BAB II

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Perilaku Agresif
1. Pengertian Agresif
Patricia D. Barry (1998), menyatakan: Agresif adalah suatu keadaan
emosi yang merupakan campuran perasaan frustasi dan benci atau marah.
Hal ini didasari keadaan emosi secara mendalam dari setiap orang sebagai
bagian penting dari keadaan emosional kita yang dapat diproyeksikan ke
lingkungan, ke dalam diri atau secara destruktif (Yosep, 2007).
Agresif adalah suatu tindakan menyerang yang disertai dengan
kekerasan baik secara fisik, verbal atau simbolik terhadap lingkungan atau
terhadap diri sendiri (Direktorat Kesehatan Jiwa, 1983). Agresif verbal
menurut Schultz & Videbeck (1998) yang di kutip dari Videbeck (2008)
adalah emosi yang diungkapkan melalui kata-kata yang melecehkan, tidak
adanya kerja sama, pelanggaran aturan atau norma, atau perilaku
mengancam. Sedangkan agresif fisik ialah perilaku menyerang atau
melukai orang lain atau mencakup perusakan properti. Perilaku agresif
ditujukan untuk menyakiti atau menghukum orang lain atau memaksa
seseorang untuk patuh.
Secara umum, orang yang agresif mengabaikan hak orang lain. Dia
menganggap bahwa setiap orang harus berjuang untuk kepentingannya
sendiri, dan dia mengharapkan perilaku yang sama dari orang lain.
Perilaku yang agresif sering mencakup kurangnya dasar kepercayaan diri
(Stuart & Sundeen, 1991).
2. Perkembangan Perilaku Agresif
9
Agresif berkaitan dengan trauma pada masa anak pada saat merasa
lapar, kedinginan, basah, atau merasa tidak nyaman. Bila kebutuhan
tersebut tidak terpenuhi terus menerus, maka ia akan menampakkan reaksi
berupa menangis, kejang, atau kontraksi otot, perubahan ekspresi warna
kulit, bahkan mencoba menahan napasnya (Yosep, 2007).
Setelah anak berkembang dewasa ia menampakkan reaksi yang lebih
keras pada saat kebutuhan-kebutuhannya tidak terpenuhi. Seperti
tempertantrum, melempar, menjerit, menahan napas, mencakar, merusak
atau bersikap agresif pada bonekanya. Bila reward and punishment tidak
dilakukan maka ia cenderung menganggap perbuatan tersebut benar
(Yosep, 2007).
Bila kontrol lingkungan seputar anak tidak berfungsi, maka reaksi
agresif tersebut bertambah kuat sampai dewasa. Sehingga apabila ia
merasa benci atau frustasi dalam mencapai tujuannya ia akan bertindak
agresif. Hal ini akan bertambah apabila ia merasa kehilangan orang-orang
yang dicintai dan orang yang berarti. Tetapi pelan-pelan ia akan belajar
mengontrol dirinya dengan norma dan etika dari dalam dirinya yang dia
adopsi dari pendidikan dan lingkungan sekitarnya, ia akan belajar mana
yang baik dan mana yang tidak baik. Sehingga pola asuh dan orang-orang
terdekat sekitar lingkungan akan sangat berarti (Yosep, 2007).
Perilaku kekerasan dianggap sebagai suatu akibat yang ekstrim dari
marah atau ketakutan (panik). Perilaku agresif dan perilaku kekerasan itu
sendiri sering dipandang sebagai suatu rentang, dimana agresif verbal di
suatu sisi dan perilaku kekerasan (violence) di sisi yang lain (Yosep,
2007).
3. Rentang Respon Marah
Gambar : 2.1 Skema rentang respon marah
Adaptif
Maladaptif
10
Asertif
Frustasi
Pasif
Agresif
Amuk/
PK
Agresif adalah perilaku yang menyertai marah dan merupakan
dorongan untuk bertindak dalam bentuk destruktif dan masih terkontrol.
Perilaku yang tampak dapat berupa: muka masam, bicara kasar, menuntut,
kasar disertai kekerasan (Yosep, 2007).
4. Faktor- faktor yang mempengaruhi perilaku agresif
Perilaku agresif banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor yang
menstimulus kejadiannya, antara lain:
1. Faktor Predisposisi
a) Faktor Neurobiologi
Teori dorongan insting merupakan dua faktor utama yang
dikemukakan oleh Sigmund Freud dan Konrad Lorenz melalui
hipotesis yang menyatakan bahwa manusia berevolusi dari kendali
insting agresif. Freud manyatakan bahwa manusia berada di bawah
pengaruh dua kendali tersebut, yang pertama adalah insting untuk
hidup yang dinyatakan melalui seksualitas, yang kedua adalah insting
kematian yang diungkapkan melalui agresi (Stuart & Sundeen, 1991).
Peran neurotransmiter dalam studi tentang agresif telah dipelajari
pada hewan dan manusia, tetapi tidak ada satu pun penyebab yang
ditemukan. Hasil temuan menyatakan bahwa serotonin berperan
sebagai inhibitor utama pada perilaku agresif. Dengan demikian, kadar
serotonin yang rendah dapat menyebabkan peningkatan perilaku
agresif. Hal ini dapat berhubungan dengan serangan marah yang
terlihat pada beberapa klien depresi. Selain itu peningkatan aktivitas
dopamin dan norepinefrin diotak dikaitkan dengan peningkatan
perilaku kekerasan yang impulsif (Kavoussi et al., 1997). Selanjutnya;
kerusakan struktur pada sistem limbik (untuk emosi dan perilaku) dan
11
lobus frontal (untuk pemikiran rasional) serta lobus temporal otak
(untuk interpretasi indera penciuman dan memori) dapat mengubah
kemampuan
individu
untuk
memodulasi
agresif
sehingga
menyebabkan perilaku agresif (Videbeck, 2008 & Yosep, 2007).
Neurotransmitter yang sering dikaitkan dengan perilaku agresif:
serotonin, dopamin, norepinephrine, acetilkolin, dan asam amino
GABA. Faktor-faktor lain yang mendukung antara lain; masa kanakkanak yang tidak menyenangkan, sering mengalami kegagalan,
kehidupan yang penuh tindakan agresif, dan lingkungan yang tidak
kondusif (Yosep, 2007; Stuart & Sundeen, 1991).
b) Faktor Psikologis
Psychoanalytical Theory; teori ini mendukung bahwa perilaku
agresif merupakan akibat dari instinctual drives. Freud berpendapat
bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh dua insting. Kesatu insting
hidup yang diekspresikan dengan seksualitas; dan kedua, insting
kematian yang diekspresikan dengan agresifitas (Yosep, 2007).
Frustation-aggresion theory; teori yang dikembangkan oleh
pengikut Freud yang berawal dari asumsi, bahwa bila usaha seseorang
untuk mencapai suatu tujuan mengalami hambatan maka akan timbul
dorongan agresif yang pada gilirannya akan memotivasi perilaku yang
dirancang untuk melukai orang atau objek yang menyebabkan frustasi.
Jadi hampir semua orang yang melakukan tindakan agresif mempunyai
riwayat perilaku agresif (Yosep, 2007; Stuart & Sundeen, 1991).
Pentingnya
peran
dari
perkembangan
predisposisi
atau
pengalaman hidup, misalnya rejeksi yang berlebihan pada masa kanakkanak, yang mungkin telah merusak hubungan saling percaya (trust)
dan harga diri. Terpapar kekerasan selama perkembangan, termasuk
child abuse atau mengobservasi kekerasan dalam keluarga, sehingga
membentuk pola pertahanan atau koping (Yosep, 2007).
12
Kegagalan untuk mengembangkan kualitas kemampuan untuk
menunda terpenuhinya keinginan dan perilaku yang tepat secara sosial
dapat menyebabkan individu yang impulsif, mudah frustasi, dan rentan
terhadap perilaku agresif (Videbeck, 2008).
c) Faktor Sosial Budaya
Social-LearningTheory; teori yang dikembangkan oleh Bandura
(1977) mengemukakan bahwa agresif tidak berbeda dengan responrespon yang lain. Agresif dapat dipelajari melalui observasi atau
imitasi, dan semakin sering mendapatkan penguatan maka semakin
besar kemungkinan untuk terjadi. Jadi seseorang akan berespon
terhadap keterbangkitan emosionalnya secara agresif sesuai dengan
respon yang dipelajarinya. Pembelajaran ini bisa internal atau
eksternal. Contoh internal: orang yang mengalami keterbangkitan
seksual
karena
menonton
film
erotis
menjadi
lebih
agresif
dibandingkan mereka yang tidak menonton film tersebut; seorang anak
yang marah karena tidak boleh beli es kemudian ibunya memberinya
es agar si anak berhenti marah. Anak tersebut akan belajar bahwa bila
ia marah maka ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Contoh
ekternal: seorang anak menunjukkan perilaku agresif setelah melihat
seorang dewasa mengekspresikan berbagai bentuk perilaku agresif
terhadap sebuah boneka (Yosep, 2007)
Kultural dapat pula mempengaruhi perilaku kekerasan. Adanya
norma dapat membantu mendefinisikan ekspresi agresif mana yang
dapat diterima atau tidak dapat diterima. Sehingga dapat membantu
individu untuk mengekpresikan marah dengan cara yang asertif.
Ekspresi kemarahan sangat dipengaruhi oleh apa yang diterima dalam
suatu budaya (Videbeck, 2008; Yosep, 2007; Stuart & Sundeen, 1991).
d) Faktor Situasional
13
Dosis kecil alkohol menghambat agresif dan dosis besar
mempermudah agresif, barbiturat mempunyai efek yang mirip dengan
efek alkohol, aerosal dan zat pelarut komersial mempunyai efek yang
mirip dengan alkohol (Sadock, 1997). 50 persen orang yang
melakukan
pembunuhan
kriminal
dan
melakukan
tindakan
penyerangan dilaporkan telah meminum sejumlah bermakna alkohol
segera sebelum tindakan agresif (Kaplan & Sadock, 1997).
e) Faktor Spiritual (Kesadaran Beragama)
Kepercayaan, nilai, dan moral mempengaruhi ungkapan marah
seseorang. Aspek ini mampengaruhi hubungan individu dengan
lingkungan. Hal ini bertentangan dengan norma yang dimiliki dapat
menimbulkan kemarahan yang dimanifestasikan dengan amoral dan
rasa tidak berdosa. Individu yang percaya kepada Tuhan Yang Maha
Esa, selalu meminta kebutuhan dan bimbingan kepada-Nya (Yosep,
2007).
Dalam kenyataan sehari-hari menunjukkan, bahwa anak-anak
remaja yang melakukan kejahatan sebagian besar kurang memahami
norma-norma agama bahkan mungkin lalai menunaikan perintahperintah agama antara lain mengikuti acara kebaktian, acara missa,
puasa dan shalat (Sudarsono, 2008).
2. Faktor Presipitasi
Secara umum, kemarahan terjadi sebagai respon terhadap
ancaman yang dirasakan. Hal ini mungkin merupakan ancaman fisik
terhadap ancaman yang dirasakan seperti ancaman cedera fisik, ancaman
terhadap konsep diri. Suatu ancaman dapat eksternal atau internal (Stuart
& Sundeen, 1991).
Faktor yang mencetuskan terjadinya perilaku agresif terbagi dua, yakni:
a. Klien : kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan, kurang
percaya diri (internal).
14
b. Lingkungan : ribut, kehilangan orang/objek yang berharga, konflik
interaksi sosial (Yosep, 2007). Dimana lingkungan tersebut terdiri dari
lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah, dan teman sebaya
(eksternal).
Keluarga
merupakan
tempat
pertama
anak
mendapatkan
pendidikan. Orang tua pada umumnya memberikan pelayanan kepada
putri dan putranya sesuai dengan kebutuhan mereka. Ada kalanya
orang tua sangat memanjakan, ada pula yang bertindak keras (Rumini
& Sundari, 2004). Keluarga menurut Clemen dan Buchaman (1982)
seperti yang dikutip oleh Yosep (2007) merupakan suatu konteks
dimana
individu
memulai
hubungan
interpersonal.
Keluarga
mempengaruhi nilai, kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang.
Sedangkan
Spradey
(1985)
mengemukakan
bahwa
keluarga
mempunyai fungsi dasar seperti memberi kasih sayang, rasa aman,
rasa dimiliki, dan menyiapkan peran dewasa individu di masyarakat
(Yosep, 2007). Pola hubungan keluarga yang memudahkan seseorang
berperilaku menyimpang, kurangnya perhatian, penghargaan dan
pendidikan keluarga; serta pola asuh orang tua yang terlalu
overprotektif merupakan beberapa contoh yang dapat menyebabkan
seseorang berperilaku agresif.
Masyarakat, setiap orang sangat akrab dengan lingkungan
masyarakat dimana ia bertempat tinggal. Anak remaja sebagai anggota
masyarakat selalu mendapat pengaruh masyarakat dan lingkungannya
baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh yang dominan
adalah perubahan sosial kehidupan masyarakat yang ditandai dengan
peristiwa-peristiwa yang sering menimbulkan ketegangan, seperti
persaingan, perekonomian, terjadi diskriminasi, mass media (misal
pornografi, pornoaksi), fasilitas rekreasi (seperti play station), dan
penyelenggaraan klub-klub malam, seperti diskotik (Sudarsono, 2008)
15
kondisi-kondisi ini menjadi faktor pendorong munculnya perilaku
destruktif (negatif) remaja.
Sekolah merupakan masyarakat yang lebih besar dari keluarga.
Sekolah bukan hanya sekedar memberikan pelajaran, tetapi juga
berusaha memberikan pendidikan yang sesuai dengan perkembangan,
berusaha agar anak didik mengembangkan potensinya secara puas dan
senang serta mempunyai pribadi yang integral (Rumini & Sundari,
2004). Sekolah merupakan salah satu faktor pendukung perkembangan
remaja. Di sekolah remaja menerima pendidikan secara formal,
sebagian
besar
aktifitas
lebih
ditekankan
kepada
pembinaan
intelektual. Dalam proses belajar tidak jarang terjadinya konflik antar
peserta didik dengan pendidik. Misalnya dalam proses belajar
mengajar, seringkali terjadi sikap peserta didik yang tidak berkenan di
hati pendidik menjadikan pendidik memberi respon yang kurang
simpati. Terkadang ada kalanya sikap pendidik yang kurang menarik
simpatik bagi peserta didik, sehingga peserta didik kurang memberi
respon yang kurang simpatik terhadapnya (Krahe, 2005).
Teman sebaya, sebaya adalah orang dengan tingkat umur dan
kedewasaan yang kira-kira sama. Sebaya memegang peran yang unik
dalam perkembangan anak. Salah satu fungsi terpenting sebaya adalah
memberikan sumber informasi dan perbandingan tentang dunia di luar
keluarga. Anak-anak menerima umpan balik kemampuan mereka dari
grup sebaya mereka. Mereka mengevaluasi apa yang mereka lakukan
dengan ukuran apakah lebih baik, sama baiknya, atau lebih buruk
daripada apa yang dilakukan anak lain. Hubungan sebaya bisa negatif
maupun positif. Beberapa teoritisi menjelaskan bahwa budaya sebaya
anak sebagai pengaruh buruk yang melemahkan nilai dan kontrol
orang tua. Sebaya dapat memperkenalkan remaja kepada alkohol, obatobatan, kenakalan dan bentuk lain dari perilaku yang maladaptif
(Santrock, 2007). Hubungan dengan teman sebaya merupakan sumber
16
pengaruh sosial yang sangat relevan dengan agresif. Kandel (1983)
mengemukakan bahwa ada kesamaan dalam menggunakan obat-obat
terlarang, merokok dan minuman keras mempunyai pengaruh yang
kuat dalam pemilihan teman (Syamsu, 2004). Sebuah grup sebaya
remaja mungkin merujuk kepada orang-orang lingkungan tetangga, tim
olahraga, kelompok sahabat, dan teman. Pengaruh sebaya atau grup
sebaya bergantung pada latar dan konteks spesifiknya (Santrock,
2007). Dalam hal ini hubungan dengan teman sebaya merupakan
sumber pengaruh bagi seseorang untuk melakukan atau mendukung
tindakan-tindakan agresifnya.
B. Konsep Perilaku
1. Pengertian
Pengertian perilaku dari segi biologis adalah suatu kegiatan atau
aktifitas (makhluk hidup) yang bersangkutan. Perilaku dalam konteks
manusia adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia, baik yang dapat
diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. Oleh
karenanya perilaku manusia dapat diwujudkan dalam bentuk pengetahuan,
sikap dan psikomotor (Notoatmodjo, 2004).
Skinner merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi
seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar) oleh karena itu
perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme dan
kemudian organisme tersebut merespons maka teori dari Skinner ini dapat
disebut teori ” S-O-R ” atau stimulus-organisme-respons. Skinner
membedakan adanya dua respon yaitu respondent respons atau reflexsive,
adalah respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus)
tertentu. Stimulus semacam ini disebut clicting stimultation karena
menimbulkan respon-respon yang relatif tetap. Adapun respon yang
satunya yakni Operant respons atau instrumental respons, yakni respon
yang timbul dan berkembang, kemudian diikuti oleh stimulus atau
17
perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforcing stimultation atau
reinforcer, karena memperkuat respon (Notoatmodjo, 2004).
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
Menurut Purwanto (1998) faktor yang mempengaruhi perilaku adalah
sebagai berikut:
a. Keturunan
Keturunan diartikan sebagai pembawaan yang merupakan
karunia dari Tuhan Yang Maha Esa. Teori Mendel merupakan teori
tentang keturunan yang dikenal dengan hipotesa genetika yang
menjelaskan tentang sifat makhluk hidup dikendalikan oleh faktor
keturunan,
tiap
pasangan
merupakan
penentu
alternatif
bagi
keturunannya, dan pada waktu pembentukan sel kelamin, pasangan
keturunannya dan menerima pasangan faktor keturunan.
b. Lingkungan
Lingkungan dalam arti psikologi adalah segala sesuatu yang
berpengaruh pada diri manusia dalam berperilaku. Lingkungan sebagai
faktor yang berpengaruh bagi pengembangan sifat dan perilaku
individu mulai mengalami dan mengecap alam dan sekitarnya.
c.
Pendidikan
Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan
untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau
masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan.
d. Keluarga
Tidak dipungkiri apabila ada keluarga yang bertingkah laku baik
maupun buruk maka akan dicontoh pula kepada keluarga yang ada
disekitarnya.
18
Menurut Benyamin Bloom membagi perilaku dalam 3 domain, yaitu:
1) Kognitif (pengetahuan)
2) Afektif (sikap)
3) Psikomotor (tindakan)
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan karena
diperlukan beberapa faktor pendukung untuk mencapai suatu tindakan, antara
lain:
1) Persepsi (perception)
Mengenal dan memilih sebagai objek sehubungan dengan tindakan
yang akan diambil.
2) Respon terpimpin (guided response)
Artinya bahwa subjek dapat melakukan sesuatu sesuai urutan yang
benar.
3) Mekanisme (mecanism)
Artinya apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar
secara otomatis sehingga sesuatu itu menjadi suatu kebiasaan.
4) Adopsi (adoption)
Merupakan suatu praktek yang sudah berkembang dengan baik
tindakan tersebut sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran dari
tindakan tersebut (Notoatmodjo, 2003).
Lawrence Green (1980) dalam Notoatmodjo (2003) mencoba
menganalisa perilaku manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan seseorang
atau masyarakat dipengaruhi 2 faktor pokok, yakni perilaku (behavior causes)
dan faktor diluar perilaku (non behavior causes).
Perilaku kesehatan ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor:
1)
Faktor predisposisi (predisposing faktors)
19
Faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku
seseorang, antara lain: pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan,
nilai-nilai tradisi.
2)
Faktor pendukung (enabling faktors)
Yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau
petugas lainnya yang merupakan kelompok referensi dari perilaku
seseorang.
3)
Faktor penguat (reinforcing faktors)
Adalah faktor-faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya
perilaku seseorang.
Rogers mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku
baru,didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni;
1) Awwarenes (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus.
2) Interest (merasa tertarik), terhadap stimulus atau objek tersebut.
3) Evaluation (evaluasi) menimbang –nimbang terhadap baik tidaknya
stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini sikap responden sudah lebih
baik lagi.
4) Trial (mencoba), dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran dan sikap terhadap stimulus (Notoatmodjo,
2003).
C. Konsep Remaja
Remaja, dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari bahasa
Latin adolescere yang artinya ”tumbuh atau tumbuh untuk mencapai
kematangan” (Ali & Asrori, 2009; Al-Mighwar, 2006; Hurlock, 1991).
Perkembangan lebih lanjut, istilah adolescence sesungguhnya memiliki arti
yang luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik
(Hurlock, 1991). Pandangan ini didukung oleh Piaget (Hurlock,1991) yang
mengatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah suatu usia dimana
individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia
20
dimana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang
yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar.
Ada beberapa pandangan yang mengemukakan tentang masa remaja.
Salah satu di antaranya dikemukakan oleh Fishbein (1978), bahwa remaja
itu ditandai dengan datangnya masa pubertas dan bersamaan dengan itu
terjadi pula pertumbuhan fisik, tetapi juga timbul gejolak-gejolak dalam
dirinya (Syamsu, 2004).
Timbulnya gejolak pada masa remaja disebabkan remaja sedang
berada pada masa transisi, masa dimana periode anak-anak sudah dilewati
dan remaja belum diterima sebagai manusia dewasa (Syamsu, 2004).
Ditinjau dari segi fisiknya, mereka sudah bukan anak-anak lagi melainkan
sudah seperti orang dewasa, tetapi jika mereka diperlakukan sebagai orang
dewasa, ternyata belum dapat menunjukkan sikap dewasa. Oleh karena itu,
ada sejumlah sikap yang sering ditunjukkan oleh remaja seperti kegelisahan,
kebingungan
karena
terjadi
suatu
pertentangan,
keinginan
untuk
mengkhayal, dan aktivitas berkelompok.
Remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Mereka sudah
tidak termasuk golongan anak-anak, tetapi belum juga dapat diterima secara
penuh untuk masuk ke golongan orang dewasa. Remaja ada di antara anak
dan orang dewasa. Oleh karena itu, remaja seringkali dikenal dengan fase
”mencari jati diri” atau fase ”topan dan badai”. Remaja masih belum mampu
menguasai dan memfungsikan secara maksimal fungsi fisik maupun
psikisnya (Monk dkk, 1989) yang dikutip oleh Ali & Asrori (2009).
Sebagai individu yang sedang mencari jati diri, remaja berada pada
situasi psikologis antara melepaskan diri dari orang tua dan perasaan masih
belum mampu untuk mandiri. Oleh karena itu, pada umumnya sering terjadi
pertentangan pendapat antara mereka dengan orang tua. Pertentangan yang
sering terjadi menimbulkan keinginan remaja untuk melepaskan diri dari
orang tua (Ali & Asrori, 2009).
Berbagai macam keinginan remaja yang tidak terpenuhi dan adanya
bermacam-macam larangan dari orang tua seringkali melemahkan atau
21
bahkan mematahkan semangat remaja. Kebanyakan remaja menemukan
jalan keluar dari kesulitannya setelah mereka berkumpul dengan rekan
sebaya untuk melakukan kegiatan bersama dan remaja mulai sering
meninggalkan rumah dan lebih nyaman berinteraksi dengan lingkungan baru
yang menurutnya lebih baik (Ali & Asrori, 2009; Gunarsa, 2003).
Berkumpulnya remaja dengan rekan sebaya atau bergabungnya remaja
dengan bentukan lingkungan tersebut memungkinkan remaja untuk terlibat
dalam berbagai kegiatan-kegiatan yang baru. Salah satu yang mungkin dapat
terjadi sebagai bentuk dari kegiatan tersebut adalah kegiatan yang
menstimulus terjadinya perilaku agresif (Gunarsa, 2003).
Hal ini dapat terjadi karena remaja berada pada kondisi yang labil dan
emosional sehingga sangat mudah baginya untuk terpengaruh situasi dan
kondisi tempatnya berada (Syamsu, 2004; Gunarsa, 2003). Rass solidaritas
yang kuat karena adanya in group feeling yang sangat kuat dan kesesuaian
aspek-aspek tertentu dalam diri remaja terhadap lingkungan baru yang
banyak mendukungnya. Ini memungkinkan baginya untuk selalu berperan
dan aktif terlibat dalam berbagai kegiatan yang dilakukan kelompoknya.
Meskipun terkadang dalam tindakannya remaja kurang mempertimbangkan
secara matang akibat dari kegiatan yang dilakukannya baik bagi dirinya
maupun sekitarnya (Monk, 2004).
Remaja yang masih dalam proses perkembangan tersebut mempunyai
kebutuhan-kebutuhan pokok, terutama kebutuhan rasa aman, rasa sayang
dan rasa harga diri. Zakiah Daradjat (1989) mengemukakan bahwa setiap
orang mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang perlu dipenuhi. Jika
kebutuhan ini tidak terpenuhi akan terjadi suatu goncangan. Pada prinsipnya
manusia ingin memenuhi kebutuhan dengan cara yang ia pilih. Begitu
halnya dengan remaja, ketika kebutuhan itu tidak terpenuhi, maka ini akan
memunculkan suatu problema/masalah dalam dirinya. Kemungkinan remaja
akan mengalami frustasi atau perilaku yang dapat merugikan diri sendiri
ataupun orang lain. Selanjutnya situasi frustasi akan membuat orang marah
22
dan akan memperbesar kemungkinan mereka melakukan tindakan agresif
(www. DEPDIKNAS.co.id.)
D. Kerangka Teori
`
Faktor Predisposisi
Neurobiology
Psikologis
− Pschoanalytical theory
− Frustation-aggresion
theory
Social Budaya
− Social-learning theory
− Kultural
Situasional
− Alkohol
Spiritual (Kesadaran Beragama)
Perilaku Agresif
Faktor Presipitasi
Klien
Lingkungan
− Keluarga
− Masyarakat
− Sekolah
− Teman sebaya
Keterangan:
area penelitian
23
Gambar. 2.2. Kerangka Teori: Faktor-faktor penyebab perilaku agresif remaja
Sumber: Videbeck, 2008; Yosep, 2007; Stuart & Sundeen, 1991.
E. Kerangka Konsep
Kerangka konsep dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
Variabel independen
Variabel dependen
Faktor Penyebab :
Keluarga
Masyarakat
Perilaku agresif
Sekolah
Teman sebaya
Gambar. 2.3. Kerangka Konsep
F. Variabel Penelitian
Variabel-variabel yang diteliti meliputi:
Variabel Independen
:
Faktor keluarga, masyarakat, sekolah, dan
teman sebaya.
Variabel Dependen
:
Perilaku agresif
G. Hipotesis Penelitian
1) Ada hubungan antara faktor keluarga dengan perilaku agresif remaja pada
mahasiswa di STIMART AMNI, Semarang, Jawa Tengah.
2) Ada hubungan antara faktor masyarakat dengan perilaku agresif remaja
pada mahasiswa di STIMART AMNI, Semarang, Jawa Tengah.
3) Ada hubungan antara faktor sekolah dengan perilaku agresif remaja pada
mahasiswa di STIMART AMNI, Semarang, Jawa Tengah.
4) Ada hubungan antara faktor teman sebaya dengan perilaku agresif remaja
pada mahasiswa di STIMART AMNI, Semarang, Jawa Tengah.
Download