang dilakukan oleh
Prihartini, Nuryoto, dan Aviatin (2002) juga
menununjukan
bahwa
semakin
efektif
komunikasi yang diberikan oleh keluarga
yaitu
orang
tua
mengintegrasikan seks ke dalam kehidupan
keluarga yang seimbang.
Faktor lain
yang mempengaruhi
perilaku seksual pranikah remaja adalah
Asrila, Hubungan Pola Komunikasi Seksual…| 108
kondisi lingkungan, salah satunya adalah
sosial
yang
mendesak
tempat tinggal remaja. Hal ini sesuai dengan
menyesuaikan
pernyataan Barker (1968, dalam Iskandar,
seperti yang mereka inginkan.
diri
mereka
dengan
untuk
berrperilaku
2012) bahwa, terdapatpengaruh lingkungan
Berdasarkan paparan tersebut terlihat
terhadap perilaku individu. Pengaturan tata
bahwa penelitian mengenai hubungan antara
letak dari lingkungan di sekitar individu,
pola komunikasi masalah seksual dengan
maupun
perilaku seksual pranikah remaja akhir yang
kondisi
sosial
menentukan
bagaimana individu tersebut bereaksi. Hal
itu
terjadi
karena
dalam
indekos penting untuk dilakukan.
berinteraksi,
terdapat pengaruh secara timbal balik antara
METODE
individu, lingkungan sosial, dan lingkungan
fisik.Sesuai
dengan
asumsi
tersebut,
Pendekatan penelitian merupakan
penelitian
kuantitatif
desain
bebas
dalam
berdasarkan kajian yang dilakukan, peneliti
korelasional.
melihat bahwa remaja akhir yang indekos
penelitian ini
juga lebih rentan untuk melakukan seks
seksual, sementara variabel tergantungnya
pranikah.
adalah perilaku seksual pranikah. Teknik
Ada
menyebabkan
beberapa
tempat
faktor
kos
yang
mendukung
Variabel
dengan
adalah
pola komunikasi
pengambilan sampel dalam penelitian ini
adalah
incidental
technique
sampling.
remaja untuk melakukan perilaku seksual
Jumlah responden yang terlibat dalam
pranikah. Salah satunya adalah karena
penelitian ini adalah 100 orang.
lemahnya pengawasan sosial pada remaja di
variabel
tempat
dikumpulkan
kos.
Hal
itu
sejalan
dengan
pola
komunikasi
dengan
Skala
Data
seksual
Pola
pernyataan Santrock (2007) yang dapat
Komunikasi Masalah Seksual yang tersusun
meadi faktor terjadinya aktivitas seksual
dari 41 aitem pernyataan. Skala ini disusun
remaja adalah kurangnya pengawasan orang
sendiri oleh peneliti berdasarkan teori pola
tua dan rendahnya pengawasan lingkungan.
komunikasi
masalah
seksual
yang
Sementara menurut Andriati (2009)
dikemukakan oleh Ehrenberg dan Ehrenberg
salah satu faktor yang mempengaruhi seks
(Masters, et al, 1994). Hasil uji coba skala
pranikah remaja yang indekos adalah teman
ini menunjukkan bahwa reliabilitas untuk
sebaya. Remaja mempunyai kecenderungan
pola komunikasi sex repressive sebesar
untuk mengadopsi informasi, khususnya
0,796, untuk pola komunikasi sex avoidance
mengenai perihal seksual, yang disampaikan
sebesar 0,763, untuk pola komunikasi sex
oleh teman-temannya. Selain itu, teman
expressive sebesar 0,886, dan untuk pola
sebaya juga sering menjadi sumber tekanan
komunikasi sex obsessive sebesar 0,850.
109 | Jurnal RAP UNP, Vol. 6, No. 2, November 2015, hlm. 104-113
Sementara itu, untuk Skala Perilaku Seksual
Pranikah
diadaptasi
yang
hipotesis yang kedua, mengenai hubungan
dikembangkan oleh Suliso (2014) yang
antara pola komunikasi sex avoidance
disusun berdasarkan Teori Perilaku Seksual
dengan perilaku seksual remaja. Hasil uji
Pranikah yang dikemukakan Reiss (dalam
korelasi hipotesis kedua menunjukkan nilai
Suliso, 2014). Skala ini tersusun dari 25
signifikansi sebesar 0,772 (P>0,05) sehingga
aitem pernyataan dengan nilai reliabilitas
hipotesa penelitian juga ditolak. Hal ini juga
sebesar
yang
berarti bahwa semakin tinggi atau semakin
dilakukan adalah korelasi Spearman Rank
rendah intensitas pola komunikasi sex
karena data penelitian ini tidak terdistribusi
avoidance yang dilakukan orang tua kepada
normal, sehingga data penelitian harus
remaja, tidak berkaitan dengan perilaku
dianalisis menggunakan kaidah statistik
seksual pranikah remaja bersangkutan.
0,940.
dari
Analisis
skala
Hal yang sama juga terjadi pada uji
korelasi
nonparametrik.
Pembahasan
Hasil penelitian tersebut berbeda
HASIL DAN PEMBAHASAN
dengan pernyataan Sarwono (2013) bahwa
Hasil
Hasil penelitian ini penulis paparkan
dengan
menunjukkan
hubungan
dari
adanya larangan atau pembicaraan yang tabu
dan kurangnya informasi tentang seks
masing-masing pola komunikasi seksual
menjadi
dengan perilaku seksual pranikah remaja.
terjadinya perilaku seksual pranikah pada
Hasil uji korelasi antara pola komunikasi sex
remaja. Sementara hasil penelitian ini
repressive dan perilaku seksual remaja
menunjukkan
menunjukkannilai signifikansi sebesar 0,244
membicarakan permasalahan seksual yang
(P> 0,05) sehingga hipotesa penelitian untuk
menjadi ciri pola komunikasi sex repressive
hubungan dua variabel ini ditolak. Hal ini
dan kurangnya informasi tentang seks, yang
menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut
dapat
tidak berhubungan.
informasi seks dari orang tua, seperti pada
diartikan
bahwa
Temuan ini
semakin
tinggi
dapat
atau
pola
faktor
yang
bahwa
diakibatkan
komunikasi
menyebabkan
karena
sex
larangan
minimnya
avoidance
tidak
semakin rendah intensitas pola komunikasi
berkaitan dengan perilaku seksual pranikah
sex repressive yang dilakukan orang tua
pada remaja.
pada anak tidak berkaitan dengan perilaku
Berbeda dengan hasil penelitian
seksual pranikah yang dilakukan remaja
yang telah dijelaskan di atas, hasil uji
bersangkutan.
korelasi pada hipotesis ketiga membuktikan
adanya hubungan antara pola komunikasi
Asrila, Hubungan Pola Komunikasi Seksual…| 110
yang dilakukan orang tua dengan perilaku
komunikasi seksual yang baik dicirikan
seksual pranikah pada remaja. Hasil uji
dengan
korelasi
ini
komunikasi yang memungkinkan terjadinya
membuktikan terdapat hubungan negatif
diskusi, sharing, dan pemecahan masalah
antara pola komunikasi sex expressive yang
secara bersama. Hal tersebut merupakan ciri
dilakukan orang tua dengan perilaku seksual
yang tergambar dari pola komunikasi sex
pranikah pada remaja. Artinya, semakin
expressive. Dalam pola komunikasi sex
tinggi
sex
expressive orang tua mengintegrasikan seks
tua
ke
pada
hipotesis
intensitas
expressive
yang
pola
ketiga
komunikasi
dilakukan
orang
orang
dalam
tua
yang
kehidupan
melakukan
keluarga
secara
bersama remaja, maka perilaku seksual
seimbang, serta membangun diskusi yang
pranikah mereka akan semakin rendah.
bersifat
intelektual
Begitu juga sebaliknya.
seksual.
Selain
Temuan
tersebut
sesuai
dengan
mendiskusikan
mengenai
itu,
orang
masalah
masalah
tua
seksual
juga
secara
pernyataan Ehrenberg dan Ehrenberg (dalam
terbuka dengan anak, namun tetap dalam
Tennyson, 2000), bahwa remaja cenderung
batasan topik yang disesuaikan dengan usia
menginternalisasikan nilai-nilai seks yang
anak
diperoleh dari orang tua. Pemahaman
dikemukakan oleh Laily dan Matulessy
terhadap nilai-nilai seksual diperoleh anak
(2004),
dari informasi yang diberikan oleh orang
expressive merupakan cara penyampaian
tua. Sehingga cara yang dilakukan orang tua
komunikasi
dalam memberikan informasi mengenai
mendiskusikan masalah seksual bersama
masalah seksual juga berpengaruh terhadap
anak.
tersebut.
nilai-nilai yang diterima oleh anak. Apabila
cara
pemberian
pesan
tepat,
Sehingga,
bahwa
yang
pola
seperti
komunikasi
paling
ideal
yang
sex
dalam
Selain itu, hasil uji korelasi pada
maka
hipotesis yang keempat juga membuktikan
pemahaman yang diterima juga tepat, begitu
adanya hubungan antara pola komunikasi
juga sebaliknya.
yang dilakukan orang tua dengan perilaku
Hal tersebut juga sejalan dengan
pendapat
dari
Mertia,
pranikah
pada
anak.
Pola
dan
komunikasi yang dinyatakan berhubungan
Yuliadi(2011), bahwa melalui komunikasi
adalah pola komunikasi sex obsessive,
yang baik, orang tua dapat memberikan
dengan arah hubungan positif. Artinya,
pemahaman mengenai masalah seksual dan
semakin tinggi intensitas pola komunikasi
mengajarkan
yang
sex obsessive yang dilakukan orang tua dan
bertanggung jawab pada remaja. Lebih
anak, maka akan semakin tinggi pula
perilaku
Hidayat
seksual
seksual
lanjut, Mertia, et al (2011) menjelaskan
111 | Jurnal RAP UNP, Vol. 6, No. 2, November 2015, hlm. 104-113
perilaku seksual yang dilakukan oleh anak
perilaku seksual pranikah remaja akhir
tersebut. Begitu pula sebaliknya.
indekos, dengan nilai koefisien korelasi
Hubungan
positif
pola
sebesar -0,195 dan termasuk pada kategori
komunikasi sex obsessive yang dilakukan
hubungan yang sangat rendah. Selanjutnya,
orang tua dengan perilaku seksual pranikah
hubungan antara pola komunikasi sex
pada anak sesuai dengan pernyataan dari
obsessive dengan perilaku seksual pranikah
Garliah
yang
remaja akhir indekos, dengan nilai koefisien
menjelaskan bahwa informasi yang kurang
korelasi sebesar 0,314 dan termasuk pada
tepat
kategori hubungan yang rendah.
dan
akan
pada
Kirana
(2008),
cenderung
diinterpretasikan
dengan kurang tepat pula bagi anak.
Dilihat dari kategori hubungan antara
Sehingga sikap yang bebas dan aktivitas
pola komunikasi sex expressive dengan
seks secara terbuka yang menjadi ciri pada
perilaku
pola
justru
komunikasi sex obsessivedengan perilaku
membuat anak menginterpretasikan perilaku
seksual pranikah, dapat diartikan bahwa
seksual pranikah menjadi hal yang wajar
pola komunikasi sex expressive dan pola
untuk dilakukan.
komunikasi sex obsessivebelum memiliki
komunikasi
sex
obsessive
Selain itu, Ehrenberg dan Ehrenberg
seksual
pranikah
hubungan yang kuat dengan perilaku seksual
(dalam Tennyson, 2000) juga menjelaskan
pranikah.
Walaupun
bahwa
hubungan
yang
remaja
menggunakan
dengan
pola
keluarga
yang
komunikasi
sex
danpola
demikian,
dinyatakan
hasil
signifikan
membuat hubungan antara kedua variabel
obsessive merasa terdorong untuk meniru
tersebut
dengan
perilaku
sikap bebas terhadap masalah seks. Dalam
pranikahtidak dapat diabaikan.
seksual
arti, orang tua tidak tidak memberikan
batasan pada remaja
dalam pergaulan
dengan lawan jenis dan menunjukkan
aktivitas
seks
mengakibatkan
terbuka
terjadinya
sehingga
pengalaman
seksual dini bagi anak tersebut.
Berdasarkan
paparan
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan
uraian
hasil
dan
pembahasan penelitian sebelumnya maka
dapat disimpulkan bahwa:
hasil
uji
1. Tidak terdapat hubungan antara pola
hipotesis penelitian yang diajukan, terdapat
komunikasi
dua
perilaku seksual pranikah remaja akhir
hipotesis
penelitian
yang
ditolak.
Sementara itu, dua hipotesis penelitian yang
dinyatakan diterima, adalah hubungan antara
pola komunikasi sex expressive dengan
sex
repressive
dengan
indekos.
2. Tidak terdapat hubungan antara pola
komunikasi
sex
avoidance
dengan
Asrila, Hubungan Pola Komunikasi Seksual…| 112
perilaku seksual pranikah remaja akhir
terdistribusi secara normal dan adanya
indekos.
hipotesa penelitian yang ditolak maka perlu
3. Terdapat hubungan negatif antara pola
ada perhatian terkait penentuan jumlah
komunikasi sex expressive yang dilakukan
sampel,
oleh orang tua dan anak dengan perilaku
range skala yang digunakan.
seksual pranikah remaja akhir indekos.
4. Terdapat hubungan positif antara pola
perhatian
terhadap
panjangnya
Secara praktis peneliti berharap orang
tua dapat menggunakan pola komunikasi
komunikasi sex obsessive yang dilakukan
seks
ekpresif
oleh orang tua dan anak dengan perilaku
mengenai masalah seksual dengan remaja,
seksual pranikah remaja akhir indekos.
misalnya
lewat
ketika
diskusi
berkomunikasi
yang
bersifat
intelektual dengan remaja. Di sisi lain,
Saran
Adapun saran penulis terkait temuan
penelitian
ini
adalah
peneliti
pola komunikasi seksual obsesif, yaitu
selanjutnya dapat melakukan penelitian
mengkomunikasikan isu seksual dengan
dengan
untuk
menunjukkan sikap, pembicaraan maupun
pola
aktivitas seksual yang terlalu terbuka di
pendekatan
mendalami
agar
diharapkan orang tua dapat menghindari
kualitatif
keterkaitan
antara
komunikasi seksual dan seksual pranikah.
Sementara
terkait
data
yang
depan anak.
tidak
DAFTAR RUJUKAN
Andriati, N. (2009). Gambaran perilaku
remaja yang diawasi ibu kost dan
yang tidak diawasi ibu kost tentang
hubungan seksual pranikah di
Padang Bulan Medan. Skripsi.
Medan: Universitas Sumatera Utara
Garliah, L., Kirana, W. (2008). Perbedaan
perilaku seksual pada remaja ditinjau
dari pola komunikasi antara orang
tua dan anak mengenai masalah
seksual. JurnalPsikologia, 4(1), 2026
Badan
Haluan Padang. (2014). Seks bebas di
Sumbar
marak.http://www.
harianhaluan.com/index.php/berita/h
aluan-padang/31563-seks-bebas-disumbar-marak. Diakses8 Desember
2014
Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional. (2014). Ini
pemicu maraknya seks bebas di
kalangan remaja. www.bkkbn.co.id.
diakses 3 Juni 2015
Covesia. (2014). Selama 2014, penderita
HIV/AIDS di Sumbar 2.088 Kasus.
http://www.covesia.com
/berita/2199/selama-2014-penderitahiv-aids-di-sumbar-2-088kasus.html. Diakses 3 Maret 2015
Hurlock,
E.B.
(1999).
Psikologi
perkembangan. Jakarta: Erlangga
Iskandar, Z. (2012). Psikologi lingkungan.
Bandung: PT. Refika Aditama
113 | Jurnal RAP UNP, Vol. 6, No. 2, November 2015, hlm. 104-113
Jakarta Islamic Center. (2012). Berantas
pornografi
dengan
QLP.
http://islamic-center.or.id/berantaspornografi-dengan-qlp/ . Diakses 3
Maret 2015
Jurnas. (2014). Hubungan seksual pranikah
remaja
meningkat.
http://m.jurnas.com/news/137555/Hu
bungan-Seksual-Pranikah-RemajaMeningkat-2014/1/SosialBudaya/Kesehatan/. Diakses 3 Maret
2015
Laily, N., Matulessy, A. (2004). Pola
komunikasi masalah seksual antara
orang tua dan anak. Anima,
Indonesian Psychological Journal,
19(2), 194-205
Liana, D. (2007). Perilaku seksual remaja
ditinjau dari komunikasi orang tua
dan anak tentang seksualitas. skripsi.
Semarang:
Universitas
Katolik
Soegijapranata
Masters, V.H., Johnson, V.E., & Kolodny,
R.C. (1992). Human sexuality. New
York: Harper Collins Publishers
Mertia, E.N., Hidayat, T., & Yuliadi, I.
(2011).
Hubungan
antara
pengetahuan seksualitas dan kualitas
komunikasi orang tua dan anak
dengan perilaku seks bebas pada
remaja
siswa-siswi
MAN
Gondangrejo Karangyar. Wacana
Jurnal Psikologi, 3(6), 109-136
Prihartini, T., Nuryoto, S., Aviatin, T.
(2002). Hubungan antara komunikasi
efektif tentang seksualitas dalam
keluarga dengan sikap remaja awal
terhadap pergaulan bebas antar
lawan jenis. Jurnal Psikologi, No. 2,
124-139
Salisa, A. (2010). Perilaku seks pranikah di
kalangan remaja.skripsi. Surakarta:
Universitas Sebelas Maret
Santrock, J.W. (2007). Remaja. Erlangga:
Jakarta
Sarwono, S.W. (2013). Psikologi remaja
(Edisi Revisi). Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada
Suliso, D.H. (2014). Perbedaan perilaku
seksual pranikah pada remaja
berdasarkan jenis kelamin.skripsi.
Jakarta: Universitas Gunadarma
Tennyson, S.M. (2000). Mother-daughter
communication about sex and
sexuality. USA: University of
Wisconsin-Stout
Download

hubungan pola komunikasi antara orang tua dan - e