BAB I

advertisement
BAB II
GEOLOGI REGIONAL
2.1.
Fisiografi
Sulawesi adalah salah satu dari 5 pulau besar di Indonesia yang terletak di
bagian timur, yaitu pada koordinat 2o10’17” LU – 7o25’43” LS dan 121o 29’13” BT –
123o 9’25” BT. Secara geologi, sulawesi merupakan wilayah yang geologinya sangat
komplek, karena merupakan perpaduan antara dua rangkaian orogen ( Busur
Kepulauan Asia Timur dan Sistem Pegunungan Sunda ). Sehingga, hampir seluruhnya
terdiri dari pegunungan, sehingga merupakan daerah paling berpegunungan di antara
pulau- pulau besar di Indonesia (Sutardji, 2006 :100). Secara rinci fisiografi sulawesi
adalah sebagai berikut:
1. Lengan Utara Sulawesi
Pada lengan ini, fisiografinya terbagi menjadi tiga bagian berdasarkan aspek
geologinya. Ketiga bagian tersebut adalah :
Seksi Minahara, merupakan ujung timur dari lengan utara sulawesi
dengan arah timurlaut-baratdaya yang bersambung dengan penggungan
Sangihe yang dibentuk oleh aktifitas vulkanis pegunungan soputan
Seksi Gorontalo merupakan bagian tengah dari lengan utara sulawesi
dengan arah timur ke bawah, namun aktivitas vulkanis sudah padam,
yang lebar daratannya sekitar 35 – 110 km, tapi bagian baratnya
menyempit 30 km ( antara Teluk Dondo di pantai utara dan Teluk
Tihombo di pantai selatan ). Seksi ini dilintasi oleh sebuah depresi
menengah yang memanjang yaitu sebuah jalur antara rangkaian
pegunungan di pantai utara dan pegunungan di pantai selatan yang
disebut Zone Limboto
Jenjang sulawesi utara, merupakan Lengan Utara Sulawesi yang
arahnya dari utara ke selatan dan terdapat depresi ( lanjutan zone
Limboto di Gorontalo ) yang sebagian besar di tutup oleh vulkanik –
vulkanik muda, sedangkan antara lengan utara dan lengan timur di
pisahkan oleh Teluk Tomini yang lebarnya 100 km di bagian timur dan
sampai 200 km di bagian barat sedangkan dasar teluknya semakin
dangkal kearah barat ( kurang dari 2000 meter ) dan di bagian tengah
5
Teluk Tomini tersebut terdapat pegunungan di bawah permukaan air
laut dengan bagian tinggi berupa kepulauan Togian ( Sutardji ; 2006 :
101 )
2. Lengan Timur
Lengan Timur Sulawesi arahnya timurlaut-baratdaya dan dapat di bedakan
menjadi tiga bagian. Tiga bagian tersebut adalah:
Bagian timur, berupa Semenanjung Bualeno yang dipisahkan dengan
bagian tengah oleh tanah genting antara Teluk Poh dan Teluk Besama
Bagian tengah, dibentuk oleh pegunungan Batui dengan pegunungan
Batulumpu yang arahnya timurlaut-baratdaya.
Bagian barat, merupakan pegunungan tinggi yang membujur antara
garis Ujung Api sampai Teluk Kolokolo bagian timur dan garis
Lemoro sampai Teluk Tomini di barat dan lebarnya sekitar 75-100 km
( Sutardji, 2006 : 101 )
3. Lengan Tenggara
Batas antara lengan tenggara dengan bagian tengah sulawesi adalah berupa tanah
genting antara Teluk Usu dengan Teluk Tomori yang lebarnya 100 km.
Sedangkan lengan tenggara Sulawesi dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu :
Bagian utara, berupa masif-masif Peridotit dari pegunungan Verbeek
yang di tengahnya terdapat dua graben yaitu danau Matana dan Danau
Tomini yang letaknya berada antara Teluk Palopo ( Ujung utara Teluk
Bone dengan Teluk Tolo
Bagian Tengah, berupa Pegunungan Mekongga di sebelah barat dan
sedimen peridorit di sebelah timur yang di batasi oleh Pegunuingan
Tangeasinua, sedangkan antara kedua pegunungan tersebut terdapat
basin yang dialiri sungai Konewha, sedangkan kearah tenggara jalur ini
tenggelam dan membentuk teluk-teluk dan pulau-pulau kecil serta
berkelanjutan sampai kepulauan Manui
Bagian Selatan, merupakan suatu depresi yang membujur dari arah
barat ke timur yang membentang antara Kendari dan Kolaka yang diisi
dataran Aluvial yang berawa sedangkan di bagian selatannya berupa
pegunungan dan bukit-bukit yang teratur dengan membujur dari arah
barat ke timur
6
4. Lengan Selatan
Bagian sulawesi selatan merupakan daerah yang dibatasi oleh garis tenggarabaratlaut dari muara sungai Karama sampai Palopo. Batas lengan utara dari garis
timurlaut-baratdaya dari palopo sampai Teluk Mandar. Namun secara geologis
bagian barat Lengan Sulawesi Tengah termasuk Pegunungan Quarles yang lebih
dekat hubungnnya dengan bagian selatan dengan lengan selatan ( Sutardji, 2006 :
103 ).
Fisiografi lengan selatan berupa pegunungan seperti pegunungan yang ada di
antara Majene yang membujur utara-selatan, antara Pegunungan Quarles dengan
Pegunungan Latimojong dipisahkan oleh Lembah Sadang dan diantara Lembah
Sadang dan Teluk Bone terdapat Pegunungan Latimojong yang membujur dari
utara ke selatan dengan ketinggian sekitar 3000 mdpl. Pada bagian utara dan
selatan lengan ini dipisahkan oleh depresi dengan arah baratlaut-tenggara yang
terdapat danau-danau seperti danau Tempe, danau Sidenreng, dan danau Buaya.
Pada bagian selatannya lengan ini mempunyai ketinggian yang lebih rendah jika
dibandingkan dengan bagian utara. Di daerah ini ada dua jalur pegunungan yaitu
di bagian barat dengan ketinggian diatas 1000 mdpl dan bagian timur dengan
ketinggian 800 mdpl yang dipisahkan oleh lembah Sungai Walaneia. Kedua jalur
pegunungan tersebut di sebelah selatan Pegunungan Bontorilni, bersatu sebagai
hulu sungai Walaneia yang mengalir ke utara tertutup oleh vulkan besar
Lampobatang. Sedangkan di luar pantai Makasar terdapat dangkalan Spermonde
dengan rangkaian karang, dan di luar pantai Watampone terdapat dangkalan
dengan rangkaian karang laut dangkal dan sebelah baratnya menurun sampai
palung Bone
2.2.
Geologi Regional Sulawesi
Pulau Sulawesi mempunyai bentuk yang khas menyerupai huruf “K”,
mempunyai 4 lengan yaitu Lengan Utara, Lengan Timur, Lengan Tenggara, dan
Lengan Selatan. Keempat lengan ini terbentuk dari proses-proses tektonik dan ciri
geologi yang berbeda satu sama lain. Surono, dkk.,(1997) menjelaskan bahwa Lengan
Selatan dan Lengan Utara merupakan Busur Volkanik Sulawesi (Sulawesi Volcanic
Arc) yang berkaitan dengan palung subduksi/penunjaman, berumur Miosen hingga
Pliosen Awal, berupa batuan volkanik yang terdiri dari piroklastika bersusunan
7
trakhitik, andesit dan dasitis berasal dari gunung-api Kuarter (G.Lompobatang,
G.Barupu) dan Resen (G.Soputan, G.Lokon dan di Teluk Gorontalo G.Una-Una),
batuan sedimen berumur Eosen hingga Miosen Awal yang terdiri dari batupasir,
serpih dan karbonat.
Bagian Timur Sulawesi sebagian besar terdiri dari komplek batuan basa dan
ultrabasa yang mengalami deformasi yang kuat sehingga sebagian besar ditempati
oleh jalur batuan ophiolit, batuan ini menerus ke Lengan Tenggara. Di Lengan Timur
ini pula (terutama Kep. Banggai Sula) komplek batuan tersebut membentuk struktur
kelopak menindih batuan sedimen berumur Mesozoik hingga resen dan menerus ke
Lengan Tenggara termasuk daerah diantaranya. Gejala deformasi yang kuat ini
disebabkan oleh bertumbuknya kepingan kerak-benua (Kepulauan Banggai-Sula)
yang berasal dari tepi Utara Irian yang berinteraksi dengan Lempeng Pasifik yang
bergerak ke Barat. Kepingan-kepingan kerak-benua tersebut bergeser ke Barat melalui
sesar-sesar mendatar yang berarah Barat-Timur melalui jarak-jarak yang jauh.
BUSUR VOLKANIK KUARTER
MINAHASA-SANGIHE
SABUK OFIOLIT KAPUR
SULAWESI TIMUR
SABUK METAMORF
KAPUR-PALEOGEN
SULAWESI TENGAH
FRAGMEN PALEOZOIKUM
MIKROKONTINEN BANDA
BUSUR VOLKANIK TERSIER
SULAWESI BARAT
Gambar 2.1 Mandala Tektonik Sulawesi (Hamilton, 1979; Sukamto & Simanjuntak, 1983; Metcalfe, 1990;
Audley-Charles, 1991)
8
Sulawesi Bagian Barat
Tatanan geologi dan perkembangan tektonik dari jaman Kapur sampai Neogen
untuk wilayah Sulawesi bagian Barat, mempunyai kesamaan dengan Kalimantan
Tenggara dan Jawa-Tengah. Pada Kapur Akhir - Awal Tersier (Paleosen), Sulawesi
Selatan dan Tengah, masih merupakan bagian dari daratan Kalimantan, sebagai
bagian dari kepingan kerak-benua yang berasal dari benua raksasa Gondwana di
Selatan yang bergerak ke Utara bersama India dan Mergui, yang kemudian
bertumbukan dengan Jalur Subduksi LUH-ULO - MERATUS.
Kepingan atau bongkah kerak-benua yang juga mendasari Selat Makassar ini
kemudian diberi nama “Blok KANGEAN-PATERNOSTER”. Kapan berlangsungnya
proses tumbukan ini, dapat ditentukan berdasarkan terhentinya kegiatan magmatis di
sebelah Barat Pegunungan Meratus, yaitu dengan tidak dijumpainya batuan beku
intrusip yang berumur antara 50-40 MA (Eosen). Terdapatnya bongkah kerak-benua
disebelah Timur jalur subduksi Meratus ini, juga dapat dilihat dari data bor “Rubah1” yang dibuat oleh CONOCO pada tahun 1979, yang menembus batuan dasar
berupa granit. Demikian pula bor Taka-Talu menembus batuan dasar yang ternyata
diorit.
Namun ada juga yang berpendapat bahwa Sulawesi bagian Barat dan Timur
merupakan busur kembar (volkanik dan non-volkanik) yang merupakan bagian dari
satu sistim interaksi konvergen dengan arah subduksi ke Barat. Dalam hal seperti ini,
maka Sulawesi bagian Barat merupakan busur magmatiknya seperti yang
digambarkan oleh Katili, (1984).
Mekanisma proses pemisahannya dari daratan Kalimantan, hingga kini masih
merupakan masalah yang diperdebatkan diantara para pakar tektonik. Bukti-bukti
dalam upaya untuk mengungkap masalah ini telah dikumpulkan baik melalui
penelitian geofisik di Selat Makassar sendiri (geomagnit, gaya-berat dan seismik)
maupun dari data pemboran-dalam. Pengumpulan data juga dilakukan di darat baik di
bagian Kalimantan maupun Sulawesi.
9
Gambar 2.2. Sesar-sesar memanjang dari Kalimantan menerus ke Sulawesi
Secara hipotetis terdapatnya sesar-sesar utama yang memotong Kalimantan
dan menerus ke Sulawesi, dapat dianggap sebagai salah satu unsur tektonik penting
melalui
mana pemisahan itu dapat
berlangsung.
Dari perkembangan tektonik
regional di Asia dan Asia Tenggara, pada awal Tersier . Hamilton (1979) umpamanya,
memperkirakan bahwa paling tidak hingga Paleosen-Tengah, Sulawesi masih
merupakan bagian dari daratan Kalimantan.
Pada 50-45 MA (Eosen awal), India
mulai menyentuh benua ASIA
(Tapponnier, 1986). Sebagai akibat dari tumbukan itu bagian tepi Timur benua ASIA
bergeser “keluar” kearah Timur dan Tenggara melalui sesar-sesar utama mendatar
yang dimulai dari daratan ASIA hingga Kalimantan. Dorongan dari ASIA ini, dapat
juga merupakan titik awal dari terjadinya proses regangan di bagian tepi Timur
Kalimantan dan sekaligus mencoba memisahkan bagian Sulawesi Barat dari
P.Kalimantan. Perioda itu mungkin dapat dianggap sebagai awal dari pembentukan
Selat Makassar.
Wilayah bagian Barat dari P.Sulawesi, secara garis besar dapat dibagi lagi
menjadi 2 (dua) bagian, bagian sebelah Utara (Sulawesi Utara) dan Selatan (Sulawesi
Barat) . Sulawesi Utara mempunyai ciri-ciri busur volkanik dengan batuan dasar
“kerak-samudra”, sedangkan Sulawesi Barat justru memperlihatkan kesamaan dengan
unsur-unsur “kerak-benua”, yang terdiri dari batuan sedimen berumur Kapur-Tersier
yang terlipat kuat dan diterubos oleh batuan beku granodiorit dan diorit. (Sukamto,
1978).
Kegiatan magmatisma yang disertai vulkanisma ini dimulai pada jaman
Miosen Tengah yang menghasilkan lava basalt dan andesit kalk-alkalin maupun
10
batuan alkalin yang mengandung felspatoid. Kegiatan vulkanisma ini berlangsung
terus hingga Kuarter. Kegiatan magmatik ini dikaitkan dengan berlangsungnya proses
interaksi konvergen yang disertai dengan penyusupan lempeng (Pasifik) kearah Barat
dibawah Sulawesi Barat.
Batuan tertua yang tersingkap yang diperkirakan merupakan batuan dasar dari
Sulawesi-Barat, terdiri dari batuan metamorfis sekis biru dan hijau, batuan beku basa
dan ultrabasa yang berasosiasi dengan batugamping merah dan rijang (endapan laut
dalam), yang mengalami deformasi kuat dan membentuk komplek me’lange, yang
mempunyai ciri-ciri dan umur yang sama dengan yang terdapat di Luh-Ulo Jawa
Tengah.
Selat Makassar
Wilayah ini mempunyai peranan penting dalam proses pemisahan Sulawesi
Barat dari daratan Kalimantan. Pola batimetri pada kedua tepi Timur Kalimantan dan
Barat Sulawesi, secara menakjubkan memperlihatkan kesamaan bentuk apabila
keduanya didekatkan. Fenomena ini memperkuat dukungan bahwa kedua wilayah
tersebut pernah menyatu ( Gb.2.3).
Data gaya berat di Selat Makassar menunjukkan angka yang relatip tinggi
yang berarti adanya bahan kerak-samudra atau kerak-transisi. Data aeromagnetik
memperlihatkan pola-pola yang dapat ditafsirkan paling tidak adanya 4 atau 3
kelompok yang masing-masing mencerminkan jenis kerak yang mendasari Selat
Makassar
(Untung, dkk.).
Kelompok paling Utara, sebagai dasar daripada laut
Sulawesi, adalah kerak samudra. Kelurusan pada pola kemagnitan memeperlihatkan
suatu cekungan yang membuka (pemekaran), yang menunjam dan menyusup melalui
palung “Sulawesi Utara” ke Selatan kebawah Sulawesi Utara. Kelompok kedua yang
berada disebelah selatannya, dan dipisahkan dari kelompok yang berada di Selatannya
( Ke 3 ), oleh “Sesar Bontang”, mencerminkan endapan sedimen yang sangat tebal.
Batuan dasar yang melandasi batuan sedimen, dari sifat-sifat anomali kemagnitannya
ditafsirkan sebagai kemungkinan berasal dari unsur kerak-benua.
Secara umum
kelompok kedua ini dapat ditafsirkan sebagai bagian dari Selat Makassar yang
menurun dan diisi oleh endapan yang tebal. Disis lain kelompok yang ketiga yang
berada diantara 2 sesar utama “Bontang” di Utara dan sesar “Paternoster”di
Selatannya, terdiri dari
anomali
yang besar dengan gelombang yang panjang,
11
mencerminkan adanya bahan asal kerak samudra. Disamping itu pola batimetrinya
juga menunjukkan bagian yang paling dalam dari Selat Makassar.
Gambar 2.3. Pemekaran Lantai Samudera di Selat Makassar
Sulawesi Timur
Tangan Timur dan Tenggara Sulawesi ini sebagian besar terdiri dari batuan
ultrabasa yang umumnya adalah masif peridotit dengan beberapa gabro dan basalt.
Batuan ultrabasa ini bersentuhan dibeberapa lokasi dengan batuan sedimen,
mengalami deformasi kuat dan membentuk komplek melange.
Di lengan Timur
batuan ultrabasanya terdiri dari harzburgit, dunit , serpentinit dan pyroxinit (Atmadja,
1974). Batuan sedimen yang menyertainya terdiri dari batugamping batyal, rijang
radilaria dan serpih berumur Kapur hingga Paleosen. Batuannya mengalami deformasi
kataklastik dan termelonitisasikan. Batuan ultrabasanya didaerah mengandung
mineral “nikkel” dan ditambang. Hingga kini dianggap sebagai singkapan batuan
ultrabasa dan endapan cebakan nikkel terbesar didunia.
Di lengan Timur Laut, batuan ofiolit mengalami pensesaran melalui sesarsesar naik yang panjang-panjang dengan pergeseran yang cukup jauh sehingga
menyerupai kelopak. Gejala deformasi ini diakibatkan oleh tibanya fragmen kerakbenua dari bagian Utara Australia-Irian yang berinteraksi melalui sesar mendatar
(strike-slip) dengan Lempeng Pasifik yang bergerak ke Barat. Tumbukan dengan
kepingan-kepingan tersebut (Banggai-Sula) menyebabkan gejala pelenturan yang kuat
12
disertai dengan rotasi dari Sulawesi Utara sehingga pulau ini mempunyai bentuk
seperti huruf “K” (gambar 2.4).
Gambar 2.4 . Tektonik Sulawesi (disederhanakan dari Silver et al, 1983, Sukamto & Simandjuntak, 1983 dan
Parkinson, 1996, 1997, 1998)
2.3.
Geologi Regional Daerah Penelitian
Daerah penelitian termasuk Bagian Timur Sulawesi yang sebagian besar
terdiri dari komplek batuan basa dan ultrabasa yang mengalami deformasi yang kuat
sehingga sebagian besar ditempati oleh jalur batuan ophiolit.
Menurut Rusmana, dkk.,(1993) dalam peta geologi regional lembar LasusuaKendari membagi dalam empat satuan morfologi yaitu, pegunungan, perbukitan, karst
dan dataran rendah (gambar 2.5)
13
Gambar 2.5 Peta Satuan Morfologi, Lembar Kendari 1:1.000.000 ((Rusmana dkk., 1993)
Daerah penelitian termasuk ke dalam satuan perbukitan dan satuan
dataran rendah. Satuan perbukitan dicirikan memiliki ketinggian 75m sampai 750m di
atas muka laut. Umumnya tersusun atas batu gamping dan konglomerat oleh Molassa
Sulawesi. Satuan ini umumnya membentuk perbukitan bergelombang yang di
tumbuhi semak dan alang-alang. Sungai di aliran ini berpola aliran meranting.
Satuan Dataran rendah terdapat di daerah pantai dan sepanjang aliran sungai
besar dan muaranya. Memiliki ketinggian berkisar dari beberapa meter sampai 75m di
atas muka laut.
2.4.
Stratigrafi Regional
Berdasarkan himpunan batuan dan pencirinya, geologi pra-tersier di Lembar
Lasusua-Kendari dapat dibedakan dalam dua Lajur Geologi; yaitu Lajur Tinondo dan
Lajur Hialu. Lajur Tinondo dicirikan oleh batuan endapan paparan benua, dan lajur
Hialu oleh endapan kerak samudra/ofiolit, (Rusmana, dkk., 1993). Secara garis besar
kedua mandala ini dibatasi oleh Sesar Lasolo (Gambar 2.6)
14
Gambar 2.6 Pembagian Lajur Geologi Lembar Kendari (Rusmana dkk., 1993)
Batuan yang terdapat di Lajur Tinondo yang merupakan batuan alas adalah
Batuan Malihan Paleozoikum (Pzm) dan diduga berumur Karbon; terdiri dari sekis
mika, sekis kuarsa, sekis klorit, sekis mika grafit, batusabak dan geneis. Pualam
Paleozoikum (Pzmm) menjemari dengan Batuan Malihan Paleozoikum terutama
terdiri dari pualam dan batugamping terdaunkan.
Pada Permo-Trias di daerah ini diduga terjadi kegiatan magma yang
menghasilkan terobosan aplit kuarsa, latit kuarsa dan andesit (Tr Ga), yang
menerobos Batuan Malihan Paleozoikum. Formasi Meluhu (Tr Jm) yang berumur
Trias Tengah sampai Jura, secara takselaras menindih Batuan malihan Paleozoikum.
Formasi ini terdiri dari batupasir kuarsa yang termalihkan lemah dan kuarsit yang
setempat bersisipan dengan serpih hitam dan batu gamping yang mengandung
Holabia sp.,dan Daonella sp., serta batusabak pada bagian bawah.
Pada Zaman yang sama terendapkan Formasi Tokala (Trjt), terdiri dari
batugamping berlapis dan serpih bersisipan batupasir. Hubungan dengan Formasi
Meluku adalah menjemari.
Pada Kala Eosen hingga Miosen Tengah (?), pada lajur ini terjadi
pengendapan Formasi Salodik (Terms); yang terdiri dari Kalkarenit dan setempat
batugamping oolit.
Batuan yang terdapat d Lajur Hialu adalah batuan ofiolit (Ku) yang terdiri dari
peridotit, harsburgit, dunit dan serpentinit. Batuan ofiolit ini tertindik takselaras (?)
15
oleh Formasi Matano (Km) yang berumur Kapur Akhir, dan terdiri dari batugamping
berlapis bersisipan rijang pada bagian bawahnya.
Batuan sedimen tipe molasa berumur Miosen Akhir-Pliosen Awal membentuk
Formasi Pandua (Tmpp), terdiri dari konglomerat aneka bahan dan batupasir
bersisipan lanau. Formasi ini menindih takselaras semua formasi yang lebih tua, baik
di Lajur Tinondo maupun di Lajur Hialu.
Pada Kala Plistosen Akhir terbentuk batugamping terumbu koral (Ql) dan
formasi Alangga(Qpa) yang terdiri dari batupasir dan konglomerat.
Batuan termuda adalah Aluvium (Qa) yang terdiri dariendapan sungai, rawa,
dan pantai.
Gambar 2.7. Stratigrafi regional daerah penelitian (Rusmana, dkk., 1993)
2.5.
Struktur Geologi dan Kerangka Tektonik
Secara regional Lengan Timur Sulawesi, dimana daerah penelitian berada,
adalah daerah dengan pola tektonik kompresi berarah relatif Barat-Baratlaut – TimurTenggara (WNW-ESE).
Sistem kompresi utama berkaitan dengan pergerakan lempeng mikro-kontinen
Banggai-Sula ke arah barat dan bertemu dengan bagian Sulawesi. Sistem kompresi
yang menerus sejak zaman Miosen Tengah-Akhir (Rangin dkk., 1990) menjepit
lempeng samudera yang berada di antara Banggai-Sula dengan Sulawesi, melipatnya,
mematahkannya, dan mendorongnya naik (obduksi) ke atas masa batuan di sisi
timurnya. Hal inilah yang menyebabkan mengapa batuan lempeng samudera
16
(berkomposisi ofiolitik) yang umumnya berada di bagian bawah tertutupi batuan lain,
bisa tersingkap di permukaann, di hampir semua bagian lengan Timur Sulawesi.
Sistem kompresi ini memberikan pola struktur anjakan, geser, dan lipatan
yang kompleks. Secara umum sesar anjakan mempunyai arah anjakan ke timur atau
ke barat dengan pola penyebaran utara-selatan. Sesar geser baik sesar utama maupun
sesar sekunder cenderung melampar pada arah timur-barat, umumnya berupa sesar
geser mendatar.
Sistem kompresi ini, melipat-menggeser-mematahkan pula batuan-batuan
yang terbentuk lebih muda dari Miosen Tengah, bahkan sampai pada batuan berumur
Pleistosen (Simanjuntak dkk., 1977).
Sesar dan kelurusan yang dijumpai di lembar Lasusua-Kendari umumnya
berarah baratlaut-tenggara searah dengan Sesar Lasolo (Rusmana, dkk., 1993). Sesar
Lasolo berupa sesar geser jurus mengiri yang diduga masih aktif hingga sampai saat
ini; hal ini dibuktikan dengan adanya mataair panas di batugamping terumbu yang
berumur Holosen pada jalur sesar tersebut di tenggara Tinobu. Sesar Lasolo ini
diduga ada kaitannya dengan Sesar Sorong yang giat kembalinya pada kala Oligosen
( Simandjuntak, dkk., 1983). Sesar Lasolo berarah baratlaut-tenggara dan membagi
Lembar Kendari menjadi dua bagian, sebelah timurlaut sesar di sebut Lajur Hialu dan
sebelah baratdaya d sebut lajur Tinondo (Rusmana dan Sukarna, 1993). Ditafsirkan
bahwa sebelum Oligosen Lajur Hialu dan lajur Tinondo bersentuhan secara pasif,
kemudian sesar ini berkembang menjadi suatu “transform fault” dan menjadi sesar
lasolo sejak Oligosen, yaitu pada saan mulai giatnya kembali Sesar Sorong.
Lipatan pada batuan tersier berupa lipatan dengan kemiringan lapisan berkisar
15-30°. Kekar terdapat pada semua jenis batuan umumnya terdapat pada batugamping
dan batuan beku.
Gejala pengangkatan terdapat di pantai timur dan tenggara Lembar yang
ditunjukan oleh undak-undak pantai dan sungai, dan pertumbuhan koral.
Tektonostratigrafi yang terjadi pada daerah ini adalah sebagai berikut:
Pada zaman sebelum Permo-Karbon, yaitu terbentuknya batuan sedimen dan
batugamping yang terendapkan dalam lingkungan laut neritik bagian dalam.
Pada tahap berikutnya batuan tersebut mengalami pengangkatan dan
pemalihan pada Permo-Karbon(?), menjadi batuan Malihan Mekongan dan
Pualam Paleozoikum.
17
Pada Permo-Trias batuan Granitan menerobos Batuan Malihan ini
Pada Trias Tengah-Trias Akhir Formasi Meluhu dan Tokala terendapkan
secara takselaras di atas Batuan Malihan, di lingkungan laut dangkal sampai
neritik dalam.
Pada Trias Akhir-Jura (?) pada bagian baratlaut lembar Lasusua-Kendari
batugamping Formasi Tokala terendapkan di laut dangkal. Kelompok batuan
ini yang bercirikan benua ini, dalam perkembangan selanjutnya d sebut
sebagai Lajur Tinondo.
Pada kala Eosen-Miosen Tengah (?) terbentuk pengendapan batugamping
formasi Salodik.
Di bagian lain yaitu kelompok di lingkungan laut dalam, diatas batuan ofiolit
yang diduga berumur Kapur, terendapkan tak selaras Formasi matano yang
berumur kapur Akhir. Kelompok batuan ini selanjutnya di sebut Lajur Hialu
yang sebagian besar merupakan bagian dari ofiolit Sulawesi Timur.
Sejak awal jura, anjungan Banggai-sula beserta penggalan benua lainnya di
bagian timur Indonesia memisahkan diri dari pinggiran utara benua Australia
melalui sesar transform dan kemudian bergerak ke arah barat.
Pada kala Miosen Tengah lajur Hialu terdorong oleh benua kecil BanggaiSula, yang bergerak ke arah barat. Akibat dorongan tersebut, menyebabkan
tersesarkannya lajur Hialu ke atas lajur Tinondo,
Pada kala Miosen Akhir sampai pliosen pengangkatan kembali berlangsung,
kemudian disusul terjadinya cekungan pada kala Pliosen dan terbentuk
Formasi Arlangga, pada lingkungan laut dangkal sampai darat.
Batuan termuda yang terbentuk di daerah ini ialah aluvium dan terumbu koral,
yang hingga kini masih terus berlangsung.
18
Download