manajemen komunikasi odha dalam melawan stigma negatif

advertisement
Konferensi Nasional Ilmu Sosial & Teknologi (KNiST)
Maret 2017, pp. 710~716
710
MANAJEMEN KOMUNIKASI ODHA DALAM MELAWAN
STIGMA NEGATIF LINGKUNGAN
Yashi Indriani
AKOM BSI Jakarta
[email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini didasarkan pada kompetensi komunikasi yang dimiliki seorang ayah single parent.
Penerapan cara berkomunikasi seorang ayah single parent membuat komunikasi yang dilakukan
tidak banyak mengalami permasalahan. Dengan adanya kompetensi komunikasi yang dilakukan
dapat memberikan feedback yang positif dari komunikasi antar pribadi yang dilakukan ayah single
parent dan anaknya. Landasan dalam penelitian ini adalah komunikasi antar pribadi, komunikasi
antar pribadi dinilai paling ampuh dalam kegiatan merubah sikap, kepercayaan, opini dan perilaku
komunikan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, sedangkan
teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan wawancara baik kepada pihak
ayah yang memiliki status single parent, kepada anak seorang single parent, dan kepada tetangga
dekatnya di kawasan Lembang. Hasil dari penelitian ini bahwa komunikasi berjalan dengan baik
secara dua arah dan memberikan sikap keterbukaan satu sama lain karena penerapan cara
berkomunikasi seorang ayah single parent dalam mendidik anaknya. Oleh karna itu peranan ayah
single parent dalam menjalani hidup dengan kemampuan berkomunikasi yang baik dinilai sangat
efektif dalam membentuk karakter anak terutama anak yang hanya dibesarkan oleh orang tua
tunggal.
Kata kunci : Ayah, Single parent, Kompetensi Komunikasi
berat dimana ia harus bisa berperan ganda.
1. Pendahuluan
Asep yang hanya seorang pemulung, harus
Keluarga bahagia merupakan impian
bisa membagi waktu untuk anaknya, dimana
setiap orang. Keluarga idealnya adalah
Asep harus bisa berperan sebagai ibu dan
keluarga utuh yang terdiri dari ayah, ibu dan
juga Asep bisa berperan sebagai ayah. Setiap
anak. Setiap anggota keluarga memiliki peran
pagi Asep selalu mencari barang-barang
mereka masing-masing. Ibu berperan sebagai
bekas di daerah rumahnya. Terkadang Asep
kepala rumah tangga sedangkan ayah
pergi ke daerah yang memang lumayan jauh
berperan sebagai kepala keluarga. Tetapi
dari tempatnya untuk mencari barang-barang
bagaimana jika terjadi kesenjangan hubungan
bekas untuk dijual agar bisa menghidupi
dalam sebuah hubungan keluarga? Keputusan
anaknya. Ia tidak pernah mengeluh dengan
yang diambil adalah perceraian. Perceraian
apa yang dia rasakan saat ini.
sudah merupakan hal yang biasa dan sudah
Asep seorang ayah dengan bermodal
dianggap tidak tabuh lagi. Hal ini sudah
pendidikan
SMP
(Sekolah
Menengah
menjadi solusi hampir tiap keluarga. Pada
Pertama). Namun ia selalu berusaha
akhirnya,
masing-masing
memutuskan
memberikan yang terbaik untuk anaknya.
merubah statusnya menjadi single parent.
Asep sangat menyadari kebutuhan anaknya,
Kasus single parent sering kita temui
selain kebutuhan eksternal, pendidikaan, Asep
di masyarakat dengan beragam pandangan
sangat memperhatikan tumbuh kembang sang
yang negatif. Hal inilah yang menjadi dasar
anak. Hal ini terbukti ketika Asep mencoba
seorang tidak memiliki keseimbangan dalam
untuk menjaga hubungan dengan melakukan
menjalankan aktivitas sehari hari. Berbeda
komunikasi intensif. Asep tidak jarang
dengan permasalahan yang peneliti kaji, Asep
menyediakan waktu terbaik atau berkualitas
adalah seorang single parent yang memiliki
(quality
time),
misalnya
membantu
satu anak. Asep ditinggalkan istrinya karena
mengerjakan
PR,
melakukan
diskusi
keadaan ekonomi. Keterbatasan ekonomi
mengenai kegiatan yang telah dilakukan,
keluarga, menjadi penyebab utama terjadinya
bercerita dan lain-lain. Ketekunan Asep dalam
perceraian. Semenjak ditinggalkan istrinya,
mendampingi anaknya tidaklah sia-sia. Agung
Asep memiliki tanggung jawab yang sangat
tumbuh menjadi anak yang memiliki banyak
ISBN: 978-602-61242-0-3
prestasi seperti menjuarai lomba cerdas
cermat sekabupaten, menjuarai debat antar
SD, dan menjuarai kesenian sunda tingkat
kabupaten. Hal ini terjadi tentu karena adanya
kompetensi komunikasi yang dimiliki Asep.
Kemampuan
komunikasi
atau
kompetensi komunikasi yang dimiliki Asep
ialah bagaimana Asep bisa mengelola pesan
yang disampaikan kepada anaknya. Hal ini
terlihat dengan sikap keterbukaan yang
dilakukan oleh kedua belah pihak. Mereka
melakukan tukar pikiran dalam membahas
mengenai salah satu permasalahan seperti
kejadian yang telah dialami anaknya.
Keterbukaan komunikasi yang dilakukan
mereka membuat hubungan Asep dan Agung
menjadi sangat dekat dan akrab.
Komunikasi antar pribadi yang terjadi
tidak hanya satu arah melainkan dua arah.
Agung sebagai anak sering membantu
ayahnya. Disela-sela waktu luang Agung
selalu membantu ayahnya untuk memisahkan
barang-barang dari hasil memulungnya. Potret
keterbukaan, kerjasama, saling berbagi
diantara keduanya, memperlihatkan tentang
fenomena komunikasi yang harmonis. Ayah
dan anak sama-sama menyadari tentang
pentingnya komunikasi yang dibangun. Proses
komunikasi yang terjadi secara spontan dan
tanpa rekayasa. Hal ini menarik untuk dikaji
sehingga dapat diketahui secara natural kisah
hidup mereka selama menjalankan kehidupan.
Kemampuan berkomunikasi yang dimiliki oleh
Asep sang pemulung diharapkan dapat
memberikan konstribusi terhadap fenomena
komunikasi dewasa ini.
Berdasarkan konteks peneliti, maka
fokus yang diambil dari penelitian ini ialah
bagaimana
kompetensi komunikasi ayah
single parent dengan anaknya. Peneliti
menggunakan pendekatan kualitaitf dengan
studi naratif. Studi naratif yang lebih berfokus
pada kisah hidup Single Parent dengan
keterbatasannya. Untuk menggali kisah
tersebut, digunakan media pengolahan data
melalui wawancara. Diharapkan melalui teknik
data tersebut dapat menjawab tujuan
penelitian berupa biografi atau kisah single
parent berstatus pemulung dalam menjaga
komunikasi dan hubungan dengan anaknya.
2. Kajian Literatur
Komunikasi Antar Pribadi
Komunikasi
adalah
prasyarat
kehidupan manusia. Kehidupan manusia akan
tampak “hampa” atau tiada kehidupan sama
sekali apabila tidak ada komunikasi. Karena
tanpa komunikasi, interaksi antar manusia baik
secara perorangan, kelompok atau organisasi
KNiST, 30 Maret 2017
tidak mungkin dapat terjadi. Dua orang
dikatakan melakukan interaksi apabila masingmasing melakukan aksi dan reaksi. Pada
fenomena penelitian ini, Asep dan Agung
selalu
bertukar
informasi
dalam
menyampaikan hal apapun yang telah mereka
alami. Hal ini telah mencerminkan terjadinya
komunikasi antar pribadi dimana ada
komunikator yang menyampaikan pesan
kepada komunikan dan mereka saling
berinteraksi.
Dalam penelitian ini penulis
menggunakan kajian komunikasi antarpribadi
yang dikemukakan oleh Rakhmat (Hidayat,
2012:56). Rakhmat mengemukakan bahwa
terdapat tiga faktor dalam komunikasi
antarpribadi yang menumbuhkan relasi antar
pribadi yang baik, yaitu percaya, sikap
supportif, dan sikap terbuka.
1. Percaya
(turst)
secara
ilmiah
didefinisikan
sebagai
upaya
mengandalkan perilaku orang untuk
mencapai tujuan yang dikehendaki,
yang pencapaiannya tidak pasti dan
dalam situasi yang penuh resiko.
Adapun
faktor
utama
yang
menumbuhkan sikap percaya yaitu
menerima, empati, dan kejujuran.
Menerima
adalah
kemampuan
berhubungan dengan oranglain tanpa
menilai
dan
tanpa
berusaha
mengendalikan. Menerima adalah
sikap yang melihat orang lain sebagai
manusia, sebagai individu yang
dihargai. Faktor kedua adalah empati,
upaya untuk menumbuhkan sikap
percaya pada diri orang lain. Empati
juga diartikan sebagai usaha untuk
memahami orang lain. Faktor ketiga
yaitu kejujuran, sikap seperti ini bisa
menumbuhkan rasa saling percaya.
2. Sikap suportif adalah sikap yang
mengurangi sikap defensif dalam
komunikasi. Orang bersikap defensif
bila ia tidak menerima, tidak jujur, dan
tidak empati. Dengan sikap defensif,
komunikasi antarpribadi akan gagal
karena orang yang defensif akan lebih
banyak melindungi diri dari ancaman
yang ditanggapinya dalam situasi
komunikasi ketimbang memahami
pesan orang lain. Komunikasi defensif
dapat terjadi karena faktor-faktor
personal
(ketakutan, kecemasan,
harga
diri
yang
rendah,
dan
pengalaman defensif).
3. Sikap
terbuka,
yaitu
kemauan
menanggapi dengan senang hati
informasi yang diterima di dalam
711
ISBN: 978-602-61242-0-3
menghadapi hubungan antarpribadi.
Keterbukaan atau sikap terbuka
sangat
berpengaruh
dalam
menumbuhkan
komunikasi
antarpribadi yang efektif. Keterbukaan
adalah pengungkapan reaksi atau
tanggapan kita terhadap situasi yang
sedang dihadapi serta memberikan
informasi tentang masa lalu yang
relevan untuk memberikan tanggapan
kita dimasa kini tersebut.
Komunikasi antar pribadi adalah
komunikasi yang berlangsung dalam situasi
tatap muka antara dua orang atau lebih, baik
secara terorganisasi maupun pada kerumunan
orang. Komunikasi antar pribadi dimulai dari
proses hubungan yang bersifat psikologis dan
proses psikologis selalu mengakibatkan
keterpengaruhan.
Jenis
komunikasi
ini
dianggap paling cocok dan efektif untuk
mengubah pendapat, sikap atau prilaku
seseorang.
Karakteristik Komunikasi Antar Pribadi
Komunikasi
antar
pribadi
berlangsung antar dua individu, karenanya
pemahaman komunikasi dan hubungan antar
pribadi
menempatkan
pemahaman
mengenai
komunikasi
dalam
proses
psikologis. Sesuai dengan penelitian yang
peneliti lakukan, komunikasi yang dilakukan
antara dua individu yaitu ayah sebagai
komunikator dan anak sebagai komunikan.
Setiap individu dalam tindakan komunikasi
memiliki pemahaman dan makna pribadi
terhadap setiap hubungan dimana dia terlibat
di dalamnya. Hal terpenting dari aspek
psikologis dalam komunikasi adalah asumsi
bahwa diri pribadi individu terletak dalam diri
individu dan tidak mungkin diamati secara
langsung.
Artinya
dalam
Komunikasi
antarpribadi
pengamatan
terhadap
seseorang dilakukan melalui perilakunya
dengan mendasarkan pada persespsi si
pengamat.
Komunikasi antar pribadi dimulai
dari diri pribadi. Persepsi komunikasi yang
menyangkut
mengenai
pemahaman
berangkat dari dalam diri kita, artinya
dibatasi oleh siapa diri kita dan bagaimana
pengalaman kita. Seperti contoh ketika kita
berbicara dengan orang lain, maka kita akan
mengungkapkan
apa
yang
kita
persepsikan. Komunikasi
antarpribadi
mencakup aspek-aspek isi pesan dan
hubungan
antar
pribadi.
Maksudnya
komunikasi antar pribadi tidak hanya
berkenaan
dengan
isi
pesan
yang
dipertukarkan, tetapi juga melibatkan siapa
partner komunikasi kita dan bagaimana
hubungan kita dengan partner tersebut.
KNiST, 30 Maret 2017
Komunikasi antarpribadi tidak dapat diubah
maupun diulang kembali. Jika kita salah
menguapkan sesuatu kepada partner
komunikasi kita, mungkin kita dapat
memiinta maaf dan diberi maaf, tetapi itu
tidak berarti menghapus apa yang pernah
kita ucapkan. Demikian pula kita tidak dapat
mengulang suatu pernyataan dengan
harapan untuk mendapatkan hasil yang
sama, karena dalam proses komunikasi
antar manusia, hal ini akan sangat
tergantung dari respons partner komunikasi
kita.
Karakteristik menurut evert M.Roger (liliweri,
1991:19)
a. Arus pesan cenderung dua arah
b. Tingkat umpan baliknya yang terjadi
tinggi
c. Kemampuan untuk mengatasi tingkat
selektifitas yang tinggi
d. Efek yang mungkin terjadi adalah
perubahan sikap
Proses-Proses
Komunikasi
Antar
Pribadi
Komunikasi
antar
pribadi
adalah
proses
pengiriman
dan
penerimaan pesan antara dua orang,
atau diantara sekelompok kecil orangorang dengan beberapa efek dan
beberapa umpan balik seketika apabila
kita perhatikan batasan Komunikasi
Antar Pribadi dari Devito, maka kita
dapat melihat elemen-elemen apa saja
yang terkandung di dalamnya. Dengan
menguraikan elemen-elemen yang ada
itu, dapatlah diuraikan proses-proses
Komunikasi Antar Pribadi, yaitu :
1. Pesan
Yang dimaksud dengan pesan
adalah semua bentuk komunikasi baik
verbal maupun non verbal. Bentuk
pesan dapat bersifat, Informatif
memberi keterangan dan komunikan
membuat persepsi sendiri. Persuasif
atau bujukan untuk membangkitkan
pengertian,
kesadaran,
sehingga
terjadi perubahan pada perdapat atau
sikap. Koersif memaksa dengan
ancaman sanksi, biasanya berbentuk
perintah. Adanya orang-orang atau
sekelompok kecil orang-orang yang
dimaksud disini adalah bahwa apabila
seseorang
berkomunikasi,
paling
sedikit akan melibatkan dua orang,
tapi mungkin juga akan melibatkan
sekelompok kecil orang.
2.
Penerimaan Pesan
Adanya penerimaan pesan
(komunikan) ialah bahwa dalam suatu
712
ISBN: 978-602-61242-0-3
Komunikasi antar pribadi, tentu pesanpesan yang dikirimkan oleh seseorang
harus dapat diterima oleh orang lain.
Misalnya kita berbicara dengan
seseorang yang sedang memakai
telepon dan mendengarkan musik
tertentu, sudah tentu komunikasi kita
akan sukar atau tidak dapar diterima
oleh orang tersebut. Dengan demikian
Komunikasi Antar Pribadi tidak akan
terjadi.
3. Efek
Adanya Efek dalam suatu
komunikasi
tentu
akan
terjadi
beberapa efek. Efek mungkin berupa
suatu persetujuan mutlak atau ketidak
setujuan mutlak, atau mungkin berupa
pengertian mutlak atau ketidakmengertian mutlak pula. Dengan
demikian sipenerima tentu akan
terpengaruh pula oleh pengiriman
pesan oleh komunikator.
4. Umpan Balik
Adanya umpan balik adalah
pesan yang dikirim kembali oleh si
penerima, baik secara sengaja
maupun tidak sengaja. Apabila
komunikasi itu tatap muka, maka
umpan balik bisa berupa kata-kata,
kalimat, gerakan mata, senyum,
anggukan kepala atau gelengan
kepala. Konsep umpan balik ini dalam
proses Komunikasi Antar Pribadi amat
penting, karena dengan terjadinya
umpan balik, komunikator mengetahui
apakah komunikasinya berhasil atau
gagal, dengan kata lain apakah umpan
baliknya itu positif atau negatif. Bila
positif, ia patut gembira, sebaliknya
jika negatif menjadi permasalahan,
sehingga ia harus mengulangi lagi
dengan
perbaikan
gaya
komunikasinya sampai menimbulkan
umpan balik positif.
Hal diatas saling berhubungan
dan bila salah satu diantaranya
terlupakan,
maka
dapat
mengakibatkan komunikasi berjalan
lambat. Dengan begitu, tujuan pesan
terhambat
atau
bahkan
dapat
mengakibatkan
tidak tercapainya
sasaran seperti yang diharapkan
komunikator.
Kompetensi Komunikasi Antar pribadi
Dalam penelitian ini, Komunikasi
dalam hubungan antarpribadi ditentukan oleh
kemampuan
dalam
mengkomunikasikan
secara jelas apa yang ingin sampaikan,
menciptakan kesan yang di inginkan, atau
mempengaruhi orang lain sesuai keinginan.
KNiST, 30 Maret 2017
Dengan cara berlatih mengungkapkan maksud
keinginan kita, menerima umpan balik tentang
tingkah laku kita, dan memodifikasi tingkah
laku
kita
sampai
orang
lain
mempersepsikannya
sebagaimana
kita
maksudkan. Hal ini terlihat dari adanya
kemampuan komunikasi yang Asep miliki
sehingga dalam melakukan komunikasi
mereka jarang mengalami hambatan atau
noise.
Kompetensi komunikasi antarpribadi
adalah kemampuan seorang individu untuk
melakukan komunikasi yang efektif. Jadi,
dapat
disimpulkan
bahwa
kompetensi
komunikasi antarpribadi adalah kemampuan
untuk menyampaikan pesan-pesan pada
seseorang atau sekelompok orang sehingga
tercapai tujuan yang diharapkan. Hal-hal yang
harus diperhatikan oleh seorang komunikator,
sehingga
ia
menjadi
kompeten
atau
bertambah tingkat kompetensinya. Hal-hal
yang harus diperhatikan tersebut adalah
sebagai berikut (Enjang, 2009 : 109-110):
a. Motivasi
Jika motivasi bertambah, kompetensi
komunikator juga bertambah. Hal ini
berarti, kompetensi yang dirasakan
sebagian, tergantung pada seberapa
besar keinginan seseorang untuk
membuat kesan yang baik, dan
berkomunikasi secara efektif. Orang
mungkin lebih termotivasi jika mereka
percaya diri, dan melihat peluang
untuk mendapatkan penghargaan dari
luar (orang lain).
b. Pengetahuan
Jika
pengetahuan
komunikator
bertambah, kompetensi komunikator
juga
bertambah.
Selain
harus
termotivasi, orang juga membutuhkan
pengetahuan tentang komunikasi yang
efektif. Semakin orang memahami
bagaimana berperilaku dalam situasi
tertentu, semakin mungkin mereka
dikatakan kompeten. Kita memperoleh
pengetahuan, tentang bagaimana
berinteraksi dengan mengamati apa
yang dilakukan orang lain.
c.
KeterampilanPersonal
Jika
keterampilan
komunikator
bertambah, kompetensi komunikator
otomatis akan bertambah. Orang yang
termotivasi menjadi efektif, dan yang
memiliki
pengetahuan
tentang
komunikasi harus bertindak dengan
cara yang konsisten sesuai dengan
pengetahuannya.
Keterampilan
adalah serangkaian tindakan yang
713
ISBN: 978-602-61242-0-3
berorientasi pada tujuan yang bisa
dikuasai dan diulangi dalam situasi
yang
tepat.
Semakin
banyak
keterampilan yang dipunyai, semakin
memungkinkan
untuk
mampu
menyusun pesan agar kita menjadi
efektif dan tepat.
Kombinasi
antara
motivasi,
pengetahuan, dan keterampilan mengarahkan
kita untuk memiliki kompetensi dalam
melakukan komunikasi. Komunikasi dikatakan
efektif apabila bisa mencapai tujuannya, dan
komunikasi dikatakan tepat apabila sesuai
dengan yang diharapkan dalam hubungan
tersebut. Semakin banyak keterampilan yang
kita miliki, semakin mungkin kita mampu
menyusun pesan kita agar menjadi efektif dan
tepat dalam berkomunikasi.
Adapun
yang
menjadi
tujuan
kompetensi komunikasi antar pribadi
antara lain:
a. Perilaku komunikasi interpersonal
(verbal dan non verbal) dapat tepat
dan
sesuai dengan peraturanperaturan komunikasi antarpribadi
yang berlaku.
b. Membantu individu mencapai tujuan
komunikasinya.
Dapat disimpulkan bahwa tujuan
melakukan komunikasi antarpribadi adalah
agar pesan-pesan dapat tepat dan sesuai
dengan
peraturan-peraturan
komunikasi
antarpribadi sehingga tujuan melakukan
komunikasi antarpribadi dapat tercapai.
Pengertian Single Parent
Single parent adalah istilah dari orang
tua tunggal yang mengayuh biduk rumah
tangganya sendiri tanpa pasangan hidup.
Biasanya seseorang menjadi single parent
karena dipisahkan oleh perceraian ataupun
kematian dari pasangan hidupnya. Entah dia
pria ataupun wanita. Single parent hadir bagai
manusia super. Super sabar. Super kuat.
Super berani. Super telaten. Keluarga dengan
single parent adalah keluarga yang hanya
terdiri dari satu orang tua yang dimana mereka
secara sendirian membesarkan anak-anaknya
tanpa kehadiran, dukungan, tanggung jawab
pasangannya dan hidup bersama dengan
anak-anaknya dalam satu rumah. Keluarga
yang terbentuk bisa terjadi kepada siapa saja
baik sah secara hukum maupun keluarga yang
belum sah secara hukum, baik hukum agama
maupun hukum pemerintah. Konsep keluarga
bukan lagi kaku secara teori konvensioan
bahwa keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan
anak-anak kandung. Keluarga adalah unit
KNiST, 30 Maret 2017
terkecil dari masyarakat yang terdiri atas
kepala keluarga dan beberapa orang yang
terkumpul dalam satu atap dalam keadaan
saling ketergantungan.
3. Metode Penelitian
Pada
penelitian
ini,
peneliti
menggunakan paradigma konstruktivis karena
subjek dan objek dari penelitian ini saling
berkaitan. Objek dari penelitian ini adalah
bagaimana kompetensi komunikasi seorang
ayah single parent dan subjek dari penelitian
ini adalah seorang ayah yang menjadi single
parent
dalam
membesarkan
anaknya.
Paradigma konstruktivia secara konstruksi
sosial memberikan cara pandang peneliti
terhadap subjek penelitian yaitu kompetensi
komunikasi antar pribadi ayah single parent.
Paradigma
konstruktivis
ialah
paradigma dimana suatu realitas sosial dilihat
sebagai hasil konstruksi sosial, dan kebenaran
suatu realitas sosial bersifat relatif. Menurut
George Kelly dalam Littlejohn dan Foss
(1995:118-120)
berasumsi
mengenai
paradigm konstruktivis sebagai berikut :
“Paradigma konstruktivis mengakui bahwa
konstruksi personal memiliki latar belakang
sosial, dengan demikian konstrusi personal
dipelajari melalui interaksi dengan orang lain” 1
Pada penelitian ini juga peneliti akan
mengkonstruksi
kembali
kompetensi
komunikasi yang dilakukan seorang single
parent ayah.
Studi Naratif
Pada
penelitian
ini,
peneliti
menggunakan analisis naratif karena melalui
naratif peneliti menggambarkan, menguraikan
suatu hal dengan apa adanya mengenai kisah
atau biografi seorang ayah single parent.
Subjek penelitian yang peneliti ambil yaitu
seorang ayah single parent, fokus dari
penelitian ini untuk mengetahui bagaimana
kompetensi komunikasi antar pribadi yang
dilakukan ayah single parent. Peneliti
mengambil metode analisis naratif karena
pada dasarnya manusia adalah makhluk
pencerita, maka peneliti ingin meneliti hal
tersebut. Ian parker dan beberapa ahli lainnya
memberikan lima gagasan pokok dalam riset
naratif, salah satunya dalam Sobur (2010:240)
Riset narasi berurusan dengan bagaimana
seseorang menghubungkan peristiwaperistiwa tertentu hingga membentuk
suatu
kisah
yang
menghasilkan
perubahan yang tak terduga yang
kemudian dipandang dengan hal positif.
1
Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln,
Handbook Qualitative Research.
Yogyakarta:Pustaka Pelajar, Hal 124
714
ISBN: 978-602-61242-0-3
Paradigma naratif mengemukakan keyakinan
bahwa manusia adalah seorang pencerita dan
bahwa pertimbangan akan nilai, emosi, dan
estetika menjadi dasar keyakinan dan perilaku
kita. Dengan kata lain, kita bisa lebih terbujuk
oleh sebuah cerita yang bagus dibandingkan
oleh sebuah argument yang baik. Paradigma
naratif membantu kita untuk melihat sifat dasar
dari banyak logika yang bekerja didalam area
komunikasi kita. Maka dari itu, paradigma
naratif telah memberikan konstribusi pada
pemahaman kita tentang sifat dasar manusia,
khususnya ilmu komunikasi.
tua
secara
penuh
dalam
memenuhi kebutuhan anak baik
secara
materi
maupun
psikologisnya.
2. Menerapkan cara komunikasi
yang tepat dalam membentuk
karakter anak, agar anak terbiasa
dengan cara berkomukasi yang
sesuai dengan harapan.
DAFTAR PUSTAKA
Enjang,
4. Kesimpulan
Simpulan
Berdasarkan hasil analisa pada bab
sebelumnya,
maka
peneliti
menarik
kesimpulan sebagai berikut :
1. Istilah
single
parent
biasanya
digunakan untuk menggambarkan
mengenai seorang ayah atau ibu yang
memutuskan
untuk
menjalankan
hidupnya sendiri.
Single parent
memiliki
peran
ganda,
dimana
seorang single parent harus mampu
menjadi seorang ayah dan seorang
ibu.
2. Pengelolaan
isi
pesan
dalam
berkomunikasi berpengaruh terhadap
komunikan yang akan mendapatkan
informasi. Seorang komunikator harus
pandai mengelola isi pesan yang
disampaikan agar bisa mencapai
tujuan yang sesuai dengan harapan.
3. Kemampuan komunikasi seorang
ayah single parent dalam melakukan
komunikasi
dapat
membangun
keterbukaan dimana komunikasi yang
dilakukan bersifat dua arah.
4. Kemampuan komunikasi seorang
ayah single parent juga dapat
membangun kerjasama yang baik.
Seorang ayah single parent bisa
membuat anaknya memahami dan
mengerti dengan keadaan keluarga
yang mereka jalani. Sehingga dalam
hidupnya mereka selalu menikmati
proses demi prosesnya.
Saran
Dalam penelitian ini peneliti berusaha
menyampaikan saran yang bermanfaat bagi
semua
pihak
yang
terkait
dengan
permasalahan penelitian ini sebagai berikut
1. Ketidakhadiran salah satu orang
tua dijadikan referensi bagi orang
tua yang mengalaminya untuk
tetap
tidak
melepaskan
tanggungjawabnya sebagai orang
KNiST, 30 Maret 2017
2009.
Komunikasi
Konseling,
Bandung : Nuansa
Herdiansyah, Haris, 2011. Metode Penelitian
Kualitatif untuk Ilmu Sosial, Jakarta:
Salemba Humanika
Hidayat,
Dasrun.
2012.
Komunikasi
Antarpribadi
dan
Medianya.
Yogyakarta Graha Ilmu
Kriyantono, Rachmat. 2012. Teknik Praktis
Riset Komunikasi Cetakan ke-6.
Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
Liliweri, Alo. 1991. Komunikasi Antar Pribadi.
PT. Citra Aditya Bhakt i, Bandung.
Moleong, L.J. 2004. Metode Penelitian
Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya
Moh Nazir, 2011. Metode Penelitian Cetakan
6. Bogor: Penerbit Ghalia
Indonesia.
Rakhmat,
Jalaluddin.
2011.
Psikologi
Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sobur, Alex, 2014. Komunikasi Naratif
(Paradigma, Analisis, dan Aplikasi),
Bandung: Remaja Rosdakarya
Zed, Mestika. 2004. Metode Penelitian
Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Pustaka
Obor Indonesia
Skripsi
Astuti, Ria Dwi. 2013. Pola Komunikasi Orang
Tua dan Anak Penderita HIV/AIDS (Studi
Deskriptif mengenai pola komunikasi orang tua
dan anak penderita HIV/AIDS di Muara Angke
Kota Jakarta).
Universitas Komputer Indonesia
Retnowati, Yuni. 2008. Pola Komunikasi
Orang Tua Tunggal dalam Membentuk
Kemandirian Anak (Kasus di Kota
Yogyakarta).
Akademi Komunikasi Indonesia (AKINDO)
715
ISBN: 978-602-61242-0-3
Suparno, edy. 2005. Pengaruh Kompetensi,
Motivasi Kerja dan Kecerdasan Emosional
Guru terhadap Kinerja Guru di SMP Negeri serayon Barat Kabupaten
Sragen. Universitas Muhamadiyah
Surakarta
Sumber lain
http://www.kompasiana.com/auliagurdi/singleparent-orang-tua-dengan-sejutakeistimewaan_5500c5a9a333110d1750fd07
http://saleseven.blogspot.co.id/2014/11/paradi
gma-konstruktivis-dan-tradisi.html
KNiST, 30 Maret 2017
716
Download