penerapan capital asset pricing model untuk menilai kinerja saham

advertisement
Nurhidayah dan Rony Okta Adrianto
45
PENERAPAN CAPITAL ASSET PRICING MODEL UNTUK MENILAI
KINERJA SAHAM
NURHIDAYAH
Dosen STIE AsiA Malang
RONY OKTA ADRIANTO
Alumni STIE AsiA Malang
ABSTRAK
Untuk dapat berinvestasi pada suatu sekuritas maka seorang investor perlu untuk mengetahui atau
mengestimasi return dan risiko dari sekuritas yang dipilih. Untuk dapat mengestimasi suatu sekuritas dengan
baik maka diperlukan suatu model estimasi. Dan CAPM adalah salah satu model estimasi yang dapat
digunakan untuk mengestimasi return suatu sekuritas.
Data yang digunakan didalam penelitian ini adalah data sekunder berupa harga penutupan saham
bulanan (monthly closing price) dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Harga saham perusahaan
subsektor properti dan realestate dan tingkat suku bunga SBI bulanan. Seluruh data dikalkulasikan dengan
metode CAPM, diuji hipotesa dengan menggunakan analisis regresi linear sederhana dan diolah dengan
menggunakan SPSS 15. Sampel penelitian terdiri dari enam saham subsektor properti dan realestate yaitu
saham CTRA, JRPT, LPCK, RBMS, RDTX dan SMRA.
Simpulan hasil penelitian adalah saham yang tergolong undervalued adalah CTRA, RBMS dan SMRA,
sedangkan yang tergolong overvalued adalah JRPT, LPCK dan RDTX. Untuk saham-saham yang tergolong
undervalued ternyata juga menghasilkan excess return yang positif atau ada return tak normal yang
dikarenakan return realisasinya lebih besar dari yang diharapkan oleh para investor.
Kata Kunci : Risiko, Return, Beta, CAPM, Investasi, IHSG, saham subsektor properti dan realestate.
ABSTRACT
To be able to invest in a security, the investor needs to know or estimate the returns and risks of securities
selected. To be able to estimate a securities properly it would require an estimation model. And CAPM is one of
the estimation model that can be used to estimate the return of a security.
The data used in this study are secondary data from the monthly closing price of the Composite Stock
Price Index (CSPI), the company's stock price and realestate property subsector and a monthly interest rate of
SBI. All data calculated with the CAPM method, the hypothesis was tested using simple linear regression
analysis and processed using SPSS 15. The study sample consisted of six sub-sector stocks are stocks of property
and realestate CTRA, JRPT, LPCK, RBMS, RDTX and SMRA
Conclusion the results of the study were classified as undervalued stocks is CTRA, RBMS and SMRA,
while the relatively overvalued is JRPT, LPCK and RDTX. For stocks that are classified as undervalued
apparently also produces positive excess return or no abnormal returns are due to a greater realization of the
return expected by investors.
Keywords: Risk, Return, Beta, CAPM, Investment, IHSG, Stock of Realestate and Property.
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG PENELITIAN
Setelah krisis ekonomi yang melanda
Indonesia pada tahun 1998, berangsur-angsur
namun pasti keadaan perekonomian Indonesia
mulai pulih, pemulihan ini ditandai dengan
stabilitas negara yang membaik sehingga iklim
usaha dan investasi di Indonesia juga mengalami
pertumbuhan, termasuk sektor properti yang di picu
meningkatnya daya beli masyarakat dan kebutuhan
akan perumahan yang cenderung meningkat.
Dengan pertimbangan di atas dari sisi
Demand akan properti & real estate, maka analisis
memprediksikan bahwa bisnis properti dari tahun
2010-2013 akan terus menunjukkan peningkatan.
Sedangkan dari sisi Supply, bisnis properti & real
estate akan mengikuti Demand, terutama sektor
Perumahan, Perhotelan, Kondominium dan
Perkantoran, Rumah toko (Ruko) dan Rumah
Kantor (Rukan).
Sedangkan berdasarkan siklus properti yang
umumnya bergerak fluktuatif pada kurun waktu 5-7
tahun. Dan diperkirakan pada tahun 2010 hingga
tahun 2013, merupakan saat yang tepat bagi para
pelaku bisnis untuk memasuki pasar property,
termasuk industri perbankan yang mendanai dan
menyalurkan Kredit Properti, baik KPR dan Kredit
Konstruksi yaitu dengan melihat bahwa pada tahun
tersebut tingkat inflasi akan menurun sehingga akan
menurukan juga tingkat suku bunga dan
menyebabkan turunnya tingkat bunga pinjaman
46
(kredit) perumahan sehingga
konsumen untuk berinvestasi.
Jurnal JIBEKA Volume 8 No. 2 Agustus 2014 : 45 - 54
dapat
menarik
Tabel 1
Sumber : Panangian School of Property (PSP)
Dari data tabel 1.terlihat bahwa saham
subsektor properti mengalami fluktuasi yang sangat
tinggi, bahkan di tahun 2008 sebagian besar saham
di subsektor properti mengalami penurunan harga
yang sangat drastis, hal ini disebabkan krisis
keuangan global yang membuat para investor
sangat berhati-hati dan menarik investasinya.
Sehingga pasar modal Indonesia juga mengalami
dampak penurunan harga tersebut. Sedangkan
beberapa masalah yang membuat harga saham
subsektor properti turun adalah rendahnya harga
properti di Indonesia jika dibandingkan negara di
Asia lainnya, sehingga sentimen investor terhadap
saham sektor ini belum seantusias layaknya saham
sektor konsumer atau pertambangan.
Seiring
dengan
membaiknya
perekonomian nasional dan rendahnya suku bunga,
pertumbuhan kredit properti pada tahun 2011
diproyeksikan bisa meningkat 15%-18%. Walaupun
begitu harga properti di Indonesia masih lebih
murah jika dibandingkan dengan harga properti di
luar negeri seperti di China, Hongkong atau
Singapura.
Permasalahan lain yang dapat menjadi
hambatan pertumbuhan industri properti Indonesia
adalah bahwa para pengusaha properti di Indonesia
belum mampu untuk mengerjakan proyek-proyek
luar negeri seperti di negara-negara afrika dan
timur-tengah yang mempunyai permintaan tinggi
didalam pembangunan bandara, pelabuhan,
perumahan dan infrastruktur lainnya. Karena
memang dibutuhkan modal yang besar sedangkan
para pengusaha properti di Indonesia belum
mendapatkan bantuan dari pemerintah dalam hal
modal, Tidak diperbolehkannya kontraktor lokal
yang mendapat pekerjaan di luar negeri untuk
melakukan pembiayaan di luar negeri karena
dianggap pelarian modal. Ketentuan mengenai
batasan dana yang akan menjadi modal investasi
terhambat peraturan Bank Indonesia karena
menyangkut aliran modal ke luar negeri serta
Adanya masalah perpajakan sehingga akan ada
pajak berganda bagi industri kontraktor yang
melakukan ekspansi ke luar negeri. Selain itu
Sebagian besar proyek konstruksi di negara tujuan
meminta jaminan perbankan Indonesia sementara
hal ini tidak diperbolehkan sehingga hal ini
menimbulkan biaya provisi yang mahal ( sumber:
www. Kadin-Indonesia.or.id diakses tgl 3/11/2011).
Dengan adanya kendala diatas maka akan
ada hambatan dan tantangan bagi pertumbuhan
bisnis properti sehingga akan berpengaruh juga di
dalam memperoleh tingkat keuntungan yang
berdampak terhadap saham-saham di sektor
properti karena mempengaruhi estimasi investor
terhadap nilai investasi dan keuntungan yang
diharapkan. Untuk menilai atau mengestimasi
besarnya tingkat keuntungan dan risiko yang
dihadapi untuk mendapatkan keuntungan terdapat
beberapa model penilaian investasi diantaranya
adalah Markowitz, Single Index, APT ( Arbitrage
Pricing Teory) dan CAPM (Capital Asset Pricing
Model), dan setiap model mempunyai keunggulan
dan kelemahan karena tergantung dari asumsiasumsi yang digunakan. Namun diantara model
tersebut model CAPM lebih sering digunakan
didalam menilai suatu saham karena model CAPM
merupakan
model
keseimbangan
yang
menggambarkan hubungan antara risiko dan return
secara sederhana, yang dapat menggambarkan atau
memprediksi realitas di pasar yang bersifat
kompleks untuk membantu investor dalam melihat
hubungan antara return dan risiko. Dan juga dapat
digunakan untuk menentukan harga suatu aktiva
modal (capital asset) dengan segala karakteristik
atau risikonya.
Dengan
pembentukan
model-model
keseimbangan umum memungkinkan untuk
menentukan pengukur risiko yang relevan dan
bagaimana hubungan antara risiko untuk setiap
asset apabila pasar modal berada di dalam keadaan
seimbang.
Rumusan Masalah
Ketika industri properti diramalkan akan
berkembang, bagaimanakah kinerja saham industri
properi dan real estate dengan menggunakan
metode Capital Asset Pricing Model (CAPM) ?
Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah diatas maka tujuan
penelitian ini adalah untuk menganalisis atau
mengukur kinerja saham dari perusahaan dalam
sektor industri industri property dan real estate
dengan mengunakan metode Capitan Asset Pricing
47
Nurhidayah dan Rony Okta Adrianto
Model (CAPM) apakah memberikan nilai yang baik
bagi pemegang saham dan calon investor.
Tinjauan Teori
Dalam penelitian ini akan dijabarkan beberapa
konsep teori yang mendukung penelitian ini,
khususnya Model Keseimbangan Pasar Modal.
1. Keseimbangan pasar modal.
Menurut
Tandelilin
(2010)
dengan
menggunakan model keseimbangan, kita akan
bisa memahami bagaimana perilaku investor
secara
keseluruhan,
serta
bagaimana
mekanisme pembentukan harga dan retrun
pasar dalam bentuk yang lebih sederhana.
Model keseimbangan juga dapat membantu
kita untuk memahami bagaimana menentukan
risiko yang relevan terhadap suatu asset, serta
hubungan risiko dan return harapan untuk
suatu asset ketika pasar dalam kondid
seimbang.
2. Capital Assets Pricing Model (CAPM)
CAPM di temukan terpisah oleh William
Sharpe (1964), John Lintner dan Jan Mossin
antara tahun (1964-1966). Dengan tujuan
untuk memprediksi hubungan antara risiko
suatu asset dengan pengembalian yang
diharapkan. untuk memahami penggunaan
model CAPM ini, maka harus memahami
asumsi-asumsi yang melandasi model ini
walaupun dianggap tidak realistis. Jogiyanto
(2010:488,489) mengemukakan bahwa telah
terjadi beberapa pelepasan asumsi yang
dilakukan oleh beberapa penelitian supaya
model CAPM lebih realistis tetapi hasilnya
tidak banyak merubah hasil prediksi dari
CAPM. Dan hasil dari pelepaan asumsiasumsi tersebut adalah sebagai berikut:
1) Semua investor mempunyai cakrawala waktu
satu
periode
yang
sama.
Investor
memaksimumkan
kekayaannya
dengan
memaksimumkan utiliti harapan dalam satu
periode yang sama.
2) Semua investor melakukan pengambilan
keputusan investasi berdasarkan pertimbangan
antara nilai return ekspektasi dan deviasi
standar return dari portofolionya.
3) Semua investor mempunyai harapan yang
seragam (homogeneous expectation) terhadap
faktor-faktor input yang digunakan untuk
keputusan portofolio.
4) Semua investor dapat meminjamkan sejumlah
dananya atau meminjam sejumlah dana
dengan jumlah yang tidak terbatas pada
tingkat suku bunga bebas resiko.
5) Penjualan pendek (short sale) diijinkan.
6) Semua aktiva dapat dipecah-pecah menjadi
bagian yang lebih kecil dengan tidak terbatas.
7)
Semua aktiva dapat dipasarkan secara likuid
sempurna.
8) Tidak ada biaya transaksi.
9) Tidak terjadi inflasi.
10) Tidak ada pajak pendapatan pribadi.
11) Investor adalah penerima harga (price-takers).
12) Pasar modal dalam kondisi ekuilibrium.
Ekuilibrium pasar terjadi jika harga-harga dari
aktiva berada di suatu tingkat yang tidak dapat
memberikan insentip lagi untuk melakukan
perdagangan spekulatip (Jones, 1995) dalam
Jogiyanto (2010:489). Keadaan ekuilibrium pasar
yang menyangkut return ekspektasi dan resiko
dapat digambarkan oleh Garis Pasar Modal (GPM)
atau Capital Market Line (CML).
Apabila Garis Pasar Modal (GPM) menunjukan
hubungan antara risiko dan return ekspektasi untuk
portofolio efisien, maka garis yang menunjuakan
hubungan risiko dan return ekspektasi sekuritas
individual adalah Garis Pasar Sekuritas (GPS) atau
security market line (SML) yang juga
menggambarkan secara grafis model dari CAPM.
Seperti diketahui sebelumnya bahwa suatu risiko
tidak sistematik dapat dihilangkan dengan cara
diversivikasi sehingga resiko yang relevan adalah
risiko sitematik yang digambarkan dengan beta.
Beta dari portofolio pasar adalah 1, jika suatu
sekuritas mempunyai nilai beta lebih kecil (besar)
dari 1 dapat dikatakan berisiko lebih kecil (besar)
dari risiko portofolio pasar sehingga return
ekspektasinya juga lebih kecil (besar) dari return
ekspektasi portofolio pasar.
Gambar 1. Garis Pasar Sekuritas
Sumber: Jogiyanto (2010)
Dari gambar diatas akan dapat dibuat persamaan
garis pasar sekuritas:
Σ(Rj) = RBR + βi*[Σ(RM) – RBR
Dimana: E(Rj)
= Required Return
48
RBR
Rate
βi
E(RM)
Jurnal JIBEKA Volume 8 No. 2 Agustus 2014 : 45 - 54
= Tingkat Aset Bebas Risiko / Risk Free
= Risiko Sistematis / Systematic Risk
= Return Pasar / Market Return
Persamaan yang sederhana diatas disebut
sebagai Capita Asset Pricing Model (CAPM). Elton
dan Gruber (1995) didalam Jogiyanto (2010)
menganggap persamaan ini sebagai penemuan
terpenting dibidang keuangan, dengan persamaan
ini maka return ekspektasi dari suatu portofolio atau
sebuah sekuritas individual dapat ditentukan.
Kerangka Konseptual:
1.
Populasi dan Sampel
Populasi pada penelitian adalah perusahaan
subsektor industri properti & real estate yang
listing di BEI berjumlah 40 perusahaan,
sementara itu teknik pengambilan sample
yaitu purposive sampling dengan kriteria
pengambilan sample kelengkapan data laporan
keuangan
dan
perusahaaan
haruslah
perusahaan disektor industri sub-sektor
properti seperti perumahan, ruko serta rukan
dan tidak termasuk perusahaan konstruksi
bangunan,
hal
ini
dilakukan
untuk
menghindari bias karena adanya perbedaan
jenis usaha. Jumlah sample perusahaan subsektor properti dapat dilihat pada tabel berikut
ini :
No
1
2
3
4
5
6
Hipotesis
H0: Diduga tidak ada korelasi antara risiko
dengan
return
saham
dengan
menggunakan Capital Asset Pricing
Model (CAPM).
H1: Diduga ada korelasi antara risiko dengan
return saham dengan menggunakan
Capital Asset Pricing Model (CAPM).
Metode penelitian
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif
kuantitatif, dimana pendekatan ini digunakan untuk
menganalisis data agar dapat memberikan
gambaran yang teratur suatu peristiwa dengan
observasi yang dinyatakan dengan angka-angka
kemudian dianalisis dengan teknik statistik.
Kode
CTRA
JRPT
LPCK
RBMS
RDTX
SMRA
Nama Emiten
PT. Citra Development Tbk
Jaya Raya Real Property Tbk
Lippo Cikarang Tbk
Ristia Bintang Mahkota Sejati
Tbk
Roda Vivatex Tbk
Summarecon Agung Tbk
Definisi dan Pengukuran Variabel
a. Return Saham / Stock Return (Ri)
Merupakan tingkat return yang diperoleh pada
penanaman sejumlah dana dalam suatu
investasi tertentu yang terlihat pada masingmasing harga saham perusahaan.
b. Expected Stock Return [E(Ri)]
Merupakan tingkat return rata-rata saham
yang diharapkan akan diperoleh investor
saham tertentu selama periode tertentu.
c. Return Pasar / Market Return (Rm)
Market return secara kasar yang akan
diperoleh investor dari investasi pada sahamsaham yang tercermin dari perubahan indeks
harga untuk periode tertentu. Indeks harga
yang akan digunakan dalam penelitian ini
adalah Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG)
d. Expected Market Return [E(Rm)]
Merupakan tingkat return rata-rata pasar
modal dalam periode tertentu, yang dinilai
dari rata-rata Index Harga Saham Gabungan
(IHSG)
e.
Indeks Pasar / Market Index
Merupakan pencerminan dari Indeks Harga
Saham Saham Gabungan (IHSG).
f.
Tingkat Aset Bebas Risiko / Risk Free Rate
(RBR)
Merupakan tingkat return yang diperoleh dari
investasi pada aktiva bebas risiko (riskless
asset). Di Indonesia yang dijadikan dasar
49
Nurhidayah dan Rony Okta Adrianto
H : Tidak ada korelasi yang nyata antara
0
risiko dan return saham
H : Ada korelasi nyata antara risiko dan
1
return saham.
keputusan : bila nilai signifikan < 0.05 maka
Aturan
Tolak H
0.
Tinggi rendahnya hubungan antara risiko dan
return saham dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2: Tabel tingkat koefisien korelasi
Koefisien
Korelasi
0.0 – 0.19
0.2 – 0.39
0.4 – 0.59
0.6 – 0.79
0.8 – 1.00
Tingkat hubungan
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat tinggi
Sumber : Nisfiannoor (2009)
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Analisis Data dan Uji Hipotesis.
Capital Assets Pricing Model (CAPM) merupakan
Suatu model keseimbangan untuk menentukan hubungan
antara risiko dan return yang diperoleh investor. Tingkat
risiko dan return yang layak dalam metode analisis
CAPM dinyatakan memiliki korelasi yang positif dan
linear. Nilai β yang diperhitungkan adalah β yang
signifikan. Sehingga digunakan analisis regresi linear
sederhana sesuai dengan persamaan CAPM untuk
menguji linearitas dan signifikan saham. Pengujian
dilakukan dengan Correlation, R Square, f test, dan t test
Untuk dapat mengetahui apakah regresi yang
digunakan adalah model regresi linear atau tidak, maka
terlebih dahulu kita perlu melihat bentuk diagram pencar
(scatterplot) dari variabel-variabel yang diamati. Apabila
plot data yang diamati mendekati pola garis lurus maka
kita dapat menggunakan model regresi linear. Salah satu
hipotesa dalam pengujian CAPM adalah return saham
dan β yang mempunyai hubungan yang linear.
Scatterplot dari hasil pengujian adalah dengan β sebagai
sumbu X nya dan return saham [E(Rj)] sebagai sumbu Y.
Gambar 1
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Dependent Variable: expected return
1.0
Expected Cum Prob
untuk menghitung RBR adalah tingkat suku
bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
g. Risiko Sistematis / Systematic Risk (β)
Merupakan risiko yang berkaitan dengan
keadaan pasar dan tidak dapat dihilangkan
dengan diversifikasi yang dihitung dari
kovarian return antara sekuritas ke-i dengan
return pasar dan varian dari pasar.
h. Required Return [E(Rj)]
Merupakan besarnya tingkat return yang
dibutuhkan oleh investor dalam berinvestasi
dengan tingkat risiko yang ada. Tingkat return
yang dibutuhkan ini akan melebihi RBR
ditambah dengan besarnya kompensasi untuk
menanggung risiko investasi pada saham
tertentu.
i.
Excess Return [E(R)]
Merupakan selisih antara Expected Stock
Return dengan Required Return , yang
menentukan pengambilan keputusan bagi
investor pada saat pembelian saham.
2. Metode Analisis Data dan Uji Hipotesis.
Di dalam penelitian ini digunakan alat bantu
statistik, yaitu metode analisis regresi sederhana
dengan program SPSS 15 yang digunakan untuk
mencari korelasi risiko dan return serta menilai
signifikan atau tidaknya β yang diperoleh. Dengan
ketentuan level of significance (α) adalah sebesar
5%. Adapun persamaan regresi sederhana yang
digunakan adalah persamaan CAPM, yaitu:
Σ(Rj)= RBR + βi*[Σ(Rm) – RBR]
Dimana :
Σ(Rj)= Tingkat return yang layak untuk sekuritas i
(variabel dependen / Y)
R = Tingkat return dari investasi bebas risiko
BR
(konstanta/α)
Σ(Rm) -R = Premium Risk (variabel independen /
BR
X)
β = Beta (ukuran risiko) sekuritas i
Untuk mencari dan menilai korelasi antara
risk (β) dan return (Rj) saham dapat dilihat pada
output tabel correlations. Jika angka koefisien
korelasi yang dihasilkan bernilai positif (+) maka
terdapat hubungan yang searah antara risiko dan
return. Artinya, bila return mengalami peningkatan
maka risiko pun akan naik, dan sebaliknya. Jika
angka koefisien korelasi yang dihasilkan bernilai
negatif (-) maka terdapat hubungan yang
berlawanan antara risiko dan return. Artinya, bila
return meningkat akan diikuti oleh penurunan
risiko, dan sebaliknya. Pengujian apakah terjadi
hubungan yang nyata antara risiko dan return
saham yang dilakukan sesuai hipotesa berikut:
0.8
0.6
0.4
0.2
0.0
0.0
0.2
0.4
0.6
Observed Cum Prob
0.8
1.0
50
Jurnal JIBEKA Volume 8 No. 2 Agustus 2014 : 45 - 54
Sumber: Data Diolah Gambar 1 Diagram Pencar
(Scatterplot) β dan E (Rj) Seluruh Sampel
Perusahaan
Berdasarkan bentuk Scatterplot di atas, plot
data yang diamati berada di dekat garis lurus,
sehingga dapat diambil kesimpulan sementara
bahwa hubungan antara β dan E (Rj) adalah linear.
Dengan demikian, kita dapat menggunakan analisis
regresi linear. Penentuan apakah seluruh sampel
perusahaan termasuk dalam saham yang signifikan
dalam teori CAPM, dilakukan suatu uji hipotesa
dengan menggunakan analisis regresi linear
sederhana. Regresi linear sederhana digunakan
sesuai dengan persamaan CAPM yang linear
dengan 1 variabel dependen (terikat) dan 1 variabel
independen (bebas).
Adapun persamaan CAPM tersebut adalah
sebagai berikut :
(Σ)Rj = RBR + βi*[(Σ)Rm – RBR]
Dimana : R = Tingkat keuntungan yang layak
f
untuk sekuritas i
R = Tingkat keuntungan dari investasi
f
bebas risiko
R = Tingkat keuntungan pasar
m
β = Beta (ukuran risiko) sekuritas i
i
a)
Uji normalitas dan korelasi (β) dengan
(Rj)
Tabel 1
Data Uji normalitas dan korelasi (β) dengan
(Rj)
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
expected
return
N
Normal
Parameters(a,b)
6
.029250
.857417
.0290915
.
442190
3
.312
.312
Positive
.312
.243
Negative
Mean
Std.
Deviation
Most Extreme
Differences
Beta
6
Absolute
-.243
-.312
Kolmogorov-Smirnov Z
.764
.764
Asymp. Sig. (2-tailed)
.603
.604
a Test distribution is Normal.
b Calculated from data.
Correlations
expected return Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
beta
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
expected
return
1
6
-1.000**
.000
6
beta
-1.000**
.000
6
1
6
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
b) Uji regresi sederhana antara dua variabel
yaitu variabel Y (Ri–RBR) dengan variabel X
(Rm-RBR)
Tabel 3
Data hasil regresi (Ri – RBR) dengan (Rm –
RBR)
Pembahasan
Investasi adalah kegiatan menunda konsumsi
sekarang untuk dimasukan kedalam aktifa-aktifa
yang produktif. Salah satu jenis investasi adalah
berinvestasi dalam asset keuangan dalam hal ini
adalah saham. Didalam berinvestasi didalam saham
return yang didapatkan oleh seorang investor
adalah berasal dari capital gain dan deviden. Bagi
seorang investor spekulan return dari capital gain
adalah yang terutama karena memberikan return
yang lebih cepat yaitu dengan melihat selisih dari
harga jual dan beli yang didalam pasar bursa dalam
terjadi dalam hitungan detik.
Salah satu saham dari perusahaan go publik
yang sedang berkembang adalah pada subsektor
properti dan real estate. Yaitu dengan melihat
perkembangan dan pertumbuhan pembangunan
kawasan
hunian/perumahaan,
ruko,
rukan,
apartemen dan lain-lain. Hal ini ditunjang dengan
keadaan ekonomi secara nasional yang meninggkat
pula yaitu kemampuan daya beli masyarakat untuk
menjadi pembeli yang potensial sebagai sisi
permintaan. Dengan adanya permintaan yang besar
dari masyarakat sebagai konsumen akan kebutuhan
51
Nurhidayah dan Rony Okta Adrianto
hunian, maka juga menjanjikan penjualan dan
keuntungan yang meningkat bagi para produsen
properti dan realestate, bagi para investor atau
pemegang saham hal ini merupakan kabar yang
baik untuk dapat memiliki saham dari perusahaan
subsektor properti dan realestate. Untuk
menganalisis perkembangan saham tersebut maka
digunakan alat analisis CAPM, untuk mengetahui
apakah return yang diharapkan oleh seorang
investor sesuai dengan yang diharapkan.
Didalam komponen alat analisa CAPM yang
perlu diperhatikan adalah tingkat return asset bebas
risiko dalam hal ini adalah tingkat suku bunga
bank, sebagai alternatif investasi yang mempunyai
risiko rendah. Yang kedua adalah return pasar yang
diwakili oleh indeks harga saham dan yang ketiga
adalah risiko dari investasi tersebut yang diwakili
oleh Beta.
Antara periode 2006-2010 rata-rata return
tingkat suku bunga adalah 9%, tetapi dalam kurun
waktu tersebut tingkat suku bunga bank mengalami
penurunan dari 13% menjadi 7%. Karena tingkat
suku bunga adalah kebijakan pemerintah didalam
mengendalikan tingkat inflasi dan perekonomian
nasional. Sehingga bila keadaan ekonomi stabil
justru tingkat suku bunga akan lebih rendah dengan
maksud untuk lebih meningkatkan investasi yang
lebih produktif. Sedangkan didalam perkembangan
indeks saham dalam hal ini adalah Indeks Saham
Harga Gabungan (IHSG) sebagai acuan untuk
mengamati pergerakan harga saham, selama
periode 2006-2010 mengalami fluktuasi yaitu
selama tahun 2006 mengalami kenaikan dari
1,232.32 menjadi 2,721.94 pada bulan Februari
2008. Namun dengan adanya krisis keuangan
global maka mengakibatkan penurunan yang tajam
akibat sikap hati-hati para investor dengan menarik
investasinya sehingga harga IHSG turun sampai
1,285.48 pada bulan Februari 2009, yang pada
akhirnya menguat kembali pada bulan-bulan
berikutnya sampai bulan Agustus 2010 dengan
harga 3,081.88. sehingga tingkat pengembalian
rata-rata return pasar adalah sebesar 0,020 atau 2%,
jika dibandingkan dengan tingkat asset bebas risiko
mempunyai selisih 7% ( 9% - 2%).
Untuk return dari saham dari perusahaan
subsektor properti juga mengalami fluktuasi.
Walaupun masing-masing perusahaan mengalami
peningkatan harga saham pada tahun 2006-2007
tetapi pada tahun 2008 mengalami penurunan
sebagai akibat dampak krisis keuangan global.
Dengan metode Capital Asset Pricing Model
(CAPM) maka akan didapat return ekspektasi atau
yang diharapkan dari seorang investor untuk
menilai nilai saham yang sesungguhnya sehingga
dapat menjadi bahan informasi bagi investor untuk
berinvestasi pada saham-saham perusahaan
subsektor properti dan realestate.
Gambar 2: Grafik RBR, E(Rm), E(Ri), E(Rj) dan
E(R) saham CTRA
0.1
0.08
0.06
0.04
0.02
0
RBR
E(Rm) E(Ri)
E(Rj)
(ER)
Pada saham Ciputra Development. Tbk
(CTRA), Beta yang dihasilkan adalah 1.1637 (β>1)
sehingga termasuk sebagai saham agresif. Dengan
tingkat return pasar sebesar 0.20% dan asset bebas
risiko sebesar 9% dengan metode CAPM didapat
return ekspektasi sebesar 0.09% dan jika
dibandingkan dengan return realisasi dari saham
CTRA sebesar 0.015% maka dapat dikatakan
bahwa saham tersebut adalah overvalued (mahal)
karena return realisasi lebih besar dari yang
diharapkan. sehingga ada return tak normal yaitu
sebesar 0.01% yang mungkin disebabkan adanya
suatu peristiwa tertentu seperti respon positif
terhadap krisis keuangan global atau peristiwa lain
seperti pertumbuhan perusahaan, risiko perusahaan,
pengumuman laba.
Gambar 3
Grafik RBR, E(Rm), E(Ri), E(Rj) dan E(R) saham
JRPT
0.1
0.08
0.06
0.04
0.02
0
-0.02RBR E(Rm) E(Ri) E(Rj) (ER)
-0.04
%
Pada saham Jaya Raya Property. Tbk (JRPT),
Beta yang dihasilkan adalah 0.7325 (β<1) sehingga
tergolong sebagai saham yang defensif. Dengan
tingkat return pasar sebesar 0.20% dan asset bebas
risiko sebesar 9% dengan metode CAPM didapat
52
Jurnal JIBEKA Volume 8 No. 2 Agustus 2014 : 45 - 54
return ekspektasi sebesar 0.037% dan jika
dibandingkan dengan return realisasi dari saham
JRPT sebesar 0.010% maka dapat dikatakan bahwa
saham tersebut adalah undervalued (murah) karena
return realisasi lebih kecil dari yang diharapkan.
Dan tidak ada return tidak normal karena exces
return yang dihasilkan bernilai negatif.
Gambar 4
Grafik RBR, E(Rm), E(Ri), E(Rj) dan E(R) saham
LPCK
0.1
0.08
0.06
0.04
0.02
0
-0.02
Gambar 6
Grafik RBR, E(Rm), E(Ri), E(Rj) dan E(R) saham
RDTX
0.1
%
0.05
Pada saham Lippo Cikarang. Tbk (LPCK),
Beta yang dihasilkan adalah 1.0469 (β>1) sehingga
tergolong sebagai saham yang agresif. Dengan
tingkat return pasar sebesar 0.20% dan asset bebas
risiko sebesar 9% dengan metode CAPM didapat
return ekspektasi sebesar 0.017% dan jika
dibandingkan dengan return realisasi dari saham
LPCK sebesar 0.012% maka dapat dikatakan
bahwa saham tersebut adalah undervalued (murah)
karena return realisasi lebih kecil dari yang
diharapkan. tetapi tidak terdapat return tidak normal
karena excess return bernilai negatif.
Gambar 5
Grafik RBR, E(Rm), E(Ri), E(Rj) dan E(R) saham
RBMS
0.1
0.08
0.06
0.04
0.02
0
RBR
Pada saham Ristia Bintang Mahkotasejati. Tbk
(RBMS), Beta yang dihasilkan adalah 1.0221 (β>1)
sehingga tergolong saham yang agresif. Dengan
tingkat return pasar sebesar 0.20% dan asset bebas
risiko sebesar 9% dengan metode CAPM didapat
return ekspektasi sebesar 0.018% dan jika
dibandingkan dengan return realisasi dari saham
RBMS sebesar 0.025% maka dapat dikatakan
bahwa saham tersebut adalah overvalued (mahal)
karena return realisasi lebih besar dari yang
diharapkan. Dan terdapat return tidak normal
sebesar 0.006% yang dikarenakan suatu peristiwa
tertentu seperti respon negatif terhadap krisis
keuangan global atau peristiwa lain seperti
pertumbuhan perusahaan, risiko perusahaan,
pengumuman laba.
E(Rm)
E(Ri)
%
E(Rj)
(ER)
0
-0.05RBR E(Rm) E(Ri)
E(Rj)
(ER)
-0.1
%
Pada saham Roda Vivatex. Tbk (RDTX), Beta
yang dihasilkan sangat rendah yaitu sebesar 0.0144
(β<1) sehingga tergolong saham yang difensif.
Dengan tingkat return pasar sebesar 0.20% dan
asset bebas risiko sebesar 9% dengan metode
CAPM didapat return ekspektasi sebesar 0.085%
dan jika dibandingkan dengan return realisasi dari
saham LPCK
sebesar 0.025% maka dapat
dikatakan
bahwa
saham
tersebut
adalah
undervalued (murah) karena return realisasi lebih
kecil dari yang diharapkan. Dan tidak terdapat
return tidak normal karena excess return yang
dihasilkan bernilai negatif
Gambar 4.7
Grafik RBR, E(Rm), E(Ri), E(Rj) dan E(R) saham
SMRA
Nurhidayah dan Rony Okta Adrianto
0.1
0.08
0.06
0.04
0.02
0
RBR E(Rm) E(Ri) E(Rj) (ER)
%
Pada saham Summarecon Agung. Tbk
(SMRA), Beta yang dihasilkan sebesar 1.1649
(β>1) sehingga tergolong saham yang agresif.
Dengan tingkat return pasar sebesar 0.20% dan
asset bebas risiko sebesar 9% dengan metode
CAPM didapat return ekspektasi sebesar 0.009%
dan jika dibandingkan dengan return realisasi dari
saham SMRA
sebesar 0.012% maka dapat
dikatakan bahwa saham tersebut adalah overvalued
(mahal) karena return realisasi lebih besar dari yang
diharapkan. Dan terdapat return tidak normal
sebesar 0.0026% yang dikarenakan suatu peristiwa
tertentu.
Sedangkan didalam pengujian Beta, scater plot
yang dihasilkan menunjukan bahwa ada hubungan
linier antara tingkat risiko dengan return dan
signifikan. Tetapi didalam pengujian beta dengan
tingkat return terdapat hubungan yang signifikan
tetapi berkorelasi negatif. Karena secara umum
CAPM adalah model untuk return ekspektasi yaitu
suatu nilai yang belum terjadi yang belum dapat
diobsevasi sehingga tidak dapat diuji. Sebagai
model teoritis, slope dari Garis Pasar Sekuritas
(GPS) harus bernilai positif sehingga mempunyai
arti bahwa semakin tinggi tingkat risiko, maka
semakin tinggi pula return ekspektasi yang
diharapkan oleh investor. Sedangkan pada model
secara nyata (ex post) yang merupakan model
empiris, garis pasar modal dapat bernilai nol
maupun negatif yang berarti semakin tinggi risiko
return yang didapat belum tentu juga tinggi, dapat
berupa nol maupun negatif atau rugi (Jogiyanto,
2010).
Atau mungkin adanya faktor-faktor lain yang
lebih berpengaruh dari pada Beta di dalam CAPM
yang lebih mempengaruhi tingkat return seperti
ukuran perusahaan, seasonality effect (January
effect) melalui studi Banz dan Reinganum (1981)
dan juga Keim (1985) dalam (Jogiyanto, 2010).
Dan juga bertepatan dengan peristiwa krisis
keuangan global yang mengakibatkan bangkrutnya
beberapa perusahaan keuangan atau pendanaan
internasional yang mempengaruhi pasar bursa
secara keseluruhan sehingga membuat sentimen
53
negatif bagi para investor, bahkan menarik
investasinya di pasar modal untuk menghindari
kerugian. Tetapi ada sebagian dari investor yang
justru memanfaatkan informasi peristiwa tersebut
untuk berspekulan dengan harapan akan
mendapatkan keuntungan di luar keuntungan
normal.
Penyebab lainnya yang perlu diperhatikan
adalah adanya bias dalam perhitungan Beta. Faktor
utamanya penyebab biasnya perhitungan Beta
adalah perdagangan yang tidak singkron yang
terjadi karena jarangnya transaksi perdagangan
pada bursa efek, yang biasanya terjadi pada pasar
modal yang sedang berkembang. Yang dapat dilihat
pada harga daftar harga saham setiap perusahaan,
nampak tidak adanya kegiatan transaksi pada
saham perusahaan tersebut terutama pada tahun
2008 (krisis keuangan global) sehingga harga dari
saham tidak mencerminkan harga waktu yang
berlaku ( periode ke t), yang berbeda dengan harga
indeks pasar yang selalu bertransaksi.
Kesimpulan.
Dengan metode CAPM dihasilkan tingkat asset
bebas risiko lebih tinggi dari return indeks pasar,
Sehingga selama periode tersebut akan lebih
menguntungkan bila berinvestasi pada asset-asset
bebas risiko. Sedangkan untuk masing-masing
saham perusahaan subsektor properti dan realestate
yang tergolong sebagai saham agresif adalah
CTRA, LPCK, RBMS, dan SMRA. Saham yang
tergolong defensif adalah JRPT dan RDTX. Jika
dibandingkan antara return realisasi dan yang
diharapkan maka saham yang tergolong overvalued
adalah CTRA, RBMS dan SMRA, sedangkan yang
tergolong undervalued adalah JRPT, LPCK dan
RDTX. Untuk saham-saham yang tergolong
overvalued ternyata juga menghasilkan excess
return yang positif atau ada return tak normal yang
dikarenakan return realisasinya lebih besar dari
yang diharapkan oleh para investor.
Saran.
1. Bagi Emiten
Dengan adanya fenomena ketidak percayaan
para investor terhadap kinerja pasar modal
khususnya pada saham-saham subsektor
properti maka disarankan untuk memperkuat
risiko tidak sistematis yaitu dengan memperkuat
fundamental perusahaan, sehingga ketika terjadi
krisis global maka perusahaan tetap memiliki
laporan kinerja yang baik, sebagai bukti bahwa
saham yang diterbitkan oleh perusahaan
tersebut menguntungkan dari segi yield nya.
Dengan ini diharapkan para investor tetap
percaya untuk memiliki saham dari perusahaan
tersebut.
54
Jurnal JIBEKA Volume 8 No. 2 Agustus 2014 : 45 - 54
2. Bagi Investor.
Jika dilihat dari hasil perhitungan tersebut maka
disarankan untuk lebih memilih berinvestasi
pada asset bebas risiko, yang walaupun setiap
tahun mengalami penurunan tetapi return yang
dihasilkan masih lebih tinggi dari return
berinvestasi pada saham-saham subsektor
properti dan realestate. Namun jika ingin
berinvestasi pada saham-saham tersebut maka
disarankan memilih saham yang agresif dan
overvalued, karena return saham yang
dihasilkan lebih besar dari return pasar dan yang
diharapkan (expected return) dan memberikan
return tidak normal.
3. Bagi Peneliti lain.
Sedangkan bagi peneliti selanjutnya yang akan
mengadakan penelitian analisis saham dengan
metode CAPM maka disarankan memilih data
perusahaan paling lengkap dalam satu periode.
Menghindari periode yang mengalami kejadian
khusus seperti krisis global sehingga hasil
perhitungan yang diperoleh normal. Selain itu
pada metode CAPM hanya melihat hubungan
required return dan tingkat risiko sehingga tidak
dapat memberikan suatu prediksi bagi investor
tentang harga saham dimasa depan sehingga
untuk lebih bermanfaat perlu ditambahkan
variabel lain sebagai pendukung.
Daftar Pustaka
1.
2.
Hartono, Jogiyanto. 2010 (ed. Ketujuh). Teori
Portofolio Dan Analisis Investasi. BPFEYogyakarta. Yogyakarta.
Husnan, Suan. 2001. Dasar-Dasar Teori
Portofolio Dan Analisis Sekuritas. AMP
YKPN. Yogyakarta.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Suharyadi, dan S.K, Purwanto. 2003.
Statistika Untuk Ekonomi & Keuanan
Modern. Salemba empat. Jakarta.
Yulianti (ed). 2009. Pengantar keuangan
perusahaan buku 1 edisi 8. Salemba empat.
Jakarta.
Dajan, Anto. 1986. Pengantar Metode
Statistik Jilid 1. Pustaka LP3ES Indonesia.
Jakarta.
Nisifiannoor, Muhammad. 2009. pendekatan
statistika modern untuk ilmu sosial. Salemba
empat. Jakarta.
Yohanti,. Yesica. 2009. Penggunaan Metode
CAPM Dalam Menilai Risiko Dan Nilai
Return Saham Untuk Menentukan Pilihan
Berinvestsi Pada Saham Jakarta Islamic
Index Periode Januari 2004-Desember 2008
Di Bursa Bursa Efek Indonesia. Skripsi.
Dipublikasikan, Jakarta. Fakultas Ekonomi
Universitas Gunadarma.
Susilo, FAP. 2006. Penilaian Kinerja
Portofolio Reksadana Dengan Menggunakan
Metode CAPM Pada PT Trimegah Securitas.
Tbk
Tahun
2005.
Skripsi.
Tidak
dipublikasikan, Malang: Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Malang..
Muslih. M.Imam. 2008. Perbandingan
Modela CAPM Dengan APT Dalam
Memprediksi Imbalan Saham Industri
Pertambangan Di Bursa Efek Indonesia.
Skripsi. Dipublikasikan, Jakarta. Program
studi akuntansi, ABFI institute PERBANAS.
Download