Aspek Bias dalam Pengambilan Keputusan Kredit pada Usaha

advertisement
PENDAHULUAN
Perilaku keuangan adalah ilmu yang menyajikan kumpulan dari alternatif yang
dicapai untuk memperbaiki definisi keuangan klasik dari rasional ekonomi (Chira,Inga;dkk,
2008). Perilaku keuangan menggambarkan aspek psikologis yang meneliti mengapa individu
dalam mengambil keputusan sering menyimpang dari pilihan yang rasional. Dalam studi
tentang perilaku, asumsi yang dibangun adalah bahwa perilaku seseo rang dalam pengambilan
keputusan sebenarnya tidak sepenuhnya rasional (Supramono, 2007). Seringkali perilaku
seseorang dalam mengambil keputusan seperti pada masalah keuangan dilatar belakangi oleh
emosi atau pengaruh orang lain di sekitarnya.
Menurut Bass (1983) sebagaimana dikutip Wardhani (2001) menyatakan bahwa
kualitas keputusan merupakan ukuran dari efektifitas pengambil keputusan. Pengambilan
keputusan yang efektif merupakan suatu proses yang komplek dan tergantung pada
keterampilan dalam pengambilan keputusan yang diberikan kepada para pengambil
keputusan. Keputusan dari seorang pengusaha yang tidak tepat akan berakibat fatal bagi
kelangsungan hidup perusahaan dan karir, yang bahkan tidak bisa diperbaiki lagi
(Daryanto,1990: 24). Keputusan yang tidak tepat sering kali dikaitkan pada proses pembuatan
keputusan, misalnya: alternative – alternative dalam pembuatan keputusan yang tidak
ditentukan dengan jelas, informasi yang tepat tidak bisa diperoleh, atau biaya dan keuntungan
tidak dipertimbangkan secara cermat. Namun kadangkala kesalahannya bukan terletak pada
keputusan yang diambil, tetapi pada proses pembuatan keputusan tersebut.
Aspek psikologis merupakan faktor yang turut berperan dalam pengambilan
keputusan. Menurut Shefrin (2007) aspek-aspek psikologis tersebut dikategorikan menjadi
tiga aspek, yaitu: bias, heuristic, dan framming effect. Seperti yang didefinisikan oleh Shefrin
(2007) bias adalah “kecenderungan kesalahan prediksi (error)”. Dalam kata lain bias adalah
prasangka terhadap suatu keputusan yang telah terpengaruh oleh suatu keyakinan tertentu.
1
Heuristic yang diartikan sebagai kriteria, metode, atau prinsip untuk menentukan solusi yang
paling efektif untuk
mencapai tujuan.
Heuristic digunakan untuk
menyelesaikan
permasalahan dan memilih yang efektif dari beberapa solusi. (Pearl 1984) Sedangkan
framming effects yang didefinisikan sebagai keputusan seseorang yang dipengaruhi oleh
gaya, dimana latar belakang untuk membuat keputusan itu sudah terbentuk sebelumnya. Bias
merupakan aspek yang turut berperan dalam pengambilan keputusan kredit. Menurut Dewi
(2010) aspek bias merupakan aspek yang cenderung menghasilkan keputusan yang tidak
menjamin ketepatan secara mutlak. Pengambil keputusan memiliki kemungkinan untuk
mengambil keputusan yang salah atau perkiraan yang melenceng. Kondisi ini membahayakan
karena tidak dapat dilihat dan terkait langsung dengan proses pemikiran. Bias mengakibatkan
kesalahan prediksi, karena dapat membuat orang salah dalam memperhitungkan resiko yang
dapat terjadi. Hal ini yang menjadi ketertarikan untuk membahas mengenai aspek bias. Bias
dibagi menjadi empat macam: (1) excessive optimism, (2) overconfidence, (3) confirmation,
dan (4) illusion of control.
Dalam proses pengambilan keputusan sering kali pelaku usaha tidak me nyadari
bahwa faktor psikologis yang ada pada diri masing- masing turut berperan penting dalam
pengambilan keputusan. Seringkali perilaku seseorang dalam mengambil keputusan dalam
masalah keuangan dilatar belakangi oleh emosi. Sebagai contoh pada usaha mikro kecil
menengah (UMKM), seperti para pengusaha makanan ringan yang berada di kota Salatiga,
salah satu hal yang menghambat usahanya adalah keterbatasan modal. Tambahan modal
sangat diperlukan untuk memulai usaha atau memperluas usaha yang dimiliki. Dengan
kecilnya modal yang dimiliki pengusaha skala kecil ini membuat para pelaku usaha tersebut
harus berhati – hati dalam mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi masalah
kekurangan modal. Supramono (2008) juga menyebutkan bahwa usaha kecil menengah
sering mengalami kesulitan pendanaan pada saat membutuhkan tambahan modal kerja, dan
2
terpaksa menjual asset pribadi atau mencari pendanaan melalui kredit. Para pengusaha
makanan ringan dapat memperoleh kredit melalui bank atau lembaga perkreditan lainnya.
Disinilah psikologis mereka diuji, keputusan kredit yang diambil oleh para pelaku usaha ini
harus tepat agar usaha yang dijalankannya dapat berkembang dengan baik, karena apabila
keputusan yang diambil tidak tepat dapat merugikan usaha yang dijalankannya.
Dengan adanya kredit, seorang pelaku usaha dapat mengembangkan usahanya dengan
tambahan modal yang didapat dari kredit. Banyak sekali pengusaha-pengusaha kecil sampai
menengah keatas yang melakukan kredit untuk menjalankan usahanya. Dalam pengambilan
kredit seorang pengusaha memiliki berbagai pertimbangan dalam melakukan kredit. Apabila
seorang pengusaha dapat memilih keputusan kredit dengan tepat maka usahanya akan
berhasil, begitu pula sebaliknya.
Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini mengangkat fenomena yang terjadi pada para
pengusaha makanan ringan yang sebagian besar adalah usaha kecil dan menengah, terutama
para pengusaha makanan ringan yang berada di kota Salatiga untuk memecahkan masalah
dan mencari solusi yang terbaik dalam menyelesaikan masalah tersebut. Industri makanan
ringan di kota Salatiga memiliki potensi untuk dikembangakan dengan laba yang cukup
tinggi, terbukti dengan adanya data yang diperoleh dari CEMSED bahwa populasi industri
makanan ringan yang berada di kota Salatiga cukup besar. De ngan adanya kredit dapat
membantu pelaku usaha dalam memperoleh tambahan modal untuk membuka usaha ataupun
mengembangkan usahanya dalam bidang industri makanan ringan. Namun dalam
pengambilan kredit tersebut dimungkinkan terdapat faktor bias yang mempengaruhi
seseorang dalam pengambilan kredit.
3
Penelitian ini dilakukan untuk mengukur pengaruh bias dalam pengambilan keputusan
kredit yang dilakukan para pengusaha makanan ringan di kota Salatiga. Dari masalah
masalah penelitian tersebut, rumusan persoalan penelitian ini adalah:

Apakah excessive optimism dapat memberikan pengaruh terhadap pengambilan
keputusan kredit pada industri makanan ringan di kota Salatiga?

Apakah overconfidence dapat memberikan pengaruh terhadap pengambilan
keputusan kredit pada industri makanan ringan di kota Salatiga?

Apakah confirmation dapat memberikan pengaruh terhadap pengambilan keputusan
kredit pada industri makanan ringan di kota Salatiga?

Apakah illusion of control dapat memberikan pengaruh terhadap pengambilan
keputusan kredit pada industri makanan ringan di kota Salatiga?
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membantu para pengusaha makanan ringan dalam
mengambil keputusan kredit dan mengetahui apakah seorang pelaku usaha cenderung
mengalami bias dalam pengambilan keputusan kredit.
Sehingga, manfaat dari penelitian ini bagi para pengusaha makanan kering di kota
Salatiga adalah untuk membantu mereka dalam mengidentifikasi faktor psikologis yang ada
dalam diri mereka, terutama aspek bias yang dapat menyebabkan mereka salah dala m
mengambil keputusan. Disamping itu berguna juga sebagai masukan bagi para pengusaha
makanan ringan yang berada di kota Salatiga agar dapat mengambil keputusan kredit dengan
baik dan mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan.
4
LANDASAN TEORI
Keputusan Kredit
Robbins (2007) mendefinisikan keputusan sebagai pilihan yang diambil dari dua atau
lebih alternatif. Keputusan yang diambil tentunya akan didukung dengan berbagai faktor
yang melatarbelakangi pengambilan keputusan. Keputusan yang tepat biasanya adalah
keputusan yang bersifat rasional, sesuai dengan hati nurani, dan didukung oleh fakta-fakta
yang ada sehingga dapat dipertanggung jawabkan. Terdapat tiga keputusan di bidang
manajemen keuangan, yaitu: keputusan investasi, keputusan pendanaan dan keputusan modal
kerja. Mengambil suatu keputusan adalah memilih satu dari berbagai macam alternative yang
ada.
Kata kredit berasal dari bahasa Yunani yaitu “Credere” yang mengandung arti
kepercayaan. Oleh karena itu pada dasarnya pemberian kredit adalah kepercayaan. Karena itu
dasar dari kata kredit adalah kepercayaan bahwa seseorang atau penerima kredit akan
memenuhi segala sesuatu yang telah diperjanjikan terlebih dahulu pada masa yang akan
datang. Jadi seseorang sebagai pihak pemberi kredit (kreditur) percaya bahwa penerima
kredit (debitur) akan sanggup memenuhi segala sesuatu yang telah disepakati bersama.
Dalam melakukan kredit, seorang pengusaha harus dapat menganalisis dan memilih
secara tepat mana kredit yang akan digunakan. Kemudian menerapkan pe ngambilan
keputusan kredit secara tepat. Dalam melakukan keputusan kredit seorang pengusaha harus
dapat mempertimbangkan apakah kredit yang digunakan cukup bermanfaat dengan
sedikitnya bunga yang sudah ditentukan.
5
Aspek bias
Menurut Shefrin (2007), aspek bias dibagi menjadi
4 jenis kategori yaitu: (1)
excessive optimism, (2) overconfidence, (3) confirmation, dan (4) illusion of control.
Excessive optimism (optimism yang berlebihan) berkaitan dengan terlalu tinggi hasil
yang menguntungkan daripada hasil yang tidak menguntungkan (Shefrin, 2007). Yaitu jenis
penyimpangan yang menyebabkan seberapa seringnya orang menaksir terlalu tinggi terhadap
hasil yang baik dan menganggap remeh hasil yang kurang baik dari pengalaman yang mereka
dapat. Meinert (1991) telah menunjukkan bahwa “alasan utama adanya masalah utang hari ini
adalah optimisme masa lalu yang berlebihan dari seorang pelaku usaha. Optimis merupakan
sikap yang diharapkan dimiliki oleh semua investor disebabkan pengaruhnya terhadap
perilaku yang selalu berusaha mencapai hasil yang ditargetkan, namun apabila optimis
menjadi berlebihan maka akan membuat seseorang menjadi tidak realistis dengan keadaan rill
yang dihadapi atau menyepelekan resiko yang akan terjadi (Bratvold, Begg, & Campbell,
2005).
Overconfidence (percaya diri yang berlebihan), yaitu suatu jenis penyimpangan yang
menyebabkan seberapa seringnya seseorang membuat kesalahan karena rasa percaya diri
yang berlebihan. Overconfidence menurut Shefrin (2007) berkaitan dengan seberapa baik
orang mengerti kemampuan mereka sendiri dan batas pengetahuan mereka. Penyebab
dari overconfidence yaitu kepercayaan diri yang berlebihan bahwa informasi yang diperoleh
mampu dimanfaatkan dengan baik karena memiliki kemampuan analisis yang akurat dan
tepat, namun hal ini sebenarnya merupakan suatu ilusi pengetahuan dan kemampuan
dikarenakan adanya beberapa alasan seperti pengalaman yang kurang dan keterbatasan
keahlian mengintepretasi informasi (Baker & Nofsinger 2002).
Confirmation bias yaitu suatu penyimpangan yang menyebabkan seseorang lebih suka
mendengar pendapat orang yang sejalan dengan pemikiranya. Dimana seseorang seringkali
6
hanya ingin mendengar apa yang mereka ingin dengar (Shefrin, 2007). Sedangkan menurut
Joutsen, (2009) Confirmation bias diartikan sebagai mengabaikan informasi yang tidak
mendukung pandangan kita dan mengambil terlalu banyak informasi yang sesuai dengan
pandangan kita. Atau dengan kata lain individu akan memiliki kebiasaan mendengar apa
yang disukai, selain itu juga individu yang berperilaku confirmation bias akan menghabiskan
banyak waktu untuk mencari alasan yang mendukung mengapa alasannya tepat dan
sebaliknya. Seseorang yang mengalami confirmation bias cenderung lebih mendengarkan
pendapat orang yang sejalan dengan pemikirannya dan mengabaikan pendapat orang yang
bertentangan dengan pemikirannya. Penyimpangan konfirmasi sering terjadi karena adanya
kesalahan sewaktu melakukan konfirmasi terhadap informasi yang didapatkan. (Joutsen,
2009)
Illusion of control adalah kecenderungan manusia percaya bahwa mereka dapat
mengontrol atau paling tidak mempengaruhi hasil tetapi pada kenyataannya mereka tidak
dapat. Dimana pada umumnya seseorang merasa mampu mengendalikan hasil dari keputusan
yang diambilnya. Kepercayaan pengusaha dapat memiliki pengaruh terhadap hasil, sehingga
investor menaksir terlalu tinggi kontrol yang mereka miliki terhadap hasil (Nofsinger, 2005)
Sedangkan menurut Shefrin (2007) mengemukakan bahwa ketika seorang manajer membuat
suatu keputusan, hasil yang diperoleh merupakan kombinasi dari ketrampilan yang dipunya
dan keberuntungan.
Aspek Bias dalam Pengambilan Keputusan Kredit
Psikologis yang ada dalam diri seseorang dapat ditunjukkan melalui perilaku. Perilaku
tersebut akan nampak sewaktu ia mengeluarkan pendapat atau pandangan dan dapat
ditunjukkan melalui sikap dalam kehidupan sehari- hari. Dalam studi tentang perilaku asumsi
7
yang dibangun bahwa perilaku seseorang dalam pengambilan keputusan sebenarnya tidak
sepenuhnya rasional (Supramono, 2007).
Stoner (1995) mengatakan bahwa setiap keputusan mengandung unsur ketidakpastian
dan memiliki resiko yang sangat besar dan bertujuan untuk membendung penyimpangan
yang ada. Sering kali individu berperilaku tidak rasional dam membuat kesalahan sistematis
dari peramalan yang dilakukan. Setiap keputusan yang diambil individu masih dipengaruhi
oleh aspek bias yang membuat individu bisa gagal dalam mengambil keputusan kredit.
Aspek bias dapat mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan. Terdapat
kemungkinan kesalahan atau perkiraan yang melenceng dalam pengambilan keputusan.
Aspek psikologis merupakan faktor yang turut berperan dalam pengambilan keputusan
seseorang. Setiap individu memiliki aspek psikologis yang berbeda-beda yang dapat
mempengaruhi perilaku seseorang dalam pengambilan keputusan kredit, dimana keputusan
kredit tersebut dapat dipengaruhi oleh adanya bias. Aspek bias memiliki 4 jenis kategori
yaitu: (1) excessive optimism, (2) overconfidence, (3) confirmation, dan (4) illusion of
control.
Excessive optimism adalah sikap optimis yang berlebihan. Biasanya pengenalan
produk baru di pasar tidak lepas dari adanya bias. Hal ini tidak mengherankan karena banyak
perusahaan yang mungkin tidak sengaja terlibat dalam optimisme yang berlebihan,terutama
jika mereka sedang dihadapkan pada perkiraan yang menguntungkan. Nofsinger (2001)
mengemukakan bahwa rasa optimis yang berlebihan dapat membuat manajer menghasilkan
kualitas pengambilan keputusan yang buruk, dan tingkat akurasi dalam pembuatan perkiraanperkiraan perolehan keuntungan yang realisasinya jauh dari apa yang direncanakan. Rasa
optimis yang berlebihan sering kali membuat manajer menyusun perkiraan-perkiraan yang
terlalu positif, tanpa memperhitungkan kendala, kerugian, dan tantangan yang mungkin
menghadang. Akibatnya, jika terjadi masalah didepan maka para manajer yang terlalu
8
optimistis tersebut menjadi tidak siap, dan cenderung melakukan kesalahan dalam
pengambilan keputusan karena berada di bawah tekanan atau kepanikan. Dalam hal
keputusan kredit diartikan bahwa pengusaha yang memiliki excessive optimism mempunyai
keyakinan yang tinggi akan kemajuan usahanya dimasa yang akan datang, sehingga mereka
yakin bahwa kredit yang diambil dapat dibayar sesuai jangka waktu yang ditentukan, selain
itu dana yang didapat dari kredit bisa dikembangkan untuk memperlancar usahanya.
H1: terdapat pengaruh positif dari excessive optimism terhadap pengambilan keputusan
kredit.
Overconfidence terjadi ketika seseorang yang mempunyai keyakinan yang terlalu
berlebih mengenai kemampuan aslinya. Pada umumnya, orang cenderung melebih- lebihkan
kemampuan mereka untuk melakukan sesuatu dengan baik. Sikap percaya diri yang
berlebihan ini sangat membantu para pelaku usaha dalam membuat keputusan pada situasi
yang belum pasti. Seseorang yang mempunyai rasa percaya diri optimal biasanya mampu
menangani situasi yang sulit dengan baik. Pengusaha yang memiliki overconfidence merasa
yakin dengan kemampuan yang dimilikinya, menganggap dirinya lebih baik daripada
pengusaha lain, dan yakin akan memperoleh keuntungan ya ng tinggi dengan resiko yang
rendah dengan menggunakan kredit sebagai tambahan modal usaha. Overconfidence juga
akan mengesampingkan informasi yang didapat karena dia terlalu percaya pada keyakinan
sendiri
H2 : terdapat pengaruh positif dari overconfidence terhadap pengambilan keputusan kredit.
Confirmation bias. Seorang pengusaha akan
banyak meluangkan waktu untuk
mencari informasi yang memperkuat pandangan pengusaha tetapi mengabaikan informasi
yang tidak sesuai dengan pandangannya meskipun informasi te rsebut sebenarnya dapat
membantu pengusaha untuk mengambil keputusan yang lebih baik. Sehingga akan lebih
mempertimbangkan informasi yang sesuai dengan pendapat pribadi. Dalam pengambilan
9
keputusan kredit, seorang pengusaha yang mengalami confirmation bias akan mendengarkan
informasi yang ingin didengar saja. Membuat alasan yang membenarkan pendapatnya tentang
keputusan kredit yang diambil dan mengabaikan informasi yang tidak mendukung
pendapatnya. Semakin banyak informasi yang mendukung pendapatnya, seorang pengusaha
akan semakin berani untuk mengambil kredit. Sehingga pengusaha akan berpendapat bahwa
kredit merupakan hal yang wajar untuk memajukan usahanya dalam penambahan modal dan
cenderung mengabaikan informasi – informasi yang negatif tentang kredit.
H3: terdapat pengaruh positif dari confirmation bias terhadap pengambilan keputusan kredit.
Illusion of control. Seorang pengusaha akan mengambil keputusan berdasarkan
pengetahuan yang dimiliknya, dan membuat ia merasa memiliki kendali terhadap hasil
keputusannya sendiri. Padahal kenyataannya tidak demikian, sebagian besar hasil keputusan
apakah mendatangkan keuntungan atau kerugian adalah diluar kendali pengambil keputusan
(Supramono, 2008). Pengusaha yakin bahwa akan mampu mengelola usaha dengan baik
apabila usaha tersebut dikendalikan sendiri oleh pengusaha, dengan demikian pengusaha juga
yakin bahwa dapat mengontrol dengan baik kredit yang akan digunakan. Beberapa hal yang
mendorong terjadinya illusion of control adalah pilihan, urutan hasil, kefamiliaran,
kesuksesan masa lalu, informasi, dan keterlibatan aktif (Nofsinger, 2005). Penentuan pilihan
secara aktif dapat menimbulkan kontrol yang baik. Hal ini berarti semakin aktif pengusaha
dalam membuat pilihan tentang keputusan kredit, maka pengusaha akan se makin yakin
memperoleh keberhasilan dari apa yang telah dipilihnya. Cara atau proses mendapatkan hasil
(urutan hasil) mempengaruhi illusion of control. Urutan hasil yang diperoleh pengusaha akan
mempengaruhi illusion of control. Jika mendapat hasil yang positif terlebih dahulu, maka
akan meningkatkan illusion of control dari seorang pengusaha. Jika yang terjadi sebaliknya
maka akan membawa dampak yang negatif. Semakin familiar pengusaha dengan kredit, maka
semakin besar kontrol pengusaha terhadap keputusan kredit yang diambil. Semakin banyak
10
kesuksesan masa lalu yang dialami seorang pengusaha, maka mereka akan semakin percaya
dengan kemampuan yang mereka miliki, bahkan meskipun faktor keberuntunganlah yang
terlibat. Jika pengusaha memiliki informasi yang banyak mengenai kredit maka akan
berdampak positif terhadap illusion of control, semakin aktif pula pengusaha dalam
mengambil keputusan kredit dalam penambahan modal kerja. Pengusaha yang sebelumnya
pernah melakukan pengambilan keputusan kredit dan berhasil dalam pengelolaan kredit maka
akan memiliki illusion of control apabila melakukan pengambilan keputusan kredit kembali.
H4: terhadap pengaruh positif dari illusion of control terhadap pengambilan keputusan kredit.
Berdasarkan penjelasan mengenai hubungan antara berbagai variable diatas,
kemudian dirumuskan dalam model penelitian, bahwa variabel excessive optimism,
overconfidence, confirmation, dan illusion of control berpengaruh terhadap pengambilan
keputusan kredit. Oleh karena itu kerangka model penelitian yang dimaksud adalah sebagai
berikut:
Excessive
optimism
Overconfidence
H1 +
H2 +
Pengambilan keputusan
kredit
H3 +
Confirmation
H4 +
Illusion of control
11
METODE PENELITIAN
Populasi dan Sampel
Populasi diartikan sebagai objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk mempelajari dan kemudian ditarik
kesimpulan (Sugiyono, 2008). Populasi dalam penelitian ini adalah Usaha Mikro Kecil
Menengah industri makanan ringan di kota Salatiga dengan jumlah populasi 295 responden.
Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling,
dengan kriteria pemilik sekaligus pengelola industri makanan ringan di kota Salatiga yang
bersedia menjadi responden.
Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer
merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli. Data
primer diperoleh dengan cara penyebaran kuisioner dan wawancara kepada beberapa
UMKM industri makanan ringan yang terletak di kota Salatiga.
Indikator Empirik
Indikator empirik ini disusun berdasarkan dan disesuaikan dengan penelitian yang telah
dilakukan oleh Santoso (2009) sehingga diperoleh rumusan indikator empirik sebagai berikut:
12
Bias
Excessive optimism
Definisi
Indikator
Jenis penyimpangan yang
-
menyebabkan seberapa
seringnya orang menaksir
keuntungan yang tinggi.
-
Berkeyakinan bahwa kredit yang
terlalu tinggi terhadap hasil
dilakukan akan bermanfaat bagi
yang baik dan menganggap
usahanya.
remeh hasil yang kurang baik
Overconfidence
Berkeyakinan akan mendapatkan
-
Berkeyakinan bahwa kredit yang
dari pengalaman yang mereka
dilakukan dapat berjalan dengan
dapat.
lancar.
Jenis penyimpangan yang
-
menyebabkan seberapa
seringnya orang membuat
sendiri
-
kesalahan karena kepercayaan
diri yang terlalu berlebihan
Percaya degan kemampuan diri
Terlalu percaya diri akan
mendapatkan hasil yang optimal.
-
dan menganggap kemampuan
Tidak memperdulikan pendapat
dari orang lain.
diri sendiri yang paling baik.
Confirmation
Jenis penyimpangan yang
-
Tidak suka mendengar pendapat
menyebabkan seseorang lebih
orang yang bertentangan dengan
suka mendengar pendapat dari
pemikirannya.
orang lain yang sejalan
-
Menggunakan informasi yang
dengan pemikirannya.
diberikan oleh orang yang sejalan
Sehingga akan lebih
dengan pemikirannya sebagai
mempertimbangkan informasi
bahan pertimbangan.
yang sesuai dengan pendapat
-
pribadi.
Lebih memperhatikan pendapat
orang yang sesuai dengan
pendapatnya.
-
Cenderung mengesampingkan
informasi yang tidak sesuai
dengan pemahamannya.
13
Bias
Illusion of Control
Definisi
Indikator
Suatu penyimpangan yang
-
Berkeyakinan dapat mengatasi
menyebabkan seseorang
semua masalah yang terjadi
merasa seakan – akan ia dapat
kedepannya dengan baik.
mengendalikan
-
Berkeyakinan dapat melakukan
lingkungannya, padahal
antisipasi jika terjadi masalah di
sebenarnya tidak.
tengah jalan.
-
Beranggapan bahwa akan ada
yang membantu jika terjadi
masalah di tengah jalan.
Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, alat analisis yang dipakai adalah analisis dengan logistic
regression. Analisis ini digunakan untuk menganalisis pengaruh antara variabel independen
(x) terhadap variabel dependen (y), dengan syarat bahwa variabel dependen merupakan
variabel dummy yang hanya memiliki dua alternative dan variabel independen memiliki skala
data interval atau ratio.. Variabel independen dalam penelitian ini adalah excessive optimism,
overconfidence, confirmation, dan illusion of control. Sedangkan variabel dependennya
adalah pengambilan keputusan kredit.
Dengan model regresi :
𝑝
Ln 1−𝑝 = b0 + b1 x1 + b2 x2 + b3 x3 + b4 x4
Keterangan :
p
: peluang seorang pengusaha mengambil kredit
b0
: konstanta dari model regresi logistik
b1
: koefisien regresi dari varabel bebas
x1
: excessive optimism
x2
: overconfidence
x3
: confirmation
x4
: illusion of control
14
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan bersama – sama dengan penelitian
“Pengaruh Personality Traits terhadap Pengambilan Keputusan Kredit UMKM pada Industri
Makanan Ringan di Kota Salatiga” yang dilakukan oleh Darmawan (2012). Pengambilan
sampel yang dilakukan di kota Salatiga ini dilakukan dengan cara membagikan kuisioner
kepada pedagang – pedagang kecil di pasar raya I, pasar raya II, pasar pagi serta menitipkan
kuisioner lewat toko yang menjual makanan di kota Salatiga.
Penyebaran kuisioner ini juga didukung oleh CEMSED FEB UKSW yaitu dengan
memfasilitasi penulis mengikuti pertemuan rutin paguyuban UMKM yang diadakan setiap
satu bulan sekali, yaitu pada hari selasa, 21 Febuari 2012. Disamping itu kuisioner ini juga
mendapat bantuan lewat kepala cabang Bank Mandiri Salatiga sebagai fasilitator dalam
mendapatkan tambahan responden. Melalui kepala cabang Bank Mandiri ini diperoleh
informasi mengenai data beberapa responden di kota Salatiga yang pernah a mbil kredit.
Kemudian pihak Bank Mandiri memberikan kenalan salah satu pengusaha makanan ringan
dan kue yang juga tergabung dalam salah satu anggota paguyuban UMKM di kota Salatiga.
Dari pengusaha tersebut diperoleh informasi mengenai acara “Peringatan Har i Pers Nasional
(HPN) tahun 2012 dan Hari Ulang Tahun ke-66 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tingkat
Jawa Tengah”, yang diadakan pada tanggal 16 Maret 2012 di Lapangan Pancasila, Salatiga.
Dalam acara tersebut terdapat beberapa UMKM yang menjual produk mereka dalam bentuk
stand – stand. Melalui acara tersebut, dapat membantu penulis untuk menyebarkan kuisioner.
15
Karakteristik Responden
Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 60
responden, dari 60 responden
terdapat sebanyak 49 orang responden yang pernah mengambil kredit dan 11 responden yang
belum pernah mengambil kredit. Berdasarkan kuisioner yang disebarkan kepada para UMKM
di kota Salatiga, diperoleh karakteristik responden mengenai pernah atau belum pernah ambil
kredit, usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, dan jumlah tenaga kerja. Dalam penelitian ini
juga diperoleh informasi tentang dimana kredit tersebut diambil, baik melalui bank, pinjaman
saudara, maupun ke lembaga keuangan lainnya. Lembaga keuangan yang cukup sering
disebutkan oleh responden sebagai sumber kredit mereka adalah BRI. Selain itu terdapat pula
beberapa lembaga keuangan lainnya yang diakses oleh responden antara lain BNI, Bank
Mandiri, Bank Danamon, BPR, koperasi, dan Bank Jateng.
Distribusi Responden Berdasarkan Pernah atau Belum Pe rnah Ambil Kredit
Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Pernah atau Belum Pernah Ambil Kredit
Jumlah (orang)
Presentase
Pernah Ambil Kredit
49
81,67
Belum Pernah
11
18,33
Total
60
100
Sumber : data primer (2012)
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa presentase responden yang pernah
mengambil kredit jauh lebih besar dibandingkan dengan presentase responden yang belum
pernah mengambil kredit, yakni sebanyak 49 orang (81,67%), sedangkan yang belum pernah
mengambil kredit sebanyak 11 orang (18,33%). Sebagian besar pengusaha kecil di kota
Salatiga membutuhkan tambahan modal untuk memulai atau memperluas usaha mereka.
Dengan adanya kredit pengusaha dapat memperoleh tambahan moda untuk usaha mereka.
Bagi yang tidak menggunakan kredit bisa dikarenakan pengusaha tersebut sudah memiliki
modal atau meneruskan usaha dari orang tua mereka.
16
Distribusi Responden Berdasarkan Usia
Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Usia
Pernah Ambil Kredit
Belum Pernah
Total
20- 29
8
2
30-39
12
4
10
16
Usia (tahun)
40-49
15
3
18
50-59
11
2
60-69
3
0
Jumlah /
Presentase
49
11
13
3
60
Sumber : data primer (2012)
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa presentase terbesar responden yang pernah
ambil kredit terletak pada usia 40-49 tahun sebesar 18 orang (30,61%) dari total presentase
responden yang pernah ambil kredit sebesar 49 orang, sedangkan presentase terkecil
responden yang pernah ambil kredit terletak pada usia 60-69 tahun yaitu sebesar 3 orang
(6,12%) dari total presentase responden yang pernah ambil kredit sebesar 49 orang.
Disamping itu presentase terbesar responden yang belum pernah ambil kredit terletak pada
usia 30-39 tahun sebesar 4 orang (36,36%) dari total presentase responden 11, dan presentase
terkecil responden yang belum pernah ambil kredit sebesar 0 pada usia 60-69 tahun dari total
presentase responden yang belum pernah ambil kredit 11 orang. Faktor usia juga berpengaruh
terhadap pengambilan keputusan kredit pengusaha makanan ringan di kota Salatiga.
Responden dengan usia 20-29, 30-39 hingga usia 40-49 memiliki semangat yang semakin
tinggi, karena pada saat mereka hendak berkeluarga ataupun sudah berkeluarga pasti semakin
bersemangat untuk meningkatkan perekonomian mereka. Untuk responden berusia 50-59
sampai 60-69, cenderung memiliki semangat dan tenaga yang semakin berkurang. Mereka
juga sudah tidak memiliki tanggungan keluarga, sehingga kebutuhan untuk memulai usaha
atau memperluas usaha juga semakin berkurang.
17
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
Laki - Laki
Perempuan
17
32
Jumlah
Pernah Ambil
49
Kredit
Belum Pernah
6
5
11
Total
23
37
60
Sumber : data primer (2012)
Dalam tabel diatas menunjukkan bahwa jumlah presentase responden perempuan
yang pernah ambil kredit lebih besar daripada presentase jumlah responden laki – laki, yaitu
sebesar 32 orang (65%) untuk jumlah presentase responden perempuan dari total presentase
responden yang pernah ambil kredit 49 orang, dan 17 orang (35%) untuk jumlah responden
laki – laki dari total presentase responden yang pernah ambil kredit 49 orang. Sedangkan
presentase responden laki – laki yang belum pernah ambil kredit lebih besar sebesar 6 orang
(55%) dari total presentase responden yang belum ernah ambil kredit sebesar 11 orang, dan 5
orang (45%) untuk jumlah presentase perempuan dari total presentase responden sebesar 11
orang yang belum pernah ambil kredit. Sifat dari laki – laki dan perempuan berbeda. Laki –
laki lebih berani mengambil resiko dalam pengambilan keutusan kredit. Sedangkan seorang
wanita lebih hati – hati dalam mengambil kredit dan mempunyai pemikiran yang panjang.
Oleh karena itu, perempuan lebih matang dalam pengambilan keputusan kreditnya.
Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
SD
Pernah Ambil Kredit
3
Belum Pernah
1
Total
4
Sumber : data primer (2012)
Tingkat Pendidikan
SMA/
Diploma/
SMP
sederajat
Sarjana
12
19
14
1
6
1
13
25
15
18
Tidak
Diketahui
1
2
Jumlah
48
9
57
Berdasarkan tabel diatas, terdapat 3 responden yang tidak memberikan informasi
mengenai pendidikan terakhirnya. Dapat diketahui bahwa sebanyak 19 responden (39,58%)
dari 25 responden lulusan SMA lebih banyak mengambil kredit, dapat diketahui juga sebesar
14 responden (29,17%) dari 15 responden lulusan diploma atau sarjana yang cukup banyak
mengambil kredit. Sedangkan, terdapat pula 3 responden yang tidak memberikan informasi
mengenai pendidikan terakhirnya. Faktor pendidikan sangat berperan terhadap pengambilan
keputusan kredit. Dengan pendidikan yang dimiliki pengusaha membuat pengusaha memiliki
kemauan untuk mencari informasi sebanyak – banyaknya, dan menyadari bahwa perlunya
informasi yang dibutuhkan untuk mengambil kredit.
Disrtibusi Responden Berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja
Tabel 5. Disrtibusi Responden Berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja
Jumlah Tenaga Kerja (orang)
Jumlah
0-2
3-5
6-8
9-11
Ambil Kredit
24
17
6
2
49
Belum Pernah
7
4
0
0
11
Total
31
21
6
2
60
Sumber : data primer (2012)
Tabel diatas menunjukkan bahwa responden yang pernah ambil kredit dengan jumlah
tenaga kerja 0-2 orang (termasuk pemilik usaha) merupakan kelompok responden paling
banyak, yaitu sebesar 24 orang (48,98%) dari total respoden yang pernah ambil kredit sebesar
49 orang. Sedangkan responden yang belum pernah ambil kredit dengan jumlah tenaga kerja
0-2 orang (termasuk pemilik usaha) juga merupakan kelompok responden paling banyak,
yaitu sebesar 7 orang (63,64%) dari total responden yang belum pernah ambil kredit sebesar
11 orang. Jumlah tenaga kerja juga berperan terhadap pengambilan keputusa kredit, terutama
bagi pengusaha yang memiliki sedikit tenaga kerja. Pengambilan keputusan kredit sangat
berperan apabila mereka ingin memperluas usaha mereka dan menambah tenaga kerja
dibutuhkan modal yang cukup.
Berikut akan dipaparkan aspek bias pada diri responden terkait dengan
karakteristiknya. Dalam penelitian ini, seorang responden dianggap memiliki aspek bias
19
tertentu jika memberikan jawaban “setuju” dan “sangat setuju” pada kuisioner untuk semua
indikator aspek bias tertentu. Dengan demikian, setiap responden dapat memiliki aspek bias
lebih dari satu variabel. Berikut adalah jumlah responden untuk setiap aspek bias:
Tabel 6. Jumlah Responden untuk Setiap Aspek Bias
Aspek Bias
Jumlah Responden (orang)
Excessive optimism
46
Overconfidence
13
Confirmation
4
Illusion of control
15
Sumber : data primer (2012)
Dari tabel di atas, nampak bahwa sebagian besar responden (46 orang) memiliki
aspek bias excessive optimism yang berarti memiliki sikap optimis yang cenderung
berlebihan. 13 responden memiliki aspek bias overconfidence atau memiliki rasa percaya
terhadap diri sendiri yang cenderung berlebihan. 4 responden memiliki aspek bias
confirmation yang berarti cenderung mengesampingkan pendapat dari orang lain yang tidak
sejalan dengan pemikirannya dan hanya mendengar pendapat dari orang lain yang sejalan
dengan
pemikirannya.
Sebagian
responden
juga
merasa bahwa dirinya
mampu
mengendalikan sepenuhnya usaha yang dijalankan dimasa mendatang ( illusion of control),
yaitu berjumlah 15 orang.
Aspek bias yang melekat pada setiap individu responden tersebut diduga dipengaruhi
oleh karakteristik individu itu sendiri. Selanjutnya akan disajikan tabulasi distribusi aspek
bias individu responden berdasarkan karakteristiknya.
Tabel 7. Distribusi Aspek Bias Responden Berdasarkan Usia
Aspek bias
Excessive optimism
Overconfidence
Confirmation
Illusion of control
20–29
7
2
0
1
Total
Jumlah responden
10
per kelompok usia
Sumber : data primer (2012)
Usia (tahun)
30-39
40-49
50-59
11
15
10
2
5
3
0
3
1
1
6
5
16
18
20
13
60-69
3
1
0
2
3
Jumlah
46
13
4
15
78
Responden dengan rasa optimism berlebihan (excessive optimism) paling banyak
terjadi pada kelompok usia antara 40-49 tahun, yaitu sebanyak 15 orang. Hal itu sejalan
dengan kenyataan bahwa berdasarkan usia, memang paling banyak responden berasal dari
kelompok usia tersebut yaitu 18 orang (lihat tabel 2). Kondisi yang cukup menarik adalah
untuk responden dari kelompok usia 60-69 tahun yang hanya berjumlah tiga orang ternyata
seluruhnya mengalami bias excessive optimism. Mereka memiliki rasa optimisme yang tinggi
bisa jadi karena mereka merasa sudah memiliki pengalaman yang banyak.
Jumlah responden berdasarkan aspek bias dan karakteristik jenis kelamin dapat dilihat
pada tabel berikut :
Tabel 8. Distribusi Aspek Bias Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Aspek bias
Excessive optimism
Overconfidence
Confirmation
Illusion of control
Jenis Kelamin
Laki - laki
Perempuan
17
29
6
7
1
3
7
8
Jumlah
46
13
4
15
Total
78
Jumlah responden per
23
37
kelompok usia
Sumber : data primer (2012)
Presentase responden laki- laki dan perempuan yang mengalami excessive optimism
tidak jauh berbeda, yaitu sekitar 70%. Dari 23 responden laki- laki, 17 orang diantaranya
(73,9%) mengalami excessive optimism. Sedangkan untuk responden perempuan, 29 dari 37
responden (78,4%) mengalami excessive optimism. Kondisi yang hampir sama terjadi untuk
aspek overconfidence dan illusion of control. Untuk aspek bias confirmation, terlihat empat
orang responden mengalaminya, dan ternyata tiga orang diantara nya adalah responden
perempuan. Responden perempuan cenderung lebih suka menerima / mendengarkan pendapat
yang sesuai dengan pendapat pribadinya. Sedangkan responden pria cenderung tidak terlalu
mementingkan pendapat orang lain.
21
Aspek bias diduga juga dipengaruhi oleh karakteristik tingkat pendidikan responden.
Tabulasi aspek bias responden dan tingkat pendidikannya, disajikan pada tabel berikut :
Tabel 9. Distribusi Aspek Bias Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Aspek bias
SD
SMP
Excessive optimism
Overconfidence
Confirmation
Illusion of control
3
1
0
0
8
4
1
6
Total
Jumlah responden
per kelompok usia
4
13
Tingkat Pendidikan
SMA/
Diploma/
sederajat Sarjana
18
15
3
4
1
1
5
2
Tidak
diketahui
2
1
1
2
Jumlah
46
13
4
15
78
25
15
3
Sumber : data primer (2012)
Berdasarkan tabel diatas nampak bahwa responden dengan tingkat pendidikan
diploma atau sarjana yang berjumlah 15 orang (100%) seluruhnya mengalami excessive
optimism. Sedangkan untuk tingkat pendidikan yang lain yaitu SD, SMP, dan SMA berturutturut 75%; 61,5%; dan 72%. Latar belakang pendidikan diploma atau sarjana yang sering
disebut dengan pendidikan tinggi dan berperan dalam pembentukan karakter seseorang
termasuk membentuk keyakinan terhadap hal- hal yang akan dilakukan. Dengan kata lain,
pendidikan tinggi diduga mempengaruhi cara berpikir dan pembentukan rasa optimis
seseorang. Dari 13 orang responden yang mengalami bias illusion of control, tidak ada satu
orang pun yang berlatar belakang pendidikan SD. Hal ini mengindikasikan bahwa responden
dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah, merasa tidak memiliki kemampuan untuk
mengendalikan kondisi masa depan terkait dengan keterbatasan pengetahuan mereka. Hal ini
didukung dengan sedikitnya responden dengan la tar belakang SD yang memiliki rasa
overconfidence, yaitu hanya satu orang. Namun, perasaan tidak mampu mengendalikan
kondisi masa mendatang ini juga dialami oleh responden dengan latar belakang pendidikan
tinggi. Hal tersebut diduga karena dengan semakin luasnya pengetahuan akan menimbulkan
kesadaran bahwa kondisi di masa yang akan datang adalah tidak pasti.
22
Selanjutnya untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh aspek bias terhadap
pengambilan keputusan kredit, dilakukan analisis dengan bantuan alat analisis regresi
logistik. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut :
Tabel 10. Koefisien Hasil Regresi Logistik
B
Step 1a
Excessive
S.E.
Wald
df
Sig.
Exp(B)
0.460
0.255
3.238
1
0.072
1.583
Overconfidence
-0.335
0.292
1.312
1
0.252
0.715
Confirmation Bias
-0.141
0.183
0.594
1
0.441
0.868
Illusion of Control
0.095
0.189
0.254
1
0.614
1.100
Constant
0.161
3.107
0.003
1
0.959
1.175
Optimism
Sumber : Data diolah dari SPSS.
Dari tabel diatas dapat dituliskan persamaan regresi:
𝑝
Ln 1−𝑝 = 0.161 + 0.460 X1 - 0.335 X2 - 0.141 X3 + 0.095 X4
Atau
𝑝
1−𝑝
=
𝑒 (0.161 +0.460 𝑥 1 − 0.335 𝑥 2 −0.141 𝑥 3 + 0.095 𝑥 4 )
= 𝑒 0.161 x 𝑒0.460 𝑥 1 x 𝑒−0.335 𝑥 2 x 𝑒−0.141 𝑥 3 x 𝑒 0.095 𝑥 4
Dari persamaan tersebut, dapat diinterpretasikan :
Variabel excessive optimism menunjukan arah yang searah dengan hipotesis yang
telah diajukan. Variabel excessive optimism memiliki koefisien sebesar 1.583 (𝑒 0.460 ), yang
berarti setiap kenaikan skor excessive optimism, maka peluang terhadap pengambilan
keputusan kredit akan naik. Hal ini sesuai dengan hipotesis yang telah diajukan sebelumnya,
karena dengan keyakinan yang dimiliki responden mengenai keuntungan yang didapat
melalui kredit akan memberikan pengaruh positif terhadap pengambilan keputusan kredit
tersebut. Variabel excessive optimism tidak terbukti signifikan dengan nilai signifikansi
0.072.
23
Sedangkan untuk variabel overconfidence menunjukan arah yang berlawanan dengan
hipotesis yang telah diajukan. Variabel overconfidence memiliki koefisien sebesar 0.715
(𝑒 −0.335 ), yang berarti setiap kenaikan skor overconfidence, maka peluang mengambil kredit
akan turun. Hal ini bertolak belakang dengan hipotesis yang telah diajukan sebelumnya,
karena responden tidak memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap kredit. Variabel
overconfidence tidak terbukti signifikan dengan nilai signifikansi 0.252
Untuk variabel confirmation menunjukan arah yang berlawanan dengan hipotesis
yang telah diajukan. Variabel confirmation memiliki koefisien sebesar 0.868 (𝑒 −0.141 ), yang
berarti setiap kenaikan skor confirmation, maka peluang terhadap pengambilan keputusan
kredit akan turun. Hal ini bertolak belakang dengan hipotesis yang telah diajukan
sebelumnya, karena responden terbuka dengan masukan atau pendapat dar i orang lain, maka
tidak memberikan pengaruh terhadap pengambilan keputusan kredit. Variabel confirmation
tidak terbukti signifikan dengan nilai signifikansi 0.441.
Dan untuk variabel illusion of control menunjukan arah yang searah engan hipotesis
yang telah diajukan. Variabel illusion of control memiliki koefisien sebesar 1.100 (𝑒 0.095 ),
yang berarti setiap kenaikan skor variabel illusion of control, maka peluang mengambil kredit
akan naik. Hal ini sesuai dengan hipoteis yang telah diajukan sebelumnya, semakin tinggi
kontrol pengusaha terhadap pengambilan keputusan kredit, maka akan memberikan pengaruh
positif terhadap pengambilan keputusan kredit tersebut. Variabel illusion of control tidak
terbukti signifikan dengan nilai signifikansi 0.614.
Sedangkan nilai Nagelkerke R² dalam penelitian ini sebesar 0,152 yang berarti
variabel dependen yaitu pengambilan keputusan kredit dapat dijelaskan oleh variabilitas dari
variable Excessive Optimism, Overconfidence, Confirmation Bias, Illusion of Control sebesar
15,2%, sedangkan sisanya 84,8% dijelaskan oleh variabel – variabel lain.
24
Omnibus Tests digunakan untuk menguji pengaruh dari seluruh variabel independen
secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Nilai 𝜒2 Goodness of fit test dalam
penelitian ini sebesar 5,809 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,214. Jika dibandingkan
dengan tingkat signifikansi 5%, nilai signifikansi yang diperoleh lebih besar sehingga
mengindikasikan seluruh variabel independen tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
variabel dependen.
Pembahasan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengusaha industri makanan ringan di kota
Salatiga cenderung tidak mengalami bias dalam pengambilan keputusan kredit. Masing –
masing aspek bias tidak berpengaruh signifikan dengan tingkat signifikansi sebesar 5% dalam
pengambilan keputusan kredit yang dilakukan oleh pengusaha. Hasil perolehan tersebut
mengindikasikan bahwa sebagian besar pengusaha cenderung tidak memiliki excessive
optimism, overconfidence, confirmation bias, dan illusion of control dalam pengambilan
keputusan kreditnya. Excessive optimism merupakan jenis penyimpangan yang menyebabkan
seberapa seringnya orang menaksir terlalu tinggi terhadap hasil yang baik dan menganggap
remeh hasil yang kurang baik dari pengalaman yang mereka dapat, sedangkan overconfidence
yaitu suatu jenis penyimpangan yang menyebabkan seberapa seringnya seseorang membuat
kesalahan karena rasa percaya diri yang berlebihan, confirmation bias yaitu suatu
penyimpangan yang menyebabkan seseorang lebih suka mendengar pendapat orang yang
sejalan dengan pemikiranya, dan illusion of control yang merupakan kecenderungan manusia
percaya bahwa mereka dapat mengontrol atau paling tidak mempengaruhi hasil tetapi pada
kenyataannya mereka tidak dapat.
Keempat variabel tersebut tidak berpengaruh bagi pengusaha makanan ringan di kota
Salatiga dalam proses pengambilan kredit mereka. Hal ini disebabkan oleh cukup baiknya
pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki pengusaha terhadap kredit yang diambil, hal ini
25
dapat dibuktikan dari data yang diperoleh melalui kuisoner. Dari 48 responden yang pernah
ambil kredit terdapat 33 orang diantaranya telah mencapai tingkat pendidikan SMA,
Diploma, maupun Sarjana. Juga tercatat bahwa terdapat beberapa responden yang telah
mengambil kredit lebih dari satu kali, sehingga pengusaha dapat lebih bijaksana dalam
mengambil kredit untuk usahanya. Pengusaha memiliki rasa optimis (excessive optimisim)
dan percaya diri (overconfidence) yang cukup bagus namun tidak berlebihan, sehingga dapat
melakukan perhitungan yang cermat dan matang. Dalam pengambilan keputusan kredit
pengusaha tidak hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri (illusion of control), tetapi
juga mau mendengarkan masukkan atau informasi dari orang lain (confirmation bias) sebagai
bahan pertimbangan agar keputusan yang diambil nantinya dapat tepat dan dapat
dipertanggung jawabkan.
Hasil penelitian ini berkontradiksi dengan penelitian yang yang dilakukan oleh
Marbun (2007). Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Marbun (2007) menemukan bahwa
pengusaha industri tempe dan kripik tempe di kabupaten Ngawi ini cenderung mengalami
bias psikologis dalam pengambilan keputusan hutangnya. Masing- masing aspek bias
psikologis berperan dalam pengambilan keputusan hutang yang dilakukan oleh pengusaha
dan termasuk dalam kategori tinggi. Hasil perolehan tersebut mengindikasikan bahwa
sebagian besar pengusaha cenderung memiliki excessive optimism, overconfidence,
confirmation bias, serta illusion of control yang tinggi dalam pengambilan keputusan
hutangnya. Sedangkan dalam penelitian ini mengindikasikan bahwa ke empat aspek bias
tersebut tidak berpengaruh terhadap pengusaha roti kering dan kue basah yang berada di kota
Salatiga.
26
KESIMPULAN
Penelitian ini menguji tentang pengaruh bias dalam pengambilan keputusan kredit
pada usaha mikro kecil dan menengah di kota Salatiga dengan sampel sebanyak 60
pengusaha roti kering dan kue basah di kota Salatiga yang menggunakan kredit untuk
usahanya. Dari hasil penelitian ini terdapat 49 responden yang menggunakan kredit dan 11
responden yang tidak mengunakan kredit. Dari hasil uji regresi logistik terhadap beberapa
hipotesis yang diajukan
menunjukkan bahwa excessive optimism, overconfidence,
confirmation bias, dan illusion of control tidak berpengaruh signifikan dengan tingkat
signifikan sebesar 5% terhadap bias dalam pengambilan keputusan kredit pada pengusaha
makanan ringan di kota Salatiga.
Penelitian ini bermanfaat baik bagi para pengusaha makanan ringan, pengusaha yang
akan mengambil keputusan kredit, maupun bagi masyarakat yang akan memulai usaha baru.
Para pengusaha dapat mengerti hal – hal apa yang dapat mempengaruhi pengambilan
keputusan kredit, sehingga pada saat pengambilan keputusan dapat menghindari aspek –
aspek apa saja yang dapat membuat keputusan menjadi bias. Misalnya terlalu yakin bahwa
kredit yang dilakukan akan bermanfaat bagi usahanya, terlalu percaya diri, tidak mau
mendengarkan pendapat dari orang lain, dan beranggapan bahwa semua masalah dalam
usahanya dapat diatasi sendiri. Hal ini sangat bermanfaat terutama bagi pengusaha yang akan
memulai usahanya dan bagi pengusaha yang akan mengambil keputusan kredit.
27
Keterbatasan Penelitian dan Saran
Keterbatasan dalam penelitian ini adalah masih belum dapat mengukur ada atau
tidaknya bias dalam pengambilan keputusan kredit. Penelitian ini hanya membahas mengenai
bias dalam diri responden, belum spesifik terkait dengan pengambilan keputusan kredit.
Disamping itu juga terdapat faktor lain, yaitu kurangnya informasi yang diperoleh dari
kuisioner. Ada beberapa responden yang pada saat pengisian kuisioner sedang bekerja, maka
pengisian kuisioner tidak dapat dilakukan dengan optimal, dan juga ada beberapa kuisioner
yang hanya dititipkan pada beberapa toko yang menjual makanan ringan, karena ada
produsen yang tidak bersedia mengisi kuisioner saat itu dan minta untuk dititipkan di toko
makanan kecil tersebut. Hal ini membuat penulis kesulitan untuk mendapatkan informasi
secara mendalam dan pada saat pengisian tidak bisa dikontrol secara langsung oleh penulis.
Oleh karena itu disarankan untuk penelitian selanjutnya sebaiknya kuisioner tidak hanya
ditipkan toko saja, kemudian mencari tambahan data lewat lembaga lain yang mencatat data
pengusaha UMKM makanan kecil yang berada di kota Salatiga.
28
DAFTAR PUSTAKA
Chira, Inga; Michael Adams; dan Barry Thornton, (2008). Behavioral Bias Within The
Decision Making Process, Journal of Business and Economic Research, Vol. 6, No.8.
Dewi, Ericha Kusuma, (2010). Aspek Bias dalam Pengambilan Keputusan Investasi, Thesis
Program Pascasarjana Universitas Kristen Satya Wacana
Marbun, Linceria Roseline, (2010). Aspek Bias Psikologis dalam pengambilan Keputusan
Hutang Studi pada Industri Tempe dan Kripik Tempe di Desa KarangTengah
Prandon Kabupaten Ngawi Provinsi Jawa Timur, Skripsi Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana.
Meinert, Jhon, (1991). Financial Advice from a Business Veteran. Journal of Accountancy,
vol 17. New York.
Nofsinger, John R, (2001). Investment Madness : How Psychology Affects Investing and
What to do About It, FinancialTimes Prentice Hall Books, Singapore.
Nofsinger, John R, (2005). The Psichology of Investing. Second Edition. Pearson Prentice
Hall, Upper Saddle River, New Jersey.
Pompian, Michael M, (2006). Behavioral Finance and Wealth Management, John Wiley &
Sons, Inc, New York.
Robbins, S.P; dan Judge, T.A, (2007), Organizational Behavior, Pearson Prentice Hall,
Upper Saddle River, New Jersey.
Santoso, Jeni Sumi, (2009). Aspek Bias dalam Pengambilan Keputusan Investasi Pengusaha
Tekstil di Pekalongan. Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kristen Satya
Wacana.
Shefrin, Hersh, (2007). Behavioral Corporate Finance: Decision that Create Value,
McGrwall- Hill/Irwin, NewYork.
29
Stoner, James A.F; Freeman R. Edward; Gilbert J.R; dan Daniel R, (1996), Manajemen, Jilid
2, PT Prendhallindo, Jakarta.
Sugiyono, 2008. Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dsn R&D, Alfabeta, Bandung.
Supramono, (2007). “Sebuah Catatan : Peluang dan Domain Situasi Perilaku Pengelolaan
Keuangan”, Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. XIII, No. 1.
Supramono, (2008). Dari Keuangan Keperilakuan Menuju Studi Perilaku Pengelolaan
Keuangan, Universitas Satya Wacana, Salatiga
Supramono, (2010). Dari Keuangan Keprilakuan menuju Studi Perilaku Pengelolaan
Keuangan, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.
Wiharjo, Katarina Kumalasari, (2012). Faktor Demografis dan Mental Accounting :
Penggunaan Kartu Kredit pada Karyawan Bank Bumi Arta Tbk. Cabang Surakarta,
Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana.
http://id.shvoong.com/social-sciences/economics/1971084-pengertian-kredit/
30
Download