BAB II KAJIAN TEORI A. Sikap 1. Pengertian Sikap Berkowitz

advertisement
BAB II
KAJIAN TEORI
A.
Sikap
1.
Pengertian Sikap
Berkowitz (Azwar 2007; 5) menemukan adanya lebih dari tiga puluh definisi
sikap. Puluhan definisi itu umumnya dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari tiga
kerangka pemikiran. Pertama adalah kerangka pemikiran yang diwakili oleh para ahli
psikologi seperti Louis Thurstone, Rensis Likert, dan Charles Osgood. Menurut
mereka, sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang
terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favourable) maupun
perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavourable) pada objek tersebut.
Secara lebih spesifik Thurstone sendiri memformulasikan sikap sebagai derajat afek
positif atau afek negatif terhadap suatu objek psikologis.
La Pierre mendefinisikan sikap sebagai suatu pola perilaku, tendensi atau
kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau
secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah dikondisikan.
Kelompok pemikiran yang ketiga adalah kelompok yang berorientasi kepada skema
triadik (triadic scheme). Menurut kerangka pemikiran ini, suatu sikap merupakan
konstelasi komponen-komponen kognitif, afektif, dan konatif yang saling berinteraksi
dalam memahami, merasakan, dan berperilaku terhadap suatu objek. Secord &
Backman mendefinisikan sikap sebagai keteraturan tertentu dalam hal perasaan
(afeksi), pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap
suatu aspek di lingkungan sekitarnya (Azwar, 2007; 5).
17
2.
Komponen Sikap
Secara umum, dalam berbagai referensi, sikap memiliki 3 komponen yakni:
kognitif, afektif, dan kecenderungan tindakan (konatif) (Azwar, 2007; 23-24).
Komponen kognitif merupakan aspek sikap yang berkenaan dengan penilaian individu
terhadap obyek atau subyek. Informasi yang masuk ke dalam otak manusia, melalui
proses analisis, sintesis, dan evaluasi akan menghasilkan nilai baru yang akan
diakomodasi atau diasimilasikan dengan pengetahuan yang telah ada di dalam otak
manusia. Nilai-nilai baru yang diyakini benar, baik, indah, dan sebagainya, pada
akhirnya akan mempengaruhi emosi atau komponen afektif dari sikap individu. Oleh
karena itu, komponen afektif dapat dikatakan sebagai perasaan (emosi) individu
terhadap obyek atau subyek, yang sejalan dengan hasil penilaiannya. Sedang
komponen kecenderungan (konatif) bertindak berkenaan dengan keinginan individu
untuk melakukan perbuatan sesuai dengan keyakinan dan keinginannya. Sikap
seseorang terhadap suatu obyek atau subyek dapat positif atau negatif. Manifestasikan
sikap terlihat dari tanggapan seseorang apakah ia menerima atau menolak, setuju atau
tidak setuju terhadap obyek atau subyek.
Komponen kognitif, afektif, dan kecenderungan bertindak merupakan suatu
kesatuan sistem, sehingga tidak dapat dilepas satu dengan lainnya. Ketiga komponen
tersebut secara bersama-sama membentuk sikap pribadi.
Sikap dapat pula diklasifikasikan menjadi sikap individu dan sikap sosial
(Gerungan, 2009; 161). Sikap sosial dinyatakan oleh cara-cara kegiatan yang sama dan
berulang-ulang terhadap obyek sosial, dan biasanya dinyatakan oleh sekelompok orang
atau masyarakat. Sedang sikap individu, adalah sikap yang dimiliki dan dinyatakan
oleh seseorang. Sikap seseorang pada akhirnya dapat membentuk sikap sosial,
18
manakala ada seragaman sikap terhadap suatu obyek pengetahuan yang dimiliki orang
(Gerungan, 2009; 163-164).
Semakin kompleks situasinya dan semakin banyak faktor yang ikut menjadi
pertimbangan dalam bertindak, maka semakin sulitlah memprediksi perilaku dan
semakin sulit pula penafsirannya sebagai indikator sikap seseorang. Hal inilah yang
dijelaskan oleh model Theory of Reasoned Action bahwa respon perilaku tidak saja
ditentukan oleh sikap individu, tetapi juga oleh norma subjektif yang ada dalam diri
individu dan dijelaskan pula oleh model teori Kurt Lewin bahwa perilaku merupakan
fungsi dari faktor kepribadian individual dan faktor lingkungan (Baron, 2003; 135).
Dengan demikian, penyimpulan mengenai sikap individu tidaklah mudah dan
bahkan dapat menyesatkan jika diambil langsung dari bentuk-bentuk perilaku yang
tampak saja. Inferensi atau penyimpulan sikap harus didasarkan pada suatu fenomena
yang diamati dan dapat diukur. Fenonema ini berupa respon terhadap suatu objek sikap
dalam berbagai bentuk. Rosenberg dan Hovland melakukan analisis terhadap berbagai
respon yang dapat dijadikan dasar penyimpulan sikap dari perilaku, yang hasilnya
disajikan dalam Tabel 3.
Tabel 3
Respon yang Digunakan Untuk Penyimpulan Sikap (Azwar, 2007; 20)
Tipe
respons
Verbal
Non Verbal
Kategori Respons
Kognitif
Afektif
Konatif
Pernyataan
keyakinan
mengenai objek
sikap
Pernyataan
perasaan terhadap
objek sikap
Pernyataan intensi
perilaku
Reaksi perseptual
terhadap objek
sikap
Reaksi fisiologis
terhadap objek
sikap
Perilaku tampak
sehubungan
dengan objek
sikap
19
Dalam Tabel 3, respon kognitif verbal merupakan pernyataan mengenai apa yang
dipercayai atau diyakini mengenai obyek sikap, respon kognitif yang non verbal lebih
sulit untuk diungkap disamping informasi tentang sikap yang diberikannya pun lebih
bersifat tidak langsung, respon afektif verbal dapat dilihat pada pernyataan verbal
perasan seseorang mengenai sesuatu, respon afektif non verbal berupa reaksi fisik
seperti ekspresi muka yang mencibir, tersenyum, gerakan tangan dan sebagainya,
respon konatif pada dasarnya merupakan kecenderungan untuk berbuat, dalam bentuk
verbal, intensi ini terungkap lewat pernyataan keinginan melakukan atau
kecenderungan untuk melakukan (Azwar, 2007; 20-21).
Berdasarkan berberapa definisi mengenai sikap yang dijelaskan di atas, penulis
dapat mengambil kesimpulan bahwa sikap adalah suatu bentuk respon atau reaksi
internal individu berupa respon emosional (afektif), respon kognitif, dan respon konasi
(kecenderungan perilaku) terhadap suatu objek.
3.
Ciri-Ciri Sikap
Sikap merupakan faktor yang ada dalam diri manusia yang dapat mendorong
atau menimbulkan perilaku yang tertentu. Walaupun demikian sikap mempunyai segisegi perbedaan dengan pendorong- pendorong lain yang ada dalam diri manusia
tersebut. Oleh karena itu untuk membedakan sikap dengan pendorong- pendorong
yang lain, ada beberapa ciri atau sifat dari sikap tersebut. Adapun ciri- ciri sikap
sebagai berikut (Gerungan, 2009; 163-164):
a. Sikap tidak dibawa orang sejak ia dilahirkan, tetapi dibentuk atau dipelajarinya
sepanjang perkembangan orang itu dalam hubungannya dengan objeknya. Sifat
ini membedakannya dengan sifat motif-motif biogenetis, seperti lapar, haus,dll.
20
b. Sikap dapat berubah-ubah, karena itu sikap dapat dipelajari orang, atau
sebaliknya, sikap-sikap dapat dipelajarinya sehingga sikap-sikap dapat berubah
pada seseorang jika terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat tertentu yang
mempermudah berubahnya sikap pada orang tersebut.
c. Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mengandung relasi tertentu terhadap
suatu objek. Dengan kata lain, sikap terbentuk, dipelajari, atau berubah
senantiasa berkaitan dengan suatu objek tertentu yang dapat dirumuskan dengan
jelas.
d. Objek sikap dapat merupakan satu hal tertentu, tapi dapat pula merupakan
kumpulan dari hal-hal tersebut. Jadi sikap dapat berkaitan dengan satu objek saja
dan juga dapat berkaitan dengan sederetan objek yang serupa.
e. Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan. Sifat inilah yang
membeda-bedakan
sikap
dari
kecakapan-kecakapan
atau
pengetahuan-
pengetahuan yang dimiliki orang.
Sikap dapat merupakan suatu pandangan tetapi dalam hal ini masih berbeda
dengan pengetahuan yang dimiliki orang. Pengetahuan tentang suatu objek baru
menjadi sikap terhadap objek apabila pengetahuan itu disertai dengan kesiapan untuk
bertindak sesuai dengan pengetahuan terhadap objek itu.
4.
Pembentukan dan Perubahan Sikap
Pembentukan sikap tidak terjadi dengan sendirinya atau dengan sembarang saja.
Pembentukannya senantiasa berlangsung dalam interaksi manusia dan berkaitan
dengan objek tertentu. Interaksi sosial di dalam kelompok maupun di luar kelompok
dapat mengubah sikap atau membentuk sikap yang baru. Yang dimaksudkan dengan
interaksi di luar kelompok adalah interaksi dengan hasil buah kebudayaan manusia
21
yang sampai kepadanya melalui media komunikasi seperti surat kabar, radio, televisi,
buku, dan risalah. Akan tetapi, pengaruh dari luar diri manusia karena interaksi di luar
kelompoknya itu sendiri belum cukup untuk menyebabkan berubahnya sikap atau
terbentuknya sikap yang baru. Faktor-faktor lain yang turut memegang peranan adalah
faktor-faktor internal di dalam diri pribadi manusia itu, yaitu selektivitasnya sendiri,
daya pilihnya sendiri, atau minat perhatiannya untuk menerima dan mengolah
pengaruh-pengaruh yang datang dari luar dirinya itu. Dan faktor-faktor internal itu
turut ditentukan pula oleh motif-motif dan sikap lainnya yang sudah terdapat dalam
diri pribadi orang itu. Jadi, dalam pembentukan dan perubahan sikap itu terdapat
faktor-faktor internal dan faktor-faktor eksternal pribadi individu yang memegang
peranannya.
Dalam interaksi sosialnya, individu bereaksi membentuk pola sikap tertentu
terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya. Diantara faktor yang
mempengaruhi pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain
yang dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga agama, serta faktor emosi
dalam diri individu (Azwar, 2007; 30-37). Berikut diuraikan lebih lanjut:
a. Pengalaman Pribadi
Middlebrook (Azwar 2007; 31) mengatakan bahwa tidak adanya pengalaman
sama sekali dengan suatu objek psikologis cenderung akan membentuk sikap negatif
terhadap objek tersebut. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman
pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu sikap akan lebih mudah
terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan
faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan faktor emosi, penghayatan akan
pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama membekas. Menurut Azwar (2007;
22
31) perlu diperhatikan bahwa pengalaman tunggal jarang sekali menjadi dasar
pembentukan sikap. Individu sebagai orang yang menerima pengalaman, orang yang
melakukan tanggapan atau penghayatan, biasanya tidak melepaskan pengalaman yang
sedang dialaminya dari pengalaman-pengalaman yang terdahulu yang relevan.
b. Pengaruh Orang Lain Yang Dianggap Penting
Menurut Sarnoff (Sarwono, 2008; 234-235) pada umumnya individu cenderung
memilih untuk memiliki sikap yang konformis dengan significant others.
Kecenderungan ini dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan
menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
c. Pengaruh Kebudayaan
Kebudayaan dimana pun kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar
terhadap pembentukan sikap kita. Tanpa kita sadari, kebudayaan telah menanamkan
garis pengarah kita terhadap berbagai masalah. Misalnya, apabila kita hidup dalam
budaya sosial yang sangat mengutamakan kehidupan berkelompok, maka sangat
mungkin kita akan mempunyai sikap negatif terhadap kehidupan individualisme yang
mengutamakan kepentingan perorangan.
Seorang ahli psikologi, Burrhus Frederic Skinner sangat menekankan pengaruh
lingkungan (termasuk kebudayaan) dalam membentuk pribadi seseorang. Menurutnya,
kepribadian merupakan pola perilaku yang konsisten, yang menggambarkan sejarah
reinforcement
(penguatan,
ganjaran)
yang
dialami
seseorang
(Hergenhahn,
dalam Azwar, 2007; 34). Seseorang memiliki pola sikap dan perilaku tertentu
dikarenakan orang tersebut mendapat reinforcement dari masyarakat untuk sikap dan
perilaku tersebut.
23
d. Media Massa
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio,
surat kabar, majalah, dll. Mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan
kepercayaan orang. Dalam penyampaian informasi, media massa membawa pula
pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya
informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi
terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa oleh
informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam menilai
sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.
e. Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama
Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai
pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar
pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk,
boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan
serta ajaran-ajarannya.
f. Pengaruh Faktor Emosional
Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman
pribadi seseorang. Terkadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari
oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan
bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap yang demikian dapat merupakan sikap yang
sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang, akan tetapi dapat pula
merupakan sikap yang lebih persisten dan tahan lama.
24
Faktor- faktor yang menyebabkan perubahan perilaku antara lain:
a. Faktor internal, yaitu faktor yang terdapat dalam pribadi manusia itu sendiri.
Faktor ini berupa selectivity atau daya pilih seseorang untuk menerima dan
mengolah pengaruh- pengaruh yang datang dari luar. Pilihan terhadap pengaruh
dari luar itu biasanya disesuaikan dengan motif dan sikap di dalam diri manusia,
terutama yang menjadi minat perhatiannya.
b. Faktor eksternal, yaitu faktor yang terdapat diluar pribadi manusia. Faktor ini
berupa interaksi sosial di luar kelompok.
Dalam hal ini Sheriff mengemukakan bahwa sikap itu dapat diubah dan dibentuk
apabila: 1) Terdapat hubungan timbal balik yang langsung antara manusia. 2) Adanya
komunikasi (yaitu hubungan langsung) dari satu pihak. Faktor ini pun masih
tergantung pula adanya: Sumber penerangan itu memperoleh kepercayaan orang
banyak/ tidak dan ragu- ragu atau tidaknya menghadapi fakta dan isi sikap baru itu.
5.
Teori Perilaku Terencana (Theory of Planned Behavior)
Teori Tindakan Beralasan (Theory of Reasoned Action) dan versi selanjutnya
dari kerangka berfikir ini lebih dikenal sebagai teori tingkah laku terencana (theory of
planned behaviour) yang pertama kali dinyatakan oleh Fishben dan Ajzen (1980,
Ajzen, 1991, dalam Baron, 2003; 135). Teori ini menyatakan bahwa keputusan untuk
menampilkan tingkah laku tertentu adalah hasil dari proses rasional yang diarahkan
pada suatu tujuan tertentu dan mengikuti urutan-urutan berpikir. Pilihan tingkah laku
dipertimbangkan, konsekuensi dan hasil dari setiap tingkah laku dievaluasi, dan dibuat
sebuah keputusan apakah akan bertindak atau tidak. Kemudian keputusan itu
direfleksikan dalam tujuan tingkah laku, di mana menurut Fishbein, Ajzen, dan banyak
peneliti lain, sering kali dapat menjadi prediktor yang kuat terhadap cara kita akan
25
bertingkah laku dalam situasi yang terjadi (Ajzen, 1987 dalam Baron, 2003; 135).
Berdasarkan teori ini, intensi pada gilirannya ditentukan oleh dua faktor, yaitu sikap
terhadap tingkah laku (attitudes toward a behaviour) evaluasi positif atau negatif dari
tingkah laku yang ditampilkan (apakah mereka
berpikir tindakan itu akan
menimbulkan konsekuensi positif atau negatif) dan norma subjektif persepsi orang
apakah orang lain akan menyetujui atau menolak tingkah laku tersebut. Teori tingkah
laku terencana yang merupakan perluasan dari theory reasoned action yang
menyatakan bawa selain sikap terhadap tingkah laku dan norma-norma subjektif
terhadap hal tersebut, individu juga mempertimbangkan kontrol tingkah laku yang
dipersepsikannya yaitu kemampuan untuk melakukan tindakan tersebut.
Dengan melihat anteseden penyebab perilaku volisional (perilaku yang
dilakukan atas kemauan sendiri), teori ini didasarkan pada asumsi-asumsi: a) bahwa
manusia umumnya melakukan sesuatu dengan cara-cara yang masuk akal, b) bahwa
manusia mempertimbangkan semua informasi yang ada, dan c) bahwa secara eksplisit
maupun implisit manusia mempertimbangkan implikasi tindakan mereka (Azwar,
2007; 11).
Menurut perilaku terencana, diantara berbagai keyakinan yang akhirnya akan
menetukan intensi dan perilaku tertentu adalah keyakinan mengenai tersedia tidaknya
kesempatan dan sumber yang diperlukan (Ajzen, 1988 dalam Azwar, 2007; 13).
Keyakinan dapat berasal dari pengalaman dengan perilaku yang bersangkutan dimasa
lalu, dapat juga dipengaruhi oleh informasi mengenai perilaku itu misalnya dengan
melihat pengalaman teman atau orang lain yang pernah melakukannya. Artinya
menurut theory of reasoned action bahwa respon perilaku tertentu ditentukan tidak saja
oleh sikap individu yang bersangkutan.
26
Subjective beliefs (keyakinan subjektif) merupakan satu unsur hubungan perilaku
dan sikap. Subjective beliefs berdasarkan pada keyakian subjek terhadap perilaku
tertentu atau evaluasi subjek terhadap perilaku tersebut. Dalam hal ini apakah perilaku
tersebut akan memberikan keuntungan bagi subjek atau tidak. Selain subjective beliefs
yang mempengaruhi individu dalam berperilaku, terhadap pula subjective norm
sebagai salah satu unsur sosial dalam diri subjek. subjective norm subjective norm
yang merupakan persepsi subjek terhadap anggapan sosial terhadapnya menjadi sebuah
unsur bandingan sekaligus sebagai evaluasi sosial terhadapnya apabila ia melakukan
perilaku tertentu. Anggapan sosial yang dimaksud adalah anggapan orang-orang yang
berada disekitar subjek atau juga norma-norma yang berlaku di lingkungan subjek.
Selain anggapan sosial yang mempengaruhi subjective norm seseorang, subjective
norm juga dipengaruhi oleh motivasi seseorang tersebut dalam memenuhi harapanharapan orang yang berada di sekitarnya atau norma-norma sosial yang berlaku.
Artinya, kesesuain antara perilaku yang diinginkan dengan harapan sosial akan
menjadi pertimbangan seseorang dalam menentukan sebuah perilaku, terutama dalam
sebuah lingkungan sosial yang masih memegang norma-norma.
Dari model perilaku terencana di atas, secara singkat dapat dikemukakan bahwa
perilaku manusia diarahkan oleh tiga jenis pertimbangan yakni: (1) keyakinan akan
kemungkinan hasil dari perilaku dan penilaian akan hasil-hasil tersebut (behavior
belief); (2) keyakinan akan harapan normatif akan pihak lain dan motivasi untuk
mematuhi harapan-harapan tersebut (normative belief); dan (3) keyakinan akan
tersedianya faktor-faktor yang mungkin memudahkan atau menghalangi terlaksananya
perilaku dan kekuatan yang dipersepsi akan faktor-faktor tersebut (control beliefs).
27
Selanjutnya, keyakinan akan berperilaku (behavioral beliefs) menghasilkan suatu
sikap terhadap perilaku tersebut (attitude toward behavior) yang favorable atau
unfavorable keyakinan normatif (normative beliefs) akan berdampak dalam tekanan
sosial yang dipersepsi yang dikenal dengan norma subjektif (subjective norms); dan
keyakinan kontrol akan menghasilkan kontrol perilaku yang dipersepsi (perceived
behavioral control). Dalam kombinasinya, sikap terhadap perilaku, norma subjektif,
dan kontrol yang dipersepsi mengarah kepada pembentukan niat berperilaku
(behavioral intention). Akhirnya, adanya kontrol perilaku aktual tertentu yang
memadai, seseorang diharapkan untuk melaksanakan niat untuk melakukan perilaku
tertentu ketika kesempatan tersebut muncul.
B.
Kelompok
1.
Pembentukan Kelompok
Menurut Sherif dan Sherif (Ahmadi, 2007; 87), kelompok sosial adalah suatu
kesatuan sosial yang terdiri atas dua individu atau lebih yang telah mengadakan
interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga diantara individu itu sudah
terdapat pembagian tugas, struktur dan norma-norma tertentu, yang khas bagi kesatuan
sosial tersebut.
Kelompok terbentuk karena adanya komunikasi. Terjadinya kelompok karena
individu berkomunikasi dengan yang lain, sama- sama memiliki motif dan tujuan
seperti halnya yang terjadi pada komunitas yang peneliti sebutkan, mereka memiliki
kesamaan untuk menjalin persaudaraan sesama pecinta motor, saling bertukar
pengetahuan tentang dunia otomotif, mempunyai kesamaan untuk melakukan touring,
serta kegiatan sosial lainnya. Dua orang atau lebih yang bekerjasama dalam suatu
hubungan fungsional satu sama lain inilah yang akan membentuk suatu kelompok.
28
Suatu kelompok yang telah terbentuk cenderung untuk memiliki ciri-ciri tertentu.
Mereka akan mengembangkan suatu struktur yang mengatur hubungan dan kedudukan
masing- masing anggota di dalam kelompok.
Keinginan orang untuk bergabung atau berkelompok, tinggal bersama, dapat
diterangkan dengan teori pertukaran sosial, atau social exchange theory, yang
dikemukakan oleh Thilbaut dan Kelley (dalam Ahmadi, 2007; 95) orang cenderung
untuk senang berkelompok selalu berkaitan dengan kesenangan yang diperoleh dan
kerugian atau biaya yang harus dikeluarkan. Seorang anggota club motor akan
memperoleh sejumlah kesenangan: bercanda gurau, rasa persaudaraan, saling
membantu, berbagi ilmu pengetahuan tentang otomotif, dan sebagainya. Sedangkan
kerugian di sini bias berupa uang tetapi dapat juga bukan uang, misalnya waktu,
tenaga, atau jasa-jasa lain.
Sebagian besar riset dan teori dalam bidang ilmu Psikologi Sosial mempelajari
bagaimana manusia mencari dan memahami makna berdasarkan tingkah laku yang
ditunjukkan orang lain dan bagaimana makna tersebut mempengaruhi interaksi mereka
di masa depan dengan orang lain (Morissan, 2010; 109). Menyadari pentingnya
masalah diri dan hubungannya dengan identitas kelompok, Henri Tafjel dan John
Turner (1986) (dalam Morrisan, 2010; 110) mengemukakan Teori Identitas Sosial
yang menyatakan bahwa identitas sosial seseorang ditentukan terutama oleh kelompok
di mana ia berasal atau berada (in-group). Para pendukung teori identitas sosial
menyatakan bahwa orang akan termotivasi untuk bergabung ke dalam kelompok yang
paling menarik dan atau memberikan keuntungan kepada kelompok di mana ia
menjadi anggotanya.
29
Tafjel dan Turner (1986) (dalam Morrisan, 2010; 110) menyatakan bahwa orang
berupaya untuk memperoleh atau mempertahankan identitas sosial yang positif, dan
mana kala identitas sosial yang dimiliki tidak memuaskan maka mereka akan ikut ke
dalam kelompok baru yang dirasa lebih nyaman atau berupaya menjadikan kelompok
lama memperoleh atau merasakan pengalaman baru yang positif.
Proses pembentukan kelompok adalah suatu keadaan yang dialami oleh
seseorang dengan alasan untuk mengelompokkan dirinya dengan sesamanya untuk
mencapai suatu tujuan bersama, dan tujuan itu mungkin tidak dapat dicapai sendiri
dalam usahanya (Ahmadi, 2007; 98). Alasan terbentuknya komunitas motor Vario
Owner Club Malang selain bertujuan sebagai wadah penyaluran hobi dan kegiatan
penggemar motor Vario, Vario Owner Club Malang juga bertujuan mempererat
persaudaraan antar anggota komunitas motor Vario pada khususnya dan pengendara
roda dua pada umumnya.
Menurut Abu Ahmadi (2007; 98-99), ada beberapa klasifikasi dasar
pembentukan kelompok, yaitu:
a. Dasar Psikologis
Pada dasarnya semua manusia bersifat sosial, dalam arti bahwa tidak seorang
pun di dunia ini yang ingin hidup menyendiri terpisah dari orang lain. Mereka
mengelompokkan dirinya dalam berbagai kelompok manusia bersifat sosial
mengandung pengertian pula bahwa pertumbuhan dan perkembangan manusia itu baru
mungkin terjadi di dalam hubungan sosial itu. Dalam hubungan sosial akan terjadi
interaksi sosial. Tiap- tiap individu mempunyai hubungan timbal balik dan saling
mempengaruhi antara individu dan kelompoknya dan sebaliknya. Pengaruh timbal
balik itu mengandung nilai meninggikan atau meningkatkan baik dalam arti konstruktif
30
maupun destruktif. Pengaruh konstruktif terjadi bila dapat meningkatkan kelompok itu
umumnya, dan perkembangan individu khususnya. Sedangkan pengaruh destruktif
terjadi bila hambatan atau pengrusakan hubungan sosial yang ada, namun di sini lebih
ditekankan sifat kelompok yang konstruktif untuk memberi kesempatan yang luas
kepada
individu
sesuai
hakekatnya
serta
untuk
mencapai
perkembangan
kepribadiannya.
b. Dasar Pedagogis
Setiap kelompok seharusnya mengandung nilai pedagogis dalam arti bahwa
dengan terbentuknya kelompok dapat ditingkatkan taraf perkembangan kepribadian
seseorang. Dengan adanya hubungan timbal balik dalam kelompok maka prestasi
individu dapat ditingkatkan. Dalam mengarahkan keberhasilan kelompok untuk
mencapai tujuan di butuhkan pribadi yang bertanggung jawab, yang dalam hal ini
disebut pimpinan yang dengan sadar melihat arah perkembangan yang terjadi. Dengan
ini disimpulkan pula arah bahwa dalam kelompok akan mudah ditemukan alat
pendidikan yang digunakan untuk mengembangkan anggota sebagai pribadi atau
sebagai anggota masyarakat.
c. Dasar Didaktis
Kelompok juga memilki nilai didaktis, yang digunakan sebagai alat untuk
menjadi perantara, penyampain materi yang baru kepada anggota, dan melalui kerja
kelompok anggota dapat menguasai suatu materi dengan jalan diskusi, soal jawab
secara singkat, melengkapi dan sebagainya.
Dengan demikian, setelah kelompok terbentuk antara lain karena adanya tujuan
yang bersaman, maka kemudian akan muncul struktur dari kelompok yang
31
bersangkutan, yang merupakan pembagian tugas dari anggota kelompok tersebut
sesuai dengan kemampuan masing-masing anggotanya.
2.
Struktur dan Tujuan Kelompok
Struktur kelompok merupakan pola interelasi anggota kelompok. Oleh karena
itu, kelompok sosial merupakan kelompok yang berstruktur, yaitu kelompok yang
mempunyai organisasi tertentu. Kelompok sosial dibedakan dengan kelompok yang
tidak terstruktur, yaitu agregat, maupun massa (Sherif dan Sherif, 1957 dalam Walgito,
2008; 53). Struktur atau organisasi kelompok adalah pembagian tugas masing- masing
anggota kelompok, sehingga ada hierarki yang jelas dalam kelompok bersangkutan.
Kelompok tentu dapat diorganisasikan dengan berbagai macam cara. Namun
demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dapat mempengaruhi
keputusan kelompok, yaitu: (1) bagaimana kelompok diorganisasikan secara efisien,
(2) mengingat lingkungan fisik dan sosial kelompok, (3) bagaimana kemampuan,
sikap, kebutuhan- kebutuhan, dan motivasi para anggota kelompok. Ketiganya dapat
mempengaruhi struktur suatu kelompok. Lingkungan sosial dan fisik, kemampuan para
anggota, serta sikap dan kebutuhan yang berbeda antara kelompok satu dengan
kelompok lain akan membawa perbedaan dalam struktur yang ada dalam kelompok
bersangkutan. Struktur dapat dibentuk secara formal maupun informal (Walgito, 2008;
53-54).
32
3.
Norma Kelompok
Norma kelompok ialah norma-norma tingkah laku yang khas antara anggota-
anggota kelompok. Namun ini bukan berarti norma rata-rata mengenai tingkah laku
yang sebenarnya terjadi dalam kelompok itu, melainkan merupakan pedomanpedoman untuk tingkah laku individu (Ahmadi, 2007; 100).
Menurut Walgito (2008; 55-56), norma kelompok adalah pedoman- pedoman
yang mengatur sikap dan perilaku atau perbuatan anggota kelompok. Karena berada
dan berlaku dalam kelompok, maka normanya merupakan norma kelompok
bersangkutan (group norms). Norma selalu ada dalam kelompok, bagaimanapun
kecilnya suatu kelompok. Karena ada bermacam- macam kelompok, maka norma yang
ada dalam kelompok tertentu mungkin tidak berlaku bagi kelompok lain. Sikap dan
tanggapan anggota kelompok terhadap norma kelompok dapat bermacam- macam.
Ada anggota yang tunduk pada norma kelompok dengan terpaksa karena ia termasuk
dalam kelompok yang bersangkutan, tetapi ada pula yang tunduk pada norma
kelompok dengan penuh pengertian dan penuh kesadaran, sehingga norma kelompok
dijadikan normanya sendiri. Norma kelompok merupakan norma yang relatif tidak
tetap. Artinya, norma kelompok dapat berubah sesuai dengan keadaan yang dihadapi
oleh kelompok, sesuai dengan perkembangan keadaan yang dihadapan oleh kelompok,
kemungkinan norma kelompok akan mengalami perubahan sehingga norma kelompok
yang dahulu berlaku kini sudah tidak berlaku.
Menurut Sherif (dalam Ahmadi, 2007; 100) norma kelompok ialah: pengertianpengertian yang seragam mengenai cara- cara tingkah laku yang patut dilakukan
anggota kelompok apabila terjadi sesuatu yang bersangkut paut dengan kehidupan
kelompok itu. Jadi, norma- norma kelompok itu berkenaan dengan cara- cara tingkah
33
laku yang diharapkan dari semua anggota kelompok dalam keadaan yang berhubungan
dengan kehidupan dan tujuan interaksi kelompok. Pengertian norma di sini digunakan
dalam arti norma ideal, norma tentang bagaimana keadan selanjutnya. Dalam pada itu
norma kelompok memberi pedoman mengenai tingkah laku mana dan sampai batas
mana masih dapat diterima oleh kelompok dan tingkah laku anggota yang mana tidak
diperbolehkan lagi oleh kelompok. Norma kelompok akan memberikan arah ataupun
batasan dari perilaku anggota kelompok.
Dalam kelompok resmi norma-norma tingkah laku ini biasanya sudah tercantum
dalam anggaran rumah tangga atau anggaran dasarnya. Bahkan norma-norma tingkah
laku anggota suatu negara telah tertulis dalam undang- undang atau buku hukum
pidana atau hukum- hukum lainnya. Apabila dalam, suatu kelompok terdapat
penghargaan-penghargaan dan hukum-hukum tertentu atas bermacam-macam tingkah
laku, maka sudah dapat diambil kesimpulan, bahwa dalam kelompok itu terdapat
norma-normanya, walaupun kadang- kadang norma tersebut tidak secara tertulis
(Ahmadi, 2007; 100).
Biasanya makin tidak diikutinya norma-norma kelompok, makin terjadi
perubahan dalam struktur dan usaha kelompok itu, dan mungkin sekali kelompok itu
mengalami desintegrasi atau masa transisi, di mana norma-norma lama dibuang dan
diganti dengan norma-norma baru yang lebih sesuai dengan usaha-usaha mencapai
tujuan kelompok dalam situasi yang dihadapinya. Sebaliknya makin ditaati normanorma kelompok, makin solider dan makin kokoh interaksi kelompok. Dengan kata
lain, makin mendalamnya internalization of group norm makin solider dan kokoh
kelompok itu (Ahmadi, 2007; 102).
34
Menurut Abu Ahmadi (2007; 102), adapun macam-macam norma sosial yang
berada di dalam norma kelompok, diantaranya:
a. Norma kelaziman (volkways), yaitu norma-norma yang diikuti tanpa berpikir
panjang melainkan hanyalah didasarkan atas tradisi atau kebiasaan. Norma ini
tidak memerlukan sangsi atau ancaman hukuman untuk berlakunya. Misalnya
dalam komunitas motor yaitu keikutsertaan touring, cara bersalaman sesama
bikers, dan sebagainya.
b. Norma kesusilaan (mores), biasanya dihubungkan dengan keyakinan keagamaan.
Barang siapa yang melanggar kesusilaan biasanya tidak ada hukumnya.
Misalnya dalam komunitas motor ada anggota yang melakukan tindak asusila,
berbuat agresif di jalan, dan lainnya.
c. Norma hukum, yang tertulis misalnya: hukum pidana, hukum perdata, anggaran
rumah tangga atau anggaran dasar pada komunitas motor, dan lain-lain.
Sedangkan yang tidak tertulis misalnya hukum adat. Orang yang melanggarnya
akan mendapatkan sangsi atau hukuman.
d. Mode (fashion), biasanya dilakukan dengan tiru-tiru atau iseng-iseng saja. Mode
ini di dalam masyarakat biasanya sangat cepat berkembang. Pada dasarnya orang
mengikuti mode adalah untuk mempertinggi gengsinya menurut anggapannya.
Seringkali dijumpai pada anggota komunitas motor yang memodifikasi motornya
hanya agar terlihat keren, bukan karena kebutuhan.
Winarno Surachmad (dalam Ahmadi, 2007; 103) mengemukakan bahwa yang
dimaksud dengan norma sosial tidak lain dari harapan yang diletakkan pada setiap
anggota kelompok untuk bertingkah laku menurut kelaziman kelompok sosial itu.
35
Norma inilah yang mengikat kesatuan kelompok. Tiap-tiap anggota di dalam
kelompok mengakui, memakai, mentaati bersama terhadap norma sosialnya.
4.
Internalisasi Norma
Suatu norma kelompok yang diajarkan pada anggota-anggota kelompoknya tidak
hanya sebagai formalitas belaka, namun sebagai serangkaian aturan yang mengikat dan
bersifat pasti. Hal ini norma kelompok harus mendarah daging pada setiap anggota
kelompok. Mendarah daging (internalize), berarti mempelajari atau menerima sesuatu
sebagai sudah sempurna sehingga menjadi bagian dari reaksi kita yang otomatis dan
tanpa pikir.
Untuk memahami dan melaksanakan sebuah aturan dan norma safety riding
dalam kelompok tersebut, diperlukan suatu konformitas. Konformitas akan terjadi
apabila seorang sudah menyadari adanya suatu norma dan ia akan berperilaku sesuai
dengan norma tersebut (Hollandor dalam Indrawijaya, 2010; 81). Aspek-aspek yang
diperlukan dalam konformitas yaitu adanya kepatuhan dalam menjalankan norma dan
menginternalisasi norma tersebut.
Kepatuhan merupakan salah satu dasar suatu elemen dalam struktur kehidupan
sosial yang terjadi ketika seseorang melakukan apa yang dikatakan kepadanya.
Kepatuhan juga berguna memberikan sejumlah fungsi produktif yang sangat
diperlukan agar masyarakat dapat bertindak secara efisien (Roediger, Rushto, Capaldi,
& Paris, 1984 dalam Ardiansyah, 2012).
Norma seringkali diinternalisasi. Internalisasi norma dilakukan oleh institusi
sosialisasi, seperti keluarga dan sekolah, yang berusaha keras menginternalisasi
beragam norma, khususnya di kalangan pemuda. Internalisasi norma juga dilakukan
36
oleh organisasi informal seperti halnya pada komunitas motor yang menjadi subyek
penelitian ini.
Beberapa peneliti menganggap internalisasi norma sebagai proses yang
menciptakan kepatuhan otomatis atau tanpa pikir. Menurut Epstein (dalam jurnal
Andrighetto, Villatoro, dan Conte; 2010) manusia patuh secara buta kepada norma
tersebut. Mereka melihat apa yang dilakukan kebanyakan orang dan mereka bertindak
berdasarkan itu. Kemudian, semakin sering mereka melakukan itu di masa lalu,
semakin sering mereka mengulanginya di masa depan. Manusia belajar bukan hanya
norma yang harus dipatuhi, tapi juga berapa banyak yang harus mereka pikirkan.
Menurut pandangan peneliti, internalisasi adalah pembelajaran untuk tidak memikirkan
makna.
Moore and Fine mendefinisikan internalisasi sebagai “proses ketika aspek dunia
luar dan interaksi dengan dunia tersebut dibawa ke dalam organisme dan
direpresentasikan dalam struktur internalnya”. Sedangkan menurut Walrond-Skinner,
internalisasi adalah proses dimana individu mentransfer hubungannya dengan obyek
eksternal ke dalam dunia internalnya (dalam jurnal Ekwutosi dan Moses, 2013).
Internalisasi norma terjadi ketika pelestarian sebuah norma tidak ditentukan oleh
hasil eksternal. Tepatnya, konsekuensi penguatnya dimediasi internal, tanpa dukungan
kejadian eksternal seperti reward atau hukuman.
Proses internalisasi norma kelompok dapat berjalan dengan dua cara, yaitu:
a. Mengambil alih norma-norma yang sudah ada pada kelompok dengan cara
mengidentifikasi diri dengan kelompok (pembentukan norma yang heteronom).
37
b. Turut membentuk norma-norma baru dalam interaksi yang timbal balik dengan
anggota kelompok lainnya (pembentukan norma yang otonomi). Pembentukan
norma yang otonomi merupakan tujuan dari pendidikan moral.
Dalam tindakan mematuhi norma-norma kelompok tanpa dipaksa itu dapat
dikatakan bahwa orang yang bersangkutan telah menginternalisasi norma-norma
kelompoknya (internalization of group-norms). Dengan kesadarannya sendiri, ia
mematuhi norma-norma kelompok sebagai norma-normanya sendiri. Yang terjadi pada
internalisasi norma-norma kelompok itu adalah bahwa ia mengidentifikasi dirinya
dengan kelompok serta norma-normanya sehingga ia mengambil alih sistem norma
termasuk sikap-sikap sosial yang dipunyai kelompok itu (Gerungan, Dr. W.A, 2009;
107).
Beberapa macam norma sosial menurut Abu Ahmadi (2007; 102) menjadi
indikator dalam proses internalisasi norma yang berlaku dalam norma kelompok,
diantaranya:
1)
Norma kelaziman (volkways);
2)
Norma kesusilaan (mores);
3)
Norma hukum;
4)
Mode (fashion).
Dalam Al Qur’an telah dijelaskan untuk berlaku ikhlas tanpa ada paksaan untuk
menginternalisasi norma-norma dalam kajian Islam. Seperti yang tertulis dalam Al
Qur’an Al Bayyinah: 5
38
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan
supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah
agama yang lurus" (dalam Departemen Agama RI.Tahun 2007).
Meski memberikan kontribusi penting, definisi dan pemahaman ilmiah dari
masyarakat tentang proses internalisasi norma masih bersifat fragmentatif dan tidak
cukup.
5.
Komunikasi dalam Kelompok
Kelompok merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas kita
sehari-hari. Kelompok baik yang bersifat primer maupun sekunder, merupakan wahana
bagi setiap orang untuk dapat mewujudkan harapan dan keinginannya berbagi
informasi dalam hampir semua aspek kehidupan.
Komunikasi merupakan dasar semua interaksi manusia dan untuk semua fungsi
kelompok. Setiap kelompok harus menerima dan menggunakan informasi dan proses
terjadi melalui komunikasi, pada pertukaran informasi dan meneruskan (transmitting)
arti komunikasi. Dalam komunikasi, dua orang melihat satu dengan yang lain
merupaka suatu proses yang kontinu dan mempunyai efek persepsi satu dengan yang
lain serta mempunyai ekspektasi apa yang akan diperbuat.
Karena komunikasi merupakan suatu proses, maka pengiriman dan penerimaan
berlangsung simultan. Seseorang dapat berbicara (mengirim pesan) dan pada waktu
yang sama penerima memberikan respons. Menurut Johnson dan Johnson (200) (dalam
Walgito, 2008; 79), terdapat tujuh elemen dalam proses komunikasi interpersonal,
yaitu:
39
a. Ada ide, perasaan, dan intense dari pengirim (sender) serta cara menyampaikan
pesan.
b. Pengirim berkehendak mengenai ide, perasaan, dan intense untuk dikirim.
c. Pengirim mengirimkan pesan kepada penerima.
d. Pesan dikirim melalui channel.
e. Penerima menerima (decodes) pesan dengan menginterpretasikan artinya.
f. Penerima merespons interpretasi mengenai pesan.
g. Gangguan (noise) merupakan elemen yang mengganggu proses komunikasi.
Komunikasi dapat efektif, tetapi dapat pula tidak efektif. Dalam kaitannya
dengan efektivitas komunikasi, salah satu model menurut DeVito (1995) (dalam
Walgito, 2008; 84) adalah The Humanistic Model. Menurut model demikian, dalam
komunikasi interpersonal secara umum ada lima kualitas yang efektif, yaitu
keterbukaan (openness), empati (empathy), suportivitas (supportiveness), positif
(positive).
C.
Teori Keselamatan Berkendara (Safety Riding)
1.
Definisi Keselamatan Berkendara (Safety Riding)
Menurut Priyono (2007) (dalam Arifin, 2011), safety riding adalah:
suatu usaha yang dilakukan dalam meminimalisir tingkat bahaya dan
memaksimalkan keselamatan dalam berkendara, untuk menciptakan suatu
kondisi yang mana kita berada pada titik tidak membahayakan pengendara lain
dan menyadari kemungkinan bahaya yang dapat terjadi di sekitar kita serta
pemahaman akan pencegahan dan penanggulangannya.
Sedangkan menurut Berlianto (2007) (dalam Arifin, 2011):
seorang pengendara yang bertanggung jawab tidak hanya mempunyai skill
berkendara yang baik. Tetapi lebih dibutuhkan dari sekedar perilaku yang baik.
Hal ini berarti mempertimbangkan konsekuensi dari suatu tindakan sehingga
dapat lebih awal mempersiapkan mental yang membantu ke arah mengurangi
resiko.
40
2.
Tata Cara Safety Riding Bersepeda Motor
Dalam mengendarai sepeda motor membutuhkan banyak ketrampilan yang
memerlukan latihan dan prektek dengan menggunakan teknik berkendara yang tepat.
Pengendara pemula memiliki peluang tiga kali lebih besar dalam terlibat kecelakaan
daripada pengendara yang telah mahir. Pada tahun-tahun terakhir, isu tentang
keselamatan berkendara telah menarik perhatian bagi para politisi, aparat, masyarakat
umum, media dan perusahaan kendaraan bermotor yang berusaha mengurangi tingkat
kematian akibat kecelakaan.
Data WHO tahun 2011 menyebutkan, sebanyak 67 persen korban kecelakaan
lalu lintas berada pada usia produktif , yakni 22 – 50 tahun. Terdapat sekitar 400.000
korban di bawah usia 25 tahun yang meninggal di jalan raya, dengan rata-rata angka
kematian 1.000 anak-anak dan remaja setiap harinya. Bahkan, kecelakaan lalu lintas
menjadi penyebab utama kematian anak-anak di dunia, dengan rentang usia 10-24
tahun (dalam artikel Badan Intelegent Negara Republik Indonesia, 2013).
Sementara tujuan meningkatan keselamatan di jalan raya telah mencapai
kesepakatan yang bulat. Meskipun demikian tujuan dari program keselamatan
seringkali memunculkan pertentangan antara masyarakat umum dengan kelompokkelompok tertentu. Konflik-konflik tersebut telah tersebar luas melalui media, tetapi
opini publik cukup mempunyai alasan dalam keberlanjutan tentang program
keselamatan di jalan raya. Selain ditentukan oleh ketrampilan berkendara, perilaku
berlalu lintas dapat dipengaruhi oleh kedisiplinan, ada beberapa aspek lain dari
kedisiplinan terutama penekanan dari sisi perilaku individu dalam berlalu lintas, seperti
dikemukakan oleh Hartuti (1997) (dalam Pramita, 2006; 11-12) yaitu:
41
a. Faktor tanggung jawab, yaitu mengungkap tanggung jawab individu dalam
berlalu lintas.
b. Faktor keinsyafan, di dalamnya terkandung dimensi mental spiritual dalam
penerimaan terhadap Undang-Undang dan peraturan yang berlaku tanpa
pengaruh, tekanan, dan ancaman dari luar.
c. Faktor keyakinan, di dalamnya terkandung adanya keyakinan bahwa disiplin itu
baik, bermanfaat, perlu dan memberikan kepastian terhadap individu.
d. Faktor penyesuaian diri, di dalamnya terkandung kemampuan individu dalam
mengendalikan diri untuk berperilaku sesuai dengan Undang- Undang dan
peraturan yang berlaku.
Dijelaskan dalam Buku Petunjuk Tata Cara Bersepeda Motor di Indonesia yang
dikeluarkan oleh Ditjen Perhubungan Darat, Departemen Perhubungan Republik
Indonesia (dalam artikel Debhub Hubdat, 2009), perilaku keselamatan berkendara atau
safety riding, meliputi:
1) Surat Izin Mengemudi (SIM) Sepeda Motor
Untuk dapat mengemudikan kendaraan bermotor di jalan, Anda harus memiliki
SIM yang saah untuk golongan kendaraan yang akan digunakan. SIM yang harus
dimiliki oleh pengendara sepeda motor adalah SIM C atau D, yang dapat diperoleh
apabila anda telah berumur 16 tahun.
2) Ketentuan Hukum Untuk Pengendara Sepeda Motor
Pengendara harus mematuhi hukum yang sama dengan pengemudi mobil.
Hukum jalan raya tercantum Undang-undang No.14 tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan. Anda harus mengetahui kententuan dalam undang-undang tersebut
antara lain adalah:
42
a. Setiap pengendara sepeda motor di jalan harus memiliki Surat Izin Mengemudi.
b. Mengemudi untuk sepeda motor yang mampu mengemudikan kendaraannya
dengan wajar.
c. Pengendara sepeda motor wajib mengutamakan keselamatan pejalan kaki.
d. Mengetahui tata cara berlalu lintas di jalan.
e. Sepeda motor hanya diperuntukkan hanya untuk dua orang.
f. Sepeda motor yang digunakan dijalan memenuhi persyaratan teknis dan layak
jalan.
g. Pengemudi
dan
penumpang
wajib
menggunakan
helm
yang
telah
direkomendasikan keselamatannya dan terpasang dengan benar.
3) Beberapa Sanksi Hukum Terhadap Pelanggaran Mengemudi Sepeda Motor
a. Sepeda motor yang tidak memenuhi persyaratan teknis dan layak jalan dipidana
dengan pidana kurungan tigabulan atau denda setinggi-tingginya Rp.3.000.000,
00.
b. Pengemudi sepeda motor yang tidak dapat menunjukkan SIM dipidana dengan
pidana kurungan paling lama dua bulan atau denda setinggi-tingginya
Rp.2.000.000, 00 dan apabila pengemudi tidak memiliki SIM dipidana dengan
pidana kurungan paling lama enam bulan atau denda setinggi-tingginya
Rp.6.000.000, 00.
c. Pengemudi dan penumpang sepeda motor tidak memakai helm pada saat
mengendarai dipidana dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau
denda setinggi-tingginya Rp.1.000.000, 00.
43
4) Kelelahan
Mengendarai sepeda motor lebih membutuhkan stamina yang lebih baik
dibanding mengendarai mobil. Kelelahan akan mengurangi kemampuan anda untuk
dapat mengambil keputusan cepat dan membuat sulit berkonsentrasi. Keseimbangan
dan pandangan pengendara motor akan terpengaruhi pula. Untuk itu untuk mencegah
kelelahan:
a. Lindungi diri dari cuaca. Angin dan hujan membuat cepat lelah, gunakanlah
pakaian yang dapat membuat hangat dalam kondisi tersebut. Bahkan dalam
kondisi hangat tetap menggunakan pakaian yang dapat melindungi pengendara
motor. Matahari, angin dan dehidrasi dapat membuat anda cepat lelah pula.
b. Batasi jarak tempuh. Jarak tempuh dekat sangat baik untuk pengendara pemula.
c. Hindari alcohol dan obat-obatan.
d. Rencanakan perjalanan.
e. Cukup beristirahat sebelum pengendara motor memulai perjalanan.
f. Berkendara pada jam saat pengendara motor beraktivitas.
g. Hindari mengakhiri perjalanan pada tengah malam.
h. Berhenti, beristirahat, makan, dan minum sesuatu secara beraturan.
5) Bersiap Berkendara, Perlengkapan Yang Tepat Untuk Keselamatan Pengendara
Menggunakan pakaian yang tepat sangatlah penting untuk keselamatan
pengendara motor karena akan melindungi pengendara motor dan membantu anda
dapat terlihat oleh pengguna jalan lain. Pakaian yang tepat meliputi:
a. Helm
b. Pelindung mata dan wajah
44
c. Pakaian pelindung, meliputi: jaket dan celana harus menutupi seluruh lengan dan
kaki, sarung tangan yang didesain untuk berkendara sepeda motor, dan sepatu
yang didesain untuk berkendara sepeda motor.
6) Sepeda Motor Yang Tepat Untuk Tujuan Yang Tepat
Pengendara motor harus memilih sepeda motor yang cocok atau sesuai untuk dan
kebutuhan adalah keputusan penting yang harus dipilih dengan mempertimbangkan
ukuran tubuh ketika memilih sepeda motor. Beberapa sepeda motor berukuran besar
dan sangat berat. Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan untuk menyeimbangkan
dan mengendalikan sepeda motor tersebut. Pastikan bahwa kaki mampu berpijak ke
tanah dengan baik ketika memilih sepeda motor.
7) Pemeriksaan Sebelum Berkendara
Pengendara motor harus memeriksa sepeda motor setiap akan berkendara. Halhal yang perlu diperhatikan antara lain:
a. Alat kendali; periksa rem depan dan belakang pada saat bersamaan, kopling dan
gas yang harus dapat berfungsi dengan halus, serta pastikan semua kabel dan
hubungan listrik dalam kondisi baik.
b. Ban; periksa tekanan ban karena berpengaruh pada pengendalian, dan periksa
tapak ban dengan permukaan yang tidak rata merupakan hal yang dapat
membahayakan saat berkendara.
c. Lampu dan sein; periksa semua lampu utama dan sein dalam keadaan bersih dan
pastikan dapat bekerja dengan baik.
d. Spion; bersihkan dan setel posisi spion sebelum mulai berkendara. Pengendara
motor harus dapat melihat lajur di sebelah dan di belakang pada kaca spion.
45
e. Pengoperasian teknis; yang merupakan bahan bakar dan oli harus diperiksa
sebelum berkendara.
8) Kendali Keselamatan Pada Sepeda Motor
Agar dapat berkendara sepeda motor dengan selamat pengendara motor harus
mampu menguasai kendali, kecepatan dan keseimbangan sepeda motor. Berkendara
sepeda motor dengan selamat membutuhkan banyak praktek dengan menggunakan
teknik berkendara untuk:
a.
Posisi tubuh
Posisi tubuh yang tepat sangatlahpenting dalam mengendalikan sepeda motor
dan berkendara dengan aman. Hal ini membutuhkan posisi tubuh yang tepat, posisi
pada jok, posisi tangan, siku, dan kaki. Posisi tubuh yang tepat haruslah nyaman.
Kepala harus tegap ke depan dengan pandangan lurus ke depan pula. Tangan harus
mampu mengendalikan sepeda motor, bukan untuk menopang tubuh.
b.
Membelok
Bagi pengendara motor sangatlah penting untuk melatih gerakan membelok
dengan menggunakan metode yang tepat. Untuk melakukan ini, pengendara motor
harus menempatkan sepeda motor dalam posisi aman, pelan dan membaringkan
sepeda motor saat membelok. Saat membelok batasi kecepatan dan mendekat ke
belokan dengan hati-hati. Berjalan perlahan dan jika diperlukan, turunkan posisi gigi
sebelum membelok. Lalu, atur pengoperasian gas saat keluar tikungan dan posisi
kendaraan sudah tegak. Pengendara motor harus merebahkan sepeda motor ketika
membelok. Semakin tajam tikungan atau semakin kencang berjalan pengendara
motor harus semakin rebah juga. Saat merbahkan kendaraan, jaga posisi tubuh
dengan posisi kepala tegak dan pandangan mengarah ke depan/arah jaln. Lihat ke
46
arah yang dituju dengan posisi kepala dan arah pandangan yang tepat merupakan
unsur vital dalam membelok.
c.
Posisi jalan
Sangatlah penting untuk memposisikan kendaraan untuk melihat situasi jalan
yang lebih baik dan agar dapat terlihat oleh pengguna jalan lain.
1. Pada sebuah tikungan, arahkan kendaraan pada lajur yang dituju agar dapat
melihat dengan jelas saat melintasi sebuah tikungan.
2. Pada pinggir jalan, belokkan motor dapat melihat kedua arah arus lalu lintas.
Hal ini merupakan keuntungan ketika melakukan balik arah.
3. Pada perempatan sebuah kendaraan mungkin saja masuk ke dalam lajur.
Melajulah ke perampatan dengan pelan. Ketika pengendara lain mengerem
secara mendadak dan memiliki kesempatan berhenti atau membelok yang
baik. Jaga jarak dengan kendaraan lain saat di perempatan dan berganti
arahlah dengan hati-hati. Berjalanlah sejauh mungkin dari kendaraan lain
selama kondisi jalan dan arus lalu lintas memungkinkan.
d.
Mengerem
Sepeda motor memiliki rem depan dan belakang, oleh karena itu pengendara
motor harus menggunakan keduanya untuk berhenti atau menurunkan kecepatan.
Rem depan merupakan rem yang paling handal. Rem depan dapat membantu
pengereman hingga 90% saat anda berhenti mendadak.
Teknik pengereman yang tepat merupakan hal penting untuk keselamatan anda
dan membutuhkan latihan yang rutin. Saat berkendara pada kecepatan konstan, berat
kendaraan tersebar rata antara roda depan dan belakang. Saat mengerem berat
kendaraan bergerak dari roda belakang ke roda depan. Semakin keras mengerem,
47
semakin berat juga perpindahan beban sepeda motor ke roda depan. Perpindahan
berat ini membuat roda depan menapak dengan baik (roda belakang kurang
menapak).
e.
Pengoperasian transmisi
Cara perpindahan perseneling dengan halus dan tepat dapat meningkatkan
kendali atas sepeda motor. Memilih posisi perseneling yang tepat pada kecepatan
yang tepat sangat penting saat ingin cepat dalam berakselerasi. Saat pengendara
motor ingin berjaln pelan, kurangi kecepatan lalu turunkan posisi perseneling pada
posisi yang sesuai. Pada situasi pengereman normal pengendara motor harus
memposisikan perseneling pada posisi satu. Jika berjalan sangat kencang ketika anda
pindahkan perseneling ke posisi rendah, sepeda motor akan bergerak liar dan roda
akan selip.
Menjadi sangat penting untuk merubah posisi perseneling sebelum memasuki
tikungan atau setelah keluar dari tikungan. Hindari mengganti perseneling baik lebih
tinggi atau rendah saat membelok kecuali memungkinkan dan diperlukan.
Perpindahan posisi perseneling mendadak dapat mengurangi kendali dalam
berkendara dan akan membuat tergelincir.
f.
Berkendara pada jalan menanjak
Sangatlah sulit berkendara pada jalan menanjak daripada jalan yang rata. Akan
selalu ada kemungkinan sepeda motor akan mundur. Untuk mulai berkendara pada
jalan menanjak harus gunakan rem depan untuk menahan sepeda motor. Nyalakan
mesin dan mulai pada posisi perseneling satu. Lalu ganti dengan rem belakang untuk
menahan kendaraan. Lepaskan rem depan agar dapat menggunakan handel gas
dengan tangan kanan.
48
g.
Memposisikan agar terlihat oleh pengguna jalan lainnya
Agar selamat di jalan sangatlah penting untuk terlihat dan posisi yang tepat.
Sebagai seorang pengendara sepeda motor anda harus melakukan banyak hal untuk
memastikan bahwa anda terlihat. Hal yang membantu agar terlihat: posisi jalan,
lampu utama, lampu indikator, menggunakan klakson, pakaian berkendara yang
mampu melindungi dan menggunakan sepeda motor besar.
3.
Penerapan Keselamatan Berkendara (Safety Riding)
Penerapan ini telah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas
Dan Angkutan Jalan pada BAB XI Pasal 203 ayat 2 huruf a yang berisi: untuk
menjamin Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), ditetapkan rencana umum nasional Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan, meliputi: a. penyusunan program nasional kegiatan Keselamatan Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan. Adapun penjelasan dari pasal 203 ayat 2 huruf a yaitu bahwa program
nasional Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan diantaranya tentang cara
berkendara dengan selamat (safety riding).
Selain itu, UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
dijelaskan beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh pengendara dalam
berkendara, meliputi:
a.
Kelengkapan kendaraan bermotor standar (sesuai BAB VII bagian keempat ayat
1 tentang perlengkapan kendaraan bermotor). Perlengkapan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) bagi Sepeda Motor berupa helm Standar Nasional
Indonesia (SNI). Spesifikasi teknis untuk helm pelindung yang digunakan oleh
pengendara dan penumpang kendaraan bermotor roda dua, meliputi klasifikasi
49
helm standar terbuka (open face) yaitu bentuk helm yang menutupi kepala
sampai dengan bagian leher dan menutup depan telinga dan helm standar
tertutup (full face) yaitu bentuk helm yang menutup kepala atas, bagian leher,
dan bagian mulut.
b.
Kaca spion wajib ada dua buah di kiri dan kanan (sesuai BAB VII bagian kedua
tentang persyaratan teknik dan laik jalan kendaraan bermotor pasal 48 ayat 2
huruf a).
c.
Lampu depan, lampu rem, lampu sein kiri dan kanan (sesuai BAB VII bagian
kedua tentang persyaratan teknik dan laik jalan kendaraan bermotor pasal 48 ayat
3 huruf f; BAB IX paragraf 2 tentang penggunaan lampu pasal 107 ayat 2 dan
ketentuan pidana sesuai BAB XX pasal 285 ayat 1 dan pasal 290).
d.
SIM (Surat Izin Mengemudi) selalu siap, tidak expired, dan masih berlaku
(sesuai BAB VIII paragraf 3 pasal 80 huruf d).
e.
Plat nomor di depan dan belakang kendaraan bermotor (sesuai BAB VIII bagian
ketujuh tentang registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor pasal 68 dan pasal
70; BAB XIX bagian kedua paragraf 1 tentang pemeriksaan kendaraan bermotor
di jalan pasal 265 ayat 1 huruf a; dan BAB XX tentang ketentuan pidana pasal
280).
Kedisiplinan dalam berlalu lintas pada individu merupakan bentuk proses
internalisasi norma seseorang terhadap peraturan atau norma yang berlaku di jalan
raya sebagai manifestasi kesadaran individu yang merupakan proses belajar dari
lingkungan sosialnya sehingga perilaku disiplin tersebut dapat menimbulkan suasana
berlalu lintas yang aman, lancar dan terkendali. Seperti yang telah dijelaskan dalam
50
Al-Qur’an, Islam mempunyai sebuah kontribusi dalam rangka mengembangkan
intelektual bagi manusia dengan proses berpikir dan belajar yang hal itu dapat dilihat
dari firman Allah yang berbunyi:
‫وﰱ أﻧﻔﺴﻜﻢ اﻓﻼ ﺗﺒﺼﺮون‬
“dan (juga) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memikirkannya” (QS. AlDzariyat: 21) (dalam Departemen Agama RI.Tahun 2007).
Berdasarkan ayat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwasanya ayat tersebut
lebih memposisikan berfikir sebagai salah satu upaya dalam menciptakan sebuah
pemahaman
baru
yang mencakup
sejumlah
kemampuan,
seperti
menalar,
merencanakan, memecahkan masalah, berfikir abstrak, memahami gagasan,
menggunakan bahasa dan belajar.
4.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Berlalu Lintas
Beberapa faktor penyebab kedisiplinan yang berkaitan dengan individu sebagai
pengguna jalan dan kondisi jalan itu sendiri yang dibagi menjadi dua, yaitu:
a.
Faktor internal, merupakan faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu itu
sendiri yang dapat berupa sikap dan kepribadian yang dimiliki oleh individu
yaitu suatu sikap dan perilaku yang mencerminkan tanggung jawab terhadap
kehidupan tanpa paksaan dari luar, dilaksanakan berdasarkan keyakinan yang
benar bahwa hal itu bermanfaat bagi dirinya sendiri dan masyarkat sekaligus
menggambarkan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan interes pribadinya
dan mengendalikan dirinya untuk konform dengan hukum dan norma serta
kebiasaan yang berlaku dalam lingkungan social (Valsiner dalam Pramita, 2006;
14). Dalam hal ini berkaitan juga dengan faktor lain seperti kemahiran
berkendaraan, syarat usia bagi kepemilikan SIM dan surat-surat kendaraan,
51
pendidikan, keluarga, ekonomi, dan lingkungan pergaulan atau sosial dimana
hal-hal yang telah disebutkan di atas dapat menjadi acuan bagi terbentuknya
sikap
disiplin
individu.
Hal
ini
dapat
dijadikan
sebagai
penyebab
ketidakdisiplinan karena jika seseorang memiliki pengetahuan yang tinggi
mengenai perilaku yang disiplin maka dapat tercermin dalam kesehariannya di
jalan raya.
b.
Faktor eksternal, yaitu kedisiplinan dilihat sebagai alat untuk menciptakan
perilaku dan tata hidup tertib seseorang sebagai pribadi maupun sebagai anggota
kelompok atau masyarakat sehingga dapat terimplementasi dalam wujud
hubungan serta sanksi yang dapat mengatur dan mengendalikannperilaku
manusia sehingga sanksi tersebut hanya dikenakan kepada mereka yang
melanggar hukum dan norma yang berlaku (Valsiner dalam Pramita, 2006; 14),
sebagai contoh yang berkaitan dengan kondisi fisik, seperti kondisi jalan dan lalu
lintas yang dilalui, letak rambu-rambu lalu lintas, dan kelengkapan kendaraan
yang akan digunakan dan juga keadaan cuaca ketika berkendaraan di jalan raya.
Kedua faktor di atas didukung oleh pernyataan dari Gunnarsson (1999) (dalam
Pramita, 2006; 15) bahwa problem lalu lintas dan transportasi dapat dihubungkan
dengan empat area tingkatan yang harus dipenuhi yaitu:
a.
Faktor human-sosial, yaitu tingkat kemampuan para pengguna transportasi dalam
mengakses berbagai tipe alat transportasi, kualitas transportasi seperti
kenyamanan, waktu pemakaian, dan informasi.
b.
Faktor kesehatan publik, termasuk di dalamnya tingkat resiko, keselamatan dan
keamanan, stress, dampak kebisingan, kelelahan dan pengaruh lalu lintas pada
kesehatan.
52
c.
Faktor lingkungan, yiatu konsumsi energi, sumber daya alam, dampak emisi
lokal dan global, dampak terhadap sekitar dan keindahan.
d.
Faktor ekonomi, tingkat kemampuan (ekonomi), efisiensi dari investasi kota,
biaya operasi.
Dari keempat faktor yang dikemukakan oleh Gunnarsson (1999), faktor human
sosial menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung faktor eksternal yang
dikemukakan terlebih dahulu. Hal yang senada dikemukakan oleh Ancok (2004)
(dalam Pramita, 2006; 15) mengenai dalam kesehariannya di jalan raya. Faktor-faktor
yang perlu dibenahi agar kedisiplinan dalam berlalu lintas dapat tercipta dengan baik,
meliputi:
a.
Peningkatan kualitas orang, yang terdiri dari peningkatan kualitas pemakai jalan,
peningkatan kuantitas dan kualitas petugas keamanan lalu lintas, peningkatan
kesejahteraan ekonomi rumah tangga, pengembangan system untuk mendeteksi
denda damai, dan penumbuhan kebanggaan sebagai petugas yang bersih.
b.
Penataan kendaraan, mencakup berbagai kelengkapan atribut kendaraan.
c.
Penataan jalan dan rambu lalulintas, yaitu kondisi jalan yang mendukung bagi
para pemakainya.
Berbagai faktor telah dikemukakan berkaitan dengan proses internalisasi norma
pada individu, dan dalam penelitian ini terdapat dua faktor yang akan dikaji lebih
lanjut yang berkaitan dengan perilaku adaptif terhadap peraturan lalu lintas yang
berlaku dan penilaian terhadap ketertiban lingkungan lalu lintas, yaitu norma yang
harus dipenuhi sebelum berkendara dan ketika berkendara di jalan.
5.
Rumus dan Tata Cara Touring Sepeda Motor
53
Touring menggunakan sepeda motor secara bersama-sama merupakan salah satu
kegiatan para bikers. Kegiatan berkendara menuju tempat yang jauh.
Untuk lebih menyatukan komando, maka perlu digunakan aturan atau tata tertib
dalam berkendara berjamaah atau touring konvoi. Penggunaan aturan baik itu kodekode serta tata cara dalam berkonvoi perlu dipahami oleh para bikers. Agar perjalanan
dapat berjalan lancar dan tiba dengan selamat.
Berikut ini sedikit pengetahuan tentang Rumus dan Tata Cara Touring dari
fanpage Divisi Humas Mabes Polri (dalam artikel Taufan, Muhammad. 2012).
a.
Kode Tangan
1)
Menggunakan hanya dengan tangan kiri.
2)
Mengacungan jempol ke atas, yang artinya konfirmasi tanda siap berangkat; atau
salam brotherhood.
3)
Satu jari, yang berarti membentuk barisan konvoi menjadi satu kolom.
4)
Dua jari, yang berarti membentuk barisan konvoi menjadi dua kolom.
5)
Lima jari, yang berarti konvoi bubar untuk kembali bergabung setelah melewati
rintangan (macet).
6)
Jari mengepal, yang artinya siap-siap berhenti (hanya untuk stop point).
7)
Menunjuk arah, artinya siap-siap berbelok ke arah yang ditunjuk.
b.
Kode Kaki
1)
Turunkan kaki kiri, yang menunjukan adanya lubang di sebelah kiri.
2)
Turunkan kaki kanan, yang menunjukan adanya lubang di sebelah kanan.
3)
Turunkan kedua kali, yang menunjukan jalanan rusak, bergelombang, marka
melintang, rel kereta api.
54
c.
Kode Klakson
1)
Bunyi panjang, yang berarti konfirmasi siap berangkat (hanya sweeper, orang
yang berada tepat di belakang rombongan touring yang berguna untuk mengatur
dan menjaga lancarnya perjalanan); tanda klotur (kelompok touring) putus
(hanya sweeper); tanda konvoi sudah kembali komplit setelah terputus (hanya
sweeper).
2)
Bunyi berulang sering, yang berarti permintaan emergency stop.
3)
Bunyi pendek dua kali, yaitu salam brotherhood.
d.
Aturan Dasar
1)
Motor dalam keadaan baik secara keseluruhan.
2)
Mental dan fisik biker (pengendara motor) maupun boncenger (penumpang)
dalam keadaan fit secara keseluruhan.
3)
Patuhi semua standar safety riding.
4)
Datang tepat waktu baik di start point ataupun di meeting point.
5)
Masuk dalam klotur (kelompok touring) yang telah ditentukan.
e.
Tata Cara Pemberangkatan
Berlaku untuk setiap pemberangkatan baik dari start point dan setiap stop point
(check point, emergency stop, dll) yang ditentukan oleh RC (road captain)
1)
RC memberikan tanda siap berangkat dengan menghidupkan mesin motornya
dan memposisikan motornya sebagai RC (terdepan).
2)
Peserta mengikuti dengan membentuk barisan 1 (satu) kolom dan ditutup oleh
sweeper.
3)
RC memberikan tanda akhir siap berangkat (lihat kode tangan) diikuti oleh
peserta yang sudah siap.
55
4)
Sweeper memberikan tanda konfirmasi siap berangkat kepada RC (lihat kode
klakson).
f.
Tata Cara Konvoi
1)
Dibagi dalam beberapa klotur (kelompok touring) dengan maksimum peserta 10
motor per klotur.
2)
Tidak membentuk garis lurus dengan motor di depannya.
3)
Posisikan motor lebih ke kanan atau ke kiri terhadap motor di depan untuk
memberikan jarak menghindar bila terjadi pengereman mendadak.
4)
Atur jarak aman sesuai kecepatan.
5)
Pastikan kecepatan tidak melebihi 60 kpj.
6)
Tidak melanggar lampu merah.
7)
Teruskan pesan kode tangan dan kode kaki kepada peserta di belakang.
8)
Nyalakan lampu penerang jalan (lampu dekat).
9)
Hidupkan lampu hazard (opsional).
10) Tidak
menggunakan lampu strobo ataupun flip-flop.
11) Tidak
menggunakan sirine ataupun pengeras suara.
12) Tidak
membunyikan klakson terhadap hal yang tidak perlu atau sudah diwakili
oleh Road Captain.
13) Tidak
saling mendahului.
14) Pendengaran
15) Usahakan
16) Tidak
tetap dominan terhadap kondisi sekitar.
selalu dan tetap tenang.
meninggalkan peserta yang mengalami masalah (trouble) di jalan
56
g.
Tata Cara di Lampu Lalu Lintas (Lalin) atau di Persimpangan
1)
Road Captain mengurangi kecepatan terutama saat lampu menyala kuning untuk
menghindari putusnya konvoi.
2)
Tetap dalam konvoi kecuali ditentukan lain oleh Road Captain.
3)
Tidak menerobos lampu merah sekalipun konvoi harus terputus.
h.
Tata Cara Konvoi Terputus
1)
Sweeper memberikan pesan melalui kode klakson.
2)
Road Captain mengurangi kecepatan.
3)
Setelah bebas dari hambatan, peserta yang terputus bersama sweeper.
4)
Mengejar konvoi dalam kecepatan aman maksimal 80 kpj
5)
Setelah semua bergabung kembali dan sweeper kembali memberikan kode
klakson.
i.
Tata Cara Menghalau Penyusup
1)
Maksimalkan jarak motor dengan motor di depannya sesuai kecepatan.
2)
Berikan tanda dan berikan jalan untuk mendahului kepada calon dan penyusup.
3)
Sweeper berusaha mengeluarkan penyusup dengan cara-cara yang baik.
j.
Tata Cara Peserta Mengalami Masalah
1)
Peserta berikan tanda darurat mohon berhenti jika memungkinkan.
2)
Road Captain memberhentikan konvoi.
3)
Sweeper memberi tahu Road Captain bila tidak mengetahui.
4)
Sweeper atau salah satu peserta memberi tanda kepada klotur (kelompok
touring) berikutnya.
5)
Tidak meninggalkan peserta di jalan dalam situasi apapun
57
6)
Tidak meninggalkan peserta sendirian atau lebih baik lagi menunda perjalanan
touring.
k.
Bila terjadi kecelakaan minor injured
1) Sweeper memberikan tanda kepada klotur (kelompok touring) berikutnya untuk
tidak berhenti.
2) Korban dirawat sementara.
3) Bawa korban ke balai pengobatan terdekat bila perlu.
l.
Bila terjadi kecelakaan major injured
1) Parkir semua motor di lokasi aman (ditunggui salah satu peserta bila perlu).
2) Semua peserta mengamankan TKP dan mengatur lalu lintas.
3) Sweeper memberikan tanda kepada klotur berikutnya
4) Evakuasi dipimpin langsung oleh Road Captain.
5) Road Captain broadcast berita.
6) Wajib memberhentikan touring.
m.
Bila terjadi mogok
1) Klotur (kelompok touring) emergency stop.
2) Road Captain cari bengkel terdekat bila tidak bisa ditangani peserta.
3) Mengantar dan mengawal motor ke bengkel terdekat.
Proses internalisasi norma dalam perilaku safety riding yang merupakan
kewajiban dan kepatuhan dari semua pengendara di jalan raya, sehingga jika perihal
keselamatan berkendara ini dapat dijalankan dengan baik, hal ini menjadikan individu
maupun kelompok pengendara di jalan raya termasuk orang-orang yang telah berbuat
baik. Seperti tertulis dalam Q.S. Ali Imran ayat 115.
58
“dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, Maka sekali-kali mereka tidak
dihalangi (menerima pahala) nya; dan Allah Maha mengetahui orang-orang yang
bertakwa”(Departemen Agama RI.Tahun 2007).
D.
Hubungan Internalisasi Norma dengan Safety Riding pada komunitas Vario
Owner Club Malang
Berbicara safety riding, dalam sebuah komunitas motor, untuk memahami dan
melaksanakan sebuah aturan dan norma safety riding dalam kelompok tersebut,
diperlukan suatu konformitas. Konformitas akan terjadi apabila seorang sudah
menyadari adanya suatu norma dan ia akan berperilaku sesuai dengan norma tersebut
(Hollandor dalam Indrawijaya, 2010; 81). Aspek-aspek yang diperlukan dalam
konformitas yaitu adanya kepatuhan dalam menjalankan norma dan menginternalisasi
norma tersebut. Internalisasi norma dalam hal ini yaitu menginternalisasi norma safety
riding yang tepat sehingga dapat dikatakan seorang anggota komunitas motor dapat
memberikan contoh yang baik bagi pengendara yang lain.
Komunitas motor Vario Owner Club Malang nampak tertib dan tidak banyak
melakukan modifikasi- modifikasi terhadap kendaraan bermotornya, mereka pun
dicitrakan baik oleh masyarakat. Selain itu komunitas motor Vario Owner Club
Malang ini pernah menjadi tuan rumah Jambore Nasional Paguyuban Vario Nasional
yang ke-3. Ratusan biker dari klub dan pecinta Honda Vario dari berbagai daerah di
Indonesia berkumpul di Kota Malang menghadiri Jambore Nasional Paguyuban Vario
Nusantara (PVN) ke-3. Tak hanya gathering dan pelatihan safety riding, mereka juga
melakukan aksi penghijauan dengan menanam pohon di Kota Batu (Astra Honda
Motor, 2012).
59
Masalah timbul ketika komunitas motor Vario Owner Club Malang mengadakan
konvoi dalam acara Jambore Nasional Paguyuban Vario Nusantara ke-3 di Malang,
ada salah seorang anggota konvoi yang mendahului Road Captain. Hal ini
bertentangan dengan tata cara konvoi dan menimbulkan keresahan pengguna jalan lain,
anggota konvoi bahkan Road Captain dalam konvoi.
Pada dasarnya para anggota komunitas motor Vario Owner Club Malang ini
didasari oleh norma kelompok yang memiliki tingkat persaudaraan tinggi, dan berbeda
dengan komunitas motor lainnya. Hal ini dapat diharapkan bahwa penerapan dan
pemahaman teori internalisasi norma dalam kelompok ini dapat berjalan dengan baik.
Dalam tindakan mematuhi norma-norma kelompok tanpa dipaksa itu dapat
dikatakan bahwa orang yang bersangkutan telah menginternalisasi norma-norma
kelompoknya (internalisation of group-norms). Dengan kesadarannya sendiri, ia
mematuhi norma-norma kelompok sebagai norma-normanya sendiri (Gerungan, 2009;
107). Dalam penelitian ini, diharapkan proses internalisasi norma kelompok memiliki
hubungan yang positif terhadap perilaku safety riding pada anggota kelompok tersebut.
E.
Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan yang
signifikan antara internalisasi norma dengan safety riding pada komunitas Vario
Owner Club Malang.
60
Download